Anda di halaman 1dari 29

Efektivitas Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization

(TAI) dalam Meningkatkan Hasil Belajar Menjelaskan Pengaruh Perubahan


Lingkungan Fisik terhadap Daratan (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa
Kelas IV SDN Kanangawangi, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur,
Semester 2 Tahun Pelajaran 2013-2014)

WAWAT
NIM.
wawatcandramawat@yahoo.co.id
ABSTRAK

Proses pembelajaran yang dikembangkan dalam kegiatan tatap muka di kelas


lebih didominasi oleh aktivitas guru sehingga siswa lebih berperan sebagai
pendengar. Aktivitas belajar siswa memiliki persentase yang lebih sedikit
dibandingkan dengan aktivitas mengajar guru. Akibatnya, siswa tidak memiliki
pemahaman yang memadai dalam pembelajaran yang kemudian berdampak pada
rendahnya prestasi belajar siswa. Pada prapenelitian, jumlah siswa yang mencapai
ketuntasan adalah 9 orang dari 29 siswa, atau hanya mencapai 31,03%, sedangkan
20 siswa lainnya masih berada di bawah KKM yang ditetapkan, yakni 70.
Penelitian perbaikan pembelajaran ini bertujuan untuk mendeskripsikan
efektivitas pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization)
dalam meningkatkan prestasi belajar menjelaskan pengaruh perubahan lingkungan
fisik terhadap daratan (erosi, abrasi, banjir, dan longsor) pada siswa kelas IV SDN
Kanangawangi, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur semester 2 tahun
pelajaran 2013-2014.
Penelitian perbaikan pembelajaran ini dilaksanakan di SD Negeri Kanangawangi
yang beralamat di Kp. Cihideung, Desa Cisalak, Kecamatan Cidaun, Kabupaten
Cianjur pada Selasa tanggal 18 Februari 2014 dan Sabtu tanggal 22 Februari
2014. Penelitian dilakukan dalam dua siklus yang masing-masing terdiri atas
perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I baru mencapai ketuntasan
44,83% (13 orang tuntas dari 29 siswa). Setelah perbaikan, target ketuntasan dapat
dicapai sebanyak 100% dengan rata-rata nilai perolehan 81,31 serta nilai tertinggi
sebesar 100 dan nilai terendah 70.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) efektif meningkatkan hasil
belajar ’menjelaskan pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap daratan
(erosi, abrasi, banjir, dan longsor)’ pada siswa kelas IV SD Negeri Kanangawangi,
Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur semester 2 tahun pelajaran 2013-2014.

Kata kunci: pembelajaran kooperatif, TAI, pengaruh perubahan lingkungan fisik

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau science secara harfiah dapat


disebut ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam ini
(Hadiat dan Kertiasa, 1984:3). Pendidikan IPA di Sekolah Dasar diharapkan
dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari dirinya dan alam sekitar.
Dalam proses belajar IPA, siswa tidak hanya sekedar menghafal teori atau
rumus, akan tetapi lebih ditekankan pada terbentuknya proses pengetahuan
dan penguasaan konsep. Mereka lebih dituntun untuk dapat membangun
pengetahuan dalam benak mereka sendiri dengan peran aktifnya dalam proses
belajar mengajar. Untuk itu, pengajaran IPA sangat penting diterapkan di SD.
Mengingat pentingnya pengajaran IPA di SD demi mengembangkan
pengetahuan siswa, maka seorang guru harus dapat membentuk konsep yang
benar pada siswa sehingga pemahaman dan hasil belajarnya pun akan
meningkat. Proses pembentukan konsep ini harus berjalan secara wajar dalam
proses pembelajaran yang diorganisasikan sedemikian rupa. Guru berperan
sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran yang sepenuhnya menunjang
aktivitas belajar siswa. Ada hubungan yang kuat antara kadar dominansi guru
dengan kesiapan mental untuk menginternalisasi konsep-konsep, yaitu usia
dan perkembangan mental siswa, dan hubungan antara pengetahuan awal dan
konstruksi konsep IPA yang dimiliki siswa dengan kemampuan siswa untuk
mengikuti pembelajaran penemuan, baik secara terbimbing maupun secara
bebas.
Kondisi yang berlangsung di lapangan ternyata jauh panggang dari api.
Proses pembelajaran yang dikembangkan dalam kegiatan tatap muka di kelas
lebih didominasi oleh aktivitas guru sehingga siswa lebih berperan sebagai
pendengar. Aktivitas belajar siswa memiliki persentase yang lebih sedikit
dibandingkan dengan aktivitas mengajar guru. Akibatnya, siswa tidak

2
memiliki pemahaman yang memadai dalam pembelajaran yang kemudian
berdampak pada rendahnya prestasi belajar siswa.
Data hasil pembelajaran pada prapenelitian menunjukkan beberapa
kondisi pembelajaran yang relatif belum memuaskan sebagai berikut.
1. Rata-rata hasil pembelajaran adalah 59,31 dengan nilai tertinggi 80,00 dan
nilai terendah 33,33.
2. Jumlah siswa yang mencapai ketuntasan adalah 9 orang dari 29 siswa, atau
hanya mencapai 31,03%, sedangkan 20 siswa lainnya masih berada di
bawah KKM yang ditetapkan, yakni 70.
Data di atas pada dasarnya merupakan dampak dari proses
pembelajaran yang belum maksimal. Permasalahan yang dapat teridentifikasi
dari kondisi di atas adalah sebagai berikut.
1. Proses pembelajaran siswa yang berlangsung di dalam kelas masih
berlangsung secara konvensional di mana aktivitas mengajar guru lebih
banyak daripada aktivitas belajar siswa. Artinya, guru lebih banyak
menggunakan kegiatan ceramah dan siswa mendengarkan.
2. Pengembangan aktivitas belajar cenderung terpola pada diri
individu siswa sehingga siswa kurang memperoleh komunikasi belajar,
baik dengan teman-temannya maupun dengan guru.
3. Media pembelajaran yang memadai bagi pembelajaran IPA di
sekolah tidak tersedia dengan lengkap.
4. Kebanyakan siswa takut bertanya kepada guru apabila menemukan
persoalan yang kurang dimengertinya.
Untuk memecahkan masalah pembelajaran di atas diperlukan sebuah
strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, tetapi
strategi yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan di benak
mereka sendiri.
Dalam konteks ini siswa perlu mengerti makna belajar beserta
manfaatnya. Dengan begitu mereka bisa menempatkan diri sebagai manusia
yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya. Mereka mempelajari apa yang

3
bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menggapainya dengan guru sebagai
pengarah dan pembimbing.
Banyak model pembelajaran yang dapat digunakan dalam upaya guru
menumbuhkan dan meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran
IPA, salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif. Model ini dipilih
dengan alasan munculnya filsafat pengetahuan yang banyak mempengaruhi
perkembangan pendidikan. Aliran filsafat ini menekankan bahwa pengetahuan
adalah hasil konstruksi (bentukan) manusia. Melalui penggunaan model
pembelajaran kooperatif diharapkan prestasi belajar siswa dalam belajar IPA
tentang terjadinya perubahan wujud benda dapat meningkat.
Berdasarkan pemikiran tersebut, penulis merasa tertarik untuk me-
nerapkan pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization)
dengan pertimbangan bahwa pada pembelajaran kooperatif ini terjadi
komunikasi pembelajaran antarsiswa maupun dengan guru. Di samping itu,
salah satu ciri pembelajaran kooperatif adalah kemampuan siswa untuk
bekerja sama dalam kelompok kecil yang heterogen (Suyitno, 2004: 9).
Masing-masing anggota dalam kelompok memiliki tugas yang setara. Karena
pada pembelajaran kooperatif keberhasilan kelompok sangat diperhatikan,
maka siswa yang pandai ikut bertanggung jawab membantu temannya yang
lemah dalam kelompoknya. Dengan demikian, siswa yang pandai dapat
mengembangkan kemampuan dan keterampilannya, sedangkan siswa yang
lemah akan terbantu dalam memahami permasalahan yang diselesaikan dalam
kelompok tersebut.
Dalam model pembelajaran TAI, siswa ditempatkan dalam kelompok-
kelompok kecil (4 sampai 5 siswa) yang heterogen untuk menyelesaikan tugas
kelompok yang sudah disiapkan oleh guru, selanjutnya diikuti dengan
pemberian bantuan secara individu bagi siswa yang memerlukannya.
Keheterogenan kelompok mencakup jenis kelamin, ras, agama (kalau
mungkin), tingkat kemampuan (tinggi, sedang, rendah), dan sebagainya.
Kemudian guru memberikan tes formatif sesuai dengan kompetensi yang
ditentukan.

4
Berdasarkan uraian di atas, agar pengajaran dapat mencapai hasil
sesuai dengan tujuan yang direncanakan, peneliti perlu mempertimbangkan
strategi belajar mengajar yang efektif. Oleh karena itu, dirasa perlu diadakan
penelitian tentang keefektifan model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team
Assisted Individualization) dalam meningkatkan prestasi belajar IPA pada
kompetensi dasar menjelaskan pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap
daratan (erosi, abrasi, banjir, dan longsor) pada siswa kelas IV SDN
Kanangawangi, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur semester 2 tahun
pelajaran 2013-2014.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan analisis masalah di atas, disusun rumusan masalah yang
menjadi dasar pijakan penelitian ini sebagai berikut.
”Apakah pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization)
dapat efektif meningkatkan prestasi belajar menjelaskan pengaruh perubahan
lingkungan fisik terhadap daratan (erosi, abrasi, banjir, dan longsor) pada
siswa kelas IV SDN Kanangawangi, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur
semester 2 tahun pelajaran 2013-2014?”

C. Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran


Sesuai dengan rumusan masalah yang diuraikan di atas, penelitian ini
bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas pembelajaran kooperatif tipe TAI
(Team Assisted Individualization) dalam meningkatkan prestasi belajar
menjelaskan pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap daratan (erosi,
abrasi, banjir, dan longsor) pada siswa kelas IV SDN Kanangawangi,
Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur semester 2 tahun pelajaran 2013-2014.

D. Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran


Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Bagi siswa
a) Siswa menjadi senang dan tertarik terhadap IPA karena siswa
dilibatkan secara aktif dalam pembelajaran.

5
b) Siswa yang mengalami kesulitan dalam mempelajari materi
menjelaskan pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap daratan
(erosi, abrasi, banjir, dan longsor) akan lebih cepat faham.
2. Bagi guru/peneliti
a) Guru dapat memilih model pembelajaran yang efektif pada kompetensi
dasar menjelaskan pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap
daratan (erosi, abrasi, banjir, dan longsor).
b) Sebagai motivasi untuk meningkatkan keterampilan memilih strategi
pembelajaran yang bervariasi dan dapat memperbaiki sistem
pembelajaran sehingga memberikan layanan yang terbaik bagi siswa.
3. Bagi lembaga/mahasiswa lain
Dapat mempelajari lebih dalam model pembelajaran TAI (Team Assisted
Individualization) serta mendapat pengalaman dan pengetahuan dalam
melakukan penelitian.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teoretis
1. Teori Belajar
Gagne (Anni, 2004: 2), menyatakan bahwa belajar merupakan
perubahan disposisi atau kecakapan manusia yang berlangsung selama
periode tertentu, dan perubahan perilaku itu tidak berasal dari proses
pertumbuhan. Sedangkan pengertian belajar menurut Fontana (Suherman,
2001:8) adalah perubahan tingkah laku individu yang relatif tetap sebagai
hasil pengalaman.
Menurut Gagne (Anni, 2005: 3) belajar merupakan sebuah sistem
yang di dalamnya terdapat berbagai unsur yang saling kait-mengkait
sehingga menghasilkan perubahan perilaku. Beberapa unsur yang di
maksud adalah sebagai berikut.

6
a. Pembelajar
Pembelajar dapat berupa siswa, pembelajar, warga belajar, dan peserta
pelatihan. Pembelajar memiliki organ penginderaan yang digunakan
untuk menangkap rangsangan; otak yang digunakan untuk
mentransformasikan hasil penginderaannya ke dalam memori yang
kompleks; dan syaraf atau otot yang digunakan untuk menampilkan
kinerja yang menunjukkkan hal-hal yang telah dipelajari.
b. Rangsangan (stimulus).
Peristiwa yang merangsang penginderaan pembelajar disebut situasi
stimulus. Suara, sinar, warna, panas, dingin, tanaman, gedung, dan
orang adalah stimulus yang selalu berada di lingkungan seseorang.
c. Memori.
Memori pembelajar berisi berbagai kemampuan yang berupa
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dihasilkan dari aktivitas
belajar sebelumnya.
d. Respon.
Tindakan yang dihasilkan dari aktualisasi memori disebut respon.
Pembelajar yang sedang mengamati stimulus, maka memori yang ada
di dalam dirinya kemudian memberikan respon terhadap stimulus
tersebut. Respon dalam pembelajaran diamati pada akhir proses belajar
yang disebut perubahan perilaku.
Menurut Thomas (Anni, 2005: 54) beberapa prinsip belajar yang
efektif sebagai berikut.
a. Spesifikasi (specification)
Strategi belajar itu hendaknya sesuai dengan tujuan belajar dan
karakteristik siswa yang menggunakannya.
b. Pembuatan (generativity)
Strategi belajar yang efektif yaitu yang memungkinkan seseorang
mengerjakan kembali materi yang telah dipelajari, dan membuat
sesuatu menjadi baru.
c. Pemantauan yang efektif (effective monitoring)

7
Pemantauan yang efektif yaitu berarti bahwa siswa mengetahui kapan
dan bagaimana cara menerapkan strategi belajarnya dan bagaimana
cara menyatakannya bahwa strategi yang digunakan itu bermanfaat.
d. Kemujaraban personal (personal efficacy)
Siswa harus memiliki kejelasan bahwa belajar akan berhasil apabila
dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Pembelajaran adalah seperangkat peristiwa yang mempengaruhi
siswa sedemikian rupa sehingga siswa itu memperoleh kemudahan dalam
berinteraksi berikutnya dengan lingkungan (Sugandi, 2004: 9), sedangkan
menurut Fontana (Suherman, 2001: 8) pembelajaran merupakan upaya
penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh
dan berkembang secara optimal. Dengan demikian proses belajar bersifat
internal dan unik dalam diri individu siswa, sedang proses pembelajaran
bersifat eksternal yang sengaja direncanakan dan bersifat rekayasa
perilaku.

2. Hasil Belajar

Hasil belajar Menurut Sudjana (Fitriana, 1990: 22) adalah


kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman
belajarnya. Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor
utama yaitu faktor dari dalam diri siswa dan faktor yang datang dari luar
diri siswa. Oleh karena itu apabila siswa mempelajari pengetahuan tentang
konsep, maka kemampuan yang diperoleh adalah berupa penguasaan
konsep.
Proses belajar yang dialami oleh siswa menghasilkan perubahan-
perubahan dalam bidang pengetahuan, dalam bidang keterampilan, dalam
bidang nilai dan sikap. Adanya perubahan itu tampak dalam hasil belajar
yang dihasilkan oleh siswa terhadap pertanyaan atau persoalan tugas yang
diberikan oleh guru. Hasil ini berbeda sifatnya, tergantung di dalamnya
siswa memberikan prestasi misalnya dalam bidang pemahaman atau
pengetahuan yang merupakan unsur kognitif. Seperti kita ketahui bersama

8
bahwa pendidikan mengandung 3 unsur yaitu unsur afektif, kognitif, dan
psikomotorik. Namun tidak semua perubahan merupakan hasil belajar.
Perubahan itu akan merupakan hasil belajar bila memiliki ciri-ciri
berikut.
a. Perubahan terjadi secara sadar, artinya seseorang yang belajar akan
menyadari adanya suatu perubahan.
b. Perubahan bersifat berkesinambungan dan fungsional.
c. Perubahan bersifat positif dan aktif.
d. Perubahan yang terjadi bukan bersifat sementara.
e. Perubahan dalam belajar mempunyai tujuan dan arah tertentu.
Pada prinsipnya belajar adalah kegiatan yang dilakukan secara
sadar oleh seseorang yang menghasilkan perubahan tingkah laku pada
dirinya, baik dalam bentuk sikap dan nilai yang positif maupun
pengetahuan yang baru. Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini
adalah hasil belajar IPA pada aspek pemahaman konsep, penalaran dan
komunikasi, dan pemecahan masalah.

3. Pembelajaran Kooperatif
a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Menurut Holubec (Nurhadi, 2003: 59) pengajaran kooperatif
(Cooperative Learning) memerlukan pendekatan pengajaran melalui
penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam
memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar.
Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang secara sadar
dan sengaja menciptakan interaksi yang saling mencerdaskan sehingga
sumber belajar bagi siswa bukan hanya guru dan buku ajar tetapi juga
sesama siswa. Menurut Abdurrahman (Nurhadi, 2003: 60) Secara
ringkas, pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara
sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah (saling
mencerdaskan), silih asih (saling menyayangi), dan silih asuh (saling

9
tenggang rasa) antar sesama siswa sebagai latihan hidup dai dalam
masyarakat nyata.
Salah satu ciri pembelajaran kooperatif adalah kemampuan
siswa untuk bekerja sama dalam kelompok kecil yang heterogen
(Suyitno, 2004: 9). Masing-masing anggota dalam kelompok memiliki
tugas yang setara.

b. Unsur-unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya


terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Menurut Abdurrahman
(Nurhadi, 2003: 60) Adapun berbagai elemen dalam pembelajaran
kooperatif adalah adanya.
1) Saling ketergantungan positif
Guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa
saling membutuhkan. Hubungan inilah yang dimaksud dengan
saling ketergantungan positif. Saling ketergantungan tersebut dapat
dicapai melalui saling ketergantungan pencapaian tujuan, saling
ketergantungan bahan atau sumber, saling ketergantungan dalam
menyelesaikan tugas, peran, saling ketergantungan hadiah.
2) Interaksi tatap muka
Interaksi tatap muka menuntut para siswa dalam kelompok dapat
saling bertatap muka sehingga mereka dapat melakukan dialog,
tidak hanya dengan guru, tetapi juga dengan sesama siswa.
3) Akuntabilitas individual
Penilaian kelompok yang didasarkan atas rata-rata penguasaan
semua anggota kelompok secara individual disebut dengan
akuntabilitas individual.
4) Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi
Keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap
teman, berani mempertahankan pikiran logis, mengkritik ide dan
bukan mengkritik teman, tidak mendominasi orang lain, mandiri,

10
dan berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin hubungan
antar pribadi tidak hanya diasumsikan tetapi secara sengaja
diajarkan.

c. Manfaat Pembelajaran Kooperatif

Manfaat diterapkannya strategi pembelajaran kooperatif


menurut Lundgren (Ibrahim, 2000: 18-19) adalah sebagai berikut.
1) Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas.
2) Rasa harga diri menjadi lebih tinggi.
3) Memperbaiki sikap terhadap ilmu pengetahuan alam dan sekolah.
4) Memperbaiki kehadiran.
5) Angka putus sekolah menjadi rendah.
6) Penerimaan terhadap perubahan individu menjadi lebih besar.
7) Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil.
8) Konflik antar pribadi berkurang.
9) Pemahaman yang lebih mendalam.
10) Motivasi lebih besar.
11) Hasil belajar lebih tinggi.
12) Retensi lebih lama.
13) Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, dan toleransi.

Sedangkan menurut Johnson dan Johnson (Nurhadi dkk, 2003:


62) menunjukkan adanya berbagai keunggulan pembelajaran koopera-
tif antara lain sebagai berikut.
1) Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial.
2) Mengembangkan kegembiraan belajar yang sejati.
3) Memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap,
keteram-pilan, informasi, perilaku sosial dan pandangan.
4) Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau
egois dan egosentris.
5) Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama
manusia.

11
6) Meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain
yang dirasakan lebih baik.
7) Meningkatkan motivasi belajar instrinsik.
8) Meningkatkan sikap positif terhadap belajar dan
pengalaman belajar.

4. Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI

Model pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization)


termasuk dalam pembelajaran kooperatif. Dalam model pembelajaran TAI,
siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil (4 sampai 5 siswa)
yang heterogen untuk menyelesaikan tugas kelompok yang sudah disiap-
kan oleh guru, selanjutnya diikuti dengan pemberian bantuan secara
individu bagi siswa yang memerlukannya. Keheterogenan kelompok men-
cakup jenis kelamin, ras, agama (kalau mungkin), tingkat kemampuan
(tinggi, sedang, rendah), dan sebagainya.
Slavin (Widdiharto, 2006: 19) membuat model ini dengan beberapa
alasan. Pertama, model ini mengkombinasikan keunggulan ko-operatif dan
program pengajaran individual. Kedua, model ini memberikan tekanan
pada efek sosial dari belajar kooperatif. Ketiga, TAI disusun untuk
memecahkan masalah dalam program pengajaran, misalnya dalam hal
kesulitan belajar siswa secara individual.
Model pembelajaran tipe TAI ini memiliki 8 komponen, kedelapan
komponen tersebut adalah sebagai berikut.
a. Teams yaitu pembentukan kelompok heterogen yang
terdiri dari 4 sampai 5 siswa.
b. Placement Test yaitu pemberian pre-test kepada siswa
atau melihat rata-rata nilai harian siswa agar guru mengetahui
kelemahan siswa pada bidang tertentu.
c. Student Creative yaitu melaksanakan tugas dalam suatu
kelompok dengan menciptakan dimana keberhasilan individu
ditentukan oleh keberhasilan kelompoknya.

12
d. Team Study yaitu tahapan tindakan belajar yang harus
dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberikan bantuan secara
individual kepada siswa yang membutuhkan.
e. Team Score and Team Recognition yaitu pemberian score
terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria
penghargaan terhadap kelompok yang berhasil secara cemerlang
dan kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam
menyelesaikan tugas.
f. Teaching Group yaitu pemberian materi secara singkat
dari guru menjelang pemberian tugas kelompok.
g. Fact test yaitu pelaksanaan tes-tes kecil berdasarkan fakta
yang diperoleh siswa.
h. Whole-Class Units yaitu pemberian materi oleh guru
kembali diakhiri waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan
masalah (Suyitno, 2004: 8).
Adapun tahap-tahap dalam model pembelajaran TAI adalah
sebagai berikut.
a. Guru menyiapkan materi bahan ajar yang akan diselesaikan oleh
kelompok siswa.
b. Guru memberikan pre-test kepada siswa atau melihat rata-rata nilai
harian siswa agar guru mengetahui kelemahan siswa pada bidang
tertentu. (Mengadopsi komponen Placement Test).
c. Guru memberikan materi secara singkat. (Mengadopsi komponen
Teaching Group).
d. Guru membentuk kelompok kecil yang heterogen tetapi harmonis
berdasarkan nilai ulangan harian siswa, setiap kelompok 4-5 siswa.
(Mengadopsi komponen Teams).
e. Setiap kelompok mengerjakan tugas dari guru berupa LKS yang
telah dirancang sendiri sebelumnya, dan guru memberikan bantuan
secara individual bagi yang memerlukannya. (Mengadopsi
komponen Team Study).

13
f. Ketua kelompok melaporkan keberhasilan kelompoknya dengan
mempresentasikan hasil kerjanya dan siap untuk diberi ulangan
oleh guru. (Mengadopsi komponen Student Creative).
g. Guru memberikan post-test untuk dikerjakan secara individu.
(Mengadopsi komponen Fact Test).
h. Guru menetapkan kelompok terbaik sampai kelompok yang kurang
berhasil (jika ada) berdasarkan hasil koreksi. (Mengadopsi
komponen Team Score and Team Recognition).
i. Guru memberikan tes formatif sesuai dengan kompetensi yang
ditentukan.

B. Kerangka Berpikir

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam hendaknya didesain untuk dapat


memberikan kesempatan kepada siswa untuk menumbuhkembangkan ke-
mampuan mereka secara maksimal. Dengan semakin banyaknya media dan
sumber belajar (learning resources) yang dapat digunakan dalam pembelajar-
an IPA, siswa tidak berharap banyak dari guru. Siswa bisa diberi kemandirian
untuk belajar dengan memanfaatkan aneka sumber belajar tersebut. Dengan
demikian pembelajaran IPA menuntut keaktifan siswa sedangkan guru hanya
sebagai fasilitator untuk membantu siswa dalam pembelajaran.
Dalam pembelajaran kooperatif siswa harus mampu untuk bekerja
sama dalam kelompok kecil yang heterogen, adanya ketergantungan positif
(saling membutuhkan), saling membantu, dan saling memberikan motivasi.
Pada saat belajar kooperatif sedang berlangsung, guru terus melakukan pe-
mantauan melalui obsevasi dan penekanan belajar tidak hanya pada
penyelesaian tugas tetapi juga hubungan interpersonal. Jadi pembelajaran
kooperatif menekankan pada kehadiran teman sebaya yang berinteraksi
dengan sesamanya. Model pembelajaran TAI (Team Assisted Individuali-
zation) termasuk dalam pembelajaran kooperatif.
Dalam model pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization)
masing-masing anggota dalam kelompok memiliki tugas yang setara. Siswa

14
ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil (4 sampai 5 siswa) yang
heterogen untuk menyelesaikan tugas kelompok yang sudah disiapkan oleh
guru, selanjutnya diikuti dengan pemberian bantuan secara individu bagi siswa
yang memerlukannya. Siswa yang pandai ikut bertanggung jawab membantu
temannya yang lemah dalam kelompoknya.
Berdasarkan uraian di atas diasumsikan bahwa penggunaan model
pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) dapat
diterapkan dalam kompetensi dasar mengidentifikasi peristiwa alam yang
terjadi di Indonesia dan dampaknya bagi makhluk hidup dan lingkungan.

C. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka berpikir yang telah diuraikan di atas, dapat


dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut.
”Pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) dapat
efektif meningkatkan prestasi belajar mengidentifikasi peristiwa alam yang
terjadi di Indonesia dan dampaknya bagi makhluk hidup dan lingkungan pada
siswa kelas IV SDN Kanangawangi, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur,
Semester 2 Tahun Pelajaran 2013-2014.”

BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A. Subjek, Tempat, dan Waktu Penelitian


1. Subjek Penelitian
Subjek penelitian tentang ”Efektivitas Pembelajaran Kooperatif
Tipe Team Assisted Individualization (TAI) dalam Meningkatkan Hasil
Belajar Menjelaskan Pengaruh Perubahan Lingkungan Fisik terhadap
Daratan” adalah siswa kelas IV SD Negeri Kanangawangi, Kecamatan
Cidaun, Kabupaten Cianjur, Semester 2 Tahun Pelajaran 2013-2014 yang

15
seluruh berjumlah 29 orang terdiri atas 13 laki-laki dan 16 siswa
perempuan.
Sebagaimana layaknya siswa yang berada di daerah, para siswa
kelas IV SDN Kanangawangi berasal dari latar belakang keluarga petani
dengan latar belakang pendidikan orang tua yang relatif terbatas. Dari 29
siswa kelas IV tersebut, terdapat 9 siswa yang memiliki tingkat
kemampuan akademis di atas rata-rata dan 4 siswa yang memiliki tingkat
kemampuan akademis di bawah rata-rata.

2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas IV di SD Negeri
Kanangawangi yang beralamat di Kp. Cihideung, Desa Cisalak,
Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur.

3. Waktu Penelitian

Penelitian ini berbentuk penelitian tindakan kelas yang dilaksana-


kan dalam tiga siklus pembelajaran. Masing-masing siklus tindakan
dilaksanakan sebagai berikut.

a. Siklus I dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 18 Februari 2014


pada jam pelajaran ke-3 dan ke-4. Pelaksanaan tindakan ini didasarkan
pada jadwal pelajaran yang berlaku.

b. Siklus II dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 22 Februari 2014


pada jam pelajaran ke-3 dan ke-4.

B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran


Penelitian ini adalah penelitian kelas dengan bentuk penelitian
tindakan, karena permasalahan yang dihadapi dialami oleh guru/peneliti, maka
solusinya dirancang berdasarkan kajian teori pembelajaran dan input dari
lapangan. Di samping itu, pelaksanaan tindakan juga dilakukan oleh
guru/peneliti. Adapun rancangan solusi yang dimaksud adalah tindakan berupa
penerapan pendekatan pembelajaran konstruktivisme dalam mengajarkan

16
kompetensi dasar ’menjelaskan pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap
daratan (erosi, abrasi, banjir, dan longsor)’ di sekolah dasar. Dalam
menerapkan pendekatan pembelajaran tersebut digunakan tindakan
berulang/siklus dalam setiap pembelajaran, artinya cara menerapkan
pendekatan pembelajaran kontruktivisme pada pembelajaran pertama, sama
dengan yang diterapkan pada pembelajaran kedua, pembelajaran ketiga, hanya
refleksi terhadap setiap pembelajaran berbeda, tergantung dari fakta dan
interpretasi data yang ada atau situasi dan kondisi yang dijumpai. Hal ini
dilakukan agar diperoleh hasil yang maksimal mengenai cara penggunaan
pendekatan pembelajaran kontruktivisme.

Penelitian ini merupakan penelitian perbaikan pembelajaran dalam


bentuk penelitian tindakan kelas. Karena permasalahan yang dihadapi dialami
oleh guru/peneliti, maka solusinya dirancang berdasarkan kajian teori
pembelajaran dan input dari lapangan. Di samping itu, pelaksanaan tindakan
juga dilakukan oleh guru/peneliti. Adapun rancangan solusi yang dimaksud
adalah tindakan penerapan pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted
Individualization) dalam mengajarkan kompetensi dasar ’menjelaskan
pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap daratan (erosi, abrasi, banjir,
dan longsor)’ di sekolah dasar.

Dalam menerapkan pendekatan pembelajaran tersebut digunakan


tindakan berulang/siklus dalam setiap pembelajaran, artinya cara menerapkan
pembelajar-an kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) pada
pembelajaran pertama, sama dengan yang diterapkan pada pembelajaran
kedua, pembelajaran ketiga, hanya refleksi terhadap setiap pembelajaran
berbeda, tergantung dari fakta dan interpretasi data yang ada atau situasi dan
kondisi yang dijumpai. Hal ini dilakukan agar diperoleh hasil yang maksimal
mengenai cara penggunaan pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted
Individualization).

Selanjutnya disain penelitian secara umum digambarkan seperti bagan


di bawah ini.

17
SIKLUS 1 SIKLUS 2
Keterangan :
P : Perencanaan T : Tindakan
O : Observasi E/R : Evaluasi / Refleksi

Siklus pembelajaran berikutnya dilakukan apabila hasil pembelajaran


tidak menunjukkan ketuntasan yang dipersyaratkan dalam KTSP.

C. Teknik Analisis Data

Secara keseluruhan pengolahan dan analisis data dari tiap-tiap


pembelajaran dalam penelitian ini menempuh langkah-langkah sebagai
berikut.
1. Prosedur pengolahan dan analisis data untuk permasalahan pertama
Data yang diperlukan untuk permasalahan ini adalah data konsepsi awal
siswa mengenai ’menjelaskan pengaruh perubahan lingkungan fisik
terhadap daratan (erosi, abrasi, banjir, dan longsor)’ yang diperoleh
melalui pembelajaran prapenelitian.
2. Prosedur pengolahan dan analisis data untuk permasalahan kedua
Data yang dibutuhkan untuk permasalahan ini adalah data tentang aktivitas
siswa yang menyimpang selama pembelajaran berlangsung. Prosedur
pengolahan dan analisisnya adalah; mula-mula data yang terjaring melalui
lembar observasi dibuat dalam satu bentuk tabulasi.
3. Prosedur pengolahan dan analisis data untuk permasalahan ketiga
Data yang diperlukan untuk permasalahan ini adalah data tentang konsepsi
siswa selama proses pembelajaran yang berupa hasil belajar kompetensi

18
dasar ’menjelaskan pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap daratan
(erosi, abrasi, banjir, dan longsor)’.
Prosedur pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan hal-hal
sebagai berikut.
1. Pengamatan yang dilakukan atas aktivitas siswa dalam
pembelajaran. Jika siswa melaksanakan pembelajaran dengan baik dan
terarahkan sesuai dengan rencana, maka proses pembelajaran dianggap
telah berjalan dengan baik. Sebaliknya jika para siswa ternyata tidak dapat
mengembangkan pembelajaran berdasarkan prosesdur pembelajaran yang
telah disampaikan melalui lembar kegiatan pembelajaran siswa (LKP),
maka pembelajaran dianggap tidak berhasil.
2. Hasil pembelajaran pada setiap fase yang diukur dengan ketuntasan
pembelajaran berdasarkan KKM (kriteria ketuntasan minimum) yang telah
direncanakan. Dengan mempertimbangkan indikator esensial,
kompleksitas materi pembelajaran, serta ketersediaan sarana penunjang
yang ada, KKM bagi kompetensi dasar ’menjelaskan pengaruh perubahan
lingkungan fisik terhadap daratan (erosi, abrasi, banjir, dan longsor)’
adalah 70,00. Jika siswa memperoleh rata-rata nilai sama dengan atau
lebih besar daripada KKM, maka pembelajaran dianggap berhasil.
Sebaliknya, jika hasil pembelajaran yang diperoleh di bawah KKM yang
ditetapkan, maka pembelajaran telah gagal dan memerlukan perbaikan
strategi pembelajaran lebih lanjut.
3. Di samping pembandingan hasil belajar dengan nilai ketuntasan
belajar minimum pada KKM, dilakukan juga pembandingan dengan data
hasil pengungkapan pengetahuan awal siswa tentang ’menjelaskan
pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap daratan (erosi, abrasi,
banjir, dan longsor)’. Apabila ternyata hasil pembelajaran lebih besar rata-
ratanya daripada rata-rata pengetahuan awal siswa, maka perlakuan
pembelajaran dianggap berhasil dan hipotesis tindakan yang dirumuskan
dapat diterima.

19
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Penelitian dengan mengambil judul ”Efektivitas Pembelajaran


Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization (TAI) dalam Meningkatkan
Hasil Belajar Menjelaskan Pengaruh Perubahan Lingkungan Fisik terhadap
Daratan (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas IV SDN Kanangawangi,
Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, Semester 2 Tahun Pelajaran 2013-
2014)” dilaksanakan dalam dua siklus. Kedua siklus tersebut dilaksanakan
pada hari Selasa tanggal 18 Februari 2014 dan Sabtu tanggal 22 Februari
2014.

Sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang


disampaikan pada Bab I di atas, penelitian ini pada dasarnya dilakukan untuk
memperbaiki proses pembelajaran IPA, khususnya pada kompetensi dasar
’menjelaskan pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap daratan (erosi,
abrasi, banjir, dan longsor)’ dengan menerapkan penggunaan media
pembelajaran visual berupa gambar atau foto pada siswa kelas IV SD Negeri
Kanangawangi, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur semester 2 tahun
pelajaran 2013-2014. Oleh karena itu, data hasil penelitian yang disajikan
pada laporan ini dibatasi hanya pada hasil pembelajaran berupa data nilai hasil
tes akhir dari kedua siklus.

Meskipun demikian, situasi proses pembelajaran yang berlangsung


akan dibahas pula sesuai dengan konteks pembahasan data hasil penelitian
yang disajikan. Hasil penelitian selengkapnya adalah sebagai berikut.

1. Siklus I

Siklus I penelitian ”Efektivitas Pembelajaran Kooperatif Tipe


Team Assisted Individualization (TAI) dalam Meningkatkan Hasil Belajar

20
Menjelaskan Pengaruh Perubahan Lingkungan Fisik terhadap Daratan
(Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas IV SDN Kanangawangi,
Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, Semester 2 Tahun Pelajaran 2013-
2014)” dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 28 Juli 2010. Pada penelitian
tindakan siklus I ini diperoleh data keberlangsungan proses pembelajaran
dan hasil pembelajaran sebagai berikut.

a. Siswa kelas IV SDN Kanangawangi seluruhnya


berjumlah 29 orang dibagi ke dalam 7 kelompok sehingga setiap
kelompok beranggotakan masing-masing 4 orang siswa, kecuali 1
kelompok yang memiliki anggota 5 orang. Pengelompokan ini
dilakukan dengan memper-timbangkan keragaman prestasi belajar
siswa serta sikap sosial siswa di dalam kelas.

b. Kegiatan diskusi kelompok yang dilakukan oleh siswa


berlangsung dalam situasi yang kurang lancar. Hal ini mungkin
disebabkan oleh tidak terbiasanya siswa melaksanakan pembelajaran
kelompok dengan arah pembelajaran penemuan sendiri konsep materi
pembelajaran (inkuiri).

c. Pada proses belajar dalam kelompok, pada umumnya


siswa mengikuti pembelajaran secara sungguh-sungguh. Sebagian
besar siswa belum terbiasa mengamati dan menganalisis gambar-
gambar peristiwa alam seperti banjir dan longsor.

d. Hasil pembelajaran secara keseluruhan belum


menunjukkan hasil yang memuaskan. Dari 29 siswa yang mengikuti
pembelajaran, rata-rata perolehan nilai adalah 58,14.

Data hasil pembelajaran menunjukkan bahwa kemampuan siswa


dalam ’menjelaskan pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap daratan
(erosi, abrasi, banjir, dan longsor)’ masih berada pada taraf yang relatif
rendah. Nilai perolehan tertinggi adalah 76,00 dan nilai terendah adalah
36,00 dengan rata-rata nilai perolehan adalah 58,14. Jumlah siswa yang

21
telah mencapai ketuntasan pada tindakan siklus I ini adalah 13 orang dari
jumlah siswa 29 orang, atau sama dengan 44,83 %. Sementara itu, kriteria
ketuntasan minimum yang dipersyaratkan pada pembelajaran ini adalah 70
dengan taraf ketuntasan kelas sebesar 85%.

Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan


pembelajaran kompetensi dasar ’menjelaskan pengaruh perubahan
lingkungan fisik terhadap daratan (erosi, abrasi, banjir, dan longsor)’
dengan pembelajaran kooperatif tipe TAI di kelas IV SDN Kanangawangi
belum berhasil dengan baik dan perlu dilanjutkan ke tindakan
pembelajaran siklus II.

2. Siklus II
Siklus II penelitian ”Efektivitas Pembelajaran Kooperatif Tipe
Team Assisted Individualization (TAI) dalam Meningkatkan Hasil Belajar
Menjelaskan Pengaruh Perubahan Lingkungan Fisik terhadap Daratan
(Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas IV SDN Kanangawangi,
Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, Semester 2 Tahun Pelajaran 2013-
2014)” dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 22 Februari 2014. Penelitian
tindakan siklus II ini merupakan perbaikan dari temuan-temuan yang
diperoleh pada siklus I, baik pada tahap perencanaan maupun pada tahap
pelaksanaan tindakan.
Pada penelitian tindakan siklus II ini diperoleh data
keberlangsungan proses pembelajaran dan hasil pembelajaran sebagai
berikut.
a. Perbaikan perencanaan dilakukan terhadap pembagian
kelompok siswa yang kembali disebar berdasarkan pengamatan atas
interaksi siswa selama proses pembelajaran siklus I serta data hasil
pembelajaran siklus I. Siswa kembali dikelompokkan dalam tiga
kategori, yakni siswa yang memperoleh hasil belajar tinggi, sedang,
dan rendah. Ketiga kelompok kategori siswa ini kemudian disebar ke

22
dalam tujuh kelompok secara merata sehingga diperoleh komposisi
kelompok baru.
b. Jumlah media pembelajaran berupa gambar disatukan
dengan lembar kegiatan pembelajaran.
c. Memberikan penjelasan kepada siswa tentang peristiwa-
peristiwa alam secara umum serta langkah-langkah menyelesaikan
tugas-tugas kelompok maupun individu.
d. Kegiatan inti pembelajaran diawali dengan fase eksplorasi
dengan langkah-langkah kegiatan sebagaimana yang pernah dilakukan
siswa pada siklus I. Pada tahap ini siswa lebih sungguh-sungguh
memperhatikan dan melakukan pengamatan dengan baik. Di samping
itu, siswa lebih leluasa melakukan mobilitas pembelajaran dengan
melakukan beberapa hipotesis.
e. Kegiatan elaborasi yang berisi kegiatan siswa berdiskusi
dalam ’menjelaskan pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap
daratan (erosi, abrasi, banjir, dan longsor)’, menemukan informasi
melalui referensi yang berkaitan dengan peristiwa alam, serta membuat
deskripsi peristiwa alam berdasarkan ciri atau karakteristik yang
dimiliki. Pada kegiatan ini, para siswa telah menunjukkan
kesungguhan yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan kegiatan
serupa pada siklus pertama.
f. Fase konfirmasi hanya dapat menyajikan dua tampilan
presentasi siswa yang kemudian ditanggapi dan diberi penghargaan.
Pada kegiatan ini pula seluruh siswa memperoleh penghargaan yang
sama atas hasil belajar yang telah dilakukannya.

g. Peningkatan pembelajaran pada hasil pembelajaran siklus II


ini sangat terlihat. Aktivitas diskusi yang berlangsung pada masing-
masing kelompok berjalan cukup dinamis dan cepat.

h. Secara individual para siswa sudah mulai menampakkan


perkembang-an pemahaman yang baik. Meskipun secara kualitas

23
belum dapat dikatakan sebagai hasil analisis yang baik, tetapi jika
dibandingkan dengan hasil pembelajaran siklus I, hasil pembelajaran
pada siklus II ini jauh lebih baik. Dengan mempertimbangkan usaha
yang dilakukan oleh siswa, faktor usia dan pengalaman batin masing-
masing siswa, diperoleh hasil pembelajaran ’menjelaskan pengaruh
perubahan lingkungan fisik terhadap daratan (erosi, abrasi, banjir, dan
longsor)’ pada siklus II sebagai berikut.

Data hasil pembelajaran menunjukkan bahwa hasil pembelajaran


kompetensi dasar ’menjelaskan pengaruh perubahan lingkungan fisik
terhadap daratan (erosi, abrasi, banjir, dan longsor)’ pada siklus II
memperoleh nilai perolehan tertinggi sebesar 100 dan nilai terendah 70,00
dengan rata-rata nilai perolehan sebesar 81,31. Secara klasikal, rata-rata
hasil pembelajaran tersebut telah memenuhi persyaratan ketuntasan
minimum yang dipersyaratkan (70,00) yang berarti telah melebihi sebesar
11,31.

Dengan demikian, pembelajaran kompetensi dasar ’menjelaskan


pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap daratan (erosi, abrasi,
banjir, dan longsor)’ telah dianggap tuntas dan berhasil dengan baik. Hal
ini ditunjukkan dengan peningkatan nilai dari rata-rata 58,14 pada siklus I
menjadi 81,31 pada siklus II, yang berarti telah mengalami peningkatan
sebesar 23,17. Oleh karena itu, tidak diperlukan perlakuan pembelajaran
pada siklus berikutnya.

B. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Pembelajaran kompetensi dasar ’menjelaskan pengaruh perubahan


lingkungan fisik terhadap daratan (erosi, abrasi, banjir, dan longsor)’ dengan
menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted
Individualization) pada siswa kelas IV SDN Kanangawangi Kecamatan
Cidaun Kabupaten Cianjur terbagi dalam dua siklus pembelajaran. Hasil
pembelajaran siklus I menunjukkan fakta rata-rata nilai perolehan siswa

24
adalah 58,14 dengan nilai tertinggi 76,00 dan nilai terendah 36,00 sedangkan
pada siklus II diperoleh rata-rata nilai sebesar 81,31 dengan nilai tertinggi 100
dan nilai terendah 70,00. Dari data ini diperoleh pula fakta terjadinya
peningkatan rata-rata hasil pembelajaran sebesar rata-rata 23,17. Data
peningkatan prestasi ini bukan hanya terjadi pada nilai rata-rata saja,
melainkan juga pada nilai individu siswa.

Usaha-usaha guru dalam membelajarkan siswa merupakan bagian yang


sangat penting dalam mencapai keberhasilan tujuan pembelajaran yang sudah
direncanakan. Oleh karena itu pemilihan berbagai metode, strategi,
pendekatan serta teknik pembelajaran merupakan suatu hal yang utama.
Menurut Eggen dan Kauchak dalam Wardhani (2005), model pembelajaran
adalah pedoman berupa program atau petunjuk strategi mengajar yang
dirancang untuk mencapai suatu pembelajaran. Pedoman itu memuat tanggung
jawab guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan
pembelajaran. Salah satu tujuan dari penggunaan model pembelajaran adalah
untuk meningkatkan kemampuan siswa selama belajar. Dengan pemilihan
metode, strategi, pendekatan serta teknik pembelajaran, diharapkan adanya
perubahan dari mengingat (memorizing) atau menghapal (rote learning) ke
arah berpikir (thinking) dan pemahaman (understanding), dari model ceramah
ke pendekatan discovery learning atau inquiry learning, dari belajar individual
ke kooperatif, serta dari subject centered ke clearer centered atau
terkonstruksinya pengetahuan siswa (Setiawan, 2005).

Pembelajaran kooperatif tipe TAI ini dikembangkan oleh Slavin. Tipe


ini mengkombinasikan keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran
individual. Tipe ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara
individual. Oleh karena itu kegiatan pembelajarannya lebih banyak digunakan
untuk pemecahan masalah, ciri khas pada tipe TAI ini adalah setiap siswa
secara individual belajar materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan oleh
guru. Hasil belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk
didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok, dan semua anggota

25
kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung
jawab bersama.

Secara keseluruhan aktivitas dan kinerja peserta didik dalam proses


pembelajaran pada siklus II telah menunjukkan peningkatan hasil
dibandingkan siklus I. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa keberanian
peserta didik untuk mengemukakan ide/pendapat maupun bertanya sudah
cukup merata. Kegiatan presentasi dalam diskusi kelompok pada siklus II,
nampak lebih bermutu dan teratur sesuai dengan alokasi waktu. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model
TAI (Team Assisted Individualization) dapat meningkatkan kinerja dan prestasi
belajar matematika, terutama pada kompetensi dasar ’menjelaskan pengaruh
perubahan lingkungan fisik terhadap daratan (erosi, abrasi, banjir, dan
longsor)’ pada siswa kelas IV SDN Kanangawangi Kecamatan Cidaun
Kabupaten Cianjur tsemester 1 tahun pelajaran 2013-2014.

Dari tabel di atas dapat dilihat peningkatan selalu terjadi pada setiap
individu siswa. Hal ini membuktikan bahwa penerapan pembelajaran
kontekstual pada kompetensi dasar ’menjelaskan pengaruh perubahan
lingkungan fisik terhadap daratan (erosi, abrasi, banjir, dan longsor)’ dapat
berhasil. Berdasarkan hasil analisis di atas dapat disimpulkan bahwa hipotesis
tindakan yang berbunyi ”model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team
Assisted Individualization) efektif meningkatkan hasil belajar ’menjelaskan
pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap daratan (erosi, abrasi, banjir,
dan longsor)’ pada siswa kelas IV SD Negeri Kanangawangi, Kecamatan
Cidaun, Kabupaten Cianjur semester 2 tahun pelajaran 2013-2014” dapat
diterima.

26
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT

A. Simpulan

Berdasarkan hasil analisis terhadap data hasil penelitian yang berhasil


dihimpun serta dengan memperhatikan rumusan masalah dan tujuan penelitian
ini, dapat disusun kesimpulan penelitian tentang ”Efektivitas Pembelajaran
Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization (TAI) dalam Meningkatkan
Hasil Belajar Menjelaskan Pengaruh Perubahan Lingkungan Fisik terhadap
Daratan (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas IV SDN Kanangawangi,
Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, Semester 2 Tahun Pelajaran 2013-
2014)” sebagai berikut.

”Pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Idividualizatin) ternyata


efektif meningkatkan hasil belajar kompetensi dasar ’menjelaskan pengaruh
perubahan lingkungan fisik terhadap daratan (erosi, abrasi, banjir, dan
longsor)’ pada siswa kelas IV SD Negeri Kanangawangi, Kecamatan Cidaun,
Kabupaten Cianjur, semester 2 tahun pelajaran 2013-2014. Hal ini dibuktikan
dengan peningkatan prestasi belajar siswa yang pada siklus I hanya mencapai
rata-rata 58,14 dengan nilai tertinggi 76,00 dan nilai terendah 36,00 menjadi
rata-rata nilai sebesar 81,31 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 70,00
pada siklus II.”

B. Saran Tindak Lanjut

Sebagai implikasi dari kesimpulan di atas, terutama bagi guru adalah


dapat menambah wawasan dalam upaya perbaikan kualitas dan hasil belajar
peserta didik, terutama dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model
Team Assissted Individualization (TAI). Sedangkan bagi peserta didik, hasil
penelitian ini memiliki implikasi pada terbentuknya ketrampilan kooperatif,

27
yang sangat penting dimiliki oleh peserta didik khususnya di jenjang satuan
pendidikan dasar sebagai bekal untuk mengembangkan kemampuan
berkomunikasi dalam pembelajaran.

Dari kesimpulan dan implikasi di atas, peneliti menyarankan :

1. Guru diharapkan untuk mencoba penerapan pembelajaran kooperatif


model TAI (Team Assisted Individualization) terutama dalam kompetensi
dasar tertentu yang sulit dikembangkan dan dibelajarkan dengan metode
konvensional.

2. Peneliti lain diharapkan untuk melakukan penelitian tentang pembelajaran


kooperatif model TAI (Team Assisted Individualization) maupun model
yang lain pada subyek penelitian dan mata pelajaran yang berbeda agar
diperoleh hasil yang akurat dan mantap, khususnya sebagai upaya
perbaikan kinerja dan prestasi belajar peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi


Aksara.

Darsono, M; Sugandhi, A; Dj. Martensi; R.K. Sutadi & Nugroho. 2000. Belajar
dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press.

Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Kurikulum Standar Isi: Standar


Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan
Alam Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta: Badan Standar
Nasional Pendidikan.

Dina Gasong. 2004. Model Pembelajaran Konstruktivistik sebagai Alternatif


Mengatasi Masalah Pembelajaran. Jakarta: PPS Universitas Negeri
Jakarta

De Porter, Bobbi dan Mike Hernachi. terjemahan Alwiyah Abdurrahman. 2000.


Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan.
Bandung: Kaifa.

28
Heri Sulistyanto dan Edy Wiyono. 2008. Ilmu pengetahuan alam 4: untuk SD dan
MI kelas IV. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Ibrahim, Muslimin. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA.

Kemala, Rosa. 2006. Buku Paket Jelajah IPA Untuk Kelas 4 SD. Jakarta: Yudistira

Kerlinger, F.N. 2000. Asas-Asas Penelitian Behavioral. Terjemahan. Yogyakarta:


UGM Press.

Lie, Anita. 2005. Cooperatif Learning. Jakarta: Grasindo.

Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Rosdakarya Offset.

Nurhadi. 2003. Pembelajaran Kontekstual (Contekstual Teaching and


Learning/CTL). Malang: Universitas Negeri Malang.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka


Cipta.

Soehendro, B. 2006. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan


Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah: Badan Standar Nasional
Pendidikan.

Sugandi, Achmad. 2004. Teori Pembelajaran. Semarang: UNNES.

Sunaryo, PVM. 2001. Penerapan Prinsip-prinsip Cara Belajar Siswa Aktif


(CBSA) dalam Meningkatkan Keefektifan Proses Pembelajaran IPA di SD
dalam Jurnal Pendidikan Volume 2.1. http://202.159.18.43/jp/21
Sunaryo.htm

Wina S. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.


Jakarta: Kencana Prenada Media.

29