Anda di halaman 1dari 31

Perbaikan Pembelajaran Mendeskripsikan Hubungan antara Gaya,

Gerak dan Energi Melalui Percobaan dengan Pendekatan Kontekstual


Fokus Inkuiri Terbimbing (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas V
SDN Panorama, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, Semester 2 Tahun
Pelajaran 2013-2014)

SADIAH RAHMAWATI
NIM. 819536062
sadiahrahmawati062@yahoo.co.id
ABSTRAK

Fenomena yang terjadi di SD Negeri Panorama, Kecamatan Cidaun, Kabupaten


Cianjur menunjukkan kenyataan bahwa proses KBM berjalan secara teoretis dan
tidak terkait dengan lingkungan nyata tempat siswa berada. Padahal kondisi
lingkungan sekolah sangat memungkinkan untuk diadakannya kegiatan
praktikum, yang dalam pelaksanaannya tidak harus di dalam laboratorium. Pada
prapenelitian, rata-rata nilai perolehan siswa mecnapai 58,00 dengan nilai
tertinggi 87,5 dan nilai terendah sebesar 31,25. Jumlah siswa yang mencapai
ketuntasan belajar hanya 6 orang dari 25 siswa, atau sebanyak 24%,
Penelitian perbaikan pembelajaran ini bertujuan untuk mendeskripsikan
pembelajaran kontekstual dengan fokus inkuiri terbimbing dalam memperbaiki
prestasi belajar mendeskripsikan hubungan antara gaya, gerak dan energi melalui
percobaan (gaya gravitasi, gaya gesek, gaya magnet) pada siswa kelas VI SDN
Panorama, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur Semester 2 Tahun Pelajaran
2013-2014.
Penelitian perbaikan pembelajaran ini dilaksanakan di SD Negeri Panorama yang
beralamat di Kp. Panorama RT 03/RW 01, Desa Karanwangi, Kecamatan Cidaun,
Kabupaten Cianjur pada Selasa tanggal 11 Februari 2014 dan Selasa tanggal 18
Februari 2014. Penelitian dilakukan dalam dua siklus yang masing-masing terdiri
atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I baru mencapai ketuntasan 56%
(14 orang tuntas dari 25 siswa). Setelah perbaikan, target ketuntasan dapat dicapai
sebanyak 100% dengan rata-rata nilai perolehan 83,73 serta nilai tertinggi sebesar
95,56 dan nilai terendah 73,33.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penerapan pembelajaran kontekstual
fokus inkuiri efektif meningkatkan hasil belajar IPA kompetensi dasar
mendeskripsikan hubungan antara gaya, gerak dan energi melalui percobaan (gaya
gravitasi, gaya gesek, gaya magnet) pada siswa kelas V SD Negeri Panorama,
Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur semester 2 tahun pelajaran 2013-2014.
Kata kunci: pembelajaran kontekstual, inkuiri terbimbing, gaya magnet

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kualitas pembelajaran Sains di sekolah dipengaruhi oleh kegiatan


proses belajar mengajar guru di kelas. Guru terutama guru sains perlu
mengetahui berbagai cara, model, pendekatan, metode serta teknik
pembelajaran yang dapat menjadikan siswa lebih tertarik dan menyenangkan.
Guru di sekolah saat ini bukan berpikir lagi bagaimana mengajar, akan tetapi
bagaimana cara siswa belajar. Pembelajaran berubah dari guru mengajar,
menjadi siswa aktif belajar.
Kenyataan yang ditemui di lapangan, banyak guru menggunakan
pembelajaran konvensional (ceramah). Siswa hanya mendengar dan mencatat.
Alasan menggunakan pembelajaran konvensional yang dikemukakan oleh
beberapa sumber informasi (guru) antara lain: terbenturnya oleh waktu tatap
muka di kelas, kesulitan untuk menyusun bahan pelajaran yang menggunakan
pendekatan yang menarik, sarana dan prasarana yang kurang mendukung.
Alasan tersebut menjadikan guru lebih memilih metode ceramah daripada
metode lain.
Pada pengamatan sehari-hari di SD Negeri Panorama, Kecamatan
Cidaun, Kabupaten Cianjur menunjukkan kenyataan bahwa proses KBM
berjalan secara teoretis dan tidak terkait dengan lingkungan nyata tempat
siswa berada. Padahal kondisi lingkungan sekolah sangat memungkinkan
untuk diadakannya kegiatan praktikum, yang dalam pelaksanaannya tidak
harus di dalam laboratorium. Dengan demikian, siswa hanya dapat
membayangkan objek yang sedang dipelajarinya secara abstrak. Pada
gilirannya minat dan motivasi serta keaktifan siswa menurun. Hal ini dapat
dilihat dari hasil belajar siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar baik
secara individu maupun secara klasikal.
Hasil pembelajaran pada kegiatan prapenelitian menunjukkan hal-hal
sebagai berikut.

2
1. Rata-rata nilai perolehan siswa mecnapai 58,00 dengan nilai tertinggi 87,5
dan nilai terendah sebesar 31,25.
2. Jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar hanya 6 orang dari 25
siswa, atau sebanyak 24%, sedangkan 19 siswa lainnya belum menca[ai
ketuntasan.
Berdasarkan permasalahan yang diuraikan di atas, maka teridentifikasi
beberapa permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut.
1. Rendahnya aktivitas (keterlibatan) siswa dalam kegiatan belajar
mengajar. Hal ini dapat ditunjukkan dengan sikap tidak mau menjawab
dan tidak mau bertanya bila diberikan soal oleh guru.
2. Kurangnya keaktifan siswa di dalam kelas karena secara umum
siswa beranggapan bahwa pelajaran IPA itu sulit dan membosankan
sehingga sejak awal tidak ada minat dan motivasi untuk belajar IPA
3. Kurangnya minat mengerjakan soal-soal pada diri siswa. Hal ini
dapat ditunjukkan dengan adanya siswa yang tidak mau mengerjakan
pekerjaan rumah.
4. Proses kegiatan belajar mengajar yang tidak dilaksanakan
sebagaimana mestinya. Hal ini ditunjukkan dengan adanya siswa yang
mengerjakan soal di kelas, guru tidak/kurang mengadakan pendekatan
pada siswa yang mengalami kesulitan.
5. Rendahnya tingkat ekonomi, sehingga tidak menunjang
pendidikan. Hal ini dapat ditunjukkan dengan sedikit siswa yang
mempunyai buku pegangan selain dari sekolah ataupun LKS.
Permasalahan yang teridentifikasi di atas merupakan permasalahan
klasik dalam pembelajaran IPA di sekolah dasar. Oleh karena itu, diperlukan
cara pemecahan permasalahan tersebut sehingga siswa dapat melaksanakan
kegiatan belajar dengan baik dan menyenangkan serta memperoleh tingkat
keberhasilan yang memuaskan.
Fakta yang terjadi di kelas V SD Negeri Panorama, Kecamatan
Cidaun, Kabupaten Cianjur semester 2 tahun pelajaran 2013-2014 me-
nunjukkan adanya kecenderungan tersebut sehingga diperlukan pengelolaan

3
pembelajaran yang dapat melibatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran.
Penggunaan pembelajaran kontekstual (CTL) pada kompetensi dasar tertentu
diperkirakan akan mampu meningkatkan motivasi belajar siswa serta dapat
melibat-kan aktivitas siswa. Pembelajaran kontekstual IPA ini dilaksanakan
dengan tetap mempertahankan karakteristik pembelajaran kontekstual.
Hakekat pembelajaran kontekstual ini adalah pembelajaran yang
menekankan aspek-aspek REACT, yaitu aspek mengaitkan (relating), aspek
mengalami (experiencing), aspek menerapkan teori pada situasi tertentu
(applying), aspek kerja sama (cooperating), dan aspek perolehan pengetahuan
baru (tranferring). Aspek-aspek tersebut aspek-aspek pokok pada
pembelajaran IPA sebagai proses. Sehingga dengan pendekatan CTL siswa
dapat mengamati sendiri, merasakan, memegang suatu obyek, bekerja
menggunakan alat dan bahan, yang pada akhirnya akan memudahkan siswa
untuk mengingat materi pelajaran yang telah dipelajarinya.
Oleh karena itu, penelitian perbaikan pembelajaran ini dilakukan
dengan mengambil judul ”Perbaikan Pembelajaran Mendeskripsikan
Hubungan antara Gaya, Gerak dan Energi Melalui Percobaan dengan
Pendekatan Kontekstual Fokus Inkuiri Terbimbing (Penelitian Tindakan Kelas
pada Siswa Kelas V SDN Panorama, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur,
Semester 2 Tahun Pelajaran 2013-2014)”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah dan analisis masalah di atas, rumusan


masalah dalam penelitian perbaikan pembelajaran ini adalah sebagai berikut.

”Apakah penerapan pembelajaran kontekstual dengan fokus inkuiri


terbimbing dapat memperbaiki prestasi belajar mendeskripsikan hubungan
antara gaya, gerak dan energi melalui percobaan (gaya gravitasi, gaya gesek,
gaya magnet) pada siswa kelas VI SDN Panorama, Kecamatan Cidaun,
Kabupaten Cianjur Semester 2 Tahun Pelajaran 2013-2014?”

4
C. Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk
mendeskripsikan penerapan pembelajaran kontekstual dengan fokus inkuiri
terbimbing dalam memperbaiki prestasi belajar mendeskripsikan hubungan
antara gaya, gerak dan energi melalui percobaan (gaya gravitasi, gaya gesek,
gaya magnet) pada siswa kelas VI SDN Panorama, Kecamatan Cidaun,
Kabupaten Cianjur Semester 2 Tahun Pelajaran 2013-2014.

D. Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran


Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagi siswa
a) Siswa menjadi senang dan tertarik terhadap IPA karena siswa
dilibatkan secara aktif dalam pembelajaran.
b) Siswa yang mengalami kesulitan dalam mempelajari materi sub pokok
bahasan mendeskripsikan hubungan antara gaya, gerak dan energi
melalui percobaan (gaya gravitasi, gaya gesek, gaya magnet) akan
lebih cepat faham.
2. Bagi guru/peneliti
a) Guru dapat memilih model pembelajaran yang efektif pada kompetensi
dasar mendeskripsikan hubungan antara gaya, gerak dan energi melalui
percobaan (gaya gravitasi, gaya gesek, gaya magnet).
b) Sebagai motivasi untuk meningkatkan keterampilan memilih strategi
pembelajaran yang bervariasi dan dapat memperbaiki sistem
pembelajaran sehingga memberikan layanan yang terbaik bagi siswa.
3. Bagi lembaga/mahasiswa lain
Dapat mempelajari lebih dalam model pembelajaran Inkuiri Terbimbing
dengan pendekatan pembelajaran kontekstual serta mendapat pengalaman
dan pengetahuan dalam melakukan penelitian.

5
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teoretis
1. Teori Belajar
Gagne (Anni, 2004: 2), menyatakan bahwa belajar merupakan
perubahan disposisi atau kecakapan manusia yang berlangsung selama
periode tertentu, dan perubahan perilaku itu tidak berasal dari proses
pertumbuhan. Sedangkan pengertian belajar menurut Fontana (Suherman,
2001:8) adalah perubahan tingkah laku individu yang relatif tetap sebagai
hasil pengalaman.
Menurut Gagne (Anni, 2005: 3) belajar merupakan sebuah sistem
yang di dalamnya terdapat berbagai unsur yang saling kait-mengkait
sehingga menghasilkan perubahan perilaku. Beberapa unsur yang di
maksud adalah sebagai berikut.
a. Pembelajar
Pembelajar dapat berupa siswa, pembelajar, warga belajar, dan peserta
pelatihan. Pembelajar memiliki organ penginderaan yang digunakan
untuk menangkap rangsangan; otak yang digunakan untuk
mentransformasikan hasil penginderaannya ke dalam memori yang
kompleks; dan syaraf atau otot yang digunakan untuk menampilkan
kinerja yang menunjukkkan hal-hal yang telah dipelajari.
b. Rangsangan (stimulus).
Peristiwa yang merangsang penginderaan pembelajar disebut situasi
stimulus. Suara, sinar, warna, panas, dingin, tanaman, gedung, dan
orang adalah stimulus yang selalu berada di lingkungan seseorang.
c. Memori.
Memori pembelajar berisi berbagai kemampuan yang berupa
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dihasilkan dari aktivitas
belajar sebelumnya.

6
d. Respon.
Tindakan yang dihasilkan dari aktualisasi memori disebut respon.
Pembelajar yang sedang mengamati stimulus, maka memori yang ada
di dalam dirinya kemudian memberikan respon terhadap stimulus
tersebut. Respon dalam pembelajaran diamati pada akhir proses belajar
yang disebut perubahan perilaku.
Pembelajaran adalah seperangkat peristiwa yang mempengaruhi
siswa sedemikian rupa sehingga siswa itu memperoleh kemudahan dalam
berinteraksi berikutnya dengan lingkungan (Sugandi, 2004: 9), sedangkan
menurut Fontana (Suherman, 2001: 8) pembelajaran merupakan upaya
penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh
dan berkembang secara optimal. Dengan demikian proses belajar bersifat
internal dan unik dalam diri individu siswa, sedang proses pembelajaran
bersifat eksternal yang sengaja direncanakan dan bersifat rekayasa
perilaku.

2. Hasil Belajar
Hasil belajar Menurut Sudjana (Fitriana, 1990: 22) adalah ke-
mampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.
Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu
faktor dari dalam diri siswa dan faktor yang datang dari luar diri siswa.
Oleh karena itu apabila siswa mempelajari pengetahuan tentang konsep,
maka kemampuan yang diperoleh adalah berupa penguasaan konsep.
Proses belajar yang dialami oleh siswa menghasilkan perubahan-
perubahan dalam bidang pengetahuan, dalam bidang keterampilan, dalam
bidang nilai dan sikap. Adanya perubahan itu tampak dalam hasil belajar
yang dihasilkan oleh siswa terhadap pertanyaan atau persoalan tugas yang
diberikan oleh guru. Hasil ini berbeda sifatnya, tergantung di dalamnya
siswa memberikan prestasi misalnya dalam bidang pemahaman atau
pengetahuan yang merupakan unsur kognitif. Seperti kita ketahui bersama

7
bahwa pendidikan mengandung 3 unsur yaitu unsur afektif, kognitif, dan
psikomotorik. Namun tidak semua perubahan merupakan hasil belajar.
Perubahan itu akan merupakan hasil belajar bila memiliki ciri-ciri
berikut.
a. Perubahan terjadi secara sadar, artinya seseorang yang belajar akan
menyadari adanya suatu perubahan.
b. Perubahan bersifat berkesinambungan dan fungsional.
c. Perubahan bersifat positif dan aktif.
d. Perubahan yang terjadi bukan bersifat sementara.
e. Perubahan dalam belajar mempunyai tujuan dan arah tertentu.

Pada prinsipnya belajar adalah kegiatan yang dilakukan secara


sadar oleh seseorang yang menghasilkan perubahan tingkah laku pada
dirinya, baik dalam bentuk sikap dan nilai yang positif maupun
pengetahuan yang baru. Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini
adalah hasil belajar IPA pada aspek pemahaman konsep, penalaran dan
komunikasi, dan pemecahan masalah.

3. Tinjauan Tentang Hakikat Sains-Fisika


Pendidikan Sains menekankan pada pemberian pengalaman
langsung untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu
menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan Sains
diarahkan untuk “mencari tahu” dan “berbuat” sehingga dapat membantu
siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam
sekitar. Oleh karena itu, pendidikan Sains diterapkan dalam menyajikan
pembelajaran.
Sains adalah memadukan antara pengalaman proses Sains dan
pemahaman produk Sains dalam bentuk pengalaman langsung. Hal ini
juga sesuai dengan tingkat perkembangan mental siswa yang masih berada
pada fase transisi dari konkrit ke formal, akan sangat memudahkan siswa
jika pembelajaran Sains mengajak anak untuk belajar merumuskan konsep
secara induktif berdasar fakta-fakta empiris di lapangan.

8
Secara umum, hakikat Sains menurut model kontemporer adalah
sebagai berikut.
a. Sains adalah organisasi pengetahuan kita untuk membantu kita
mempelajari alam.
b. Sains adalah bagian dari kemajuan dan kreativitas manusia (Sains itu
berkembang).
c. Sains adalah sebuah pencarian untuk temuan-temuan (Sains adalah
sebuah proses).
d. Sains terdiri dari berbagai disiplin dan proses
e. Sains adalah upaya-upaya kompetitif.
f. Popularitas pengetahuan ilmiah berkait secara langsung dengan
prestise orang yang menemukan pengetahuan itu.
g. Kemudahan seorang ilmuwan menerima pengetahuan berkaitan secara
langsung dengan seberapa dekat paradigma ilmuwan (program
penelitian dll) dengan paradigma pengetahuan yung satu dengan yang
lainnya.

4. Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai
dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang
terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga
akan terasa manfaat dari materi yang akan disajikan, motivasi belajar
muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi
kondusif - nyaman dan menyenangkan. Prinsip pembelajaran kontekstual
adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya
menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi.
Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning /CTL)
merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi
yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerap-
annya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

9
Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi
siswa. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan
siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru
ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil
(Depdiknas, 2000:16).
Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa
mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan
strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai
sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru
bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan
sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang
dikelola dengan pendekatan kontekstual.
Johnson (2002: 165) mengemukakan ada tujuh indikator pembel-
ajaran kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya, yaitu
modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tuju-
an, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu, contoh), questioning (eksplorasi,
membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi,
inkuiri, generalisasi), learning community (seluruh siswa partisipatif dalam
belajar kelompok atau individual, minds-on, hands-on, mencoba, menger-
jakan), inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, generalisasi, menemu-
kan), constructivism (membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi
konsep-aturan, analisis-sintesis), reflection (review, rangkuman, tindak
lanjut), authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah
pembelajaran, penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa, penilaian
portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya dari berbagai aspek dengan
berbagai cara).
Kontekstual (contextual) berasal dari kata konteks (contex).
Konteks (contex) berarti “bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat
mendukung atau menmbah kejelasan makna; situasi yang ada
hubungannya dengan suatu kejadian“ (Depdiknas, 2001: 591). Kontekstual
(contextual) diartikan “sesuatu yang berhubungan dengan konteks”

10
(Depdiknas, 2001:591). Sesuai dengan pengertian konteks maupun
kontekstual tersebut, pembelajaran kontekstual (contextual learning) me-
rupakan sebuah pembelajaran yang dapat memberikan dukungan dan
penguatan pemahaman siswa dalam menyerap sejumlah materi pembel-
ajaran serta mampu memperoleh makna dari apa yang mereka pelajari dan
mampu menghubungkannya dengan kenyataan hidup sehari hari.
Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan
pemikiran tentang belajar sebagai berikut.

a. Proses belajar
 Belajar tidak hanya sekedar menghapal. Siswa harus meng-
konstruksi pengetahuan di benak mereka.
 Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola
bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh
guru.
 Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki sesorang itu
terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam
tentang sesuatu persoalan.
 Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau
proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang
dapat diterapkan.
 Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi
situasi baru.
 Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu
yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide.
 Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur
otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi
pengetahuan dan keterampilan sesorang.

b. Transfer Belajar
 Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang
lain.

11
 Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang
terbatas (sedikit demi sedikit)
 Penting bagi siswa tahu untuk apa dia belajar dan bagaimana ia
menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu

c. Siswa sebagai Pembelajar


 Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang
tertentu, dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk
belajar dengan cepat hal-hal baru.
 Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari
sesuatu yang baru. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi
belajar amat penting.
 Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara yang
baru dan yang sudah diketahui.
 Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberi
kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide
mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi
mereka sendiri.

d. Pentingnya Lingkungan Belajar


 Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat
pada siswa. Dari guru akting di depan kelas, siswa menonton ke
siswa akting bekerja dan berkarya, guru mengarahkan.
 Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa mengguna-
kan pengetahuan baru mereka. Strategi belajar lebih dipentingkan
dibandingkan hasilnya.
 Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses
penilaian yang benar.
 Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu
penting.
Sejalan dengan pengertian pembelajaran kontekstual sebagaimana
telah diuraikan di atas, keberhasilan pembelajaran kontekstual perlu

12
didukung oleh aspek-aspek lingkungan pembelajaran yang memadai. Hal-
hal yang berkaitan dengan masalah tersebut antara lain “ruang kelas,
laboratorium, laboratorium komputer, lapangan kerja, lingkungan sosial,
lingkungan budaya, lingkungan fisik, dan linmgkungan psikologis” (Gafur,
2003:2). Dengan memerhatikan hal-hal tersebut, pembelajaran kontekstual
mendorong para pendidik (guru) untuk memilih atau merancang lingkung-
an belajar yang melibatkan sebanyak mungkin pengalaman belajar secara
terpadu.
Ruang kelas atau juga disebut ruang teori, pada umumnya diguna-
kan sebagai tempat penyampaian dan pembahasan informasi, konsep serta
fakta-fakta yang berkaitan dengan pengalaman berpikir (pengetahuan).
Masih ada kebiasaan pembelajaran yang masih keliru yakni siswa
memperoleh pengalaman belajar dari kelas saja. Pembelajaran semacam
inilah yang membentuk siswa menjadi teoritis, yaitu mereka hanya
memahami ilmu pengetahuan dari sisi teori dan konsep. Dalam pembel-
ajaran kontekstual, ruang kelas merupakan bagian media pembelajaran.
Untuk membekali sisiwa agar mampu memperoleh makna dan meng-
hubungkan pengetahuan yang mereka terima di ruang kelas dengan
konteks lebih luas dan nyata, perlu didukung oleh media pembelajaran
yang lain.

Dalam pembelajaran kontekstual diharapkan siswa dapat menemu-


kan hubungan yang bermakna antara pemikiran yang abstrak dengan
penerapan praktis dalam konteks dunia nyata. Dalam pengalaman belajar
yang demikian, fakta, konsep, prinsip, dan prosedur sebagai materi
pelajaran yang diinternalisasikan melalui proses penemuan, penguatan,
keterkaitan dan keterpaduan (Forgarti, 1991, Mathews dan Cleary, 1993,
dalam Gafur, 2003 : 2).

Berdasarkan konsep di atas, pembelajaran kontekstual, akan mem-


bekali para siswa agar mereka memperoleh pengetahuan dan pengalaman
secara terpadu. Oleh sebab itu, melalui pembelajaran ini diharap

13
pengetahuan dan pengalaman siswa tidak hanya bersifat teoritis maupun
konseptual, tetapi lebih dari itu mereka mampu memaknainya dan
memanfaatkannya dengan cara menghubungkannya dalam kehidupan
nyata.

5. Tinjauan Tentang Inkuiri Terbimbing


Inkuiri berasal dari kata inquire yang berarti menanyakan, meminta
keterangan, atau penyelidikan, dan inkuiri berarti penyelidikan (Ahmadi,
1997:76). Siswa diprogramkan agar selalu aktif secara mental maupun
fisik. Materi yang disajikan guru bukan begitu saja diberikan dan diterima
oleh siswa, tetapi siswa diusahakan sedemikian rupa sehingga mereka
memperoleh berbagai pengalaman dalam rangka “menemukan sendiri”
konsep-konsep yang direncanakan oleh guru (Ahmadi, 1997: 79).
Inkuiri adalah suatu metode yang digunakan dalam pembelajaran
fisika dan mengacu pada suatu cara untuk mempertanyakan, mencari
pengetahuan, informasi atau mempelajari suatu gejala. Wayne Welch
berpendapat bahwa metode penyelidikan ilmiah sebagai proses inkuiri. Ia
juga mengidentifikasi lima sifat dari proses inkuiri, yaitu pengamatan,
pengukuran, eksperimentasi, komunikasi, dan proses-proses mental (Koes,
2003:12-13).
Dalam pembelajaran Sains dengan pembelajaran inkuiri, guru
harus membimbing siswa terutama siswa yang belum pernah mempunyai
pengalaman belajar dengan kegiatan-kegiatan inkuiri. Atas dasar kegiatan-
kegiatan yang dilaksanakan, W.R Romey (1968,h.22) membedakan inkuiri
menjadi dua tingkat, yaitu :
a. Inkuiri dengan aktivitas terstruktur. Dalam inkuiri dengan “Aktivitas
terstruktur” siswa memperoleh petunjuk-petunjuk lengkap yang
mengarahkan pada prosedur yang didesain untuk memperoleh sesuatu
konsep atau prinsip tertentu.
b. Inkuiri dengan aktivitas tidak terstruktur. Dalam inkuiri dengan
“Aktivitas Tidak Terstruktur”, hanya terdapat penyajian masalah, dan

14
siswa secara bebas memilih dan menggunakan prosedur-prosedur
masing-masing, menyusun data yang diperolehnya, menganalisisnya
dan kemudian menarik kesimpulan.
Sedangkan Carin dan Sund (h.111) berpendapat bahwa pembel-
ajaran model inkuiri mencakup inkuiri induktif terbimbing dan tak
terbimbing, inkuiri deduktif, dan pemecahan masalah. Di antara model-
model inkuiri yang lebih cocok untuk siswa siswa SMP adalah inkuiri
induktif terbimbing, dimana siswa terlibat aktif dalam pembelajaran
tentang konsep atau suatu gejala melalui pengamatan, pengukuran,
pengumpulan data untuk ditarik kesimpulan. Pada inkuiri induktif
terbimbing, guru tidak lagi berperan sebagai pemberi informasi dan siswa
sebagai penerima informasi, tetapi guru membuat rencana pembelajaran
atau langkah-langkah percobaan. Siswa melakukan percobaan atau
penyelidikan untuk menemukan konsep-konsep yang telah ditetapkan
guru.

Menurut Gulo (2002:86-87), peranan utama guru dalam mencipta-


kan kondisi pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut.

a. Motivator, yang memberikan rangsangan supaya siswa aktif dan gairah


berpikir.
b. Fasilitator, yang menunjukkan jalan keluar jika ada hambatan dalam
proses berpikir siswa.
c. Penanya, untuk menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka
perbuat dan memberikan keyakinan pada diri sendiri.
d. Administrator, yang bertanggungjawab terhadap seluruh kegiatan di
dalam kelas.
e. Pengarah, yang memimpin arus kegiatan berpikir siswa pada tujuan
yang diharapkan.
f. Manajer, yang mengelola sumber belajar, waktu, dan organisasi kelas.
g. Rewarder, yang memberi penghargaan pada prestasi yang dicapai
dalam rangka peningkatan semangat heuristik pada siswa.

15
6. Langkah-Langkah Pembelajaran Inkuiri

Menurut Memes (2000:42), ada enam langkah yang diperhatikan


dalam inkuiri terbimbing, yaitu :

a. Merumuskan masalah.
b. Membuat hipotesa.
c. Merencanakan kegiatan.
d. Melaksanakan kegiatan.
e. Mengumpulkan data.
f. Mengambil kesimpulan.

Enam langkah pada inkuiri terbimbing ini mempunyai peranan


yang sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Para siswa
akan berperan aktif melatih keberanian, berkomunikasi dan berusaha men-
dapatkan pengetahuannya sendiri untuk memecahkan masalah yang
dihadapi. Tugas guru adalah mempersiapkan skenario pembelajaran
sehingga pembelajarannya dapat berjalan dengan lancar.

7. Kelebihan dan Kekurangan Model Inkuiri Terbimbing


a. Kelebihan Inkuiri Terbimbing
Menurut Suryobroto (2002:201), ada beberapa kelebihan
pembelajaran inkuiri antara lain :
1) Membantu siswa mengembangkan atau memperbanyak
persediaan dan penguasaan keterampilan dan proses kognitif siswa.
2) Membangkitkan gairah pada siswa misalkan siswa
merasakan jerih payah penyelidikannya, menemukan keberhasilan
dan kadang-kadang kegagalan.
3) Memberi kesempatan pada siswa untuk bergerak maju
sesuai dengan kemampuan.
4) Membantu memperkuat pribadi siswa dengan
bertambahnya keper-cayaan pada diri sendiri melalui proses-proses
penemuan.

16
5) Siswa terlibat langsung dalam belajar sehingga
termotivasi untuk belajar.
6) Strategi ini berpusat pada anak, misalkan memberi
kesempatan kepada mereka dan guru berpartisipasi sebagai sesama
dalam mengecek ide. Guru menjadi teman belajar, terutama dalam
situasi penemuan yang jawabanya belum diketahui.

b. Kelemahan Inkuiri Terbimbing

Kelemahan inkuiri menurut Suryobroto (2002:201) adalah


sebagai berikut.
1) Dipersyaratkan keharusan ada persiapan mental
untuk cara belajar ini.
2) Pembelajaran ini kurang berhasil dalam kelas
besar, misalnya sebagian waktu hilang karena membantu siswa
menemukan teori-teori atau menemukan bagaimana ejaan dari
bentuk kata-kata tertentu.
3) Harapan yang ditumpahkan pada strategi ini
mungkin mengecewa-kan siswa yang sudah biasa dengan
perencanaan dan pembelajaran secara tradisional jika guru tidak
menguasai pembelajaran inkuiri.

B. Kerangka Berpikir

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam hendaknya didesain untuk dapat


memberikan kesempatan kepada siswa untuk menumbuhkembangkan ke-
mampuan mereka secara maksimal. Dengan semakin banyaknya media dan
sumber belajar (learning resources) yang dapat digunakan dalam pembelajar-
an IPA, siswa tidak berharap banyak dari guru. Siswa bisa diberi kemandirian
untuk belajar dengan memanfaatkan aneka sumber belajar tersebut. Dengan
demikian pembelajaran IPA menuntut keaktifan siswa sedangkan guru hanya
sebagai fasilitator untuk membantu siswa dalam pembelajaran.

17
Dalam pembelajaran kontekstual terdapat komponen learning
community (komunitas belajar), artinya siswa harus mampu untuk bekerja
sama dalam kelompok kecil yang heterogen, adanya ketergantungan positif
(saling membutuhkan), saling membantu, dan saling memberikan motivasi.
Pada saat belajar kooperatif sedang berlangsung, guru terus melakukan pe-
mantauan melalui obsevasi dan penekanan belajar tidak hanya pada
penyelesaian tugas tetapi juga hubungan interpersonal. Jadi pembelajaran
kooperatif menekankan pada kehadiran teman sebaya yang berinteraksi
dengan sesamanya. Model pembelajaran inkuiri terbimbing termasuk dalam
pembelajaran kooperatif sekaligus kontekstual.
Dalam model pembelajaran inkuiri terbimbing masing-masing anggota
dalam kelompok memiliki tugas yang setara. Siswa ditempatkan dalam
kelompok-kelompok kecil (4 sampai 5 siswa) yang heterogen untuk
menyelesaikan tugas kelompok yang sudah disiapkan oleh guru, selanjutnya
diikuti dengan pemberian bantuan secara individu bagi siswa yang memerlu-
kannya. Siswa yang pandai ikut bertanggung jawab membantu temannya yang
lemah dalam kelompoknya.
Berdasarkan uraian di atas diasumsikan bahwa penggunaan model
pembelajaran Inkuiri Terbimbing dapat diterapkan dalam kompetensi dasar
mendeskripsikan hubungan antara gaya, gerak dan energi melalui percobaan
(gaya gravitasi, gaya gesek, gaya magnet).

C. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka berpikir yang telah diuraikan di atas, dapat


dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut.

”Pembelajaran Kontekstual fokus inkuiri terbimbing dapat memperbaiki


prestasi belajar IPA pada kompetensi dasar mendeskripsikan hubungan antara
gaya, gerak dan energi melalui percobaan (gaya gravitasi, gaya gesek, gaya
magnet) pada siswa kelas V SDN Panorama, Kecamatan Cidaun, Kabupaten
Cianjur, Semester 2 Tahun Pelajaran 2013-2014.”

18
BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A. Subjek, Tempat, dan Waktu Penelitian


1. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Panorama,
Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, yang seluruhnya berjumlah 25
orang yang terdiri atas 13 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan.
Sebagaimana layaknya siswa yang berada di daerah, para siswa kelas V
SDN Panorama, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur berasal dari latar
belakang keluarga petani dengan latar belakang pendidikan orang tua yang
relatif terbatas. Dari 25 siswa kelas V tersebut, terdapat 7 siswa yang
memiliki tingkat kemampuan akademis di atas rata-rata dan 3 siswa yang
memiliki tingkat kemampuan akademis di bawah rata-rata.

2. Tempat Penelitian
Penelitian tentang ”Perbaikan Pembelajaran Mendeskripsikan
Hubungan antara Gaya, Gerak dan Energi Melalui Percobaan dengan
Pendekatan Kontekstual Fokus Inkuiri Terbimbing” ini dilaksanakan di
kelas V SDN Panorama, yang beralamat di Kp. Panorama RT 03/RW 01,
Desa Karanwangi, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, Kabupaten
Cianjur, pada semester 2 tahun pelajaran 2013-2014.

3. Waktu Penelitian
Penelitian ini berbentuk penelitian tindakan kelas yang dilaksana-
kan dalam tiga siklus pembelajaran. Masing-masing siklus tindakan
dilaksanakan sebagai berikut.

19
a. Siklus I dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 11 Februari 2014
ada jam pelajaran ke-5 dan ke-6. Pelaksanaan tindakan ini
didasarkan pada jadwal pelajaran yang berlaku.
b. Siklus II dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 18 Februari 2014
pada jam pelajaran ke-5 dan ke-6.

B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran

1. Merode Tindakan

Penelitian ini merupakan penelitian perbaikan pembelajaran dalam


bentuk penelitian tindakan kelas. Karena permasalahan yang dihadapi dialami
oleh guru/peneliti, maka solusinya dirancang berdasarkan kajian teori
pembelajaran dan input dari lapangan. Di samping itu, pelaksanaan tindakan
juga dilakukan oleh guru/peneliti. Adapun rancangan solusi yang dimaksud
adalah tindakan penerapan pembelajaran kontekstual fokus inkuiri terbimbing
dalam mengajarkan kompetensi dasar ”mendeskripsikan hubungan antara
gaya, gerak dan energi melalui percobaan (gaya gravitasi, gaya gesek, gaya
magnet)” di sekolah dasar.
Dalam menerapkan pendekatan pembelajaran tersebut digunakan
tindakan berulang/siklus dalam setiap pembelajaran, artinya cara menerapkan
pembelajaran kontekstual fokus inkuiri terbimbing pada pembelajaran
pertama, sama dengan yang diterapkan pada pembelajaran kedua,
pembelajaran ketiga, hanya refleksi terhadap setiap pembelajaran berbeda,
tergantung dari fakta dan interpretasi data yang ada atau situasi dan kondisi
yang dijumpai. Hal ini dilakukan agar diperoleh hasil yang maksimal
mengenai cara penggunaan pembelajaran kontekstual fokus inkuiri
terbimbing.

2. Prosedur Penelitian

Selanjutnya disain penelitian secara umum digambarkan seperti bagan


di bawah ini.

20
SIKLUS 1 SIKLUS 2
Keterangan :
P : Perencanaan T : Tindakan
O : Observasi E/R : Evaluasi / Refleksi

Siklus pembelajaran berikutnya dilakukan apabila hasil pembelajaran


tidak menunjukkan ketuntasan yang dipersyaratkan dalam KTSP.

C. Teknik Analisis Data

Secara keseluruhan pengolahan dan analisis data dari tiap-tiap pembel-


ajaran dalam penelitian ini menempuh langkah-langkah sebagai berikut.
(1) Prosedur pengolahan dan analisis data untuk
permasalahan pertama
Data yang diperlukan untuk permasalahan ini adalah data konsepsi awal
siswa mengenai ”mendeskripsikan hubungan antara gaya, gerak dan energi
melalui percobaan (gaya gravitasi, gaya gesek, gaya magnet)” yang
diperoleh melalui pembelajaran prapenelitian.
(2) Prosedur pengolahan dan analisis data untuk
permasalahan kedua
Data yang dibutuhkan untuk permasalahan ini adalah data tentang aktivitas
siswa yang menyimpang selama pembelajaran berlangsung. Prosedur
pengolahan dan analisisnya adalah; mula-mula data yang terjaring melalui
lembar observasi dibuat dalam satu bentuk tabulasi.
(3) Prosedur pengolahan dan analisis data untuk
permasalahan ketiga

21
Data yang diperlukan untuk permasalahan ini adalah data tentang konsepsi
siswa selama proses pembelajaran yang berupa hasil belajar kompetensi
dasar ”mendeskripsikan hubungan antara gaya, gerak dan energi melalui
percobaan (gaya gravitasi, gaya gesek, gaya magnet)”.
Prosedur pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan hal-hal
sebagai berikut.
1. Pengamatan yang dilakukan atas aktivitas siswa dalam
pembelajaran. Jika siswa melaksanakan pembelajaran dengan baik dan
terarahkan sesuai dengan rencana, maka proses pembelajaran dianggap
telah berjalan dengan baik. Sebaliknya jika para siswa ternyata tidak dapat
mengembangkan pembelajaran berdasarkan prosesdur pembelajaran yang
telah disampaikan melalui lembar kegiatan pembelajaran siswa (LKP),
maka pembelajaran dianggap tidak berhasil.
2. Hasil pembelajaran pada setiap fase yang diukur dengan ketuntasan
pembelajaran berdasarkan KKM (kriteria ketuntasan minimum) yang telah
direncanakan, yakni 70,00. Jika siswa memperoleh rata-rata nilai sama
dengan atau lebih besar daripada KKM, maka pembelajaran dianggap
berhasil. Sebaliknya, jika hasil pembelajaran yang diperoleh di bawah
KKM yang ditetapkan, maka pembelajaran telah gagal dan memerlukan
perbaikan strategi pembelajaran lebih lanjut.
3. Di samping pembandingan hasil belajar dengan nilai ketuntasan
belajar minimum pada KKM, dilakukan juga pembandingan dengan data
hasil pengungkapan pengetahuan awal siswa tentang ”mendeskripsikan
hubung-an antara gaya, gerak dan energi melalui percobaan (gaya
gravitasi, gaya gesek, gaya magnet)”. Apabila ternyata hasil pembelajaran
lebih besar rata-ratanya daripada rata-rata pengetahuan awal siswa, maka
perlakuan pembelajaran dianggap berhasil dan hipotesis tindakan yang
dirumuskan dapat diterima.

BAB IV

22
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Penelitian dengan mengambil judul ”Perbaikan Pembelajaran Men-


deskripsikan Hubungan antara Gaya, Gerak dan Energi Melalui Percobaan
dengan Pendekatan Kontekstual Fokus Inkuiri Terbimbing (Penelitian
Tindakan Kelas pada Siswa Kelas V SDN Panorama, Kecamatan Cidaun,
Kabupaten Cianjur, Semester 2 Tahun Pelajaran 2013-2014)” dilaksanakan
dalam dua siklus. Kedua siklus tersebut dilaksanakan pada hari Selasa tanggal
11 Februari 2014 dan Selasa tanggal 18 Februari 2014.

Sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang


disampaikan pada Bab I di atas, penelitian ini pada dasarnya dilakukan untuk
memperbaiki proses pembelajaran IPA, khususnya pada kompetensi dasar
”mendeskripsikan hubungan antara gaya, gerak dan energi melalui percobaan
(gaya gravitasi, gaya gesek, gaya magnet)” dengan menerapkan pembelajaran
kontekstual fokus inkuiri pada siswa kelas V SD Negeri Panorama,
Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur semester 2 tahun pelajaran 2013-2014.
Oleh karena itu, data hasil penelitian yang disajikan pada laporan ini dibatasi
hanya pada hasil pembelajaran berupa data nilai hasil tes akhir dari kedua
siklus.

1. Siklus I

Siklus I penelitian ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 28 Juli


2010. Pada penelitian tindakan siklus I ini diperoleh data keberlangsungan
proses pembelajaran dan hasil pembelajaran sebagai berikut.

a. Siswa kelas V SDN Panorama seluruhnya berjumlah 25


orang dibagi ke dalam 6 kelompok sehingga setiap kelompok
beranggotakan masing-masing 4 orang siswa, kecuali satu kelompok
yang memiliki anggota 5 orang. Pengelompokan ini dilakukan dengan

23
memper-timbangkan keragaman prestasi belajar siswa serta sikap
sosial siswa di dalam kelas.
b. Kegiatan diskusi kelompok yang dilakukan oleh siswa
berlangsung dalam situasi yang kurang lancar. Hal ini mungkin
disebabkan oleh tidak terbiasanya siswa melaksanakan pembelajaran
kelompok dengan arah pembelajaran penemuan sendiri konsep materi
pembelajaran (inkuiri).
c. Pada proses belajar dalam kelompok, pada umumnya
siswa mengikuti pembelajaran secara sungguh-sungguh. Sebagian
besar siswa belum terbiasa mengamati dan menganalisis gerak-gerak
benda termasuk gaya magnetis
d. Hasil pembelajaran secara keseluruhan belum
menunjukkan hasil yang memuaskan. Dari 25 siswa yang mengikuti
pembelajaran, rata-rata perolehan nilai adalah 60,24 dengan data
rekapitulasi selengkapnya sebagai berikut.
Data perolehan hasil belajar menunjukkan bahwa kemampuan
siswa dalam ”mendeskripsikan hubungan antara gaya, gerak dan energi
melalui percobaan (gaya gravitasi, gaya gesek, gaya magnet)” masih
berada pada taraf yang relatif rendah. Nilai perolehan tertinggi adalah
80,00 dan nilai terendah adalah 46,67 dengan rata-rata nilai perolehan
adalah 64,36. Jumlah siswa yang telah mencapai ketuntasan pada tindakan
siklus I ini adalah 14 orang dari jumlah siswa 25 orang, atau sama dengan
56,00 %. Sementara itu, kriteria ketuntasan minimum yang dipersyaratkan
pada pembelajaran ini adalah 70 dengan taraf ketuntasan kelas sebesar
85%.
Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan
pembelajaran kompetensi dasar ”mendeskripsikan hubungan antara gaya,
gerak dan energi melalui percobaan (gaya gravitasi, gaya gesek, gaya
magnet)” dengan pembelajaran kontekstual fokus inkuiri di kelas V SDN
Panorama belum berhasil dengan baik dan perlu dilanjutkan ke tindakan
pembelajaran siklus II.

24
2. Siklus II

Siklus II penelitian ini dilaksanakan pada hari Senin tanggal 18


Februari 2013. Penelitian tindakan siklus II ini merupakan perbaikan dari
temuan-temuan yang diperoleh pada siklus I, baik pada tahap perencanaan
maupun pada tahap pelaksanaan tindakan.
Pada penelitian tindakan siklus II ini diperoleh data keber-
langsungan proses pembelajaran dan hasil pembelajaran sebagai berikut.
a. Perbaikan perencanaan dilakukan terhadap pembagian
kelompok siswa yang kembali disebar berdasarkan pengamatan atas
interaksi siswa selama proses pembelajaran siklus I serta data hasil
pembelajaran siklus I. Siswa kembali dikelompokkan dalam tiga
kategori, yakni siswa yang memperoleh hasil belajar tinggi, sedang,
dan rendah. Ketiga kelompok kategori siswa ini kemudian disebar ke
dalam tujuh kelompok secara merata sehingga diperoleh komposisi
kelompok baru.
b. Jumlah media pembelajaran berupa gambar disatukan
dengan lembar kegiatan pembelajaran.
c. Memberikan penjelasan kepada siswa tentang peristiwa-
peristiwa alam secara umum serta langkah-langkah menyelesaikan
tugas-tugas kelompok maupun individu.
d. Kegiatan inti pembelajaran diawali dengan fase eksplorasi
dengan langkah-langkah kegiatan sebagaimana yang pernah dilakukan
siswa pada siklus I. Pada tahap ini siswa lebih sungguh-sungguh
memperhatikan dan melakukan pengamatan dengan baik. Di samping
itu, siswa lebih leluasa melakukan mobilitas pembelajaran dengan
melakukan beberapa hipotesis.
e. Kegiatan elaborasi yang berisi kegiatan siswa berdiskusi
dalam ”mendeskripsikan hubungan antara gaya, gerak dan energi
melalui percobaan (gaya gravitasi, gaya gesek, gaya magnet)”,
menemukan informasi melalui percobaan kemagnetan yang dilakukan
dalam kelompoknya. Pada kegiatan ini, para siswa telah menunjukkan

25
kesungguhan yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan kegiatan
serupa pada siklus pertama.
f. Fase konfirmasi hanya dapat menyajikan dua tampilan
presentasi siswa yang kemudian ditanggapi dan diberi penghargaan.
Pada kegiatan ini pula seluruh siswa memperoleh penghargaan yang
sama atas hasil belajar yang telah dilakukannya.
g. Peningkatan pembelajaran pada hasil pembelajaran siklus II
ini sangat terlihat. Aktivitas diskusi yang berlangsung pada masing-
masing kelompok berjalan cukup dinamis dan cepat.
h. Sementara itu, secara individual para siswa sudah mulai
menampakkan perkembangan pemahaman yang baik. Meskipun secara
kualitas belum dapat dikatakan sebagai hasil analisis yang baik, tetapi
jika dibandingkan dengan hasil pembelajaran siklus I, hasil
pembelajaran pada siklus II ini jauh lebih baik. Dengan
mempertimbangkan usaha yang dilakukan oleh siswa, faktor usia dan
pengalaman batin masing-masing siswa, diperoleh hasil pembelajaran
”mendeskripsikan hubungan antara gaya, gerak dan energi melalui
percobaan (gaya gravitasi, gaya gesek, gaya magnet)” pada siklus II
sebagai berikut.
Data hasil pembelajaran menunjukkan bahwa hasil pembelajaran
kompetensi dasar ”mendeskripsikan hubungan antara gaya, gerak dan
energi melalui percobaan (gaya gravitasi, gaya gesek, gaya magnet)” pada
siklus II memperoleh nilai perolehan tertinggi sebesar 95,56 dan nilai
terendah 73,33 dengan rata-rata nilai perolehan sebesar 83,73. Secara
klasikal, rata-rata hasil pembelajaran tersebut telah memenuhi persyaratan
ketuntasan minimum yang dipersyaratkan (70,00) yang berarti telah
melebihi sebesar 13,73.
Dengan demikian, pembelajaran kompetensi dasar ”mendeskripsi-
kan hubungan antara gaya, gerak dan energi melalui percobaan (gaya
gravitasi, gaya gesek, gaya magnet)” telah dianggap tuntas dan berhasil
dengan baik. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan nilai dari rata-rata

26
64,36 pada siklus I menjadi 83,73 pada siklus II, yang berarti telah
mengalami peningkatan sebesar 19,37. Oleh karena itu, tidak diperlukan
perlakuan pembelajaran pada siklus berikutnya.

B. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran


Pembelajaran kompetensi dasar ”mendeskripsikan hubungan antara
gaya, gerak dan energi melalui percobaan (gaya gravitasi, gaya gesek, gaya
magnet)” dengan menerapkan pembelajaran kontekstual fokus inkuiri pada
siswa kelas V SDN Panorama Kecamatan Cidaun Kabupaten Cianjur terbagi
dalam dua siklus pembelajaran. Hasil pembelajaran siklus I menunjukkan
fakta rata-rata nilai perolehan siswa adalah 64,36 dengan nilai tertinggi 80,00
dan nilai terendah 46,67 sedangkan pada siklus II diperoleh rata-rata nilai
sebesar 83,73 dengan nilai tertinggi 95,56 dan nilai terendah 73,33. Dari data
ini diperoleh pula fakta terjadinya peningkatan rata-rata hasil pembelajaran
sebesar rata-rata 19,37. Data peningkatan prestasi ini bukan hanya terjadi pada
nilai rata-rata saja, melainkan juga pada nilai individu siswa.
Pembelajaran kontekstual fokus inkuiri ini merupakan salah satu
konsep pembelajaran yang melibatkan konsep dengan lingkungan nyata. Tipe
ini mengkombinasikan keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran
individual. Tipe ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara
individual. Oleh karena itu kegiatan pembelajarannya lebih banyak digunakan
untuk pemecahan masalah, ciri khas pada tipe inkuiri ini adalah setiap siswa
secara individual menemukan konsep materi pembelajaran yang sudah
dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar individual dibawa ke kelompok-
kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok, dan
semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban
sebagai tanggung jawab bersama.
Secara keseluruhan aktivitas dan kinerja peserta didik dalam proses
pembelajaran pada siklus II telah menunjukkan peningkatan hasil
dibandingkan siklus I. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa keberanian
peserta didik untuk mengemukakan ide/pendapat maupun bertanya sudah

27
cukup merata. Kegiatan presentasi dalam diskusi kelompok pada siklus II,
nampak lebih bermutu dan teratur sesuai dengan alokasi waktu. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa penerapan pembelajaran kontekstual fokus
inkuiri dapat meningkatkan kinerja dan prestasi belajar IPA, terutama pada
kompetensi dasar ”mendeskripsikan hubungan antara gaya, gerak dan energi
melalui percobaan (gaya gravitasi, gaya gesek, gaya magnet)” pada siswa
kelas V SDN Panorama Kecamatan Cidaun Kabupaten Cianjur tsemester 2
tahun pelajaran 2013-2014.
Hal ini membuktikan bahwa penerapan pembelajaran kontekstual pada
kompetensi dasar ”mendeskripsikan hubungan antara gaya, gerak dan energi
melalui percobaan (gaya gravitasi, gaya gesek, gaya magnet)” dapat berhasil.
Berdasarkan hasil analisis di atas dapat disimpulkan bahwa hipotesis tindakan
yang berbunyi ”model pembelajaran kontekstual fokus inkuiri efektif
meningkatkan hasil belajar IPA kompetensi dasar mendeskripsikan hubungan
antara gaya, gerak dan energi melalui percobaan (gaya gravitasi, gaya gesek,
gaya magnet) pada siswa kelas V SD Negeri Panorama, Kecamatan Cidaun,
Kabupaten Cianjur semester 2 tahun pelajaran 2013-2014” dapat diterima.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT

A. Simpulan

Berdasarkan hasil analisis terhadap data hasil penelitian yang berhasil


dihimpun serta dengan memperhatikan rumusan masalah dan tujuan penelitian
ini, dapat disusun kesimpulan penelitian tentang ”Perbaikan Pembelajaran
Mendeskripsikan Hubungan antara Gaya, Gerak dan Energi Melalui
Percobaan dengan Pendekatan Kontekstual Fokus Inkuiri Terbimbing
(Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas V SDN Panorama, Kecamatan
Cidaun, Kabupaten Cianjur, Semester 2 Tahun Pelajaran 2013-2014)” sebagai
berikut.

28
”Pembelajaran kontekstual fokus inkuiri ternyata efektif meningkatkan hasil
belajar kompetensi dasar mendeskripsikan hubungan antara gaya, gerak dan
energi melalui percobaan (gaya gravitasi, gaya gesek, gaya magnet) pada
siswa kelas V SD Negeri Panorama, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur,
semester 2 tahun pelajaran 2013-2014. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan
prestasi belajar siswa yang pada siklus I hanya mencapai rata-rata 64,36
dengan nilai tertinggi 80,00 dan nilai terendah 46,67 menjadi rata-rata nilai
sebesar 83,73 dengan nilai tertinggi 95,56 dan nilai terendah 73,33 pada siklus
II.”

B. Saran Tindak Lanjut

Sebagai implikasi dari kesimpulan di atas, terutama bagi guru adalah


dapat menambah wawasan dalam upaya perbaikan kualitas dan hasil belajar
peserta didik, terutama dengan menerapkan pembelajaran kontekstual fokus
inkuiri. Sedangkan bagi peserta didik, hasil penelitian ini memiliki implikasi
pada terbentuknya ketrampilan kooperatif, yang sangat penting dimiliki oleh
peserta didik khususnya di jenjang satuan pendidikan dasar sebagai bekal
untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam pembelajaran.
Dari kesimpulan dan implikasi di atas, peneliti menyarankan:
1. Guru diharapkan untuk mencoba penerapan pembelajaran kontekstual
fokus inkuiri terutama dalam kompetensi dasar tertentu yang sulit
dikembangkan dan dibelajarkan dengan metode konvensional.
2. Peneliti lain diharapkan untuk melakukan penelitian tentang pembelajaran
kontekstual fokus inkuiri maupun model yang lain pada subyek penelitian
dan mata pelajaran yang berbeda agar diperoleh hasil yang akurat dan
mantap, khususnya sebagai upaya perbaikan kinerja dan prestasi belajar
peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA

29
Arikunto, Suharsimi. 1997. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek
REVISI IV. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi


Aksara.

Arikunto, Suharsimi, et all. 2004. Evaluasi Program Pendidikan Pedoman


Teoretis Praktis Bagi Praktisi Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Choiril Azmiyawati dan Wigati Hadi Omegawati. 2008. IPA Salingtemas untuk
kelas V SD/MI. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan
Nasional.

Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Kurikulum Standar Isi: Standar


Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan
Alam Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta: Badan Standar
Nasional Pendidikan.

Kasbolah, Kasihani . 1999. Penelitian Tindakan Kelas. Depdikbud. Jakarta.

Purwodarminto. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdiknas.

Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas. 2002. Ringkasan Kegiatan Belajar


Mengajar. http://www.puskur.or.id/data/ringkasan_kbm.pdf

Sarjan, et all. 2004. Buku Paket Sains V Untuk Kelas 5 Sekolah dasar dan
Madrasah Ibtidaiyah. Klaten: CV. Sahabat

Sudjana, N. 1987. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Sinar


Baru Algensindo

--------------. 1990. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT.


Remaja Rosdakarya.

Suhadjono. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT Bumiaksara

Sumaji. et all.. 1998. Pendidikan Sains yang Humanistik. Yogyakarta: Kanisius.

Sunaryo, PVM. 2001. Penerapan Prinsip-prinsip Cara Belajar Siswa Aktif


(CBSA) dalam Meningkatkan Keefektifan Proses Pembelajaran IPA di SD
dalam Jurnal Pendidikan Volume 2.1. http://202.159.18.43/jp/21
Sunaryo.htm

Saputro, Suprihatin, et all. 2000. Strategi Pembelajaran. Depdiknas Universitas


Negeri Malang FIP

Tim Pengembang Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1995. Kamus Besar Bahasa
Indonesia (Edisi Kedua). Jakarta: Balai Pustaka.

30
Tim Pengembang Pembelajaran. 2002. Pengembangan Kurikulum Dan Sistem
Pengujian Berbasis Kompetensi. Direktorat Pendidikan Dasar dan
Menengah.

Wiriaatmadja, Rochiati. 2006. Metode Penelitian Tindakan Kelas Untuk


Meningkatkan Kinerja Guru dan Dosen. Program Pascasarjana Universitas
Pendidikan Indonesia. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

31