Anda di halaman 1dari 2

Laporan Ilmu Ukur Tanah Tahun 2018 Nilai:

Acara IV Waktu Praktikum


Pengukuran Kesalahan
Disusun oleh Asisten Praktikum Tanggal Praktikum

Lampiran
1. Tabel hasil pengukuran jarak (terlampir)

Pembahasan
Setiap pengukuran selalu memiliki nilai kesalahan atau eror. Perlu dilakukan berulang kali untuk
memperoleh hasil yang benar-benar mendekati. Nilai kebenaran dari hasil pengukuran yang dicari
didekati dengan menghitung nilai rata-rata dari semua hasil pengukuran. Nilai rata-rata dianggap
sebagai nilai yang paling mendekati dari semua hasil pengukuran. Nilai tersebut kemudian dapat
digunakan sebagai nilai acuan untuk memperoleh seberapa besar dari nilai eror pada setiap hasil
pengukuran.
Nilai eror adalah selisih dari nilai rata-rata dan hasil pengukuran. Selisih tersebut dapat bernilai
positif dan negatif. Semakin mendekati nol maka hasil pengukuran semakin presisi. Setiap hasil
pengukuran juga dapat digunakan untuk mencari nilai dari standar deviasi . Standar deviasi
digunakan untu mencari toleransi nilai dari kesalahan hasil pengukuran. Dengan mengetahui jumlah
hasil pengukuran yang dapat ditoleransi maka dapat diperoleh persentase nilai eror yang dapat
terjadi pada alat pengukuran yang digunakan.
Percobaan pengukuran nilai eror dilakukan menggunakan dua jenis alat pengukuran yaitu
theodolite dan distometer. Pengukuran dilakukan sebanyak 20 kali pada satu titik. Pengukuran
dilakukan untuk mengetahui presisi dari data hasil pengukuran. Presisi hasil pengukuran diukur
dengan standar Linear Equation 90 (LE90). Perhitungan LE 90 dilakukan dengan menghitung nilai E
yaitu nilai kesalahan, nilai deviasi standar yaitu keseragaman persebaran data hingga menghasilkan
nilai tingkat persentasi kesalahan.
Pengukuran menggunakan alat theodolite tidak dapat secara langsung mengukur jarak. Data
jarak yang diperlukan diperoleh melalui perhitungan jarak horizontal. Pengukuran jarak horizontal
memerlukan parameter sudut azimuth, dan titik Ca, Ct dan Cb. Berdasarkan hasil perhitungan
presisi pada pengukuran jarak menggunakan alat theodolite didapatkan hasil jarak rata rata 6.59 m
yang digunakan sebagai data yang dianggap benar. Hasil perhitungan nilai E didapatkan hasil
dengan rentang -2.59 hingga 1.40. Nilai standar deviasi adalah 0.86 sehingga diperoleh nilai LE 90
adalah +- 1.42, berdasarkan rentang nilai tersebut terdapat 1 data yang berada diluar rentang nilai
LE90. Persentase kesalahan dihitung dari jumlah data diluar jangkauan dibagi jumlah data
pengukuran sehingga diperoleh hasil persentase kesalahan 5%.
Kesalahan pengukuran sebesar 5%, hal ini membuktikan bahwa hasil pengukuran dibawah nilai
standar LE90 yaitu 10% dan data dapat digunakan. Kesalahan pengukuran menyebabkan tingkat
presisi pengukuran berkurang. Faktor faktor yang mempengaruhi kesalahan selama pengukuran
diantaranya bersumber dari alam. Pengukuran dilakukan pada siang hari sehingga terdapat
kemungkinan bias saat melihat objek pengukuran. Sumber kesalahan yang berasal dari manusia
diantaranya adalah pengukur yang salah dalam centering alat theodolite, selain itu saat siang hari
konsentrasi pengukur telah menurun.
Percobaan pengukuran jarak menggunakan alat laser disto dilakukan bersamaan pada objek
yang sama. Jarak rata rata hasil pengukuran adalah 6.80m. Hasil nilai E memiliki rentang -0.76
sampai 0.32. Nilai standar deviasi adalah 0.252 sehingga diperoleh nilai LE90 +- 0.415. Berdasarkan
rentang data tersebut terdapat dua data yang berada diluar jangkauan dan diperoleh persentase
kesalahan 10%.
Kesalahan 10% yang terjadi selama pengukuran masih berada tepat pada batas toleransi LE 90.
Pengukuran jarak dengan laser disto menggunakan cahaya laser dalam membidik titik objek yang
akan diukur jaraknya. Sementara itu pengukuran jarak yang dilakukan dilakukan pada siang hari
dimana intensitas cahaya matahari mampu membiaskan cahaya laser dan pengukuran kurang tepat.
Pengukuran presisi data hasil pengukuran jarak menggunakan alat theodolite dan laser disto
menghasilkan tingkat persentase kesalahan yang berbeda. Alat theodolite 5% dan laser disto 10%.
Presisi hasil pengukuran alat theodolite lebih tinggi dibandingkan dengan laser disto. Masing masing
metode memiliki kelemahan dan keunggulan masing masing. Kelemahan alat laser disto adalah
kurang sesuai digunakan saat siang hari sementara pengukuran dilakukan pada siang hari sehingga
wajar jika presisi pengukuran lebih rendah.
Efisiensi pengukuran bergantung pada kondisi lingkungan sekitar pengukuran dan waktu
pengukuran. Pemilihan metode yang hendak digunakan menyesuaikan kondisi lapangan sehingga
dapat mengurangi tingkat persentase kesalahan pengukuran. Presisi hasil pengukuran mampu
meningkatkan efisiensi pengukuran karena dalam melakukan pengukuran tidak memerlukan
pengukuran berulang dan tidak membutuhkan waktu yang lama dalam pengukuran bila tingkat
presisi telah sesuai dengan standar yang dijadikan sebagai acuan. Data hasil pengukuran yang
presisi dapat membuktikan bahwa hasil pengukuran seragam.

Kesimpulan
1. Pengujian kesalahan pada alt ukur maupun hasil pengukuran dapat dengan mengukur
tingkat presisi data melalui persentase kesalahan.
2. Nilai LE90 pada pengukuran jarak dengan alat theodolite adalah 5% dan LE90 pengukuran
dengan alat laser disto adalah 10%.

Referensi
Syaifullah, A. 2014. Ilmu Ukur Tanah. Yogyakarta: STPN.