Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PSBH (PROBLEM SOLVING FOR BETTER HOSPITAL)

PROYEK INOVASI DISCHARGE PLANNING DI RUANG AL-FARABI


RUMAH SAKIT ISLAM BANJARMASIN

KELOMPOK 2 :
Nurdin Fikri,S.Kep
Ermayanti,S.Kep
Mia Milia Rahman,S.Kep
Shirly Devi,S.Kep
Hanifah Muslimah,S.Kep
Nur Latifah Zein,S.Kep
M.Syauqi Warisi,S.Kep
Noor Latifah Sari.H,S.Kep
Rezki Fauziah,S.Kep
Linda Sari,S.Kep

PRAKTIK KEPERAWATAN MANAJEMEN


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN FKIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
TAHUN 2017-2018
BAB 1
IDENTIFIKASI MASALAH DAN SOLUSI

1.1 Definisi Masalah


1) Pada bagian M1 (Man) didapatkan masalah:
a) Sebagian besar klien merasa puas terhadap pelayanan yang dirasakan
di ruang Al-Farabi berdasarkan pengkajian dengan kuesioner
kepuasan pasien pada tanggal 13 April 2019, dan sebagian pasien
mengeluhkan tentang kebersihan bed tunggunya, kamar mandi, lantai
dan closed, jika ada barang yang rusak segera diperbaik, dan lebih
ditingkatkan lagi system pelayanan kepada pasien.
b) Kurangnya optimalnya pelaksanaan SOP discharge planning
diruangan, didukung berdasarkan hasil observasi pelaksanaan
discharge planning oleh perawat pelaksana.
2) Pada bagian M2 (Material)
a) Kurang lengkapnya media leflet discharge planning 10 penyakit
terbanyak yang terdapat diruangan
3) Pada bagian M3 (Methode)
a) Belum terlaksanakannya pemberian informasi pulang secara maksimal
dalam proses pelaksanaan discharge planning.
4) Pada bagian M4 (Money)
Tidak ada masalah yang signifikan, karena pembiayan disetiap ruangan
atas anggaran rumah sakit yang telah ditetapkan dan disesuaikan dengan
kebutuhan ruangan.
5) Pada bagian M5 (Marketing)
a) Sesuai BOR, pemanfaatan tempat diruangan dihitung dalam 1 tahun
terakhir rata-rata 65% - 71%. Dan juga hasil TOI menyatakan bed
kosong diruangan selama 3 bulan terakhir rata-rata 2 hari. Maka dapat
diambil kesimpulan marketing cukup bagus.

1
3.5 Prioritas Masalah
No Masalah M S Mn Nc Af Skor Prioritas
1. Kurang optimalnya
pelaksanaan discharge 5 4 4 5 4 1600 2
planning.
2 Kurang optimalnya
penerimaan pasien baru 5 5 4 5 5 2500 1

Masalah yang di temukan di ruang perawatan alfarabi antara lain :

1.2 Kemungkinan Penyebab Masalah


Kemungkinan penyebab masalah ini tejadi karena kurangnya motivasi
perawat dalam melakukan discharge planning untuk kepulangan pasien,
kurangnya tenaga keperawatan membuat perawat kesulitan untuk menangani
pasien sehingga perawat tidak maksimal dalam memberikan discharge
planning.

1.3 Sumber daya Yang Dimiliki Ruangan


1.3.1 Tenaga dan Pasien (M1 - Man)
1.3.1.1 Ketenagaan
Tenaga perawat di Ruang Al-Farabi seluruhnya berjumlah 20
orang, sudah termasuk kepala ruangan, katim dan perawat
pelaksana dan prakarya..
Jumlah perawat yang berada di ruangan berdasarkan tingkat
pendidikan meliputi:
a. Sarjana Keperawatan Ners : 10 orang
b. DIII Keperawatan : 10 orang
Berdasarkan Jenis tenaga, perawat yang berada di ruangan
meliputi:
a) Pegawai tetap : 15 orang
b) Pegawai kontrak : 5 orang
Jumlah perawat berdasarkan jenjang karir :
a) Perawat Klinis I : 2 orang
b) Perawat Klinis II : 10 orang
c) Perawat Klinis III : 1 orang
d) Belum menjadi PK (Pegawai Baru) : 7 orang
1. Adanya mahasiswa profesi ners stase manajemen
berjumlah 11 orang
2. Berdasarkan Pelatihan yang Pernah di ikuti

2
Tabel 3.1 Penghitungan Tenaga berdasarkan Pelatihan yang Pernah
di ikuti
No Nama Pelatihan Jumlah Orang
1 BHD 20
2 Patient Safety 20
3 Komunikasi, Informasi, Edukasi, 20
dan Handling Complain
4 PPI 20
5 K3 20
6 APAR 20
7 BTCLS 20
8 Jenjang Karir, Kredensial 20
Keperawatan, dan Dokumentasi
Asuhan Keperawatan
9 Infeksi Nosokomial 20
10 Perawatan Luka Diabetes Melitus 3
11 Manajemen bangsal 3

1.3.1 M2 (Material)
1.3.2.1 Peralatan di ruang Al- Frabi
Alat-alat kesehatan yang tersedia di ruang Al-Farabi Rumah
Sakit Islam Banjarmasin
Keadaan Barang
Jumlah
Jenis Barang/
No Barang Baik Kurang Rusak Ket
Nama Barang
Register Baik Berat

1 Ambubag 1 1 0 0
2 Bak instrument besar 1 1 0 0
3 Bak instrument kecil 1 1 0 0
4 Charger tensi digital 1 1 0 0
5 Kom besar 1 1 0 0
6 Kom kecil 3 3 0 0
7 Gunting angkat jahitan 1 1 0 0
8 Gunting Jaringan besar 1 1 0 0
9 Gunting jaringan kecil 1 1 0 0
10 Gunting jaringan bengkok 1 1 0 0
11 Gunting perban / kasa 1 1 0 0

3
12 Klem anatomis 2 2 0 0
13 Klem cirugis 2 2 0 0
14 Klem bengkok (kecil) 1 1 0 0
15 Meja dressing 1 1 0 0
16 Meja troly 2 2 0 0
17 Nebulizer 2 2 0 0
18 Pinset Anatomis 2 2 0 0
19 Pinset cirugis 1 1 0 0
20 Stetoscop 4 4 0 0
21 Suction 1 1 0 0
22 Tempat kapas alkohol 2 2 0 0
23 Tensimeter air raksa 1 1 0 0
24 Tensimeter digital 2 2 0 0
25 Tensimeter digital tembak 1 1 0 0
26 Tensimeter lapangan 1 1 0 0
27 Termometer 2 2 0 0
28 Tromol besar 1 1 0 0
29 Tromol kecil 1 1 0 0
30 Tong spatel 1 1 0 0
31 WWZ segi empat 2 2 0 0
32 WWZ Oval 1 1 0 0
33 Pispot 23 23 0 0
34 Sputum pot 2 2 0 0
35 Bengkok 4 4 0 0
36 Glukometer 1 1 0 0
37 Oksimetri 1 1 0 0
38 EKG 1 1 0 0
39 Alat Vulva Hygine 1 1 0 0
40 Pen Light/ sentar 1 1 0 0
41 Hendscrub 26 26 0 0

Bahan habis pakai di ruang Al-Farabi yang persediaan


menyesuaikan kebutuhan ruangan antara lain:

Bahan habis pakai di ruang Al-Farabi yang persidaan menyesuaikan


kebutuhan ruangan antara lain:
No Jenis Barang/ Nama Barang

1. Handsrub
2. Handwash
3. Kasa gulung

4
4. Cairan alkohol
5. Kapas alkohol
6. Plester (kuning)
7. Hipapix
8. Spuit dan needle
9. Handscoon
10. Masker
11. Cairan antiseptik
12. Infus set
13. Masker O2

1.3.2.2 Alat-alat rumah tangga


Tabel 3.8. Daftar alat non kesehatan di Ruang Al-Farabi Rumah Sakit
Islam Banjarmasin
Jumlah Keadaan Barang
Jenis Barang/
No Barang Kurang Rusak Ket
Nama Barang Baik
Register Baik Berat

1 Lampu baca rontgen 1 1 0 0


2 Kursi roda 1 1 0 0
3 Kipas Angin 2 2 0 0
4 Kursi Kayu 3 3 0 0
5 Kursi plastic 7 7 0 0
6 Kulkas kecil 1 1 0 0
7 Meja 2 2 0 0
8 Mesin Steril 1 1 0 0
9 High Alert 1 1 0 0
10 B3 2 2 0 0
11 Brankar 1 1 0 0
12 Tabung Oksigen 2 2 0 0
13 Lebel Resiko Jatuh 8 8 0 0
14 Lebel Istirahat dan Puasa 8 8 0 0
15 Tumbukan Obat 1 1 0 0
16 Lemari Obat 2 2 0 0
17 Apar 1 1 0 0
18 Box Obat Pasien 1 1 0 0
19 Box Infus 1 1 0 0
20 Box Pengambilan Darah 1 1 0 0
21 Kulkas Obat 1 1 0 0
22 Tempat Sampah Medis 1 1 0 0

5
23 Tempat Sampah Non Medis 23 23 0 0
24 Tempat Sampah Pial 1 1 0 0
25 Temp Ruangan 1 1 0 0
26 Temp Suhu Kulkas Obat 1 1 0 0
27 Tempat linen kotor 1 1 0 0
28 Bed Pasien 20 20 0 0
29 Bed Penunggu 20 20 0 0
30 Tv 21 21 0 0
31 Ac 20 20 0 0
32 Galon 8 8 0 0
33 Dispenser 8 8 0 0

Berdasarkan data daftar barang kesehatan maupun barang non


kesehatan di Ruang Al farabi di atas menunjukan bahwa material
atau fasilitas yang berada di ruangan Al-Farabi cukup lengkap
dengan kebutuhan ruangan.

1.3.2 M3 (Metohde)
1.3.2.1 Proses Manajemen Pelayanan
Model Asuhan Keperawatan yang digunakan di Ruang Al-
Farabi Rumah Sakit Islam Banjarmasin adalah Model Asuhan
Keperawatan MAKP (Model Asuhan Keperawatan
Profesional). Metode yang digunakan adalah metode tim.
Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang
berbeda-beda dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap
sekelompok pasien. Perawat ruangan dibagi menjadi 2 tim.
Masing-masing Tim terdiri dari Ketua Tim dan perawat
pelaksana. Tim satu terdiri dari 1 ketua tim dan 9 perawat
pelaksana dan tim 2 terdiri dari 1 ketua tim dan 8 perawat
pelaksana. Kedua kepala Tim dikepala oleh Kepala Ruangan.

Adapun konsep untuk metode tim yaitu ketua tim sebagai


perawat profesional harus mampu menggunakan berbagai
teknik kepemimpinan, pentingnya komunikasi yang efektif agar
kontinuitas rencana keperawatan terjamin. Anggota tim harus
menghargai kepemimpinan ketua tim. Peran kepala ruangan

6
penting dalam model tim. Model tim akan berhasil baik bila
didukung oleh kepala ruangan dan adanya kerjasama dalam
tugas yang diemban. Di Ruang Al-Farabi antar tim 1 dan tim 2
saling membantu. Padahal seharusnya tim 1 menangani pasien
di tim 1 saja begitupula pada tim 2.

1.3.2.2 Metode Asuhan Keperawatan


a. Assesment
Berdasarkan hasil instrument studi dokumentasi penerapan
standar asuhan keperawatan pada bagian pengkajian
didapatkan bahwa sebesar 86% dokumentasi pengkajian
sudah mencapai standar asuhan keperawatan yang
ditetapkan oleh Rumah Sakit, angka yang ditetapkan adalah
> 75%. Data nilai yang paling rendah adalah pengkajian
mengenai bio-psiko-sosial-spiritual karena belum
tersedianya format mengenai bio-psiko-sosial-spiritual.
b. Diagnosa Masalah
Berdasarkan hasil instrument studi dokumentasi penerapan
standar asuhan keperawatan pada bagian diagnosa
keperawatan didapatkan bahwa sebesar 100% dokumentasi
diagnosa keperawatan dinyatakan baik.
c. Perencanaan
Berdasarkan hasil instrument studi dokumentasi penerapan
standar asuhan keperawatan pada bagian perencanaan
didapatkan bahwa sebesar 100% dokumentasi perencanaan
dinyakan baik.
d. Implementasi
Dari hasil instrument studi dokumentasi penerapan standar
asuhan keperawatan pada bagian tindakan keperawatan
didapatkan bahwa sebesar 100% dokumentasi tindakan
keperawatan dinyatakan baik.
e. Evaluasi
Dari hasil instrument studi dokumentasi penerapan standar
asuhan keperawatan pada bagian evaluasi keperawatan

7
didapatkan bahwa sebesar 100% dokumentasi evaluasi
keperawatan dikatakan baik
f. Dokumentasi
Dari hasil instrument studi dokumentasi penerapan standar
asuhan keperawatan pada bagian catatan asuhan
keperawatan didapatkan bahwa sebesar 100% dokumentasi
catatan asuhan keperawatan dikatakan baik.
g. Discharge Planning
Berdasarkan hasil observasi, discharge planning diruangan
sudah dilakukan, sesuai dengan hasil observasi pada saat ada
pasien yang pulang lembar discharge planning di isi apa saja
obat-obatan pulang pasien, apa saja yang dianjurkan dan
tidak dianjurkan dirumah. Namun dalam hal mempraktikkan
atau mencontohkan tindakan yang bisa dilakukan dirumah
belum dilakukan oleh perawat.
Jadi dari data yang didapat dari hasil pengkajian studi
dokumentasi penerapan standar asuhan keperawatan
diruang Al-Farabi Rumah Sakit Islam Banjarmasin dapat
dikatakan cukup dengan pencapaian rata-rata 97,4%.

1.3.3 M4 (Money)
Rumah Sakit Islam Banjarmasin merupakan rumah sakit swasta yang
sumber dananya berasal dari swadaya masyarakat atau pasien yang
berobat. Pengelolaan dana tidak dari APBN/APBD, dana yang didapat
sebagian besar dari pasien yang masuk dan berobat di Rumah Sakit Islam
Banjarmasin dan dari Yayasan Muhammadiyah. Dan sejak 04 Januari
2018 mulai di buka layanan untuk pasien BPJS sehingga perwat sudah
mendapatkan remunerasi atau “payment” sejak bulan April. Akan tetapi
BPJS di hentikan pada pertengahan Januari sehingga remunerasi atau
“payment” kembali seperti semula.
Proses mengajukan anggaran dan barang dengan cara KARU mengajukan
surat izin anggaran ke KABID Keperawatan kemudian KABID
Keperawatan mengeluarkan surat untuk pemenuhan dana dan diserahkan
ke rumah tangga.

8
1.3.4 M5 (Market/Mutu)
Berdasarkan data yang di dapat dari Bagian Promosi Kesehatan dan
bagian pemasaran Rumah Sakit Islam Banjarmasin didapatkan bahwa
Yayasan Muhammadiyah sering mengadakan acara bakti sosial seperti
sunatan massal yang mana dari itu rumah sakit dapat melakukan promosi
untuk mengenalkan rumah sakit dan fasilitas yang tersedia. Rumah Sakit
Islam Banjarmasin juga telah melakukan kerja sama dengan BPJS melalui
promosi media sosial. Rumah Sakit Islam Banjarmasin juga melakukan
kerja sama dengan Dokter Praktik, dimana pasien yang berobat di dokter
praktik apabila disarankan untuk rawat inap langsung di rujuk ke Rumah
Sakit Islam Banjarmasin.

Sesuai BOR, pemanfaatan bed diruangan dihitung dalam 3 bulan terakhir


60% dan juga hasil TOI menyatakan bed kosong diruangan selama 3
bulan terakhir rata-rata 2 hari. Maka dapat diambil kesimpulan bahwa
marketing ruangan masih kurang sebab jumlah pasien yang masuk selama
3 bulan terakhir tidak ideal.

1.4 Pemilihan Solusi


1.4.1 Prinsip PSBH ialah :
1.4.1.1 Inovasi (ide baru yang kreatif)
Discharge planning :
1. Perawat melakukan pengkajian pada pasien yang baru
masuk, pengkajian meliputi pengkajian mengenai
kebutuhan pulang klien, kebutuhan pendidikan kesehatan
klien dan keluarga yang berhubungan dengan bagaimana
menciptakan terapi di rumah, penggunaan alat medis.
2. Menyusun diagnose keperawatan berdasarkan pengkajian
discharge planning untuk mengetahui kebutuhan klien dan
support system klien.
3. Membuat perencanaan yang berfokus pada pengajaran
yang baik untuk persiapan pulang (METHOD)
4. Mengevaluasi pengajaran yang diberikan kepada klien dan
keluarga untuk kesiapan rencana pulang

9
Discharge planning dapat dilakukan oleh semua perawat dan
mahasiswa stage managemen keperawatan dan tidak
mengeluarkan banyak biaya untuk melakukannya.

1.4.2 Adakah yang telah menyelesaikan masalah sebelumnya ?


Masalah yang ada pada ruang Al-Farabi mengenai discharge planning
sebelumnya sudah diselesaikan oleh perawat di ruangan tetapi belum
dilaksanakan dengan maksimal di ruangan.

1.4.3 Solusi yang dipilih sebelumnya ?


Solusi yang dipilih sebelumnya adalah menerapkan discharge planning
di runagan namun belum maksimal karena belum dilakukan secara
rutin di ruangan dan sebagian besar dilakukan hanya saat pasien akan
pulang seharusnya discharge planning dilakukan mulai dari awal
pasien datang hingga pulang.

1.4.4 Solusi yang dilanjutkan kelompok ialah


1.4.4.1 Nama kegiatan apa
Melakukan discharge planning dengan media leaflet dan buku
panduan pelaksanaan discharge planning kepada pasien
1.4.4.2 Siapa yang melakukan kegiatan
Mahasiswa profesi Ners A Universitas Muhammadiyah
Banjarmasin
1.4.4.3 Sasaran siapa
Pasien yang masuk ke ruang perawatan Al –Farabi mulai dari
awal masuk ke runagan hingga pulang
1.4.4.4 Dimana
Di nurse station dan kamar perawatan pasien di ruangan Al
Farabi
1.4.4.5 Waktu
Selama pasien di rawat di ruang Al-Farabi (periode 19 april
sampai 5 Mei 2019)
1.4.4.6 Berapa lama
Periode 19 april sampai 5 Mei 2019

10
1.4.4.7 Apa tujuan
1. Mempersiapkan pasien dan keluarga secara fisik, psikologi
dan social untuk pulang
2. Meningkatkan kemandirian pasien dan keluarga
3. Meningkatkan keperawatan yang berkelanjutan pada pasien
4. Membantu rujukan pasien pada system pelayanan yang lain
5. Membantu pasien dan keluarga memiliki pengetahuan dan
keterampilan serta sikap dalam memperbaiki serta
mempertahankan status kesehatan pasien
6. Melaksanakan rentang perawatan antara rumah sakit dan
keperawatan

1.4.4.8 Dasar jurnal pendukung


Pengaruh pernecanaan pulang terhadap kesiapan pasien pulang
pada pasien ibu nifas di RS Panti Wilasa CItarum Semarang

11
BAB 2
POA (PLANNING OF ACTION)
KEGIATAN DISCHARGE PLANNING

2.1 LATAR BELAKANG


2.1.1 Alasan Kegiatan Dilakukan
Discharge planning merupakan komponen yang terkait dengan
rentang keperawatan. Rentang keperawatan sering pula disebut dengan
perawatan berkelanjutan yang artinya perawatan yang dibutuhkan oleh
pasien dimanapun pasien berada. Kegagalan untuk memberikan dan
mendokumentasikan discharge planning akan beresiko terhadap
beratnya penyakit, ancaman hidup, dan disfungsi fisik. Perencanaan
pulang merupakan suatu proses yang dinamis dan sistematis dari
penilaian, persiapan, serta koordinasi yang dilakukan untuk
memberikan kemudahan pengawasan pelayanan kesehatan dan
pelayanan sosial sebelum dan sesudah pulang. Perencanaan pulang
merupakan proses yang dinamis, agar tim kesehatan mendapatkan
kesempatan yang cukup untuk menyiapkan pasien melakukan
keperawatan mandiri di rumah. Perencanaan pulang didapatkan dari
proses interaksi ketika keperawatan profesional, pasien, dan keluarga
berkolaborasi untuk memberikan dan mengatur kontinuitas
keperawatan yang diperlukan oleh pasien saat perencanaan harus
berpusat pada masalah pasien yaitu pencegahan, terapeutik,
rehabilitatif, serta keperawatan rutin yang sebenarnya (Swenberg
dalam Nursalam, 2014).

2.1.2 Data terkait masalah yang dihadapi


Berdasarkan hasil observasi, discharge planning diruangan sudah
dilakukan, sesuai dengan hasil observasi pada saat ada pasien yang
pulang lembar discharge planning di isi apa saja obat-obatan pulang
pasien, apa saja yang dianjurkan dan tidak dianjurkan dirumah. Namun
dalam hal mempraktikkan atau mencontohkan tindakan yang bisa
dilakukan dirumah belum dilakukan oleh perawat dan memberikan
leaflet kepada pasien.

12
2.2 Tujuan Kegiatan
2.2.1 Tujuan Umum
Setelah pelaksanaan praktek keperawatan manajemen diharapkan
mahasiswa dan perawat di Ruang AL Farabi RS Islam Banjarmasin
mampu menerapkan discharge planning dengan baik dan benar.

2.2.2 Tujuan Khusus


1. Mengidentifikasi kebutuhan pasien untuk discharge planning.
2. Mengidentifikasi masalah pasien dalam discharge planning.
3. Membuat perencanaan discharge planning pasien.
4. Mengajarkan pada pasien dan keluarga tentang perawatan klien di
rumah yang meliputi diet, aktivitas istirahat dan tempat kontrol.
5. Melakukan evaluasi kepada pasien atau keluarga selama
pelaksanaan discharge planning.
6. Mendokumentasikan pelaksanaan discharge planning.

2.3 Langkah-Langkah Kegiatan


2.3.1 Persiapan
1. Karu melihat persiapan untuk discharge planning pada perawat
primer.
2. Perawat primer menunjukkan kelengkapan untuk discharge
planning (kartu, leaflet, resume) serta menyebutkan hal-hal yang
perlu diajarkan pada klien dan keluarga.

2.3.2 Pelaksanaan
1. Kepala ruangan membuka acara discharge planning
2. Perawat primer mengucapkan salam.
3. Perawat primer menyampaikan pendidikan kesehatan tentang:
tanggal dan tempat kontrol, makanan, obat yang diminum,
perawatan luka aktivitas, serta hal-hal khusus lain.
4. Perawat primer memberikan kesempatan pada perawat assosiate
untuk memberikan informasi tambahan yang diperlukan.
5. Perawat primer memberikan kesempatan pada klien dan keluarga
untuk bertanya serta melakukan evaluasi tentang hal-hal yang
telah disampaikan.

13
6. Perawat primer melakukan pendokumentasian.

2.3.3 Evaluasi
Informasi yang disampaikan dapat diterima oleh pasien dan keluarga
dan ada di dalam catatan dokumentasi dalam rekam medik pasien.

2.4 RENCANA ANGGARAN


Rencana anggaran dalam proyek inovasi discharge planning dan inovasi
lainnya:

No Uraian Biaya persatuan jumlah


1 pemasukan @150.000 x 11 @1.650.000
Total @1.650.000
2 pengeluaran @
a. ATK @1.060.050 @1.060.050
b. Konsumsi @375.750 @375.750
Total @1.435.800

Total pemasukan : @1.650.000


Total pengeluaran : @1.435.800
Hasil :@ 214.200

14
BAB 3
IMPLEMENTASI PROYEK INOVASI

3.1 Pelaksanaan
Laporan pelaksanaan kegiatan role play dan hasil analisis pengkajian serta
rencana penyelesaian masalah manajemen keperawatan diruang Al-Farabi
Rumah Sakit Islam Banjarmasin yang dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 16
April 2019 yang dihadiri oleh Kepala ruangan, dan clinical teacher (pembimbing
akademik) dari Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Banjarmasin.

3.1.1 Role Play


3.1.2 Persiapan
Persiapan pengorganisasian kegiatan praktik mahasiswa stase Manajamen
Keperawatan dilaksanakan dari tanggal 16 April sampai 30 April 2019,
meliputi:
3.1.2.1 Pembenahan ruangan / nurse station mahasiswa manajemen
ruangan Al-Farabi Rumah Sakit Islam Banjarmasin.
3.1.2.2 Pembenahan kesiapan berkas dan peralatan di ruang nurse
station.
3.1.2.3 Pembuatan jadwal harian / jadwal role play sebagai Kepala
ruangan, ketua tim, perawat pelaksana.

3.1.3 Pelaksanaan
Pelaksanaan role play pelayanan keperawatan oleh mahasiswa
dilaksanakan dari tanggal 16 April sampai 30 April 2019
3.1.3.1 Hambatan Dalam pelaksanaannya selama 2 minggu kegiatan role
play tidak ada hambatan pada proses ketenagaan. Jumlah jam
pelayanan perindividu perawat ruangan sekitar:
Dinas pagi : 6 jam/hari
Dinas sore : 7 jam/hari
Dinas malam : 11 jam/hari.

15
3.1.3.2 Dukungan
a. Kemauan dari pihak ruangan untuk memberikan kesempatan
mahasiswa manajemen untuk ikut mengelola kamar perawatan
ruang Al-Farabi VVIP D 213-218
b. Pelibatan mahasiswa praktik stase manajemen keperawatan
dalam tim pelayanan di ruangan Al-Farabi Rumah Sakit Islam
Banjarmasin

3.2 EVALUASI
1) Menanyakan kembali hal-hal yang sudah dijelaskan saat pemberian
pendidikan kesehatan (discharge planning)
2) Memberikan reward kepada keluarga pasien jika bisa menjelaskan
kembali pendidikan kesehatan (discharge planning) yang diberikan

3.3 RENCANA ANGGARAN


Rencana anggaran dalam proyek inovasi discharge planning dan pembuatan
buku paduan discharge planning lainnya:

No Uraian Biaya persatuan jumlah


1 pemasukan @150.000 x 11 @1.650.000
Total @1.650.000
2 pengeluaran @
c. ATK @1.060.050 @1.060.050
d. Konsumsi @375.750 @375.750
Total @1.435.800

Total pemasukan : @1.650.000


Total pengeluaran : @1.435.800
Hasil :@ 214.200

16
BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.1.1 Fungsi Perencanaan
Dalam fungsi perencanaan di Ruang Al-Farabi sudah tersedianya visi dan misi
rungan yang telah di terapkan untuk menunjang kepuasna pasien dalam hal
pelayanan, fungsi ruangan telah di maksimalkan, standar oprasional prosedur
yang telah tersedia sebanyak 98 SOP, standar asuhan keperawatan
berdasarkan SAK, standar kinerja sesuai dengan ketetapan kinerja RS Islam
Banjarmasin
4.1.2 Fungsi pengorganisasian
Dalam fungsi pengorganisasian di Ruang Al-Farabi telah tersedianyan
struktur organisasi, uraian tugas yang telah terbagi atas kepala ruangan, ketua
tim daan perawat pelaksana. Pengaturan pengorganisasian pasien berdasarkan
alur yang telah di tetapkan RS Islam Banjarmasin.
4.1.3 Fungsi Staffing
Dalam fungsi Staffing di Ruang Al-Farabi telah terlaksananya orientasi staf
perawat yang baru sebagaimana mestinya dan pengaturan jadwal dinas
merupakan aturan dari Rumah Sakit dimana perorang dalam 1 bulan 168 jam
(Pagi 6 jam, siang 7 jam, Malam 11 jam) seandainya pada bulan maret
terdapat kelebihan jam dinas maka akan disesuaikan pada bulan april akan
dikurrangi jadwal dinasnya karena ada beberapa penyesuaian.
4.1.4 Fungsi Pengarahan
Dalam fungsi pengarahan di Ruang Al-Farabi telah terlaksananya operan
dilakukan pada tiap pergantian jam dinas pukul 08.00, 14.00, 21.00, Tindakan
Pre dan post conference dilakukan setiap timbang terima dan bentuknya
diskusi, motivasi kepada perawat pelaksana dan kedua ketua Tim berharap
apa yang diberikan kepada pasien menjadi amal ibadah untuk kita dan mampu
memberikan pelayanan keperawatan yang memuaskan, pendelegasian
dilakukan antara Kepala Ruangan kepada katim, supervisi dilakukan secara
langsung dan tidak langsung dan ronde keperawatan masih jarang
dilaksanakan karena keterbatasan waktu untuk melakukan pertemuan untuk
membahas masalah klien.
Dalam fungsi pengarahan di Ruang Al-Farabi telah terlaksananya roleplay
dari tanggal 19-30 april 2019 dalam proyek inovasi penerimaan pasien baru

17
di dapatkan hasil setelah dilakukan PSBH dari hasil kuesioner penerimaan
pasien baru rata-rata mengalami peningkatan dengan kategori tinggi (91,6%)
dan Discharge planning setelah dilakukan PSBH
Sebelum terlakasananya role play, ruang Al Farabi kurang mempunyai leaflet,
ruangan hanya memiliki poster discharge planning dari kepulangan pasien.
Dan dari 15 perawat yang diobservasi, hanya 8 orang (53,3%) yang
melaksanakan discharge planning sesuai alur.
Sesudah disosialisasikannya tentang alur discharge planningnya di ruangan
dan adanya leaflet 10 penyakit terbanyak, poster & alur discharge planning
dari awal pasien masuk sampai dengan pasien pulang tanggal 27 April 2019.
Dari 15 perawat yang diobservasi terdapat 12 orang perawat (80%) yang
melaksanakan discharge planning sesuai alur.

4.1.5 Fungsi Pengendalian


Dalam fungsi pengendalian di Ruang Al-Farabi telah terlaksananya audit
mutu ruangan minimal 3 bulan sekali atau satu tahun sekali, penetapan standar
audit dokumentasi asuhan keperawatan pencapaian rata-rata 94,5%,
penetapan standar kepuasan dengan capaian kepuasan 8 pasien 100% puas
atas pelayanan perawat, 5 perawat (45,5%) dari 11 perawat menyatakan
sangat puas melayani pasien secara umum menyatakan puas melayani pasien
di Ruang Al-Farabi.

4.2 Saran
Stase Management keperawatan diruang Al-Farabi Rumah Sakit Islam
Banjarmasin yang dilaksanakan pada tanggal 12 April – 05 Mei 2019 oleh
mahasiswa/i Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, maka diharapkan agar:
1. Rumah Sakit dan Ruangan
a. Memberikan motivasi dan support kepada karyawan untuk melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan mengikuti pelatihan yang sesuai
dengan keahliannya.
b. Adanya evaluasi berkala dari kepala ruangan untuk mengetahui tingkat
kepuasan klien.
c. Dikembangkan kepatuhan penerimaan pasien baru

18
2. Mahasiswa
Dengan dilaksanakannya manajemen keperawatan diharapkan mahasiswa/i
dapat meningkatkan asuhan keperawatan dalam memberikan pelayanan yang
komprehensif dan berkualitas serta dapat mengaplikasikannya pada saat bekerja
nanti. Dan bagi stase manajemen selanjutnya agar lebih bisa mengaplikasikan
komunikasi SBAR secara efektif lagi, serta dapat melakukan ronde
keperawatan di ruangan.

3. Akademik
Pembimbing akademik dapat memantau secara langsung ke lahan praktek
lebih intens dan terjadwal saat proses stase manajemen berlangsung sehingga
dapat memberikan evaluasi dan motivasi secara psikososial bagi mahasiswa/i
yang melaksanakan praktek stase manajemen keperawatan.

19
DAFTAR PUSTAKA

Kusnanto. 2004. Profesi dan Pratika Keperawatan Profesional. Jakarta: EGC.

Nursalam. 2015. Manajemen Keperawatan: Aplikasi dalam Praktek Keperawatan


Profesional. Jakarta: Salemba Medika.

Serawati P , (2015), Pengaruh Perencanaan Pulang Terhadapkesiapan Pasien Pulang


Pada Pasien Ibunifas Di Rspanti Wilasa Citarum Semarang Jurnal
Keperwatan dan Kebidanan Vol 2, No 2

20