Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pekerjaan dalam bidang konstruksi membutuhkan material sebagai bahan
baku pada pembangunan jalan, gedung, jembatan dan pekerjaan konstruksi
lainnya. Kebutuhan material guna mendukung pelaksanaan pembangunan di
berbagai sektor dari waktu ke waktu semakin meningkat, oleh karena itu
diperlukan alat berat untuk membantu memenuhi kebutuhan material tersebut.
Batu alam menjadi salah satu sumber material yang dapat digunakan dalam
pengerjaaan konstruksi sebagai agregat seperti batu pecah dan batu halus
(menyerupai pasir). (Michael Raynold Rumengan,2017).
Pengelolahan batu alam menjadi material dapat menggunakan alat yang
disebut stone crusher yang dapat memecah batuan besar menjadi batuan-batuan
kecil dan mengelompokkannya sesuai dengan ukuran yang diinginkan sesuai
kebutuhan material dalam suatu proyek konstruksi. Dengan adanya alat tersebut
akan sangat membantu pemenuhan kebutuhan material untuk pengerjaan
konstruksi.
Penelitian ini merupakan untuk tujuan mengetahui seberapa mampukah
untuk melayani permintaan konsumen yang semakin meningkat tersebut. Jadi
dalam penelitian ini saya meninjau produktivitas alat berat stone crusher dalam
satu hari bisa menghasilkan berapa ton dalam produktivitasnya. Pemanfaatan
agregat dalam proyek konstruksi sangatlah luas. Salah satunya adalah sebagai
bahan dasar pembuat beton dan campuran aspal. Selain itu juga digunakan dalam
pembuatan jalan, seperti pada dasar jalan atau pada permukaan perkerasan jalan.
Kadang batuan dari alam berukuran besar sehingga perlu dilakukan
pengolahan terhadap batuan tersebut sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan
bangunan. Guna mendapatkan kerikil atau batuan pecah yang sesuai ukuran yang
diharapkan maka diperlukan suatu alat untuk memotong material. Alat pemecah
batuan yang digunakan adalah crusher. Crusher berfungsi untuk memecahkan

1
batuan alam menjadi ukuran yang lebih kecil sesuai dengan ukuran yang
digunakan.
Pada PT Argo Tuhu adalah salah satu perusahaan yang bergerak untuk
menyupai meterial-material untuk memenuhi permintaan pasar. Pada alat stone
crusher ini sering terjadi masalah karena produksinya yang tidak tercapai.
Berdasarkan masalah diatas, maka perlu dilakukan suatu penelitian yang
mengenai perhitungan produktivitas alat stone crusher tersebut.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana perhitungan produktivitas alat berat stone crusher di PT Argo
Tuhu Desa Tegalsari Banyuwangi ?

1.3 Tujuan
Untuk mengetahui perhitungan produktivitas alat berat stone crusher di PT
Argo Tuhu Desa Tegalsari Banyuwangi.

1.4 Manfaat
Penelitian produktivitas alat berat stone crusher di PT Argo Tuhu.
memberikan manfaat yaitu Diharapkan dapat mengetahui produktivitas alat berat
stone crusher di PT Argo Tuhu.

1.5 Batasan Masalah


Untuk memfokuskan pembahasan, maka diberikan batasan permasalahan
sebagai berikut :
1. Tidak membahas anggaran biaya alat berat.
2. Tidak membahas investasi alat berat stone crusher.
3. Hanya membahas produktivitas alat berat.
4. Tidak membahas perbandingan alat berat.
5. Tempat penelitan berada di PT Argo Tuhu.

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Mesin Pemecah Batu (Stone Crusher)


Agregat yang digunakan dalam pengecoran dan pencampuran aspal dapat
diambil dari alam (quarry) yang berupa pasir, kerikil atau batuan. Terkadang
batuan dari alam (quarry) berukuran besar sehingga perlu dilakukan pemecahan
terhadap batuan tersebut agar dapat dimanfaatkan dalam campuran. Guna
mendapatkan kerikil atau batuan pecah yang sesuai dengan ukuran yang
diharapkan maka diperlukan suatu alat pemecah material tersebut. Alat pemecah
batuan yang digunakan adalah Stone Crusher.
Stone Crusher berfungsi untuk memecahkan batuan alam menjadi ukuran
yang lebih kecil sesuai dengan spesifikasi (persyaratan gradasi) yang dibutuhkan.
Pada pekerjaan crushing ini biasanya diperlukan beberapa kali pengerjaan
pemecahan, tahap – tahap pekerjaan ini beserta jenis crusher yang digunakan
antara lain (Rostiyanti, 2002) :
1. Pemecahan tahap pertama oleh jenis primary crusher.
2. Pemecahan tahap kedua oleh secondary crusher.
3. Pemecahan – pemecahan selanjutnya jika ternyata diperlukan, oleh
tertiary crusher.

2.1.1 Tipe Stone Crusher


Beberapa macam peralatan pemecah batu (stone crusher) meliputi :
1. Primary Crusher, biasanya menggunakan tipe crusher (Rostyanti, 2002) :
a. Jaw crusher (pemecah tipe rahang)
Jaw crusher digunakan untuk mengurangi besar butiran pada tingkat
pertama, kemudian dipecah lebih lanjut oleh crusher lain. Jenis ini
paling efektif digunakan untuk batuan sedimen sampai batuan yang
paling keras seperti granit atau basalt. Jaw crusher merupakan mesin
penekan (compression) dengan rasio 6 : 1. Jaw crusher dapat dilihat
pada Gambar 2.1

3
Gambar 2.1 Jaw crusher (Rostiyanti, 2002)

Keuntungan yang diperoleh dari jaw crusher antara lain karena


kesederhanaan konstruksinya, ekenomis dan memerlukan tenaga yang
relatif kecil. Ukuran material yang dapat dipecah oleh crusher ini
tergantung pada feed opening (bukaan) dan kekerasan batu yang akan
dipecah. Umumnya untuk material hasil peledakan, material yang
berukuran sampai dengan 90% dari feed opening (bukaan) dapat
diterima. Untuk batuan yang tidak terlalu keras disarankan berukuran
80% dari feed opening (bukaan).
b. Gyratory Crusher (pemecah gyratory)
Crusher ini beroprasi dengan kisaran. Bagian crusher pemecah
berbentuk Conis, karena itu kadang disebut cone crusher. Gyratory
crusher hampir sama dengan jaw crusher, perbedaannya terletak pada
cara pemberian tekanan dimana untuk gyratory crusher tekanan
diberikan dari arah samping. Hasil pemecahan erusher ini rata – rata
berbentuk kubus dan agak uniform hal ini karena bentuk lengkung dari
cone dan bowl yang mempunyai permukaan cekung (concave).
Berbeda dengan jaw crusher bergerak kebelakang sehingga ada
material-material yang tidak mengalami penggerusan. Namun gyratory
crusher memerlukan biaya atau modal biaya pemeliharaan yang besar
Gyratory Crusher dapat dilihat pada Gambar 2.2

4
Gambar 2.2 Gyratory Crusher
(Rostiyanti, 2002)

c. Impact Crusher (pemecah tipe pukulan)


Impact crusher disarankan terutama untuk batu kapur atau untuk
penggunaan dengan abrasi lebih rendah. Impact crusher ada 2 jenis
yaitu impact breaker dan hammer mill. Kedua jenis ini pada prinsipnya
sama, perbedaannya terletak pada jumlah rotor dan ukurannya. Impact
breaker mempunyai satu atau dua buah rotor dan ukurannya lebih
besar daripada hammer mill. Impact breaker menghasilkan produk
yang berbentuk seperti kubus meskipun semula merupakan batu
lempengan serta meningkatkan kualitas agregat dan mempertinggi
kapasitas plant. Impact Crusher dapat dilihat pada Gambar 2.3

Gambar 2.3 Impact Crusher


(Rostiyanti, 2002)

5
2. Secondary Crusher, biasanya menggunakan tipe crusher :
a. Selain sebagai crusher sekunder, cone crsher juga dapat digunakan
untuk pasir dan kerikil serta material yang memiliki butir asal
(sebelum dipecah) 30-25 cm dimana tidak memerlukan lagi crusher
primer. Secondary Crusher dapat dilihat pada Gambar 2.4

Gambar 2.4 Secondary Crusher


(Rostiyanti, 2002)

b. Roll Crusher
Roll Crusher diperlukan untuk menghasilkan produk dengan ukuran
tertentu. Crusher jenis tekanan ini menghasilkan variasi pemecahan
yang lebih besar dibanding jenis crusher lainnya. Kapasitas roll
crusher tergantung dari jenis batuan, ukuran crusher primer, ukuran
batuan yang diinginkan, lebar roda dan kecepatan roda berputar. Roll
Crusher dapat dilihat pada Gambar 2.5

Gambar 2.5 Roll Crusher (Rostiyanti, 2002)

6
c. Hammer Mill (pemecah tipe pukulan)
Hammer Mill digunakan untuk batu kapur kualitas tinggi, dengan
kadar abrasi kurang dari 5%, menghasilkan jumlah besar material
halus. Hammer Mill dapat menerima feed material berukuran sampai
dengan 20 cm dan memiliki rasio pemecahan 20 : 1. Hammer Mill
dapat dilihat pada Gambar 2.6

Gambar 2.6 Hammer Mill (Rostiyanti, 2002)

3. Tertiary Crusher, biasanya menggunakan tipe crusher :


a. Roll Crusher
b. Selain sebagai crusher sekunder, roll crusher dapat juga digunakan
sebagai crusher tersier, dapat memecah batu alam atau batuan yang
masih besar di pecahkan menjadi beberapa bagian sesuai dengan apa
yang direncakan. Roll Crusher dapat dilihat pada Gambar 2.7

Gambar 2.7 Roll Crusher (Rostiyanti, 2002)

7
c. Rod Mill (pemecah tipe batang)
Rod Mill adalah suatu alat yang menggunakan media gerus berbentuk
batang silinder yang panjangnya hampir sama dengan panjang mill.
Media gerus biasanya terbuat dari baja dan disusun sejajar dalam mill.
Dimensi panjang L jauh lebih besar daripada diameter, D, L > D,
biasanya panjang mill 1,5 sampai 2,5 kali diameternya. Rod Mill dapat
dilihat pada Gambar 2.8

Gambar 2.8 Rod Mill (Rostiyanti, 2002)

d. Ball Mill (pemecah tipe bola)


Ball Mill adalah suatu alat yang menggunakan media gerus berbentuk
bola yang terbuat dari baja. Diametaer media gerus bervariasi mulai
dari 25 sampai 150 cm. Panjang mill L dan diameternya D relative
sama L = D. Berdasarkan cara pengeluaran produknya atau discharge,
ball mill dibedakan menjadi overlow mill dan grate discharge mill.
Pada overflow mill, produk hasil penggerusan keluar dengan
sendirinya pada ujung satunya, ujung pengeluaran. Sedangkan pada
grate discharge mill, produk keluar melalui saringan yang dipasang
pada ujung pengeluaran. Produk dapat keluar dengan bebas,
permukaan dalam mill rendah, lebih rendah dari overflow. Ball Mill ini
menggerus material yang sudah kecil-kecil untuk di saring dengan
ukuran agregatnya nanti akan bisa keluar melalui discharge agregat
akan sendirinya keluar telah sesuai ukuran tersebut. Ball Mill dapat
dilihat pada Gambar 2.9

8
Gambar 2.9 Ball Mill (Rostiyanti, 2002)

2.1.2 Spesifikasi Alat Pemecah Batu (Stone Crusher)


Mesin pemecah batu bisa dibedakan menurut cara kerjanya. Mesin
pemecah batu tipe Jaw Crusher, Gyratory serta Roll Crusher beroperasi dengan
menekan batu. Sementara mesin pemecah batu tipe Impact Crusher bekerja
memecah bebatuan dengan hantaman berkecepatan tinggi. Kebanyakan tipe Jaw
Crusher difungsikan menjadi pemecah utama sementara tipe lainnya diposisikan
sebagai pemecah lanjutan jika hasil pecahan batu yang dikendaki belum
memenuhi kriteria (Rostyanti,2002).
Pada salah satu proyek pemecah batu di Banyuwangi ini menggunakan
alat pemecah batu dengan merk Stone Crusher Tonghui tipe PE-46 (400/600),
dengan bobot berat Jaw Crusher 6,5 ton, dengan kapasitas 16-55 t/h, dengan
memakan daya sebesar 30 kW. Alat pemecah batu ini mampu memproduksi
bermacam-macam tipe agregat, diantaranya adalah agregat ukuran (0,5-1 cm), (1-
2 cm), (2-3 cm), dan Base Course A, Base Course B serta Abu Batu. Dalam
sehari mampu memproduksi 29,07 meter kubik agregat. Stone Crusher Tonghui
tipe PE-46 (400/600) .

2.2 Alat Bantu Crusher


Untuk mendapatkan material dan efesiensi yang sesempurna mungkin
maka diperlukan alat pembantu atau pelengkap pada unit crusher. Alat pelengkap
ini dimaksudkan untuk mengatur dan mempercepat proses produksi material.
Sehingga dengan adanya alat bantu proses produksi material akan lebih cepat
menghasilkan banyak material.

9
2.2.1 Feeder
Feeder adalah komponen dan peralatan pemecah batu yang berfungsi
sebagai pengatur aliran, pemisah bahan dan penerima bahan baku. Tujuan
pemisahan bahan (scalping) sebelum masuk ke pemecah primer adalah
sebagai berikut :
a. Menyeleksi ukuran partikel yang akan masuk ke alat pemecah batu
sehingga efisiensi alat dapat ditingkatkan sampai dengan 15 %. Batu-batu
yang terlalu besar disingkirkan agar tidak menyumbat pada bukaan
crusher, dan demikian juga batu-batu kecil hasil peledakan yang sudah
sesuai ukurannya dipisahkan.
b. Hasil penambangan mungkin mengandung kotoran atau lempung, yang
member pengaruh negatif pada campuran beraspal sehingga harus
disingkirkan terlebih dahulu.
Pemisahan (scalping) dapat dilakukan dengan pemasangan saringan,
Saringan untuk pemisah dapat juga dibuat di lokasi. Saringan tersebut
berbentuk persegi dengan ukuran minimum 3 m x 4 m dan dipasang miring
dengan sudut 40 0 – 45 0. Jarak antar besi tulangan yang berfungsi sebagai
saringan adalah 4,5 cm sampai 6,5 cm. Secara umum terdapat dua jenis pemasok
(feeder), yaitu apron feeder dan mekanikal atau reciprocating plate feeder. Apron
feeder umumnya digunakan untuk memasok batu belah (rock) ke pemecah primer.
Lebar pemasok umumnya berkisar antara 76,2 cm s/d 243,84 cm dan panjang 2
s/d 3 kali lebarnya. Pemasok dapat digerakkan oleh motor bertenaga 5 horsepower
s/d 20 horsepower (tergantung kapasitas yang ada). Mekanikal atau
reciprocating plate feeder umumnya untuk material lebih halus (gravel pit).
Reciprocating plate digerakkan oleh poros esentrik dengan tenaga motor sekitar 3
horsepower s/d 20 horsepower. Ukuran atau dimensi feeder dan kecepatannya
sebaiknya diatur agar mempunyai kapasitas 25 % sampai 35% lebih besar dari
pada kapasitas pemecah.

2.2.2 Penyalur
Penyalur berfungsi untuk memindahkan material dari satu unit ke unit lain
atau ke tempat peyimpanan atau penimbunan (stockpile). Pada umumnya suatu

10
unit penyalur terdiri atas komponen sabuk conveyor, dudukan conveyor, dan
motor penggerak. Fungsi-fungsi conveyor pada peralatan pemecah batu biasanya
terdiri atas fungsi penyambung atau perantara (joint conveyor),
mendistribusikan (discharge conveyor), pemasok (feed conveyor), dan fungsi
balik untuk dipecah lagi (return conveyor).

2.2.3 Saringan
Saringan adalah komponen pada peralatan pemecah batu yang
berfungsi untuk menyaring/memisahkan, membentuk gradasi, dan secara tidak
langsung mengontrol penyaluran material ke unit stone crusher dan selanjutnya ke
tempat penimbunan (stockpile). Tujuan utama penyaringan adalah pemisahan,
yaitu untuk memisahkan ukuran material yang lebih besar (oversize) atau ukuran
yang lebih kecil (undersize), atau untuk mendapatkan ukuran agregat yang
disyaratkan. Tipikal saringan diperlihatkan pada Gambar II-9. Saringan pada unit
pemecah batu yang portable biasanya terdiri atas 2 ½ dek atau lembaran saringan.
Dek paling atas berfungsi penerima awal atau penerima yang pertama. Posisi dek
atau lembaran saringan terpisah secara paralel dengan jarak yang cukup
sehingga tidak mengganggu pergerakan material di atas dek. Material yang
tertahan pada dek bagian atas akan dipecah lagi oleh pemecah primer, material
yang lolos dari dek pertama dan yang tertahan pada dek bagian kedua akan
dipecah oleh unit crusher selanjutnya. Untuk material berlebih yang halus
(abu batu) akan melalui saringan paling bawah berukuran ½ dek.
Pada umumnya saringan terbuat dari kawat baja yang dianyam
berbentuk bidang persegi empat. Terdapat tiga jenis saringan yang biasa
dipakai, yaitu :

a. Inclined vibrating screen


Ayakan ini terdiri atas sebuah pelat rata-rata dipasang agak miring sebagai
penahan. Ayakan bergerak dalam arah meilngkar pada
sumbu vertikal sehingga abu batu dapat keluar.
b. Improved horizontal screen

11
Ayakan ini hamper sama dengan inclined vibrating screen, tetapi alat ini
tidak memerlukan headroom (ruang atas). Karena gerakan yang
berkecepatan tinggi, alat ini dapat bekerja secara efisien.
c. Revolving screen
Ayakan ini terdiri atas sebuah silinder yang diperforasi. Silinder dipasang
aging miring dan dapat berputar dengan kecepatan rendah pada sumbu
memanjang silinder. Batu hasil diayak dengan pengaruh putaran
silinder. Kualitas batu yang dapat di ayak dengan alat ini tergantung pada
kecepatan silinder dan derajat kemiringan, yaitu antara 10 dan 20 RPM
dengan kemiringan 5° - 7°. Perforasi ukuran silinder berada, semakin ke
bawah semakin besar. Luas efektif ayakan menentukan kapasitas, yaitu :
1/3 diameter silinder x panjang silinder 1/3 x D x L.
Menghitung Produksi Ayakan
Untuk menghitung produksi ayakan digunakan Persamaan 2.1 sebagai
berikut :

,........................................................................................(2.1)

Dengan :
Q : Kapasitas ayakan dalam ton per jam
A : Luas Ayakan dalam feet persegi
C : Kapasitas teoritis ayakan , ton per jam per feet persegi
D : Faktor deck
G : Faktor ukuran agregat
2.2.4 Timbangan Jembatan
Jembatan timbang merupakan seperangkat alat untuk menimbang
kendaraan barang/truk yang dapat dipasang secara tetap atau alat yang dapat
dipindah-pindahkan yang digunakan untuk mengetahui berat kendaraan
beserta muatannya, digunakan untuk pengawasan jalan ataupun untuk
mengukur besarnya muatan pada industri, pelabuhan ataupun pertanian.

2.3 Kapasitas Stone Crusher


Kapasitas stone crusher adalah banyaknya atau jumlah agregat yang dapa
diproduksi oleh setiap jenis stone crusher dalam setiap jam. Dengan demikian

12
besarnya kapastas itu akan mempengaruhi lamanya waktu yang dibutuhkan
untuk produksi agregat oleh stone crusher. Kapasitas ini akan berbeda-beda
untuk tiap jenis stone crusher, karena adanya perbedaan dari dimensi stone
crusher itu sendiri.

2.4 Kriteria Pengaturan Stone Crusher


Dalam pengaturan stone crusher perlu diketahui hal-hal sebagai berikut:
a. Untuk perhitungan produksi stone crusher digunakan Persamaan 2.2
sebagai berikut :
P = Q x E................................................................................................(2.2)
Dimana:
P : Produksi per jam (ton/jam)
Q : Kapasitas stone crusher (ton/jam)
E : job efficiency.

b. Prinsip pekerjaan crusher


Prinsip pekerjaan crusher merupakan rentetan-rentetan pengurangan
ukuran batu,maka untuk mengetahui tingkat pemecahan itu ditunjukkan
oleh suatu istilah yang disebut “ratio of reduction”.ratio of reduction
adalah perbandingan antara ukuran maksimum feed (F) dari crusher
dengan setting (s). Selain “ratio of reduction” pada pekerjaan crushing
juga dikenal istilah “stage of reduction”,karena pada setiap langkah
crushing terjadi pengurangan pengurangan ukuran batu. Ratio of
Reduction ini dikatakan sebagai selisih antara ukuran maksimum batu
yang dihasilkannya. lebih lanjut ratio of reduction untuk berbagai jenis
crusher.
c. Setiap crusher mempunyai sifat –sifat yang berbeda dalam menghasilkan
gradasi ,walaupun kita beri setting yang sama.Hasil-hasil pemecahan batu
ini tentu saja dalam bermacam-macam ukuran sampai yang berukuran
debu sekalipun. Untuk membantu pra penentuan hasil pemecahan dalam
berbagai setting yang diberikan pada crusher, maka digunakan “Grid
Chart” ,Hal ini juga penting untuk menentukan kapasitas tahap

13
selanjutnya. Sehingga bisa memperbanyak proses pengolahan material
yang akan di hancurkan sesuai dengan ukuran yang di tentukan.
2.5 Kombinasi Stone Crusher
Dari beberapa jenis stone crusher yang ada perlu dikombinasikan antara
satu jenis dengan yang lain.Hal ini tentunya untuk mendapatkan agregat dengan
ukuran yang diinginkan atau gradasi yang minimal mendekati gradasi yang
minimal mendekati gradasi yang diinginkan.Kombinasi yang umum adalah jenis
primary crusher dengan jenis secondary crusher .Contohnya antara lain sebagai
berikut :
a. Jaw crusher + cone crusher + screen
b. Jaw Crusher +roll crusher +screen
c. Impact crusher + roll crusher + screen

2.6 Produktivitas Stone Crusher


a. Roll Crusher
Untuk menghitung produksi alat dapat digunakan Persamaan 3.1
sebagai berikut :
A = 0,085 R + C,..............................................................................(3.1)
Keterangan :
A = Luas keseluruhan bukaan roll crusher
R = Jari-jari Roda
C = Ukuran batuan hasil dari dari crusher yang diinginkan
b. Belt
Untuk menghitung produksi alat dapat digunakan Persamaan 3.2
sebagai berikut :

T= ,...........................................................................................(3.2)

Keterangan :
T = Berat material (ton/jam)
A = Potongan luas area material (sq ft)
S = Kecepatan ban (ft/menit)
W = Berat jenis material (lb/cft)
c. Tenaga untuk menggerakkan Belt

14
Untuk menghitung produksi alat dapat digunakan Persamaan 3.3
sebagai berikut :
Tenaga yang dibutuhkan untuk menggerakkan belt kosong tergantung
pada tipe idler, diameter dan jarak antar idler, serta panjang, berat, dan
kecepatan belt. Energi yang dibutuhkan ditentukan dengan rumus :
E = L.S.Q.C,.....................................................................................(3.3)
Keterangan :
E = Energi (ft-lb/menit)
L = Panjang belt (ft)
S = Kecepatan Belt (fpm)
Q = Berat bagian yang bergerak untuk setiap 1 ft conveyor
C = Faktor friksi
Jika Persamaan 3.3 dihitung dalam horsepower maka digunakan
Persamaan 3.4 diturunkan menjadi berikut :

= ,..........................................................................................(3.4)

Sedangkan tenaga yang dibutuhkan untuk menggerakkan beban secara


horizontal digunakan Persamaan 3.5 sebagai berikut :

= ,..........................................................................................(3.5)

Keterangan :
E = Energi (ft-lb/menit)
L = Panjang belt (ft)
S = Kecepatan Belt (fpm)
W = Berat beban (lb) pada setiap 1 ft belt

2.7 Penelitian Terdahulu


Valentina Tri Indah Pratiwi Putr, Marsudi,Yoga Herlambang, (2016).
Yang berjudul “Kajian Teknis Produktivitas Crushing Plant Heng Tong Untuk
Mencapai Target Produksi Batu Granodiorit Sebesar 3.000 /Bulan Di PT Bina
Ardi Lestari Kabupaten Mempawah”. PT Bina Ardi Lestari merupakan salah satu
perusahaan pertambangan komoditas batu granodiorit. Upaya yang dilakukan oleh
PT Bina Ardi Lestari untuk meningkatkan nilai jual batu granodiorit tersebut

15
dengan melakukan pengolahan. Target produksi yang dicanangkan oleh
perusahaan ialah sebesar 3.000 /bulan, namun pada kenyataannya produksi
batu granodiorit di PT Bina Ardi Lestari ialah sebesar 984,94 bulan.
Hal ini menandakan bahwa tidak terpenuhinya target produksi yang ditetapkan
oleh perusahaan. Metode pengamatan yang dilakukan dilapangan ialah metode
pengamatan secara langsung dan metode kuantitatif. Pengambilan data
dilakukan dengan mengamati kegiatan peremukan pada unit crushing plant serta
mengamati waktu kerja dari alat crushing plant. Jenis data yang didapat berupa
kapasitas nyata dan waktu kerja dari alat crushing plant. Hasil yang didapat
dengan memaksimalkan waktu kerja yaitu menjadi 320 menit/hari saat kondisi
hujan ≠ 0 dan 352,12 menit/hari saat kondisi hujan = 0, menyebabkan produksi
umpan yang masuk dapat ditingkatkan menjadi 32 – 33 /jam. Berdasarkan
hasil perbaikan pada unit crushing plant tersebut, maka rencana produksi
perusahaan sebesar 3.000 /bulan dapat tercapai. Perbaikan tersebut
menghasilkan produksi sebesar 4.010,83 /bulan saat kondisi hujan ≠ 0
sedangkan saat kondisi hujan = 0, produksi yang dihasilkan sebesar 4.355,53
/bulan.
Briyan Ibnu Husn, Syahrudin,Yoga Herlambang, (2016). Yang berjudul
“Analisa Teknis Produktivitas Crushing Plant Shan Bao Batuan Granodoirit
Untuk Mencapai Target Produksi Pada PT Total Optima Prakasa Desa Peniraman,
Kabupaten Mempawah”. Kegiatan penambangan yang dilakukan oleh PT. Total
Optima Prakarsa memiliki target produksi sebesar ±12.500 /bulan atau
sebesar 33.500 ton/bulan. Namun dalam realisasi penambangannya produksinya
tidak sesuai dari target, yaitu sebesar ±10.000 /bulan atau sebesar 26.800
ton/bulan. Hal tersebut ditenggarai disebabkan oleh beberapa hal, seperti setting
dari unit peremuk (crusher) belum sesuai, waktu kerja efektif belum
tercapai, dan aliran proses peremukan batuan belum baik. Oleh karena itu dirasa
perlu dilakukan pengkajian tentang teknis unit peremuk yang beroperasi.
Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor dan waktu kerja
efektif dari pengoperasian unit peremuk (crusher), serta merencanakan usaha-
usaha agar dapat memenuhi target produksi. Penulisan ini dilakukan dengan
pengambilan data berupa pengamatan data primer dan data sekunder. Sedangkan

16
teknik analisis data menggunakan metode komparatif yaitu melakukan
perbandingan antara produksi aktual dan produksi teoritis. Berdasarkan hasil
perhitungan yang dilakukan diketahui bahwa produksi aktual unit peremuk
sebesar 28.178,375 ton/bulan, sehingga belum memenuhi target dan harus
dilakukan perbaikan. Upaya perbaikan yang dilakukan untuk memenuhi target
tersebut adalah dengan memperbaiki waktu kerja efektif yang ada dari
77,02% menjadi 92%, sehingga dengan melakukan perhitungan dari
perbaikan yang dilakukan terbukti meningkatkan produksi dari 28.178,375
ton/bulan menjadi 33.613 ton/bulan, sehingga melewati target perusahaan yang
sebesar 33.500 ton/bulan.
Ryant Bulo,Windhu Nugroho, Farah Dinna Z, (2014). Yang berjudul
“Analisis Produktifitas Unit Peremuk Batu (Crushing Plant) Untuk Pencapaian
Hasil Produksi Di PT CMS Kaltim Utama Kecamatan Samarinda Utara Kota
Samarinda Provinsi Kalimantan Timur”. PT. CMS Kaltim Utama merupakan
salah satu perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan batubara, terletak di
wilayah Samarinda Utara, Provinsi Kalimantan Timur.Pengolahan batubara
yang dilakukan PT. CMS Kaltim Utama adalah pengecilan ukuran material
dengan jalan peremukan. Unit peremukan juga mengalami beberapa hambatan
selama proses pengolahan berlangsung seperti terja dinya gangguan teknis
dangan gangguan mekanis yaitu terjadinya kerusakan pada system kelistrikan,
material umpan terlambat datang, hopper mengalami buntu akibat material
terlalu besar, beltrobek, belt conveyor macet motor penggerak crusher rusak
dan rantai motor penggerak lepas. Dari hasil pengamatan yang dilakukan
adalah mengetahui produksi nyata dari masing-masing bagian alat
perumakan batubara. Produksi nyata dari feed conveyor sebesar 201,11
ton/jam, transfer conveyor sebesar 110,35 ton/jam, efisiensiscreen sebesar
54,87% dan stacking conveyorsebesar 104,65 ton/jam, dan selanjutnya dapat
dilakukan perhitungan untuk mengetahui nilai ketersediaan alat crusher
adalah Kesediaan Fisik (Physical Availability) 69,11% pada bulan januari
dan 79,93% pada bulan februari, Penggunaan Efektif (Effective Utilizations)
40,76% pada bulan januari dan 48,69 pada bulan februari. Selanjutnya
dilakukan analisis dan perhitungan perbaikan waktu hambatan sehingga

17
diperoleh penambahan waktu sebesar 307,09 menit/hari pada bulan januari dan
222,7 menit/hari pada bulan Februari.
Ahmad Zadit Taqwa, (2016). Yang berjudul “Analisis Kapasitas Produksi
Pemecah Batu Stone Crusher Dengan Metode Capacity Requirement Planning
(CRP) Di PT Varia Usaha Beton Pandaan”. Berkembangnya dunia usaha
khususnya dalam bidang produksi batu pecah untuk bangunan semakin
meningkat. PT. Varia Usaha Beton Pandaan adalah perusahan yang bergerak
dalam bidang pemecahan batu sebagai bahan utama pembuatan beton siap pakai
dan jasa pengecoran. Mendukung proses produksi beton maka di perlukan bahan
batu pecah, pemakaian batu pecah mengalami peningkatan setiap bulannya.
Proses memproduksi batu pecah sendiri menggunakan mesin Stone Crusher
berkapasitas 100 ton yang bertempat di PT. Varia Usaha Beton Pandaan.
Penelitian ini bertujuan untuk meramalkan permintaan batu pecah 10-20 mm pada
periode tahun 2017 dan menganailis kebutuhan kapasitas produksi dengan
menggunakan metode Capacity Requirement Planning (CRP) di PT Varia Usaha
Beton Pandaan, dengan mesin Stone Crusher yang terdiri 1 mesin Primary
Crusher dan empat mesin Secondary Crusher dari dua stasiun kerja. Penelitian ini
menggunakan metode kuantitatif. Metode analisis yang digunakan pada penelitian
ini dengan bantuan metode Capacity Requirement Planning (CRP). Berdasarkan
hasil analisis dan pembahasan, dapat diambil simpulan bahwa peramalan
permintaan batu pecah ukuran 10-20 mm di PT. Varia Usaha Beton Pandaan pada
tahun 2017 menggunakan teknik Moving Average yaitu pada bulan Januari
sebesar 6.496 Ton, bulan Februari sebesar 6.142 Ton, bulan Maret sebesar 6.919
Ton, bulan April sebesar 8.750 Ton, bulan Mei sebesar 8.594 Ton, bulan Juni
sebesar 7.854 Ton, bulan Juli sebesar 8.312 Ton, bulan Agustus sebesar 8.481
Ton, bulan September sebesar 8.954 Ton, bulan Oktober sebesar 8.599 Ton, bulan
November sebesar 9.610 Ton, dan pada bulan Desember sebesar 9.569 Ton.
Kapasitas yang diperlukan pada work station pertama untuk bulan Januari -
Desember tahun 2017 yaitu: 64,96 jam, 61,42 jam, 69,19 jam, 87,5 jam, 85,94
jam, 78,54 jam, 83,12 jam 84,81 jam, 89,53 jam, 85,98 jam, 96,1jam, dan 95,69
jam. Sedangkan pada work station kedua yaitu: 259,83 jam, 245,69 jam, 276,75
jam, 350 jam, 343,77 jam, 314,17 jam, 332,49 jam, 339,25 jam, 358,16 jam,

18
343,95 jam, 384,40 jam, dan 382,75 jam. Langkah-langkah yang dilakukan agar
bisa mencukupi kekurangan kapasitas work station 2 (mesin Secondary Crusher)
di bulan Juli – Desember tahun 2017 tersebut dengan cara menambah jam
kerja/lembur (over time), sedangkan untuk work station 1 (mesin Primary
Crusher) dengan menggunakan 1 mesin masih mencukupi.
Galang Rambu Anarqi, (2016). Yang berjudul “Studi Kelayakan Investasi
Alat Pemecah Batu (Stone Crusher) Di Banyuwangi”. Perkembangan bisnis
investasi di Banyuwangi sekarang mengalami perkembangan yang pesat. Hal
ini dapat dilihat dengan semakin banyaknya investor melakukan beberapa
investasi alat berat. Bahan baku yang sering digunakan dalam berbagai
bidang konstruksi adalah batu. Untuk mengolah batu dalam berbagai ukuran
tersebut diperlukan peralatan berat seperti mesin pemecah batu yaitu Stone
Crusher. Dengan permintaan batu pecah yang semakin meningkat di
Banyuwangi, seharusnya investor melihat peluang untuk melakukan penanaman
modal pada alat pemecah batu, agar terjadi timbal balik modal yang memadai
dari setiap investasi yang dilakukan. Maka dari itu diperlukan suatu studi
kelayakan investasi pada alat Pemecah Batu (Stone Crusher) di
Banyuwangi.Analisa kelayakaninvestasi yang dilakukan menggunakan metode
NPV (Net Present Value), BCR (Benefit Cost Ratio), IRR (Internal Rate of
Return), dan PP (Payback Period) serta data biaya investasi, pendapatan dan
pengeluaran.Hasil perhitungan analisa kelayakan investasi untuk NPV
discount rate 10%, = Rp 1.317.837.139, discount rate 12% = Rp943.327.640,
dan discount rate 15% = Rp 568.927.069, BCR discount rate 10%, = 1.213,
discount rate 12% = 1.153 dan discount rate 15% = 1.092, IRR discount rate
10% = 23.90%, discount rate 12% = 19.99% dan discount rate 15% =
18.91%, PP discount rate 10% = 3.070, discount rate 12% 3.719 dan
discount rate 15% = 3.995 tahun. Maka dari itu proyek layak untuk
direalisasikan, tetapi rentan terhadap perubahan berdasarkan hasil perhitungan
analisa sensitivitas dengan perubahan pendapatan dan pengeluaran sebesar 10%
untuk dicount rate 10%, 12% dan 15%.

19
Halaman Sengaja Di Kosongkan

20
BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian dilakukan di Jl. Bulusari no 34. Kelurahan Balokan, Dasri,
Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur 68485. Waktu Penelitian
dilakukan selama 7 hari yaitu pada bulan April. Gambar lokasi tempat penelitian
dapat dilihat pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1 (Lokasi Penelitian


Google Maps, 2019)

3.2 Flowchart (Diagram Alir)


Secara umum penelitian ini dilakukan melalui tahapan kerja seperti pada
diagram alir. Jadi yang akan kita lakukan sesuai dengan diagram alir yang telah
sesuai dengan langkah-langkah pada flowchart yang telah ditentukan tahapa-
tahapannya jadi data yang akan diperoleh secara runtun dan efisien dan rill yang
ada di lapangan nanti pada Gambar 3.2

21
Mulai

Studi Literatur

Survei Lapangan

Pengumpulan Data

Primer Sekunder
Pengolahan Perhitungan

Hasil

Kesimpulan

Selesai

Gambar 3.2 Flowchart (Diagram Alir) Pengerjaan


(Hasil pengolahan, 2019)

Berdasarkan Gambar 3.2 flowchart pelaksanaan Proyek Akhir ini diawali


dengan menentukan konsep penelitian, lalu dilanjutkan studi pustaka, survei
lapangan serta pengumpulan data yang dibutuhkan. Setelah data telah terkumpul
dilanjutkan proses pengolahan perhitungan, kemudian dilanjutkan dengan hasil
pengolahan perhitungan, lalu akan mendapatkan data kemudian dilakukan
pembahasan sehingga mendapatkan hasil dan kesimpulan.

22
3.3 Langkah–Langkah Penelitian
Dalam penelitian ini diperlukan beberapa langkah–langkah untuk
mendapatkan hasil sesuai dengan tujuannya. Langkah-langkah dalam pelaksanaan
penelitian dimulai dari studi literatur, survei lapangan, pengumpulan data primer
dan sekunder, pengolahan perhitungan, hasil, kesimpulan.

3.3.1 Studi Literatur


Studi literatur dilakukan dengan mempertimbangkan jurnal-jurnal, buku,
berita, dan sumber-sumber yang berhubungan dengan penelitian ini, sehingga
dapat dijadikan dasar dari penelitian ini dan dapat dijadikan referensi agar
mendapatkan hasil sesuai dengan yang diharapkan. Selain itu juga mempelajari
tentang cara-cara perhitungan produktivitas alat berat Stone Crusher.

3.3.2 Pengumpulan Data


Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data yang diperlukan sebagai data
yang akan digunakan untuk memecahkan masalah yang telah dirumuskan
sebelumnya. Data-data yang dikumpulkan adalah :
1. Waktu siklus Stone Crusher.
2. Biaya bahan bakar untuk operasional alat berat.
3. Waktu kerja alat.

Tabel 3.1 Pengumpulan Data


No Jenis data Metode pengambilan data Sumber data

1 Data umum Wawancara Pemimpin


perusahaan

2 Data produksi Wawancara dan Observasi Pemimpin


langsung perusahaan

Sumber : Proyek Akhir, 2019

3.3.3 Pengolahan Data


Pada tahap ini dilakukan pengolahan data terhadap data yang telah
dikumpulkan. Tahapan proses pengolahan data ini mencakup :
a. perhitungan produktivitas

23
d. Roll Crusher
Untuk menghitung produksi alat dapat digunakan persamaan sebagai
berikut (Rostiyanti,2008 dalam Buku Alat Berat Untuk Proyek
Konstruksi) :
A = 0,085 R + C,..............................................................................(3.1)
Keterangan :
A = Luas keseluruhan bukaan roll crusher
R = Jari-jari Roda
C = Ukuran batuan hasil dari dari crusher yang diinginkan
e. Belt
Untuk menghitung produksi alat dapat digunakan persamaan sebagai
berikut (Rostyanti,:2008 dalam Buku Alat Berat Untuk Proyek
Konstruksi) :

T= ,...........................................................................................(3.2)

Keterangan :
T = Berat material (ton/jam)
A = Potongan luas area material (sq ft)
S = Kecepatan ban (ft/menit)
W = Berat jenis material (lb/cft)
1. Tenaga untuk menggerakkan Belt
Untuk menghitung produksi alat dapat digunakan persamaan sebagai
berikut (Rostyanti,:2008 dalam Buku Alat Berat Untuk Proyek
Konstruksi) :
Tenaga yang dibutuhkan untuk menggerakkan belt kosong tergantung
pada tipe idler, diameter dan jarak antar idler, serta panjang, berat, dan
kecepatan belt. Energi yang dibutuhkan ditentukan dengan rumus :
E = L.S.Q.C,.....................................................................................(3.3)
Keterangan :
E = Energi (ft-lb/menit)
L = Panjang belt (ft)
S = Kecepatan Belt (fpm)
Q = Berat bagian yang bergerak untuk setiap 1 ft conveyor

24
C = Faktor friksi
Jika rumus 3.3 dihitung dalam horsepower maka rumus tersebut
diturunkan menjadi :

= ,..........................................................................................(3.4)

Sedangkan tenaga yang dibutuhkan untuk menggerakkan beban secara


horizontal didasarkan atas rumus :

= ,..........................................................................................(3.5)

Keterangan :
E = Energi (ft-lb/menit)
L = Panjang belt (ft)
S = Kecepatan Belt (fpm)
W = Berat beban (lb) pada setiap 1 ft belt

25
Jadwal Kegiatan
Tabel 3.1 Jadwal Kegiatan Proyek Akhir
Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus
Nama Kegiatan Minggu Ke Minggu Ke Minggu Ke Minggu Ke Minggu Ke Minggu Ke Minggu Ke
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Studi Pustaka
Pembuatan Proposal
Seminar Proposal
Revisi Proposal
Survei Lapangan
Analisis Data
Hasil dan Pembahasan
26

Kesimpulan dan Saran


Sidang Proyek Akhir
Revisi Proyek Akhir
Sumber : Hasil Pengolahan Data, 2019
Keterangan :
: Waktu pelaksanaan Proyek Akhir

26
DAFTAR PUSTAKA

Adriansyah, 2015. Manajemen Transportasi dalam Kajian dan Teori. Penerbit


Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Prof. Dr. Moestopo
Baragama. Jakarta Pusat.
Ir. Gede Astawa Diputra, 2015. Penggunaan Alat Berat Pekerjaan Galian Tanah.
Bali : Universitas Udayana.
IR.Susy Fatena Rostyanti, 2008. Alat Berat Untuk Proyek Konstruksi Edisi
kedua). Jakarta : Rineka Cipta.
Rochmanhadi, (1982). Alat-Alat Berat dan Penggunaannya. Departemen
Pekerjaan Umum : Jakarta.
Rusli Rasyid Muhammad, 2008. Analisis Produktifitas Alat-Alat Berat Proyek
Studi Kasus Proyek Pengembangan Bandar Udara Hasanuddin,
Maros, Makassar, Proyek Akhir Strata 1 Jurusan Teknik Sipil Fakultas
Teknik Sipil dan Perencanaan. Yogyakarta : Universitas Islam
Indonesia.
Wilopo, Djoko. 2009 .Metode konstruksi dan Alat Berat, Jakarta : Universitas
Indonesia.
Wigroho, H.Y dan Suryadharma, H. 1993. Pemindahan Tanah Mekanis.
Yogyakarta : Universitas Atma Jaya.

27