Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN MINI

ANALISIS KESALAHAN MAHASISWA PENDIDIKAN


MATEMATIKA UINSU DALAM MENYELESAIKAN SOAL INDUKSI
MATEMATIKA

( laporan ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah matematika diskrit)

OLEH

KELOMPOK : 9

MEUTIA SILVI (0305171065)

NOVIA LESTARI (0305173181)

SUMIRAH LUBIS (0305173167)

DOSEN PENGAMPU:
ELLA ANDHANY LUBIS M.Pd

PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA

2019
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum, Wr. Wb.

Syukur Alhamdulillah penulis ucaapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
hidayah dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini sebagaimana
yang diharapkan. Tidak lupa pula shalawat dan juga salam penulis hadiahkan kepada
junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang merupakan contoh tauladan dalam kehidupan
manusia, semoga kita termasuk dalam umat-umatnya yang akan mendapatkan syafaatnya di
yaumil akhir kelak, Aamiin.

Penulis merasa bahwa laporan mini riset ini masih belum lengkap baik dari segi isi,
susunan, maupun tutur kata dan bahasanya. Hal ini disebabkan keterbatasan dan daya serap
penulis yang terbatas. Untuk itu, penulis mengharap kritik dan saran yang membangun dari
pembaca demi kesempurnaan dan kelengkapan isi dari makalah-makalah berikutnya.

Akhir kata kepada Allah SWT jugalah penulis mohon ampun, semoga makalah ini
bermanfaat bagi pengembangan ilmu kita dan juga bagi yang membacanya khususnya bagi
penulis sendiri.Aamiin.

Medan, November 2018

Kelompok

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................................... i


DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii
ABSTRAK .......................................................................................................................... 1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................................................ 4
B. Identifikasi Masalah ................................................................................................ 4
C. Rumusan Masalah ................................................................................................... 4
BAB II LANDASAN TEORI
A. Pembelajaran Matematika ........................................................................................ 5
B. Analis Pemahaman Konsep ...................................................................................... 6
C. Bangun Ruang Sisis Lengkung .................................................................................8

BAB III METODE PENELITIAN

A. Metode yang Digunakan .........................................................................................


BAB IV
A. Hasil dan Pembahasan ............................................................................................ 9
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................................................. 14
B. Saran ...................................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 16
LAMPIRAN ........................................................................................................................ 17

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Matematika merupakan ilmu yang paling penting dalam bidang pendidikan.


Matematika merupakan dasar ilmu dari berbagai cabang ilmu pengetahuan baik ilmu eksak
maupun ilmu non-eksak. Keberhasilan belajar matematika dapat diukur dari sejauh mana
mahasiswa dapat mengikuti kegiatan tersebut. Keberhasilan belajar juga dapat ditinjau dari
tingkat pemahaman dan penguasaan materi mahasiswa dalam belajar. Namun, kenyataannya
dapat dilihat bahwa pemahaman dan penguasaan dalam matematika mahasiswa belum
maksimal. Kenyataan tersebut mendorong peneliti untuk menganalisis kesulitan mahasiswa
dalam menyelesaikan soal matematika.

Namun, realita yang ada diperguruan tinggi masih banyak mahasiswa yang
mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal matematika diskrit khususnya mengenai
induksi matematika. Hal ini menyebabkan mahasiswa terpaksa mengambil kelas revisi
disemester selanjutnya. Mata kuliahpengantar matematika diskrit merupakan syarat wajib
bagi mahasiswa pendidikan matematika dalam menempuh kuliah. Mata kuliah pengantar
matematika diskrit ini sebagai syarat untuk mengambil mata kuliah tertentu yan berkaitan
dengan kelanjutan dari ilmu kalkulus.

Buat mahasiswa sebagai makhluk Allah yang tidak sempurna pasti memiliki
kesalahan. Baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam proses pendidikan
(menyelesaikan soal dalam suatu mata pelajaran) sebagaimana yang dijelaskan dalam hadist
berikut:

‫صحيح ر‬.‫التغيب التوابون ( حسن‬


‫التغيب‬ ‫)كل بنن آدم خطاء وختن الخطائين ر‬

‫والترهيب‬
Artinya: “Seluruh Bani Adam (manusia) banyak melakukan kesalahan(dosa), dan sebaik-
baik manusia yang banyak kesalahannya (dosanya) adalah yang banyak bertaubat”.(Hasan,
shahih at-Targhib wa at-Tarhib 3139).

3
Dari hadis diatas, dapat kita ketahui bahwa pada dasarnya manusia tidak luput dari
kesalahan, begitu juga pada setiap mahasiswa. Kesalahan itu akan terjadi baik dalam
kehidupan sehari-hari, baik dalam ibadah maupun dalam dunia pendidikan khususnya dalam
menyelesaiakn suatu soal dalam pembelajaran matematika. Namun sebaik-baik manusia
yang banyak kesalahan adalah orang-orang yang banyak melakukan perbaikan terhadap
kesalahan yang dilakukannya (dalam menyelesaiakn soal induksi matematika).
ْ‫للاَ ْلَ يُغَيِ ُْر بِأ َ ْنفُس ِِه ْْم َما بِقَ ْومْ َحت َّى يُغَ ِي ُروْاْ َما ِبأ َ ْنفُس ِِه ْم‬
ْ ‫إِن‬
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum selain mereka sendiri
yang merubah keadaan mereka sendiri”(Ar-Ra’d:11)
Dari ayat tersebut, mahasiswa dianjurkan untuk memperbaiki kesalahan (dalam menyelesaikan
soal induksi matematika). Karena setelah kita mengetahui letak kesalahannya, maka disitulah
mahasiswa harus berusaha untuk lebih memahami lagi soal induksi matematika yaitu dengan lebuh
banyak berlatih lagi. Karena tidak akan ada perubahan kebaikan terhadap kesalahan mahasiswa
kecuali mahasiswa itu sendiri yang melakukannya.

B. RUMUSAN MASALAH
a. Bagaimana kesulitan mahasiswa pendidikan matematika dalam menyelesaikan soal
induksi matematika ?
b. Bagaimana kesulitan mahasiswa pendidikan matematika dalam menyelesaikan soal
induksi matematika ditinjau dari aspek pemahaman konsep ?
c. Bagaimana kesulitan mahasiswa pendidikan matematika dalam menyelesaikan soal
induksi matematika ditinjau dari aspek perhitungan ?
C. TUJUAN
a. Mendeskripsikan kesulitan mahasiswa pendidikan matematika dalam menyelesaikan soal
induksi matematika ditinjau dari aspek pemahaman konsep.
b. Mendeskripsikan kesulitan mahasiswa pendidikan matematika dalam menyelesaikan soal
induksi matematika ditinjau dari aspek perhitungan.

4
BAB II

LANDASAN TEORI

Matematika adalah ilmu yang penting untuk dipelajari karena matematika


merupakan ilmu yang mempunyai ciri khas sebagai ilmu yang memiliki objek abstrak,
berpola pada pemikiran deduktif aksiomatik, dan juga berlandaskan pada kebenaran.
Dengan adanya ciri khas tersebut, matematika berguna dalam menumbuh kembangkan
kemampuan serta membentuk pribadi siswa. Matematika sebagai ilmu dasar juga
diperlukan untuk mencapai keberhasilan yang berkualitas tinggi. Oleh karena itu
matematika diajarkan pada semua jenjang sekolah, dari tingkat dasar hingga perguruan
tinggi. Di samping itu matematika juga merupakan ilmu yang dapat diterapkan untuk
menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Matematika Diskrit merupakan salah satu mata kuliah wajib. Matematika diskrit
membahas tentang segala sesuatu yang bersiofat diskrit. Objek yang dibahas dalam
matematika diskrit seperti bilangan bulat, graf, atau kalimat logika. Beberapa hala yang
dibahas di dalamnnya adalah teori himpunan, teori kombinasi, teori builangan permutasi,
fungsi, dan lain-lain.

Data persentase hasil belajar mahasiswa dalam mengerjakan Ulangan Tengah


Semester (UTS) masih banyak yang belum mencapai kriteria nilai yang baik yaitu B atau
bekisar 63 ≤ nilai ≤ 70. Hasil nilai Ulangan Tengah Semester (UTS). Berdasarkan hasil
belajar tersebut dapat dijadikan tolak ukur sejauh mana mahasiswa menguasai materi dan
kesulitan apa saja yang didapatkan oleh mahasiswa.

Kesulitan belajar adalah suatu kondisi yang bersifat heterogen yang mewujudkan
dirinya dalam bentuk kesulitan belajar di satu atau lebih fungsi-fungsi psikologis secara
mendasar. Banyak faktor faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa. Kesulitan
belajar dapat dibagi menjadi dua, yaitu kesulitan belajar yang berhubunga dengan
perkembangan (mencakup gangguan motorik, kesulitan komunikasi, dan kesulitan dalam
penyesuaian perilaku sosial), dan kesulitan belajar akademik (mencakup penguasaan
keterampilan dalam membaca, menulis, dan pemahaman matematika). Kesulitan belajar
mahasiswa dalam memecahkan masalah atau menyelesaikan soal matematika dapat

5
terlihat dari adanya kesalahan penyelesaian soal. Soedjadi, dkk (Syafmen, 2014:74)
mengatakan bahwa kesulitan merupakan penyebab terjadinya kesalahan. Kesalahan ini
harus diketahui guru, kesalahan dapat dilihat dari hasil pekerjaan siswa dalam
mengerjakan tes.

Kesulitan ini perlu di analisis untuk mencari jenis kesulitan dan faktor penyebab
kesulitan itu terjadi. Informasi tentang kesulitan dalam menyelesaikan persamaan
differensial digunakan untuk meningkatkan hasil belajar mahasiswa dan dapat membantu
dalam mengatasi masalah yang menyebabkan mahasiswa mengalami kesulitan. Dengan
mengetahui kesulitan dalam pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak dan
pendidik dapat lebih muda mengatur kondisi anak yang mengalami kesulitan belajar.

6
BAB III

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif.


Penelitian ini mendeskripsikan jenis-jenis kesulitan mahasiswa dalam menyelesaikan
persoalan Matematika Diskrit. Subjek penelitian ini adalah 7 orang mahasiswa
pendidikan matematika semester IV tahun ajaran 2017/2018. Mahasiswa sebagai subjek
penelitian dipilih berdasarkan hasil tes Matematika Diskrit. Mahasiswa yang terpilih
adalah mahasiswa yang melakukan kesalahan terbanyak dalam menyelesaikan soal tes
Matematika Diskrit.

Teknik pengumpulan data yang diguakan pada penelitian ini adalah tes Persamaan
Differensial dan wawancara. Data yang diharapkan berupa pekerjaan mahasiswa
langsung pada lembar soal beserta langkah-langkahnya. Tujuan tes Matematika Diskrit
adalah untuk mengetahui kesulitan mahasiswa dalam menyelesaikan persoalan
Matematika Diskrit. Dan wawancara dilaksanakan berdasarkan pedoman.

Wawancara dilaksanakan berdasarkan pedoman wawancara yang telah disusun.


Data yang diperoleh berupa jawaban-jawaban subjek penelitian berdasarkan wawancara
digunakan sebagai triangulasi.

Dalam penelitian ini menggunakan beberapa instrumen, yaitu:

a. Peneliti sebagai instrumen (Lexy, 2007: 165)

Peneliti mengembangkan tes Matematika Diskrit serta melakukan wawancara terhadap


subjek penelitian. Data yang diperoleh dari penelitian disahkan melalui triangulasi kemudian
peneliti menganalisis data tersebut.

b. Tes Matematika Diskrit

7
Tes Matematika Diskrit ini merupakan tes yang dirancang untuk keperluan mendiagnosis
kesulitan mahasiswa dalam menyelesaikan persoalan Matematika Diskrit. Berdasarkan hasil
tes tersebut akan diidentifikasi jenis kesulitan siswa.

c. Pedoman wawancara

Pedoman wawancara dirancang untuk mempermudah peneliti dalam menggali informasi


siswa mengenai tes diagnostik yang berkaitan dengan Matematika Diskrit dari jawaban tes
Matematika Diskrit.

A. Lokasidan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di gedung exmal, Universitas Islam Negeri Sumatra Utara

B. Sempel dan Populasi

Subjek penelitian ini adalah mahasiswa pendidikan matematika 5 semester IV UINSU


dengan jumlah 10 Mahasiswa. Sedangkan objek penelitian adalah kesalahan dalam
menyelesaikan soal Matematika Diskrit, menggunakan tes, wawancara dan
dokumentasi.Instrumen tes dalam penelitian ini tidak diuji cobakan karena menekankan pada
validitasisi. Validitasisi berkenaan dengan kesanggupan alat penilaian dalam mengukurisi yang
seharusnya. Artinya, tes tersebut harus mampu mengungkapkan isi suatu konsep atau variable
yang hendak di ukur (Nana Sudjana, 2017: 13).

B. Analis Data

Teknik analisis data dilakukan padas etiap menyelesaikan soal yang kemudian dianalisis
menurut 3 indikator pemahaman konsep, yaitu menyatakan ulang konsep, mengklasifikasikan
dan memberi contoh/ bukan contoh, serta memanfaatkan operasi hitung.

8
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Kesalahan dalam Menyelesaikan Soal Matematika Matematika merupakan ilmu yang


terstruktur sehingga kesalahan mempelajari konsep terdahulu akan berpengaruh terhadap
pemahaman konsep berikutnya. Menurut Lerner (Mulyono, 1999:262) kesalahan umum
yang dilakukan siswa dalam mengerjakan tugas matematika yaitu kurangnya pengetahuan
tentang simbol, kurangnya pemahaman tentang nilai tempat, penggunaan proses yang keliru,
kesalahan perhitungan, dan tulisan yang tidak dapat dibaca sehingga siswa melakukan
kekeliruan karena tidak mampu lagi membaca tulisannya sendiri.

Menurut Sritarti (1994:4), kesalahan siswa dalam mengerjakan soal matematika


antara lain:

1. Kesalahan dalam membuat pemodelan matematika.

2. Kesalahan konsep, yaitu kesalahan dalam memahami konsep.

3. Kesalahan sistematik, yaitu kesalahan yang berkenaan dengan pemilihan yang


salah atas teknik ekstrapolasi.

4. Kesalahan Strategi, yaitu kesalahan yang terjadi karena siswa memilih cara
mengerjakan yang tidak tepat.

5. Kesalahan tanda, yaitu kesalahan dalam memberikan atau menulis tanda atau
notasi matematika

6. Kesalahan hitung, yaitu kesalahan dalam melakukan operasi matematika.

Identifikasi Jenis Kesalahan Mahasiswa dalam Mengerjakan Soal induksi


matematika Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai identifikasi jenis kesalahan yang
dilakukan mahasiswa berdasarkan jawaban tertulis dan wawancara mahasiswa.

9
1. 1 ∙ 2 + 2 ∙ 22 + 3 ∙ 23 + ⋯ + 𝑛 ∙ 2𝑛 = 2(1 + (𝑛 − 1)2𝑛 )

Dengan menggunakan induksi matematika, maka :

i. Untuk 𝑛 = 1 diperoleh
𝑛 ∙ 2𝑛 = 2(1 + (𝑛 − 1)2𝑛 )
1 ∙ 21 = 2(1 + (1 − 1)21 )
2 = 2(1 + (0)21 )
2 = 2(1)
2=2
ii. Asumsikan benar untuk 𝑛 = 𝑘 diperoleh

1 ∙ 2 + 2 ∙ 22 + 3 ∙ 23 + ⋯ + 𝑘 ∙ 2𝑘 = 2(1 + (𝑘 − 1)2𝑘 )

iii. Akan dibuktikan untuk 𝑛 = 𝑘 + 1 maka diperoleh

𝑘 ∙ 2𝑘 + (𝑘 + 1)2𝑘+1 = 2(1 + (𝑘 + 1) − 1)2𝑘+1

2(1 + (𝑘 − 1)2𝑘 ) + (𝑘 + 1)2𝑘+1 = 2(1 + (𝑘 + 1) − 1)2𝑘+1

2(1 + (𝑘 − 1 + 𝑘 + 1)2𝑘 ) = 2(1 + (𝑘 + 1) − 1)2𝑘+1

2(1 + 2𝑘 ∙ 2𝑘 ) = 2(1 + (𝑘 + 1) − 1)2𝑘+1

2(1 + 𝑘 ∙ 2𝑘+1 ) = 2(1 + (𝑘 + 1) − 1)2𝑘+1

2(1 + [(𝑘 + 1) − 1]2𝑘+1 = 2(1 + (𝑘 + 1) − 1)2𝑘+1

∴ 𝑡𝑒𝑟𝑏𝑢𝑘𝑡𝑖

1.

10
Adapun jawaban subjek penelitian terkait soal no 1 :

Untuk jawaban subjek menegenai konsep homogen, semua subjek menjawab tidak homogen.

Berdasarkan jawaban dari subjek terkait no 1 kedua subjek menjawab denagn benar dan
tepat. Ini menandakan bahawa subjek sudah mampu memahami konsep induksi matematika

, Soal no 2.

𝑛(𝑛+1)
1 + 2 + 3 + ⋯+ 𝑛 = 2

Dengan menggunakan induksi matematika, maka :

i. Untuk 𝑛 = 1 diperoleh

𝑛(𝑛 + 1)
𝑛=
2
1(1 + 1)
1=
2

11
1(2)
1=
2

1=1

ii. Asumsikan benar untuk 𝑛 = 𝑘 diperoleh

𝑘(𝑘 + 1)
1+ 2+ 3+ ⋯+ 𝑘 =
2
iii. Akan dibuktikan untuk 𝑛 = 𝑘 + 1 maka diperoleh

𝑘 + 1(𝑘 + 1 + 1)
𝑘 + (𝑘 + 1) =
2
𝑘(𝑘 + 1) 2(𝑘 + 1) 𝑘 + 1(𝑘 + 1 + 1)
+ =
2 2 2
(𝑘 + 1)(𝑘 + 2) 𝑘 + 1(𝑘 + 1 + 1)
=
2 2
(𝑘 + 1)(𝑘 + 1 + 1) 𝑘 + 1(𝑘 + 1 + 1)
=
2 2

∴ 𝑡𝑒𝑟𝑏𝑢𝑘𝑡

1. 2Berikut adalah jawaban-jawaban yang diberikan oleh subjek penelitian untuk soal no.2 :

Gambar 0.1 jawaban subjek A no 2 Gambar 0.2 jawan subjek B no 2

12
Berdasarkan jawaban subjek A,B,, dapat dilihat bahwa subjek A sudah
memahami konsep induksi dan mampu menjawab soaal dan urutan pengerjaan soal juga
sudah benar. Namun subjek penilitian B tidak mengerjakan soal no 2. Ini disebabkan karna
subjek B, tidak pandai menganalisa soal. Kesalahan pengerjaan soal ini rata-rata terjadi
karna kesalahan hitung, dan kurangnya subjek memahami konsep mata kuliah lain yang
berhubungan dengan induksi, seperti teori bilanagn yang sudah di pelajari di semester
sebelumnya.

SOAL NO 3
2
3 3 3
𝑛 3
1 + 2 + 3 + ⋯ + 𝑛 = ( (𝑛 + 1))
2

Dengan menggunakan induksi matematika, maka :

i. Untuk 𝑛 = 1 diperoleh
2
𝑛
𝑛3 = ( (𝑛 + 1))
2
2
1
13 = ( (1 + 1))
2

2
1
1 = ( (2))
2

1 = (1)2

1=1

ii. Asumsikan benar untuk 𝑛 = 𝑘 diperoleh


2
3
𝑘
𝑘 = ( (𝑘 + 1))
2

iii. Akan dibuktikan untuk 𝑛 = 𝑘 + 1 maka diperoleh


2
3
𝑘+1 3
𝑘 + (𝑘 + 1) = ( (𝑘 + 1 + 1))
2

2
𝑘2 𝑘+1
(𝑘 + 1)2 + (𝑘 + 1)3 = ( (𝑘 + 1 + 1))
4 2

13
2
𝑘2 𝑘+1
( + (𝑘 + 1)) (𝑘 + 1)2 = ( (𝑘 + 1 + 1))
4 2

2
𝑘 2 + 4𝑘 + 4 𝑘+1
( ) (𝑘 + 1)2 = ( (𝑘 + 1 + 1))
4 2

2
(𝑘 + 2)2 𝑘+1
( ) (𝑘 + 1)2 = ( (𝑘 + 1 + 1))
4 2

2
𝑘+2 𝑘+1
( (𝑘 + 1)) = ( (𝑘 + 1 + 1))
2 2

2 2
(𝑘 + 1) + 1 𝑘+1
( (𝑘 + 1)) = ( (𝑘 + 1 + 1))
2 2

2 2
𝑘+1 𝑘+1
( (𝑘 + 1) + 1) = ( (𝑘 + 1 + 1))
2 2

∴ 𝑡𝑒𝑟𝑏𝑢𝑘𝑡𝑖

Gambar 0.5 jawaban subjek A no 3 Gambar 0.6 Jawaban B subjek no 3

14
BAB V
PENUTUP

1. KESIMPULAN
Dari penelitian ini maka dapat diidentifikasi terdapat beberapa kesalahan yang dilakukan
mahasiswa dalam mengerjakan soal induksi matematika diantaranya adalah sebagai
berikut:
1. Kesalahan konsep, yaitu kesalahan yang yang dilakukan mahasiswa karena tidak
memahami konsep tersebut dengan baik.
2. Kesalahan strategi, yaitu kesalahan yang terjadi karena mahasiswa memilih cara
mengerjakan yang tidak tepat.
3. Kesalahan hitung, yaitu kesalahan dalam melakukan operasi matematika. Kesalahan
Sistematik, yaitu kesalahan yang berkenaan dengan pemilihan yang salah atas teknik
ekstrapolasi.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka diperoleh kesimpulan terkait
kesalahan mahasiswa pendidikan matematika UINSU dalam menyelesaikan soal induksi
matematika dengan Deskripsi data hasil penelitian menunjukan rata- rata pada kategori
normal yaitu 43 %. , Dari 10 mahasiswa PMM5 yang diteliti, Rata-rata terkait
kesalahan mahasiswa dalam menyelesaikan soal induksi untuk setiap indikator dapat
dilihat pada tabel berikut :

No kesalahan mahasiswa Rata-Rata (%)


2. kesalahan kosep 8
3. Kesalahan strategi 18
4. Kesalahan hitung 27
Maka dari hasil penelitian diatas dapat kita simpulkan bahwa kesalahan mahasiswa
dalam menyelesaikan soal PDE ini adalah terletak pada 3 indikator. Indikator keslahan
pemahaman konsepsiswa yang kurang baik terletak dikatakan masih sangat normal. Di
indikator kedua yaitu kesalahan strategi dikatakan kurang baik. Dan di idikator ke tiga yaitu
kesalahan hitung dikatakat buruk. Namun secara garis besar kesalahan –kesalah tersebut masih
dalam batas normal.

15
2. SARAN

1. Bagi Mahasiswa hendaknya lebih serius dan tidak mudah menyerah dalam belajar.
Siswa yang merasa belum memahami suatu teori atau materi ajar, hendaknya menanyakan
kepada teman yang lebih paham atau lebih baik lagi jika bertanya langsung kepada dosen agar
dij

elaskan kembali.

2. Bagi dosen hendanya lebih menguatkan pemahaman siswa mengenai konsep-konsep


matematika. Sehingga siswa tidak hanya menghafal materi tanpa memahami apa yang dipelajari.
Selain itu dosen hendaknya menggunakan media pembelajaran yang mampu mendukung
pemahaman konsep matematika siswa. Sehingga materi ajar yang disampaikan dapat lebih
menguatkan pemahaman konsep matematika yang dimiliki siswa .

16
DAFTAR PUSTAKA

Moleong,L.J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja


Rosdakarya. Mulyono, A. (1999). Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: PT.
Rieneka Cipta

Ruseffendi, E.T. (1990). Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan


Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito

17
LAMPIRAN

( Foto proses pengerjaan soal PDE)

18

Anda mungkin juga menyukai