Anda di halaman 1dari 33

TUGAS KULIAH SEMESTER 4 TEKNIK SIPIL UNSURI

METODE PERBAIKAN TANAH

DISUSUN OLEH :
YUNUS RENGGANA
NIM : 17230015
UNIVERSITAS SUNAN GIRI SURABAYA
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah S.W.T karena dengan rahmat, karunia,
serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Metode
Perbaikan Tanah” ini dengan baik meskipun masih banyak kekurangan didalamnya.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai struktur beton. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di
dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami
berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di
masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang
membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di
masa depan.

Surabaya, 9 Juli 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................................1
1.1 Latar Belakang..................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...............................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................2
2.1 Pengertian Perbaikan Tanah................................................................................2
2.2 Tujuan Perbaikan Tanah.....................................................................................2
2.3 Metode Perbaikan Tanah.....................................................................................2
2.3.1 Metode Perbaikan Tanah Mekanis..............................................................2
2.3.1.1 Pengaruh Kadar Air.......................................................................3
2.3.1.2 Variabel Pemadatan Tanah.............................................................5
2.3.1.3 Tes Pemadatan Tanah......................................................................7
2.3.1.4 Jenis Pemadatan Tanah..................................................................9
2.3.2 Metode Perbaikan Tanah Hidrolik ............................................................16
2.3.2.1 Pra Pembebanan..........................................................................17
2.3.2.2 Dewatring...................................................................................20
2.3.2.3 Predrainage.................................................................................23
2.3.3 Metode Perbaikan Fisik dan Kimiawi.......................................................26
2.3.3.1 Penambahan Admixture...............................................................26
2.3.3.2 Penggunaan Grouting...................................................................27
2.3.3.3 Metode Thermal..........................................................................27
BAB III PENUTUP......................................................................................................29
3.1 Kesimpulan.....................................................................................................29
3.2 Saran.............................................................................................................29
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................30

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Tanah merupakan bagian yang penting ketika kita akan medirikan suatu bagunan
atau konstruksi, karena tanah adalah tempat dari fondasi bangunan itu berpijak. Jika tanah
yang digunakan untuk mendirikan bangunan tidak memiliki daya dukung yang tinggi atau
tanah yang labil maka sekuat apapun konstruksi yang kita bangun, pasti tidak akan
berguna karena hancur ketika tanah mengalami perubahan yang disebabkan oleh gempa
ataupun perubahan bentuk dan sifat tanah itu sendiri.
Maka sangat penting bagi kita mengetahui metode-metode apa saja yang bisa
digunakan dalam bidang sipil khususnya untuk memperbaiki tanah yang labil menjadi
tanah yang memiliki daya dukung tinggi, memenuhi spesifikasi teknik, aman dan layak
untuk mendirikan sebuah bangunan.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Penulis telah menyusun beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah ini
sebagai batasan dalam pembahasan bab isi. Beberapa masalah tersebut antara lain :
1. Apakah perbaikan tanah itu ?
2. Apa tujuan dari perbaikan tanah ?
3. Teknik apa saja yang digunakan untuk perbaikan tanah ?
4. Metode apa saja yang digunakan untuk perbaikan tanah ?

1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN PERBAIKAN TANAH
Dalam ilmu teknik sipil, jenis tanah dapat dilihat dari besar butiran tanah. Secara
garis besar dikedalaman tanah terdapat tanah yang mengandung butiran berdiameter besar
seperti kerikil, pasir, bebatuan dan tanah yang mengandung butiran halus seperti lanau,
lempung. Tanah yang berbutir halus pada umumya memiliki kekuatan geser dan
kestabilan yang rendah, oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan tanah.
Perbaikan tanah adalah Kumpulan upaya-upaya yang dapat dilakukan terhadap
tanah yang memiliki karakteristik teknis (engineering properties) yang bermutu rendah
menjadi material yang layak digunakan sebagai material konstruksi (mempunyai
karakteristik teknis yang lebih baik)

2.2 TUJUAN PERBAIKAN TANAH.


Tujuan dilakukan perbaikan tanah ini antara lain :
a. Menaikkan Daya dukung & Kuat Geser
b. Menaikkan Modulus
c. Mengurangi Kompressibilitas
d. Mengontrol stabilitas volume (shringking & swelling)
e. Mengurangi kerentanan terhadap liquifaksi
f. Memperbaiki kualitas material untuk bahan konstruksi

2.3 METODE PERBAIKAN TANAH


Beberapa teknik perbaikan tanah yang biasa dilakukan diantaranya :
2.3.1 Metode Perbaikan Mekanis
Teknik perbaikan secara mekanis adalah upaya untuk meningkatkan kepadatan
tanah dengan menggunakan gaya mekanik eksternal dalam jangka waktu singkat.

Perbaikan tanah secara mekanis disebut juga perbaikan tanah dengan ENERGI.
Umumnya dilakukan terhadap tanah timbunan. Jenis tanah dapat berupa tanah
berbutir halus maupun berbutir kasar.

2
Pemadatan dapat dilakukan dengan cara :

 Gilasan
Energi gilasan, tumbukan dan getaran berperan mendorong udara dan air tanah
dari rongga/pori-pori tanah, sekaligus memampatkan rongga menjadi semakin
kecil, proses memampatkan tanah juga merubah susunan butir menjadi lebih
kompak.

 Tumbukan
 Getaran
 Kombinasi a-c dan b-c
Cara gilasan dan tumbukan sangat cocok untuk tanah kohesif (berbutir halus).
Cara gilasan dan getaran cocok untuk tanah nonkohesif (berbutir kasar)

Tujuan perbaikan tanah mekanis dengan pemadatan diantaranya :

 Dapat memperbesar daya dukung tanah


 Mengurangi permeability
 Mengurangi settlement
 Mengurangi kembang susut tanah

2.3.1.1 Pengaruh Kadar Air (ω)

Suatu tanah yang kohesif dalam keadaan kering keras dan berbongkah-
bongkah akan sulit untuk dipadatkan. Untuk memudahkan pemadatan itu
perlu dibasahi, karena semakin basah tanah akan mudah dihancurkan.

Secara teoritis, kepadatan maksimal di dapat apabila udara sudah dapat


dikeluarkan. Kepadatan maksimal dalam praktek terdapat pada kadar air
yang tersisa 7% - 10%.

3
Dalam pelaksanaan pemadatan tanah secara mekanis, apabila tanah telah
mencapai kepadatan maksimal tetapi masih terus dipadatkan maka akan
terjadi over compacted soil. Pada pemadatan diperlukan suatu nilai kadar air
optimum ( OMC )

4
2.3.1.2 Variabel Pemadatan Tanah

Terdapat banyak variabel yang mempengaruhi pemadatan tanah termasuk :

1. Karakteristik Tanah
Tanah Granuler : jenis tanah paling mudah penanganannya untuk
pekerjaan lapangan. Material ini mampu memberi kuat geser yang tinggi
dengan sedikit perubahan volume sesudah dipadatkan. Tanah granuler
secara efektif dipadatkan menggunakan mesin pemadat dengan getaran

Tanah Lanau : tanah ini jika dipadatkan, umumnya akan stabil dan
mampu memberikan kuat geser yang cukup dan sedikit kecenderungan
perubahan volume. Namun akan sangat sulit dipadatkan bila dalam
keadaan basah.

Tanah Lempung :lempung yang dipadatkan dengan cara yang benar akan
memberikan kuat geser tinggi. Pada waktu sangat basah atau jenuh,
lempung tidak dapat dipadatkan dengan baik.

5
2. Karakteristik Mesin Pemadat
Karakteristik mesin pemadat mempengaruhi tingkat tekanan dan
kedalaman pengaruh gaya dinamik. Secara umum, pemadat roda baja
halus lebih cocok untuk batu pecah dan campuran kerikil-pasir yang
distabilisasi secara mekanis. Penggilas roda karet cocok untuk tanah pasir
bergradasi seragam dan tanah-tanah berbutir halus kohesif pada kadar air
yang mendekati batas plastis. Penggilas kaki kambing ( sheep foot roller
), cocok untuk tanah berbutir halus kohesif pada kadar air antara 7-12%
dibawah batas plastisnya.

6
2.3.1.3 Tes pemadatan tanah dapat dilakukan di beberapa tempat :

1. Tes Pemadatan di Laboratorium, menggunakan uji / tes proctor

2. Tes pemadatan tanah di lapangan.

2.1 Menggunakan Uji cone sand

Cara penggunaan uji cone sand :

 Botol diisi penuh kemudian ditimbang W1´


 Siapkan alat penggali dan kaleng

7
 Permukaan tanah, pada titik yang telah ditentukan, dibersihkan
dan diratakan.
 Dengan menggunakan mal dibuat lubang sedalam 10-15 cm,
sesuai dengan tinggi silinder yang digunakan untuk mengukur
berat isi kering pasir (B). Semua tanah galian harus dikumpulkan
dalam kaleng, tidak boleh ada yang terbuang dan dijaga jangan
sampai kadar airnya berubah (kaleng sementara ditutup).
 Tempatkan botol diatas lubang dengan corong menghadap
kebawah. Kran dibuka hingga pasir turun mengisi lubang melalui
corong.
 Setelah pasir dari botol tidak turun lagi, kran ditutup selanjutnya
botol beserta pasir ditimbang (W2´). Sementara itu hasil galian
diatas segera ditimbang dan diukur kadar airnya, sehingga
diketahui berat tanah dalam lubang (W), dan kadar airnya (ω).

2.2 Tes menggunakan balon karet (rubber ballon)

8
Cara kerja tes balon karet :

 Ratakan dan bersihkan muka tanah yang mau di uji


 Letakkan plat dasar pada lubang galian. Tanah galian hendaknya
dikumpulkan dan jangan sampai tercecer. Tanah galian tersebut
ditimbang dan diperiksa kadar airnya.
 Dorong pompa karet air ke bawah mengisi balon.
 Balon mengembang mengisi seluruh lubang galian dengan
volume V = selisih bacaan muka air I dan II

2.3 Tes menggunakan Nuclear density tester

Sinar γ menembus kedalam tanah, jumlah sinar γ diukur tergantung


pada berat volume tanah basah. Knop I menghitung γb dan knop II
tergantung kadar air tanah (1) γb, (2). w sehingga akhirnya ketemu γk

2.3.1.4 Pemadatan tanah sendiri terbagi atas :

a. Pemadatan Dangkal

Alat-alat yang digunakan untuk pemadatan dangkal antara lain :

1. Mesin Gilas (Roller), diantaranya

 Smooth wheel roller : cocok untuk meratakan permukaan


tanah dasar dengan tekanan rendah

9
 Pneumatic Tire Roller : dapat digunakan pada pemadatan
dengan tekanan dan “kneading” (remasan)
 Sheep foot roller : cocok untuk lempung dan tanah berlanau
 Mesh grid roller : sangat ideal untuk memadatkan
tanahtanah berbatu, berkerikil dan berpasir

2. Alat tumbuk (Hammer).

Hammer biasanya digunakan pada pekerjaan pemadatan di ruangan


yang sempit, Hammer dengan tebal lapisan tidak lebih dari 15 cm.
Pada umumnya alat jenis ini di pegang dan dioperasikan dengan
tangan. Hammer cocok di gunakan untuk jenis tanah kohesif.

3. Alat Penggetar ( Vibrator ).

 Vibrator roller
adalah alat pemadatan yang sama dengan tipe Tamping Roller,
Smooth Steel Roller dan Pneumatic Roller yang dilengkapi vibrator.
Roller ini akan menghasilkan efek gaya dinamis terhadap tanah. Butir
butir tanah akan mengisi bagian kosong yang terdapat diantara butiran
tersebut. Getaran tadi mengakibatkan tanah menjadi padat dengan
susunan yang lebih kompak.

 Vibrator plate adalah alat pemadatan yang hanya bergetar saja.


Alat ini baik untuk tanah pasir dan kerikil.

b. Pemadatan Dalam,

Pemadatan dalam (deep compaction) ini terutama ditujukan untuk tanah


non kohesive. Seringkali dijumpai kondisi dimana suatu lapisan tanah tak
berkohesi (cohesionless soil) yang cukup tebal dalam keadaan yang tidak
cukup padat atau relative renggang (loose).

10
Tanah tak berkohesi (dominan pasir) yang renggang harus dipadatkan
dahulu karena pada tanah-tanah seperti ini mudah terjadi peristiwa
“liquefaction” bilamana terjadi getaran yang cukup kuat (dari gempa
bumi atau lainnya). Pemadatan tanah untuk lapisan tanah renggang tak
berkohesi yang cukup tebal juga menggunakan prinsip getaran.

Teknologi pemadatan masa kini meliputi cara :

 Vibro Compaction
Cara – cara ini pada prinsipnya sama, yaitu menghasilkan getaran
yang dapat meruntuhkan struktur susunan partikel tanah (mula-mula)
sehingga partikel membentuk susunan yang lebih rapat dan lebih
kokoh. Vibrocompaction menghasilkan energi yang jauh lebih kecil
dari pada kedua cara yang disebut terakhir ( blasting dan heavy
tamping / dynamic compaction ) .
Getaran akibat vibrocompation biasanya terasa hanya sejauh jarak satu
atau dua meter dari sumbernya, sedangkan pada cara blasting dan
heavy tamping, getaran dapat berpengaruh sampai ± 10 meter dari
sumbernya.
Cara vibrocompaction lebih efektif bila digunakan untuk memadatkan
tanah dominan pasir bilamana jumlah fraksi tanah yang lolos ayakan
no. 200 (persen berat). Adanya fraksi lempung dan lanau yang lebih
besar menyebabkan tanah sulit (berat) untuk dipadatkan dengan cara
vibrocompaction ini. Untuk kasus bilamana fraksi lanau dan lempung
cukup tinggi sebaiknya digunakan cara blasting atau heavy tamping.
Adapun cara-cara untuk mengukur hasil pemadatan tanah setelah di
“treatment” dengan cara getaran diatas, atau mengukur perubahan
kepadatan dan kekuatan tanah sebelum dan sesudah pemadatan, dapat
dilakukan cara sebagai berikut :
1. Pengukuran dengan bantuan patok-patok settlement di
permukaan.

11
2. Pengukuran dengan SPT (Standard Penetration Test, SPT),
sebelum dan sesudah treatment.

3. Pengukuran dengan alat sondir (Cone Penetration Test, CPT),


sebelum dan sesudah treatment.

4. Pengukuran jumlah volume bahan pengisi tambahan yang


dimasukkan dalam tanah pada cara vibrocompaction dengan
menggunakan bahan pengisi.

5. Pengukuran kepadatan tanah cara gelombang geser seismic


(sismic shear wave method).

6. Pengukuran dengan plate loading test.

7. Pengukuran dengan cara alat density meter dalam lubang


bor (down-hole density meter).

 Peledakan / Blasting
adalah salah satu cara yang ekonomis untuk pemadatan lapisan pasir
renggang yang cukup tebal (dalam). Prosedur pamadatan pada
umumnya adalah :
1. Pembuatan/pemancang pipa dengan cara getar, jetting, auger
boring atau lainnya. Kedalaman pipa sampai sedalam ledakan
yang diinginkan.
2. Pemasangan bahan peledak (dinamit) dalam pipa tersebut.
3. Pengurangan kembali pipa (backfilling of pipe).
4. Peledakan bahan dinamit menurut pola ledak dan kekuatan
ledak yang direncanakan.
5. Peledakan akan menghasilkan gelombang getar tekan dan
geser yang akan meruntuhkan susunan partikel tanah asli dan
membentuk susunan yang lebih padat

12
Berdasarkan pedoman pemadatan dengan ledakan (sampai kedalaman
tanah 20 meter yang terpengaruh) sebagai berikut :
1. Ukuran ledakan : 1 kg sampai 12 kg per hulu ledak.
2. Kedalaman pusat ledakan : Pusat ledakan harus tertimbun pada
kedalaman > 1/4 x kedalaman total (sampai kedasar lapisan
tanah yang ingin dipadatkan); tetapi letak pusat ledakan pada
kedalaman 1/2 sampai 3/4 x kedalaman total lebih umum
dilakukan orang.
3. Jarak pusat-pusat ledakan : 4 - 15 meter
4. Jumlah kali ulangan peledakan : 1 sampai 5 kali, dan ummnya
2-3 kali. setiap ulangan terdiri dari beberapa ledakan beruntun
dari masing-masing pusat ledak.
5. Setiap ulangan biasanya berjarak beberapa jam sampai
beberapa hari dari ledakan sebelumnya.
6. Jumlah total bahan explosive yang digunakan : 8 - 150 gr/m3
tanah, biasanya sekitar 10-30 gr/m3.
7. Settlement permukaan tanah akibat pemadatan : 2 - 10 % tebal
lapisan yang dipadatkan.

Dengan cara ini, jelas akan terlihat adanya pemadatan yang berarti
dari tanah setempat, tetapi kekuatan tanah tidak segera membaik.
Perlu waktu lama untuk tanah tersebut menguat kembali. Akan tetapi
pada tanah dominan pasir, kekuatan tanah minimal biasanya sudah
memenuhi syarat untuk bangunan, hanya kepadatannya saja yang
menjadi masalah bilamana ada getaran nantinya.
Pada tanah-tanah yang tidak terletak di bawah air, akan lebih mudah
dipadatkan bila tanah tersebut lebih dahulu dijenuhkan dengan air
kemudian baru diledakkan, cara ini disebut hydro-blasting. Jadi
kedalam tanah dipompakan air sampai lapisan tanah disitu sampai
jenuh, baru baru kemudian sistem pemadatan cara blasting dilakukan.

13
 Dynamic Compaction / Heavy Tamping

Cara ini dilakukan dengan menjatuhkan suatu massa yang sangat


berat dari suatu ketinggian (dengan bantuan derek / crane) keatas
permukaan tanah yang akan dipadatkan.

Berat massa penumbuk bervariasi dari yang terkecil 1-2 ton


sampai 20 ton yang terbuat dari beton atau kotak baja yang berisi
beton atau pasir.

Tinggi jatuh bisa sampai 40 m dari muka tanah.

Bentuk penampang penumbuk biasanya bulat atau segi empat.


Biasanya diperlukan 2-3 kali ulangan penumbukan yang sudah
direncanakan.

Karakteristik metode dynamic compaction


1. Pekerjaan terapan yang cepat dengan tahapan sederhana,
penghematan biaya dan sangat dimungkinkan pelaksanaannya
dengan pekerjaan lain pada saat yang sama.
2. Meskipun tergantung dari jenis tanah, kelangsungan pekerjaan
lain diatas tanah setelah peningkatan terjadi sangatlah
diijinkan.
3. Dapat diterapkan pada berbagai jenis tanah termasuk jenis
tanah hasil bongkaran/pembuangan, pasir tanah kepasiran
(dredging soil), tanah halus, lumpur buangan maupun hasil
pengeboran atau bentonit.
4. Kualitas kerja dapat dikontrol dan hasil yang baik.
5. Tidak bermasalah terhadap lapisan batuan dibawahnya.
6. Tidak memerlukan material khusus.

14
 Compaction Grouting

Grouting merupakan suatu metode atau teknik yang dilakukan untuk


memperbaiki keadaan bawah tanah dengan cara memasukkan bahan
yang masih dalam keadaan cair, dengan cara tekanan, sehingga bahan
tersebut akan mengisi semua retakan-retakan dan lubang-lubang yang
ada di bawah permukaan tanah, kemudian setelah beberapa saat bahan
tersebut akan mengeras, dan menjadi satu kesatuan dengan tanah yang
ada sehingga kestabilan suatu permukaan tanah akan tetap terjaga.

Bahan grouting yang paling umum adalah semen. Disamping itu juga
sering digunakan bahan lempung (bentonite, dan lain-lain), atau
campuran antara semen dan tanah.

Kapur juga sering digunakan sebagai bahan grouting; biasanya kapur


tersebut dalam bentuk pasta (cair).

Selain semen, kapur, dan tanah, sering pula digunakan bahan


kimia (chemical grout) seperti silicates, lignins, resins, acrylomides
danurethanes.
Bahan grouting kimiawi ini umumnya lebih mudah diinjeksikan pada
tanahtanah yang berbutir halus, sedangkan bahan grouting semen dan
sejenisnya terutama ditujukan untuk tanah-tanah pasir.

Pada umumnya grouting dengan cara injeksi mempunyai 3 (tiga)


fungsi :

1. Permeating grouting, yaitu grouting untuk mengisi pori-


pori dalam tanah. Disini bahan grouting harus cukup encer
untuk menyusup dalam pori-pori tanah tanpa merubah
volume tanah. Permeating grouting biasanya hanya terjadi
pada tanah-tanah yang lebih kasar dari pasir kasar.

15
2. Displacement grouting yaitu grouting yang ditujukan untuk
mengisi pori tanah dan menyibak pori tanah menjadi besar.
Grouting ini menyebabkan terjadinya displacement dan
perubahan volume pori dalam tanah.
3. Encapsulation grouting, ditujukan untuk mengisi retakan-
retakan yang terjadi dalam tanah akibat tekanan injeksi.
Grouting ini tidak menyusup ke pori-pori tanah tetapi mengisi
retakan-retakan sekitar gugusan tanah atau batuan, sehingga
berbentuk lensalensa tipis grouting yang berada disela-sela
gugusan tanah/batuan dan membungkus tanah dalam gugusan-
gugusan yang cukup besar.

2.3.2 Perbaikan tanah secara Hidrolik


Merupakan upaya perbaikan lapisan tanah lunak dengan cara mengeluarkan air dari
pori-pori tanah. Perbaikan tanah secara hidrolis dapat dilakukan dengan cara
sebagai berikut :

2.3.2.1 Pra pembebanan (preloading)

Prapembebanan (Preloading) merupakan suatu metode perbaikan tanah


dengan cara menempatkan timbunan pada lokasi yang akan distabilisasi
dengan berat sekrang-kurangnya sama dengan berat struktur (beban
permanen) di masa yang akan datang.

Akibat adanya beban timbunan tersebut maka lapisan tanah di bawahnya


akan tertekan sehingga air yang berada di dalam pori-pori tanah akan
terperas keluar (terkonsolidasi) lebih cepat.

Apabila konsolidasi yang diinginkan telah tercapai sebagian timbunan


preloading dapat dibuang.

16
Teknik Preloading bisa dilakukan dengan cara :

a. Pemberian beban timbunan ( cara konvesional )


Metode ini adalah dianggap metode pre-loading yang paling
sederhana. Ketika beban diletakkan diatas masa tanah, maka akan
terjadi proses keluarnya air dari pori-pori tanah. Apabila tanah
tersebut bukan merupakan jenis tanah yang mudah memampat,
tegangan air pori akan berkurang secara perlahan karena air pori
hanya dapat mengalir dengankecepatan yang sangat lambat dengan
arah pengaliran vertical. Apabila kondisi dilapanganseperti itu, maka
preloading dilakukan secara bertahap.

Apabila beban sementara melebihi beban akhir, maka beban tersebut


dapat diasumsikan sebagai beban surcharge atau beban jalan. Beban
sementara bisa dianggap tidak ada apabila pemampatan yang terjadi
akibat beban tersebut adalah melebihi pemampatan yang di prediksi.
Hal tersebut seharusnya tidak terjadi sebelum nilai excess pore
pressure yang tersisa adalah dibawah bertambahnya nilai tegangan
akibat pembebanan sementara tersebut. Dengan bertambahnya waktu
pembebanan sementara yang berlebih, secondary settlement mungkin
bisa berkurang atau bahkan tidak terjadi sama sekali.

Kondisi tersebut disebabkan oleh penggunaan beban surcharge yang


lebih besar dari pada beban kerja diatasnya yang dapat menyebabkan
tanah bersifat overconsolidated dan nilai secondary compression pada
tanah yang bersifat overconsolidated adalah lebih kecil
dibandingankan dengan tanah yang bersifat Normally consolidated.
Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Chu dkk
(2004).

17
b. Vacuum Preloading

Prinsip penggunaan vacuum pre-loading pada tanah lempung lunak


pertama kali diperkenalkan oleh W.Kjellman dari Swedish
Geotechnical Institute pada awal tahun 1950an (Kjellman,1952).

Apabila proses vacuum dilakukan terhadap suatu massa tanah, maka


akan menghasilkan nilai negative excess pore water pressure.

Ketika nilai tegangan total pada tanah tetap tidak berubah, nilai
negative pore pressure yang terjadi pada saat nilai tegangan efektif
meningkat tersebut akan menyebabkan terjadinya konsolidasi.

Metode itu tidak berkembang secara luas hingga awal tahun 1980an.
Hal tersebut disebabkan oleh tingginya biaya pelaksanaan vacuum
preloading pada jaman tersebut.

Teknologi ini kemudian mulai berkembang pada komunitas


geoteknik di Asia pada awal 1980an (Qian dkk, 1992) karena
berkembangnya penggunaan material geosintetis dan maraknya
pembangunan di tepi pantai (reklamasi) yang membutuhkan system
pre-loading. Penggunaan PVD yang dianggap lebih efektif dan lebih
ekonomis serta lebih mudah pelaksanaannya.

Metode ini cocok diaplikasikan pada tanah lunak yang mampu


mampat, tanah lunak dengan talud yang curam dan area luas yang
memiliki akses dengan power supply untuk instalasi vacuum pre-
loading.

Penggunaan vacuum pre-loading kemudian berkembang pesat dan


semakin banyak digunakan dilapangan.

1. Drainase vertikal (Vertical drain) dikombinasikan dengan


preloading

18
Vertical drains merupakan suatu metode perbaikan tanah dengan
membuat saluran drainase buatan yang dimasukkan/ dipasang
didalam tanah lunak.

Aplikasi penggunaan vertical sand drains pertama kali


berkembang di California pada tahun 1930an. Pada dekade yang
sama, Kjellman dari Sweden memperkenalkan prototype dari
prefabricated vertical drains yang terbuat dari semacam papan
pipih (Jamiolkowski dkk, 1983).

Setelah dikembangkan bentuk prototype tersebut, kemudian


berkembang beberapa tipe prefabricated vertical drains yang
terbuat dari lapisan selaput plastic dengan material yang tembus
air yang berfungsi sebagai filter.

Sebelum tahun 1980an, sebagian besar perbaikan tanah lunak


untuk mengatasi pemampatan yang terjadi dilakukan dengan
menggunakan sand drains dan horizontal sand blankets drains
untuk pengaliran air arah lateral.

Cara ini memang sebenarnya sangat efektif namun proses


pelaksanaannya sangat lama dan juga lebih mahal. Selain itu
kendala lain yang terjadi adalah, terjadinya clogging (tertutupnya
pori-pori pasir) oleh butiran lanau atau butiran dengan diameter
yang lebih kecil dari pasir. Sehingga hal tersebut dapat
menghalangi pengaliran air keluar dari masa tanah.

Sand drains yang aplikasi pemasangannya yaitu dengan


memenuhi boreholes dalam tanah dengan pasir juga memiliki
beberapa kelemahan.

Ketika proses instalasi sand drains, peralatan untuk melobangi


suatu tanah dimasukkan kedalam tanah sehingga dapat

19
menyebabkan terjadinya displacement baik pada sisi vertical
maupun horizontal.

Beberapa kesulitan dan kerugian dari penggunaan sand drains


dirangkum oleh Yeung (1997) adalah sebagai berikut:

 Pasir yang digunakan sebagai material sand drains adalah


pasir yang sesuai dengan ketentuan yang mungkin saja akan susah
diperoleh di lapangan atau sekitar pelaksanaan proyek.

 Pengaliran air bisa menjadi tidak sesuai dengan yang


diinginkan karena proses instalasi yang kurang baik.

 Selama memasukkan material pasir kedalam tanah


kemungkinan terjadinya colaps pada lubang adalah sangat besar.

 Diameter sand drain yang tidak sesuai dengan perhitungan


awal karena tanah yang sangat lunak menyebabkan pasir merembet
melebihi diameter yang ditentukan akan menyebabkan
pembengkakan biaya.

 Kondisi tanah disekitar sand drain akan terganggu dan


mungkin dapat menyebabkan berkurangnya nilai permeability
dalam tanah sehingga air tidak dapat mengalir dengan baik.

 Efek perkuatan dengan menggunakan sand drains dapat


mengurangi keefektifan dari preloading.

2.3.2.2 Dewatering

Dewatering (pekerjaan pengeringan) adalah salah satu metode perbaikan


tanah yang bertujuan untuk dapat mengendalikan air (air
tanah/permukaan) agar tidak mengganggu/menghambat proses

20
pelaksanaan suatu pekerjaan konstruksi, terutama untuk pelaksanaan
bagian struktur yang berada dalam tanah dan di bawah muka air tanah.

Metode yang dapat dipakai untuk pekerjaan dewatering antara lain:

a. Open pumping

Pada metode dewatering open pumping ini air tanah dibiarkan


mengalir ke dalam lubang galian, kemudian dipompa keluar melalui
sumur/ selokan penampung di dasar galian.

Metode open pumping dipilih bila :

o Karakteristik dari tanah merupakan tanah padat, bergradasi baik


dan berkohesi
o Debit rembesan air tidak besar
o Sumur / selokan untuk pemompaan tidak mengganggu atau
merugikan pada tanah / bangunan yang akan dilaksanakan
o Galian tidak dalam

Pelaksanaan Metode Open Pumping:

 Siapkan saluran untuk mengalirkan air tanah yang dipompa,


sejak sebelum penggalian dimulai.
 Penggalian diakukan sampai kedalaman rencana, bila belum
sampai pada kedalaman rencana sudah tergenang air yang cukup
mengganggu pekerjaan galian, maka penggaliannya dilakukan
secara bertahap.
 Pada setiap tahapan galian dibuat sumur kecil/ selokan tandon air
untuk tempatpompa isap.
 Pada sumur/ selokan tandon air tersebut, dipasang pompa untuk
pengeringan (pompa submersible lebih baik dibanding pompa
biasa).
 Bila kedalaman galian melebihi kemampuan isap pompa (suction
lift), maka pemompaan dapat diturunkan

21
 Bila galian sangat luas, dapat dilakukan secara bertahap. Dan
membuat sumur/ selokan di beberapa tempat.

Metode dewatering yang dipilih tergantung beberapa faktor, antara lain :

a. Debit rembesan air


b. Jenis tanah
c. Kondisi lingkungan sekitarnya
d. Sifat tanah
e. Air tanah
f. Ukuran dan dalam galian
g. Daya dukung tanah
h. Kedalam dan tipe pondasi
i. Design dan fungsi dari struktur
j. Rencana pekerjaan

Tujuan dari dewatering antara lain adalah :

 Menjaga agar dasar galian tetap kering.

 Mencegah erosi buluh.

 Mencegah resiko sand boil.

 Mencegah resiko terjadinya kegagalan upheave.

 Mencaga gaya uplift terhadap bangunan sebelum mencapai bobot


tertentu.

 Mencegah rembesan

 Memperbaiki kestabilan tanah.

 Pengeringan lubang galian

22
b. Predrainage

Prinsip metode predrainage adalah menurunkan muka air terlebih


dahulu sebelum pekerjaan galian dimulai.

Metode predrainage dipilih, bila :

 Karakteristik dari tanah merupakan tanah lepas, berbutir seragam,


cadas lunak dengan banyak celah
 Debit rembesan cukup besar
 Tersedia saluran pembuangan air
 Slope tanah sensitif terhadap erosi atau mudah terjadi rotary slide
 Tidak mempunyai efek mengganggu bangunan disekitarnya.

Pelaksanaan Metode Predrainage :

Prinsip predrainage di sini adalah muka air tanah di daerah galian


diturunkan sampai di bawah elevasi rencana dasar galian, dengan
menggunakan wellpoint system atau deep well, sebelum pekerjaan
galian dimulai. Dengan demikian selama proses penggalian tidak
akan tergganggu oleh air tanah.

Ada 2 sistem predrainage, yaitu :

 Single Stage Predrainage


 Multi Stage Predrainage

Ada 2 jenis metode dewatering predrainage, yaitu :

 Well points
 Pompa Dalam (Submersible Pump)

Urutan pekerjaan dewatering metode predrainage adalah:

 Dibuat suatu perencanaan (design wellpoints) untuk memperoleh


jumlahwellpoint yang diperlukan (letak dan jaraknya) dan
kapasitas pompa yang akan digunakan. Jarak tiap-tiap wellpoint

23
biasanya berkisar antara 1 sampai 4 meter, dengan suction lift
(penurunan muka air tanah) antara 5 sampai 7 meter.
 Dibuat sumur tes untuk mengetahui lapisan tanah dan tinggi muka
air tanah, guna meyakinkan perencanaan yang ada.
 Dipersiapkan saluran untuk mengalirkan air buangan dari pompa
ke dalamsaluran drainase yang ada. Hal ini perlu menjadi
perhatian karena debit air yang dibuang kadang-kadang cukup
besar.
 Dipasang wellpoint dengan kedalaman dan jarak tertentu dan
bagian pengisapnya (bagian atas) dihubungkan dengan header
(pipa penghubung wellpoint). Kemudian header pipe
dihubungkan dengan pompa dengan pipa buangnya disambung
dan diarahkan ke saluran pembuang.

Pada titik kedudukan wellpoint dibor sampai kedalaman tempat


bagian atas saringan wellpoint terletak minimum 100 cm di bawah
elevasi dasar galian (untuk tanah yang tidak UNIFORM).

Bila dasar galian terletak pada tanah lempung (clay), maka bagian
atas saringan berjarak kurang lebih 15 cm dari permukaan clay.

Bila lapisan tanah terdiri dari pasir halus, maka saringan harus
diletakkan sampai pada lapisan butir kasar. Hal ini untuk mencegah
agar partikel halus dari tanah tidak ikut tersedot oleh pompa.

Pada pemilihan sistem predrainage ini harus diperhatikan benar


ketersediaan saluran drainase yang dapat menampung debit air yang
harus dibuang per menitnya.

Bila tidak tersedia saluran drainase yang cukup, akan timbul masalah
baru, dalam rangka proses pengeringan (dewatering) dengan sistem
predrainage ini.

24
Untuk mengatasi masalah tersebut, biasanya air buangan dimasukkan
kembali ke dalam tanah dengan membuat sumur-sumur resapan.

Dalam hal ini installasi pipa-pipa yang ada tidak boleh terjadi
kebocoran, karana akan mengurangi efektifitas pompa yang
digunakan.

Bila elevasi dasar galian sangat dalam dari muka air tanah, sedang
maximum suction lift hanya 5-7 meter, maka dapat dipergunakan
dua cara:

 Multy Stage Wellpoint system


 Kombinasi deep well dengan single stage wellpoint.

c. Cut off

Prinsip metode cut off adalah memotong aliran bidang air tanah
melalui cara mengurung daerah galian dengan dinding, sehingga
daerah yang dikehendaki terbebas dari air tanah.

Dinding cut off dapat menggunakan :

 Stell sheet pile (tidak dipakai sebagai struktur dinding permanen)


 Concrete diaphragma wall (sebagai struktur dinding permanen)
 Concrete secant pile (dapat dipakai sebagai dinding permanen)

Metode cut off dipilih, bila :

 Kondisi sama dengan pemilihan predrainage


 Dinding cut off difungsikan juga sebagai penahan tanah atau
sebagai dinding basement
 Penurunan MAT akan mengganggu / merugikan lingkungan
sekitarnya

25
Ditinjau dari pergerakan air tanah, Metode dewatering cut off ini
paling baik, karena tidak terjadi aliran air tanah, dan tidak terjadi
penurunan muka air tanah di sekeliling luar daerah galian.

2.3.3 Metode Perbaikan Fisik dan Kimiawi


Perbaikan tanah ini mengubah komposisi fisik dan kimiawi tanah dengan
menambahkan admixture sehingga terjadi peningkatan kepadatan dan kohesi serta
modulus kekakuan tanah terhadap pembebanan
Jenis Perbaikan yang dilakukan
1. Penambahan Admixture (di permukaan dan pada kedalaman tertentu )
Dilakukan pada tanah permukaan (misalnya timbunan jalan raya, oprit jembatan,
lantai gudang, open storage, perkuatan lereng, mengurangi erosi dll.
Deep mixing dilakukan dengan membuat kolom kolom dalam tanah yang diisi
dengan admixture.
Beberapa pertimbangan yang perlu dilakukan dalam penggunaan admixtrure
yang cocok, antara lain adalah :
1. Jenis tanah yang akan distabilisasi
2. Ketentuan kekuatan tanah yang harus dicapai
3. Tipe dari perbaikan tanah yang diinginkan
4. Dana, alat, personil dan bahan yang tersedia
5. Kondisi lingkungan
6. Iklim
Bahan Yang Digunakan antara lain :
 Semen dan Kapur
Semen dan kapur memberikan hasil yang paling baik karena reksi yang
terjadi adalah hidrasi dan penggumpalan untuk jangka pendek serta
sementasi dan karbonasi pada jangka panjang. Namun stabilisasi dengan
kapur terbukti memberikan durabilitas yang lebih rendah dari pada
pemakaian semen
 Fly ash dan sekam abu padi
Fly ash dan sekam abu padi juga digunakan, namun reaksi/ikatan
kimiawi dengan tanah lemah, sehingga peningkatan kekuatan hanya

26
didapatkan dari pengisian pori-pori tanah karena ukuran partikelnya
yang kecil dan ringan. Pengisian pori-pori ini berakibat peningkatan
kerapatan dan kuat geser tanah.
 Bahan lain
Bahan lain digunakan adalah Terak baja, bitumen dan Tar serta beberapa
macam bahan kimia lainnya

2. Penggunaan Grouting
Grouting adalah menyuntikkan suatu bahan kimia pada suatu lokasi dalam tanah
yang merupakan perlemahan. Umumnya grouting digunakan pada daerah
terbatas (pada sebagian dari struktur) untuk memperkuat.

3. Metode Thermal (Heating & Freezing)


Groung freezing merupakan metode yang cocok untuk semua jenis tanah namun
jarang digunakan karena mahal
a. Perbaikan tanah dengan Reinforcement (Inklusi dan Pengekangan)
Prinsip kerja menggunakan metode ini adalah :
 Tanah hanya memiliki kekuatan terhadap tekanan
 Kuat geser tanah didapat dari gesekan antar butiran tanah akibat beban
vertikal/normal
 Pada saat butiran tanah saling bergerak untuk memobilisasi kekuatannya,
terjadi deformasi elastik dan deformasi geser tanah yang dapat dilihat
sebagai regangan (baik tekan maupun tarik).
 Bila pada tanah dipasang perkuatan, maka gesekan antar tanah dan
perkuatan akan menimbulkan ikatan diantara keduanya dan berfungsi
menahan tarikan yang terjadi dalam tanah

Komposit material yang dibentuk oleh reinforcement dan tanah butiran yang
berinteraksi melalui gaya gesekan yang terjadi pada kedua material akibat
gravitasi dan memberikan tahanan tarik kepada tanah untuk menahan beban-
beban yang bekerja (gaya luar + gaya gravitasi)

27
Inklusi berfungsi meningkatkan permeabilitas, menaikkan kuat geser,
menurunkan kompresibilitas, dengan syarat Inklusi tidak mengandung bahan
kimia yang korosif atau sebaliknya tanah juga tidak korosif.
Bahan - bahan yang digunakan
a. Fiber
b. Metal Strips
c. Meshes
d. Fabrics
e. Perkuatan insitu dengan: soil nailings dan angkur (baja, beton, geosintetis)

b. Perbaikan dengan Bahan Ringan


Prinsip dasar menggunakan metode ini adalah mengurangi beban (backfill)
dengan menggunakan bahan yang sangat ringan (0.02 gr/cm3), tahan air, dan
ramah lingkungan.
Perbaikan ini biasa menggunakan EPS Block, dimana EPS diletakkan pada
kondisi drainase yang baik sesuai dengan prinsip Hukum Archimedes. Muka
air tanah diharuskan berada di atas elevasi dasar dari EPS. Lalu kekuatan
daya apung memainkan peranan penting dalam rancangan ini. Bagian atasnya
adalah aplikasi dari faktor keamanan yang melawan pengaruh daya angkat
yang mungkin teriadi pada material ini. Selain itu terdapat pula faktor
keamanan dalam system drainase. Bila semua ini dilaksanakan, maka,
efektifitas kerja dan keamanan dari struktur jembatan dapat dicapai.
EPS Block diletakkan pada lapisan pasir yang dipadatkan dengan ketinggian
100-150 mm. Keakuratan ketinggiannya kurang lebih 10 mm melebihi setiap
panjang 3 meter.

28
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Teknologi konstruksi bangunan akhir - akhir ini mengalami kemajuan yang sangat
pesat. Hal ini bisa dilihat dari pesatnya pembangunan yang dilakukan baik di dalam negeri
maupun diluar negeri. Seiring perkembangan tersebut dituntut pula teknologi yang
sesuai dan memadai dengan kebutuhan yang ada. Para engineer juga sudah banyak
yang melakukan inovasi dalam dunia konstruksi ini baik dalam hal structural seperti
teknologi bahan beton atau baja maupun dalam hal desain. Dalam suatu struktur
bangunan, tanah merupakan bagian yang penting karena kebanyakan semua bangunan
menumpu pada suatu lapis tanah.
Pada suatu jenis tanah, tidak menutup kemungkinan adanya permasalahan yang
muncul baik dari segi daya dukung maupun penurunan akibat beban yang menumpu
pada tanah tersebut. Dari permasalahan yang muncul tersebut, maka diperlukan adanya
perbaikan tanah. Beberapa metode yang bisa digunakan diantaranya perbaikan tanah secara
mekanik, perbaikan tanah secara hidrolik, perbaikan tanah secara fisik dan kimiawi. Metode
tersebut dapat pilih disesuaikan dengan kondisi tanah dan konstruksi yang akan dibangun
diatas tanah tersebut.

3.2 SARAN
Dalam penyusunan tugas ini tidak lepas dari kekurangan dan ketidaksempurnaan. Oleh
karena itu saran yang mendukung sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan penulisan
selanjutnya.

29
DAFTAR PUSTAKA

1. Das, Braja, M., (1994), Principles of Geotechnical Engineering, PWS Publishing Company,
Boston
2. Harry, CH., (1992), Mekanika Tanah-1 dan Mekanika Tanah-2, Gramedia Pusat Utama,
Jakarta
3. Harry, CH., (2010), Stabilisasi Tanah untuk Perkerasan Jalan, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta
4. Welsh, J.P., (1987), Soil Improvement, American Society of Civil Engineers, New York.
5. Indrasurya B. Mochtar, (1991), Makalah Seminar Sehari Masalah Perbaikan Tanah di
Universitas Petra, Surabaya

30