Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KEGIATAN TERAPI BERMAIN MENYUSUN PUZZLE

PADA ANAK USIA PRA SEKOLAH (3-6 TAHUN)


DI RUANG KASWARI RSUD WANGAYA
TANGGAL 10 JUNI 2019

OLEH
KELOMPOK 9

1. I PUTU EKA SURYA (189012105)


2. NI LUH WIDARSIH (189012126)
3. NI PUTU SUYATI NINGSIH (189012135)
4. PUTU INDAH JELITA LESTARI (189012141)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA BALI
2019
SATUAN ACARA PEMBELAJARAN
TERAPI BERMAIN

Topik : Terapi Bermain di Rumah Sakit


Sub Topik : Terapi Bermain Menyusun Puzzle
Sasaran : Anak usia pra sekolah (3-6 tahun)
Tempat : Ruang Kaswari RSUD Wangaya
Waktu : 10 Juni 2019 Pukul 10.00-10.35 WITA

A. Latar Belakang
Masuk rumah sakit merupakan peristiwa yang sering menimbulkan
pengalaman traumatik, khususnya pada pasien anak yaitu ketakutan dan
ketegangan atau stress hospitalisasi. Stress ini disebabkan oleh berbagai
faktor diantaranya perpisahan dengan orang tua, kehilangan kontrol, dan
akibat dari tindakan invasif yang menimbulkan rasa nyeri, akibatnya akan
menimbulkan berbagai aksi seperti menolak makan, menangis, teriak,
memukul, menyepak, tidak kooperatif atau menolak tindakan keperawatan
yang diberikan.
Bermain adalah salah satu aspek penting dari kehidupan anak dan
salah satu alat paling penting untuk menatalaksanakan stres karena
hospitalisasi menimbulkan krisis dalam kehidupan anak, dan karena situasi
tersebut sering disertai stress berlebihan, maka anak-anak perlu bermain
untuk mengeluarkan rasa takut dan cemas yang mereka alami sebagai alat
koping dalam menghadapi stress. Bermain sangat penting bagi mental,
emosional dan kesejahteraan anak seperti kebutuhan perkembangan dan
kebutuhan bermain tidak juga terhenti pada saat anak sakit atau anak di
rumah sakit (Wong, 2009)
Bermain pada anak dapat meningkatkan kecerdasan dalam berfikir
dan mengembangkan imajinasi serta melatih daya motorik halus dan kasar
pada anak. Pada anak pra sekolah umumnya perkembangan motorik kasar
dan motorik halusnya sudah baik (Soetjiningsih dalam Hidayati, 2014). Pada
tahap ini mereka berminat untuk mendapatkan pengetahuan dan mulai
mengalami peningkatan kompetensi, dengan mengerti tentang dunia anak
terutama usia anak pra sekolah, maka dengan ini kami bermaksud untuk
melaksanakan program terapi bermain karena dengan bermain membuat anak
menjadi lebih rileks.
Terapi bermain anak dapat menstimulasi pertumbuhan otot-ototnya,
kognitifnya dan juga emosinya karena mereka bermain dengan seluruh
emosinya, perasaannya dan pikirannya. Elemen pokok dalam bermain adalah
kesenangan dimana dengan kesenangan ini mereka mengenal segala sesuatu
yang ada disekitarnya sehingga anak yang mendapat kesempatan cukup untuk
bermain juga akan mendapatkan kesempatan yang cukup untuk mengenal
sekitarnya sehingga ia akan menjadi orang dewasa yang lebih mudah
berteman, kreatif dan cerdas, bila dibandingkan dengan mereka yang masa
kecilnya kurang mendapat kesempatan bermain (Hidayati, 2014).
Terapi bermain yang dilaksanakan yaitu bermain menyusun puzzle.
Alasan memilih terapi bermain menyusun puzzle adalah untuk
mengembangkan motorik halus, keterampilan kognitif dan kemampuan
berbahasa. Puzzle merupakan salah satu bentuk permainan yang
membutuhkan ketelitian, melatih untuk memusatkan pikiran, karena kita
harus berkonsentrasi ketika menyusun kepingan-kepingan puzzle tersebut
hingga menjadi sebuah gambar yang utuh dan lengkap. Sehingga puzzle
merupakan jenis permainan yang memiliki nilai-nilai edukatif (Hidayati,
2014).

B. Tujuan Umum
Setelah mengikuti terapi bermain menyusun puzzle selama ± 35
menit, diharapkan dapat mengurangi dampak stres hospitalisasi pada anak.

C. Tujuan Khusus
Dengan mengikuti terapi bermain menyusun puzzle, diharapkan dapat:
1. Untuk mengurangi kejenuhan anak pada saat menjalani perawatan.
2. Untuk meningkatkan adaptasi efektif pada anak terhadap stress karena
penyakit dan dirawat.
3. Melatih kemampuan kognitif anak.
4. Melatih kemampuan motorik halus anak.
5. Melatih kemampuan sosial personal anak.

D. Perencanaan
1. Jenis program bermain
Puzzle berasal dari bahasa Inggris yang berarti teka-teki atau
bongkar pasang, media puzzle merupakan media sederhana yang
dimainkan dengan bongkar pasang. Berdasarkan pengertian tentang
media puzzle, maka dapat disimpulkan bahwa media puzzle merupakan
alat permainan edukatif yang dapat merangsang kemampuan
matematika anak, yang dimainkan dengan cara membongkar pasang
kepingan puzzle berdasarkan pasangannya.
2. Karakteristik bermain
Karakteristik dalam permainan ini adalah Parallel Play dimana
anak bermain dengan permainan yang sama tanpa ada tukar menukar
alat permainan.
3. Karakteristik peserta
Peserta : Anak usia prasekolah (3-6 tahun) yang dirawat di Ruang
Kaswari RSUD Wangaya
Jumlah : 3 anak
Kriteria :
a. Anak dalam kondisi baik/cukup baik
b. Anak bisa/boleh berjalan
c. Anak kooperatif dan bersedia mengikuti terapi
bermain

4. Metode
Petugas memberi contoh, anak meniru dan memperoleh reward jika
melakukan dengan baik.
a. Anak diberi penjelasan tentang prosedur pelaksanaan terapi
bermain yang meliputi waktu kegiatan, cara membuat, serta hal-hal
lain yang terkait dengan program terapi bermain.
b. Diawal permainan, anak diperkenalkan dengan puzzle, lalu
diberikan penjelasan mengenai cara bermain puzzle.
c. Setelah itu dengan panduan leader, anak diminta untuk mengamati
terlebih dahulu gambar yang ada di dalam puzzle, memencar
kepingan puzzle, menyusun kembali kepingan puzzle sesuai gambar
semula dengan benar.
d. Fasilitator mendampingi dan mengarahkan anak selama bermain
puzzle berlangsung.
e. Ibu dapat berperan sebagai fasilitator, tetapi tidak boleh ikut terlibat
dalam kegiatan membentuk mainan.
f. Setelah waktu yang ditentukan untuk terapi bermain habis, anak
dipersilahkan untuk berhenti, dan diberikan pujian atas keterlibatan
anak selama terapi bermain berlangsung.
g. Observer melakukan pengamatan dan memberikan evaluasi
terhadap perilaku anak dan proses jalannya terapi bermain.
h. Setelah anak selesai menyusun puzzle, anak menceritakan tentang
gambar yang ada di dalam puzzle sesuai dengan imajinasi anak.
i. Kemudian fasilitator mengembalikan hasil karya mereka,
memberikan hadiah dan pujian kepada semua peserta sebagai
reward.
5. Media
Media yang digunakan berupa puzzle sederhana, jam/timer dan lembar
observasi.

E. Setting Tempat

3 Keterangan :
1
1 : Ketua/Leader
4 3 2 : Pemandu/Co-leader
3 : Fasilitator
2
3 4 : Peserta

F. Pembagian Kelompok
1. Leader : I Putu Eka Surya
2. Co Leader : Ni Putu Suyati Ningsih
3. Fasilitator : Ni Luh Widarsih
4. Observer : Putu Indah Jelita Astari

G. Proses Strategi Pelaksanaan


1. Pelaksanaan : Pukul 10.00 WITA
2. Lama permainan : ± 35 menit
3. Alokasi waktu : Persiapan : 5 menit
Pembukaan : 5 menit
Pelaksanaan : 20 menit
Evaluasi : 5 menit
4. Aturan bermain
a. Tidak banyak mengeluarkan energi, singkat, sederhana, dan tidak
bertentangan dengan pengobatan
b. Mempertimbangkan keamanan
c. Kelompok umur/usia klien sama
d. Melibatkan orang tua
5. Proses kegiatan
No. Waktu Kegiatan Respon Anak
1. 5 menit Persiapan :
1. Menyiapkan ruangan Ruangan, alat, anak
2. Mengundang anak dan dan keluarga siap
keluarga
3. Menyiapkan alat - alat
4. Menyiapkan anak dan
membagi kelompok
2 5 menit Pembukaan :
1. Mendengarkan
1. Mengucapkan salam dan
kontrak
memperkenalkan diri
2. Mendengarkan
2. Menyampaikan tujuan
tujuan dari
dan maksud dari
penyuluhan
kegiatan 3. Mendengarkan
3. Menjelaskan kontrak
kontrak.
waktu dan mekanisme
4. Mendengarkan
kegiatan bermain.
4. Menjelaskan cara instruksi
bermain menyusun
puzzle.
3. 20 Menit Pelaksanaan :
1. Mengajak anak bermain Bermain bersama
menyusun puzzle. dengan antusias.
2. Fasilitator
mendampingi anak dan
memberikan motivasi
kepada anak.
3. Menanyakan kepada
anak apakah sudah
selesai dalam
menyusun puzzle.
4. Memberitahu anak
bahwa waktu yang
diberikan telah selesai.
5. Memberikan pujian
terhadap anak yang
mampu menyusun
sampai selesai.
4. 5 Menit Evaluasi :
1. Melakukan review Anak mendengarkan
pengalaman bermain dan merespon
menyusun puzzle dengan menjawab
2. Mengidentifiasi kesan dan
kejadian yang berkesan pengalamannya
selama bermain selama bermain
3. Menganalisis kesan puzzle
yang didapat oleh anak
4. Menyimpulkan
kegiatan acara

H. Job Description
1. Ketua/Leader
Bertanggung jawab terhadap terlaksananya terapi bermain, yaitu
membuka dan menutup kegiatan ini.
a. Memimpin jalannya acara
b. Membuka pertemuan
c. Menutup kegiatan bermain
2. Co-Leader
Menjelaskan pelaksanaan dan mendemonstrasikan aturan dan cara
bermain dalam terapi bermain.
3. Fasilitator
a. Memfasilitasi anak untuk bermain.
b. Membimbing anak bermain.
c. Memperhatikan respon anak saat bermain.
d. Mengajak anak untuk bersosialisasi dengan temannya.
4. Observer
a. Mengawasi jalannya permainan.
b. Mencatat proses permainan disesuaikan dengan rencana.
c. Mencatat situasi penghambat dan pendukung proses bermain.
d. Menyusun laporan dan menilai hasil permainan dibantu dengan
Leader dan fasilitator.
I. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Penentuan pasien
Memilih pasien yang berumur 3-6 tahun sebanyak 3 orang dengan
kondisi anak memungkinkan untuk dilakukan terapi bermain.
Peserta yang hadir adalah sebanyak 3 orang.
b. Pre penyuluhan
Alat dan bahan telah disediakan berupa puzzle sederhana.
c. Tempat
Terapi bermain dilakukan di Ruang Bermain Ruang Kaswari RSUD
Wangaya.
d. Kepanitiaan
1) Leader bertugas memberikan penjelasan mengenai permainan
yang diberikan dan membagikan hadiah untuk peserta.
2) Co-leader bertugas membantu leader untuk menjelaskan waktu
dan cara membuat permainan.
3) Fasilitator bertugas mengajarkan dan membimbing tiap peserta
untuk membuat permainan dengan benar dan menilai hasil
permainan yang dibuat oleh peserta.
2. Evaluasi Proses
a. Kegiatan terapi bermain yang diberikan berjalan lancar dan anak-
anak dapat menikmatinya dengan riang gembira.
b. Dalam proses terapi bermain, anak-anak dapat berinteraksi dengan
teman sebayanya, orang tua dan perawat.
c. Selama proses terapi bermain, anak/peserta tidak ada yang
meninggalkan permainan.
d. Selama proses terapi beramain, anak yang sebelumnya kurang aktif
dalam bermain (menyusun puzzle) dapat berubah (lebih aktif)
setelah dibimbing dan diajak berinteraksi dalam untuk bermain.
3. Evaluasi Hasil
a. Anak dapat menikmati permainan yang diberikan dan mampu
mengurangi trauma hospitalisasi.
b. Anak terlihat senang setelah diberikan terapi bermain dan mereka
tampak lebih dapat berinteraksi (mengenal) teman-teman
sebayanya dan perawat.

J. Referensi
Hidayat, A. A. 2008. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan
Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika
Hidayati. 2014. Terapi Bermain Menyusun Puzzle di Ruang Anak Bona 2
RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Universitas Airlangga Surabaya
Nuryanti. 2008. Psikologi Anak. Jakarta: PT Indeks
Soetjiningsih. 2013. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC
Supartini, Y. 2004. Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC
Wong, D. L. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC

LAMPIRAN MATERI KONSEP BERMAIN

1. Pengertian bermain
Bermain adalah salah satu aspek penting dari kehidupan anak dan
salah satu alat paling penting untuk menatalaksanakan stres karena
hospitalisasi menimbulkan krisis dalam kehidupan anak, dan karena situasi
tersebut sering disertai stress berlebihan, maka anak-anak perlu bermain
untuk mengeluarkan rasa takut dan cemas yang mereka alami sebagai alat
koping dalam menghadapi stress. Bermain sangat penting bagi mental,
emosional dan kesejahteraan anak seperti kebutuhan perkembangan dan
kebutuhan bermain tidak juga terhenti pada saat anak sakit atau anak di
rumah sakit (Wong, 2009).
Bermain merupakan kebutuhan anak seperti halnya kasih sayang,
makanan, perawatan, dan lain-lainnya karena dapat memberi kesenangan dan
pengalaman hidup yang nyata. Bermain juga merupakan unsur penting untuk
perkembangan anak baik fisik, emosi, mental, sosial, kreativitas serta
intelektual. Oleh karena itu, bermain merupakan stimulasi untuk tumbuh
kembang anak (Hidayat, 2008).
Bermain adalah dunia anak-anak sebagai bahasa yang paling
universal, meskipun tidak pernah dimasukkan sebagai salah satu dari ribuaan
bahasa yang ada di dunia. Melalui bermain, anak-anak dapat
mengekspresikan apapun yang mereka inginkan. Menurut Gross (dalam
Nuryanti, 2008), bermain dipandang sebagai ekspresi insting untuk berlatih
peran di masa mendatang yang penting untuk bertahan hidup.

2. Tujuan bermain
Supartini (2004) mengemukakan beberapa tujuan dari terapi bermain,
antara lain:
a. Untuk melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang normal pada
saat sakit anak mengalami gangguan dalam pertumbuhan dan
perkembangannya. Walaupun demikian, selama anak dirawat di rumah
sakit, kegiatan stimulasi pertumbuhan dan perkembangan masih harus
tetap dilanjutkan untuk menjaga kesinambungannya.
b. Mengekspresikan perasaan, keinginan, dan fantasi serta ide-idenya pada
saat anak sakit dan dirawat di rumah sakit anak mengalami berbagai
perasaan yang sangat tidak menyenangkan. Pada anak yang belum
dapat mengekspresikannya secara verbal, permainan adalah media yang
sangat efektif untuk mengekspresikannya.
c. Mengembangkan kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah,
permainan akan menstimulasi daya piker, imajinasi dan fantasinya
untuk menciptakan sesuatu seperti yang ada dalam pikirannya.
d. Dapat beradaptasi secara efektif terhadap stres karena sakit dan dirawat
dirumah sakit.

3. Fungsi bermain
a. Membantu Perkembangan Sensorik dan Motorik
Fungsi bermain pada anak ini adalah dapat dilakukan dengan
melakukan rangsangan pada sensorik dan motorik melalui rangsangan
ini aktifitas anak dapat mengeksplorasikan alam sekitarnya sebagai
contoh bayi dapat dilakukan rangsangan taktil,audio dan visual melalui
rangsangan ini perkembangan sensorik dan motorik akan meningkat.
Hal tersebut dapat dicontohkan sejak lahir anak yang telah dikenalkan
atau dirangsang visualnya maka anak di kemudian hari kemampuan
visualnya akan lebih menonjol seperti lebih cepat mengenal sesuatu
yang baru dilihatnya. Demikian juga pendengaran, apabila sejak bayi
dikenalkan atau dirangsang melalui suara-suara maka daya pendengaran
di kemudian hari anak lebih cepat berkembang.
b. Membantu Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif dapat dirangsang melalui permainan. Hal ini
dapat terlihat pada saat anak bermain, maka anak akan mencoba
melakukan komunikasi dengan bahasa anak, mampu memahami obyek
permainan seperti dunia tempat tinggal, mampu membedakan khayalan
dan kenyataan, mampu belajar warna, memahami bentuk ukuran dan
berbagai manfaat benda yang digunakan dalam permainan,sehingga
fungsi bermain pada model demikian akan meningkatkan
perkembangan kognitif selanjutnya.
c. Meningkatkan Sosialisasi Anak
Proses sosialisasi dapat terjadi melalui permainan, sebagai contoh
dimana pada usia bayi anak akan merasakan kesenangan terhadap
kehadiran orang lain dan merasakan ada teman yang dunianya sama,
pada usia toddler anak sudah mencoba bermain dengan sesamanya dan
ini sudah mulai proses sosialisasi satu dengan yang lain, kemudian
bermain peran seperti bermain-main berpura-pura menjadi seorang
guru, jadi seorang anak, menjadi seorang bapak, menjadi seorang ibu
dan lain-lain, kemudian pada usia prasekolah sudah mulai menyadari
akan keberadaan teman sebaya sehingga harapan anak mampu
melakukan sosialisasi dengan teman dan orang.
d. Meningkatkan Kreatifitas
Bermain juga dapat berfungsi dalam peningkatan kreatifitas, dimana
anak mulai belajar menciptakan sesuatu dari permainan yang ada dan
mampu memodifikasi objek yang akan digunakan dalam permainan
sehingga anak akan lebih kreatif melalui model permainan ini, seperti
bermain bongkar pasang mobil-mobilan.
e. Meningkatkan Kesadaran Diri
Bermain pada anak akan memberikan kemampuan pada anak untuk
ekplorasi tubuh dan merasakan dirinya sadar dengan orang lain yang
merupakan bagian dari individu yang saling berhubungan, anak mau
belajar mengatur perilaku, membandingkan dengan perilaku orang lain.
f. Mempunyai Nilai Terapeutik
Bermain dapat menjadikan diri anak lebih senang dan nyaman sehingga
adanya stres dan ketegangan dapat dihindarkan, mengingat bermain
dapat menghibur diri anak terhadap dunianya.
g. Mempunyai Nilai Moral Pada Anak
Bermain juga dapat memberikan nilai moral tersendiri kepada anak, hal
ini dapat dijumpai anak sudah mampu belajar benar atau salah dari
budaya di rumah, di sekolah dan ketika berinteraksi dengan temannya,
dan juga ada beberapa permainan yang memiliki aturan-aturan yang
harus dilakukan tidak boleh dilanggar.

4. Macam-macam bermain
a. Bermain aktif
Pada permainan ini anak berperan secara aktif, kesenangan diperoleh
dari apa yang diperbuat oleh mereka sendiri. Bermain aktif, meliputi:
1) Bermain mengamati/menyelidiki (Exploratory Play)
Perhatian pertama anak pada alat bermain adalah memeriksa alat
permainan tersebut, memperhatikan, mengocok-ocok apakah ada
bunyi, mencium, meraba, menekan dan kadang-kadang berusaha
membongkar.
2) Bermain konstruksi (Construction Play)
Pada anak umur 3 tahun dapat menyusun balok-balok menjadi
rumah-rumahan.
3) Bermain drama (Dramatic Play)
Misalnya adalah bermain sandiwara boneka, main rumah-rumahan
dengan teman-temannya.
4) Bermain fisik
Misalnya bermain bola, bermain tali dan lain-lain.
b. Bermain pasif
Pada permainan ini anak bermain pasif antara lain dengan melihat dan
mendengar. Permainan ini cocok apabila anak sudah lelah bernmain
aktif dan membutuhkan sesuatu untuk mengatasi kebosanan dan
keletihannya.
Dalam kegiatan bermain kadang tidak dapat dicapai keseimbangan
dalam bermain, yaitu apabila terdapat hal-hal seperti dibawah ini:
a. Kesehatan anak menurun.
b. Tidak ada variasi dari alat permainan.
c. Tidak ada kesempatan belajar dari alat permainannya.
d. Tidak mempunyai teman bermain
5. Prinsip dalam aktivitas bermain
Menurut Soetjiningsih (2013), agar anak-anak dapat bermain dengan
maksimal, maka diperlukan hal-hal seperti:
a. Ekstra energi, untuk bermain diperlukan energi ekstra. Anak-anak yang
sakit kecil kemungkinan untuk melakukan permainan.
b. Waktu, anak harus mempunyai waktu yang cukup untuk bermain
sehingga stimulus yang diberikan dapat optimal.
c. Alat permainan, untuk bermain alat permainan harus disesuaikan
dengan usia dan tahap perkembangan anak serta memiliki unsur edukatif
bagi anak.
d. Ruang untuk bermain, bermain dapat dilakukan di mana saja, di ruang
tamu, halaman, bahkan di tempat tidur.
e. Pengetahuan cara bermain, dengan mengetahui cara bermain maka anak
akan lebih terarah dan pengetahuan anak akan lebih berkembang dalam
menggunakan alat permainan tersebut.
f. Teman bermain, teman bermain diperlukan untuk mengembangkan
sosialisasi anak dan membantu anak dalam menghadapi perbedaan. Bila
permainan dilakukan bersama dengan orangtua, maka hubungan orangtua
dan anak menjadi lebih akrab.

6. Faktor yang mempengaruhi aktivitas bermain


Menurut Supartini (2004), ada beberapa faktor yang mempengaruhi
anak dalam bermain, yaitu:
g. Tahap perkembangan anak, aktivitas bermain yang tepat dilakukan anak
yaitu harus sesuai dengan tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak,
karena pada dasarnya permainan adalah alat stimulasi pertumbuhan dan
perkembangan anak.
h. Status kesehatan anak, untuk melakukan aktivitas bermain diperlukan
energi bukan berarti anak tidak perlu bermain pada saat anak sedang
sakit.
i. Jenis kelamin anak, semua alat permainan dapat digunakan oleh anak
laki-laki atau anak perempuan untuk mengembangkan daya pikir,
imajinasi, kreativitas dan kemampuan sosial anak. Akan tetapi,
permainan adalah salah satu alat untuk membantu anak mengenal
identitas diri.
j. Lingkungan yang mendukung, terselenggaranya aktivitas bermain yang
baik untuk perkembangan anak salah satunya dipengaruhi oleh nilai
moral, budaya, dan lingkungan fisik rumah. Lingkungan rumah yang
cukup luas untuk bermain memungkinkan anak mempunyai cukup ruang
gerak untuk bermain, berjalan, mondar-mandir, berlari, melompat, dan
bermain dengan sekompok temannya.
k. Alat dan jenis permainan yang cocok, harus sesuai dengan tahap
tumbuh kembang anak. Alat permainan tidak selalu harus yang dibeli di
took atau mainan jadi, tetapi lebih diutamakan yang dapat menstimulasi
imajinasi dan kreativitas anak, bahkan sering kali mainan tradisional
yang dibuat sendiri dari atau berasal dari benda-benda di sekitar
kehidupan anak, akan lebih merangsang anak untuk kreatif.

7. Alat Permainan Edukatif


Permainan yang sifatnya mendidik biasa disebut dengan APE (Alat
Permainan Edukatif) adalah alat permainan yang fungsinya dapat
mengoptimalkan perkembangan anak, hal ini tentunya disesuaikan dengan
tingkat usia dan perkembangannya. Gunannya adalah sebagai pengembangan
aspek fisik, yaitu kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang atau merangsang
tingkat pertumbuhan anak. Selain itu juga berfungsi sebagai pengembangan
bahasa anak, dengan melatih berbicara, menggunankan kalimat yang benar.
Syarat dari permainan ini adalah sebagai berikut:
a. Aman, alat permainan anak dibawah usia dua tahun tidak boleh terlalu
kecil, warna catnya harus terang dan tidak boleh mengandung racun,
tidak ada bagian-bagian yang tajam, serta tidak ada bagian-bagian
yang mudah pecah. Karena pada umur ini anak mengenal benda
disekitarnya dengan cara memegang, mencengkram dan memasukkan
ke dalam mulutnya.
b. Ukuran dan berat APE harus sesuai dengan umur anak, jika ukurannya
terlalu besar akan sukar untuk dijangkau oleh anak, sebaliknya jika
terlalu kecil akan berbahaya karena dapat dengan mudah tertelan oleh
anak. Sedangkan kalau APE terlalu berat, anak akan sulit untuk
memindah-mindahkannya serta akan membahayakan apabila APE
tersebut jatuh dan mengenai anak.
c. Desainnya jelas, APE harus mempunyai ukuran-ukuran, susunan dan
warna tertentu serta jelas maksud dan tujuannya.
d. APE harus mempunyai fungsi untuk mengembangkan berbagai aspek
perkembangan anak, seperti motoric, bahasa, kecerdasan dan
sosialisasi.
e. Harus dapat dimainkan dengan berbagai variasi, tetapi jangan terlalu
sulit sehingga membuat anak frustasi, atau terlalu mudah sehingga
membuat anak cepat bosan.
f. Walaupun sederhana harus tetap menarik perhatian, baik itu dair segi
warna maupun bentuknya, bila bersuara maka suaranya harus jelas.
g. APE harus mudah untuk diterima oleh semua kebudayaan karena
bentuknya yang sangat umum.
h. APE harus tidak mudah rusak, kalau ada bagian-bagian yang rusak
harus mudah untuk diganti. Pemeliharaannya mudah, terbuat dari
bahan yang mudah didapat dan harganya bisa dijangkau oleh
masyarakat luas.

8. Konsep puzzle
Puzzle berasal dari bahasa Inggris yang berarti teka-teki atau bongkar
pasang, media puzzle merupakan media sederhana yang dimainkan dengan
bongkar pasang. Berdasarkan pengertian tentang media puzzle, maka dapat
disimpulkan bahwa media puzzle merupakan alat permainan edukatif yang
dapat merangsang kemampuan matematika anak, yang dimainkan dengan
cara membongkar pasang kepingan puzzle berdasarkan pasangannya.
Ada beberapa jenis puzzle, antara lain:
a. Puzzle konstruksi
Puzzle rakitan (construction puzzle) merupakan kumpulan potongan-
potongan yang terpisah, yang dapat digabungkan kembali menjadi
beberapa model. Mainan rakitan yang paling umum adalah blok-blok kayu
sederhana berwarna-warni. Mainan rakitan ini sesuai untuk anak yang
suka bekerja dengan tangan, suka memecahkan puzzle, dan suka
berimajinasi.
b. Puzzle batang (stick)
Puzzle batang merupakan permainan teka-teki matematika sederhana
namun memerlukan pemikiran kritis dan penalaran yang baik untuk
menyelesaikannya. Puzzle batang ada yang dimainkan dengan cara
membuat bentuk sesuai yang kita inginkan ataupun menyusun gambar
yang terdapat pada batang puzzle.
c. Puzzle lantai
Puzzle lantai terbuat dari bahan sponge (karet/busa) sehingga baik untuk
alas bermain anak dibandingkan harus bermain di atas keramik. Puzzle
lantai memiliki desain yang sangat menarik dan tersedia banyak pilihan
warna yang cemerlang. Juga dapat merangsang kreativitas dan melatih
kemampuan berpikir anak. Puzzle lantai sangat mudah dibersihkan dan
tahan lama.
d. Puzzle angka
Mainan ini bermanfaat untuk mengenalkan angka. Selain itu anak dapat
melatih kemampuan berpikir logisnya dengan menyusun angka sesuai
urutannya. Selain itu, puzzle angka bermanfaat untuk melatih koordinasi
mata dengan tangan, melatih motorik halus serta menstimulasi kerja otak.
e. Puzzle transportasi
Transportasi merupakan permainan bongkar pasang yang memiliki gambar
berbagai macam kendaraan darat, laut dan udara. Fungsinya selain untuk
melatih motorik anak, juga untuk stimulasi otak kanan dan otak kiri. Anak
akan lebih mengetahui macam-macam kendaraan.
f. Puzzle logika
Puzzle logika merupakan puzzle gambar yang dapat mengembangkan
keterampilan serta anak akan berlatih untuk memecahkan masalah. Puzzle
ini dimainkan dengan cara menyusun kepingan puzzle hingga membentuk
suatu gambar yang utuh.
g. Puzzle geometri
Puzzle geometri merupakan puzzle yang dapat mengembangkan
keterampilan mengenali bentuk geometri (segitiga, lingkaran, persegi dan
lain-lain), selain itu anak akan dilatih untuk mencocokkan kepingan puzzle
geometri sesuai dengan papan puzzlenya.
h. Puzzle Penjumlahan dan Pengurangan
Puzzle penjumlahan dan pengurangan merupakan puzzle yang dapat
mengembangkan kemampuan logika matematika anak. Dengan puzzle
penjumlahan dan pengurangan anak memasangkan kepingan puzzle sesuai
dengan gambar pasangannya.

Fungsi Puzzle
Permainan puzzle berfungsi untuk:
a. Melatih konsentrasi, ketelitian dan kesabaran
b. Melatih koordinasi mata dan tangan. Anak belajar mencocokkan
keping-keping puzzle dan menyusunnya menjadi satu gambar.
c. Memperkuat daya ingat
d. Mengenalkan anak pada konsep hubungan
e. Dengan memilih gambar/bentuk, dapat melatih anak untuk berfikir
matematis (menggunakan otak kiri).

Lembar Observasi Pelaksanaan Terapi Bermain


NO Aspek yang Dinilai Ya Tidak
I Struktur Terapi Bermain
1. Persiapan media terapi bermain
1. Puzzle
2 Kelengkapan jumlah mahasiswa:
a. Leader (1)
b. Co-leader (1)
c. Fasilitator (2)
d. Observer (1)
II Proses Terapi Bermain
1. Pembukaan, Leader :
a. Membuka acara terapi bermain dengan mengucapkan
salam
b. Memperkenalkan diri dan meminta peserta
menyebutkan nama
c. Menjelaskan kontrak waktu
d. Menjelaskan permainan apa yang akan dilakukan dan
tujuan terapi bermain
e. Memberikan contoh kepada peserta cara bermain
puzzle
f. Memimpin jalannya permainan dari awal sampai
akhir
2. Pelaksanaan
Co-leader :
a. Membantu Leader menjelaskan cara bermain kepada
peserta
b. Membantu Leader memberikan contoh kepada
peserta cara bermain puzzle
c. Memberikan kesempatan pada peserta untuk ikut
memulai permainan
d. Mengatur waktu permainan
Fasilitator :
a. Mengarahkan peserta untuk bermain
b. Memotivasi peserta dalam menyelesaikan permainan
c. Membantu leader dalam mengkondisikan peserta agar
fokus pada jalannya permainan
Pelaksanaan terapi berlangsung tepat waktu
3. Evaluasi : observer
a. Memberikan Check list pada lembar evaluasi
kemajuan peserta
b. Memberikan penilaian kemampuan anak berdasarkan
kriteria di lembar evaluasi kemajuan.
4. Terminasi :
a. Memberikan reward kepada peserta terbaik oleh
leader, dan fasilitator
b. Memberikan trik penyelesaian tugas dalam
permainan puzzle
c. Leader mengucapkan terima kasih
III Hasil Terapi Bermain
1. Peserta Terapi Bermain :
a. Peserta terapi bermain antusias mengikuti kegiatan
terapi bermain
b. Peserta mengikuti terapi bermain sampai dengan
selesai.
c. Anak mampu menyelesaikan setidaknya menyusun
semua kepingan pada tahap sulit, dan mampu
menyusun setidak separo kepingan ringan dan sedang
dalam waktu yang telah ditentukan
Lembar Evaluasi Kemajuan

Kategori kemampuan anak Penilaian An... An... An... An... An... An... An... An... An...
Kognitif
- Anak mampu mengerti dan menjelaskan pesan
yang terkandung dalam permainan
- Anak mampu menyelesaikan tugas dalam Total
Kriteria
permainan dalam berbagai tahapan:
a) Tahap ringan
b) Tahap sedang
c) Tahap sulit
Sosial
- Anak mau memperkenalkan diri di depan teman
sepermainan Total
- Anak mampu berkomunikasi baik dengan teman Kriteria
sepermainan
- Anak dapat berkomunikasi baik dengan perawat

Afektif
- Anak dapat mematuhi peraturan permainan
Total
Kriteria
Jumlah akhir
Keterangan skor: Kriteria tiap kategori:
0 : Tidak dapat melakukan Baik : jumlah skor 17-24
1 : Dapat melakukan dengan bantuan Cukup : jumlah skor 9-16
2 : Dapat melakukan dengan motivasi Kurang : jumlah skor 0-8
3 : Melakukan dengan mandiri
LEMBAR DOKUMENTASI