Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Terima kasih atas puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmat-Nya sehingga makalah ini yang berjudul “Manajemen Keperawatan
Bencana pada Lanjut Usia” dapat tersusun hingga selesai. Makalah ini dibuat
untuk memenuhi tugas mata kuliah Kegawat Daruratan III.
Dalam pembuatan makalah ini banyak pihak yang telah berkontribusi
dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya, oleh karena itu
kami mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Bapak Jaka Pradika, M. Kep, Ns selaku dosen pembimbing yang telah
memberikan masukan, kritikan, dan saran dalam penulisan makalah ini.
2. Teman-teman yang telah mendukung dan berkontribusi dalam pembuatan
makalah ini.
Keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, membuat banyak
sekali kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

Pontianak, April 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................ i


KATA PENGANTAR .............................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................ 2
C. Tujuan Penulisan ........................................................................... 2
1. Tujuan Umum ......................................................................... 2
2. Tujuan Khusus ......................................................................... 2
D. Manfaat Penulisan ......................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Kegawat Daruratan ......................................................... 4
B. Konsep Lansia .............................................................................. 5
C. Konsep Bencana ........................................................................... 6
D. Dampak Bencana pada Lanjut Usia ............................................. 7
E. Manajemen Keperawatan Bencana pada Lansia Saat
Bencana ........................................................................................ 8
F. Manajemen Keperawatan Bencana pada Lansia Pasca
Bencana ........................................................................................ 9
G. Manajemen Keperawatan Bencana pada Lansia Sebelum
Bencana ........................................................................................ 15
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ................................................................................... 17
B. Saran ............................................................................................ 17
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lanjut usia (lansia) merupakan tahap akhir dari kehidupan dan proses
alamiah yang tidak bisa dihindari oleh tiap individu. Lansia dimulai setelah
pensiun biasanya pada usia 65-75 tahun (Potter dan Perry, 2009). Menurut
Undang—Undang No. 13 Tahun 1998 Bab I Pasal 1 ayat 2, lansia dalah
penduduk yang beusia 60 tahun ke atas.
Sejak tahun 2000, Indonesia telah memasuki era berstruktur tua (aging
structured) karena 7,18 % dari penduduk Indonesia berusia 60 tahun ke atas
(Saputri & Indriwati, 2011). Berdasarkan Komisi Nasional Lanjut Usia
(2010), selain memiliki jumlah penduduk terbesar keempat di dunia,
Indonesia juga merupakan negara keempat dengan jumlah lansia terbanyak
setelah China, Amerika dan India. Jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia
pada tahun 2006 sebesar 19 juta jiwa dan tahun 2010 jumlah lanjut usia di
Indonesia sebesar 23,9 juta jiwa.
Indonesia sendiri memiliki kondisi geografis, geologis dan demografis
yang menyebabkan negeri ini dikenal sebagai laboratorium bencana. Sesuai
dengan Undang-Undang No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
Bab I, tentang ketentuan umum, pasal 1, jenis-jenis bencana dapat
dikelompokkan menjadi bencana alam, antara lain (1) gempa bumi, (2)
tsunami, (3) gunung meletus, (4) bajir, (5) kekeringan, (6) angin topan, (7)
tanah longsor. Sedangkan bencana non alam, seperti (8) gagal teknologi, (9)
gagal modernisasi, (10) epidemi, (11) wabah penyakit, dan bencana sosial,
(12) konflik sosial kelompok atau antar komunitas dan (13) teror.
Dari jenis-jenis bencana tersebut, terdapat enam bencana yang paling
mengancam daerah-daerah di Indonesia. Bencana itu yakni gempa bumi,
kebakaran gedung, tsunami, banjir dan banjir bandang, tanah longsor, serta

1
2

letusan gunung api. Bencana tersebut tentu akan memberikan dampak yang
besar bagi kelompok rentan khususnya pada lansia (Badan Nasional
Penanggulangan Bencana, 2017).
Seseorang yang usianya di atas 65 tahun besar kemungkinan untuk
mengalami penyakit kronis, seperti : hipertensi, jantung, diabetes, dll. 80 %
dari kelompok lansia ini memiliki penyakit kronis, dan 50 % memiliki
komplikasi. Lansia juga mengalami gangguan gerak, kognitif, sensori, sosial
dan keterbatasan dari segi ekonomi. Semuanya dapat mempengaruhi proses
adaptasi dan kemampuan berfungsi selama bencana. Selama bencana lansia
bisa saja menjadi sangat sensitif, mengalami gangguan tidur, disorientasi,
depresi dan trauma. Kemudian setelah bencana selesai resiko untuk kondisi
fisik lansia menurun sangat tinggi karena kurang nutrisi, suhu yang ekstrim,
terpapar dengan infeksi, dan gangguan emosional.
Berdasarkan data di atas, maka dalam makalah ini penulis akan
membahas lebih dalam mengenai manajemen keperawatan bencana pada
kelompok lanjut usia (lansia).

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah bagaimana


manajemen keperawatan bencana pada lanjut usia (lansia)?

C. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum
Tujuan umum dalam penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui
manajemen keparawatan bencana pada lanjut usia.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
a. Mengetahui konsep kegawat daruratan
b. Mengetahui konsep lanjut usia
c. Mengetahui konsep bencana
d. Mengetahui dampak bencana pada lanjut usia
3

e. Mengetahui manajemen keperawatan bencana pada lanjut usia saat


bencana
f. Mengetahui manajemen keperawatan bencana pada lanjut usia pasca
bencana
g. Mengetahui manajemen keperawatan bencana pada lanjut usia sebelum
bencana.

D. Manfaat Penulisan

Manfaat dalam penulisan makalah ini agar dapat menambah ilmu


pengetahuan tentang kegawat daruratan bencana khususnya manajemen
keperawatan bencana pada kelompok lanjut usia.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Kegawatdaruratan

1. Definisi Kegawatdaruratan

Asuhan keperawatan gawat darurat adalah rangkaian kegiatan


praktek keperawatan gawat darurat yang diberikan kepada klien oleh
perawat yang berkompeten di ruang gawat darurat. Asuhan keperawatan
yang diberikan meliputi biologis, psikologis, dan sosial klien baik aktual
yang timbul secara bertahap maupun mendadak (DepKes RI, 2005).
Menurut American Hospital Association (AHA) dalam Herkutanto
(2007), keadaan gawat darurat adalah suatu kondisi dimana berdasarkan
respon dari pasien, keluarga pasien, atau siapa pun yang berpendapat
pentingnya membawa pasien ke rumah sakit untuk diberi
perhatian/tindakan medis dengan segera.
2. Pengkajian Gawat Darurat
Pengkajian pada kasus gawat darurat dibedakan menjadi dua, yaitu :
pengkajian primer dan pengkajian sekunder. Pertolongan kepada pasien
gawat darurat dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan survei primer
untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang mengancam hidup pasien,
barulah selanjutnya dilakukan survei sekunder. Tahapan pengkajian
primer meliputi : A: Airway, mengecek jalan nafas dengan tujuan
menjaga jalan nafas disertai control servikal; B: Breathing, mengecek
pernafasan dengan tujuan mengelola pernafasan agar oksigenasi adekuat;
C: Circulation, mengecek sistem sirkulasi disertai kontrol perdarahan; D:
Disability, mengecek status neurologis; E: Exposure, enviromental
control, buka baju penderita tapi cegah hipotermia (Holder, 2002).
Pengkajian yang dilakukan secara terfokus dan berkesinambungan
akan menghasilkan data yang dibutuhkan untuk merawat pasien sebaik

4
5

mungkin. Dalam melakukan pengkajian dibutuhkan kemampuan


kognitif, psikomotor, interpersonal, etik dan kemampuan menyelesaikan
maslah dengan baik dan benar. Perawat harus memastikan bahwa data
yang dihasilkan tersebut harus dicatat, dapat dijangkau, dan
dikomunikasikan dengan petugas kesehatan yang lain. Pengkajian yang
tepat pada pasien akan memberikan dampak kepuasan pada pasien yang
dilayani (Kartikawati, 2012).
Oleh karena itu diperlukan perawat yang mempunyai kemampuan
atau keterampilan yang bagus dalam mengaplikasikan asuhan
keperawatan gawat darurat untuk mengatasi berbagai permasalahan
kesehatan baik aktual atau potensial mengancam kehidupan tanpa atau
terjadinya secara mendadak atau tidak di perkirakan tanpa atau disertai
kondisi lingkungan yang tidak dapat dikendalikan. Keberhasilan
pertolongan terhadap penderita gawat darurat sangat tergantung dari
kecepatan dan ketepatan dalam melakukan pengkajian awal yang akan
menentukan keberhasilan asuhan keperawatan pada system
kegawatdaruratan pada pasien dewasa. Dengan pengkajian yang baik
akan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan (Joewono, 2003).

B. Konsep Lanjut Usia

1. Definisi Lanjut Usia

Lanjut usia (lansia) merupakan tahap akhir dari kehidupan dan proses
alamiah yang tidak bisa dihindari oleh tiap individu. Lansia dimulai
setelah pensiun biasanya pada usia 65-75 tahun (Potter dan Perry, 2009).
Menurut Undang-Undang No. 13 Tahun 1998 Bab I Pasal 1 ayat 2, lansia
dalah penduduk yang beusia 60 tahun ke atas.
Menurut WHO (dalam Gibert 2013), Lanjut usia (lansia) adalah
seseorang yang berumur ≥60 tahun ke atas, dengan usia 45-60 tahun
(middle age), usia 60-75 tahun (elderly), usia 75-90 tahun (old), usia diatas
90 tahun (very old).
6

Penuaan merupakan proses normal perubahan yang berhubungan


dengan waktu, sudah dimulai sejak lahir dan berlanjut sepanjang hidup.
Usia tua adalah fase akhir dari rentang kehidupan (Fatimah, 2010).
Menurut Azizah dan Lilik (2011) bahwa semakin bertambahnya umur
manusia, terjadi proses penuaan secara degeneratif yang akan
berdampak pada perubahan-perubahan pada diri manusia, tidak hanya
perubahan fisik, tetapi juga kognitif, perasaan, spriritual, social,
maupun kultural.
Menurut Azizah (2011), dikemukakan empat penyakit yang sangat
erat hubungannya dengan proses menua yakni :
a. Gangguan sirkulasi darah, seperti : hipertensi, kelainan pembuluh
darah, gangguan pembuluh darah di oatak (koroner) dan ginjal
b. Gangguan metabolisme hormonal, seperti : diabetes mellitus dan
ketidakseimbangan tiroid
c. Gangguan pada persedian, seperti : osteoartritis, goat artritis atau
penyakit kolagen lainnya
d. Berbagai macam neoplasma

C. Konsep Bencana

1. Definisi Bencana

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam


dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang
disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor
manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia,
kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis
(Badan Nasional Penanggulangan Bencana, 2017).
Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktifitas alami dan
aktifitas manusia, seperti : letusan gunung, gempa bumi dan tanah longsor.
Karena ketidakberdayaan manusia akibat kurang baiknya manajemen
keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan
dan struktural, bahkan sampai kematian. Kerugian yang dihasilkan
7

tergantung pada kemampuan untuk mencegah ataun menghindari bencana


dan daya tahan mereka. Pemahaman ini berhubungan dengan pernyataan :
“bencana muncul bila ancaman bahaya bertemu dengan
ketidakberdayaan”. Dengan demikian, aktifitas alam yang berbahaya tidak
akan menjadi bencana alam di daerah tanpa ketidakberdayaan manusia,
misalnya gempa bumi di wilayah tak berpenghuni. Besarnya potensi
kerugian juga tergantung pada bentuk bahayannya sendiri mulai dari
kebakaran, yang mengancam bangunan individual, sampai peristiwa
tubrukan meteor besar yang berpotensi mengakhiri peradaban umat
manusia.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bencana
Pada daerah yang memiliki tingkat bahaya tinggi (hazard) serta
memiliki kerentanan / kerawanan (vulnerability) yang juga tinggi tidak
akan memberi dampak yang hebat/luas jika manusia berada disana
memiliki ketahanan terhadap bencana (disester resirience). Konsep
ketahanan bencana merupakan evaluasi kemamouan sistem dan
infrastruktur-infrastruktur untuk mendeteksi, mencegah dan menangani
tantangan serius yang hadir. Dengan demikian meskipun daerah tersebut
rawan bencana dengan jumlah penduduk yang besar jika di imbangi
dengan ketahanan terhadap bencana yang cukup.

D. Dampak Bencana pada Lanjut Usia

Kelompok lanjut usia (lansia) terbentuk dari setiap individu yang


dipengaruhi oleh gaya hidup, ciri khas keluarga, sumber daya sosial dan
ekonomi, budaya dan adaptasi, lingkungan, struktur gen, dan sebagainya.
Peningkatan usia akan menurunkan homeostasis, penurunan fungsi berbagai
organ tubuh, daya kesiapan dan daya adaptasi menurun, melemah dan sering
sakit karena banyak stresor akan bermunculan pada saat bencana. Efek dari
bencana akan berbeda tergantung pada level penurunan fungsi tubuh,
homeosatits, adaptasi dan sebagainya.
8

1. Fisik Lansia
Pertambahan usia adalah normal, dan fungsi fisiologis menurun secara
perlahan-lahan. Namun demikian, derajat tersebut tidak sama dan terdapat
perbedaan antara setiap individu. Oleh karena itu, pengaruh dari bencana
terhadap lansia pun beraneka ragam sesuai dengan fungsi fisiologis yang
dimiliki oleh setiap individu.
2. Mental Lansia
Lansia telah memiliki beberapa pengalaman kehilangan. Bencana pun
akan menjadi pengalaman kehilangan. Bettis, dkk mengatakan bahwa pada
proses menua terdapat dua proses, yakni proses memungkinkan
beradaptasi diri pada kehilangan dan proses yang membuat yang
bersangkutan sulit mengadaptasikan diri terhadap kehillangan.
3. Sosial Lansia
Jika melihat sisi ekonomi, penyokong nafkah di rumah lansia adalah lansia
itu sendiri, dan banyak yang hidup dari uang pensiunan. Kehilangan rumah
dan harta akan mengakibatkan harapan untuk membangkitkan kehidupan
dan harapan untuk masa depan.

E. Manajemen Keperawatan Bencana pada Lanjut Usia Saat Bencana

1. Tempat Aman
Pada saat terjadi bencana yang paling diprioritaskan adalah memindahkan
kelompok lansia ke tempat aman. Kelompok lansia biasanya sulit
mendapatkan informasi karena penurunan daya pendengaran dan
penurunan komunikasi dengan orang luar.
2. Rasa Setia
Selain itu karena mereka memiliki rasa setia yang dalam pada tanah dan
rumah diri sendiri, maka tindakan untuk mengungsi pun berkecenderungan
terlambat dibanding dengan kelompok yang lain.
3. Penyelamatan Darurat
Bencana menimbulkan ketakutan kematian kepada orang lansia.
Selain itu, mereka mengalami sejumlah kehilangan secara serentak, seperti
9

kehilangan keluarga dan kerabat, rumah yang sudah lama dihuni,


kehilangan harta dan harapan untuk masa depan, sehingga mereka
merasakan kegelisahan pada rehabilitasi kehidupan. Yang diprioritaskan
pada saat terjadi bencana adalah memindahkan orang lansia ke tempat
yang aman. Dalam kondisi lansia tersebut dirawat/dibantu oleh orang lain,
maka mereka tidak bisa mengungsi tanpa ada bantuan dari orang lain.
Oleh karena itu, sangat penting bagi komunitas dan daerah untuk
mengetahui keberadaan lansia dan kondisi fisik mereka dan sebelumnya
menentukan metode penyelamatan yang konkret supaya lansia bisa
dievakuasi dengan cepat pada saat bencana.
Pada manajemen keperawatan bencana pada lansia saat bencana yang
harus dilakukan adalah Triage, Treatment, dan Transportation dengan
cepat dan tepat. Fungsi indera lansia yang mengalami perubahan fisik
berdasarkan proses menua, maka skala rangsangan luar untuk
memunculkan respons pun mengalami peningkatan sensitivitas sehingga
mudah terkena mati rasa. Oleh karena itu, ada kemungkinan terjadi
kelalaian besar karena lansia itu sendiri tidak mengaduh, atau juga keluhan
itu tidak sesuai dengan kondisi penyakit. Oleh karena itu, harus
diperhatikan untuk melaksanakan triage yang cepat dan hati-hati.

F. Manajemen Keperawatan Bencana pada Lanjut Usia Pasca Bencana

Setelah fase akut bencana dilalui, maka lansia akan melanjutkan


kehidupannya ditempat pengungsian. Perubahan lingkungan hidup di tempat
pengungsian membawa berbagai efek pada orang lansia.

1. Lingkungan dan Adaptasi


Dalam kehidupan di tempat pengungsian, terjadi berbagai
ketidakcocokan dalam kehidupan sehari-hari yang disebabkan oleh fungsi
fisik yang dibawa oleh setiap individu sebelum bencana dan perubahan
lingkungan hidup di tempat pengungsian. Kedua hal ini saling
mempengaruhi, sehingga mengakibatkan penurunan fungsi fisik lansia
yang lebih parah lagi.
10

Penurunan daya pendengaran sering membuat lansia melalaikan


informasi yang sebenarnya bisa diperoleh dari pengumuman di tempat
pengungsian dan percakapan di sekitarnya. Penurunan daya penglihatan
membuat lansia sulit membaca pengumuman yang ditempel tergantung
pada ukuran huruf, jumlah huruf, panjangnya kalimat, dan warna.
Ditambah lagi dengan penurunan fungsi fisik lansia, maka pergi ke tempat
dimana ada pengumuman saja sudah sulit. Hal inilah yang menyebabkan
lansia sulit mendapatkan informasi dan bergaul dengan orang lain.
Luas ruang yang bisa digunakan per orang di tempat pengungsian
sangat sempit, sehingga menjulurkan kaki dan tangan saja sulit. Di
lingkungan yang luas ruang yang dapat dipakainya sempit dan terdapat
perbedaan ketinggian membawa berbagai efek pada fungsi tubuh orang
lansia. Hal-hal ini menjadi alasan bagi lansia untuk mengurangi tingkat
gerak dengan sengaja. Tindakan seperti ini akan mengakibatkan
penurunan fungsi tubuh daripada sebelum bencana.
Lansia adalah objek yang relatif mudah dipengaruhi oleh lingkungan.
Jika kebutuhan dari lingkungan melebihi daya adaptasi yang dimiliki
orang lansia, maka terjadilah ketidakcocokan (unfit), dan keadaan tersebut
bisa memunculkan perasaan yang negatif. Model tekanan dan daya
adaptasi yang berkaitan dengan tindakan menunjukkan bahwa jika daya
adaptasi seseorang menurun, maka tindakannya mudah dikuasai oleh
unsur lingkungan. Perubahan lingkungan pasca bencana bisa membawa
beban perasaan, gangguan tidur, dan gangguan ingatan sebagai gangguan
fungsi otak sementara yang sering salah dianggap demensia, dan bahkan
demensia potensial menjadi nyata. Yang penting adalah mengidentifikasi
demensia dan penanganan yang tepat melalui assesment fungsi kognitif
dan perilaku.
2. Manajemen Penyakit dan Pencegahan Penyakit Sekunder
Lingkungan di tempat pengungsian mengundang keadaan yang serius
pada tubuh lansia, seperti pengaturan suhu udara dan ventilasi (peredaran
udara) yang tidak cukup; penurunan daya fisik yang disebabkan oleh
11

distribusi makanan yang dingin, tidak sesuai dengan daya kunyah, dan
gizinya tidak seimbang; terkena flu dan penyakit infeksi karena
lingkungan hidup yang buruk. Berdasarkan pengalaman, sebagian lansia
yang keadaannya susah bergerak, kamar mandinya jauh, dan tidak ada
ruang untuk bertukar popok/lampin, membuat lansia berusaha untuk
membatasi minum air supaya mengurangi pembuangan air besar dan kecil,
sehingga mengakibatkan dehidrasi, infeksi saluran kencing, dan sroke.
Selain itu, kebanyakan orang lansia memiliki beberapa penyakit kronis
sejak sebelum bencana. Pada kehidupan yang seadanya saja, dengan
otomatis pengobatan penyakit masing-masing pasien lansia dihentikan,
maka gejala yang sebenarnya sudah stabil sebelum bencana pun akan
menjadi parah.
Oleh karena itu kita harus memanfaatkan keterampilan keperawatan
dasar seperti observasi, pengukuran, dan mendengarkan. Memulai
pemeriksaan kesehatan dan konsultasi kesehatan secepatnya untuk
menggali dan mengetahui keadaan kesehatan dan kebutuhan kesehatan
dari orang lanjut usia dan menemukan penyakit baru. Kemudian perlu
mempertimbangkan perlu atau tidaknya pengobatan berdasarkan keadaan
pengobatan dan manajemen penyakit kronis dan mengkoordinasikan
metode pengobatan.
3. Orang Lanjut Usia dan Perawatan pada Kehidupan di Rumah Sendiri
Lansia yang sudah kembali ke rumahnya, pertama memberes-bereskan
di luar dan dalam rumah. Dibandingkan dengan generasi muda, sering kali
lansia tidak bisa memperoleh informasi mengenai relawan, sehingga tidak
bisa memanfaatkan tenaga tersebut dengan optimal. Oleh karena itu,
mereka sering mengerjakan dengan tenaga diri sendiri saja, sehingga
mudah tertumpuk kelelahannya. Diperlukan memberikan informasi
mengenai relawan terutama kepada rumah tangga lansia yang
membutuhkan tenaga orang lain. Selain itu, diperlukan koordinasi supaya
relawan bisa beraktivitas demi lansia. Peranan ini setelah masa/fase ini
diharapkan dilanjutkan sambil melihat keperluannya. Kemudian perlu
12

mengidentifikasi keadaan kehidupan dan kesehatan lansia,


mempertimbangkan perlu atau tidaknya bantuan, dan menjembatani lansia
dan social support.
4. Lanjut Usia dan Perawatan di Pemukiman Sementara
a. Perubahan Lingkungan dan Adaptasi Lansia
Lansia yang masuk ke pemukiman sementara terpaksa
mengadaptasikan/ menyesuaikan diri lagi terhadap lingkungan baru
dalam waktu yang singkat. Lansia kehilangan bantuan dari orang
dekat/kenal, dan sulit menciptakan hubungan manusia yang baru, maka
mudah terjadi pergaulan yang dangkal, menyendiri, dan terisolasi.
Fasilitas yang nampaknya sudah lengkap dengan alat elektronik pun
susah bagi lansia karena bagi mereka sulit untuk memahami cara
penggunaannya.
Ada satu hal yang harus diperhatikan, yakni kematian karena
kecelakaan yang disebabkan oleh pemukiman sementara itu sendiri dan
kematian tanpa diketahui orang di dalam pemukiman sementara.
Contoh kasus seorang lansia yang pergi keluar dan mau kembali ke
rumahnya, namun terpaksa berjalan kaki sepanjang malam karena
kebingungan mencari posisi pemukiman diri sendiri, dan akhirnya tidur
di luar dan meninggal dunia. Kasus ini terjadi karena pemukiman
sementara berbentuk sama, dan nomor kompleks tertulis di tempat yang
tinggi dengan huruf yang kecil.
Oleh karena itu, Lansia perlu dibantu beradaptasi dan bersosialisasi
dengan lingkungan/ tempat pengungsian yang baru, baik bantuan fisik
atau psikologis.Lansia harus ada yang mendampingi bila akan
pergi/berjalan ke suatu tempat. Lansia perlu berkali-kali dijelaskan
mengenai situasi dan lingkungan yang baru. Perawat harus mempunyai
kesabaran yang tinggi dalam mendampingi lansia menjalani aktifitas
sehari-harinya.
13

b. Manajemen Diri Sendiri pada Penyakit


Pada umumnya, nafkahlansia adalah uang pensiun dan subsidi dari
keluarga/orang lain.Orang lansia yang pindah ke pemukiman sementara
mengalami kesulitan untuk mengikuti pemeriksaan dokter karena
masalah jarak, maka penyakit kronis bisa diperparah. Oleh karena itu,
penting sekali memberikan informasi mengenai sarana medis terdekat
dan membantu untuk membangun hubungan dengan dokter baru supaya
mereka mau mengikuti pemeriksaan dari dokter tersebut.
5. Mental Care
Lansia akan mengalami penurunan daya kesiapan maupun daya
adaptasi, sehingga mudah terkena dampak secara fisik oleh stresor. Namun
demikian, orang lansia itu berkecenderungan sabar dengan diam walaupun
sudah terkena dampak dan tidak mengekspresikan perasaan dan keluhan.
Hal ini disebabkan oleh pengaruh dari kemampuan coping (menghadap)
tinggi yang diperoleh dari sejumlah pengalaman tekanan/stress
sebelumnya. Maka diperlukan upaya untuk memahami ciri khas orang
lansia yang tampaknya kontradiksi, mendengarkan apa yang orang lansia
ceritakan dengan baik-baik, membantu supaya orang lansia bisa
mengekspresikan perasaannya, sehingga meringankan stres sebelum
gejalanya muncul pada tubuh mereka.
Pada saat kembali ke kehidupan pada hanya diri sendiri saja,
kesenjangan kehidupan semakin membesar karena berbagai penyebab.
Selanjutnya kegelisahan nyata seperti kehilangan fondasi kehidupan dan
masalah ekonomi serta masalah rumah untuk masa depan akan muncul
sebagai masalah realistis. Kelelahan fisik dan mental karena kehidupan di
tempat pengungsian yang berlanjut lama, dan perubahan lingkungan
dengan pindah rumah, maka bisa bertambah orang lansia yang
mengeluhkan gejala depresi. Pada masa/fase ini, diperlukan upaya
berkelanjutan untuk mendengarkan pengalaman dan perasaan dari orang
lansia sebagai bantuan supaya fisik dan mental orang lansia tersebut bisa
14

beristirahat dengan baik. Selain itu jika perlu pengobatan, segera hubungi
dokter spesialis.

Maka dari itu manajemen dalam keperawatan bencana pada kelompok


lansia dapat dilakukan sebagai berikut :
1. Rekonstruksi kehidupan orang lansia yang sebelumnya hidup di
pemukiman sementara masuk ke tahap baru,yakni pindah ke pemukiman
rekonstruksi atau mulai hidup bersama di rumah kerabat. Yang disebut
pemukiman rekonstruksi memiliki keunggulan di sisi keamanan dan
lingkungan dalam rumah dibandingkan dengan pemukiman sementara,
maka kondisi tidur/istirahat dari orang lansia akan membaik.
Namun demikian, pemukiman sementara tidak perlu ongkos sewa,
sedangkan pemukiman rekonstruksi membutuhkan ongkos sewa. Hal ini
menjadi masalah ekonomi bagi orang lansia. Ada lansia yang merasa
tidakpuasdan marah, dan ada pula lansia yangmerasa puas dan berterima
kasih kepada pemerintah. Diperlukan penanganan dari pemerintah seperti
keringanan ongkos sewa, dan memberikan bimbingan kehidupan tepat
yang sesuai dengan kondisi ekonomi dan kebiasaan hidup dari orang
lansia.
2. Mental Care
Stres terbesar bagi orang lansia pada saat bencana adalah ‘kematian
keluarga dan saudara. Dukungan pengganti bagi orang lansia adalah
tetangga. Di pemukiman rekonstruksi, dimulai hubungan manusia yang
baru, dan dokter keluarga pun dianggap pemberi sokongan yang penting.
Menurut Ikeda dkk, peranan yang dimainkan oleh keluarga sangat
penting bagi orang lansia karena masalah kesehatan paling banyak adalah
stres seputar kehidupan.
Pada fase ini dengan jelas SDM untuk rekonstruksi berkurang dan
sistem pemberian pelayanan individu pun melemah, namun diperlukan
memberikan bantuan dari berbagai orang di sekeliling orang lansia
supaya mereka bisa memiliki tujuan dan harapan untuk masa depan.
15

Selain itu, sangat efektif jika dilaksanakan upaya untuk memberikan


makna hidup kepada orang lansia, memperbesar lingkup dan ruang
aktivitas dalam kehidupan, dan melaksanakan kegiatan bantuan untuk
mencegah orang lansia menyendiri di rumah. Misalnya dengan
melibatkan lansia dalam kegiatan sehari-hari seperti membersihkan
rumah, merawat tanaman dan lain sebagainya.

G. Manajemen Keperawatan Bencana pada Lanjut Usia Sebelum Bencana

1. Rekonstruksi komunitas bantuan untuk mengungsi terhadap orang lansia


di komunitas berdasarkan kemampuan membantu diri sendiri dan
membantu bersama di daerah setempat. Diperlukan penyusunan
perencanaan bantuan pengungsian yang konkret dan bekerjasama dengan
komunitas untuk mengetahui lokasi dimana orang lansia berada,
menentukan orang yang membantu pengungsian, mendirikan jalur
penyampaian informasi, menentukan isi dari bantuan yang dibutuhkan
secara konkret berdasarkan keadaan fisik masing-masing sebagai
kesiapsiagaan pada bencana.
2. Persiapan untuk Memanfaatkan Tempat Pengungsian
Dari pengalaman pahit terhadap bencana terutama saat hidup di
pengungsian,dipandang perlu dibuat peraturan mengenai penempatan
‘tempat pengungsian sekunder’. Hal ini bermaksud untuk memanfaatkan
sarana yang sudah ada bagi orang-orang yang membutuhkan perawatan.
Kita perlu menginspeksi lingkungan tempat pengungsian dari pandangan
keperawatan lansia supaya sarana-sarana tersebut segera bisa
dimanfaatkan jika terjadi bencana. Selain itu, diperlukan upaya untuk
menyusun perencanaan pelaksanaan pelatihan praktek dan pelatihan
keperawatan supaya pemanfaatan yang realistis dan bermanfaat akan
tercapai.
Lansia yang berhasil mengatasi dampak bencana didorong untuk
mewarisi pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dari bencana
kepada generasi berikutnya. Kita dapat memfasilitasi lansia untuk
16

berbagi pengalaman mengenai betapa bagusnya hidup bersama di


pengungsian dan betapa tinggi nilai nyawa kita. Misalnya beberapa orang
lansia bertugas sebagai penderita relawan menjelaskan fenomena yang
terjadi pada saat gempa bumi dengan memperagakan alat-alat kepada
anak-anak TK atau SD. Diharapkan anak tidak memiliki efek psikologis
dan lansia dapat merasa lebih bermanfaat secara psikologis (Hamarno,
2016).
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Lanjut usia (lansia) merupakan tahap akhir dari kehidupan dan proses
alamiah yang tidak bisa dihindari oleh tiap individu. Lansia dimulai setelah
pensiun biasanya pada usia 65-75 tahun (Potter dan Perry, 2009). Menurut
Undang—Undang No. 13 Tahun 1998 Bab I Pasal 1 ayat 2, lansia dalah
penduduk yang beusia 60 tahun ke atas.
Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktifitas alami dan
aktifitas manusia, seperti :letusan gunung, gempa bumi dan tanah longsor.
Karena ketidakberdayaan manusia akibat kurang baiknya manajemen keadaan
darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan
struktural, bahkan sampai kematian.

B. Saran

Diharapkan perawat mampu memberikan proses pengkajian yang tepat


dan benar tepatnya pada kasus bencana alam yang terjadi pada lansia,
sehingga pasien dengan kasus bencana alam khususnya lansia bias segera
ditangani dan diberikan perawatan yang tepat. Perawat juga diharuskan
bekerja professional sehingga meningkatkan pelayanan untuk membantu
pasien dengan kegawatdaruratan pada bencana alam pada lansia secara tepat.

17
DAFTAR PUSTAKA

Azizah & Lilik, M. (2011). Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta : Graha Ilmu
Badan Nasional Penanggulangan Bencana. (2017). Buku Pedoman Latihan
Kesiapsiagaan Bencana. Jakarta : Badan Nasional Penanggulangan
Bencana
Depkes RI. (2005). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta : Departemen Kesehatan
RI
Fatimah. (2010). Merawat Manusia Lanjut Usia. Jakarta : Trans Info Media
Gilbert, W., Herlina, I., & Damayanti., C. (2013). Pengaruh Senam Bugar Lanjut
Usia (lansia) Terhadap Kualitas Hidup Penderita Hipertensi. Kedokteran
Universitas Sam Ratulangi Manado.Volume 1, Nomor 2, Juli 2013
Hamarno R. M. K. (2016). Keperawatan kegawatdaruratan & Manajemen
Bencana. Jakarta: Pusdik SDM Kesehatan.
Haryati, T. (2016). Perlindungan Sosial Bagi Lanjut Usia Dalam Kedaruratan.
Jakarta : Kementerian Sosial
Herkutanto. (2007). Aspek Medikolegal Pelayanan Gawat Darurat. Jakarta :
Kedokteran Indonesia
Joewono, B. S. (2003). Ilmu Penyakit Jantung. Surabaya : Airlangga University
Press
Kartikawati, Dewi. (2012). Buku Ajar Dasar-Dasar Keperawatan Gawat Darurat.
Jakarta : Salemba Medika
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Bina Gizi dan
Kesehatan Ibu dan Anak. (2012). Pedoman Kegiatan Gizi dalam
Penanggulangan Bencana. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia
Komisi Nasional Lanjut Usia. (2009). Profil Penduduk Lanjut Usia. Jakarta :
Komisi Nasional Lanjut Usia
Potter & Perry. (2009). Fundamental Keperawatan. Edisi 7. Jakarta : Salemba
Medika
Saputri & Indrawati, E. (2011). Hubungan Antara Dukungan Sosial dengan
Depresi pada Lanjut Usia yang Tinggal Di Panti Wredha Wening Wardoyo
Jawa Tengah. Jurnal Psikologi Undip. Semarang : Fakultas Psikologi
Universitas Ponegoro

18