Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

Nama / NPM : Nugraha Hariadi / 0906530043


Fakultas / Program Studi : MIPA / Fisika
Group & Kawan Kerja : 3 / Abrarsyah Algamar

Nomer & Nama Percobaan : Modul 3 / Rangkaian Penjumlahan


dan Pengurangan
Minggu Percobaan : 3 (tiga)
Tanggal Percobaan : 18 Oktober 2010

Nama Asisten :

Laboratorium Elektronika Dasar


Jurusan Fisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Indonesia
Modul 3
Rangkaian Penjumlahan dan Pengurangan

A. Tujuan
1. Mempelajari perubahan fase pada inverting adder
2. Mengamati pengaruh skala pada output scalling adder
3. Mempelajari dan membuat balans pada adder-substracter dan direct adder

B. Teori Dasar
Op-amp pada penggunannya dapat digunakan sebagai rangkaian penjumlahan
terdiri dari inverting adder, scalling adder, adder-substracter dan direct adder
dengan masing-masing mempunyai kelebihan tersendiri. Pada inverting adder
penguatan tidak menjadi faktor utama sedangkan rangkaian penjumlah lainnya
sangat memperhatikan penguatan.

C. Peralatan
1. Multimeter
2. Osiloskop
3. Sumber Tegangan 15 V
4. Resistor dengan berbagai harga
5. OP-AMP 741

D. Prosedur Percobaan
1. Inverting Adder
a. Menyusun rangkaian seperti gambar 3.1 dengan harga R = 10 kΩ
b. Memberi tegangan 5 V pada V1 dan 0 V pada V2. Mencatat tegangan
outputnya
c. V1 tetap 5 V, naikan tegangan pada V2 dengan interval 1 V sampai 5V
d. Mencatat fase dan besar tegangan output
Gambar 3.1 Inverting adder

2. Scalling Adder
a. Menyusun rangkaian seperti gambar 3.2 dengan harga R1, R2,
R3 = 10KΩ , Rf = 100KΩ
b. Memberi tegangan 1 V pada masing-masing input. Mencatat
tegangan outputnya
c. Mengganti harga R1 dengan 20 kΩ . Mencatat tegangan
ouputnya
d. Mengganti harga R2 dengan 25 KΩ dan harga R1 tetap 20
kΩ . Mencatat tegangan ouputnya

Gambar 3.2 Scalling adder

3. Adder Substracter
a. Menyusun rangkaian seperti gambar 3.3 dengan harga R1, R2,
R1’, R2’ = 10 kΩ dan Rf, Rf’ masing-masing 100KΩ
b.Memberi tegangan 1 V pada masing-masing input V1 dan V2 serta 2
V untuk V3 dan V4. Mencatat tegangan ouputnya
c. Mengganti harga R1 dan R2 dengan 50Ω . Mengamati apa yang
terjadi pada output
d.Menanyakan pada asisten cara untuk membuatnya menjadi balans

Gambar 3.3 Substracter adder

4. Direct Adder
a. Menyusun rangkaian seperti gambar 3.4 dengan harga Rf, Rf’,
R1’, R2’ = 100 KΩ dan R1 = 50 KΩ
b.Memberi tegangan 2 V pada masing-masing input V1 dan V2
c.Mencatat tegangan outputnya
d. Mengganti harga R1’ dan R2’ dengan 50 KΩ . Mengamati apa
yang terjadi pada output
e.Menanyakan pada asisten cara untuk membuat balans

Gambar 3.4 Direct adder


E. Tugas Pendahuluan
1. Jelaskan keuntungan dan kerugian rangkaian inverting adder!
Keuntungan
• Dapat menghasilkan penguatan sebanyak kebutuhan
• Mempunyai perolehan tegangan yang stabil
• Dapat digunakan sebagai pencampur sinyal
Kerugian
• Arus feedback harus besar dibandingkan dengan arus bias dan hasil
penguatan bernilai negative

2. Mengapa diperlukan penguatan yang seimbang (balans) pada


rangkaian adder subtracter?
Karena dapat menghasilkan kondisi pengoperasian yang bagus rangkaian
adder-subtracter penguatan di sisi inverter dan non inverter harus sama.

3. Buat rangkaian yang menjumlahkan tegangan berikut 5 V +2V - 4V - 6


V dengan input masing-masing 1 V!
SIMULASI EWB
1. Inverting adder

Sinyal output
V2 = 0V

V2 = 1V
2. Scalling adder

Sinyal output

3. Adder Substracter
Sinyal output

4. Direct adder

Sinyal output
F. Tugas Akhir
1. Hitunglah penguatan pada masing2 rangkaian!
• Inverting adder
Vout = - (Rf/R1.V1 + Rf/R2.V2)
Vout = - (10K/10K.5 + 10K/10K.5)
Vout = - 10 V
Penguatannya adalah penjumlahan dari 2 inputnya
• Scalling adder
Vout = - (Rf/R1.V1 + Rf/R2.V2 + Rf/R3.V3)
Vout = - (100K/10K. 1 + 100K/10K. 1 + 100K/10K. 1)
Vout = - 30 V
Penguatannya adalah 10 kali dari masing-masing tegangan input
sehingga tegangan output sebesar 30 V
• Adder substracter
Vout = - (Rf/R1.V1 + Rf/R2.V2) + (Rf’/R3.V3+Rf’/R4.V4)
Vout = - (100K/10K.1 + 100K/10K.1) + (100K/10K.2 + 100K/10K.2)
Vout = - 60 V
Penguatannya adalah 10 kali dari masing-masing input
• Direct adder
Vout = (Rf’/R1’.V1 + Rf’/R2/.V2)
Vout = (100K/100K. 2 + 100K/100K. 2)
Vout = 4 V
Penguatannya adalah penjumlahan dari 2 input

2. Hasil perhitungan dibandingkan dengan hasil percobaan dan kesalahan


relatif dari percobaan yang dilakukan
• Inverting adder
Vout Percobaan (V) Vout Perhitungan (V) Kesalahan Relatif
-5 -5 0%
-5.8 -6 3.33%
-6.8 -7 2.86%
-8 -8 0%
-8.6 -9 4.44%
-9.8 -10 2%
• Scalling adder
- R1, R2, R3 = 10KΩ
Rf = 100KΩ
Vout Percobaan = -13.5 V
Vout Perhitungan = -30 V
Kesalahan relatif = 55%
- R1 diganti dengan 20KΩ
Vout Percobaan = -13 V
Vout Perhitungan = -25 V
Kesalahan relatif = 48%
- R1 tetap 20 KΩ
R2 diganti dengan 22 KΩ
Vout Percobaan = -12.5 V
Vout Perhitungan = -19.5 V
Kesalahan relatif = 36%
• Adder substracter
- Vout Percobaan = -15 V
Vout Perhitungan = -60 V
Kesalahan relative = 75%
- R1 dan R2 diganti dengan 47 KΩ
Vout Percobaan = -15.5 V
Vout Perhitungan = -44.3 V
Kesalahan relative = 65%
• Direct adder
- Vout Percobaan = 6 V
Vout Perhitungan = 4 V
Kesalahan relatif = 50%
- R1’ dan R2’ diganti dengan 47 KΩ
Vout Percobaan = 6 V
Vout Perhitungan = 8.5 V
Kesalahan relatif = 29%
3. Jelaskan kegunaan rangkaian penjumlah!
Menggabungkan dua sinyal analog atau lebih yang digabungkan menjadi
satu keluaran, memperkuat sinyal masukan, perolehan setiap kanal
masukan ditentukan oleh resistansi umpan balik terhadap resistansi
masukan yang sesuai.

G. Analisis
Percobaan kali ini berjudul rangkaian penjumlah dan pengurangan.
Percobaan ini memiliki tujuan agar praktikan mampu mempelajari perubahan
fase pada rangkaian inverting adder, mengamati pengaruh skala pada output
rangkaian scalling adder dan mempelajari rangkaian adder-substracter dan
rangkaian direct adder. Pada percobaan modul 3 ini praktikan mampu
menyelesaikan seluruh percobaan yang seluruhnya berjumlah empat
percobaan.
Pada percobaan ini digunakan dua data pembanding, yaitu data pada
saat percobaan dilakukan secara langsung oleh praktikan di laboratorium
elektronika serta data yang dihitung sendiri oleh praktikan dengan
menggunakan persamaan rumus dari masing-masing rangkaian.
Pada percobaan 1 yaitu percobaan pada rangkaian inverting adder,
praktikan tidak mendapat kesulitan apapun dan juga hasil yang didapatkan pun
hanya sedikit kesalahan relatifnya apabila dibandingkan dengan perhitungan
yang dilakukan dengan menggunakan rumus Vout = - (Rf/R1.V1 + Rf/R2.V2).
Pada percobaan ini nilai V1 tetap 5 V, sedangkan nilai V2 diubah-ubah mulai
dari 0 V sampai 5 V. Sebagai contoh pada saat nilai V2 = 0 V, Vout yang
dihasilkan sangat seusai dengan perhitungan rumus yaitu sebesar -5 V
sehingga kesalahan relatifnya pun menjadi 0%. Pada saat V2 = 1 V, Vout yang
didapat adalah sebesar 5.8 V atau selisih 0.2 V dari perhitungan dengan
menggunakan rumus. Kesalahan relatif terbesar yaitu 4.44% pada percobaan
ini didapat pada saat V2 = 4 V yang menghasilkan Vout sebesar -8.6 V atau
hanya berselisih 0.4 V dengan Vout perhitungan. Apabila dirata-ratakan dari
enam buah data Vout yang didapat, kesalahan relative pada percobaan ini
hanya 2.1%. Kesalahan ini kemungkinan disebabkan oleh IC yang kurang
optimal.
Percobaan 2 yaitu percobaan pada rangkaian scalling adder, data yang
didapatkan pada percobaan secara langsung hasilnya cukup banyak berbeda
dengan data yang didapatkan dengan perhitungan rumus output rangkaian
scalling adder yaitu Vout = - (Rf/R1.V1 + Rf/R2.V2 + Rf/R3.V3). Pada data
yang pertama didapatkan Vout sebesar -13.5V sedangkan Vout
perhitungannya sebesar -30V, sehingga apabila dilihat dari hasil ini kesalahan
relatif yang didapat sebesar 55%. Pada saat nilai R1 diganti dengan 20KΩ
Vout yang dihasilkan berubah menjadi -13V namun Vout perhitungan yang
didapat -25 V, sehingga kesalahan relatifnya cukup besar yaitu 48%. Data
ketiga didapatkan dengan cara mengubah R2 menjadi 22 KΩ namun tetap
menggunakan R1 yang bernilai 20KΩ , Vout yang dihasilkan adalah -12.5 V
dan data Vout perhitungan sebesar -19.5 V sehingga kesalahan relatifnya
adalah sebesar 36%. Dari ketiga data tersebut didapatkan kesalahan relative
yang cukup besar, apabila dirata-ratakan dari ketiga data tersebut maka
kesalahan relative pada percobaan ini sebesar 46.33 %. Kesalahan relative
yang cukup besar dari percobaan ini dikarenakan IC yang kurang optimal atau
juga karena banyaknya jumper yang digunakan pada saat merangkai sehingga
hambatan pada kabel juga mempengaruhi tegangan output.
Percobaan 3 yaitu percobaan pada rangkaian adder-substracter,
praktikan mendapatkan dua buah data. Data pada Vout perhitungan didapatkan
dengan menggunakan rumus Vout = - (Rf/R1.V1 + Rf/R2.V2) +
(Rf’/R3.V3+Rf’/R4.V4). Data yang pertama Vout memiliki nilai sebesar -15V
sedangkan pada Vout perhitungan didapatkan Vout sebesar -60 V sehingga
kesalahan relative menjadi 75%. Data yang kedua didapat dengan cara
mengganti nilai R1 dan R2 dengan 47 KΩ , Vout yang didapatkan naik
menjadi -15.5 V sedangkan pada Vout perhitungan didapatkan nilai sebesar
-44.3 V sehingga kesalahan relatifnya pun menjadi 65%. Pada percobaan ini
seharusnya nilai Vout data kedua harus lebih kecil dari nilai Vout yang
pertama, hal ini dapat dilihat pada data Vout perhitungan yang apabila diambil
dengan menggunakan rumus nilai Vout kedua pasti lebih kecil nilainya. Rata-
rata kesalahan relative dari kedua data ini sebesar 70%.
Percobaan 4 yaitu percobaan pada rangkaian direct adder, praktikan
mendapatkan dua buah nilai Vout. Data yang pertama nilai Vout sebesar 6V
atau lebih 2 V dari Vout perhitungan yang hanya 4 V. Dan data kedua
didapatkan dengan mengganti nilai R1’ dan R2’ dengan 47 KΩ , dengan
mengganti R1’ dan R2’ dengan hambatan yang lebih kecil seharusnya
didapatkan Vout yang lebih besar dari pada nilai Vout yang pertama. Namun
pada data yang kedua ini didapatkan nilai Vout yang sama dengan nilai Vout
yang pertama atau sebelum mengganti R1’ dan R2’. Rata-rata kesalahan
relative dari percobaan ini sebesar 39.5%.

H. Kesimpulan
• Pada summing circuit atau rangkaian penjumlah sebagai
besar rangaiannya menjadikan penguatan sebagai faktor utama atau faktor
yang paling penting.
• Pada rangkaian inverting adder penguatan tidak menjadi
faktor utama
• Adder substracter merupakan rangkaian dengan penguatan
yang paling besar
• Pada adder substracter dan direct adder diperlukan
membalans agar outputnya menjadi stabil