Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Pemasangan infus atau terapi intravena adalah pemberian sejumlah cairan


ke dalam tubuh, melalui sebuah jarum, ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik)
untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh
(Darmadi,2010). Pemasangan infus merupakan prosedur invasif dan merupakan
tindakan yang sering dilakukan di rumah sakit. Terapi ini harus dilakukan untuk
membantu memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit pasien, tidak hanya itu saja
pemasangan intravena juga dapat membantu pemulihan penyakit karena dengan
dilakukannya pemasangan intravena memudahkan dalam pengobatan melalui
injeksi. Dalam dunia kesehatan yang paling sering dilakukan bahkan menjadi
terapi yangpaling utama untuk pasien rawat inap adalah pemasangan intravena.

Pemasangan infus atau terapi intravena yang dilakukan secara terus


menerus dan dalam jangka waktu yang lama, tentunya akan meningkatkan
terjadinya komplikasi dari pemasangan infus, salah satunya adalah flebitis.
Flebitis merupakan peradangan pada intima tunika dari vena dangkal yang
disebabkan oleh iritasi mekanik, kimia atau sumber bakteri (mikro organisme)
yang dapat menyebabkan pembentukan trombus (Royal College of Nursing,
2010).

Kemampuan pemasangan infus merupakan kompetensi dan tanggung


jawab perawat. Kompetensi perawat yang diharapkan adalah memilih tempat vena
yang sesuai, jenis kanula yang paling sesuai untuk pasien tertentu, mahir dalam
teknik aseptik, dan teknik penusukan vena. Pemasangan dan perawatan infus
memerlukan kompetensi perawat dalam mengontrol angka kejadian flebitis. Roe
(2001) menyatakan bahwa kompetensi itu adalah kemampuan untuk
melaksanakan satu tugas atau peran, kemampuan mengintegrasikan pengetahuan,
keterampilan-keterampilan, sikap-sikap dan nilai-nilai pribadi, dan kemampuan

1
untuk membangun pengetahuan dan keterampilan yang didasarkan pada
pengalaman dan pembelajaran yang dilakukan. Kompetensi menurut Undang-
Undang Keperawatan Bab IV pasal 16 ayat (2), standart kompetensi perawat
meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, mental, moral, penguasaan
bahasa dan tehnologi. Kompetensi perawat dalam hal pemasangan, dan perawatan
infus harus mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan tehnologi
untuk mengurangi angka kejadian flebitis, sehingga citra dan kualitas pelayanan
rumah sakit dapat tercapai.

Pemasangan intravena pada pasien mulai bayi hingga lansia. Pemasangan


intravena menggunakan ukuran kateter yang berbeda yang digunakan bayi dengan
orang dewasa dan lansia. Begitu banyaknya fungsi pemasangan intravena namun
banyak pula efek samping dalam pemasangan intravena yang tidak sesuai dengan
prodesur sehingga mengakibatkan terjadinya peradangan (Flebitis).

Data angka kejadian plebitis di Ruang NICU untuk tahun 2013 mengalami
peningkatan atau melebihi standar yang ditetapkan untuk angka kejadian plebitis
yaitu ≤1,5%. Pada bulan Oktober sebanyak 68% dan bulan Nopember sebanyak
43%, sedangkan untuk jumlah pemasangan infus rata-rata perbulan 300 kali.

B. Rumusan masalah
Berdasarkan pada latar belakang diatas dapat dirumuskan tentang gambaran
pelaksanaan pemasangan infus yang tidak sesuai SOP terhadap kejadian flebitis di
RSUD K.

C. Tujuan penulisan
Tujuan umum
Mengetahui gambaran pelaksanaan pemasangan infus yang tidak sesuai
SOP terhadap kejadian flebitis di RSUD.K.

2
Tujuan khusus

1. Menjelaskan tentang SOP


2. Menjelaskan tentang pemasangan infus
3. Menjelaskan tentang malpraktek
4. Memahami upaya pencegahan malpraktek

D. Manfaat penulisan
1. Manfaat bagi rumah sakit/Masyarakat
Dapat menambah pengetahuan rumah sakit/masyarakat tentang gambaran
pelaksanaan pemasangan infus yang tidak sesuai SOP terhadap kejadian flebitis.
Menjadi bahan masukan bagi rumah sakit terkait pelaksanaan pemasangan infus
yang tidak sesuai SOP terhadap kejadian flebitis.
2. Manfaat bagi Institusi Pendidikan
Memberikan informasi tentang gambaran pelaksanaan pemasangan infus yang
tidak sesuai SOP terhadap kejadian flebitis
Dapat menjadi bahan kajian pengembangan penelitian tentang gambaran
pelaksanaan pemasangan infus yang tidak sesuai SOP terhadap kejadian flebitis.
3. Manfaat bagi Peneliti Lain
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini dapat memberikan informasi baru atau
data bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan
gambaran pelaksanaan pemasangan infus yang tidak sesuai SOP terhadap
kejadian flebitis.

3
BAB II

KONSEP TEORI

A. Standar Operasional Prosedur (SOP)


1. Pengertian SOP
Suatu standar / pedoman tertulis yang dipergunakan untuk mendorong dan
menggerakkan suatu kelompok untuk mencapai tujuan organisasi. Standar
operasional prosedur merupakan tatacara atau tahapan yang dibakukan dan
yang harus dilalui untuk menyelesaikan suatu proses kerja tertentu (Perry
dan Potter 2005).
2. Tujuan SOP
a. Petugas / pegawai menjaga konsistensi dan tingkat kinerja petugas /
pegawai atau tim dalam organisasi atau unit kerja.
b. Mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap posisi
dalamorganisasi.
c. Memperjelas alur tugas, wewenang dan tanggung jawab dari
petugas/pegawai terkait.
d. Melindungi organisasi/unit kerja dan petugas/pegawai dari malpraktek
atau kesalahan administrasi lainnya.
e. Melindungi organisasi/unit kerja dan petugas/pegawai dari malpraktek
atau kesalahan administrasi lainnya.
f. Untuk menghindari kegagalan/kesalahan, keraguan, duplikasi dan
inefisiensi
3. Fungsi SOP
a. Memperlancar tugas petugas/pegawai atau tim/unit kerja.
b. Sebagai dasar hukum bila terjadi penyimpangan.
c. Mengetahui dengan jelas hambatan-hambatannya dan mudah dilacak.
d. Mengarahkan petugas/pegawai untuk sama-sama disiplin dalam
bekerja.

4
4. Kapan SOP diperlukan
a. SOP harus sudah ada sebelum suatu pekerjaan dilakukan.
b. SOP digunakan untuk menilai apakah pekerjaan tersebut sudah
dilakukan dengan baik atau tidak.
c. Uji SOP sebelum dijalankan, lakukan revisi jika ada perubahan langkah
kerja yang dapat mempengaruhi lingkungan kerja.

5. Keuntungan adanya SOP


a. SOP yang baik akan menjadi pedoman bagi pelaksana, menjadi alat
komunikasi dan pengawasan dan menjadikan pekerjaan diselesaikan
secara konsisten.
b. Para pegawai akan lebih memiliki percaya diri dalam bekerjadan tahu
apa yang harus dicapai dalam setiap pekerjaan.
c. SOP juga bisa dipergunakan sebagai salah satu alat trainning dan bisa
digunakan untuk mengukur kinerja pegawai.

B. Pemasangan infus
1. Pengertian pemasangan Infus
Terapi intravena adalah terapi yang bertujuan untuk mensuplai
cairan melalui vena ketika pasien tidak mampu mendapatkan makanan,
cairan elektrolit lewat mulut, untuk menyediakan kebutuhan garam
untuk menjaga kebutuhan cairan, untuk menyediakan kebutuhan
gula(glukose/dekstrosa) sebagai bahan bakar untuk metabolisme, dan
untuk menyediakan beberapa jenis vitamin yang mudah larut melalui
intravena serta untuk memberikan medium untuk pemberian obat secara
intravena.(Aryani, et. Al. 2009).
Pemasangan terapi intravena merupakan tindakan memasukan
jarum (abocath) melalui transkutan yang kemudian disambungkan
dengan selang infus (Edward, 2011).

5
2. Tujuan
Laskowski-Jones dan Falkowski; Ingnatavicius dan (workman 2010
dalam Wayunah 2011) yang mengatakan bahwa alasan umum pasien
mendapatkan terapi infus adalah:
a. Mempertahankan keseimbangan cairan atau koreksi keseimbangan
cairan.
b. Mempertahankan elektrolit atau keseimbangan asam basa atau
koreksi elektrolit.
c. Pemberian obat termasuk nutrisi.
d. Mengganti darah atau produk darah.

3. Keuntungan dan kerugian


Menurut (Perry dan Potter 2005), keuntungan dan kerugian terapi
intravena adalah :
a. Keuntungan
Keuntungan terapi intravena antara lain : Efek terapeutik segera
dapat tercapai karena penghantaran obat ke tempat target
berlangsung cepat, absorbsi total memungkinkan dosis obat lebih
tepat dan terapi lebih dapat diandalkan, kecepatan pemberian dapat
dikontrol sehingga efek terapeutik dapat dipertahankan maupun
dimodifikasi, rasa sakit dan iritasi obat-obat tertentu jika diberikan
intramuskular atau subkutan dapat dihindari, sesuai untuk obat
yang tidak dapat diabsorbsi dengan rute lain karena molekul yang
besar, iritasi atau ketidakstabilan dalam traktus gastrointestinalis.

b. Kerugian
Kerugian terapi intravena adalah : tidak bisa dilakukan “drug
recall”dan mengubah aksi obat tersebut sehingga resiko toksisitas
dan sensitivitas tinggi, kontrol pemberian yang tidak baik bisa
menyebabkan “speed shock”dan komplikasi tambahan dapat
timbul, yaitu : kontaminasi mikroba melalui titik akses ke sirkulasi

6
dalam periode tertentu, iritasi vascular, misalnya flebitis kimia, dan
inkompabilitas obat dan interaksi dari berbagai obat tambahan.
4. Lokasi Pemasangan infus
Menurut (Perry dan Potter 2005), tempat atau lokasi vena perifer
yang sering digunakan pada pemasangan infus adalah vena supervisial
atauperifer kutan terletak di dalam fasia subcutan dan merupakan akses
paling mudah untuk terapi intravena. Daerah tempat infus yang
memungkinkan adalah permukaan dorsal tangan (vena supervisial
dorsalis, vena basalika, vena sefalika),lengan bagian dalam (vena
basalika, vena sefalika, vena kubital median, vena median lengan
bawah, dan vena radialis),permukaan dorsal (vena safena magna,
ramusdorsalis.
Menurut Dougherty dkk (2010), Pemilihan lokasi pemasangan
terapi intravana mempertimbangkan beberapa faktor yaitu :
a. Umur pasien : misalnya pada anak kecil, pemilihan sisi adalah sangat
penting dan mempengaruhi berapa lama intravena terakhir.
b. Prosedur yang diantisipasi : misalnya jika pasien harus menerima jenis
terapi tertentu atau mengalami beberapa prosedur seperti pembedahan,
pilih sisi yang tidak terpengaruh oleh apapun.
c. Aktivitas pasien : misalnya gelisah, bergerak, tak bergerak, perubahan
tingkat kesadaran.
d. Jenis intravena: jenis larutan dan obat-obatan yang akan diberikan sering
memaksa tempat-tempat yang optimum (misalnya hiperalimentasi adalah
sangat mengiritasi vena-vena perifer).
e. Durasi terapi intravena: terapi jangka panjang memerlukan pengukuran
untuk memeliharavena; pilih vena yang akurat dan baik, rotasi sisi dengan
hati-hati, rotasi sisi pungsi dari distal ke proksimal (misalnya mulai di
tangan dan pindah ke lengan).
f. Ketersediaan vena perifer bila sangat sedikit vena yang ada, pemilihan sisi
dan rotasi yang berhati-hati menjadi sangat penting ; jikasedikit vena
pengganti.

7
g. Terapi intravena sebelumnya : flebitis sebelumnya membuatvena menjadi
tidak baik untuk di gunakan, kemoterapi sering membuat vena menjadi
buruk (misalnya mudah pecah atausklerosis).
h. Pembedahan sebelumnya : jangan gunakan ekstremitas yang terkena pada
pasien dengan kelenjar limfe yang telah di angkat (misalnya pasien
mastektomi) tanpa izin dari dokter .
i. Sakit sebelumnya : jangan gunakan ekstremitas yang sakit pada pasien
dengan stroke.
j. Kesukaan pasien : jika mungkin, pertimbangkan kesukaan alami pasien
untuk sebelah kiri atau kanan dan juga sisi.
5. Jenis cairan intravena
Berdasarkan osmolalitasnya, menurut (Perry dan Potter 2005)
cairan intravena (infus) dibagi menjadi 3, yaitu :
a. Cairan bersifat isotonis : osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya
mendekati serum (bagian cair dari komponen darah) sehingga terus
berada di dalam pembuluh darah. Bermanfaat padapasien yang
mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh, sehingga tekanan
darah terus menurun). Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan
cairan), khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan
hipertensi. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL), dan normal
saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%).
b. Cairan bersifat hipotonis : osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan
serum (konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum),
sehingga larut dalam serum, dan menurunkan osmolaritas serum.
Maka cairan ditarik dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan
sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke
osmolaritas tinggi), sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju.
Digunakan pada keadaan sel mengalami dehidrasi, misalnya pada
pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik, juga pada pasien
hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis diabetik.
Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan

8
dari dalam pembuluh darah ke sel, menyebabkan kolaps
kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak)
pada beberapa orang. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa
2,5%.
c. Cairan bersifat hipertonis : osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan
serum, sehingga menarik cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke
dalam pembuluh darah. Mampu menstabilkan tekanan darah,
meningkatkan produksi urin, dan mengurangi edema (bengkak).
Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya
Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate.
6. Prosedur pemasangan infus sesuai teori
a. Persiapan alat :
1. Cairan yang diperlukan, sesuaikan cairan dengan kebutuhan pasien.
2. Saluran infus (infus set) : infus set dilengkapi dengan saluran infus,
penjepit selang infus untuk mengatur kecepatan tetesan.

3. Jenis infus set berdasarkan penggunaannya :


a. Macro drip set

b. Micro drip set

c. Tranfusion Set

4. Kateter intravena (IV catheter) :


5. Desinfektan : kapas alkohol, larutan povidone iodine 10%

6. Kassa steril, plester, kassa pembalut

7. Torniket

8. Gunting

9. Bengkok

10. Tiang infus

11. Perlak kecil

9
12. Bidai, jika diperlukan (untuk pasien anak)

13. Sarung tangan steril yang tidak mengandung bedak

14. Masker

15. Tempat sampah medis

b. Persiapan tenaga medis


a. Pastikan program medis untuk terapi intravena, periksa label
larutan, dan identifikasi pasien. Kesalahan yang serius dapat
dihindari dengan pemeriksaan yang teliti.
b. Jelaskan prosedur pada pasien. Pengetahuan meningkatkan
kenyamanan dan kerjasama pasien.
c. Cuci tangan dan kenakan sarung tangan sekali pakai. Asepsis
penting untuk mencegah infeksi. Mencegah pajanan perawat
terhadap darah pasien.
d. Pasang tourniket dan identifikasi vena yang sesuai. Tourniket akan
melebarkan vena dan membuatnya terlihat jelas.
e. Pilih letak insersi. Pemilihan tempat yang teliti akan meningkatkan
kemungkinan pungsi vena yang berhasil dan pemeliharaan vena.
f. Pilih kanula intravena. Panjang dan diameter kanula harus sesuai
baik untuk letak maupun tujuan infuse.
g. Hubungkan kantong infus dan selang, dan alirkan larutan
sepanjangselang untuk mengeluarkan udara, tutup ujung selang.
Mencegah penundaan; peralatan harus dihubungkandengan segera
setelah pungsi vena yang berhasil untuk mencegah pembekuan
darah.
h. Tinggikan tempat tidur sampai ketinggian kerja dan posisi pasien
yang nyaman; alur pencahayaan. Posisikan lengan pasien dibawah
ketinggian jantung untuk meningkatkan pengisian kapiler.
Letakkan bantalan pelindung di atas tempat tidur di bawah lengan
pasien. Posisi yangsesuai akan meningkatkan kemungkinan

10
keberhasilan dan memberikan kenyamanan bagi pasien. (Smeltzer
& Bare 2002)
c. Persiapan penderita :
1. Perkenalkan diri dan lakukan validasi nama pasien.
2. Beritahukan pada penderita (atau orang tua penderita)
mengenai tujuan dan prosedur tindakan, minta informed
consent dari pasien atau keluarganya.
3. Pasien diminta berbaring dengan posisi senyaman mungkin.
4. Mengidentifikasi vena yang akan menjadi lokasi
pemasangan infus :
 Pilih lengan yang jarang digunakan oleh pasien
(tangan kiri bila pasien tidak kidal, tangan kanan
bila pasien kidal).
 Bebaskan tempat yang akan dipasang infus dari
pakaian yang menutupi.
 Lakukan identifikasi vena yang akan ditusuk.
d. Prosedur tindakan :
1. Alat-alat yang sudah disiapkan dibawa ke dekat penderita di
tempat yang mudah dijangkau oleh dokter/ petugas. Dilihat
kembali apakah alat, obat dan cairan yang disiapkan sudah
sesuai dengan identitas atau kebutuhan pasien.
2. Perlak dipasang di bawah anggota tubuh yang akan dipasang
infus.
3. Memasang infus set pada kantung infuse :
 Buka tutup botol cairan infus.
 Tusukkan pipa saluran udara, kemudian masukkan
pipa saluran infus.
 Tutup jarum dibuka, cairan dialirkan keluar dengan
membuka kran selang sehingga tidak ada udara pada
saluran infus, lalu dijepit dan jarum ditutup kembali.
Tabung tetesan diisi sampai ½ penuh.

11
 Gantungkan kantung infus beserta salurannya pada
tiang infus.
4. Cucilah tangan dengan seksama menggunakan sabun dan
air mengalir, keringkan dengan handuk bersih dan kering.
5. Lengan penderita bagian proksimal dibendung dengan
torniket.
6. Kenakan sarung tangan steril, kemudian lakukan desinfeksi
daerah tempat suntikan.
7. Jarum diinsersikan ke dalam vena dengan bevel jarum
menghadap ke atas, membentuk sudut 30-40o terhadap
permukaan kulit.
8. Bila jarum berhasil masuk ke dalam lumen vena, akan
terlihat darah mengalir keluar.
9. Turunkan kateter sejajar kulit. Tarik jarum tajam dalam
kateter vena (stylet) kira-kira 1 cm ke arah luar untuk
membebaskan ujung kateter vena dari jarum agar jarum
tidak melukai dinding vena bagian dalam. Dorong kateter
vena sejauh 0.5 – 1 cm untuk menstabilkannya.
10. Tarik stylet keluar sampai ½ panjang stylet. Lepaskan ujung
jari yang memfiksasi bagian proksimal vena. Dorong
seluruh bagian kateter vena yang berwarna putih ke dalam
vena.
11. Torniket dilepaskan. Angkat keseluruhan stylet dari dalam
kateter vena.
12. Pasang infus set atau blood set yang telah terhubung
ujungnya dengan kantung infus atau kantung darah.
13. Penjepit selang infus dilonggarkan untuk melihat kelancaran
tetesan.
14. Bila tetesan lancar, pangkal jarum direkatkan pada kulit
menggunakan plester.
15. Tetesan diatur sesuai dengan kebutuhan.

12
16. Jarum dan tempat suntikan ditutup dengan kasa steril dan
fiksasi dengan plester.
17. Pada anak, anggota gerak yang dipasang infus dipasang
bidai (spalk) supaya jarum tidak mudah bergeser.
18. Pasang label pemasangan tidakan yang berisi: nama
pelaksana, tanggal dan jam pelaksana
19. Buanglah sampah ke dalam tempat sampah medis, jarum
dibuang ke dalam sharp disposal (jarum tidak perlu ditutup
kembali).
20. Bereskan alat-alat yang digunakan.
21. Cuci tangan
22. Observasi dan evaluasi respon pasien, catat pada
dokumentasi keperawatan.
e. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada tindakan pemasangan infus
adalah:
1. Sterilitas : Tindakan sterilitas dimaksudkan supaya mikroba tidak
menyebabkan infeksi lokal pada daerah tusukan dan supaya
mikroba tidak masuk ke dalam pembuluh darah mengakibatkan
bakteremia dan sepsis. Beberapa hal perlu diperhatikan untuk
mempertahankan standard sterilitas tindakan, yaitu :
a. Tempat tusukan harus disucihamakan dengan pemakaian
desinfektan (golongan iodium, alkohol 70%).
b. Cairan, jarum dan infus set harus steril.
c. Pelaku tindakan harus mencuci tangan sesuai teknik aseptik dan
antiseptik yang benar dan memakai sarung tangan steril yang pas di
tangan.
d. Tempat penusukan dan arah tusukan harus benar. Pemilihan tempat
juga mempertimbangkan besarnya vena. Pada orang dewasa
biasanya vena yang dipilih adalah vena superficial di lengan dan
tungkai, sedangkan anak-anak dapat juga dilakukan di daerah
frontal kepala.

13
2. Fiksasi : Fiksasi bertujuan agar kanula atau jarum tidak mudah
tergeser atau tercabut. Apabila kanula mudah bergerak maka
ujungnya akan menusuk dinding vena bagian dalam sehingga
terjadi hematom atau trombosis.
3. Pemilihan cairan infus :
Jenis cairan infus yang dipilih disesuaikan dengan tujuan
pemberian cairan.

4. Kecepatan tetesan cairan :


Untuk memasukkan cairan ke dalam tubuh maka
tekanan dari luar ditinggikan atau menempatkan posisi
cairan lebih tinggi dari tubuh. Kantung infus dipasang ± 90
cm di atas permukaan tubuh, agar gaya gravitasi aliran
cukup dan tekanan cairan cukup kuat sehingga cairan masuk
ke dalam pembuluh darah.
Kecepatan tetesan cairan dapat diatur sesuai dengan
kebutuhan. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa volume
tetesan tiap set infus satu dengan yang lain tidak selalu sama
dan perlu dibaca petunjuknya.
5. Selang infus dipasang dengan benar, lurus, tidak
melengkung, tidak terlipat atau terlepas sambungannya.
6. Hindari sumbatan pada bevel jarum/kateter intravena. Hati-
hati pada penggunaan kateter intravena berukuran kecil
karena lebih mudah tersumbat.
7. Jangan memasang infus dekat persendian, pada vena yang
berkelok atau mengalami spasme.
8. Lakukan evaluasi secara periodik terhadap jalur intravena
yang sudah terpasang.

14
f. Komplikasi Pemasangan Infus
Terapi intravena diberikan secara terus-menerus dan dalam jangka
waktu yang lama tentunya akan meningkatkan kemungkinan
terjadinya komplikasi. Komplikasi dari pemasangan infus yaitu
flebitis, hematoma, infiltrasi, tromboflebitis, emboli udara (Hinlay
2006).
1. Flebitis
Inflamasi vena yang disebabkan oleh iritasi kimia maupun mekanik. Kondisi ini
dikarakteristikkan dengan adanya daerah yang memerah dan hangat di sekitar
daerah insersi/penusukan atau sepanjang vena, nyeri atau rasa lunak pada area
insersi atau sepanjang vena, dan pembengkakan.
2. Infiltrasi
Infiltrasi terjadi ketika cairan IV memasuki ruang subkutan di sekeliling tempat
pungsi vena. Infiltrasi ditunjukkan dengan adanya pembengkakan (akibat
peningkatan cairan di jaringan), palor (disebabkan oleh sirkulasi yang menurun)
di sekitar area insersi, ketidaknyamanan dan penurunan kecepatan aliran secara
nyata. Infiltrasi mudah dikenali jika tempat penusukan lebih besar daripada
tempat yang sama di ekstremitas yang berlawanan. Suatu cara yang lebih
dipercaya untuk memastikan infiltrasi adalah dengan memasang torniket di atas
atau di daerah pr
oksimal dari tempat pemasangan infus dan mengencangkan torniket tersebut
secukupnya untuk menghentikan aliran vena. Jika infus tetap menetes meskipun
ada obstruksi vena,berarti terjadi infiltrasi.
3. Iritasi vena
Kondisi ini ditandai dengan nyeri selama diinfus, kemerahan pada kulit di atas
area insersi. Iritasi vena bisa terjadi karena cairan dengan pH tinggi, pH rendah
atau osmolaritas yang tinggi (misal: phenytoin,vancomycin, eritromycin, dan
nafcillin)
4. Hematoma
Hematoma terjadi sebagai akibat kebocoran darah ke jaringan di sekitar area
insersi. Hal ini disebabkan oleh pecahnya dinding vena yang berlawanan selama

15
penusukan vena, jarum keluar vena, dan tekanan yang tidak sesuai yang diberikan
ke tempat penusukan setelah jarum atau kateter dilepaskan. Tanda dan gejala
hematoma yaitu ekimosis, pembengkakan segera pada tempat penusukan, dan
kebocoran darah pada tempat penusukan.
5. Tromboflebitis
Tromboflebitis menggambarkan adanya bekuan ditambah peradangan dalam vena.
Karakteristik tromboflebitis adalah adanya nyeri yang terlokalisasi, kemerahan,
rasa hangat, dan pembengkakan di sekitar area insersi atau sepanjang vena,
imobilisasi ekstremitas karena adanya rasa tidak nyaman dan pembengkakan,
kecepatan aliran yang tersendat, demam, malaise, dan leukositosis.

6. Trombosis
Trombosis ditandai dengan nyeri, kemerahan, bengkak pada vena, dan aliran infus
berhenti. Trombosis disebabkan oleh injuri sel endotel dinding vena, pelekatan
platelet.
7. Occlusion (Kemacetan)
Kemacetan ditandai dengan tidak adanya penambahan aliran ketika botol
dinaikkan, aliran balik darah di selang infus, dan tidak nyaman pada area
pemasangan/insersi. Kemacetan disebabkan oleh gangguan aliran IV, aliran balik
darah ketika pasien berjalan, dan selang diklem terlalu lama.
8. Spasme vena
Kondisi ini ditandai dengan nyeri sepanjang vena, kulit pucat di sekitar vena,
aliran berhenti meskipun klem sudah dibuka maksimal. Spasme vena bisa
disebabkan oleh pemberian darah atau cairan yang dingin, iritasi vena oleh obat
atau cairan yang mudah mengiritasi vena dan aliran yang terlalu cepat.
9. Reaksi vasovagal
Digambarkan dengan klien tiba-tiba terjadi kollaps pada vena,dingin, berkeringat,
pingsan, pusing, mual dan penurunan tekanan darah. Reaksi vasovagal bisa
disebabkan oleh nyeri atau kecemasan.
10. Kerusakan syaraf, tendon dan ligament.

16
Kondisi ini ditandai oleh nyeri ekstrem, kebas/mati rasa, dan kontraksi otot. Efek
lambat yang bisa muncul adalah paralysis, mati rasa dan deformitas. Kondisi ini
disebabkan oleh tehnik pemasangan yang tidak tepat sehingga menimbulkan injuri
di sekitar syaraf, tendon dan ligament.

g. Pencegahan komplikasi pemasangan terapi intravena


Menurut (Hidayat 2008), selama proses pemasangan infus
perlu memperhatikan hal-hal untuk mencegah komplikasi yaitu :
a. Ganti lokasi tusukan setiap 48-72 jam dan gunakan set infus baru.
b. Ganti kasa steril penutup luka setiap 24-48 jam dan evaluasi tanda
Infeksi.
c. Observasi tanda / reaksi alergi terhadap infus atau komplikasi lain.
d. Jika infus tidak diperlukan lagi, buka fiksasi pada lokasi
penusukan.
e. Kencangkan klem infus sehingga tidak mengalir.
f. Tekan lokasi penusukan menggunakan kasa steril, lalu cabut jarum
infus perlahan, periksa ujung kateter terhadap adanya embolus.
g. Bersihkan lokasi penusukan dengan anti septik. Bekas-bekas
plester dibersihkan memakai kapas alkohol atau bensin (jika perlu).
h. Gunakan alat-alat yang steril saat pemasangan, dan gunakan tehnik
sterilisasi dalam pemasangan infus.
i. Hindarkan memasang infus pada daerah-daerah yang infeksi, vena
yang telah rusak, vena pada daerah fleksi dan vena yang tidak
stabil.
j. Mengatur ketepatan aliran dan regulasi infus dengan tepat.
k. Penghitungan cairan yang sering digunakan adalah penghitungan
milli meter perjam (ml/h) dan penghitungan tetes permenit.

17
Flebitis
1. Pengertian
Flebitis merupakan infeksi nosokomial yaitu infeksi oleh mikroorganisme
yang dialami oleh pasien yang diperoleh selama dirawat di rumah sakit diikuti
dengan manifestasi klinis yang muncul sekurang-kurangnya 3x24 jam (Darmadi
2008).
Flebitis adalah inflamasi lapisan vena dimana sel endotelia dinding vena
mengalami iritasi dan permukaan sel menajdi kasar, sehingga
memungkinkanplatelet menempel dan kecenderungan terjadi inflamasi penyebab
plebitis (Philip 2005 dalam Wayunah 2011).
2. Tanda dan gejala
a. Rubor (Hyperemia) Kemerahan atau rubor biasanya merupakan kejadian
pertama yang ditemukan didaerah yang mengalami peradangan. Pada
reaksi peradangan arteriola yang mensuplai darah tersebut mengalami
pelebaran sehingga darah yang mengalir ke mikrosirkulasi lokal lebih
banyak. (Mustofa 2007).
b. Kalor (Hipertermi)
c. Kalor terjadi bersamaan dengan kemerahan pada reaksi peradangan.
Daerah sekitar peradangan menjadi lebih panas, karena darah yang
disalurkan ke daerah tersebut lebih besar dibandingkan daerah lainnya
yang normal (Mustofa 2007).
d. Tumor (Oedem)
e. Pembengkakan lokal terjadi karena pengiriman cairan dan sel-sel dari
sirkulasi kejaringan intrerstitiel, campuran antara sel yang tertimbun
didaerah peradangan disebut eksudat. Pada keadaan ini reaksi peradangan
eksudatnya adalah cairan (Mustofa 2007).
f. Nyeri (Dolor)
g. Rasa nyeri pada daerah peradangan dapat disebabkan oleh perubahan pH
lokal ataupun konsentrasi ion-ion tertentu yang merangsang ujung saraf
selain itu juga pembengkakan yang terjadi dapat juga menyebabkan
peningkatan tekanan lokal yang dapat merangsang sakit. (Mustofa 2007).

18
3. Penyebab
Penyebab flebitis yang dinyatakan oleh (Workman dalam Mustofa2007)
terbagi atas 3 yaitu:
a. Iritasi kimia
Biasanya iritasi ini bersumber dari cairan intravena atau obat-obatan
yang digunakan umumnya cairan tersebut memiliki pH rendah dengan
osmolaritas tinggi, sebagai contoh adalah cairan dextrose hipertonik atau
cairan yang mengandung kalium klorida.
b. Iritasi fisik
Terjadi karena faktor bahan kanul yang digunakan berdiameter
besar, sehingga mempermudah pecahnya pembuluh darah flebitis dapat
pula terjadi jika pemasangan tidak pada tempat yang baik, misalnyasiku
atau pergelangan tangan.
c. Iritasi mekanik
Misalnya fiksasi kurang baik sehingga menyebabkan kanul
bergerak-gerak dalam pembuluh darah dan menyebabkan iritasi pada
pembuluh darah. Banyak hal yang dapat menyebabkan flebitis antara
laintindakan pembersihan yang akan dilakukan penusukan kateter
intravena kurang baik dan juga adanya bakteri. (Boker dan Ignaticus 1996)
menyimpulkan bahwa bakteri-bakteri yang terdapat pada kulit yang
mempunyai potensi menyebabkan flebitis adalah staphylococcus
apidernidis dan staphylococcus aureus.
4. Skala Flebitis
Ada beberapa standar yang bisa digunakan untuk mengukur tingkat keparahan
flebitis:
a. Skala menurut (Intgravenous Nurses Societydalam Mustofa 2007),
keparahan flebitis di identifikasi sebagai berikut :
 Skala 0: Tidak nyeri, tidak kemerahan, tidak edema, tidak hangat dan tidak
terjadi pembengkakan lokal

19
 Skala 1: Terasa nyeri, kemerahan, tidak hangat, tidak terjadi
pembengkakan lokal dan mungkin bisa terjadi edema atau tidak terjadi
edema.
 Skala 2: Terasa nyeri, kemerahan, hangat, tidak terjadi pembengkakan
lokal dan mungkin bisa terjadi edema atau tidak terjadi edema
 Skala 3 : Terasa nyeri, kemerahan, hangat, terjadi pembengkakan lokal
dan mungkin bisa terjadi edema atau tidak edema.
b. Skala Baxter
 Skala 0 : Tidak ada nyeri, tidak ada eritema, tidak ada indurasi, tidak ada
pembengkakan lokal
 Skala 1 : Nyeri, eritema tidak ada indurasi, tidak ada pembengkakan lokal
tidak demam
 Skala 2 : Nyeri dengan eritema, tidak ada indurasi tidak ada
pembengkakan lokal
 Skala 3 :Nyeri dengan eritema, demam, indurasi atau pembengkakan lokal
kurang dari 3 cm disekitar tempat penusukan
 Skala 4 : Nyeri, eritema ,demam indurasi atau pembengkakan lokal lebih
dari 3 cm
 Skala 5 : Adanya trombosis dan ditemukan 4 tanda diatas, tetapi intravena
harus dilepas dan diganti tempat penusukan
5. Faktor yang mempengaruhi Terjadinya Flebitis
a. Pemberian Informasi
Semua tindakan yang dilakukan oleh perawat pasien perlu mengetahui
tujuan dari terapi mereka, perkiraan lamanya pengobatan dan pembatasan-
pembatasan gerak pada ekstremitas yang mengalami penusukan harus
diobservasi selama pemberian infus. Selain itu pasien harus diajari untuk
mengenali dan melaporkan tanda dan gejala misalnya pembengkakan, nyeri,
panas, kemerahan pada tempat penusukan darah dalam selang, balutan
basah serta aliran yang tidak lancar.
b. Ketrampilan perawat

20
Mery.A. et.all dalam studinya pada pemasangan infus perifer didapatkan
hasil bahwa resiko terjadinya flebitis lebih terjadi pada infus yang dipasang
oleh General Nurses(perawat umum) dibandingkan dengan infus yang
dipasang oleh Infution Nurses(perawat yang khusus menangani masalah
infus) angka perbandiungan yang didapat untuk resiko terjadinya flebitis.
c. Rotasi tempat penusukan
Penggantian tempat penusukan kateter intravena antara 48-72 jam, Study
menunjukkan bahwa pemasangan kateter lebih dari 72 jam meningkatkan
resiko flebitis dan kolonisasi bakteri.
d. Tempat penusukan
Pada orang dewasa, ekstremitas bawah memiliki resiko lebih tinggi terhadap
flebitis dibandingkan ekstremitas atas. Vena pada punggung telapak tangan
mempunyai resiko lebih kecil terhadap flebitisdibandingkan dengan yang
dipasang pada lengan atau siku. Pada anak-anak pemasangan kanula dapat
dilakukan pada lengan, punggung kaki atau kulit kepala.
e. Bahan dan ukuran kateter
Kateter polyurethane 30% lebih rendah resikonya terhadap flebitis
dibanding dengan kateter yang berbahan teflon. Sebuah study di
USAmenunjukkan bahwa kateter teflon atau polyurethane kateter berisiko
infeksi dengan rentang 0-5 %.
f. Jenis cairan
Menurut Booker dan Ignaticus bahwa pH cairan yang lebih rendah memiliki
resiko flebitis yang lebih tinggi, tetapi perlu juga diingat tentang pemberian
obat melaui intravena.(Hening Pujasari 2002).
g. Host Agent
Sistem imun manusia juga berkompeten dalam melindungi tubuh dari
berbagai organisme. Manusia yang memiliki gangguan imun akan lebih
mudah terkena infeksi (Hening Pujasari 2002).

21
C. Malpraktek
a. Pengertian
Definisi malpraktek dalam dunia kedokteran adalah kelalaian
profesional karena tindakan atau kealpaan oleh pihak penyedia jasa
kesehatan, sehingga perawatan yang diberikan tidak sesuai dengan
prosedur standar medis (SOP) sehingga mengakibatkan kondisi medis
yang memburuk, atau kematian seorang pasien.
b. Dasar Hukum
Pada peraturan perundang-undangan Indonesia yang sekarang
berlaku tidak ditemukan pengertian mengenai malpraktik. Akan tetapi
makna atau pengertian malpraktik justru didapati dalam Pasal 11 ayat
(1) huruf b UU No. 6 Tahun 1963 tentang Tenaga Kesehatan (“UU
Tenaga Kesehatan”) yang telah dinyatakan dihapus oleh UU No. 23
Tahun 1992 tentang Kesehatan. Oleh karena itu secara perundang-
undangan, menurut Dr. H. Syahrul Machmud, S.H., M.H., ketentuan
Pasal 11 ayat (1) huruf b UU Tenaga Kesehatan dapat dijadikan acuan
makna malpraktik yang mengidentifikasikan malpraktik dengan
melalaikan kewajiban, berarti tidak melakukan sesuatu yang seharusnya
dilakukan.
Pasal 11 ayat (1) huruf b UU Tenaga Kesehatan:

(1) Dengan tidak mengurangi ketentuan-ketentuan di dalam Kitab Undang-


undang Hukum Pidana dan Peraturan-peraturan perundang-undangan lain,
maka terhadap tenaga kesehatan dapat dilakukan tindakan-tindakan
administratip dalam hal sebagai berikut:

a. melalaikan kewajiban;
b. melakukan sesuatu hal yang seharusnya tidak boleh diperbuat oleh seorang
tenaga kesehatan, baik mengingat sumpah jabatannya maupun mengingat
sumpah sebagai tenaga kesehatan;
c. mengabaikan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh tenaga kesehatan;
d. melanggar sesuatu ketentuan menurut atau berdasarkan undang-undang ini.

22
c. Unsur Dan Ukuran Malpraktik
Dalam kepustakaan dapat diperoleh petunjuk secara konsepsional
bahwa kesalahan melaksanakan tugas profesi terjadi jika pelakunya
menunjukkan :
a. Kelalaian kewajiban yang seharusnya dilakukan
b. Melakukan sesuatu hal yang seharusnya tidak boleh diperbuat baik
mengingat sumpah profesi maupun sumpah jabatan
c. Mengabaikan sesuatu yang seharusnya dilakukan menurut standar
profesi
d. Berperilaku tidak sesuai dengan patokan umum mengenai kewajaran
yang diharapkan dari sesama rekan profesi dalam keadaaan yang
sama.
e. Adanya suatu akibat yang berbahaya bagi profesi atau akibat yang
merugikan bagi pihak lain

Bidang Pekerjaan Perawat Yang Berisiko Melakukan Kesalahan : Caffee


(1991) dalam Vestal, K.W. (1995) mengidentifikasi 3 area yang memungkinkan
perawat berisiko melakukan kesalahan, yaitu tahap pengkajian keperawatan
(assessment errors), perencanaan keperawatan ( planning errors), dan tindakan
intervensi keperawatan (intervention errors). Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan
sebagai berikut :

a. Assessment errors, termasuk kegagalan mengumpulkan data atau informasi


tentang pasien secara adekuat atau kegagalan mengidentifikasi informasi
yang diperlukan, seperti data hasil pemeriksaan laboratorium, tanda-tanda
vital, atau keluhan pasien yang membutuhkan tindakan segera. Kegagalan
dalam pengumpulan data akan berdampak pada ketidak tepatan diagnosis
keperawatan dan lebih lanjut akan mengakibatkan kesalahan atau ketidak
tepatan dalam tindakan. Untuk menghindari kesalahan ini, perawat
seharusnya dapat mengumpulkan data dasar secara komprehensif dan
mendasar.

23
b. Planning errors, termasuk hal-hal berikut :
1) Kegagalan mencatat masalah pasien dan kelalaian menuliskannya dalam
rencana keperawatan.
2) Kegagalan mengkomunikaskan secara efektif rencana keperawatan yang
telah dibuat, misalnya menggunakan bahasa dalam rencana keperawatan
yang tidak dipahami perawat lain dengan pasti.
3) Kegagalan memberikan asuhan keperawatan secara berkelanjutan yang
disebabkan kurangnya informasi yang diperoleh dari rencana keperawatan.
4) Kegagalan memberikan instruksi yang dapat dimengerti oleh pasien.

Untukmencegah kesalahan tersebut, jangan hanva menggunakan perkiraan


dalam membuat rencana keperawatan tanpa mempertimbangkannya dengan baik.
Seharusnya, dalam penulisan harus memakai pertimbangan yang
jelas berdasarkan masalah pasien. Bila dianggap perlu, lakukan modifikasi
rencana berdasarkan data baru yang terkumpul. Rencana harus
realistis berdasarkan standar yang telah ditetapkan, termasuk pertimbangan yang
diberikan oleh pasien. Komunikasikan secara jelas baik secara lisan
maupun dengan tulisan. Lakukan tindakan berdasarkan rencana dan lakukan
secara hati-hati instruksi yang ada. Setiap pendapat perlu divalidasi dengan teliti.

c. Intervention errors, termasuk kegagalan menginteipretasikan dan


melaksanakan tindakan kolaborasi, kegagalan melakukan asuhan keperawatan
secara hati-hati, kegagalan mengikuti/mencatat order/pesan dari dokter atau
dari penyedia. Kesalahan pada tindakan keperawatan yang sering terjadi
adalah kesalahan dalam membaca pesan/order, mengidentifikasi pasien
sebelum dilakukan tindakan/prosedur, memberikan obat, dan terapi
pembatasan (restrictivetherapy). Dari seluruh kegiatan ini yang paling
berbahaya tampaknya pada tindakan pemberian obat. Oleh karena itu, perlu
adanya komunikasi yang baik di antara anggota tim kesehatan maupun
terhadap pasien dan keluarganya. Untuk menghindari kesalahan ini,,
sebaiknya rumah sakit tetap melaksanakan program pendidikan berkelanjutan

24
(Continuing Nursing Education). Untuk malpraktek hukum atau yuridical
malpractice dibagi dalam 3 kategori sesuai bidang hukum yang dilanggar,
yaitu :
1. Criminal malpractice, Perbuatan seseorang dapat dimasukkan dalam
kategori criminal malpractice manakala perbuatan tersebut memenuhi
rumusan delik pidana, yaitu :1) Perbuatan tersebut (positive act
maupun negative act) merupakan perbuatantercela. 2) Dilakukan
dengan sikap batin yang salah (mens rea) yang berupa kesengajaan
(intensional) misalnya melakukan euthanasia (pasal 344 KUHP),
membuka rahasia jabatan (pasal 332 KUHP), membuat surat
keterangan palsu (pasal 263KUHP), melakukan aborsi tanpa indikasi
medis pasal 299 KUHP). Kecerobohan (reklessness) misalnya
melakukan tindakan medis tanpa persetujuan pasien (informed
consent). Atau kealpaan (negligence) misalnya kurang hati-hati
mengakibatkan luka, cacat atau meninggalnya pasien, ketinggalan
klem dalam perut pasien saat melakukan operasi. Pertanggungjawaban
didepan hukum pada criminal malpractice adalah bersifat
individual/personal dan oleh sebab itu tidak dapat dialihkan kepada
orang lain atau kepada badan yang memberikan sarana pelayanan jasa
tempatnya bernaung.
2. Civil malpractice, Seorang tenaga jasa akan disebut melakukan civil
malpractice apabila tidak melaksanakan kewajiban atau tidak
memberikan prestasinya sebagaimana yang telah disepakati (ingkar
janji). Tindakan tenaga jasa yang dapat dikategorikan civilmalpractice
antara lain :
1) Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya
wajib dilakukan.
2) Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan
tetapi terlambatmelakukannya.
3) Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan
tetapi tidaksempurna.

25
4) Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya
dilakukan.Pertanggungjawaban civil malpractice dapat bersifat
individual atau korporasidan dapat pula dialihkan pihak lain
berdasarkan principle ofvicarius liability.Dengan prinsip ini maka
badan yang menyediakan sarana jasa dapat
bertanggung gugat atas kesalahan yang dilakukan karyawannya sel
ama orangtersebut dalam rangka melaksanakan tugas
kewajibannya.

3. Administrative malpractice, Tenaga jasa dikatakan telah melakukan


administrative malpractice manakala orang tersebut telah melanggar
hukum administrasi. Perlu diketahui bahwa dalam
melakukan police power, pemerintah mempunyai kewenangan
menerbitkan berbagai ketentuan di bidang kesehatan, misalnya tentang
persyaratan bagi tenaga perawatan untuk menjalankan
profesinya (Surat Ijin Kena, Surat Ijin Praktek), batas kewenangan
serta kewajiban tenaga perawatan. Apabila aturan tersebut dilanggar
maka tenaga kesehatan yang bersangkutan dapat dipersalahkan
melanggar hukum administrasi

26
BAB III
KASUS

An.R usia 7 bulan berjenis kelamin laki-laki. Datang kerumah sakit “K”
dengan keluhan demam yang naik turun selama 3 hari, mual muntah, BAB cair 2x
sehari. An.R masuk ke ruang “D” lantai 12 dengan diagnose IBA (Infeksi bakteri
akut) dan Diare, An.R mendapatkan terapi Ka-En 1B 500ml/ 12 jam. Dengan
BB=6,7kg, TB:49cm suhu:38˚C. ubun-ubun besar teraba cekung, An.R tampak
lemas, pucat, dan rewel.
Namun, pada pengamatan kelompok kami, perawat di RS.K telah
melakukan tindakan malpraktek atau tidak sesuai SOP. Kami melihat pada saat
pergantian infus 1 ke infus 2 tidak steril. Ketika pergantia infus Ka-En 1B yang
kedua, perawat membiarkan jarum infus atau tusukan pipa infus tergeletak di
tempat tidur pasien dalam kondisi terbuka. Seharusnya jarum infus dapat di
gantungkan di tiang infus dalam posisi tertutup untuk mencegah terjadinya
kontaminasi. Seperti SOP pemasangan infus yang telah di jelaskan di bab 2.

Sedangkan menurut kepustakan hukum kesehatan khusus, yang dimaksud medical


malpraktik mengandung unsur :.

a. Negligent medical care dalam arti kealpaan/ kelalaian besar


b. Standard of care
Standar profesi yang menjadi ukuran sesuai dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dalam menjalankan profesi. Dalam malpraktik,standar
tersebut tidak sesuai dengan perkembangan pengetahuan.
c. Ada atau tidaknya kecelakaan/resiko dalam perawatan atau adanya
kesalahan dalam pembuatan keputusan sebagai resiko medis.
d. Ada atau tidaknya inform consent yang terkait dengan rekam medis atau
rahasia medis.
e. Medical liability (tanggung jawab medis) baik yang bersifat strict
liability

27
f. Ada atau tidaknya dasar alasan pemaaf (tidak dipertanggung jawabkan
kesalahannya)

Vastel K.W. (l995) mengatakan bahwa untuk mengatakan secara pasti malpraktik,
apabila penggugat dapat menunujukkan hal-hal dibawah ini :

a. Duty
Pada saat terjadinya cedera, terkait dengan kewajibannya yaitu,kewajiban
mempergunakan segala ilmu dan kepandaiannya untukmenyembuhkan atau
setidak-tidaknya meringankan beban penderitaan pasiennya berdasarkan
standar profesi. Hubungan perawat-klien menunjukkan, bahwa melakukan
kewajiban berdasarkan standar keperawatan.
b. Breach of the duty
Pelanggaran terjadi sehubungan dengan kewajibannya, artinya
menyimpang dari apa yang seharusnya dilalaikan menurut
standar profesinya. Contoh pelanggaran yang terjadi terhadap pasien antara
lain, kegagalan dalam memenuhi standar keperawatan yang ditetapkan
sebagai kebijakan rumah sakit.
c. Injury
Seseorang mengalami cedera (injury) atau kemsakan (damage) yang dapat
dituntut secara hukum, misalnya pasien mengalami cedera sebagai
akibat pelanggaran. Kelalaian nyeri, adanya penderitaan atau stres emosi
dapat dipertimbangkan sebagai, akibat cedera jika terkait dengan cedera fisik.
d. Proximate caused
Pelanggaran terhadap kewajibannya menyebabkan atau terk dengan cedera
yang dialami pasien. Misalnya, cedera yang terjadi secara langsung
berhubungan dengan pelanggaran kewajiban perawat terhadap pasien).

Walaupun dalam tindakan ini tidak sepenuhnya perbutan malpraktik yang


dapat terjadi efek samping jangka pendek, namun ada kemungkinan bisa
mengakibatkan efek samping jangka panajang yang merugikan pasien, seperti

28
phlebitis. Dan sesuai UU RI No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan, BAB III hak
dan kewajiban dalam pasal 4 bahwa “Setiap orang berhak atas kesehatan”. Dalam
hal ini klien berhak mendapatkan pengobatan guna mendapatkan kesehatan dan
setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman,
bermutu, serta terjangkau. Namun, pada kasus ini, An.R tidak mendapatkan
penanganan aman saat penggantian infus (tidak steril).
Untuk itu dalam hal ini perawat atau tenaga kesehata tidak dapat di jatuhi
hukuman, karena tidak mengakibatkan kematian ataupun kehilangan nyawa
seseorang, seperti peraturan yang tertera yaitu Pasal 359 KUHP yang menjelaskan
bahwa “Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang
lain mati, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana
kurungan paling lama satu tahun.”
Pada kasus ini, perawat telah melanggar kode etik dalam penangan pasien, yaitu
pemasangan infus yang tidak steril atau tidak sesuai SOP rumah sakit. Untuk itu
agar tidak menjadi sebuah kebiasaan di RS.KOJA, sebaikanya Rumah sakit segera
menangani masalh ini.

Upaya Pencegahan Malpraktik

Dengan adanya kecenderungan masyarakat untuk menggugat tenaga medis karena


adanya malpraktek diharapkan tenaga dalam menjalankan tugasnya selalu
bertindak hati-hati, yakni:

e. Tidak menjanjikan atau memberi garansi akan keberhasilan upayanya, karena


perjanjian berbentuk daya upaya (inspaning verbintenis) bukan perjanjian
akan berhasil (resultaat verbintenis).

f. Sebelum melakukan intervensi agar selalu dilakukan informed consent dan


harus sesuai SOP

29
g. Mengambil langkah hati-hati untuk setiap tindakan.

h. Mencatat semua tindakan yang dilakukan dalam rekam medis.

i. Apabila terjadi keragu-raguan, konsultasikan kepada senior atau dokter.

j. Memperlakukan pasien secara manusiawi dengan memperhatikan segala


kebutuhannya.

k. Menjalin komunikasi yang baik dengan pasien, keluarga dan masyarakat


sekitarnya.

30
BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

a. Malpraktik bersifat sangat kompleks


b. Perawat diperhadapkan pada tuntutan pelayanan profesional.
c. Banyak kemungkinan yang dapat memicu perawat melakukan
malpraktik.Malpraktik lebih spesifik dan terkait dengan status profesional
seseorang,misalnya perawat, dokter, atau penasihat hukum.
d. Malpraktik dapat disebabkan unsur kesengajaan dan dapat pula
disebabkan unsur kelalaian (culpa).
e. Vastel K.W. (l995) mengatakan bahwa untuk mengatakan secara pasti
malpraktik, apabila penggugat dapat menunujukkan hal-hal dibawah ini :

1. Duty
Pada saat terjadinya cedera, terkait dengan kewajibannya
yaitu,kewajiban mempergunakan segala ilmu dan kepandaiannya
untukmenyembuhkan atau setidak-tidaknya meringankan beban
penderitaan pasiennya berdasarkan standar profesi. Hubungan perawat-
klien menunjukkan, bahwa melakukan kewajiban berdasarkan standar
keperawatan.
2. Breach of the duty
Pelanggaran terjadi sehubungan dengan kewajibannya, artinya
menyimpang dari apa yang seharusnya dilalaikan menurut
standar profesinya. Contoh pelanggaran yang terjadi terhadap pasien a
ntara lain, kegagalan dalam memenuhi standar keperawatan yang
ditetapkan sebagai kebijakan rumah sakit.
3. Injury
Seseorang mengalami cedera (injury) atau kemsakan (damage) yang
dapat dituntut secara hukum, misalnya pasien menangani cedera

31
sebagai akibat pelanggaran. Kelalaian nyeri, adanya penderitaan atau
stres emosi dapat dipertimbangkan sebagai, akibat cedera jika terkait
dengan cedera fisik.
4. Proximate caused
Pelanggaran terhadap kewajibannya menyebabkan atau terk dengan
cedera yang dialami pasien. Misalnya, cedera yang terjadi secara
langsung berhubungan dengan pelanggaran kewajiban perawat
terhadap pasien).

4.2.Saran

a. Dalam memberikan pelayanan keperawatan , hendaknya berpedoman


pada kodeetik keperawatan dan mengacu pada standar praktek
keperawatan2.

b. Perawat diharapkan mampu mengidentifikasi 3 area yang memungkinkan


perawat berisiko melakukan kesalahan, yaitu tahap pengkajian
keperawatan (assessmenterrors), perencanaan keperawatan
(planning errors),
c. dan tindakan intervensi keperawatan (intervention errors) sehingga
nantinya dapat menghindari kesalahan yang dapat terjadi
d. Perawat harus memiliki kredibilitas tinggi dan senantiasa meningkatkan
kemampuannya untuk mencegah terjadinya malpraktek

32
DAFTAR PUSTAKA

Brent,N,.J.(2001). Nurses and the law: A guide principles and applications.


Pennsylvania:W.B.Saunders.Company.

Fanhaeten,Y.(2017). Mal
praktik.(online),(https://www.scribd.com/document/362929510/Mal-Praktik,
diakses pada 10 Januari 2018).

Hendrik.(2011).Etika dan Hukum Kesehatan.Jakarta:EGC.

Undang-undang Republik Indonesia. Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan

33