Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN PASIEN

DENGAN DIAGNOSA MEDIS BRONCHOPNEUMONIA

1. Definisi Penyakit
Pneumonia adalah penyakit infeksi menular yang merupakan penyebab
utama kematian pada balita di dunia. Bronkopneumonia adalah peradangan paru
yang biasanya dimulai dari bronkioli terminal dan disebabkan oleh bakteri, yang
mana pemberian antibiotik diindikasikan jika diagnosis dari pneumonia
bakterialditegakkan, pemilihannya didasarkan pada umur anak dan keparahan
penyakitnya(Staf Pengajar FKUI)

Bronchopneumonia adalah suatu peradangan paru yang biasanya menyerang


di bronkeoli terminal. Bronkeoli terminal tersumbat oleh eksudat mokopurulen yang
membentuk bercak-barcak konsolidasi di lobuli yang berdekatan. Penyakit ini sering
bersifat sekunder, menyertai infeksi saluran pernafasan atas, demam infeksi yang
spesifik dan penyakit yang melemahkan daya tahan tubuh (Nurarif & Kusuma. 2015)

Bronchopneumonia dapat juga dikatakan suatu keradangan pada parenkim


paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, ataupun benda aing (Hidayat, 2010)
Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa
bronkopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus
paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrat yang disebabkan oleh
bakteri,virus, jamur dan benda asing.
2. Klasifikasi
Berdasarkan Reeves :
a. Community Acquired Pneunomia dimulai sebagai penyakit pernafasan umum dan
bisa berkembang menjadi pneumonia. Pneumonia Streptococal merupakan
organisme penyebab umum. Tipe pneumonia ini biasanya menimpa kalangan anak-
anak atau kalangan orang tua.
b. Hospital Acquired Pneumonia dikenal sebagai pneumonia nosokomial. Organisme
seperti ini aeruginisa pseudomonas. Klibseilla atau aureus stapilococcus,
merupakan bakteri umum penyebab hospital acquired pneumonia.
c. Lobar dan Bronkopneumonia dikategorikan berdasarkan lokasi anatomi infeksi.
Sekarang ini pneumonia diklasifikasikan menurut organisme, bukan hanya menurut
lokasi anatominya saja.
d. Pneumonia viral, bakterial dan fungi dikategorikan berdasarkan pada agen
penyebabnya, kultur sensifitas dilakukan untuk mengidentifikasikan organisme
perusak.
3. Manifestasi Klinis
a. Kesulitan dan sakit pada saat pernafasan
 Nyeri pleuritik
 Nafas dangkal dan mendengkur
 Takipnea
b. Bunyi nafas di atas area yang menglami konsolidasi
 Mengecil, kemudian menjadi hilang
 Krekels, ronki, egofoni
c. Gerakan dada tidak simetris
d. Menggigil dan demam 38,8  C sampai 41,1C, delirium
e. Diaforesis
f. Anoreksia
g. Malaise
h. Batuk kental, produktif
 Sputum kuning kehijauan kemudian berubah menjadi kemerahan atau
berkarat
i. Gelisah
j. Sianosis
 Area sirkumoral
 Dasar kuku kebiruan
k. Masalah-masalah psikososial : disorientasi, ansietas.
4. Etiologi
a. Bakteri
Organisme gram posifif seperti : Steptococcus pneumonia, S. aerous, dan
streptococcus pyogenesis. Bakteri gram negatif seperti Haemophilus influenza,
klebsiella pneumonia dan P. Aeruginosa.
b. Virus
Disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui transmisi droplet.
Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama pneumonia virus.
c. Jamur
Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui
penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran
burung, tanah serta kompos.
d. Protozoa
Menimbulkan terjadinya Pneumocystis carinii pneumonia (CPC). Biasanya
menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi.
e. Aspirasi benda asing
f. Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya bronchopnemonia adalah daya tahan
tubuh yang menurun misalnya akibat malnutrisi energi protein (MEP), penyakit
menahun, pengobatan antibiotik yang tidak sempurna.
5. Anatomi Fisiologi
a. Anatomi sistem respirasi
1) Hidung
Merupakan saluran udara yang pertama yang mempunyai dua lubang
dipisahkan oleh sekat septum nasi. Di dalamnya terdapat bulu-bulu untuk
menyaring udara, debu dan kotoran. Selain itu terdapat juga konka nasalis
inferior, konka nasalis superior dan konka nasalis media yang berfungsi untuk
mengahangatkan udara.
2) Faring
Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan
makanan. Terdapat di bawah dasar pernapasan, di belakang rongga hidung, dan
mulut sebelah depan ruas tulang leher. Di bawah selaput lendir terdapat
jaringan ikat, juga di beberapa tempat terdapat folikel getah bening.
Pada kiri dan kanan dari faring terdapat dua buah tonsil. Rongga faring
dibagi dalam 3 bagian:
a) Nasofaring, sebelah atas tingginya sama dengan konka
b) Orofaring, bagian tengah yang tingginya sarna dengan istmus fausium.
c) Laringofaring, bagian bawah
3) Laring
Merupakan saluran udara dan bertindak sebelum sebagai pembentuk suara.
Terletak di depan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan
masuk ke dalam trakea di bawahnya. Laring dilapisi oleh selaput lendir, kecuali
pita suara dan bagian epiglottis yang dilapisi oleh sel epitelium berlapis.
4) Trakea
Merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16 – 20 cincin yang
terdiri dari tulang rawan yang berbentuk seperti tapal kuda yang berfungsi untuk
mempertahankan jalan napas agar tetap terbuka. Sebelah dalam diliputi oleh
selaput lendir yang berbulu getar yang disebut sel bersilia, yang berfungsi untuk
mengeluarkan benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernapasan.
5) Bronkus
Merupakan lanjutan dari trakea, ada 2 buah yang terdapat pada ketinggian
vertebra thorakalis IV dan V. mempunyai struktur serupa dengan trakea dan
dilapisi oleh jenis sel yang sama. Bronkus kanan lebih besar dan lebih pendek
daripada bronkus kiri, terdiri dari 6 – 8 cincin dan mempunyai 3 cabang. Bronkus
kiri terdiri dari 9 – 12 cincin dan mempunyai 2 cabang. Cabang bronkus yang
lebih kecil dinamakan bronkiolus, disini terdapat cincin dan terdapat gelembung
paru yang disebut alveolli.
6) Paru-paru
Merupakan alat tubuh yang sebagian besar dari terdiri dari gelembung-
gelembung. Di sinilah tempat terjadinya pertukaran gas, O2 masuk ke dalam
darah dan CO2 dikeluarkan dari darah.
Paru-paru di bagi dua, yaitu
a. Paru-paru kanan, terdiri dari tiga lobus yaitu lobus superior, lobus media, dan
lobus inferior. Paru-paru kanan mempunyai 10 segmen, 5 segmen pada lobus
superior, 2 segmen pada lobus medialis, dan 3 segmen pada lobus inferior.
b. Paru-paru kiri, terdiri dari 2 lobus, yaitu lobus superior dan lobus inferior.
Paru-paru kiri mempunyai 10 segmen; 5 segmen pada lobus superior, dan 5
segmen pada lobus inferior.
Paru paru dibungkus oleh selaput pleura, yang dibagi menjadi dua, yaitu :
a. Pleura visceral, yaitu selaput yang membungkus paru-paru
b. Pleura parietal, yaiut selaput yang melapisi rongga dada sebelah luar
Antara kedua pleura terdapat rongga yang disebut kavum pleura, dan berisi
sedikit cairan (eksudat) yang berguna untuk melumasi permukaannya dan
menghindari gesekan antara dinding dada pada saat bernapas.
Gambar 1 Anatomi Sistem Respirasi

b. Fisiologi sistem respirasi


Udara bergerak masuk dan keluar paru-paru karena ada selisih tekanan yang
terdapat antara atmosfir dan alveolus akibat kerja mekanik otot-otot. Seperti yang
telah diketahui, dinding toraks berfungsi sebagai penembus. Selama inspirasi,
volume toraks bertambah besar karena diafragma turun dan iga terangkat akibat
kontraksi beberapa otot yaitu sternokleidomastoideus mengangkat sternum ke atas
dan otot seratus, skalenus dan interkostalis eksternus mengangkat iga-iga.
(Price,1994)
Selama pernapasan tenang, ekspirasi merupakan gerakan pasif akibat
elastisitas dinding dada dan paru-paru. Pada waktu otot interkostalis eksternus
relaksasi, dinding dada turun dan lengkung diafragma naik ke atas ke dalam
rongga toraks, menyebabkan volume toraks berkurang. Pengurangan volume
toraks ini meningkatkan tekanan intrapleura maupun tekanan intrapulmonal.
Selisih tekanan antara saluran udara dan atmosfir menjadi terbalik, sehingga udara
mengalir keluar dari paru-paru sampai udara dan tekanan atmosfir menjadi sama
kembali pada akhir ekspirasi. (Price,1994)
Tahap kedua dari proses pernapasan mencakup proses difusi gas-gas
melintasi membrane alveolus kapiler yang tipis (tebalnya kurang dari 0,5 μm).
Kekuatan pendorong untuk pemindahan ini adalah selisih tekanan parsial antara
darah dan fase gas. Tekanan parsial oksigen dalam atmosfir pada permukaan laut
besarnya sekitar 149 mmHg. Pada waktu oksigen diinspirasi dan sampai di
alveolus maka tekanan parsial ini akan mengalami penurunan sampai sekiktar 103
mmHg. Penurunan tekanan parsial ini terjadi berdasarkan fakta bahwa udara
inspirasi tercampur dengan udara dalam ruangan sepi anatomic saluran udara dan
dengan uap air. Perbedaan tekanan karbondioksida antara darah dan alveolus yang
jauh lebih rendah menyebabkan karbondioksida berdifusi kedalam alveolus.
Karbondioksida ini kemudian dikeluarkan ke atmosfir.
Dalam keadaan beristirahat normal, difusi dan keseimbangan oksigen di
kapiler darah paru-paru dan alveolus berlangsung kira-kira 0,25 detik dari total
waktu kontak selama 0,75 detik. Hal ini menimbulkan kesan bahwa paru-paru
normal memiliki cukup cadangan waktu difusi. Pada beberapa penyakit, seperti
fibrosis paru, udara dapat menebal dan difusi melambat sehingga ekuilibrium
mungkin tidak lengkap, terutama sewaktu berolahraga dimana waktu kontak total
berkurang. Jadi, blok difusi dapat mendukung terjadinya hipoksemia, tetapi tidak
diakui sebagai faktor utama.
Fungsi pernapasan adalah sebagai berikut :
1) Mengambil O2 yang kemudian dibawa oleh darah ke seluruh tubuh (sel-selnya)
untuk mengadakan pembakaran.
2) Mengeluarkan CO2 yang terjadi sebagai sisa dari pembakaran, kemudian
dibawa oleh darah ke paru-paru untuk dibuang.
3) Menghangatkan dan melembabkan udara.
6. Patofisiologi
Bronkopneumonia merupakan infeksi sekunder yang biasanya disebabkan oleh
virus penyebab bronchopneumonia yang masuk ke saluran pernafasan sehingga
terjadi peradangan broncus dan alveolus. Inflamasi bronkus ditandai adanya
penumpukan sekret, sehingga terjadi demam, batuk produktif, ronchi positif dan
mual. Bila penyebaran kuman sudah mencapai alveolus maka komplikasi yang
terjadi adalah kolaps alveoli, fibrosis, emfisema dan atelektasis.
Kolaps alveoli akan mengakibatkan penyempitan jalan napas, sesak napas, dan
napas ronchi. Fibrosis bisa menyebabkan penurunan fungsi paru dan penurunan
produksi surfaktan sebagai pelumas yang berpungsi untuk melembabkan rongga
fleura. Emfisema (tertimbunnya cairan atau pus dalam rongga paru) adalah tindak
lanjut dari pembedahan. Atelektasis mengakibatkan peningkatan frekuensi napas,
hipoksemia, acidosis respiratori, pada klien terjadi sianosis, dispnea dan kelelahan
yang akan mengakibatkan terjadinya gagal napas. (Smeltzer, Suzanne C, 2001)
Jamur, virus, bakteri, protozoa
 Pederita sakit berat yang
dirawat di RS
 Penderita dengan supresi
sistem kekebalan tubuh
 Kontaminasi peralatan RS
Saluran napas bagian bawah

Peningkatan produksi Bronchiolus


secret Stimulasi chemoreseptor
hipotalamus

Alveolus
Akumulasi secret
Set point bertambah
Reaksi peradangan pada
Obstruksi jalan napas bronchus dan alveolus

Fibrosus dan
pelebaran Respon menggigil
Gangguan ventilasi Rangsangan batuk

Atelektasis Reaksi
peningkatan
Bersihan jalan panas tubuh
Nyeri pleuritik
nafas tidak efektif Gangguan
difusi
Hipertermi
Gangguan rasa
Peningkatan nyaman nyeri Gangguan
frekuensi pertukaran
napas gas
Evaporasi
meningkat

Perangsangan RAS Resiko penyebaran O2 kejaringan


infeksi menurun Cairan tubuh
berkurang

Susah tidur Distensi abdomen Kelemahan


Defisit volume
cairan

Perubahan pola tidur Muntah, anoreksia Intoleransi


aktifitas
Ancaman kehidupan
Metabolisme Kompensasi
meningkat cadangan lemak
digunakan tubuh
Ansietas (orang tua)
Nutrisi kurang
dari kebutuhan
Gangguan tumbang Penurunan status gizi
7. Kemungkinan Data Focus
a. Anamnesa
 Identitas
1. Data umum meliputi : ruang rawat, kamar, tanggal masuk, tanggal pengkajian,
diagnosa medis, perawat yang mengkaji, nomor medical record.
2. Identitas klien dan keluarga klien meliputi : nama, umur, tanggal lahir, jenis
kelamin, agama, suku bangsa dan alamat.
3. Ayah meliputi : nama, umur, agama, pendidikan, pekerjaan, dan alamat
4. Ibu meliputi : nama, umur, agama, pendidikan, pekerjaan, dan alamat saudara
kandung meliputi: umur, jenis kelamin dan pendidikan
 Riwayat Kesehatan
1. Keluhan Utama
Keluhan utama penyebab klien sampai dibawa ke rumah sakit.
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
 Provocative, yaitu penyebab/hal-hal yang mendahului sebelum terjadi
keluhan utama. Pada pasien bronchopneumonia biasanya didahului oleh
infeksi traktus respiratorius atas.
 Qualitas/quantitas, yaitu seberapa berat keluhan dirasakan, bagaimana
rasanya seberapa sering terjadinya. Pada pasien bronchopnemonia keluhan
yang dirasakan yaitu sesak nafas, dan demam tinggi sampai kejang.
 Region/radiasi, yaitu lokasi keluhan utama tersebut dirasakan/ditemukan,
daerah/area penyebaran sampai kemana. Pada pasien bronchopnemonia
biasanya sesak dirasakan pada seluruh daerah dada.
 Severity scale, yaitu skala keperawatan/tingkat kegawatan sampai seberapa
jauh. Pada pasien bronchopnemonia biasanya sesak dirasakan sangat berat
diikuti oleh demam tinggi dan kejang sampai terjadi penurunan kesadaran.
 Timing, yaitu kapan keluhan tersebut mulai ditemukan/dirasakan pada
pasien bronchopnemonia keluhan dirasakan berat pada saat malam hari dan
aktifitas yang berlebihan.
3. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Meliputi penyakit yang pernah dialami (apa kapan dirawat/tidak dimana,
reaksi anak), pernah dirawat (dimana, kapan, berapa lama, bagaimana reaksi
anak), pengobatan yang pernah diberikan (jenis, berapa lama, dosis), tindakan
medis (operasi, vena pungtie dan lain-lain) alergi atau tidak. Adanya riwayat
infeksi saluran pernapasan sebelumnya : batuk, pilek, demam, anorexia, sukar
menelan, mual dan muntah. Riwayat penyakit yang berhubungan dengan
imunitas seperti malnutrisi, anggota keluarga lain yang mengalami sakit
saluran pernapasan.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Meliputi keluarga inti, ayah, ibu, nenek, kakek, parnan, bibi dan lain- lain,
penyakit yang pernah diderita/masih diderita penyakit menular, penyakit
keturunan dan lain-lain.
5. Riwayat Kehamilan
a. Pre Natal
Meliputi penyakit ibu selama hamil, perdarahan, makanan pantangan,
pemeriksaan kehamilan.
 Trisemester I (0-12 minggu) tiap 4 minggu (7 kali pemeriksaan)
 Trisemester II (13-24 minggu) : tiap 2 minggu (7 kali pemeriksaan)
 Trisemester III (25-36 minggu) : tiap minggu sampai bayi lahir imunisasi
TT 2 kali selama kehamilan
b. Intra Natal
Meliputi : bayi waktu lahir ditolong siapa, jenis persalinan, Apgar score,
berat badan lahir, adakah proses kelahiran yang lama, perdarahan, posisi
janin waktu lahir.
c. Post Natal
Meliputi kesehatan ibu yang buruk pada masa post natal, kesehatan
bayi, kelainan congenital, infeksi, hipo/hipertermin nutrisi (colostrums)
segera setelah lahir, menunggu asi keluar diganti pasi, pantangan makanan
ibu.
6. Riwayat Tumbuh Kembang
Meliputi kejadian penting pada perkembangan masa kanak-kanak seperti
tengkurap, berjalan, imunisasi dan lain-lain.
7. Riwayat Psikologis
a. Pola interaksi, meliputi dengan orang tua, teman dan orang lain
b. Pola kognitif, meliputi kemampuan berfikir, berbahasa dan intelegensi
c. Pola emosi, meliputi bila marah, sedih, takut, gembira dan lain-lain
d. Konsep diri meliputi penilaian atau pandangan terhadap dirinya; harga diri,
bodi image, ideal diri / cita-cita hal yang terbaik, dan aktualisasi diri.
e. Pola pertahanan diri, meliputi bagaiman keluarga menghadapi masalah yang
dihadapi. (Anastasia anne, 2006)
8. Riwayat Sosial
Yang harus dikaji adalah pola kultural atau norma yang berlaku, rekreasi,
lingkungan tempat tinggal klien dan keadaan ekonomi.
9. Kebiasaan Sehari-hari
Meliputi pola nutrisi, eliminasi, istirahat, aktifitas seperti bermain dan
personal hygiene.
b. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum
 Pengukuran pertumbuhan meliputi : tinggi badan, berat badan, lingkar
kepala atas dan lingkar dada
 Pengukuran tanda vital meliputi : tensi darah, nadi, respirasi dan suhu
 Keadaan sistem tubuh
2. Sistem optalmikus
 Inspeksi : bentuk, warna konjunctiva, pupil, dan sklera
 Palpasi : adanya oedema, massa dan peradangan.
 Pada pasien bronchopneumoni biasanya ditemukan perubahan warna
sklera mata bila terjadi hipertermi.
3. Sistem respiratorik
 Inspeksi : observasi penampilan umum, konfigurasi thorak, kaji terhadap
area intercosta dan penggunaan otot tambahan, evaluasi kulit, bibir dan
membran mukosa, kaji kuku mengenai warnanya. Palpasi mengetahui
adanya masa, pembesaran kelenjar limfe, bengkak, nyeri, pulpasi, krepitasi
dan fokal fremitus
 Perkusi : untuk mengetahui batas dan keadaan paru-paru
 Auskultasi : untuk mengevaluasi bunyi nafas yang meliputi frekuensi,
kualitas, tipe dan adanya bunyi tambahan.
 Pada penderita bronchopneumonia biasanya ditemukan dispneu,
pernafasan cepat dan dangkal, pernafasan cuping hidung, dan penggunaan
otot-otot tambahan, suara nafas abnormal (ronchi) dan batuk dengan
produksi sputum.
4. Sistem kardiovaskuler
 Inspeksi : warna kulit, anggota tubuh dan membran mukosa, pelpebra
anemis atau tidak, periksa prekordium dan adanya oedema palpasi: seluruh
dada terhadap impuls apikal, getaran dan nyeri tekan, palpasi nadi dan
oedema perifer
 Perkusi : untuk mengetahui batas jantung
 Auskultasi : untuk mendengarkan bunyi akibat vibrasi karena kegiatan
jantung.
 Pada bronchopneumonia biasanya ditemukan hipotensi, tanda-tanda
sianosis pada mulut dan hidung, nadi cepat dan lemah.
5. Sistem gastro intestinal
 Inspeksi : mengetahui keadaan warna, lesi / kemerahan pada abdomen dan
gerakan abdomen.
 Auskultasi : untuk mengetahui frekuensi, nada dan intensitas bising usus
yang dihasilkan
 Perkusi : mengetahui adanya gelembung udara dalam saluran cerna dan
pekak hati.
 Palpasi : untuk merasakan adanya spasme otot, nyeri tekan, masa krepitasi
subkutan dan organ abdomen.
 Pada bronchopneumonia biasanya ditemukan diare, mual, muntah,
penurunan berat badan dan distensi abdomen.
6. Sistem neurologis
 Inspeksi:untuk mengetahui penampilan umum dan perilaku pasien
 Perkusi : mengetahui refleks pasien.
 Pada bronchopneumonia biasanya ditemukan dalam keadaan gelisah, bila
suhu terus-menerus meningkat dapat menimbulkan kejang dan penurunan
kesadaran.
7. Sistem muskulo skeletal
 Inspeksi : mengetahui keadaan penampilan umum dan keadaan
exstremitas.
 Palpasi : mengetahui masa dan keadaan otot
 Perkusi : untuk mengetahui adanya reflek dan kekuatan otot
 Pada bronchopneumonia biasanya ditemukan dalam keadaan kelelahan,
tonus otot, email, penurunan kekuatan otot, dan intoleransi aktifitas.
8. Sistem urogenetalia
 Inspeksi : mengetahui warna, tekstur, luka memar pada kulit dan
perhatikan keadaan panggul dengan adanya mass /pembesaran.
c. Pemeriksaan Diagnostic
1) Foto thorax
Pada foto thorax Bronchopneumonia terdapat bercak-bercak infiltrat pada
satu atau beberapa lobus. Jika pada pneumonia lobaris terlihat adanya
konsolidasi pada satu atau beberapa lobus.
2) Laboratorium
 Terjadi leukositosis pada pneumonia bakterial
 Nilai analisa gas darah : untuk mengetahui status kardiopulmoner yang
berhubungan dengan oksigenasi
 Hitung darah lengkap dan hitung jenis: digunakan untuk menetapkan
adanya anemia, infeksi dan proses inflamasi
 Pewarnaan gram : untuk seleksi awal anti mikroba
 Kultur darah spesimen darah untuk menetapkan agen penyebab seperti
virus
3) Tes kulit untuk tuberkulin : untuk mengesampingkan kemungkinan terjadi
tuberkulosis jika anak tidak berespon terhadap pengobatan
4) Tes fungsi paru : digunakan untuk mengevaluasi fungsi paru, menetapkan
luas dan beratnya penyakit dan membantu memperbaiki keadaan.
5) Spirometri statik digunakan untuk mengkaji jumlah udara yang diinspirasi
7. Penatalaksanaan Medis
Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi, tetapi karena hal itu
perlu waktu, dan pasien perlu therapy secepatnya maka biasanya diberkan :
a. Penisillin 50.000 U/ kgbb/hari, ditambah dengan chloramfenicol 50-70
mg/kgbb/hari atau diberkan antibiotic yang mempunyai spectrum luas seperti
Ampicillin, pengobatan ini diteruskan sampai bebas demam 4-5 hari
b. Pemberian oksigen, fisioterafi dada dan cairan intravena biasanya diperlukan
campuran glucose dan NaCl 0,9% dalam perbandingan 3 : 1 ditambah larutan KCl
10 mEq / 500 ml/ botol infus.
c. Karena sebagian besar pasien jatuh kedalam asidosis metabolic akibat kurang
makan dan hipoksia, maka dapat diberikan koreksi sesuai dengan hasil analisis
gas darah arteri.
8. Kemungkinan Diagnose Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada anak dengan bronchopneumoni
adalah sebagai berikut :
a. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan proses inflamasi
b. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi secret
c. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi
d. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidak seimbangan antara suplay dan
kebutuhan oksigen
e. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya organisme infasif
f. Cemas berhubungan dengan dyspneu
g. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan hospitalisasi
Selain itu diagnosa keperawatan lain yang bisa muncul pada kasus bronchopneumoni
antara lain :
a. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan meningkatnya akumulasi secret
b. Resiko tinggi perubuhan suhu tubuh : hipertermi berhubungan dengan proses
inflamasi
c. Resiko tinggi kekurangan cairan tubuh berhubungan dengan hipertermi
9. Perencanaan
Diagnosis
Tujuan Intervensi
Keperawatan
Pola napas tidak efektif Setelah dilakukan tindakan 1. Posisikan pasien untuk ventilasi yang 1. M
berhubungan dengan keperawatan selama .......x 24 jam, maksimum contoh : posisi semifowler
proses inflamasi menunjukan fungsi pernapasan normal, 2. Hindari pakaian yang ketat
dengan kriteria : 3. Beri oksigen lembab sesuai ketentuan 2. U
 Frekuensi napas 20-40 x/menit 4. Tingkatkan istirahat dan tidur dengan 3. M
(menurut Katreen Morgan Speer penjadwalan yang tepat
(2008) 4. M
 Tidak ada penggunaan otot-otot m
aksesori pernapasan
 Pernapasan teratur
 Anak istirahat dan tidur dengan baik

Bersihan jalan napas Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji frekuensi atau kedalaman 1. T
tidak efektif keperawatan selama ......x 24 jam, jalan pernapasan dan gerakan dada d
berhubungan dengan napas bersih, dengan kriteria hasil : 2. Hisap secret sesuai kebutuhan 2. M
akumulasi secret pada  Jalan napas bersih n
Bronkhiolus  Suara napas vesikuler m
3. M
3. Lakukan fisioterapi dada
 Frekuensi napas 20-40 x/menit 4. Auskultasi area paru catat adanya 4. P
(menurut Katreen Morgan Speer ronchi k
(2008) t
 Tidak ada dyspneu a
 Tidak ada ronchi 5. Beri peningkatan kelembaban 5. U
oksigen suplemen sesuai ketentuan. d
6. Kolaborasi untuk pemberian therapy 6. M
mukolitik (pengencer dahak) bila s
memungkinkan berikan ekspektoran
atau nebulizer sesuai ketentuan

Diagnosis
Tujuan Intervensi
Keperawatan
Cemas berhubungan setelah dilakukan tindakan perawatan 1. Beri aktifitas pengalihan yang tepat 1.
dengan dyspneu selama .....x 24 jam, cemas hilang sesuai kondisi anak : misal
/berkurang, dengan kriteria hasil : membacakan cerita/ dongeng
 Anak tidak menunjukan tanda-tanda 2. Beri tindakan kenyamanan yang 2.
ketidaknyamanan fisik seperti gelisah diinginkan anak
 Anak tampak tenang dan dapat 3. Beri obyek kedekatan misal : mobil- 3.
melakukan aktifitas seperti biasa mobilan
 Tanda-tanda vital dalam batas normal
: TD : 86/54 mmhg, N : 130 x/menit,
RR : 20-40 x/menit S : 36,5o-37o C
Resiko tinggi Setelah dilakukan tindakan perawatan 1. Pantau tanda-tanda vital tiap 4 jam 1.
penyebaran infeksi selama .........x 24 jam, infeksi sekunder sekali
berhubungan dengan tidak terjadi, dengan kriteria hasil : 2. Dorong tehnik mencuci tangan yang 2.
adanya organisme  Terjadi penurunan tanda-tanda baik
infeksi infeksi 3. Kolaborasi : berikan antibiotic sesuai 3.
 Tanda-tanda vita normal : TD : 86/54 indikasi
mmhg, N : 130 x/menit, R : 20-40 4. Dorong keseimbangan istirahat 4.
x/menit, S : 36,5o-37o C adekuat dengan aktifitas sedang
5. Batasi pengunjung sesuai indikasi 5.

Intoleransi aktifitas Setelah dilakukan tindakan perawatan 1. Kaji tingkat toleransi fisik anak 1.
berhubungan dengan selama .........x24 jam, terjadi
ketidakseimbangan peningkatan toleransi aktifitas, dengan 2. Bantu anak dalam aktifitas hidup 2.
antara suplay dan kriteria hasil : sehari-hari
kebutuhan oksigen  Tidak ada dyspnea
 Tanda-tanda vital dalam batas 3. Beri periode istirahat dan tidur yang 3.
normal : TD : 86/54 mmhg, N : 130 sesuai dengan usia dan kondisi
x/menit, R : 20-40 x/menit, S : 4. Seimbangkan istirahat dan tidur bila 4.
36,5o-37o C psien berambulasi

Diagnosis Keperawatan Tujuan Intervensi

Gangguan rasa nyaman : Setelah dilakukan tindakan perawatan 1. Berikan tindakan kenyamanan 1. D
Nyeri berhubungan selama .........x24 jam, nyeri hilang, 2. Anjurkan aktifitas pengalihan sesuai 2. U
dengan proses inflamasi dengan kriteria hasil : usia
 Klien tampak tenang 3. Berikan analgesic sesuai indikasi 3. O
 Klien tidak rewel m
 Skala nyeri berkurang

Perubahan proses Setelah dilakukan tindakan perawatan 1. Kenali kekhawatiran dan kebutuhan 1. D
keluarga berhubungan selama .........x24 jam, terjadi orang tua untuk informasi dan
dengan hospitalisasi anak dukungan
pengurangan ansietas keluarga, 2. Gali perasaan dan masalah seputar 2. M
dengan kriteria hasil : hospitalisasi dan penyakit anak
 Kecemasan keluarga berkurang 3. Berikan informasi seputar kesehatan 3. U
 Secara verbal keluarga anak k
mengatakan cemas berkurang 4. Berikan dukungan sesuai kebutuhan 4. M
5. Anjurkan perawatan yang berpusat 5. M
pada keluarga dan anjurkan anggota
keluarga agar terlibat dalam
perawatan.
Gangguan pertukaran gas Setelah dilakukan tindakan perawatan 1. Kaji frekuensi, kedalaman dan 1. M
berhubungan dengan selama .........x24 jam, gangguan kemudahan bernapas
meningkatnya akumulasi pertukaran gas dapat diatasi, dengan 2. Observasi warna kulit, membrane 2. S
secret kriteria hasil : mukosa, dan kuku, catat adanya a
 Tidak ada sianosis sianosis kuku
 Anak tidak gelisah 3. Kaji status mental 3. G
h
4. Awasi frekuensi dan irama jantung 4. T
5. Pertahankan istirahat tidur 5. M
6. Observasi penyimpanan kondisi, catat 6. S
sianosis, perubahan tingkat kesadaran u
dan gelisah

Diagnosis Keperawatan Tujuan Intervensi

Resiko tinggi perubahan Setelah dilakukan tindakan perawatan 1. Kaji perubahan tanda vital contoh : 1. P
suhu tubuh : Hipertermi selama .........x24 jam, resiko peningkatan suhu tubuh setiap 4 jam m
berhubungan dengan hipertermi tidak terjadi, dengan sekali
proses inflamasi kriteria hasil : 2. Monitor intake out put 2. M
 Suhu tubuh 36,5-37 C c
 Membran mukosa lembab 3. Berikan cairan intra vena atau peroral 3. P
4. Anjurkan dan berikan kompres r
hangat 4. M
s
5. Kolaborasi untuk pemberian obat t
antipiretik sesuai indikasi 5. B

Resiko tinggi Setelah dilakukan tindakan perawatan 1. Kaji perubahan tanda-tanda vital 1. P
kekurangan cairan tubuh selama .........x24 jam, resiko missal peningkatan suhu tubuh, m
berhubungan dengan kekurangan cairan tidak terjadi, tachicardi dan hipotensi
hipertermi dengan kriteria hasil : 2. Kaji turgor kulit, kelembaban 2. I
 Membran mukosa lembab membrane mukosa c
 turgor kulit baik k
t
 Pengisian kapiler cepat
3. Pantau masukan dan haluaran 3. M
 Tanda-tanda vital dalam batas c
normal : TD : 86/54 mmhg, N : 4. Tingkatkan asupan cairan sedikitnya 4. p
130 x/menit, R : 20-40 x/menit, 120 ml/kg BB/hari r
S : 36,5-37 C
10. Daftar Pustaka
Nanda, 2012. Diagnosis Keperawatan NANDA: Klasifikasi dan Definisi 2012-2014. Alih
Bahasa: Made sumarwati, dkk, Jakarta: EGC
Hidayat, A. 2010. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak I. Jakarta: Salemba Medika.
Buku saku diagnosis keperawatan 2012. Edisi 9. Alih bahasa:Esty wahyuningsih,dkk.
Jakarta: EGC
Nurarif, Amin Huda. 2015. Nanda. Nic Noc Jakarta: penerbit buku kedokteran EGC
Susilaningrum, Rekawati, dkk. 2013. Asuhan Keperawatan Bayi Dan Anak. Jakarta :
Salemba Medika
Suriyadi &Yuliani. 2006. Asuhan Keperawatan pada Anak. Jakarta : Sagung Seto