Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Hukum Pidana merupakan bagian dari ranah hukum publik. Hukum
Pidana di Indonesia diatur secara umum dalam Kitab Undang-undang Hukum
Pidana (KUHP), yang merupakan peninggalan zaman penjajahan Belanda.
KUHP merupakan lex generalis bagi pengaturan hukum pidana di
Indonesia, dimana asas-asas umum termuat dan menjadi dasar bagi semua
ketentuan pidana yang diatur di luar KUHP.
Undang-undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusional
mengamanatkan asas setiap warga negara sama kedudukannya dalam
hukum dan pemerintahan. Hal ini tidak terbukti dengan adanya
ketidakseimbangan antara perlindungan hukum antara perlindungan korban
kejahatan dengan pelaku kejahatan karena masih sedikitnya hak-hak korban
kejahatan diatur pada perundang-undangan nasional.
Segala aktivitas manusia dalam segala aspek kehidupan sosial, politik,
dan ekonomi dapat menjadi sebab terjadinya kejahatan. Kejahatan akan selalu
hadir dalam kehidupan ataupun lingkungan sekitar, sehingga diperlukan upaya
untuk menanganinya. Denganupaya penanggulangan kejahatan, diharapkan
dapat menekan baik dari kualitas maupun kuantitasnya hingga pada titik yang
paling rendah sesuai dengan keadaannya. Setiap tindak pidana
menitikberatkan pada pelaku kejahatan atau pelaku tindak pidana,
sedangkan korban kejahatan seolah terlupakan dalam sistem peradilan
pidana.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian pidana
Pidana merupakan sebagai suatu penderitaan yang sengaja
dijatuhkan/diberikan oleh negara pada seseorang atau beberapa orang sebagai
akibat hukum (sanksi) baginya atas perbuatannya yang telah melanggar
larangan hukum pidana. Secara khusus larangan dalam hukum pidana ini
disebut sebagai tindak pidana (strafbaar feit).
Menurut Moeljanto,perbuatan pidana ini menurut wujud dan sifatnya
adalah bertentangan dengan tata atau ketertiban yang dikehendaki oleh
hukum,
mereka adalah perbuatan yang melawan hukum , perbuatan ini
merugikan masyarakat dalam arti bertentangan dengan atau menghambat
akan
terlaksananya tata dalam pergaulan masyarakat yang baik dan adil.
B. Jenis-jenis pidana
1. Pidana mati
Pidana mati merupakan sanksi yang terberat diantara semua jenis
pidana yang ada dan juga merupakan jenis pidana yang tertua, terberat
dan sering dikatakan sebagai jenis pidana yang paling kejam. Di
Indonesia, penjatuhan pidana mati diancamkan dalam beberapa pasal
tertentu didalam KUHP. Dalam hal ini Adami Chazawi (2002 : 31)
berpendapat bahwa Kejahatan-kejahatan yang diancam dengan pidana
mati hanyalah pada kejahatan-kejahatan yang dipandang sangat berat
saja, yang jumlahnya juga sangat terbatas, seperti :
a. Kejahatan-kejahatan yang mengancam keamanan negara (104,111
ayat 2, 124 ayat 3 jo 129):

2
b. Kejahatan-kejahatan pembunuhan terhadap orang tertentu dan atau
dilakukan dengan faktor-faktor pemberat,
misalnya : 104 (3), 340;
c. Kejahatan terhadap harta benda yang disertai unsur/faktor yang
sangat memberatkan (365 ayat 4, 368 ayat 2)
d. Kejahatan-kejahatan pembajakan laut, sungai dan pantai (444)
Di luar ketentuan KUHP, pidana mati diancamkan pula dalam
beberapa pasal di dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana Militer
(KUHPM), Undang-undang Nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika
serta Undang-undang Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika.
Dasar pelaksanaan pidana mati di Indonesia yaitu menurut Penetapan
Presiden (PENPRES) tanggal 27 April 1964 LN Tahun 1964 bahwa
eksekusi pidana mati dilakukan dengan cara ditembak sampai mati.
2. Pidana penjara
Pidana penjara merupakan pidana pokok yang berwujud
pengurangan atau perampasan kemerdekaan seseorang. Namun
demikian, tujuan pidana penjara itu tidak hanya memberikan
pembalasan terhadap perbuatan yang dilakukan dengan memberikan
penderitaan kepada terpidana karena telah dirampas atau dihilangkan
kemerdekaan bergeraknya, disamping itu juga mempunyai tujuan lain
yaitu untuk membina dan membimbing terpidana agar dapat
kembalimenjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna bagi
masyarakat, bangsa dan negara.
Dalam pasal 12 KUHP, R. Soesilo (1981 : 32) diatur mengenai
lamanya ancaman atau penjatuhan pidana penjara, yaitu :
(1) Hukaman penjara itu lamanya seumur hidup atau untuk sementara.
(2) Hukuman penjara sementara itu sekurang-kurangnya satu hari dan
selama-lamanya lima belas tahun berturut-turut.

3
(3) Hukuman penjara sementara boleh dihukum mati, penjara seumur
hidup, dan penjara sementara, dan dalam hal lima belas tahun itu
dilampaui, sebab hukuman ditambah, karna ada gabungan kejahatan
atau karna aturan pasal 52.
(4) lamanya hukuman sementara itu sekali-kali tidak boleh lebij dari
dua puluh tahun.
3. Pidana kurungan
Pidana kutungan merupakan pidana yang lebih ringan daripada
pidana penjara yang diperuntukkan bagi peristiwa-peristiwa pidana yang
lebih ringan sifatnya, dalam hal bagi mereka yang melakukan
pelanggaran-pelanggaran yang sebagaimana telah diatur dalam Buku III
KUHP serta bagi mereka yang melakukan kejahatan-kejahatan yang
tidak disengaja sebagaimana yang telah diatur dalam Buku II KUHP.
Menurut pasal 18 KUHP, pidana kurungan minimal satu hari dan
maksimal satu tahun dan dapat diperpanjang menjadi satu tahun empat
bulan jika terdapat atau terjadi gabungan delik, berulang kali melakukan
delik dan terkena rumusan ketentuan pasal 52 KUHP.
4. Pidana denda
Pidana denda adalah pidana yang berupa harta benda yang jumlah
ancaman pidananya pada umumnya relatif ringan yang mana
dirumuskan sebagai pokok pidana alternatif dari pidana penjara dan
denda. Terpidana yang diancam dengan pidana denda sedikit sekali,
seperti dalam Buku II KUHP hanya terdapat satu delik yaitu pasal 403
KUHP sedangkan dalam pelanggaran pada Buku III hanya terdapat 40
pasMenurut pasal 30 ayat 2 KUHP apabila denda tidak dibayar harus
diganti dengan pidana kurungan, yang menurut ayat (3) lamanya adalah
minimal satu hari dan maksimal enam bulan, menurut pasal 30 ayat (4)
KUHP, pengganti denda itu diperhitungkan sebagai berikut :

4
1. Putusan denda setengan rupiah atau kurang lamanya ditetapkan satu
hari.
2. putusan denda yang lebih dari setengah rupiah ditetapkan kurungan
bagi tiap-tiap hal dari pasal-pasal tentang pelanggaran.
Selanjutnya pasal 30 ayat (5) menyatakan bahwa maksimal pidana
kurungan yang enam bulan diperberat menjadi maksimal delapan
bulan jika terdapat gabungan tindak pidana, gabungan tindak pidana
atau terkena pasal 52 KUHP, Menurut Pasal 31 KUHP, terpidana dapat
menjalani pidana kurungan sebagai pengganti denda utamanya jika ia
sadar bahwa ia tidak mampu membayar denda.
5. Pidana tutupan
Pidana tutupan adalah merupakan jenis pidana yang baru
dimasukkan dalam KUHP yang diatur dalam Undang-undang Nomor 20
Tahun 1946 tanggal 31 Oktober 1946 dan menempati urutan kelima
pada jenis-jenis pidana pokok seperti yang telah ada pada Pasal 10 huruf
a KUHP.
Adapun pidana tambahan terdiri dari (Bijkomende Straffen):
1. Pencabutan hak tertentu
Pencabutan hak-hak tertentu ini sifatnya sementara, kecuali
memang terpidana dijatuhi pidana penjara seumur hidup. Hukuman ini
pada dasarnya dimaksudkan sebagai upaya mendegrdasikan martabat
seseorang sebagai warga negara yang memang layak untuk dihormati
atau untuk menekan orang menjadi warga negara yang tidak pantas
dihormati dengan meniadakan sebagian hak perdatanya dan hak-haknya
menurut hukum publik karna orang tersebut telah melakukan kejahatan.
Menurut Pasal 35 35 ayat (1) KUHP R. Soesilo (1981 : 47) hak-
hak yang dicabut oleh hakim dengan suatu putusan pengadilan adalah :
1. Hak menjabat segala jabatan atau jabatan yang ditentukan.
2. Hak untuk masuk kekuatan bersenjata (balatentara);

5
3. Hak memilih dan dipilih pada pemilihan yang dilakukan menurut
undang-undang umum.
4. Hak untuk menjadi penasihat atau penguasa alamat (wali yang
diakui sah oleh Negara), dan menjadi wali, menjadi wali pengawas-
awas menjadi curator atau menjadi curator pengawas-awas atas orang
lain dan anaknya sendiri.
5. Kuasa bapak, kuasa wali dan penjagaan(curatele) atas anak sendiri ;
6. hak melakukan pekerjaan yang ditentukan.
Kemudian masih menurut R. Soesilo dalam KUHP Pasal 38 ayat
(1) ditentukan lamanya pencabutan hak-hak tertentu itu adalah sebagai
berikut :
1. Jika dijatuhkan hukuman mati atau penjara seumur hidup, buat
selama hidup.
2. Jika dijatuhkan hukuman penjara sementara atau kurungan, buat
sekurang-kurang’nya dua tahun dan selam-lamanya lima tahun lebih
lama dari hukuman utama.
3. Jika dijatuhkan hukuman denda, buat sekurang-kurang’nya dua tahun
dan selama-lama’nya lima tahun.
2. Perampasan barang-barang tertantu
Pidana ini merupakan pidana tambahan yang dijatuhkan oleh
hakim untuk mencabut hak milik atas suatu barang dari pemiliknya dan
barang itu dijadikan barang milik pemerintah untuk dirusak atau
dimusnahkan atau dijual untuk negara.
Menurut penjelasan pasal 39 KUHP (R.Soesilo, 1981 : 49),
barang-barang yang dirampas itu dibedakan atas dua macam :
a. Barang (termasuk pula binatang) yang diperoleh dengan kejahatan
misal’nya uang palsu yang diperoleh dengan melakukan kejahatan
memalsukan uang, yang didapat dengan kejahatan suap dan lain-lain.
Barang ini biasa disebut corpora delicti, dan senantiasa dapat dirampas

6
asal kepunyaan terhukum dan asal dari kejahatan (baik dari kejahatan
dolus maupun kejahatan culpa). Apabila diperoleh dengan pelanggaran,
barang-barang itu hanya dapat dirampas dalam hal-hal yang ditentukan.
b. Barang-barang(termasuk pula binatang) yang dengan sengaja
dipakaiuntuk melakukan kejahatan, misalnya sebuah golok atau senjata
api yang dipakai dengan senagaja untuk melakukan pembunuhan, alat-
alat yang dipakai untuk menggugurkan kandungan dan sebagainya
biasanya disebut instrumenta delicti, barang-barang ini dapat dirampas
pula,akan tetapi harus memenuhi syarat-syarat bahwa barang itu
kepunyaan siterhukum dan digunakan untuk melakukan kejahatan-
kejahatan dolus (dengan sengaja). Dalam hal kejahatan culpa (tidak
dengan sengaja). Dan pelanggaran-pelanggaran, maka barang itu hanya
dapat dirampas, apabila ditentukan dengan khusus.
3. Pengumuman putusan hakim
Dalam penjelasan Pasal 43 KUHP (R.Soesilo, 1981 : 51)
menyatakan bahwa :
Sebenarnya semua putusan hakim sudah harus diucapkan dalam sidang
terbuka untuk umum, tetapi sebagai hukuman tambahan, putusan itu
dengan istimewa di siarkan sejelas-jelasnya dengan cara yang
ditentukan oleh hakim , misalnya melalui surat kabar, radio,televisi,
ditempelkan di tempat umum sebagai plakat dan sebagainya. Semuanya
ini ongkos terhukum yang dapat dipandang sebagai suatu pengecualian
bahwa semua biaya penyelenggaraan hukuman di tanggung oleh
Negara.
C. Contoh pidana

7
1. PEMIDANAAN
A. Pengertian pemidanaan
pengertian pemidanaan diartikan secara luas sebagaisuatu proses
pemberian atau penjatuhan pidana oleh hakim, maka dapatlah
dikatakan bahwa sistem pemidanaan mencakup keseluruhan ketentuan
perundang-undangan yang mengatur bagaimanan hukum pidana itu
ditegakkan atau dioperasionalkan secara konkret sehingga seseorang
dijatuhi sanksi (hukum pidana).
B. Jenis-jenis pemidanaan
1) Pidana pokok
a) pidana mati
Hukuman mati ialah suatu hukuman atau vonisyang
dijatuhkan pengadilan sebagai bentuk hukuman terberat yang
dijatuhkan atas seseorang akibat perbuatan jahanya. Pidana mati
ditunda jika terpidana sakit jiwa atau wanita yang sedang hamil,
ini sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang Pokok
Kekuasaan Kehakiman yang mengatakan pelaksanaan pidana
mati dilakukan dengan memperhatikan kemanusiaan.
b) Pidana penjara
Pidana penjara merupakan bentuk pidana yang berupa
kehilangan kemerdekaan. Pidana penjara atau pidana kehilangan
kemerdekaan itu bukan hanya dalam bentuk pidana penjara
tetapi juga berupa pengasingan.
Pidana penjara membatasi ruang gerak seseorang. Dengan
adanya pembatasan ruang gerak tersebut, maka secara otomatis
ada beberapa hak-hak kewarganegaraan yang juga ikut terbatasi,
seperti hak untuk memilih dan dipilih (dalam kaitannya dengan
pemilihan umum), hak memegang jabatan publik, Hak untuk
bekerja pada perusahan-perusahan dan hak-hak lainya.

8
c) Pidana kurungan
Sifat pidana kurungan pada dasarnya sama dengan pidana
penjara, keduanya merupakan jenis pidana perampasan
kemerdekaan. Pidana kurungan jangka waktunya lebih ringan
dibandingkan dengan pidana penjara, Lama hukuman pidana
kurungan adalah sekurang-kurangnya satu hari dan paling lama
satu tahun, sebagai mana telah dinyatakan dalam Pasal 18 KUHP.
d) Pidana denda
Pidana denda merupakan bentuk pidana tertua bahkan lebih
tua dari pidana penjara, mungkin setua dengan pidana mati.
Pidana denda adalah kewajiban seseorang yang telah dijatuhi
pidana denda tersebut oleh Hakim/Pengadilan untuk membayar
sejumlah uang tertentu oleh karana ia telah melakukan suatu
perbuatan yang dapat dipidana. Pidana denda dijatuhkan terhadap
delik-delik ringan, berupa pelanggaran atau kejahatan ringan.
2) Pidana tambahan
a) Pidana Pencabutan Hak-Hak Tertentu
Pidana tambahan berupa pencabutan hak-hak tertentu tidak
berarti hak-hak terpidana dapat dicabut. Pencabutan tersebut
tidak meliputi pencabutan hak-hak kehidupan, hak-hak sipil
(perdata), dan hak-hak ketatanegaraan. Menurut Vos,
pencabutan hak-hak tertentu itu ialah suatu pidana di bidang
kehormatan, berbeda dengan pidana hilang kemerdekaan,
pencabutan hak-hak tertentu dalam dua hal :
1. Tidak bersifat otomatis, tetapi harus ditetapkan dengan
keputusan hakim;
2. Tidak berlaku seumur hidup, tetapi menurut jangka waktu
menurut undang-undang dengan suatu putusan hakim.
b) Pidana Perampasan Barang-barang Tertentu

9
Pidana perampasan merupakan pidana kekayaan, seperti
halnya dengan pidana denda. Pidana perampasan telah dikenal
sejak lama. Para kaisar Kerajaan Romawi menerapkan pidana
perampasan ini sebagai politik hukum yang bermaksud
mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya untuk mengisi
kasnya. Kemudian pidana perampasan muncul dalam WvS
Belanda, dan berdasarkan konkordasi dikenal pula dalam
KUHP yang tercantum dalam Pasal 39.
Adapun barang-barang yang dapat dirampas menurut
ketentuan Pasal 39 ayat (1)KUHP , antara lain:
1. Benda-benda kepunyaan terpidana yang diperoleh karena
kejahatan, misal uang palsu;
2. Benda-benda kepunyaan terpidana yang telah digunakan
untuk melakukan suatu kejahatan dengan sengaja, misal
pisau yang digunakan terpidana untuk membunuh.
c) Pidana pengumuman keputusan hakim
Pidana tambahan berupa pengumuman keputusan hakim
antara lain dapat diputuskan oleh hakim bagi para pelaku dari
tindak pidana yang telah diatur di dalam Pasal 127 (dalam masa
perang menjalankan tipu muslihat dalam penyerahan barang-
barang keperluan Angkatan Laut atau Angkatan Darat. Pidana
pengumuman putusan hakim ini merupakan suatu publikasi
ekstra dari suatu putusan pemidanaan seseorang dari
pengadilan pidana. Jadi dalam pengumuman putusan hakim ini,
hakim bebas untuk menentukan perihal cara pengumuman
tersebut, misalnya melalui surat kabar, papan pengumuman,
radio, televisi, dan pembebanan biayanya ditanggung terpidana.
C. Contoh pemidanaan

10
2. Teori-teori pemidanaan
a. Teori Absolut/Teori pembalasan (Vergeldings Theorien).
Menurut teori ini pidana dijatuhkan semata-mata karena orang
telah melakukan kejahatan atau tindak pidana. Teori ini
diperkenalkan oleh Kent dan Hegel. Teori Absolut didasarkan pada
pemikiran bahwa pidana tidak bertujuan untuk praktis, seperti
memperbaiki penjahat tetapi pidana merupakan tuntutan mutlak,
bukan hanya sesuatu yang perlu dijatuhkan tetapi menjadi keharusan,
dengan kata lain hakikat pidana adalah pembalasan (revegen).
Teori pembalasan mengatakan bahwa pidana tidaklah bertujuan
untuk yang praktis, seperti memperbaiki penjahat. Kejahatan itu
sendirilah yang mengandung unsur-unsur untuk dijatuhkannya
pidana. Pidana secara mutlak ada, karena dilakukan suatu kejahatan.
Tidaklah perlu untuk memikirkan manfaat menjatuhkan pidana itu.
Setiap kejahatan harus berakibatkan dijatuhkan pidana kepada
pelanggar. Oleh karena itulah maka teori ini disebut teori absolut.
b. Teori Relatif atau Tujuan (Doel Theorien)
Teori relatif atau teori tujuan, berpokok pangkal pada dasar
bahwa pidana adalah alat untuk menegakkan tata tertib (hukum)
dalam masyarakat. Teori ini berbeda dengan teori absolut, dasar
pemikiran agar suatu kejahatan dapat dijatuhi hukuman artinya
penjatuhan pidana mempunyai tujuan tertentu, misalnya
memperbaiki sikap mental atau membuat pelaku tidak berbahaya
lagi, dibutuhkan proses pembinaan sikap mental.
tentang teori ini bahwa: Pemidanaan bukan sebagai pembalasan
atas kesalahan pelaku tetapi sarana mencapai tujuan yang bermanfaat
untuk melindungi masyarakat menuju kesejahteraan masyarakat.

11
Sanksi ditekankan pada tujuannya, yakni untuk mencegah agar orang
tidak melakukan kejahatan, maka bukan bertujuan untuk pemuasan
absolut atas keadilan.
Dengan demikian, harus ada tujuan lebih jauh daripada hanya
menjatuhkan pidana saja. Dengan demikian, teori ini juga dinamakan
teori tujuan. Tujuan ini pertama-tama harus diarahkan kepda upaya
agar dikemudian hari kejahatan yang dilakukan itu tidak terulang lagi
(prevensi).
c. Teori Gabungan/modern (Vereningings Theorien)
Teori gabungan atau teori modern memandang bahwa tujuan
pemidanaan bersifat plural, karena menggabungkan antara prinsip-
prinsip relatif (tujuan) dan absolut (pembalasan) sebagai satu
kesatuan. Teori ini bercorak ganda, dimana pemidanaan mengandung
karakter pembalasan sejauh pemidanaan dilihat sebagai suatu kritik
moral dalam menjawab tindakan yang salah. Sedangkan karakter
tujuannya terletak pada ide bahwa tujuan kritik moral tersebut ialah
suatu reformasi atau perubahan perilaku terpidana di kemudian hari.
Dari pandangan diatas menunjukkan bahwa teori ini
mensyaratkan agar pemidanaan itu selain memberikan penderitaan
jasmani juga psikologi dan terpenting adalah memberikan
pemidanaan dan pendidikan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari
pemidanaan, yaitu dikehendakinya suatu perbaikan-perbaikan dalam
diri manusia atau yang melakukan kejahatan-kejahatan terutama
dalam delik ringan. Sedangkan untuk delik-delik tertentu yang
dianggap dapat merusak tata kehidupan sosial dan masyarakat, dan
dipandang bahwa penjahat-penjahat tersebut sudah tidak bisa lagi
diperbaiki, maka sifat penjeraan atau pembalasan dari suatu
pemidanaan tidak dapat dihindari. Teori ini di satu pihak mengakui

12
adanya unsur pembalasan dalam penjatuhan pidana. Akan tetapi di
pihak lain, mengakui pula unsur prevensi dan unsur memperbaiki
penjahat/pelaku yang melekat pada tiap pidana. Teori ketiga ini
muncul karena terdapat kelemahan dalam teori absolut dan teori
relatif, kelemahan kedua teori tersebut adalah (Hermien Hadiati
Koeswadji, 1995 : 11-12):
Kelemahan teori absolut :
1. Dapat menimbulkan ketidakadilan. Misalnya pada
pembunuhan tidak semua pelaku pembunuhan dijatuhi
pidana mati, melainkan harus dipertimbangkan
berdasarkan alat-alat bukti yang ada.
2. Apabila yang menjadi dasar teori ini adalah untuk
pembalasan, maka mengapa hanya Negara saja yang
memberikan pidana?
Kelemahan teori tujuan :
1. Dapat menimbulkan ketidak adilan pula. Misalnya untuk
mencegah kejahatan itu dengan jalan menakut-nakuti,
maka mungkin pelaku kejahatan yang ringan dijatuhi
pidana yang berat sekadar untuk menakut-nakuti saja,
sehingga menjadi tidak seimbang. Hal mana bertentangan
dengan keadilan.
2. Kepuasan masyarakat diabaikan. Misalnya jika tujuan itu
semata-mata untuk memperbaiki sipenjahat, masyarakat
yang membutuhkan kepuasan dengan demikian diabaikan.
3. Sulit untuk dilaksanakan dalam peraktek. Bahwa tujuan
mencegah kejahatan dengan jalan menakut-nakuti itu
dalam praktek sulit dilaksanakan. Misalnya terhadap
residive.

13
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Secara garis besar, Hukum Pidana di Negara Kesatuan Republik
Indonesia, belum bisa keluar dari pengaruh-pengaruh Hukum dari
Negeri Belanda, secara tidak langsung saat ini kita masih terjajah dalam
segi Hukum yang kita Anut, Hal ini karna telah seperti yang di paparkan
di atas bahwa KUHP kita masih banyak mengadopsi dari Wetboek van
Strafrecht voor Nederlandsch Indie (WvSNI). Ya ini memang resiko
sebuah Negara bekas Jajahan.
Hukum Pidana disusun dan dibentuk dengan maksud untuk
diberlakukan dalam masyarakat agar dapat dipertahankan segala
kepentingan hukum yang dilindungi dan terjaminnya kedamaian dan
ketertiban.
Dalam hal diberlakukannya hukum pidana ini, dibatasi oleh hal
yang sangat penting, yaitu :
1. Batas waktu (diatur dlm buku pertama, Bab I pasal 1 KUHP)
2. Batas tempat dan orang (diatur dlm buku Pertama Bab I
Pasal 2 – 9 KUHP
Sumber Hukum Pidana dapat dibedakan atas sumber hukum
tertulis dan sumber hukum yang tidak tertulis. ada beberapa Undang-
undang yang mengatur tindak pidana khusus yang dibuat setelah
kemerdekaan. Dalam makalah ini telah kita lihat pembahasannya dan
bisa dipahami ruang lingkup hukum pidana tersebut.

14

Anda mungkin juga menyukai