Anda di halaman 1dari 19

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Menurut FKUI (2009), fraktur adalah rusaknya dan terputusnya


kontuinitas tulang, sedangkan menurut Boenges, ME, Moorhouse, MF dan
Geissler, AC (2009) fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. Trauma
servikal adalah suatu keadaan cedera patah tulang belakang servikal dan
medulla spinallis yang disebabkan oleh dislokasi, subluksasi, atau fraktur
vertebra servikalis dan ditandai dengan kompresi pada medulla spinalis
daerah servikal. Dislokasi servikal adalah lepasnya salah satu struktur dari
tulang servikal. Subluksasi servikal merupakan kondisi sebagian dari tulang
servikal lepas. Fraktur servikal adalah terputusnya hubungan dari badan
tulang vertebra servikalis (Muttaqin,2011). Cedera medulla spinalis adalah
suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan oleh benturan pada
daerah medulla spinalis. (smeltzer,2001).

Ada tujuh tulang vertebrae (tulang belakang) yang mendukung kepala dan
mengubungkan kebahu dan tubuh. Sebuah fraktur (patah/retak) disalah satu
tulang leher disebut fraktur cervikal atau kadang kadang juga disebut patah
tulang leher. Cedera tulang belakang adalah cedera mengenai
cervikalis,vertebralis dan lumbalis. Akibat trauma ; jatuh dari ketinggian,
kecelakaan lalulintas ,kecelakaan olah raga ,dsb. (Sjamsuhidayat,1997)

2.2 Etiologi
Cidera mendulla spinalis servikal disebabkan oleh trauma langsung yang
mengenai tulang belakang dimana tulang tersebut melampaui kemampuan
tulang belakang dalam melindungi saraf-saraf belakangnya, menurut Emma
(2011) trauma langsung tersebut dapat berupa :
a. Kecelakaan lalu lintas
b. Kecelakaan olahraga
c. Kecelakaan industri

3
d. Jatuh dari pohon/ bangunan
e. Luka tusuk
f. Luka tembak
g. Kejatuhan benda keras

2.3 Patofisiologi
Kolumna vertebralis normal dapat menahan tekanan yang berat dan
mempertahankan integritasnya tanpa mengalami kerusakan pada medulla
spinalis. Akan tetapi, beberapa mekanisme trauma tertentu dapat merusak
sistem pertahanan ini dapat mengakibatkan kerusakan pada kolumna
vertebralis dan medulla spinalis. Pada daerah kolumna servikal, kemungkinan
terjadinya cedera medulla spinalis adalah 40% trauma servikal dapat ditandai
dengan kerusakan kolumna vertebralis (fraktur,dislokasi, dan sublukasi).
Kompreso diskus, robeknya ligamen servikal, dan kompresi radiks saraf pada
setiap sisinya yang dapat menekan spinal dan menyebabkan kompresi radiks
dan distribusi saraf sesuai nsegmen dari tulang belakang servikal
(Price,2009).
Pada cedera hiperekstensi servikal, pukulan pada wajah dan dahi akan
memaksa kepala kebelakang dan tidak ada yang menyangga oksiput dan
diskus dapat rusak atau arkus saraf mengalami kerusakan. Pada cedera yang
stabil dan merupakan tipe fraktur vertebra yang paling sering ditemukan. Jika
ligamen posterior robek, cedera, bersifat tidak dan stabil badan vertebra
bagian atas dapat miring kedepan ditas badan vertebra dibawahnya. Trauma
servikal dapat menyebabkan cedera yang komponen vertebranya tidak akan
tergeser oleh gerakan normal sehingga sumsum tulang tidak rusak dan
biasanya lebih rendah (Muttaqin,2011).
Cedera yang tidak stabil adalah cedera yang tidak dapat mengalami
pergeseran lebih jauh dan perubahan struktur oseoligamentosa posterior
(pedikulis, sendi permukaan, arkus tulng posterior, ligament interspinosa, dan
supraspinosa), komponen pertengahan (seperttiga bagian poterior badan
vertebra, bagian posterior diskus intervetebra, dan ligament longitudinal

3
anterior (duapertiga bagian anterior korpus vertebra, bagian anterior diskus
intervertebra dan ligament longitudinal anterior). (Muttaqin,2011).
Cedera spinal tidak stabil menyebabkan resiko tingi cedera korda sehingga
menimbulkan masalah aktual atau resiko ketidakefektifan pola nafas dan
penurunan curah jantung akibat kehilangan kontrol organ visceral. Kompresi
saraf dan spasme otot servikal memberikan stimulasi nyeri, kompresi diskus
menyebabkan paralis dan respon sistemik dengan munculnya keluhan
mobilitas fisik, gangguan defekasi akibat penurunan peristatlik usus, dan
ketidakseimbangan nutrisi. (Price,2009).
Tindakan dekompresi dan stabilitas pada pascabedah akan menimbulkan
port de entree luka pascabedah yang menyebabkan masalah resiko tinggi
infeksi,. Selain itu, tindakan tersebut dapat menyebabkan kerusakan
neuromuskular, yang menimbulkan resiko trauma sekunder akibat
ketidaktahuan tentang teknik mobilisasi yang teapt. Kondisi psikologis kerena
prognosis penyakit menimbulkan respon anastesi. Manipulasi yang tidak
tepat akan menimbulkan keluhan nyeri dan hambatan mobilitas fisik.
(Muttaqin,2011).

2.4 Manifestasi Klinis


- Nyeri
Dirasakan langsung setelah terjadi trauma. Hal ini dikarenakan adanya
spasme otot, tekanan dari patahan tulang atau kerusakna jaringan
sekitarnya.
- Hilagnya fungsi (fungsiolaesa)
Penurunan fungsi pada daerah yang terjadi reaksi inflamasi /peradangan
- Deformitas
Pemisahan atau robekan pada kontinuitas tulang yang terjadi karena
adanya tekanan yang berlebihan pada tulang dan tulang tidak mampu
untuk menahannya.
- Pemendekan ekstremitas
- Krepitus

3
Merupakan rasa gemeretak yang terjdi jika bagian-bagian tulang
digerakan
- Pembengkakan lokal
Edema muncul lebih cepat dikarenakan cairan serosa yang terlokalisir
pada daerah fraktur dan extravasi daerah dijaringan sekitarnya
- Memar/ekimosis
Merupakan perubahan warn kulit sebagai akibat dari extravasi daerah
dijaringan sekitarnya
- Penurunan sensasi
Terjadi karena kerusakan saraf , terkena syaraf karena edema
- Spasme otot
Merupakan kontraksi otot involunter yag terjadi disekitar fraktur
- Shock hipovolemik
Shock terjadi sebagai kompensasi jika terjadi perdarahan hebat
(Suratun HKN,2008)

2.5 Pemeriksaan Penunjang


Menurut Doenges,(2000) ada pun pemeriksaan penunjang trauma servikal
yaitu :
1. Sinar X spinal :
Menentukan lokasi dan jenis cedera tulang (fraktur ,dislokasi ) untuk
kesejajaran, reduksi setelah dilakukan traksi atau operasi
2. CT scan :
Menentukan tempat luka/jejas, mengevaluasi gangguan struktural
3. MRI :
Mengidentifikasikan adanya kerusakan saraf spinal, edema dan kompresi.
4. Mielografi :
Untuk memperlihatkan kolumna spinalis (kanal vertebral) jika faktor
patofisiologisnya tidak jelas atau dicurigai adanya oklusi pada ruang
subarakhnoid medulla spinalis
5. Foto rontgen torak :

3
Memperlihatkan keadaan paru (contohnya : perubahan pada diafragma
,anterlektasis)
6. GDA :
Menunjukan kefektifan pertukaran gas atau upaya ventilasi

2.6 Penatalaksanaan
Menurut ENA, (2000) penatalaksanaan pada pasien trauma servikal yaitu :
1. Mempertahankan ABC (Airway, Breathing, Circulation)
2. Mengatur posisi kepala dan leher untuk mendukung airway : headtil, chin
lip, jaw trush. Jangan memutar atau menarik leher kebelakang
(hiperekstesi), mempertimbangkan pemasangan intubasi nasofaring.
3. Stabilasi tulang servikal dengan manual support, gunakan servikal collar,
imobilisasi lateral kepala, meletakan papan dibawah tulang belakang.
4. Stabilisasi tulang servikal sampai ada hasil pemeriksaan rontgen (C1-C7)
dengan menggunakan collar (mencegah hiperekstensi, fleksi dan rotasi),
member lipatan selimut dibawah pelvis kemudian mengikatnya.
5. Menyediakan oksigen tambahan .
6. Memonitor tanda-tanda vital meliputi RR, AGD (PaC02), dan pulse
oksimetri.
7. Menyediakan ventilasi mekanik jika diperlukan .
8. Memonitor tingkat kesadaran dan output urin untuk menentukan pengaruh
dari hipotensi dan bradikardi.
9. Meningkatkan aliran balik vena ke jantung.
10. Berikan antiemboli.
11. Tinggikan ekstremitas bawah.
12. Gunakan baju anti syok.
13. Menigkatkan tekanan darah.
14. Memonitor volume infus.
15. Berikan terapi farmakologi.
16. Berikan atropin sebagai indikasi untuk meningkatkan denyut nadi jika
terjadi gejala bradkardi.

3
17. Mengatur suhu ruangan untuk mnegurangi keparahan dari poikilothermy.
18. Mempersiapkan pasien untuk reposisi spina.
19. Memberikan obat-obatan untuk menjaga, melindungi dan spinal cord :
streoid dengan dosis tinggi diberikan dalam periode lebih dari 24 jam,
dimulai dari 8 jam setelh kejadian.
a. Memantau status neurologi pasien untuk mengetahui tingkat
kesadaran pasien.
b. Memasang NGT untuk mencegah distensi lambung dan kemungkinan
aspirasi jika ada indikasi.
c. Memasang kateter urine untuk pengosongan kandung kemih.
d. Mengubah posisi pasien untuk menghindari terjadinya dekubitus.
e. Mempersiapkan pasien ke pusat SCI ( jika diperlukan).
f. Mengupayakan pemenuhan kebutuhan pasien yang teridentifikasi
secara konsisten untuk menumbuhkan kepercayaan pasien pada tenaga
kesehatan.
g. Melibatkan orang terdekat untuk mendukung proses penyembuhan.

2.7 Komplikasi
Menurut Emma,(2011) komplikasi pada trauma servikal adalah :
1. Syok neurogenik
Merupakan hasil dari kerusakan jalur simpatik yang desending pada
medulla spinalis. Kondisi ini mengakibatkan kehilangan tonus vasomotor
dan kehilangan persarafan simpatis pada jantung sehingga menyebabkan
vasodilatasi pembuluh darah visceral serta ekstremitas bawah maka terjadi
penumpukan darah dan konsekuensinya terjadi hipotensi.
2. Syok spinal
Adalah keadaan flasid dan hilangnya refleks, terlihat setelah terjadinya
cedera medulla spinalis. Pada syok spinal mungkin akan tampak seperti
lesi komplit walaupun tidak seluruh bagian rusak
3. Hipoventilasi

3
Hal ini disebabkan karena parliis otot interkostal yang merupakan hasil
dari cedera yang mengenai medulla spinalis bagian didaerah servikal
bawah atau torakal atas
4. Hiperfleksia autonomic
Dikarakteristikan oleh sakit kepala berdenyut, keringat banyak, kongesti
nasal, bradikardi dan hipertensi.
5. Distres pernapasan
6. Distensi abdomen,paralitik ileus
7. Penurunan fungsi usus dan fungsi urine
8. Paralisis lengkap pada semua ekstremitas dan trunkus
BAB 3
KASUS & PEMBAHASAN

3.1 Kasus
Seorang klien dirawat di ruang penyakit dalam akibat fraktur
servikal post KLL pada tanggal 14 maret 2017 (tabrakan antara mobil dan
motor). Klien mengeluh nyeri pada bagian servikal. Nyeri bertambah saat
leher digerakan, skala 8, nyeri terus menerus, waktunya tidak menentu. TD
120/90 mmHg, N 70x/menit, RR 19 x/menit, suhu 36,5 ºC, edema (-) ,
kekuatan otot kaki tangan lemah, ekspresi wajah tampak meringis
kesakitan, konjungtiva anemis, mukosa bibir kering, keadaan gigi baik dan
lengkap, leher nampak miring kesamping, nyeri tekan pada leher (+),
bising usus (+), turgor kulit buruk, urine kateter (+). Selama sakit klien
melakukan segala aktivitas ditempat tidur dengan dibantu oleh keluarga.
Klien tidak boleh dilakukan mobilisasi sehingga perawat sulit ketika akan
memandikan. Rambut klien tampak bau karena sudah 4 hari tidak keramas
dan kulit klien juga lengket dan terdapat bau badan .

3.2 Asuhan Keperawatan


I. Pengkajian
Tgl MRS : 14 Maret 2017

3
Tgl pengkajian : 15 Maret 2017
Ruang : Kamar 5, Ruang Soehoed RS Rajawali Bandung
Jam : 09.00 WIB
No. rekam medis : 7509877
Diagnosa medis : Fraktur Servikal

A. Pengumpulan Data
1. Identitas Klien
Nama : Tn. A
Tempat, tanggal lahir : Bandung, 11 Januari 1967
Umur : 50 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Jl. Raya Gadobangkong Rt 05 Rw
04, Kec. Ngamprah Kab. Bandung
Barat
Agama : Islam
Suku : Sunda
Pendidikan : SMA

2. Identias Penanggung Jawab


Nama : Tn. R
Tempat, tanggal lahir :Bandung, 15 Agustus 1980
Umur : 26 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Suku : Sunda
Pendidikan : SMA
Hubungan : Anak kandung klien

3
Alamat : Jl. Raya Gadobangkong Rt 05 Rw
04, Kec. Ngamprah Kab. Bandung
Barat

B. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama :
Klien mengeluh nyeri pada leher
b. Riwayat Kesehatan Sekarang :
Seorang klien dirawat di ruang penyakit dalam akibat
fraktur servikal post KLL pada tanggal 14 maret 2017 (tabrakan
antara mobil dan motor). Saat dikaji klien mengeluh nyeri pada
bagian servikal. Nyeri bertambah saat leher digerakan, skala 8,
nyeri terus menerus, waktunya tidak menentu.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Klien sebelumnya tidak pernah mengalami trauma atau kecelakaan
yang membentur derah leher dan punggung .
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
-

C. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
Penampilan : Buruk
Kesadaran : Composmetis
TD : 120/90 mmHg
Nadi : 70 x/menit
RR : 19 x/menit
Suhu : 36,5˚c
b. Pengkajian Head To Toe
- Kepala : tidak ada lesi, distribusi rambut merata, rambut
klien tampak bau dan lengket, nyeri di kepala bagian

3
belakang wajah pasien mengerenyit saat di palpasi
kepalanya.
- Mata : bentuk simetris, konjungtiva anemis, sclera putih,
reaksi pupil terhadap cahaya (+), pergerakan bola mata
simetris, penglihatan klien baik dapat membaca/melihat
tanpa menggunakan kacamata.
- Hidung : bentuk hidung proposional, tidak ada lesi,
persebaran silia merata, tidak ada secret, tidak ada
pembengkakan ,tidak ada nyeri tekan, dapat membedakan
harum kopi & minyak kayu putih.
- Telinga : bentuk kedua telinga simetris, tidak ada lesi,
kebersihan cukup, klien tidak mengalami gangguan
pendengaran
- Mulut :Mukosa bibir kering , lidah bersih, tidak
adanya pendarahan pada gigi dan gusi, kebersihan cukup,
tidak ada benjolan di palatum mulut, keadaan gigi baik
dan lengkap.
- Leher : nampak miring kesamping, ada nyeri tekan pada
leher, tidak ada lesi, tidak adanya pembesaran kelenjar
limfe, adanya nyeri tekan ,
- Pemeriksaan thorax : Dada simetris, tidak ada lesi, tidak
ada pembengkakan, warna merata, pada saat bernafas
dada kanan dan dada kiri simetris mengembang dan
mengempis.
- Pemeriksaan abdomen : warna kuning langsat, bentuk
datar, tidak ada pembengkakan, tidak ada lesi, bising usus
10x/menit.
- Pemeriksaan Genitalia : Kebersihan cukup, tidak adanya
lesi, terpasang kateter urine.
- Pemeriksaan anus : Kebersihan cukup, tidak adanya lesi,
tidak adanya hemoroid.

3
- Pemeriksaan ekstremitas
Atas : tidak ada lesi, tidak ada edema. Tangan kiri dan tangan
kanan tidak bisa digerakan karena pasien lemah
Bawah : tidak ada lesi, tidak ada edema, kaki kiri dan kanan
tidak bisa digerakan karena pasien lemah. Turgor kulit kurang
elastis

4 4

4 4

D. POLA AKTIVITAS SEHARI-HARI

No. Jenis Aktivitas Di Rumah Di Rumah Sakit

1. Nutrisi

a. Makan - Klien makan 2x sehari 1 - Klien makan 2x sehari ⅟4


porsi nasi habis. porsi bubur.
Keluhan
- Tidak ada keluhan - Sulit mengunyah dan
menelan
b. Minum
- Klien minum 1 Liter/hari
- Klien minum 2 Liter/hari

2. Eliminasi

a. BAK - 5x sehari - 1300cc

- Kuning jernih - Kuning jernih

b. BAB
- 1-2x/hari - 1x/hari
- Lembek
- Lembek

3
- Kuning khas feses - Kuning khas feses

3. Istirahat

a. Malam 7-8 jam/hari 4-5 jam/hari


b. Siang
Tidak tidur siang 2-4 jam/hari
c. Keluhan
Tidak ada keluhan Klien mengeluh susah tidur
karena nyeri pada leher.

4. Personal Hygiene

Mandi 2x/hari Di seka 1x/hari


Gosok gigi 2x/hari 1x/hari
Keramas 3x/minggu -
Gunting kuku 1x/minggu -
Berpakain 2x/hari 1x/hari
Keluhan
- Klien tidak boleh
dilakukan mobilisasi
sehingga perawat sulit
ketika akan memandikan

5. Mobilisasi dan Aktivitas Klien biasanya berakrivitas Klien hanya dapat


secara rutin seperti bekerja. berbaring di tempat tidur.

E. Data Psikososial
Klien dapat menerima dengan sabar terhadap penyakit yang
dideritanya . klien juga dapat beradaptasi dengan baik
dilingkungan Rumah Sakit dan tim kesehatan.
F. Data Spriritual
Klien beragama islam, sebelum dirumah sakit klien tidak
pernah lupa beribadah 5 waktunya. Namun saat dirawat

3
diRumah sakit klien tidak dapat beribadah 5 waktu. Klien
terkadang hanya berdoa untuk meminta kesembuhannya.
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Sinar X spinal
2. CT scan

I. Analisa Data

No Data Etiologi problem


1 DS: klien mengeluh nyeri pada bagian Fraktur Nyeri akut
servikal

DO: klien terlihat kesakitan dengan


Terjadinya spasme otot
skala 8

Tekanan dari patahahan


tulang

Nyeri akut
2 DS: klien mengatakan sulit beraktifitas Terjadi perubahan Hambatan Mobilitas
karena jika bergerak leher terasa sakit struktur Fisik

DO:

- Klien tampak terbaring lemas Nyeri saat digerakan

- Kekuatan otot ektermitas lemas

Hambatan mobilitas
fisik

3
3. DS: klien mengatakan sudah 4 hari Penurunan fungsi sendi Defisit Perawatan Diri
tidak keramas Mandi

DO: rambut klien tampak bau, kulit


Deficit perawan diri
klien juga lengket dan terdapat bau
mandi
badan

Diagnosa keperawatan :

1. Nyeri akut
2. Hambatan mobilitas fisik
3. Defisit perawatan diri mandi

II. Nursing Care Planning (NCP)


No Diagnosa Tujuan/Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Keperawatan

1. Nyeri akut Setelah diberikan asuhan 1. Observasi 1. Untuk


keperawatan 4x24 jam TTV mengetah
nyeri dapat berkurang 2. Kaji nyeri ui keadaan
dengan kriteria hasil : 3. Ajarkan teknik umum
relaksasi pada klien
1. Adanya
klien 2. Mengetah
penurunan
4. Kolaborasi ui daerah
intensitas nyeri
dengan dokter nyeri,
skala 7
untuk kualitas
2. Ketidaknyamanan
pemberian nyeri,
akibat nyeri
analgesik kapan
berkurang.
nyeri
3. Mampu
dirasakan
megontrol nyeri

3
4. Melaporkan 3. Untuk
bahwa nyeri mengalihk
berkurang dengan a rasa
menggunakan nyeri
manajemen nyeri 4. Untuk
5. Mampu menguran
mengenali nyeri gi rasa
(skala,intensitas,f nyeri
rekuensi dan
tanda nyeri)
2. Hambatan Setelah diberikan asuhan 1. Monitor TTV 1. Untuk
mobilitas fisik keperawatan 4x24 jam 2. Konsultasi mengetahui
diharapkan masalah dengan terapi keadaan umum
teratasi dengan kriteria fisik klien
hasil : 3. Kaji
2. memberikan
kemampuan
1. Klien bisa terapi fisik pada
pasien dalam
melakukan pasien untuk
mobilisasi
aktifitas sedikit membantu
4. Ajarkan pasien
demi sedikit pemulihan
bagaimana
2. Mengerti tujuan
merubah posisi 3.mengetahui
dari peningkatan
dan berikan kemampuan
mobilitas
bantuan jika pasien dan
3. Mempergerakan
diperlukan mengetahui
penggunaan alat
adanya
bantu mobilitas
perkembangan

4. mempermudah
pasien mobilisasi

3. Defisit Setelah diberikan asuhan 1. Sediakan alat 1. Agar


perawatan diri keperawatan 3x24 jam mandi pasien mempermudah

3
mandi diharapkan masalah disamping klien
teratasi dengan kriteria tempat tidur melakukan
hasil : atau dikamar perawatan diri
mandi 2. Agar
1. Klien bisa mandi
2. Sediakan memberikan
secara mandiri
lingkungan kenyamanan
atau dibantu
yang pada klien
keluarga atau
terapeutik 3. Agar klien
perawat.
dengan dapat mandiri
2. Mampu
memastikan dalam
membersihkan
hangat, santai, melakukan
tubuh secara
pengalaman perbersihan
mandiri dengan
pribadi dan diri.
atau tanpa alat
personal
bantu
3. Berikan
3. Mampu untuk
bantuan
mempertahankan
sampai pasien
kebersihan dan
sepenuhnya
penampilan
dapat
dengan atau tanpa
mengasumsika
alat bantu
n perawatan
diri

III. Catatan Perkembangan

No Hari/ Tgl Diagnosa Implementasi Evaluasi

3
1. 15 Maret 2016 Nyeri akut 1. Mengbservasi TTV S:klien
2. Mengkaji nyeri mengatakan
3. Mengajarkan teknik masih nyeri
relaksasi pada klien
O:
4. Berkolaborasi dengan
dokter untuk - Ekspresi klien
pemberian analgesik meringis
kesakitan saat
leher digerakan

- Skala nyeri
berkurang
menjadi 7

A : masalah
belum teratasi

P : intervensi
dilanjutkan

2. 15 Maret 2016 Hambatan 1. Memonitor TTV S: klien


mobilitas fisik 2. Mengkonsultasikan mengatakan
dengan terapi fisik masih sulit
3. Mengkaji kemampuan bergerak karena
pasien dalam nyeri
mobilisasi
O:
4. Mengajarkan pasien
bagaimana merubah - klien masih
posisi dan berikan tampak lemas
bantuan jika - klien kesakitan
diperlukan saat bergerak

A: masalah

3
belum teratasi

P: intervensi
dilanjutkan

3. 15 Maret 2016 Defisit perawatan 1. Menyediakan alat S: klien


diri mandi mandi pasien mengatakan
disamping tempat tidur badan nya
atau dikamar mandi lengket
2. Menyediakan
O:
lingkungan yang
terapeutik dengan - klien tampak
memastikan hangat, merasakan tidak
santai, pengalaman nyaman
pribadi dan personal A: masalah
3. Memberikan bantuan belum teratasi
sampai pasien
P: intervensi
sepenuhnya dapat
dilanjutkan
mengasumsikan
perawatan diri

3
3