Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

TOKOH-TOKOH SEJARAH ISLAM DI BIDANG KEAHLIAN


PADA PERIODE KLASIK, PERTENGAHAN DAN MODERN

XI MIPA 2

KELOMPOK 1:

Ahmad Fahmi Yusron


Ariyo Revikasha
Alifah Dina Y
Bryan Eric Kurniawan
Bulan Ratna
Delilah Azzahra I.P
PERIODE KLASIK

1. Al-Kindi

Nama lengkapnya Abu Yusuf Ya’qub bin Ishak bin Sabbah bin Imron bin
Ismail bin Muhammad bin Al-Asy’as bin Qais al-Kindi. Ia adalah keturunan sukuKindah, Arab
Selatan yang masyhur dan diabadikan oleh penyair Imru’ al-Qaysyang menyenandungkannya
sebagai suatu perjalanan ke Byzantium yang jauh,lama sebelum datangnya islam ke sana. Ayahnya
adalah Gubernur Kufah dimasaKhalifah al-Mahdi (775-785 M) dan ar-Rasyid (786-809 M).
Disanalah ia dilahirkan pada tahun 809 M. Al-Kindi dikenal sebagai filsuf muslim pertama.Karena
dia adalah orang Islam pertama yang mendalami ilmu-ilmu filsafat. Selainmenterjemahkan al-
Kindi juga menyimpulkan karya-karya filsafat hetenisme. Iadikenal sebagai pemikir muslim
pertama yang menyelaraskan filsafat dan agama.Karya al-Kindi kurang lebih berjumlah 270 buah.
Kebanyakan berupa risalah-risalah pendek dan banyak yang sudah tidak ditemukan lagi.

2. Al-Farabi

Abu Nashr Muhammad Ibn al-Farakh alfarabi lahir di sebuah desa kecil bernama
wasij, dekat Farab di Turkistan tahun pada 259 H/870 M. Orang tuanya asli keturunan Persia,
tetapi nenek moyangnya berpindah ke Turkistan. Di Eropa ia dikenal sebagai al-Pharabius dan
putra seorang jendral. Dia menyelesaikan pendidikan pertamanya di Farab dan Bukhara
kemudian melanjutkan pendidikannya ke Baghdad. Di Baghdad dia belajar sambil bekerja dari
tahun 901 M sampai tahun 942 M. Selama Periode tersebut dia diakui sebagai ahli dalam
berbagai bahasa dan berbagai cabang ilmu pengetahuan dan teknologi. Al-Farabi hidup pada
masa kekuasaan Khalifah Abasid. Sebagai seorang ahli filosof dan ilmuan, dia diakui
mempunyai kemampuan yang hebat di berbagai bidang ilmu dan dicatat sebagai seorang yang
mempunyai keahlian dalam menguasai berbagai bahasa.

Farabi melakukan perjalanan ke beberapa wilayah dan untuk sementara belajar di


Damascus dan Mesir kemudian kembali lagi ke Baghdad. Dia terkenal dengan julukan Al-
Mu’allim Al-Tsani (Guru kedua). Dua karya yang termashur adlah Al-jam’u Baina Ra’yi Al-
Hakimaini dan Uyun Al-Masail

3. Al-Razi

Abu Bakr Muhammad Ibnu Zakariya ar-Razi/Al-Razi adalah seorang dokter dan
filosof besar pada zamannya. Ia lahir di Ray tahun 865 M. Ia pernah menulis dalam setahun
lebih dari 20.000 lembar kertas. Karya al-Razi mencapai 232 buku atau risalah karya tulisnya
terbesar adalah al-Hawi, sebuah ensiklopedia kedokteran yang berjumlah 20 jilid, buk ini
mengandung ilmu kedokteran Yunani.
4. Ibnu Sina

Nama asli Abu al Hussain bin Abdullah lahir dikota Afsyanah Bukhara tahun 980 M.
Profesinya dibidang kedokteran dimulai usia 17 tahun, ketika ia berhasil menyembuhkan Nuh
bin Mansyur, salah seorang penguasa dinasti Samaniyah. Pada masa dinasti Hamdani ia dua
kali menjadi menteri. Di bidang filsafat ia digelari asy-Syaikh ar Ra’is (Guru para raja).
Karyanya tidak kurang dari 200karya tulis.

5. Muhammad bin Musa al-Khawarizmi

Karyanya berjudul“Muktasar f’Hisab Al -jabiwa Al Muqabalah” di Bagdad. Buku


tersebut dirujuk Robert Chester diterjemahkan dalam bahasa latin dengan judul “Liber al-
Gebras ef Al-Murcabala”. Ia adalah ilmuwan matematika yang menyusun buku tentang aljabar
dan menemukan angka nol.

6. Ibnu Maskawaih

Lahir tahun 941 M dan meninggal tahun 1030 M. Nama lengkapnya adalah
Abu Ali Ahmad bin Muhammad bin Ya’kub bin Muskawaih. Ia pernah mengabdi kepada dua
menteri pada masa dinasti Buwaihiyah. Ibnu Muskawaih merupakan seorang pemikir muslim
yang produktif
PERIODE PERTENGAHAN

1. Suhrawardi / 1158-1191 M (Isyraqiyah / Illuminatif)

Pokok pemikiran Suhrawardi adalah tentang teori emanasi, ia berpendapat bahwa


sumber dari segala sesuatu adalah Nuur An-Nuur (Al-Haq) yaitu Tuhan itu sendiri. Yang
kemudian memancar menjadi Nuur al-Awwal, kemudian memancar lagi mejadi Nuur kedua,
dan seterusnya hingga yang paling bawah (Nur yang semakin tipis) memancar menjadi Alam
(karena semakin gelap suatu benda maka ia semakin padat).
Pendapatnya yang kedua adalah bahwa sumber dari Ilmu dan atau kebenaran adalah Allah,
alam dan Wahyu bisa dijadikan sebagai perantara (ilmu) oleh manusia untuk mengetahui
keberadaan Allah. Sehingga keduanya, antara Alam dan Wahyu adalah sama-sama sebagai
ilmu.

2. Ibnu Khaldun (1332 M-1406 M)

Abdurrohman Ibn Khaldun (1332 M-1406 M), lahir di Tunisia, adalah sosok pemikir
muslim legendaris. Khaldun membuat karya tentang pola sejarah dalam bukunya yang
terkenal: Muqaddimah, yang dilengkapi dengan kitab Al-I’bar yang berisi hasil penelitian
mengenai sejarah bangsa Berber di Afrika Utara. Dalam Muqaddimah itulah Ibnu Khaldun
membahas tentang filsafat sejarah dan soal-soal prinsip mengenai timbul dan runtuhnya negara
dan bangsa-bangsa.

Dalam mempertautkan sejarah dengan filsafat, Ibnu Khaldun tampaknya ingin


mengatakan bahwa sejarah memberikan kekuatan intuisi dan inspirasi kepada filsafat,
sedangkan filsafat menawarkan kekuatan logika kepada sejarah. Dengan begitu, seorang
sejarawan akan mampu memperoleh hasil yang relatif valid dari proses penelitian sejarahnya,
dengan dasar logika kritis.
Dasar sejarah filsafatnya adalah :

1) Hukum sebab akibat yang menyatakan bawa semua peristiwa, termasuk peristiwa sejarah,
berkaitan satu sama lain dalam suatu rangkaian hubungan sebab akibat.
2) Bahwa kebenaran bukti sejarah tidak hanya tergantung kepada kejujuran pembawa cerita
saja akan tetapi juga kepada tabiat zaman. Karena hal ini para cendekiawan memberinya gelar
dan titel berdasarkan tugas dan karyanya serta keaktifannya di bidang ilmiah: 1). Sarjana dan
filosof besar, 2). Ulama Islam,3. Sosiolog, 4. Pedagang, 5. Ahli sejarah, 6.Ahli Hukum, 7.
Politikus, 8. Sastrawan Arab, 9. Administrator dan organisator.

3. Al-Gozali

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i (lahir 1058
di Thus, Propinsi Khurasan, Persia (Iran), wafat 1111, Thus) adalah seorang filosof dan teolog
muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan.
Pokok pemikiran dari al-Ghozali adalah tentang Tahafutu al-falasifah (kerancuan
berfilsafat) dimana al-Ghazali menyerang para filosof-filosof Islam berkenaan dengan
kerancuan berfikir mereka. Tiga diantaranya, menurut al-Ghazali menyebabkan mereka telah
kufur, yaitu tentang : Qadimnya Alam, Pengetahuan Tuhan, dan Kebangkitan jasmani.

Pemikiran al-Ghazali mengenai pendidikan adalah proses memanusiakan manusia


sejak kejadiannya sampai akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan yang disampaikan
dalam bentuk pengajaran secara bertahap, dimana proses pengajaran tersebut menjadi tanggung
jawab orang tua dan masyarakat menuju pendekatan diri kepada Allah, sehingga menjadi
manusia yang sempurna.
Batas awal berlangsungnya pendidikan menurutnya sejak bersatunya sperma dan ovum sebagai
awal kejadian manusia. Sedangkan batas akhir pendidikan itu orang yang berilmu dan orang
yang menuntut ilmu berserikat pada kebajikan dan manusia lain adalah bodoh dan tak
bermoral.
PERIODE MODERN

1. Muhammad Ali Pasha

Muhammad 'Ali lahir di Kawalla, Yunani, pada tahun 1765, dan meninggal di Mesir
pada tahun 1849. Ia pernah menjadi seorang perwira militer. Atas perintah Sultan Turki, ia ikut
bertempur melawan Napoleon saat ekspedisi ke Mesir pada 1801.

Ia adalah pemimpin Mesir yang memberikan perhatian besar terhadap persoalan yang berkaitan
dengan kemiliteran dan perekonomian, karena semua itu dapat memperkuat kekuasaan dan
kedudukannya.

Muhammad 'Ali menyadari bahwa bangsa mesir sangat jauh ketinggalan dengan dunia Barat,
karenanya hubungan dengan dunia Barat perlu diperbaiki.

Perhatiannya terhadap pendidikan sangatlah besar. Ia mendirikan kementrian pendidikan pada


tahun 1815, lalu mendirikan beberapa sekolah modern, seperti sekolah militer (1815), sekolah
teknik (1816), sekolah kedokteran (1827), sekolah apoteker (1829), sekolah pertambangan
(1834), dan sekolah penerjemahan (1836). Ia juga memasukan ilmu-ilmu modern dan sains ke
dalam kurikulum sekolah. Selama tahun 1813-1849, ia telah mengirim 311 pelajar Mesir ke
Italia, Perancis, Inggris dan Austria.

Sebagai tokoh pembaharuan, Muhammad 'Ali Pasha mengadakan pembaharuan dalam


masyarakat Mesir dengan melakukan modernisasi di bidang pertanian, perdagangan,
perindustrian, militer, pendidikan, dan publikasi.

Secara sepintas, pembaharuan yang dilakukan oleh Muhammad 'Ali tampak hanya bersifat
keduniaan saja, namun dengan terangkatnya kehidupan dunia umat Islam berarti terangkat pula
derajat keagamaannya. Pembaharuan yang dilaksanakan oleh Muhammad 'Ali Pasha menjadi
landasan pemikiran dan pembaharuan selanjutnya yang dilakukan oleh Al-Tahthawi,
Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad 'Abduh, Rasyid Ridha dan murid-murid Muhammad
'Abduh lainnya.

2. Rifa’ah Badawi Rafi’ al-Tahthawi

Ia lahir pada tahun 1801 di Tahta, suatu kota di Mesir bagian selatan, dan meninggal di Kairo
pada tahun 1873. Ketika berumur 16 tahun, ia pergi ke Kairo untuk belajar di Al-Azhar. Ia
dapat menyelesaikan studinya di al-Azhar pada tahun 1922.

Ia adalah pembawa pemikiran pembaharuan yang besar pengaruhnya di pertengahan pertama


dari abad XIX di Mesir. Dalam gerakan pembaharuan Muhammad 'Ali Pasha, al-.Tah.taw-i
turut memainkan peranan.
Beberapa hal yang menjadi pemikiran pembaharuan al-Tahthawi, yaitu sebagai berikut.

 Jika umat Islam ingin maju harus belajar ilmu pengetahuan sebagaimana kemajuan
yang terjadi di Barat (Eropa). Untuk itu umat Islam harus berani belajar dari Barat.
 Negara yang baik adalah negara yang pandai meningkatkan ekonomi rakyatnya.
 Kekuasaan raja sangat absolut, sehingga perlu dibatasi oleh undang-undang syariat
yang dipimpin oleh majelis syura (ulama). Oleh karena itu, raja dan ulama harus
bermusya-warah untuk melaksanakan hukum syariat.
 Jika ingin maju, umat Islam harus menguasai bahasa asing, di samping bahasa Arab.
Bahasa Arab berfungsi untuk memahami Al-Qur’an dan hadis, sedangkan bahasa asing
berfungsi untuk menerjemahkan dan memahami ilmu dan peradaban Barat.
 Ulama Islam harus memahami ilmu-ilmu pengetahuan modern jika tidak ingin umat
Islam ketinggalan.
 Umat Islam tidak boleh bersikap fatalis (pasrah dengan keadaan) tanpa berusaha sekuat
tenaga untuk mencapai cita-cita.

3. Jamaluddin Al-Afghani

Jamaluddin Al-Afghani adalah tokoh pembaharuan dalam Islam yang tempat tinggal dan
aktivitasnya berpindah-pindah dari satu negara Islam ke negara Islam lain. Ia lahir di
Afghanistan pada tahun 1839 dan meninggal pada tahun 1897 di Istanbul, Turki. Ia banyak
berkiprah dalam pembaharuan yang lebih terfokus pada bidang politik di samping persoalan
keagamaan.

Beberapa pemikiran pembaharuan yang ia cetuskan adalah sebagai berikut.

 Islam adalah agama yang sesuai dengan segala keadaan dan waktu. Islam merupakan
agama yang mengajarkan dinamisme dalam berpikir dan berperilaku yang sesuai
dengan ajaran Islam.
 Islam bukanlah agama yang mengajarkan paham fatalis dan statis.
 Qadha` dan qadar Allah sesungguhnya merupakan sesuatu yang terjadi karena sebab
musabab, bukan semata-mata langsung dari Tuhan. Artinya, bahwa manusia bisa
menentukan takdirnya sendiri melalui usaha yang maksimal.
 Lemahnya persaudaraan di kalangan umat Islam juga menyebabkan umat Islam
mundur, dari kalangan awam, ulama hingga raja tidak ada lagi rasa persaudaraan,
sehingga umat Islam lemah tidak memilki kekuatan untuk maju bersama.
 Sistem pemerintahan otokrasi harus diganti dengan demokrasi yang berdasarkan
musyawarah.
 Umat Islam di setiap negara harus membangun semangat nasionalisme dan
internasionalisme agar umat Islam dapat bersatu. Islam dapat berkembang dan maju
jika umatnya mau bersatu. Tanpa persatuan, kemajuan mustahil dapat diraih.
4. Muhammad 'Abduh

Muhammad 'Abduh lahir di Mesir pada tahun 1849, tetapi ada yang berpendapat bahwa ia
lahir sekitar tahun 1845 dan beliau wafat pada tahun 1905.

Muhammad 'Abduh menekankan pada persatuan umat Islam sebagai kunci kemajuan umat
Islam. Ia menilai bahwa pendidikan universal dan global sebagai sarana penting dalam
pembentukan khilafah, karena sistem ini memerlukan kecerdasan umat Islam, dan hal itu
tidak akan tercapai tanpa pendidikan. Maka pendidikan merupakan hak asasi bagi setiap
muslim.

5. Rasyid Ridha

Rasyid Ridha adalah salah satu murid Muhammad 'Abduh. Ia lahir pada tahun 1865 M di desa
Al-Qalamun Libanon. Ia termasuk keturunan Al-Husein, cucu Nabi Muhammad SAW. Oleh
karena itu, ia memakai gelar "Al-Sayyid" di depan namanya. Ia mengenyam pendidikan di Al-
Qalamun, lalu dilanjutkan di Al-Madrasah al-Wa.taniyyah al-Isl-amiyyah (Sekolah Nasional
Islam) di Tripoli, sebuah sekolah yang didirikan oleh Al-Syaikh Husain Al-Jisr, seorang ulama
Islam yang telah dipengaruhi oleh ide-ide modern. Di lembaga ini, selain bahasa Arab, ia juga
belajar bahasa Turki dan Perancis.

Pada tahun 1898 M. Rasy-id Ri.d-a hijrah ke Mesir untuk menyebarluaskan pembaharuan di
Mesir. Dan dua tahun kemudian, ia menerbitkan majalah yang diberi nama “Al-Man-ar” untuk
menyebarluaskan ide-idenya dalam pembaharuan. Pada dasarnya pokok pikiran Rasy-id Ri.d-a
tidak jauh berbeda dengan gurunya, yakni Muhammad 'Abduh, terutama dalam titik tolak
pembaharuannya yang berpangkal dari segi keagamaan, tuntutan adanya kemurnian ajaran
Islam, baik dari segi akidahnya maupun dari segi amaliahnya.