Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan point utama dalam kehidupan manusia dan untuk
mendapatkannya membutuhkan usaha yang lebih misalnya dengan olahraga teratur,
selalu menjaga keberihan diri, lingkungan, makan dan minum yang bergizi. Manusia
dikatakan sehat apabila jiwa dan fisiknya tidak mengalami gangguan atau cidera yang
mengakibatkan kesehatan menurun. Menurut undangudang kesehatan jiwa Nomor 18
Tahun 2014 Bab 1 pasal 1 ayat 1 kesehatan jiwa adalah kondisi dimana seorang
individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan sosial sehingga individu
tersebut menyadari kemampiannya sendiri, dapt mengatasi tekenan, bekerja secara
produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk kelompoknya.
Menurut Purnama, Yani, & Titin (2016) mengatakan gangguan jiwa adalah seseorang
yang terganggu dari segi mental dan tidak bisa menggunakan pikirannya secara normal.
Skizofrenia adalah kerusakan otak yang mengakibatkan gangguan fungsi kognitif, aktif,
bahasa, gangguan memandang terhadap realitas, dan hubungan interpersonal, dan
mempunyai perubahan perilaku seperti perilaku agisitas dan agresif atau disebut
dengan perilaku kekerasan (Erwina, 2012). Hasil dari Riset Kesehatan Dasar
(RISKESDAS) prevalensi gangguan jiwa berat pada penduduk Indonesia 1,7 per mil,
dan gangguan mental emosional pada penduduk Indonesia 6 persen. Gangguan jiwa
berat terbanyak di Yogyakarta, Aceh, Sulawesi Selatan, Bali, dan Jawa Tengah.
Proporsi rumah tangga yang pernah memasung anggota rumah tangga gangguan jiwa
berat 14,3 persen dan terbanyak pada penduduk yang tinggal di perdesaan (18,2%),
serta pada kelompok penduduk dengan kuintil indeks kepemilikan terbawah (19,5%).
Provinsi dengan prevalensi ganguan mental emosional tertinggi adalah Sulawesi
Tengah, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Yogyakarta, dan Nusa Tenggara Timur
(Kemenkes RI, 2013)
Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan tempat yang penuh dengan kesibukan
dimana sindrom psikiatrik akut seringkali muncul dan menimbulkan kesulitan dalam
diagnostik dan manajemen. Ruang kedaruratan di rumah sakit awalnya digunakan
untuk mengatasi dan memberikan pelayanan segera pada pasien dengan kondisi medis
atau trauma akut. Peran ini kemudian meluas dengan memberikan pelayanan segara
pada tipe kondisi lain, termasuk pasien yang mengalami kedaruratan psikiatrI (Petit,
2004; Trent, 2013).
Kegawatdaruratan psikiatrik merupakan aplikasi penanganan klinis terkait dengan
penanganan darurat pada pasien dengan gangguan jiwa. Kondisi ini menuntut untuk
dilakukan intervensi khusus terkait dengan penanganan kedaruratan psikiatri.
Gangguan kecemasan serangan panic merupakan salah satu kegawatdaruratan
psikiatrik yang memerlukan intervensi khusus. Penanganan serangan panic yang tidak
cepat dan kurang tepat dapat membahayakan keselamatan jiwa penderitanya, dengan
demikian diharapkan praktisi kesehatan mental harus siap untuk mengatasi krisis
seperti keinginan bunuh diri, agitasi dan agresi, serta keadaan confusional state.
Berdasarkan data yang dikumpulkan pada tahun 2001, didapatkan 30% pasien dengan
depresi unipolar, 26% psikosis, 20% dengan penyalahgunaan zat, 14% bipolar, 4%
gangguan penyesuaian, 3% gangguan cemas, dan 2% dengan demensia. Sekitar 40
persen dari semua pasien terlihat di ruang gawat darurat psikiatri memerlukan rawat
inap. Sebagian besar kunjungan terjadi selama jam malam, dan tidak ada perbedaan
antara hari, minggu, bulan, atau tahun. (Allen et al., 2002; Sadock and Sadock, 2010).
Banyak penyakit medis umum yang memberikan gejala gangguan perilaku dan dapat
menyebabkan perubahan dalam berpikir dan mood. Berbagai gejala tersebut
menyebabkan peningkatan keterlibatan psikiatri dalam pelayanan kedaruratan. Saat ini
juga telah banyak pasien dengan alasan medis yang datang dengan ciri-ciri kepribadian
dan mekanisme koping yang maladaptif yang dapat mempersulit penatalaksanaan
medisnya. Dalam semua situasi ini, peran psikiater sebagai konsultan dan penghubung
dapat menjadi sangat penting dalam memfasilitasi perawatan yang tepat. Psikiater
hendaknya mampu dalam mengelola pasien yang mengalami kegawatdaruratan,
mengelola masalah sistem rumah sakit, informasi tentang penyakit medis dan psikiatris,
terampil dalam konflik resolusi, etis dan legal tentang tanggung jawab untuk keamanan
pasien, dan mampu melayani sebagai pemimpin tim yang bisa terjun langsung dalam
krisis. (Riba, et al., 2010).
Secara keseluruhan, kedaruratan psikiatri merupakan bidang yang masih terus
berkembang. Klinisi diharapkan memiliki kemampuan atau keahlian pada consultation-
liaison psychiatry, manajemen krisis, brief psychotherapy, risk assessment dan
pengetahuan yang luas mengenai pengobatan, sistem pelayanan rumah sakit dan
kesehatan, serta psikiatri secara umum. (Riba et al., 2010).
Gawat darurat psikiatri memerlukan penilaian yang cepat dan tepat melalui
pendekatan pragmatis. Pendekatan ini memerlukan skill yang cukup karena
keterbatasan ruang dan waktu pelayanan. Target dari penanganan awal adalah initial
diagnosis, identifikasi faktor pencetus, dan keputusan untuk merujuk ke bagian yang
sesuai.Tempat pelayanan kedaruratan psikiatri antara lain di rumah sakit umum, rumah
sakit jiwa, klinik dan sentra primer (Hadi, Termeh, dkk, 2015).
Pelayanan kegawatdaruratan psikiatrik dilakukan oleh para profesional di bidang
kedokteran,ilmu perawatan, psikologi dan pekerja sosial. Permintaan untuk layanan
kegawat daruratan psikiatrik dengan cepat meningkat di seluruh dunia sejak tahun
1990an ,terutama di perkotaan. Penatalaksanaan pada pasien kegawatdaruratan
psikiatrik sangat kompleks. Para profesional yang bekerja pada pelayanan kegawat
daruratan psikiatrik umumnya beresiko tinggi mendapatkan kekerasan akibat keadaan
mental pasien mereka. Pasien biasanya datang atas kemauan pribadi mereka,
dianjurkan oleh petugas kesehatan lainnya, atau tanpa disengaja. Penatalaksanaan
pasien yang menuntut intervensi psikiatrik pada umumnya meliputi stabilisasi krisis dari
masalah hidup pasien yang bisa meliputi gejala atau kekacauan mental baik sifatnya
kronis ataupun akut (Hadi, Termeh, dkk, 2015).

Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa keadaan kegawat daruratan


psikiatri memerlukan penanganan yang khusus. Namun, keadaan yang biasa di jumpai
ialah penanganan yang diberikan perawat pada pasien dengan keadaan gawat darurat
psikiatri yaitu hanya pengikatan atau restrain dan pemberian obat. Restrain merupakan
intervensi koersif yang terkadang digunakan di ruang emergency psikiatri bertujuan
untuk mengekang seseorang dengan menggunakan fisik atau alat lain. Tindakan
tersebut dilakukan untuk pasien yang sangat gelisah dan ingin melakukan tindak
kekerasan dengan dilakukan restrain dapat melindungi pasien dan orang lain dari
kemungkinan terjadinya cedera fisik (Kelly & Matthew, 2012).

B. Tujuan
a) Tujuan umum
Adapun tujuan umum dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui
gambaran umum tentang Keperawatan Gawat Darurat Psikiatri serta mampu
berperan sebagai perawat jiwa baik di Rumah Sakit atau di Komunitas.
b) Tujuan khusus
1. Mengetahui Definisi Kegawatan Psikiatri
2. Mengetahui Etiologi Kegawatan Psikiatri
3. Mengetahui Klasifikasi Kegawatan Psikiatri
4. Mengetahui Tanda dan Gejala Kegawatan Psikiatri
5. Mengetahui Dasar Hukum Pelayanan Kegawatan Psikiatri
6. Mengetahui Patofisiologi Kegawatan Psikiatri
7. Mengetahui Penatalaksanaan Kegawatan Psikiatri
8. Mengetahui Asuhan Keperawatan; Kegawatan Psikiatri
9. Mengetahui Trend Issue Kegawatan Psikiatri
a.
b.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Kegawatan Psikiatri


Berdasarkan konsensus yang dikembangkan oleh American Psychiatric Association
(APA) menyebutkan bahwa kedaruratan psikiatri adalah gangguan yang bersifat akut,
baik pada pikiran, perilaku, atau hubungan sosial yang membutuhkan intervensi segera
yang didefinisikan oleh pasien, keluarga pasien, atau masyarakat. (Trent, 2013).
Kegawatdaruratan psikiatri adalah suatu gangguan IGD pada pikiran, perasaan,
perilaku, atau hubungan sosial yang membutuhkan suatu intervensi segera (Allen
Foster, Zealberg & Currier, 2002).
Kegawat daruratan psikiatri adalah tiap gangguan dalam berpikir, perasaan atau
tingkah laku yang memerlukan intervensi terapeutik atau pengobatan secepatnya/segara
(Wijaya, 1997).

B. Etiologi Kegawatan Psikiatri


Kondisi kedaruratan adalah suatu kondisi dimana terjadi gangguan integritas
fisiologis atau psikologis secara mendadak. Semua masyarakat berhak mendapat
perawatan kesehatan gawat darurat, pencegahan, primer, spesialistik serta kronik.
Perawatan Gawat Darurat harus dilakukan tanpa memikirkan kemampuan pasien untuk
membayar, semua petugas medis harus diberi kompensasi yang adekuat, adil dan tulus
atas pelayanan kesehatan yang diberikannya. Diperlukan mekanisme pembayaran
penggantian atas pelayanan gratis, hingga tenaga dan sarana tetap tejaga untuk setiap
pelayanan. Ini termasuk mekanisme kompensasi atas penderita yang tidak memiliki
asuransi, bukan penduduk setempat atau orang asing. Semua pasien harus mendapat
pengobatan, tindakan medis dan pelayanan memadai yang diperlukan agar didapat
pemulihan yang baik dari penyakit atau cedera akut yang ditindak secara gawat darurat.
Tempat rujukan layanan kegawatdaruratan psikiatrik biasanya dikenal sebagai
Psychiatric Emergency Service, Psychiatric Emergency Care Centres, atau
Comprehensive Psychiatric Emergency Programs. Tenaga kesehatan terdiri dari berbagai
disiplin, mencakup kedokteran, ilmu perawatan, psikologi, dan karya sosial di samping
psikiater. Untuk fasilitas, kadang dirawat inap di rumah sakit jiwa, bangsal jiwa, atau unit
gawat darurat, yang menyediakan perawatan segera bagi pasien selama 24 jam. Di
dalam lingkungan yang terlindungi, pelayanan kegawatdaruratan psikiatrik diberikan
untuk memperoleh suatu kejelasan diagnostik, menemukan solusi alternatif yang sesuai
untuk pasien, dan untuk memberikan penanganan pada pasien dalam jangka waktu
tertentu. Bahkan diagnosis tepatnya merupakan suatu prioritas sekunder dibandingkan
dengan intervensi pada keadaan kritis.
Fungsi pelayanan kegawatdaruratan psikiatrik adalah menilai permasalahan pasien,
memberikan perawatan jangka pendek, memberikan pengawasan selama 24 jam ,
mengerahkan tim untuk menyelesaikan intervensi pada tempat kediaman pasien,
menggunakan layanan manajemen keadaan darurat untuk mencegah krisis lebih lanjut,
memberikan peringatan pada pasien rawat inap dan pasien rawat jalan, dan
menyediakan pelayanan konseling lewat telepon. Faktor Penyebab Gadar Psikiatri antara
lain; tindak kekerasan, perubahan perilaku, gangguan penggunaan zat. Kedaruratan
Psikiatri adalah tiap gangguan pada pikiran, perasaan dan tindakan seseorang yang
memerlukan intervensi terapeutik segera diantaranya yang paling sering adalah:
1. Suicide (Bunuh Diri).
2. Violence And Assaultive Behavior (Perilaku Kekerasan Dan Menyerang).

C. Klasifikasi Kegawatan Psikiatri


1. Tidak berhubungan dengan kelainan organik, diantaranya gangguan
emosional akut akibat dari antara lain; kematian, perceraian, perpisaan , bencana
alam, pengasingan dan pemerkosaan.
2. Berhubungan dengan kelainan organik antara lain akibat dari; trauma kapitis,
struk, ketergantungan obat, kelainan metabolik, kondisi sensitivitas karena obat

D. Tanda dan Gejala Kegawatan Psikiatri


1. Bunuh diri
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri
kehidupan. Perilaku bunuh diri yang tampak pada seseorang disebabkan karena
stress yang tinggi dan kegagalan mekanisme koping yang digunakan dalam
mengatasi masalah (Keliat, 1993). Perilaku bunuh diri atau destruktif diri langsung
terjadi terus menerus dan intensif pada diri kehidupan seseorang. Perilaku yang
tampak adalah berlebihan, gejala atau ucapan verbal ingin bunuh diri, luka atau nyeri
(Rawlin dan Heacock, 1993).
Dikutip dari situs kesehatan mental epigee.org, berikut ini adalah tanda-tanda
bunuh diri yang mungkin terjadi:
1. Bicara mengenai kematian: Bicara tentang keinginan menghilang, melompat,
menembak diri sendiri atau ungkapan membahayakan diri.
2. Baru saja kehilangan: kematian, perceraian, putus dengan pacar atau
kehilangan pekerjaan, semuanya bisa mengarah pada pemikiran bunuh diri atau
percobaan bunuh diri. Kehilangan lainnya yang bisa menandakan bunuh diri
termasuk hilangnya keyakinan beragama dan hilangnya ketertarikan pada
seseorang atau pada aktivitas yang sebelumnya dinikmati.
3. Perubahan kepribadian: seseorang mungkin memperlihatkan tanda-tanda
kelelahan, keraguan atau kecemasan yang tidak biasa.
4. Perubahan perilaku: kurangnya konsentrasi dalam bekerja, sekolah atau
kegiatan sehari-hari, seperti pekerjaan rumah tangga.
5. Perubahan pola tidur: tidur berlebihan, insomnia dan jenis gangguan tidur
lainnya bisa menjadi tanda-tanda dan gejala bunuh diri.
6. Perubahan kebiasaan makan: kehilangan nafsu makan atau bertambahnya
nafsu makan. Perubahan lain bisa termasuk penambahan atau penurunan berat
badan.
7. Berkurangnya ketertarikan seksual: perubahan seperti ini bisa mencakup
impotensi, keterlambatan atau ketidakteraturan menstruasi.
8. Harga diri rendah: gejala bunuh diri ini bisa diperlihatkan melalui emosi
seperti malu, minder atau membenci diri sendiri.
9. Ketakutan atau kehilangan kendali: seseorang khawatir akan kehilangan
jiwanya dan khawatir membahayakan dirinya atau orang lain.
10. Kurangnya harapan akan masa depan: tanda bunuh diri lainnya adalah
seseorang merasa bahwa tidak ada harapan untuk masa depan dan segala hal
tidak akan pernah bertambah baik.
Beberapa tanda bunuh diri lainnya meliputi pernah mencoba bunuh diri, memiliki
riwayat penyalahgunaan obat atau alkohol, belanja berlebihan, hiperaktivitas,
kegelisahan dan kelesuan.
2. Perilaku kekerasan
Perilaku kekerasan adalah perilaku individu yang dapat membahayakan orang, diri
sendiri baik secar fisik, emosional, dan atau sexualitas ( Nanda, 2005 ). Marah
merupakan perasaan jengkel yang timbul sebagai respon terhadap kecemasan,
kebutuhan yang tidak terpenuhi yang dirasakan sebagai ancaman ( Stuart dan
Sunden, 1997 ).
Pengertian Perilaku kekerasan merupakan suatu bentuk ekspresi kemarahan
yang tidak sesuai dimana seseorang melakukan tindakan-tindakan yang dapat
membahayakan/mencederai diri sendiri, orang lain bahkan dapat merusak
lingkungan.
Pada pengkajian awal dapat diketahui alasan utama klien masuk kerumah sakit
adalah perilaku kekerasan di rumah. Dapat dilakukan pengkajian dengan cara:
1. Observasi
a) Muka merah, pandangan tajam, otot tegang, nada suara yang tinggi,
berdebat.
b) Sering pula tampak klien memaksakan kehendak : merampas
makanan, memukul jika tidak senang
2. Wawancara
Diarahkan pada penyebab marah, perasaan marah, tanda-tanda marah yang
dirasakan klien. Keliat (2002) mengemukakan bahwa tanda -tanda marah adalah
sebagai berikut :
a. Emosi : tidak adekuat, tidak aman, rasa terganggu, marah (dendam),
jengkel.
b. Fisik : muka merah, pandangan tajam, nafas pendek, keringat,
sakit fisik, penyalahgunaan obat dan tekanan darah.
c. Intelektual : mendominasi, bawel, sarkasme, berdebat, meremehkan.
d. Spiritual : kemahakuasaan, kebajikan/kebenaran diri, keraguan, tidak
bermoral, kebejatan, kreativitas terhambat.
e. Sosial : menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan dan
humor.
Tanda ancaman kekerasan (Kaplan and Sadock, 1997) adalah:
a. Tindakan kekerasan belum lama, termasuk kekerasan terhadap
barang milik.
b. Ancaman verbal atau fisik.
c. Membawa senjata atau benda lain yang dapat digunakan sebagai
senjata (misalnya : garpu, asbak).
d. Agitasi psikomator progresif.
e. Intoksikasi alkohol atau zat lain.
f. Ciri paranoid pada pasien psikotik.
g. Halusinasi dengar dengan perilaku kekerasan tetapi tidak semua
pasien berada pada resiko tinggi.
h. Penyakit otak, global atau dengan temuan lobus fantolis, lebih jarang
pada temuan lobus temporalis (kontroversial).
i. Kegembiraan katatonik.
j. Episode manik tertentu.
k. Episode depresif teragitasi tertentu.
l. Gangguan kepribadian (kekerasan, penyerangan, atau diskontrol
implus).
Gambaran klinis menurut Stuart dan Sundeen (1995) adalah sebagai berikut:
a. Muka merah
b. Pandangan tajam
c. Otot tegang
d. Nada suara tinggi
e. Berdebat
f. Kadang memaksakan kehendak
g. Stress
h. Mengungkapkan secara verbal
i. Menentang
Gambaran klinis menurut Direktorat Kesehatan Jiwa, Direktorat Jendral Pelayanan
Kesehatan Departemen Kesehatan RI (1994) adalah sebagai berikut :
a. Pasif agresif
1) Sikap suka menghambat
2) Bermalas-malasan
3) Bermuka masam
4) Keras kepala dan pendendam
b. Gejala agresif yang terbuka (tingkah laku agresif)
1) Suka membantah
2) Menolak sikap penjelasan
3) Bicara kasar
4) Cenderung menuntut secara terus-menerus
5) Hiperaktivitas
6) Bertingkah laku kasar disertai kekerasan
3. Gaduh/Gelisah
Tanda dan gejala pada pasien yang mengalami gaduh gelisah diantaranya:
a. Gelisah

b. Mondar-mandir
c. Berteriak-teriak

d. Loncat-loncat
e. Marah-marah

f. Curiga
g. Agresif

h. Beringas
i. Agitasi

j. Gembira
k. Bernyanyi

l. Bicara kacau
m. Mengganggu orang lain

n. Tidak tidur beberapa hari


o. Sulit berkomunikasi

4. Withdrawal
Tanda dan gejala pada orang yang withdrawal diantaranya:
a. Nafsu makan hilang

b. Ansietas, gelisah
c. Mialgia, arthralgia

d. Lesu-lemas
e. Tremor, kram perut, kejang

f. ‘Craving’
E. Dasar Hukum Pelayanan Kedaruratan Psikiatri
Peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pelayanan gawat darurat
adalah UU No 23/1992 tentang Kesehatan, Peraturan Menteri Kesehatan No.585/1989
tentang Persetujuan Tindakan Medis, dan Peraturan Menteri Kesehatan No.159b/1988
tentang Rumah Sakit. Ketentuan tentang pemberian pertolongan dalam keadaan
darurat telah tegas diatur dalam pasal 5l UUNo.29/2004 tentang Praktik Kedokteran, di
mana seorang dokter wajib melakukan pertolongan darurat atas dasar
perikemanusiaan. Selanjutnya, walaupun dalam UU No.23/1992 tentang Kesehatan
tidak disebutkan istilah pelayanan gawat darurat namun secara tersirat upaya
penyelenggaraan pelayanan tersebut sebenamya merupakan hak setiap orang untuk
memperoleh derajat kesehatan yang optimal (pasal 4) Selanjutnya pasal 7 mengatur
bahwa “Pemerintah bertugas menyelenggarakan upaya kesehatan yang merata dan
terjangkau oleh masyarakat” termasuk fakir miskin, orang terlantar dan kurang mampu.
Tentunya upaya ini menyangkut pula pelayanan gawat darurat, baik yang
diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat (swasta).
Rumah sakit di Indonesia memiliki kewajiban untuk menyelenggarakan pelayanan
gawat darurat 24 jam sehari sebagai salah satu persyaratan ijin rumah sakit. Dalam
pelayanan gawat darurat tidak diperkenankan untuk meminta uang muka sebagai
persyaratan pemberian pelayanan. Dalam penanggulangan pasien gawat darurat
dikenal pelayanan fase pra-rumah sakit dan fase rumah sakit. Pengaturan pelayanan
gawat darurat untuk fase rumah sakit telah terdapat dalam Peraturan Menteri
Kesehatan No.159b/1988 tentang Rumah Sakit, di mana dalam pasal 23 telah
disebutkan kewajiban rumah sakit untuk menyelenggarakan pelayanan gawat darurat
selama 24 jam per hari. Untuk fase pra-rumah sakit belum ada pengaturan yang
spesifik. Secara umum ketentuan yang dapat dipakai sebagai landasan hukum adalah
pasal 7 UU No.23/1992 tentang Kesehatan, yang harus dilanjutkan dengan pengaturan
yang spesifik untuk pelayanan gawat darurat fase pra-rumah sakit Bentuk peraturan
tersebut seyogyanya adalah peraturan pemerintah karena menyangkut berbagai
instansi di luar sektor kesehatan.
Pengertian tenaga kesehatan diatur dalam pasal 1 butir 3 UU No.23/1992 tentang
Kesehatan sebagai berikut: tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan
diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui
pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan
untuk melakukan upaya kesehatan”. Melihat ketentuan tersebut nampak bahwa profesi
kesehatan memerlukan kompetensi tertentu dan kewenangan khusus karena tindakan
yang dilakukan mengandung risiko yang tidak kecil.
Pengaturan tindakan medis secara umum dalam UU No.23/1992 tentang Kesehatan
dapat dilihat dalam pasal 32 ayat (4) yang menyatakan bahwa “pelaksanaan
pengobatan dan atau perawatan berdasarkan ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan
hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan
kewenangan untuk itu “. Ketentuan tersebut dimaksudkan untuk melindungi masyarakat
dari tindakan seseorang yang tidak mempunyai keahlian dan kewenangan untuk
melakukan pengobatan/perawatan, sehingga akibat yang dapat merugikan atau
membahayakan terhadap kesehatan pasien dapat dihindari, khususnya tindakan medis
yang memelakukanngandung risiko.
Pengaturan kewenangan tenaga kesehatan dalam melakukan tindakan medik diatur
dalam pasal 50 UUNo.23/1992 tentang Kesehatan yang merumuskan bahwa “tenaga
kesehatan bertugas menyelenggarakan atau melakukan kegiatan kesehatan sesuai
dengan bidang keahlian dan atau kewenangan tenaga kesehatan yang bersangkutan”.
Pengaturan di atas menyangkut pelayanan gawat darurat pada fase di rumah sakit, di
mana pada dasarnya setiap dokter memiliki kewenangan untuk melakukan berbagai
tindakan medik termasuk tindakan spesifik dalam keadaan gawat darurat. Dalam hal
pertolongan tersebut dilakukan oleh tenaga kesehatan maka yang bersangkutan harus
menemelakukanrapkan standar profesi sesuai dengan situasi (gawat darurat) saat itu.
Pelayanan gawat darurat fase pra-rumah sakit umumnya tindakan pertolongan
pertama dilakukan oleh masyarakat awam baik yang tidak terlatih maupun yang teriatih
di bidang medis. Dalam hal itu ketentuan perihal kewenangan untuk melakukan
tindakan medis dalam undang-undang kesehatan seperti di atas tidak akan diterapkan,
karena masyarakat melakukan hal itu dengan sukarela dan dengan itikad yang baik.
Selain itu mereka tidak dapat disebut sebagai tenaga kesehatan karena pekerjaan
utamanya bukan di bidang kesehatan.
Setiap tindakan medis harus mendapatkan persetujuan dari pasien (informed
consent). Hal itu telah diatur sebagai hak pasien dalam UU No.23/1992 tentang
Kesehatan pasal 53 ayat 2 dan Peraturan Menteri Kesehatan No.585/1989 tentang
Persetujuan Tindakan Medis. Dalam keadaan gawat darurat di mana harus segera
dilakukan tindakan medis pada pasien yang tidak sadar dan tidak didampingi pasien,
tidak perLu persetujuan dari siapapun (pasal 11 Peraturan Menteri Kesehatan
No.585/1989). Dalam hal persetujuan tersbut dapat diperoleh dalam bentuk tertulis,
maka lembar persetujuan tersebut harus disimpan dalam berkas rekam medis.

F. Patofisiologi Kegawatan Psikiatri; Perilaku Kekerasan

Resiko mencederai
Orang lain/ lingkungan

Perilaku Kekerasan (CP)

Gangguan harga diri: harga diri rendah

G. Penatalaksanaan Kegawatan Psikiatri


Perawatan di kedaruratan psikiatri biasanya berfokus pada manajemen perilaku dan
gejala. Proses pengobatan dilakukan bersamaan dengan proses evaluasi (jika pemberian
terapi telah memungkinkan). Wawancara awal tidak hanya berfungsi untuk memperoleh
informasi diagnostik yang penting, tetapi juga untuk terapi. Dalam melakukan proses
evaluasi, bila fasilitas tidak memadai, dapat dilakukan perujukan pada fasilitas kesehatan
terdekat yang memiliki fasilitas yang cukup untuk penatalaksanannya. (Sadock and
Kaplan, 2009; Trent, 2013) Modalitas terapi yang digunakan untuk seting kedaruratan
psikiatri antara lain: 1) farmakoterapi, 2) seclusion (isolasi) dan restraint (fiksasi fisik), dan
3) psikoterapi. (Knox dan Holloman, 2011; Riba et al., 2010; Sadock and Kaplan, 2009).

H. Asuhan Keperawatan Kegawatan Psikiatri; Perilaku Kekerasan


 Contoh Kasus
Klien Tn. R, umur 27 tahun, agama Hindu, anak ke 2 dari 3 bersaudara. Tinggal
bersama pamannya di Jl. Pulau Batam Kel.Banyuning. Klien masuk RSJ Seger Waras
untuk ketiga kalinya pada tanggal 9 April 2019 dengan keluhan utama mengamuk, sering
marah dan memukul orang, sebelumnya klien pernah dirawat pada tahun 2016 dan 2018
dengan keluhan yang sama karena saat di rumah klien tidak teratur minum obat. Sejak 2
minggu sebelum masuk rumah sakit, klien sering marah bila keinginannya tidak
terpenuhi. Keadaan ini semakin memburuk hingga akhirnya sehari sebelum masuk
rumah sakit, klien mengamuk dan memukul tantenya karena keinginannya untuk
dibelikan sepeda motor tidak dipenuhi. Klien mempunyai riwayat menggunakan NAPZA
(shabu-shabu) pada tahun 2010 – 2016. Klien juga mempunyai pengalaman yang tidak
menyenangkan seperti sering dipukuli ayahnya dan orang tuanya bercerai pada saat
klien berusia 9 tahun kemudian ayahnya meninggal dunia.
Pada saat dilakukan pengkajian, klien tampak tegang, mata merah , wajah agak
merah ,ekspresi marah, gelisah, rahang terkatup, tangan mengepal dan tatapan mata
tajam. Klien dalam keadaan terfiksasi. Afek labil, berbicara dengan keras dan cepat, arus
piker blocking (pembicaraan terhenti tiba-tiba) dan tampak memfokuskan pendengaran
seolah-olah ada sesuatu yang didengar.Klien tampak tidak rapi, muka kusut, tercium bau
badan, kuku panjang dan kotor, penggunaan pakaian tidak sesuai (baju terbalik), belum
mampu merawat dirinya sendiri.Saat interaksi klien mengatakan suka memukul orang di
rumah, mengatakan dirinya seorang jagoan, mendengar suara bisikan yang
menyuruhnya mondar-mandir. Paman klien mengatakan klien suka membentak dan
menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal atau marah.
Klien malas bergaul dengan orang lain, merasa tidak diperhatikan karena jarang
dijenguk oleh keluarganya, dan sejak orang tuanya bercerai klien kurang mendapat
perhatian oleh keluarga.Klien mengatakan benci atau kesal pada tantenya. Klien selama
di rawat di RSJ Seger Waras klien mendapat terapi obat dan restrain.
Diagnosa medis : Schizophrenia paranoid
Therapi : Diazepam 5 mg 3 x 1, Haloperidol 5 mg 3 x ½

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA Sdr ‘’T”


DENGAN MASALAH KEPERAWATAN UTAMA
PERILAKU KEKERASAN ( PK) DI UNIT GAWAT DARURAT
RUMAH SAKIT JIWA (RSJ) SEGER WARAS
TANGGAL 9 April 2019

1. PENGKAJIAN PRIMER :
A. Airway
Klien dapat berbicara dan bernafas dengan mudah, muntah (-), sesak (-)
B. Breathing
Nafas agak cepat dan dangkal , RR = 24 x/menit, tanda-tanda hipoksia (-)
C. Circulation
T = 130/80 mmHg, Nadi = 84 x/menit
D. Disability
Kesadaran compos mentis, GCS = 15
E. Eksposure
Klien tampak sedang diikat kedua tangannya menggunakan selendang, tampak
luka lecet di tangan sebelah kanan

2. PENGKAJIAN SEKUNDER :
A. IDENTITAS KLIEN :
1. Nama (Inisial) : Sdr.”T”
2. Umur : 27 tahun
3. Jenis kelamin : Laki-laki
4. Pendidikan : SMP
5. Status kawin : Belum kawin
6. Pekerjaan : Tidak bekerja
7. Alamat : Jl. Pulau Batam Kel. Banyuning
8. Sumber data : Klien, keluarga dan Dokumen rekam medik.
9. Tanggal pengkajian : 9 April 2019 Jam 09.30 WIB
10. RM No. : 03.81.11. 4
B. DATA FOKUS
1. Alasan Masuk Rumah Sakit.
Klien dibawa ke Unit Gawat Darurat RSJ Banglikarena menurut keterangan paman
klien, klien mengamuk dan memukul tantenya

2. Riwayat MRS sebelumnya


Klien masuk RSJ Seger Waras untuk ketiga kalinya pada tanggal 19 Oktober 2015
dengan keluhan utama mengamuk, sering marah dan memukul orang. sebelumnya
klien pernah dirawat pada tahun 2012 dan 2014 dengan keluhan yang sama karena
saat di rumah klien tidak teratur minum obat
3. Riwayat pengobatan sebelumnya
Selama di rawat di RSJ Seger Waras, klien mendapat terapi obat dan restrain.
Diagnosa medis : Schizophrenia paranoid
Therapi : Diazepam 5 mg 3 x 1, Haloperidol 5 mg 3 x ½
4. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan
Klien mempunyai riwayat menggunakan NAPZA (shabu-shabu) pada tahun 2010 –
2016. Klien juga mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan seperti sering
dipukuli ayahnya dan orang tuanya bercerai pada saat klien berusia 9 tahun
kemudian ayahnya meninggal dunia
5. Konsep diri : harga diri
Saat interaksi klien mengatakan suka memukul orang di rumah, mengatakan dirinya
seorang jagoan, mendengar suara bisikan yang menyuruhnya mondar-mandir
6. Alam perasaan
Klien merasa tidak diperhatikan karena jarang dijenguk oleh keluarganya, dan sejak
orang tuanya bercerai klien kurang mendapat perhatian oleh keluarga.
7. Interaksi selama wawancara
Klien Mudah tersinggung saat wawancara.Paman klien mengatakan klien suka
membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal atau marah
8. Afek
Afek labil, berbicara dengan keras dan cepat, arus piker blocking (pembicaraan
terhenti tiba-tiba) dan tampak memfokuskan pendengaran seolah-olah ada sesuatu
yang didengar
9. Mekanisme koping maladaptif
Mencederai diri dan orang lain. Klien mengamuk dan memukul tantenya karena
keinginannya untuk dibelikan sepeda motor tidak dipenuhi.
10. Masalah psikososial dan lingkungan
Klien malas bergaul dengan orang lain, merasa tidak diperhatikan karena jarang
dijenguk oleh keluarganya, dan sejak orang tuanya bercerai klien kurang mendapat
perhatian oleh keluarga. Klien merasa tidak diperhatikan karena jarang dijenguk oleh
keluarganya, dan sejak orang tuanya bercerai klien kurang mendapat perhatian oleh
keluarga

11. Pemeriksaan fisik.


Berat badan : 47 kg, tinggi badan: 165 cm, Tekanan darah 130/80 mm Hg,
Frekuensi nadi 84x/menit dan respirasi 24x/menit.Klien tampak tegang, mata
merah ,wajah agak merah ,ekspresi marah, gelisah, rahang terkatup, tangan
mengepal dan tatapan mata tajam. Klien dalam keadaan terfiksasi
Klien tampak tidak rapi, muka kusut, tercium bau badan, kuku panjang dan kotor,
penggunaan pakaian tidak sesuai (baju terbalik), belum mampu merawat dirinya
sendiri

C. POHON MASALAH

Resiko mencederai
Orang lain/ lingkungan

Perilaku Kekerasan (CP)

Gangguan harga diri: harga diri rendah

D. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko mencederai orang lain berhubungan dengan perilaku kekerasan. Di
tandai dengan:
 Data subjektif:
a. Klien mengatakan suka memukul orang di rumah, mengatakan dirinya
seorang jagoan, mendengar suara bisikan yang menyuruhnya mondar-mandir
b. Klien merasa tidak diperhatikan karena jarang dijenguk oleh
keluarganya, dan sejak orang tuanya bercerai klien kurang mendapat
perhatian oleh keluarga
c. Paman Klien mengatakan klien mengamuk dan memukul tantenya
karena keinginannya untuk dibelikan sepeda motor tidak dipenuhi.
 Data objektif
a. Klien tampak tegang, gelisah, rahang terkatup, tangan mengepal dan tatapan
mata tajam.
b. Tekanan darah 130/80 mm Hg, Frekuensi nadi 84x/menit dan
respirasi24x/menit.

. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)


1. Masalah: Perilaku kekerasan
Pertemuan: Ke 1 (satu)
 Proses Keperawatan
 Kondisi : Klien datang ke rumah sakit diantar pamannya karena mengamuk dan
memukul tantenya
 Diagnosa :Resiko mencederai diri sendiri,orang lain, dan lingkungan berhubungan
dengan perilaku kekerasan.
a. TUK : 1. Membina hubungan saling percaya
2. Mengidentifikasi penyebab marah
Strategi pelaksanaan tindakan keperawatan (SP)
Orientasi
1. Salam terapeutik
Selamat pagi, nama saya Anna. Panggil saya suster Anna.Namanya
siapa, senang dipanggil apa? Saya akan merawat adik.
2. Evaluasi/ validasi
Ada apa di rumah sampai dibawa kemari?
3. Kontrak
1) Topik : Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang hal-hal yang menyebabkan adik
marah
2) Tempat : Mau dimana kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau di kamar perawat?
3) Waktu : Mau berapa lama? Bagaimana kalau 10 menit
Kerja
1) Apa yang membuat adikmengamuk?
2) Apakah ada yang membuat adik kesal?
3) Apakah sebelumnya adik pernah marah?
4) Apa penyebabnya? Sama dengan yang sekarang?
5) Baiklah, jadi ada ……. (misalnya 3) penyebab adik marah-marah.
Terminasi
a. Evaluasi Subyektif
Bagaimana perasaan adik setelah kita bercakap-cakap?
b. Evaluasi Obyektif
Coba sebutkan 3 penyebab adik marah?...Bagus sekali.
Rencana Tindak Lanjut
Baiklah, waktu kita sudah habis. Nanti coba ibu ingat lagi, penyebab adik marah yang
belum kita bicarakan.

Kontrak
a) Topik: Nanti akan kita bicarakan perasaan adik pada saat marah dan cara marah yang
biasa adik lakukan.
b) Tempat: Mau dimana kita bicara? Bagaimana kalau kita disini?
c) Waktu: Kira-kira 30 menit lagi ya. Sampai nanti.

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)


2.Masalah: Perilaku kekerasan
Pertemuan: Ke 2 (dua)
 Proses Keperawatan
 Kondisi : Klien dapat mengidentifikasikan penyebab marah.
 Diagnosa : Resiko mencederai diri sendiri,orang lain, dan lingkungan
berhubungandengan perilaku kekerasan.
a. TUK : 3. Mengidentifikasi tanda dan gejala perilaku kekerasan
4. Mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
5. Mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan klien
Strategi pelaksanaan tindakan keperawatan (SP)
Orientasi
1. Salam terapeutik
Selamat siang dik.
2. Evaluasi/ validasi
a) Bagaimana perasaan adik saat ini?
b) Apakah masih ada penyebab kemarahan adik yang lain?
3. Kontrak
a) Topik : Baiklah kita akan membicarakan perasaan ibu saat sedang marah
b) Tempat : Mau di mana? Bagaimana kalau dikamar perawat?
c) Waktu : Mau berapa lama? Bagaimana kalau 15 menit saja?
Kerja
a. Adik pada saat dimarahi ayah (salah satu penyebab marah), apa yang adik
rasakan?
b. Apakah ada perasaan kesal, tegang, mengepalkan tangan, mondar-mandir?
c. Lalu apa biasanya yang adik lakukan?
d. Apakah sampai memukul? Atau marah-marah?
e. Adik, coba dipraktekkan cara marah adik pada suster Anna. Anggap suster Anna adalah
yang membuat adik jengkel.Wah bagus sekali.
f. Nah, bagaimana perasaan adik setelah memukul meja?
g. Apakah masalahnya selesai?
h. Apa akibat perilaku adik?
i. Betul, tangan jadi sakit, meja bisa rusak, masalah tidak selesai dan akhirnya dibawa
ke rumah sakit
j. Bagaimana ibu, maukah belajar cara mengungkapkan marah yang benar dan sehat?
k. Baiklah, waktu kita sudah habis.
Terminasi
a. Evaluasi Subyektif
Bagaimana perasaan adik setelah kita bercakap-cakap?
b. Evaluasi Obyektif
a) Apa saja yang kita bicarakan?
b) Benar, perasaan marah. Apa saja tadi? Ya betul, lagi, lagi, oke.
c) Lalu cara marah yang lama, apa saja tadi? Ya betul, lagi, oke.
d) Dan akibat marah apa saja? Ya betul, sampai dibawa ke rumah sakit.
c. Rencana Tindak Lanjut
Baiklah, sudah banyak yang kita bicarakan. Nanti coba diingat-ingat lagi perasaan adik
sewaktu marah, dan cara adik marah serta akibat yang terjadi. Kalau di runah sakit ada
yang membuat adik marah, langsung beritahu suster.
d. Kontrak
a) Waktu: Besok kita bertemu lagi jam 09.00, bagaimana cocok?
b) Tempat: Bagaimana kalau disini lagi?
c) Topik: Besok kita mulai latihan cara marah yang baik dan sehat. Sampai besok.

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)


Masalah: Perilaku kekerasan
Pertemuan: Ke 3 (tiga)
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi : Klien dapat menyebutkan tanda dan gejala marah, cara marah yang
biasa dilakukan serta akibat yang terjadi.
2. Diagnosa : Resiko merusak lingkungan berhubungan dengan perilaku
kekerasan.
3. TUK :
Klien dapat medefisinisikan cara konatruktif dalam berespon terhadap kemarahan
Klien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan
Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program pengobatan).

Strategi pelaksanaan tindakan keperawatan (SP)


Orientasi
1. Salam terapeutik
Selamat pagi dik.
2. Evaluasi/ validasi
Bagaimana perasaan adik saat ini?Wah bagus.
Apakah ada yang membuat adik marah sore dan malam kemarin?
Bagaimana dengan perasaan, cara marah, dan akibat marahnya adik, masih ada
tambahan (jika perlu ulang satu-satu).
3. Kontrak
a. Topik adik masih ingat apa yang akan kita latih sekarang? Betul kita akanlatihan cara
marah yang sehat.
b. Tempat : Mau dimana kita bercakap-cakap? Baik disini saja seperti biasa
c. Waktu :Mau berapa lama? 15 menit ya dik.
Kerja
A. Dik, ada beberapa cara marah yang sehat, hari ini kita pelajari 1 cara
B. Nah, adik boleh pilih mau latihan nafas dalam atau pukul kasur dan bantal?
C. Baiklah, kita latihan nafas dalam
D. Jadi, kalau adik kesal dan perasaan sudah mulai tidak enak segera nafas
dalamagar cara marah yang lama tidak terjadi.
E. Caranya seperti ini, kita bisa berdiri atau duduk tegak.hidung dan keluarkan
dari mulut.
F. Coba ikuti suster, tarik dari hidung. Ya bagus, tahan sebentar, dan tiup dari
mulut.Oke, ulang sampai 5 kali.
G. Adik sudah tahu obat apa saja yang harus adik minum di rumah? Berapa kali
dalam sehari? Ya bagus,minumnya kalau bisa yang teratur ya dik
Terminasi
a. Evaluasi Subyektif
Bagaimana perasaan adik setelah latihan, ada perasaan plong atau lega?
b. Evaluasi Obyektif
Coba apa yang sudah kita pelajari?
Bagus, berapa kali tarik napas dalam?
Ya benar, 5 kali
c. Rencana Tindak Lanjut
Nah, berapa kali sehari adik mau latihan? Bagaimana kalau 3 kali?
Mau kapan saja? Bagaimana kalau pagi bangun tidur, lalu siang sebelum makan
dan malam sebelum tidur. Juga lakukan kalau ada yang membuat kesal.

BAB III
TREND ISSUE KEMAMPUAN DALAM MANAJEMEN KEDARURATAN PSIKIATRIK
PANIK BAGI PERAWAT JIWA DI RS JIWA DALAM MENANGANI KLIEN AMUK

A. Trend Issue Keperawatan Gawat Darurat


Gawat darurat adalah suatu keadaan yang terjadinya mendadak mengakibatkan
seseorangatau banyak orang memerlukan penanganan/pertolongan segera dalam arti
pertolongansecara cermat, tepat dan cepat. Apabila tidak mendapatkan pertolongan
semacam itu mekakorban akan mati atau cacat/ kehilangan anggota tubuhnya seumur
hidup. (Saanin, 2012).
Trend dan Issu Keperawatan adalah sesuatu yang sedang d.bicarakan banyak orang
tentang praktek/mengenai keperawatan baik itu berdasarkan fakta ataupun tidak, trend
dan issu keperawatan tentunya menyangkut tentang aspek legal dan etis keperawatan.

B. Kegawatdaruratan Psikiatrik
Dalam jurnal yang di teliti oleh (Astuti, 2013) dengan judul ‘’PENINGKATAN
KEMAMPUAN MANAJEMEN KEDARURATAN PSIKIATRIK: PANIK BAGI PERAWAT
JIWA DI RS JIWA GRACIA YOGYAKARTA’’ menjelaskan bahwa kegawatdaruratan
psikiatrik merupakan aplikasi penanganan klinis terkait dengan penanganan darurat
pada pasien dengan gangguan jiwa. Kondisi ini menuntut untuk dilakukan intervensi
khusus terkait dengan penanganan kedaruratan psikiatri. Penanganan serangan panic
yang tidak cepat dan kurang tepat dapat membahayakan keselamatan jiwa
penderitanya. Perawat sebagai salah satu tim professional yang bekerja pada
pelayanan kegawatdaruratan psikiatrik dituntut untuk mampu memberikan pelayanan
yang cepat, aman dan nyaman kepada pasiennya. Para professional yang bekerja pada
pelayanan kegawatdaruratan psikiatrik umumnya beresiko tinggi mendapatkan
kekerasan akibat keadaan mental pasien mereka..
Gangguan cemas panic adalah salah satu gangguan jiwa yang paling sering
ditemukan pada masyarakat. Gangguan cemas panic merupakan salah satu masalah
kegawatdaruratan psikiatri yang memerlukan intervensi psikiatri. Serangan panic adalah
suatu episode yang ekstrim dimana episode kecemasan yang cepat, intens, dan
meningkat yang berlangsung 15 sampai 30 menit (Videbeck, 2008; Varcarolis and
Halter, 2010; Andri, 2012).
Dalam jurnal ini terdapat beberapa manajemen kegawatdaruratan Panik. Menurut
DSM-IV, kriteria diagnosis gangguan panik harus dibuktikan dengan adanya serangan
panik yang berkaitan dengan kecemasan persisten berdurasi lebih dari 1 bulan
terhadap: (1)serangan panik baru (2) konsekuensi serangan, atau (3) terjadi perubahan
perilaku yang signifikan berhubungan dengan serangan. Selain itu untuk mendiagnosis
serangan panik, kita harus menemukan minimal 4 gejala dari 13 gejala yaitu pusing,
merasa kehilangan control, takut mati, terasa tercekik, palpitasi, nyeri dada, sesak,
mual, gemetar. Panas dikulit, menggigil, mati rasa, depersonalisasi (Maslim, 2001;
Videbeck, 2008, Stuart, 2009).
Penatalaksanaan kegawatdaruratan panic meliputi penatalaksanaan ketika terjadi
serangan dan ketika tidak terjadi serangan. Penatalaksanaan ketika serangan panic
terjadi adalah sebagai berikut ketika serangan panic yang datang dengan keluhan nyeri
dada, sesak napas, palpitasi atau nyaris pingsan maka perawat hendaknya melakukan
tindakan sebagai berikut:
1. Terapi oksigenasi
2. Membaringkan pasien dalam posisi Fowler
3. Memonitor tanda-tanda vital, saturasi oksigen dan EKG
4. Memeriksa ada tidaknya gangguan lain yang dialami oleh pasien seperti kelainan
kardiopulmoner dan memastikan kalau pasien memang sedang mengalami
serangan panic
5. Memberikan penjelasan terkait dengan kondisi pasien untuk dapat menenangkan
diri
6. Memberikan terapi famakologi jika diperlukan Penanganan yang dapat diberikan
setelah tidak terjadi serangan adalah dengan psikoterapi psikofarmakologi. Saat
ini CBT (Cognitivebehaviour therapy), positif reframing, latihan asertif dan
progresif relaksasi merupakan terapi yang dianggap lebih efektif dan murah dalam
mengatasi gangguan panik jika dibandingkan dengan terapi medikasi. Untuk
terapi medikasi, obat-obatan golongan tricyclic dan serotonin selective reuptake
inhibitors (SSRI) dianggap memiliki efikasi yang setara serta lebih dipilih sebagai
medikasi pilihan dibanding golongan benzodiazepin yang sering disalahgunakan
serta dapat menyebabkan berbagai komplikasi pada pasien yang mengalami
ketergantungan alcohol (Cloos, JM., 2005; Kaplan and Sadock, 2007; Videbeck,
2008).
Adapun hasil dari penelitian (Astuti, 2013) ini menujukkan bahwa terdapat
hubungan yang signifikan antara penerapan ipteks terkait dengan peningkatan
kemampuan manajemen kegawatdaruratan psikiatrik: panic bagi perawat Rumah Sakit
Jiwa Gracia Yogyakarta yang terbukti efektif, dimana diperoleh peningkatan
pengetahuan, afektif dan ketrampilan dari peserta pelatihan.

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Kedaruratan psikiatri adalah gangguan yang bersifat akut, baik pada pikiran, perilaku,
atau hubungan sosial yang membutuhkan intervensi segera yang didefinisikan oleh
pasien, keluarga pasien, atau masyarakat. (Trent, 2013). Kedaruratan psikiatri dibagi
dalam beberapa bagian diantaranya ialah bunuh diri,gaduh atau gelisah dan
penyalahgunaan napza. Kedaruratan Psikiatri yang paling sering dijumpai di layanan
kesehatan ialah Perilaku Kekerasan. Perilaku kekerasan merupakan suatu bentuk
ekspresi kemarahan yang tidak sesuai dimana seseorang melakukan tindakan-tindakan
yang dapat membahayakan/mencederai diri sendiri, orang lain bahkan dapat merusak
lingkungan, oleh sebab itu kondisi ini menuntut untuk dilakukan intervensi khusus terkait
dengan penanganan kedaruratan psikiatri.
B. Saran
Dengan dibuatnya makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan serta
wawasan pembaca. Selanjutnya kami pembuat makalah mengharapkan kritik dan saran
pembaca demi kesempurnaan makalah ini untuk kedepannya.

DAFTAR PUSTAKA

Astuti, R. T. (2013). PENINGKATAN KEMAMPUAN MANAJEMEN KEDARURATAN


PSIKIATRIK : PANIK BAGI PERAWAT JIWA DI RS JIWA GRACIA, 41–43.
Duckworth K. dan Freedman J., 2012, Psychosocial Treatments, Review article,
National Alliance on Mental Illness, www.nami.org
Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto ed. 2010. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta:
Badan Penerbit FKUI
Varcarolis E.M.,dkk., (2010). Foundations of Psychiatric Mental Health Nursing : A
Clinical Approach Sixth Edition. Sounders elsivier. St.Louis
Herdman, T.H. & Kamitsuru, S. (Eds.). 2014. NANDA International Nursing
Diagnoses: Definitions & Classification, 2015-2017. Oxford: Wiley Blackwell.
Heriani, Kusumadewi Irmia, Siste Kristiani, 2010, Kedaruratan Psikiatri dalam Buku
Ajar Psikiatri, Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
Kementerian Kesehatan RI. 2017. Deteksi dini apa yang terjadi di lingkungan
saudara: Self Reporting Questioner-20. Diakses melalui http:/ /sehat-
jiwa.kemkes.go.id/deteksidini/15.
Knox D.K. dan Holloman G.H., 2011, Use and Voidance of Seclusion and Restraint:
Consensus Statement of The American Association for Emergency Psychiatry Project
BETA Seclusion and Restraint Workgroup, West J Emerg Med Vol 13 Issue 1.
Maramis, W.F. dan Maramis, A.A. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 2.
Surabaya: Airlangga University Press.
Riba M.B, Ravindranath D., 2010, Clinical Manual of Emergency Psychiatry 1st ed.
American Psychiatric Publishing Inc., Washington DC.
Sadock B.J & Sadock V.A, 2010, Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry:
Behavioral Science / Clinical Psychiatry, 10 th Edition, Lippincott Williams & Wilkins, New
York
Undang-undang RI No. 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa
Undang-undang RI No 23 tahun 1992 tentang Kesehatan