Anda di halaman 1dari 21

DAFTAR ISI

JUDUL......................................................................................................................... i

DAFTAR ISI..................................................................................................................ii

KATA PENGANTAR. iii

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah Ilmu Kesehatan Anak ini dengan judul “ BATU EMPEDU “.

Dalam menyusun makalah ilmiah ini, penulis banyak memperoleh bantuan


serta bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin
menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dosen Pembimbing dan kepada teman
teman yang telah mendukung terselesaikannya makalah ini.

Penulis menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari
sempurna, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun guna sempurnanya makalah ini. Penulis berharap semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya.

Jember, 26 maret 2019

Penyusun

ii
BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Gangguan empedu adalah masalah atau gejala yang memengaruhi kantung


empedu, yaitu organ yang berbentuk seperti buah pir dan terletak tepat di bawah
hati. Semua gangguan pada organ ini langsung dikategorikan sebagai penyakit.

Kantung empedu berfungsi untuk menyimpan dan mengedarkan empedu,


yang terdiri dari lemak, kolesterol, dan cairan tubuh. Empedu digunakan oleh usus
kecil untuk menguraikan lemak dari makanan yang masuk ke tubuh, sehingga
tubuh akan mendapatkan vitamin dan mineral yang dibutuhkan. Segala masalah
pada kantung empedu akan menghambat fungsinya dan mengurangi kemampuan
tubuh untuk menyerap nutrisi yang dapat larut dalam lemak. Oleh karena itu,
semua masalah pada organ yang berukuran 4 inci ini harus segera ditangani.

Gangguan empedu dapat terjadi dalam berbagai kondisi, namun sebagian


besar di antaranya berkaitan dengan batu empedu. Batu empedu merupakan
masalah pada kantung empedu yang paling umum. Terkadang, benjolan yang
abnormal dapat timbul di dalam kantung empedu karena menumpuknya
kolesterol atau timbunan kalsium yang lama-kelamaan akan mengeras dan
menjadi batu.

Batu empedu dapat timbul di dalam kantung empedu atau di saluran empedu,
yang merupakan saluran penghubung antara kantung empedu dan usus kecil. Batu
empedu memiliki ukuran yang beragam, mulai dari 1-2 sampai 3-5 millimeter,
dan terkadang jumlahnya lebih dari satu. Batu empedu juga cenderung terus
bertambah besar apabila tidak diobati, sehingga dapat meningkatkan risiko
penyumbatan.

ii
Batu empedu adalah salah satu masalah kesehatan yang terjadi tanpa
gejala. Hampir 50% penderita batu empedu tidak merasakan gejala apa-apa, 30%
merasakan gejala nyeri dan 20% berkembang menjadi komplikasi. Sebagian besar
batu empedu, didiagnosa menderita maag dikarenakan rasa nyeri pada ulu hati,
padahal secara anatomi empedu terletak pada perut sebelah kanan atas. Untuk
mengetahui apakah tubuh kita terdapat batu empedu di gunakan suatu alat
pendeteksi batu empedu yang disebut ultrasound, yaitu dengan menggunakan
gelombang suara yang tidak dapat didengar telinga. Gelombang suara ni
diarahkan ke tubuh dan pantulan gelombangnya kemudian diolah komputer yang
akan menunjukkan ada tidaknya batu empedu.Selain itu batu empedu dapat
diketahui melalui foto sinar X dan pemeriksaan darah di laboratorium.

Di Asia termasuk Indonesia, faktor pencetus infeksi dapat disebabkan


kuman yang berasal dari makanan yang dikonsumsi. Infeksi bisa merambat ke
saluran sampai ke kantung empedu. Di Indonesia, penyebab utama bukan karena
lemak atau kolestrol, tetapi akibat infeksi-infeksi di usus. Infeksi ini menjalar
tanpa terasa menyebabkan peradangan pada saluyaran dan kantung empedu
sehingga berakibat cairan yang berada dikantung empedu mengendap dan
menimbulkan batu

Tujuan

Adapun tujuan dari asuhan keperawatan kolelitiasis yaitu:

1. Tujuan Umum
Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Farmakologi dan Toksikologi II
dan setelah dilakukan presentasi mahasiswa diharapkan mampu mendapatkan
gambaran tentang kolelitiasis.

2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengertan kolelitiasis
b. Untuk mengetahui anatomi dari kandung empedu
c. Untuk mengetahui klasifikasi dari kolelitiasis
d. Untuk memahami etiologi dari kolelitiasis
e. Untuk memahami patofisiologi dari kolelitiasis

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Batu empedu adalah timbunan kristal di dalam kandung empedu atau di


dalam saluran empedu. Batu yang di temukan di dalam kandung empedu disebut
kolelitiasis, sedangkan batu didalam saluran empedu disebut koledokolitiasis.

2.2 Anatomi

ii
Kandung empedu merupakan kantong otot kecil yang berfungsi untuk
menyimpan cairan empedu (cairan pencernaan berwarna kuning kehijauan yang
dihasilkan oleh hati). Kandung empedu memiliki bentuk seperti buah pir dengan
panjang 7-10 cm dan merupakan membran berotot. Terletak didalam fossa dari
permukaan visceral hati. Kandung empedu terbagi kedalam sebuah fundus, badan
dan leher.

Nama lain dari kandung empedu adalah Gallbladder, yakni tempat cairan
empedu dikumpulkan sebelum disekresikan kedalam usus halus.

Bagian-bagian dari kandung empedu, terdiri atas:

 Fundus vesikafelea, merupakan bagian kandung empedu yang paling akhir


setelah korpus vesikafelea.
 Korpus vesikafelea, bagian dari kandung empedu yang didalamnya berisi
getah empedu. Getah empedu adalah suatu cairan yang disekeresi oleh sel
hati sebanyak 500-1000 cc setiap harinya, sekresinya berjalan terus
menerus, jumlah produksi cairan empedu dapat meningkat pada saat
mencerna lemak.
 Leher kandung empedu. Merupakan saluran pertama tempat masuknya
getah empedu ke badan kandung empedu lalu berkumpul dan dipekatkan
dalam kandung empedu.
 Duktus sistikus. Panjangnya kurang lebih 3 ¾ cm. berjalan dari leher
kandung empedu dan bersambung dengan duktus hepatikus membentuk
saluran empedu ke duodenum.
 Duktus hepatikus, saluran yang keluar dari leher.
 Duktus koledokus saluran yang membawa empedu ke duodenum.

Kandung empedu tidak memiliki submukosa. Pembungkus pada kandung


empedu terdiri dari tiga lapis, yakni permukaan luar dari kandung empedu adalah
Visceral peritoneum, pada bagian tengah, otot dari dindingnya terdiri dari serat
otot halus (sel), dan disebelah dalam merupakan membran mukosa yang
tersambung dengan lapisan saluran empedu. Membran mukosanya terdiri atas sel-
sel epitel sederhana yang berbentuk sel tiang (silinder), disusun menyerupai epitel
pada permukaan lambung yang mengeluarkan sekret musin dan cepat
mengabsorpsi air dan elektrolit, tetapi tidak mensekresikan garam-garam empedu
dan pigmen, karena itu, cairan empedu menjadi pekat.

Kontraksi dari otot tersebut dipengaruhi oleh sistem hormonal yang menyebabkan
isi dari kandung empedu (cairan empedu) masuk ke pembuluh cystic.

Fungsi Kandung Empedu :

Kandung empedu memiliki fungsi sebagai tempat menyimpan cairan


empedu dan memekatkan cairan empedu yang ada didalamnya dengan cara
mengabsorpsi air dan elektrolit. Cairan empedu ini adalah cairan elektrolit yang

ii
dihasilkan oleh sel hati.

Pada individu normal, cairan empedu mengalir ke kandung empedu pada


saat katup Oddi tertutup.

Dalam kandung empedu, cairan empedu dipekatkan dengan mengabsorpsi


air. Derajat pemekatannya diperlihatkan oleh peningkatan konsentrasi zat-zat
padat. Cairan empedu yang dihasilkan oleh hati mengandung 97% air, sedangkan
kadar rata-rata air yang terkandung dalam cairan empedu yang telah tersimpan
didalam kandung empedu adalah 89%.

Bila saluran empedu dan duktus sistikus dijepit, maka tekanan dalam
saluran empedu akan naik sampai kira-kira 30 mm cairan empedu dalam 30 menit
dan sekresi empedu berhenti. Akan tetapi bila saluran empedu dijepit dan duktus
sistikus dibiarkan terbuka, air akan diabsorspi dalam kandung empedu dan
tekanan intrafilier naik hanya kira-kira 100 mm cairan empedu selama beberapa
jam.

Cairan yang disekresikan oleh sel-sel hepatosit dalam organ hati adalah
cairan yang berwarna kekuningan atau kecoklatan atau kuning kehijauan yang
disekresikan oleh sel-sel hati. Setiap hari sel-sel hati mensekresikan 800-1000 ml
cairan empedu dengan pH sekitar 7,6-8,6. Cairan empedu sebagian besar terdiri
atas air, garam-garam empedu, kolesterol, dan sebuah fosfolipid (lesitin), pigmen-
pigmen empedu dan beberapa ion-ion, serta zat-zat lain yang ada dalam larutan
elektrolit alkali yang mirip dengan getah pankreas.

Fungsi empedu adalah untuk membuang limbah tubuh tertentu (terutama


pigmen hasil pemecahan sel darah merah dan kelebihan kolesterol) serta
membantu pencernaan dan penyerapan lemak. Garam empedu menyebabkan
meningkatnya kelarutan kolesterol, lemak dan vitamin yang larut dalam lemak,
sehingga membantu penyerapannya dari usus. Hemoglobin yang berasal dari
penghancuran sel darah merah diubah menjadi bilirubin (pigmen utama dalam
empedu) dan dibuang ke dalam empedu. Berbagai protein yang memegang
peranan penting dalam fungsi empedu juga disekresi dalam empedu.

Proses Pembentukan Empedu :

Empedu sebagian besar adalah hasil dari excretory dan sebagian adalah
sekresi dari pencernaan. Garam-garam empedu termasuk kedalam kelompok
garam natrium dan kalium dari asam empedu yang berkonjugasi dengan glisin
atau taurin suatu derifat/turunan dari sistin, mempunyai peranan sebagai
pengemulsi, penghancuran dari molekul-molekul besar lemak menjadi suspensi
dari lemak dengan diameter ± 1 mm dan absorpsi dari lemak, tergantung dari
system pencernaannya. Terutama setelah garam-garam empedu bergabung dengan
lemak dan membentuk Micelles, kompleks yang larut dalam air sehingga lemak
dapat lebih mudah terserap dalam system pencernaan (efek hidrotrofik). Ukuran
lemak yang sangat kecil sehingga mempunyai luas permukaan yang lebar
sehingga kerja enzim lipase dari pancreas yang penting dalam pencernaan lemak
dapat berjalan dengan baik. Kolesterol larut dalam empedu karena danmya garam-
garam empedu dan lesitin.

Komposisi Getah Empedu :

Getah empedu adalah suatu cairan yang disekresi setiap hari oleh sel hati
yang dihasilkan setiap hari 5000-1000 cc, sekresinya berjalan terus menerus,
jumlah prouksi meningkat sewaktu mencerna lemak. Empedu berwarna kuning
kehijauan \yang terdiri dari 97 % air, pigmen empedu dan garam-garam empedu.

a. Pigmen empedu, terdiri dari biliverdin. Pigmen ini merupakan hasil


penguraian hemoglobin yang dilepas dari sel darah merah terdisintegrasi.

ii
Pigmen utamanya adalah bilirubin yang memberikan warna kuning pada
urine dan feses. Warna kekuningan pada jaringan (jaundice) merupakan
akibat dari peningkatan kadar bilirubin darah dan ini merupakan indikasi
kerusakan fungsi hati, peningkatan destruksi sel darah merah, atau obstruksi
duktus empedu oleh batu empedu.

b. Garam-garam empedu, yang terbentuk dari asam empedu yang berkaitan


dengan kolesterol dan asam amino. Setelah diekskresi kedalam usus garam
tersebut direabsorbsi dari ileum bagian bawah kembali kehati dan didaur
ulang kembali, peristiwa ini disebut sebagai sirkulasi enterohepatika garam
empedu.

Fungsi dari garam empedu dalam usus halus adalah :

 Emulsikan lemak, garam empedu mengemulsi globules lemak besar dalam


usus halus g kemudian dijadikan globules lemak lebih kecil dan area
permukaan yang lebih luas untuk kerja enzim.
 Absorbsi lemak, garam empedu juga membantu mengabsorbsi zat terlarut
lemak dengan cara memfasilitasi jalurnya menembus membran sel.
 Pengeluaran kolesterol dari tubuh, garam empedu berikatan dengan
kolesterol dan lesitin untuk membentuk agregasi kecil yang disebut micelle
yang akan dibuang melalui feses.

2.3 Etiologi

Komponen utama dari batu empedu adalah kolestrol, sebagian kecil


lainnya terbentuk dari garam kalsium. Cairan empedu mengandung sejumlah
besar kolestrol yang biasanya tetap berbentuk cairan. Jika cairan empedu menjadi
jenuh karena kolestrol, maka kolestrol bisa menjadi tidak larut dan membentuk
endapan diluar empedu.
Faktor genetik juga terlibat pada pembentukan batu empedu yang
dibuktikan oleh prevalensi batu empedu yang tersebar luas diantara berbagai
bangsa dan kelompok etnik tertentu.

Batu empedu didalam saluran empedu bisa mengakibatkan infeksi hebat


saluran empedu (kolangitis), infeksi pancreas (pankreatits) atau infeksi hati. Jika
saluran empedu tersumbat, maka bakteri akan tumbuh dan dengan segera
menimbulkan infeksi didalam saluran. Bakteri bisa menyebar melalui aliran darah
dan menyebabkan infeksi dibagian tubuh lainnya.

2.4 Patofisiologi

Pembentukan batu empedu terjadi karena zat tertentu dalam empedu yang hadir
dalam konsentrasi yang mendekati batas kelarutannya. Ketika empedu
terkonsentrasi di kantong empedu, dapat menjadi jenuh dengan zat ini, yang
kemudian mengendap dari larutan sebagai kristal mikroskopis. Kristal terjebak
dalam mukus kandung empedu, kandung empedu memproduksi endapan. Seiring
waktu, kristal tumbuh, agregat, dan bersatu untuk membentuk batu makroskopik.
Oklusi saluran oleh endapan dan / atau batu menghasilkan komplikasi penyakit
batu empedu.

2.4 Klasifikasi

Menurut gambaran makroskopis dan komposisi kimianya, batu empedu di


golongkankan atas 3 (tiga) golongan:

Batu kolesterol
Berbentuk oval, multifokal atau mulberry dan mengandung lebih dari
70% kolesterol. Lebih dari 90% batu empedu adalah kolesterol (batu yang

ii
mengandung > 50% kolesterol). Untuk terbentuknya batu kolesterol diperlukan 3
faktor utama :
 Supersaturasi kolesterol
 Hipomotilitas kandung empedu
 Nukleasi/ pembentukan nidus cepat.

Batu pigmen
Batu pigmen merupakan 10% dari total jenis baru empedu yang
mengandung <20% kolesterol. Jenisnya antara lain:

 Batu pigmen kalsium bilirubinan (pigmen coklat)


Berwarna coklat atau coklat tua, lunak, mudah dihancurkan dan
mengandung kalsium-bilirubinat sebagai komponen utama. Batu pigmen
cokelat terbentuk akibat adanya faktor stasis dan infeksi saluran empedu.
Stasis dapat disebabkan oleh adanya disfungsi sfingter Oddi, striktur,
operasi bilier, dan infeksi parasit. Bila terjadi infeksi saluran empedu,
khususnya E. Coli, kadar enzim B-glukoronidase yang berasal dari bakteri
akan dihidrolisasi menjadi bilirubin bebas dan asam glukoronat. Kalsium
mengikat bilirubin menjadi kalsium bilirubinat yang tidak larut. Dari
penelitian yang dilakukan didapatkan adanya hubungan erat antara infeksi
bakteri dan terbentuknya batu pigmen cokelat.umumnya batu pigmen
cokelat ini terbentuk di saluran empedu dalam empedu yang terinfeksi.

 Batu Pigmen Hitam


Berwarna hitam atau hitam kecoklatan, tidak berbentuk, seperti bubuk
dan kaya akan sisa zat hitam yang tak terekstraksi. Batu pigmen hitam
adalah tipe batu yang banyak ditemukan pada pasien dengan hemolisis
kronik atau sirosis hati. Batu pigmen hitam ini terutama terdiri dari derivat
polymerized bilirubin. Potogenesis terbentuknya batu ini belum jelas.
Umumnya batu pigmen hitam terbentuk dalam kandung empedu dengan
empedu yang steril.

Batu campuran
Batu campuran antara kolesterol dan pigmen dimana mengandung 20-50%
kolesterol.

BAB III

PEMBAHASAN

Batu empedu adalah batuan kecil yang berasal dari kolesterol, dan
terbentuk di saluran empedu manusia. Pada hampir sebagian besar kasus, batu
empedu ini tidak akan menimbulkan gejala apapun. Namun, terkadang batu ini
akan menyumbat bagian ujung empedu sehingga akan memicu rasa sakit
mendadak yang cukup hebat. Nyeri ini disebut dengan nyeri kolik, dan dapat
bertahan selama hitungan jam.

Ukuran batu empedu bermacam-macam. Ada yang sekecil butiran pasir


dan ada yang sebesar bola pingpong. Jumlah batu yang terbentuk dalam kantong

ii
empedu juga bervariasi, misalnya ada orang yang hanya memiliki satu buah batu
dan ada yang lebih banyak.

3.1 Penyebab Terbentuknya Batu Empedu

Batu empedu terbentuk akibat pengerasan kolesterol yang tertimbun dalam


cairan empedu. Hal ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara jumlah
kolesterol dan senyawa kimia dalam cairan tersebut.

3.2 Faktor – faktor yang meningkatkan terbentuknya Batu Empedu

Berikut adalah faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena batu


empedu:

 Faktor usia. Risiko penyakit batu ginjal akan bertambah seiring usia.
Penyakit ini umumnya dialami orang yang berusia di atas 40 tahun.
 Jenis kelamin. Risiko wanita untuk terkena penyakit batu empedu lebih
tinggi dibandingkan pria.

 Dampak melahirkan. Wanita yang pernah melahirkan memiliki risiko


lebih tinggi. Penyebabnya mungkin karena meningkatnya kadar kolesterol
akibat perubahan hormon estrogen selama masa kehamilan.

 Pengaruh berat badan. Risiko Anda akan meningkat jika mengalami


kelebihan berat badan, obesitas, hingga penurunan berat badan drastis.

3.3 Gejala Batu Empedu

Gejala utama batu empedu yaitu rasa sakit pada perut yang tiba-tiba, sakit
perut biasanya berlangsung 1-5 jam (meskipun kadang-kadang bisa berlangsung
hanya beberapa menit), dikenal sebagai kolik bilier.

Rasa sakit bisa dirasakan dibagian tengah perut, antara tulang dada dan
perut (ulu hati) Tepat di bawah tulang rusuk sebelah kanan, rasa sakit akan
menjalar ke samping dan belakang (punggung).

Rasa sakit terkadang dipicu oleh makan makanan berlemak, namun dapat
juga terjadi pada setiap saat sepanjang hari dan dapat membangunkan
penderitanya saat tidur di malam hari.

Selain rasa sakit kolik bilier, beberapa orang juga mengalami periode
berkeringat berlebihan (keringat dingin) dan merasa mual atau muntah.

3.4 Komplikasi Akibat Batu Empedu

ii
Batu empedu dapat menyebabkan masalah yang lebih serius jika sampai
menghalangi aliran empedu dalam waktu yang lama atau pindah ke organ lain
(seperti pankreas atau usus kecil). Jika hal ini terjadi, maka akan menimbulkan
gejala-gejala berikut:
 Demam dengan suhu tinggi 38 ° C (100.4 ° F) atau lebih
 Sakit perut lebih hebat
 Kulit dan mata menjadi kuning (jaundice)
 Kulit gatal
 Diare
 Menggigil
 Kebingungan
 Tidak nafsu makan

3.5 Diagnosa Batu Empedu

Gejala-gejala yang ditimbulkan batu empedu ini harus didiagnosis dengan


akurat agar pengobatan bisa dilakukan secara tepat. Maka, pemeriksaan apa saja
yang mungkin direkomendasikan adalah :

Ultrasonografi/USG

Pemeriksaan batu empedu yang biasa dilakukan adalah dengan USG


(ultrasonografi). Pemeriksaan standar ini berguna untuk melihat lokasi keberadaan
batu empedu pada hati dan kandung empedu.

Selain itu, metode ini akan membantu dokter melihat apakah juga terjadi
penyumbatan, infeksi atau ruptur pada kandung empedu. Keakuratan pemeriksaan
ini mencapai 95 persen.
Apalagi, jika pemeriksaan dilakukan saat penderita sedang mengeluhkan
gejalanya. Selain biaya yang relatif lebih murah, keunggulan metode ini adalah
tidak adanya efek samping. Sedangkan, kelemahan metode pemeriksaan ini adalah
kesulitan untuk melihat batu jika letaknya berada di saluran dan muara saluran
empedu.

Endoscopic Retrograde Cholangio-Pancreatography/ERCP

Metode ERCP digunakan untuk memastikan keberadaan batu, terutama


pada duktus koledokus. Prosedurnya dilakukan dengan memasukan pipa lentur
melalui mulut menuju lambung dan usus dua belas jari.

Setelah mencapai usus dua belas jari, pipa kecil (kanula) dimasukkan
menuju duktus koledokus setelah sebelumnya, zat kontras iodium disemprotkan
ketika pipa berada di pintu masuk duktus koledokus.

Bila keberadaan batu ditemukan dalam duktus koledokus, batu akan


langsung dikeluarkan saat itu juga. Karena itu, selain bersifat diagnostik, ERCP
juga bersifat terapi. Inilah keunggulan utamanya.

Magnetic Resonance Cholangio-Pancreatography/MRCP

Magnetic Resonance Cholangio-Pancreatography (MRCP) merupakan


pemeriksaan pencitraan yang menggunakan resonansi gelombang
elektromagnetik. Pemeriksaan ini bisa mendeteksi batu di kandung empedu dan
saluran empedu dengan sangat baik, bahkan apabila ada kanker pada saluran
empedu.

Tingkat keakuratan metode pemeriksaan ini mencapai 90% dan relatif


aman. Sayangnya, biaya pemeriksaan ini terbilang cukup mahal.

Pemeriksaan CT Scan

ii
Pemeriksaan CT Scan yang dilakukan akan memperlihatkan lebih detail
lagi mengenai keberadaan batu, ada atau tidaknya sumbatan, dan pelebaran
saluran empedu serta berbagai komplikasi yang terjadi seperti peradangan maupun
kandung empedu yang pecah (ruptur). Sayangnya, metode pemeriksaan ini lebih
mahal dibandingkan metode pemeriksaan dengan USG.

Hepatobilliary Scan/HIDA

HIDA scan sebenarnya tidak secara spesifik diperuntukkan untuk


mendeteksi keberadaan batu empedu, namun hanya digunakan untuk memastikan
apakah terjadi penyumbatan di duktus sistikus atau tidak, baik itu karena adanya
batu maupun peradangan.

Selain itu, dengan metode ini, dokter dapat memastikan bagaimana fungsi
ekskresi hati Anda, misalnya untuk mengetahui apakah ada gangguan dalam
proses pengeluaran garam empedu atau tidak.

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Gangguan empedu dapat terjadi dalam berbagai kondisi, namun sebagian


besar di antaranya berkaitan dengan batu empedu. Batu empedu merupakan
masalah pada kantung empedu yang paling umum. Terkadang, benjolan yang
abnormal dapat timbul di dalam kantung empedu karena menumpuknya
kolesterol atau timbunan kalsium yang lama-kelamaan akan mengeras dan
menjadi batu.
Kolagoga adalah zat atau obat yang digunakan sebagai peluruh atau
penghancur batu empedu. Obat yang sering digunakan untuk membantu
melarutkan batu empedu adalah asam kenodeoksikolat dan asam ursodeoksikolat.
Pasien batu empedu dianjurkan melakukan diet kolesterol dan pengobatan
dilanjutkan sampai 3 atau 4 bulan sesudah batunya melarut.

4.2 Saran

Dengan Informasi yang telah kita dapat dalam maalah ini sebaiknya kita
lebih bisa menjaga kesehatan agar terhindar dari penyakit batu empedu.

DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/37095725/GANGGUAN_BATU_EMPEDU

Dr. H. Y. 2009. Kuncara Aplikasi klinis patofisiologi: Pemeriksaan dan


manajemen, edisi 2. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.

Nucleus Precise Newsletter. 2011. Batu Empedu. Jakarta : PT.Nucleus Precise.

ii
Price A. Sylvia, lorraine M Wilson.2005. Patofisiologi konsep-konsep klinis
proses-proses penyakit, edisi 6, volume 1. Jakarta: EGC.

Sjamsuhidajat R, de Jong W. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta :


Penerbit Buku Kedokteran EGC.