Anda di halaman 1dari 60

Obat-obat pada

sistem saraf
pusat (SSP)

Dr. Nunung Yuniarti


Fakultas Farmasi UGM
Sistem  saraf  manusia  
Sistem Saraf Pusat:
- Otak
- Medula spinalis

Sistem Saraf Tepi:


- SS somatis
- SS Otonom :
Simpatis
Parasimpatis
Bagaimana SSP bekerja?

akson

dendrit
Bagaimana sistem saraf pusat bekerja ?
•  Sel saraf saling berkomunikasi menggunakan
neurotransmiter
•  Neurotransmiter bekerja pada reseptornya
masing-masing à menghasilkan efek
penghambatan atau pemicuan aktivitas saraf
pusat
•  Berbagai gangguan sistem saraf (neurologik
atau psikiatrik) biasanya terjadi karena
ketidakseimbangan (kekurangan atau lelebihan)
neurotransmiter
Macam neurotransmiter di SSP ?
•  Asetilkolin à kekurangan: Alzheimer,
myastenia gravis
•  Dopamin à kelebihan: skizoprenia,
kekurangan: parkinson
•  GABA à kekurangan: epilepsi, parkinson
•  Glutamat à kelebihan : epilepsi, degenerasi
sel saraf
•  Serotonin (5-HT) à kekurangan: depresi,
parkinson, kelebihan: autis
•  Norepinefrin (NE) à kekurangan: depresi,
parkinson
Golongan obat SSP
•  Obat sedatif – hipnotik
•  Obat anestetik (umum dan lokal)
•  Obat antidepresan
•  Obat antipsikotik/neuroleptik
•  Analgetik opiat
•  Obat antiparkinson
J. Parkinson

Antiparkinsonian
Drugs

Dr. Nunung Yuniarti


Fakultas Farmasi UGM
Parkinson’s Disease

•  PD à sebuah gangguan degeneratif SSP yg kronis dan progresif


•  Terjadi pada pria dan wanita usia 50-80 tahun
•  Gejala: tremor otot, kekakuan otot, berkurangnya fungsi koordinasi,
gaya berjalan terseok-seok (diseret), perubahan postur,
bradykinesia, sialorrhoea (hipersalivasi), dementia
Etiologi

•  Disebabkan oleh rusaknya atau perubahan degeneratif pd


substantia nigra yg menyebabkan rusak/matinya sel saraf yg
memproduksi dopamin à kadar dopamin rendah

Clinical Pharmacology – 9th Ed. (2003)


•  Dua sistem yg berperan penting dlm pengaturan aktivitas motorik:
–  corpus striatum à neurotransmitter asetilkolin
–  substantia nigra à neurotransmitter dopamin
•  PD à ketdkseimbangan dopamine dan acetylcholine di otak
•  Neurotransmitter lain yg menurun pada PD: GABA, Serotonin,
Norepinephrine Rang et al. Pharmacology – 5st Ed. (2003)
•  Drug  
•  Oxida2on  of  DA  
•  Age-­‐related    
–  atherosclerosis  
–  defect  in  protec2ve  
an2oxidant  
mechanisms  
•  Environmental  
toxins  or  some  
infec2ons  (grippe)  
•  A  synthe2c  toxin  N-­‐
methyl-­‐4-­‐phenyl  
tetrahydropyridine  
(MPTP)    
•  Gene2c  
predisposi2on  
Factors contributing to degeneration of Essential of Medical Pharmacology
nigrostrial DA-ergic neurons causing PD – 5st Ed. (2003)
The cause of selective degeneration of
nigrostrial neurones in PD is multifactorial
•  Drugs-induced parkinsonian syndromes
–  DA receptor antagonists (e.g., antipsychotic
agents, phenothiazines) à lead to the destruction
of the DA-ergic nigrostriatal neurons
•  Oxidation of DA by MAO-B and aldehyde
dehydrogenase generate hydroxyl free radicals
(˙OH) in the presence of ferrous iron (basal ganglia
are rich in iron).
–  Normally these radicals are quenched by
glutathione and other endogenous antioxidants.
Production of free radical by the metabolism of dopamine (DA).
DA is converted by Mono Amine Oxidase-B (MAO-B) and
aldehyde dehydrogenase (AD) in 3,4-dihydroxyphenylacetic acid
(DOPAC), producing hydrogen peroxide (H2O2).
In the presence of ferrous ion hydrogen peroxide undergoes
spontaneous conversion, forming a hydroxyl
free radical (The Fenton reaction).
Goodman & Gilman's The Pharmacologic Basis of Therapeutics - 11th Ed. (2006)
•  Age-­‐related    
–  in  atherosclerosis  
–  defect  in  protec2ve  an2oxidant  mechanisms    
•  allows  the  free  radicals  to  damage  lipid  membranes  and  DNA  
resul2ng  in  neuronal  degenera2ons.  

•  Gene2c  predisposi2on  may  contribute  to  high  vulnerability  of  


substan2a  nigra  neurons.  
•  Environmental  toxins  or  some  infec2ons  (grippe)  may  
accentuate  these  defects.    

•  A  synthe2c  toxin  N-­‐methyl-­‐4-­‐phenyl  tetrahydropyridine  


(MPTP),  which  occurs  as  a  contaminant  of  some  illicit  drugs,  
produces  nigrostrial  degenera2ons  similar  to  PD.  
 
Biosintesis  dan  degradasi  norepinefrin:    
jalur  2rosin-­‐DOPA-­‐dopamin-­‐norefinefrin-­‐efinefrin    

Tirosin

Tirosin β-hidroksilase

L-DOPA

Dopa dekarboksilase

Dopamin MAO COMT


Asam vanillin mandelat

MAO COMT Asam


Norepinefrin homovanilat

Epinefrin COMT: catechol-o-metil transferase


MAO: monoamine oxidase
Pharmacological treatment
•  The normally high concentration of DA in the basal
ganglia of the brain is reduced in PD
–  pharmacologic attempts to restore DA-ergic activity à
Dopaminergic agent
•  Levodopa
•  DA agonists à D2 receptor stimulants
•  Imbalance of dopamine and acetylcholine levels in the
brain
–  to restore the normal balance of cholinergic and
dopaminergic
•  anticholinergic drugs
The dopaminergic/cholinergic balance may be
restored by two mechanisms:
A. Enhancement of DA-ergic activity by drugs
which may:
–  replenish neuronal DA by supplying levodopa, which
is its natural precursor; administration of DA itself is
ineffective as it does not cross the BBB;
–  act as DA agonists (bromocriptine, pergolide,
cabergoline, pramipexole, ropinirole);
–  prolong the action of DA through selective inhibition of
its metabolism (selegiline à inhibits selectively only
MAO-B in the CNS);
–  release DA from stores and inhibit reuptake
(amantadine).
Central DA-ergic Drugs
Levodopa Levodopa

Dopamine
(-)
Selegiline
MAO-B

(-)
Amantadine Reuptake Amantadine
(+)

Bromocriptine
(+) Pergolide

The Principles of Medical


Pharmacology (1994)
D2-receptors
Basic & Clinical Pharmacology – 10th Ed. (2007)
decarboxylase inhibitors à benserazide, carbidopa

Levodopa and its metabolites cause significant adverse reactions by peripheral


actions, notably nausea, arrhythmia, and hypotension
Basic & Clinical Pharmacology – 10th Ed. (2007)
Anticholinergic Agents
B. Reduces excessive cholinergic brain
activity
–  blocking ACh receptors in the CNS, thereby
partially redressing the imbalance created by
decreased DA-ergic
•  trihexyphenidyl
•  biperiden
•  triperiden
•  atropine
•  scopolamine
•  benztropine
•  diphenhydramine
Copyright 2007 Thomson Delmar Learning, a division of Thomson Learning Inc. All rights reserved.
Catechol-O-Methyltransferase Inhibitors
•  Newest class of anti-Parkinson drug
agents
•  Inhibit metabolism of DA à the action of
levodopa is thus prolonged
•  Example: Entacapone
•  Treats clients with history of poor
response to levodopa
–  Sustains dopaminergic levels
•  Brain remains stimulated
Obat sedatif - hipnotik
•  Sedatif = penenang (anxiolitik) à mengurangi perasaan
cemas (anxietas) dan menenangkan, tanpa
mempengaruhi fungsi motorik dan mental
•  Hipnotik = efek menidurkan
•  Efek hipnotik dapat diperoleh dengan meningkatkan
dosis obat
Obat A
Koma
Efek Anestesia Obat B
SSP
Hipnosis

Sedasi

Dosis meningkat
Penjelasan
•  Obat A : meningkatnya dosis meningkatkan efek
penekanan/depresi pada SSP à bisa sampai
menimbulkan koma dan kematian
•  Dijumpai pada obat-obat sedatif-hipnotik
generasi lama : barbiturat dan alkohol
•  Obat B : peningkatan dosis sampai batas
tertentu tidak meningkatkan efek penekanan
SSP à lebih aman
•  Dijumpai pada obat-obat sedatif-hipnotik lebih
baru, yaitu golongan benzodiazepin à lebih
banyak dipakai
Efek-efek yang bisa terjadi ?
•  Sedasi
•  Hipnosis à terjadi jika dosis ditingkatkan
•  Anestesia à tercapai pada dosis lebih tinggi lagi
•  Antikonvulsi (antikejang) à penghambatan SSP dapat
mengurangi kejang
•  Relaksasi otot
•  Menekan pernafasan à khususnya pada pasien dengan
gangguan pernafasan
•  Menekan sistem kardiovaskuler à pada pasien dengan
gangguan kardiovaskuler
Nama obat-obat sedatif hipnotik
Golongan barbiturat : Golongan benzodiazepin:
•  Fenobarbital (Luminal) •  Diazepam
•  Secobarbital •  Klordiazepoksid
•  Pentobarbital •  Lorazepam
•  Nitrazepam
Lain-lain: •  Oksazepam
•  Meprobamat •  Alprazolam
•  Etanol •  Flunitrazepam
•  Buspiron •  Triazolam
Mekanisme aksinya ?
•  Obat-obat golongan barbiturat dan benzodiazepin berikatan
dengan reseptor GABA
•  GABA adalah suatu neurotransmiter inhibitor di otak
•  Reseptor GABA adalah reseptor yang berupa kanal ion klorida
•  Jika reseptor GABA diaktifkan oleh GABA à kanal membuka à
ion klorida mengalir à hiperpolarisasi à penghambatan impuls
saraf à efek depresi SSP (calming effect)
•  Benzodiazepine  and  barbiturate  
–  act  as  receptor  GABA  agonist  
–  modulate  receptor  response  to  GABA  
–  increases  the  ac2vity  of  GABA  in  the  brain    
–  increases  calming  effect  and  results  in  sleepiness,  a  
decrease  in  anxiety  and  relaxa2on  of  muscles  
–  As    an2convulsant,  anxioly2c  and  seda2ve—hypno2c  
ac2vity  
 
Note:  
GABA  is  a  neurotransmiPer  that  acts  as  a  natural  
'nerve-­‐calming'  agent  à  induce  sleepiness,  reducing  
anxiety  and  relaxing  muscles.  
Picrotoxin, Pentylenetetrazol, t-butyl
bicyclophosphorothionate (TBPS)

•  Chloride channel blockers


•  Decrease in mean channel open time
•  Preventing Cl permeability
•  Decrease calming effect à seizure
•  The convulsant compound
Masalah dalam penggunaan
sedatif hipnotik
•  Toleransi : farmakokinetik atau farmakodinamik
•  Ketergantungan (dependency) : psikologis maupun
fisik
•  Ketergantungan psikologis: keinginan menggunakan
obat tersebut secara terus-menerus karena
mendapatkan efek yang dianggap menyenangkan
(hilang kecemasan, tenang, euforia, dll)
•  Ketergantungan fisik : terjadi perubahan fisiologis
yang membutuhkan penggunaan obat tersebut
secara terus-menerus, jika tidak à akan terjadi
gejala putus obat (withdrawal syndrome)
Penggunaan secara klinis
•  Pada gangguan kecemasan
•  Insomnia (gangguan tidur)
•  Penenang sebelum operasi
•  Pengatasan epilepsi/kejang
Obat anestetik (umum dan lokal)
•  Anestesia : pembiusan
•  Digunakan pada operasi untuk mengurangi rasa
sakit pada pasien terhadap tindakan operasi
•  Pada operasi besar (lama) à dibutuhkan
anestesia umum (bius total)
•  Pada operasi kecil (ringan) à sering digunakan
anestesia lokal
Anestesi umum
•  Diberikan secara inhalasi
atau intravena
•  Umumnya diawali dengan
i.v., lalu dipelihara dengan
inhalasi (jika diperlukan)
•  Anestetik inhalasi à suatu
cairan volatil (mudah
menguap) à contoh:
halotan, desfluran, enfluran,
isofluran, N2O
•  Anestetik intravena à
contoh: Na tiopenton,
ketamin, propofol
Anestesi lokal
•  Bekerja dengan
memblokade secara
reversibel atas konduksi
sepanjang sel saraf
•  Ada bermacam-macam
obat yang berbeda sifat à
menentukan kecocokan
obat dalam cara
Pemberian anestesi lokal di punggung
pemberian : topikal,
epidural, spinal, dll.
•  Contoh: lignokain, bupivakain,
prilokain, benzokain prokain,
kokain
Anestesi spinal

Anestesi epidural, pada


ibu yang akan melahirkan
Antidepresan
•  Definisi : obat yang digunakan untuk mengatasi
depresi
•  Depresi ?
•  Gangguan mood (perasaan) yang ditandai dengan :
rasa sedih berlebihan, rasa bersalah, tidak
berguna, insomnia à komplikasi terberat: bunuh
diri
•  Patofisiologi: kekurangan neurotransmiter serotonin
dan norepinefrin
•  Pengatasan ? à meningkatkan ketersediaan
serotonin dan atau norepinefrin
Golongan obat antidepresan
•  Anti depressan trisiklik à dinamakan
demikian karena memiliki 3 cincin pada
struktur molekulnya
•  Heterosiklik
•  SSRI (selective serotonin re uptake
inhibitor)
•  MAO (mono amin oksidase) inhibitor
Antidepresan trisiklik
•  Bekerja dengan memblok reuptake NE dan
serotonin à meningkatkan akumulasi senyawa
amina tsb di sinaps
•  Bisa mempengaruhi system reseptor lain à
maka bisa menyebabkan efek samping pada
sistim kolinergik, neurologik dan kardiovaskuler
à efek samping umum : antikolinergik, sedatif,
dan hipotensi orthostatik, peningkatan BB, dll.
•  Contohnya: amitriptilin, nortriptilin, imipramin,
desipramin, klomipramin, doksepin
Heterosiklik
•  Merupakan generasi lebih baru dari AD
trisiklik
•  Mekanismenya sama dengan AD trisiklik
•  Efektivitasnya serupa dengan trisiklik,
hanya saja :
–  Lebih cepat onsetnya
–  Kurang sedatif dan efek otonom lain
–  Kurang toksis
•  Contoh : amoksapin, bupropion,
maprotilin, trazodon, venlafaksin
SSRI
•  Menghambat secara selektif reuptake serotonin
•  Efek samping sedatif dan antikolinergik relatif tidak ada
à lebih aman daripada AD trisiklik
•  Efikasinya setara dengan AD trisiklik
•  Contoh : fluoksetin, fluvoksamin, sertralin, paroksetin

MAO inhibitor
•  Bekerja menghambat kerja MAO-A à mencegah
degradasi senyawa monoamin à meningkatkan/
mengakumulasi NE dan serotonin
•  Ada 2 MAO : MAO-A dan MAO-B à MAO-A
mendegradasi NE dan serotonin, MAO-B mendegradasi
dopamin
•  Contoh : fenelzin, tranilsipromin
Penggunaan secara klinis
•  Depresi
•  Panic disorder
•  Obsessive compulsive
disorder
•  Nyeri kronis
•  Eating disorder
Antipsikotik/neuroleptik
•  Gangguan psikosis ? à gangguan jiwa (skizoprenia)
•  Antipsikotik : obat yang digunakan untuk mengatasi
gangguan kejiwaan (skizoprenia)
•  Gejala: halusinasi, delusi (waham), bicara ngelantur,
dll.
•  Patofisiologi : kelebihan dopamin di mesocortis, dan
kekurangan dopamin di mesolimbik
•  Pengatasan ? à mengurangi dopamin di mesocortis
dan memacu pelepasan dopamin (memblok
serotonin) di mesolimbik
Obat antipsikotik
Antipsikotik Tipikal Antipsikotik atipikal
•  Generasi lama •  Generasi lebih baru
•  Memblok reseptor •  Memblok reseptor
Dopamin-2 (D2) serotonin à memacu
•  Tidak selektif memblok pelepasan dopamin
reseptor lain: •  Efek blokade dopamin
muskarinik, adrenergik lebih rendah
alfa •  Efek samping
•  Efek samping lebih ekstrapiramidal lebih
banyak: ringan
–  Antikolinergik
–  Gejala ekstrapiramidal
Contoh obat antipsikotik
Tipikal Atipikal
•  Klorpromazin •  Clozapin
•  Tioridazin •  Risperidon
•  Mesoridazin •  Olanzapin
•  Flufenazin •  Quetiapin
•  Perfenazin •  Ziprasidon
•  Thiotixene
•  Haloperidol Catatan:
Saat ini obat antipsikotik atipikal
•  Loxapin menjadi obat lini pertama dalam tata
•  Molindon laksana terapi skizoprenia, karena
efek sampingnya lebih rendah
An2muntah    
•  Domperidon    
–  A  specific  blocker  of  dopamine  receptors  
–  It  speeds  gastrointes2nal  peristalsis,  causes  
prolac2n  release,  and  is  used  as  an2eme2c    
–  Year  introduced:  1982  
•  Metoclopramide  
–  Dopamine antagonist
–  5-­‐HT3  receptor  antagonists  block  serotonin  
receptors  
•  5-­‐HT3  receptor  antagonists  block  serotonin  
receptors  in  the  central  nervous  system  and  
gastrointes2nal  tract  
–  Dolasetron    
–  Granisetron    
–  Ondansetron    
–  Tropisetron    
–  Palonosetron    
–  Mirtazapine  
•  Dimenhydrinate  
–  an  over  the  counter  (OTC)  an2eme2c  
–  used  for  the  treatment  of  mo2on  sickness  
(nausea,  vomi]ng,  dizziness)  
–  an  H(1)  histamine  receptor  antagonist,  but  it  
interacts  either  directly  or  indirectly  with  other  
neurotransimiPer  systems,  including  those  using  
acetylcholine,  serotonin,  norepinephrine,  
dopamine  
–  the  acute  effects  à  euphoric  sensa2ons  and  
hallucina2ons  à  poten2al  abuse  
•  Prometazine    
–  an2histamine  with  seda2ve,  an2eme2c,  and  
an2cholinergic  effects  
–  a  compe22ve  histamine  (H1)  and  alpha-­‐
adrenergic  receptor  antagonist  
•  Unlike  other  phenothiazine  deriva2ves  such  as  
chlorpromazine,  promethazine  has  limited  
effects  at  dopaminergic  (D2)  receptors.    
•  It  produces  an2eme2c  effects  but  is  not  useful  
as  an  an2psycho2c  
•  An2histamines  (H1  histamine  receptor  
antagonists)  are  effec2ve  in  many  condi2ons,  
including  mo2on  sickness,  morning  sickness  in  
pregnancy,  and  to  combat  opioid  nausea.  
–  Cyclizine  
–  Diphenhydramine    
–  Dimenhydrinate  
–  Doxylamine  
–  Meclizine    
–  Promethazine  
Analgetik opiat
•  Awalnya berasal dari tanaman
Papaver somniferum (poppy) à
dipakai sejak ribuan tahun yang lalu
•  Th 1803 à untuk pertamakalinya
berhasil diisolasi senyawa murni dari Bunga poppy

opium : morfin (Morpheus : dewa


mimpi Yunani)
•  Selanjutnya banyak dilakukan
sintesis terhadap turunan morfin
•  Morfin dan turunannya bekerja pada
reseptor opiat morfin
Reseptor opiat
•  Reseptor opiat merupakan tempat aksi senyawa
endogen : endorfin
•  Reseptor opiat ada 3 tipe : mu, kappa, dan delta
•  Reseptor opiat berada di SSP
•  Jika diaktifkan akan terjadi berbagai efek sentral :
analgesia à menurunkan persepsi nyeri dg cara
menyekat nyeri pada berbagai tingkat, terutama di otak
tengah dan medulla spinalis
•  Selain itu juga beraksi lain seperti : euforia, sedasi,
penekanan pernafasan, penekanan batuk, miosis
(kontraksi pupil mata), mual muntah, konstipasi, dll.
Contoh senyawa opiat
•  Morfin •  Codein
•  Hidromorfin •  Oksikodon
•  Oksimorfin •  Dihidrokodein
•  Metadon •  Propoksifen
•  Meperidin •  Pentazosin
•  Fentanil •  Nalbufin
•  Sufentanil •  Buprenorfin
•  Alfentanil •  Butorfanol
•  Levorfanol •  Naltrekson
Masalah pada penggunaan
senyawa opiat

•  Toleransi
•  Toleransi silang (Cross tolerance)
•  Ketergantungan : fisik dan psikis à
overdosis
Aksi obat pada SSP terbagi 2 katagori:
v Aksi prasinaptik (presynaptic)
v Aksi pascasinaptik (post-synaptic)

•  Aksi Presinaptik à mempengaruhi proses sintesis,


penyimpanan, metabolisme dan pelepasan
neurotransmiter
–  Kokain memblokir reuptake dopamin
–  Neostigmin memblokir degradasi asetilkolin
–  MAOI menghambat degradasi dopamine dan norepinefrin
•  Aksi Pascasinaptik à mempengaruhi reseptor atau
kanal ion
–  agonis à atropin pada reseptor asetilkolin
–  antagonis à propanolol pada reseptor adrenergik
Referensi    
•  Clinical Pharmacology – 9th Ed. (2003)
•  Rang  et  al.  Pharmacology  –  5st  Ed.  (2003)  
•  Goodman & Gilman's The Pharmacologic Basis of
Therapeutics - 11th Ed. (2006)
•  The  Priciples  of  Medical  Pharmacology  (1994)  
•  Basic & Clinical Pharmacology – 10th Ed. (2007)  
•  www.medpharm-­‐sofia.eu  
Cross  tolerance  
•  is  a  phenomenon  that  occurs  when  someone  who  is  
tolerant  to  the  effects  of  a  certain  drug  also  develops  
a  tolerance  to  another  drug.    
•  It  o`en  happens  between  two  drugs  with  similar  
func2ons  or  effects  –  for  example,  ac2ng  on  the  
same  cell  receptor  or  affec2ng  the  transmission  of  
certain  neurotransmiPers.  
•  A  person  who  uses  one  drug  can  be  tolerant  to  a  
drug  that  has  a  completely  different  func2on.  
•  This  phenomenon  allows  one  to  become  tolerant  to  
a  drug  that  they  have  never  even  used  before.  
•  An  example  of  cross  tolerance  is  apparent  in  
the  development  of  a  high  tolerance  to  the  
s2mulant  amphetamine  which  can  result  in  a  
tolerance  to  methamphetamine  because  it  is  
also  a  s2mulant  and  has  a  similar  structure  
chemically  
•  Sistem  piramidal  adalah  suatu  sistem  pada  SSP  yg  mengatur  
pergerakan  di  bawah  kendali  traktus  kor2kospinal  (piramidal),  
sedangkan  sistem  ekstrapiramidal  adalah  sistem  yg  terpisah  
dari  sistem  piramidal  yg  memegang  peranan  dalam  
pengaturan  gerakan  yg  disengaja  (voluntary  movement)  
seper2  refleks,  postur  tubuh,  dan  gerakan  yang  kompleks.  
Sistem  ekstrapiramidal  merupakan  jalur  informasi  motorik  yg  
dihantarkan  dan  disatukan  ke  tulang  belakang.  

•  Reaksi  ekstrapiramidal  adalah  sekelompok  reaksi  yg  


di2mbulkan  dari  penggunaan  jangka  pendek  atau  jangka  
panjang  dari  suatu  pengobatan  menggunakan  an2psiko2k.  
Reaksi  ini  dihasilkan  dari  penghambatan  reseptor  
dopaminergik  sentral.    
•  Manifestasi  gejala  ekstrapiramidal  
–  Acute  dystonia  
•  kekakuan  otot  pada  satu  atau  beberapa  kelompok  otot  
(misal  pada  mata,  mulut,  tenggorokan,  leher)  
•  Mucul  setelah  1-­‐5  hari  penggunaan  obat  
–  Tardive  dyskinesia    
•  gerakan  yg  terjadi  tdk  sengaja  (involuntary  spasme),  
biasanya  pada  daerah  mulut  dan  wajah,  jari,  dan  sistem  otot  
tubuh  yg  lain  
•  Mucul  setelah  3-­‐6  bulan  penggunaan  obat  
•  Pseudoparkinsonism,  gejala:  
–  Akinesia  à  penurunan  kecepatan  gerakan  
–  Tremor  atau  gemetar  
–  Rigidity/kekakuan  otot  
–  Mucul  setelah  72  hari  penggunaan  obat  
Tentang  delusi  
•  Delusi  atau  waham  adalah  suatu  keyakinan  
yang  dipegang  secara  kuat  namun  2dak  
akurat;  keyakinan  tsb  masih  terus  dipegang  
walaupun  buk2  menunjukkan  hal  tsb  tdk  
memiliki  dasar  realitas.  Kepercayaan  ini  
bersifat  patologis.