Anda di halaman 1dari 10

Nama : Agnia Hartati, S.Pd.

Nomor Peserta PPG : 19026081010394

Prodi PPG : Bimbingan dan Konseling (BK)

LPTK : UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

Sekolah Asal : SMA NEGERI 14 BANDUNG

1. Rumuskanlah kompetensi guru secara utuh?

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pasal 10
ayat (1) menyatakan “kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi
kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi
profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi”

a. Kompetensi Pedagogik

Pedagogi memiliki arti segala usaha yang dilakukan oleh pendidik untuk membimbing
seorang anak menjadi manusia dewasa yang matang. Ketika peran pendidik dari orang tua
digantikan oleh peran guru di sekolah maka tuntutan kemampuan pedagogis ini beralih
kepada guru.Karena itu guru tidak hanya sebagai pengajar yang mentransfer ilmu,
pengetahuan dan keterampilan kepada siswa tetapi juga merupakan pendidik dan
pembimbing yang membanttu siswa untuk mengembangkan segala potensinya terutama
terkait dengan potensi akademis maupun non akademis. Melalui peran ini para guru secara
spesifik haruslah menjadi orang yang dapat membuat siswa belajar dengan maksimal.
Dengan demikian kompetensi pedagogis sangat erat kaitannya dengan kemampuan dikdaktik
dan metodik yang harus dimiliki guru sehingga dapat berperan sebagai pendidik dan
pembimbing yang baik (Payong, 2011, hlm. 28-29).

Kompetensi Pedagogik adalah kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan


dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

1) Memahami peserta didik secara mendalam yang meliputi memahami peserta


didik dengan memamfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif, prinsip-
prinsip kepribadian, dan mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik.
2) Merancang pembelajaran,teermasuk memahami landasan pendidikan untuk
kepentingan pembelajaran yang meliputi memahmi landasan pendidikan,
menerapkan teori belajar dan pembelajaran, menentukan strategi pembelajaran
berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, dan
materi ajar, serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang
dipilih.
3) Melaksanakan pembelajaran yang meliputi menata latar pembelajaran dan
melaksanakan pembelajaran yang kondusif.
4) Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran yang meliputi merancang
dan melaksanakan evaluasi (assessment) proses dan hasil belajar secara
berkesinambungan denga berbagai metode,menganalisis hasil evaluasi proses dan
hasil belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan belajar (mastery level), dan
memamfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program
pembelajaran secara umum.
5) Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensinya
meliputi memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi
akademik, dan memfasilitasipeserta didik untuk mengembangkan berbagai
potensi nonakademik.

b. Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian adalah kemampuan yang sekurangkurangnya mencakup
kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta
didik, dan berakhlak mulia (SNP, penjelasan Pasal 28 ayat 3 butir b). Dalam hal ini artinya
guru memiliki sikap kepribadian yang mantap, sehingga guru mampu menjadi sumber
inspirasi bagi siswa. Menurut Permendiknas No.16 tahun 2007, kemampuan dalam standar
kompetensi kepribadian mencakup lima kompetensi utama, yaitu:
1) Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, dan sosial;
2) Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi
peserta didik, serta masyarakat;
3) Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan
berwibawa;
4) Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru,
dan rasa percaya diri; dan
5) Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.

c. Kompetensi Sosial

Kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk
berkomunikasi lisan, tulisan, dan isyarat, menggunakan komunikasi dan informasi secara
fungsional, serta bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga
kependidikan, orang tua siswa, dan masyarakat sekitar (SNP, pasal 28 ayat 3 butir d). Guru
profesional juga memiliki kompetensi sosial yang dapat diandalkan. Menurut Permendiknas
No.16 tahun 2007, kemampuan dalam standar kompetensi sosial mencakup empat
kompetensi utama, yaitu:

1) Bersikap inklusif dan bertindak objektif serta tidak diskriminatif karena


pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga,
dan status sosial ekonomi;
2) Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik,
tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat;
3) Beradaptasi di tempat tenaga bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia
yang memiliki keragaman sosial budaya; dan
4) Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan,
tulisan, dan bentuk lain.

Berdasarkan uraian di atas, kompetensi sosial yang dapat diukur meliputi kemampuan
guru dalam berkomunikasi secara efektif, serta kemampuan dalam pemanfaatan teknologi
informasi dan komunikasi.

d. Kompetensi Profesional

Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara


luas dan mendalam termasuk kemampuan akademik lainnya sebagai pendukung
profesionalisme guru yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar
kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP, penjelasan Pasal 28
ayat 3 butir c). Secara lebih spesifik menurut Permendiknas No.16 tahun 2007, standar
kompetensi ini dijabarkan ke dalam lima kompetensi inti, yaitu:

1) Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.
2) Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran atau bidang
pengembangan yang diampu.
3) Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif.
4) Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan
reflektif.
5) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan
mengembangkan diri.

Sementara itu menurut Soedijarto, kemampuan profesional guru meliputi: (1)


merancang dan merencanakan program pembelajaran; (2) mengembangkan program
pembelajaran; (3) mengelola pelaksanaan program pembelajaran; (4) menilai proses dan hasil
pembelajaran; dan (5) mendiagnosis faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses
pembelajaran (Kunandar, 2011, hlm. 57).
2. Menghadapi abad 21 ini keterampilan belajar apa yang harus dimiliki oleh guru
dan siswa?
Menurut Susanto (2010) terdapat 7 tantangan guru di abad 21, yaitu :
a. Teaching in multicultural society, mengajar di masyarakat yang memiliki
beragam budaya dengan kompetensi multi bahasa.
b. Teaching for the construction of meaning, mengajar untuk mengkonstruksi makna
(konsep).
c. Teaching for active learning, mengajar untuk pembelajaran aktif.
d. Teaching and technology, mengajar dan teknologi.
e. Teaching with new view about abilities, mengajar dengan pandangan baru
mengenai kemampuan.
f. Teaching and choice, mengajar dan pilihan.
g. Teaching and accountability, mengajar dan akuntabilitas.
Untuk memecahkan masalah tersebut di atas, guru dituntut mampu untuk membaca
setiap tantangan yang ada pada masa kini. guru harus mampu untuk mencari sendiri
pemecahan masalah yang timbul dari dampak kemajuan zaman karena tidak semua kemajuan
zaman berdampak baik, dampak negatif juga harus diperhitungkan.

Ada beberapa model pembelajaran yang layak untuk diaplikasikan dalam pembelajaran
abad 21:

1) Project Based Learning


Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan model belajar yang menggunakan
masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan
pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata.
Pembelajaran Berbasis Proyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek
yang diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya.
Melalui Project Based Learning, proses inquiry dimulai dengan memunculkan
pertanyaan penuntun (a guiding question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah
proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum.
Pada saat pertanyaan terjawab, secara langsung peserta didik dapat melihat berbagai
elemen utama sekaligus berbagai prinsip dalam sebuah disiplin yang sedang dikajinya.
Project Based Learningmerupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia
nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik.
Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar yang
berbeda, maka Pembelajaran Berbasis Proyek memberikan kesempatan kepada para
peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang
bermakna bagi dirinya, dan melakukan eksperimen secara kolaboratif. Pembelajaran
Berbasis Proyek merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata,
hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik.
Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dikatakan sebagai operasionalisasi konsep
“Pendidikan Berbasis Produksi” yang dikembangkan di Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK). SMK sebagai institusi yang berfungsi untuk menyiapkan lulusan untuk bekerja
di dunia usaha dan industri harus dapat membekali peserta didiknya dengan
“kompetensi terstandar” yang dibutuhkan untuk bekerja pada bidang masing-masing.
Dengan pembelajaran “berbasis produksi” peserta didik di SMK diperkenalkan dengan
suasana dan makna kerja yang sesungguhnya di dunia kerja.

2) Inquiry Based Learning

Gulo (2005, hlm. 84) mengartikan inquiry sebagai pertanyaan atau pemeriksaan,
penyelidikan. Di dalam inquiry terdapat keterlibatkan siswa untuk menuju ke
pemahaman. Lebih jauh disebutkan bahwa keterlibatan dalam proses belajar akan
berdampak pada perolehan keterampilan dan sikap yang diperlukan untuk pemecahan
masalah, yakni menemukan jawaban dari pertanyaan yang selanjutnya digunakan untuk
membangun pengetahuan baru bagi siswa.

Inquiry didefiniskan sebagai usaha menemukan kebenaran, informasi, atau


pengetahuan dengan bertanya. Seseorang melakukan proses inquiry dimulai ketika lahir
sampai dengan ketika meninggal dunia. Proses inquiry dimulai dengan mengumpulkan
informasi dan data melalui pancaindera yakni penglihatan, pendengaran, sentuhan,
pencecapan, dan penciuman.

Pendekatan IBL adalah suatu pendekatan yang digunakan dan mengacu pada
suatu cara untuk mempertanyakan, mencari pengetahuan (informasi), atau mempelajari
suatu gejala. Pembelajaran dengan pendekatan IBL selalu mengusahakan agar siswa
selalu aktif secara mental maupun fisik. Materi yang disajikan guru bukan begitu saja
diberitahukan dan diterima oleh siswa, tetapi siswa diusahakan sedemikian rupa
sehingga mereka memperoleh berbagai pengalaman dalam rangka “menemukan
sendiri” konsep-konsep yang direncanakan oleh guru.

Inquiry based learning adalah sebuah teknik mengajar di mana guru melibatkan
siswa di dalam proses belajar melalui penggunaan cara-cara bertanya, aktivitas problem
solving, dan berpikir kritis. Hal ini akan memerlukan banyak waktu dalam

persiapannya. Inquiry based learning biasanya berupa kerja kolaboratif. Kelas


dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok diberi sebuah pertanyaan
atau permasalahan yang akan mengarahkan semua anggota kelompok bekerja bersama
mengembangkan proyek berdasarkan pertanyaan tersebut untuk menemukan
jawabannya. Karena inquiry-based learning berbasis pertanyaan, maka guru harus
menyiapkan pertanyaan yang bersifat terbuka sehingga siswa dapat mengembangkan
pikirannya. Siswa harus diberi kesempatan untuk mencoba menemukan sendiri konsep
yang diajarkan. Lebih dari itu, jika siswa juga diberi kesempatan untuk mengukur
kemajuan belajarnya sendiri, maka hal ini akan membantu mereka belajar.
Sementara keterampilan belajar siswa abad 21 terdiri dari :

a. Collaboration

Siswa mampu bekerja sama dengan orang lain dan mampu menghormati pandangan
yang berbeda.

b. Creativity

Siswa mampu mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan


baru kepada yang lain dan bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan
berbeda.

c. Communication

Manusia adalah makhluk sosial sehingga tidak bisa terlepas dari adanya komunikasi,
komukasi yang baik akan menghasilkan kerjasama yang baik.

d. Critical Thingking

Siswa mampu menalar, memahami dan membuat pilihan yang rumit; memahami
interkoneksi antara sistem, menyusun, mengungkapkan, menganalisis, dan menyelesaikan
masalah.

4c setidaknya mempengaruhi proses pembelajaran yang tadinya teacher center menjadi


student center, dimana siswa lebih aktif dalam mengajukan, mendiskusikan, menyelesaikan
masalah yang ada sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Format : Rencana Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Individu Guru
Nama Sekolah: Nomor Statistik Sekolah:
SMAN 14 BANDUNG
Alamat: Kecamatan: Kabupaten/Kota:
Jl.Yudhawastu Pramuka IV Cibeunying Kidul Bandung
Nama Guru: Tahun Ajaran: Tanggal:
Agnia Hartati 2019 / 2020
Strategi Pengembangan
Rencana Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan
Keprofesian (diisi dengan memberi tanda
Berkelanjutan yang akan √)
A. A. Kompetensi
dilakukan Guru untuk
peningkatan kompetensi 5
terkait 1 2 3 4 6
a b

I. PERENCANAAN LAYANAN

1. Kemampuan
memformulasikan
tujuan pembelajaran dalam
RPL/Program BK sesuai
dengan kurikulum/silabus
dan memperhatikan
karakteristik peserta didik

2. Kemampuan
menyusun bahan materi
secara runut, logis,
kontekstual dan mutakhir.

3. Kemampuan
merencanakan kegiatan
layanan yang efektif.

4. Pemilihan sumber materi/


media layanan sesuai
dengan materi dan strategi
layanan BK

II. KEGIATAN PELAKSANAAN LAYANAN YANG AKTIF DAN EFEKTIF

Kegiatan Pendahuluan

1. Keterampilan memulai
layanan dengan efektif

Kegiatan Inti

1. Penguasaan materi layanan


2. Kemampuan menerapkan
pendekatan/strategi layanan
yang efektif

3. Pemanfaatan sumber
materi/media dalam
layanan

4. Kemampuan memicu
dan/atau memelihara
keterlibatan siswa dalam
layanan

5. Kemampuan bahasa yang


benar dan tepat dalam
layanan

Kegiatan Penutup

1. Keterampilan mengakhiri
layanan dengan efektif

2. Komunikasi dengan sesama


guru, tenaga kependidikan,
orang tua, peserta didik,
dan masyarakat

III. PENILAIAN LAYANAN

1. Perancangan alat evaluasi


untuk mengukur kemajuan
dan keberhasilan layanan
yang diberikan.

2. Penerapan berbagai strategi


dan metode
penilaian untuk memantau
peserta didik dalam
memenuhi SKKPD tertentu
sebagaimana yang tertulis
dalam RPL

3. Pemanfaatan berbagai hasil


penilaian untuk
memberikan umpan balik
bagi peserta didik tentang
perubahan dalam dirinya.

B. Kompetensi menghasilkan
Publikasi Ilmiah

C. Kompetensi menghasilkan
Karya Inovatif

D. Kompetensi untuk
penunjang pelaksanaan
pembelajaran berkualitas
(TIK, Bahasa Asing, dsb)

E. Kompetensi untuk
melaksanakan tugas
tambahan (misalnya Kepala
Sekolah, Kepala
Perpustakaan, dsb)

Tanda tangan Guru: Tanda tangan Kepala Sekolah:

Agnia Hartati, S.Pd. Dedi Mulyawan, S.Pd.

Referensi :

Gulo, Joyce. (2005). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Grasindo.

Kunandar. (2011). Penelitian Tindakan Kelas Sebagai pengembangan Profesi Guru. Jakarta :
PT Rajagrafindo Persada.

Payong, Marselus R. (2011). Sertifikasi Profesi Guru. Jakarta: PT Indeks.


Susanto. (2012). Guru abad 21. Diakses dari https://ml.scribd.com/doc/227355943/Guru-
Abad-21-Makalah.