Anda di halaman 1dari 9

Kualitas SDM yang menjadi penggerak pembangunan di masa yang akan

datang ditentukan oleh bagaimana pengembangan SDM saat ini, termasuk pada usia

sekolah. Pembentukan kualitas SDM sejak masa sekolah akan mempengaruhi

kualitasnya pada saat mereka mencapai usia produktif (Andarwulan et. al, 2009).

Dengan demikian, kualitas anak sekolah penting untuk diperhatikan karena pada masa

ini merupakan masa pertumbuhan anak, dan sangat penting peranan zat gizi serta

keamanan makanan yang dikonsumsi disekolah. (BPOM, 2014).

Salah satu faktor penentu kemajuan suatu bangsa adalah kualitas SDM yang

dimiliki. Untuk mendapatkan kualitas SDM yang berkualitas perlu dipersiapkan sejak

anak masuk usia sekolah hingga dewasa nantinya (Andarwulan et. Al, 2009). Usia

sekolah merupakan masa pertumbuhan anak, sehingga perlu memperhatikan zat gizi

dan makanan yang dikonsumsi aman disekolah untuk menunjang pertumbuhan yang

optimal (BPOM, 2014).

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 tahun 2004 tentang

Keamanan Pangan, Mutu, dan Gizi Pangan, memberikan wewenang kepada Badan

POM untuk melakukan pengawasan keamanan, mutu dan gizi pangan yang beredar.

Salah stau prioritas pangan yang menjadi perhatian khusus Badan POM RI adalah

Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS).

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 tahun

2004 mengenai Keamanan Pangan, Mutu, dan Gizi Pangan, Badan POM memiliki

salah satu tugas prioritas pangan yakni terkait Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS)

(BPOM, 2014).

Pada tahun 2016 telah dilakukan pengawasan Pangan Jajanan Anak Sekolah

(PJAS) terhadap 4 sampel jenis pangan paling bermasalah yaitu es, minuman
beraroma dan sirup, jeli/ agar dan bakso. Hasil pengujian menunjukkan dari sebanyak

627 sampel yang diuji, 245 (39,07%) sampel TMS dengan sebaran sebagai berikut:

Secara umum, dari grafik di atas terlihat bahwa saat ini permasalahan terbesar

tetap didominasi oleh produk minuman berwarna dan sirup serta es. Hasil pengujian

berdasarkan parameter uji mikrobiologi yang TMS yaitu Angka Kapang Khamir,

Angka Lempeng Total, dan MPN Coliform, sedangkan parameter uji kimia paling

banyak yaitu penggunaan siklamat melebihi batas maksimal.

Berdasarkan laporan tahunan Badan POM tahun 2016 pada sampel pangan

jajajan anak sekolah yakni pada es, minuman beraroma dan sirup, jeli/agar dan bakso

yang dianggap paling bermasalah, dari 627 sampel yang diuji sebanyak 245 (39,07%)

sampel TMS (Tidak Memenuhi Syarat) dan dari ke empat sampel tersebut yang paling

bermasalah yakni produk minuman berwarna, sirup dan es. Berdasarkan parameter uji

mikrobiologi pada sampel yang TMS ditemukan Angka Kapang Khamir, Angka

Lempeng Total, dan MPN Coliform yang melebihi batas maksimal, sedangkan untuk

parameter uji kimia didominasi oleh penggunaan siklamat melebihi batas maksimal

(BPOM, 2016).

Makanan jajanan memegang peranan yang cukup penting dalam memberikan


asupan energi dan zat gizi lain bagi anak-anak usia sekolah. Konsumsi makanan
jajanan anak sekolah perlu diperhatikan karena aktivitas anak yang tinggi. Konsumsi
makanan jajanan anak diharapkan dapat memberikan kontribusi energi dan zat gizi
lain yang berguna untuk pertumbuhan anak (Sutardji, 2007).

Keberadaan makanan jajanan bagi anak sekolah diharapkan dapat memberikan

kontribusi energi dan zat gizi dikarenakan aktivitas anak yang tinggi dan untuk

menunjang pertumbuhan anak (Sutardji, 2007).


Makanan jajanan akan dapat melengkapi dan menambah kecukupan gizi

seseorang apabila makanan jajanan yang dikonsumsi terjamin kebersihan dan

kandungan gizinya (Tampubolon RHM, et.al, 2000). Makanan jajanan memberikan

kontribusi masing-masing sebesar 22,9% dan 15,9% terhadap keseluruhan asupan

energi dan protein anak sekolah dasar (Rahmi AA, dan Muis SF, 2005). Penelitian

lainnya pada anak sekolah menyebutkan makanan jajanan menyumbang energi 36%,

protein 29%, dan zat besi 52% (Nuryanto, 2008).

Aktivitas anak sekolah yang tinggi ketika dengan adanya makanan jajanan

diharapkan dapat memberikan kontribusi energi dan zat gizi untuk menunjang

pertumbuhan anak (Sutardji, 2007). Jaminan kebersihan dan kandungan gizi pada

makanan jajanan juga perlu diperhatikan agar kecukupan gizi anak dapat terpenuhi

(Tampubolon RHM, et.al, 2000). Dimana sumbangan energi dan protein yang

diperoleh dari makanan jajanan yakni sebesar 22,9% dan 15,9%, hasil penelitian lain

menunjukkan melalui makanan jajanan dapat memberikan kontribusi 36% energi,

protein 29%, dan zat besi 52% (Nuryanto, 2008).

Ditinjau dari jenis pangan, penyebab KLB Keracunan Pangan tahun 2016

adalah masakan rumah tangga sebanyak 29 (49,15%) kejadian, pangan jajanan/siap

saji sebanyak 12 (20,34%) kejadian, diikuti pangan olahan dan pangan jasa boga

masing-masing sebanyak 9 (15,25%) kejadian. Sedangkan KLB keracunan pangan di

Sekolah Dasar pada umumnya disebabkan oleh pangan jajanan yang terkontaminasi

bakteri patogen (BPOM, 2016).

Bedasarkan data laporan Badan POM 2016, pangan jajanan yang

terkontaminasi oleh bakteri patogen dapat menjadi penyebab keracunan pangan pada

Sekolah Dasar., mengingat pangan jajanan/siap saji menempati urutan kedua

(20,34%) sebagai jenis pangan penyebab KLB akibat keracunan pangan, sedangkan
masakan rumah tangga menjadi penyebab terbanyak (49,15%) keracunan pangan

kemudian pangan olahan dan pangan jasa boga (15,25%) (BPOM, 2016).

Salah satu usaha untuk mengurangi paparan anak sekolah terhadap makanan

jajanan yang tidak sehat dan tidak aman adalah dengan promosi keamanan pangan

baik kepada pihak sekolah, guru, orang tua, anak sekolah, serta pedagang (Agustin,

2009; Stalling, 2008; Chapin, 2004). Peran media dalam promosi kesehatan adalah

sebagai sarana membangun suasana kondusif terhadap perubahan perilaku positif

terhadap kesehatan 5.

Untuk menghindari dampak buruk akibat mengkonsumsi makanan jajanan

tidak sehat dan tidak aman di sekolah, maka diperlukan kerja sama baik oleh pihak

sekolah, guru, orang tua, murid dan pedagang dalam hal keamanan pangan yang dapat

dilakukan dengan promosi kesehatan (Agustin, 2009).

Berbagai metode telah dikembangkan dunia pendidikan dalam menyampaikan

pesan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan sikap dan ketrampilan. Ceramah dan

tanya jawab adalah metode yang cukup efektif sebagai penyampaian pesan. Salah satu

media penyuluhan yang dapat digunakan untuk menarik perhatian siswa adalah

gambar (Hamida, Kahairunisa, et.al,. 2016) karakteristik anak sekolah dasar yang

senang bermain juga menjadi pertimbangan dalam pemilihan media ini (Hughes,

2010).

Untuk mempermudah penyampaian pesan guna meningkatkan pengetahuan

sikap dan ketrampilan anak, berbagai metode penyuluhan kini telah dikembangkan

(Hamida, Kahairunisa, et.al,. 2016), sesuai dengan pola perkembangan anak sekolah

dasar yang menyukai kegiatan bermain sehingga pengunaan media nutrition card

dapat digunakan dalam penyampaikan pesan gizi kepada anak sekolah dasar

(Wahyuningsih, et.al, 2015; Hughes, 2010).


Media pendidikan ini berisi pesan-pesan gizi khususnya mengenai keamanan

makanan jajanan yang dituangkan dalam bentuk gambar. Dengan adanya media ini

diharapkan anak-anak dapat dengan mudah memahami materi yang disampaikan dan

dapat mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari (Wahyuningsih, et.al, 2015).

Pemilihan media nutrition card lebih menarik karena dituangkan dalam

bentuk gambar guna mempermudah pemahaman anak sekolah dasar dalam

memahami pesan terkait gizi dan keamanan jajanan dalam kehidupan sehari-hari

(Wahyuningsih, et.al, 2015).

Lokasi pengambilan data dalam penelitian ini di SD Negeri Pekunden

Semarang. Sekolah dasar inimerupakan sekolah negeri yang terletak di tepi jalan di

pusat kota dan banyak terdapat penjual makanan maupun minuman jajanan, serta

siswa memiliki karakteristik sosial ekonomi yang bervariasi.Penelitian ini bertujuan

untuk mendeskripsikan dan menganalisis berbagai faktor yang berhubungan dengan

pemilihan makanan jajanan pada anak sekolah dasar di SDN Pekunden Semarang.

Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti peran komik untuk meningkatkan

pengetahuan siswa tentang keamanan makanann jajanan.

Penulis ingin mengambil lokasi penelitian di SD Negeri 02 Pedurungan

Tengah Semarang karena berdasarkan hasil observasi sekolah dasar ini berlokasi di

pinggir jalan raya pusat kota dan terdapat banyak penjual makanan dan minuman

jajan. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti pengaruh media nutrition card

terhadap pengetahuan dan sikap siswa tentang keamanan makanan jajanan.


Selama tahun 2016, masih banyak produk pangan yang mengandung pemanis

buatan, pengawet dan kadar zat gizi melebihi batas yang diizinkan, serta parameter

lain yang ditetapkan pada peraturan. Penggunaan pemanis buatan melebihi batas yang

diizinkan yaitu sebanyak 498 sampel menggunakan siklamat melebihi batas yang

diizinkan, 138 sampel mengandung sakarin melebihi batas yang diizinkan, 15 sampel

mengandung acesulfame melebihi batas yang diizinkan, 11 sampel mengandung

aspartam melebihi batas yang diizinkan, Penggunaan pengawet pangan melebihi batas

yang diizinkan yaitu sebanyak 419 sampel mengandung benzoat melebihi batas yang

diizinkan, 64 sampel mengandung kalium sorbat melebihi batas yang diizinkan.

Selama tahun 2016 BPOM telah mencatat 110 berita keracunan pangan yang

diperoleh dari media online. Sementara di tahun yang sama, sebanyak 60 kejadian

luar biasa (KLB) keracunan pangan dilaporkan oleh 31 BB/BPOM di seluruh

Indonesia. Laporan tersebut diperoleh dari Dinas Kesehatan Propinsi maupun

Kabupaten/Kota di 34 Propinsi.

Dari seluruh hasil pengujian masih ditemukan produk pangan yang

mengandung bahan berbahaya yang disalahgunakan sebagai BTP, yaitu sebanyak 309

sampel mengandung Boraks; 164 sampel mengandung Rhodamin B; 221 sampel

mengandung Formalin dan 29 sampel mengandung Methanyl Yellow.

Higiene dan sanitasi masih menjadi masalah yang serius dalam produksi

pangan. Hal ini ditunjukkan dengan temuan kandungan mikroba dalam sampel

pangan, yaitu sebanyak 334 sampel mengandung kapang khamir melebihi batas yang

diizinkan, 482 sampel mengandung ALT melebihi batas yang diizinkan, 334 sampel

mengandung MPN Coliform melebihi batas yang diizinkan, 83 sampel mengandung

APM E coli melebihi batas yang diizinkan, 25 sampel mengandung S Aureus


melebihi batas yang diizinkan, dan 11 sampel mengandung Pseudomonas aeroginosa

melebihi batas yang diizinkan (BPOM, 2016).

. Anak-anak tertarik dengan jajanan sekolah karena warnanya yang menarik,

rasanya yang menimbulkan selera dan harga yang terjangkau. Bahkan mereka tidak

memperhitungkan lagi berapa uang saku yang digunakan untuk membeli makanan

jajanan yang kurang memenuhi standar gizi. Selain hal tersebut, kenyataan bahwa

banyak makanan jajanan yang disediakan atau dijual di kantin-kantin sekolah maupun

pedagang makanan sekitar sekolah yang berjumlah lebih dari 5 pedagang setiap

harinya dengan berbagai jenis dagangan makanan jajanan, yang sering dikonsumsi

oleh anak-anak sekolah. Hal itu terjadi juga di Sekolah Dasar Katolik Sang Timur

Kota Semarang yang sudah memiliki kebijakan yang dinilai bagus dalam pemilihan

makanan jajanan. (Mavidayanti, Hevi dan Mardiana, 2016).

memperjelas informasi,
dan mempermudah pengertian. Di samping itu, media
dapat mengurangi komunikasi yang verbalistik, sehingga
sasaran dapat mempelajari pesan dan memutuskan untuk
mengadopsi perilaku sesuai dengan pesan-pesan yang di-
sampaikan.
8
Kesimpulan

Berbagai metode telah dikembangkan dunia pendidikan dalam menyampaikan pesan yang
bertujuan meningkatkan pengetahuan sikap dan ketrampilan. Ceramah dan tanya jawab
adalah metode yang cukup efektif sebagai penyampaian pesan. Salah satu media penyuluhan
yang dapat digunakan untuk menarik perhatian siswa adalah gambar. Gambar dapat
menimbulkan kreatifitas siswa yang beragam dalam membahasakannya. Keunggulan media
gambar ini yaitu dapat memperjelas suatu permasalahannya dengan melihat gambar yang
jelas dan sesuai dengan pokok bahasan. Siswa akan lebih jelas terhadap suatu pokok bahasan
atau materi yang disampaikan guru

Perpaduan antara gambar dengan isi tentang keamanan makanan jajanan ini dapat
memberikan suatu informasi serta pendidikan pada anak yang lebih mudah dipahami dan
dimengerti maksud dan tujuannya. Anak juga dapat menikmati gambar lucu yang dikemas
dengan tema keamanan makanan jajanan, serta dapat pula dijadikan suatu hiburan dan ada
maksud pendidikan di dalamnya.

Hasil observasi tentang keamanan makanan jajanan di SD N 1 menunjukkan bahwa


pengetahuan siswa tidak baik sebanyak 55%. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti
peran komik untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang keamanan makanann jajanan.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektifitas penyuluhan
gizi dengan media komik dalam meningkatkan pengetahuan siswa tentang keamanan
makanan jajanan sekolah. Siswa sekolah dasa

Pemilihan makanan jajanan merupakan perwujudan perilaku.


Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku berupa
faktor intern dan ekstern. 9
Faktor yang mempengaruhi pemilihan makanan dibagi menjadi
tiga kelompok yaitu faktor terkait makanan, faktor personal berkaitan
dengan pengambilan keputusan pemilihan makanan, dan faktor sosial
ekonomi.10
Pengetahuan merupakan faktor intern yang mempengaruhi
pemilihan makanan jajanan. Pengetahuan ini khususnya meliputi
pengetahuan gizi, kecerdasan, persepsi, emosi, dan motivasi dari
luar.9
Pendidikan dan pengetahuan merupakan faktor tidak langsung
yang mempengaruhi perilaku seseorang.11 Pengetahuan yang
diperoleh seseorang tidak terlepas dari pendidikan. Pengetahuan gizi
yang ditunjang dengan pendidikan yang memadai, akan menanamkan
kebiasaan dan penggunaan bahan makanan yang baik. Ibu yang
mempunyai pengetahuan luas tentang gizi, maka dapat memilih dan
memberi makan anaknya dengan lebih baik. Peran orang tua terutama
ibu, untuk mengarahkan anaknya dalam pemilihan makanan jajanan
cukup besar. 11,12
Kebiasaan seseorang berhubungan dengan karakteristik
personal dan faktor lingkungan. Dalam hal ini, lingkungan yang
paling berpengaruh pada perilaku makan anak adalah keluarga
dan sekolah.14,15 Ketersediaan jajanan sehat dan tidak sehat di
rumah berpengaruh terhadap pemilihan makanan jajanan pada
anak-anak. Anak cenderung untuk membeli makanan jajanan
yang tersedia paling dekat dengan keberadaannya. Oleh sebab
itu, jajanan yang sehat seharusnya tersedia baik di rumah,
maupun di lingkungan sekolah agar akses anak terhadap jajanan
sehat tetap terjamin.
Faktor ketersediaan makanan jajanan yang sehat menjadi
salah satu faktor dalam menentukan pemilihan makanan jajanan
yang sehat pula. 16,17