Anda di halaman 1dari 43

Pemeriksaan Audiometri, Rinne, Weber test dan Scwabach test

LATAR BELAKANG

Suara adalah sensasi yang timbul apabila getaran longitudinal molekul di lingkungan
eksternal, yaitu masa pemadatan dan pelonggaran molekul yang terjadi berselang seling
mengenai memberan timpani. Plot gerakan-gerakan ini sebagai perubahan tekanan di
memberan timpani persatuan waktu adalah satuan gelombang, dan gerakan semacam itu
dalam lingukangan secara umum disebut gelombang suara.

Secara umum kekerasan suara berkaitan dengan amplitudo gelombang suara dan nada
berkaitan dengan prekuensi (jumlah gelombang persatuan waktu). Semakin besar suara
semakin besar amplitudo, semakin tinggi frekuensi dan semakin tinggi nada. Namun nada
juga ditentukan oleh factor - faktor lain yang belum sepenuhnya dipahami selain frekuensi
dan frekuensi mempengaruhi kekerasan, karena ambang pendengaran lebih rendah pada
frekuensi dibandingkan dengan frekuensi lain. Gelombang suara memiliki pola berulang,
walaupun masing - masing gelombang bersifat kompleks, didengar sebagai suara musik,
getaran apriodik yang tidak berulang menyebabakan sensasi bising. Sebagian dari suara
musik bersala dari gelombang dan frekuensi primer yang menentukan suara ditambah
sejumla getaran harmonik yang menyebabkan suara memiliki timbre yang khas. Variasi
timbre mempengaruhi mengetahhi suara berbagai alat musik walaupun alat tersebut
memberikan nada yang sama. (William F.Gannong, 1998)

Telah diketahui bahwa adanya suatu suara akan menurunkan kemampuan seseorang
mendengar suara lain. Fenomena ini dikenal sebagai masking (penyamaran). Fenomena ini
diperkirakan disebabkan oleh refrakter relative atau absolute pada reseptor dan urat saraf
pada saraf audiotik yang sebelumnya teransang oleh ransangan lain. Tingkat suatu suara
menutupi suara lain berkaitan dengan nadanya. Kecuali pada lingkungan yang sangat kedap
suara, Efek penyamaran suara lata akan meningkatan ambang pendengaran dengan besar
yang tertentu dan dapat diukir.

Penyaluran suara prosesnya adalah telinga mengubah gelombang suara di lingkungan


eksternal menjadi potensi aksi di saraf pendengaran। Gelombang diubah oleh gendang
telinga dan tulang-tulang pendengaran menjadi gerakan-gerakan lempeng kaki stapes.
Gerakan ini menimbulkan gelombang dalam cairan telinga dalam. Efek gelombang pada
organ Corti menimbulkan potensial aksidi serat-serat saraf. (William F.Gannom,1998)

A. Anatomi system pendengaran (Telinga)

Merupakan organ pendengaran dan keseimbangan.Terdiri dari telinga luar, tengah


dan dalam. Telinga manusia menerima dan mentransmisikan gelombang bunyi ke otak
dimana bunyi tersebut akan di analisa dan di intrepretasikan. Cara paling mudah untuk
menggambarkan fungsi dari telinga adalah dengan menggambarkan cara bunyi dibawa dari
permulaan sampai akhir dari setiap bagian-bagian telinga yang berbeda.
Telinga mempunyai resptor bagi 2 modalitas reseptor sensorik :

1. Pendengaran (N. Coclearis)

Telinga dibagi menjadi 3 bagian :

Telinga luar

Auricula

Mengumpulkan suara yang diterima

Meatus Acusticus Eksternus

Menyalurkan atau meneruskan suara ke kanalis auditorius eksterna

Canalis Auditorius Eksternus

Meneruskan suara ke memberan timpani

Membran timpani

Sebagai resonator mengubah gelombang udara menjadi gelombang mekanik।


Telinga tengah
Telinga tengah adalah ruang berisi udara yang menghubungkan rongga hidung
dan tenggorokan dihubungkan melalui tuba eustachius, yang fungsinya menyamakan
tekanan udara pada kedua sisi gendang telinga. Tuba eustachius lazimnya dalam
keadaan tertutup akan tetapi dapat terbuka secara alami ketika anda menelan dan
menguap. Setelah sampai pada gendang telinga, gelombang suara akan menyebabkan
bergetarnya gendang telinga, lalu dengan perlahan disalurkan pada rangkaian tulang-
tulang pendengaran. Tulang-tulang yang saling berhubungan ini - sering disebut "
martil, landasan, dan sanggurdi"- secara mekanik menghubungkan gendang telinga
dengan "tingkap lonjong" di telinga dalam. Pergerakan dari oval window (tingkap
lonjong) menyalurkan tekanan gelombang dari bunyi kedalam telinga dalam.
Telinga tengah terdiri dari :
Tuba auditorius (eustachius)

Penghubung faring dan cavum naso faringuntuk :

Proteksi: melindungi ndari kuman

Drainase: mengeluarkan cairan.

Aerufungsi: menyamakan tekanan luar dan dalam.

Tuba pendengaran (maleus, inkus, dan stapes)

Memperkuat gerakan mekanik dan memberan timpani untuk diteruskan ke


foramen ovale pada koklea sehingga perlimife pada skala vestibule akan
berkembang.

Telinga Dalam

Telinga dalam terdiri dari :


Koklea

Skala vestibule: mengandung perlimfe


Skala media: mengandung endolimfe

Skala timani: mengandung perlimfe

Organo corti

Memngandung sel-sel rambut yang merupakan resseptor pendengaran di


memberan basilaris.

Telinga dalam dipenuhi oleh cairan dan terdiri dari "cochlea" berbentuk spiral
yang disebut rumah siput. Sepanjang jalur rumah siput terdiri dari 20.000 sel-sel
rambut yang mengubah getaran suara menjadi getaran-getaran saraf yang akan
dikirim ke otak. Di otak getaran tersebut akan di intrepertasi sebagai makna suatu
bunyi. Hampir 90% kasus gangguan pendengaran disebabkan oleh rusak atau
lemahnya sel-sel rambut telinga dalam secara perlahan. Hal ini dikarenakan
pertambahan usia atau terpapar bising yang keras secara terus menerus. Gangguan
pendengaran yang diseperti ini biasa disebut dengan sensorineural atau perseptif. Hal
ini dikarenakan otak tidak dapat menerima semua suara dan frekuensi yang
diperlukan untuk - sebagai contoh mengerti percakapan. Efeknya hampir selalu sama,
menjadi lebih sulit membedakan atau memilah pembicaraan pada kondisi bising.
Suara-suara nada tinggi tertentu seperti kicauan burung menghilang bersamaan,
orang-orang terlihat hanya seperti berguman dan anda sering meminta mereka untuk
mengulangi apa yang mereka katakan. Hal ini dikarenakan otak tidak dapat menerima
semua suara dan frekuensi yang diperlukan untuk sebagai contoh mengerti
percakapan. Contoh kecil seperti menghilangkan semua nada tinggi pada piano dan
meminta seseorang untuk memainkan sebuah melodi yang terkenal. Dengan hanya 6
atau 7 nada yang salah, melodi akan sulit untuk dikenali dan suaranya tidak benar
secara keseluruhan. Sekali sel-sel rambut telinga dalam mengalami kerusakan, tidak
ada cara apapun yang dapat memperbaikinya. Sebuah alat bantu dengar akan dapat
membantu menambah kemampuan mendengar anda. Andapun dapat membantu untuk
menjaga agar selanjutnya tidak menjadi lebih buruk dari keadaan saat ini dengan
menghindari sering terpapar oleh bising yang keras.
Keseimbangan (N. Vestibularis)

a. Canalis Semisirkularis

Canalis semisirkularis mendeteksi akselerasi atau deselarisasi anguler atau rotasional


kepala, misalnya ketika memulai atau berhenti berputar, berjungkir balik, atau
memutar kepala. Tiap – tiap telinga memiliki tiga kanalis semesirkularis yang tegak
lurus satu sama lain.

b. Utrikulus

Utrikulus adalah struktur seperti kantung yang terletak di dalam rongga tulang di
antara kanalis semisirkularis dan koklea. Rambut–rambut pada sel rambut asertif di
organ ini menonjol ke dalam suatu lembar gelatinosa di atasnya, yang gerakannya
menyebabkan perubahan posisi rambut serta menimbulkan perubahan potensial di sel
rambut.

Sel-sel rambut utrikulus mendeteksi akselerasi atau deselerasi linear horizontal, tetapi
tidak memberikan informasi mengenai gerakan lurus yang berjalan konstan.

c. Sacculus

Sacculus adalah struktur seperti kantung yang terletak di dalam rongga tulang di antara
kanalis semisirkularis dan koklea. Sacculus memiliki fungsi serupa dengan utrikulus,
kecuali dia berespons secara selektif terhadap kemiringan kepala menjauhi posisi
horizontal (misalnya bangun dari tempat tidur) dan terhadap akselerasi atau deselerasi
loner vertical (misalnya melompat atau berada dalam elevator).

Fisiologi Pendengaran

Getaran suara ditangkap ol;eh telinga yang dialirkan ke telinga dan mengenai
memberan timpani, sehingga memberan timpani bergetar. Getaran ini diteruskan ke tulang-
tulang pendengaran yang berhhubungan satu sama lain. Selanjutnya stapes menggerakkan
perilimfe dalam skala vestibui kemudian getaran diteruskan melalui Rissener yang
mendorong endolimfe dan memberan basal ke arah bawah, perilimfe dalam skala timpani
akan bergerak sehingga tingkap bundar (foramen rotundum) terdorong kearah luar.

Rangsangan fisik tadi diubah oleh adanya perbedaan ion kalium dan ion Na menjadi
aliran listrik yang diteruskan ke cabang N.VIII yang kemudian neneruskan ransangan ke
pusat sensori pendengaran di otak melalui saraf pusat yang ada di lobus temporalis.

Kelainan /Ganggaun Fisiologi Telinga

1. Tuli konduktif

Karena kelainan ditelinga luaaar atau di telinga tengah

a. Kelainan telingna luar yang menyebabkan tuli konduktif adalah astresia liang telinga,
sumbatan oleh serumen, otitis eksterna sirkumsripta, osteoma liang teling.

b. Kelainan telinga tengah yang menyebabkan tuli konduktif adalah tubakar/sumbatan


tuba eustachius, dan dislokasi tulang pensdengaaran.

2. Tuli perseptif

Disebabkan oleh kerusakan koklea (N. audiotorius) atau kerusakan pada sirkuit system
saraf pusat dari telinga. Orang tersebut mengalamipenurunan atau kehilangan kemampuan total
untuk mendengar suara dan akan terjadi kelainan pada :

a. Organo corti

b. Saraf : N.coclearis dan N.vestibularais

c. Pusat pendengaran otak

3. Tuli campuran

Terjadi karena tuli konduksi yang pada pengobatannya tidak sempurna sehingga infeksi
skunder (tuli persepsi juga).
Kekurangan Pendengaran

Yang dimaksud dengan kekurangan pendengaran adalah keadaan dimana seorang


kurang dpat mendengar dan mengerti suara atau percakpan yang didengar untuk
mendiagnosis kurang pendengaran. Sebagi dokter umum cukuplah memperhatikan keempat
aspek penting berikuta ini :

Penentuan pada penderita apakah ada kurang pendengaran atau tidak.

Jenis kurang pendengaran

Derajat kurang pendengaran

Menentukan penyebab kurang pendengaran

1. Penentuan pada penderita apakah ada KP atau tidak

Dalam penentuan apakah ada KP atau tidak pada penderita hal penting yang harus
diperhatiakan adalah umur prnderita. Respon manusia terhadap suara atau percakapan
yang didengranya tergantung pada umur pertumbuhannya. Usia 6 tahun diambil
sebagai batas, kurang dari 6 tahun respon anak terhadap suara atau percakapan
berbeda-beda tergantung umurnya, sedangkan lebih dari 6 tahun respon anak terhadap
suara atau percakapan yang didengar sama dengan orang dewasa karena luasnya
aspek diagnostik KP. Pad kedua golongan umur tersbut, maka dalam makalah ini
yang diuraikan hanya diagnosis KP pada anak-anak umur 6 tahun keatas dan dewasa.

2. Jenis KP

Jenis KP berdasarkan lokalisasi lesi :

a. KP jenis hantaran

Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga luar dan atau telinga tengah.

b. KP jenis sensorineural
Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga dalam (pada koklea dan
N.VIII)

c. KP jenis campuran

Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga tengah dan telinga dalam.

d. KP jenis sentral

Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada nucleus auditorius dibatang otak
sampai dengan korteks otak.

e. KP jenis fungsional

Pada KP jenis ini tidak dijumpai adanya gangguan atau lesi organic pada system
pendengaran baik perifer maupun sentral, melainkan berdadasarkan adanya
masalah psikologis atau omosional.

Untuk KP jenis sentral dan fungsional mengingat masih terbatasnya pengetahuan


proses pendengara diwilayah trsebut, disamping masih belum banyak dikenal
teknik uji pendengaran yang dapat dimanfaatkan untuk bahan diagnostik, maka
pada makalah ini akan dibatasi pada diagnosis KP jenis hantaran sensorineural
dan campuran saja.

3. Menentukan penyebab KP

Menetukan penyebab KP merupakan hal yang paling sukar diantara kempat batasan
atau aspek tersebut diatas, untuk itu diperlukan :

a. Anamnesis yang luas dan cermat tentang riwayat terjadinya KP tersebut

b. Pemeriksaan umum dan khusus (telinga, hidung dan tenggorokan ) yang teliti.

c. Pemeriksaan penunjang (bila diperlukan seperti foto laboratorium)


Ada 4 cara yang dapat kita lakukan untuk mengetes fungsi pendengaran
penderita, yaitu :

a. Tes bisik

b. Tes bisik modifikasi

c. Tes garputala

d. Pemeriksaan audiometri

Tes Fungsi Pendengaran

Pemeriksaan audiometri

Ketajaman pendengaran sering diukur dengan suatu audiometri. Alat ini menghasilkan
nada-nada murni dengan frekuensi melalui aerphon. Pada sestiap frekuensi ditentukan intensitas
ambang dan diplotkan pada sebuah grafik sebagai prsentasi dari pendengaran normal. Hal ini
menghasilkan pengukuran obyektif derajat ketulian dan gambaran mengenai rentang nada yang
paling terpengaruh.

a. Definisi

Audiometri berasal dari kata audir dan metrios yang berarti mendengar dan
mengukur (uji pendengaran). Audiometri tidak saja dipergunakan untuk mengukur
ketajaman pendengaran, tetapi juga dapat dipergunakan untuk menentukan lokalisasi
kerusakan anatomis yang menimbulkan gangguan pendengaran.

Audiometri adalah subuah alat yang digunakan untuk mengtahui level


pendengaran seseorang. Dengan bantuan sebuah alat yang disebut dengan audiometri,
maka derajat ketajaman pendengaran seseorang da[at dinilai. Tes audiometri
diperlukan bagi seseorang yang merasa memiliki gangguan pendengeran atau
seseorang yag akan bekerja pada suatu bidang yang memerlukan ketajaman
pendngaran.
Pemeriksaan audiometri memerlukan audiometri ruang kedap suara, audiologis
dan pasien yang kooperatif. Pemeriksaan standar yang dilakukan adalah :

1) Audiometri nada murni

Suatu sisitem uji pendengaran dengan menggunakan alat listrik yang dapat
menghasilkan bunyi nada-nada murni dari berbagai frekuensi 250-500, 1000-2000,
4000-8000 dan dapat diatur intensitasnya dalam satuan (dB). Bunyi yang
dihasilkan disalurkan melalui telepon kepala dan vibrator tulang ketelinga orang
yang diperiksa pendengarannya. Masing-masing untuk menukur ketajaman
pendengaran melalui hntaran udara dan hantran tulang pada tingkat intensitas nilai
ambang, sehingga akan didapatkankurva hantaran tulang dan hantaran udara.
Dengan membaca audiogram ini kita dapat mengtahui jenis dan derajat kurang
pendengaran seseorang. Gambaran audiogram rata-rata sejumlah orang yang
berpendengaran normal dan berusia sekitar 20-29 tahun merupakan nilai ambang
baku pendengaran untuk nada muri.

Telinga manusia normal mampu mendengar suara dengan kisaran


frekwuensi 20-20.000 Hz. Frekwensi dari 500-2000 Hz yang paling penting untuk
memahami percakapan sehari-hari.

Tabel berikut memperlihatkan klasifikasi kehilangan pendengaran

Kehilangan Klasifikasi
dalam Desibel
0-15 Pendengaran normal
>15-25 Kehilangan pendengaran kecil
>25-40 Kehilangan pendengaran ringan
>40-55 Kehilangan pendengaran sedang
>55-70 Kehilangan pendenngaran sedang sampai berat
>70-90 Kehilangan pendengaran berat
>90 Kehilangan pendengaran berat sekali
Pemeriksaan ini menghasilkan grafik nilai ambang pendengaran psien pada
stimulus nada murni. Nilai ambang diukur dengan frekuensi yang berbeda-beda.
Secara kasar bahwa pendengaran yang normal grafik berada diatas. Grafiknya
terdiri dari skala decibel, suara dipresentasikan dengan aerphon (air kondution) dan
skala skull vibrator (bone conduction). Bila terjadi air bone gap maka
mengindikasikan adanya CHL. Turunnya nilai ambang pendengaran oleh bone
conduction menggambarkan SNHL.

2) Audiometri tutur

Audiometri tutur adalah system uji pendengaran yang menggunakan kata-


kata terpilih yang telah dibakukan, dituturkan melalui suatu alat yang telah
dikaliberasi, untuk mrngukur beberapa aspek kemampuan pendengaran. Prinsip
audiometri tutur hampir sama dengan audiometri nada murni, hanya disni sebagai
alat uji pendengaran digunakan daftar kata terpuilih yang dituturkan pada
penderita. Kata-kata tersebut dapat dituturkan langsung oleh pemeriksa melalui
mikropon yang dihubungkan dengan audiometri tutur, kemudian disalurkan
melalui telepon kepala ke telinga yang diperiksa pendengarannya, atau kata-kata
rekam lebih dahulu pada piringan hitam atau pita rekaman, kemudian baru diputar
kembali dan disalurkan melalui audiometer tutur. Penderita diminta untuk
menirukan dengan jelas setip kata yang didengar, dan apabila kata-kata yang
didengar makin tidak jelas karena intensitasnya makin dilemahkan, pendengar
diminta untuk mnebaknya. Pemeriksa mencatata presentase kata-kata yang
ditirukan dengan benar dari tiap denah pada tiap intensitas. Hasil ini dapat
digambarkan pada suatu diagram yang absisnya adalah intensitas suara kata-kata
yang didengar, sedangkan ordinatnya adalah presentasi kata-kata yanag diturunkan
dengan benar. Dari audiogram tutur dapat diketahui dua dimensi kemampuan
pendengaran yaitu :

a) Kemampuan pendengaran dalam menangkap 50% dari sejumlah kata-kata yang


dituturkan pada suatu intensitas minimal dengan benar, yang lazimnya disebut
persepsi tutur atau NPT, dan dinyatakan dengan satuan de-sibel (dB).
b) Kemamuan maksimal perndengaran untuk mendiskriminasikan tiap satuan
bunyi (fonem) dalam kata-kata yang dituturkan yang dinyatakan dengan nilai
diskriminasi tutur atau NDT. Satuan pengukuran NDT itu adalah persentasi
maksimal kata-kata yang ditirukan dengan benar, sedangkan intensitas suara
barapa saja. Dengan demikian, berbeda dengan audiometri nada murni pada
audiometri tutur intensitas pengukuran pendengaran tidak saja pada tingkat
nilai ambang (NPT), tetapi juga jauh diatasnya.

Audiometri tutur pada prinsipnya pasien disuruh mendengar kata-kata


yang jelas artinya pada intensitas mana mulai terjadi gangguan sampai 50%
tidak dapat menirukan kata-kata dengan tepat.

Kriteria orang tuli :

Ringan masih bisa mendengar pada intensitas 20-40 dB

Sedang masih bisa mendengar pada intensitas 40-60 dB

Berat sudah tidak dapat mendengar pada intensitas 60-80 dB

Berat sekali tidak dapat mendengar pada intensitas >80 dB

Pada dasarnya tuli mengakibatkan gangguan komunikasi, apabila


seseorang masih memiliki sisa pendengaran diharapkan dengan bantuan alat
bantu dengar (ABD/hearing AID) suara yang ada diamplifikasi, dikeraskan
oleh ABD sehingga bisa terdengar. Prinsipnya semua tes pendengaran agar
akurat hasilnya, tetap harus pada ruang kedap suara minimal sunyi. Karena
kita memberikan tes paa frekuensi tertetu dengan intensitas lemah, kalau ada
gangguan suara pasti akan mengganggu penilaian. Pada audiometri tutur,
memng kata-kata tertentu dengan vocal dan konsonan tertentu yang
dipaparkan kependrita. Intensitas pad pemerriksaan audiomatri bisa dimulai
dari 20 dB bila tidak mendengar 40 dB dan seterusnya, bila mendengar
intensitas bisa diturunkan 0 dB, berarti pendengaran baik. Tes sebelum
dilakukan audiometri tentu saja perlu pemeriksaan telinga : apakah congok
atau tidak (ada cairan dalam telinga), apakah ada kotoran telinga (serumen),
apakah ada lubang gendang telinga, untuk menentukan penyabab kurang
pendengaran.

b. Manfaat audiometri

1) Untuk kedokteran klinik, khususnya penyakit telinga

2) Untuk kedokteran klinik Kehakiman,tuntutan ganti rugi

3) Untuk kedokteran klinik Pencegahan, deteksi ktulian pada anak-anak

c. Tujuan

Ada empat tujuan (Davis, 1978) :

1) Mediagnostik penyakit telinga

2) Mengukur kemampuan pendengaran dalam menagkap percakpan sehari-hari, atau


dengan kata lain validitas sosial pendengaran : untuk tugas dan pekerjaan, apakah
butuh alat pembantu mendengar atau pndidikan khusus, ganti rugi (misalnya dalam
bidang kedokteran kehkiman dan asuransi).

3) Skrinig anak balita dan SD

4) Memonitor untuk pekerja-pekerja dinetpat bising.

1. Test Rinne

Tujuan melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan atara hantaran tulang dengan
hantaran udara pada satu telinga pasien.

Ada 2 macam tes rinne , yaitu :


a. Garputal 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya tegak lurus
pada planum mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus). Setelah pasien
tidak mendengar bunyinya, segera garpu tala kita pindahkan didepan meatus
akustikus eksternus pasien. Tes Rinne positif jika pasien masih dapat mendengarnya.
Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien tidak dapat mendengarnya

b. Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya secara
tegak lurus pada planum mastoid pasien. Segera pindahkan garputala didepan meatus
akustikus eksternus. Kita menanyakan kepada pasien apakah bunyi garputala didepan
meatus akustikus eksternus lebih keras dari pada dibelakang meatus skustikus
eksternus (planum mastoid). Tes rinne positif jika pasien mendengar didepan maetus
akustikus eksternus lebih keras. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien mendengar
didepan meatus akustikus eksternus lebih lemah atau lebih keras dibelakang.

Ada 3 interpretasi dari hasil tes rinne :

1) Normal : tes rinne positif

2) Tuli konduksi: tes rine negatif (getaran dapat didengar melalui tulang lebih lama)

3) Tuli persepsi, terdapat 3 kemungkinan :

a) Bila pada posisi II penderita masih mendengar bunyi getaran garpu tala.

b) Jika posisi II penderita ragu-ragu mendengar atau tidak (tes rinne: +/-)

c) Pseudo negatif: terjadi pada penderita telinga kanan tuli persepsi pada posisi I
yang mendengar justru telinga kiri yang normal sehingga mula-mula timbul.

Kesalahan pemeriksaan pada tes rinne dapat terjadi baik berasal dari pemeriksa maupun
pasien. Kesalah dari pemeriksa misalnya meletakkan garputala tidak tegak lurus, tangkai
garputala mengenai rambut pasien dan kaki garputala mengenai aurikulum pasien. Juga bisa
karena jaringan lemak planum mastoid pasien tebal.
Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat bahwa ia sudah tidak
mendengar bunyi garputala saat kita menempatkan garputala di planum mastoid pasien.
Akibatnya getaran kedua kaki garputala sudah berhenti saat kita memindahkan garputala
kedepan meatus akustukus eksternus.

2. Test Weber

Tujuan kita melakukan tes weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara kedua
telinga pasien. Cara kita melakukan tes weber yaitu: membunyikan garputala 512 Hz lalu
tangkainya kita letakkan tegak lurus pada garis horizontal. Menurut pasien, telinga mana yang
mendengar atau mendengar lebih keras. Jika telinga pasien mendengar atau mendengar lebih
keras 1 telinga maka terjadi lateralisasi ke sisi telinga tersebut. Jika kedua pasien sama-sama
tidak mendengar atau sam-sama mendengaar maka berarti tidak ada lateralisasi.

Getaran melalui tulang akan dialirkan ke segala arah oleh tengkorak, sehingga akan terdengar
diseluruh bagian kepala. Pada keadaan ptologis pada MAE atau cavum timpani missal:otitis
media purulenta pada telinga kanan. Juga adanya cairan atau pus di dalam cavum timpani ini
akan bergetar, biala ada bunyi segala getaran akan didengarkan di sebelah kanan.

Interpretasi:

a. Bila pendengar mendengar lebih keras pada sisi di sebelah kanan disebut lateralisai ke
kanan, disebut normal bila antara sisi kanan dan kiri sama kerasnya.

b. Pada lateralisai ke kanan terdapat kemungkinannya:

1) Tuli konduksi sebelah kanan, missal adanya ototis media disebelah kanan.

2) Tuli konduksi pada kedua telinga, tetapi gangguannya pada telinga kanan ebih
hebat.

3) Tuli persepsi sebelah kiri sebab hantaran ke sebelah kiri terganggu, maka di dengar
sebelah kanan.
4) Tuli persepsi pada kedua teling, tetapi sebelah kiri lebih hebaaaat dari pada sebelah
kanan.

5) Tuli persepsi telinga dan tuli konduksi sebelah kana jarang terdapat.

3. Test Swabach

Tujuan :

Membandingkan daya transport melalui tulang mastoid antara pemeriksa (normal) dengan
probandus.

Dasar :

Gelombang-gelombang dalam endolymphe dapat ditimbulkan oleh :

Getaran yang datang melalui udara. Getaran yang datang melalui tengkorak, khususnya
osteo temporale

Cara Kerja :
Penguji meletakkan pangkal garputala yang sudah digetarkan pada puncak kepala
probandus. Probandus akan mendengar suara garputala itu makin lama makin melemah
dan akhirnya tidak mendengar suara garputala lagi. Pada saat garputala tidak mendengar
suara garputala, maka penguji akan segera memindahkan garputala itu, ke puncak kepala
orang yang diketahui normal ketajaman pendengarannya (pembanding). Bagi
pembanding dua kemungkinan dapat terjadi : akan mendengar suara, atau tidak
mendengar suara.
Jenis Tes Pendengaran

Senin, Oktober 22, 2012 anak, dan, dewasa, jenis, macam, pendengaran, Tes No comments
TES PENDENGARAN

TES BERA (Brainstem Evoked Response Auditory) atau ABR (Auditory Brainstem Response)

Menguji kinerja seluruh alat pendengaran dari gendang telinga (telinga luar) sampai ke otak.
Cara kerjanya dengan memberikan bunyik klik pada frekuensi yang berbeda – beda pada tingkat
kekerasan yang berbeda–beda pula an responnya ditangkap langsung oleh sensor di otak. Tesnya
tidak menyakitkan (un-invasive), tidak perlu respon aktif dari pasien dan hasilnya menyeluruh.
Tes ini adalah tes paling umum dalam mendeteksi gangguan pendengaran.

TES OAE (Oto Acoustic Emission)

Menguji kinerja alat pendengaran dari gendang sampai rumah siput tetapi terutama rumah siput.
Cara kerjanya dengan memberikan nada murni ke telinga dan menangkap responnya melalui
perubahan tekanan di saluran telinga. Tesnya juga tidak menyakitkan dan tidak memerlukan
respon aktif dari pasien serta obyektif. Biasanya digunakan untuk mendeteksi gangguan
pendengaran khususnya akibat gangguan di telinga tengah karena OME, OMA atau
sensorinerual hearing loss (SNHL) yaitu kerusakan sel saraf di rumah siput.

TES TYMPANOMETRI

Menguji kinerja alat pendengaran dari gendang sampai telinga tengah (tulang sanggurdi).
Caranya mirip dengan OAE tapi responnya dari defleksi (perubahan gerak) gendang telinga.
Tesnya juga tidak menyakitkan, obyektif dan tidak perlu respon aktif dari pasien. Biasanya
digunakan untuk mengeliminasi kemungkinan gangguan telinga tengah jika hasil OAE
menunjukkan respon negatif.

TES AUDIOMETRI

Menguji kinerja pendengaran dari gendang telinga sampai otak. Caranya dengan memberikan
nada murni baik melalui earphone (direct to ear) ataupun speaker (free field test) dan meminta
respon balik dari pasien apakah bunyi terdengar atau tidak. Tesnya tidak menyakitkan namun
agak subyektif dan memerlukan respon aktif dari pasien. Ukup sulit dilakukan khususnya untuk
anak – anak. Untuk anak – anak biasanya dilakukan PLAY AUDIOMETRI yaitu uji
pendengaran dengan bermain dan diperlukan audiologist yang berpengalaman untuk
mendapatkan hasil yang baik. Biasanya untuk menguji kemajuan / kemunduran fungsi
pendengaran terutama pada pasien gangguan pendengaran.

TES ASSR (Auditory Steady State Response)


Menguji kinerja seluruh alat pendengaran dari gendang telinga sampai ke otak. Cara kerjanya
seperti BERA tapi yang diberikan adalah nada murni seperti layaknya tes audiometri. Namun
tidak diperlukan partisipasi aktif dari pasien karena respon langsung dicatat oleh sensor yang
menangkap aktifitas otak. Tes ini tidak menyakitkan dan tidak memerlukan respon aktif namun
pasien harus diam dan tenang dalam waktu yang cukup lama, kurang lebih 1 jam. Seringkali
dianjurkan agar pasien ditidurkan atau diberi obat tidur jika memang sulit diminta untuk tetap
tenang dan diam. Digunakan untuk mendeteksi gangguan pendengaran pada bayi dan anak - anak
yang masih kecil.

http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/197710132005012-
EUIS_HERYATI/PENGUKURAN_FUNGSI_PENDENGARAN_%5BCompatibility_Mode%5D.pdf

PDF
4. Tes dengan Impedance meter
Tes ini paling obyektif dari tes-tes yang terdahulu. Tes ini hanya memerlukan sedikit kooperasi
dari penderita sehinggapada anak-anak di bawah 5 tahun pun dapat dikerjakan dengan baik.
Dengan mengubah-ubah tekanan pada meatus akustikus ekterna (hang telinga bagian
luar)dapat diketahui banyak tentang keadaan telinga bagian tengah (kavum timpani). Dari
pemeriksaan dengan Impedancemeter dapat diketahui :
.Apakah kendang telinga (membrana timpani) ada lobangatau tidak.
.Apakah ada cairan (infeksi) di dalam telinga bagian tengah?
.Apakah ada gangguan hubungan antara hidung dan telinga bagian tengah yang melalui tuba
Eustachii.
.Apakah ada perlekatan-perlekatan di telinga bagian tengah akibat suatu radang.
.Apakah rantai tulang-tulang telinga terputus karena kecelakaan (trauma kepala) atau sebab
infeksi.
.Apakah ada penyakit di tulang telirigastapes (otosklerosis).
.Berapa besar tekanan pada telinga bagian tengah
http://alatbantumendengar.wordpress.com/artikel/pemeriksaan-pendengaran/

Jenis Penguatan : iIlluminated dan animasi mainan . Ini harus terletak di dalam lemari , tertutup
oleh layar Perspex merokok sehingga mainan tidak visual menarik tanpa penerangan . Sebuah
switch di ruang observasi harus mengontrol animasi dan pencahayaan terang mainan . Idealnya
, setidaknya dua mainan dikontrol secara independen harus disediakan untuk setiap sisi
pengujian . Atau , berbagai gambar video setara
Posisi reinforcers : 90 ° azimuth ( atau sebagai dekat dengan 90 ° mungkin ) dengan fasilitas
untuk re- posisi untuk mengurangi sudut jika diperlukan . 90 ° azimuth digunakan dalam rangka
untuk memperoleh kepala gilirannya jelas , sedangkan sudut yang lebih rendah mungkin tepat
jika anak tidak siap perkembangan kepala penuh turn . The reinforcers harus terletak sekitar
tingkat dengan kepala anak pada jarak 1 - 2m . Fasilitas harus ada untuk memindahkan
reinforcers lebih dekat ke anak jika kesiapan perkembangan mereka tidak pasti . Reinforcers
diposisikan untuk kedua belah pihak memungkinkan anak-anak untuk diberi imbalan pada
Positioning Pengeras-pengeras suara 45 ° atau 90 ° azimuth ( RETSPLs hanya tersedia untuk
sudut-sudut ini presentasi ) . Para pembicara harus berada minimal 1m dari posisi tes .
Pembicara harus diposisikan berdekatan dengan penguatan aparatur dan kira-kira sejajar
dengan kepala anak - menempatkan seperti
Positioning Anak dan Tester Seorang bayi yang lebih muda ( usia 5-12 bulan ) harus duduk di
lutut orang tua , lembut didukung di pinggang dan menghadap ke depan . Atau , bayi dapat
ditempatkan di tempat yang aman ' kursi tinggi ' . Anak yang lebih tua dapat duduk di kursi
rendah , dengan orang tua duduk di sisi yang berlawanan untuk penguatan, dan sedikit di
belakang . Anak harus berada pada titik yang ditentukan dan ditandai selama kalibrasi medan
suara . Sebuah meja rendah ditempatkan di depan anak untuk memberikan permukaan untuk
kegiatan mengganggu . Tester 21 adalah baik duduk di kursi rendah atau berlutut di depan meja
yang menghadap anak dan h
Posisi Tester di Observation Room : tester harus memiliki pandangan yang jelas dari wajah anak
dan tester a
Komunikasi antara penguji : Good komunikasi dua arah antara penguji adalah persyaratan
penting untuk ujian . Komunikasi dari Tester 1 sampai 2 Tester harus langsung dan bijaksana
sehingga untuk menghindari gangguan pendengaran untuk subjek untuk ujian
Mendengar Perlindungan Pengendalian Kebisingan pada Peraturan Kerja (2005) menetapkan
tingkat paparan kebisingan pribadi sehari-hari di luar yang perlindungan pendengaran harus
digunakan . Jika paparan kebisingan sehari-hari berada di atas tingkat aksi pertama dari 80 dB (
A ) tetapi di bawah tingkat aksi kedua 85 dB ( A ) , perlindungan pendengaran harus tersedia
bagi karyawan . Jika paparan kebisingan sehari-hari berada di luar tingkat tindakan kedua atau
jika ada tingkat puncak melebihi 137 dB SPL maka perlindungan pendengaran harus digunakan .
p Harian
1 Sebuah pendekatan alternatif adalah untuk membuang Tester 2 . Pilihan ini dapat
dipertimbangkan jika anak pemalu dan orang tua mampu memahami persyaratan tes .
2 Jika pengaturan tester tunggal diadopsi , tester ruang observasi dapat berkomunikasi dengan
orang tua melalui earphone inframerah .

Perhitungan untuk sistem VRA dengan output maksimum 115 dB ( A) menunjukkan bahwa
tingkat aksi kedua bisa melebihi saat pengujian satu anak dengan gangguan pendengaran berat
atau mendalam . Selain ini , beberapa tingkat suara yang digunakan mungkin tidak nyaman dan
untuk alasan ini juga mendengar perlindungan ( sarung dan / atau busi ) harus tersedia untuk
orang tua dan pengamat serta penguji . Output maksimum pada masing-masing frekuensi harus
diukur dan informasi ini digunakan untuk menghitung kemungkinan kebisingan tingkat
eksposur sesuai dengan metode yang dijelaskan dalam Kebisingan pada Peraturan Kerja .
Informasi ini dapat digunakan untuk menentukan kebijakan perlindungan pendengaran lokal .
4.STIMULI Stimulus Type
Frekuensi - termodulasi ( warble ) nada dan / atau sempit -band noise harus digunakan . Jika
anak tidak responsif terhadap salah satu di atas jenis stimulus penggunaan alternatif harus
dipertimbangkan Untuk earphone insert, nada murni akustik diterima sebagai stimulus . Untuk
menyisipkan digunakan dengan earmoulds anak , tingkat yang sebenarnya akan berbeda dari
kalibrasi standar.
stimulus Pengiriman
Ada kelebihan dan kekurangan / keterbatasan yang berkaitan dengan masing-masing metode
pengiriman stimulus , yang tidak akan dibahas di sini. Namun, berbagai komprehensif
transduser harus tersedia untuk digunakan : supra - aural earphone ( misalnya TDH39/49 ) ,
masukkan earphone ( misalnya EAR3A ditambah dengan ujung immittance , ujung busa atau
earmould ) , speaker untuk soundfield presentasi dan konduktor tulang .
Kewaspadaan Terhadap Cross- Infeksi
Prosedur lokal harus ditaati . Jika ponsel insert telinga digunakan dengan tips non - sekali pakai (
misalnya immittance kiat ) , ini harus diseka ke bawah dengan kapas yang dibasahi solusi yang
cocok seperti chloro - hexadine .. Disarankan bahwa nasihat lokal dicari mengenai praktek-
praktek terbaik untuk kontrol infeksi silang .
kalibrasi
Rangsangan disajikan melalui ' sirkuit tertutup ' transduser ( headphone , vibrator tulang atau
menyisipkan - earphone ) harus dikalibrasi sesuai dengan standar ISO yang relevan dalam dB HL
atau dB SPL ( lihat di bawah ) . Kalibrasi rangsangan yang disajikan dalam bidang suara yang
kurang jelas . Kebanyakan uji lingkungan tidak menyediakan kondisi ideal dan anechoic
sejumlah langkah harus diambil untuk memastikan bahwa suara yang dikirim ke telinga pasien
akurat dan stabil .
Kalibrasi Soundfield membutuhkan pengetahuan yang cukup tentang penggunaan dan
keterbatasan tingkat suara meter dan soundfield akustik . Disarankan bahwa bantuan ahli dicari
dari pusat dengan pengalaman di bidang ini . Pembaca disebut dengan British Society of
Pedoman Audiologi untuk Soundfield Audiometry Aplikasi Klinis ( BSA 2007 ) khususnya yang
berkaitan dengan menggunakan sistem statis seperti yang digunakan dalam VRA .
Apapun berbagai rangsangan , pemeriksaan visual mingguan dan mendengarkan tes harus
dilakukan ( Tahap Sebuah cek ) . Pemeriksaan tersebut sangat penting untuk VRA diberi
berbagai stimulus dan transduser biasanya digunakan dan routing sinyal antara kamar sering
melalui koneksi kabel tambahan . Selain dari persyaratan untuk awal dan 5 - tahunan Interval
kalibrasi penuh ( Tahap C ) terhadap standar , kalibrasi tahunan menengah harus dilakukan ,
dan juga bila ada perubahan besar yang dibuat ( misalnya untuk ruang tata letak ) atau
perubahan tingkat kebisingan eksternal terjadi . Pedoman BSA menyatakan bahwa lingkungan
pengujian harus jelas didokumentasikan dengan tata letak didefinisikan furnitur , perabot ,
peralatan dan posisi untuk orang-orang di ruangan selama pengujian . Hal ini juga
merekomendasikan bahwa tanda diberikan kepada lantai dan langit-langit untuk memastikan
bahwa tata letak dan posisi tetap konsisten sebagai penyimpangan dapat membahayakan
kalibrasi .

ika suara selain nada berkicau dan sempit -band noise yang akan digunakan , kalibrasi biologis
harus dilakukan . Ini adalah di luar lingkup dokumen ini .
5 . UJI PROSEDUR
Pendahuluan Setelah cek peralatan, orang tua ( s ) dan anak dibawa ke dalam ruangan , duduk
dan perkenalan dibuat . Anamnesis memberikan kesempatan bagi anak untuk menetap di
lingkungan yang asing dan audiolog untuk membuat beberapa pengamatan awal tentang anak .
Jika anak menjadi gelisah mungkin tepat untuk memotong sejarah singkat dan memulai
pengujian.
Prosedur uji menjelaskan kepada orang tua dengan memperingatkan cocok tentang isyarat
anak untuk kehadiran stimulus pendengaran , dan kebutuhan untuk meminimalkan kebisingan
mengganggu . Jika ' Tester 2 ' tidak digunakan , perhatian khusus harus diberikan instruksi untuk
orang tua yang tersisa di dalam ruang uji dengan anak. Informasi harus diperoleh tentang status
perkembangan dan visual anak sebelum memulai tes . Jika ada keraguan tentang kemampuan
anak untuk merespon dengan cara yang diinginkan ( yaitu dengan kepala -turn ) ini dapat
didiskusikan dengan orangtua. Jika perlu , kontrol kepala dan balik dapat diperiksa dengan
memiliki anak visual melacak objek bunga melalui busur 180 ° .
Setiap orang lain yang hadir yang terbaik diundang untuk duduk di ruang observasi ( disukai )
atau langsung di belakang orang tua dan anak . Anak akan ditempatkan pada posisi pengujian
dengan referensi dan perawatan harus diambil ketika posisi orang tua dan anak untuk
memastikan bahwa kalibrasi soundfield ( jika relevan ) tidak terganggu . Transduser harus
dipasang pada anak , insert - earphone dengan klip untuk pakaian di punggung anak .
Pemasangan earphone insert harus didahului dengan otoscopy atau jika tidak melakukan ini
adalah atas dasar penilaian risiko dan manfaat untuk mata pelajaran masing-masing . Sebuah
ikat kepala elastis dapat digunakan untuk posisi konduktor tulang di tempat sebagai alternatif
yang lebih nyaman untuk konvensional ' Alice Band ' . Jika anak tahan terhadap metode
tersebut penempatan konduktor tulang dapat diadakan di tempat oleh orang tua . Apapun cara
penempatan Tester 2 harus waspada untuk memastikan bahwa konduktor tetap tepat
ditempatkan di seluruh prosedur tes .
Prosedur Pengukuran Tingkat Minimum Response ( MRL )
Inisiasi Test dan Peran Tester 2
Tester 2 akan memilih kegiatan table - top yang sesuai (misalnya bermain dengan mainan kecil )
. Mainan yang dipilih dan cara yang digunakan akan menjadi minimum yang diperlukan untuk
mendorong anak untuk mengadopsi posisi depan garis tengah dan menjaga kewaspadaan .
Yang penting , Tester 2 harus menyediakan tidak ada perubahan dalam kegiatan terkait dengan
stimulus presentasi yang bisa dijadikan sebagai isyarat untuk presentasi sinyal ( misalnya
pentahapan yang berbeda dan berirama harus dihindari ) . Tester 2 akan menghindari berisik
bermain , dan menahan diri dari terlibat dengan anak terlalu penuh, kecuali memuji respon
yang benar .
Familiarisation / penyejuk
Sebelum pengujian adalah penting untuk membangun pengkondisian . Beberapa anak akan
memberikan kepala -turn yang jelas dan berulang untuk stimulus pendengaran tanpa
pengkondisian resmi sementara yang lain akan membutuhkan sejumlah percobaan
pengkondisian .
Urutan berikut ini disarankan :
A 2 kHz3 stimulus disajikan pada tingkat dinilai cukup supra - threshold ( sebagai panduan , 60-
70 dB
3 frekuensi lain dapat dipilih jika dinilai bahwa anak cenderung lebih responsif , misalnya
frekuensi awal yang lebih rendah akan sesuai jika ada kecurigaan bahwa anak memiliki
gangguan pendengaran frekuensi tinggi yang parah.

HL cocok untuk keperluan rutin , meskipun pertimbangan harus diberikan dengan jenis dan
derajat gangguan pendengaran diantisipasi ) . Jika anak memberi giliran kepala yang jelas dalam
waktu 2-3 detik penguatan visual yang disediakan , dalam kombinasi dengan suara , untuk 2-3
detik lebih lanjut. Penyejuk dapat dianggap mapan dan urutan uji dimulai .
Jika anak tidak merespon secara spontan dengan kepala mengubah prosedur pendingin yang
lebih formal diperlukan . Awalnya stimulus dan penghargaan disajikan secara bersamaan dan
jika perlu perhatian anak diarahkan pahala . Sejumlah presentasi yang dipasangkan tersebut
mungkin diperlukan . Ketika kepala respon gilirannya menimbulkan andal untuk pengkondisian
stimulus gabungan diperiksa dengan menghadirkan sinyal pendengaran saja dan penyajian
stimulus visual sebagai hadiah setelah kepala respon gilirannya . Setelah anak itu menanggapi
suara saja pengujian dapat dimulai. Jika anak merespon gabungan stimulus / reward tapi gagal
untuk menunjukkan respon terhadap stimulus saja mungkin bahwa stimulus tersebut kurang
menarik atau tidak terdengar . Hal ini dapat diperiksa dengan mengubah jenis stimulus misalnya
band noise sempit , mengubah frekuensi dan / atau tingkat stimulus dan akhirnya dengan
menggunakan stimulus vibrotactile (misalnya sekitar 50 dB HL di 500 Hz ) yang dihasilkan dari
konduktor tulang dengan rekondisi menggunakan presentasi dipasangkan .
Jika anak tidak menanggapi kombinasi stimulus / reward mungkin bahwa pahala itu kurang
terlihat atau menarik . Hal ini dapat diperbaiki dengan menurunkan pencahayaan ruangan ,
mengubah pahala , menggunakan dua atau lebih penghargaan dalam kombinasi atau
memindahkan hadiah visual yang lebih dekat dengan anak . Atau mungkin bahwa anak tidak siap
perkembangan prosedur atau tidak cukup termotivasi oleh reward dalam hal prosedur pengujian
lainnya akan diperlukan .
pengujian
Ketika pendingin aman ( setidaknya dua jawaban yang benar berturut-turut ) , Tester 1 akan
melanjutkan ke uji proper test . Di sini suara hanya akan disajikan selama 2-3 detik . Jika Tester
1 hakim bahwa anak telah berubah dalam menanggapi suara , maka penguatan visual yang akan
disajikan selama 1-2 detik . Respon yang diinginkan adalah kepala -turn yang jelas untuk melihat
penguat tersebut . Lirikan mata atau gerakan kecil harus ditafsirkan dengan lebih hati-hati dan
dilaporkan seperti itu.
False ' memeriksa ' tanggapan akan dikelola dengan menggunakan variabel interval antar -sidang
, beberapa durasi panjang - tambahan , penggunaan uji kontrol yang disengaja dapat digunakan .
Pemotongan dengan penguat visual untuk beberapa saat setelah anak ternyata juga dapat
membantu untuk membedakan memeriksa pandang , yang sering berumur pendek , dari
tanggapan yang nyata .
A '10 dB ke bawah , 5 dB up ' aturan untuk presentasi stimulus tidak harus kaku diterapkan
melalui pengukuran threshold . Bila respon telah dibentuk untuk tingkat awal yang tinggi ,
tingkat harus turun secepat mungkin (mungkin 20 langkah dB ) selama respon masih diamati .
Tester 1 harus menentukan tingkat presentasi berdasarkan usia anak , kondisi perhatian , dan
faktor-faktor lain yang terkait dengan waktu . Namun, sekitar diperkirakan ambang '10 dB ke
bawah , 5 dB up aturan ' harus diadopsi . Kriteria untuk ambang batas akan menjadi 2 dari 3
tanggapan di tingkat manapun . Tingkat respon minimum pada satu frekuensi harus didefinisikan
sebelum pindah ke frekuensi lain di mana mungkin .
The awal dan selanjutnya frekuensi uji akan bervariasi untuk setiap pasien berdasarkan informasi
yang diperoleh dengan metode sebelumnya dan kebutuhan untuk informasi lebih lanjut . Ketika
mengubah frekuensi stimulus , menyajikan stimulus awal pada tingkat dinilai berada di atas
ambang batas . Hal ini juga dapat membantu untuk menyajikan rangsangan supra - batas yang
jelas atau kondisi - ulang seorang anak yang telah menjadi terganggu . Untuk anak yang gelisah
atau bosan , dimungkinkan untuk mempertahankan / mengembalikan bunga dengan :
menggunakan kombinasi nada berkicau dan sempit -band noise , secara acak mengubah
frekuensi , dan meningkatkan atau memvariasikan reward visual ( misalnya mengganti mainan
atau beberapa mainan ) .

ni mungkin berguna untuk mengukur ambang deteksi pidato menggunakan pidato hidup ,
dalam rangka untuk memberikan beberapa validasi dari informasi yang diperoleh dari
rangsangan elektronik yang dihasilkan . Tester 1 harus berbicara dengan anak melalui speaker
sound lapangan , dengan menggunakan nama mereka sering , sambil perlahan-lahan
meningkatkan tingkat dari sekitar 20 dB ( A ) ( menggunakan audiometer intensitas attenuator )
, sampai respon yang terlihat . Tingkat dicatat, dalam dB ( A ) , dapat dibandingkan dengan
tingkat respon minimum rata-rata untuk anak .
Untuk soundfield VRA , sekali ambang batas yang telah ditetapkan pada frekuensi yang
diperlukan , kemampuan lokalisasi anak untuk kebisingan sempit band atau voice ( supra - batas
, hingga 30 dB di atas tingkat respon minimal ) dapat dinilai , menggunakan kedua rendah dan
frekuensi tinggi yang sempit -band noise . Mungkin perlu untuk rekondisi anak menggunakan
pengeras suara di kedua sisi . Kesulitan dengan lokalisasi menunjukkan adanya penurunan
pendengaran asimetris dan menjamin pengujian setiap telinga individual dengan earphone
insert .
Pemilihan transducer untuk menggunakan tidak akan dibahas secara mendalam dalam protokol
ini - seperti dengan pemilihan frekuensi untuk pengujian , ini akan tergantung pada profil dari
informasi yang sebelumnya diperoleh pada anak dan yang diperlukan untuk pengelolaan
selanjutnya . Namun, penggunaan earphone insert sangat disukai bagi mereka yang diduga atau
diketahui mengalami gangguan pendengaran permanen , untuk mendapatkan informasi -
telinga yang spesifik yang dapat diandalkan .
Tips untuk VRA Pengujian Efektif
• Prosedur bergantung pada kerjasama lanjutan anak , khususnya kemampuan mereka untuk
tetap dalam posisi uji yang diperlukan - waktu akan karena itu akan terbatas . Untuk
menghindari keterlambatan / gangguan memastikan bahwa semua peralatan yang diperlukan
diperiksa di muka ( tahap A cek kalibrasi selesai , operasi sistem reward dan peralatan
komunikasi siap untuk segera digunakan ) .
• Beberapa anak mungkin kecewa dengan mainan animasi tertentu . Jika demikian , pahala
melalui pencahayaan sederhana daripada animasi atau beralih ke mainan alternatif .
• Untuk memperluas minat dalam menanggapi , switch hadiah mainan dan / atau digunakan
dalam kombinasi . Juga harus siap untuk mengambil istirahat dari pengujian dan kembali untuk
melengkapi penilaian, atau switch penguji . Kepentingan anak-anak pada khususnya dapat
diperpanjang oleh pujian / dorongan dari kepala gilirannya benar, disediakan oleh Tester 2 .
• Menjelang akhir prosedur tes , kembali ke frekuensi pertama diuji dan hadir di BMR ( atau 5
dB di atas tingkat panggilan ) - apakah anak tersebut masih merespon ? Informasi ini akan
membantu validitas tester hakim tanggapan kemudian.
Paling Umum Perangkap VRA Pengujian
• tidak memadai tes set- up dan komunikasi antara penguji .
• Mencoba pengkondisian terhadap rangsangan sub - threshold .
• Tidak mendirikan tanggapan yang jelas pada tingkat supra - threshold sebelum turun ke
ambang batas .
• scoring salah tanggapan sebagai benar yaitu mencetak gerakan selain kepala -turn yang jelas ,
atau positif ( memeriksa ) tanggapan palsu .
• pentahapan berbeda dan / atau ritmis perhatian oleh Tester 2 sehingga isyarat respon yang
diberikan kepada pasien .
• Gunakan mainan atau perilaku oleh Tester 2 ( atau orang tua ) yang terlalu mengganggu bagi
anak dan sebagainya menghambat respon .

Penekanan yang berlebihan pada kuantitas hasil ( jumlah ambang batas yang diperoleh )
daripada kualitas ( keandalan ) dari orang- batas yang diperoleh .
• Tidak menggunakan waktu secara efisien , sering menghabiskan terlalu lama dengan
intensitas tinggi .
• interpretasi yang tidak akurat dan pelaporan hasil karena pertimbangan memadai perbedaan
MRL bayi dibandingkan dengan normatif ( threshold ) nilai-nilai dewasa ( lihat di bawah ) .
Anak-anak Pengujian dengan Visi Gangguan , Penyandang Cacat lain atau pada Usia Dini .
Kecacatan visual dapat mengganggu dengan pendingin dan tanggapan . Pertimbangkan
membawa pahala lebih dekat dengan anak . Atau gunakan lebih visual kontras penghargaan (
misalnya cahaya berkedip terang) , atau penghapusan perspex penutup merokok untuk unit
penguat harus dipertimbangkan . Meredupkan lampu kamar juga akan meningkatkan kontras .
Untuk lebih parah tunanetra , penggunaan penguatan sensorik lainnya seperti tiupan udara ,
stimulasi getaran atau musik mungkin diperlukan untuk membawa anak-anak di bawah kontrol
stimulus .
Keterlambatan perkembangan umum mungkin tidak mengganggu VRA . Namun, kesulitan
motor bisa mengaburkan tanggapan kepala -turn . Sebuah pendekatan yang lebih fleksibel
untuk reward respon dan interpretasi mungkin tepat . Namun, setiap penyimpangan dari
pendekatan standar harus dijelaskan ketika melaporkan .
Meskipun VRA umumnya handal dalam penilaian biasanya mengembangkan anak-anak dari
usia 30 minggu ( usia dikoreksi ) , beberapa bayi mungkin diuji di usia muda , dari usia sekitar
20-26 minggu . Pengujian pada usia ini mungkin diperlukan karena perhatian orang tua atau
profesional dan nilai khusus untuk diagnosis dini dan habilitasi . Namun, untuk anak-anak muda
itu harus diakui bahwa urutan janji tes mungkin diperlukan untuk secara bertahap
mendapatkan informasi yang diperlukan ( misalnya serangkaian frekuensi dan telinga MRL
tertentu ) .
Untuk anak-anak penyandang cacat atau di mana VRA digunakan spekulatif pada usia dini ,
penilaian yang realistis dari kemungkinan keberhasilan uji harus disampaikan kepada orang tua
/ wali sebelum pengujian . Penguji juga harus mencari saran dari orang tua / wali sebelum
penilaian untuk menentukan strategi uji yang tepat . Untuk informasi lebih rinci tentang
melakukan VRA untuk anak-anak penyandang cacat , dokter disarankan untuk merujuk Coninx
& Lancioni ( 1995) .
Urutan dan Tujuan Penilaian
Urutan penilaian harus disesuaikan tergantung pada tujuan dari audiolog dan status anak .
Namun, penguji harus menyadari bahwa kerjasama / kepentingan anak mungkin gagal pada
waktu dan ini harus tercermin dalam urutan penilaian - informasi klinis lebih penting harus
diperoleh terlebih dahulu . Sebagai panduan urutan berikut ini disarankan untuk penilaian
perilaku resmi awal dimulai dengan rangsangan yang disajikan dalam soundfield ini :
Skala waktu untuk akuisisi MRL harus dipertimbangkan dengan hati-hati . Atas dasar bahwa
kualitas hasil mengambil menonjol daripada kuantitas ( dari MRL ) pertimbangan harus
diberikan untuk mengatur urutan janji terutama di mana sejumlah besar informasi yang
diperlukan dan / atau di mana anak hanya saja pada usia perkembangan yang cukup atau
memiliki relevan cacat . Sebuah durasi 30 menit akan khas untuk janji penilaian yang mencakup
soundfield VRA .
6 . INTERPRETASI HASIL
Proses yang dijelaskan di atas memberikan kalibrasi dengan norma-norma dewasa untuk teknik
audiometri konvensional . Tidak ada standar internasional tertentu pada nilai-nilai RETSPL
untuk rangsangan digunakan untuk VRA . Audiolog harus memperhatikan pengaruh usia subyek
dan metode pengujian yang digunakan ketika menafsirkan dan pelaporan hasil . Pertimbangan
juga harus diberikan pada penggunaan informasi BMR , apakah untuk menginformasikan orang
lain (misalnya rekan medis THT ) status pendengaran atau untuk digunakan oleh audiolog untuk
memandu amplifikasi efektif untuk target preskriptif .
Ada banyak faktor yang berkontribusi terhadap perbedaan antara dikenal MRL VRA bayi dan
batas normatif dewasa . Ini termasuk faktor sensorik dan non - sensorik ( termasuk ukuran liang
telinga ) dan faktor-faktor lain seperti efek dari subjek yang dihasilkan kebisingan . Pengaruh
unsur-unsur iuran adalah kompleks dan tidak sepenuhnya dipahami . Namun, jumlah efek ini
adalah bahwa bayi biasanya mendengar melakukan VRA membutuhkan stimulus intensitas
yang lebih tinggi untuk menginduksi respon ( misalnya giliran kepala ) dari yang dibutuhkan
untuk normal mendengar orang dewasa melakukan Audiometri nada murni . Meskipun
beberapa studi telah menyelidiki dan melaporkan pada perbedaan antara MRL diperoleh VRA
pada bayi dan ambang dewasa data yang normatif , kumpulan data ( terkait dengan frekuensi
uji , usia dan jenis transduser ) masih jauh dari sempurna . Penelitian lebih lanjut diperlukan
untuk mengkonfirmasi dan membangun basis pengetahuan ini sebelum kita dapat mendukung
serangkaian faktor koreksi spesifik untuk VRA ( seperti halnya untuk ABR pengujian bayi yang
baru lahir - lihat pedoman NHSP relevan) . Dengan pertimbangan di atas , materi yang disajikan
di bawah ini ( dan dalam referensi ) merupakan informasi terkini pada skala faktor koreksi bayi -
dewasa berdasarkan modus pengiriman stimulus , stimulus jenis dan usia . Akibatnya, nilai-nilai
koreksi yang ditunjukkan bersifat sementara saat ini .
Soundfield
Informasi yang tersedia tentang hubungan antara ambang dewasa dan MRL untuk soundfield
tes VRA menunjukkan bahwa biasanya mendengar bayi (usia 7-12 bulan ) ambang batas rata-
rata hadir di sekitar +10 dB relatif terhadap dewasa RETSPLs normatif ( dari 0,5 kHz sampai 4
kHz ) . Seorang anak merespon pada mengatakan 45 dB HL mungkin karena itu dianggap
memiliki pendengaran setara dengan orang dewasa menanggapi pada 35 dB HL . BSA deskriptor
untuk hasil Audiometri nada murni mendefinisikan ambang batas di ≤ 15 dB HL sebagai dalam
batas normal ( berdasarkan skala normatif dewasa ) . Oleh karena itu, sementara menunjukkan
bahwa ketika pengujian oleh VRA di soundfield itu , sidang harus diuji ke setidaknya 25 dB HL (
setara dengan dewasa 15dBHL ) dan bahwa respon pada tingkat ini diterima sebagai indikasi
mendengar dalam batas normal . Bimbingan tersebut seharusnya tidak mencegah pengujian ke
tingkat yang lebih rendah tunduk pada keterbatasan Ambient kebisingan dari lingkungan
pengujian . Mereka menafsirkan dan melaporkan hasilnya harus sadar bahwa penilaian
lapangan suara hanya menunjukkan status pendengaran telinga pendengaran yang lebih baik
pada setiap frekuensi uji .
Insert Earphone
Untuk memasukkan earphone frekuensi faktor koreksi tertentu setara dengan MRL diukur
dalam studi tentang anak-anak normal -sidang , contoh yang disajikan pada Tabel 1 . The Parry
et al studi mempekerjakan protokol VRA sama dengan yang dijelaskan di sini dan dilakukan
pada bayi berusia 8-12 bulan

http://publichealth.lacounty.gov/cms/docs/StepsofPlayAudio.pdf play audiometri

tes audiometric defenisi


http://indonesia.digitaljournals.org/index.php/idnmed/article/viewFile/618/609

pengukuran fungsim pendengaran


http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/197710132005012-
EUIS_HERYATI/PENGUKURAN_FUNGSI_PENDENGARAN_%5BCompatibility_Mode%5D.pdf

ALB tes http://www.drtbalu.co.in/ablb.html

http://journalarticle.ukm.my/3660/1/Kebolehulangan_Respons_Auditori_Keadaan_Mantap_pa
da_Golongan.pdf#page=2&zoom=auto,0,258

TES ARLOJI

PEMERIKSAAN TELINGA

Tujuan
Mengetahui keadaan telinga luar, saluran telinga, gendang telinga dan fungsi pendengaran.

Persiapan alat
1. Arloji berjarum jam detik
2. Garpu talla
3. Spekulum telinga
4. Lampu kepala

Prosedur pelaksanaan
Inspeksi dan palpasi telinga luar
1. Bantu klien dalam posisi duduk jika memungkinkan
2. Posisi pemeriksa menghadap ke sisi telinga yang dikaji
3. Atur pencahayaan dengan menggunakan auroskop, lampu kepala atau sumber cahaya lain
sehingga tangan pemeriksa bebas bekerja

4. Inspeksi telinga luar terhadap posisi, warna, ukuran, bentuk, hygiene, adanya lesi/ massa dan
kesimetrisan.
5. Lakukan palpasi dengan memegang telinga menggunakan jari telunjuk dan jempol.
6. Palpasi kartilago telinga luar secara simetris, yaitu dari jaringan lunak ke jaringan keras dan
catat jika ada nyeri
7. Lakukan penekanan pada area tragus ke dalam dan tulang telinga di bawah daun telinga.
8. Bandingkan telinga kiri dan kanan.
9. Inspeksi lubang pendengaran eksternal dengan cara berikut:
- Pada orang dewasa, pegang daun telinga/ heliks dan perlahan-lahan tarik daun telinga ke atas
dan ke belakang sehingga lurus dan menjadi mudah diamatai.
- Pada anak-anak, tarik daun telinga ke bawah.
10. Periksa adanya peradangan, perdarahan atau kotoran/ serumen pada lubang telinga.

Pemeriksaan pendengaran
Menggunakan bisikan
1. Atur posisi klien membelakangi pemeriksa pada jarak 4-6 m.
2. Instruksikan klien untuk menutup salah satu telinga yang tidak diperiksa
3. Bisikkan suatu bilangan, misal ”tujuh enam”
4. Minta klien untuk mengulangi bilangan yang didengar
5. Periksa telinga lainnya dengan cara yang sama
6. Bandingkan kemampuan mendengar telinga kanan dan kiri klien.
Menggunakan arloji
1. Ciptakan suasana ruangan yang tenang
2. Pegang arloji dan dekatkan ke telinga klien
3. Minta klien untuk memberi tahu pemeriksa jika ia mendengar detak arloji
4. Pindahkan posisi arloji perlahan-lahan menjauhi telinga dan minta klien untuk memberitahu
pemeriksa jika ia tidak mendengar detak arloji. Normalnya klien masih mendengar sampai jarak
30 cm dari telinga.
Menggunakan garpu talla
Pemeriksaan Rinne
1. Pegang garpu talla pada tangkainya dan pukulkan ke telapak tangan atau buku jari tangan yang
berlawanan
2. Letakkan tangkai garpu talla pada prosesus mastoideus klien
3. Anjurkan klien untuk memberi tahu pemeriksa jika ia tidak merasakan getaran lagi
4. Angkat garpu talla dan dengan cepat tempatkan di depan lubang telinga klien 1-2 cm dengan
posisi garpu talla paralel terhadap lubang telinga luar klien
5. Instruksikan klien untuk memberitahu apakah ia masih mendengar suara atau tidak
6. Catat hasil pendengaran pemeriksaan tersebut

Pemeriksaan Weber
1. Pegang garpu talla pada tangkainya dan pukulkan ke telapak tangan atau buku jari tangan yang
berlawanan
2. Letakkan tangkai garpu talla di tengah puncak kepala klien
3. Tanyakan kepada klien apakah bunyi terdengar sama jelas pada kedua telinga atau lebih jelas
pada salah satu telinga
4. Catat hasil pemeriksaan pendengaran tersebut.

http://books.google.co.id/books?id=srdY8zSGkEwC&pg=PA261&lpg=PA261&dq=Auropalpebral
+reflex&source=bl&ots=0dubr5eP-
j&sig=L0CLbhH9Dcys92uXNrsStoeF5pk&hl=en&sa=X&ei=xUDXUsCTOYeDiQegvIGwDg&redir_es
c=y#v=onepage&q=Auropalpebral%20reflex&f=false
Auditory Steady State Response (ASSR)
21 Oct

Pemeriksaan elektrofisiologis lain untuk menilai AEP adalah Auditory Steady State
Response (ASSR), atau kadang-kadang dikenal juga sebagai Steady-State Evoked Potential
(SSEP). ASSR adalah salah satu metode pemeriksaan terbaru yang dapat digunakan oleh para
audiologis untuk menentukan prediksi ambang pendengaran pada anak-anak.

Tujuan ASSR adalah untuk membuat estimasi audiogram statistik yang akurat. Pada respons dari
ABR diukur dalam microvolts, sedangkan pada ASSR diukur dalam nanovolts. Pada dasarnya,
cara pemeriksaan pada tes ASSR ini sama dengan pemeriksaan pada BERA. Yang membedakan
adalah frekuensi yang diperiksa serta gambaran hasil tes. Hasil tes BERA gambarannya berupa
gelombang-gelombang sedangkan hasil tes ASSR berupa audiogram. Biasanya, jika dalam
pemeriksaan BERA tidak ditemukan gelombang V di intensitas 80 dB, maka disarankan untuk
melakukan tes ASSR untuk mengetahui berapa derajat gangguan pendengaran bayi atau anak.

Hasil tes ASSR ini sangat penting digunakan dalam pemilihan dan pengaturan alat bantu dengar,
terutama pada alat bantu dengar digital programmable. Ketepatan gain atau amplifikasi yang
diberikan harus sesuai dengan hasil tes ASSR dan hasil tes pendengaran subyektif yang
mendukung, yaitu Free Field Test.

Audiometri Pure Tone adalah tes dasar untuk mengetahui apakah ada gangguan pendengaran
atau tidak. Pada saat tes, peserta tes memakai telepon kepala atau memasukkan telepon telinga
dan lewat alat tersebut diberikan nada murni pada frekuensi berbeda.
Intensitas nada tersebut dikurangi secara berkala hingga batas pendengaran, titik di mana nada
hampir-hampir tidak dapat terdengar. Hasilnya dinyatakan dalam satuan desibel (dB) dan
dimasukkan ke dalam bentuk audiogram.

Dengan alat audiometri bicara akan diuji seberapa banyak kejelasan yang ada pada tingkat
intensitas yang berbeda. Tes tersebut terdiri dari sejumlah kalimat yang diberikan lewat telepon
kepala atau pengeras suara medan bebas. Peserta tes harus mengulangi kalimat tersebut. Setelah
menyelesaikan tes tersebut, dapat dihasilkan persentase dari berapa banyak kalimat yang diulang
dengan benar.

Tes bicara dapat digunakan untuk berbagai tujuan: mengevaluasi seberapa banyak kejelasan
yang masih ada tanpa menggunakan alat bantu dengar, memperkirakan dan mengevaluasi
peningkatan kejelasan dengan menggunakan alat bantu dengar dan membandingkan perbedaan
kejelasan antara alat bantu dengar yang berbeda.

Sebagai satu-satunya pusat di Asia, The Hearing Solution Company Pte Ltd telah dianugerahi
ISO 9001:2000 No. 2007-2-1603 untuk menjamin pelayanan pelanggan yang baik.

http://pusatalatbantudengar.com/page/Pure-Tone-Audiogram.htm

AUDIOMETER NADA MURNI

Pemeriksaan audiometer nada murni perlu dipahami hal-hal seperti ini: nada murni,
bising NB (narrow Band) dan WN (white noise), frekuensi, intensitas bunyi, ambang
dengar, nilai nol audiometrik, standar ISO dan ASA, notasi pada audiogram, jenis dan
derajat ketulian serta gap dan masking

Untuk membuat audiogram diperlukan alat audiometer

Bagian dari audiometer : Tombol pengatur intensitas bunyi, tombol pengatur frekuensi,
headphone untuk memeriksa AC ( hantaran udara), bone conductor untuk memeriksa BC
(hantaran tulang)

Nada murni (pure tone): merupakan bunyi yang hanya mempunyai satu fekuensi,
dinyatakan dalam jumlah getaran per detik.

Bising: merupakan bunyi yang mempunyai banyak frekuensi, terdiri dari narrow band :
spektrum terbatas dan white noise : spektrum luas.
Frekuensi: ialah nada murni yang dihasilkan oleh getaran suatu benda yang sifatnya
harmonis sederhana (simple harmonic motion). Jumlah getaran per detik dinyatakan
dalam Hertz.

Intensitas bunyi dinyatakan dalam dB (decibel), dikenal dB HL (hearing level), dB SL


(sensation level), dB SPL (sound pressure level)

Pada audiometer yang digunakan dB HL dan dB SL ( dasarnya subjektif) sedangkan dB SPL


digunakan apabila ingin mengetahui intebsitas bunyi uang sesungguhnya secar fisika (ilmu alam)

Ambang dengar: ialah bunyi nada murni yang terlemah pada frekuensi tertentu yang masih
dapat didengar oleh telinga seseorang. Terdapat ambang dengar menurut konduksi udara (AC)
dan menurut konduksi tulang (BC). Bila ambang dengar ini dihubungkan dengan garis , baik AC
maupun BC maka akan didapatkan audiogram. Dari audiogram dapat diketahui jenis dan derajat
ketulian.

Nilai nol Audiometrik (audiometric zero) dalam dB HL dan dB SL, yaitu intensitas
nada murni yang terkecil pada suatu frekuensi tertentu yang masih dapat didengar oleh
telinga rata-rata orang dewasa muda yang normal (18-30 tahun)

0 dB ISO = -10 dB ASA, atau

10 dB ISO = 0 dB ASA

Pada audiogram angka-angka intensitas dalam dB bukan menyatakan kenaikan linier,


tetapi merupakan kenaikan logaritma secar perbandingan, contoh 20 dB bukan 2 kali
lebih keras dari pada 10 dB, tetapi 20/10=2, jadi 10 kuadrat = 100 kali lebih keras.

Notasi pada audiogram

Grafik AC, yaitu dibuat garis lurus penuh (Intensitas yang diperiksa antara 125-8000
Hz) Grafik BC dibuat dengan garis terputus-putus (Intensitas yang diperiksa 125-
4000Hz), untuk telinga kiri dipakai warna biru sedangkan telinga kanan warna merah.

Pada interpretasi audiogram harus ditulis: (a) telinga yang mana, (b) Apa jenis
ketuliannya, (c) bagaimana derajat ketuliannya.
http://iyushermansyah.blogspot.com/2008/06/audiologi.html

EFINISI AUDIOMETRI NADA MURNI


Audiometri berasal dari kata
audire
dan
metrios
yang berarti mendengar danmengukur (uji pendengaran). Audiometri tidak saja dipergunakan
untuk mengukur ketajaman pendengaran, tetapi juga dapat dipergunakan untuk menentukan
lokalisasi kerusakananatomis yang menimbulkan gangguan pendengaran Nada murni berarti
bunyi yang hanyamempunyai satu frekuensi, dinyatakan dalam jumlah getaran per detik.
Audiometri nadamurni/
pure tune audiometry (PTA
) adalah salah satu jenis uji pendengaran untuk menilaifungsi pendengaran.
2,6
E. MANFAAT AUDIOMETRI

1.

Untuk mengukur batas pendengaran pada konduksi udara dan tulang serta derajat atautipe
ketulian.

2.

Merekam hasil dapat disimpan dan dapat dugunakan untuk rujukan masa akan datang.

3.

Audiogram berguna sebagai ukuran untuk pengunaan alat bantu dengar.

4.

Membantu untuk mencari derajat kecacatan untuk tujuan medikolegal.


6
F. TUJUAN AUDIOMETRI

Ada empat tujuan audiometri, yaitu:


6
1.

Kegunaan diagnostik penyakit telinga2.


Mengukur kemampuan pendengaran dalam menangkap percakapan sehari-hari. Atauvaliditas
sosial pendengaran seperti untuk tugas dan pekerjaan, apakah butuh alat bantudengar, ganti rugi
seperti dalam bidang kedokteran kehakiman dan asuransi.3.

Skrining pada anak balita dan sekolah dasar

pertama sel rambut didalam koklea rusak, kedua karena stereosilia dapat hancur. Prosesini dapat
terjadi karenainfeksi virus, obat ototoxic, dan biasa terpapar bising yang lama,dapat pula terjadi
kongenital. Istilah retrokoklea digunakan untuk sistem pendengaransesudah koklea, tetapi tidak
termasuk korteks serebri (pusat pendengaran), maka yangtermasuk adalah N.VIII dan batang
otak.
7
Berdasarkan hasil audiometrik saja tidak dapat membedakan jenis tuli koklea atauretrokoklea.
Maka perlu dilakukan pemeriksaan khusus. Pada ketulian Meniere, pendengaran terutama
berkurang pada frekuensi tinggi. Tuli sensorineural karena presbikusis dan tuli suara keras
biasanya terjadi pada nada dengan frekuensi tinggi.
7
Apabila tingkat konduksi udara normal, hantaran tulang harusnya normal pula. Bilakonduksi
udara dan konduksi tulang keduaduannya abnormal dan pada level yang sama,maka pastilahnya
masalah terletak pada koklea atau N. VIII, sedangkan telinga tengahnormal.
7
Gambar 7.
Audiogram tuli sensorineural
7
4.

Tuli Campuran
Kemungkinan tarjadinya kerusakan koklea disertai sumbatan serumen yang padatdapat terjadi.
Level konduksi tulang menunjukkan gangguan fungsi koklea ditambahdengan penurunan
pendengaran karena sumbatan konduksi udara mengambarkan tingkatketulian yang disebabkan
oleh komponen konduktif.
2
Perbedaan anatara level hantaran udara dan tulang dikenal sebagai “jarak udara
-
tulang” atau “air
-
bone gap”. Jarak udara
-tulang merupakan suatu ukuran dari komponenkonduktif dari suatu gangguan pendengaran.
Level hantaran udara menunjukkan tingkat
patologi koklea, kadang disebut sebagai “
cochlear reserve”
atau cabang koklea.
7
16
Gambar 8.
Audiogram tuli campuran
7
L. JENIS DAN DERAJAT KETULIAN SERTA GAP
Dari audiogram dapat dilihat apakah pendengaran normal (N) atau tuli, jenis ketulian yaitutuli
konduktif, tuli sensorineural atau tuli campur.

Ensiklopedia

AUDITORY
Wednesday, 10 December 2008

Written by admin



Terdapat beberapa kemungkinan terjadinya beberapa kerusakan pada beberapa bagian di telinga.
Audiometry digunakan sebagai cara untuk mendiagnosa tingkat ketulian dan memetakan peta
kerusakan yang ada pada telinga. Pada teknik ini, sistem auditory dirangsang dengan berbagai tingkatan
intensitas suara dan responnya terhadap rangsangan ini diukur. Level minimum intensitas dari
rangsangan ini yang secara konsisten dapat di respon adalah ”threshold of hearing”. Berdasarkan data
diatas tingkat sensitivitas pendengaran seseorang dapat dipetakan pada data yang disebut audiogram,
yang diplot berdasarkan intensitas dan frekuensi. Berdasarkan data dari audiogram tersebut dapat
ditentukan perlakuan terbaik untuk tingkat pengobatan dan berbagai penanganan. Untuk menjalankan
seluruh prosedur ini diperlukan peralatan atau media yang dibutuhkan untuk menjalankan seluruh test
audiometry, media tersebut disebut audiometer.

SISTEM AUDITORY

Sistem pendengaran manusia terbagi manjadi dua bagian, bagian luar yaitu telinga luar dan bagian
dalam yaitu otak bagian cerebral cortex yang menerima rangsangan elektrik dari telinga. Telinga terdiri
dari tiga bagian yaitu external auditory meatus, middle ear, dan inner ear.

Gambar 2.1 Bagian-bagian telinga

Telinga bagian luar adalah area dari auricle sampai ear drum. Telinga tengah dari ear drum sampai
cochlea, pada bagian ini terdapat tiga tulang kecil yang disebut ossicles. Telinga bagian dalam terdapat
coclea dan organ keseimbangan vestibular labyrinth. Pada saat suara mencapai daerah telinga bagian
dalam melalui ear drum, phenomena ini biasa disebut air conduction. Pada saat frekuensi rendah suara
akan mencapai telinga bagian dalam melalui tulang yang ada di kepala, phenomena ini disebut bone
conduction.

PERSEPSI SUARA

Suara dihasilkan di alam pada saat sebuah objek bergetar. Suara di alamadalah komplek bukan
merupakan sebuah sinyal sinusoidal. Akan tetapi kompleksitas tersebut dapat dijabarkan sebagai
gabungan dari pure tones yang berbeda dari berbagai frekuensi. Telinga manusia tidak sensitif terhadap
semua frekuensi, Fletcer dan Munson telah memberikan chart mengenai respon frekuensi manusia pada
tahun 1933. Berdasarkan chart yang ada telinga manusia sangat sensitif terhadap frekuensi pada pada
level 1 sampai 5 kHz.

Gambar 2.2 Range frekuensi pendengaran manusia

Meskipun range pendengaran manusia berkisar dari 20 Hz sampai 20 kHz, terdapat beberapa informasi
bicara yang ada pada range dibawah 8000 Hz, dan untuk frekuensi dibawah 100 Hz sangat sulit untuk
diakses. Kehilangan sensitivitas pendengaran diobservasi pertama kali pada frekuensi tinggi 8 kHz,
kemudian pada frekuensi tengah 1-2 kHz, dan terakhir pada frekuensi rendah. Audiologist memberikan
range pada frekuensi test nya yaitu 125, 250, 500, 1000, 1500, 2000, 3000, 4000, 6000, dan 8000 Hz.
Pada audiometry level suara dari pure tone (Hearing Level) adalah Sound Level dB HL = 20 log (measured
sound / average threshold of normal hearing). 0 dBHL pada sistem audiometry didapatkan dari analisa
tingkat pendengaran pada populasi normal yang banyak dengar range frekuensi 18-30 tahun, untuk
kemudian menjadi standar pada ISO tahun 1984.

AUDIOGRAM

Audiogram adalah plot dari intensitas (HL) dan frekuensi. Salah satu contoh nya adalah

Gambar 2.3 Audiogram

AUDIOMETRY

Audiometry adalah teknik untuk mengidentifikasi prilaku dari kehilangan kemampuan mendengar dan
untuk mendapatkan tingkat pendengaran dengan cara merekam respon dari pasien setelah memberikan
pasien tersebut rangsangan auditory dengan berbagai intensitas level. Untuk test air conducting,
rangasangan diberikan pada telinga dengan menggunakan earphones. Untuk bone conducting, sebuah
vibrator tulang ditempatkan pada tulang temporal. Dengan prosedur test kedua telinga di test secara
terpisah. Pada audiometry teknik masking merupakan suatu cara untuk mencegah telinga non test
mendapatkan tone dan rangsangan yang diberikan pada telinga test, akan tetapi pada saat yang sama
tidak memberikan efek “overmasking”. Salah satu cara untuk memberikan efek masking adalah dengan
memberikan wide band noise, narrow band noise atau white noise dengan band yang terletak pada
tengahtengah frekuensi tes. Terdapat dua tipe audiometry yaitu subjective dan objective. Pada test
subjective pasien harus erespon pada saat dia menerima rangsangan suara dan merekamnya. Pada test
objective hanya ada pemasangan elektroda-elektroda atau probe pada pasien. Beberapa teknik
audiometry berdasarkan rangsangan yang diberikan.

Pure Tone Audiometry

Prosedur ini akan memberikan gambaran yang luas mengenai tingkat kehilangan pendengaran pasien
dan penyebabnya. Pasien akan memberikan respon terhadap rangsangan tone yang diberikan. Tone
yang diberikan dengan cara dari frekuensi rendah ke tinggi . Tone sebesar 30dB HL diberikan kepada
pasien sebagai rangsangan awal, jika respon positif maka level tone akan diturunkan sebesar 10 dB HL
sampai pasien tidak memberikan respon. Pada rangsangan pertama jika pasien tidak mendengar maka
level tone dinaikkan 10 dB HL sampai terdengar oleh pasien kemudian diturunkan per 5 dB atau naik 5
dB HL. Frekuensi yang diujikan berkisar 125-500 Hz.

Tone Decay Test (TDT)

Digunakan untuk mendeteksi kelainan pada jalur sensorineural. Prosedurnya adalah, operator memilih
frekuensi untuk kemudian pasien diinstruksikan untuk merespon pada saat pasien mendapat
rangsangan dan akan memberikan respon lagi pada saat tidak dapat menerima rangsangan tersebut,
durasi diantara keduanya kemudian diukur. Tone yang dipakai diberikan dari frekuensi tinggi ke rendah.
Dengan 30 dB HL pada saat pertama untuk kemudian selama 1 menit pasien dapat mendengarkan maka
tone level akan diturunkan dengan skala 5 dB HL, hal ini diulangi sampai tone tidak dapat didengarkan
lagi selama kurang dari 1 menit.

Short Increment Sensitivity Index (SISI)

SISI digunakan untuk mendeteksi penyakit di cochleat atau recrocochlear lesions. Test ini
menggambarkan kapasitas pasien untuk mendeteksi perbedaan kenaikan intensitas 1 dB, yang dalam
rentan waktu 5 detik pada frekuensi tertentu. Operator akan menset frekuensi pada level 20 dB, tone
yang diberikan dengan madulasi singkat 1 dB diatas carrier tone setiap 5 detik. Kenaikan 1 dB
dipresentasikan dengan interval 300 ms, dengan rise time dan fall time sebesar 50 ms. Respon pasien
pada saat dapat membedakan perbedaan level adalah yang diukur.

Bekesy Audiometry

Merupakan test audiometry yang dapat dijalankan secara automatis. Hal ini dikarenakan frekuensi dan
intensitas akan turun dan naik secara otomatis, sedangkan respon pasien terhadap tone yang menjadi
data diukur pada tes tesebut.

Speech Audiometry

Pure tone audiometry adalah test yang mengacu pada sensitivitas pasien sedangkan speech audiometry
mengacu kepada integritas seluruh system auditory dengan mengacu pada kemampuan secara jelas
mendengarkan dan mengerti pembicaraan.

DONI HENDRIANSYAH_111068076

PURE TONE AUDIOMETER DENGAN TEKNIK BEKESY AUDIOMETRY BERBASISKAN PC

(PURE TONE AUDIOMETER WITH BEKESY AUDIOMETRY TECHNIQUE

BASED ON PC)

IT TELKOM

(http://digilib.ittelkom.ac.id/index.php?view=article&catid=15%3Apemrosesan-
sinyal&id=337%3Aauditory&tmpl=component&print=1&page=&option=com_content&Itemid=
14
www.who.int/occupational_health/publications/noise8.pdf
by JR Franks - Cited by 5 - Related articles

Anda mungkin juga menyukai