Anda di halaman 1dari 9

Tinjauan Pustaka

Kaidah Dasar Bioetika Sebagai Dasar Ilmu


Kedokteran

Theresia

102012165 / F8

17 September 2012

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana

Jl. Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510 Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731

Email : ryazelyterebi@yahoo.co.id

Tutor: dr. Ade

Pendahuluan

Ketika seseorang memutuskan untuk menjadi dokter, ia akan dihadapkan berbagai


macam pasien. Sebagai seorang dokter ia harus mengetahui berbagai macam etika – etika yang
harus ia jalankan saat ia menjadi dokter. Etika – etika tersebut disebut dengan Kaidah dasar
bioetik. Pada jaman sekarang, dokter seringkali memeriksa pasien dengan melihat mereka kaya
atau tidak. Selain itu juga jika ia sudah lelah dan tidak bersikap adil pada pasien lain yang
seharusnya saat itu ia periksa dan berbagai macam hal lainnya yang mungkin dapat membuat
reputasi dokter menjadi sedikit terancam. Dalam kasus kali ini, penulis ingin membahas
mengenai dokter bernama Bagus yang berusaha menerapkan kaidah dasar bioetik kedokteran
dengan cara mengabdi di sebuah desa dan merawat pasien – pasien di sana.
Kaidah Dasar Bioetika

Kaidah dasar bioetik merupakan dasar – dasar yang dibuat untuk memberi tahu para
calon dokter sebuah gambaran mengenai apa yang harus ia lakukan jika ia menjadi dokter ketika
menghadapi pasien – pasien di rumah sakit. Kaidah Dasar Bioetika ini juga memberikan
berbagai macam pegangan pembenaran moral bagi para dokter.

Perkembangan yang begitu pesat di bidang biologi dan ilmu kedokteran membuat etika
kedokteran tidak mampu lagi menampung keseluruhan permasalahan yang berkaitan dengan
kehidupan. Etika kedokteran berbicara tentang bidang medis dan profesi kedokteran saja,
terutama hubungan dokter dengan pasien, keluarga, masyarakat, dan teman sejawat. Oleh karena
itu, sejak 3 dekade terakhir in telah dikembangkan bioetika atau disebut juga etika biomedis. 1

Kaidah dasar bioetik dibagi menjadi 4 jenis yaitu :

a. Beneficence

Beneficence (manfaat) adalah prinsip untuk memberi manfaat kepada orang lain (Latin :
beneficio), bukan membahayakan orang lain (Latin : maleficio). 2

Beneficence memiliki 16 point yang merupakan bagian atau ciri – cirinya. Ciri – cirinya
sebagai berikut :

1. Mengutamakan altruisme (menolong tanpa pamrih, rela berkorban untuk kepentingan


orang lain)
2. Menjamin nilai pokok harkat dan martabat manusia
3. Memandang pasien/keluarga/sesuatu tidak hanya sejauh menguntungkan dokter.
4. Mengusahakan agar kebaikan/manfaatnya lebih banyak dibandingkan dengan
keburukannya.
5. Paternalism bertanggung jawab/berkasih saying
6. Menjalin kehidupan – baik – minimal manusia
7. Pembatasan “goal based”
8. Maksimalisasi pemuasan kebahagiaan/preferensi pasien
9. Minimalisasi akibat buruk
10. Kewajiban menolong pasien gawat darurat
11. Menghargai hak – hak pasien secara keseluruhan
12. Tidak menarik honorarium di luar kepetingan
13. Maksimalisasi kepuasan tertinggi secara keseluruhan
14. Mengembangkan profesi secara terus menerus
15. Memberikan obat berkhasiat namun murah
16. Menerapkan Golden Rule Principle

Dalam kasus kali ini, dr.Bagus melaksanakkan beberapa dari ciri – ciri beneficence di
atas yaitu point pertama (mengutamakan altruism), yaitu dimana jika di kasus dr.Bagus
tidak segan – segan menolong pasien di desanya biarpun itu di malam hari. (paragraf 1
kalimat ke-3.

Selain itu ada juga pada point ke-9 (minimalisasi akibat buruk). Jika dalam kasus di
paragraf kedua kalimat keempat yaitu dimana dr.Bagus memberikan obat dan vitamin
pada seorang ibu yang memiliki demam sejak 2 hari sebelumnya yang disertai batuk dan
pilek.

Pada point kelima (paternalism bertanggung jawab/berkasih sayang) dan point


keenambelas (menerapkan Golden Rule Principle) yaitu berada dalam kasus paragraf
ketiga ketika pasien kedua yang mengalami sakit buang air besar terus, dr.Bagus akan
mengunjungin anak tersebut secara pribadi.

Pada point kesembilan (minimalisasi akibat buruk) pun ada dalam kasus pasien ketiga
pada paragraf keempat ketika dr.Bagus berbicara kepada orang tua pasien bahwa ia hanya
dapat memberikkan obat – obatan penunjang agar pasien tidak terlalu menderita.

Pada point pertama (mengutamakan altruisme), point kesepuluh (kewajiban


menolong pasien gawat darurat), point keenam (menjamin kehidupan baik – minimal
manusia), dan point keempat ( mengusahakan agar kebaikan/manfaatnya lebih banyak
dibandingkan dengan keburukannya) ada di dalam kasus pasien yang mendadak datang
dengan tangan yang luka dan harus segera diamputasi karena jika tidak mungkin pasien
tersebut tidak dapat diselamatkan. Hal ini dilakukan dr.Bagus demi keselamatan
pasiennya.
Pada point keempat belas (mengembangkan profesi terus menerus) berada pada
paragraf terakhir yang mengatakan bahwa dr.Bagus sudah mengabdi selama 25 tahun
pada desa tempat ia praktek tanpa terasa.

b. Non Maleficence
Non Maleficence (tidak membahayakan) adalah prinsip etik tidak melakukan sesuatu
yang mebahayakan orang lain.2 Non Maleficence juga mempunyai beberapa cirri – cirri
yang harus diperhatikan oleh seorang dokter, yaitu :
1. Menolong pasien emergensi
2. Kondisi untuk menggambarkan criteria ini adalah
- Pasien dalam keadaan amat berbahaya (darurat) atau beresiko hilangnya sesuatu
yang penting (gawat)
- Dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut
- Tindakan kedokteran tadi terbukti efektif
- Manfaat bagi pasien lebih banyak daripada kerugian dokter (hanya mengalami
resiko minimal)
3. Mengobati pasien yang luka
4. Tidak membunuh pasien (tidak melakukan euthanasia)
5. Tidak menghina/mencaci maki/memanfaatkan pasien
6. Tidak memandang pasien hanya sebagai obyek
7. Mengobati secara tidak proposional
8. Mencegah pasien dari bahaya
9. Mengindari misrepresentasi dari pasien
10. Tidak membahayakan kehidupan pasien karena kelalaian
11. Memberikan semangat hidup
12. Melindungi pasien dari serangan
13. Tidak melakukan white collar crime dalam bidang kesehatan/krumah-sakitan yang
merugikan pihak pasien/keluarganya

Dalam kasus kali ini terdapat point pertama (meolong pasien emergensi), Point
kedua, point ketiga (mengobati pasien yang luka), point kedelapan (mencegah pasien dari
bahaya) terdapat pada kasus pasien yang tiba – tiba datang dengan tangan yang luka dan
tidak sadarkan diri kemudia harus segera dilakukan amputasi pada tangannya agar ia
dapat diselamatkan (paragraf kelima)

c. Otonomi
Otonomi merupakan suatu kaidah dasar bioetik yang harus dokter perhatikan. Otonomi
ini sangat berhubungan dengan hak pasien yaitu dimana kita sebagai dokter harus
mementingkan hak – hak pasien. Ciri – ciri yang ada pada otonomi adalah :
1. Menghargai hak menentukkan nasib sendiri, menghargai martabat pasien
2. Tidak mengitervensi pasien dalam membuat keputusan (pada kondisi elektif)
3. Berterus terang
4. Menghargai privasi
5. Menjaga rahasia pasien
6. Menghargai rasionalitas pasien
7. Melaksanakkan informed consent
8. Membiarkan pasien dewasa dan kompeten dalam mengambil keputusan sendiri
9. Tidak mengintervensi atau menghalangi otonomi pasien
10. Mencegah pihak lain mengintervensi pasien dalam membuat keputusan, termasuk
keluarga pasien sendiri
11. Sabar menunggu keputusan yang akan diambil pasien pada kasus non emergensi
12. Tidak berbohong kepada pasien meskipun demi kebaikan pasien
13. Menjaga hubungan (kontrak)

Dalam kasus dr.Bagus ini terdapat pada kasus pasien kedua yaitu pada point
kesembilan ( tidak mengintervensi atau menghalangi otonomi pasien) dan point kedua
(tidak mengintervensi pasien dalam membuat keputusan). Dari sini dapat diketahui
bahwa orang tua pasien tidak memiliki biaya untuk rawat inap anaknya dan jika pasien
masih kecil maka yang mengambil keputusan adalah ibunya sehingga apa yang dilakukan
ibunya dianggap sebagai keputusan sang pasien.

Point kedua dan kesembilan pun terdapat pada kasus pasien yang datang tiba – tiba
dengan tangan yang terluka dan harus diamputasi. Kasus ini keputusannya diambil oleh
orang tuanya karena sang pasien sedang tidak sadarkan diri dan mereka sudah membuat
informed consent secara lisan yang menunjukkan bahwa mereka setuju untuk melakukan
amputasi agar anaknya selamat. Selain itu juga, dokter menyarankan untuk datang
kemabli ke tempat tersebut untuk kontrol tetapi jika pasien tidak mau tidak akan dipaksa.

d. Justice
Justice (keadilan) adalah prinsip etik berdasarkan asumsi hak asasi manusia. Prinsip ini
meliputi konsep adil dan merata. Keadilan dapat dideskripsikan sebagai bekerja di dalam
satu kumpulan hokum moral, menghormati pandangan dan hak orang lain, atau
pemerataan dalam penyebaran sumber.2
Ada juga ciri – cirri dari justice, yaitu:
1. Memberlakukan sesuatu secara universal
2. Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan
3. Memberikan kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama
4. Menghargai hak sehat pasien (affordability, equality, accessibility, availability,
quality)
5. Menghargai hak hukum pasien
6. Menghargai hak orang lain
7. Menjaga kelompok rentan (yang paling merugikan)
8. Tidak membedakan pelayanan pasien atas dasar SARA, status sosial, dkk
9. Tidak melakukan penyalahgunaan wewenang
10. Memberikan kontribusi yang relative sama dengan kebutuhan pasien
11. Meminta partisipasi pasien sesuai kemampuannya
12. Kewajiban mendistribusi keuntungan dan kerugian (biaya,beban,sanksi) secara adil
13. Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan kompeten
14. Tidak memberi beban berat secara tidak merata tanpa alasan sah/tepat
15. Memghormati hak populasi yang sama – sama renta penyakit/gangguan kesehatan
16. Bijak dalam makroalokasi

Pada point pertama (memberlakukan sesuatu secara universal). Point ketiga


(memberikan kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama), dan point
kedelapan (tidak membedakan pelayanan pasien atas dasar SARA, status sosial,dkk)
terdapat pada paragraf kedua kalimat kedua dimana Dokter Bagus memeriksa pasien
sesuai dengan nomor antrian agar dapat berjalan dengan tertib dan adil.
Pada ciri – ciri point keenam (menghargai hak orang lain) yaitu pada kasus pasien
ketiga pada paragraf keempat kalimat keenam dimana Dokter Bagus menjelaskan kepada
orangtua pasien mengenai keadaan sang pasien. Selain itu juga terdapat dalam kasus
pasien yang tiba – tiba datang tidak sadarkan diri dan Dokter Bagus menjelaskan kepada
istrinya mengenai amputasi yang harus segera dilakukan oleh suaminya agar nyawa
suaminya dapat diselamatkan.

Pembahasan

Dalam penerapan Kaidah Dasar Bioetika, Dokter Bagus telah memenuhi syarat tersebut
tetapi jika kita melihat pada paragraf ketujuh dimana pasien kelima yang merupakan seorang ibu
muda yang bisa dibilang sangat cerewet mengeluh terus menerus kepada Dokter Bagus dan
Dokter Bagus sama sekali tidak menanggapi keluhan ibu muda tersebut lalu segera memberikan
surat rujukan untuk ibu tersebut ke LAB KLINIK “cepat tepat” yang letaknya jauh dari
puskesmas serta ia selalu menerima uang dari lab tersebut sejajar jumlahnya dengan pasien yang
ia kirim ke lab tersebut.

Dari kasus ini terdapat pelanggaran kaidah bioetik pada justice point kelima (menghargai
hak hukum pasien). Dokter Bagus melanggar point tersebut karena ia sama sekali tidak
mendengarkan keluhan yang diberikan pasien melainkan langsung mengirimkannya ke lab
klinik.

Dokter Bagus pun melanggar kaidah bioetik pada beneficence point ketiga (Memandang
pasien/keluarga/sesuatu tidak hanya sejauh menguntungkan dokter). Dalam kasus kali ini,
Dokter bagus selalu mendapatkan uang jika ia mengirimkan pasien ke lab tersebut. Hal ini
membuat Dokter Bagus terlihat hanya ingin menguntungkan dirinya sendiri jika ia mengirim ibu
muda tersebut ke Lab.

Penutup

Dari data dan analisis yang telah penulis buat maka dapat diambil kesimpulan bahwa
Dokter Bagus tidak sepenuhnya menerapkan kaidah dasar bioetika. Dari kasus – kasus diatas,
sebagai calon dokter maupun dokter harus selalu memenuhi kaidah dasar bioetik agar dapat
tercipta suatu hubungan antara dokter dengan pasien yang baik dan saling menghormati satu
sama lain. Selain itu juga sebagai dokter kita seharusnya memiliki jiwa dokter yang membuat
dirinya selalu ingat akan jiwanya dan dengan begitu dapat menerapkan kaidah dasar bioetik
menjadi lebih baik lagi.
Daftar Pustaka

1. Hanafiah, M. Jusuf, Amri Amir. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan Edisi 4. Jakarta :
EGC; 2008.
2. Brooker, Chris. Ensiklopedia Keperawatan. Jakarta : EGC; 2008.