Anda di halaman 1dari 2

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN

ASFIKSIA NEONATORUM DI RSUD S.K. LERIK KOTA KUPANG

Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat


dalam rangka peningkatan kualitas hidup, kecerdasan dan kesejahteraan masyarakat. Hal ini
kemudian dituangkan dalam rumusan Millennium Development Goals (MDGs) Angka Kematian
Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator untuk mengetahui derajat kesehatan suatu negara
dan bahkan untuk mengukur tingkat kemajuan suatu bangsa. Tingginya kematian bayi pada usia
28 hari pertama hingga satu tahun menunjukkan masih rendahnya kualitas sektor kesehatan
(BPS, 2012).
Upaya pemerintah untuk menurunkan AKI dan AKB dengan menggunakan pembangunan
berkelanjutan Sustainable Development Goals (SDGs) salah satunya adalah pada tahun 2030
mengakhiri kematian bayi dan balita yang dapat dicegah dengan seluruh negara berusaha
menurunkan angka kematian neonatal setidaknya 12 per 1000 kelahiran hidup. Program dalam
menurunkan AKI dan AKB dengan porposi kelahiran ditolong oleh tenaga kesehatan yang
terampil, ditolong oleh tenaga kesehatan yang terlatih dan persalinan difasilitas pelayanan
kesehatan (Kemenkes, 2015).
Menurut data dari World Health Organization (WHO) penyebab kematian anak berumur
di bawah 5 tahun di Indonesia disebabkan oleh pneumonia (22%), bayi yang lahir premature
(19%), diare (15%), asphyxia saat lahir (10%), anomali congenital (6%), sepsis neonatorum
(5%), malaria (1%) dan penyebab lainnya (19%). WHO menyebutkan bahwa pada tahun 2000 –
2010, Case Fatality Rate (CFR) asphyxia untuk bayi yang berusia dibawah 5 tahun di Indonesia
setiap tahunnya mencapai 11% (WHO, 2012).
Asfiksia neonatorum merupakan keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara
spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini erat kaitannya dengan hipoksia janin dalam uterus.
Hipoksia ini berhubungan dengan faktor faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan atau
segera lahir. Kejadian asfiksia bayi baru lahir juga disebabkan oleh bayi dengan kelahiran
prematur. Bayi asfiksia neonatorum yang mampu bertahan hidup jumlahnya cukup banyak,
namun dapat mengalami kerusakan di bagian otak. (Nugroho 2015). Asfiksia neonatorum adalah
keadaan gawat bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur, sehingga dapat meurunkan
oksigen dan makin meningkatkan karbon dioksida yang menimbulkan akibat buruk dalam
kehidupan lebih lanjut (Manuaba, 2007). Klasifikasi Asfiksia Berdasarkan nilai APGAR
(Appearance, Pulse, Grimace, Activity, Respiration) asfiksia diklasifikasikan menjadi 4, yaitu: 1.
Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3 2. Asfiksia ringan sedang dengan nilai APGAR 4-6 3.
Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9 4. Bayi normal dengan nilai APGAR
10 (Ghai, 2010)
Asfiksia neonatorum menempati penyebab kematian bayi ke 3 di dunia dalam periode awal
kehidupan (WHO, 2012). Setiap tahunnya kira-kira 3% (3,6 juta) dari 120 juta bayi baru lahir
mengalami asfiksia, hamper 1 juta bayi ini meninggal. WHO menyatakan bahwa AKB akibat
asfiksia di kawasan Asia Tenggara menempati urutan kedua yang paling tinggi yaitu sebesar 142
per 1000 setelah Afrika. Indonesia merupakan Negara dengan AKB dengan asfiksia tertinggi
kelima untuk negara ASEAN pada tahun 2011 yaitu 35 per 1000, dimana Myanmar 48 per 1000,
Laos dan Timor Laste 48 per 1000, Kamboja 36 per 1000 (Maryunani 2013).
Data dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 2010 tentang kasus
kematian neonatal karena asfiksia berjumlah 305 kasus. Pada tahun 2011 menurun menjadi 292
kasus. Pada tahun 2012, meningkat menjadi 360 kasus (Laporan Kesmas Dinkes NTT, 2013).
Berdasarkan laporan profil kesehatan Kota Kupang tahun 2017 menempati urutan ke 5 dengan
jumlah 3 kasus (Profil Kesehatan Kota Kupang,2017).
RSUD S. K Lerik Kota Kupang merupakan salah satu Rumah sakit yang memiliki kasus
asfiksia yang tinggi. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di RSUD S. K
Lerik Kota Kupang tercatat bahwa pada tahun 2017 jumlah kasus bayi yang mengalami asfiksia
berat berjumlah 29 orang serta asfiksia sedang berjumlah 166 orang. Kemudian pada tahun 2018
jumlah kasus bayi yang mengalami asfiksia berat berjumlah 46 orang serta asfiksia sedang
berjumlah 296 orang.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, penulis tertarik untuk melakukan
penelitian tentang “ Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Asfiksia
Neonatorum Di RSUD S.K. Lerik Kota Kupang ”