Anda di halaman 1dari 18

MASALAH SOSIAL DAN ETIKA BISNIS

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kewirausahaan

Dosen Pengampu: Ulya, S. Pd. I, M.Pd. I

Disusun Oleh :
Fatih Mubarok (166050039)

FAKULTAS AGAMA ISLAM


UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
2019/2020
DAFTAR ISI

BAB I ................................................................................................................................................. 3

PENDAHULUAN .............................................................................................................................. 3

A. Latar Belakang ....................................................................................................................... 3

B. Rumusan Masalah .................................................................................................................. 3

BAB II ................................................................................................................................................ 4

PEMBAHASAN ................................................................................................................................ 4

A. Pengertian Masalah Sosial ..................................................................................................... 4

B. Masalah Sosial Akibat Perubahan Sosial ............................................................................... 6

C. Masalah Sosial dan Disfungsi Sosial...................................................................................... 7

D. Tanggung Jawab Sosial terhadap perusahaan ........................................................................ 9

E. Alasan yang Mendorong Perusahaan Melaksanakan Tanggung Jawab Sosial. ................... 10

F. Macam-Macam Tanggung Jawab Sosial: ............................................................................. 12

G. Klasifikasi Masalah Sosial Yang Mendorong Tanggung Jawab Sosial Dalam Suatu
Perusahaan ................................................................................................................................ 14

H. Manfaat Dari Dilakukannya Tanggung Jawab Sosial Dalam Perusahaan ........................... 15

I. Pengertian Etika Bisnis ......................................................................................................... 16

J. Manfaat dari Etika Bisnis ...................................................................................................... 16

BAB III ............................................................................................................................................. 17

PENUTUP ........................................................................................................................................ 17

A. KESIMPULAN .................................................................................................................... 17

Daftar Pustaka .................................................................................................................................. 18


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hari demi hari perkembangan masyarakat Indonesia semakin kompleks.
bidang garapan dan intervensi pekerjaan sosial juga semakin luas. Globalisasi dan
industrialisasi telah membuka kesempatan bagi pekerja sosial untuk terlibat dalam
bidang yang relative baru. Dan tidaklah banyak terjadi konflik kepentingan antara
kepentingan masyarakat umum dan kepentingan perusahaan. Benturan kepentingan
tersebut banyak terjadi baik terhadap perusahaan besar, menengah ataupun
perusahaan kecil. Bentrokan kepentingan ini sering terjadi terutama dalam hal
ditimbulkannya polusi oleh perusahaan dalam menjalankan bisnisnya. Polusi ini
dapat berupa polusi udara, polusi air limbah, polusi suara dan bahkan polusi mental
kejiwaan. Sehingga dengan latar belakang itulah membuktikan bahwa tanggung
jawab sosial suatu bisnis, menjadi suatu topik yang cukup menonjol. Perusahaan
dituntut unuk lebih banyak memperhatikan aspek-aspek sosial dan menerapkan
etika bisnis secara jujur.
Pelaksanaan tanggung jawab social yang harus dilaksanakan oleh suatu
perusahaan menuntut diberlakukannya etika bisnis. Perusahaan yang tidak
memperhatikan kepentingan umum dan kemudian menimbulkan gangguan
lingkungan akan dianggap sebagai bisnis yang tidak etis. Dorongan pelaksanaan
etika bisnis itu pada umumnya datang dari luar yaitu dari lingkungan masyarakat.
Problem-problem sosial seperti kebersihan kota, kesehatan lingkungan, ketertiban
masyarakat, pelestarian lingkungan alam dan sebagainya, mendorong perusahaan
untuk melakukan kegiatan bisnisnya seiring dengan terciptanya kondisi tersebut.

B. Rumusan Masalah
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Masalah Sosial

Masalah sosial merupakan fenomena yang selalu ada pada setiap masyarakat di
belahan bumi manapun. Selama masyarakat terus mengalami proses perubahan, maka
masalah sosial akan terus muncul tanpa bisa dihindari serta sekaligus akan terus
mempengaruhi dimensi kehidupan setiap orang. Korupsi, kenakalan remaja,
disorganisasi keluarga, pendapatan yang rendah, drug abuse, kriminalitas, kekerasan
dan sebagainya adalah masalah-masalah yang menunjukan banyak orang yang
hidupnya tidak nyaman dan terganggu.
Masalah sosial ini penting dipelajari terutama oleh mereka yang secara
langsung berhubungan dengan aktivitas-aktivitas sosial, pengambil kebijakan serta
yang mengkaji secara langsung gejala ini. Dalam kajian ilmu sosial, ada kesulitan
khususnya dalam melakukan generalisasi dari masalah sosial hinggga menghasilkan
sebuah definisi. Hal ini dikarenakan banyaknya aspek serta dimensi dari masalah
sosial serta adanya relativitas persepsi masyarakat mengenai masalah ini.
Satu kondisi sosial di sebuah masyarakat bisa disebut masalah sosial sementara
di masyarakat lainnya tidak dianggap masalah sosial. Begitu juga dengan dimensi
persepsi masyarakat yang berubah dari waktu ke waktu mempengaruhi bentuk
masalah sosial sehingga satu fenomena sosial yang dianggap masalah pada masa lalu
saat ini tidak lagi dianggap sebagai masalah sosial dan begitu pula sebaliknya.
Perubahan masyarakat yang terus terjadi mempengaruhi munculnya masalah-masalah
sosial baru, yang di masa lalu belum terjadi. Masalah sosial sangatlah berhubungan
dengan persepsi serta nilai-nilai yang berlaku di sebuah masyarakat. Dengan demikian
untuk mempelajari masalah sosial perlu disadari adanya kompleksitas dari bidang
yang akan dipelajari. Banyaknya aspek dan dimensi dalam melakukan studi ini
berimplikasi pada kearifan mengindentifikasi dan mengkaji masalah serta menentukan
pendekatan dan strategi pemecahan masalah secara komprehensif.
Meski mengalami kesulitan membuat generalisasi untuk definisi maslaah
sosial, beberapa rumusan telah dicoba dibuat meski antara satu dengan yang lainnya
memiliki tekanan pada aspek yang berbeda. Namun demikian beberapa rumusan ini
diharapkan dapat mendekati prinsip yang lebih objektif dan universal. Parrilo (2002:4)
merumuskan empat elemen penting yang bisa menjadi pertimbangan suatu situasi
dianggap sebagai masalah sosial, yaitu:
1. Dapat menimbulkan berbagai kerugian baik terhadap keadaan fisik atau mental
baik pada individu atau pun pada masyarakat.
2. Merupakan pelanggaran terhadap satu atau beberapa nilai atau standar yang
dimiliki oleh sebagaian besar masyarakat atau mereka yang memiliki kekuatan
pengaruh di masyarakat.
3. Keadaan yang terus menerus terjadi memunculkan kebutuhan untuk dipecahkan
berdasarkan evaluasi dari berbagai kelompok di masyarkat.

Sedangakn Raab dan Selznick (1964, dalam Soetomo), menyatakan bahwa


tidak semua masalah dalam kehidupan manusia merupakan masalah sosial. Masalah
sosial pada dasarnya adalah masalah yang terjadi dalam hubungan antar warga
masyarakat. Hal ini menyangkut aturan dalam hubungan bersama baik formal maupun
informal. Raab dan Selznick menyebutkan masalah sosial bisa terjadi bila memenuhi
dua kriteria sebagai berikut:
1. Adanya hubungan antar warga masyarakat yang menghambat pencapaian tujuan
penting dari sebagian besar warga masyarakat.
2. Organisasi sosial menghadapi ancaman serius oleh ketidakmampuan mengatur
hubungan antar warga.
Ada juga definisi yang melihat masalah sosial sebagai keadaan yang
dipersepsikan relatif oleh masyarakat yang berbeda, yaitu yang dikemukakan oleh
Weinberg (1981), bahwa masalah sosial adalah situasi yang dinyatakan sebagai
keadaan yang bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut oleh sejumlah orang yang
cukup signifikan,dan mereka memiliki kesepakatan dibutuhkannya tindakan untuk
merubah keadaan tersebut.

Dari definisi tersebut dapat dkatakan bahwa sebuah kondisi sosial disebut
masalah sosial jika orang atau sekelompok orang yang memiliki pengaruh mnganggap
situasi tersebut sebagia masalah. Yang dimaksud pihak berpengaruh tersebut yaitu
bisa pihak yang memliki otoritas kekuasaan seperti pemerintah atau otoritas
kemasyarakatan seperti tokoh masyarakat, atau otoritas keilmuan seperti para ilmuwan
atau para ahli.

Dari definisi serta ciri-ciri mengenai masalah sosial, ada hal penting yang harus
dicermati, yaitu bahwa masalah sosial adalah sebuah kondisi sosial yang rusak, buruk,
dan tidak menyenangkan sehingga dari keadaan tersebut diperlukan adanya upaya
untuk memperbaiki keadaan tersebut.

B. Masalah Sosial Akibat Perubahan Sosial

Masyarakat setiap saat mengalami perubahan baik itu yang direncanakan atau
pun yang tidak direncanakan. Perubahan sosial terjadi ketika ada perubahan pada
struktur sosial yaitu pola-pola tingkah laku dan interaksi masyarakat, perubahan pada
dimensi status dan peranan, perubahan institusi, serta perubahan nilai-nilai di
masyarakat. Setiap perubahan pada satu dimensi, mengakibatkan perlunya
penyesuaian dari dimensi yang lainnya. Jika penyesuaian tidak terjadi, maka
dimungkinkan muncul masalah sosial akibat dari ketidaksesuaian tersebut. Misalnya
saat ini teknologi informasi mampu melintasi berbagai ruang budaya yang berbeda.
Satu sisi ada pengaruh positif akibat bertukarnya informasi tersebut seperti
berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, munculnya kesadaran mengenai
interdependesi dalam kesatuan global community, dan sebagainya. Namun di sisi lain
pengaruh buruk juga terjadi akibat pergesekan nilai budaya yang berbeda dan bertolak
belakang.

Pada wilayah sosial yang lebih kecil misalnya pada keluarga yang baru
terbentuk, tahap dan perkembangan di dalamnya membutuhkan pola perilaku,
peranan, dan interaksi yang sesuai dengan fungsi-fungsi keluarga yang seharusnya.
Bagaimana seorang perempuan yang tadinya hidup sendiri harus berperan sebagai
seorang istri bagi pasangan hidupnya dan ibu bagi anak-anaknya. Begitu pula seorang
pria yang semula memiliki pola hidup sendiri, maka setelah menikah harus berbagi
tanggung jawab bersama pasangan hidupnya sebagai suami dan ayah bagi anak-
anaknya.
Jika adaptasi dari perubahan tersebut tidak terjadi maka bisa memunculkan
masalah dalam keluarga tersebut misalnya ketidakmampuan suami yang harus
mencari nafkah sekaligus berperan sebagai kepala keluarga yang memimpin istri dan
anaknya, atau interaksi yang tidak dibangun dengan pola komunikasi yang tepat antara
anggota keluarga, tidak memiliki kemampuan dalam proses pembimbingan anak, bisa
menyebabkan konflik-konflik serta ketidakharmonisan keluarga sehingga bisa
berakhir dengan perceraian, kekerasan, atau ketidaklayakan pengasuhan anak.

C. Masalah Sosial dan Disfungsi Sosial

Setiap manusia menjalankan fungsi-fungsi tertentu untuk menjaga


kelangsungan hidupnya. Manusia akan berfungsi dengan baik jika ia dapat memenuhi
kebutuhan-kebutuhan hidup serta puas dengan keadaan diri, dapat menjalankan peran-
peran dalam kehidupannya dengan baik serta dapat melakukan interaksi positif dengan
manusia lainnya. Jika seseorang tidak bisa menjalankan fungsi-fungsi tersebut maka ia
mengalami disungsi sosial. Profesional yang bekerja membantu mengembalikan
keberfungsian sosial orang adalah pekerjaan sosial. Mereka bekerja dengan individu,
kelompok, keluaraga, masyarakat atau organisasi dengan basis pengetahuan serta
metode yang dimilikinya.

Orang dengan fungsionalitas sosial ditunjukkan dengan kemampuannya


menjalankan tugas-tugas kehidupan baik itu kehidupan pribadi maupun kehidupan
dengan lingkungan masyarakatnya. Tugas-tugas tersebut mencakup memenuhi
kebutuhan dasar (makanan, tempat tinggal, keselamatan, pemeliharaan kesehatan dan
perlindungan), kebutuhan personal (pedidikan, rekreasi, nilai, estetika, spiritual, dan
berprestasi), kebutuhan emosional (perasaan dimiliki dan memiliki, dukungan timbal
balik, kebersamaan), serta memiliki konsep diri yang positif (kepercayaan diri, harga
diri, serta identitas diri), (Barker,1987:152)

Sedangkan G. Thackeray dan Skidmore mengemukakan tiga aspek


fungsionalitas sosial yaitu, individu merasa berharga dan puas dengan keadaan diri,
puas dengan peran-perannya dalam hidup, serta puas dalam interaksinya dengan orang
lain. Jika terjadi ketidakpuasan dalam aspek-aspek itu, maka individu tersebut berada
dalam keadaan disfungsi sosial.
Menurut perspektif pekerjaan sosial, ada dua bentuk keadaan berkaitan dengan
fungsioalitas sosial. Pertama, adalah keadaan berfungsi sosial atau adaptive social
functioning. Ini ditunjukan dengan kemampuan orang, organisasi, atau lembaga-
lembaga menggunakan sumber-sumber personal, interpersonal, serta sumber-sumber
kelembagaan lain untuk memecahkan masalah atau memenuhi kebutuhannya.
Kemudian sumber-sumber tersebut secara relatif tersedia dan dapat diakses
(DuBois&Miley, 2005:14). Misalnya, seorang individu dikatakan berfungsi sosial jika
ia berhasil menyesuaikan diri atau bisa keluar dengan baik dari situasi tekanan dan
transisi pada tahap kehidupan seperti perkawinan atau perceraian, pemeliharaan anak,
ditinggal oleh orang yang dicintai, kena PHK, atau menjalani masa pensiun. Saat
masalah tersebut muncul mereka dapat mengatasi tekanan akibat masalah tersebut,
beradaptasi terhadap perubahan, dan melakukan penyesuaian dengan lingkunagn serta
situasi baru.

Bentuk kedua berkaitan dengan fungsionalitas sosial ini adalah disfungsi sosial
atau maladaptive social functioning . Hal ini terjadi jika individu, kelompok,
organisasi atau masyarakat tidak bisa keluar dari masalah yang dihadapi atau malah
keadaan menjadi memburuk karena kemampuan mengatasi masalah tidak dimiliki atau
mereka tidak memiliki inisiatif melakukan prubahan. Bisa saja situasinya orang yang
bermaslah menyadari bahwa mereka menghadapi masalah yang berat sehingga
menganggap diri mereka tidak berdaya. Misalnya anggota sebuah keluarga yang
memiliki masalah komunikasi serius, atau individu yang mengalami depresi berat,
kesendirian atau sebuah industri yang terancam produktivitasnya karena pegawainya
mengalami stress dalam level yang tinggi.

Masalah sosial dapat menyebabkan munculnya disfungsi sosial dan begitu pula
sebaliknya, keadaan disfungsi sosial mempengaruhi munculnya masalah sosial.
Misalnya anak yang terlantar dan terbuang karena fungsi-fungsi sosial dalam keluaga
tidak berjalan, maka anak tersebut akan mengalami kesulitan dalam menjalankan
tugas-tugas kehidupannya secara mandiri. Karena kebutuhan emosional dan
personalnya tidak terpenuhi ia cendrung memiliki konsep diri yang buruk (hal sama
dapat terjadi pada anak yang mendapatkan perlakuan kekerasan dalam keluarga). Jika
tidak ada penanganan dengan segera, maka anak tersebut berpotensi untuk bertingkah
laku menyimpang (deviant behavior).

Dengan demikian keadaan disfungsi sosial dapat menyebabkan munculnya


masalah sosial. Begitu pula sebaliknya masalah sosial dapat menyebabkan
terganggunya fungsionalitas sosial. Ini terjadi karena masalah sosial tersebut bisa
berpengaruh buruk terhadap wilayah-wilayah kehidupan yang lain. Misalnya, kondisi
kemiskinan yang kronis dapat menghambat berjalannya fungsionalitas seseorang
karena kondisi miskin tersebut berpegaruh pada pembentukan konsep diri yang buruk,
mengalami ketidakpuasan pribadi, kurangnya sarana dan prasarana untuk menjalankan
peran-perannya baik dalam kehidupan keluarga ataupun dengan masyarakat.

D. Tanggung Jawab Sosial terhadap perusahaan


Tanggung Jawab Sosial merupakan suatu pengakuan dari perusahaan bahwa
keputusan bisnis dapat mempengaruhi masyarakat (komunitas dan lingkungannya) dan
secara luas meliputi tanggung jawab perusahaan terhadap pelanggan, karyawan dan
Kreditur.
Penggunaan istilah Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau atau Corporate Social
Responsibility (CSR) akhir-akhir ini semakin populer dengan semakin meningkatnya
praktek tanggung jawab sosial perusahaan, dan diskusi-diskusi global, regional dan
nasional tentang CSR Istilah CSR yang mulai dikenal sejak tahun 1970-an, saat ini
menjadi salah satu bentuk inovasi bagi hubungan perusahaan dengan masyarakat dan
konsumen. CSR kini banyak diterapkan baik oleh perusahaan multi-nasional maupun
perusahaan nasional atau lokal. CSR adalah tentang nilai dan standar yang berkaitan
dengan beroperasinya sebuah perusahaan dalam suatu masyarakat.
CSR diartikan sebagai komitmen usaha untuk beroperasi secara legal dan etis yang
berkonstribusi pada peningkatan kualitas kehidupan karyawan dan keluarganya,
komunitas lokal dan masyarakat luas dalam kerangka mewujudkan pembangunan
berkelanjutan. CSR berakar dari etika dan prinsip-prinsip yang berlaku di Perusahaan
dan dimasyarakat. Etika yang dianut merupakan bagian dari budaya dan etika yang
dianut masyarakat merupakan bagian dari budaya masyarakat. Prinsip-prinsip yang
berlaku di masyarakat juga termasuk berbagai peraturan dan regulasi pemerintah
sebagai bagian dari sistem ketatanegaraan.
Menurut Jones (2001) seseorang atau lembaga dapat dinilai membuat keputusan
atau bertindak etis apabila:
1. Keputusan atau tindakan dilakukan berdasarkan nilai atau standar yang diterima
dan berlaku pada lingkungan organisasi yang bersangkutan.
2. Bersedia mengkomunikasikan keputusan tersebut kepada seluruh pihak yang
terkait.
3. Yakin orang lain akan setuju dengan keputusan tersebut atau keputusan tersebut
mungkin diterima dengan alasan etis
Suatu perusahaan seharusnya tidak hanya mengeruk keuntungan sebanyak
mungkin, tetapi juga mempunyai etika dalam bertindak menggunakan sumberdaya
manusia dan lingkungan guna turut mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
Pengukuran kinerja yang semata dicermati dari komponen keuangan dan keuntungan
tidak akan mampu membesarkan dan melestarikan, karena seringkali berhadapan
dengan konflik pekerja, konflik dengan masyarakat sekitar dan semakin jauh dari
prinsip pengelolaan lingkungan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.

E. Alasan yang Mendorong Perusahaan Melaksanakan Tanggung Jawab Sosial.


Ada beberapa alasan yang mendorong perusahaan melaksanakan tanggung jawab
sosialnya, diantaranya:
1. Alasan Sosial
Perusahaan melaksanakan CSR untuk memenuhi tangggung jawab sosial kepada
masyarakat. Sebagai pihak luar yang beroperasi di wilayah orang lain, perusahaan
dituntut untuk berlaku etis terhadap masyarakat sekitarnya. Perusahaan harus ikut
serta dalam pemenuhan kesejahteraan masyarakat dan juga menjaga lingkungan
dari kerusakan yang ditimbulkan.
2. Alasan Ekonomi
Motif perusahaan dalam melakukan CSR tetap berujung pada motif mencari
keuntungan. Perusahaan melakukan program CSR untuk menarik simpati
masyarakat dengan membangun image positif yang pada akhirnya tetap bertujuan
untuk meningkatkan profit.
3. Alasan hukum
UU PT No.40 Pasal 74 yang berisi kewajiban pelaksanaan CSR bagi perusahaan-
perusahaan yang terkait dengan sumber daya alam memperkuat pernyataan
perusahaan melakukan CSR karena alasan hukum. CSR dilakukan perusahaan
karena adanya tuntutan yang jika tidak dilakukan akan dikenai sanksi atau denda.
Adapun isi dari pasal tersebut antara lain :
a. Ayat 1, menjelaskan bahwa perseroan menjalankan kegiatan usahanya di
bidang yang berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan
tanggung jawab sosial dan lingkungan.
b. Ayat 2, menjelaskan bahwa tanggung jawab sosial dan lingkungan itu
merupakan kewajiban perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai
biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan
kepatutan dan kewajaran.
c. Ayat 3, menggariskan perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban
sebagaimana pasal 1 dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
4. Moralitas
Perusahaan harus bertanggung jawab kepada banyak pihak yang berkepentingan
terutama terkait dengan nilai-nilai moral dan keagamaan yang dianggap baik oleh
masyarakat. Hal tersebut bersifat tanpa mengharapkan balas jasa.
5. Pemurnian Kepentingan Sendiri
Perusahaan harus bertanggung jawab terhadap pihak-pihak yang berkepentingan
karena pertimbangan kompensasi. Perusahaan berharap akan dihargai karena
tindakan tanggung jawab mereka baik dalam jangka pendek maupun jangka
panjang.
6. Teori Investasi
Perusahaan harus bertanggung jawab terhadap stakeholder karena tindakan yang
dilakukan akan mencerminkan kinerja keuangan perusahaan.
7. Mempertahankan otonomi
Perusahaan harus bertanggung jawab terhadap stakeholder untuk menghindari
campur tangan kelompok-kelompok yang ada didalam lingkungan kerja dalam
pengambilan keputusan manajemen.
Di Indonesia, keberadaan peraturan ini justru membuat makna CSR semakin bias.
CSR bukan lagi sebagai tanggung jawab sosial yang bersifat sukarela dari
perusahaan bagi masyarakat sekitar namun berubah menjadi suatu keterpaksaan.
Apapun alasannya, hendaknya perusahaan tetap berpijak pada prinsip dasar dari
CSR itu sendiri.

F. Macam-Macam Tanggung Jawab Sosial:


Berikut ini adalah macam-macam tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh
perusahaan, antara lain:
 Tanggung Jawab Kepada Pelanggan
Tanggung jawab kepada pelanggan dibagi menjadi dua kategori, diantaranya
adalah:
1) Menyediakan barang dan jasa yang berkualitas
2) Memberikan harga barang dan jasa yang adil dan wajar
 Tanggung Jawab kepada Karyawan
Menurut Zimmerer Tanggung jawab terhadap karyawan dapat dilakukan
dengan cara:
a) Menghormati dan mendengarkan pendapat karyawan
b) Meminta input kepada karyawan
c) Memberi kepercayaan kepada karyawan
d) Memberi imbalan kepada karyawan yang bekerja dengan baik
e) Selalu menekankan kepercayaan kepada karyawan
 Tanggung Jawab Kepada Pemegang Saham
Perusahaan bertanggung jawab untuk memuaskan pemilik (pemegang saham)
dengan cara meyakinkan bahwa perusahaan membuat saham untuk
kepentingan pemilik dan dengan cara gaji karyawan dikaitkan dengan kinerja
perusahaan, dalam hal ini karyawan tinggal memfocuskan pada
memaksimalkan nilai perusahaan
 Tanggung Jawab Kepada Kreditor
Jika perusahaan mengalami masalah keuangan dan tidak dapat memenuhi
kewajibannnya, harus memberi tau para kreditor. Biasanya kreditor bersedia
memperpanjang jatuh tempo pembayaran serta memberi advis dalam
mengatasi masalah keuangan
 Tanggung Jawab Kepada Lingkungan
Perusahaan harus ramah lingkungan, artinya perusahaan harus memperhatikan,
melestarikan, dan menjaga lingkungan, misalnya tidak membuang limbah yang
mencemari lingkungan.
G. Klasifikasi Masalah Sosial Yang Mendorong Tanggung Jawab Sosial
Dalam Suatu Perusahaan
1) Penerapan Manajemen Orientasi Kemanusiaan.
Prosedur administrasi serta jenjang kewenangan yang berbelit-belit sering
menyebabkan tekanan batin bagi para pebisnis maupun pihak lain yang
berhubungan. Hubungan yang kurang manusiawi pun kerap terjadi antara
perusahaan dengan pihak luar.
Penerapan manajemen akan menimbulkan hubungan yang serasi, selaras, dan
seimbang antara pelaku bisnis dan dari pihak luar. Manfaat tersebut adalah,
sebagai berikut :
a) Peningkatan modal kerja karyawan yang berakibat membaiknya semangat
dan produktivitas kerja.
b) Adanya partisipasi bawahan dan timbulnya rasa ikut memiliki sehingga
tercipta kondisi manajemen parsitipatif.
c) Penurunan absen karyawan yang disebabkan kenyamanan kerja sebagai hasil
hubungan kerja yang menyenangkan dan baik.
d) Peningkatan mutu produksi yang diakibatkan oleh terbentuknya rasa percaya
diri karyawan.
e) Kepercayaan konsumen yang meningkat dan merupakan modal dasar bagi
perkembangan
selanjutnya dari perusahaan.
2) Ekologi dan gerakan pelestarian lingkungan.
Ekologi, yang menitikberatkan pada keseimbangan antara manusia dan alam
lingkungannya banyak dipengaruhi oleh proses produksi. Contohnya, maraknya
penebangan hutan sebagai bahan dasar industri, perburuan kulit ular,
penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak.
3) Penghematan energi.
Pengurasan secara besar-besaran energi yang berasal dari SDA yang tidak dapat
dipengaruhi seperti batubara, minyak, dan gas telah banyak terjadi. Kesadaran
bahwa SDA tersebut tidak dapat diperbaharui telah mendorong
dilaksanakannya proses efisiensi serta mencari pengganti sumber daya tersebut,
yang diantaranya adalah pemanfaatan tenaga surya, nuklir, angin air serta laut.
4) Partisipasi pembangunan bangsa.
Kesadaran masyarakat pebisnis terhadap suksesnya pembangunan sangat
diperlukan. Dengan adanya kesadaran tersebut, akan membantu pemerintah
untuk menangani masalah pengangguran dengan cara ikut melibatkan
penggunaan tenaga kerja yang ada.
5) Gerakan Konsumerisme.
Awal perkembangannya tahun 1960-an di Negara Barat yang berhasil
meberlakukan Undang-undang Perlindungan Konsumen. Berikut adalah Tujuan
dari gerakan konsumerisme ini adalah :
a) Memperoleh perhatian dan tindakan nyata dari kalangan bisnis
terhadap keluhan konsumen atas praktek bisnisnya.
b) Pelaksanaan strategi advertensi atau periklanan yang realistic dan
mendidik serta tidak menyesatkan masyarakat.
c) Diselenggarakan panel-panel disuksi antara wakil konsumen
dengan produsen.
d) Pelayanan purna jual yang lebih baik.
e) Berjalannya proses public relation (PR) yang lebih
menitikberatkan pada kepuasan konsumen daripada promosi
semata.
H. Manfaat Dari Dilakukannya Tanggung Jawab Sosial Dalam Perusahaan
Adapun manfaat yang didapatkan akibat dari dilakukannya tanggung jawab social
dalam suatu perusahaan, yaitu sebagai berikut :
1. Manfaat Bagi Perusahaan
Tanggung jawab sosial perusahaan tentunya akan menimbulkan citra positif
perusahaan di mata masyarakat dan pemerintah.
2. Manfaat Bagi Masyarakat
Selain kepentingan masyarakat terakomodasi, hubungan masyarakat dg
perusahaan akan lebih erat dlm situasi win-win solution.
3. Manfaat Bagi Pemerintah
Dalam hal ini pemerintah merasa memiliki partner dalam menjalankan misi sosial
dari pemerintah dalam hal tanggung jawab sosial.
I. Pengertian Etika Bisnis
Etika Bisnis merupakan perilaku nilai-nilai moral yang mengendalikan kebijakan
bisnis. Bisnis adalah fenomena sosial yang secara universal harus berpijak pada tata
nilai yang berkembang di masyarakat yang mencakup:
1. peraturan peraturan yang dikembangkan oleh pemerintah yang berkaitan dengan
jenis kegiatan bisnis atau nilai yang dibangun oleh perusahaan
2. Kaidah-kaidah sosio cultural yang berkembang dimasyarakat
dalam masalah kebijakan etis, organisasi akan mengalami pilihan sulit. Untuk
kepentingan tersebut banyak organisasi memafaatkan pendekatan normative yaitu
pendekatan yang didasarkan pada norma dan nilai yang berkembang
dimasayarakat untuk mengarahkan pengambilankeputusan. Terdapat 5 pendekatan
yang relevan bagi organisasi, yaitu :
a. Pendekatan Individualisme
b. Pendekatan Moral
c. Pendekataan Manfaat
d. Pendekatan Keadilan & Pendekatan Sosio Cultural
Dalam kegiatan pemasaran etika memicu munculnya konsep pemasaran
berwawasan sosial. Membangun etika bisnis tindakan etis mencerminkan perilaku
perusahaan dalam membangun bisni yaitu: kesadara dan pertimbangan etis &
pemikiran etis dan tindakan etis.

J. Manfaat dari Etika Bisnis


Adapun manfaat perusahaan memiliki perilaku Etika Bisnis adalah:
1. Perusahaan yang etis dan memiliki tanggung jawab sosial mendapatkan rasa hormat
dari steakholder
2. Kerangka kerja yang kokoh memandu manager dan karyawan perusahaan sewaktu
berhadapan dengan rumitnya pekerjaan dan tantangan jaringan kerja yang semakin
komplek
3. Suatau perusahaan akan terhindar dari seluruh pengaruh yang merusak berkaitan
dengan reputasi
4. Banyak perusahaan yang menerapkan perilaku etis dan tanggung jawab sosial
dapat menambah uang dalam bisnis mereka.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Tanggung jawab sosial merupakan suatu pengakuan perusahaan yang dapat
mempengaruhi masyarakat. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate
Social Responsibility (CSR) diartikan sebagai komitmen usaha untuk
beroperasi secara legal dan etis
2. Ada 7 (tujuh) alasan yang mendorong perusahaan melaksanakan tanggung
jawab sosialnya, diantaranya: alasan sosial, alasan ekonomi, alasan hukum,
moralitas, pemurnian kepentingan sendiri, teori investasi dan mempertahankan
ekonomi.
3. Tanggung jawab dalam bisnis yaitu : Tanggung jawab kepada
pelanggan,karyawan,pemegang saham dan kreditor
4. Ada beberapa masalah sosial yang mendorong tanggung jawab sosial dalam
suatu perusahaan, antara lain : Penerapan Manajemen Orientasi Kemanusiaan,
Ekologi dan gerakan pelestarian lingkungan, penghematan energi, Partisipasi
pembangunan bangsa, dan gerakan konsumerisme.
5. Ada 3 macam tanggung jawab sosial antara lain: tanggung jawab terhadap
perusahaan, masyarakat, dan pemeritah.
6. Pengertian Etika Bisnis merupakan perilaku nilai-nilai moral yang
mengendalikan kebijakan bisnis
7. Manfaat Etika Bisnis antara lain : terhindar dari seluruh pengaruh yang merusak
berkaitan dengan reputasi dan dapat menambah uang dalam bisnis mereka.
Daftar Pustaka

1. Gitosudarmo, Indriyo ; 2003 ; Pengantar Bisnis ; BPFE ; Yogyakarta


2. R.heru kristanto. Kewirausahaan Entrepreneurship. Graha Ilmu: yogyakarta. 2009
3. Suryana. Kewirausahaan Kiat dan Proses Menuju Sukses. Salemba Empat: Jakarta. 2008
4. Suryana, Yuyus dan Khatib Bayu. 2013. Kewirausahaan – Pendekatan Karakteristik
Wirausahawan Sukses. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.