Anda di halaman 1dari 27

CARA PASANG PONDASI CERUCUK

Pondasi Cerucuk adalah salah satu jenis pondasi yang biasanya diaplikasikan didaerah dengan
kondisi tanah yang kurang stabil dimana umumnya dengan jenis tanah lumpur ataupun tanah
gambut dengan elevasi muka air yang cukup tingggi. Cerucuk dalam defenisinya adalah susunan
tiang kayu dengan diameter antara 8 sampai 15 meter yang dimasukkan atau ditancapkan secara
vertikal kedalam tanah yang ditujukan untuk memperkuat daya dukung terhadap beban diatasnya.
Dalam konstruksinya ujung atas dari susunan cerucuk disatukan untuk menyatukan kelompok
susunan kayu yang disebut dengan kepala cerucuk. Kepala cerucuk dapat berupa pengapit dan
tiang -tiang kayu , matras, kawat pengikat , papan penutup atau balok poer.

Perlunya pemberian pondasi cerucuk didasarkan atas :


Daya dukung tanah yang cukup rendah.
Kesulitan saat konstruksi, dimana untuk mengerjakan pondasi dalam saat konstruksi akan
mengalami kesulitan oleh ketinggian elevasi muka air tanah yang cukup tinggi.

Untuk perencanaan kedalaman dan jarak anatara tiang pancang harus dilakukan berdasarkan
pemeriksaan tanah.

Secara konstruksi, pelaksanaan pekerjaan pondasi cerucuk dapat dibagi atas :


Perkuatan tanah dasar, dilakukan penggantian tanah dasar dengan menimbun tanah baru yang
lebih stabil, dilakukan dengan menguruk tanah pada lokasi yang sudah direncanakan.
Penancapan kayu cerucuk, dilakukan dengan menancapkan kayu terhadap lokasi pondasi yang
akan dikerjakan, Pelaksanakan diseuaikan dengan jarak antar titik kayu dan kedalaman yang
direncanakan.
Pemasangan kepala cerucuk. Dialakukan dengan menyatukan ujung kepala kayu yang sudah
ditanamkan dengan membuat ikatan antar kepala kayu dan dibuat bidang datar sebagai
penempatan pondasi konstruksi yang direncanakan.

Kadang dalam hal tertentu, pondasi cerucuk ditanamkan pada kedalam tertentu dimana
sebelumnya kita terlebih dahulu melakukan penggalian tanah asli sesuai dengan kedalaman yang
direncanakan, dan setelah itu baru dilakukan penancapan kayu cerucuk.

Untuk pelaksanaan pemancangan kayu cerucuk dapat dilakukan secara manual (tenaga manusia)
dan dapat juga dilakukan dengan mekanik atau alat mesin yang sering disebut mesin pancang
(back hoe). Pada prinsipnya kedua cara tersebut adalah melakukan pemberian tekanan ke kepala
kayu pancang sehingga kayu akan tergeser secara vertikal kedalam tanah yang ditumbukkan.

Secara umum, untuk pondasi cerucuk kayu yang dipergunakan harus mengikuti persyaratan teknis
yaitu :
Kayu harus mempunyai diameter yang seragam yaitu antara 8 – 15 cm, dimana pada ujung terkecil
tidak boleh kurang dari 8 cm dan pada ujung terbesar tidak melebihi 15 cm
Kayu harus dalam bentang yang lurus untuk kemudahan penancapan dan juga daya dukung yang
makin besar.
Jenis kayu harus merupakan kayu yang tidak busuk jika terendam air, kayu tidak dalam kondisi
busuk dan tidak dalam keadaan mudah patah jika ada pembebanan.

Jenis kayu yang sering dipergunakan adalah :


Kayu Gelam
Kayu Medang
Kayu Betangor
Kayu Ubah
Kayu Dolken

Semoga bermanfaat !!!

per. pond tiang pancang JEMBATAN


UNTUK PERENCANAAN LEBIH LANJUT
KE: BAB 4,5 DAN PENUTUP
EMAIL: martindsp@gmail.com
HUBUNGI:081513274460

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Bersamaan dengan peningkatan kegiatan ekonomi, maka meningkat pula
mobilitas manusia, barang dan jasa. Semua ini akan membutuhkan tingkat
pelayanan transportasi yang luar biasa berupa kebutuhan akan prasarana dan
sarana transportasi yang memadai baik didaerah perkotaan itu maupun di wilayah
sekitarnya. Penataan sistem transportasi yang baik terus dilakukan baik dengan
pembangunan jalan baru maupun dengan pelebaran jalan yang ada. Untuk
menunjang pelebaran jalan yang melintasi sungai, saluran, jurang, kanal, jalan
kereta api atau jalan lain maka diperlukan pula penyediaan pelebaran jembatan
sehingga dapat dihindari terjadinya bottle neck (penyempitan jalan) disekitar
jembatan tersebut.
Disamping itu jembatan harus mempunyai tingkat keamanan dan kenyamanan
yang tinggi bagi pemakainya sehingga dapat menghindari kejadian-kejadian yang
tidak diinginkan. Untuk membangun jembatan yang aman diantaranya jembatan
tersebut harus mempunyai pondasi yang kuat. Pondasi jembatan tersebut terdiri
dari beberapa tipe, salah satu diantaranya adalah pondasi tiang pancang yang akan
digunakan untuk perencanaan Jembatan Jalan Akses Marunda Wilayah
Kotamadya Jakarta Utara
Kebanyakan pada umumnya tiang pancang dipancangkan kedalam tanah, akan
tetapi ada beberapa tipe yang di cor setempat dengan cara dibuatkan lubang
terlebih dahulu dengan mengebor tanah, sebagaimana kalau mengebor untuk
penyelidikan tanah.
Selanjutnya tiang pancang sebagai pondasi dapat dianggap sebagai tanah yang
diperkuat oleh tulangan sehingga dapat meningkatkan daya dukungnya dan
merubah kelakuan perubahan bentuknya, hampir sama dengan beton yang
diperkuat oleh baja pada struktur beton bertulang dan beton pratekan.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka pada perencanaan pondasi tiang pancang
Jembatan Jalan Akses Marunda ini tipe pondasi yang akan digunakan adalah
pondasi tiang pancang dengan menggunakan bahan beton pratekan.

I. 2. Maksud dan Tujuan


Maksud dari perencanaan pondasi tiang pancang yang dilakukan pada Jembatan
Marunda ini adalah untuk mendapatkan dimensi dan jumlah tiang pancang yang
akan digunakan pada pelaksanaan pembangunan jembatan tersebut. Sedangkan
tujuan dari perencanaan ini adalah sebagai langkah dalam menganalisa struktur
pondasi dan penelitian lebih detail serta sebagai bahan masukan kepada konsultan
perencana tentang gambaran awal dari perencanaan pondasi yang dihasilkan.

1.3. Batasan Masalah


Batasan masalah yang akan dibahas pada perencanaan pondasi tiang pancang
Jembatan jalan akses Marunda ini meliputi :
1. Mengumpulkan data teknis Jembatan Jalan akses Marunda.
Data teknis jembatan Jalan akses Marunda ini meliputi :
a) Data sondir, boring dan SPT yang diterbitkan oleh Unit Penelitian dan
Pengukuran DPU DKI Jakarta.
2. Untuk perhitungan beban diambil dari perhitungan konsultan lihat
lampiran
3. Menentukan pondasi dasar, dimensi dan daya dukung tiang pancang.
4. Menghitung perencanaan pondasi tiang pancang berdasarkan parameter
tanah dengan menggunakan metode Statis Meyerhoff, sedangkan berdasarkan
pengujian di lapangan (sondir) menggunakan metode Schmertmann &
Nottingham dan N-SPT
5. Menentukan jumlah dan jarak dari tiang pancang.
6. Menghitung abutment/poer di dua titik A1 (ujung) dan P1 (tengah).

1.4. SISTEMATIKA PENULISAN


Karya tulis ini terdiri atas lima bab :
Bab. I : Pendahuluan
Bab ini membahas mengenai latar belakang perencanaan, maksud dan tujuan
perencanaan , Batasan Masalah dan Sistimatika penulisan.
Bab.II : Dasar-Dasar Teori
Bab ini berisi landasan teori, penjelasan mengenai formula-formula yang akan
digunakan dalam perencanaan pondasi tiang pancang, pemilihan jenis pondasi
tiang pancang.
Bab.III : Gambaran Umum Lokasi Jembatan
Berisi tentang gambaran umum lokasi yamg meliputi : denah, prosedur
perencanaan pondasi tiang pancang dan data pembebanan.

Bab.IV : Perhitungan Pondasi Tiang Pancang


Dalam bab ini dikemukakan pembahasan tentang perhitungan pondasi tiang
pancang dengan menggunakan metode statis Meyerhoff, Schmertmann &
Nottingham dan N-SPT serta hasil akhir perhitungan adalah berupa jumlah
pondasi yang digunakan dan penurunan yang akan terjadi.
Bab. V : Kesimpulan Dan Saran.
Bab ini mengumpulkan isi pokok penulisan baik mengenai pokok masalah,
penyebab maupun alternatif pemecahannya. Berdasarkan kesimpulan tersebut
penulis akan memberikan saran-saran yang diharapkan berguna bagi pelaksanaan
pembangunannya.

BAB II
DASAR-DASAR TEORI

2.1. UMUM
Dalam setiap bangunan, diperlukan pondasi sebagai dasar bangunan yang kuat
dan kokoh. Hal ini disebabkan pondasi sebagai dasar bangunan harus mampu
memikul seluruh beban bangunan dan beban lainnya yang turut diperhitungkan,
serta meneruskannya kedalam tanah sampai kelapisan atau kedalaman tertentu.
Dalam perencanaan pondasi untuk suatu konstruksi dapat digunakan beberapa
macam tipe pondasi.
Pemilihan tipe pondasi ini didasarkan atas :
- Fungsi bangunan atas (super structure) yang akan dipikul oleh pondasi
tersebut.
- Besarnya beban yang diteruskan oleh pondasi ke dalam tanah tidak
melampaui daya dukung tanah agar pondasi tetap stabil.
- Keadaan tanah dimana bangunan tersebut akan didirikan terutama daerah
bawah pondasi.
- Studi yang lebih terperinci dan perencanaan awal tentang pondasi yang
paling sesuai. Hal ini untuk memperkirakan penurunan.
- Biaya dari masing-masing pondasi dan memilih bentuk yang dapat
diterima sesuai keadaan pelaksanaan dan biaya.

2.2. JENIS-JENIS PONDASI :


Jenis-jenis pondasi terdiri dari :
1. Pondasi Dangkal (Shallow Foundation)

M.T
atau
L
L


B

Gambar 2.1 Pondasi Dangkal

Pondasi dangkal apabila perbandingan kedalaman (L) dengan lebar pondasi (B)
lebih kecil atau sama dengan 1, diaplikasikan tanah keras pada kedalaman 1 – 2
m. Yang termasuk pondasi dangkal :
a. Spread Foundation ( pondasi telapak )
b. Strip Foundation (pondasi menerus)
c. Combined Foundation (kombinasi pondasi telapak dan pondasi menerus).
d. Mat Foundation (pondasi rakit).

2. Pondasi Dalam (Deep Foundation)

Gambar 2.2 Pondasi Dalam


Pondasi dalam apabila perbandingan kedalaman (L) dengan lebar pondasi (B)
lebih besar dari 1.
Yang termasuk pondasi dalam yaitu :
a. Pondasi Sumuran (Pier) dan Caison
Diaplikasikan pada tanah permukaan yang lembek dan tanah keras terletak pada
kedalaman > 2 – 10 m. Pondasi ini dapat menahan beban diatas 100 ton.
b. Pondasi Tiang
Pondasi tiang adalah suatu konstruksi pondasi yang mampu menahan gaya
ortogonal ke sumbu tiang dengan memikul gaya vertikal, horizontal dan momen.
Pondasi tiang dibuat menjadi satu kesatuan dengan menyatukan pangkal tiang
pancang yang terdapat dbawah konstruksi dengan tumpuan pondasi/abutment.
Pondasi tiang digunakan apabila bangunan yang akan didirikan diatas tanah yang
mempunyai daya dukung berada dibawah/sangat dalam.
Tiang (Pile) adalah bagian dari suatu bagian konstruksi pondasi yang berbentuk
batang langsing yang dipancang hingga tertanam dalam tanah dan berfungsi untuk
menyalurkan beban dari struktur atas melewati tanah lunak dan air kedalam
pendukung tanah yang keras yang terletak cukup dalam. Penyaluran beban oleh
tiang pancang ini dapat dilakukan melalui lekatan antara sisi tiang dengan tanah
tempat tiang dipancang (tahanan samping), dukungan tiang oleh ujung tiang (end
bearing).
Beberapa kondisi yang memerlukan pondasi tiang yaitu :
1) Apabila tanah dasar di bawah bangunan tersebut tidak mempunyai daya
dukung (bearing capacity), yang cukup untuk memikul berat bangunan dan
bebannya, atau apabila tanah keras yang mana mempunyai daya dukung yang
cukup untuk memikul berat bangunan dan bebannya letaknya sangat dalam.
2) Ketika menerima gaya-gaya horizontal, pondasi tiang dapat melawan
tekuk sementara menerima gaya-gaya vertikal yang datang dari struktur atasnya.
3) Pondasi untuk struktur-struktur seperti menara transmisi, konstruksi lepas
pantai, dan basement yang berada dibawah muka air tanah. Pondasi untuk jenis
struktur ini untuk menahan gaya angkat.
4) Abutment dan pier jembatan sering dibangun diatas pondasi tiang untuk
menghindari kemungkinan kehilangan daya dukung dari sebuah pondasi dangkal
yang bisa jadi disebabkan oleh erosi pada permukaan tanah.
Pondasi Tiang dibagi dalam kategori :
A) Tiang Baja
Tiang baja umumnya digunakan baik sebagai tiang pipa maupun sebagai baja
penampang H. tiang pipa dapat diserongkan ke dalam tanah dengan ujung terbuka
atau tertutup. Tiang baja apabila diperlukan disambungan dengan las atau paku
keling. Kadang-kadang kondisi pemancangan agak sulit karena harus dipancang
melalui kerikil padat, lapisan keras, dan batuan lunak untuk ini juga tiang dapat
dilengkapi dengan titik pancang atau sepatu.
Tiang baja juga bisa mengalami korosi. Sebagai contoh, tanah-tanah rawa, gambut
dan tanah organik lain bisa menyebabkan korosi. Tanah-tanah yang mempunyai
PH lebih besar dari 7 tidak terlalu korosif. Untuk mempertimbangkan akibat
korosi, saat tambahan ketebalan baja lebih dan luas penampang rencana umumnya
direkomendasikan. Dalam keadaan tertentu penggunaan lapisan epoxy yang biasa
dipakai di pabrik bisa juga mencegah korosi. Lapisan ini tidak bagitu mudah rusak
akibat pemancangan tiang pelapisan dengan beton pada tiang baja juga dapat
mencegah korosi.
Beban rencana yang diijinkan untuk tiang baja dapat dihitung dengan rumus :
Qall = As . all

Dimana : As = luas penampang baja


all = tegangan ijin baja

Gambar 2.3 Baja Tiang-H


(Sumber : Simatupang, Pintor Tua. Modul Kuliah Rekayasa Pondasi II).

B) Tiang Beton
Tiang beton dapat dibagi kedalam dua kategori dasar :
a. Tiang Pracetak (Precast Piles)
Tiang pracetak dapat dibuat dengan menggunakan beton bertulang biasa, yang
penampangnya bisa jadi bujur sangkar atau segi delapan (octagonal).
Penulangan diperlukan untuk memungkinkan tiang mampu melawan momen
lentur ketika pengangkatan, beban vertikal, dan momen lentur yang diakibatkan
oleh beban lateral. Tiang dicetak dengan panjang yang diinginkan dan dirawat
hingga sebelum diangkut ke tempat pemancangan.
Tiang pracetak bisa juga terbuat dari kabel prategang baja berkuatan tinggi (beton
prategang).
Penulangan diperlukan untuk memungkinkan tiang mampu melawan momen
lentur ketika pengangkatan, beban vertikal, dan momen lentur yang diakibatkan
oleh beban lateral. Tiang pracetak bisa juga terbuat dari kabel prategang baja
berkuatan tinggi (beton prategang).

b. Tiang Bor Dicor di Tempat (Cast-In-Situ-Piles)


Cor di tempat dengan terlebih dahulu menggali lubang di tanah dan kemudian
mengisinya dengan beton. Berbagai jenis tiang beton cor ditempat digunakan
dalam konstruksi pada waktu akhir-akhir ini, dan kebanyakan diantaranya telah
dipatenkan oleh pabrik pembuatannya, tiang-tiang semacam ini dapat dibagi
kedalam dua kategori besar : dengan casing dan tanpa casing. Kedua jenis ini bisa
memiliki pedestal pada ujung bawahnya. Tiang dengan casing terbuat dari sebuah
casing baja yang disorongkan kedalam tanah dengan bantuan sebuah mandrel
yang ditempatkan di dalam casing. Apabila tiang telah mencapai kedalaman yang
diinginkan, mandrel ditarik dan casing kemudian diisi dengan beton. Pedestal
adalah beton yang dilebihkan pada ujung bawah tiang yang menggelembung, ini
bisa dilihat dengan menjatuhkan palu pada beton yang masih segar.
Tiang tanpa casing dibuat dengan pertama-tama mendorongkan casing kedalam
tanah hingga kedalaman yang diinginkan dan kemudian mengisinya dengan beton
segar. Casing kemudian ditarik perlahan-lahan secara bertahap.

C) Pondasi Tiang Kayu


Tiang kayu adalah batang pohon yang cabang-cabangnya telah dipangkas dengan
hati-hati. Panjang maksimum kebanyakan tiang kayu adalah 10-20 m. agar
kualitas tiang kayu yang dipakai dapat bagus, maka kayunya harus lurus, keras,
dan tanpa adanya kerusakan. Klasifikasi tiang kayu dalam 3 kategori :
1). Tiang kelas A  Tiang-tiang dalam kelas ini mampu menerima beban-
beban yang berat. Diameter minimum batang sekurang-kurangnya 356 mm.
2). Tiang kelas B  Tiang-tiang dalam kelas ini mampu menerima beban-
beban sedang. Diameter minimum batang adalah 305-330 mm.
3). Tiang kelas C  Tiang ini digunakan untuk konstruksi sementara. Tiang
ini dapat digunakan untuk konstruksi permanent apabila keseluruhan tiang
tenggelam di bawah muka air tanah. Diameter minimum batang sekurang-
kurangnya 305 mm.
Tiang kayu dapat tetap tidak mengalami kerusakan dalam waktu tak terbatas
apabila sekeliling kayu adalah tanah yang jenuh air. Namun di lingkungan pantai,
tiang kayu dapat diserang berbagai organisme yang akan menimbulkan kerusakan
yang berat setelah beberapa bulan. Bagian tiang yang berada di atas muka air bisa
juga diserang oleh serangga. Umur tiang bisa ditingkatkan dengan melumuri tiang
dengan minyak sebelum dipakai.
Daya dukung ijin tiang kayu dapat dihitung dengan rumus :
Qall = Ap . fw
Dimana : Ap = luas penampang tiang rata-rata
fw = tegangan ijin kayu

D) Pondasi Tiang Komposit


Yang dimaksud tiang komposit adalah tiang bagian atas dan bawah memiliki
beban yang berbeda. Sebagai contoh, tiang komposit dapat terbuat dari baja dan
beton atau kayu dan beton. Tiang baja dan beton terdiri dari bagian bawah terbuat
dari baja dan bagian atas terbuat dari beton yang di cor di tempat. Tiang seperti ini
digunakan apabila panjang tiang yang dibutuhkan melampaui daya dukung tiang
beton cor di tempat sederhana. Tiang kayu dan beton biasanya terdiri dari bagian
bawah terbuat dari kayu yang secara permanen berada di bawah muka air dan
bagian atasnya beton. Dalam setiap kasus, bagaimanapun tidaklah mudah
membuat sambungan yang benar-benar baik antara dua bahan yang tidak sama,
sehingga tiang komposit sangat jarang digunakan.
Dari beberapa macam tipe pondasi yang dapat dipergunakan salah satu
diantaranya adalah pondasi tiang pancang yang mana yang akan dibahas dalam
bab ini.

2.3. SPESIFIKASI PEMBEBANAN


Spesifikasi Pembebanan yang digunakan untuk menghitung pembebanan yang
dipikul oleh tiang pancang mengacu kepada :
BRIDGE MANAGEMENT SYSTEM (BMS) 1992, DEPARTEMEN
PEKERJAAN UMUM 1987.
Jenis pembebanan tersebut adalah beban mati dan beban hidup
2.3.1. Beban Mati
Beban mati adalah semua muatan yang berasal dari berat sendiri jembatan atau
bagian jembatan yang ditinjau, termasuk segala unsur tambahan tetap yang
dianggap merupakan satu kesatuan tetap dengannya.

2.3.2. Beban Hidup


Beban hidup adalah semua beban yang berasal dari berat kendaraan-kendaraan
yang bergerak/lalu-lintas dan atau berat orang-orang yang berjalan kaki yang
dianggap bekerja pada jembatan. Beban hidup terdiri dari : Beban T dan D, Jalur
lalu-lintas dan lantai kendaraan, Koefisien Kejut, Beban Angin (Wind Load),
Gaya Akibat Perbedaan Suhu, Gaya Akibat Gempa Bumi, Gaya akibat tekanan
tanah.

2.4. KRITERIA PERENCANAAN


Kriteria perencanaan yang akan dituangkan pada bab ini adalah yang menyangkut
pada maksud dan tujuan dari karya tulis ini sendiri, yaitu untuk menentukan
dimensi dan jumlah tiang pancang serta penentuan jarak antara tiang pancang.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka kriteria perencanaan ini meliputi :
2.4.1. Tanah Dasar Sebagai Pondasi
Tanah mempunyai fungsi yang penting dalam suatu lokasi pekerjaan konstruksi.
Tanah adalah pondasi pendukung suatu bangunan. Penyelidikan lapangan selalu
diperlukan untuk mendapatkan data tanah di lapangan. Hasil penyelidikan akan
didapat parameter tanah yang digunakan dalam perhitungan perencanaan struktur
bawah jembatan. Tujuan penyelidikan untuk mendapatkan desain pondasi yang
optimal sesuai dengan beban dan sifat-sifat tanah yang menempati pada area
tersebut.
Pelaksanaan penyelidikan tanah meliputi penyelidikan lapangan dengan
menggunakan alat sondir (Cone Penetrometer Test). Sondir adalah suatu alat
berbentuk silinder dengan ujungnya berupa suatu konus. Dalam metoda ini
didapat hasil penyelidikan berupa grafik yang terdiri dua parameter yang diukur
yang nilai perlawanan konus (qc) dan hambatan pelekat (fs) dan penyelidikan
boring :
Hasil penyelidikan ini dapat disebutkan diantaranya :
1. Menentukan profil tanah
2. Merupakan pelengkap bagi informasi dari pengeboran tanah.
3. Mengevaluasi karakteristik.
4. Menentukan daya dukung pondasi

5. .Menentukan penurunan pondasi

2.4.2 Pondasi Tiang


Pondasi tiang pancang digunakan untuk pondasi yang tanah permukaannya tidak
mempunyai daya dukung (bearing capacity) yang cukup untuk menahan beban
dan tanah kerasnya yang memiliki daya dukung letaknya sangat dalam (> 10 m).
Berdasarkan kualitas material dan cara pembuatan
Pondasi tiang pancang dapat dibedakan berdasarkan kualitas material yang
digunakan. Penggolongan tiang dapat dilihat pada tabel dibawah ini
Tabel 2.1 Pondasi Tiang berdasarkan kualitas material

Kualitas Bahan Nama Tiang Cara Pembuatan Bentuk


Baja Tiang Pipa Baja Disambung secara elektris, diarah datar,
mengelilingi Bulat
Tiang dengan Flens Diasah dalam keadaan panas Penampang H
Beton Pracetak Beton Bertulang Diaduk dengan gaya sentrifugal
Bulat
Segitiga
Pracetak Diaduk dengan penggetar Dan lain-lain
Beton Prategang Pracetak Sistem penarikan awal Bulat
Dicor ditempat Tiang alas Raymond Sistem pemancangan Bulat
Menggoyangkan Semua Tabung Pelindung
Membor tanah
Pondasi dalam Sistem pemboran Bulat
Kayu Tiang Kayu Panjang terbatas Bulat
Segi empat

2.4.2.1. Pemilihan Jenis Pondasi Tiang


Pemilihan jenis tiang untuk suatu pekerjaan tergantung dari daya dukung yang
cukup yang diberikan untuk pondasi yang direncanakan. Pemilihan tipe tiang
untuk berbagai jenis keadaan tergantung pada banyak faktor.
Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan pondasi tiang :
1. Tipe dari tanah dasar yang meliputi jenis tanah dasar dan ciri-ciri
topografinya.
2. Jenis bangunan yang akan dibuat
3. Kondisi lingkungan disekitar pekerjaan (adjacent structures)
4. Alasan teknis pada waktu pelaksanaan.
2.4.2.2. Perbedaan Tiang Pancang dengan Tiang Bor
A. Tiang Pancang yaitu :
1. Tiang dibuat di pabrik dan pemeriksaan kualitas ketat, hasilnya lebih dapat
diandalkan karena pemeriksaan dapat dilakukan setiap saat.
2. Kecepatan pemancangan, besar. Terutama untuk tiang baja, bahkan
walaupun lapisan antara cukup keras, masih dapat ditembus, sehingga
pemancangan ke lapisan pendukung dapat dilakukan.
3. Persediaan yang cukup banyak di pabrik, sehingga mudah memperoleh
tiang ini, kecuali jika diperlukan tiang dengan ukuran khusus. Disamping itu,
bahkan untuk pekerjaan pemancangan yang kecil, biayanya tetap rendah.
4. Karena dalam pelaksanaannya menimbulkan getaran dan kegaduhan, maka
pada daerah yang berpenduduk padat di kota dan desa, akan menimbulkan
masalah di sekitarnya.
5. Untuk tiang yang panjang, diperlukan persiapan penyambungan. Bila
pekerjaan penyambungan tidak baik, akibatnya sangat merugikan.
6. Pengaruh pada bangunan disekitarnya akibat dari pemancangan cukup
besar.
7. Karena tempat penampungan di lapangan dalam banyak hal mutlak
diperlukan, maka harus disediakan tempat yang cukup luas.
8. Untuk tiang-tiang beton, tiang-tiang dengan diameter yang besar akan
berat dan sulit dalam pengangkutan atau pemasangannya. Lebih lanjut, diperlukan
juga mesin pemancang yang besar.
9. Untuk tiang-tiang pipa baja, diperlukan tiang yang tahan korosi.
B. Tiang Bor yaitu :
1. Tiang dibuat dengan menggali lubang di tanah terlebih dahulu kemudian
mengisinya dengan beton, beton dari tubuh tiang diletakkan di bawah air dan
kualitasnya setelah selesai lebih rendah dari tiang-tiang pracetak. Di samping itu,
pemeriksaan kualitas hanya dapat dilakukan secara tidak langsung.
2. Tidak memerlukan pemancangan melainkan pemboran dalam arah
berlawanan dengan putaran jarum jam, tanah galian dapat diamati secara langsung
dan sifat-sifat tanah pada lapisan antara atau pada tanah pendukung pondasi dapat
langsung diketahui.
3. Karena diameter tiang cukup besar dan memerlukan banyak beton, untuk
pekerjaan yang kecil mengakibatkan biayanya sangat melonjak.
4. Karena getaran dan keriuhan pada saat melaksanakan pekerjaan sangat
kecil, cocok untuk pekerjaan pada daerah yang padat penduduknya.
5. Karena tanpa sambungan, dapat dibuat tiang yang lurus dengan diameter
besar, juga untuk tiang yang lebih panjang. Lebih jauh, panjang tiang dapat
ditetapkan dengan mudah.
6. Pengaruh jelek terhadap bangunan didekatnya cukup kecil
7. Karena pada cara pemasangan tiang yang diputar berlawanan arah putaran
jarum jam dipakai air, maka lapangan akan menjadi kotor, lagi pula untuk setiap
cara perlu dipikirkan bagaimana menangani tanah yang telah digali
8. Diameter biasanya lebih besar dari pada tiang pracetak, dan daya dukung
setiap tiang juga lebih besar, sehingga tumpuan dapat dibuat lebih kecil
9. Walaupun penetrasi sampai ke tanah pendukung pondasi dianggap telah
terpenuhi, kadang-kadang terjadi bahwa tiang pendukung kurang sempurna karena
adanya lumpur yang bertimbun didasar.
10. Ketika beton dituangkan, dikuatirkan adukan beton akan bercampur
dengan runtuhan tanah, oleh karena itu beton harus segera dituangkan dengan
seksama setelah penggalian dilakukan.
2.4.3. Dasar-dasar Perencanaan Pondasi Tiang Pancang
Pada tiang, umumnya gaya longitudinal (gaya tekan pemancangan maupun gaya
tariknya), dan gaya orthogonal terhadap batang (gaya horizontal pada tiang tegak)
dan momen lentur yang bekerja pada ujung tiang, seperti gaya luar yang bekerja
pada keliling tiang selain dari kepala tiang seperti yang diperlihatkan dalam
Gambar pondasi tiang harus direncanakan sedemikian rupa sehingga daya dukung
tanah pondasi, tegangan pada tiang dan pergeseran kepala tiang akan lebih kecil
dari batas-batas yang diijinkan. Gaya luar yang bekerja pada kepala tiang seperti
yang terlihat pada Gambar 2.4 (a) adalah berat sendiri bangunan di atasnya, beban
hidup, tekanan tanah, dan tekanan air dan gaya luar yang bekerja langsung pada
tubuh tiang seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.4 (b) adalah berat sendiri
tiang dan gaya gesekan negatif pada tubuh tiang dalam arah vertikal, dan gaya
mendatar akibat getaran ketika tiang tersebut melentur dalam arah mendatar.

`
Gaya Gaya Gaya Pergeseran
Pemancangan Tarik Mendatar akibat lentur

Gambar 2.4 (a) Beban yang bekerja Gambar 2.4 (b) Gaya yang bekerja
Pada kepala tiang pada tubuh tiang

Sebaliknya, bagi beban yang disalurkan dari tiang pondasi ke tanah pondasi, sama
sekali tidak menimbulkan masalah, bila beban untuk kedua arah, yaitu vertikal
dan horizontal akan diperhitungkan. Dalam hal ini umumnya perencanaan dibuat
berdasarkan anggapan bahwa beban-beban tersebut semuanya didukung oleh
tiang.
Pada waktu melakukan perencanaan, umumnya diperkirakan pengaturan tiangnya
terlebih dahulu. Dalam hal ini, jarak minimum untuk tiang biasanya diambil 2,5
kali dari diameter tiang. Waktu menentukan susunan tiang ini dibuat seperti yang
telah disebutkan diatas, agar mampu menahan beban tetap selama mungkin, hal
ini juga berguna untuk mencegah berbagai kesulitan, misalnya perbedaan
penurunan (differential settlement) yang tidak terduga.
Sebagai tambahan, hal-hal ini seyogyanya diperhatikan benar-benar ; Tiang-tiang
yang berbeda kualitas bahannya atau tiang yang memiliki diameter berbeda, tidak
boleh dipakai untuk pondasi yang sama ; tiang diagonal dipakai pada tanah
pondasi, jika diperkirakan akan terjadi penurunan (settlement) akibat pemampatan
(consolidation); tiang yang dipakai untuk kepala jembatan (abutment) pada
lapisan tanah lembek menderita beban eksentris tak bergerak, sehingga harus
direncanakan dengan teliti. Hal-hal yang seperti itulah yang harus diperhitungkan
dalam perencanaan.

2. 5. Daya Dukung tiang


Ditinjau dari cara mendukung beban, tiang dapat dibagi menjadi 2 macam yaitu :
1. Tiang dukung ujung (end bearing pile).
Tiang dukung ujung adalah tiang yang kapasitas dukungnya ditentukan oleh
tahanan ujung tiang. Umumnya tiang dukung ujung berada dalam zone tanah yang
lunak yang berada di atas tanah keras. Tiang-tiang dipancang sampai mencapai
batuan dasar atau lapisan keras lain yang dapat mendukung beban yang
diperkirakan tidak mengakibatkan penurunan berlebihan. Kapasitas tiang
sepenuhnya ditentukan dari tahanan dukung lapisan keras yang berada di bawah
ujung tiang. (Gambar. 2.4 (a)
2. Tiang gesek (friction pile).
Tiang gesek adalah tiang yang kapasitas dukungnya lebih ditentukan oleh
perlawanan gesek antara dinding tiang dan tanah disekitarnya (Gambar 2.4 (b).
Pada dasarnya kapasitas daya dukung tiang dapat dihitung dengan persamaan
dasar yang dikemukakan oleh Tomlinson (1977) berikut :
Qu = Qp + Qs – Wp
Di mana :
Qu = Tahanan ultimit tiang
Qp = Tahanan ujung tiang (end bearing)
Qs = Tahanan selimut tiang (skin friction)
Wp = Berat tiang

Biasanya harga Wp (weight of the pile) ini diabaikan karena sangat kecil
pengaruhnya terhadap daya dukung ultimit tiang. Namun dalam beberapa kondisi
seperti tiang pancang pada konstruksi lepas pantai, harga Wp diperhitungkan
karena panjang tiang yang cukup besar. Sehingga dapat ditulis :
Qu = Qp + Qs
Berdasarkan sumber data yang digunakan pada dasarnya terdapat dua cara untuk
memperkirakan daya dukung aksial tiang. Cara pertama adalah dengan
menggunakan parameter-parameter kuat geser tanah, yaitu yang didapat dari hasil
pengujian di laboraturium yaitu nilai kohesi (c) dan sudut geser dalam φ. Cara
kedua yaitu dengan menggunakan data uji lapangan, antara lain dengan
menggunakan uji SPT (Standard Penetrasi Test) dan Sondir (Cone Penetration
Test atau CPT). Di dalam aplikasinya, ketepatan perkiraan daya dukung
menggunakan cara-cara diatas sangat tergantung kepada keakuratan data yang
diperoleh dari hasil penyelidikan tanah serta parameter-parameter empiris yang
digunakan. Dibawah ini diuraikan beberapa teori tersebut.

Gambar 2.5 Tiang ditinjau dari cara mendukung bebannya


(Sumber : Hardiyatmo, Hary Christady. Teknik Fondasi II).

2.5.1. Daya Dukung Tiang Tunggal Berdasarkan Data Parameter Tanah


2.5.1.1. Daya Dukung Ujung Tiang (Qp)
A. Metode Statis Meyerhoff
1. Tanah Pasir
Daya dukung titik tiang pada pasir umumnya meningkat dengan nisbah antara
kedalaman penanaman tiang dan lebar tiang (Lb/D) dan mencapai nilai
maksimum pada nisbah Lb/D = (Lb/D)cr. Perlu diingat bahwa untuk tanah
homogen Lb akan sama dengan panjang tiang L (gambar 2.4a dan 2.4 b). Namun
pada gambar 2.5, dimana tiang telah masuk ke dalam lapisan pendukung tiang, Lb
< L. Di luar nisbah kritis (Lb/D)c, nilai qp tetap konstan (yaitu qp = q1). Fakta ini
diperlihatkan pada gambar 2.6 untuk kasus tanah homogen, yaitu L = Lb, variasi
(Lb/D)cr dengan sudut gesek tanah diberikan pada gambar 2.7 berdasarkan pada
variasi (Lb/D)cr.

Gambar 2.7. Variasi tanahan titik satuan pada pasir homogen


(Sumber : Simatupang, Pintor Tua, Modul Kuliah Rekayasa Pondasi II).

Gambar 2.8. Soil Friction Angle


(Sumber : Simatupang, Pintor Tua, Modul Kuliah Rekayasa Pondasi II).

Meyerhoff memperkenalkan formula daya dukung ujung tiang sebagai berikut :


Qp = Ap . qp = Ap . q’ . N*q
Dimana :
Qp = Daya dukung ujung tiang
Ap = Luas penampang ujung tiang
qp (kN/m2) = 40N . L/D ≤ 400N = daya dukung batas di ujung tiang/satuan luas.
Dimana :
N = sekitar di atas 10 D dan di bawah 4 D dari titik pile.
q’ = Tegangan vertikal efektif
N*q = Faktor daya dukung ujung untuk tanah pasir yang besarnya tergantung
pada nilai (Gambar 2.7)
Bagaimanapun, qp tidak boleh melebihi batasan nilai Ap . q1, sehingga:
Qp = Ap . q’ . N*q ≤ Ap . q1
q1 (kN/ m2 ) = 50 . N*q . tan 
Qp = Ap . 50 . N*q . tan 
2. Tanah Lempung
Formula yang digunakan adalah :
Qp = Ap . qp = Ap (Cu . N*c + q’ . N*q)
Untuk tiang pada lempung jenuh dengan kondisi taksalur ( berlaku :
Qp = N*c . Cu . Ap = 9Cu . Ap
Dimana :
Qp = Daya dukung ujung tiang
Ap = Luas penampang ujung tiang
qp = Daya dukung batas di ujung tiang per satuan luas
Cu = Kuat geser undrained
N*c = Faktor daya dukung untuk tanah lempung (lihat gambar 2.8)

2.5.1.2. Daya Dukung Selimut Tiang (Qs)


A. Metode Meyerhoff
1. Tanah Pasir
Tahanan gesek atau tahanan kulit tiang dapat ditulis sebagai :
Qs = ∑ p . ΔL . f
Dimana :
p = keliling penampang tiang
ΔL = panjang tiang
f = tahanan gesek pada setiap kedalaman z
Tahanan gesek satuan untuk kedalaman tertentu tiang dapat dinyatakan sebagai :
f = K . σ’ v . tan 
Dimana :
K = koefisien tekanan tanah
σ’ v = tegangan vertikal efektif
 = sudut gesek antara tanah – tiang
Nilai rata-rata K dapat digunakan pada persamaan :
Tabel 2.2 Nilai Rata-Rata Koefisien Tanah

Nilai  dari berbagai investigasi diperoleh dalam jangkauan 0,5 Ø samapai


0,8 Ø. Untuk memilih  ini perlu keputusan yang benar-benar baik.

B. Metode 
1. Tanah Lempung
Metode ini diajukan oleh Vijayvergia dan Focht (1972). Metode ini
mengasumsikan bahwa perpindahan tanah yang disebabkan oleh pemasukan tiang
kedalam tanah menghasilkan suatu tekanan lateral pasif pada suatu kedalaman
tertentu, dan satuan rata-rata dapat dinyatakan sebagai :
fav =  (σ’ v + 2 . Cu)
Dimana :
σ’ v = nilai tengah tegangan vertikal efektif untuk seluruh panjang tiang
Cu = nilai tengah kuat geser taksalur (konsep Ø = 0)

Gambar 2.9 Variasi  dengan panjang tiang (M.C. Clelland,1974)

Nilai  akan berubah dengan kedalaman penetrasi tiang, maka tahanan gesek total
dapat dihitung sebagai :
Qs = p . L . fav
Perlu kehati-hatian dalam menentukan nilai-nilai σ’v dan Cu untuk tanah berlapis,
nilai tengah Cu adalah (Cu(1) L1+ Cu(2) L2 + …) / L. Nilai tengah tegangan
efektif :

Dimana :
A1, A2, A3, …. = luas diagram tegangan vertikal efektif

C. Metode 
1. Tanah Lempung
Menurut metode , tahanan kulit satuan pada tanah kelempungan dapat
digambarkan dengan persamaan berikut :
F =  . Cu
Dimana :
 = faktor adhesion empiris.
Untuk nilai  ditunjukkan pada gambar 2.4a & 2.4b Lempung terkonsolidasi
normal dengan Cu ≤ sekitar 50 kN/m2 nilai  = 1, maka :
Qs = ∑ f . p . ΔL = ∑  . Cu . p . ΔL

Gambar 2.10 Variasi  dengan kohesi taksalur

D. Metode 
Kalau tiang disorongkan ke dalam lempung jenuh, tekanan air pori disekitar tiang
akan meningkat. Kelebihan tekanan air pori (excess pore water pressure) ini pada
lempung terkonsolidasi normal bisa jadi sebesar 4-6 kali Cu. Namun, di dalam
satu bulanan tekanan ini perlahan-lahan berkurang. Maka tahanan gesek satuan
untuk tiang dapat ditentukan dengan mengacu pada parameter tegangan efektif
lempung dalam keadaan remolded (yaitu c = 0). Maka :
f =  . ’v
Dimana :
’v = tegangan vertikal efektif untuk kedalaman tertentu
 = K tan R
R = sudut gesek salur lempung remolded
K = koefisien tekanan tanah
Nilai K diambil sebagai koefisien tekanan tanah diam atau
K = 1 – sin R
(untuk lempung terkonsolidasi normal)
K = (1 – sin R )  OCR
(untuk lempung overkonsolidasi)
Dimana : OCR = nisbah overkonsolidasi
Dengan mengkombinasikan persamaan diperoleh :
f = (1 – sin R ) tan R . ’v
(untuk lempung terkonsolidasi normal)
f = (1 – sin R ) tan R .  OCR . ’v
(untuk lempung overkonsolidasi)
Apabila nilai f dapat ditentukan maka tahanan kulit total dapat dihitung :
Qs = ∑ f . p . ΔL

2.5.2. Daya Dukung Tiang Tunggal Berdasarkan Data Uji Lapangan


2.5.2.1. Daya Dukung Ujung Tiang (Qp)
A. Metode Nottingham & Schmertmann, Menggunakan Data Sondir
Karena cara statik membutuhkan parameter tanah yang umumnya tidak tersedia
secara kontinyu sepanjang tiang, maka terdapat resiko karena menggunakan
parameter untuk mewakili suatu lapis tanah yang memiliki kuat geser dengan
suatu rentang. Kecenderungan baru adalah menggunakan data uji lapangan yang
lebih bersifat kontinyu, yaitu data sondir.
Penggunaan data sondir untuk perhitungan daya dukung pondasi tiang telah
mengalami beberapa perkembangan cukup baik karena sondir sendiri adalah
merupakan model dari pondasi tiang itu sendiri. Komponen-komponen daya
dukung pondasi tiang meliputi parameter yang diukur dengan uji sondir yaitu
perlawanan ujung dan gesekan selimut. Perbedaan utama antara alat uji sondir dan
pondasi tiang terletak pada ukurannya, bentuk ujung dan kekasaran permukaan.
Nottingham–Schmertmann (1975), mengajukan perhitungan daya dukung ujung
pondasi tiang menurut cara Begemann. Yaitu diambil dari nilai rata-rata
perlawanan ujung sondir 8D di atas ujung tiang dan 0.7D – 4D di bawah ujung
tiang, D adalah diameter tiang. Daya dukung ujung tiang dapat dihitung dengan
menggunakan formula sebagai berikut :
Qp = qc1 + qc2 . Ap
2

Di mana :
Qp = Daya dukung ujung tiang
Ap = Luas penampang tiang
qc1 = Nilai qc rata-rata 0.7D–4D di bawah ujung tiang (jalur a-b-c). Hitung qc
kearah bawah (jalur a-b) dan ke atas (jalur b-c). Gunakan nilai qc sebenarnya pada
jalur a-b dan nilai qc minimum pada jalu b-c.
qc2 = Nilai rata-rata 8D di atas ujung tiang (jalur c-d). Gunakan jalur minimum
yang sudah dibuat pada jalur b-c. Penentuan harga qc1 dan qc2 dapat dilihat pada
Gambar 2.11.

Gambar 2.11 Data sondir untuk menghitung daya dukung tiang (Sumber :
Simatupang, Pintor Tua. Modul Kuliah Rekayasa Pondasi II).

Bila zona lembek di bawah tiang masih terjadi pada kedalaman 4D – 10D, maka
perlu dilakukan reduksi terhadap nilai rata-rata tersebut. Pada umumnya nilai
perlawanan ujung diambil tidak lebih dari 150 Kg/cm2 untuk pasir dan tidak
melebihi 100 kg/ cm2 untuk tanah pasir kelanuaan. Jika sondir mekanis digunakan
pada tanah lempung, tahanan ujung harus dikalikan dengan angka 0,6 karena nilai
qc dapat bertambah akibat gesekan pada selimut dan jika desain didasarkan pada
batas leleh, maka daya dukung harus dikalikan dengan 0,73.

B. Metode Standard Penetration Test (SPT)


Metode pengujian dengan SPT termasuk cara yang cukup ekonomis untuk
memperoleh informasi mengenai kondisi di bawah permukaan tanah yang
diperkirakan 85% dari desain pondasi untuk gedung bertingkat menggunakan cara
ini. Karena banyaknya data SPT korelasi empiris telah banyak memperoleh
kemajuan.
Jenis-jenis hammer yang digunakan biasanya bermacam-macam namun demikian
semua mempuyai berat yang sama yaitu 63.5 kg. Masalah dengan perbedaan jenis
hammer adalah bahwa energi yang ditransfer berbeda-beda.
Mengingat jenis hammer memberikan energi yang berbeda, maka koreksi
terhadap jenis hammer ini juga harus dilakukan. Besarnya koreksi diberikan.
 = Es/En
Di mana :
Es = Energi aktual yang ditransfer ke batang
En = Energi teoritis sesuai dengan tinggi jatuh atau kecepatan impak dari palu.
Masalahnya sekarang adalah bahwa En yang harus dijadikan standar harus
ditentukan. Mengenai hal ini terdapat 3 buah pandangan yaitu :  = 50% – 55%
(Robertson & Campanella. 1983),  = 60% (Seet et al. 1983), dan  = 70% –
80% (Riggs. 1986). Untuk memakai di Indonesia dianjurkan menggunakan  =
60%.
Dapat ditulis secara lebih rinci perbedaan yang menyebabkan nilai SPT adalah:
a. Peralatan dibuat oleh pabrik yang berbeda namun demikian rotasi auger
dengan safety hammer merupakan kombinasi yang lebih ekonomis.
b. Konfigurasi hammer.
c. Panjang batang penghubung untuk panjang batang lebih dari 10 meter dan
nilai SPT 30 pengaruh panjang batang ini cukup besar. Panjang batang
penghubung yang panjang lebih berat dan memperkecil energi yang diterima
batang dan sample.
d. Tegangan vertikal effektif.
e. Variasi tinggi jatuh.
f. Bila digunakan cat head, jumlah lilitan mempengaruhi energi.
g. Cara pemboran dan metode stabilitas dinding lubang bor berpengaruh
terhadap nilai NSPT.
h. Lubang yang tidak sempurna pembersihannya dapat mengakibatkan
terperangkapnya lumpur ke dalam sample dan dapat menyebabkan kenaikan
NSPT.
i. Dipakai atau tidaknya linier pada sample.
j. Ukuran lubang bor.
Untuk menghitung daya dukung tiang pancang berdasarkan data N-SPT dapat
digunakan persamaan :
Qp = 40 . Nb . Ap (harga Nb< 40)

2.5.2.2. Daya Dukung Selimut Tiang (Qs)


A. Metode Nottingham & Schmertmann
Tahanan kulit (skin friction) dihasilkan dari nilai slip relative yang kecil di antara
tiang pancang dan tanah. Slip merupakan jumlah perbedaan (accumulated
difference) dalam regangan poros dari beban aksial dan regangan tanah, yang
disebabkan oleh beban yang dipindahkan ke tanah tersebut melalui tahanan kulit.
Kontribusi tahanan kulit pada umumnya dihitung sebagai suatu nilai rata-rata pada
satu atau dua pertambahan kedalaman. Korelasi yang lebih baik bisa didapatkan
jika penjumlahan dibuat untuk setiap lapisan yang ditembus serta dengan
menggunakan perkiraan yang terbaik dari parameter-parameter tanah yang dapat
dipakai untuk lapisan tersebut. Untuk mendapatkan daya dukung selimut tiang
dapat digunakan formula sebagai berikut :
8D L
Qs = Ks,c [ ∑ (Z/8D) . ƒs . As + ∑ ƒs . As ]
z=0 z=8D

Di mana :
Qs = Daya dukung selimut tiang
K = Faktor koreksi ƒs, Ks untuk tanah pasir dan Kc untuk tanah lempung
Z = Kedalaman dimana ƒs diambil
D = Diameter tiang
ƒs = Gesekan selimut sondir
As = Luas selimut tiang setiap interval kedalaman ƒs
L = Panjang total bagian tiang yang terbenam
B. Metode N-SPT
Qs = 0,2 . N . As (harga Nd1 maka D = d1.
4. Hubungan beban titik batas untuk beban titik batas kotor, yaitu termasuk
berat tiang. Sehingga beban titik batas bersih (net ultimate point load) dapat
dihitungkan.

2. 7. Tiang Kelompok dan Efisiensi


Pada umumnya tiang digunakan dalam bentuk kelompok untuk meneruskan beban
struktural ke tanah. Kepala tiang umumnya dibuat menyentuh permukaan tanah
atau bisa juga terletak di atas permukaan tanah sebagaimana kasus konstruksi
lepas pantai.
Tiang-tiang dalam sebuah kelompok harus cukup memiliki jarak sedemikian
hingga daya dukung kelompok tidak kurang dari jumlah daya dukung masing-
masing tiang tunggal. Dalam praktek jarak dari pusat tiang yang satu ke pusat
tiang lainnya (d) minimum 2,5 D, namun dalam situasi biasanya jarak ini sekitar
3-3,5 D

Gambar 2.12 Tiang kelompok


(Sumber : Simatupang, Pintor Tua. Modul Kuliah Rekayasa Pondasi II).

Efisiensi daya dukung tiang kelompok dapat didefinisikan sebagai :

Dimana :
  efisiensi kelompok
Qg(u) = daya dukung batas tiang kelompok
Qg = daya dukung batas tiang tunggal tanpa pengaruh kelompok
Keuntungan dari digunakannya kelompok tiang adalah :
1. Tiang tunggal tidak mempuyai kapasitas yang cukup untuk menahan
beban kolom.
2. Pemancangan tiang atau instalasi tiang bor dapat meleset (sampai dengan
15cm) dari posisinya. Eksentrisitas yang ditimbulkan terhadap pusat beban dari
kolom dapat menimbulkan momen-momen tambahan. Bila kolom dipikul oleh
beberapa pondasi, maka pengaruh eksentrisitas ini dapat berkurang banyak.
3. Kegagalan dari sebuah tiang dapat diminimalisir akibatnya oleh adanya
tiang yang lain.
4. Pemadatan kearah lateral pada saat pemancangan memperbesar tekanan
tanah lateral yang bekerja di sekeliling tiang sehingga meningkatkan kapasitas
tahanan geseknya. Hal ini terutama pada tanah berpasir.

2.7.1. Jarak antar Tiang dalam Kelompok

Gambar 2.13 Jarak Antar Tiang


Berdasarkan pertimbangan efektifitas, maka jarak antar tiang yaitu :
S = (2,5 – 3,5) . D
Dimana :
S = Jarak antara sumbu tiang dalam kelompok (m)
D = Lebar / diameter tiang (m)
Ketentuan tersebut di atas berdasarkan pertimbangan berikut :
Bila S 3,5 . D tidak ekonomis karena akan memperbesar ukuran atau dimensi dari
poer (footing).

2.7.2. Perhitungan Pembagian Tekanan


Beban normal sentris
Beban normal sentris terjadi bila resultan beban yang bekerja pada kelompok
tiang berhimpit dengan titik berat kelompok tiang.
Gambar pondasi tiang pancang yang menahan momen dua arah.

Gambar 2.15 Momen dua arah

M = M1 +  M2
M1 = PA . d1 + PB . d2 + PC. d3 + PD . d4 +PE . d5 + PF . d6 + PG . d7
M1 = PA . dA + P1 . d1
Dimana :
M = jumlah momen
P = Beban
d = Jarak dari as abutment ke as tiang pancang

2.7.3. Daya Dukung Tiang Kelompok


Penentuan daya dukung vertikal sebuah tiang dalam kelompok perlu dihitung
faktor efisiensi dari tiang tersebut di dalam kelompok tiang, karena daya dukung
faktor vertikal sebuah tiang yang berdiri sendiri adalah tidak sama besarnya
dengan tiang yang berada dalam suatu kelompok. Daya dukung sebuah tiang
dalam kelompok adalah sama dengan daya dukung tiang tersebut bila berdiri
sendiri dikalikan dengan faktor efisiensi.
Qag = E . Qsp
Dimana :
Qag = Daya dukung yang diijinkan untuk sebuah tiang dalam kelompok
Qsp = Daya dukung yang diijinkan untuk sebuah tiang tunggal
E = Faktor efisiensi

2.7.3.1. Daya Dukung Tiang di dalam Lapisan Pasir


Perhitungan faktor effisiensi tersebut terdapat beberapa metode yaitu :
1. Rumus Converse-Labarre
E = 1 –  {(n-1) . m + (m-1) . n}
90 m.n

Dimana :
 = Arctan (B/S) (derajat)
B = Lebar atau diameter tiang (m)
S = Jarak antar tiang (dari pusat ke pusat) (m)
m = Jumlah baris tiang
n = Jumlah tiang perbaris
2. Metode Feld

Gambar 2.16 Effisiensi tiang menurut Feld


Metode ini mereduksi daya dukung setiap tiang pada kelompok tiang dengan 1/n
untuk setiap tiang yang berdekatan dan tidak memperhitungkan jarak tiang, akan
tetapi untuk jarak antar tiang S ≥ 3 maka tiang yang bersebelahan itu diasumsikan
tidak berpengaruh terhadap tiang-tiang yang ditinjau.
Tiang A : dipengaruhi 8 tiang yang berada di sekelilingnya.
Effisiensi tiang A = 1 – 8/16 = 8/16 tiang
Tiang B : dipengaruhi 5 tiang yang berada di sekelilingnya.
Effisiensi tiang A = 1 – 5/16 = 11/16 tiang
Tiang C : dipengaruhi 3 tiang yang berada di sekelilingnya.
Effisiensi tiang A = 1 – 3/16 = 13/16 tiang
Effisiensi dari kelompok tiang (pile group).
4 buah tiang A = 4 x Aff. A = 4 x 8/16 = 32/16 tiang
4 buah tiang B = 8 x Aff. B = 8 x 11/16 = 88/16 tiang
4 buah tiang C = 4 x Aff. C = 4 x 13/16 = 52/16 tiang
Total Eff = 172/16 = 10.75 tiang
Jadi Eff satu tiang (E) = 10.75/16 = 0.672 tiang

Untuk tanah-tanah kohesif, selain menggunakan faktor effisiensi, dapat juga


menggunakan rumus daya dukung tiang kelompok menurut Ditjen Bina Marga,
Departemen PU, yang terlebih dahulu dihitung daya dukung kelompok tiang
secara keseluruhan, kemudian dibagi dengan banyaknya tiang akan didapat daya
dukung sebuah tiang dalam kelompok.
Qag = Qpg / n
Qpg = Cu . Nc , Abg + Cu . Asg

Dimana :
Qpg = Daya dukung yang diijinkan pada kelompok tiang (kN/m2)
Qag = Daya dukung yang diijinkan untuk satu tiang pada kelompok tiang
n = Banyaknya tiang dalam kelompok
Qa = Kohesi undrained rata-rata sepanjang tiang (KN/m2)
Cu = Kohesi undrained pada ujung tiang (KN/m2)
Nc = Faktor daya dukung menurut Skempton
Abg = Luas penampang kelompok tiang (m2) = Bg . Lg
Asg = Luas selimut kelompok tiang (m2) = 2(Bg + Lg) . D

2.7.3.2. Daya Dukung Tiang di dalam Lapisan Lempung


Daya dukung batas tiang kelompok di dalam tanah lempung dapat diperkirakan
dengan cara berikut :
Menentukan Qu = m . n (Qp + Qs)
1. Qp = Ap(9Cu(p))
Dimana :
Cu(p) = kohesi taksular lempung pada ujung tiang
Qs =  α . p . Cu . ∆L
Maka diperoleh :
Qu = m . n (9 . Ap . Cu(p) +  α . p . Cu . ∆L)
2. Menentukan daya dukung dengan mengasumsikan bahwa tiang dalam
kelompok bekerja sebagai sebuah blok dengan ukuran Lg x Bg x L tahanan kulit
blok menjadi :
Pg . Cu . ∆L = 2(Ig + Bg) . Cu . ∆L
Daya dukung titik dihitung sebagai :
Ap . qp = Ap . Cu(p) . N’c = (Lg . Bg) Cu(p) . N’c
Nilai faktor daya dukung N’c dapat diperoleh dari gambar tabel N’c yang
merupakan faktor daya dukung untuk pondasi rakit. Sehingga beban dapat
dihitung sebagai berikut :
Qu = Lg . Bg . Cu(p) . N’c + 2(Lg + Bg) Cu . ∆L
3. Bandingkan kedua nilai dari persamaan di atas nilai terendah dari
keduanya akan menjadi Qg(u)

Gambar 2.17 Variasi Nc’ Lg/Bg dan L/Bg dengan N*c


(sumber : Das, Braja M. Principles of Foundation Engineering).

2.7.4. Daya Dukung Lateral


Beban lateral dan momen dapat bekerja pada pondasi tiang akibat gaya gempa,
gaya angin pada struktur atas, beban statik seperti misalnya tekanan aktif pada
abutment jembatan atau pada soldier pile. Untuk analisis, kondisi kepala tiang
dibedakan sebagai kondisi kepala tiang terjepit (fixed head) dan kepala tiang
bebas (free head).
Beban lateral yang diijinkan pada pondasi tiang diperoleh berdasarkan salah satu
dari dua kriteria :
1. Beban lateral ijin ditentukan dengan membagi beban ultimit dengan suatu
faktor keamanan.
2. Beban lateral ditentukan berdasarkan defleksi maksimum yang diijinkan.

2.7.4.1. Metode Analisis


Ada beberapa metode yang telah dikembangkan untuk menganalisa tiang yang
dibebani secara lateral diantaranya adalah metode Broms Brinch–Hansen dan
Reese–Matlock. Pada penulisan kali ini akan dibahas penggunaan metode Broms.
Broms mengajukan metode untuk menghitung gaya lateral pada tiang dengan
menggunakan teori tekanan tanah yang disederhanakan dengan menganggap
bahwa sepanjang kedalaman tiang, tanah mencapai nilai ultimit.
Broms membedakan perilaku tiang pendek dengan tiang panjang serta
membedakan posisi kepala tiang bebas dan terjepit.
Untuk kasus tiang panjang dengan kepala terjepit, gaya lateral ultimit dan momen
maksimum dapat dihitung dengan menggunakan kurva-kurva dibawah ini dan
menggunakan persamaan berikut :
Hu = 2Mu
( e + 0,67 xo)

xo = 0,82 ( Hu )0.5
γ’ . D . Kp

M maks = Hu ( e + 0,67 xo)


Kp = tan2 ( 45 +  )
2

Sedangkan untuk tanah lempung digunakan persamaan :

Hu = 2 . Mu
( 1,5B + 0,5 xo)

xo = Hu
9 . Cu . D

untuk perhitungan kapasitas lateral ultimit dari tiang dengan kondisi kepala tiang
terjepit, gambar di bawah ini dapat digunakan untuk tanah kohesif.

Gambar 2.18 Kapasitas Lateral Ultimit untuk Tiang Panjang pada Tanah Kohesif
(Sumber : Broms, 1964).
2.8. Penurunan
Dalam kelompok tiang (pile group) ujung tiang dihubungkan satu dengan lainnya
dengan poer (footing) yang kaku, sehingga merupakan satu kelompok yang
kokoh. Dengan poer ini diharapkan bila kelompok tiang dibebani secara merata
akan terjadi penurunan yang merata pula.
Menurut L.D.Wesley (“mekanika tanah”), penurunan kelompok tiang adalah
selalu lebih besar dari pada penurunan tiang pancang tunggal terhadap beban yang
sama.
Menurut A.R.Jumikis (Foundtuion Engineering) :
1. Dengan beban yang sama, penurunan kelompok tiang akan lebih besar bila
jumlah tiang bertambah.
2. Dengan memperbesar jarak antar tiang dalam kelompok tiang pancang
maka penurunan kelompok tiang akan berkurang. Dengan jarak antar tiang sama
dengan 6 x diameter tiang, maka penurunan kelompok tiang akan mendekati
penurunan tiang tunggal.

2.8.1. Penurunan Elastik Tiang


Penurunan tiang di bawah beban kerja vertikal (Qw) disebabkan oleh tiga faktor
sebagai berikut :
S = S1 + S2 + S3
Dimana :
S = Penurunan tiang total
S1 = Penurunan batang tiang
S2 = Penurunan tiang akibat beban titik
S3 = Penurunan tiang akibat beban tersalur sepanjang batang
Berikut ini adalah prosedur untuk menentukan ketiga faktor penurunan tiang di
atas.
1. Menentukan S1
Jika diasumsikan bahwa bahan tiang adalah elastis, maka deformasi batang tiang
dapat dievaluasi dengan menggunakan prinsip-prinsip mekanika bahan :
S1 = (Qwp + ξQws) . L
Ap . Ep
Dimana :
Qwp = Beban yang dipikul ujung tiang di bawah kondisi beban kerja
Qws = Beban yang dipikul kulit tiang di bawah kondisi beban kerja
Ap = Luas penampang tiang
L = Panjang tiang
Ep = Modulus Young bahan tiang
Besarnya ξ bergantung pada sifat distribusi tahanan kulit sepanjang batang tiang.
Jika distribusi ƒ adalah seragam atau parabola, seperti diperlihatkan pada gambar
empat persegi dan setengah lingkaran, nilai ξ adalah 0,5. Namun untuk distribusi
ƒ dalam bentuk segitiga, nilai ξ adalah 0,67.

Gambar 2.19 Jenis Distribusi Tahanan Kulit Sepanjang Tiang


(Sumber : Das, Braja M. Principles of Foundation Engineering).

2. Menentukan S2
Penurunan tiang yang ditimbulkan oleh beban pada ujung tiang dapat dinyatakan
dalam bentuk yang sama seperti yang diberikan dalam pondasi dangkal :
S2 = qwp . D (1 – μs2) Iwp
Es

qwp = Qwp / Ap
Dimana :
D = Lebar atau diameter tiang
ES = Modulus Young tanah
qwp = Beban titik per satuan luas ujung tiang
μs = Nisbah poison tanah
Iwp = Faktor pengaruh
Untuk tujuan praktis Iwp dapat ditentukan sama dengan α sebagaimana digunakan
pada penurunan elastis pondasi dangkal. Dalam keadaan tidak adanya hasil
eksperimen, nilai modulus Young dan nisbah poison dapat diperoleh dari tabel
berikut:

Tabel 2.3 Parameter Elastik Tanah (sumber : Simatupang, Pintor Tua, Modul
Kuliah Rekayasa Pondasi II).

Vesic (1977) juga mengajukan suatu metode semiempiris untuk menentukan


besarnya penurunan S2. Metode ini dapat dinyatakan dalam persamaan berikut :
S2 = Qwp . Cp
D . qp
Dimana :
qp = Tahanan ujung batas tiang
Cp = Koefisien empiris
Nilai Cp untuk berbagai jenis tanah diberikan pada tabel berikut :

Tabel 2.4 Nilai tipikal Koefisien Empiris (Cp) (sumber: Vesic, 1977. Design of
Pile Foundation).

3. Menentukan S3
Penurunan tiang yang ditimbulkan oleh pembebanan pada kulit tiang dapat
diberikan dengan persamaan berikut :
S3 = (Qws/p . l) . (1 – μs2) Iws
Dimana :
P = Keliling tiang
L = Panjang tiang yang terbenam
Iws = Faktor pengaruh
Perlu dicatat bahwa suku Qws/p.l pada persamaan di atas adalah nilai rata-rata ƒ
di sepanjang batang tiang. Faktor pengaruh Iws dapat dinyatakan dengan sebuah
hubungan empiris yang sederhana sebagai berikut :
Iws = 2 + 0.35 √(L/D)
Vesic (1977) juga mengajukan sebuah hubungan empiris sederhana untuk
menentukan S3 sebagai berikut :
S3 = (Qws . Cs)/ L . qp
Di mana :
Cs = Sebuah konstanta empiris = [0.93 + 0.16√(L/D)] . Cp

2.8.2. Penurunan Konsolidasi Tiang Kelompok


Penurunan konsolidasi tiang kelompok di tanah lempung dapat dihitung dengan
menggunakan metode distribusi tegangan 2:1 Prosedur perhitungan menggunakan
langkah berikut :
1. Misalkan panjang tiang yang tertanam adalah L. tiang kelompok menderita
beban total Qg. Jika kepala tiang berada di bawah permukaan tanah asli, Qg
adalah sama dengan beban total dari banguan atas (superstructure) yang diterima
tiang dikurangi dengan berat efektif tanah di atas tiang kelompok yang dibuang
oleh penggalian.
Asumsikanlah bahwa beban Qg akan disalurkan ke tanah mulai dari kedalaman
2L/3 dari puncak tiang, seperti ditunjukkan dalam gambar Puncak tiang adalah
pada kedalaman z = 0. Beban Qg tersebar sepanjang garis 2 vertikal : 1 horizontal
dari kedalaman ini. Garis aa’ dan bb’ adalah garis 2:1.
2. Hitunglah peningkatan tegangan yang timbul di tengah-tengah setiap
lapisan tanah dengan beban Qg.
∆pi = Qg
(Bg + zi) (Lg + zi)

Dimana :
∆pi = Peningkatan tegangan di tengah lapisan i
Bg, Lg = Panjang dan lebar tiang kelompok
Zi = Jarak dari z = 0 ke tengah lapisan i
Sebagai contoh dalam dalam gambar di atas untuk lapisan no. 2, zi = L1/2. sama
juga halnya dengan lapisan no.3, zi = L1 + L2/2, dan untuk lapisan no.4 zi L1 +
L2 + L3/2. Namun tidak akan ada peningkatan tegangan pada lapisan no.1, karena
berada di atas bidang horizontal (z = 0) dimana distribusi tegangan pada tanah
dimulai.
3. Menghitung penurunan untuk masing-masing lapisan akibat adanya
peningkatan tegangan pada lapisan itu. Besarnya penurunan dapat dihitung
menggunakan persamaan konsolidasi satu dimensi untuk lempung terkonsolidasi
normal dan terkonsolidasi lebih.
Untuk lempung terkonsolidasi normal :
∆si = Cc(i)Hi log Po(i) + ∆Pi
1 + ℮o(i) Po(i)

Untuk lempung terkonsolidasi lebih dengan :


Po(i) + ∆Pi < Pc(i)

∆si = Cs(i)Hi log Po(i) + ∆Pi


1 + ℮o(i) Po(i)

Untuk lempung terkonsolidasi lebih dengan :


Po(i) < Pc(i) 1.10
Gaya Lateral Ultimit

Pada perencanaan struktur untuk menentukan besarnya fator keamanan didasarkan


pada asumsi bahwa beban yang akan bekerja pada struktur yang akan
direncanakan melebihi dari sebenarnya, atau bias disebut dengan beban berfaktor.
Sedangkan desain kekuatan bahan diasumsikan bahwa struktur yang direncanakan
memiliki kekuatan yang lebih kecil dari yang sebenarnya, atau biasa disebut
dengan faktor pengurangan/reduksi kekuatan bahan.
Menurut Tomlinson (1977), pada perencanaan pondasi tiang pancang nilai faktor
keamanan diberikan dengan alasan-alasan sebagai berikut :
1. Variasi alami dari kekuatan dan kepadatan tanah.
2. Ketidak pastian metode yang digunakan dalam perhitungan.
3. Untuk memastikan bahwa tegangan yang bekerja pada bahan pembuat
pondasi tiang berada dalam batas aman.
4. Untuk memastikan penurunan total dari tiang tunggal maupun kelompok
berada dalam batas toleransi.
Untuk menentukan faktor keamanan dapat digunakan klasifikasi struktur menurut
Pugsley (1966) sebagai berikut :
1. Bangunan monumental, umumnya memiliki umur rencana 100 tahun.
2. Bangunan permanan, umumnya memiliki umur rencana 50 tahun.
3. Bangunan sementara, umur rencana kurang dari 25 tahun bahkan mungkin
hanya beberapa saat selama konstruksi.
Semakin besar umur rencana suatu bangunan maka akan digunakan faktor
keamanan yang lebih besar, dan sebaliknya. Karena faktor keamanan erat
kaitannya dengan keselamatan manusia.
Faktor-faktor lain kemudian ditentukan berdasarkan tingkat pengendaliannya pada
saat konstruksi :
1. Pengendalian baik, kondisi tanah cukup homogen dan konstruksi
didasarkan pada program penyelidikan tanah dengan tingkat professional.
2. Pengendalian normal, situasi sama dengan kondisi di atas hanya saja
keadaan tanah bervariasi dan tidak tersedia data pengujian tiang.
3. Pengendalian kurang, tidak ada uji pembebanan, kondisi tanah sulit dan
bervariasi, tetapi pengujian tanah dilakukan dengan baik. Pengawasan kurang.
4. Pengendalian buruk, kondisi tanah amat buruk dan sukar ditentukan
penyelidikan tanah tidak memadai.
Tabel 2.6 Faktor Keamanan untuk Pondasi Tiang (Sumber : Donald P. Codute)

BAB III
GAMBARAN UMUM LOKASI JEMBATAN

3.1. LOKASI DAN DENAH JEMBATAN


Lokasi Jembatan Jalan akses Marunda ini berada di lokasi Kali Cakung Drain
Wilayah Kotamadya Jakarta Utara. Pada jalan tersebut sudah ada jembatan lama
tetapi jembatan tersebut sudah rusak sehingga perlu dibangunnya jembatan yang
baru untuk mengganti jembatan yang sudah rusak agar tidak membahayakan para
pengguna jembatan Adapun lokasi jembatan Jalan akses Marunda ini dapat dilihat
pada gambar

Gambar 3.1. Lokasi Jembatan Jalan akses Marunda

Jembatan Jalan Akses Marunda didesign dengan lebar jembatan 15,00 meter
dengan panjang jembatan = 130,80 meter, lebar lalu lintas = 11 meter, lebar trotoir
= 2 x 2,00 meter, type jembatan I girder.
3.2. Kondisi Tanah
- Berdasarkan laporan hasil penyelidikan tanah (data hasil laporan
terlampir) yang dikeluarkan oleh Unit Penyelidikan dan Pengukuran Tanah DPU
DKI Jakarta.

3.2.1. Data-data tanah dari lokasi


Penyelidikan tanah yang dilakukan :
1. Cone Penetration test (CPT)
Dilakukan sebanyak 4 (empat) titik, memakai yang berkapasitas 10 tonf dan
dilengkapi dengan “Adhession Jacket Cone” serta dilaksanakan sampai mencapai
lapisan tanah keras dengan nilai tekanan konus qc > 400 kg/cm2 atau dengan
kedalaman maksimum 40 m (mana yang lebih dulu).
2. Boring sebanyak 2 (dua) hole depth Boring kedalaman boring mencapai
20 m dari muka tanah setempat.
Dari uji pengeboran tersebut diperoleh :
a. Contoh tanah
Pengambilan contoh tanah (soil sampling) diambil dari hole depth boring dengan
memakai alat Thin Wall Tube Sampler dalam keadaan undisturbed sample.
b. Muka air tanah
Muka air tanah (M.A.T) terdeteksi didalam hole hasil boring setelah selesai
pengeboran.
Selanjutnya sample tersebut dibawa ke laboratorium untuk menentukan :
a. Pemeriksaan sifat-sifat pengenalan (index properties) terdiri dari :
- Specifik grafity soil solid (Gs) unit weight of massa (γm) dan natural water
content (WN).
- Pembagian ukuran butir (grain size distribution) sieve analys
- Batas-batas konsistensi (atterberg)  Liquid limit (LL) Plastic limit (PL)
Plasticity index (PI)
b. Pemeriksaan sifat-sifat teknis (engineering properties) terdiri dari :
kekuatan geser (shearing strength)  unconfined compression strength
undisturbed (qu) parameter C dan Q dengan percobaan direct shear test ,
konsolidasi (Cc dan e).

3.3. KONDISI LINGKUNGAN SEKITAR JEMBATAN


3.3.1. Topografi

Gambar 3.2 Topografi

3.4 PROSEDUR PERENCANAAN PONDASI TIANG PANCANG


Dalam Tugas Akhir ini langkah-langkah yang akan dilakukan dalam perencanaan
pondasi tiang pancang tahap-tahap tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.3.

Gambar 3.3 Prosedur Perencanaan Pondasi Tiang Pancang

Like
Be the first to like this.

Anda mungkin juga menyukai