Anda di halaman 1dari 10

A.

Hasil

- Tabulasi data:
 Tabel hasil pengamatan per jam
No Jenis pengemas Pengamatan (gram/jam)
0 1 2 3 4 5 6 7

1. Kertas Roti 57,5 57,7 57,2 57,9 58,0 58,1 58,2 58,3
223 405 716 932 820 715 512 512
2. Aluminium Foil 58,5 58,5 58,6 58,6 58,6 58,6 58,6 58,6
015 095 415 341 328 528 588 710
3. PP 0,05 56,9 56,9 57,0 57,0 57,1 57,1 57,1 57,1
255 343 886 950 014 168 419 398
4. PP 0,03 45,0 45,0 45,1 45,1 45,1 45,1 45,1 45,1
917 975 004 012 264 364 404 389
5. PE 0,03 50,2 50,2 50,2 50,2 50,2 50,2 50,2 50,2
700 789 821 888 928 922 961 993
 Tabel perhitungan
No. Jenis Slope Luas WVTR WVP
Pengemas permukaan
(m2)
1. Aluminium 0,0234 0,00679 3,44652 2899x10-8
foil
2. Kertas roti 0,1123 0,00636 17,66346 7429x10-8
3. PP 0,05 0,0313 0,00636 4,92236 10352x10-8
4. PP 0,03 0,0081 0,00664 1,21498 1533x10-8
5. PE 0,03 0,0039 0,00664 0,57981 7,31618442e-6

 Perhitungan:
1. Slope
Menggunakan excel : Y = ax + b

2. Luas permukaan cawan petri


L = ¼ π d2 (m2)
a) Aluminium foil (d = 9,3 cm = 0,093 m)

L = ¼ π (0,0932)
L = 0,00679 m2
b) Kertas roti (d = 9 cm = 0,09
m) L = ¼ π (0,092)
L = 0,00636 m2
c) PP 0,05 (d = 9 cm = 0,09
m) L = ¼ π (0,092)
L = 0,00636 m2
d) PP 0,003 (d = 9,2 cm = 0,092
m) L = ¼ π (0,0922)
L = 0,00664 m2
e) PE 0,03 (d = 9,2 cm = 0,092
m) L = ¼ π (0,0922)
L = 0,00664 m2

3. WVTR

WVTR =

a) Aluminium foil

WVTR =

WVTR = 3,44652 gram/jam.m2


b) Kertas roti

WVTR =

WVTR = 17,66346 gram/jam.m2


c) PP 0,05
WVTR =

WVTR = 4,92236 gram/jam.m2


d) PP 0,03

WVTR =

WVTR = 1,21498 gram/jam.m2


e) PE 0,03

WVTR =

WVTR = 0,57981 gram/jam.m2

4. WVP

𝑊𝑉𝑇𝑅 𝑥 𝑇𝑒𝑏𝑎𝑙 𝐹𝑖𝑙𝑚 (𝑚2)


𝑊𝑉𝑃=
𝑃 (𝑅1−𝑅2)

P = 3,17
R1 = 75% = 0,75
R2 = 0

a) Aluminium foil

WVP =

WVP =
WVP = 0,00002899 = 2899 x 10-8
b) Kertas roti

WVP =

WVP =

WVP = 0,00007429 = 7429 x 10-8


c) PP 0,05

WVP =

WVP =

WVP = 0,00010352 = 10352 x 10-8


d) PP 0,03
WVP =

WVP =

WVP = 0,00001533 = 1533 x 10-8


e) PE 0,03

WVP =

WVP = WVP =

7,31618442e-6

 Grafik

B. Pembahasan

Pada praktikum ini digunakan beberapa kemasan plastik dan kemasan


kertas. Jenis kemasannya adalah kertas roti (0,01 mm), aluminium foil (0,02 mm),
PP (0,05 mm), PP (0,03 mm) dan PE (0,03 mm). Untuk mengatahui adanya uap
air yang tertahan di dalam kemasan atau masuk ke dalam kemasan menggunakan
dapat dilihat dengan menggunakan silika gel. Fungsi silika gel adalah untuk
menyerap uap air yang terdapat di dalam kemasan. Hal ini sesuai dengan literatur
yaitu menurut Sulastri dan Kristianingrum, (2010) prinsip dari silika gel adalah
menyerap uap air biasanya dalam proses ditambahkan senyawa kobalt sebagai
indikator untuk mengetahui kapasitas uap air yang terserap.

Prosedur kerja dari praktikum ini yaitu menyiapkan alat dan bahan yang
telah disediakan. Setiap kelompok mendapat masing – masing satu jenis kemasan
yang berbeda. Setelah itu kemasan diukur dengan penggaris dan digunting dengan
diameter sebesar cawan petri (dibuat sedikit berlebih), kemudian dihitung luas
permukaannya. Kemudian setelah diukur dan digunting, timbang silika gel
sebesar 3 gr lalu dimasukan ke dalam cawan petri yang telah ditimbang dan telah
diketahui beratnya. Lalu cawan petri ditutup dengan kemasan secara rapat
sehingga memungkinkan di dalam cawan petri kedap udara, agar tidak ada udara
atau uap air yang keluar masuk kedalam stoples. Perlu adanya perlakuan dengan
membentuk lingkungan yang memiliki kelembaban 75% atau RH kurang lebih
75% dengan cara membuat larutan NaCl 20%. NaCl 20% dibuat dengan cara
melarutkan 20 gram garam di dalam 100 ml aquades. Lingkungan dengan
kelembaban 75% adalah lingkungan yang telah mencapai keadaan setimbang
(Mustafidah., dkk, 2015). Setelah larutan NaCl dibuat, kemudian silica gel yang
ada di dalam cawan petri di masukan ke dalam stoples. Lalu larutan NaCl 20%
dimasukan pula ke dalam stoples. Agar cawan petri tidak basah terkena larutan
NaCl 201%, maka cawan petri disangga dengan penutup cawan petri yang tidak
terpakai. Kemudian diamati perubahan yang terjadi pada berat silika gel dengan
melihat kenaikan berat silikia gel yang diamati setiap satu jam sekali selama 7
jam. Setelah diamati kemudian hasilnya dibuat slope yang akan digunakan untuk
menghitung laju transmisi uap air dan permeabilitas uap air pada kemasan.

Pada praktikum acara Pengujian Laju Transmisi Uap Air Dan


Permeabilitas Kemasan Terhadap Uap Air ini, dilakukan pengujian terhadap laju
transmisi uap air (WVTR) dan permeabilitas terhadap uap air (WVP) dari lima
sampel kemasan yaitu aluminium foil; kertas roti (ketebalan 0,01 mm); PP 0,05;
PP 0,03 mm; dan PE 0,05 mm. Adapun hasil slope kenaikan berat cawan yang
didapatkan berturut-turut dari jam kesatu hingga ketujuh sebagai berikut: Kertas
roti: 57,5223; 57,7405; 57,2716; 57,9932; 58,0820; 58,1715; 58,2512; 58,3512.
Aluminium foil: 58,5015; 58,5095; 58,6415; 58,6341; 58,6328; 58,6528; 58,6588;
58,6710. PP 0,05: 56,9255; 56,9343; 57,0886; 57,0950; 57,1014; 57,1168;
57,1419; 57,1398. PP 0,03: 45,0917; 45,0975; 45,1004; 45,1012; 45,1264;
45,1364; 45,1404; 45,1389. PE 0,03: 50,2700; 50,2789; 50,2821; 50,2888;
50,2928; 50,2922; 50,2961; 50,2993. Yang kemudian dibuat persamaan linear dan
didapat slope lalu ditentukan WVTR, dimana dari nilai WVTR tersebut dapat
dihitung nilai WVP.

Jika diurutkan sesuai dengan hasil dari praktikum, yang memiliki


permeabilitas uap air dari yang paling tinggi hingga paling rendah yaitu Kertas
Roti > PP (0,05 cm) > PP (0,03 mm) > PE (0,03 mm). Setiap plastik mempunyai
permeabilitas yang berbeda-beda tergantung sifat plastik itu sendiri .
Permeabilitas uap air dihitung melalui laju transmisi uap air atau water
vapour transmission rate (WVTR). Nilai permeabilitas suatu jenis film perlu
diketahui karena dapat dipergunakan untuk memperkirakan daya simpan produk
yang dikemas didalamnya. Nilai permeabilitas juga dapat digunakan untuk
menentukan produk atau bahan apa yang sesuai untuk kemasan tersebut. WVTR
merupakan slope dari plot jumlah uap air yang hilang tiap waktu dibagi oleh luas
film (Yuliasih, 2014). Penggunaan plastik sebagai bahan pengemas mempunyai
keunggulan dibanding bahan pengemas lain karena sifatnya yang ringan,
transparan, kuat, termoplastis dan selektif dalam permeabilitasnya terhadap uap
air, O2, CO2. Sifat permeabilitas plastik terhadap uap air dan udara menyebabkan
plastik mampu berperan memodifikasi ruang kemas selama penyimpanan, plastik
juga merupakan jenis kemasan yang dapat menarik selera konsumen.

Menurut Suhelmi (2007) HDPE terbuat dari kromium/silica dan memiliki


ikatan antar molekul yang lebih kuat sehingga sangat cocok untuk mengemas
produk yang mudah terkena gesekan dan tekanan. HDPE digunakan untuk
mengemas susu kotak karena dapat dibentuk menjadi botol kaku, aneka produk
olahan, sayuran, buah-buahan, mentega dan margarine. Polipropilen sangat mirip
dengan polietilen dan sifat-sifat penggunaannya juga serupa. Polipropilen lebih
kuat dan ringan dengan daya tembus uap yang rendah, ketahanan yang baik
terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan cukup mengkilap. Jadi, plastik
yang memiliki WVTR rendah adalah plastik yang mampu menahan uap air lebih
baik dibandingkan dengan plastik yang memiliki WVTR yang tinggi, sehingga
plastik yang memiliki WVTR yang rendah cocok dan tepat untuk menyimpan
produk pangan yang tidak tahan uap air (mudah mlempem).
Pada perbandingan plastik PP dan PE, pengemas PP memiliki
permeabilitas lebih besar daripada PE. Hal ini tidak sesuai dengan literatur.
Menurut Mareta (2011) PP merupakan singkatan dari Poly Propylene, fungsinya
dalam dunia kemasan sering dipakai untuk pelapis bahan kemasan lainnya,
sebagai seal layer, maupun sebagai kemasan yang berdiri sendiri. Sedangkan PE
merupakan singkatan dari Poly Ethylene, fungsinya dalam dunia kemasan terkenal
sebagai seal layer-lapisan perekat. Dari beberapa jenis plastik di atas yang relatif
lebih aman digunakan untuk makanan/bahan pangan adalah Polyethylene yang
tampak bening dan Polypropylene yang lebih lembut dan agak tebal dan rapat.
Plastik jenis PP lebih sukar dilewati gas ataupun uap air daripada jenis PE karena
sifatnya yang lebih keras dengan titik lunak yang lebih tinggi. Menurut Anandito
(2010) Secara umum plastik Polipropilen memiliki permeabilitas yang paling
rendah dibanding plastik polietilen. Hal ini menunjukkan bahwa plastik
polipropilen memiliki daya proteksi terhadap uap air yang lebih baik
dibandingkan plastik polietilen, sehingga penurunan kadar airnya lebih lama.
Sementara itu, kemasan metalized merupakan kemasan perpaduan antara dua
bahan pengemasan yaitu alumunium foil dan plastik. Alumunium foil merupakan
bahan pengemasan yang berjenis logam sehingga kemasan metalized sangat tahan
terhadap uap air.

Hasil pengamatan yang didapatkan adalah terjadi kenaikan dan penurunan


dengan alasan bahwa kenaikan berat disebabkan oleh udara atau gas yang masuk
menembus kedalam gelas melalui kemasan yang disebut juga permeabilitas
sebaliknya penurunan terjadi karena udara dari dalam gelas keluar menembus
plastik uji melalui kemasan.

Berdasarkan teori Wulandari (2013) plastik kemasan yang tipis memiliki


permeabilitas uap air yang lebih besar, sehingga laju transmisi uap air yang masuk
ke dalam kemasan semakin besar. Hasil permeabilitas pada praktikum tidak
sesuai, dengan ketebalan plastik tidak menunjukan pengaruh yang signifikan
terhadap nilai permeabilitas, hal mungkin ini terjadi karena adanya human error
yang terjadi seperti saat meletakan silika gel dengan wadah yang terbuka ataupun
saat pengamatan, wadah stoples tidak ditutup dengan baik sehingga terjadi
kesalahan. Kesalahan dapat terlihat saat data telah didapatkan, beberapa jenis
kemasan memiliki data yang fluktuiatif sehingga menyebabkan hasil yang kurang
tepat. Menurut Mareta (2011) faktor-faktor yang mempengaruhi permeabilitas
uap air bahan kemasan antara lain: ketebalan, luas area permukaan dan jenis
bahan kemasan, khususnya dalam hal densitas.
PENUTUP

Kesimpulan

1. Slope digunakan untuk menghitung laju transmisi uap air bergantung pada
kenaikan berat silika gel
2. Laju transmisi uap merupakan faktor penting dalam menentukan permeabilits
transmisi uap air
3. Setiap kemasan memiliki sifat dan karakteristiknya masing. Hal yang
mempengaruhi laju transmisi uap air dan permeabilitas uap air adlah densitas
pada kemasan. Semakin tebal film pengemas maka semakin kecil
permeabilitas uap air pada kemasan