Anda di halaman 1dari 86

RANCANGAN AKTUALISASI DAN HABITUASI

NILAI-NILAI DASAR PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS)

OPTIMALISASI PENATALAKSANAAN PASIEN LUKA DIABETES MELLITUS


(DM) DI RSUD RA KARTINI JEPARA

Disusun oleh:
Nama : dr. Felasufa Noor, Sp.B
NIP : 198711102019022002
Angkatan : LVII
No. Urut : 30
Jabatan : Dokter Spesialis Bedah
Gol/Ruang : III/b
Unit Kerja : RSUD RA Kartini Jepara
Coach : Edi Winarno AS, ST, M.Kom
Mentor : dr. Sukmawati Kangiden

PELATIHAN DASAR CPNS GOLONGAN III ANGKATAN LVII

BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DAERAH


PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH
TAHUN 2019

ii
HALAMAN PERSETUJUAN
RANCANGAN AKTUALISASI DAN HABITUASI NILAI-NILAI DASAR
PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS)

Judul : Optimalisasi Penatalaksanaan Pasien Luka Diabetes Mellitus


(DM) di RSUD RA Kartini Jepara

Dinyatakan disetujui untuk diseminarkan pada


Hari : Jum,at
Tanggal : 14 Juni 2019
Tempat : BPSDMD Provinsi Jawa Tengah

Semarang, 13 Juni 2019


Peserta Pelatihan Dasar CPNS

dr. Felasufa Noor, Sp.B


NIP. 198711102019022002

Menyetujui,

Coach, Mentor,

Edi Winarno AS, ST, M.Kom dr. Sukmawati Kangiden


NIP. 19750202 200501 1 004 NIP. 196604261995032001

iii
PRAKATA

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan
karunia-Nya saya sudah diberi kesempatan untuk menyusun rancangan aktualisasi
ini dalam rangka memenuhi tugas diklat dasar CPNS golongan III. Diklat yang
dilaksanakan selama 3 minggu di BPSDMD Provinsi Jawa Tengah dan di Unit Kerja
di RSUD RA Kartini Jepara.

Pendidikan dan latihan dasar terintegrasi dalam pembentukan karakter PNS


terdiri dari 3 agenda yaitu agenda 1 bela negara yang berisi materi wawasan
kebangsaan, isu-isu kotemporer, dinamika kelompok, habituasi,dan kesiap -
siagaan bela negara; agenda 2 nilai-nilai dasar PNS yaitu akuntabilitas,
Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, Anti Korupsi (ANEKA); agenda 3
kedudukan dan peran PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
yaitu Manajemen ASN, Pelayanan Publik dan Whole of Government.

Diklat yang dahulu disebut sebagai diklat prajabatan berubah nama menjadi
pelatihan dasar atau disingkat menjadi latsar ini telah melalui 3 agenda. Kini tibalah
saatnya CPNS menjalankan agenda 4 yaitu habituasi yang direalisasikan dengan
melakukan aktualisasi 3 agenda materi sebelumnya dalam menyelesaikan
permasalahan yang ada dan menjalankan tugasnya sehari-hari sebagai ASN di
lingkungan kerjanya.

Tidak lupa saya sampaikan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada


Bapak Edi Winarno AS, ST, M.Kom selaku coach serta dr. Sukmawati Kangiden
selaku mentor yang telah banyak memberi bimbingan, pengarahan, bantuan dan
dorongan yang sangat berharga dalam penyusunan rencana aktualisasi ini. Juga
kepada berbagai pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, atas dukungan
dan bantuannya.

iv
Penulis menyadari bahwa dala penyusunan Rancangan Aktualisasi ini masih
banyak kekurangan, oleh sebab itu saya mengharapkan kritik dan saran yang
membangun. Semoga penyusunan laporan akhir aktualisasi ini dapat diterima
sebagai salah satu bentuk tanggung jawab selaku Calon Pegawai Negeri Sipil.

Semarang, 13 Juni 2019

dr. Felasufa Noor, Sp.B

v
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................... i


HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................ ii
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................. iii
PRAKATA ....................................................................................... iv
DAFTAR ISI .................................................................................... vi
DAFTAR TABEL ............................................................................. viii
DAFTAR GAMBAR ......................................................................... ix
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................... 1
B. Identifikasi Isu, Dampak dan Rumusan Masalah .................. 3
C. Tujuan................................................................................... 7
D. Manfaat................................................................................. 8
BAB II LANDASAN TEORI
A. Sikap Perilaku Bela Negara .................................................. 9
B. Nilai Dasar PNS.................................................................... 10
C. Kedudukan dan Peran PNS dalam NKRI ............................. 15
D. Teori Luka Diabetes Mellitus..................................................
BAB III TUGAS UNIT KERJA DAN TUGAS PESERTA
A. Profil Organisasi ................................................................... 20
1. Dasar Hukum Pebentukan Organisasi ............................. 20
2. Visi, Misi, dan Nilai Organisasi ......................................... 22
3. Struktur Organisasi .......................................................... 23
4. Deskripsi SDM, Fasilitas dan Layanan ............................. 24
B. Tugas Jabatan Peserta Diklat............................................... 34
C. Role Model ........................................................................... 35

6
BAB IV RANCANGAN KEGIATAN AKTUALISASI
A. Daftar Rancangan Kegiatan Aktualisasi dan Keterkaitan dengan
Nilai ANEKA ......................................................................... 37
B. Jadwal Rancangan Aktualisasi ............................................. 51
C. Antisipasi dan Strategi Menghadapi Kendala ....................... 52

BAB V PENUTUP ........................................................................... 54


DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………….. ... 55
DAFTAR RIWAYAT HIDUP…………………………………………… 56

7
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1. Identifikasi Isu.................................................................... 3


Tabel 1.2. Analisis APKL Isu .............................................................. 5
Tabel 1.3 Analisis USG Isu ................................................................ 6
Tabel 1.4. Dampak Isu Tidak Terselesaikan ...................................... 6
Tabel 3.1 Data Pegawai Berdasarkan Kualifikasi Pendidikan dan Jenis
Kelamin RSUD RA Kartini Jepara tahun 2017 .................... 25
Tabel 3.2 Daftar Alat Kesehatan di RSUD RA Kartini Jepara tahun 2017 31
Tabel 3.3 Data Tempat Tidur Ruang Perawatan RSUD RA Kartini
Jepara Tahun 2017 ............................................................. 33
Tabel 4.1. Rancangan Kegiatan Aktualisasi ....................................... 38
Tabel 4.2. Jadwal Pelaksanaan Rancangan Aktualisasi .................... 51
Tabel 4.3. Rencana Antisipasi dan Strategi Menghadapi Kendala..... 52

8
DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1. Struktur Organisasi RSUD RA Kartini Jepara................ 24


Gambar 3.2. Gambar profil penyakit di Jepara.........................................
Gambar 3.2. Gambar profil penyakit di RSUD RA Kartini........................

Gambar 3.3. Foto Role Model............................................................... 35

9
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mempunyai peran sebagai perencana,
pelaksana, dan pengawas penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan
pembangunan nasional melalui pelaksanaan kebijakan dan pelayanan publik yang
profesional, bebas dari intervensi politik, serta bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan
nepotisme. Implementasi dari peran tersebut di atas tidaklah mudah. Dalam hal ini
menuntut kesungguhan, disiplin, motivasi, dan komitmen dari seorang ASN untuk
menjalankannya dengan penuh tanggung jawab. Keberhasilan seorang ASN dalam
melayani publik sesuai posisinya masing-masing akan meningkatkan kredibilitas unit
kerja, dan mendorong keberhasilan institusinya. Sebaliknya, jika ASN gagal
memberikan layanan terbaik, akan berdampak pada hilangnya pamor dan
kewibawaan institusi tempat bekerja.
Sejalan dengan telah ditetapkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun
2014 tentang Aparatur Sipil Negara (UU ASN) dan merujuk pada ketentuan Pasal 63
ayat (3) dan ayat (4) UU ASN, CPNS wajib menjalani masa percobaan yang
dilaksanakan melalui proses pelatihan terintegrasi untuk membangun integritas
moral, kejujuran, semangat dan motivasi nasionalisme dan kebangsaan, karakter
kepribadian yang unggul dan bertanggungjawab, dan memperkuat profesionalisme
serta kompetensi bidang. Diperlukan sebuah penyelenggaraan Pelatihan yang
inovatif dan interintegrasi, yaitu penyelenggaraan Pelatihan yang memadukan
pembelajaran klasikal dan nonklasikal di tempat Pelatihan dan di tempat kerja,
sehingga memungkinkan peserta mampu menginternalisasi menerapkan, dan
mengaktulisasikan, serta membuatnya menjadi kebiasaan (habituasi), dan
merasakan manfaatnya, sehingga terpatri dalam dirinya sebagai karakter PNS yang
profesional sesuai bidang tugas. Melalui pembaharuan Pelatihan tersebut,
diharapkan dapat menghasilkan PNS profesional yang berkarakter dalam
melaksanakan tugas dan jabatannya sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan
publik, dan perekat dan pemersatu bangsa.
Pelatihan Dasar merupakan pembekalan komprehensif agar CPNS
mempunyai pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan untuk melaksanakan tugas
sebagai Aparatur Sipil Negara. Sesuai dengan peraturan kepala LAN-RI, Nomor 38

10
Tahun 2014 tentang pedoman penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan
prajabatan CPNS golongan III, yang menggunakan aturan pola baru, peserta diklat
mengikuti proses pembelajaran yang mencakup nilai-nilai dasar profesi ASN yang
disebut dengan ANEKA yaitu : Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika publik, Komitmen
mutu dan Anti korupsi. Sedangkan materi yang lainnya merupakan materi penunjang
yang kedudukannya sama dengan materi ANEKA tersebut.
Pelatihan dasar pola baru menggunakan sistem on-off campuss. Pada saat
on campuss, peserta mendapatkan materi mengenai pemahaman nilai-nilai dasar
profesi ASN. Sedangkan saat off campuss, peserta pelatihan mengaktualisasikan
nilai – nilai dasar yang didapat selama on campuss. Sebelum melakukan aktualisasi
nilai – nilai dasar, peserta diklat prajabatan diwajibkan menyusun rancangan
aktualisasi nilai – nilai dasar, dimana nilai – nilai yang sudah dipahami selama
internalisasi di balai diklat (on campuss) diimplementasikan pada kegiatan ditempat
kerja (off campuss)baik kegiatan yang berasal dari SKP, penugasan pimpinan
maupun inisiatif pribadi peserta diklat yang disetujui oleh pimpinan.
Untuk mencapai Visi dan Misi pembangunan kesehatan Kabupaten Jepara
serta Visi dan Misi RSUD RA Kartini Jepara maka perlu disusun sebuah dokumen
perencanaan yang komprehensif. Sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan,
RSUD dituntut untuk dapat menyusun perencanaan dengan baik berdasarkan
prioritas masalah dengan berdasarkan sumber daya yang dimiliki, sehingga dapat
memberikan pelayanan yang optimal sesuai standar.

B. Identifikasi Isu, Dampak dan Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam
rancangan aktualisasi nilai-nilai dasar PNS terdiri atas identifikasi isu dan penetapan
isu sebagai berikut:

I. Identifikasi Isu
Isu atau masalah ditemukan dari adanya kesenjangan antara kondisi yang
terjadi di RSUD RA Kartini Kabupaten Jepara dengan kondisi yang diharapkan.
Beberapa isu yang ditemukan oleh penulis terkait dengan manajemen ASN dan
pelayanan publik adalah:

11
Tabel 1.1 Identifikasi Isu

No Identifikasi Isu Prinsip ASN Kondisi Saat Ini Kondisi Yang Diharapkan
1. Belum optimalnya Pelayanan Meningkatnya morbiditas dan Menurunnya morbiditas dan
penatalaksanaan pasien publik kurangnya pemahaman tentang optimalnya perawatan luka DM
Luka DM di RSUD RA perawatan luka DM
Kartini

2. Belum optimalnya Managemen Kepatuhan operator dalam memberian Seluruh operator memberikan marking
pemberian marking site ASN marking site pada pasien pre operasi site pada pasien pre operasi sesuai
operasi pada pasien pre standar yang berlaku
operasi di RSUD RA Kartini

3. Kurangnya penjelasan Pelayanan Pasien masih belum mengerti Pasien memahami tentang diagnosis,
tenaga medis tentang publik diagnosis, tindakan medis, resiko dan tindakan medis, dan prognosisnya
informed consent tindakan komplikasi yang akan terjadi dalam
bedah di RSUD RA Kartini pembedahan
4. Lambatnya waktu tunggu Pelayanan Pasien terlalu lama menunggu di ruang Waktu untuk sign in cepat sehingga
sign in pasien pre operasi di publik tunggu bedah sentral sebelum operasi pasien tidak terlalu lama menunggu di
ruang bedah sentral RSUD ruang tunggu bedah sentral
RA Kartini

12
5. Menurunnya kunjungan Whole of Jumlah kunjungan pasien rawat jalan Jumlah kunjungan pasien rawat jalan
pasien rawat jalan di Poli goverment di poli bedah menurun karena kembali stabil
Bedah RSUD RA Kartini kebijakan rujukan berjenjang dari
BPJS
6. Kurangnya komunikasi Management Kurangnya informasi terapi post Terlajinnya komunikasi yang efektif
efektif antara petugas rawat ASN operasi pasien oleh petugas rawat inap antar petugas rawat inap dengan
inap dengan petugas karena tidak adanya komunikasi petugas IBS
instalasi bedah sentral petugas IBS
dalam proses pemindahan
pasien post operasi

13
2. Penetapan Isu
Penetapan Isu dilakukan melalui analisis isu dengan menggunakan alat
bantu penetapan kriteria kualitas isu. Analisis isu ini bertujuan untuk
menetapkan kualitas isu dan menentukan prioritas isu yang perlu diangkat
untuk diselesaikan melalui gagasan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan.
Analisis isu dilakukan dengan menggunakan alat bantu APLK (Aktual,
Problematik, Kelayakan, Kekhalayakan) dan USG (Urgency, Seriousness,
dan Growth).
a. Analisis Kriteria Isu Menggunakan APKL (Aktual,
Problematik, Kekhalayakan, Kelayakan)
Penetapan isu dilakukan melalui analisis isu dengan
menggunakan alat bantu penetapan kriteria isu. Analisis isu bertujuan
untuk menetapkan kualitas isu dan menentukan prioritas isu yang perlu
diangkat untuk diselesaikan melalui gagasan kegiatan yang dilakukan.
Analisis isu dilakukan dengan pendekatan APKL yaitu Aktual,
Problematik, Kekhalayakan dan Layak. Analisis APKL merupakan alat
bantu untuk menganalisis ketepatan dan kualitas isu dengan
memperhatikan tingkat aktual, problematik, kekhalayakan dan layak dari
isu-isu yang ditemukan di lingkungan unit kerja yang terjadi di lingkungan
RSUD RA Kartini Jepara. Setelah diperoleh analisis APKL, maka dipilih
isu yang menjadi prioritas utama yang selanjutnya akan diidentifikasi.
Analisis APKL dilakukan dengan memberikan nilai positif atau
negatif pada masing-masing kriteria aktual, problematik, kelayakan, dan
kekhalayan. Jika isu yang ditemukan memenuhi kriteria maka diberi nilai
positif, sebaliknya jika tidak memenuhi kriteria diberi nilai negatif. Jika
semua kriteria memiliki nilai positif, maka isu dinyatakan memenuhi
persyaratan dan berkualitas. Jika tidak, maka isu dinyatakan tidak
memenuhi persyaratan dan kurang berkualitas. Hasil analisis APKL terkait
isu-isu di RSUD RA Kartini Kabupaten Jepara disajikan dalam tabel 1.2. di
bawah ini:

14
Tabel 1.2 Parameter APKL

Kriteria
No. Isu Keterangan
A P K L
1. Belum optimalnya + + + + Memenuhi syarat
penatalaksanaan pasien luka DM
di RSUD RA Kartini

2. Belum optimalnya pemberian + + + + Memenuhi syarat


marking site operasi pada pasien
pre operasi di RSUD RA Kartini
3. Kurangnya penjelasan tenaga + + + + Memenuhi syarat
medis tentang informed consent
tindakan bedah di RSUD RA Kartini

4. Lambatnya waktu tunggu sign in + + - - Tidak memenuhi syarat


pasien pre operasi di ruang bedah
sentral RSUD RA Kartini
5. Menurunnya kunjungan pasien + + - - Tidak memenuhi syarat
rawat jalan di Poli Bedah RSUD
RA Kartini

6. Kurangnya komunikasi efektif + + - - Tidak memenuhi syarat


antara petugas rawat inap dengan
petugas instalasi bedah sentral
dalam proses pemindahan pasien
post operasi di RSUD RA Kartini

Keterangan: + (memenuhi kriteria), – (tidak memenuhi kriteria)

b. Analisis Prioritas Isu Menggunakan USG ( Urgency,


Seriousness, dan Growth )
Berdasarkan metode APKL dari tabel di atas diperoleh 3
(tiga) isu utama yang terpilih, yaitu Kurang optimalnya pelayanan
kesehatan di IGD RSUD Batang, Belum maksimal nya prioritas
pasien di IGD sesuai triase yang ada, Kurang optimalnya ruang
tunggu di ruang IGD. Isu tersebut kemudian dianalisis lagi dengan
menggunakan metode USG dengan rentang penilaian 1-5 dengan

15
ketentuan nilai 1 berarti sangat kecil, nilai 2 berarti kecil, nilai 3
berarti sedang, nilai 4 berarti besar, dan nilai 5 berarti sangat besar.
Urgency yaitu seberapa mendesak suatu isu harus dibahas,
dianalisis dan ditindaklanjuti. Seriousness yaitu seberapa serius
suatu isu harus dibahas yang dikaitkan dengan akibat yang
ditimbulkan. Growth didefinisikan sebagai seberapa besar
memburuknya isu tersebut jika tidak ditangani dengan segera.
Hasil analisis USG terkait isu-isu di RSUD RA Kartini Jepara
disajikan dalam tabel berikut ini :
Tabel 1.3. Analisis USG Isu

No. Isu U S G Total Peringkat


1. Belum optimalnya 5 5 4 14 1
penatalaksanaan pasien luka
DM di RSUD RA Kartini

2. Belum optimalnya pemberian 4 4 4 12 3


marking site operasi pada
pasien pre operasi di RSUD RA
Kartini
3. Kurangnya penjelasan tenaga 5 4 4 13 2
medis tentang informed consent
tindakan bedah di RSUD RA
Kartini

3. Penetapan Isu yang terpilih


Dari hasil analisis APLK dan USG, ditetapkan isu yang dipilih
dan ditindaklanjuti dengan gagasan rencana kegiatan yang akan dilakukan
untuk mengatasi isu tersebut. Langkah yang dilakukan dalam tahap ini
merumuskan isu yang memuat focus dan locus, menentukan gagasan
kegiatan yang akan dilakukan, mengidentifikasi sumber isu, aktor yang
terlibat dan peran dari setiap aktor, dan mendeskripsikan keterkaitannya
dengan mata pelatihan yang relevan (secara langsung maupun tidak
langsung) dengan konteks isu.

16
4. Analisis dampak
Dampak dari isu terpilih yang telah dianalisis menggunakan metode
USG jika tidak diselesaikan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 1.4 Dampak Isu Tidak Terselesaikan

No Sumber Dampak
Isu Isu

1 Pelayanan Belum optimalnya - Menurunkan standar mutu Rumah


Publik penatalaksanaan sakit
pasien luka DM di - Melanggar nilai ANEKA yaitu
RSUD RA Kartini
 Akuntabilitas: tidak
bertanggung jawab karena
tidak empati mengabaikan
morbiditas pada pasien dan
menambah biaya rawat inap
pasien
 Nasionalisme: karena tidak
sesuai dengan nilai-nilai
pancasila yaitu mengabaikan
harkat dan martabat manusia
 Etika publik: melanggar nilai-
nilai pada kode etik ASN dan
kode etik profesi
 Komitmen mutu:
mengabaikan nilai-nilai
standardisasi mutu pasien

17
Dari Tabel 1.3. Analisis Isu Strategis, menunjukkan validasi isu
dengan menggunakan analisis USG. Dari analisis didapatkan core issue
yakni belum optimalnya penatalaksanaan pasien luka DM di RSUD RA
Kartini Jepara. Dari isu tersebut maka rumusan masalah kegiatan
aktualisasi melalui habituasi adalah:

1. Kegiatan apa yang harus dilakukan agar memberikan


kontribusi terhadp optimalisasi penatalaksanaan pasien luka
DM di RSUD RA Kartini?
2. Bagaimana Nilai Dasar PNS (ANEKA) dapat diaplikasikan
dalam kegiatan aktualisasi melalui habituasi di unit kerja

c. Tujuan
Berdasarkan identifikasi isu dan rumusan masalah yang telah
ditemukan, tujuan yang akan dicapai dari dilaksanakannya
aktualisasi ini adalah sebagai berikut :
1. Mengoptimalkan penatalaksanaan pasien luka DM di RSUD
RA Kartini Jepara
2. Mengaplikasikan ANEKA ke dalam kegiatan-kegiatan di
RSUD RA Kartini

d. Manfaat

Manfaat dari kegiatan ini adalah:

1. Bagi CPNS
Aktualisasi nilai-nilai dasar ASN, ANEKA, akan menciptakan
CPNS yang berkarakter kuat yaitu akuntabel, nasionalis,
beretika, berintegritas, profesional, dan bersih dari praktik
Korupsi Kolusi Nepotisme (KKN).

18
2. Bagi Satuan Kerja
Terbentuk iklim kerja yang kondusif dalam melayani publik dan
meningkatkan akuntabilitas unit kerja di mata masyarakat.
Selain itu juga mendukung terwujudnya tujuan dan visi misi unit
kerja serta penguatan nilai-nilai unit kerja.

19
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Sikap Perilaku Bela Negara


1. Wawasan Kebangsaan dan Nilai-Nilai Bela Negara
Pemahaman dan pemaknaan wawasan kebangsaan dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan bagi aparatur, pada
hakikatnya terkait dengan pembangunan kesadaran berbangsa dan
bernegara yang berarti sikap dan tingkah laku PNS harus sesuai dengan
kepribadian bangsa dan selalu mengaitkan dirinya dengan cita-cita dan
tujuan hidup bangsa Indonesia.
Kesadaran bela negara merupakan upaya untuk mempertahankan
negara dari ancaman yang dapat mengganggu kelangsungan hidup
bermasyarakat yang berdasarkan atas cinta tanah air. Selain itu
menumbuhkan rasa patriotisme dan nasionalisme di dalam diri PNS.
Upaya bela negara selain sebagai kewajiban dasar juga merupakan
kehormatan bagi setiap warga negara yang dilaksanakan dengan penuh
kesadaran, penuh tanggung jawab dan rela berkorban dalam
pengabdian kepada negara dan bangsa.
2. Analisa Perubahan Lingkungan Strategis
Lingkungan strategis adalah situasi internal dan eksternal baik yang
statis (trigatra) maupun dinamis (pancagatra) yang memberikan
pengaruh pada pencapaian tujuan nasional. Analisa perubahan
lingkungan strategis ini bertujuan membekali peserta dengan
kemampuan memahami konsepsi perubahan lingkungan strategis
sebagai wawasan strategis PNS. Sehingga PNS dapat memahami modal
insani dalam menghadapi perubahan lingkungan strategis, dapat
mengidentifikasi isu-isu kritikal, dan dapat melakukan analisis isu-isu
kritikal dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis. Dengan begitu
PNS dapat mengambil keputusan yang terbaik dalam tindakan
profesionalnya.

20
3. Kesiapsiagaan Bela Negara
Pasal 27 dan Pasal 30 UUD Negara RI 1945 mengamanatkan
kepada semua komponen bangsa berhak dan wajib ikut serta dalam
upaya pembelaan negara dan syarat-syarat tentang pembelan negara.
Dalam hal ini setiap PNS sebagai bagian dari warga masyarakat tertentu
memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk melakukan bela negara
sebagaimana diamanatkan dalam UUD Negara RI 1945 tersebut.
Kesiapsiagaan bela negara merupakan aktualisasi nilai-nilai bela
negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
sesuai peran dan profesi warga negara, demi menjaga kedaulatan
negara, keutuhan wilayah dan keselamatan segenap bangsa dari segala
bentuk ancaman.
Kesiapsiagaan bela negara merupakan kondisi warga negara yang
secara fisik memiliki kondisi kesehatan, keterampilan dan jasmani yang
prima serta secara kondisi psikis yang memiliki kecerdasan intelektual,
dan spiritual yang baik, senantiasa memelihara jiwa dan raganya,
memiliki sifat-sifat disiplin, ulet, kerja keras, dan tahan uji, merupakan
sikap mental dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaan
kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD NRI 1945 dalam
menjamin kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Oleh sebab tiu
dalam pelaksanaan latihan dasar bagi CPNS dibekali dengan latihan-
latihan seperti :
1. Kegiatan olah raga dan kesehatan fisik;
2. Kesiapsiagaan dan kecerdasan mental;
3. Kegiatan baris-berbaris, apel, dan tata upacara;
4. Keprotokolan;
5. Kegiatan ketangkasan dan permainan.

21
B. Nilai Dasar PNS
Ada lima (5) nilai dasar profesi PNS, yaitu akuntabilitas, nasionalisme,
etika publik, komitmen mutu, dan antikorupsi. Lima nilai dasar yang biasa
disingkat ANEKA ini merupakan modal awal PNS dalam menjalankan
tugasnya. Sebelum mengimplementasikan nilai dasar PNS, ada satu tahap
yang dilalui yaitu tahap internalisasi. Internalisasi merupakan proses
pemahaman atas nilai yang terkandung dari masing-masing poin ANEKA
yaitu :
1. Akuntabilitas
Akuntabilitas merupakan kesadaran adanya tanggung jawab dan
kemauan untuk bertanggung jawab. PNS memiliki tugas pokok fungsi
yang wajib untuk dijalankan. Setiap PNS hendaknya sadar akan
tugasnya. Tidak hanya sekadar sadar. Mereka juga harus bertanggung
jawab atas apa yang telah dilaksanakan. Sebagai abdi masyarakat, PNS
memiliki tanggung jawab yang besar. Maka tidak salah jika setiap PNS
melakukan perencanaan yang matang sebelum melaksanakan tugasnya.
Adanya transparansi juga penting untuk dilaksanakan. Tanpa
transparansi PNS akan kesulitan dalam menjalankan tugas.Ada 9 aspek
akuntabilitas antara lain :
a Kepemimpinan
Lingkungan yang akuntabel tercipta dari atas ke bawah
dimana pimpinan memainkan peranan yang penting dalam
menciptakan hal tersebut.
b Transparansi
Transparansi dapat diartikan sebagai keterbukaan atas
semua tindakan dan kebijakan yang dilakukan oleh individu
maupun kelompok / institusi.
c Integritas
Integritas mempunyai makna konsistensi dan keteguhan
yang tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai
luhur dan keyakinan.

22
d Tanggung jawab
Tanggung jawab merupakan kesadaran manusia akan
tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun
yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga dapat berarti
berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajiban.
e Keadilan
Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral
mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda maupun
orang.
f Kepercayaan
Rasa keadilan membawa pada sebuah kepercayaan.
Kepercayaan ini akan melahirkan akuntabilitas.
g Keseimbangan
Pencapaian akuntabilitas dalam lingkungan kerja,
diperlukan adanya keseimbangan antara akuntabilitas dan
kewenangan, serta harapan dan kapasitas. Selain itu,
adanya harapan dalam mewujudkan kinerja yang baik juga
harus disertai dengan keseimbangan kapasitas sumber
daya dan keahlian (skill) yang dimiliki.
h Kejelasan
Fokus utama untuk kejelasan adalah mengetahui
kewenangan, peran dan tanggung jawab, misi organisasi,
kinerja yang diharapkan organisasi, dan sistem pelaporan
kinerja baik individu maupun organisasi.
i Konsistensi
Konsistensi adalah sebuah usaha untuk terus dan terus
melakukan sesuatu sampai pada tercapainya tujuan akhir
(LAN, 2015).

23
2. Nasionalisme
Nasionalisme merupakan sikap yang meninggikan bangsanya
sendiri dan pandangan tentang rasa cinta terhadap bangsa dan negara.
Dengan nasionalisme yang kuat, maka setiap PNS memiliki orientasi
berpikir mementingkan kepentingan publik, bangsa, dan negara.
Nasionalisme merupakan pandangan atau paham kecintaan manusia
Indonesia terhadap bangsa dan tanah airnya yang didasarkan pada nilai-
nilai Pancasila. PNS dapat mempelajari bagaimana aktualisasi sila demi
sila dalam Pancasila agar memiliki karakter yang kuat dengan
nasionalisme dan wawasan kebangsaannya.

Ada lima indikator dari nilai-nilai dasar nasionalisme yang harus


diperhatikan, yaitu :

a. Sila Pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa


1) Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan
ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
2) Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang
Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-
masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
3) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama
antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang
berbedabeda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
4) Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama
dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
5) Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia
dengan Tuhan Yang Maha Esa.
6) Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan
menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya
masing-masing.

24
7) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain
b. Sila Kedua : Kemanusiaan yang adil dan beradap
1) Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat
dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
2) Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban
asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku,
keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan
sosial, warna kulit dan sebagainya.
3) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
4) Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
5) Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
6) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
7) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
8) Berani membela kebenaran dan keadilan.
9) Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh
umat manusia.
10) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama
dengan bangsa lain.
c. Sila Ketiga : Persatuan Indonesia
1) Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan
dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan
bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
2) Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan
bangsa apabila diperlukan.
3) Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
4) Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan
bertanah air Indonesia.
5) Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

25
6) Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka
Tunggal Ika.
7) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
d. Sila Keempat : Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan/perwakilan
1) Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia
Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang
sama.
2) Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk
kepentingan bersama.
4) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat
kekeluargaan.
5) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang
dicapai sebagai hasil musyawarah.
6) Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan
melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
7) Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas
kepentingan pribadi dan golongan.
8) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan
hati nurani yang luhur.
9) Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan
secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi
harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan
mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan
bersama.
10) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai
untuk melaksanakan pemusyawaratan.
e. Sila Kelima : Keadilan sosial bagi seluruh Indonesia
1) Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan
sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.

26
2) Sikap adil terhadap sesama.
3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
4) Menghormati hak orang lain.
5) Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri
sendiri.
6) Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat
pemerasan terhadap orang lain.
7) Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat
pemborosan dan gaya hidup mewah.
8) Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau
merugikan kepentingan umum.
9) Suka bekerja keras.
10) Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi
kemajuan dan kesejahteraan bersama.
11) Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan
yang merata dan berkeadilan sosial.
3. Etika Publik
Etika publik yaitu pembelian pelayanan kepada masyarakat
Seorang PNS harus mampu memberi pelayanan yang ramah selama
menjalankan tugasnya. Dalam kondisi apapun, PNS tidak boleh terlihat
sombong, angkuh, galak, apalagi tidak sopan.Aspek etika publik antara
lain :
a. Kebersamaan: dapat diartikan bagaimana individu menciptakan
rasa kebersamaan untuk menjalankan pelayanan kepada
pelanggan.
b. Empati: dapat diartikan bagaimana individu memberikan rasa
empati kepada pelanggan tentang masalah/kesulitan yang
dihadapi.
c. Kepedulian: dapat diartikan bagaimana individu peduli terhadap
kesulitan pelnggan dan mencoba mencari solusinya.

27
d. Kedewasaan: dapat diartikan bagaimana individu berpilaku
dewasa sesuai tugas/tupoksinya.
e. Orientasi organisasi: dapat diartikan bagaimana individu
memperhatikan orientasi dalam berperilaku kepada pelanggan.
f.Respek: dapat diartikan bagaimana individu berperilaku sopan
dan santun saat memberikan pelayanan.
g. Kebajikan: dapat diartikan bagaimana individu berberilaku baik
sesuai dengan norma yang berlaku saat melayani pelanggan.
h. Integritas: dapat diartikan bagaimana kesesuaian perkataan
dan perbuatan individu.
i. Inovatif: dapat diartikan bagaimana individu berinovasi dalam
memberikan pelayanan.
j. Keunggulan: dapat diartikan bagaimana individu memiliki
keunggulan tersendiri ketika memberikan pelayanan.
k. Keluwesan: dapat diartikan bagaimana individu berperilaku
luwes saat melayani.
l. Kearifan: dapat diartikan bagaimana individu bijaksana sesuai
dengan situasi dan kondisi saat melayani.

4. Komitmen Mutu
Komitmen mutu yaitu sikap menjaga efektivitas dan efisiensi
mutu.Ada empat indikator dari nilai – nilai dasar komitmen mutu yang
harus diperhatikan, yaitu :
a. Orientasi mutu: orientasi mutu berkomitmen untuk
senantiasa melakukan pekerjaan dengan arah dan tujuan
untuk kualitas pelayanan sehingga pelanggan menjadi puas
dalam pelayanan.
b. Efektif dan efisien: efektif dapat diartikan sejauh mana dapat
mencapai tujuan yang ditetapkan, atau berhasil mencapai

28
apapun yang coba dikerjakan. Efektivitas organisasi tidak
hanya diukur dari performans untuk mencapai target
(rencana) mutu, kuantitas, ketepatan waktu, dan alokasi
sumber daya, melainkan juga diukur dari kepuasan dan
terpenuhinya kebutuhan pelanggan. Sedangkan efisien
dapat diartikan jumbah sumber daya yang digunakan untuk
mencapai tujuan. Efisiensi ditentukan oleh berapa banyak
bahan baku, uang dan manusia untuk mencapai tujuan.
c. Inovasi: Inovasi dalam layanan publik harus mencerminkan
hasil pemikiran baru yang konstruktif, sehingga akan
memotivasi setiap individu untuk membangun karakter dan
mindset baru sebagai aparatur penyelenggara pemerintahan,
yang diwujudkan dalam bentuk profesionalisme layanan
publik yang berbeda dengan sebelumnya, bukan sekedar
menjalankan atau menggugurkan tugas rutin.
d. Adaptasi: dapat diartikan bagaimana pegawai mengadaptasi
dari program atau organisasi lain untuk meningkatkan mutu
organisasinya.
e. Pelayanan sepenuh hati: dapat diartikan bagaimana pegawai
memberikan pelayanan sepenuh hati kepada pelanggan.
f. Perbaikan berkelanjutan: dapat diartikan bagaimana
pegawai/organisasi melakukan suatu perbaikan setelah
melihat situasi dan kondisi yang ada di unit kerjanya.

5. Anti Korupsi
Kata korupsi berasal dari bahasa latin yaitu Corruptio yang artinya
kerusakan, kebobrokan dan kebusukan. Korupsi dikatakan sebagai
kejahatan yang luar biasa karena dampaknya yang luar biasa yaitu
mampu merusak tatanan kehidupan dalam ranah pribadi, keluarga,
masyarakat maupun ranah kehidupan yang lebih luas lagi.

29
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama dengan pakar telah
melakukan identifikasi nilai – nilai dasar anti korupsi. Ada 9 (sembilan)
nilai – nilai anti korupsi yang harus diperhatikan, yaitu :
1) Jujur
Kejujuran merupakan nilai dasar yang menjadi landasan
utama bagi penegakan integritas diri. Seseorang yang dapat
berkata jujur dan transparan serta tidak berdusta baik terhadap diri
sendiri maupun orang lain, sehingga dapat membentengi diri dari
perbuatan curang.
2) Peduli
Adanya kepedulian terhadap orang lain menjadikan
seseorang memiliki rasa kasih sayang antar sesama. Pribadi
dengan jiwa sosial yang tinggi tidak akan tergoda untuk
memperkaya diri sendiri dengan cara yang tidak benar.
3) Mandiri
Kemandirian membentuk karakter pada diri seseorang
untuk tidak mudah bergantung kepada pihak lain. Pribadi yang
mandiri tidak akan menjalin hubungan dengan pihak-pihak yang
tidak bertanggung jawab demi mencapai keuntungan sesaat.
4) Disiplin
Disiplin adalah kunci keberhasilan semua orang. Seseorang
yang mempunyai pegangan kuat terhadap nilai kedisiplinan tidak
akan terjerumus dalam kemalasan yang mendambakan kekayaan
dengan cara yang mudah.
5) Tanggung Jawab
Pribadi yang utuh dan mengenal diri dengan baik akan
menyadari bahwa keberadaan dirinya di muka bumi adalah untuk
melakukan perbuatan baik demi kemaslahatan sesama manusia.
Dengan kesadaran seperti ini maka seseorang tidak akan
tergelincir dalam perbuatan tercela dan nista.
6) Kerja Keras

30
Individu beretos kerja akan selalu berupaya meningkatkan
kualitas hasil kerjanya demi terwujudnya kemanfaatan publik yang
sebesar-besarnya.
7) Sederhana
Pribadi yang berintegritas tinggi adalah seseorang yang
menyadari kebutuhannya dan berupaya memenuhi kebutuhannya
dengan semestinya tanpa berlebih-lebihan.
8) Berani
Seseorang yang memiliki karakter kuat akan memiliki
keberanian untuk menyatakan kebenaran dan menolak kebathilan.
9) Adil
Pribadi dengan karakter yang baik akan menyadari bahwa
apa yang dia terima sesuai dengan jerih payahnya. Adil
merupakan kemampuan seseorang untuk memperlakukan orang
lain sesuai dengan hak dan kewajibannya.
A. Kedudukan dan Peran PNS
Kedudukan ASN dalam NKRI yaitu
1. Pegawai ASN berkedudukan sebagai Aparatur Negara.
2. Pegawai ASN melaksanakan Kebijakan yang ditetapkan oleh
Pimpinan Instansi Pemerintah serta harus bebas dari pengaruh
dan Intervensi semua Golongan serta Parpol.
3. Pegawai ASN dilarang menjadi anggota dan/atau pengurus partai
politik.
4. Kedudukan ASN berada di Pusat, Daerah dan Luar Negeri,
namun demikian Pegawai ASN merupakan satu kesatuan.
ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk melaksanakan kebijakan
yang dibuat oleh pejabat pembina kepegawaian sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan. Untuk itu ASN harus mengutamakan
kepentingan publik dan masyarakat luas dalam menjalankan fungsi dan
tugasnya tersebut. Harus mengutamakan pelayanan yang berorientasi
pada kepentingan publik.

31
Bagian Ketiga Peran Pasal 12 Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara, pegawai ASN
berperan sebagai perencana, pelaksana, dan pengawas pemerintahan dan
penyelenggaraan pembangunan tugas umum nasional melalui pelaksanaan
kebijakan dan pelayanan publik yang profesional, bebas dari intervensi
politik, serta bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Setiap
kegiatan yang dilakukan PNS pasti terdapat konsekuensi baik berupa
penghargaan maupun sanksi,semestinya sebagai PNS kita tidak boleh
melalaikan kewajiban kita di kantor. Dengan adanya Peraturan Pemerintah
nomor 53 tahun 2010 tentang Disiplin PNS dalam pasal 3 dijelaskan
tentang kewajiban selaku PNS sebagai berikut:
1. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan
Republik Indonesia, dan Pemerintah;
2. Menaati segala ketentuan peraturan perundang-undangan;
3. Melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada PNS
dengan penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab;
4. Menjunjung tinggi kehormatan negara, Pemerintah, dan martabat
PNS;
5. Mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan sendiri,
seseorang, dan/atau golongan;
6. Memegang rahasia jabatan yang menurut sifatnya atau menurut
perintah harus dirahasiakan;
7. Bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk
kepentingan negara;
8. Melaporkan dengan segera kepada atasannya apabila
mengetahui ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan
negara atau Pemerintah terutama di bidang keamanan, keuangan,
dan materiil;
9. Masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja;
10. Mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapkan;

32
11. Menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara
dengan sebaik-baiknya;
12. Memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat;
13. Membimbing bawahan dalam melaksanakan tugas;
14. Memberikan kesempatan kepada bawahan untuk
mengembangkan karier; dan
15. Menaati peraturan kedinasan yang ditetapkan oleh pejabat yang
berwenang.

1. Manajemen ASN
Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan
pegawai ASN yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas
dari intervensi politik, bersih dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme.
Manajemen ASN meliputi Manajemen PNS dan Manajemen PPPK. PNS
diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian untuk menduduki suatu
jabatan pemerintahan dan memilili nomor induk pegawai nasional.
Sementara itu, PPPK diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian
berdasarkan perjanjian kerja sesuai dengan kebutuhan instansi
pemerintah untuk jangka waktu tertentu.
Manajemen ASN diselenggarakan berdasarkan Sistem Merit.
Manajemen ASN meliputi penyusunan dan penetapan kebutuhan;
pengadaan; pangkat dan jabatan; pengembangan karier; pola karier;
promosi; mutasi; penilaian kinerja; penggajian dan tunjangan;
penghargaan; disiplin; pemberhentian; jaminan pensiun dan jaminan hari
tua; dan perlindungan (LAN, Manajemen Aparatur Sipil Negara, 2014).
2. Pelayanan Publik
LAN (1998), mengartikan pelayanan publik sebagai segala bentuk
kegiatan pelayanan umum yang dilaksanakan oleh Instansi
Pemerintahan di Pusat dan Daerah, dan di lingkungan BUMN/BUMD
dalam bentuk barang dan /atau jasa, baik dalam pemenuhan kebutuhan
masyarakat. Dalam UU No. 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik,

33
Pelayanan Publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka
pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan Peraturan perundang-
undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa,
dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara
Pelayanan Publik.
Barang/jasa publik adalah barang/jasa yang memiliki rivalry
(rivalitas) dan excludability (ekskludabilitas) yang rendah. Barang/jasa
publik yang murni yang memiliki ciri-ciri: tidak dapat diproduksi oleh
sektor swasta karena adanya free rider problem, non-rivalry, dan non-
excludable, serta cara mengkonsumsinya dapat dilakukan secara
kolektif. Perkembangan paradigma pelayanan: Old Public Administration
(OPA), New Public Management (NPM) dan seterusnya menjadi New
Public Service (NPS).
Sembilan prinsip pelayanan publik yang baik untuk mewujudkan
pelayanan prima adalah: partisipatif, transparan, responsif, non
diskriminatif, mudah dan murah, efektif dan efisien, aksesibel, akuntabel,
dan berkeadilan.
Fundamen Pelayanan Publik:
a. Pelayanan publik merupakan hak warga negara sebagai amanat
konstitusi
b. Pelayanan publik diselenggarakan dengan pajak warga negara
c. Pelayanan publik diselenggarakan dengan tujuan untuk mencapai hal-
hal strategis untuk memajukan bangsa di masa yang akan datang
d. Pelayanan publik tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan
warga negara tetapi juga untuk proteksi
3. Whole of Government
Whole of Goverment (WoG) merupakan suatu pendekatan
penyelenggaraan pemerintah yang menyatukan upaya-upaya kolaboratif
pemerintahan dari keseluruhan sektor dalam ruang lingkup koordinasi
yang lebih luas guna mencapai tujuan-tujuan pembangunan kebijakan,
manajemen program, dan pelayanan publik. Oleh karena itu WoG

34
dikenal sebagai pendekatan interagency, yaitu pendekatan dengan
melibatkan sejumlah kelembagaan yang terkait urusan-urusan yang
relevan (Suwarno & Sejati, 2016).
WoG dipandang sebagai metode suatu instansi pelayanan publik
bekerja lintas batas atau lintas sektor guna mencapai tujuan bersama
dan sebagai respon terpadu pemerintah terhadap isu-isu tertentu
(Shergold & lain-lain, 2004).
Alasan penerapan WoG dalam sistem aparatur sipil Indonesia
adalah:
a. Adanya faktor-faktor eksternal seperti dorongan publik dalam
mewujudkan integrasi kebijakan, program pembangunan dan
pelayanan agar tercipta penyelenggaraan pemerintahan lebih
baik, selain itu perkembangan teknologi informasi, situasi dan
dinamika kebijakan yang lebih kompleks juga mendorong
pentingnya WoG.
b. Faktor-faktor internal dengan adanya fenomena ketimpangan
kapasitas sektoral sebagai akibat dari adanya nuansa kompetisi
antar sektor dalam pembangunan.
c. Keberagaman latar belakang nilai, budaya, adat istiadat, serta
bentuk latar belakang lainnya mendorong adanya potensi
disintegrtasi bangsa.

35
B. Teori Luka Diabetes Mellitus (DM)
Data epidemiologi menunjukkan estimasi risiko ulkus diabetikum adalah
15% dari keseluruhan penderita diabetes.

Global
Lebih dari 150 juta penduduk dunia pada tahun 2016 menderita diabetes
dan hampir seperempatnya berisiko memiliki ulkus diabetikum. 25% kasus ulkus
diabetikum berdampak pada amputasi organ. 40% kasus ulkus diabetikum dapat
dicegah dengan rawat luka yang baik. 60% kasus ulkus diabetikum berkaitan erat
dengan neuropati perifer. Diestimasikan bahwa risiko mengalami komplikasi ulkus
kaki diabetes adalah 15%.

Indonesia
Pada tahun 2016, World Health Organization mencatat angka
prevalensi diabetes di Indonesia adalah 7% dari total populasi. Sejak tahun
1980, angka prevalensi diabetes di Indonesia terus meningkat. [14]
Persentase ulkus diabetikum sebagai komplikasi diabetes mellitus pada
tahun 2011 di RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta (RSCM) adalah
8.70%.

Mortalitas dan Morbiditas


Pada tahun 2015, disetimasikan sekitar 1.6 juta kematian disebabkan
oleh diabetes. Diabetes diperkirakan akan berada di posisi ke-tujuh sebagai
penyebab kematian terbanyak pada tahun 2030.
Diabetes menyebabkan kematian sebanyak 6% dari total kematian dari
seluruh usia di Indonesia pada tahun 2016. Diabetes menyebabkan sekitar
50,000 kematian di tahun 2016 pada kelompok usia 70 tahun ke atas.
Untuk ulkus diabetikum sendiri, mortalitas seringkali diasosiasikan
dengan sclerosis yang terjadi di arteri besar seperti arteri koroner atau renal.
Angka survival jangka panjang untuk pasien dengan amputasi buruk, terutama
pada pasien dengan peripheral artery disease (PAD) atau insufisiensi renal.

36
Prediktor kematian yang signifikan pada pasien dengan amputasi adalah usia,
kelamin laki-laki, insufisiensi renal kronik, dialisis, dan PAD.
Amputasi untuk ulkus diabetes menyebabkan morbiditas yang tinggi;
sekitar 0.03% -1.5% pasien dengan ulkus diabetik akan memerlukan amputasi.
Pada pasien dengan neuropati, bila manajemen yang baik telah sukses
menyembuhkan ulkus diabetikum, tingkat rekurensi adalah 66% dan tingkat
amputasi meningkat menjadi 12%.

Kabupaten Jepara
Penyakit DM menempati urutan ke dua di Kabupaten Jepara (Dinkes , 2015)
yaitu sebanyak 14,97%. Besarnya jumlah tersebut hampir sama dengan jumlah
di Provinsi Jawa Tengah.

Gambar 3.2. Gambar profil penyakit di Jepara

Gambar 3.3. Gambar profil penyakit di Jepara

37
Data dari RSUD RA Kartini Jepara tahun 2017, Diabetes mellitus sendiri
menempati penyakit peringkat pertama dari 10 penyakit yang banyak
membutuhkan perawatan inap.

38
BAB III
TUGAS UNIT KERJA DAN TUGAS PESERTA

A. Profil Organisasi
1. Dasar Hukum Pembentukan Organisasi
Berdasarkan Dasar Hukum terkait dengan operasional RSUD
RA.Kartini KabupatenJepara adalah sebagai berikut :
a. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan
Daerah-Daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Jawa
Tengah;
b. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003
Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4286);
c. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4355);
d. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5063);
e. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009,
tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor153, Tambahan Negara Republik
Indonesia Nomor 5072);
f. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014
Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5587), sebagaimana telah diubah beberapa kali
terakhir dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2015

39
tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
Undang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;
g. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 48, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4502)
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah
Nomor 74 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan
Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Badan Layanan Umum;
h. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 61 Tahun 2007
tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan
Layanan Umum Daerah;
i. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.07.06.//III/1512/08
tentang Pemberian Izin Penyelenggaraan Rumah Sakit Umum
Daerah Dengan Nama “Rumah Sakit Umum RA. Kartini
Kabupaten Jepara” Propinsi Jawa Tengah;
j. Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 445/66 Tahun
2013 tentang Pemberian Perpanjangan Izin Operasional
Rumah Sakit Umum RA. Kartini Jepara;
k. Peraturan Daerah Kabupaten Jepara Nomor 10 Tahun 2006
tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah
(Lembaran Daerah Kabupaten Jepara Tahun 2006 Nomor 10,
Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Jepara Nomor 3);
l. Peraturan Daerah Kabupaten Jepara Nomor 18 Tahun 2010
tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah
Kabupaten Jepara (Lembaran Daerah Kabupaten Jepara
Tahun 2010 Nomor 18);
m. Peraturan Daerah Kabupaten Jepara Nomor 14 Tahun 2016
tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah

40
Kabupaten Jepara (Lembaran Daerah Kabupaten Jepara
Tahun 2016 Nomor 14, Tambahan Lembaran Daerah
Kabupaten Jepara Nomor 11);
n. Peraturan Bupati Jepara Nomor 3 Tahun 2009 tentang Pola
Tata Kelola Rumah Sakit Umum Daerah RA. Kartini
Kabupaten Jepara (Berita Daerah Kabupaten Jepara Tahun
2009 Nomor 3);
o. Peraturan Bupati Jepara Nomor 58 Tahun 2010 tentang
Penjabaran Tugas dan Fungsi RSUD RA. Kartini Kabupaten
Jepara (Berita Daerah tahun 2010 Nomor 360);
p. Keputusan Bupati Jepara Nomor 267 Tahun 2008 tentang
Penetapan RSUDRA. Kartini Kabupaten Jepara sebagai
Satuan Kerja Perangkat Daerah yang Menerapkan Pola
Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PK-
BLUD);
q. Keputusan Bupati Jepara Nomor 445/328 Tahun 2017 tentang
Perubahan Atas Keputusan Bupati Jepara Nomor 209 Tahun
2009 tentang Penetapan Visi dan Misi RSU RA Kartini Jepara.

2. Visi, Misi dan Nilai Organisasi


a. Visi dan Misi
Sebagai upaya untuk mencapai tujuan dan menggerakkan roda
organisasi rumah sakit, maka RSUD RA.Kartini Kabupaten Jepara
memiliki visi “Terwujudnya Rumah Sakit Pendidikan dan
Pelayanan Rujukan Utama”, sedangkan misi RSUD RA. Kartini
Kabupaten Jepara :

1. Menyelenggarakan pelayanan prima;


2. Mengembangkan profesionalisme sumber daya manusia;
3. Mengembangkan pendidikan, penelitian dan pengabdian
masyarakat

41
4. Melengkapi sarana dan prasarana sesuai perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi;
5. Meningkatkan kerjasama lintas sektor.
Guna mewujudkan visi dan misi tersebut, RSUD RA.Kartini
Kabupaten Jepara menerapkan motto, yaitu “Mitra Anda Menjadi
Sehat”.

b. Nilai-nilai
Nilai-nilai yang ada di RSUD RA Kartini Jepara adalah sebagai
berikut:
1) Ketaqwaan
2) Etos Kerja
3) Kebersamaan
4) Kejujuran
5) Keterbukaan
6) Akuntabilitas
7) Efisien dan Efektivitas
8) Profesionalisme
9) Pelayanan Prima

3. Struktur Organisasi

Melalui Peraturan Daerah Kabupaten Jepara Nomor 14 Tahun


2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah
Kabupaten Jepara, telah ditetapkan Struktur Organisasi Rumah
Sakit Umum RA. Kartini Jepara sebagai berikut:

42
Gambar 3.1. Struktur Organisasi RSUD RA Kartini Jepara

4. Deskripsi Sumber Daya Manusia, Fasilitas, dan Layanan.


a. Sumber Daya Manusia (Ketenagaan)
Faktor sumber daya manusia sebagai motivator dalam
melaksanakan kegiatan pelayanan kesehatan rumah sakit, tidak
lepas dari pertimbangan kualitas dan kuantitas sumber daya
manusia itu sendiri. Klasifikasi dan jumlah tenaga di RSUD RA.
Kartini Kabupaten Jepara tahun 2017 dapat dilihat pada
tabel 3.1.

43
Tabel 3.1
Data Pegawai Berdasarkan Kualifikasi Pendidikan dan Jenis Kelamin
RSUD RA. Kartini Kabupaten Jepara
Tahun 2017

KEADAAN
KUALIFIKASI PENDIDIKAN Perempua
Laki-laki
n

TENAGA KESEHATAN

1. TENAGA MEDIS

1.1 Dokter Umum 10 15

1.2 Dokter PPDS - -

1.3 Dokter Spesialis Bedah 2 2

1.4 Dokter Spesialis Penyakit Dalam 1 2

1.5 Dokter Spesialis Kesehatan Anak 1 1

1.6 Dokter Spesialis Obsgyn 4 -

1.7 Dokter Spesialis Radiologi 1 1

1.8 Dokter Spesialis Onkologi Radiasi - -

1.9 Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir - -

1.10 Dokter Spesialis Anesthesi 1 1

1.11 Dokter Spesialis Patologi Klinik 1 -

1.12 Dokter Spesialis Jiwa - 2

1.13 Dokter Spesialis Mata - 2

1.14 Dokter Spesialis THT - 3

1.15 Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin - 1

1.16 Dokter Spesialis Kardiologi 1 -

44
KEADAAN
KUALIFIKASI PENDIDIKAN Perempua
Laki-laki
n

1.17 Dokter Spesialis Paru 2 -

1.18 Dokter Spesialis Saraf 2 -

1.19 Dokter Spesialis Bedah Saraf - -

1.20 Dokter Spesialis Bedah Orthopedi 1 -

1.21 Dokter Spesialis Urologi - -

1.22 Dokter Spesialis Patologi Anatomi - 1

1.23 Dokter Spesialis Patologi Forensik - -

1.24 Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik 1 -

1.25 Dokter Spesialis Bedah Plastik - -

1.26 Dokter Spesialis Ked. Olah Raga - -

1.27 Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik - -

1.28 Dokter Spesialis Parasitologi Klinik - -

1.29 Dokter Spesialis Parasitologi Klinik - -

1.30 Dokter Spesialis Gizi Medik - -

1.31 Dokter Spesialis Farma Klinik - -

1.32 Dokter Gigi - 2

1.33 Dokter Gigi Spesialis - -

1.34 Dokter/Dokter Gigi MHA/MARS - -

1.35 Dokter/Dokter Gigi S2/S3 Kes Masy - -

1.36 S3 (Dokter Konsultan) - -

2. TENAGA PARA MEDIS

45
KEADAAN
KUALIFIKASI PENDIDIKAN Perempua
Laki-laki
n

2.1 S3 Keperawatan - -

2.2 S2 Keperawatan - -

2.3 S1 Keperawatan 7 17

2.4 S1 Profesi Ners 43 68

2.5 D4 Keperawatan 3 1

Perawat Vokasional / D3 77 144


2.6
Keperawatan

2.7 Perawat Spesialis - -

2.8 Pembantu Keperawatan - -

2.9 S3 Kebidanan - -

2.10 S2 Kebidanan - -

2.11 S1 Kebidanan / D4 Kebidanan - 7

2.12 D3 Kebidanan - 63

2.13 D1 Kebidanan - 1

3. TENAGA KESEHATAN LAIN

3.1 S3 Farmasi / Apoteker - -

3.2 S2 Farmasi / Apoteker - 1

3.3 D3 Farmasi 1 6

3.4 S1 Farmasi - 3

3.5 S1 Profesi Apoteker 3 8

3.6 AKAFARMA - -

3.7 Analisis Farmasi - -

46
KEADAAN
KUALIFIKASI PENDIDIKAN Perempua
Laki-laki
n

3.8 Asisten Apoteker / SMF 1 8

3.9 ST Lab Kimia Farmasi - -

3.10 Tenaga Kefarmasian Lainnya - -

4. TENAGA KESEHATAN LAIN

4.1 S3 - Kesehatan Masyarakat - -

4.2 S3 – Epidemiologi - -

4.3 S3 – Psikologi - -

4.4 S2 - Kesehatan Masyarakat - -

4.5 S2 – Kesehatan Lingkungan 1 -

4.6 S2 – Epidemiologi - -

4.7 S2 - Biomedik - -

4.8 S2 – Psikologi - -

4.9 S1 - Kesehatan Masyarakat 4 11

4.10 S1 – Psikologi - -

4.11 S1 Profesi Psikologi - 2

4.12 D3 - Kesehatan Masyarakat - -

4.13 D3 – Sanitarian 2 1

4.14 D1 - Sanitarian - -

5. TENAGA KESEHATAN LAIN

5.1 S3 - Gizi / Dietisien - -

5.2 S2 - Gizi / Dietisien - 1

47
KEADAAN
KUALIFIKASI PENDIDIKAN Perempua
Laki-laki
n

5.3 S1 - Gizi / Dietisien 1 1

5.4 D4 - Gizi / Dietisien - -

5.5 Akademi / D3 - Gizi / Dietisien 2 4

5.6 D1 - Gizi / Dietisien - -

5.7 Tenaga Gizi Lainya - -

6 TENAGA KESEHATAN LAIN

6.1 S1 Fisio Terapi - -

6.2 D3 Fisio Terapi 2 3

6.3 D3 Okupasi Terapi 1 -

6.4 D3 Terapi Wicara - 2

6.5 D3 Orthopedi - -

6.6 D3 Akupuntur - -

6.7 Tenaga Keterapian Fisik Lainnya - -

7 TENAGA KESEHATAN LAIN

7.1 D4 Fisika Medik - -

7.2 D3 Teknik Gizi - -

7.3 D3 Teknik Radiologi & Radio Terapi 4 2

7.4 D4 Teknik Radiologi & Radio Terapi 1 -

7.5 D3 Refraksionis Optisien - 1

7.6 D3 Perekam Medis 4 6

7.7 D3 Teknik Elektromedik 3 -

48
KEADAAN
KUALIFIKASI PENDIDIKAN Perempua
Laki-laki
n

7.8 D3 Analisis Kesehatan 1 16

7.9 D4 Analisis Kesehatan 1 2

7.10 D3 Informasi Kesehatan - -

7.11 D3 Kardiovaskular - -

7.12 D3 Orthotik Prostetik 1 -

7.13 D1 Teknik Bank Darah 2 -

7.14 Teknisi Gigi - -

7.15 Tenaga IT dengan teknologi Nano - -

7.16 Teknisi Patologi Anatomi - -

7.17 Teknisi Kardiovaskuler - -

7.18 Teknisi Elektromedis - -

7.19 Akupuntur Terapi - -

7.20 Tenaga Keterapian Fisik Lainnya - -

TENAGA NON KESEHATAN

8. DOKTORAL

8.1 S3 Biologi - -

8.2 S3 Kimia - -

8.3 S3 Ekonomi / Akuntansi - -

9. PASCA SARJANA

9.1 S2 Biologi - -

9.2 S2 Kimia - -

49
KEADAAN
KUALIFIKASI PENDIDIKAN Perempua
Laki-laki
n

S2 2 8
9.3
Ekonomi/Akuntansi/Management

9.4 S2 Management Kesehatan 3 -

9.5 S2 Hukum 2 2

9.6 S2 Teknik - -

9.7 Pasca Sarjana Lainnya (S2) 1 -

10 SARJANA

10.1 Sarjana Biologi 1 -

10.2 Sarjana Kimia - -

10.3 Sarjana Ekonomi 1 8

10.4 Sarjana Manajemen 3 9

10.5 Sarjana Akuntansi - 2

10.6 Sarjana Administrasi - -

10.7 Sarjanan Hukum 6 2

10.8 Sarjana Teknik 2 2

10.9 Sarjana Kes. Sosial - -

10.11 Sarjana Fisika - -

10.12 Sarjana Teknik Informatika 2 1

10.13 Sarjana Komputer 1 -

10.14 Sarjana Teknis Mesin 1 -

10.15 Sarjana Teknik Nuklir - 1

10.16 Sarjana Komunikasi 1 -

50
KEADAAN
KUALIFIKASI PENDIDIKAN Perempua
Laki-laki
n

10.17 Sarjana Sosiologi - 1

10.18 Sarjana Lainnya (S1) 5 7

11 D4

11.1 D4 Akuntansi - 1

11.2 D4 Teknik Nuklir 1 -

12 D3

12.1 D3 Teknik Informatika - 1

12.2 D3 Perpajakan - 1

12.3 D3 Perikanan 1 -

D3 Komputer Manajemen 1 -
12.4
Informatika

12.5 D3 Manajemen - 1

12.6 Manajemen Informatika 1 2

12.7 D3 Manajemen Perkantoran - 1

12.8 D3 Kearsipan - 1

12.9 D3 Lainnya 1 -

13 SMU SEDERAJAT DAN DI BAWAHNYA

13.1 SMA/SMU 97 58

13.2 SMK 5 5

13.3 SLTA Keperawatan Gigi - 2

13.4 SMP 13 5

13.5 SPK - 1

51
KEADAAN
KUALIFIKASI PENDIDIKAN Perempua
Laki-laki
n

13.6 SD 3 1

Total 347 534

Total Laki-laki + Perempuan 881

b. Fasilitas
Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, saat ini
di RSUD RA. Kartini Kabupaten Jepara telah dilengkapi dengan
beberapa alat-alat kesehatan canggih seperti pada tabel 3.2.

Tabel 3.2
Daftar Alat Kesehatan di RSUD RA. Kartini Kabupaten Jepara
Tahun 2017

NO NAMA ALKES FUNGSI

1 Alat bedah orthopedi Mendukung tindakan bedah orthopedi

Ultrasonografi yang digunakan untuk


pemeriksaan otot, tulang, sendi, tulang
2 USG Musculoskeletal
rawan sendi, tendon dan jaringan
lunak sekitar sendi (muskuloskeletal)

Tempat untuk menstabilkan suhu


Infant Warmer dan
3 tubuh bayi yang lahir mengalami
Incubator PICU-NICU
hipotermia

Merangsang pertumbuhan dan


4 Alat Laser Therapy penyembuhan jaringan dan
mengurangi peradangan dan edema

5 Mikroskop mata Menunjang pemeriksaan mata

52
NO NAMA ALKES FUNGSI

Untuk melihat bagian


6 USG Mata
lapisan mata paling dalam

Menunjang pemeriksaan kelainan


7 Mammografi
pada payudara

Untuk operasi katarak tanpa


8 Phacoemulsification
pembedahan dan pemasangan lensa

c. Jenis Layanan di RSUD RA Kartini Jepara


Layanan kesehatan yang disediakan oleh RSUD RA. Kartini
Kabupaten Jepara berupa fasilitas pelayanan medis dan non medis
baik untuk Instalasi Rawat Jalan maupun Instalasi Rawat Inap serta
sarana dan prasarana tempat tidur yang dimiliki oleh RSUD RA.
Kartini Kabupaten Jepara.
1. Fasilitas Pelayanan Medis
a. Instalasi Rawat Jalan
1) Klinik Spesialis Penyakit Dalam
2) Klinik Spesialis Penyakit Jantung
3) Klinik Spesialis Bedah
4) Klinik Spesialis Anak
5) Klinik Spesialis Kebidanan dan Kandungan (Obsgyn)
6) Klinik Spesialis Saraf
7) Klinik Spesialis Penyakit Kulit dan Kelamin
8) Klinik Spesialis THT
9) Klinik Spesialis Mata
10) Klinik Spesialis Jiwa
11) Klinik Spesialis Paru/ DOTS
12) Klinik Spesialis Bedah Ortopedi dan Traumatologi
13) Klinik Medical Check Up / MCU
14) Klinik Matahari
15) Klinik Gigi

53
16) Klinik Gizi
b. Instalasi Rawat Inap
Ruang Rawat Inap dengan berbagai kelas layanan
dengan fasilitas tempat tidurnya yang tersedia di RSUD RA.
Kartini Kabupaten Jepara sejumlah 460 Tempat Tidur (TT)
sebagaimana tercantum dalam tabel 3.3

Tabel 3.3
Data Tempat Tidur Ruang Perawatan
RSUD RA. Kartini Kabupaten Jepara
Tahun 2017

JUMLAH
NO. RUANG PERAWATAN
TEMPAT TIDUR

1. VIP 23

2. Kelas I 78

3. Kelas II 40

4. Kelas III 246

5. HND 25

6. ISOLASI 10

7. Khusus (PICU/ NICU/ ICU) 38

Jumlah 460

Sumber Data : Profil RSUD RA Kartini


(2017)
c. Instalasi Gawat Darurat
d. Instalasi Perawatan Intensif/ ICU (Intensive Care Unit)
e. Instalasi PICU/NICU (Paediatric Intensive Care Unit/ Neonate
Intensive Care Unit)
f. Instalasi Bedah Sentral (IBS)
g. Unit Hemodialisa
h. Unit Kemoterapi

54
2. Pelayanan Penunjang Lainnya
a. Laboratorium Patologi Klinik
b. Laboratorium Patologi Anatomi
c. Instalasi Farmasi
d. Instalasi Radiologi
e. Instalasi Gizi
f. Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit (IPSRS) dan Sanitasi
g. Instalasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
h. Instalasi Rekam Medis
i. Instalasi Central Sterilization Supply Departement (CSSD)
&Laundry
j. Instalasi Rehabilitasi Medik
k. Instalasi Pemulasaraan Jenasah
l. Instalasi Pendidikan dan Pelatihan (Diklat)
m. Unit Bank Darah Rumah Sakit (BDRS)
n. Unit Laboratorium Mikrobiologi Klinik
o. Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS)

B. Tugas Jabatan Peserta Diklat


Tugas jabatan peserta diklat sebagai Dokter Ahli Pertama di RSUD RA
Kartini Jepara adalah sebagai berikut:

1. Melakukan pelayanan medik umum rawat jalan tingkat pertama


2. Melakukan tindakan khusus oleh dokter umum tingkat sederhana
3. Melakukan kunjungan visite pasien rawat inap
4. Melakukan pemulihan fisik tingkat sederhana
5. Melakukan penyuluhan medik
6. Membuat catatan medik pasien rawat inap
7. Membuat catatan medik pasien rawat jalan
8. Melayani atau menerima konsultasi dari luar atau ke luar
9. Melayani atau menerima konsultasi dari dalam

55
10. Melakukan tugas jaga panggilan / on call.
11. Melakukan tugas jaga di tempat/ di rumah sakit

C. Role Model

Gambar 3.2 Gambar Roll Model

Sri Mulyani Indrawati, SE, M.SC, Ph.D

Tokoh yang menjadi roll model penulis adalah Sri Mulyani Indrawati,
SE, M.SC, Ph.D, lahir di Bandar Lampung 26 Agustus 1962. Adalah wanita
sekaligus orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana
Bank Dunia. Jabatan ini diembannya mulai 1Juni 2010 hingga dia dipanggil
kembali oleh Presiden Joko Widodo untuk menjabat sebagai Mentri Keuangan
menggantikan Bambang Brodjonegoro pada 27 Juli 2016. Sebelumnya dia
menjabat sebagai Mentri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu.
Ketika menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia, maka ia pun
meninggalkan jabatannya sebagai Menteri Keuangan saat itu. Sebelum
menjadi Menteri Keuangan, dia menjabat sebagai Menteri Negara
Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala BAPPENAS dari Kabinet
Indonesia Bersatu. Sri mulyani dikenal sebagai pengamat ekonomi di

56
Indonesia. Ia menjabat sebagai Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan
Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEUI) sejak Juni
1998. Pada 5 Desember 2005, ketika Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono
mengumumkan perombakan Kabinet, Sri Mulyani dipindahkan menjadi
Menteri Keuangan menggantikan Jusuf Anwar. Sejak tahun 2008, ia menjabat
Pelaksana Tugas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, setelah Menko
Perekonomian Dr. Boediono dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia.
Ia dinobatkan menjadi Menteri Keuangan terbaik se ASIA untuk tahun
2006 oleh Emerging Markets pada 18 September 2006 di sela sidang tahunan
Bank Dunia dan IMF di Singapura. Ia juga terpilih sebagai wanita paling
berpengaruh ke – 23 di Dunia versi majalah Forbes tahun 2008 dan wanita
paling berpengaruh ke-2 di Indonesia versi majalah Globe ASIA bulan Oktober
2007.
Beliau menjadi sosok yang menginspirasi penulis karena etos kerja dan
integritasnya yang luar biasa karena etos kerja yang tinggi, tidak memihak
partai politik manapun. Nasionalisme nya sangat tinggi, walaupun memiliki
penghargaan tinggi dan jabatan tinggi di Luar negeri, belliau tetap kembali
membantu membangun Negara Indonesia ini agar lebih maju.

57
BAB IV
RANCANGAN KEGIATAN AKTUALISASI

A. RENCANA KEGIATAN AKTUALISASI DI UNIT KERJA


1. Unit : RSUD RA Kartini Jepara
2. Identifikasi Isu :
a. Belum optimalnya penatalaksanaan pasien
luka diabetes mellitus (DM) di RSUD RA
Kartini
b. Belum optimalnya pemberian marking site
operasi pada pasien pre operasi di RSUD
RA Kartini
c. Kurangnya penjelasan tenaga medis
tentang informed consent tindakan bedah di
RSUD RA Kartini
d. Lambatnya waktu tunggu sign in pasien pre
operasi di ruang bedah sentral RSUD RA
Kartini Jepara
e. Menurunnya kunjungan pasien rawat jalan
di Poli Bedah RSUD RA Kartini
f. Kurangnya komunikasi efektif antara
petugas rawat inap dengan petugas
instalasi bedah sentral dalam proses
pemindahan pasien post operasi di RSUD
RA Kartini

3. Isu yang diangkat :


Belum optimalnya penatalaksanaan pasien luka diabetes mellitus (DM)
di RSUD RA Kartini

58
4. Gagasan pemecahan isu :
Gagasan kegiatan untuk menyelesaikan Isu terdiri atas 6 kegiatan

1. Melaksanakan pelayanan medis rawat jalan


2. Melaksanakan pelayanan medis rawat inap
3. Melaksanakan pelayanan bedah di Instalasi bedah sentral
(IBS)
4. Memberikan refresh materi mengenai perawatan luka
kepada petugas kesehatan
5. Membuat Standar Operation Procedure (SOP) tentang
perawatan luka DM yang berkolaborasi antara medis serta
paramedis yang menangani pasien

59
Tabel 4.1. Rancangan Kegiatan Aktualisasi di RSUD RA Kartini Jepara

Keterkaitan
N Kontribusi Terhadap Penguatan Nilai
Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
o. Visi-Misi Organisasi Organisasi
Pelatihan
1 2 3 4 5 6 7
1. Melaksana Terlaksananya Memberikan Kegiatan ini
kan pelayanan
pelayanan medis mendorong
pelayanan medis rawat
jalan rawat jalan yang optimalisaasi kualitas
medis
rawat inap baik sesuai pelayanan dalam
(SKP) dengan perawatan luka DM
1. Menerima 1. Memperoleh Etika publik:
kompetensi yang menurut alur yang
pasien di poli data identitas Diwujudkan
bedah pasien dengan sikap dimilikinya dengan benar, sehingga nilai
diperoleh
sopan dan ramah terus Profesionalisme,
untuk
mencari mempertahankan Akuntabilitas, Etos
epidemiologi Komitmen mutu:
kualitas Kerja, dan Pelayanan
penyakit Diwujudkan
dengan pelayanan, dan Prima di rumah sakit
melakukan tentunya dapat tercapai.
kegiatan yang
berkolaborasi
Efektif
dengan tenaga
Anti korupsi: kesehatan lain,
Diwujudkan berkontribusi
dengan
melakukan dalam pencapaian
kegiatan secara visi
mandiri, disiplin

60
Keterkaitan
N Kontribusi Terhadap Penguatan Nilai
Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
o. Visi-Misi Organisasi Organisasi
Pelatihan

“Terwujudnya
Rumah Sakit
Pendidikan dan
Pelayanan
2. Melakukan 2. Catatan medis Nasionalisma:
anamnesis berisi data Diwujudkan Rujukan Utama”
dan anamnesis dan dengan nilai dan misi no.1
pemeriksaan pemeriksaan
kemanusiaan rumah sakit dalam
fisik fisik pasien
(sila ke 2)
“Menyelenggarak
Akuntabilitas:
Diwujudkan an pelayanan
dengan Prima”
melakukan
pemeriksaan
terhadap pasien
dengan penuh
tanggung jawab
Anti korupsi:
Diwujudkan
dengan
melakukan
penulisan
cacatan medis
pasien dengan
jujur

61
Keterkaitan
N Kontribusi Terhadap Penguatan Nilai
Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
o. Visi-Misi Organisasi Organisasi
Pelatihan
3. Melakukan 3. Tangan yang Akuntabilitas\:
Cuci tangan bersih dapat Diwujudkan
sebelum mencegah dengan
memeriksa infeksi sesuai
melakukan cuci
pasien dengan
Standar tangan untuk
operasional melindungi
procedur pasien dari
infeksi dengan
penuh tanggung
jawab
Komitmen mutu:
Diwujudkan
dengan
menjalankan
tugas sesuai
dengan SOP
yang
berorientasi
mutu
4. Melakukan 4. Catatan Akuntabilitas\:
analisis hasil medis berisi Diwujudkan
pemeriksaan hasil dengan
penunjang pemeriksaan mendapatkan
penunjang
informasi
mengenai hasil
pemeriksaan
penunjang untuk
kejelasan

62
Keterkaitan
N Kontribusi Terhadap Penguatan Nilai
Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
o. Visi-Misi Organisasi Organisasi
Pelatihan
diagnosis pasien
Anti korupsi:
Diwujudkan
dengan
melakukan
penulisan
cacatan medis
pasien dengan
jujur
5. Menentukan 5.Catatan medik Akuntabilitas\:
diagnosis berisi Diwujudkan
penyakit diagnosis dengan
pasien menentukan
diagnosis
kejelasan

Anti korupsi:
Diwujudkan
dengan
melakukan
penulisan
cacatan medis
pasien dengan
jujur

63
Keterkaitan
N Kontribusi Terhadap Penguatan Nilai
Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
o. Visi-Misi Organisasi Organisasi
Pelatihan
6. Menentukan 6. Catatan medik Akuntabilitas:
tata laksana berisi Diwujudkan dengan
lebih lanjut tatalaksana melakukan
sesuai pasien, tatalaksana sesuai
dengan informasi ke diagnosis pasien
diagnosis pasien dan secara
pasien keluarga bertanggung
mengenai jawab, kejelasan,
diagnosis, transparansi
tatalaksana,
resiko dan Komitmen mutu:
komplikasi yang Diwujudkan dengan
mungkin akan talaksana secara
terjadi efektif

Anti korupsi:
Diwujudkan
dengan
melakukan
penulisan cacatan
medis pasien
dengan jujur

7. Melakukan 7. Catatan medis Akuntabilitas:


edukasi berisi lembar
perawatan edukasi pasien Diwujudkan dengan
luka, mengenai melakukan edukasi
informasi perawatan luka dan informasi
terhadap sesuai terhadap pasien
pasien dan prosedur yang dan keluarga secara
keluarga berlaku, jelas, transparan
informasi

64
Keterkaitan
N Kontribusi Terhadap Penguatan Nilai
Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
o. Visi-Misi Organisasi Organisasi
Pelatihan
pasien dan dan keadilan
keluarga tanpa
membeda- Etika publik:
bedakan
Diwujudkan dengan
melakukan edukasi
dengan
menggunakan
bahasa yang
mudah di
mengerti, sopan
dan empati

Nasionalisme:

Diwujudkan dengan
melakukan edukasi
kepada pasien dan
keluarga tanpa
membeda-bedakan
sesuai sila ke 2

Anti korupsi:

Diwujudkan dengan
tindakan peduli

Komitmen mutu:

Diwujudkan
dengan
pelayanan
sepenuh hati

65
Keterkaitan
N Kontribusi Terhadap Penguatan Nilai
Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
o. Visi-Misi Organisasi Organisasi
Pelatihan
2. Melaksana Terlaksananya :Memberikan Kegiatan ini
kan pelayanan pelayanan medis mendorong
pelayanan medis rawat rawat inap yang optimalisaasi
inap
medis baik sesuai kualitas pelayanan
rawat inap dengan dalam perawatan
(SKP) kompetensi yang luka DM menurut
dimilikinya dengan alur yang benar,
terus sehingga nilai
1. Menerima 1. Memperoleh Etika publik: mempertahankan Profesionalisme,
pasien di data identitas Diwujudkan kualitas Akuntabilitas,
rawat inap pasien dengan sikap pelayanan, dan Etos Kerja, dan
diperoleh
sopan dan ramah tentunya Pelayanan Prima
untuk
mencari berkolaborasi di rumah sakit
epidemiologi Komitmen mutu: dengan tenaga dapat tercapai.
penyakit Diwujudkan kesehatan lain,
dengan berkontribusi
melakukan dalam pencapaian
kegiatan yang visi “
Efektif Terwujudnya
Rumah Sakit
Anti korupsi: Pendidikan dan
Diwujudkan dengan Pelayanan
melakukan kegiatan Rujukan Utama”
secara mandiri,
dan misi no.1
disiplin
2. Melakukan 2. Catatan medis Nasionalisma: rumah sakit dalam
anamnesis berisi data Diwujudkan “Menyelenggaraka
dan anamnesis dan n pelayanan Prima”
dengan nilai
pemeriksaan pemeriksaan

66
Keterkaitan
N Kontribusi Terhadap Penguatan Nilai
Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
o. Visi-Misi Organisasi Organisasi
Pelatihan
fisik fisik pasien kemanusiaan
(sila ke 2)
Akuntabilitas:
Diwujudkan
dengan
melakukan
pemeriksaan
terhadap pasien
dengan penuh
tanggung jawab
Anti korupsi:
Diwujudkan
dengan
melakukan
penulisan
cacatan medis
pasien dengan
jujur
3. Melakukan 3. Tangan yang Akuntabilitas\:
Cuci tangan bersih dapat Diwujudkan
sebelum mencegah dengan
memeriksa infeksi sesuai
melakukan cuci
pasien dengan
Standar tangan untuk
operasional melindungi
procedur pasien dari
infeksi dengan
penuh tanggung
jawab

67
Keterkaitan
N Kontribusi Terhadap Penguatan Nilai
Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
o. Visi-Misi Organisasi Organisasi
Pelatihan

Komitmen mutu:
Diwujudkan
dengan
menjalankan
tugas sesuai
dengan SOP
yang
berorientasi
mutu
4. Melakukan 4. Catatan Akuntabilitas\:
analisis hasil medis berisi Diwujudkan
pemeriksaan hasil dengan
penunjang pemeriksaan mendapatkan
penunjang
informasi
mengenai hasil
pemeriksaan
penunjang untuk
kejelasan
diagnosis pasien
Anti korupsi:
Diwujudkan dengan
melakukan
penulisan cacatan
medis pasien
dengan jujur

68
Keterkaitan
N Kontribusi Terhadap Penguatan Nilai
Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
o. Visi-Misi Organisasi Organisasi
Pelatihan
5. Menentukan 5.Catatan medik Akuntabilitas\:
diagnosis berisi Diwujudkan
penyakit diagnosis dengan
pasien menentukan
diagnosis
kejelasan

Anti korupsi:
Diwujudkan
dengan
melakukan
penulisan
cacatan medis
pasien dengan
jujur
6. Menentukan 6. Catatan medik Akuntabilitas:
tata laksana berisi Diwujudkan dengan
lebih lanjut tatalaksana melakukan
sesuai pasien, tatalaksana sesuai
dengan informasi ke diagnosis pasien
diagnosis pasien dan secara
pasien keluarga bertanggung
mengenai jawab, kejelasan,
diagnosis, transparansi
tatalaksana,
resiko dan Komitmen mutu:
komplikasi yang Diwujudkan dengan
mungkin akan talaksana secara
terjadi efektif

69
Keterkaitan
N Kontribusi Terhadap Penguatan Nilai
Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
o. Visi-Misi Organisasi Organisasi
Pelatihan
Anti korupsi:
Diwujudkan
dengan
melakukan
penulisan cacatan
medis pasien
dengan jujur

7. Melakukan 7. Catatan medis Akuntabilitas:


edukasi berisi lembar
perawatan edukasi pasien Diwujudkan dengan
luka, mengenai melakukan edukasi
informasi perawatan luka dan informasi
terhadap sesuai terhadap pasien
pasien dan prosedur yang dan keluarga secara
keluarga berlaku, jelas, transparan
informasi dan keadilan
pasien dan
keluarga tanpa Etika publik:
membeda- Diwujudkan dengan
bedakan melakukan edukasi
dengan
menggunakan
bahasa yang
mudah di
mengerti, sopan
dan empati

Nasionalisme:

Diwujudkan dengan
melakukan edukasi

70
Keterkaitan
N Kontribusi Terhadap Penguatan Nilai
Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
o. Visi-Misi Organisasi Organisasi
Pelatihan
kepada pasien dan
keluarga tanpa
membeda-bedakan
sesuai sila ke 2

Anti korupsi:

Diwujudkan dengan
tindakan peduli

Komitmen mutu:

Diwujudkan
dengan
pelayanan
sepenuh hati
3. Melaksanak Terlaksananya Memberikan Kegiatan ini
an pelayanan
pelayanan medis mendorong
pelayanan bedah di
bedah di Instalasi Bedah rawat inap yang optimalisaasi kualitas
Instalasi Sentral sesuai
baik sesuai pelayanan dalam
Bedah dengan Standar
sentral Operasional dengan perawatan luka DM
Prosedur demi
(SKP) kompetensi yang menurut alur yang
kenyamanan
dan keselamatan dimilikinya dengan benar, sehingga nilai
pasien
terus Profesionalisme,
1 Memastikan 1. Kesesuaian Akuntabilitas: mempertahankan Akuntabilitas, Etos
identitas pesien nama pasien Diwujudkan kualitas Kerja, dan
yang akan di antara dengan bentuk
operasi dengan jawaban

71
Keterkaitan
N Kontribusi Terhadap Penguatan Nilai
Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
o. Visi-Misi Organisasi Organisasi
Pelatihan
benar pasien dan bertanggung pelayanan, dan Pelayanan Prima di
keterangan di jawab tentunya rumah sakit dapat
gelang
identitas berkolaborasi tercapai
Etika publik:
Diwujudkan dengan tenaga
dengan kesehatan lain,
kepedulian
berkontribusi
terhadap pasien
Komitmen mutu: dalam pencapaian
Diwujudkan visi “
dengan tindakan Terwujudnya
efektif dan efisien
Rumah Sakit
2.Melakukan 2. Daerah Akuntabilitas: Pendidikan dan
cuci tangan operasi bersih Diwujudkan Pelayanan
dan tindakan dan steril dengan
asepsis Rujukan Utama”
bertanggung
antisepsis
jawab terhadap dan misi no.1
sterilitas daerah rumah sakit dalam
operasi
“Menyelenggaraka
Komitmen mutu:
Diwujudkan n pelayanan Prima”
dengan tindakan
asepsis anti sepsis
sesuai dengan
SOP yang berlaku
merupakan bentuk
orientasi mutu

72
Keterkaitan
N Kontribusi Terhadap Penguatan Nilai
Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
o. Visi-Misi Organisasi Organisasi
Pelatihan

3, Melakukan 3. Checlist Time Akuntabilitas:


Time-Out out yang terisi Diwujudkan
sebelum dengan
operasi dimulai
bertanggung
jawab melakukan
checklis timeout
Komitmen mutu:
Diwujudkan
dengan
melakukan
tindakan checklist
sesuai SOP
sesuai dengan
orientasi mutu
4. Melakukan 4. Hasil operasi Akuntabilitas:
tindakan optimal yang Diwujudkan
operasi ditulis di dengan
laporan
menuliskan
operasi secara
lengkap di laporan operasi
lembar operasi secara jelas dan
transparan
Komitmen mutu:
Diwujudkan

73
Keterkaitan
N Kontribusi Terhadap Penguatan Nilai
Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
o. Visi-Misi Organisasi Organisasi
Pelatihan
dengan melakukan
tindakan sesuai
dengan orientasi
mutu
Anti korupsi:
Diwujudkan
dengan menulskan
jalannya operasi
dan komplikasi
durante operasi
secara jujur

5. Melakukan 5. Kondisi Akuntabilitas:


pengecekan pasien yang Diwujudkan
setelah operasi optimal untuk dengan
kembali ke
bertanggung
ruangan post
operasi jawab

i.4. melakukan Terlaksananya Dengan Dengan refresh


refrest refresh materi dilakukannya refresh materi ini,
materi mengenai materi ini, diharapkan perawat
perawatan perawatan luka mendukung dapat memahami
luka DM DM kepada pencapaian fungsi dan juga turut
kepada perawat rawat berkontribusi dalam serta dalam
perawat dan rawat jalan pencapaian visi “ melaksanakan
Terwujudnya edukasi kepada
ii. 1. Berkonsultasi 1. Disetujuinya Etika publik: Rumah Sakit pasien dan keluarga

74
Keterkaitan
N Kontribusi Terhadap Penguatan Nilai
Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
o. Visi-Misi Organisasi Organisasi
Pelatihan
dan memohon ijin kegiatan Diwujudkan Pendidikan dan sehingga perawatan
dengan pimpinan Memo / surat dengan sikap Pelayanan Rujukan luka DM dapat
tugas respek terhadap Utama” dan misi maksimal dicapai.
Foto / video pimpinan no.2 RSUD RA Hal ini turut
Kartini menguatkan nilai
Nasionalisme “Mengembangkan yang ada di RSUD
Diwujudkan profesionalisme RA Kartini, yaitu
dengan Sumber Daya Kebersamaan,
Musyawarah Manusia” Keterbukaan, dan
mufakat sesuai Profesionalisme.
dengan Sila ke 4

Anti korupsi:
Diwujudkan
dengan
melaksanakan
tugas secara
mandiri, tanpa
dilandasi konflik
kepentingan

2. Berkoordinasi 2. Kepala ruang Etika publik:


dengan kepala mengetahui Diwujudkan
ruangan tentang dengan sikap
tentang rencana rencana respek terhadap
refresh materi refresh materi pimpinan
mengenai perawatan luka
perawatan luka DM dan Nasionalisme
DM kepada melakukan Diwujudkan dengan
perawat penjadwalan, Musyawarah
ruangan dan Surat mufakat sesuai
poliklinik undangan dengan Sila ke 4

75
Keterkaitan
N Kontribusi Terhadap Penguatan Nilai
Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
o. Visi-Misi Organisasi Organisasi
Pelatihan

3. Menyiapkan 3. Slide power Akuntabilitas:


materi untuk poin materi Diwujudkan
refresh berupa sesuai dengan membuat
power point dengan
materi secara
keilmuan
yang terbaru jelas
dan mudah Komitmen mutu:
dipahami Diwujudkan
oleh perawat dengan keilmuan
yang terbaru
berdasarkan
orientasi mutu

4. 4. Daftar hadir, Akuntabilitas:


Menyampaikan Peningkatakan Diwujudkan
Refresh materi pengetahun dengan
perawatan luka tentang penyampaian
DM kepada perawatan
perawat rawat materi secara
luka DM,
inap dan bertanggung
dokumentasi
poliklinik Foto / video jawab
Etika publik:
Diwujudkan
dengan
menggunakan
bahasa yang
sopan, ramah
dan
menggunakan

76
Keterkaitan
N Kontribusi Terhadap Penguatan Nilai
Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
o. Visi-Misi Organisasi Organisasi
Pelatihan
bahasa yang
mudah
dimengerti
Komitmen mutu:
Diwujudkan
dengan tindakan
yang efektif dan
efisien
Anti korupsi:
Diwujudkan
dengan hadir tepat
waktu disiplin

5. 5. Etika publik:
Memberikan Peningkatan Diwujudkan
waktu untuk pengetahuan dengan sikap
sesi tanya dan respek
jawab pemahaman
kepada peserta refresh Nasionalisme:
perawat materi, Diwujudkan
peserta Foto / Video, dengan sikap adil
refresh Notulensi terhadap sesama
materi dalam
menyampaikan
materi tanya jawab
sesuai dengan sila
ke 5

77
Keterkaitan
N Kontribusi Terhadap Penguatan Nilai
Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
o. Visi-Misi Organisasi Organisasi
Pelatihan
5. Membuat Terbentuknya Kegiatan pembuatan Dengan pembuatan
Standart Standart SOP ini diharapkan turut
Operation Operation berkontribusi dalam meningkatkan
Prosedur SOP) pencapaian visi “ cakupan perawatan
Procedure
tentang Terwujudnya luka \DM di RSUD RA
(SOP) perawatan luka Rumah Sakit Kartini hal tersebut
tentang DM Pendidikan dan turut menguatkan nilai
perawatan 1. Berkonsultasi 1. Disetujuinya Etika publik: Pelayanan Rujukan etos kerja,
luka DM dan memohon kegiatan Diwujudkan Utama” serta misi keterbukaan,profesi
ijin dengan Memo / surat dengan sikap pertama, yaitu: onalisme dan
(Inovasi) pimpinan” tugas respek terhadap “Melaksanakan pelayanan prima
Foto / video pimpinan Pelayanan Prima”. yang ada di RSUD RA
Kartini Jepara.
Nasionalisme
Diwujudkan
dengan
Musyawarah
mufakat sesuai
dengan Sila ke 4

Anti korupsi:
Diwujudkan
dengan
melaksanakan
tugas secara
mandiri, tanpa
dilandasi konflik
kepentingan

2. 2. Akuntabilitas:
Mengumpulkan Terkumpulnya Diwujudkan
materi dan dengan

78
Keterkaitan
N Kontribusi Terhadap Penguatan Nilai
Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
o. Visi-Misi Organisasi Organisasi
Pelatihan
dokumen materi & terkumpulnya
kebijakan dokumen materi dan
tentang kebijakan kebijakan dengan
pembuatan tanggung jawab,
tentang
SOP kebenaran, dan
pembuatan konsisten
SOP Nasionalisme:
Diwujudkan
dengan dengan
penuh rasa kerja
sama dengan
berbagai pihak
dalam
pengumpulan
materi dan
kebijakan sesuai
sila ke 3
Etika publik:
Diwujudkan
dengan
mengumpulkan
materi dan
kebijakan dalam
rangka
melaksanakan
kebijakan dan
program
pemerintah
integritas

Anti korupsi:
Diwujudkan dengan

79
Keterkaitan
N Kontribusi Terhadap Penguatan Nilai
Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
o. Visi-Misi Organisasi Organisasi
Pelatihan
Jujur tidak
menjalankan
praktek gratifikasi

3. 3. Draft SOP Akuntabilitas:


Penulisan draft Diwujudkan
SOP dengan menulis
draft SOP
dengan penuh
tanggung jawab
sesuai dengan
aturan yang
berlaku
Nasionalisme:
Diwujudkan
dengan
menuliskan SOP
yang memiliki
tujuan
kesejahteraan
masyarakat
dengan tidak
melanggar hak
dan kewajiban
Sesuai sila ke 5

80
Keterkaitan
N Kontribusi Terhadap Penguatan Nilai
Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
o. Visi-Misi Organisasi Organisasi
Pelatihan
4. 4. Akuntabilitas:
Melaporkan Skema SOP Diwujudkan
hasil penulisan dengan hasil
draft SOP
penulisan draft
kepada
pimpinan ditulis secara jujur,
transparan dan
bertanggung
jawab

Etika publik:
Diwujudkan dengan
respek terhadap
pimpinan

Anti korupsi:
Diwujudkan dengan
tidak akan
mengharapkan
adanya konflik
kepentingan
pribadi

81
B. JADWAL RANCANGAN AKTUALISASI
Demi meningkatkan pencapaian hasil dari rencana aktualisasi, maka
dibuat jadwal implementasi yang jelas. Jadwal implementasi ini bertujuan untuk
mengatur, mengontrol, mengorganisasi waktu, jenis kegiatan, output
pelaksanaan rencana aktualisasi sesuai dengan rancangan yang telah
direncanakan. Rincian jadwal rancangan aktualisasi dapat dilihat pada tabel 4.2.
berikut ini:

Tabel 4.2. Rencana Jadwal Pelaksanaan Aktualisasi

RENCANA JADWAL KEGIATAN

Waktu Pelaksanaan
Juni
(Minggu Juli Portofolio/Bukti
No Kegiatan
ke-) (Minggu ke-) Kegiatan

3 4 1 2 3
− Rekam medik
Melaksanakan
− Foto / video
pelayanan medis
1
rawat jalan

Melaksanakan − foto/video
2 pelayanan medis − rekam medis pasien
rawat inap
Melaksanakan − Lembar time out
pelayanan bedah − Laporan operasi
− Foto / video
3 di Instalasi Bedah
− Lembar informed
sentral consenT

Melakukan − foto/video
Refresh materi − daftar hadir
mengenai − undangan
4 perawatan luka − materi
DM kepada − notulensi
perawat

Membuat Standart − foto/video


Operation Procedure − draft SOP
5
(SOP) tentang
perawatan luka DM

82
C. ANTISIPASI DAN STRATEGI MENGHADAPI KENDALA

Dalam tahap aktualisasi dan habituasi tentunya bisa terjadi situasi dan
kondisi yang tidak dapat dikendalikan oleh penulis, yang dikhawatirkan akan
memunculkan kemungkinan terjadi kendala-kendala dalam proses
pelaksanaan rancangan aktualisasi. Untuk mengatasi hal tersebut, dibuat
rencana antisipasi dan strategi dalam menghadapi kendala yang mungkin
terjadi. Rencana antisipasi dan strategi menghadapi kendala dijelaskan dalam
tabel 4.3 berikut ini:

Kendala yang Strategi Mengatasi


No Kegiatan Mungkin Kendala
Terjadi
1. Melaksanakan pelayanan
1. Pasien dan keluarga Memberikan informed consent
medis rawat jalan tidak berkenan lebih jelas, menggunakan alat
dilakukan tata peraga (gambar)
laksana lebih lanjut
2. Melaksanakan pelayanan Pasien dan Memberikan informed consent
medis rawat inap keluarga tidak lebih jelas, menggunakan alat
berkenan peraga (gambar)
dilakukan tata
laksana lebih
lanjut
3. Melaksanakan pelayanan Pasien menolak Lakukan pendekatan keluarga
bedah di Instalasi Bedah untuk dilakukan
sentral tindakan operasi

4. Melakukan Refresh materi Refresh materi tidak 1.Berkoordinasi dengan


mengenai perawatan luka mencakup 100% kepala ruang mengenai waktu
DM kepada perawat perawat rawat inap sosialisasi
dan rawat jalan 2. Bila sosialisasi tidak dapat
mencakup 100% perawat
maka delegasi diberikan
kepada Ketua Tim di ruangan
dan poliklinik

83
Kendala yang Strategi Mengatasi
No Kegiatan Mungkin Kendala
Terjadi
5. Membuat Standart Tidak ditemukan Mencari sumber referensi di
Operation Procedure (SOP) buku referensi website jurnal kedokteran
tentang perawatan luka terbaru mengenai terbaru atau e-book.
DM SOP perawatan luka

84
BAB V
PENUTUP

Rancangan aktualisasi melalui habituasi di unit kerja merupakan rancangan


kegiatan utuk menyelesaikan isu dengan identifikasi isu yang telah dirumuskan
melaui analisa APKL dan analisa USG. Identifikasi isu yang ada dapat berasal dari
individu, unit kerja maupun dari organisasi, dari sana beberapa isu telah dapat
diidentifikasi. Dari beberapa isu tersebut kemudian dilakukan identifikasi dengan
metode USG. Isu yang diangkat yaitu Belum Optimalnya Penatalaksanaan Pasien
Luka Diabetes Mellitus (DM) di RSUD RA Kartini. Dari isu tersebut muncul
gagasan pemecahan isu yang tertuang dalam 5 kegiatan. Adapun kegiatan tersebut
sebagai berikut:

1. Melaksanakan pelayanan medis rawat jalan


2. Melaksanakan pelayanan medis rawat inap
3. Melaksanakan pelayanan bedah di Instalasi bedah sentral (IBS)
4. Membrikan refresh materi mengenai perawatan luka kepada
perawat
5. Membuat Standar Operation Procedure (SOP) tentang perawatan
luka DM yang berkolaborasi antara medis serta paramedis yang
menangani pasien

Nilai-nilai dasar yang diaktualisasikan dan dihabituasikan dalam kegiatan ini


adalah Akuntabilitas (Transparansi, Responsibilitas, Kepemimpinan,
Kepercayaan, Konsisten, Kejelasan, Keadilan), Nasionalisme (Musyawarah,
Keadilan, Menghargai hak dan kewajiban, Tidak Semena-mena), Etika Publik (
Kebersamaan, Respect, Keluwesan, Kepedulian ), Komitmen Mutu ( Orientasi
Mutu, Inovasi, Layanan Sepenuh Hati, Efektif dan Efisien, Perbaikan
berkelanjutan), Anti Korupsi ( Keberanian, Keadilan, Kejujuran, Tanggung
Jawab).

85
DAFTAR PUSTAKA

Lembaga AdministrasI Negara. (2015). Modul Diklat Prajabatan CPNS Golongan I


dan II Aktualisasi Nilai-Nilai Dasar Profesi Pegawai Negeri Sipil. Jakarta :
Lembaga Administrasi Negara.
Lembaga Administras Negara. (2015). Modul Diklat Prajabatan CPNS Golongan I
dan II : Akuntabilitas.Jakarta : Lembaga Administrasi Negara.
Lembaga Administras Negara. (2015). Modul Diklat Prajabatan CPNS Golongan I
dan II : Nasionalisme. Jakarta : Lembaga Administrasi Negara.
Lembaga Administras Negara. (2015). Modul Diklat Prajabatan CPNS Golongan I
dan II : Etika Publik. Jakarta : Lembaga Administrasi Negara.
Lembaga Administras Negara. (2015). Modul Diklat Prajabatan CPNS Golongan I
dan II : Komitmen Mutu. Jakarta : Lembaga Administrasi Negara.
Lembaga Administras Negara. (2015). Modul Diklat Prajabatan CPNS Golongan I
dan II : Anti Korupsi. Jakarta : Lembaga Administrasi Negara.
Lembaga Administras Negara. (2017). Modul Pelatihan Dasar Calon PNS Pelayanan
Publik. Jakarta : Lembaga Administrasi Negara.
Lembaga Administras Negara. (2017). Modul Pelatihan Dasar Calon PNS
Manajemen Aparatur Sipil Negara. Jakarta : Lembaga Administrasi
Negara.
Lembaga Administras Negara. (2017). Modul Pelatihan Dasar Calon PNS Whole of
Goverment. Jakarta : Lembaga Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia. (2017). Modul Pendidikan dan
Pelatihan Dasar Calon PNS Habituasi Jakarta : Lembaga Administrasi
Negara Republik Indonesia.

Widyahening, I. S.; van der Graaf, Y.; Soewondo, P.; Glasziou, P.; van der Heijden,
G. J. Awareness, agreement, adoption and adherence to type 2 diabetes mellitus
guidelines: a survey of Indonesian primary care physicians. See
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24755412 for further details
Boulton AJ, Vileikyte L, Ragnarson-Tennvall G, Apelqvist J. The global burden of
diabetic foot disease. Lancet. 2005

86
RIWAYAT HIDUP

DATA PRIBADI
Nama Lengkap : dr. Felasufa Noor, Sp.B
Tempat, Tanggal Lahir : Demak, 10 November 1987
NIP : 198711102019022002
Jenis Kelamin : Perempuan
Status : Menikah
Kewarganegaraan : Indonesia
Agama : Islam
Alamat : Bintoro, RT 007 / RW 001
No. Telpon : 081293351543

RIWAYAT PENDIDIKAN
JENJANG
NO INSTITUSI TAHUN LULUS
PENDIDIKAN
1 Sekolah Dasar SD N Bintoro 4 Demak 2000
2 SMP Mts NU Demak 2003
3 SMA MAN Demak 2005
4 S1 Fakultas Kedokteran 2009
Universitas Diponegoro
5 Profesi Fakultas Kedokteran 2011
Universitas Diponegoro
6 Profesi Spesialis Fakultas Kedokteran 2018
Bedah Universitas Diponegoro

RIWAYAT PEKERJAAN
1. Dokter umum PMI Kota Semarang (2011-2013)
2. Dokter Spesialis Bedah di RSD Gunung Jati Cirebon (2018-2019)
3. Dokter Spesialis Bedah RSUD RA Kartini Jepara (2019-sekarang)
Demikian riwayat hidup ini saya buat dengan sebenarnya.

Semarang, 11 Juni 2019

dr. Felasufa Noor, Sp.B

87