Anda di halaman 1dari 13

BAB 2 PAJAK DAN KONSEP BERNEGARA

Tujuan umum dari kehidupan manusia adalah mewujudkan kehidupan yang tertib, aman dan tenteram dan berkeadilan. Dengan kehidupan yang demikian dimungkinkan dilaksanakannya tata kehidupan yang memungkinkan setiap orang mewujudkan kehidupan yang bahagia, sejahtera sentosa. Persoalan kehidupan yang aman dan damai bukan merupakan urusan orang per orang melainkan urusan orang sebagai masyarakat. Oleh karena itu untuk mewujudkannya perlu dibangun suatu organisasi yang diberi kekuasaan untuk mengatur kehidupan manusia bangsa di wilayah tertentu yang dikenal dengan organisasi negara. Terbentuknya negara mengalihkan tanggungjawab dari orang per-orang untuk mewujudkan kehidupan bersama yang tertib, aman, damai dan berkeadilan selanjutnya diserahkan kepada negara. Bagaimana negara mewujudkan keinginan tersebut sangat tergantung kepada sejarah bangsa dan berbagai kejadian yang mempengaruhi perjalanan bangsa tersebut. Bangunan negara yang didirikan hakikatnya merupakan kebulatan dari berbagai elemen seperti elemen budaya, ideologi, agama, sosial. Oleh karena itu memahami bangunan negara tidak mungkin lengkap tanpa memahami semua elemen yang membangun negara tersebut. Negara dan berbagai lembaga dan sistem yang menyertainya mungkin mempunyai nama yang sama, seperti republik, demokrasi, HAM dan sebagainya akan tetapi jika diperhatikan dengan lebih seksama maka sesungguhnya substansinya berbeda. Pengertian-pengertian dasar tersebut umumnya dipahami mempunyai arti

17

yang sama. Padahal pengertian-pengertian dasar tersebut merupakan sendi-sendi dasar yang dipakai oleh suatu bangsa untuk membangun kehidupan bernegaranya. Oleh karena itu pengertian-pengertian dasar tersebut setelah diisi dengan pandangan hidup dan kondisi nyata masyarakat maka substansinya menjadi berbeda-beda.

1. Konsep bernegara Indonesia.

Untuk memahami bagaimana konsep bernegara dari bangsa Indonesia maka dokumen yang paling mudah untuk dipelajari adalah Undang-undang Dasar 1945 (UUD). Bagaimana tata-kehidupan yang diinginkan dan dirumuskan dalam UUD merupakan pandangan khas bangsa Indonesia yang tidak terlepas dari pengaruh alam dan budaya Indonesia, yaitu sebagai suatu cara pandang yang berdasarkan pada filsafat dasar negara. Filsafat dasar negara yang telah disepakati meliputi filsafat dasar yang dikenal dengan istilah Pancasila yang terdiri dari Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Filsafat dasar negara ini yang seharusnya dipakai sebagai paradigma untuk membangun bangunan negara yang kuat, berdaulat yang mampu untuk melindungi seluruh tumpah darah dan seluruh rakyat Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum serta ikut serta dalam menciptakan perdamaian dunia berdasarkan kemerdekaan dan keadilan. Organisasi negara tersebut harus diisi dengan kelengkapan negara atau lembaga negara yaitu institusi-institusi yang dibentuk guna melaksanakan fungsi- fungsi negara. 1 Berdasarkan teori klasik mengenai negara, setidaknya terdapat beberapa fungsi negara yang penting seperti fungsi membuat kebijakan perundang- undangan (fungsi legislatif), fungsi melaksanakan kebijakan yang dituangkan dalam perundang-undangan atau dikenal dengan fungsi pemerintahan (fungsi eksekutif), dan fungsi mengadili (fungsi yudisial). Teori yang seringkali menjadi rujukan untuk fungsi dan organ negara adalah teori trias politica (tri praja). Teori ini dibuat untuk memberikan jalan keluar dari akibat buruk yang diakibatkan oleh terpusatnya kekuasaan negara dalam satu tangan. Kekuasaan harus dipilah dan dipisah menjadi tiga fungsi besar agar dapat saling “mengawasi” (check) dan saling “mengimbangi” (balances) dalam

1 Moh. Kusnandi dan Bintan Saragih, Ilmu Negara, Edisi revisi, Jakarta, Gaya Media Pratama, 2000, h. 241.

18

operasionalisasi kekuasaan nyata negara. Pemisahan kekuasaan bertujuan untuk membatasi masing-masing kekuasaan tersebut sesuai dengan fungsinya dan dapat dikontrol secara internal oleh lembaga yang sederajat, maupun secara eksternal oleh rakyat sebagai konstituen riil yang diwakili oleh lembaga-lembaga negara tersebut. Filsafat yang mendasarinya adalah bahwa perlengkapan ini dibentuk untuk merealisasikan tujuan dan keinginan-keinginan negara. Sesuai dengan perkembangan jaman, maka fungsi-fungsi negara ini kemudian dielaborasikan lagi menjadi tugas- tugas detail kenegaraan sehingga jabaran dari tujuan negara menjadi fungsi-fungsi ini dikonkretkan dalam bentuk tugas-tugas kenegaraan yang cakupannya semakin lama semakin banyak dan komplek. Secara konseptual, tujuan diadakannya lembaga-lembaga negara atau alat perlengkapan negara adalah selain untuk menjalan fungsi negara, juga untuk menjalankan fungsi pemerintahan. Oleh karena itu lembaga-lembaga negara tersebut harus dibentuk dalam konsep kesatuan proses yang satu sama lain saling berhubungan dalam rangka penyelenggaraan fungsi negara seperti istilah yang digunakan oleh Sri Sumantri sebagai actual governmentalprocess. 2 Meskipun di setiap negara prakteknya berbeda-beda, secara konsep lembaga-lembaga tersebut harus bekerja dan memiliki relasi sedemikian rupa sehingga membentuk suatu kesatuan untuk merealisasikan secara praktis fungsi negara dan secara ideologis mewujudkan tujuan negara. Sistem check and balances dalam teori trias politika dirumuskan sebagai:

System that ensure that for every power in government there is an equal and opposite power placed in separate branch to restrain that force… checks and balances are the constitutional controls whereby separate branches of government have limiting powers over each others so that no branch will become supreme. 3 Rumusan ini mengajarkan bahwa dalam menetapkan fungsi-fungsi dan tugas- tugas harus mengacu kepada tujuan negara yang termuat dalam konstitusi. Berdasarkan tujuan dasar negara kemudian ditetapkan fungsi-fungsi. Fungsi-fungsi ini kemudian dijabarkan ke dalam tugas-tugas; selanjutnya dibentuk organ-organ (lembaga-lembaga) pelaksananya. Dilihat dari konsep organisasi, target utamanya adalah efektif, efisien, dan berkeadilan. Pelaksanaan satu fungsi atau satu tugas tidak selalu harus ditempatkan

2 Sri Sumantri, Tentang Lembaga-Lembaga Negara Menurut UUD 1945, Bandung, Alumni, 1986 3 L Berman, Approaching Democracy, 1999, h. 58 dalam Ananda B. Kusuma, Lahirnya UUD 1945, Jakarta, Pusat Studi HTN UI, 2004, h. 25

19

pada hanya satu organ kelembagaan saja. Kajian secara detail tentang tugas-tugas pemerintahan yang mengacu pada satu fungsi tertentu perlu dilakukan agar penataan organisasi lembaga-lembaga negara dapat berjalan menuju pemenuhan tujuan dasar negara secara efisien dan tidak tumpang tindih.

2. Kewenangan konstitusional lembaga negara.

Negara hukum adalah bentuk yang telah dipilih oleh para pendiri negara Republik Indonesia. Negara hukum pada dasarnya merupakan negara yang menolak untuk melepaskan kekuasaan tanpa kendali. Dalam khasanah keindonesiaan negara hukum adalah negara yang pola hidupnya berdasarkan pada hukum yang adil dan demokratis, sehingga semua kekuasaan negara harus tunduk pada “aturan main” yang disebut dengan landasan legal yuridis yang jelas. 4 Wewenang dalam bahasa Inggris disebur authority, kewenangan adalah otoritas yang dimiliki oleh suatu lembaga untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Robert Bierstedt menyebut wewenang sebagai institutionalized power (kekuasaan yang dilembagakan). 5 Kewenangan adalah wujud nyata dari kekuasaan. Kewenangan dalam kontek penyeleng-garaan negara terkait dengan kedaulatan (sovereignity). Konsep kedaulatan ini yang membedakan antara organisasi negara dengan organisasi sosial. Kedaulatan adalah jiwa dari lembaga politik yang disebut negara yang disimbolkan sebagai mahluk kebal yang tak terkalahkan. 6

3.

Kedaulatan dan kewajiban perpajakan.

3.1.

Teori kedaulatan.

persoalan mengenai sifat

kekuasaan dalam konsep kekuasaan negara. Kedaulatan adalah kekuasaan tertinggi

dan asli bukan merupakan pemberian atau pelimpahan. Kedaulatan dalam khasanah pengetahuan dikenal beberapa konsep yaitu:

Konsep

kedaulatan

dibangun

untuk

menjawab

a. Kedaulatan tuhan;

b. Kedaulatan raja;

c. Kedaulatan negara;

d. Kedaulatan rakyat;

e. Kedaulatan hukum;

4 Firmansyah Arifin dkk, Hukum dan Kuasa Konstitusi, Jakarta, KRHN, 2004, h. 63 5 R Bierstedt dalam Miriam Budiardjo, Demokrasi di Indonesia: Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Pancasila, dan dikutip dalam PSHK, Semua Harus Terwakili, Studi Mengenai Reposisi MPR, DPR dan Lembaga Kepresidenan di Indonesia, Jakarta, 2000, h. 7 6 D’Entreves dalam Jimly Asshiddiqie, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, Mahkamah Konstitusi Pusat Studi HTN UI, Jakarta, 2004

20

Kedaulatan Tuhan mengajarkan bahwa Tuhanlah yang menciptakan alam raya ini beserta isinya, sehingga bagaimana mengatur dan mengelola dunia inheren mengelola suatu negara sepenuhnya menurut kehendak Tuhan. Konsep ini bersumber dari ajaran agama-agama samawi yang kemudian dalam sejarah ilmu pengetahuan mulai dikembangkan sejak abad ke V dan mulai menghilang kembali pada abad ke

XV.

Menurut teori kedaulatan Raja, raja adalah pemilik kekuasaan tertinggi dalam suatu negara. Mengenai kekuasaan raja ini ada teori yang menyandarkan pada kekuasaan Tuhan dan ada juga yang mendasarkan pada kekuatan dan penguasaan atas tanah. Oleh karena itu kedaulatan raja berkembang menjadi kekuasaan yang absolut dan bersifat turun temurun. Kedaulatan negara lahir sebagai akibat dari pertentangan antara penganut teori kedaulatan tuhan yang cukup besar pengaruhnya terhadap raja atau penguasa negara. Pertentangan ini melahirkan teori sistem pemerintahan yang berdaulat. Teori kedaulatan negara ini merupakan kelanjutan dari kedaulatan raja. Teori ini mengajarkan bahwa negara adalah organisasi yang dilengkapi dengan suatu

kekuasaan asli, kekuatan yang bukan didapat dari suatu kekuasaan yang lebih tinggi

derajatnya.

Teori kedaulatan rakyat lahir bersamaan dengan perkembangan filsafat rationalisme yang melahirkan teori perjanjian sosial. Tesis dari teori ini bahwa tujuan negara adalah untuk menegakkan dan menjamin kebebasan para warga negaranya, dalam pengertian bahwa kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan dalam batas-batas perundang-undangan, sedangkan yang berhak membuat undang- undang adalah rakyat itu sendiri. Oleh karena undang-undang merupakan penjelmaan kemauan rakyat, maka rakyatlah yang memegang kekuasaan tertinggi

atau kedaulatan dalam negara tersebut. Diantara pemikir dan penulis mengenai kedaulatan rakyat, Rousseau yang paling populer. Ajarannya mendasarkan kekuasaan pada kehendak rakyat, jika

kekuasaan itu dijalankan oleh raja maka kekuasaan raja tersebut harus menurut atau sejalan dengan kehendak rakyat. Rousseau membedakan pengertian kehendak rakyat dalam: 7

a. Kehendak rakyat seluruhnya yang dinamakan Volente de Tous

b. Kehendak sebagian dari rakyat yang dinamakan Volente Generale.

7 Moh. Kusnadi dan Bintan saragih, Op. Cit., h. 124

21

Kehendak rakyat seluruhnya hanya dipergunakan rakyat seluruhnya hanya sekali saja, yaitu pada saat negara hendak dibentuk melalui perjanjian masyarakat. Kehendak rakyat sebagian melalui suara terbanyak diperlakukan setelah negara terbentuk atau sudah berdiri supaya negara bisa berjalan. Teori kedaulatan hukum lahir sebagai reaksi terhadap teori kedaulatan negara. Hugo Krabbe sebagai salah satu pengikut teori ini mengajarkan bahwa sumber dan ukuran bagi mengikatnya hukum adalah “perasaan dan kesadaran hukum rakyat”. Oleh karena itu yang mempunyai kekuasaan tertinggi dalam suatu negara adalah hukum itu sendiri. Penguasa, rakyat atau warga negara dan negara itu sendiri semuanya harus tunduk pada hukum.

3.2. Kedaulatan rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi.

Negara yang menempatkan kekuasaan tertinggi pada rakyat disebut dengan negara demokrasi, yang digambarkan sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Konsep ini juga mengilhami pemikiran para tokoh pejuang kemerdekaan jauh sebelum UUD 1945 dibuat. 8 Pada pidato lahirnya Pancasila, Soekarno 9 mengatakan: “Kalau kita mencari demokrasi, hendaknya bukan demokrasi Barat, tetapi permusyawaratan yang memberi hidup, yakni politiek-economische democratie yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial”. Pandangan seperti ini juga dikemukakan oleh Moh. Hatta dalam sambutannya pada konperensi Pamongpraja di Solo, bahwa “Kedaulatan rakyat kita meliputi kedua-duanya:

demokrasi politik dan demokrasi ekonomi”. 10 Dari apa yang dikemukakan oleh kedua proklamator tersebut dapat disimpulkan bahwa konsep demokrasi untuk Indonesia merdeka berbeda dengan konsep demokrasi yang berkembang di barat waktu itu. Demokrasi adalah sebuah istilah yang berasal dari dunia Barat untuk menggambarkan konsep kedaulatan rakyat. Akan tetapi penggunaan istilah yang sama dalam dunia yang berbeda pastilah juga ada perbedaan. Konsep demokrasi yang merupakan padanan dari konsep kerakyatan dalam konsep keindonesiaan, mempunyai corak yang tersendiri dalam implementasinya. Kerakyatan adalah konsep yang mencoba untuk memberikan kedudukan yang seimbang antara kepentingan individual dan kepentingan kolektif dalam kehidupan dan pelaksanaan pemerintahan negara. Kedudukan individualitas rakyat yang tercermin dalam hak-hak mereka

8 Pemikiran ini bisa ditemukan dalam majalah tabloit “Daoelat Ra’jat” pada tanggal 20 September 1931 dengan komisi redaksi yang dipimpin oleh Mohammad Hatta, Sutan Syahrir dan Suparman; majalah “Fikiran Ra’jat” sebuah majalah politik populer yang dipimpin oleh Soekarno.

9 Muhammad Yamin, Naskah Persiapan Undang-Undang dasar 1945, Yayasan Prapantja, Jilid I, Jakarta,

1976, h. 76

10 Moh. Hatta, Kedaulatan Rakyat, Usaha Nasional, Surabaya, 1980, h. 22.

22

untuk menentukan jalannya negara berhadapan dengan kedudukan kolektifitas yang tercermin dalam kekuasaan negara. Sejauh menyangkut pemikiran di lapangan ilmu hukum, sejak dulu telah dikembangkan tiga pilihan sikap di kalangan ahli mengenai soal ini. Pandangan pertama, nilai dan kepentingan individu disubordinasikan di bawah kolektifitas. Pandangan kedua, nilai dan kepentingan kolektifitas ditundukkan di bawah individu. Pandangan ketiga adalah percobaan untuk mengakomodasikan “klaim” kedua nilai dan kepentingan itu dalam satu harmoni. Menurut Soepomo paham liberal yang individualistis maupun paham komunis yang didasarkan atas teori kelas, sama-sama tidak cocok untuk Indonesia. 11 Sebaliknya paham yang cocok adalah seperti yang diterapkan di Jerman dan Jepang. Paham kenegaraan yang dianut Jepang dan Jerman (pada waktu itu), terdapat persatuan yang erat antara pimpinan dan rakyat. Hubungan antara rakyat dengan pemerintah diikat oleh tali kekeluargaan, atau setidak-tidaknya hubungan itu dipersepsikan sebagai hubungan yang bersifat kekeluargaan dan gotong royong, tanpa konflik satu sama lain. Di dalam suasana demikian, semua tokoh pergerakan bersikap sangat anti Barat, semangat yang mewarnai pemikiran mengenai kenegaraan adalah pemikiran anti individualisme-liberalisme yang diidentikkan dengan kolonialis-me-imperialisme. Jerman dan terutama Jepang ketika itu menjadi semacam simbol anti imperialisme di kalangan tokoh pergerakan. 12

3.3. Kedaulatan rakyat dan kewajiban rakyat.

Sebelum terbentuknya negara maka semua persoalan yang menyangkut diri seseorang merupakan tanggungjawab masing-masing orang. Akan tetapi setelah negara terbentuk dan masyarakat telah menyerahkan sebagian haknya termasuk hak untuk bisa hidup sejahtera sudah harus dilaksanakan dan diusahakan oleh negara.

Setiap hak sudah seharusnya berhadapan dengan kewajiban. Kewajiban utama dari setiap warga negara adalah menjaga dan mempertahankan eksistensi negara yang telah dibentuknya termasuk membiayai negara dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Dalam sejarahnya, pada masa negara kota terbentuk di yunani jauh sebelum masehi, kebutuhan dana untuk membiayai pemerintahan negara dicukupi oleh sumbangan yang diberikan secara sukarela oleh warga. Mekanisme pemberian sumbangan warga dilakukan dengan menggantungkan kantong uang (fisc) di depan kantor pemerintahan dan setiap orang yang lewat yang kebetulan ada kelebihan

11 Pidato Soepomo dalam sidang BPUPKI tanggal 31 Mei 1945, dalam Muhammad Yamin, Konstituante Indonesia dalam Gelangang Demokrasi, Jakarta, Djambatan, 1956, h.110-111. 12 Ibid, h. 294-295.

23

uang, mereka memasukkan uang tersebut ke dalam kantong yang telah disediakan untuk itu. Perkembangan selanjutnya, urusan pemerintah negara semakin kompleks, budaya rationalisme dan materialisme telah menyebabkan orang semakin berhitung dengan hartanya sehingga telah mengikis solidaritas sosial untuk membiayai kebutuhan negara. Oleh karena itu konsep sumbangan secara sukarela untuk membiayai kebutuhan keuangan negara tidak dapat lagi dipertahankan. Di sisi lain, perkembangan pemikiran tentang kekuasaan negara juga telah berkembang sedemikian rupa yang telah melahirkan konsep mengenai pembiayaan negara dari konsep sukarela bergeser menjadi konsep kewajiban. Berbagai konsep tentang kekuasaan dalam negara melahirkan berbagai teori bagaimana seharusnya kebutuhan biaya negara dipenuhi. Konsep kerakyatan atau demokrasi, dimana pemerintahan negara ini dilakukan untuk rakyat dan dilaksanakan oleh rakyat itu sendiri, maka sebagai konsekuen-sinya adalah bahwa segala kebutuhan negara hakikatnya adalah kebutuhan rakyat. Oleh karena kebutuhan negara adalah kebutuhan rakyat maka segala sesuatu yang menyangkut pemerintahan termasuk kebutuhan dana operasionalnya harus dipenuhi oleh rakyat itu sendiri. Persoalan yang kemudian muncul adalah bagaimana menemukan keseimbangan antara kebutuhan keuangan untuk membiayai operasionalisasi pemerintahan dengan kewajiban negara untuk menciptakan kehidupan yang mensejahterakan. Persoalan mendasar ini telah melahirkan berbagai teori dan konsep serta mekanisme pemenuhan kebutuhan tersebut harus dibangun. Setiap negara mempunyai cara pandang masing-masing sehingga sistem dan mekanisme yang mereka bangun ditentukan oleh nilai dan paradigma rakyat itu sendiri.

3.4. Kewajiban Pajak dalam konsep pancasila.

Budaya bangsa Indonesia yang kemudian diangkat menjadi dasar dan falsafah negara adalah budaya gotong royong. Bung Karno sebagai penggagas ide pancasila mengatakan bahwa hakikat pancasila adalah gotong royong yang beliau sebut dengan eka sila. Budaya gotong royong yang kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam sila kemanusiaan, sila persatuan, sila kerakyatan dan sila keadilan sosial merupakan nilai yang harus dipakai sebagai paradigma dalam kehidupan bernegara. Negara sebagai organisasi kekuasaan yang dilaksanakan dengan cara yang demokratis, tidaklah sama dengan konsep demokrasi yang ada di dunia Barat yang

individualis/liberalis. Demokrasi dalam nilai gotong royong diterjemahkan sebagai

24

kerakyatan atau segala sesuatu yang berkenaan dengan rakyat. Negara dibentuk untuk melindungi rakyat, memelihara kehidupan rakyat, berdasarkan nilai ketuhanan, kemanusiaan dan keadilan. Gotong royong dalam kehidupan ekonomi dirumuskan sebagai usaha bersama yang menggambarkan bahwa negara tidak boleh berpihak pada satu golongan yang umumnya adalah golongan yang kuat. Negara harus menjaga keseimbangan kepentingan dari berbagai elemen kekuatan ekonomi masyarakat sehingga semuanya mempunyai kesempatan yang sama sesuai dengan kekuatan masing-masing. Sebagai imbal baliknya adalah bahwa setiap pihak yang memperoleh kenikmatan dari keberadaan negara ini sudah seharusnya menyisihkan sebagian kenikmatan tersebut untuk kepentingan bersama. Kewajiban seseorang selalu dikaitkan dengan dengan hak yang diperolehnya, atau dengan kata lain setiap perolehan hak terkandung kewajiban yang harus dipenuhinya. Hak setiap orang ini bisa diwujudkan karena adanya negara yang memungkinkan seseorang dapat memiliki hak-hak kebendaan dan hak-hak lainnya serta dapat melakukan transaksi untuk memenuhi kebutuhan dan keinginnannya. Kewajiban yang timbul karena adanya hak ini bukan hanya terhadap pihak lawan dalam transaksi akan tetapi juga kewajiban terhadap sistem yang memungkinkan terlaksananya transaksi tersebut yaitu negara. Kewajiban terhadap negara merupakan kewajiban azasi setiap warga negara. Kewajiban azasi yang timbul dan bersumber dari nilai bahwa setiap kenikmatan yang bisa diperoleh seseorang dari kehidupan bernegara ini adalah harus membagikan sebagian kenikmatan tersebut untuk warga negara yang lainnya. Bagaimana bentuk berbaginya ini yang kemudian melahirkan teori pajak. Oleh karena itu dalam konsep kenegaraan, pajak merupakan kewajiban azasi dari setiap warga negara.

4. Kewenangan Negara untuk Memungut Pajak.

Persoalan keadilan dalam pemungutan pajak bukan saja berkisar bagaimana pajak dipungut dengan seadil-adilnya, akan tetapi masuk juga pada permasalahan kewenangan negara untuk memungut pajak. Dengan kata lain adalah apakah adil negara memungut pajak terhadap warga negaranya? Berbagai teori telah diajukan oleh para ahli untuk menjawab pertanyaan ini. Berikut ini disampaikan teori-teori yang mencoba menjawab persoalan keadilan/ kewenangan negara dalam memungut pajak.

25

a. Teori asuransi.

Teori ini tergolong teori yang tertua. Teori ini mengandaikan pajak sebagai premi yang dibayar oleh setiap orang karena mendapatkan perlindungan atas hak- haknya dari pemerintah. Negara (pemerintah) mempunyai tugas untuk melindungi kepentingan warga negara, dan warga negara berkepentingan atas tugas dan fungsi negara tersebut. Oleh karena itu sudah adil jika negara memungut pajak seperti juga perusahaan asuransi memungut premi. Teori ini kurang mendapatkan dukungan karena berbagai keberatan yang bisa diajukan. Diantaranya adalah bahwa dalam kenyataannya negara berbeda dengan perusahaan asuransi. Jika seorang nasabah asuransi menderita kerugian sebagaimana diperjanjikan maka ia akan mendapatkan gati rugi dari perusahaan asuransi. Sedangkan negara tidak pernah memberikan ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh warga negara. Sebagai misal: negara tidak pernah memberikan ganti rugi karena meninggalnya seseorang, terbakarnya harta benda seseorang atau hilangnya barang seseorang dan sebagainya. Demikian pula antara pajak dengan kepentingan yang dilindungi oleh negara tidak ada hubungan langsung seperti halnya antara premi

dan perlindungan yang diberikan oleh perusahaan asuransi.

b. Teori Kepentingan.

Teori ini bertitik tolak pada pembagian beban pajak pada masyarakat. Masyarakat berkepentingan terhadap tugas dan fungsi negara (manfaat baginya). Oleh karena itu sudah sewajarnya kalau masyarakat menanggung biaya-biaya yang diperlukan untuk penyelenggaraan tugas fungsi negara. Berapa beban yang harus ditanggung oleh masing-masing, tergantung pada besar kecilnya kepentingan masing- masing terhadap tugas dan fungsi negara tersebut. Semakin besar kepentingan maka semakin besar pula beban pajak yang harus ditanggung oleh masing-masing individu tersebut. Terhadap teori inipun banyak yang mengajukan keberatan, karena ajaran ini mencampur adukkan pengertian retribusi dengan pengertian pajak. Padahal dalam kenyataannya banyak sekali orang yang besar kepentingannya akan tugas negara tetapi justru mereka ini tidak dipungut pajak. Misalnya mungkin sekali si miskin mempunyai kepentingan besar untuk bidang-bidang tertentu seperti: jaminan sosial, jaminan kesehatan, pendidikan dan sebagainya. Sehingga konsekwensinya mereka seharusnya membayar pajak yang banyak pula. Akan tetapi dalam kenyataannya justru banyak dari mereka yang justru dibebaskan dari kewajiban pajak.

26

Keberatan lain yang diajukan adalah bahwa sampai saat ini belum diketemukan ukuran yang pasti mengenai besar kecilnya kepentingan seseorang terhadap tugas dan fungsi negara. Sehingga sukar sekali untuk menentukan bahwa seseorang punya kepentingan yang besar sehingga harus membayar pajak yang besar. Demikian juga sebaliknya menentukan bahwa seseorang mempunyai kepentingan yang sedikit, sehingga harus dikenakan pajak yang kecil pula. Karena keberatan-keberatan yang diajukan ini maka semakin lama, pendukung teori ini semain berkurang. Dengan demikian semakin lama semakin sedikit yang berusaha untuk mempertahankan teori ini karena kesulitan menemukan indikator dan ketidak-sesuaiannya dengan kenyataan.

c. Teori Gaya-pikul.

Teori ini mempunyai titik tolak pemikiran yang sama dengan teori kepentingan yaitu bahwa dasar keadilan negara untuk memungut pajak adalah terletak pada jasa negara yang diberikan kepada warga negara/masyarakatnya. Untuk keperluan itu diperlukan biaya yang harus dipikul oleh warga negara (setiap orang yang menikmati perlindungan). Perbedaannya terletak pada konsep keadilannya yang bersumber pada tekanan pajak yang sama. Dengan demikian pemungutan pajak yang dilakukan oleh negara adalah adil manakala sesuai dengan “gayapikul” wajib pajak. Teori ini masih banyak dipertahankan oleh para sarjana terkemuka. Akan tetapi dalam detail mengenai konsep “gaya-pikul” masih dijumpai perbedaan paham bahkan mungkin banyak menimbulkan salah paham. Masalah utamanya terletak pada tidak terukurnya gaya-pikul. Gaya-pikul tidak dapat diukur secara pasti karena selalu berubah sesuai dengan perubahan jaman. Pemungutan yang berdasarkan gaya-pikul menyatakan keharusan adanya hubungan tertentu antara jumlah pajak yang harus dipungut dengan besarnya gaya-pikul sedemikian rupa sehingga memuaskan rasa keadilan. Dr. MR. J.H.R. Sinninghe Damste’ (Dirjen Pajak Negeri Belanda dan pernah menjabat anggota Mahkamah Agung di Nederland) mengajarkan bahwa gaya-pikul adalah akibat dari bermacam-macam komponen, terutama pendapatan, kekayaan dan susunan dari keluarga wajib pajak dengan mengingat faktor-faktor yang mempengaruhi keadaannya. Prof. W.J. de Langen (1954) dalam bukunya “De Grondbeginselen van het Ned. Belastingrecht” memberikan definisi mengenai gaya pikul adalah besarnya kekuatan

seseorang untuk dapat mencapai pemuasan-kebutuhan setinggi-tingginya, setelah

27

dikura-ngi dengan yang mutlak untuk kebutuhannya yang primer. Dengan demikian gaya pikul itu adalah kekuatan untuk membayar uang kepada negara, jadi untuk membayar pajak, setelah dikurangi dengan minimum kehidupan. Faktor yang diperhatikan untuk menentukan gaya-pikul seseorang selain penghasilan dan kekayaan juga faktor tanggungan keluarga. Selanjutnya de Langen menjelaskan bahwa azas gaya-pikul bertujuan untuk menjelmakan cita-cita untuk mendapatkan tekanan yang sama atas individu, seimbang dengan luasnya pemuasan kebutuhan yang dapat dicapai seseorang, dalam hal ini pemuasan kebutuhan yang diperlukan untuk kehidupan yang mutlak harus diabaikan, dan “sisa”nya inilah yang disamakan dengan gayapikul. Ir. Mr. A.J. Cohen Stuart dalam disertasinya menganalo-gikan gayapikul dengan sebuah jembatan, yang pertama-tama jembatan tersebut harus dapat memikul bobotnya sendiri sebelum dicoba untuk dibebani. Saran yang diajukan adalah bahwa hak manusia yang pertama kali adalah hak untuk hidup. Maka hak pertama bagi setiap manusia dinamakan hak azas “minimum kehidupan”. Dengan demikian kekuatan untuk menyerahkan uang kepada negara barulah ada, jika kebutuhan- kebutuhan primer untuk hidup telah tersedia. Perkembangan pemikiran selanjutnya setelah tahun 1919 pengertian gaya-pikul ini dimasuki dengan konsep azas perolehan utama dan azas kenikmatan. Yang dimaksud dengan azas perolehan utama berkaitan dengan hak utama dalam memperoleh waris. Sedangkan azas kenikmatan ialah azas bahwa pajak dipungut seimbang dengan jasa-jasa pemerintah yang telah dinikmati oleh orang masing- masing seperti yang diajarkan oleh teori kepentingan.

d. Teori Kewajiban Pajak Mutlak (teori bakti).

Teori ini bertitik tolak dari paham “kedaulatan negara”. Dalam paham “Organische Staatleer” yang mengajarkan bahwa dalam negara, orang-orang tidaklah berdiri sendiri, tanpa negara maka sesungguhnya tidak ada individu. Oleh

karenanya negara, karena sifatnya, mempunyai hak mutlak untuk memungut pajak. Sejak berabad-abad orang menginsyafi pajak sebagai kewajiban asli untuk membuktikan tanda baktinya terhadap negara.

Dr. W.H. van den Berge dalam bukunya “Beginselen van de Belastingheffing

mengajarkan bahwa Negara sebagai organisasi dari golongan (groepsverband) dengan

memperhatikan syarat-syarat keadilan, bertugas untuk menyelenggarakan kepentingan umum dan karenanya dapat dan harus mengambil semua tindakan-

28

tindakan yang dianggap penting diperlukan dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsinya, termasuk juga tindakan-tindakan dalam lapangan pajak.

e. Teori Azas gaya Beli.

Teori ini termasuk teori yang modern. Teori ini tidak mempersoalkan asal mula negara memungut pajak, akan tetapi melihat pada dampak (effect) dari pemungutan pajak itu sendiri, dan menggunakan dampak ini sebagai dasar keadilan negara memungut pajak. Secara fungsional, teori ini mengandaikan pajak sebagai “pompa” yang memompa/mengambil gaya-beli dari rumah tangga dalam masyarakat untuk dialirkan ke rumah tangga negara dan kemudian dari rumah tangga negara (Kas Negara) menyalurkan kembali ke masyarakat dengan maksud untuk memelihara hidup dan kehidupan masyarakat serta untuk membawanya ke arah tertentu. Penyelenggaraan kepentingan masyarakat (bukan kepentingan individu dan juga bukan kepentingan negara) dapat dianggap sebagai dasar keadilan pemungutan pajak. Menurut Prof. Adriani sebagai salah seorang pendukung teori ini, bahwa teori ini akan berlaku sepanjang jaman, baik dalam tatanan ekonomi bebas, ekonomi terpimpin, bahkan juga dalam ekonomi sosialistis walaupun masih dijumpai berbagai variasinya. Selanjutnya dijelaskan bahwa banyak aliran yang tidak setuju dengan teori-teori yang memberi dasar keadilan kepada hak negara untuk memungut pajak. Umumnya mereka menyandarkan pada pertimbangan praktis. Hanya dalam hal-hal tertentu jika diperlukan mereka akan merujuk pada sejarah atau mencarikan dasar keadilan bagi pemungutan suatu pajak tertentu.

29