Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

KIMIA KLINIK II
KREATININ

OLEH :

KELOMPOK V

1. ASTI ARINI (P00341017055)


2. DITA ELVITA SARITA (P00341017061)
3. HERJIANA TOMALILI (P00341017067)
4. LUH JUNI SUPRIATINI (P00341017075)
5. NUR ARAFAH SAPUTRI (P00341017083)
6. RIZKY AMALIA PUTRI (P00341017090)
7. SUCI RAHMAWATI (P00341017096)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KENDARI

JURUSAN D-III ANALIS KESEHATAN

2019
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................... i

DAFTAR ISI .................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang .....................................................................................1


1.2.Rumusan Masalah ................................................................................3
1.3.Tujuan Makalah ...................................................................................3

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Pengertian dan Fungsi Kreatinin .........................................................4

2.2. Biosintesis Kreatinin ...........................................................................5

2.3. Pemeriksaan Kreatinin ..................................................................... 6

BAB III PENUTUP

4.1. Kesimpulan .......................................................................................11

4.2. Saran .................................................................................................11

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................12

i
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Perkembangan penyakit dalam semakin berkembang setiap tahunnya,
baikdari perkembangan jenis penyakitnya maupun jumlah penderitanya.
Penyakit dalam adalah suatu penggolongan penyakit didalam dunia
kedokteran yang mempunyai ragam penyakit yang paling banyak dan sampai
saat ini penggolongannya masih terus berlangsung.Salah satu yang termasuk
penyakit dalam adalah gagal ginjal (SulistyowatiI, 2011).
Gagalginjal merupakan kondisi dimana ginjal tidak mampu
menjalankan fungsi nyauntuk mempertahankan homeostatis dalam mengatur
volumecairan, keseimbangan osmotik, asam basa, ekskresisisa metabolisme
dan sistem pengaturan hormonal (Syaifuddin,2009).
Menurut data dari The United States Renal Data System (USRDS)
tahun2009 Penyakit Ginjal Kronik (PGK)tahap akhir sering ditemukan dan
prevalensinya sekitar 10 sampai 13%. Di Amerika Serikat jumlahnya
mencapai 25 juta jiwa, dan di Indonesia diperkirakan12,5% atau sekitar 18
juta jiwa (Pratama dkk,2014).
Di Indonesia survey persatuan ahli penyakit dalam pada tahun 1990
sampai 1992 menunjukkan bahwa 13% dari 50.000 pasien rawat inap di
rumah sakit yang ada di seluruh Indonesia menderita gagal ginjal dan
menempati urutan ke 4.
Kreatinin adalah produk akhir dari metabolisme kreatin.Kreatinin
terutama disintesis oleh hati,tedapat hampir semuanya dalam otot rangka yang
terikat secara reversible dengan fosfat dalam bentuk fosfo kreatin atau keratin
fosfa, yakni senyawa penyimpan energi. Pemeriksaan kreatinin dalam darah
merupakan salah satu parameter penting untuk mengetahui fungsi ginjal.
Pemeriksaan ini juga sangat membantu kebijakan melakukan terapi pada
penderita gangguan fungsi ginjal. Tinggi rendahnya kadar kreatinin dalam

1
darah digunakan sebagai indikator penting dalam menentukan apakah seorang
dengan gangguan fungsi ginjal memerlukan tindakan hemodialysis (Alfonso,
2016).

1.2. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Kreatinin dan apa Fungsinya ?


2. Bagaimana Biosintesis Kreatinin ?
3. Bagaimana Pemeriksaan Kreatinin ?

1.3.Tujuan Makalah
1. Untuk mengetahui Pengertian dan Fungsi Kreatinin.
2. Untuk mengetahui Biosintesis Kreatinin.
3. Untuk mengetahui Pemeriksaan Kreatinin.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian dan Fungsi Kreatinin

Kreatinin adalah protein yang merupakan hasil akhir metabolisme


otot yang dilepaskan dari otot dengan kecepatan hampir konstan dan
diekskresi dalam urin dalam kecepatan yang sama, kreatinin diekskresikan
oleh ginjal melalui kombinasi filtrasi dan sekresi, konsentrasinya relative
konstan dalam plasma dari hari ke hari, kadar yang lebih besar dari nilai
normal mengisyaratkan adanya gangguan fungsi ginjal (Corwin J.E,
2001).

Kreatinin adalah produk limbah kimia yang berada dalam darah,


limbah ini kemudian disaring oleh ginjal dan dibuang ke dalam
urin.Kreatinin merupakan produk sampingan dari kontraksi otot normal, di
mana kreatinin terbuat dari creatine yang merupakan pemasok energy
untuk otot.

Creatine adalah asam amino yang diproduksi oleh hati, pancreas


dan ginjal.Creatine juga bisa diperoleh dari luar tubuh yaitu dari sumber
makanan seperti ikan dan daging. Otot-otot kita menyimpan creatine
sebagai creatine phosphate, yang merupakan sumber ATP, yang
menyediakan energi.Ketika otot beristirahat, respirasi aerobic biasa akan
menyediakan energi yang cukup sehingga tidak memerlukan kreatin-
fosfat. Namun, ketika otot-otot bekerja secara aktif, maka akan
membutuhkan banyak ATP untuk energy dan mulai menggunakan
cadangan kreatin-fosfat.

Kadar kreatinin berbeda setiap orang, umumnya pada orang yang


berotot kekar memilikikadar kreatinin yang lebih tinggi daripada yang
tidak berotot.Hal ini juga yang memungkinkan perbedaan nilai normal

3
kreatinin pada wanita dan laki-laki. Nilai normal kreatinin pada wanita
adalah 0,5-0,9 mg/dl, sedangkan laki-laki adalah 0,6-1,1 mg/dl.

Sebagai petunjuk, peningkatan dua kali lipat kadar kreatinin serum


mengindikasikan adanya penurunan fungsi ginjal sebesar 50%, demikian
juga peningkatan kadar kreatinin tiga kali lipat mengindikasikan adanya
penurunan fungsi ginjal sebesar 75% (Soeparman dkk, 2001).

Kreatinin dalam darah berfungsi untuk memonitor fungsi


ginjal.Selain itu, kreatinin juga sering digunakan sebagai monitor pasien
dengan konsumsi obat – obatan yang bersifat racun terhadap ginjal seperti
antibiotik golongan aminoglikosida.

2.2. Biosintesis Kreatinin

Biosintesis adalah proses multi-langkah, enzim-dikatalisasi di


mana substrat dikonversi menjadi produk yang lebih kompleks dalam
organisme hidup. Dalam biosintesis, senyawa sederhana dimodifikasi,
diubah menjadi senyawa lain, atau bergabung bersama untuk membentuk
makromolekul.

Kreatinin dalam urin berasal dari filtrasi glomerulus dan sekresi


oleh tubulus proksimal ginjal.Berat molekulnya kecil sehingga dapat
secara bebas masuk dalam filtrat glomerulus. Kreatinin yang diekskresi
dalam urin terutama berasal dari metabolisme kreatinin dalam otot
sehingga jumlah kreatinin dalam urin mencerminkan massa otot tubuh dan
relatif stabil pada individu sehat (Levey, 2003; Remer et al. 2002; Henry,
2001).

Kreatin terutama ditemukan di jaringan otot (sampai dengan


94%).Kreatin dari otot diambil dari darah karena otot sendiri tidak mampu
mensintesis kreatin.Kreatin darah berasal dari makanan dan biosintesis
yang melibatkan berbagai organ terutama hati.

4
Proses awal biosintesis kreatin berlangsung di ginjal yang
melibatkan asam amino arginin dan glisin. Menurut salah satu penelitian
in vitro, kreatin secara hampir konstan akan diubah menjadi kreatinin
dalam jumlah 1,1% per hari. Kreatinin yang terbentuk ini kemudian akan
berdifusi keluar sel otot untuk kemudian diekskresi dalam urin.
Pembentukan kreatinin dari kreatin berlangsung secara konstan dan tidak
ada mekanisme reuptake oleh tubuh, sehingga sebagian besar kreatinin
yang terbentuk dari otot diekskresi lewat ginjal sehingga ekskresi kreatinin
dapat digunakan untuk menggambarkan filtrasi glomerulus walaupun tidak
100% sama dengan ekskresi inulin yang merupakan baku emas
pemeriksaan laju filtrasi glomerulus. Meskipun demikian, sebagian (16%)
dari kreatinin yang terbentuk dalam otot akan mengalami degradasi dan
diubah kembali menjadi kreatin. Sebagian kreatinin juga dibuang lewat
jalur intestinal dan mengalami degradasi lebih lanjut oleh kreatininase
bakteri usus. Kreatininase bakteri akan mengubah kreatinin menjadi
kreatin yang kemudian akan masuk kembali ke darah (enteric cycling).
Produk degradasi kreatinin lainnya ialah 1-metilhidantoin, sarkosin, urea,
metilamin, glioksilat, glikolat, dan metilguanidin.

Kreatinin dalam makanan

Diserap usus Kreatin

Sintesis kreatinin oleh hepar

KREATININ

Ekskresi oleh ginjal

KREATININ URIN

5
2.1. Gambar Metabolisme Kreatinin dalam tubuh

(Modifikasi Wyss, 2000)

Metabolisme kreatinin dalam tubuh ini menyebabkan ekskresi


kreatinin tidak benar-benar konstan dan mencerminkan filtrasi glomerulus,
walaupun pada orang sehat tanpa gangguan fungsi ginjal, besarnya
degradasi dan ekskresi ekstrarenal kreatinin ini minimal dan dapat
diabaikan (Wyss, 2000).

2.3. Pemeriksaan Kreatinin

1) Pemeriksaan Kreatinin Serum Metode Jaffe Reaction

Metode ini bisa menggunakan serum atau plasma yang telah


dideproteinasi dan tanpa deproteinasi. Kedua cara tersebut mempunyai
kelebihan dan kekurangan, salah satunya adalah untuk deproteinasi cukup
banyak memakan waktu yaitu sekitar 30 menit, sedangkan tanpa
deproteinasi hanya memerlukan waktu yang relatif singkat yaitu antara 2-3
menit.( Underwood, 1997)
Prinsip Pemeriksaan Kreatinin Metode Jaffe Reaction Kreatinin
dalam alkali akan membentuk kompleks warna merah oranye bila bereaksi
dengan asam pikrat. Absorbance ini proposional dengan konsentrasi
kreatinin dalam sampel.

6
Reaksi Pemeriksaan Kreatinin Metode Jaffe Reaction Creatinine +
Picric Acid → creatinine-picrate complex.

Metode deproteinasi :

a) Pra Analitik :

Persiapan pasien : tidak ada persiapan khusus

Persiapan sampel : darah dicentrifuge

Alat dan Bahan :

1. Tabung reaksi
2. Mikropipet
3. Blue tip dan yellow tip
4. Tisu
5. Centrifuge
6. Reagen pereaksi
7. Fotometer
8. Serum
b) Analitik
1. Deproteinisasi
Volume

Sampel Serum 500 mikroliter

TCA 500 mikroliter

2. Putar dengan kecepatan 1.500 – 2.000 rpm selama 10 menit, ambil


supernatan.
3. Persiapan sampel

7
Blanko Standar Sampel

Supernatan - - 500 mikroliter

Standar - 500 mikroliter -

TCA 500 mikoliter - -

Reagen 500 mikroliter 500 mikroliter 500 mikroliter

4. Campur dan inkubasi selama 20 menit pada suhu 20-250C atau 10


menit pada suhu 370C. ukur absorbansi sampel dan standar pada alat
Fotometer.
5. Pengaturan fotometer dengan panjang gelombang 546 nm.

Metode Tanpa Deproteinasi :

a) Pra Analitik

Persiapan pasien : tidak memerluksn persiapan khusus.

Persiapan sampel : darah dicentrifuge.

Prinsip : Kreatinin dalam sampel bereaksi dengan pikrat dalam


suasana alkali menghasilkan komplek warna. Dari
komplek warna tersebut diukur dalam waktu singkat.

Alat dan Bahan :

1. Mikropipet
2. Centrifuge
3. Tip biru dan tip kuning
4. Fotometer
5. Tissu
6. Reagen kerja
7. Sampel serum

8
b) Analitik
1. Dibuat larutan sampel, blanko dan standar
Blanko Standar Sampel

Serum - - 50 mikroliter

Standar - 50 mikroliter -

Reagen 500 mikroliter 500 mikroliter 500 mikroliter


Kerja
2. Dicampur dan baca absorban pada alat fotometer Eppendorf
ECOM-F 6124 dengan panjang gelombang 495 nm.
c) Pasca Analitik
Wanita = 0,6-1,1 mg/dL atau 53-97 mmol/liter
Pria = 0,7-1,3 mg/dL atau 62-115 mmol/liter

2) Pemeriksaan Kreatinin Urine


a. Pra Analitik :
Alat :
1. Spektrofotometer
2. Inkubator
3. Tabung reaksi
4. Rak tabung reaksi
5. Selotip
6. Mikropipet 1000 µl
7. Mikropipet 250 µl
8. Mikropipet 50 µl

Bahan :

1. Urin 0,5 ml (50 µl)


2. Reagen Kreatinin I (NaOH 1 %) 1 ml
3. Reagen Kreatinin II (asam pikrat) 0,25 ml
b. Analitik :

9
1. Pipet urin sebanyak 50 µl (0,05 ml) masukkan kedalam tabung
reaksi
2. Tambahkan 1000 µl (1 ml) reagen warna kreatinin I (NaOH 1 %)
3. Inkubasi 5 menit dengan temperature 370C
4. Tambahkan 250 µl (0,25 ml) reagen warna kreatinin II (asam
pikrat)
5. Baca pada spektrofotometer dengan λ = 546 nm
c. Pasca Analitik

Wanita = 11-20 mg/dL atau 97-177 mmol/kg per hari

Pria = 14-26 mg/dL atau 124-230 mmol/kg per hari

10
BAB III

PENUTUP

1.1.Kesimpulan

Kreatinin adalah protein yang merupakan hasil akhir metabolisme otot


yang dilepaskan dari otot dengan kecepatan hampir konstan dan diekskresi
dalam urin dalam kecepatan yang sama, kreatinin diekskresikan oleh ginjal
melalui kombinasi filtrasi dan sekresi, konsentrasinya relative konstan dalam
plasma dari hari ke hari, kadar yang lebih besar dari nilai normal
mengisyaratkan adanya gangguan fungsi ginjal (Corwin J.E, 2001).

Kreatinin dalam darah berfungsi untuk memonitor fungsi ginjal.Selain


itu, kreatinin juga sering digunakan sebagai monitor pasien dengan konsumsi
obat – obatan yang bersifat racun terhadap ginjal seperti antibiotik golongan
aminoglikosida.

Kreatin terutama ditemukan di jaringan otot (sampai dengan


94%).Kreatin dari otot diambil dari darah karena otot sendiri tidak mampu
mensintesis kreatin.Kreatin darah berasal dari makanan dan biosintesis yang
melibatkan berbagai organ terutama hati.

Pemeriksaan kreatinin terdiri atas 3 jenis yaitu jaffe reaction, kinetic


dan enzimatik .Namun, yang paling sering digunakan adalah metode jaffe
reaction.

1.2.Saran
Dengan adanya makalah ini kita dapat mengetahui penyebab
terganggunya fungsi ginjal. Oleh karena itu, disarankan kepada kita agar
menjalani pola hidup sehat untuk menjaga fungsi ginjal .

11
DAFTAR PUSTAKA

Antoniio, Toni. 2018. 10 Penyebab dan Akibat Kreatinin Tinggi Dalam Darah.
https://education.microsoft.com/Story/Lesson?token=onmzt. Diakses
tanggal 9 Juli 2019

Arifin, Hasanul dan Kurniawan, Heru. 2016. Sensitivitas dan Spesifisitas


Cystatin C dan Kreatinin Serum dalam Mendiagnosis Cedera
Ginjal Akut pada Pasien Sepsis yang Dirawat di Ruang Rawat
Intensif RSUP H. Adam Malik Medan dalam Jurnal Anastesi
Perioratif 53-71. Sumatera Utara: Universitas Sumut.

CDKJournal: Verdiansah. Pemeriksaan Fungsi Ginjal (Laporan Praktik Program


Pendidikan Dokter Spesialis Patologi Klinik).
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/article/download/25/23
[diakses pada 29 Maret 2019]

DwyerBK,GormanM,CarrollIR,DruzinM.2008.Urinalysisvsurineprotein-
creatinineratio to predictsignificantproteinuria inpregnancy.
JPerinatol.;28(7):461–7.

Hadijah, Sitti. 2018. Analisis Perbandingan Hasil Pemeriksaan Kreatinin Darah


dengan Deproteinisasi dan Nondeproteinisasi Metode Jaffe Reaction
dalam JurnalMediaAnalisKesehatan,Vol.1,Edisi1,Juni2018.
Makassar:Poltekkes Kemenkes Makassar.

Halawiya, wiya. 2015. Kreatinin.


Http:/www.academia.edu/26103008/KREATININ. Diakses tanggal 28
Juni 2019.
Henry, J.B. 2001.Clinical Diagnosis and Management by Laboratory
Methods.20th edition. WB Saunders Company. Philadelphia.
IlexMedical:Creatinine.
http://www.ilexmedical.com/files/PDF/Creatinine_ARC_CHEM.pdf
[diakses pada 29 Maret 2019]

12
Levey, A.S., Coresh, J., Balk, E., Kausz, A., Levin, A., Steffes, M.W., et al.
2003.National Kidney Foundation Practice Guidelines for Chronic
Kidney Disease: Evaluation, Classification, and Stratification. Ann
Intern Med.
LabTestsOnline: Creatinine. https://labtestsonline.org/tests/creatinine [diakses
pada 9 Juli 2019]

Remer, T., Neubert, A., Maser-Gluth, C. 2002.Anthropometry-based reference


values for 24-h urinary creatinine excretion during growth and their use
in endocrine and nutritional research. American Journal of Clinical
Nutrition.
Wyss, M. and Kaddurah-daouk, R. 2000.Creatine and creatinine
metabolism.Physiological reviews.

13
14