Anda di halaman 1dari 42

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu

Peninjauan lokasi di mulai pada Semester A tahun ajaran 2014-2015 dan

dilaksanakan di daerah Medan Sunggal, secara geografis terletak diantara

3o34’31,80” LU dan 98o37’19,06” BT.

3.2 Metode Penelitian

Metode yang digunakan untuk mengolah data dalam penulisan ini adalah

metode deskriptif dan kuantitatif yaitu dengan cara mengumpulkan data primer

yang ada di lapangan dan data sekunder dari instansi terkait serta mengumpulkan

literatur yang berhubungan dengan tugas akhir ini. Kemudian menganalisa hasil

pengolahan data tersebut sedemikian rupa untuk mendapatkan kesimpulan akhir

dimensi kolam retensi yang diperlukan untuk mereduksi banjir di Kecamatan

Medan Sunggal..

Data curah hujan digunakan untuk analisa hidrologi meliputi perhitungan

curah hujan maksimum suatu wilayah. Perhitungan nilai intensitas hujan daerah

aliran sungai serta perhitungan debit banjir rencana pada suatu penampang

drainase dipengaruhi oleh iklim yang berupa kelembaban udara, besarnya nilai

evaporasi akibat lamanya penyinaran sinar matahari, kondisi permukaan tanah dan

jenis vegetasi yang terdapat didalamnya. Keseluruhan faktor diatas dapat

memberikan gambaran terhadap besaran curah hujan yang jatuh dan mengalir

diatas permukaan tanah.

Universitas Sumatera Utara


3.3 Rancangan Penelitian

Dalam penelitian ini, ada beberapa tahapan yang dilakukan untuk

mendapatkan kesimpulan. Maka dari itu penelitian ini dibagi dalam beberapa

bagian sesuai urutan di bawah ini:

1. Studi Literatur

Rumusan-rumusan serta konsep-konsep teoritis dari berbagai literatur

dipelajari dan dipahami agar landasan teoritis terpenuhi dalam

mengembangkan konsep penelitian Perencanaan Kolam Retensi Sebagai

Usaha Mereduksi Debit Banjir di daerah Kecamatan Medan Sunggal .

2. Survey Lokasi

survey lokasi berguna untuk mengetahui kondisi eksisting dan topografi

lokasi penelitian. Data yang didapat di lapangan digunakan untuk

mendapatkan lokasi yang potensial dibuat Kolam Retensi.

3. Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan hal yang harus dipenuhi sebelum melakukan

sebuah penelitian, data-data yang terkait dengan studi ini sangat mendukung

penyelesaian studi ini. Oleh karena itu penulis mencari informasi untuk

mengetahui sumber-sumber data yang diperlukan, serta mengumpulkan data

yang dibutuhkan tersebut. Adapun data yang diperlukan adalah sebagai

berikut:

a. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh dengan pengamatan langsung di

lapangan atau dengan kata lain data yang dikumpulkan peneliti secara

langsung melalui obyek penelitian dan data ini biasanya belum diolah.

Universitas Sumatera Utara


Dalam penelitian ini yang termasuk data primer yaitu Survey dan kondisi

eksisting.

b. Data Sekunder

Data Sekunder adalah data yang mendukung penelitian, yang mana data

ini biasanya sudah dalam keadaan diolah. Data sekunder dalam penelitian

ini adalah data curah hujan dari stasiun curah hujan dengan rentang waktu

pengamatan selama 10 tahun terakhir yang dapat di peroleh dari Badan

Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Kota Medan, peta adminitrasi

Kota Medan untuk pembagian catchment area dan data kontur Kecamatan

Medan Sunggal.

4. Pengolahan dan Analisa Data

Setelah semua data yang dibutuhkan diperoleh, langkah selanjutnya adalah

pengolahan data. Data-data yang diperoleh dari instansi terkait dan hasil

survei lapangan akan di hitung guna dilakukan analisa data sehingga dapat

diperoleh kesimpulan akhir yang berarti. Beberapa pengolahan data tersebut

berupa:

a. Perhitungan curah hujan rencana

Menghitung curah hujan rata-rata dan menganalisa curah hujan rencana

dengan menggunakan analisa frekuensi Metode Distribusi Normal,

Distribusi Log Normal, Distribusi Log – Person III dan Distribusi

Gumbel. Selanjutnya intensitas curah hujan rencana dihitung

menggunakan persamaan Mononobe.

Universitas Sumatera Utara


b. Pembagian Catchmen Area

Pembagian catchmen area diperlukan, guna menghitung kapasitas setiap

saluran drainase yang ada, sehingga saluran drainase itu dibagi-bagi

penyaluran airnya.

c. Penentuan layout saluran utama

Setelah catchment area salurannya dibagi, selanjutnya menentukan letak-

letak saluran primer (saluran utama) dan saluran tersiernya.

d. Perhitungan debit banjir

Untuk perhitungan debit banjir rencana ada beberapa cara, dan disini

saya menghitung dengan menggunakan rumus Rasional.

e. Perencanaan dimensi saluran

Mengevaluasi masing-masing nilai yang dihasilkan dari analisis data

sekunder dan merencanakan dimensi salurannya. Saluran drainase

dikatakan banjir apabila nilai debit banjir rencana hasil analisis lebih

besar dari pada nilai debit maksimum saluran drainase yang dihitung

dengan persamaan Manning.

f. Perencanaan Kolam Retensi

Mengevaluasi masing-masing nilai yang dihasilkan dari analisis data

sekunder dan merencanakan dimensi kolam retensi.

g. Penggambaran

Setelah dimensi saluran didapatkan dari hasil perhitungan, selanjutnya

bentuk saluran digambarkan dengan menggunakan progam AutoCAD.

Universitas Sumatera Utara


5. Kesimpulan dan Saran

Penarikan kesimpulan dapat dilakukan setelah hasil pengolahan dan analisa

data diperoleh, ditambah dengan uraian, informasi yang diperoleh di lapangan

dan juga teori-teori yang digunakan sebagai landasan berpikir studi ini.

Alur pengerjaanya lebih jelas tergambar pada Gambar 3.1.

Universitas Sumatera Utara


Mulai

Studi Literatur

Survey
Lokasi

Pengumpulan
Data

Primer Sekunder
- Survey - Data curah hujan
- Kondisi Eksisting - Topografi

Perhitungan curah hujan


rencana

Pembagian Catchment Area

Penentuan Layout arah aliran


saluran utama

Perhitungan Debit banjir


Metode Rasional

Perencanaan dimensi saluran Perencanaan dimensi kolam retensi

Penggambaran

Kesimpulan dan Saran

Selesai

Gambar 3.1 Tahapan Penelitian Tugas Akhir

Universitas Sumatera Utara


BAB IV
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Umum
Kota Medan secara geografis terletak di antara 02º 27’ 00” – 02º 47’ 00”
Lintang Utara (LU) dan 98º 35’ 00” – 98º 44’ 00” Bujur Timur (BT) dengan
batas-batas sebagai berikut ini :
 Batas Utara : Kabupaten Deli Serdang dan Selat Malaka
 Batas Selatan : Kabupaten Deli Serdang
 Batas Timur : Kabupaten Deli Serdang
 Batas Barat : Kabupaten Deli Serdang

Bila ditinjau dari ketinggian di atas permukaan laut menurut Kabupaten/


Kota lokasi Kota Medan berada di ketinggian 2,5 – 37,5 meter di atas permukaan
laut. Luas wilayah kota Medan berdasarkan data BPS Kota Medan seluas 26.510
hektar yang secara administratif dibagi atas 21 kecamatan. Kecamatan tersebut
seperti tertera pada Tabel (4.1) berikut ini :

Tabel 4.1. Perkecamatan Kota Medan

NO KECAMATAN

1 Medan Tuntungan
2 Medan Selayang
3 Medan Johor
4 Medan Amplas
5 Medan Denai
6 Medan Tembung
7 Medan Kota
8 Medan Area
9 Medan Baru
10 Medan Polonia
11 Medan Malmun
12 Medan Sunggal
13 Medan Helvetia
14 Medan Barat
15 Medan Petisah
16 Medan Timur
17 Medan Perjuangan
18 Medan Deli
19 Medan Labuhan
20 Medan Marelan
21 Medan Belawan
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Medan

Universitas Sumatera Utara


Dari ke-21 Kecamatan di Kota Medan ini, maka yang dipilih menjadi
daerah kajian untuk lokasi kolam retensi adalah Kecamatan Medan Selayang
Kelurahan Asam Kumbang. Data mengenai luas dan jumlah penduduk
perkelurahan Medan Selayang tertera pada Tabel (4.2) berikut ini :

Tabel 4.2. Jumlah Penduduk, Luas Kelurahan dan Kepadatan Penduduk


Medan Selayang Tahun 2007

Luas Jumlah Kepadatan


No Kelurahan
km2 Penduduk Penduduk Perkm2
1 Sempakata 5.10 8,877 1,741
2 Beringin 0.79 7,592 9,610
3 PB Selayang II 7.00 14,309 2,044
4 PB Selayang I 1.80 9,686 5,381
5 Tanjung Sari 5.10 29,058 5,698
6 Asam Kumbang 4.00 14,626 3,657
Total 23.79 84,148 28,131
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Medan

Kota Medan adalah salah satu kota yang sangat pesat pertumbuhannya, di
mana daerah pinggiran yang selama ini adalah daerah pertanian ataupun lahan
kosong berubah menjadi daerah pemukiman dan perumahan penduduk, yang
mana selama ini merupakan daerah resapan air telah berubah fungsi menjadi
penyumbang banjir karena tanah diatas perumahan tersebut tidak lagi menyerap
air.
Demikian juga sungai-sungai yang mengalir ke kota Medan seperti : Sungai
Percut, Sungai Deli, Sungai Babura, Sungai Belawan dan sungai-sungai kecil
lainnya, pada bagian hulu sungai telah mengalami kerusakan hutan yang semakin
lama semakin parah. Hal ini akan memberikan sumbangan banjir terhadap kota
Medan. Kedua hal tersebut di atas membuat kota Medan sangat rawan banjir, air
yang masuk kedalam sungai tidak dapat tertampung lagi, hal ini menyebabkan
banjir apabila terjadi hujan dalam jangka waktu yang pendek terjadi banjir di
mana-mana, apalagi dalam jangka waktu yang agak lama dampak banjir tersebut
sudah sangat mengganggu kehidupan masyarakat.

Universitas Sumatera Utara


Kegunaan data curah hujan pada analisa hidrologi meliputi perhitungan
curah hujan maksimum suatu wilayah. Perhitungan nilai intensitas hujan daerah
aliran sungai serta perhitungan debit banjir rencana pada suatu penampang
drainase dipengaruhi oleh iklim yang berupa kelembaban udara, besarnya nilai
evaporasi akibat lamanya penyinaran sinar matahari, kondisi permukaan tanah dan
jenis vegetasi yang terdapat di dalamnya. Keseluruhan faktor di atas dapat
memberikan gambaran terhadap besaran curah hujan yang jatuh dan mengalir di
atas permukaan tanah.
Frekuensi curah hujan adalah besarnya kemungkinan suatu besaran hujan
disertakan atau dilalui. Analisis frekuensi diperlukan seri data hujan yang
diperoleh dari pos penakar hujan baik yang manual maupun otomatis. Analisa
frekuensi ini didasarkan pada sifat statistik data kejadian yang telah lalu untuk
memperoleh probabilitas besaran hujan yang akan datang.
Solusi yang saya lakukan untuk mencegah banjir di Kecamatan Medan
Selayang Kelurahan Asam Kumbang yaitu dengan membangun kolam-kolam
retensi dibagian hulu sungai sebelum masuk ke daerah pemukiman, kolam-kolam
retensi tersebut dapat menampung banjir pada saat hujan turun dan setelah hujan
berhenti, air dapat kembali disalurkan ke sungai. Gambar (4.1) s/d (4.3) di bawah
ini merupakan lokasi rencana perletakan kolam retensi :

Gambar 4.1. Lokasi rencana perletakan kolam retensi (Sumber : Google Maps)

Universitas Sumatera Utara


Gambar 4.2. Lokasi kolam retensi (Sumber : Foto Dokumentasi)

Gambar 4.3. Aliran sungai menuju Sungai Belawan (Sumber : Foto Dokumentasi)

Universitas Sumatera Utara


4.2 Analisa Hidrologi
4.2.1 Analisa Curah Hujan Harian Maksimum
Pos/stasiun curah hujan yang cocok untuk pengambilan data curah hujan
adalah Pos Polonia, Pos Pancur Batu dan Pos Belawan selama 10 tahun terakhir.
Selanjutnya, dilakukan analisa terhadap 4 (empat) metode analisa distribusi
frekuensi hujan yang ada. Data curah hujan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel
(4.3) s/d (4.5) berikut ini :

Tabel 4.3. Data curah hujan Stasiun Klimatologi Polonia 10 tahun terakhir

(Sumber : BMKG Medan)

Tabel 4.4. Data curah hujan Stasiun Klimatologi Pancur Batu 10 tahun terakhir

(Sumber : BMKG Medan)

Universitas Sumatera Utara


Tabel 4.5. Data curah hujan Stasiun Klimatologi Belawan 10 tahun terakhir

(Sumber : BMKG Medan)

Tabel 4.6. Data rata-rata curah hujan maksimum (Metode Rata-rata Aljabar)
Rata -
Tahun SP SPB SB rata
2000 138,3 106,5 85 110
2001 170,8 145 135 150
2002 74,6 99 47 74
2003 97,6 118 140 119
2004 100,2 76 91 89
2005 87,9 190 143 140
2006 124,8 159 396 227
2007 88,2 219 103 137
2008 82,4 83 190 118
2009 115,4 87 96 99
(Sumber : Hasil Perhitungan)

Universitas Sumatera Utara


4.2.1.1 Analisa Curah Hujan Distribusi Normal

Tabel 4.7. Analisa Curah Hujan dengan Distribusi Normal

No
Curah hujan (Xi  X) (Xi  X)2
( mm ) Xi
1 227 100,70 10140,49
2 150 23,70 561,69
3 140 13,70 187,69
4 137 10,70 114,49
5 119 -7,30 53,29
6 118 -8,30 68,89
7 110 -16,30 265,69
8 99 -27,30 745,29
9 89 -37,30 1391,29
10 74 -52,30 2735,29
Jumlah 1263 16264,10
X 126,30
S 42,51
(Sumber : Hasil Perhitungan)

Dari data-data di atas didapat : X = 126,30 mm


Standar deviasi : S = 42,51

Tabel 4.8. Analisa Curah Hujan Rencana dengan Distribusi Normal

Periode ulang (T) X Curah hujan


No KT S
tahun (XT) (mm)
1 2 0 126,30 42,51 126,30
2 5 0,84 126,30 42,51 162,01
3 10 1,28 126,30 42,51 180,71
4 25 1,64 126,30 42,51 196,02
5 50 2,05 126,30 42,51 213,45
6 100 2,33 126,30 42,51 225,35
(Sumber : Hasil Perhitungan)

Universitas Sumatera Utara


Berikut hasil analisa curah hujan rencana dengan Distribusi Normal :

Untuk periode ulang (T) 2 tahun

XT  X
KT   XT  X  (K T  S)
S
= 126,30 + ( 0 
42,51 ) = 126,30 mm

Untuk periode ulang (T) 5 tahun

XT  X
KT   XT  X  (K T  S)
S
= 126,30 + ( 0,84 
42,51 ) = 162,01 mm

Untuk periode ulang (T) 10 tahun

XT  X
KT   XT  X  (K T  S)
S
= 126,30 + ( 1,28 
42,51 ) = 180,71 mm

Untuk periode ulang (T) 25 tahun

XT  X
KT   XT  X  (K T  S)
S
= 126,30 + ( 1,64 
42,51 ) = 196,02 mm

Untuk periode ulang (T) 50 tahun

XT  X
KT   XT  X  (K T  S)
S
= 126,30 + ( 2,05 
42,51 ) = 213,45 mm

Untuk periode ulang (T) 100 tahun

XT  X
KT   XT  X  (K T  S)
S
= 126,30 + ( 2,33 
42,51 ) = 225,35 mm

Universitas Sumatera Utara


4.2.1.2 Analisa Curah Hujan Distribusi Log Normal
Tabel 4.9. Analisa Curah Hujan dengan Distribusi Log Normal

Curah hujan (log Xi - log


No Log Xi (log Xi - log X)2
(mm) Xi X)
1 227 2,36 0,25 0,06
2 150 2,18 0,07 0,01
3 140 2,15 0,04 0,00
4 137 2,14 0,04 0,00
5 119 2,08 -0,03 0,00
6 118 2,07 -0,03 0,00
7 110 2,04 -0,06 0,00
8 99 2,00 -0,11 0,01
9 89 1,95 -0,15 0,02
10 74 1,87 -0,23 0,05
Jumlah 1263 20,8 0,17
X 126,30 2,08
S 0,14
(Sumber : Hasil Perhitungan)

Dari data-data di atas didapat : X = 2,08 mm


Standar deviasi : S = 0,14

Tabel 4.10 Analisa Curah Hujan Rencana dengan Distribusi Log Normal
Periode ulang (T) Curah hujan
No KT Log X Log S Log XT
tahun (XT)
1 2 0 2,08 0,14 2,08 120,73
2 5 0,84 2,08 0,14 2,20 157,12
3 10 1,24 2,08 0,14 2,25 178,12
4 25 1,64 2,08 0,14 2,31 201,93
5 50 2,05 2,08 0,14 2,36 229,64
6 100 2,33 2,08 0,14 2,40 250,72
(Sumber : Hasil Perhitungan)

Berikut hasil analisa curah hujan rencana dengan Distribusi Log Normal :

Universitas Sumatera Utara


Log XT = LogX  (K T  S)

T = 2 tahun
Log X2 = 2,08 + (0 × 0,14)
Log X2 = 2,08
X2 = 120,73 mm

Log XT = LogX  (K T  S)

T = 5 tahun
Log X2 = 2,08 + (0,84 × 0,14)
Log X2 = 2,20
X2 = 157,12 mm

Log XT = LogX  (K T  S)

T = 10 tahun
Log X2 = 2,08 + (1,24 × 0,14)
Log X2 = 2,25
X2 = 178,12 mm

Log XT = LogX  (K T  S)
T = 25 tahun
Log X2 = 2,08 + (1,64 × 0,14)
Log X2 = 2,31
X2 = 201,93 mm

Log XT = LogX  (K T  S)

T = 50 tahun
Log X2 = 2,08 + (2,05 × 0,14)
Log X2 = 2,36
X2 = 229,64 mm

Universitas Sumatera Utara


Log XT = LogX  (K T  S)

T = 100 tahun
Log X2 = 2,08 + (2,33 × 0,14)
Log X2 = 2,40
X2 = 250,72 mm

4.2.1.3 Analisa Curah Hujan Distribusi Log Person III


Tabel 4.11. Analisa Curah Hujan dengan Distribusi Log Person III

(Sumber : Hasil Perhitungan)

Dari data-data di atas didapat : X = 2,082 mm


Standar deviasi : S = 0,135
Koefisien kemencengan : G = 0,527

Tabel 4.12. Analisa Curah Hujan Rencana dengan Distribusi Log Person III
Periode ulang Curah hujan
No K Log X Log S Log XT
(T) tahun ( XT)
1 2 -0,087 2,082 0,136 2,070 117,465
2 5 0,806 2,082 0,136 2,192 155,444
3 10 1,324 2,082 0,136 2,262 182,896
4 25 1,917 2,082 0,136 2,343 220,292
5 50 2,324 2,082 0,136 2,398 250,248
6 100 2,704 2,082 0,136 2,450 281,919
(Sumber : Hasil Perhitungan)

Universitas Sumatera Utara


Berikut hasil analisa curah hujan rencana dengan Distribusi Log Person III :

Log XT = LogX  (K T  S)

T = 2 tahun
Log X2 = 2,082 + ( -0,087 × 0,136 )
Log X2 = 2,070
X2 = 117,465 mm

Log XT = LogX  (K T  S)

T = 5 tahun
Log X2 = 2,082 + ( 0,806 × 0,136 )
Log X2 = 2,192
X2 = 155,444 mm

Log XT = LogX  (K T  S)

T = 10 tahun
Log X2 = 2,082 + ( 1,324 × 0,136 )
Log X2 = 2,262
X2 = 182,896 mm

Log XT = LogX  (K T  S)

T = 25 tahun
Log X2 = 2,082 + ( 1,917 × 0,136 )
Log X2 = 2,343
X2 = 220,292 mm

Log XT = LogX  (K T  S)

T = 50 tahun
Log X2 = 2,082 + ( 2,324 × 0,136 )
Log X2 = 2,398
X2 = 250,248 mm

Universitas Sumatera Utara


Log XT = LogX  (K T  S)

T = 100 tahun
Log X2 = 2,082 + ( 2,704 × 0,136 )
Log X2 = 2,450
X2 = 281,919 mm

4.2.1.4 Analisa Curah Hujan Distribusi Gumbel


Tabel 4.13. Analisa Curah Hujan dengan Distribusi Gumbel

No
Curah hujan P
m Periode (Xi  X) (Xi  X)2
( mm ) Xi n 1 ulang
1 227 0,09 11,11 100,70 10140,49
2 150 0,18 5,56 23,70 561,69
3 140 0,27 3,70 13,70 187,69
4 137 0,36 2,78 10,70 114,49
5 119 0,45 2,22 -7,30 53,29
6 118 0,54 1,85 -8,30 68,89
7 110 0,64 1,56 -16,30 265,69
8 99 0,73 1,37 -27,30 745,29
9 89 0,82 1,21 -37,30 1391,29
10 74 0,91 1,10 -52,30 2735,29
Jumlah 1263 16264,10
X 126,30
S 42,51

(Sumber : Hasil Perhitungan)

Dari data-data di atas didapat : X= 126,30 mm


Standar deviasi : S = 42,51

Dari Tabel 2.4 dan Tabel 2.5 untuk n = 10


Yn  0.4952
Sn  0.9496

Universitas Sumatera Utara


Berikut hasil analisa curah hujan rencana dengan Distribusi Gumbel :

Untuk periode ulang (T) 2 tahun


YTR  0.3668
YTR  Yn 0.3668  0.4952
K   0.135
Sn 0.9496
XT = 126,30 + ( –0,135 * 42,51 ) = 120,56 mm

Untuk periode ulang (T) 5 tahun


YTR  1.5004
YTR  Yn 1.5004  0.4952
K   1.06
Sn 0.9496
XT = 126,30 + ( 1,06 * 42,51 ) = 171,36 mm

Untuk periode ulang (T) 10 tahun


YTR  2.2510
YTR  Yn 2.2510  0.4952
K   1.85
Sn 0.9496
XT = 126,30 + ( 1,85 * 42,51 ) = 204,94 mm

Untuk periode ulang (T) 25 tahun


YTR  2.9709
YTR  Yn 2.9709  0.4952
K   2.61
Sn 0.9496
XT = 126,30 + ( 2,61 * 42,51 ) = 237,25 mm

Untuk periode ulang (T) 50 tahun


YTR  3.9028
YTR  Yn 3.9028  0.4952
K   3.59
Sn 0.9496
XT = 126,30 + ( 3,59 * 42,51 ) = 278,91 mm

Universitas Sumatera Utara


Untuk periode ulang (T) 100 tahun
YTR  4.6012
YTR  Yn 4.6012  0.4952
K   4.32
Sn 0.9496
XT = 126,30 + ( 4,32 * 42,51 ) = 309,94 mm

Tabel 4.14. Analisa Curah Hujan Rencana dengan Distribusi Gumbel


Periode ulang (T) X Curah hujan
No YTR Yn Sn S K
tahun (XT) (mm)
1 2 0,3668 0,4952 0,9496 126,30 42,5103 -0,14 120,56
2 5 1,5004 0,4952 0,9496 126,30 42,5103 1,06 171,36
3 10 2,2510 0,4952 0,9496 126,30 42,5103 1,85 204,94
4 25 2,9709 0,4952 0,9496 126,30 42,5103 2,61 237,25
5 50 3,9028 0,4952 0,9496 126,30 42,5103 3,59 278,91
6 100 4,6012 0,4952 0,9496 126,30 42,5103 4,32 309,94
(Sumber : Hasil Perhitungan)

Tabel 4.15. Rekapitulasi Analisa Curah Hujan Rencana Maksimum


Periode ulang
No Normal Log Normal Log Person III Gumbel
(T) tahun
1 2 126,30 120,73 117,47 120,56
2 5 162,01 157,12 155,44 171,36
3 10 180,71 178,12 182,90 204,94
4 25 196,02 201,93 220,29 237,25
5 50 213,45 229,64 250,25 278,91
6 100 225,35 250,72 281,92 309,94
(Sumber : Hasil Perhitungan)

Universitas Sumatera Utara


Dan selanjutnya hasil analisis dapat dilihat pada grafik berikut :

Gambar 4.4 Grafik Curah Hujan Maksimum dan Periode Ulang

4.3 Analisa Frekuensi Curah Hujan


Frekuensi hujan adalah besarnya kemungkinan suatu besaran hujan
disamai atau dilampaui. Analisa frekuensi diperlukan seri data hujan yang
diperoleh dari penakar hujan, baik yang manual maupun otomatis. Analisa
frekuensi ini didasarkan pada sifat statistik data kejadian yang telah lalu untuk
memperoleh probabilitas besaran hujan di masa yang akan datang. Dengan
anggapan bahwa sifat statistik kejadian hujan yang akan datang masih sama
dengan sifat statistik kejadian hujan masa lalu. Analisa frekuensi curah hujan
diperlukan untuk menentukan jenis sebaran (distribusi). Perhitungan analisa
frekuensi curah hujan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel (4.16) berikut ini :

Universitas Sumatera Utara


Tabel 4.16. Analisa Frekuensi Curah Hujan

No. Tahun Xi P (Xi - X) (Xi - X)2 (Xi - X)3 (Xi - X)4


1 2006 227 0,09 100,70 10.140,49 1.021.147,34 102.829.537,44
2 2001 150 0,18 23,70 561,69 13.312,05 315.495,66
3 2005 140 0,27 13,70 187,69 2.571,35 35.227,54
4 2007 137 0,36 10,70 114,49 1.225,04 13.107,96
5 2003 119 0,45 -7,30 53,29 -389,02 2.839,82
6 2008 118 0,55 -8,30 68,89 -571,79 4.745,83
7 2000 110 0,64 -16,30 265,69 -4.330,75 70.591,18
8 2009 99 0,73 -27,30 745,29 -20.346,42 555.457,18
9 2004 89 0,82 -37,30 1.391,29 -51.895,12 1.935.687,86
10 2002 74 0,91 -52,30 2.735,29 -143.055,67 7.481.811,38
Jumlah 1263,0 16.264,10 817.667,01 113.244.501,85
Rerata ( X ) 126,30
(Sumber : Hasil Perhitungan)

Dari hasil perhitungan di atas, selanjutnya ditentukan jenis sebaran yang


sesuai, dalam penentuan jenis sebaran diperlukan faktor-faktor sebagai berikut :

1. Koefisien Skewness ( Cs ) = 1,478


2. Koefisien Kurtosis ( Ck ) = 6,880
3. Koefisien Variasi ( Cv ) = 0,337
4. Simpangan Baku ( S ) = 42,51
5. Rata-rata ( X ) = 126,30

4.4 Pemilihan Jenis Distribusi


Dalam statistik terdapat beberapa jenis sebaran (distribusi), diantaranya
yang sering digunakan dalam hidrologi adalah :
1. Distribusi Gumbel
2. Distribusi Log Normal
3. Distribusi Log Person III
4. Distribusi Normal

Berikut ini adalah perbandingan syarat-syarat distribusi dan hasil


perhitungan analisa frekuensi hujan.

Universitas Sumatera Utara


Tabel 4.17. Perbandingan Syarat Distribusi dan Hasil Perhitungan
Hasil
No Jenis Distribusi Syarat
Perhitungan
Gumbel CS ≤ 1,1396 1,478 ≥ 1,1396
1
Ck ≤ 5,4002 6,880 ≥ 5,4002
Log Normal CS = 3 CV + CV2
2 1,478 > 0.835
CS = 0,8325
3 Log Person III CS > 0 1,478 > 0
4 Normal CS = 0 1,478 ≠ 0
(Sumber : Hasil Perhitungan)

Berdasarkan perbandingan hasil perhitungan dan syarat diatas, maka dapat


dipilih jenis distribusi yang memenuhi syarat, yaitu Distribusi Log Person III.

4.5 Pengujian Kecocokan Jenis Sebaran


Pengujian kecocokan jenis sebaran berfungsi untuk menguji apakah
sebaran yang dipilih dalam pembuatan duration curve cocok dengan sebaran
empirisnya. Dalam hal ini menggunakan metode Chi-Kuadrat dan metode
Smirnov Kolmogorov. Uji kecocokan ini untuk mengetahui apakah data curah
hujan yang ada sudah sesuai dengan jenis sebaran (distribusi) yang dipilih.

 Uji Sebaran Chi-Kuadrat (Chi Square Test)

G
(Oi  Ei ) 2
Xh 2  
i 1 Ei
Di mana :
X h 2 = parameter chi-kuadrat terhitung
G = jumlah sub kelompok
Oi = jumlah nilai pengamatan pada sub kelompok i

Ei = jumlah nilai teoritis pada sub kelompok i

Universitas Sumatera Utara


 Rumus derajat kebebasan

dk  k  R 1
Di mana :
dk = derajat kebebasan

k = jumlah kelas
R = banyaknya keterikatan

 Perhitungan Chi-kuadrat

Jumlah Kelas (k) = 1 + 3,322 log n


= 1 + 3,322 log 10
= 4,332 ≈ diambil nilai 4 kelas

Derajat Kebebasan (dk) = k - R - 1


=4-1-1
=2

Untuk dk = 2, signifikan (α) = 5 %, maka dari tabel uji chi-kuadrat didapat


harga X2 = 5,991.

Ei =n/k
= 10 / 4
= 2,5
Dx = (Xmax – Xmin) / (k – 1)
= (227 – 74) / (4 – 1)
= 51
Xawal = Xmin – (0,5 × Dx)
= 74 – (0,5 × 51)
= 48,5

Universitas Sumatera Utara


Tabel Perhitungan X2 :

Tabel 4.18. Perhitungan Uji Chi-Kuadrat


(Ei- (Ei-
No Kemungkinan Ei Oi
Oi)2 Oi)2/Ei
1 49 < x < 100 2,5 4 2,25 0,9
2 100 < x < 151 2,5 4 2,25 0,9
3 151 < x < 202 2,5 1 2,25 0,9
4 202 < x < 253 2,5 1 2,25 0,9
10 10 3,6
(Sumber : Hasil Perhitungan)

 Uji Sebaran Smirnov-Kolmogorov


Uji kecocokan Smirnov-Kolmogorov sering juga disebut uji kecocokan
non parametrik (non parametric test), karena pengujiannya tidak menggunakan
fungsi distribusi tertentu. Adapun hasil perhitungan uji Smirnov-Kolmogorov
dapat dilihat pada Tabel (4.19) berikut ini :

Tabel 4.19. Perhitungan Uji Smirnov Kolmogorov

(Sumber : Hasil Perhitungan)

Dari hasil perhitungan di atas didapat nilai Dmax sebesar 0,202 yang kurang
dari nilai Dcr pada tabel uji Smirnov Kolmogorov yang besarnya adalah 0,410.
Maka dari pengujian kecocokan penyebaran Distribusi Log Person III dapat
diterima.

Universitas Sumatera Utara


4.6 Analisa Catchment Area dan Koefisien Run Off
Faktor-faktor yang mempengaruhi sebelum menganalisa debit rencana
suatu daerah/kawasan yang akan ditinjau perlu diperkirakan terlebih dahulu
seperti daerah tangkapan hujan (cacthment area dan koefisien Run off) pada
kawasan tersebut. Faktor utama yang mempengaruhinya adalah laju infiltrasi
tanah atau persentase lahan kedap air, kemiringan lahan, tanaman penutup tanah
dan lain-lain. Untuk daerah di kota ini karakter permukaan tanahnya bervariasi
dari daerah perdagangan padat dan sedang, perumahan/perkantoran padat dan
sedang serta kawasan hutan.
Daerah tangkapan hujan sangat tergantung terhadap kondisi lahan/tanah
yang ada. Untuk menganalisanya disesuaikan dengan kondisi karakter
permukaannya yang dikaitkan dengan daerah catchment area sesuai dengan sub
drainase yang dimaksud. Dalam hal ini telah ditentukan nilai dari koefisien
limpasan terhadap kondisi karakter permukaannya yaitu :

Tabel 4.20. Nilai Koefisien Run Off (C)


Keterangan Koefisien Run off (C)
PMH Perumahan 0.33
JLN Jalan Aspal/Beton 0.83
ATAP Atap 0.85
A.T Area Terbuka (Hijau) 0.28
(Sumber : McGuen, 1989)

Perhitungan catchment area dan koefisien run off selengkapnya dapat


dilihat pada lampiran Tabel (4.21) di bawah ini :

Universitas Sumatera Utara


Tabel 4.21. Perhitungan catchment area dan koefisien run off

(Sumber : Hasil Perhitungan)

4.7 Analisa Waktu Konsentrasi dan Intensitas


Waktu yang diperlukan oleh hujan yang jatuh untuk mengalir dari titik
terjauh sampai ketempat keluarannya (titik kontrol) disebut dengan waktu
konsentrasi suatu daerah aliran di mana setelah tanah menjadi jenuh dan tekanan
kecil terpenuhi. Dalam hal ini diasumsikan bahwa jika durasi hujan sama dengan
waktu konsentrasi maka setiap bagian daerah aliran secara serentak telah
menyumbangkan aliran terhadap titik kontrol.
Intensitas hujan adalah tinggi atau kedalaman air hujan persatuan waktu.
Sifat umum hujan adalah semakin singkat hujan berlangsung, intensitasnya
cenderung makin tinggi dan makin besar periode ulangnya makin jauh pula
intensitasnya.
Hubungan antara intensitas hujan, lamanya hujan dan frekuensi hujan
biasanya dinyatakan dalam lengkung Intensitas Durasi Frekuensi (IDF) yaitu
Intensity, Duration, Frequency Curve. Diperlukan data hujan jangka pendek
misalnya 5 menit, 10 menit, 30 menit, 60 menit dan jam-jaman untuk membentuk
lengkung IDF. Data hujan jenis ini hanya dapat diperoleh dari stasiun penakar
otomatis, selanjutnya berdasarkan hujan jangka pendek tersebut lengkung IDF
dapat dibuat. Dari tabel dibawah dan divariasikan terhadap waktu konsentrasi
serta fungsi dari drainase itu sendiri (primer atau sekunder).

Universitas Sumatera Utara


Untuk saluran drainase primer curah hujan rencana yang diperkirakan
untuk 25 tahunan sedangkan untuk saluran drainase sekunder diambil curah hujan
rencana untuk 25 tahunan, sehingga didapatlah analisa perhitungan intensitas dan
waktu konsentrasi pada Tabel (4.22) berikut ini :

Tabel 4.22. Perhitungan Analisa Intensitas Curah Hujan


T t I (mm/jam)
No
(menit) (jam) R2 R5 R10 R25 R50 R100
1 5 0,08333 213,454 282,468 332,354 400,307 454,742 512,295
2 10 0,16667 134,462 177,937 209,361 252,168 286,458 322,713
3 20 0,33333 84,708 112,095 131,892 158,859 180,461 203,300
4 30 0,50000 64,644 85,544 100,652 121,231 137,717 155,146
5 40 0,66667 53,362 70,615 83,086 100,074 113,682 128,070
6 50 0,83333 45,986 60,855 71,602 86,241 97,969 110,368
7 60 1,00000 40,723 53,889 63,407 76,371 86,756 97,736
8 70 1,16667 36,746 48,626 57,214 68,912 78,283 88,191
9 80 1,33333 33,616 44,485 52,341 63,043 71,616 80,679
10 90 1,50000 31,077 41,125 48,388 58,282 66,207 74,586
11 100 1,66667 28,969 38,336 45,106 54,329 61,716 69,527
12 110 1,83333 27,186 35,976 42,329 50,984 57,917 65,247
13 120 2,00000 25,654 33,948 39,944 48,111 54,653 61,570
14 130 2,16667 24,321 32,184 37,868 45,611 51,813 58,370
15 140 2,33333 23,148 30,633 36,043 43,412 49,315 55,557
16 150 2,50000 22,108 29,256 34,422 41,460 47,098 53,059
17 160 2,66667 21,177 28,024 32,973 39,714 45,115 50,825
18 170 2,83333 20,338 26,914 31,667 38,141 43,328 48,812
19 180 3,00000 19,578 25,907 30,483 36,715 41,708 46,987
(Sumber : Hasil Perhitungan)

Salah satu contoh perhitungan (R2, R5, R10, R25, R50 dan R100) analisa
intensitas curah hujan Distribusi Log Person III di atas sebagai berikut :

Universitas Sumatera Utara


Untuk periode ulang (T) 2 tahun

mm/jam

Untuk periode ulang (T) 5 tahun

mm/jam

Untuk periode ulang (T) 10 tahun

mm/jam

Untuk periode ulang (T) 25 tahun

mm/jam

Universitas Sumatera Utara


Untuk periode ulang (T) 50 tahun

mm/jam

Untuk periode ulang (T) 100 tahun

mm/jam

Dari analisa di atas dapat digambarkan kurva IDR sebagai berikut :

Gambar 4.5. Grafik Intensitas Curah Hujan

Universitas Sumatera Utara


Perhitungan analisa waktu konsentrasi dan intensitas hujan rencana
dihitung dengan menggunakan rumus Dr. Mononobe. Maka untuk perhitungan
metode Dr. Mononobe dapat dilihat pada (Tabel 4.23) berikut ini :

Tabel 4.23. Perhitungan Waktu Konsentrasi dan Intensitas Hujan Rencana


Rc I
V t T
Jalan Drainase L (m) S (mm) (mm/jam)
(m/detik) (menit) (tahun)
25th 25th
Bunga Seruni BS-001 148,5961 0,001 3,58202 0,691 25 220,292 97,673
Bunga
BK-001 0,967 78,098
Kembang 183,2625 0,001 3,158554 25 220,292
Bunga Sakura BS-001 415,5947 0,001 1,932549 3,584 25 220,292 32,609
Bunga Sakura BS-002 363,8643 0,001 2,092998 2,897 25 220,292 37,576
Bunga Mawar BM-001 246,4493 0,001 2,64421 1,553 25 220,292 56,939
Bunga Melati BD-001 267,7866 0,001 2,515702 1,774 25 220,292 52,113
Bunga Tulip BT-001 215,1072 0,001 2,869059 1,250 25 220,292 65,829
Jaya J-001 272,1895 0,001 2,491206 1,821 25 220,292 51,214
Bunga Anggrek BA-001 101,6159 0,001 4,499409 0,376 25 220,292 146,496
(Sumber : Hasil Perhitungan)

4.8 Analisa Debit Rencana


Aliran pada saluran atau sungai tergantung dari berbagai faktor-faktor secara
bersamaan. Dalam perencanaan saluran drainase dapat dipakai standar yang telah
ditetapkan, baik debit rencana (periode ulang) dan cara analisis yang dipakai
dalam kaitannya dengan limpasan faktor yang berperngaruh secara umum dapat
dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu :
 Faktor meteorologi yaitu karakteristik hujan seperti intensitas hujan, durasi
hujan dan distribusi hujan.
 Karakteristik Daerah Aliran Sungai meliputi luas dan bentuk Daerah
Aliran Sungai, topografi dan tata guna lahan.

Perhitungan debit rencana saluran drainase didaerah perkotaan dapat


dilakukan dengan menggunakan rumus rasional. Tabel (4.24) berikut ini
menyajikan standar desain saluran drainase berdasarkan “Pedoman Drainase
Perkotaan dan Standar Desain Teknis”.

Universitas Sumatera Utara


Tabel 4.24. Kriteria Desain Hidrologis Sistem Drainase Perkotaan
Periode ulang Metode perhitungan debit
Luas DAS (ha)
(tahun) banjir
< 10 2 Rasional
10 – 100 2–5 Rasional
101 – 500 5 – 10 Rasional
> 500 10 – 25 Hidrograf satuan
(Suripin, 2003. Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan : 241)

Dari hasil analisa terhadap data yang diperoleh besar debit rencana untuk
masing-masing saluran dapat dicari dengan menggunakan rumus manning seperti
salah satu contoh perhitungan di bawah ini (Jalan Bunga Seruni) :

I = 97,673 mm/jam
C = 0,685
A = 0,032 km2

Maka penyelesaiannya adalah sebagai berikut :

QT = 0,278 * C * I * A
QT = 0,278 * 0,685 * 97,673 * 0,032
QT = 0,595 m3/detik

Maka untuk perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada Tabel (4.25) berikut ini.

Universitas Sumatera Utara


Tabel 4.25. Perhitungan Analisa Debit Rencana
Debit Banjir Rencana
Jalan Drainase I QT
A
C (mm/jam) (m3/det)
(km2 )
25th 25th
Bunga Seruni BS-001 0,684697 97,67338 0,032 0,592
0,601115 97,67338 0,007 0,116
Bunga
BK-001 0,56732
Kembang 78,09783 0,024 0,300
0,684697 78,09783 0,032 0,473
Bunga Sakura BS-001 0,56732 32,6089 0,024 0,125
0,625576 32,6089 0,047 0,264
Bunga Sakura BS-002 0,602838 37,57642 0,038 0,242
0,564237 37,57642 0,058 0,341
Bunga Mawar BM-001 0,36265 56,93877 0,049 0,280
0,602838 56,93877 0,038 0,367
Bunga Melati BD-001 0,36265 52,1126 0,049 0,256
0,625576 52,1126 0,047 0,423
Bunga Tulip BT-001 0,564237 65,82924 0,058 0,598
0,56732 65,82924 0,024 0,252
Jaya J-001 0,564237 51,21392 0,058 0,465
0,615588 51,21392 0,058 0,506
Bunga Anggrek BA-001 0,660169 146,4958 0,006 0,154
0,615588 146,4958 0,058 1,447
(Sumber : Hasil Perhitungan)

4.9 Analisa Kapasitas Drainase


Analisa ini dilakukan sebagai kontrol terhadap perhitungan debit banjir
rencana. Dari data-data yang ada dapat dihitung kapasitas maksimal debit drainase
Kecamatan Medan Selayang Kelurahan Asam Kumbang dengan menggunakan
rumus manning sebagai berikut :

Universitas Sumatera Utara


Saluran BS-001 (Jalan Bunga Seruni)

 Luas penampang (A) :

A=b  h
A = 0,80  0,70
A = 0,56 m2

 Keliling basah (P) :

P=b+2*h
P = 0,80 + 2 * (0,70)
P = 2,20 m

 Jari-jari hidrolis (R)

R=A/P
R = 0,56 / 2,20
R = 0,25

 Kecepatan aliran (V)

m/detik

Universitas Sumatera Utara


 Debit saluran (Q)

QS = AS * V
QS = 0,56 * 0,8467
QS = 0,4741 m3/detik

Perhitungan kapasitas drainase selengkapnya dapat dilihat pada lampiran


Tabel (4.26) di bawah ini.

Tabel 4.26. Perhitungan Kapasitas Drainase

(Sumber : Hasil Perhitungan)

Universitas Sumatera Utara


Tabel 4.27. Perbandingan dimensi existing dengan rencana
Dimensi Saluran
Dimensi Saluran Rencana
Bentuk Existing
Jalan Drainase Konstruksi
Penampang b h B b h B
(m) (m) (m) (m) (m) (m)
Bunga
BS-001 Beton Persegi 0,80 0,70 0,80 1,00 0,90 1,00
Seruni
Beton Persegi 0,50 0,40 0,50 0,70 0,60 0,70
Bunga
BK-001 Beton Persegi 0,70 0,60 0,70 0,90 0,80 0,90
Kembang
Beton Persegi 0,70 0,60 0,70 0,90 0,80 0,90
Bunga
BS-001 Beton Persegi 0,50 0,40 0,50 0,70 0,60 0,70
Sakura
Beton Persegi 0,60 0,50 0,60 0,80 0,70 0,80
Bunga
BS-002 Beton Persegi 0,60 0,50 0,60 0,80 0,70 0,80
Sakura
Beton Persegi 0,70 0,60 0,70 0,90 0,80 0,90
Bunga
BM-001 Beton Persegi 0,60 0,50 0,60 0,80 0,70 0,80
Mawar
Beton Persegi 0,70 0,60 0,70 0,90 0,80 0,90
Bunga
BD-001 Beton Persegi 0,60 0,50 0,60 0,80 0,70 0,80
Melati
Beton Persegi 0,70 0,60 0,70 0,90 0,80 0,90
Bunga
BT-001 Beton Persegi 0,80 0,70 0,80 1,00 0,90 1,00
Tulip
Beton Persegi 0,60 0,50 0,60 0,80 0,70 0,80
Jalan
J-001 Beton Persegi 0,70 0,60 0,70 0,90 0,80 0,90
Jaya
Beton Persegi 0,80 0,70 0,80 1,00 0,90 1,00
Bunga
BA-001 Beton Persegi 0,50 0,40 0,50 0,70 0,60 0,70
Anggrek
Beton Persegi 1,10 1,00 1,10 1,30 1,20 1,30
(Sumber : Hasil Perhitungan)

Universitas Sumatera Utara


4.10 Perencanaan Kolam Retensi

Diketahui pada jalan Bunga Melati :

A = 0,048732982 km2

C = 0,36265

L = 267,7866 m

V = 0,690626 m/detik

R = 220,292 mm

 Rencanakan waktu pengaliran sepanjang saluran :

 Perencanaan waktu konsentrasi :

 Koefisien penyimpangan :

 Intensitas hujan :

Universitas Sumatera Utara


 Debit air yang masuk :

Q = 0,278 * C * I * A
Q = 0,278 * 0,36265 * 0,8359 * 3,4015 * 0,048732982
Q = 0,013969 m3/detik

Dari data di atas diperoleh hidrograf aliran masuk seperti di bawah ini :

0,013969

t (menit)
16,4624 tc + td = 22,9248

Gambar 4.6. Hidrograf aliran masuk

Lalu hitung kumulatif aliran masuk Qin pada tabel berikut :

Tabel 4.28. Tabel kumulatif aliran masuk


Kumulatif
Aliran Rata-rata Aliran
t A Volume Volume 2
Masuk Masuk
m^3
0 0 225
10 0,0085 0,004242699 225 0,954607 5.280
16,4624 0,0140 0,011227199 225 2,52612 5.282,52612
20 0,0063 0,010145596 225 2,282759 5.284,808879
22,9248 0 0,003161096 225 0,711247 5.285,520125
30 0 0 225 0 5.285,520125
40 0 0 225 0 5.285,520125
50 0 0 225 0 5.285,520125
60 0 0 225 0 5.285,520125
(Sumber : Hasil Perhitungan)

Universitas Sumatera Utara


Lalu hitung volume kolam retensi dengan memakai pompa 5 m3/detik dan
10 m3/detik.

Tabel 4.29. Analisa volume kolam retensi dan keperluan pompa


Kumulatif Komulatif Volume Komulatif
Volume Kolam Retensi
Waktu Volume 2 Pompa
(menit) (m^3) 5 m^3/det 10m^3/det 5 m^3/det 10m^3/det

0 0 0 0 0
10 5.280 600 4.800 4.680 480
-
16,4624 5.282,52612 3.950,976 7.901,952 1.331,5501
2.619,42588
-
20 5.284,808879 4.800 9.600 484,80888
4.315,19112
-
22,9248 5.285,520125 5.501,952 11.003,904 -216,4319
5.718,38387
-
30 5.285,520125 7.200 14.400 -1.914,48
9.114,47987
-
40 5.285,520125 9.600 19.200 -4.314,48
13.914,4799
-
50 5.285,520125 12.000 24.000 -6.714,48
18.714,4799
-
60 5.285,520125 14.400 28.800 -9.114,48
23.514,4799
(Sumber : Hasil Perhitungan)

Dari Tabel (4.29) dihasilkan volume kolam retensi sebagai berikut :

 Untuk pompa 5 m3/detik maka volume kolam retensinya 4.680 m3.


 Maka dimensi kolam retensinya adalah :
Panjang = 15 m
Lebar = 15 m
Dalam = 480 / (15 x 15)
= 2,13 m

Universitas Sumatera Utara


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

a. Dari analisa frekuensi curah hujan berdasarkan empat jenis distribusi dengan

periode ulang 25 tahun diperoleh nilai curah hujan seperti berikut :

- Distribusi Normal R25 = 196.02 mm

- Distribusi Log Normal R25 = 201.93 mm

- Distribusi Log Person III R25 = 220.292 mm

- Distribusi Gumbel R25 = 237.25 mm

b. Nilai curah hujan yang digunakan untuk perhitungan intensitas curah hujan

adalah nilai curah hujan Distribusi Log Person III periode ulang 25 tahun.

c. Dari analisa dimensi saluran ternyata ada beberapa saluran yang tidak mampu

menampung debit saluran. Nilai debit saluran lebih kecil dari nilai debit

rencana.

d. Dari pengamatan dan analisa yang dilakukan penyebab terjadinya banjir adalah

perubahan tata guna lahan sehingga merubah nilai koefisien limpasan, saluran

drainase yang tidak terkoneksi dengan baik, penyerobotan bantaran sungai dan

kurangnya perawatan drainase secara berkala.

e. Dimensi kolam retensi yang direncanakan 15 m×15 m×2.13 m dengan

memakai pompa 5 m3/detik.

Universitas Sumatera Utara


5.2 Saran

a. Memperbaiki saluran yang ada agar berfungsi dengan optimal.

b. Membuat drainase tambahan apabila ada penambahan jalan baru.

c. Membuat tempat pembuangan sampah yang efektif untuk mencegah

dibuangnya sampah kesaluran atau sungai.

d. Perlunya penghutanan kembali daerah tangkapan hujan sehingga air hujan

dapat diserap oleh pepohonan dan semak belukar

Universitas Sumatera Utara