Anda di halaman 1dari 24

KEKERASAN FISIK

Kekerasan, menurut kamus umum bahasa Indonesia, W.J.S.


Poerwadarminta, berarti sifat atau hal yang keras, kekuatan dan
paksaan. Dalam bahasa Inggris, yang lebih lazim dipakai orang
Indonesia, disebut ”violence”. Istilah violence berasal dari dua kata
bahasa Latin : vis yang berarti daya atau kekuatan; dan latus (bentuk
perfektum dari kata kerja ferre) yang berarti (telah) membawa. Maka
secara harafiah, violence berarti membawa kekuatan, daya, dan
paksaan.
Penyebab
Terjadinya kekerasan terhadap anak dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu:17,18
1. Faktor Internal
a. Berasal dalam diri anak
Terjadinya kekerasan terhadap anak dapat disebabkan oleh
kondisi dan tingkah laku anak. Kondisi anak tersebut misalnya : Anak
menderita gangguan perkembangan, ketergantungan anak pada
lingkungannya, anak mengalami cacat tubuh, retardasi mental,
gangguan tingkah laku, anak yang memiliki perilaku menyimpang
dan tipe kepribadian dari anak itu sendiri.
b. Keluarga / orang tua
Faktor orang tua atau keluarga memegang peranan penting
terhadap terjadinya kekerasan pada anak. Beberapa contoh seperti
orang tua yang memiliki pola asuh membesarkan anaknya dengan
kekerasan atau penganiayaan, keluarga yang sering bertengkar
mempunyai tingkat tindakan kekerasan terhadap anak yang lebih
tinggi dibandingkan dengan keluarga yang tanpa masalah, orangtua
tunggal lebih memungkinkan melakukan tindakan kekerasan terhadap
anak karena faktor stres yang dialami orang tua tersebut, orang tua
atau keluarga belum memiliki kematangan psikologis sehingga
melakukan kekerasan terhadap anak, riwayat orang tua dengan
kekerasan pada masa kecil juga memungkinkan melakukan kekerasan
pada anaknya.
2. Faktor Eksternal
a. Lingkungan luar
Kondisi lingkungan juga dapat menjadi penyebab terjadinya
kekerasan terhadap anak, diantaranya seperti kondisi lingkungan yang
buruk, 12 terdapat sejarah penelantaran anak, dan tingkat kriminalitas
yang tinggi dalam lingkungannya.
b. Media massa
Media massa merupakan salah satu alat informasi. Media massa
telah menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari – hari dan media
ini tentu mempengaruhi penerimaan konsep, sikap, nilai dan pokok
moral. Seperti halnya dalam media cetak menyediakan berita – berita
tentang kejahatan, kekerasan, pembunuhan. Kemudian media
elektronik seperti radio, televisi, video, kaset dan film sangat
mempengaruhi perkembangan kejahatan yang menampilkan adegan
kekerasan, menayangkan film action dengan perkelahian, acara berita
kriminal, penganiayaan, kekerasan bahkan pembunuhan dalam
lingkup keluarga. Pada hakekatnya media massa memiliki fungsi yang
positif, namun kadang dapat menjadi negatif.
c. Budaya
Budaya yang masih menganut praktek – praktek dengan
pemikiran bahwa status anak yang dipandang rendah sehingga ketika
anak tidak dapat memenuhi harapan orangtua maka anak harus
dihukum. Bagi anak laki – laki, adanya nilai dalam masyarakat bahwa
anak laki – laki tidak boleh cengeng atau anak laki – laki harus tahan
uji. Pemahaman itu mempengaruhi dan membuat orangtua ketika
memukul, menendang, atau menindas anak adalah suatu hal yang
wajar untuk menjadikan anak sebagai pribadi yang kuat dan tidak
boleh lemah.

Dampak
Efek tindakan dari korban penganiayaan fisik dapat
diklasifikasikan dalam beberapa kategori. Ada anak yang menjadi
negatif dan agresif serta mudah frustasi; ada yang menjadi sangat
pasif dan apatis; ada yang tidak mempunyai kepibadian sendiri; ada
yang sulit menjalin relasi dengan individu lain dan ada pula yang
timbul rasa benci yang luar biasa terhadap dirinya sendiri. Selain itu
juga adanya kerusakan fisik, seperti perkembangan tubuh kurang
normal juga rusaknya sistem syaraf.
Tanda dan gejala
1) Luka yang menimbulkan bekas.

2) Kelainan pada rambut.

3) Kulit terbakar,sebagian besar karena sundutan rokok.

KEKERASAN SEKSUAL
Pengertian
Menurut Mayer (Tower: 2002) kekerasan yang dilakukan
diantaranya penganiayaan, perkosaan, stimulasi oral pada penis,
stimulasi oral pada klitoris, dan perkosaan secara paksa.
Upaya
Menurut Santosa, Harry (2016: 254) menyatakan bahwa agama
yang lurus menganjurkan pemisahan kamar lelaki dan perempuan,
serta memberikan warning keras apabila masih tidak mengenal Tuhan
secara mendalam pada usia 10 tahun seperti meninggalkan sholat.
Chomaria, Nurul (2012: 27) menyatakan bahwa perkenalkan
anak dengan semua bagian tubuhnya beserta fungsinya, misalnya
vagina atau penis fungsinya untuk buang air kecil, dubur untuk buang
air besar, payudara untuk memberikan minum adik bayi, dan
sebagainya. Berdasarkan pendapat para ahli diatas, penulis dapat
menarik kesimpulan bahwa salah satu bentuk pencegahan pelecehan
seksual adalah dengan melalui pembelajaran dan mengenalkan
kepada anak tentang bagian dan fungsi bagian tubuhnya
Penyebab Terjadinya Pelecehan Seksual Pada Anak
1. Adanya Orientasi Ketertarikan Seksual terhadap Anak-anak
(Pedofilia) Pedofilia adalah manusia dewasa yang memiliki
perilaku seksual menyimpang dengan anak-anak. Hal ini
berdampak munculnya rasa takut dan kekhawatiran pada tindakan
dan perilakunya. Kemudian bisa berimbas si anak akan pergi
meninggalkan rumah untuk menyelamatkan dirinya. Bahkan
terkadang akan menimbulkan tindakan bunuh diri atau membunuh
kedua orang tuanya. Berkenaan dengan hal tersebut, dalam
konsep stimulus respon oleh aliran behaviorisme (aliran perilaku)
mengungkapkan bahwa, ketika manusia dilahirkan tidak
membawa bakat apa-apa, manusia akan berkembang berdasarkan
stimulasi yang diterima oleh lingkungannya. Lingkungan yang
buruk akan menghasilkan manusia buruk, begitu sebaliknya.
Pandangan semacam ini memberikan penekanan yang sangat
besar pada aspek stimulasi lingkungan untuk mengembangkan
manusia.
2. trauma pernah mendapatkan kekerasan seksual dari orang
dewasa sewaktu masih kanak-kanak. Hal ini disebabkan oleh
dampak-dampak negatif yang akan timbul dalam diri korban yang
pernah mendapatkan perlakuan kekerasan seksual. Yaitu adanya
trauma secara fisik dan psikis. Kemudian menjurus kepada
disorientasi moral. Dampak-dampak negatif tersebut dijelaskan
sebagai berikut: Pertama; Trauma secara fisik. Trauma ini
muncul akibat rasa sakit yang dirasakan oleh korban saat pelaku
melakukan penertasi penisnya kelubang dubur dan/atau kelamin
korban. Kedua; Trauma secara psikis. Yaitu menyangkut ruang
psikologis korban. Kemunculan trauma ini disebabkan oleh
normanorma sosial yang ditanamkan pada diri anak oleh
lingkungan keluarga dan sosialnya. Semakin dalam tertanam
norma-norma sosial tersebut kedalam diri anak, maka akan
semakin traumalah si anak. DISORIENTASI MORAL Tidak Bisa
Memilih 25Ismantoro Dwi Yuwono, op. cit., h. 45-46 26Ibid.,
h.46 27 Ibid. 92 | Faktor Penyebab Pelecehan Seksual Terhadap
Anak An-Nisa’ Volume IX Nomor 2 Desember 2016
2. Pengaruh Pornomedia Massa Pornomedia merupakan
gabungan dari dua pecahan kata yaitu porno dan media.
Porno berarti cabul31, media berarti alat (sarana). 32 Jika
dihubungkan pornomedia merupakan alat atau sarana yang
digunakan dalam mengekspos hal-hal yang bersifat cabul.
Pornomedia massa merupakan ungkapan yang digunakan penulis
untuk menerangkan sisi lain media massa. Yaitu media yang
menampilkan hal-hal bersifat porno. Pada era globalisasi
sekarang ini, memungkinkan setiap orang dengan mudahnya
mendapatkan sajian mengenai kehidupan seksual dengan
gamblang. Hal ini merupakan dampak dari pengaruh jaringan
media telekomunikasi terkhususnya internet. adanya
pornomedia massa, dan ketidakpahaman anak akan
persoalan seksualitas.
REFERENSI: AD Kusumaningtyas dan Ahmad Nurcholis dkk,
Seksualitas dan Agama: Kesehatan Reproduksi dalam Perspektif
AgamaAgama, (Jakarta: G
Tanda-tanda Kekerasan Seksual pada Anak
1. Jika seorang anak mengalami kekesaran seksual, maka dapat
muncul berbagai perubahan pada diri anak secara tiba-tiba. Orang tua,
anggota keluarga, dan guru perlu waspada jika menemukan
perubahanperubahan seperti : adanya keluhan fisik seperti sakit
kepala, nyeri kalau buang air besar atau buang air kecil. Nyeri,
bengkak, pendarahan atau iritasi di daerah mulut, genital, atau dubur
yang sukar dijelaskan kepada orang lain.
2. Emosi anak tiba-tiba berubah. Ada anak setelah mengalami
kekerasan seksual menjadi takut, marah, mengisolasi diri, sedih,
merasa bersalah, merasa malu, dan bingung. Ada anak tiba-tiba
merasa takut, cemas, gemetar atau tidal menyukai orang atau tempat
tertentu. Atau anak tibatiba menghindari keluarganya, temannya atau
aktivitas yang biasa dilakukannya. Ia mengeluh ada masalah-masalah
di sekolahnya. Ada juga yang mengalami gangguan tidur, mungkin
susah tidur, atau bisa tidur tetapi terbangun-terbangun, atau sering
mimpi buruk dan mengerikan, atau sedang tidur sering mengigau atau
menjerit ketakutan.
3. Ada anak sering mandi atau cebok karena merasa kotor.
Anak anak tibatiba menjadi agresif, tidak disiplin, tidak mau sekolah
atau hanya mengurung diri di kamar. Ada anak melarikan diri dari
rumah ke rumah temannya, atau ke keluarga lainnya yang dirasakan
bisa memberikan perlindungan kepada dirinya. Atau anak melarikan
diri dari ketakutannya dengan merokok, menggunakan narkoba, dan
alkohol. Atau ada yang mengeluh merasa mual, muntah, atau tidak
mau makan. Yang paling membahayakan kalau ia merasa tidak
berharga, merasa bersalah, merasa sedih, putus asa, dan mencoba
bunuh diri.
4. Beberapa anak memperlihatkan gejala-gejala lainnya seperti
meniru perilaku seksual orang dewasa, melakukan aktivitas seksual
menetap dengan anak-anak lain, dengan dirinya sendiri (masturbasi
atau onani), dengan bonek atau dengan binatang peliharaannya.
(Luh Ketut Suryani dan Cokorda Bagus Jaya Lesmana, Pedofil:
Penghancur Masa Depan Anak, 2009, h. 18-19)

KEKERASAN MENTAL
Pengertian
Kekerasan psikologis, atau dalam pasal 7 Undang-undang No 23
tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga
disebut sebagai kekerasan psikis adalah perbuatan yang
mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya
kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan
psikis berat pada seseorang.

Tanda dan gejala

Dalam buku Domestic Psychological Violence: Voice of Youth


(2008), Sinclair meng-klasifikasikan kekerasan psikis pada anak usia
dini menjadi enam dengan penjabaran sebagai berikut:

1. Ancaman dan terror

Jenis kekerasan psikis yang pertama ini sering tidak disadari oleh
mayoritas orang tua. Salah satu bentuk ancaman kepada anak yang
paling sederhana dan mungkin sering tidak sengaja dilakukan oleh
orang tua yakni melalui kalimat “kalau tidak patuh nanti Ibu akan
blablablabla lho”. Kalimat tersebut memang tidak terbilang kasar,
namun jika sering dikatakan akan mengakibatkan menurunnya rasa
percaya diri pada anak. Sehingga kelak mereka akan merasa ragu
ketika akan mengambil keputusan, alias tidak punya rasa inisiatif.
Contoh lainnya yakni perilaku mengancam untuk membunuh atau
melukai anak, mengatakan keburukan anak yang terjadi di masa lalu,
mengancam untuk menyita atau merusak barang yang disenangi anak,
dan sebagainya.
2. Verbal

Kekerasan psikis dalam bentuk verbal dilakukan melalui perkataan


atau tulisan yang sifatnya menyakiti hati anak, contohnya seperti
berkata kasar atau tidak pantas, memanggil mereka dengan sebutan
yang tidak baik, membentak, mencaci maki, dan lain-lain. Kekerasan
yang seperti ini akan menyebabkan anak menjadi “bandel” dan keras
hatinya.

3. Pemaksaan

Pemaksaan dapat berupa menyuruh anak untuk melakukan sesuatu


yang tidak diinginkannya atau melakukan tindakan yang tidak pantas
seperti “memuaskan” birahi orangtuanya, menyuruhnya untuk
memakan makanan binatang, dan sebagainya. Hal ini akan
menyebabkan anak menjadi trauma atau frustasi karena dituntut untuk
melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya.

4. Emosi

Kekerasan psikis dalam bentuk emosi meliputi tindakan memarahi


anak, menyangkal emosi yang mereka ungkapkan, tidak memberi
perhatian yang sewajarnya, yang akan mengakibatkan terciptanya rasa
takut dan was-was pada anak. apabila kekerasan ini sering dilakukan,
anak akan sulit untuk mengontrol dan menampakkan emosinya secara
normal.

5. Kontrol

Biasanya kekerasan ini dilakukan oleh orangtua dengan gaya


pengasuhan yang otoriter, yakni mengatur segala kebutuhan anak
dengan mengacuhkan pendapat mereka. Contoh perilakunya yaitu
membatasi keinginan anak, menghilangkan kesenangan mereka,
merampas hak primary anak seperti waktu bermain maupun istirahat
untuk menuruti ambisi orang tua, mengisolasi anak dari kegiatan
sosial, dan sebagainya.
6. Penyalahgunaan dan pengabaian.

Jenis kekerasan yang terakhir ini juga sering dilakukan orang tua
tanpa sadar. Beberapa contoh perilaku penyalahgunaan dan
pengabaian yaitu mendiskriminasi atau membeda-bedakan anak
dengan anak yang lain, menyalahgunakan kepercayaan anak untuk
kepentingan pribadi, merasa selalu benar, tidak mendengarkan dan
tidak menanggapi ketika anak bercerita, tidak merawat anak dengan
sewajarnya, dan lain-lain.

Dampak kekerasan psikis:

 Berakibat pada hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan


untuk bertindak, gangguan tidur atau gangguan makan atau
ketergantungan obat atau disfungsi seksual, gangguan fungsi tubuh
ringan, seperti sakit kepala, gangguan pencernakan tanpa indikasi
medis.
 Kekerasan psikis yang berat bisa berakibat hilangnya rasa percaya
diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, gangguan tidur atau
gangguan makan atau ketergantungan obat atau disfungsi seksual
dalam kondisi berat dan menahun, dan bisa berakibat pada gangguan
fungsi tubuh berat misalnya: tiba-tiba lumpuh atau buta tanpa indikasi
medis. Bahkan dampak kekerasan psikis berat bisa bunuh diri.

 pada gangguan fungsi tubuh berat misalnya: tiba-tiba lumpuh atau


buta tanpa indikasi medis. Bahkan dampak kekerasan psikis berat bisa
bunuh diri.

Upaya Penyelesaian Kasus Kekerasan Psikis

Kekerasan psikis tidak boleh diabaikan, karena meskipun tidak


kelihatan ada luka fisik namun siapapun yang mengalami tentu
merasa tidak nyaman, dan bahkan mengalami penderitaan berat dan
bisa berakhir dengan kematian. Untuk itu, penting mencari jalan
keluar atas persoalan psikis yang dialami, yaitu dengan cara:

 Memunculkan keyakinan diri korban bahwa setiap orang mempunyai


harga diri dan tidak bisa diperlakukan seenaknya. Ajak korban untuk
menghargai dirinya sendiri.
 Meyakinkan pada diri korban bahwa bila pasangan atau pelaku
kekerasan mengaku menyayangi korban, maka tentu akan
memberikan penghargaan dan menghormati korban dan bukan
sebaliknya.
 Perlu mencari informasi seluas luasnya untuk mendapat pengetahuan
yang lebih banyak mengenai bagaimana membangun kehidupan yang
lebih baik. Pengetahuan bisa dicari dengan banyak cara, seperti
membaca Koran, mendengar radio, informasi dari organisasi sekitar,
atau bertanyalah pada saudara, teman, tetangga, dsb.
 Perlu juga untuk memperluas pergaulan, sehingga semakin banyak
pengalaman dan semakin membuka wawasan diri dan pasangan.
 Perlu memikirkan cara terbaik untuk menunjukkan keberatan atas
tindakan yang dilakukan pasangan (pelaku). Kuatkan diri dan
hilangkan rasa takut untuk mampu menyampaikan keberatan kita atas
tindakan yang dilakukan pasangan dengan terbuka.
 Kekerasan psikis bisa berkembang menjadi kekerasan fisik, bila tidak
segera diatasi. Maka mendiskusikan persoalan yang terjadi dan
mengurai masalahnya menjadi sangat penting. Bangun kesepakatan-
kesepakatan bersama untuk mencapai kondisi kehidupan yang lebih
baik.
 Korban kekerasan psikis biasanya memiliki ketergantungan-
ketergantungan pada pelaku, bisa secara ekonomi, pengambilan
keputusan, tidak bisa pergi sendiri. Maka perlu mulai belajar untuk
lebih memberdayakan diri dan mengembangkan potensi.
 Membicarakan persoalan yang sedang dihadapi dengan orang-orang
terdekat perlu juga dilakukan, seperti dengan orang tua, mertua, atau
keluarga yang lain. Dukungan dan masukan untuk menemukan
langkah-langkah pencarian solusi bisa didapat dari orang-orang yang
kita percaya. Hindari orang-orang yang memberi respon negative dan
cenderung menyalahkan.
 Bila apa yang telah kita usahakan sendiri ternyata belum mampu
mengubah perilaku pelaku. Maka ada baiknya minta keluarga dan
orang yang disegani pelaku untuk membantu menyelesaikan
persoalan
KEKERASAN PENELANTARAN

Pengertian

Penelantaran anak adalah praktik melepaskan tanggung jawab dan


klaim atas keturunan dengan cara illegal (John Boswell. 1998).

Penyebab

Upaya

Sartomo sebagaimana dikutip oleh Purnianti mengatakan bahwa ada


tiga metode/pendekatan dalam pencegahan/prevensi :

1. Primary prevention.
Metode/pendekatan ini lebih ditujukan kepada seluruh anggota
masyarakat dan dilakukan sebelum perlakuan salah dan
penelantaran anak terjadi. Cara-cara yang efektif untuk
melaksanakan metode ini dapat dimulai pada tingkat awal melalui
lembaga Upaya Pencegahan Kekerasan terhadap Anak 289 sekolah.
Program prevensi melalui lembaga sekolah dapat dimulai sejak
sekolah dasar. Setiap anak didik dalam suatu sistem pendidikan
yang ada dibubuhi pengetahuan tentang bagaimana menghargai
sesamanya, menumbuhkan kasih sayang, dan kepedulian yang
tinggi. Pada tingkat sekolah menengah, para peserta didik mulai
ditumbuhkan kesadarannya akan rasa tanggung jawab sebagai calon
orang tua. Pada tingkat yang lebih luas, yaitu masyarakat, sasaran
dari program prevensi ditujukan tidak hanya kepada keluarga-
keluarga berpengalaman, tetapi juga keluarga muda. Banyak ahli
berpendapat bahwa metode prevensi primer harus juga ditujukan
untuk mengurangi kondisi miskin pada masyarakat. Disamping
mengurangi tingkat kemiskinan, juga membuka kesempatan kerja
yang seluas-luasnya serta mengurangi tekanan hidup. Program
prevensi lebih memberikan mandat kepada pemerintah untuk
berperan dalam menciptakan perubahan di masyarakat.
2. Secondary prevention.
Sasaran metode prevensi sekunder adalah individu-individu yang
diperkirakan sangat mungkin memiliki kesulitan menjadi orang tua
yang baik, karenanya sangat membutuhkan pelayanan. Prevensi
sekunder ditujukan terutama kepada orang tua yang pernah
melakukan perlakuan salah baik fisik ataupun non-fisik dan saat
ini memiliki rasa percaya diri yang rendah/low self esteem, tinggal
terisolasi, dan juga mereka yang berada pada taraf hidup miskin.
Beberapa lembaga yang diharapkan dapat melakukan tindakan
Prevensi sekunder, antara lain lembaga kesehatan melalui para
dokter dan para medis, lembaga sosial melalui para pekerja sosial.
Fungsi pencegahan yang dilakukan oleh pekerja sosial pada
intinya adalah sebagai perlindungan atas perlakuan yang seringkali
sangat tidak wajar dan kurang manusiawi terhadap anak. Para ahli
mencoba melakukan upaya atau prevensi. Metode prevensi tidak
hanya ditujukan kepada keluarga saja tetapi juga masyarakat pada
umumnya. Beberapa ahli menyebut suatu metode prevensi yang
ideal adalah melalui peningkatan daya ketahanan keluarga. Ada
beberapa fungsi keluarga yang diharapkan dapat meningkatan
ketahanan keluarga, yaitu: Ketaqwaan beragama, Menanamkan
cinta kasih, Penghayatan reproduksi, Pengayoman dan
memberikan rasa damai, aman dan bahagia, Memberi pendidikan
dan tempat sosialisasi, Tempat yang aman dalam mendukung
pemenuhan kebutuhan ekonomi anggota keluarga.
3. Tertiary Prevention. Bentuk prevensi jenis ini dapat dikategorikan
sama dengan treatment, yaitu suatu kondisi dimana kasuskasus
perlakuan salah (child abuse) dan pengabaian anak (child
neglected) sudah terjadi, sehingga bentuk prevensi adalah suatu
tindakan yang ditujukan kepada orang tua bersangkutan dalam
upaya mencegah terulangnya kembali perbuatan tindak kekerasan
terhadap anak/child abuse. Prevensi jenis ini juga dimaksudkan
untuk mempersatukan kembali keluarga pecah, melangsungkan
kehidupan bersama dalam keluarga (menjalin kerukunan keluarga)
dan bahkan bila perlu membantu keluarga lainnya memberi
kebebasan pada anak-anaknya. Pola pembinaan dalam kategori
prevensi tertier memang tidak mudah, mengingat sangat
bervariasinya kehidupan, adat-istiadat, dan kebiasaan yang
terdapat pada tiap keluarga. Oleh karena itu bentuk atau jenis
pembinaan untuk setiap kasus keluarga cenderung subyektif dan
individualistik. Tolok ukur penting dalam prevensi tertier adalah
bahwa pola pembinaan harus ditujukan kepada upaya memutuskan
mata rantai terjadinya alih generasi sifat-sifat perlakuan salah dan
pengabaian anak yang berkelanjutan. Program pembinaan pada
tingkat ini dapat dilakukan melalui: psikoterapi individu, terapi
kelompok untuk para orang tua, terapi pola bermain bagi anak-
anak, kunjungan kesehatan, pendidikan bagi ibu rumah tangga,
bantuan kepada anak-anak yang menjalani kritis, fasilitas hunian,
dan sebagainya. Diseminasi (Dissemination) adalah suatu kegiatan
yang ditujukan kepada kelompok target atau individu agar mereka
memperoleh informasi, timbul kesadaran, menerima, dan akhirnya
memanfaatkan informasi tersebut. Diseminasi dapat dilaksanakan
dalam bentuk seminar dan workshop, atau melalui media cetak
dan elektronik, dalam suasana formal maupun informal. Metode
pendekatan pada sasaran diseminasi ada dua; 1) Pendekatan
kelompok (instansi pemerintah pusat dan daerah serta kelompok
masyarakat yang terdiri dari kelompok profesi, LSM, ormas, toga,
dan tokoh adat), 2) Pendekatan massal melalui media cetak dan
elektronik. Sedangkan, metode penyampaian materi diseminasi
ada empat, yaitu ceramah, tanya jawab/dialog, mendongeng, dan
simulasi. Selain itu, dapat menggunakan perangkat sosialisasi
seperti; buku-buku, stiker, poster, leaflet, dan majalah, yang berisi
tentang kampanye pencegahan kekerasan terhadap anak.

JURNAL KEAMANAN NASIONAL Vol. I No. 2 2015

ASKEP

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
Perawat seringkali menjadi orang yang pertamakali menemui
adanya tanda adanya kekerasan pada anak (lihat indicator fisik dn
kebiasaan pada macam-macam child abuse di atas). Saat abuse terjadi,
penting bagi perawat untuk mendapatkan seluruh gambarannya,
bicaralah dahulu dengan orang tua tanpa disertai anak, kemudian
menginterview anak.
1. Identifikasi orang tua yang memiliki anak yang ditempatkan di
rumah orang lain atau saudaranya untuk beberapa waktu.
2. Identifikasi adanya riwayat abuse pada orang tua di masa lalu,
depresi, atau masalah psikiatrik.
3. Identifikasi situasi krisis yang dapat menimbulkan abuse
4. Identifikasi bayi atau anak yang memerlukan perawatan dengan
ketergantungan tinggi (seperti prematur, bayi berat lahir rendah,
intoleransi makanan, ketidakmampuan perkembangan, hiperaktif, dan
gangguan kurang perhatian)
5. Monitor reaksi orang tua observasi adanya rasa jijik, takut atau
kecewa dengan jenis kelamin anak yang dilahirkan.
6. Kaji pengetahuan orang tua tentang kebutuhan dasar anak dan
perawatan anak.
7. Kaji respon psikologis pada trauma
8. Kaji keadekuatan dan adanya support system
9. Situasi Keluarga.
Fokus pengkajian secara keseluruhan untuk menegakkan diagnosa
keperawatan berkaitan dengan child abuse, antara lain:
1) Psikososial
· Melalaikan diri (neglect), baju dan rambut kotor, bau
· Gagal tumbuh dengan baik
· Keterlambatan perkembangan tingkat kognitif, psikomotor, dan
psikososial
· With drawl (memisahkan diri) dari orang-orang dewasa
2) Muskuloskeletal
· Fraktur
· Dislokasi
· Keseleo (sprain)
3) Genito Urinaria
· Infeksi saluran kemih
· Perdarahan per vagina
· Luka pada vagina/penis
· Nyeri waktu miksi
· Laserasi pada organ genetalia eksternal, vagina, dan anus.
4) Integumen
· Lesi sirkulasi (biasanya pada kasus luka bakar oleh karena rokok)
· Luka bakar pada kulit, memar dan abrasi
· Adanya tanda2 gigitan manusia yang tidak dapat dijelaskan
· Bengkak.

Evaluasi diagnostik
Diagnostik perlakuan salah dapat ditegakkan berdasarkan
riwayat penyakit, pemeriksaan fisik yang teliti, dokumentasi riwayat
psikologik yang lengkap, dan laboratorium.
a) Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik
1) Penganiayaan fisik. Tanda patogomonik akibat penganiayaan anak
dapat berupa:
· Luka memar, terutama di wajah, bibir, mulut, telinga, kepala, atau
punggung.
· Luka bakar yang patogomonik dan sering terjadi: rokok,
pencelupan kaki-tangan dalam air panas, atau luka bakar berbentuk
lingkaran pada bokong. Luka bakar akibat aliran listrik seperti oven
atau setrika.
· Trauma kepala, seperti fraktur tengkorak, trauma intrakranial,
perdarahan retina, dan fraktur tulang panjang yang multipel dengan
tingkat penyembuhan yang berbeda.
· Trauma abdomen dan toraks lebih jarang dibanding trauma kepala
dan tulang pada penganiayaan anak. Penganiayaan fisik lebih
dominan pada anak di atas usia 2 tahun.
2) Pengabaian
· Pengabaian non organic failure to thrive, yaitu suatu kondisi yang
mengakibatkan kegagalan mengikuti pola pertumbuhan dan
perkembangan anak yang seharusnya, tetapi respons baik terhadap
pemenuhan makanan dan kebutuhan emosi anak.
· Pengabaian medis, yaitu tidak mendapat pengobatan yang
memadai pada anak penderita penyakit kronik karena orangtua
menyangkal anak menderita penyakit kronik. Tidak mampu imunisasi
dan perawatan kesehatan lainnya. Kegagalan yang disengaja oleh
orangtua juga mencakup kelalaian merawat kesehatan gigi dan mulut
anak sehingga.
3) Penganiayaan seksual. Tanda dan gejala dari penganiayaan seksual
terdiri dari:
· Nyeri vagina, anus, dan penis serta adanya perdarahan atau sekret
di vagina.
· Disuria kronik, enuresis, konstipasi atau encopresis.
· Pubertas prematur pada wanita
· Tingkah laku yang spesifik: melakukan aktivitas seksual dengan
teman sebaya, binatang, atau objek tertentu. Tidak sesuai dengan
pengetahuan seksual dengan umur anak serta tingkah laku yang
menggairahkan.
· Tingkah laku yang tidak spesifik: percobaan bunuh diri, perasaan
takut pada orang dewasa, mimpi buruk, gangguan tidur, menarik diri,
rendah diri, depresi, gangguan stres post-traumatik, prostitusi,
gangguan makan, dsb.
b) Laboratorium
Jika dijumpai luka memar, perlu dilakuak skrining perdarahan.
Pada penganiayaan seksual, dilakukan pemeriksaan:
· Swab untuk analisa asam fosfatase, spermatozoa dalam 72 jam
setelah penganiayaan seksual.
· Kultur spesimen dari oral, anal, dan vaginal untuk genokokus
· Tes untuk sifilis, HIV, dan hepatitis B
· Analisa rambut pubis
c) Radiologi
Ada dua peranan radiologi dalam menegakkan diagnosis perlakuan
salah pada anak, yaitu untuk identifiaksi fokus dari jejas,
dokumentasi,
Pemeriksaan radiologi pada anak di bawah usia 2 tahun sebaiknya
dilakukan untuk meneliti tulang, sedangkan pada anak diatas 4-5
tahun hanya perlu dilakukan jika ada rasa nyeri tulang, keterbatasan
dalam pergerakan pada saat pemeriksaan fisik. Adanya fraktur
multiple dengan tingkat penyembuhan adanya penyaniayaan fisik.
· CT-scan lebih sensitif dan spesifik untuk lesi serebral akut dan
kronik, hanya diindikasikan pada pengniayaan anak atau seorang bayi
yang mengalami trauma kepala yang berat.
· MRI (Magnetik Resonance Imaging) lebih sensitif pada lesi yang
subakut dan kronik seperti perdarahan subdural dan sub arakhnoid.
· Ultrasonografi digunakan untuk mendiagnosis adanya lesi visceral
· Pemeriksaan kolposkopi untuk mengevaluasi anak yang
mengalami penganiayaan seksual.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
I. Perilaku kekerasan berhubungan dengan keluarga
tidak harmonis ,harga diri rendah.
II. Isolasi social berhubungan dengan koping keluarga
inefektif, keluarga yang tidak harmonis.
III. Koping keluarga inefektif berhubungan dengan
keluarga tidak harmonis.
IV. Risiko mencederai diri sendiri, orang lain, lingkungan
berhubungan dengan perilaku kekerasan.

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
I. Perilaku kekerasan berhubungan dengan harga diri rendah
Tujuan.
· Klien dapat mengontrol perilaku kekerasan pada saat berhubungan
dengan orang lain.
Kriteria hasil:
· Klien dapat membina hubungan saling percaya.
· Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek yang positif
yang dimiliki.
· Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan.
· Klien dapat menetapkan dan merencanakan kegiatan sesuai
kemampuan yang dimiliki.
· Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan
kemampuannya.
· Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.
Intervensi :
1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip
komunikasi terapeutik.
Rasional : hubungan saling percaya memungkinkan klien terbuka
pada perawat dan sebagai dasar untuk intervensi selanjutnya.
2. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
Rasional : mengidentifikasi hal-hal positif yang masih dimiliki klien.
3. Setiap bertemu klien dihindarkan dari memberi penilaian negatif.
Rasional : pemberian penilaian negatif dapat menurunkan semangat
klien dalam hidupnya.
4. Utamakan memberi pujian yang realistik pada kemampuan dan
aspek positif klien.
Rasional : meningkatkan harga diri klien.
5. Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan.
Rasional : mengidentifikasi kemampuan yang masih dapat digunakan.
6. Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya di
rumah sakit.
Rasional : mengidentifikasi kemampuan yang masih dapat
dilanjutkan.
7. Berikan pujian.
Rasional : meningkatkan harga diri dan merasa diperhatikan.
8. Minta klien untuk memilih satu kegiatan yang mau dilakukan di
rumah sakit.
Rasional : agar klien dapat melakukan kegiatan yang realistis sesuai
kemampuan yang dimiliki.
9. Bantu klien melakukannya jika perlu beri contoh.
Rasional : menuntun klien dalam melakukan kegiatan.
10. Beri pujian atas keberhasilan klien.
Rasional : meningkatkan motivasi untuk berbuat lebih baik.
11. Diskusikan jadwal kegiatan harian atas kegiatan yang telah dilatih.
Rasional : mengidentifikasi klien agar berlatih secara teratur.
12. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah
direncanakan.
Rasional : tujuan utama dalam penghayatan pasien adalah
membuatnya menggunakan respon koping mal adaptif dengan yang
lebih adaptif.
13. Beri pujian atas keberhasilan klien.
Rasional : meningkatkan harga diri klien.
14. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan dirumah.
Rasional : mendorong pengulangan perilaku yang diharapkan.

II. Isolasi social berhubungan dengan perilaku kekerasan, keluarga


yang tidak harmonis.
Tujuan
· Klien dapat menerima interaksi social terhadap individu lainya.
Kriteria hasil
· Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
· Klien dapat berkomunikasi dengan baik atau jelas dan terbuka.
· Klien dapat menggunakan koping yang konstruktif.
· Kecemasan klien telah berkurang.
Intervensi
1. Psikoterapeutik.
a. Bina hubungan saling percaya
· Buat kontrak dengan klien : memperkenalkan nama perawat dan
waktu interaksi dan tujuan.
· Ajak klien bercakap-cakap dengan memanggil nama klien, untuk
menunjukkan penghargaan yang tulus.
· Jelaskan kepada klien bahwa informasi tentang pribadi klien tidak
akan diberitahukan kepada orang lain yang tidak berkepentingan.
· Selalu memperhatikan kebutuhan klien.
b. Berkomunikasi dengan klien secara jelas dan terbuka
· Bicarakan dengan klien tentang sesuatu yang nyata dan pakai
istilah yang sederhana
· Gunakan komunikasi verbal dan non verbal yang sesuai, jelas dan
teratur.
· Bersama klien menilai manfaat dari pembicaraannya dengan
perawat.
· Tunjukkan sikap empati dan beri kesempatan kepada klien untuk
mengungkapkan perasaanya
c. Kenal dan dukung kelebihan klien
· Tunjukkan cara penyelesaian masalah (koping) yang bisa
digunakan klien, cara menceritakan perasaanya kepada orang lain
yang terdekat/dipercaya.
· Bahas bersama klien tentang koping yang konstruktif
· Dukung koping klien yang konstruktif
· Anjurkan klien untuk menggunakan koping yang konstruktif.
d. Bantu klien mengurangi cemasnya ketika hubungan interpersonal
· Batasi jumlah orang yang berhubungan dengan klien pada awal
terapi.
· Lakukan interaksi dengan klien sesering mungkin.
· Temani klien beberapa saat dengan duduk disamping klien.
· Libatkan klien dalam berinteraksi dengan orang lain secara
bertahap, dimulai dari klien dengan perawat, kemudian dengan dua
perawat, kemudian ditambah dengan satu klien dan seterusnya.
· Libatkan klien dalam aktivitas kelompok.
2. Pendidikan kesehatan
a. Jelaskan kepada klien cara mengungkapkan perasaan selain
dengan kata-kata seperti dengan menulis, menangis, menggambar,
berolah-raga, bermain musik, cara berhubungan dengan orang lain :
keuntungan berhubungan dengan orang lain.
b. Bicarakan dengan klien peristiwa yang menyebabkan menarik diri.
c. Jelaskan dan anjurkan kepada keluarga untuk tetap mengadakan
hubungan dengan klien.
d. Anjurkan pada keluarga agar mengikutsertakan klien dalam
aktivitas dilingkungan masyarakat.
3. Kegiatan hidup sehari-hari
a. Bantu klien dalam melaksanakan kebersihan diri sampai dapat
melaksanakannya sendiri.
b. Bimbing klien berpakaian yang rapi
c. Batasi kesempatan untuk tidur
d. Sediakan sarana informasi dan hiburan seperti : majalah, surat
kabar, radio dan televisi.
e. Buat dan rencanakan jadwal kegiatan bersama-sama klien.
4. Lingkungan Terapeutik
a. Pindahkan barang-barang yang dapat membahayakan klien
maupun orang lain dari ruangan.
b. Cegah agar klien tidak berada didalam ruangan yang sendiri dalam
jangka waktu yang lama.
c. Beri rangsangan sensori seperti : suara musik, gambar hiasan di
ruangan.

III. Koping keluarga inefektif berhubungan dengan keluarga tidak


harmonis.
Tujuan
· Koping adatif dapat dilakukan dengan optimal.
Kriteria hasil
· Keluarga dapat mengenal masalah dalam keluarga dan
menyelesaikannya dengan tindakan yang tepat.
Intervensi
1. Identifikasi dengan keluarga tentang prilaku maladaptif .
Rasional : Keluarga mengenal dan mengungkapkan serta menerima
perasaannya sehingga mempermudah pemberian asuhan kepada anak
dengan benar.
2. Beri reinforcement positif atas tindakan keluarga yang adaptif.
Rasional : Untuk memotivasi keluarga dalam mengasuh anak secara
baik dan benar tanpa menghakimi dan menyalahkan anak atas
keadaan yang buruk.
3. Diskusikan dengan keluarga tentang tindakan yang semestinya
terhadap anak.
Rasional : Memberikan gambaran tentang tindakan yang semestinya
dapat dilaksanakan keluarga terhadap anak.
4. Diskusikan dengan keluarga tentang pentingnya peran orang tua
sebagai status pendukung dalam proses tumbuh kembang anak.
Rasional : Memberikan kejelasan dan memotivasi keluarga untuk
meningkatkan peran sertanya dalam pengasuhan dan proses tumbuh
kembang anaknya.
5. Kolaborasi dalam pemberian pendidikan keluarga terhadap orang
tua.
Rasional :Dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman keluarga
( orang tua ),tentang pentingnya peran orang tua dalam tumbuh
kembang anak,memiliki pengetahuan tentang metode pengasuhan
yang baik,dan menanamkan kesadaran untuk menerima anaknya
dalam keadaan apapun.

IV. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan


berhubungan dengan perilaku kekerasan
Tujuan.
· Klien tidak mencederai diri / orang lain / lingkungan.
Kriteria hasil:
· Klien dapat membina hubungan saling percaya.
· Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.
· Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan.
· Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekekerasan yang biasa
dilakukan.
· Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
· Klien dapat melakukan cara berespons terhadap kemarahan secara
konstruktif.
· Klien dapat mendemonstrasikan sikap perilaku kekerasan.
· Klien dapat dukungan keluarga dalam mengontrol perilaku
kekerasan.
· Klien dapat menggunakan obat yang benar.
Intervensi :
1. Bina hubungan saling percaya. Salam terapeutik, perkenalan diri,
beritahu tujuan interaksi, kontrak waktu yang tepat, ciptakan
lingkungan yang aman dan tenang, observasi respon verbal dan non
verbal, bersikap empati.
Rasional : Hubungan saling percaya memungkinkan terbuka pada
perawat dan sebagai dasar untuk intervensi selanjutnya.
2. Beri kesempatan pada klien untuk mengugkapkan perasaannya.
Rasional : Informasi dari klien penting bagi perawat untuk membantu
kien dalam menyelesaikan masalah yang konstruktif.
3. Bantu untuk mengungkapkan penyebab perasaan jengkel / kesal
Rasional : pengungkapan perasaan dalam suatu lingkungan yang tidak
mengancam akan menolong pasien untuk sampai kepada akhir
penyelesaian persoalan.
4. Anjurkan klien mengungkapkan dilema dan dirasakan saat jengkel.
Rasional : Pengungkapan kekesalan secara konstruktif untuk mencari
penyelesaian masalah yang konstruktif pula.
5. Observasi tanda perilaku kekerasan pada klien.
Rasional : mengetaui perilaku yang dilakukan oleh klien sehingga
memudahkan untuk intervensi.
6. Simpulkan bersama tanda-tanda jengkel / kesan yang dialami klien.
Rasional : memudahkan klien dalam mengontrol perilaku kekerasan.
7. Anjurkan klien untuk mengungkapkan perilaku kekerasan yang
biasa dilakukan.
Rasional : memudahkan dalam pemberian tindakan kepada klien.
8. Bantu klien bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang
biasa dilakukan.
Rasional : mengetahui bagaimana cara klien melakukannya.
9. Bicarakan dengan klien apakah dengan cara yang klien lakukan
masalahnya selesai.
Rasional : membantu dalam memberikan motivasi untuk
menyelesaikan masalahnya.
10. Bicarakan akibat / kerugian dan perilaku kekerasan yang dilakukan
klien.
Rasional : mencari metode koping yang tepat dan konstruktif.
11. Bersama klien menyimpulkan akibat dari perilaku kekerasan yang
dilakukan.
Rasional : mengerti cara yang benar dalam mengalihkan perasaan
marah.
12. Tanyakan pada klien “apakah ia ingin mempelajari cara baru yang
sehat”.
Rasional : menambah pengetahuan klien tentang koping yang
konstruktif.
13. Berikan pujian jika klien mengetahui cara yang sehat.
Rasional : mendorong pengulangan perilaku yang positif,
meningkatkan harga diri klien.
14. Diskusikan dengan klien cara lain yang sehat.
Secara fisik : tarik nafas dalam / memukul botol / kasur atau olahraga
atau pekerjaan yang memerlukan tenaga.
Secara verbal : katakan bahwa anda sering jengkel / kesal.
Secara sosial : lakukan dalam kelompok cara-cara marah yang sehat,
latihan asertif, latihan manajemen perilaku kekerasan.
Secara spiritual : anjurkan klien berdua, sembahyang, meminta pada
Tuhan agar diberi kesabaran.
Rasional : dengan cara sehat dapat dengan mudah mengontrol
kemarahan klien.
15. Bantu klien memilih cara yang paling tepat untuk klien.
Rasional : memotivasi klien dalam mendemonstrasikan cara
mengontrol perilaku kekerasan.
16. Bantu klien mengidentifikasi manfaat yang telah dipilih.
Rasional : mengetahui respon klien terhadap cara yang diberikan.
17. Bantu klien untuk menstimulasikan cara tersebut.
Rasional : mengetahui kemampuan klien melakukan cara yang sehat.
18. Beri reinforcement positif atas keberhasilan klien menstimulasi cara
tersebut.
Rasional : meningkatkan harga diri klien.
19. Anjurkan klien untuk menggunakan cara yang telah dipelajari saat
jengkel / marah.
Rasional : mengetahui kemajuan klien selama diintervensi.
20. Identifikasi kemampuan keluarga dalam merawat klien dari sikap
apa yang telah dilakukan keluarga terhadap klien selama ini.
Rasional : memotivasi keluarga dalam memberikan perawatan kepada
klien.
21. Jelaskan peran serta keluarga dalam merawat klien.
Rasional : menambah pengetahuan bahwa keluarga sangat berperan
dalam perubahan perilaku klien.