Anda di halaman 1dari 12

Manajemen Tanaman dan Vegetasi

Aspek budidaya dalam konservasi tanah didasarkan pada pengaruh dari


tutupan tanaman sebagai salah satu alat efektif dalam mengontrol erosi tanah.
Terdapat perbedaan kerapatan dan karakteristik antara tumbuhan yang tumbuh
secara alami dan tanaman yang dibudidayakan. Oleh karena itu, terdapat juga
perbedaan keduanya dalam mengontrol erosi. Tanaman musiman kurang efektif
dalam melindungi tanah, dan seingkali meyebabkan masalah erosi yang besar. Hal
ini terjadi karena terdapat celah atau ruang terbuka yang besar yang tidak
terlindungi oleh tanaman, khususnya dalam masa-masa awal pertumbuhan
tanaman dan selama persiapan pembenihan.

Rotasi Tanaman
Tanaman musiman harus dikombinasikan dengan tanaman lain yang
efektif melindungi tanah, seperti tanaman yang berumur lebih dari semusim atau
tanaman tahunan. Memilih jenis tanaman mana yang akan ditanaman atau
dikombinasikan, tergantung pada tingkat erosi yang ada. Kehilangan tanah yang
besar dalam suatu baris tanaman dapat diterima ketika di lahan yang sama
terdapat tanaman lain yang mampu menahan kehilangan tanah, sehingga rata-rata
kehilangan tanah secara keseluruhan relatif kecil.
Tanaman barisan merepresentasikan sebuah sistem pertanaman yang biasa
diterapkan karena dilengkapi dengan operasi mekanisasi pertanian. Tanaman
barisan ditanaman baik dengan jarak yang lebar maupun sempit, tergantung pada
rancangan penanaman dan karakteristik produksi yang ekonomis. Permasalahan
erosi seringkali dihubungkan dengan tanaman yang ditanam dengan jarak lebar,
seperti jagung, ubi, bunga matahari, sorgum dan kedelai, karena luas tanah yang
tidak tertutupi tiap unit luas cukup besar, dan juga karena selama budidaya
tanaman dilakukan terdapat pengolahan tanah lanjutan dan pencabutan gulma.
Tanaman-tanaman seperti gandum, oats, dan barley lebih protektif dalam
melindungi tanah dari erosi. Secara umum, semua lahan dengan jenis tanaman
apapun cenderung terkena erosi hingga tajuk tanaman benar-benar sempurna.
Berdasarkan berbagai pertimbangan yang ada, maka tanaman polong-polongan
atau leguminosa dan rumput merupakan tanaman terbaik yang dapat digunakan
dalam rotasi tanaman.

Gambar 1. Rotasi tanaman


(Sumber: http://www.bensoninstitute.org/Publication/Lessons/Images/L1/SoilFertility/fp/1517E.JPG)

Berbagai penelitian menyebutkan bahwa rotasi tanaman sangat penting


dalam mempertahankan keawetan tanah. Dilaporkan Lockeretz et.al (1981) bahwa
dalam rotasi tanaman pada sistem pertanian organik di lima negara bagian
Amerika Serikat dapat menurunkan 1/3 lebih rendah jika dibandingkan dengan
pertanian konvensional. Di Guthrin, Oklahoma, rotasi tanaman kapas-gandum-
tanaman penutup tanah, selama 6 tahun dapat menurunkan kehilangan tanah
77,27 % dari penanaman kapas terus menerus. Di tempat lain penanaman jagung
terus-menerus menyebabkan terjadinya kehilangan tanah sebanyak 89
ton/are/tahun. Dengan rotasi jagung-gandum-tanaman penutup selama 3 tahun
dapat menurunkan kehilangan tanah hingga 25 ton/are/tahun (Benneth, 1955
dalam Kartasapoetra, 1989)(http://www.deptan.go.id/).
Gambar 2. Sebuah contoh skema rotasi tanaman
(Sumber: http://www.growvegetables.org.uk/growing_vegetables_pics/)

Di samping menjaga tanah tetap tertutup sehingga kehilangan tanah dan


air dalam tanah dapat dikurangi, rotasi tanaman juga merupakan cara vegetatif
untuk mengendalikan gulma, memperkaya dan membantu memperbaiki tanah
(Blake, 1994); mengendalikan hama dan penyakit tanaman (Kartasapoetra ,1989)
melalui pemutusan siklus hidupnya. Suatu praktek pertanian di Virginia
dilaporkan bahwa rotasi tanam berguna untuk mengendalikan beberapa serangga
hama secara kultur teknis, termasuk cacing akar. Cacing akar tanaman jagung
yang dewasa (Diabrotica virgifera) bertelur diladang jagung pada akir musim
panas. Telur-telur ini melewati musim dingin dan menetas pada musim semi
berikutnya. Jika jagung ditanam, larva cacing akar akan makan dan berkembang
pada akar jagung. Karena larva hanya makan pada jagung dan yang dewasa hanya
bertelur di ladang jagung, maka rotasi tanaman jagung dengan tanaman lain
merupakan cara pengendalian yang efektif terhadap cacing akar. (Luna, JM. dan
G.J.Hause, 1990) (http://www.deptan.go.id/).

Tanaman Penutup Tanah (Cover Crops)


Merupakan tanaman yang ditanam tersendiri atau bersamaan dengan
tanaman pokok.. Tanaman penutup tanah berperan: (1) menahan atau mengurangi
daya perusak butir-butir hujan yang jatuh dan aliran air di atas permukaan tanah,
(2) menambah bahan organik tanah melalui batang, ranting dan daun mati yang
jatuh, dan (3) melakukan transpirasi, yang mengurangi kandungan air tanah.
Peranan tanaman penutup tanah tersebut menyebabkan berkurangnya kekuatan
dispersi air hujan, mengurangi jumlah serta kecepatan aliran permukaan dan
memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah, sehingga mengurangi erosi
(http://ridiah.wordpress.com/2010/03/23/konservasi-lahan-kering/).

Gambar 3. Tanaman penutup tanah berupa legum dengan kombinasi mulsa.


(Sumber: http://www.uhdp.org/img/Photo/Response04_b.jpg)

Keberadaan tanaman penutup tanah dalam konservasi tanaman dapat


berupa tanaman musiman, tanaman tahunan, legum atau campuran ketiganya.
Tanaman penutup tanah tumbuh sepanjang musim dan sering berada di bawah
tajuk tanaman utama untuk melindungi erosi. Perbedaan iklim, tanah dan
karakteristik budidaya membutuhkan tanaman dengan spesies yang berbeda pula.
Salah satu kekurangan utama dari tanaman penutup tanah, terutama rumput
tahunan adalah terjadinya persaingan dalam memperebutkan air dan unsur hara
dengan tanaman utama.
Tumbuhan atau tanaman yang sesuai untuk digunakan sebagai penutup
tanah dan digunakan dalam sistem pergiliran tanaman harus memenuhi syarat-
syarat (Osche et al, 1961): (a) mudah diperbanyak, sebaiknya dengan biji,
(b) mempunyai sistem perakaran yang tidak menimbulkan kompetisi berat bagi
tanaman pokok, tetapi mempunyai sifat pengikat tanah yang baik dan tidak
mensyaratkan tingkat kesuburan tanah yang tinggi, (c) tumbuh cepat dan banyak
menghasilkan daun, (d) toleransi terhadap pemangkasan, (e) resisten terhadap
gulma, penyakit dan kekeringan, (f) mampu menekan pertumbuhan gulma, (g)
mudah diberantas jika tanah akan digunakan untuk penanaman tanaman semusim
atau tanaman pokok lainnya, (h) sesuai dengan kegunaan untuk reklamasi tanah,
dan (i) tidak mempunyai sifat-sifat yang tidak menyenangkan seperti duri dan
sulur-sulur yang membelit.
Ada 4 (empat) jenis tanaman penutup tanah, yaitu :
1. Jenis merambat (rendah) contoh : Colopogonium moconoides, Centrosoma
sp, Ageratum conizoides, Pueraria sp.
2. Jenis perdu/semak (sedang) contoh : Crotalaria sp, Acasia vilosa,
3. Jenis pohon (tinggi) contoh – Leucaena leucephala (lamtoro gung),
Leucaena glauca (lamtoro lokal), Ablizia falcataria
4. Jenis kacang-kacangan contoh : Vigna sinensis, Doli-chos lablab (komak).

Strip Cropping
Pada keadaan-keadaan tertentu, strip cropping dapat meningkatkan daya
simpan air dan sekaligus mencegah kompetisi air dan unsur hara dengan tanaman
utama, karena tubuh tanaman dapat berfungsi sebagai jebakan runoff dan
sedimen. Strip cropping cocok digunakan pada tanah yang berdrainase baik. Pada
tanah liat, berkurangnya kecepatan aliran runoff yang dikombinasikan dengan
tingkat infiltrasi yang rendah menciptakan genangan air.
Strip cropping dengan rumput tidak disarankan pada kemiringan lereng di
bawah 5%. Pada kemiringan lereng 9%, tanaman strip rumput tersebut mencegah
runoff dengan meningkatkan infiltrasi. Control erosi dengan strip cropping rumput
cocok digunakan pada lahan dengan kemirigan antara 9 – 15%.
Sistem Pertanaman Strip Rumput ialah sistem pertanaman yang hampir
sama dengan pertanaman lorong, tetapi tanaman pagarnya adalah rumput. Strip
rumput dibuat mengikuti kontur dengan lebar strip 0,5 m atau lebih. Semakin
lebar strip semakin efektif mengendalikan erosi. Sistem ini dapat diintegrasikan
dengan ternak. Penanaman Rumput Makanan Ternak didalam jalur/strip.
Penanaman dilakukan menurut garis kontur dengan letak penanaman dibuat
selang-seling agar rumput dapat tumbuh baik, usahakan penanamannya pada awal
musim hujan. Selain itu tempat jalur rumput sebaiknya ditengah antara barisan
tanaman pokok (http://vera.blog.uns.ac.id/2010/05/10/konservasi-lahan/).

Gambar 4. Strip Cropping dengan Jagung sebagai tanaman utama.


(Sumber: http://www.takdangaralin.com/wp-content/uploads/2009/08/StripCropping.jpg)

Pemberian Mulsa/Pemulsaan (Mulching)


Pemulsaan merupakan salah satu penerapan teknik pertanian—dalam
pengelolaan tanah dan air—yang telah digunakan secara luas, misalnya di Amrika
Serikat. Pemulsaan adalah menutupi tanah dengan biomassa dari sisa-sia tanaman
budidaya atau rumput baik berupa biomassa yang kering atau basah (masih hijau),
seperti jerami, batang jagung, daun-daun kering dan batang setelah masa
pemanenan berlangsung. Mulsa adalah material penutup tanaman budidaya yang
dimaksudkan untuk menjaga kelembaban tanah serta menekan pertumbuhan
gulma dan penyakit sehingga membuat tanaman tersebut tumbuh dengan baik.
Mulsa dibedakan menjadi dua macam dilihat dari bahan asalnya, yaitu
mulsa organik dan anorganik. Mulsa organik berasal dari bahan-bahan alami yang
mudah terurai seperti sisa-sisa tanaman seperti jerami dan alang-alang. Mulsa
organik diberikan setelah tanaman /bibit ditanam. Keuntungan mulsa organik
adalah dan lebih ekonomis (murah), mudah didapatkan, dan dapat terurai sehingga
menambah kandungan bahan organik dalam tanah. Contoh mulsa organik adalah
alang-alang/ jerami, ataupun cacahan batang dan daun dari tanaman jenis rumput-
rumputan lainnya. Mulsa anorganik terbuat dari bahan-bahan sintetis yang
sukar/tidak dapat terurai. Contoh mulsa anorganik adalah mulsa plastik, mulsa
plastik hitam perak atau karung. Mulsa anorganik dipasang sebelum tanaman/bibit
ditanam, lalu dilubangi sesuai dengan jarak tanam. Mulsa anorganik ini harganya
mahal, terutama mulsa plastik hitam perak yang banyak digunakan dalam
budidaya cabai atau melon (http://id.wikipedia.org/wiki/Mulsa).

Tabel 1. Pengaruh mulsa terhadap iklim mikro

(Sumber: Noorhadi & Sudadi, Kajian Pemberian Air dan Mulsa Terhadap Iklim
Mikro pada Tanaman Cabai di Tanah Entisol, Fakultas Pertanian UNS
Surakarta dalam Jurnal Ilmu Tanah Dan Lingkungan Vol 4 (1) (2003) Pp 41-49)

Secara umum, tingkat erosi menurun seiring dengan meningkatnya


persentase luas tutupan lahan yang diberi mulsa. Secara matematis, hal ini disebut
sebagai Mulch factor (MF) yaitu perbandingan kehilangan tanah antara lahan
yang ditutupi mulsa dengan lahan yng tidak diberi mulsa. Di dalam rumus USLE
(salah satu rumus pendugaan erosi), mulsa merupakan bagian dari Residue Cover
(RC), yaitu bagian dari Crop (C) atau pengelolaan tanaman. Salah satu
kekurangan dari penggunaan mulsa dalam pengelolaan konservasi tanah dan air
adalah ketika kemiringan lereng besar, penyebaran mulsa tidak merata, selain itu
akan terjadi kesulitan dalam mengoperasikan alat-alat dan mesin-mesin pertanian
pada lahan dengan tutupan mulsa yang penuh. Salah satu jenis mulsa yang patut
dipertimbangkan adalag fragmen batuan kecil (kerikil). Penggunaan kerikil lebih
stabil dibandngkan mulsa organik, karena kerikil terdekomposisi sangat lama atau
mungkin permanen. Hanya saja, jika penggunaannya di atas 20% akan
mengganggu penyerapan nutrisi oleh tanaman.

Gambar 5. Pemberian mulsa (mulching) dengan irigasi alur


(Sumber: http://thailand.ipm-info.org/images/components/Organic_farm_egg_plant_mulching_3.JPG)

Hasil penelitian Lal (1980) menunjukkan bahwa dengan penambahan


mulsa jerami sebanyak 4 ton/ha akan mengurangi run off hingga 3,5% dan tingkat
erosi 0,5 ton/ha. Bahkan dengan pemberian mulsa sebesar 12 ton/ha, run off dapat
ditekan hingga 0%. Dalam Pedoman Praktik Konservasi Tanah dan air
BP2TPDAS-IBB (2002) ditunjukkan peranan yang signifikan dari mulsa terhadap
aliran permukaan, infiltrasi, dan erosi pada lahan dengan kemiringan 5%.
Thamrin dan Hanafi (1992) telah melakukan penelitian pengaruh mulsa terhadap
tanah di lahan kering. Mulsa yang digunakan adalah seresah tanaman. Hasilnya
menunjukkan bahwa pemberian mulsa dapat menghemat lengas tanah dari proses
penguapan, sehingga kebutuhan tanaman akan lengas tanah terutama musim
kering dapat terjamin. Selain itu, pemberian mulsa dapat menghambat
pertumbuhan gulma yang mengganggu tanaman sehingga konsumsi air lebih
rendah (http://ridiah.wordpress.com/2010/03/23/konservasi-lahan-kering/).

Penggembalaan Bergilir (Rotational Grazing and Rangelands)


Penggembalaan bergilir berarti menggembalakan ternak dari satu tempat
di padang rumput ke tempat lain secara bergiliran. Sistem ini dikenal sebagai
sistem terbaik, karena dengan melakukan pergiliran, berarti memeberikan
kesempatan kepada satu titik di padang rumput untuk tumbuh kembali (recovery)
dan secara berkelanjutan membantu mencegah terjadinya erosi. Penggembalaan
harus benar-benar diatur dengan baik, agar ketersediaan hijauan di lapangan
sebanding dengan jumlah ternak. Penggembalaan yang berlebihan dapat
meningkatkan erosi yang berelbihan, sebaliknya (penggembalaan yang kurang)
akan meningkatkan populasi gulma dan mengurangi tingkat palatabilitas
(kesukaan) ternak terhadap hijauan.
Pembakaran merupakan salah satu metode yang disukai peternak dalam
menyeleksi spesies-spesies tanaman yang disukai ternak dan membunuh spesies-
spesies gulma tertentu yang kurang disukai ternak. Terdapat beberapa spesies
semak (brush) yang tahan terhadap pembakaran. Namun demikian, pembakaran
yang berelebihan dapat meningkatkan resiko erosi. Salah satu solusi terbaik dalam
menghilangkan spesies-spesies tertentu di padang rumput adalah dengan
menggunakan alat/mesin pembersih semak. Praktik ini dapat disempurnakan
untuk mengurangi laju erosi, yaitu dengan meninggalkan sisa-sisa pemotongan di
padang rumput sebagai mulsa. Praktek semacam ini lazim dilakukan di negara-
negara semiarid dan mediterania seperti di Sardinia (Italia).

Hutan
Prinsip pengelolaan hutan secara rotasi sangat baik dilakukan
dibandingkan denga penebangan total (clear-cutting atau complete logging).
Penebangan hutan secara total yang berarti menebang tanaman usia di bawah usia
panen sangat membahayakan, karena mempercepat terjadinya erosi. Laju erosi
meningkat pada masa-masa paska penebangan dan lajunya menurun seiring
dengan tumbuhnya vegetasi secara alami. Reforestasi merupakan pencegahan
terbaik terhadap erosi, meskipun demikian dibutuhkan waktu antara 7 – 12 tahun
untuk mencapai kondisi ideal.
Pembakaran hutan merupakan salah satu penyebab lain dari erosi di
kawasan hutan. Hal ini terjadi tidak hanya karena berkurangnya luas tutupan lahan
atau menghilangnya tanaman penutup lahan, melainkan juga karena
meningkatnya erodibilitas tanah karena pengaruh suhu yang tinggi dari proses
kebakaran hutan meningkatkan hidropobisitas tanah. Oleh karena itu, laju erosi
meningkat.

4.4.3 Pengendalian Erosi oleh Angin


Erosi tanah oleh angin dapat terjadi ketika kondisi-kondisi lingkungan
dapat menyebabkan terjadinya penghancuran dan pengangkutan material tanah
oleh angin. Lima faktor yang mempengaruhi intensitas erosi tanah oleh angin
adalah:
1. Erodibilitas tanah
2. Kekasaran permukaan
3. Kondisi iklim (kecepatan angin dan kelembaban)
4. Panjang permukaan yang terbuka
5. Tutupan lahan oleh tanaman
Kondisi iklim relatif tidak bisa dimanipulasi, sedangkan faktor-faktor lain
dapat dimanipulasi. Secara umum prinsip pengendalian erosi, baik yang
disebabkan oleh angin maupun oleh air pada dasarnya sama saja, diantaranya
yaitu:
 Mengurangi kecepatan angin dekat permukaan tanah yang dapat
menyebabkan perpindahan tanah.
 Menghilangkan material yang dapat menyebabkan terjadinya
pengikisan (abrasif) dari aliran angin.
 Mengurangi erodibilitas tanah.

Tanaman-tanaman Budidaya (Cultivated Crops)


Vegetasi secara umum merupakan cara yang paling efektif dalam
mencegah erosi. Tanaman budidaya mengurangi kecepatan angin dan menahan
tanah dari gaya hancur angin. Tanaman berkayu seperti, seperti semak dan pohon,
dapat ditanam untuk mengurangi kecepatan angin dalam skala luas. Jika
memungkinkan, aktivitas budidaya sebaiknya dilakukan sebelum hembusan
angin datang, karena erosi angin lebih mudah mencegah dari pada menahan.
Efektivitas tanaman dalam menahan erosi tergantung pada faktor-faktor berikut:
 Jenis tanaman
 Fase pertumbuhan
 Kerapatan tutupan lahan
 Arah baris tanaman
 Lebar baris tanaman
 Kondisi iklim

Pada kawasan kering, tanaman dengan kelembaban rendah yang ditanam pada
musim kemarau mungkin dapat mengurangi intensitas erosi angin. Vegetasi harus
dapat tumbuh pada tanah dengan tanah pasir yang terbuka, dapat bertahan dari
tiupan angin dan berumur panjang. Tanaman juga harus:
- Memiliki tutupan tajuk yang rapat, terutama selama masa-masa kritis.
- Memiliki kemampuan menghalangi angin seseragam mungkin
- Mengurangi kecepatan angin
- Memiliki jumlah residu yang besar

Pemecah Angin dan Shelterbelt


Pemecah angin dapat didefinisikan sebagai penghalang yang dapat
melindungi sesuatu dari hembusan angin. Biasanya, pemecah angin biasanya
berupa penghalang mekanik atau berupa tanaman yang digunakan untuk
melindungi bangunan, kebun, kebun buah-buahan atau kandang ternak.
Shelterbelt didefinisikan sebagai pemecah angin yang hidup. Shelterbelt terdiri
dari rangkaian tanaman berupa semak atau pohon yang lebih panjang dari
pemecah angin biasa. Dengan tujuan untuk mengurangi kecepatan angin,
shelterbelts harus memiliki tingkat evapotranspirasi yang rendah, temperatur
tanah yang lebih tinggi pada musim dingin dan lebih rendah pada musim panas,
kelembaban tanah yang lebih tinggi; pada banyak kasus, sifat-sifat tersebut dapat
meningkatkan hasil panen. Sabuk angin dapat terdiri dari satu, dua, tiga atau lebih
dari tiga baris tanaman.

Gambar 6. Pemecah Angin (Windbreak)


(Sumber: http://t2.gstatic.com/images)

Gambar 7. Pemecah Angin ―yang hidup‖ (Shelterbelts)


(Sumber: http://www.nzdl.org/gsdl/collect/hdl/index/assoc/HASH01df/274fb229.dir/p068.png)