Anda di halaman 1dari 166

PIMPINAN CABANG

IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH


(Muhammadiyah Students Association)
MALANG RAYA
Jln. Gajayana, PDM Kota Malang, Jawa timur, Telp. 082334238063

SURAT KEPUTUSAN
Nomor :020/A-1/XIII-2/2016

TENTANG:
DESAIN PERKADERAN IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH MALANG
RAYA

Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Malang Raya, setelah:


Menimbang : 1. Bahwa IMM adalah organisasi kader yang bergerak dalam
bidang keagamaan, kemahasiswaan dan kemasyarakatan dalam
rangka mencapai tujuan muhammadiyah;

2. Bahwa Sistem Perkaderan Ikatan (SPI) dipandang perlu


diturunkan atau diterjemahkan sesuai dengan kondisi kaderisasi
yang ada di IMM Malang Raya;

3. Bahwa permasalahan kaderisasi merupakan hal yang penting


bagi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malang Raya untuk
diselesaikan serta meminimalisir ketimpangan kualitas
kaderisasi yang ada;

4. Bahwa untuk meminimalisir permasalahan kaderisasi yang ada


di IMM Malang Raya dibutuhkan Desain Perkaderan Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Malang Raya;

5. Bahwahasil rumusan Desain Perkaderan IMM Malang Raya


yang disepakati dalam Lokakarya Perkaderan IMM Malang
Raya, perlu untuk ditetapkan dengan Surat Keputusan, agar
dilaksanakan semua pihak.
Mengingat : 1. Anggaran Rumah Tangga, BAB VIII Pasal 29 Tentang
Peraturan Khusus dan Pedoman Kerja;

2. Surat Keputusan Tentang Sistem Perkaderan Ikatan Mahasiswa


Muhammadiyah, Tahun 2010;

3. Tanfidz Musyawarah Cabang Tahun 2016.


Memperhatikan : Hasil Lokakarya Perkaderan IMM Malang Raya, pada tanggal 4 – 7
Agustus 2016.
PIMPINAN CABANG
IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH
(Muhammadiyah Students Association)
MALANG RAYA
Jln. Gajayana, PDM Kota Malang, Jawa timur, Telp. 082334238063
Sekapur Sirih1

Lahirnya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) tentulah dengan cita-cita yang


mulia, yang dengan gagah menjalankan dakwah amar ma’ruh nahi mungkar bersama dengan
organisasi otonom yang lain di bawah naungan Muhammadiyah. Cita-cita harus terus
diperjuangkan, harus di capai dan selalu memiliki sarat nilai yang dapat dirasakan oleh seluruh
manusia. Teringat dengan kalimat Buya Syafi’i Ma’arif yang menyerukan jangan hanya jadi
kader persyarikatan, melainkan jadilah kader kemanusiaan. Jika dimaknai secara mendalam,
pesan dari kalimat ini tidaklah hanya sebatas seruan belaka, melainkan pengingat kepada kita
selaku kader, bahwasanya kader IMM yang sejatinya adalah Kader Muhammadiyah harus
memberikan kehidupannya untuk kemaslahatan manusia.

Butuh waktu yang lama bagi IMM untuk mampu mengenggam cita-citanya. Hingga
saat ini, apa yang dicita-citakan oleh IMM rasa-rasanya masih terlampau jauh dari genggaman
tangan. Butuh waktu yang lebih lama dari umur manusia untuk mencapai cita-cita itu. Sehingga
tiap detik berjalannya kehidupan IMM harus terus beregenarasi, menciptakan generasi penerus
yang terus berjuang untuk mencapai cita-cita yang mulia itu. Kaderisasi menjadi jalan utama
yang ditempuh oleh IMM untuk melahirkan generasi penerusnya. Menancapkan ideologi
sebagai ruh perjuangan menjadi hal pokok untuk mengawali lahirnya kader-kader IMM sebagai
penerus estapet perjuangan para pendahulunya.

Kaderisasi adalah ruh organisasi, hal itu telah diamini sejak lama oleh seluruh kader
Muhammadiyah, apalagi IMM. Dengan kaderisasi, IMM mampu melahirkan generasi yang
ditempa untuk berjuang mewujudkan tujuan IMM. Yaitu “Menjadi Akademisi Muslim yang
berakhlak Mulia demi Tercapainya Cita-Cita Muhammadiyah, Yaitu Masyarakat Islam yang
Sebenar-Benarnya”. Sungguh tidak mudah menjalankan kaderisasi, banyak rintangan, lelah
dan keputus asaan mungkin akan selalu menghampiri, tetapi bila kita sudah berada di lingkaran
IMM, maka pantang mundur sebelum menyelesaikan perjuangan. Itulah prinsip yang harus
dipegang teguh oleh kader IMM.

Terlebih bagi IMM Malang Raya, harus terus menjadikan dirinya sebagai panutan
perjuangan bagi IMM yang lain, berani mengambil langkah yang tepat, dan berkreasi terus-
menerus untuk melahirkan kader-kader militan yang bernilai mutiara. Bila hal itu mampu
dilahirkan oleh Kaderisasi IMM Malang Raya, maka bukan lagi kalimat “Katanya, IMM
Malang Raya itu perkaderannya nomor satu ”, melainkan kalimat “Jika bicara perkaderan,
maka IMM Malang Raya adalah tempatnya”. Hal ini pun akan terwujud bila kaderisasi di
Malang Raya mampu dan konsisten melahirkan mutiara-mutiara yang akan memimpin bangsa
ini dan secara langsung mampu mengamalkan gerakan pembebasan dan keberpihakan
sebagaimana ciri khas yang dimiliki oleh Kader IMM Malang Raya.

Kami selaku Bidang Kader Pimpinan Cabang (PC) IMM Malang Raya menaruh
harapan yang besar pada apa yang telah dirumuskan bersama pada Lokakarya Perkaderan, yang
telah diselenggarakan pada tanggal 4-7 Agustus 2016 dan menghasilkan Desain Perkaderan
IMM Malang Raya. Hasil tersebut diharapkan mampu menjadi pedoman dan pegangan khusus
dalam menjalankan kaderisasi. Ini merupakan sebuah prestasi untuk IMM Malang Raya yang
mampu memberikan sumbangsih besar untuk merekonstruksi kaderisasi IMM Malang Raya
agar menjadi lebih progresif. Harapan terbesar kami adalah IMM Malang Raya tidak hanya
menjadi patrona se perkaderan semata, melainkan mampu melahirkan kader-kader

1
Bidang Kader IMM Malang Raya

1
bernilai mutiara yang memiliki militansi yang tinggi, semangat yang tak pernah redup, dan
kekayaan potensinya mampu menjadikan IMM sebagai organisasi rahmatan lil ‘alamin, baik
bagi organisasi yang lain maupun bagi manusia. Jaya IMM, Billahi Fii Sabilil Haq, Fastabiqul
Khairat.

Malang, 11 Agustus 2016

Bidang Kader PC. IMM Malang Raya

Rudi Suhartono & Nur Alim Mubin AM.

2
DESAIN PERKADERAN

IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH

MALANG RAYA

A. PENDAHULUAN

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan organisasi yang berada dalam


naungan Muhammadiyah sebagai organisasi induknya. IMM dalam melakukan aktivitasnya
tetap mengacu kepada tujuan organisasinya yaitu Mengusahakan terbentuknya akademisi
Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. Serta dalam
pembinaan terhadap kadernya tetap mengacu pada pada Tri Kompetensi Dasar atau tiga
kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh kader yaitu: Religiusitas, Intelektualitas, dan
Humanitas, serta dalam bentuk implementasinya tetap melihat lahan garapnya yaitu:
Keagamaan, Kemahasiswaan dan Kemasyarakatan. Itulah aktivitas konkret yang harus
dilakukan IMM.

IMM merupakan organisasi perkaderan yang bergerak sesuai dengan tujuan organisasi
induknya, yaitu Muhammadiyah. Sesuai dengan yang ada di Sistem Perkaderan Ikatan (SPI),
Perkaderan dalam ikatan merupakan proses pembelajaran yang dilakukan oleh kader dalam
kehidupan, baik bersama ikatan maupun ketika sudah berada di luar struktural. Sedangkan
kaderisasi itu sendiri yaitu melaksanakan proses perkaderan sesuai dengan tujuan organisasi.
Dalam (SPI), secara akumulasinya proses perkaderan yang dilakukan akan diarahkan dalam
rangka transformasi dan regenerasi kepemimpinan IMM disetiap level kepemimpinannya,
sesuai dengan spesifikasi profesi yang ditekuni, kritis, logis, terampil dinamis dan utuh. Dan
dalam menjalankan kaderisasi haruslah secara berkesinambungan (kontinyu) dan mengikat.
Karena dalam proses kaderisasi ini berjalan secara terus menerus sesuai dengan sistem
perkaderan yang ada saat ini.

Jika kita melihat situasi yang ada di IMM Malang Raya, bahwa permasalahan kaderisasi
kalau di tinjau dari beberapa periode terakhir yaitu terkait dengan Arah Perkaderan yang
berbeda dalam setiap komisariat-komisariat dan bahkan ada komisariat yang belum
mempunyai arah perkaderan secara konkret. Perbedaan arah perkaderan ini yang justru menjadi
penyebab ketimpangan kualitas kaderisasi yang ada karena arah perkaderan ini yang akan
mendeterminasi sampai ke metodologi perkaderan. Sehingga kualitas kader yang dihasilkan
pun berbeda-beda, ini dikarenakan terlalu umumnya arah perkaderan yang ada di SPI.

Kalau kita melihat paragraf sebelumnya, esensi perkaderan adalah diarahkan pada
proses transformasi dan regenerasi kepemimpinan disetiap level kepemimpinan. Namun
realitas yang terjadi dilapangan hal ini belum bisa maksimal terwujud dikarenakan
ketimpangan kualitas kaderisasi yang ada di 21 komisariat yang ada di Malang. Secara empiris,
memang regenerasi yang ada ditataran komisariat berjalan, namun secara kualitas belum lah
maksimal dikarenakan ketimpangan kualitas yang terjadi yang penyebabnya adalah arah
Perkaderan yang berbeda-beda, materi-materi yang diberikan juga berbeda, serta
pendampingan yang masih belum maksimal. Permasalahan-permasalahan yang terjadi tersebut
sangatlah mendeterminasi dari satu hingga ke yang lainnya. Arah Perkaderan menjadi hal yang
paling pokok dan fundamental karena dari arah perkaderan ini yang akan melahirkan materi-
materi atau wacana-wacana yang akan di berikan kepada kader. Kemudian untuk menjalankan
materi itu dibutuhkanlah perangkat kaderisasi atau komposisi-komposisi yang akan
menjalankan tugas dalam menjalankan konsepsi-konsepsi kaderisasi mulai dari arah dan juga

3
materi-materi yang akan diberikan. Itulah konsepsi perkaderan, semuanya saling berhubungan
dalam rangka merekayasa manusia agar mencapai tujuan organsisasi.

Desain Perkaderan IMM Malang Raya merupakan sebuah panduan khusus kaderisasi
yang ada di IMM Malang Raya untuk mengatur terkait dengan konsep-konsep Perkaderan atau
pola kaderisasi yang akan dijalankan sebagai bentuk atau langkah konkret untuk mejalankan
kaderisasi yang sesuai dengan kebutuhan atau kondisi yang ada dan tetap mengacu kepada
tujuan organisasi. Hal ini dilakukan untuk merapikan kaderisasi yang ada di Malang Raya di
karenakan SPI yang sampai saat ini dirasa masih terlalu umum dan tidak konkret dalam
menjawab permasalahan kaderisasi yang ada. Desain Perkaderan IMM Malang Raya ini
sebagai bentuk kontekstualisasi Konkret Perkaderan yang ada di SPI dan tentunya melihat
situasi konkret perkaderan yang ada di malang.

Maka dari itu kedudukan Desain Perkaderan ini berada di bawah SPI, karena Desain
Perkaderan ini merupakan turunan atau terjemahan dari SPI yang kemudian di benturkan
dengan kondisi perkaderan yang ada di Malang Raya sehingga mampu menjawab
permasalahan-permasalahan kaderisasi di IMM Malang Raya.

Desain Perkaderan ini berisi :

- Islam sebagai ideologi


- Esensi kelahiran Organisasi
o Kajian Historis Muhammadiyah
o Kajian Historis IMM
- Situasi umum Masyarakat Indonesia
- Perkaderan dalam Muhammadiyah dan IMM serta situasi Perkaderan IMM Malang
Raya
o Perkaderan Muhammadiyah
o Perkaderan Ikatan
o Situasi Perkaderan IMM Malang Raya
- Pola Perkaderan IMM Malang Raya
o Arah Perkaderan IMM Malang Raya
o Target Perkaderan IMM Malang Raya
o Strategi Pencapaian
o Muatan Perkaderan
o Metodologi Strategi Pencapaian
o Prinsip Kaderisasi
- Perangkat Kaderisasi IMM Malang Raya
- Pedoman Pelaksana Perkaderan Utama (DAD) dan Khusus (LIK)

4
BAB I

ISLAM SEBAGAI IDEOLOGI

A. PENDAHULUAN

Ideologi Muhammadiyah dan IMM secara spiritual dapat menguatkan ghirah, azam atau
tekad ber-Muhammadiyah yang kuat dan ikhlas untuk mendapat ridho Allah SWT. Dan tidak
dapat digoyahkan oleh kekuatan-kekuatan yang semata-mata bersifat manusiawi; kedua,
ideologi Muhammadiyah dan IMM berfungsi untuk membentuk karakter kolektif yang bersih,
yang nantinya akan sangat menentukan terwujudnya kolegisitas yang kuat, nyaman dan damai
dalam menggerakkan Muhammadiyah dan IMM; Ketiga, ideologi Muhammadiyah dan IMM
berfungsi menyusun dan menerbitkan langkah-langkah Muhammadiyah dan IMM, serta
seluruh amal usaha yang dimiliki oleh Muhammadiyah; Keempat, ideologi Muhammadiyah
dan IMM berfungsi dalam membentengi Muhammadiyah dan IMM dari pengaruh aliran
pemikiran agama yang sesat. Dari situlah sangat penting sekali dalam mengkaji Islam sebagai
ideolgi untuk merumuskan desain perkaderan, agar setiap kader mengetahui apa? bagaimana?
untuk apa? kita berjuang.

Maka dari itu mengkaji Islam sebagai ideologi adalah suatu keharusan dikarenakan ini
menjadi style atau prinsip dalam setiap aktivitas kaderisasi yang dijalankan nantinya.

B. KAJIAN ISLAM SEBAGAI IDEOLOGI

Di hadapan kemiskinan dan merebaknya teror kemanusiaan dalam wajah penindasan,


sebagai individu beragama dan sehat dengan keberagamaannya, tentu akan tergerak nurani dan
rasio akal budinya untuk ikut terlibat dalam sebuah refleksi dan pilihan perjuangan
membebaskan mereka yang teraniaya secara sosio-eko-pol tersebut. Dalam konteks Indonesia
saat ini, kemiskinan, keterbelakangan, minimnya akses pengetahuan karena mahalnya biaya
pendidikan, dan korupsi, telah menjadi halaman depan kebudayaan kita yang tak berkesudahan.
Banyak pihak saling tuding, saling menyalahkan, dan saling gebuk satu sama lain sebagai biang
dari kegagalan masa transisi demokrasi yang disebut dengan era reformasi. Namun pertanyaan
mendasar kita sesungguhnya adalah dimana posisi dan rasa keberagamaan kita ditengah huru-
hara sosial politik tersebut? Di wajah-wajah yang diseka air mata, luka yang terlanjur
menganga, ratapan derita anak bangsa, dan perempuan-peremuan yang disetrika dan diperkosa
di luar negri, dimanakah agama? Apakah agama (Islam) adalah sebuah entitas yang terlahir
sebagai pengalaman iman yang suci-soliter dengan tuhan ataukah agama tersebut bagian dari
dialektika-resiprokal antar berbagai pengalaman dan kepentingan dunia? Apakah teologi yang
membebaskan itu ada dalam Islam?

Ada dua pernyataan yang datang dari sosiolog Jerman yang menggambarkan
pernyataan-pernyataan diatas, setiap ritual-ritual agama pasti ada korelasinya dengan sosial
(Max Weber). Kedua, agama adalah candu masyarakat (Karl Marx). Dua pernyataan sangat
kontradiksi. Weber menggambarkan agama yang seharusnya, sedangkan Marx
menggambarkan agama secara realita yang terjadi pada waktu itu. Pernyataan-pernyataan di
muka lah yang akan menuntun tulisan ini selanjutnya.

Agama sebagai ideologi sering kali diartikan sebagai suatu keyakinan yang dipilih
secara sadar untuk menjawab keperluan-keperluan yang timbul dan memecahkan masalah-
masalah dalam masyarakat. Ideologi dibutuhkan, untuk mengarahkan suatu masyarakat atau
bangsa dalam mencapai cita-cita dan alat perjuangan. Ideologi dipilih untuk mengubah dan

5
merombak status quo secara fundamental. Munculnya agama sebagai ideologi dimulai ketika
para Nabi muncul di tengah-tengah suku-suku dan pemimpin gerakan-gerakan historis untuk
membangun dan menyadarkan masyarakat. Ketika para nabi itu memproklamirkan semboyan-
semboyah tertentu dalam membantu massa kemanusiaan, maka para pengikut Nabi kemudian
mengelilingi nabi dan menyatakan untuk turut bersama-sama Nabi dengan sukarela. Islam
sebagai ideologi yang diusung oleh Muhammad membawa orde sosial baru yang disandarkan
kepada prinsip keadilan dan persamaan dalam struktur sosial masyarakat. Islam yang demikian
sangat menarik masyarakat Arab yang sudah lama muak dengan bentuk aristokrasi lama yang
memerintah dengan tirani, ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan monopolisme.
Masyarakat kala itu, mulai menemukan semboyan-semboyan ideologi sebagai obat
penyembuhan dari penderitaan dan kesulitan akibat sistem tirani. Islam sebagai ideologi
mampu memberikan keyakinan baru yang berbasis kepada kemauan bebas manusia untuk
melepaskan diri dari jeratan sistem sosial dan politik tiranik.

Islam lahir secara progresif dalam upaya merespon problem-problem masyarakat dan
memimpin masyarakat untuk mencapai tujuan-tujuan dan cita-cita yang berharga. Dalam hal
ini, Islam dipahami sebagai sebuah pandangan dunia yang komprehensif, dan diposisikan
sebagai “agama pembebasan” yang concern dengan isu-isu sosial-politik seperti penindasan,
diskriminasi, ketidakadilan dan sebagainya. Semangat Islam sebagai ideologi pembebasan
mendorong terjadinya revolusi masyarakat Islam untuk membangun konstruksi peradaban baru
yang progresif, partisipatif, tanpa penindasan dan ketidakadilan. Untuk membebaskan massa
dari krisis yang membawa mereka mencapai negara yang merdeka dan berkeadilan sosial-
ekonomi, bukan melalui Liberalisme, Kapitalisme, ataupun Sosialisme, namun yang bisa
mengobati penyakit ini hanyalah Islam. Islam merupakan satu-satunya solusi yang akan
menyelamatkan negeri Muslim dari segala bentuk tekanan dan penindasan. Hal ini sangat
masuk akal jika Eko Prasetyo mengartikan Islam sebagai gerakan alternatif. Dengan latar
belakang historis pada waktu itu ketimpangan sosial dimana-mana, sistem sosial-politik yang
menindas dengan kondisi yang seperti itu Islam datang dengan solusi, serta mampu membawa
perubahan terhadap masyarakat lebih beradab.

Untuk mengkonstruksi Islam sebagai sebuah ideologi, mula-mula harus melakukan


redefinisi tentang pemahaman ideologi itu sendiri bahwa ideologi terdiri dari kata “ideo” yang
berarti pemikiran, gagasan, konsep, keyakinan dan lain-lain, dan kata “logi” yang berarti
logika, ilmu atau pengetahuan. Sehingga ideologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang
keyakinan dan cita-cita. Menurut pengertian ini seorang ideolog adalah seorang pembela suatu
ideologi atau keyakinan tertentu. Dalam kaitan ini, ideologi terdiri dari berbagai keyakinan dan
cita-cita yang dipeluk oleh suatu kelompok tertentu, suatu kelas sosial atau suatu bangsa.

Ideologi meliputi suatu kepercayaan dan pengetahuan tentangnya. Ideologi diperlukan


agar seseorang mempunyai kesadaran dan sikap khusus dalam hubungannya dengan dirinya
sendiri, posisi kelasnya, dasar sosial, situasi nasional, dunia dan tujuan sejarah seperti halnya
tujuan masyarakat sebagai tempat bergantung. Oleh karena itu, ideologi adalah suatu sistem
kepercayaan yang menginterpretasikan kondisi sosial, rasionalitas dan orientasi kelas
seseorang seperti halnya sistem nilai, orde sosial, format individu ideal, hidup manusia dan
situasi sosial dalam berbagai dimensinya. Ideologi menjawab pertanyaan: Apa yang kamu
sukai? Apa yang kamu lakukan? Apa yang kamu harus lakukan? Harus menjadi apa?

Di sisi yang berbeda, ideologi menuntut seorang cendekiawan untuk memihak. Bagi
seorang ideolog, ideologinya adalah suatu kepentingan yang mutlak. Setiap ideologi memulai
dengan tahap kritis, kritis terhadap status quo, kritis terhadap masyarakat dengan berbagai

6
aspek kultural, ekonomi, politik dan moral yang cenderung melawan perubahan-perubahan
yang diinginkan. Berbeda dengan filsafat maupun ilmu yang sama sekali tidak mempunyai
komitmen seperti itu, ia hanya menggambarkan realitas seperti apa adanya dengan tidak
membedakan apakah ia menolak atau menerima realitas tersebut. Inilah perbedaan yang
menyolok antara ilmu, filsafat dan ideologi. Dengan kata lain, agar ideologi mampu
memposisikan dirinya menjadi landasan perjuangan, maka keberpihakannya harus jelas. Pada
wilayah politik, ia harus mengabdi sehingga mampu memberikan doktrin-doktrin politik. Pada
kekuasaan politik ia harus bisa menyerang. Inilah sebenarnya makna sesungguhnya dari
ideologi, yang berarti bukan konsep, landasan berfikir, filsafat, apalagi ilmu. Ideologi adalah
kata lain dari keberpihakan.

Baik ilmu maupun filsafat tidak pernah melahirkan revolusi dalam sejarah walaupun
keduanya selalu menunjukkan perbedaan-perbedaan dalam perjalanan waktu. Adalah ideologi-
ideologi, yang senantiasa memberikan inspirasi, mengarahkan dan mengorganisir
pemberontakan-pemberontakan menakjubkan yang membutuhkan pengorbanan-pengorbanan
dalam sejarah manusia di berbagai belahan dunia. Hal ini karena ideologi pada hakekatnya
mencakup keyakinan, tanggungjawab, keterlibatan dan komitmen. Ideologi menuntut agar
kaum intelektual bersikap setia (commited). Ideologilah yang mampu merubah masyarakat,
sementara ilmu dan filsafat tidak, karena sifat dan keharusan ideologi meliputi keyakinan,
tanggungjawab dan keterlibatan untuk komitmen. Sejarah mengatakan, revolusi,
pemberontakan hanya dapat digerakkan oleh ideologi.

Urgensi perubahan hanya dapat digerakkan oleh masyarakat yang mempunyai ideologi
kokoh. Dalam kondisi keterpurukan untuk konteks Indonesia, Seharusnya Islam mampu
menjadi penggerak kesadaran masyarakat. Islam perlu lebih dipahami sebagai sebuah
pandangan dunia komprehensif, sebuah rencana untuk merealisasikan potensi manusia
sepenuhnya, baik secara perseorangan maupun kolektif, untuk tujuan makhluq secara
keseluruhan. Di sinilah letaknya bahwa Islam berfungsi sebagai ideologi.

Biasanya ideologi-ideologi yang berbasis agama memiliki akar pada teologi dari agama-
agama yang bersangkutan. Dilingkungan umat Islam dikenal ideologi Islam, yang memiliki
keterkaitan dengan karakter Islam sebagai agama. Ideologi Islam berbeda dengan Marxisme,
Sosialisme dan Kapitalisme, maupun ideologi yang lainnya yang tidak memiliki basis teologis.
Pandangan tentang kebebasan, persaudaraan, kesamaan, kemanusiaan dan relasi-relasi sosial
dalam ideologi Islam memiliki basis pada pandangan filosofis tentang teologi Islam, sehingga
memiliki pijakan yang kokoh.

Ada dua watak Islam yang nyaris dilupakan oleh ummat Islam dewasa ini yaitu,
pertama, al-Islam ad-Diinu al-Hadharah (Islam adalah agama peradaban), kedua, al-Islam ad-
Diinu as-Syahadah (Islam adalah agama kesaksian, pembuktian). Kalau kita perhatikan salah
satu ayat suci al-Qur’an yang terkait ibadah maka akan terlihat jelas adanya pesan Islam yang
sangat kuat bagi kita ummat Islam untuk menampilkan dalam dua watak tadi yaitu, al-Islam
ad-Diinu al-Hadharah & al-Islam ad-Diinu as-Syahadah, yang terkandung dalam surat al-
Jum’ah ayat 9-10 maknanya secara ringkas adalah, bahwa kita perlu menegakkan
hablunminallah dengan ibadah-ibadah yang kita lakukan seperti shalat, tetapi setelah itu kita
harus mengembangkan kebudayaan (hablunminannas), hablunminannas tidak hanya sekedar
berhubungan baik dengan sesama manusia dalam kesopanan, kesantunan, interaksi dan relasi
sosial kita, tapi hablunminannas juga mengandung arti kerjasama dan kebersamaan dalam
membangun kebudayaan. Maka harus ada korelasi positif antara ibadat dan muamalat, antara
ibadat dan kebudayaan yang kita bangun, dan inilah masalah besar ummat Islam dewasa ini.

7
Kita tidak mampu menghubungkan, menarik korelasi positif antara ibadat dan muamalat.
Sering ibadat kita seolah-olah intensif, seolah-olah tinggi, namun tidak menjelma dalam
kehidupan berbagai aspeknya baik sosial, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan lain
sebagainya.

8
BAB II

ESSENSI KELAHIRAN MUHAMMADIYAH DAN

IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH

A. PENDAHULUAN

Sebagai organisasi perkaderan tentunya aktivitas yang dilakukan haruslah sesuai


dengan khittah organisasinya, mulai dari sejarah atau historis lahirnya organisasi ini pun harus
kita ketahui bersama. Muhammadiyah merupakan induk organisasi dari Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah (IMM), maka sudah pasti bahwa IMM lahir untuk membantu perjuangan dari
Muhammadiyah.

Untuk itu dalam pembahasan esensi kelahiran ini kita mulai dari organisasi induknya
yaitu Muhammadiyah. Orientasi mencari essensi kelahiran IM yakni untuk mendapatkan
gambaran apa yang seharusnya dilakukan oleh organisasi ini. Sehingga dalam aktivitas
perkaderan yang dilakukan akan tetap berkesinambungan atau berkesesuaian. Hal ini tentu
harus kita pahami bahwasanya perkaderan berlangsung adalah tetap linier menuju arah gerak
organisasi. Sehingga aktivitas yang dilakukan pun untuk mencapai tujuan organisasi.

B. KAJIAN HISTORIS LAHIRNYA MUHAMMADIYAH

Kemegahan peradaban Islam berakhir bersamaan dengan serbuan tentara Mongol pada
pertengahan abad ke-13 yang meluluhlantakan kota Baghdad dan seiring dengan tumbuhnya
benih-benih kebangkitan kembali Eropa melalui aliran ‘Renaissance’nya. Adapun umat Islam
memasuki masa-masa kegelapan sampai pada awal abad ke-19 karena sebagian besar daerah
kekuasaan Islam telah menjadi daerah kekuasaan imperialisme Eropa sebagai wujud dari
kebangkitan Eropa.

Masa kegelapan Islam baru berakhir pada awal abad ke-19 dan tanda-tanda kebangkitan
itu akhirnya muncul kembali. Hal itu seiring dengan lahirnya tokoh-tokoh pembaharu Islam
dan berbagai gerakan Islam di semenanjung Arab. Gerakan ini muncul di Negara Mesir
(Afrika) yang dipelopori tiga tokoh, yaitu (1) Jamaluddin al-Afghani yang berkebangsaan
Afghanistan dijuluki sebagai ‘tokoh Renaissance Islam’; (2) Muhammad Abduh yang
berkebangsan Mesir dengan cita-cita mewujudkan kejayaan dan kemuliaan umat Islam di
negeri mana pun; serta (3) Rasyid Ridho dan Muhammad Iqbal. Namun demikian, sebelum
keberadaan tokoh-tokoh tersebut terlebih dahulu tumbuh benih-benih kebangkitan Islam
melalui tokoh-tokoh lain seperti Ibnu Taimiyah dan Abdul Wahab dengan gerakan wahabinya
(Islam murni).

Mata rantai pembaharuan Islam tersebut akhirnya sampai juga ke penjuru nusantara
melalui pemikiran para ulama yang belajar di Arab. Gerakan pembaharuan Islam yang
berkembang di Arab mengusung cita-cita mengembalikan ajaran Islam ke jalan
sesungguhnya dengan merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah. Tujuan ini sebagai solusi
keterbelakangan terhadap umat Islam. Dengan kembali kepada sumber ajaran Islam yang
sesungguhnya, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah, umat Islam di seluruh dunia bisa keluar dari
perbedaan interpretasi ajaran yang bias dengan beberapa aliran teologi yang menjadi sumber
perpecahan umat Islam.

9
Uraian histori tersebut di atas menjadi salah satu dorongan atau tumpuan berdirinya
Persyarikatan Muhammadiyah. Di samping itu, ada beberapa faktor lain yang mengharuskan
lahirnya Persyarikatan Muhammadiyah, antara lain dipaparkan sebagai berikut.

1. Kondisi internal

a. Keinginan KH. Ahmad Dahlan untuk mendirikan organisasi yang dapat dijadikan
sebagai alat perjuangan dan dakwah untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar
yang bersumber pada Al-Qur’an, terutama dalam Surat Ali Imron ayat 104 dan surat
Al-Ma’un sebagai sumber bagi gerakan sosial-praktis untuk mewujudkan gerakan
tauhid.
b. Ketidakmurnian ajaran Islam yang dipahami oleh sebagian umat Islam Indonesia
sebagai bentuk ‘adaptasi tidak tuntas’, yaitu antara tradisi Islam dan tradisi lokal
nusantara awal yang bermuatan paham animisme (kepercayaan pada roh-roh halus yang
mendiami semua benda mati) dan dinamisme (kepercayaan bahwa segala sesuatu
mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau
kegagalan usaha manusia dalam mempertahankan hidup). Hal ini menyebabkan umat
Islam di Indoneia dalam praktiknya memperlihatkan hal-hal yang bertentangan dengan
prinsip-prinsip ajaran Islam, terutama yang berhubungan dengan prinsip aqidah Islam
yang menolak segala bentuk kemusryikan, taqlid, bid’ah dan khurafat. Oleh karena
itu, purifikasi (pemurnian) ajaran menjadi pilihan mutlak bagi umat Islam Indonesia.

c. Keterbelakangan umat Islam Indonesia di segala segi kehidupan menjadi sumber


keprihatinan untuk mencarikan solusi agar dapat keluar dari keterbelakangan.
Keterbelakangan umat Islam dalam dunia pendidikan menjadi sumber utama
keterbelakangan dalam peradaban. Pesantren tidak bisa selamanya dianggap menjadi
sumber lahirrnya generasi baru msuda Islam yang berpikiran modern. Kesejahteraan
umat Islam akan tetap berada di bawah garis kemiskinan jika ‘kebodohan’ masih
melingkupi umat Islam Indonesia. Gerakan tajdid (pembaharuan) menjadi cara agar
umat Islam menjadi umat yang berkemajuan, menjadi masyarakat madani yang
mendasarkan pada permasalahan kekinian.

2. Kondisi eksternal

a. Maraknya kristenisasi di Indonesia sebagai efek domino dari imperialisme Eropa ke


dunia timur yang mayoritas beragama Islam. Proyek kristenisasi satu paket dengan
proyek imperialisme dan modernisasi bangsa Eropa. Hal ini menjadi tendensi lain di
samping keinginan untuk memeperluas daerah koloni dalam memasarkan produk-
produk hasil revolusi industri yang melanda Eropa.

b. Imperialisme Eropa tidak hanya membonceng gerilya gerejawan dan para penginjil
untuk menyampaikan ‘ajaran jesus’ untuk menyapa umat manusia di seluruh dunia
untuk ‘mengikuti’ ajaran jesus, akan tetapi juga membawa angin modernisasi yang
sedang melanda Eropa. Modernisasi yang berhembus melalui model pendidikan barat
(Belanda) di Indonesia mengusung paham-paham yang melahirkan modernisasi Eropa,
seperti sekulerisme, individuisme, libelarisme, dan rasionalisme. Jika penetrasi ini tidak
dihentikan maka akan lahir generasi baru Islam yang rasional tetapi liberal dan sekuler.
Mereka akan ‘memminggirkan’ Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup
paling utama.

10
Arti Muhammadiyah

KH. Ahmad Dahlan (semasa kecil bernama Darwis) bersama anak didiknya mendirikan
Muhammadiyah pada tanggal 18 November 1912 M. (8 Dzulhijjah 1330 H.) di Kauman,
Yogyakarta. Secara etimologis Muhammadiyah diartikan sebagai “pengikut Nabi Muhammad
SAW”, yang terdiri dari kata ‘Muhammad’ dan ‘ya nisbiyah’ yang artinya para pengikut.
Dengan demikian, secara tersirat pada dasarnya setiap orang yang meyakini dan menjadi
pengikut Muhammad SAW adalah orang Muhammadiyah tanpa dibatasi oleh ideologi
golongan, bangsa, dan organisasi.

Sementara itu secara terminologi, Muhammadiyah adalah gerakan dakwah amar


ma’ruf nahi munkar berasas Islam dan bersumber Al Qur’an dan As-Sunnah demi terwujudnya
baldhatun thayibatun warobbul ghofur, yang bersumber pada QS. Ali Imron: 104.

Maksud dan Tujuan Muhammadiyah

Rumusan maksud dan tujuan Muhammadiyah secara lengkap terdapat dalam anggaran
dasar (AD) Muhammadiyah yang berbunyi:

“Menegakkan dan menjunjung tinggi ajaran agama Islam sehingga


terwujudnya masyarakat utama, adil, dan makmur yang diridhoi Allah
SWT”

Maksud dan tujuan Muhammadiyah tersebut diwujudkan secara praksis dalam realita
kehidupan keagamaan dan sosial umat, antara lain dijabarkan sebagai berikut.

1. Bidang Keagamaan

Tantangan modernitas dan tradisi (bermuatan tahayul, bid’ah, dan kurafat) menjadi dua
persoalan keagamaan yang dihadapi oleh Muhammadiyah. Purifikasi atau pemurnian dan
gerakan tajdid adalah 2 hal yang menjadi ciri gerakan dakwah keagamaan
Muhammadiyah. Dengan demikian, Muhammadiyah juga merumuskan pedoman
ubudiyah, muamalah, hisab, dan sebagainya melalui keputusan tarjih Muhammadiyah
yang berisikan para ulama andal.

2. Bidang Pendidikan

Kepedulian Muhammadiyah terhadap dimensi pendidikan dibuktikan dengan mendirikan


lembaga pendidikan formal dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Konsep
yang dianut Muhammadiyah yakni dengan menggabungkan (mengintegrasikan) antara
pendidikan agama dan pendidikan umum sebagai jembatan untuk menuntaskan kebodohan
yang sedang diidap oleh umat Islam Indonesia. Tujuan mulianya tidak lain untuk
menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Sebagaimana yang disampaikan
oleh Nabi Muhammad SAW, “tuntutlah ilmu pengetahuan (dunia) seolah-olah kamu
hidup selama-selamanya dan tuntutlah ilmu agama (akhirat) seolah-olah kamu akan mati
esok hari.”

3. Bidang Sosial Kemasyarakatan

Salah satu peran umat Islam sebagai rahmatan lil alamin adalah bergerak di dunia
muamalah (sosial kemasyarakatan). Demi memenuhi kebutuhan umat dan untuk keperluan
dakwah, maka Muhammadiyah menjadi pelopor pergerakan dengan mendirikan rumah

11
sakit, panti asuhan, balai pengobatan, klinik, apotek, percetakan, lembaga peyuluhan, dan
lain-lain. Tujuannya tentu ingin mensejahterakan umat manusia di muka bumi.

4. Bidang Politik Kenegaraan

Muhammadiyah berperan besar dalam pergerakan menjelang kemerdekaan,


pascakemerdekaan, maupun dalam menjaga kelangsungan kehidupan berbangsa dan
bernegara dalam negara kesatuan republik Indonesia. Namun, Muhammadiyah secara
organisasi tidak terlibat dalam agenda politik praktis. Inilah yang oleh pimpinan
Muhammadiyah disebut sebagai politik tingkat tinggi (high politic) yaitu kemampuan
berpolitik di atas politik praktis. Muhammadiyah selalu mengawal dan mengkritisi arah
kebijakan politik pemerintahan dengan sebutan pressure politic.

Ciri Perjuangan Muhammadiyah

1. Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam


Gerakan Islam dijadikan sebagai ciri perjuangan Muhammadiyah sebagai telaah terhadap
QS Ali Imron: 104 serta 17 ayat Al-Qur’an lainnya yang di dalamnya tergambar dengan
jelas asal-usul roh, jiwa, nafas, semangat Muhammadiyah dalam pengabdiannya kepada
Allah SWT. Segala hal yang dilakukan oleh Muhammadiyah di segala bidang semata-mata
untuk merealisasikan prinsip-prinsip ajaran Islam menuju masyarakat utama yang
rahmatan lil‘alamin (rahmat bagi seluruh alam raya dan seisinya).

2. Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah Islam Amar Ma’ruf Nahi Munkar


QS. Ali Imron: 104 menjadi khittah dan sumber strategi perjuangan Muhammadiyah,
yakni dakwah (amar ma’ruf nahi munkar, dengan masyarakat sebagai objek
perjuangannya). Semua amal usaha Muhammadiyah merupakan media gerakan dakwah
Islamiyah.

3. Muhammadiyah sebagai Gerakan Tajdid (Pembaharuan) dan Purifikasi (Pemurnian)

Gerakan Muhammadiyah sebenarnya tidaklah hanya sebatas upaya memurnikan ajaran


Islam dari berbagai penyimpangan ajaran Islam yang sesungguhnya, tetapi juga upaya
melakukan berbagai pembaharuan tata cara pelaksanaan ajaran Islam, dalam realita sosial
kemasyarakatan, dan lain sebagainya dalam konteks kekinian (kontemporer). Hal ini
dikarenakan kondisi dan situasi zaman dahulu dan sekarang sudah banyak mengalami
perubahan dan perkembangan. Oleh karenanya, perlu adanya pembaharuan tetapi tetap
bersifat purifikasi. Kedua hal tersebut menjadi satu kesatuan utuh yang tidak dapat
dipisahkan oleh warga Muhammadiyah dalam menjalankan amar ma’ruf nahi munkar.

Secara historis yang sudah di jelaskan di atas bisa disimpulkan bahwasanya esensi
kelahiran Muhammadiyah adalah untuk menjawab persoalan umat dan bangsa.

C. Ideologi Muhammadiyah

K.H Ahmad Dahlan, dalam “falsafah ajaranya,” berpesan,” Kita, manusia ini, hidup di
dunia hanya sekali, kita akan mendapatkan kebahagiankah atau kesengsaraankah ?”. Lalu
beliau mengutip ujaran klasik, yang artinya “ Manusia itu semua mati ( mati perasaanya)
kecuali para ulama, yaitu orang-orang yang berilmu. Dan para ulama pun itu dalam
kebingungan, kecuali mereka yang beramal. Dan mereka yang beramal pun dalam
kekhawatiran, kecuali mereka yang ikhlas atau bersih ”. Falsafah ajaran K.H Ahmad Dahlan

12
di atas menggambarkan bahwa dalam menjalani hidup manusia haruslah memiliki sikap yang
jelas dan mendasar.bahwa dalam kehidupan, apapun yang dilakukan harus jelas bingkai dan
arahnya, tidak hidup asal hidup, tidak beraktivitas asal beraktivitas. Itulah hidup dengan
idealisme bukan hanya kegiatan praksis.

Bagi siapapun yang mengkalim bahwa dirinya adalah seorang muslim, harus jelas apa
yang menjadi pijakan dan arahnya atu tujuanya. Secara sederhana untuk menggambarkan
uraian di atas Allah bertanya pada kalimat “Fa’aina tadzhabun? (maka kemana kalian akan
pergi?)”, dimana hidup manusia itu lebih-lebih seorang muslim adalah menjalankan fungsi
ibadah (QS. Al-Jariyat:56) dan kekhalifahan (QS. Al-Baqarah:30) agar selamat dunia dan
ahirat (QS. Al-Baqarah) untuk meraih keridhaan dan karunia Allah (QS. Al-Fath:29). Disini
jelas bahwa bagi setiap muslim apapun yang dilakukan menurut perspektif Islam haruslah jelas
idealisme atau filosofinya, sihingga hidup itu bermakna, maslahat, dan meraih keutamaan
sebagaimana diamanatkan Allah. Tak terkecuali bagi Muhammadiyah yang menyatakan diri
sebagai gerakan Islam itu sendiri.

Sebagai organisasi yang telah menyataka diri sebagai gerakan Islam, sudah semestinya
aktivis atau anggota Muhammadiyah dalam melaksnakan segala aktivitasnya memiliki pijakan
dan tujuan yang jelas. Bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam sejak didirikan oleh K.H
Ahmad Dahlan hingga saat ini dan masa yang akan datang memiliki idealisme atau filosofi
yang jelas dalam seluruh aktifitasnya. Muhammadiyah itu gerakan Islam yang menjalankan
gerakan dakwah tajdid melalui berbagai usaha yang terorganisasi, sehingga seluruh lini dan
proses geraknya bersandar pada idealisme atau filosofi yang jelas sebagai gerakan sosial-
keagamaan. Seperti jamak kita ketehui bahwa tujuan Muhammadiyah adalah menegakan dan
menjunjung tinggi agama Islam yang sebenar-benarnya. Adapun untuk menjalankan maksud
dan tujuan yang mulia itu dilakukan dengan berbagi usaha, program, dan kegiatan yang
tersistemasi. Semua itu tidak lain sebagai pengejawantahan mengemban misi untuk kejayaan
Islam dan umat Islam, serta menjadikan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam di muka bumi.

Meningat demikaian mendasar, penting, dan strategis gerakan Muhammadiyah maka,


Muhammadiyah dalam gerakanya memiliki sistem yang jelas, di mana dicerminkan melalui
ideologi. Sebagi mana dituliskan ketua umum PP Muhammadiyah (Dr. H Haedar Nashir, M.Si)
ideologi Muhammadiyah adalah paham agama dan sistem perjuangan yang bertumpu pada Al-
Quran dan Sunnah Nabi yang sahis atau makbulah,dibingkai memlaui pemikiran-pemikiran
yang mendasar seperti Muqaddimah Anggaran Dasar, Kepribadian, Matan Keyakinan dan
Cita-cita Hidup, Khittah, Pedoman Hidup Islami, dan sebagainya yang menjadi prinsip gerakan
Muhammadiyah.

BAGIAN I

Apa ideologi Muhammadiyah? Pertanyaan tersebut hampir pasti ada dalam setiap
diskusi ketika mengangkat tema “ ber-Muhammadiyah”. Haedar Nashir (2007, bagian
II:17) menjelaskan bahwa secara subtansi (isi) banyak pernyataan pikira formal dalam
Muhammadiyah yang bersentuhan atau mengandung ideologi Muhammadiyah, lebih
khusus dalam langkah-langkah per-periode. Dalam “naskah akademik” makalah pada
Muktamar ke-37 tahun 1968 bahkan ideologi Muhammadiyah dikaitkan langsung dengan
pemikiran dan idealisme K.H Ahmad Dahlan ketika melahirkan Muhammadiyah. Adapun
secara formal yang mengandung pemikiran yang lengkap mengenai ideologo
Muhammadiyah ialah, Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah yang disusun oleh
Ki bagus Hadikusuma dengan bantuan para sahabatnya pada tahun 1945, yang kemudian
sisahkan pada Tanwir tahun 1961. Sedangkan konsep yang secara lebih jelas menyatakan

13
ideologi tetapi dengan istilah “keyakinan dan cita-cita hidup” ialah Matan Keyakinan dan
Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH) yang dibahas dalam Muktamar ke-37 tahun
1968 dan kemudian ditindaklanjuti dan dihasilkan dalam Tanwir di Ponorogo tahun 1969.

BAGIAN II

Kelahiran Muhammadiyah memiliki persentuhan dengan “ ideologi”, yakni ide dan cita-
cita tentang Islam dari K.H Ahmad Dahlan, yang membentuk alam pikiran sekaligus usaha
untuk mewujudkanya dalam kehidupan. Idiologi adalah” ajaran atau ilmu pengtahuan yang
secara sistematis dan menyeluruh membahas mengenai gagasan, cara-cara, angan-angan
atau gambaran dalam pikiran untuk mendapatkan keyakinan mengenai hidup dan
kehidupan yang benar dan tepat”. Dinyatakan pula bahwa ideologi merupakan “keyakinan
hidup” yang mencangkup : 1) Pandangan hidup. 2) Tujuan hidup, dan 3) Ajaran dan cara
yang dipergunakan untuk melaksanakan pandangan hidup dalam mencapai tujuan hidup
tersebut”. (Rumusan Pokok-Pokok Persoalan tentang Ideologi Keyakinan Hidup
Muhammadiyah yang disusun oleh Panitia Tajdid seksi “Ideologi Keyakinan Hidup
Muhammadiyah” dalam Muktamar ke-37 tahun 1968).

Dari pemaknaan di atas maka ideologi bukan hanya sekedar seperangkat “paham” atau
pemikiran belaka, tetapi juga “teori dan strategi perjuangan” untuk mewujudkan paham
tersebut dalam kehidupan. Sehingga jika dikatakan “Ideologi Muhammadiyah”, maka
yang dimaksudkan ialah “ sistem keyakinan, cita-cita, dan perjuanan Muhammadiyah
sebagai gerakan Islam dalam mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”.
Adapun isi atau kandungan ideologi Muhammadiyah tersebut adalah : 1) Paham Islam atau
paham agama dalam Muhammadiyah, 2) Hakikat Muhammadiyah sebagai gerakan Islam,
dan 3) Misi dan strategi perjuangan Muhammadiyah. Dalam Muhammadiyah, ideologi
memiliki kedudukan dan fungsi yang penting dalam geraknya, yaitu:

1. Menjalankan dan menanamkan pandangan dunia (world view), sebutlah idiom yang
selama ini berlaku dalam Muhammadiyah tentang “Islam Agamaku, Muhammadiyah
Gerakanku”
2. Membangun komitmen idealisme untuk menjalankan misi dan cita-cita gerakan;
sehingga anggota Muhammadiyah tidak hanya sekedar aktif dan berada dalam
lingkungan Persyarikatan secara fisik, dan praktis (prakmatis)
3. Mengingat solidaritas kolektif yang kokoh, sehingga tampak satu kesatuan sistem
gerakan Muhammadiyah
4. Menyusun dan melaksanakan garis perjuangan dan strategi perjuanan sesuai dengan
sistem paham atau ideologi Muhammadiyah
5. Mobilisasi angoota untuk mencapai tujuan Muhammadiyah melalui bebagai usaha,
dan
6. Membelala atau menjaga keutuhan (eksistensi) organisasi dari berbagai pengeroposan
paham dari dalam maupun dari luar sesuai dengan prinsip Muhammadiyah.
Ideologi Muhammadiyah sebagimana dibahas dalam “Suara Muhammadiyah”
nomor 16/2007 secara subtansi mengandung tiga unsur penting yaitu:
1. Paham Agama dalam Muhammadiyah
Dilihat dari aspek kesejarahan, paham agama dalam Muhammadiyah memiliki
akar pada K.H Ahmad Dahlan tentang Isalam. Setelah Tarjih dibentuk tahun 1927,
paham agama dalam Muhammadiyah dikodifikasi menjadi pandangan resmi
organisasi, yang menjadi rujukan warga Muhammadiyah. Dari berbagai rujukan yang
diperoleh, dapat ditemukan butir-butir mendasar dari paham agama dalam

14
Muhammadiyah sebagai unsur penting dalam Muhammadiyah : pertama,
Muhammadiyah memandang Islam sebagai satu mata-rantai ajaran Allah yang dibawa
oleh para Nabi hingga Nabi Muhammad yang mengoreksi dan menyempurnakan
sehingga menjadi risalah Islam yang terahir hingga ahir zaman, sebagai satu-satunya
agama yang benar dan diridhai Allah. Kedua, Muhammadiyah memiliki pandangan
yang luas tentang kandungan ajaran Islam yaitu sebagaimana disebutkan dalam kitab
Masalah Lima bahwa agama, yakni agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad
ialah apa yang diturunkan Allah dalam Al-Quran dan yang disebut dalam Sunnah yang
shahih, berupa perintah-perintah, larangan-larangan dan petunjuk-petunjuk untuk
kebaikan manusia di dunia dan akhirat. Ketiga, Muhammadiyah dalam paham
agamanya bersumberkan pada Al-Quran dan As-Sunnah yang makbulah dengan
menggunakan akal pikiran yang sesuai jiwa ajaran Islam. Keempat, Muhammadiyah
memandang Islam sebagai agama yang komprehensif atau menyeluruh.
Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang meliputi
bidang-bidang : a) Aqidah, b) Akhlak, c) Ibadah, dan d) Mu’amalah Duniawiyat.
Islam adalah agama untuk menyerahkan diri semata-mata karena Allah, agama semua
Nabi, agama yang sesuai fitrah manusia, agama yang menjadi petunjuk bagi manusia,
agama yang mengatur hubungan, dan agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam.
Kelima, Muhammadiyah dalam memaknai Tajdid mengandung dua pengertian, yakni
pemurnian (purifikasi) dan pembaharuan (dinamisasi).

2. Hakikat Muhammadiyah
Menurut Pak AR Fakhruddin, Muhammadiyah adalah organisasi Islam di
Indonesia yang mempunyai dasar Islam dan sifatnya sebagai gerakan. Hal tersebut
mempertegas bahwa Muhammadiyah bukan hanya sekedar paham agama tertapi juga
sistem gerakan. (Islam Agamaku, Muhammadiyah Gerakanku). Setidaknya ada lima
poin untuk menguraiakan hakikat Muhammadiyah sebagai gerakan Islam: Pertama,
Muhammadiyah sejatinya merupakan gerakan Islam yang bersumber pad Al-Quran
dan As-Sunnah, dengan mengembangkan ijtihad atau akal pikiran yang sesui jiwa
ajaran Islam, yang membedakanya dari gerakan Islam lain yang bermadzab maupun
yang tidak mengembangkan ijtihat atau akal pikiran, juga berbeda dengan gerakan
yang sekuler. Kedua, Muhammadiyah berasas Islam, sehingga Islam menjadi sumber
nilai, landasan, dan pusat orientasi seluruh gerakanya. Ketiga, Muhammadiyah
bergerak Melaksanakan dakwah sekaligus tajdid dari seluruh usahanya, karena itu
sealin dakwah tajdidpun menjadi komitmen utama gerakan Muhammadiyah.
Keempat, Muhammadiyah begerak untuk membentuk masyarakat dan bukan
membentuk negara, yakni masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Kelima,
Muhammadiyah dalam gerakanya memiliki prinsip-prinsip dan identitas diri yang
kuat bagaimana tercantum dalam Muqaddimh Anggaran dasar, Kepribadian, khittah,
pedoman hidup Islami, dan pemikiran-pemikiran formal lainya termasuk AD/ ART
Muhammadiyah serta peraturan-peraturan organisasi lainya yang menjadi tatanan
resmi gerakan Muhammadiyah.

3. Fungsi-strategi Muhammadiyah
Berangkat dari misi ideal gerakan Islam yaitu menegakan tauhid yang murni
dengan menyebarkan Islam yang bersumber pada Al-Quran dan As-Sunnah untuk
mewujudkan amal Islami dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan Masyarakat maka
Muhammadiyah Menyatakan bahwa “Muhammadiyah mengajak segenap lapisan
bangsa Indonesia yang telah mendapat karunia Allah berupa tanah air yang
mempunyai sumber-sumber kekayaan, kemerdekaan bangsa dan negara Republik
15
Indonesia yang berfalsafah Pancasila, untuk berusaha bersama-sama menjadikan
suatu negara yang adil, makmur dan diridhai Allah: “Baldatun Thayyi-batun Wa
Rabbun Ghafur””. Kendatipun Muhammadiyah bergerak dalam segala bidang, dalam
strategi Muhammadiah tidak menempuh jalur politik praktis. Hal ini berdasarkan
Khittah pejuangan Muhammadiyah, yakni kebulatan sikap (tekat) Muhammadiyah
sesuai dengan hasil Tanwir tahun 1967 untuk menetapkan diri sebagai “Gerakan
Dakwah Islam dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar di dalam bidang Masyarakat”. Khittah
perjuangan tahun 1971 di Ujung Pandang yang kemudian disempurnakan dan menjadi
satu kesatuan dengan Khittah Perjuangan Muhammadiyah tahun 1978 di Surabaya
dalam Muktamar ke-40 mengandung dua esensi perjuangan Muhammadiyah:
Pertama, Muhammadiyah adalah gerakan dakwah Islam yang beramal dalam segala
bidang kehidupan manusia dan masyarakat, tidak mempunyai hubungan organisatoris
dengan dan tidak merupakan afiliasi dari suatu Partai Politik atau organisasi apapun.
Kedua, setiap anggota Muhammadiyah sesuai dengan hak asasinya dapat memasuki
atau tidak memasuki organisasi lain sepanjang tidak menyimpang dari Anggaran
Dasar, Anggaran Rumah Tangga, dan ketentuan-ketentuan lainya yang belaku dalam
Persyarikatan Muhammadiyah.

BAGIAN III

Dengan ideologi Muhammadiyah yang mengandung paham agama, hakikat


gerakan, serta fungsi, misi dan strtegi perjuangan sebagaimana terjabarkan di atas,
maka jelaslah karakter, posisi dan fungsi Muhammadiyah. Pertanyaan tentang “apa”
ideologi Muhammadiyah perlahan harus bergeser kepada pemaknaan “bagaimana”.
Bukan untuk menghindari sebuah pertanyaan, namun jelas pertanyaan “apa” hanya
akan mendapat jawaban definitif-normatif yang tidak berdampak apapun dan bahkan
hanya akan menunjukan jadi diri. Jati diri sebagai “pemalas” karna hanya ingin tahu
yang berhenti pada alam pikir, jika kita merubah pertanyaan menjadi “bagaimana”
maka refleksi kita akan mengarah pada bentuk gerak dan segala hal tentang upaya dan
kerja.
Dalam menjawab “bagaimana” ideologi Muhammadiyah maka kita akan melihat berbagai
rumusan seperti Muqaddimah AD, MKCH, AD/ ART, dan lain-lain yang mana dari
kesemuanya akan menjadi pondasi sekaligus pagar dalam usaha mencapai tujuan. Menjadi-
Muhammadiyah memang bukan perkara mudah, seperti yang diungkapkan Panglima Besar
Tentara Keamanan ke-1 (12 November 1945 – 29 Januari 1950) Jendral Besar Raden
Soedirman yang menyatakan “sungguh berat menjadi kader Muhammadiyah, ragu dan
bimbang lebih baik pulang”.

Buku Rujukan:

- Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Suara Muhammadiyah. Edisi 16-31 Desember 2012.


- Hambali, Hamdan. 2010. Ideologi dan Strategi Muhammadiyah. Yogyakarta: Suara
Muhammdiyah-PT Surya Sarana Utama.
- Nugroho, Adi. 2010. Biografi Singkat K.H. Ahmad Dahlan. Yogyakarta: Garasi House
of Book-Ar-Ruz Media Group.

D. KAJIAN HISTORIS IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan sebuah organisasi otonom (ortom)


Muhammadiyah yang telah berkembang pesat hingga saat ini. Dalam perjalanannya pun
lahirnya IMM tidak pernah lepas dari proses perjalanan yang telah dilakukan oleh induk IMM

16
itu sendiri yaitu Muhammadiyah. Sehingga setiap kegiatan yang dilakukan oleh IMM pun juga
merupakan perwujudan dari cita-cita Muhammadiyah.

Dalam kelahiranya, IMM yang merupakan organisasi otonom dalam wilayah


kemahasiswaan ini tidak lepas dari aspek-aspek sosio politik yang terjadi saat itu. Karena
dipungkiri atau tidak, IMM lahir untuk merespon permasalahan-permasalahan umat dan
keadaan kebangsaan pada saat itu. Untuk itu, cepat atau lambat sebuah wadah kemahasiswaan
yang terdiri dari kader-kader Muhammadiyah dari kalangan Mahasiswa pun pasti akan
terbentuk. Karena IMM adalah respon dari sebuah masalah keummatan maka kelahiran IMM
merupakan sebuah keharusan sejarah, ditengah keadaan yang serba problematis. Keadaan-
keadaan yang mengharuskan kemunculan IMM pada waktu itu digolongkan menjadi 3 hal,
yaitu :

1. Keadaan kehidupan umat dan bangsa.


2. Keadaan kehidupan kemahasiswaan.
3. Keadaan kehidupan Muhammadiyah

Kemudian dalam bukunya, farid fatoni menjabarkan keadaan tersebut menjadi 8 poin yang
merupakan faktor-faktor yang mendsak kelahiran IMM, yaitu2 :

1. Situasi bangsa yang tidak adil , pemerintahan yang otoriter dan tunggal di Indonesia.
2. Terpecahnya umat Islam dan bentuk saling curiga dan fitnah serta kondisi politik umat
Islam yang semakin buruk.
3. Terbingkainya kehidupan mahasiswa yang berorientasi pada kepentingan politik
praksis.
4. Masih membekasnya imbas dari Imperialisme yaitu kebodohan dan kemiskinan.
5. Merosotnya kehidupan beragama dan akidah ummat serta kehidupan materialistik-
individualis.
6. Sedikitnya pembinaan agama di lingkup kampus dan masih tingginya budaya sekuler.
7. Masih maraknya praktik-praktik bid’ah, syirik dan misionaris kristen.
8. Kehidupan ekonomi sosial dan politik semakin memburuk.

Beberapa faktor di atas menjadi semangat mengapa IMM harus lahir dan diadakan untuk
menjawab permasalahan yang ada. Meski pada mulanya mahasiswa anggota Muhammadiyah
cukup dimasukan dalam wadah Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul aisyiah , namun hal itu
dirasa kurang karena memang lahan garapan yang berbeda dan tidak langsung menyentuh
dalam area masyarakat mahasiswa secara umum. Sehingga pada muktamar ke 25 di jakarta
pada tahun 1936 yang diketuai KH. Hisyam (1934-1937) mulai muncul bibit untuk diadakanya
organisasi otonom dalam tataran masyarakat mahasiswa. Ide itu dimunculkan karena adanya
keinginan Muhammadiyah untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah. Maka pasca
muktamar ke-25 tersebut dikatakan adanya penghimpunan mahasiswa yang sehaluan dengan
arah dan tujuan Muhammadiyah.3 Adapun maksud dan tujuan berdirinya organisasi
kemahasiswaan yang searah dengan Muhammadiyah (nantinya disebut IMM ) adalah :4

1. Turut memelihara martabat dan membela kejayaan bangsa.


2. Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam.
3. Sebagai upaya menopang melangsungkan dan meneruskan cita-cita pendirian
Muhammadiyah.

2
Farid Fathoni : Kelahiran Yang dipersoalkan, 1990: 102
3
NoorChozin Idgham : Trikopentesi dasar, Peneguhan Jati Diri Ikatan ,2007 : 3
4
Farid Fathoni : Kelahiran Yang dipersoalkan, 1990: 103

17
4. Sebagai pelopor, pelangsung dan penyempurna amal usaha amal usaha
Muhammadiyah.
5. Membina, meningkatkan dan memadukan iman dan ilmu serta amal dalam kehidupan
bangsa umat dan persyarikatan.

Namun demikian upaya untuk menghimpun dan membina mahasiswa Muhammadiyah itu
vakum, dan tidak berjalan dengan lancar karena Muhammadiyah belum memiliki perguruan
tinggi Muhammadiyah. Sehingga para kader Muhammadiyah yang sekolah diperguruan tingi
negeri maupun swasta tetap diwadahi oleh ortom yang sudah ada yaitu Pemuda
Muhammadiyah (PM), Nasyiatul Aisyiah (NA) maupun hisbul wathan (HW). Kemudian pada
perkembanganya, para mahasiswa yang tergabung dalam ke-3 ortom tersebut merasa perlu
untuk berkumpul dengan kalangan mahasiswa tersendiri. Sehingga alternatif yang dijalankan
adalah bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sehingga sempat terdapat isu
yang bergulir bahwa HMI adalah anak dari Muhammadiyah yang membawa misi kusus dari
Muhammadiyah, karena pada waktu itu di tubuh HMI di pimpin dan banyak di isi oleh tokoh-
tokoh Muhammadiyah dan kader-kader Muhammadiyah.5

Serta kalau kita tilik sejarahnya,ada satu hubungan yang tidak kentara anta HMI dan
Muhammadiyah, hubungan dekat yang tak kentara ini selanjutnya sangat mempengaruhi
terhadap perjalanan IMM. Hubungan kedua organisasi ini bisa dilihat dalam perjalanan
organisasinya, misal sewaktu lafrane pane mau menjajaki pendirian HMI, dia bertukar pikiran
dengan prof. Abdul Kahar Mudzakir (tokoh Muhammadiyah pusat) dan beliau sangat setuju.
Pendiri HMI yang lain adalah maisarah hilal (cucu KHA. Dahlan) juga aktivis Nasyiatul
Aisyah, yusdi Ghozali, anton timur jaelani, dll. Bila praduga ini benar adanya maka benar
asumsinya “bila Muhammadiyah pada waktu itu tidak perlu menghimpun atau membina
langsung sebab sudah ada HMI, artinya pengkaderan itu bisa dititipkan HMI. 6

Namun seiring perkembangan zaman dengan adanya aliran-aliran isma seperti pemikiran
asy syari’at, syiah, muktazillah, nasionalisme, sekularisme, pluralisme yang mewarnai tubuh
HMI. Dan di dukung dengan kondisi terdesaknya HMI setelah adanya CGMI yang dianggap
underbow dari PKI untuk memaksa untuk HMI dibubarkan. Melihat fenomena tersebut maka
Pimpinan pusat Muhammadiyah membuat sebuah kebijakan untuk menarik semua kader-kader
Muhammadiyah dari HMI, dalam upaya menyelamatkan kader Muhammadiyah di tingkatan
sekolah menegah atas dan perguruan tinggi.7

Kelahiran IMM memang cukup panjang dan pada saatnya memang tidak dapat ditunda
lagi kelahirannya, setelah melihat beberapa faktor yang melingkupinnya. Muhammadiyah
mulai sadar, bahwa HMI yang semula wadah alternatif dari penitipan pembinaan kadernya
secara tidk langsung ternyata mempunyai arah tersendiri. Kesimpulannya bahwa proses
kaderisasi ternyata tidak dapat dititipkan begitu saja kepada pihak lain. Bahwa bagaimana pun
proses kaderisasi pada akhirnya melahirkan satu proses kristalisasi pemikiran, sikap sebagai
akibat dari proses pengumulan ide dan perilaku.8

Sehingga pada 18 juli 1955 keinginan Muhammadiyah untuk membentuk perguruan tinggi
Muhammadiyah melalui struktur kepemimpinan membentuk departemen pelajar dan
mahasiswa yang menampung aspirasi aktif dari pelajar dan mahasiswa telah terwujud yaitu
dengan didirikanya PTM di Padang Panjang yang memiliki dua fakultas yaitu hukum dan

5
NoorChozin Idgham : Trikopentesi dasar, Peneguhan Jati Diri Ikatan ,2007 : 4
6
Farid Fathoni : Kelahiran yang dipersoalkan, 1990 : 94
7
NoorChozin Idgham : Trikopentesi dasar, Peneguhan Jati Diri Ikatan ,2007 : 5
8
Farid Fathoni : kelahiran yang dipersoalkan, 1990 : 105

18
filsafat, namun karena pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia)
maka ke-dua fakultas tersebut vakum. Kemudian berdiri kembali PTM di jakarta yang
kemudian diganti nama menjadi IKIP. Diteruskan pada 1958 mulai dirintis fakultas serupa di
Surakarta, di Yogyakarta dan Jakarta berdiri juga fakultas ilmu sosial. Karena semenjak tahu
1958 perguruan tinggi Muhammadiyah mulai berkembang pesat maka ide-ide untuk
mengembangkan IMM semakin kuat pada tahun 1960 an.

Ketika Pemuda Muhammadiyah melakukan muktamar pertama di palembang pada tahun


1956, PP Muhammadiyah memberikan amanah untuk membuat study group untuk mahasiswa-
mahasiswa dari Malang, Yogya, Surabaya, Padang, Ujung Pandang, dan Jakarta . menjelang
muktamar Muhammadiyah Muhammadiyah di Jakarta pada tahun 1962, sekaligus diadakan
kongres mahasiswa Muhammadiyah di yogyakarta pasca muktamar jakarta untuk melepaskan
departemen kemahasiswaan untuk berdiri sendiri. Pada tahun 15 desember 1963 Djzas Al-
kindi menggagas untuk adanya penjajagan kepada mahasiswa-mahasiswa yang searah dengan
muhamadiyah, hal itu dimulai dengan didirikanya dakwah mahasiswa yang dikordinir oleh :

1. Ir. Margono
2. Dr. Sudibyo Markoes
3. Drs. Rosyad Saleh

Kemudian adanya desakan-desakan untuk membentuk organisasi Muhammadiyah dalam


tataran Mahasiswa di Jakarta, semakin memperkuat PP Muhammadiyah untuk segera
membentuk Organisasi ke-Muhammadiyahan yang berbasis pada mahasiswa. Setelah beberapa
desakan dari kalangan mahasiswa, maka dengan restu PP Muhammadiyah yang waktu itu
diketuai oleh H. A. Badawi, mengizinkan untuk didirikan organisasi Mahasiswa
Muhammadiyah yang diketuai oleh Drs. Moh. Dzazman Al-Kindi, dan beranggotakan M.
Husni Tamrin, Rosyad Shaleh, Sudibjo Markoes, Moh. Arief , dan lain-lain. Kemudian pada
tanggal 14 maret 1964 Dzazman Al-Kindi menetapkan nama untuk organisasi mahasiswa
Muhammadiyah dengan nama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Yogyakarta yang
diresmikan oleh PP Muhammadiyah yang diketuai H. A. Badawi dan disaksikan oleh badan
pembantu pemerintahan DIY yaitu H. Tanhawi.

Adapun peresmian tersebut ada dengan ditanda tanganinya 6 penegasan IMM oleh H. A.
Badawi, yang berisi :

1. Menegaskan bahwa IMM adalah gerakan Mahasiswa Islam.


2. Menegaskan bahwa kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM.
3. Menegaskan bahwa fungsi IMM adalah sebagai eksponen mahasiswa dalam
Muhammadiyah.
4. Menegaskan bahwa IMM adalah organisasi yang sah mengindahkan segala hukum,
undang-undang, peraturan, dan falsafah negara yang berlaku.
5. Menegaskan bahwa Ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah.
6. Menegaskan bahwa amal IMM dilahirkan dan di abdikan untuk kepentingan rakyat.

Kemudian pada tanggal 1-5 Mei 1965 dilakukan Muktamar pertama kali IMM di kota Barat,
Solo dan menghasilkan deklarasi Solo, yang berisi prinsip gerakan IMM sebagai berikut :

1. IMM adalah gerakan Mahasiswa Islam.


2. Kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM.
3. Fungsi IMM adalah sebagai eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah.
4. Ilmu adalah amaliah IMM, dan amal adalah ilmiah IMM.

19
5. IMM adalah organisasi yang sah mengindahkan segala hukum, undang-undang,
peraturan, dan falsafah negara yang berlaku.
6. Amal IMM dilahirkan dan di abdikan untuk kepentingan agama, nusa dan bangsa.

Identitas IMM

- Ikatan mahasiswa Muhammadiyah adalah organisasi kader yang bergerak di bidang


keagamaan, kemasyarakatan, dan kemahasiswaan dalam rangka mencapai tujuan
Muhammadiyah.
- Sesuai dengan gerakan Muhammadiyah, maka Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
memantapkan gerakan dakwah ditengah-tengah masyarakat khususnya kalangan
mahasiswa.
- Setiap anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah harus mampu memadukan
kemampuan ilmiah dan akidahnya
- Oleh karena itu setiap anggota harus tertib dalam ibadah, tekun dalam studi dan
mengamalkan ilmunya untuk menyatalaksanakan ketakwaan dan pengabdiannya
kepada Allah SWT.

Trilogi IMM

- Keagamaan
- Kemahasiswaan
- Kemasyarakatan

Tri kompetensi dasar

- Religiusitas
- Intelektualitas
- Humanitas

Nilai dasar Ikatan

- IMM adalah gerakan mahasiswa yang bergerak tiga bidang keagamaan,


kemahasiswaan, dan kemasyarakatan
- Segala bentuk gerakan IMM tetap berlandaskan pada agama Islam yang hanif dan
berkarakter rahmat bagi sekalian alam
- Segala bentuk keadilan, kesewenang-wenangan dan kemungkaran adalah lawan besar
gerakan IMM perlawanan terhadapnya adalah kewajiban kader IMM.
- Sebagai gerakan mahasiswa yang berlandaskan Islam dan berangkat individu-individu
mukmin, maka kesadaran melakukan syariat Islam adalah suatu kewajiban dan
sekaligus mempunyai tanggung jawab untuk mendakwahkan kebenaran di tengah
masyarakat.
- Kader IMM merupakan inti masyarakat utama yang selalu menyebarkan cita-cita
kemerdekaan, kemuliaan dan kemaslahatan masyarakat sesuai dengan semangat
pembebasan dan pencerahan yang dilakukan Nabiyullah Muhammad Saw.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui, bahwa IMM lahir adalah sebagai gerakan
yang menjadi respon atas permasalahan bangsa pada waktu itu. Dan dengan adanya berbagai
permasalaha baik di kalangan mahasiswa, masyarakat dan agama, maka maksud IMM
didirikan adalah sebagai alat pembebas dan perjuangan dakwah untuk membela bangsa, negara,
agama dan persyarikatan.

20
BAB III

SITUASI UMUM MASYARAKAT INDONESIA

A. PENDAHULUAN

Setelah mengkaji terkait essensi kelahiran organisasi Muhammadiyah dan Ikatan


Mahasiswa Muhammadiyah, tentunya kita sudah mengetahui bagaimana khittah organisasi kita
yang sebenarnya. Namun setelah kita tuntas di wilayah essensi kelahiran organisasi kita harus
melihat situasi masyarakat Indonesia saat ini, ini bertujuan agar aktivitas-aktivitas yang
dilakukan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berkesesuain dengan realita yang ada.
Melihat situasi umum masyarakat Indonesia saat ini merupakan sebuah keharusan bagi Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah. karena kalau kita lihat dari essensi kelahiran dari Muhammadiyah
dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sangat di pengaruhi oleh kondisi sosial masyarakat.

Dalam menentukan arah gerak perkaderan, selain pemahaman mengenai essensi kelahiran
Muhammadiyah dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Pemahaman mengenai situasi
masyarakat Indonesia benar-benar menjadi kebutuhan, karena bagaimana pun permasalahan-
permasalahan yang ada IMM haruslah ikut andil dalam menyelesaikan problem masyarakat itu.

Hal ini tentunya sangat berpengaruh dalam perkaderan, dan yang pasti sesuai dengan
kelahirannya IMM bukan hanya berperan untuk dirinya sendiri akan tetapi IMM juga berperan
terhadap permasalahan sosial. Begitu juga dengan perkaderan, aktivitas konkret yang dilakukan
dalam kaderisasi haruslah lah sesuai dengan realitas kehidupan saat ini, dalam membantu
menyelesaikan masalah-masalah yang ada di masyarakat.

B. Situasi Umum Masyarakat Indonesia


 Keadaan Alam Indonesia

Indonesia adalah sebuah negeri yang terdapat dalam gugusan kepulauan berpegunungan
besar yang terbentang di antara 6 LU - 11 LS dan 95 - 141 BT. Dengan kedudukannya di
sepanjang khatuliswa, maka Indonesia tergolong sebagai negeri tropis yang mengalami dua
musim dalam satu tahun. Keadaan iklim yang demikian membuat kepulauan Indonesia sangat
bersahabat dengan segala macam jenis tanaman pangan dan non-pangan untuk hidup dan
berkembang. Disamping itu, terdapat tiga negara yang berbatasan langsung dengan daratan
Indonesia, yaitu: Papua New Guinea di Pulau Papua, Malaysia (Sabah dan Serawak) di Pulau
Kalimantan, dan Timor Leste di Nusa Tenggara Timur. Sementara wilayah Indonesia yang
berbatasan dengan negeri lain di wilayah perairan adalah: Malaysia, Singapura, Filipina, dan
Laut Cina Selatan (utara); Australia dan Samudra Indonesia (selatan); Samudra Indonesia
(barat); dan Samudra Pasifik (timur). Dua samudra besar dunia, Samudra Pasifik dan Indonesia,
dan dua benua, Benua Asia dan Australia, juga mengapit Kepulauan Indonesia. Posisi ini yang
membuat negeri Indonesia memiliki nilai penting strategis dalam tata lalu lintas dunia
(terutama angkutan maritim). Di Indonesia terdapat lima pulau besar, yaitu: Papua,
Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, dan Jawa, beserta ribuan pulau lain (baik yang berpenghuni
manusia atau tidak) dengan jumlah total 17.508 pulau9.

Indonesia adalah negeri kepulauan terbesar di dunia yang memiliki garis pantai
terpanjang di dunia, yaitu: 54.716 km10. Dari lima pulau terbesar tersebut terdapat beberapa
gunung besar yang aktif maupun tidak aktif, yaitu: Sumatra dengan Pegunungan Barisan, Jawa

9 CIA - The World Factbook


10
CIA - The World Factbook

21
dengan Pegunungan Sewu dan Semeru, Papua dengan Pegunungan Jaya Wijaya, Kalimantan
dengan Pegunungan Kapuas Hulu dan Sulawesi dengan Pegunugan Latumojong11. Total secara
keseluruhan pegunungan besar di Indonesia berjumlah 102 dimana 45 diantaranya merupakan
gunung berapi. Jumlah pegunungan dan gunung tersebut membawa sebagian besar pulau di
Indonesia memiliki tanah daratan yang subur dan cocok sebagai areal pertanian bagi berbagai
macam jenis tanaman pangan dan non-pangan. Indonesia berada dalam posisi pertemuan
sejumlah lempeng tektonik, meliputi Lempeng Eurasia, Indo-Asutralia dan Lempeng Pasifik.
Kedudukan yang demikian itu, menempatkan wilayah Indonesia berada dalam kawasan dengan
potensi dan intensitas gempa bumi yang tinggi. Pertemuan tiga lempeng tektonik tersebut juga
mendatangkan kekayaan alam yang berlimpah. Busur magmatik di sepanjang Sumatera-Jawa-
Nusa Tenggara mengandung penyebaran kekayaan tembaga, timbal, emas, perak,
molybdenum, seng, timah, dan tungsten. Ofiolit di bekas-bekas jalur subduksi atau obduksi
seperti di Sulawesi dan Halmahera kaya akan nikel dan kromium. Emas, polymetallic suphide,
platinum, perak benar-benar tersebar mengikuti tepi lempeng. Gejala volkanisme dari Sumatra,
Jawa, Nusa Tenggara, dan Sulawesi Utara membawa energi geotermal. Lempeng tektonik juga
menghadirkan kekayaan akan minyak dan gasbumi, serta batubara di cekungan-cekungan
sedimen di Indonesia Barat maupun Indonesia Timur. Lempeng tektonik juga menyebabkan
diversitas fauna dan flora di Indonesia menjadi begitu memukau.

Indonesia memiliki luas daratan sebesar 1.811.569 km212 dan perairan 3.257.483 km2,
dengan total luas wilayah adalah 5.069.051 km2. Dari total luas daratan yang digunakan untuk
lahan pertanian 485.000 km2, hutan 847.522 km213 dan perkebunan yang diperkirakan
mencapai 20 juta Ha (200.000 km2)14. Di pegunungan, baik pulau besar maupun pulau kecil
memiliki jalur-jalur sungai panjang dan lebar. Kesuburan tanah dan keramahan iklimnya
membuat tanah-tanah subur cocok untuk pertanian pangan dan bahan baku industri. Hutan
menyediakan disamping perkayuan, cadangan oksigen untuk keseimbangan iklim juga
meliputi cadangan minyak dan mineral yang luar biasa. Garis pantai dan perairan laut
disamping memiliki cadangan sumber daya maritim juga menyimpan sumber daya minyak dan
mineral yang besar. Sungai-sungai besar di Indonesia (lebih kurang 350 sungai besar) saat ini
utamanya hanya untuk digunakan sebagai transportasi, belum dimanfaatkan sebesar-besarnya
untuk irigasi bagi pertanian dan sumber tenaga listrik bagi setiap pelosok negeri. Ratusan
pelabuhan di seluruh pulau kecil dan besar di Indonesia, dimasa depan seharusnya bisa diubah
sebagai pusat-pusat industri maritim.

Semua kekayaan alam di Indonesia seharusnya tidak memberikan syarat-syarat objektif


bagi keadaan Indonesia hari ini yang miskin dan terbelakang. Namun pada kenyataannya, bagi
rakyat Indonesia dari kalangan buruh, tani, pemuda, nelayan serta kaum miskin kota yang
menghuni nusantara Indonesia saat ini, kekayaan alam yang berlimpah ruah tersebut ternyata
tidak mendatangkan kemakmuran bagi mereka.

 Masyarakat Indonesia

Jumlah masyarakat Indonesia terus mengalami perkembangan dalam setiap tahunnya,


hingga bulan Juli 2015 jumlah masyarakat Indonesia sebesar 255. 993. 674 jiwa15, yang terdiri
dari :

11
Wikipedia
12
CIA - The World Factbook
13
Badan Pusat Statistik tahun 2010
14
Release Bappenas tahun 2008
15
CIA - The World Factbook

22
Usia Laki-Laki Perempuan
0-14 tahun : 25,8 % 33.651.533 jiwa 32.442.996 jiwa
15-24 tahun : 17,07 % 22.238.735 jiwa 21.454.563 jiwa
25-54 tahun : 42,31 % 55.196.144 jiwa 53.124.591 jiwa
55-64 tahun : 8.18 % 9.608.548 jiwa 11.328.421 jiwa
65 tahun – keatas : 6,62 % 7.368.764 jiwa 9.579.379 jiwa
TOTAL 128.063.724 jiwa 127.929.920 jiwa

*) sumber: CIA The World Factbook

Dengan komposisi buruh sebanyak 20%, kaum tani sebanyak 65%, dan rakyat pekerja
di luar buruh dan kaum tani sebanyak 10%. Jumlah Pemodal Sedang sekitar 4% dan Pemodal
Besar dan Tuan Tanah Besar hanya 1%. Jumlah rakyat pekerja ini menunjukkan besarnya
cadangan tenaga produktif untuk membangun negeri ini menjadi lebih maju dan sejahtera.
Namun kehidupan klas-klas pekerja yang menjadi tenaga produktif utama teresebut pada
kenyataannya menderita dalam kemiskinan dan keterbelakangan yang mendalam. Sementara
segelintir klas penguasa, borjuasi besar dan tuan tanah besar, hidup dalam gelimang
kemewahan dengan menindas dan menghisap klas pekerja.

Jumlah sukubangsa yang mendiami Indonesia sebanyak 1.128 suku bangsa 16


dengan 746 Bahasa Daerah 17 atau sekitar 10 persen dari 7000 bahasa di dunia. Terdiri
dari suku bangsa Jawa 40,1 %, Sunda 15,5 %, Malayu 3,7 %, Batak 3,6 %, Madura 3 %, Betawi
2,9 %, Minangkabau 2,7 %, Bugis 2,7 %, Banten 2 %, Banjar 1,7 %, Bali 1,7 %, Aceh 1,4 %,
Dayak 1,4 %, Sasak 1,3 %, Tionghoa 1,2 % suku bangsa lainnya 15 %.18 Terdapat beberapa
agama dan kepercayaan yang dianut penduduk Indonesia, meliputi: Islam 87,2 %, Kristen
Protestan 7 %, Kristen Katholik 2,9 %, Hindu 1,7 %, sisanya 0,9 % (sudah termasuk budha).19
Jumlah suku bangsa, pemeluk agama dan bahasa yang sedemikian itu, rentan terhadap
provokasi klas penguasa untuk memecah belah rakyat, walaupun suku bangsa terbesar (suku
bangsa Jawa) telah tersegregasi ke dalam komunitas-komunitas sosial di berbagai pulau,
berikut penggunaan Bahasa Indonesia yang berbasiskan Bahasa Melayu membuat persatuan
suku bangsa (nasional) menjadi lebih mudah. Namun, sekali lagi provokasi klas penguasa
untuk memecah persatuan rakyat dapat terjadi dalam bentuk sentimen chauvisme suku bangsa
besar, chauvinisme suku bangsa kecil maupun sentimen keagamaan.

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan secara umum, bahwa Indonesia adalah
negeri yang kaya raya, namun klas pekerjanya hidup menderita oleh kemiskinan dan terpecah-
pecah akibat dari dominasi klas penguasa asing dan dalam negeri yang menindas dan
menghisap. Bila seluruh rakyat Indonesia bisa merdeka tanpa adanya penindasan dan
penghisapan, maka seluruh kekayaan bumi Indonesia akan dikuasai dan digunakan dengan
sepenuh-penuhnya untuk membangun keseluruhan negeri.

 Kedudukan Indonesia dan Problem Pokoknya

Keadaan Indonesia hari memiliki kedudukan sebagai negeri Semi Kolonial (Setengah
Jajahan) dan Semi Feudal (Setengah Feodal). Sebuah keadaan dimana basis feodalisme masih
meluas di seleuruh negeri yang dicirikan dengan praktek monopoli tanah dan bersamaan
dengan itu industri dan klas proletariat tumbuh secara terbatas. Belum beranjak dari

16
Badan Pusat Statistik 2010
17
Pusat Bahasa Depdiknas 2011
18
CIA. Fatcbook
19
CIA. Fatcbook

23
kedudukannya di masa kolonialisme, keadaan Setengah Jajahan dan Setengah Feodal ini
menempatkan Indonesia sebagai :

1. Daerah sumber bahan mentah.


2. Sumber penyedia tenaga kerja murah.
3. Pasar bagi produk-produk imperialis.
4. Sasaran ekspor kapital

o Setengah Jajahan

Karakter setengah jajahan muncul sebagai akibat dominasi imperialisme20—khususnya


imperialisme Amerika Serikat—terhadap rakyat Indonesia baik secara ekonomi, politik, militer
dan kebudayaan yang bersandarkan kekuasaan monopoli tanah oleh borjuasi besar komprador
dan tuan tanah besar. Negara Republik Indonesia mendapatkan kemerdekaan formil dalam
menyelenggarakan sendiri pemerintahannya, melaksanakan Pemilu, membentuk tentaranya
sendiri, mempunyai bendera dan lagu kebangsaannya sendiri. Namun demikian Republik
Indonesia berada dalam dominasi dan kontrol Imperialisme -khususnya Imperialisme AS-
dalam lapangan ekonomi, politik, militer dan kebudayaan. Aspek setengah jajahan ini
diperkuat dengan banyaknya perusahaan imperialis –termaksud Amerika Serikat- di Indonesia.
Diantara perusahaan-perusahaan itu adalah:

No Nama Perusahaan Bidang Asal Perusahaan


1 Exxon Pengeboran Minyak Amerika Serikat
Pertambangan Emas dan
2 Freeport McMoran Amerika Serikat
Tembaga
4 Adidas Sepatu Jerman
5 Carrefour Ritel Perancis
6 Honda Transportasi Jepang
Minyak/Gas Bumi&panas
7 Conoco Phillips Amerika Serikat
bumi
8 Avon Kosmetik Perancis
9 The Coca-Cola Company Minuman Bersoda Amerika Serikat
10 Virginia Indonesia Company Pengeboran Minyak Virginia
11 Chevron Pengeboran Minyak Amerika Serikat
12 Unilever Manufaktur Belanda

(dari berbagai Sumber)

Keberadaan perusahaan-perusahaan Imperialis ini berkesesuaian dengan fungsi


Indonesia dalam menyediakan tenaga kerja murah, pasar-pasar produk imperialis serta
sebagai sasaran ekspor kapital. Politik upah murah yang dijalankan klas penguasa sejak di
era lampau ditujukan untuk melapangkan masuknya investasi ke dalam negeri. Ekonomi
Indonesia sudah sejak lama bergantung pada masuknya investasi asing atau ekspor kapital dari
negeri-negeri imperialis. Demi melayani kepetingan imperialis tersebut, Republik Indonesia
(RI) secara kontinu mempertahankan politik upah murah bagi klas buruh. Disamping itu,
dengan berbagai kesepakatan perdagangan, RI menyediakan pasar dalam negerinya sebagai
sasaran produk-produk Imperialis. Maka membanjirlah berbagai merk produk Imperialis di
seluruh jenis kebutuhan dalam negeri, mulai dari kebutuhan pangan, semisal kedelai yang

20
Tahapan tertinggi dari kapitalisme, dengan salah satu ciri utamanya adalah monopoli seluas-luasnya segala
aspek komoditi.

24
diimpor dari Amerika, barang-barang elektronik, ponsel, kebutuhan sehari-hari, sampai dengan
otomotif.

Dominasi imperialisme Amerika Serikat (AS) dapat terjadi karena persekutuan mereka
dengan klas reaksioner lokal dalam bentuk kediktatoran bersama antara Borjuasi Besar
Komprador dan Tuan Tanah, yang menjadi boneka dan penjaga kepentingan mereka.
Imperialisme bersekutu dengan tuan tanah besar—yang juga borjuasi komprador—untuk
mendapatkan penguasaan secara monopoli atas tanah dan kekayaan alam lainnya. Negara
Republik Indonesia sebagai negara klas Borjuasi Besar Komprodor dan Tuan Tanah
menyediakan regulasi dan aturan hukum untuk melapangkan jalan Imperialisme di Indonesia.
Semisal Undang-Undang Penanaman Modal Asing, Undang-Undang Migas, Undang-Undang
Sumber Daya Air, Undang-Undang Perbankan, Undang-Undang Ketenagakerjaan dan lain-
lain. Menurut pernyataan salah satu legislator pada Agustus 2010 21 terdapat 76 Undang-
Undang yang draftnya dilakukan untuk kepentingan pihak asing.

Imperialisme sendiri merupakan tahap tertinggi dari perkembangan kapitalisme.


Imperialisme mengakhiri peridode pasar persaingan sempurna dimasa lampau menjadi era
kapitalisme monopoli. Adapun ciri-ciri dari Imperialisme adalah sbb:

1) Konsentrasi produksi dan kapital telah berkembang pada tahapan tertinggi sehingga
menciptakan monopoli yang memegang peran penting dalam kehidupan ekonomi.

2) Perpaduan antara kapital bank dengan kapital industri dan penciptaan basis bagi apa
yang dinamakan kapital finans.

3) Ekspor kapital yang berbeda dengan ekspor komoditi.

4) Pembentukan formasi kapitalisme monopoli internasional dan pembagian dunia di


antara mereka.

5) Pembagian teritori di seluruh dunia di antara kekuatan kapitalis besar telah selesai.

Imperialisme AS saat ini menjadi kekuatan kapitalisme monopoli Internasional yang


paling kuat dan memegang peranan memimpin di antara kekuatan-kekuatan imperialisme
dunia yang lain seperti Inggris, Jerman, Jepang dan kutub kekuatan imperialisme baru seperti
China dan Russia. Kekuatan ekonomi politik imperialisme AS menjadi segi yang berdominasi
di dunia melalui lembaga-lembaga multinasional yang dikendalikan oleh AS seperti
International Monetery Fund (IMF), World Bank, World Trade Organization (WTO) dan
Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Kelembagaan dunia tersebut menjadi instrumen bagi AS
untuk memaksakan kebijakan-kebijakan ekonomi politik imperialisme kepada negeri-negeri
jajahan dan setengah jajahan. Seperti IMF bertindak sebagai lembaga keuangan yang
memastikan skema penyesuaian struktur (Structural Adjusment Program/SAP) ekonomi
politik berdasarkan kepentingan AS melalui mekanisme hutang luar negeri yang menjerat.
Sementara WTO adalah organisasi perdagangan dunia yang bertugas menjamin pelaksanaan
liberalisasi perdagangan yang akan lebih menguntungkan bagi negeri imperialis khususnya AS.
Demikian juga PBB menjadi organisasi internasional yang setiap waktu dapat digunakan oleh
imperialis AS untuk mengesahkan kebijakan-kebijakannya, seperti yang terjadi ketika AS
melakukan agresi imperialisnya ke Irak.

21
Tempo.co , 20 Agustus 2010

25
Imperialisme AS adalah musuh utama bagi seluruh bangsa khususnya di negeri-negeri
jajahan dan setengah jajahan. Sejarah mencatat bagaimana imperialisme AS mendukung klas-
klas reaksioner lokal di berbagai belahan dunia untuk melakukan penindasan terhadap massa
rakyat di negeri-negeri tersebut. Dan itu terbukti misalnya dengan dukungan AS terhadap rezim
anti rakyat di benua Asia seperti rezim Indonesia, Philipina, Thailand, Jepang, Korea Selatan,
Taiwan, Nepal, dan Pakistan. Demikian juga di benua Afrika seperti di Kongo, Mozambik,
Chad, Guinea Khatulistiwa, Sudan, Camerun dan Zaire. Sementara di Amerika Latin seperti di
Argentina, Meksiko, Chili, Peru, Uruguay, Kolombia, Puertorico, Bolivia, Honduras dan
Elsalvador. Dan memiliki pengaruh kuat terhadap beberapa rezim reaksioner di negara-negara
lainnya.

Demi menjaga dominasinya Amerika Serikat terlibat dalam pembangunan kompleks


industri militer di negaranya sendiri dan di berbagai negara. Melakukan ekspor peralatan
militer dengan teknologi tinggi ke seluruh dunia. Amerika adalah pemimpin pasar dalam seluk
beluk industri persenjataan. Komplek industri militer adalah komponen utama politik luar
negeri Amerika Serikat dalam melakukan agresi imperialisnya. Berbekal kekuataan militernya
tersebut, AS melancarkan Perang Agresi sebagaimana yang mereka lalukan semisal di Iraq dan
Afghanistan. Di samping itu Amerika membangun pangkalan militer di hampir seluruh negara
jajahan, setengah jajahan dan sekutu imperialisnya sejak berakhirnya Perang Dunia II.

o Setengah Feodal

Sejak bangsa asing melakukan ekploitasi di Indonesia pertama kali, baik VOC, Sistem
Tanam Paksa, dan masa neo-kolonialisme, kaum feodal-tuan tanah merupakan pendukung
mereka yang paling setia. Artinya tidak ada imperialisme yang begitu kuat di Indonesia tanpa
dukungan dari mereka. Feodalisme intinya adalah monopoli penguasaan tanah dan alat
kerjanya berada di tangan tuan tanah. Mereka tidak berpartisipasi dalam produksi karena
mempekerjakan buruh tani, petani miskin dan petani sedang bawah, akan tetapi keuntungan
terbesar hasil produksi diambil oleh mereka untuk keperluan hidupnya. Feodalisme telah
membantu imperialisme sehingga dapat mengambil tanah rakyat dengan mudah, memobilisasi
tenaga kerja dan memperoleh sumber bahan mentah untuk kepentingan industri kapitalis
dengan murah dan melimpah.

Praktek monopoli tanah telah menggencet kaum tani dalam kemiskinan dan
keterbelakangan. Sebagaimana yang dilansir oleh berbagai media, bahwa 56% aset nasional
dikuasai oleh hanya 0,2% penduduk. Dari aset nasional yang dikuasai oleh segelintir orang
tersebut, 87%-nya berupa tanah22. Sementara data pertanian di tahun 2013 menyebutkan 40
juta keluarga petani hanya menguasai lahan 0,3 hektar23. Ketidaksediaan lahan yang cukup
bagi lapisan terbawah dari kaum tani dan buruh tani melahirkan kemiskinan semakin beranak-
pinak di seluruh pedesaan. Kemiskinan inilah yang mengantarkan keluarga petani atau anak-
anak mereka ber-urbanisasi ke kota atau sebagian lagi menjadi TKI di luar negeri. Sementara
industri yang tidak meluas di perkotaan, hanya terpusat di kota-kota tertentu, mengakibatkan
menumpuknya para pencari kerja atau angkatan cadangan produksi. Jumlah permintaan akan
lapangan kerja yang tinggi, sedang penawaran yang tersedia sangat terbatas, berlakulah
kemudian hukum supply and demand dalam pasar tenaga kerja. Upah tenaga kerja kemudian
berada jatuh pada kisaran yang sangat rendah. Kembali kepada kedudukan Indonesia sebagai

22
Joyo Winoto, mantan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) dalam berbagai kesempatan wawancara
23
Rusman Heriawan, Wakil Menteri Pertanian, 2013

26
negeri semi feudal atau setengah feodal, yang tentu memiliki perbedaan dengan bentuk
feodalisme itu sendiri. Adapun persamaan dan perbedaan ciri diantara keduanya adalah sbb

Feodal Setengah Feodal


1. Basis Sosial 1. Monopoli tanah. 1. Monopoli tanah
2. Ekonomi mencukupi 2. Ekonomi mencukupi
kebutuhan sendiri. kebutuhan sendiri
3. Produksi skala kecil dan diganti dengan ekonomi
bebas secara relatif. barang-dagangan
(komoditi) namun tidak
hancur sepenuhnya.
3. Produksi dalam skala
besar (perkebunan dll)
lebih dominan daripada
produksi berskala kecil.

2. Klas Penguasa Tuan tanah. Borjuasi Besar


(Komprador), Tuan Tanah
Besar, Kapitalis-birokrat,
dan (bila ada pendudukan
imperialisme) imperialis.

Kedudukan klas-klas yang Kedudukan proletariat,


lain, seperti borjuasi, kaum kaum tani, dan lapisan
tani, dan proletariat menjadi bawah borjuasi (borjuasi
klas yang tertindas dan kecil) menjadi klas yang
terhisap. tertindas dan terhisap.
Sedangkan borjuasi sedang
menjadi strata klas
menengah.

3. Sistem Politik
Menggunakan sistem Sistem pemerintahan yang
pemerintahan digunakan adalah lazimnya
kerajaan/monarkhi sistem demokrasi borjuis
(presidensial, parlementer,
atau monarkhi-parlementer).

Pertanian terbelakang dengan basis monopoli tanah oleh tuan tanah dan klas borjuasi
komprador kemudian dipraktekkan demi memproduksi bahan mentah bagi industri
imperialis dan pasar imperialis (export oriented). Bahan mentah tersebut tidak ada gunannya
bagi rakyat Indonesia karena ketiadaan industri nasional yang mengolahnya. Pertanian adalah
lahan bagi imperialis, borjuasi besar komprador dan tuan tanah untuk memperoleh keuntungan
besar hampir tanpa investasi. Dominasi produksi pertanian semacam ini di pedesaan yang luas
menyebabkan keterbelakangan tenaga produktif. Demi menyediakan kebutuhan bahan baku
(raw materials) bagi tuan imperialis-nya, perkebunan-perkebunan skala luas berdiri di berbagai
wilayah pedesaan di Indonesia dikuasai Tuan Tanah dan Borjuasi Besar Komprador.
Perkebunan sawit, karet, kakao, cokelat meluas di berbagai pulau di Indonesia. Perkebunan-
perkebunan skala luas ini ditopang oleh RI dengan kemudahan berupa pengeluaran Hak Guna
Usaha dan Hak Pengelolahan Hutan. Sehingga tidak mengherankan Neraca Perdagangan RI
sangat bergantung selain kepada ekspor mineral, terlebih kepada ekspor bahan mentah
pertanian-perkebunan. Diantara mereka yang melakukan praktek monopoli tanah itu adalah:

27
a. Sinar Mas Grup melalui Sinar Mas Agro-Resources&Technology (Keluarga Eka
Tjipta Wijaya). Menguasai sekitar 1,3 juta ha lahan untuk perkebunan

b. Astra Agro Lestari sekitar 500 ribu ha (Keluarga Wiliam Suryajaya)

c. Raja Garuda Mas (Sukanto Tanoto) 777,9 ribu Ha

d. Barito Pasific (Prajo Pangestu) menguasai 555.617 Ha,

e. Indofood Sukses Makmur (Keluarga Liem Siu Liong) 467 ribu Ha

f. Wilmar Grup (Keluarga Sitorus) 500 ribu Ha

g. London Sumatera 128.763 Ha

h. Bakri Sumatera Plantation 166 ribu Ha

i. Sampurna Agro 90.055 Ha

j. Gudang Garam memiliki 14 anak perusahaan perkebunan sawit.

k. Ada ribuan lainnya yang menguasai tanah ratusan dan ribuan hektar secara
perorangan.

o Praktek Kapitalisme Birokrat

Kapitalisme birokrasi, pada dasarnya adalah penyalahgunaan kekuasaan oleh kaum


birokrat karena memegang simpul-simpul kekuasaan untuk diri sendiri dan keluarga dan klik
kekuasaannya dengan memberikan fasilitas serta sumber daya terutama ekonomi kepada
mereka yang mendukung posisinya. Dalam kekuasaan politik Indonesia perkembangan klas
kapitalis birokrat ini bertumbuh dengan pesat dari hari ke hari. Sepanjang kekuasaan rezim-
rezim boneka imperialis mulai Suharto hingga hari ini, mereka kerap kali membentuk lembaga-
lembaga negara baru, baik karena gagasannya sendiri maupun untuk merespon kritik rakyat,
misalnya lembaga untuk pemberantasan korupsi, pengawasan persaingan usaha, lembaga
pengawasan penyaiaran dan lain sebagainya. Lembaga-lembaga tersebut seringkali
diperuntukkan untuk menampung teman-teman sejawatnya, keluarga dan kolega-kolega
lainnya yang tidak memiliki kapasitas untuk menjalankan pekerjaan, sekaligus untuk
membangun sumber legitimasi politik baru.

Bentuk lain dari kapitalis birokrat ini adalah perangkapan jabatan. Di Indonesia sudah
dianggap biasa seseorang yang mempunyai jabatan menteri, panglima militer, gubernur, bupati
hingga camat dan kepala desa, juga memegang beberapa jabatan lainnya, dengan tujuan agar
prestise organisasi atau sumber keuangannya terjamin. Menteri tertentu dalam kabinet
merangkap sebagai ketua persatuan olahraga tertentu, bahkan menggunakan politik uang agar
bisa terpilih. Jenderal militer merangkap komisaris atau direksi sebuah perusahaan negara
ataupun swasta, terutama perusahaan konglomerat. Hampir jarang ditemui seorang birokrat
baik sipil maupun militer tidak melakukan rangkap jabatan, yang pada hakekatnya diluar
kapasitasnya untuk menjalankan akan tetapi demi maksud mengumpulkan kekayaan dan
mencari legitimasi politik.

Praktek politik uang untuk meraih promosi jabatan sudah lazim dilakukan oleh klas
penguasa. Mulai dari jabatan Direksi BUMN, Direktur Jenderal sampai Gubernur BI. Praktek

28
memfasilitasi parta pengusaha yang menjadi bagian dari klik kekuasaannya dengan
menggunakan anggaran negara dan memberikan proyek-proyek pemerintah tanpa melalui
tender yang sudah diatur adalah bentuk dari kapitalis birokrat yang semakin telanjang mata.
Berbagai proyek yang didanai APBN sering menjadi bancaan korupsi. Anggaran yang
mustinya dipergunakan oleh rakyat untuk meningkatkan taraf kehidupannya justru digunakan
untuk kepetingan klik pengusa. Dengan begitu bisa disimpulkan beberapa bentuk pokok dari
praktek kapitalis birokrat hari ini yaitu:

1. Melakukan tindakan korupsi, menerima pemberian dari siapapun diluar gaji yang
seharusnya. Meminta imbalan tanda tangan, meminta bagian dari proyek pemerintah
maupun swasta diluar ketentuan untuk diri sendiri.Temasuk memberikan proyek
kepada keluarganya, teman-temannya, dan klik kekuasaan yang mendukungnya tanpa
melalui tender terbuka atau melalui tender yang sudah direkayasa.
2. Melakukan politik uang untuk memperoleh sebuah jabatan politik di pemerintahan.
3. Membuat lembaga negara baru, dengan berbagai fasilitas akan tetapi tidak berfungsi.
Hal ini hanya memboroskan keuangan negara.
4. Membuat lembaga baru dengan mengangkat keluarga, teman-temannya, dan klik
politiknya dengan maksud membuat sumber legitimasi politik baru.
5. Pejabat sipil maupun militer melakukan perangkapan jabatan, terutama dalam
pemerintahan sendiri, menjadi komisaris di perusahaan-perusahan negara dan swasta,
serta di berbagai organisasi sosial, olahraga dengan maksud membiayai organisasi
tersebut untuk memperoleh dukungan politik.
6. Melakukan sogok atau suap untuk kenaikan pangkat kepada atasan.
7. Menggunakan fasilitas dinas untuk kepentingan diri sendiri, keluarga dan klik
kekuasaannya (partai, golongan dll), di luar kepentingan dinas.
8. Memberikan bintang pernghargaan dan jasa kepada keluarga, teman dan klik
kekuasaannya tanpa pertimbangan yang jelas.
9. Menjalankan bisnis dengan memanfaatkan jabatannya sebagai pimpinan, menjadi
beking bagi siapa saja yang bisa membayar.
10. Menggunakan jabatan untuk memaksa bank untuk memberikan kredit kepada pihak
tertentu dan dia mendapat bagian dari kredit tersebut.
11. Serta beberapa bentuk lain yang semakin canggih dan berkembang dari waktu ke waktu,
mencuri uang negara dan fasilitas negara untuk kekayaan pribadi serta klik yang
mendukungnya (partai, kelompok, gang, bandit, dll) bertahan di jabatan tersebut dalam
pemerintahan

Sebagaimana diuraikan sebelumnya, negeri Indonesia adalah negeri yang kaya-raya,


berlimpah ruah sumber daya alam dan didukung berjuta-juta tenaga produktif yang terlatih
bekerja keras. Segala potensi objektif itu hingga sekarang nyatanya belum bisa didorong untuk
mengantarkan mayoritas rakyat Indonesia menuju kepada kemajuan, kesejahteraan dan
kebahagiaan. Terdapat penghambat rakyat Indonesia untuk menggapai takdir historisnya yang
makmur dan sejahtera. Rakyat Indonesia tersekap dalam problem-problem pokok berupa: 1.
Imperialisme, 2. Feodalisme dan 3. Kapitalisme Birokrat.

Melihat realitas yang diatas, maka sudah seharusnya Ikatan Mahasiswa


Muhammadiyah berperan ditengah-tengah masyarakat untuk ikut andil dalam menyelesaikan
problem-problem masyarakat yang ada. Karena kemampuan-kemampuan yang dimiliki kader
sudah seharusnya diterapkan dimasyarakat, untuk ikut menyelesaikan problem pokok
masyarakat.

29
BAB IV

PERKADERAN DALAM MUHAMMADIYAH DAN IKATAN MAHASISWA

MUHAMMADIYAH SERTA SITUASI PERKADERAN IKATAN

MAHASISWA MUHAMMADIYAH MALANG RAYA

A. PENDAHULUAN

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah merupakan organisasi perkaderan yang mana di


orientasikan transformasi dan regenerasi kepemimpinan IMM disetiap level kepemimpinan
Kader merupakan orang yang didik untuk senantiasa meneruskan tampuk kepemimpinan
organisasi.

Untuk menciptakan kader yang berkualitas, Muhammadiyah mengatur tersendiri


standarisasinya dalam hal perkaderan ini bertujuan agar kaderisasi yang dilaksanakan tetap
menuju ke arah perjuangan organisasinya. Begitu juga dengan IMM yang mempunyai sistem
perkaderan ikatan yang tetap mengacu kepada sistem perkaderan Muhammadiyah. Hal ini agar
proses kaderisasi yang dilakukan tetap sejalan dengan organisasi induknya.

B. PERKADERAN MUHAMMADIYAH

Muhammadiyah sebagai organisasi yang sampai hari ini masih istikamah sebagai
gerakan dakwah sosial “amal ma’ruf nahi munkar” yang selalu mampu menempatkan diri
dalam perubahan dan kemajuan kondisi sosial masyarakat sangat menyadari bahwa sebuah
organisasi yang sehat adalah organisasi yang terus bergerak secara dinamis, yang kemudian
pergerakan itu di tentukan oleh faktor internal dari organisasi tersebut. Maka dari itu perihal
regenerasi kepemimpinan merupakan bagian yang harus di bahas secara serius di dalam tubuh
organisasi agar keberlangsungan kepemimpinan organisasi tidak mengalami staknasi. Dapat di
katakan bahwa kader merupakan poros kekuatan utama dalam menjalankan dan meneruskan
roda organisasi, yang kemudian Muhammadiyah membentuk sebuah sistem yang secara holistik
berbicara dan mengatur terkait perkaderan yang ada di dalam tubuh organisasi Muhammadiyah
yang di sebut Sistem Perkaderan Muhammadiyah. Sistem Perkaderan Muhammadiyah yang
kemudian dapat di sebut (SPM) adalah “Seperangkat unsur dan keseluruhan komponen
yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas yang
berhubungan dengan kader dan kaderisasi di Muhammadiyah”. Sebagai sebuah sistem,
unsur-unsur yang terkandng dalam SPM mencakup beberapa hal, antara lain adalah; Tujuan
Perkaderan Muhammadiyah; Arah Perkaderan Muhammadiyah; Profil Kader Muhammadiyah;
Jenis dan Bentuk Perkaderan; Struktur Penjenjangan Kader; Kurikulum Perkaderan; dan
Pengorganisasian Perkaderan. Dalam hal ini, sistem perkaderan di miliki ortom
Muhammadiyah, juga merupakan bagian dari Sistem Perkaderan Muhammadiyah yang tidak
dapat di pisahkan.

 Perkaderan Sebagai Sebuah Sistem

Sebagai sebuah sistem dan satu kesatuan yang utuh, maka Sistem Perkaderan
Muhammadiyah berlaku bagi seluruh jajarn dan komponen yang ada di dalam Muhammadiyah,
yang kemudian di atur di dalam SPM seluruh bentuk dan jenis kaderisasi, dan pelatihan yang
ada di Muhammadiyah dalam upaya pelaksanaan perkaderannya yang secara keseluruhan hal
tersebut berlaku baik secara vertikal maupun horizontal. Yang dimaksud berlaku secara
vertikal adalah SPM berlaku bagi seluruh pimpinan Muhammadiyah mulai dari level ranting

30
sampai dengan pusat, sebagai acuan dan pola pelaksanaan kaderisasi secara otimal sesuai
dengan tingkatan masing-masing. Sedangkan yang di maksud berlaku secara horizontal adalah
SPM berlaku dan mengikat seluruh Unsur Pembantu Pimpinan (majelis dan lembaga), ortom,
dan Amal Usaha Muhammadiyah di seluruh jenjang kepemimpinan untuk dilaksanakan
sebagai acuan dan pola kaderisasi.

Karena memiliki sifat yang mengikat dan menyeluruh seperti hal yang sudah di jelaskan
sebelumnya, makan sistem perkaderan yang di miliki masing-masing ortom menjadi bagian
dari Sistem Perkaderan Muhammadiyah. Masing-masing ortom melaksanakan dan program
dan kegiatan perkaderannya berdasarkan pada kekhasan masing-masing dengan tetap mengacu
dan mengindahkan konsep dasar, prinsip dan kurikulum yang ada di SPM secara konsisten.

 Tujuan Perkaderan Muhammadiyah

Terbentuknya kader Muhammadiyah yang memiliki ruh (spirit) serta integritas dan
kompetensi untuk berperan di Persyarikatan, dalam kehidupan ummat dan dinamika bangsa
serta kontek global

 Arah Perkaderan Muhammadiyah

Secara hakikat perkaderan merupakan pembinaan individu-individu anggota organisasi


dan pimpinan secara terprogram dengan tujuan tertentu bagi persyarikatan Muhamadiyah.
Dalam Muhammadiyah perkaderan di titik beratkan pada pembinaan idelogi; pembinaan
kepemimpinan; membangun kekuatan dan kualitas gerakan; ideologi gerakan dan
mengoptimalkan sistem kaderisasi yang menyeluruh dan berorientasi ke masa depan.

Dengan demikian, perkaderan Muhammadiyah menjadi upaya dalam penanaman nilai,


sikap dan cara berpikir, serta peningkatan kompetensi dan integritas terutuma dalam aspek
ideologi, kualitas kepemimpinan, ilmu pengetahuan, dan wawasan bagi seluruh anggota
organisasi. Dengan lain, dalam perkaderan haruslah terjadi proses penyadaran, peneguhan, dan
mengayaan.

 Profil Kader Muhammadiyah

Kader Muhammadiyah sebagai hasil dari proses perkaderan merupakan anggota inti yang
di organisir secara permanen dan berkemampunan dalam menjalankan tugas serta misi
organisasi, ummat, dan bangsa guna mencapai tujuan Muhammadiyah. Karena dari itu hakikat
kader Muhammadiyah bersifat tunggal, dalam arti hanya ada satu kader Muhammadiyah.
Sedangkan fungsi dan tugasnya bersifat majemuk dan berdimensi luas yakni sebagai kader
persyarikatan, kader ummat, dan kader bangsa.

Profil Kader Muhammadiyah harus mampu menunjukkan integritas dan kompetensi


antara kompetensi akademis dan intelektual, kompetensi keberagamaan dan kompetensi sosial-
kemanusiaan guna menghadapi tantangan organisasi di masa yang akan datang. Integritas dan
kompetensi kader Muhammadiyah dalam tiga aspek tersebut dapat di pahami dalam nilai-nilai
dan indikatornya sebagai berikut:

1. Kompetensi Keberagamaan, dicirikan dengan nilai-nilai:


 Kemurnian aqidah
 Ketekunan beribadah
 Keikhlasan

31
 Shidiq
 Amanah
 Berjiwa gerakan
2. Kompetensi Akademis dan Intelektual, dicirikan dengan nilai-nilai:
 Fathonah
 Tajdid
 Istiqamah
 Etos
 Moderat
3. Kompetensi Sosial Kemanusiaan, dicirikan dengan nilai-nilai:
 Kesalehan soisal
 Kepedulian sosial
 Suka beramal
 Tabligh

Dalam menngemban amanah perjuangan di dalam persyarikatan Muhammadiyah


dimanapun dan dalam suasana apapun, dengan tiga jenis kompetensi itu setiap kader
Muhammadiyah hendaknya mempunyai cara berpikir, sikap mental, dan kesadaran
berorganisasi, serta keikhlasan.

C. PERKADERAN IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH

Perkaderan ikatan merupakan proses pembelajaran yang dilakukan oleh kader ikatan
dalam kehidupan, baik bersama ikatan ataupun ketika sudah berada diluar struktur ikatan.
Sistem perkaderan ikatan secara filosofis merupakan penerjemahan perkaderan yang
dilakukan oleh rasulullah. Hal tersebut, dapat dilihat dari nama perkaderan yakni Darul
Arqam. Filosofi perkaderan yang dilakukan oleh rasul, yakni penanaman nilai-nilai Islam
secara kaffah, dengan cara mengubah kesadaran jahiliyah sehingga menjadi al syaksiyah faa
fadli (hablum minallah dan hablum minannas). Proses tersebut dilalui dengan cara
kristalisasi kader sehingga terbentuknya kader Islam. Sedangkan kaderisasi yakni dengan
melaksanakan proses perkaderan sesuai dengan tujuan IMM, terbentuknya akademisi Islam
yang berakhlak mulia untuk mencapai tujuan Muhammadiyah. Selanjutnya konsolidasi
yang dilakukan oleh ikatan dengan proses penggunaan identitas simbolik dan identitas
substansial. Identitas simbolik yakni dengan cara memahami makna simbolnya, sedangkan
identitas substansi merupakan kerangka berpikir anggota ikatan dalam menjalankan
aktivitasnya. Dalam proses konsolidasi ikatan terdapat juga proses individuasi kader yang
dilakukan untuk melahirkan kolektivitas gerakan, ataupun sebaliknya, kolektivitas ikatan
mapu melakukan individuasi.

Orientasi kaderisasi IMM diarahkan pada terbentuknya kader yang siap berkembang
sesuai spesifikasi profesi yang ditekuninnya, kritis, logis, terampil, dinamis, utuh. Kualitas
kader yang demikian ditransformulasikan dalam tiga lahan aktualisasi yakni : persyarikatan,
umat dan bangsa.

Secara substansial, arah perkaderan IMM adalah penciptaan sumber daya manusia yang
memiliki kapasitas akademik yang memadai sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan
zaman, yang berakhlakul karimah dengan proyeksi sikap individual yang mandiri,
bertanggungjawab dan memiliki komitmen serta kompetisi perjuangan dakwah Islam Amar
Ma’ruf Nahi Munkar sesuai dengan falsafah perkaderan IMM yang mengembangkan nilai-
nilai uswah, pedagogi-kritis, dan hikmah untuk mewujudkan gerakan IMM sesuai dengan
falsafahnya yakni IMM sebagai gerakan intelektual dengan penjelasan sebagai

32
pemaksimalan akal dalam membaca fenomena untuk mencari kebenaran yang bersumber
pada al Qur’an dan Sunnah terformulasikan dalam humanisasi, liberasi, trasendensi sebagai
ruh dalam setiap perkaderan yang dilakukan oleh IMM.

sebagai sebuah proses organisasi, perkaderan IMM diarahkan pada upaya transformasi
ideologis dalam bentuk pembinaan dan pengembangan kader, baik kerangka ideologis
maupun teknis manajerial. Dalam tahapan yang lebih praktis, akumulasi proses perkaderan
diarahkan dalam rangka transformasi dan regenerasi kepemimpinan IMM disetiap level
kepemimpinan.

Sementara itu, target perkaderan di proyeksikan untuk terbentuknya sumber daya kader
struktural dan fungsional yang profesional. Dalam perkaderan IMM terdapat 3 perkaderan
yaitu: perkaderan Utama, Perkaderan khusus, perkaderan pendukung. Dan dalam
pelaksanaannya ketiga jenis perkaderan itu mempunyai targetan masing-masing.

Target perkaderan utama adalah terinternalisasikan nilai-nilai perjuangan visi dan misi
IMM dan sekaligus terciptanya kader pimpinan yang memiliki kompetensi dan wawasan
yang sesuai dengan level/tingkatan kepemimpinan masing-masing. Target perkaderan
khusus diproyeksikan pada terbentuknya pengelola perkaderan (instruktur) yang
profesional. Target Perkaderan pendukung adalah meningkatnya kualitas sumber daya kader
menurut minat, bakat, profesi, keterampilan dan keahlian pada bidang tertentu.

Dalam melakukan proses perkaderan IMM harus tetap sesuai dengan khitah
organisasinya yakni harus sesuai dengan Tujuan IMM, Enam penegasan, Identitas IMM,
Trilogi, Tri Kompetensi Dasar, Slogan IMM, dan Nilai Dasar Ikatan. Sehingga kader yang
dihasilkan akan sesuai dengan yang diinginkan, yang sudah tercantum dalam Profil kader
Ikatan, berikut isi dari Profil Kader Ikatan :

1. Memiliki keyakinan dan sikap keagamaan yang tinggi agar keberadaan ikatan di masa
yang akan datang mampu memberi warna masyarakat yang mulai meninggalkan nilai-
nilai agamawi.
2. Memiliki wawasan dan kecakapan memimpin karena keberadaan kader ikatan
bagaimanapun merupakan potensi umat dan kepemimpinan.
3. Memiliki kecendekiawanan, mengingat spesialisasi dan profesionalisasi mempersempit
cakrawala berpikir dalam sub bidang kehidupan yang sempit.
4. Memiliki wawasan ketrampilan berkomunikasi, mengingat bahwa masa yang akan
datang industri informasi akan mendominasi sistem budaya kita. Hal ini juga inhern
dengan watak Islam yang dalam keadaan apapun juga selalub siap melaksanaloan Amar
Ma’ruf Nahi Munkar sebagai essensi dari komunikasi Islamisasi.

D. SITUASI UMUM PERKADERAN IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH


MALANG RAYA

IMM Malang Raya merupakan teritori organisasi di daerah malang yang


terdapat 21 komisariat dengan komposisi 10 Komisariat di kampus Universitas
Muhammadiyah Malang (UMM), 3 Komisariat di kampus Universitas Islam Negeri
(UIN) Maulana Malik Ibrahim, 3 Komisariat di kampus Universitas Negeri Malang
(UM), 3 Komisariat di kampus Universitas Brawijaya (UB), 1 Komisariat di kampus
Budi Utomo, dan 1 komisariat di kampus Kanjuruhan. Dengan banyaknya komisariat
yang ada tentunya sangat mempengaruhi culture/budaya di masing-masing komisariat
karena kondisi dimasing-masing sektor/kampus itu sangatlah berbeda.

33
Permasalahan kaderisasi yang ada di malang sangatlah bervariatif atau dalam
artian kompleks di karenakan kontrol kaderisasi yang kurang maksimal di 21 komisariat
di periode-periode sebelumnya, hal itu sangatlah mempengaruhi dengan kondisi
kaderisasi saat ini yang mengalami banyak ketimpangan antar komisariat, hal ini
disebabkan karena :
- Arah perkaderan/grand desain perkaderan yang berbeda-beda di masing-
masing komisariat dan ada beberapa komisariat yang belum punya grand
desain perkaderan.
- Kedudukan dan tugas antara instruktur cabang dan instruktur komisariat
yang tumpang tindih.
- Perangkat perkaderan (instruktur dan PH Komisariat) yang kurang
memahami tugas, pokok dan fungsinya.

Dari problematika kaderisasi yang ada di malang yang tertera diatas adalah
kesimpulan secara umum yang didapatkan ketika workshop perkaderan yang dilakukan
cabang periode kemarin dan juga situasi atau fenomena konkret yang ditemukan
dilapangan.

Melihat situasi seperti itu merupakan sebuah keharusan IMM Malang Raya
memperbaiki kaderisasinya terutama dalam hal arah perkaderan di karenakan itu
merupakan sebuah pondasi berjalanannya organisasi untuk mencapai tujuannya

34
BAB V

POLA PERKADERAN

IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH MALANG RAYA

A. KERANGKA MUNCULNYA POLA PERKADERAN

Tujuan IMM

Lahan Garap/Trilogi IMM :


- Keagamaan
- Kemahasiswaan
- Kemasyarakatan

Pola Perkaderan
Tri Kompetensi Dasar IMM : IMM Malang Raya
- Religiusitas
- Intelektualitas
- Humanitas

Profil Kader Ikatan

Gambar diatas merupakan bagan mengenai munculnya pola perkaderan yang


didalamnya nanti menjelaskan mengenai arah perkaderan, target perkaderan, strategi
pencapaian, muatan perkaderan, metodologi strategi pencapaian, prinsip kaderisasi. Yang
nantinya akan dibahas dalam Bab ini mengenai pola perkaderan.

A. ARAH PERKADERAN IKATAN MAHASISWA MALANG RAYA

Kalau kita lihat secara normatif yang ada di SPI, bahwa secara substansial arah
perkaderan IMM adalah penciptaan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas akademik
yang memadai sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan zaman, yang berakhlakul karimah
dengan proyeksi sikap individual yang mandiri, bertanggungjawab dan memiliki komitmen
serta kompetisi perjuangan dakwah Islam Amar Ma’ruf Nahi Munkar sesuai dengan falsafah
perkaderan IMM yang mengembangkan nilai-nilai uswah, pedagogi-kritis, dan hikmah untuk
mewujudkan gerakan IMM sesuai dengan falsafahnya yakni IMM sebagai gerakan intelektual
dengan penjelasan sebagai pemaksimalan akal dalam membaca fenomena untuk mencari
kebenaran yang bersumber pada al Qur’an dan Sunnah terformulasikan dalam humanisasi,
liberasi, trasendensi sebagai ruh dalam setiap perkaderan yang dilakukan oleh IMM. Serta
dalam SPI dijelaskan bahwa akumulasi dari kaderisasi yang dijalankan diarahkan dalam rangka
transformasi dan regenerasi kepemimpinan IMM disetiap level kepemimpinan. Namun seperti
yang kita ketahui arah perkaderan IMM yang ada SPI sangatlah umum, sehingga IMM Malang
Raya mengerucutkan dan mempertegas arah perkaderannya secara konkret lagi, hal ini pun
tidak bertentangan hanya saja mempertegas arah perkaderannya agar muatan-muatan

35
kaderisasi yang ada di komisariat bisa sama untuk meminimalisir ketimpangan kualitas
kaderisasi yang ada.

Oleh karena itu, melihat realitas yang terjadi saat ini sesuai dengan penjelasan yang ada
di atas kader-kader IMM harus benar-benar kritis melihat situasi yang ada, pembacaan situasi
dan kondisi tentunya harus didasari dengan pengetahuan-pengetahuan yang kuat sehingga bisa
ikut serta berperan dalam menyelesaikan problem yang terjadi saat ini di masyarakat,. Maka
Melihat beberapa tinjauan yakni esensi lahirnya Muhammadiyah dan IMM, situasi umum
masyarakat Indonesia, dan Tanfidz Musycab, Maka IMM Malang Raya tegas mengarakan
Perkaderannya secara konkret pada Penguatan nilai-nilai ideologi yang secara dinamis
mampu menempatkan diri sebagai pelaku gerakan pembebasan dan keberpihakan terhadap
Umat dan Bangsa. sesuai dengan tafsiran mengenai ideologi Muhammadiyah dan tujuan
Muhammadiyah. Arah Perkaderan ini yang akan menjadi pondasi bergeraknya IMM sebagai
organisasi progresif yang mampu mengambil peran penting dalam setiap dakwah dan
perjuangan dalam menegakkan Islam yang hudan rahmatan lil’alamin (petunjuk dan rahmat
bagi seluruh alam).

B. TARGET PERKADERAN
Target perkaderan merupakan hasil yang ingin dicapai dalam melakukan proses
kaderisasi yang dilakukan. target perkaderan ini sesuai dengan arah perkaderan yaitu
Penguatan nilai-nilai Ideologis yang secara dinamis mampu menempatkan diri sebagai
pelaku gerakan pembebasan dan keberpihakan terhadap Umat dan Bangsa. Sehingga
target perkaderannya adalah :
- Terwujudnya kader yang berfikir kritis yakni mampu memberikan pandangan atau
pemikirannya berdasarkan landasan yang jelas.
- Terwujudnya kader yang ideologis yakni mampu menerapkan nilai-nilai ideologis
dalam setiap aktivitas organisasi maupun keseharian, sehingga dalam aktivitas
organisasi diarahkan pada penguatan nilai-nilai ideologis.
- Terwujudnya kader yang bertanggung jawab yakni memliki kesadaran untuk
menjalankan tugas-tugasnya sebagai kader serta melaksanakan keputusan organisasi
- Terwujudya kader yang mempunyai kapasitas dalam memimpin dan mengorganisir
yakni memiliki kemampuan dalam memimpin dan mengorganisir anggota organisasi
- Terwujudnya kader yang memiliki kepedulian sosial yakni mampu menyesuaikan diri
dengan kondisi dan lingkungan, serta mampu memberikan tanggapan atau responnya
atas permasalahan-permasalahan sosial yang berkaitan dengan lingkungan dan
kondisi masyarakat.
- Terwujudnya kader yang memiliki kecakapan berdakwah ditengah-tengah masyarakat
yakni mampu mengaktualisasikan nilai-nilai tri kompetensi dasar ditengah-tengah
Masyarakat
- Terwujudnya kader yang memiliki loyalitas dan militansi terhadap organisasi yakni
memiliki rasa kepemilikan terhadap organisasi dan rela berkorban demi kemajuan
organisasi

C. STRATEGI PENCAPAIAN

Strategi pencapaian ini merupakan langkah-langkah umum yang harus dijalankan oleh
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malang Raya dalam rangka menjalankan kaderisasi sesuai
dengan arah kaderisasi. Strategi ini diwujudkan dalam 3 (tiga) aspek pokok pembangunan
organisasi. yaitu aspek Ideologi, Politik dan Organisasi.

36
 IDEOLOGI
Strategi umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malang Raya dalam pembangunan
aspek ideologi, meliputi:
o Pemahaman agama Islam sebagai ideologi
o Pendalaman mengenai Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan
o Pembangunan kerangka berfikir yang ilmiah, melalui pengembangan ilmu
pengetahuan baik itu pada wilayah teori-teori maju lainnya yang dapat
mendukung pengembangan pengetahuan.
 POLITIK
Strategi umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malang Raya dalam pembangunan
aspek politik, melitputi:
o Penguatan metode sistem analisa sosial dalam rangka menganalisa
permasalahan-permasalahan yang ada pada masyarakat.
o Responsif (Pengkajian dan Penyikapan) terhadap kebijakan-kebijakan pubik
yang dikeluarkan oleh pemerintahan yang memiliki keterhubungan langsung
dengan problem pokok masyarakat Indonesia saat ini.

 ORGANISASI
Strategi umum Ikatan mahasiswa Muhammadiyah Malang Raya dalam aspek
pembangunan organisasi, meliputi:
o Pemahaman prinsip-prinsip dasar pembangunan organisasi :
 Dalam organisasi tidak bisa dipisahkan persoalan teori dan praktek. Ia
merupakan kesatuan yang utuh tak terpisah-pisah. Dalam segala pekerjaan
organisasi, tiap-tiap kader harus memahami prnjelasan teoritik dari
pekerjaan tersebut dan memiliki pengalaman berpraktek langsung atas
pekerjaan tersebut. Pemahaman atas teori hanya dapat diukur dari
kecocokannya dalam menjalankan hal tersebut dalam berpraktek. Begitu
pula sebaliknya, satu praktek yang baik, pasti dibimbing dan atau
menghasilkan teori yang tepat pula. Kesenjangan antara salah satu hal dari
kedua hal tersebut adanya akan menghasilkan intelektualisme di satu sisi
ataupun aktivisme maupun heroisme belaka disisi yang lain.
 Kader organisasi harus cakap dalam memberikan jalan keluar/solusi atas
persoalan yang terdapat dalam organisasi atau masalah yang berada
ditengah-tengah masyarakat. Atau dengan kata lain, kader organisasi harus
cakap dalam menghadapi segala bentuk situasi apapun dan mampu
memberikan jalan keluar/solusi.
 Dalam organisasi pimpinan atau pengorganisir harus memiliki hubungan
erat dengan kader. Ia tidak boleh ekslusif ataupun terisolasi dari kader, Ia
harus mampu menyerap sebanyak mungkin segala hal dari kader, mulai dari
pendapat dan pandangan-pandangan kader, informasi, dukungan sukarela
(tenaga maupun logistik) dan sebagainya. Selanjutnya semua yang didapat
dari kader dianalisa dengan cara berfikir yang benar sehingga kemudian
menghasilkan satu rancangan solusi untuk tindakan bersama. Selanjutnya,
rancangan solusi didiskusikan lagi dengan kader sampai terwujudnya
pemahaman dalam bertindak.
 Dalam setiap keputusan dan pekerjaan organisasi yang telah dijalankan
haruslah dlakukan proses evaluasi atau penilaian dan koreksi terhadap
kekurangan, kesalahan-kesalahan atau segi-segi negatif, maupun
keberhasilan-keberhasilan, kemajuan atau segi-segi positif dari keputusan
yang telah diambil dan pekerjaan yang telah dilakukan. Penilaian atau
37
penilaian ini tidak boleh berat sebelah. Tidak tepat untuk membesar-besar
keberhasilan maupun mebesar-besar kesalahan. Begitu pula sebaliknya.
Penilain atau evaluasi ini juga dapat dilakukan menyangkut perilaku atau
tindakan individu anggota organisasi yang dianggap butuh dinilai kaitannya
dengan keberadaan organisasi. evaluasi ini juga harus menjauhkan diri dari
prasangka-prasangka maupun praduga subjektif. evaluasi harus dijalankan
secara reguler dan terus menerus secara ketat untuk kemajuan organisasi.
 Dalam menjalankan aktivitas organisasi kita dituntut untuk bekerja
bersama, dalam artian kita harus saling membantu sesama anggota
organisasi untuk dapat menyelesaiakan pekerjaannya. Membantu disini
mempunyai batasan yakni memahamkan serta membimbing kawan kita
untuk menyelesaikan pekerjaannya ketika belum paham. Jadi membantu
disini bukanlah mengambil alih tanggung jawab akan tetapi membantu
dalam artian mengarahkan dan memahamkan agar keja-kerja organisasi
bisa lebih efektif.
o Pemahaman Prinsip pengambilan Kebijakan Organisasi :
 Prinsip pembimbing kita dalam membentuk dan menjalankan organisasi
kita. Prinsip ini menjamin bahwa kita akan bergerak sebagai kesatuan yang
akan terorganisir. Dalam pengambilan kebijakan pimpinan organisasi harus
memperhitungkan segala sesuatu berdasarkan keseluruhan kepentingan dan
kondisi organisasi. kebijakan yang baik dari organisasi adalah berasal dari
partisipasi aktif seluruh anggota dan mengambil bagian didalamnya.
Keputusan-keputusan yang djalankan dalam organisasi secara bersama
diputuskan atas dan didasarkan kepada kepentingan umum yang kemudian
nanti tetap di tarik dengan tujuan organisasi. Dengan cara demikian kita
membuat keputusan-keputusan, rencana-rencana dan program yag benar
dan secara efektif menuntaskannya. Mempraktekkan prinsip itu adalah satu
cara untuk menjamin keberhasilan kita.
o Pemahaman mengenai administrasi organisasi.

D. MUATAN PERKADERAN
Perkaderan Utama (Darul Arqam Dasar)
Klasifikasi Materi Materi Uraian materi Pelaksanaan DAD
Materi Ideologi Ke-Islaman Tauhid
. makna syahadatain
. konsekuensi syahadatain
Hakikat Islam,
. Islam rahmatan lil alamin.
Ibadah
. konsep dan hakikat ibadah dalam Islam
Ke-Muhammadiyahan . Sejarah Muhammadiyah (sampai
Muhammadiyah terbentuk)
. Ciri Perjuangan Muhammadiyah
. Strategi dakwah Muhammadiyah
Ke- IMMan . Sejarah kelahiran IMM
. Tujuan IMM
. Enam penegasan
. Identitas IMM
. Trilogi IMM
. Tri Kompetensi Dasar
. Slogan IMM
. Nilai Dasar Ikatan

38
. Profil Kader Ikatan
. Kontekstualisasi Ideologi Gerakan IMM
kekinian
Materi Keorganisasian Keorganisasian . Hakikat Organisasi
. Prinsip pembangunan organisasi
Materi Wawasan Filsafat . Pengantar filsafat
. Ciri-ciri berfikir filsafat
Gerakan Mahasiswa . Sejarah gerakan mahasiswa Indonesia
. tanggung jawab intelektual
Gender . Pengantar Gender
Materi Terapan Retorika . Sejarah Retorika
. Definisi
. Bentuk retorika
. Fungsi retorika
. Cara beretorika
Manajemen Aksi . Tujuan Aksi
. Bentuk-bentuk Aksi
. Pentingnya Aksi
Musyawarah dan . Definisi Musyawarah dan Persidangan
Teknik Persidangan . Tujuan Musyawarah dan Persidangan
. Bentuk Persidangan
. Mekanisme Persidangan

Perkaderan Khusus (Latihan Instruktur Komisariat)


Klasifikasi Materi Materi Uraian materi Pelaksanaan LIK
Materi Ideologi Sistem Perkaderan . Sejarah Sistem Perkaderan Rasulullah
Rasulullah (SPR) . Strategi Sistem Perkaderan Rasulullah
. Sasaran Perkaderan Rasul
. Muatan Perkaderan Rasul
Sistem Perkaderan . Filosofi Perkaderan Muhammadiyah
Muhammadiyah (SPM) . Strategi Perkaderan Muhammadiyah
. Muatan Perkaderan Muhammadiyah
Sistem Perkaderan . Sistem Perkaderan Ikatan
Ikatan (SPI) . Desain Perkaderan IMM Malang Raya
Materi Keinstrukturan Ke-Instrukturan . Filosofi Instruktur dalam Perkaderan
. Tugas dan fungsi instruktur Komisariat
. Perangkat Perkaderan
Materi Wawasan Analisa dan . Metode analisa data dan pengolahan data
Pengembangan Potensi kader
Kader . Teknik pengembangan potensi kader
Materi Terapan Strategi Pendampingan . Pengertian goal setting
dan Goal Setting . Prinsip-prinsip goal setting
. Langkah-langkah strtaegi pendampingan
. Prinsip dan metode pendampingan
. Pola pendampingan
Sistem Monitoring dan . Fungsi Monitoring dan Evaluasi
Evaluasi . Teknik-Teknik Monitoring dan Evaluasi
. Prinsip Monitoring dan Evaluasi
. Tahapan Monitoring dan Evaluasi
. Lembar Monitoring dan Evaluasi
. Klasifikasi keaktifan kader
Manajemen Pelatihan . Konsep POAC (Planning, Organizing,
Actuating, Controling)
. Desain Pelatihan
Manajemen Forum . Rekayasa Forum

39
. Psikologi forum
Micro teaching . Media Pembelajaran
. Metode Pengajaran
. Ice Breaking
Aktivitas non materi Kajian ayat-ayat . Kajian ayat-ayat Perkaderan

Perkaderan Pendukung

Perkaderan pendukung merupakan perkaderan yang dilaksanakan untuk meningkatkan


potensi kader sesuai dengan minat, bakat, ketrapilan dan kemampuan dalam rangka
mendukung keberhasilan proses kaderisasi ikatan.

Perkaderan pendukung bisa dilaksanakan dalam bentuk agenda apapun selain


perkaderan khusus dan utama. Yang terpenting agenda perkaderan pendukung dilaksanakan
sesuai dengan kebutuhan komisariat. Kemudian untuk muatan tetap mengacu kepada strategi
pencapaian, agar aktivitas yang dilakukan tetep berkesesuaian dengan arah perkaderan.

E. METODOLOGI STRATEGI PENCAPAIAN


Merupakan metode berdasarkan strategi pencapaian diatas :
 Ideologi:
o Diskusi dan Kajian Intensif
Merupakan metode yang digunakan untuk menanamkan kerangka berpikir
termasuk wacana-wacana yang berupa pemahaman teoritis akan diberikan
terhadap kader.
 Politik:
o Studi Kasus
Merupakan metode yang digunakan dalam rangka pendalaman sistem
analisa sosial serta dalam menyelesaikan permasalahan yang ada dalam
masyarakat yang dilakukan oleh kader.
o Penyikapan
Merupakan metodologi yang digunakan sebagai bentuk respon atas kondisi
sosial yang ada, bentuk respon ini pun bermacam yakni aksi massa, bakti
sosial dan advokasi.
 Organisasi
o Familiarisasi tugas-tugas pimpinan
Merupakan bentuk pengenalan atau pemahaman kepada kader terkait tugas-
tugas pimpinan.
o Penugasan
Merupakan bentuk pengikatan melalui tugas yang diberikan kader.
penugasan ini bisa berbentuk kepanitiaan.
o Pengikatan secara formal
Bentuk pengikatan keorganisasian yang bersifat formal, seperti diklat,
seminar dan sejenisnya

F. PRINSIP KADERISASI

Sesuai dengan yang ada di SPI bahwa prinsip dalam kaderisasi adalah Kontinyu dan
Mengikat, yang dimaksud kontinyu dan mengikat adalah kaderisasi berjalan secara terus-
menerus atau berkesinambungan sesuai dengan perkaderan yang dijalankan Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah Malang Raya, serta dalam menjalankan prinsip kaderisasi tetap berpanduan

40
pada prinsip-prinsip dasar pembangunan organisasi dan prinsip pengambilan kebijakan
organisasi.

G. KETENTUAN LAIN
1. Dalam melakukan aktivitas kaderisasi yang dilakukan komisariat harus berdasarkan
strategi pencapaian (haluan muatan secara umum) dan disesuaikan dengan kemampuan
komisariat, namun dalam berjalannya aktivitas kaderisasi agar bisa maksimal sesuai
dengan strategi pencapaian (haluan muatan secara umum) akan didampingi oleh
pimpinan cabang.
2. Indikator keberhasilan yang ada dalam target perkaderan, dapat diukur melalui program
kerja yang ada di komisariat.

41
BAB VI

PERANGKAT KADERISASI

IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH MALANG RAYA

A. PENGERTIAN

Perangkat kaderisasi adalah susunan komposisi-komposisi yang terlibat dalam


menjalankan kaderisasi, bisa di katakan bahwasannya perangkat kaderisasi ini merupakan
penentu dari konsepsi-konsepsi yang digagas mengenai perkaderan.

Perangkat kaderisasi dalam IMM merupakan susunan komposisi yang akan


menjalankan konsepsi-konsepsi perkaderan. Seperti yag kita ketahui bersama bahwasanya
dalam IMM mempunyai 3 perkaderan yatu perkaderan utama, perkaderan khusus dan
perkaderan pendukung.

B. ANALISIS KEBUTUHAN PERANGKAT KADERISASI

Seperti yang sudah dijalaskan bahwasannya dalam melakukan perkaderan dibutuhkan


perangkat atau unsur-unsur dalam melakukan perkaderan yang akan dilakukan. Dilingkup IMM
Malang Raya secara normatif sudah ada perangkat kaderisasi yakni: Pimpinan Cabang,
Pimpinan Komisariat, dan Instruktur Cabang. Namun kondisi diMalang Raya terdapat
tambahan perangkat kaderisasi yakni Instruktur Komisariat.

Secara historis kelahiran Instruktur Komisariat dikarenakan Instruktur cabang tidak


maksimal dalam melakukan kaderisasi di komisariat, dengan dihadapakan kondisi seperti itu
komisariat-komisariat mulai bermunculan membuat instruktur komisariat. Hal ini sudah
dilaksanakan bertahun-tahun sehingga menjadi budaya bagi komisariat untuk membuat
instruktur komisariat. Hal ini pun tentunya mengalami tumpang tindah antara tugas instruktur
cabang dan instruktur komisariat.

Melihat situasi yang ada di IMM Malang Raya, Pimpinan Cabang mengeluarkan
keputusan untuk tetap membutuhkan Instruktur Komisariat dikarenakan sudah menjadi
kebutuhan di komisariat-komisariat untuk melakukan kaderisasi. Namun agar pelaksanaan
kaderisasi di Malang Raya bisa berjalan dengan maksimal haruslah diatur tugas yang sangat
jelas agar kerja perangkat kaderisasi ini bisa berjalan dengan optimal terutama Instruktur
Cabang dan Instruktur Komisariat.

Maka dari itu di poin selanjutnya akan diatur mengenai peranan dari masing-masing
perangkat kaderisasi.

C. PERANGKAT KADERISASI

Untuk memaksimalkan kerja kaderisasi yang dilakukan, Ikatan Mahasiswa


Muhammadiyah Malang Raya menentukan perangkat kaderisasi yang akan menjalankan
perkaderan sehingga terbentuknya kader yang berkualitas.

Perangkat Kaderisasi :

- Pimpinan Cabang
Merupakan pimpinan tertinggi yang berada ditingkatan level diatas komisariat yang
bertanggung jawab dalam membuat kebijakan organisasi di tataran cabang yang sesuai

42
dengan kebutuhan dari komisariat serta melakukan pendampingan kepada pimpinan
komisariat agar dalam menjalankan kaderisasi yang ada di komisariat bisa maksimal.

- Pimpinan Komisariat
Merupakan pimpinan yang berada dibawah cabang yang bertanggung jawab untuk
melakukan pendampingan kepada kader dimasing-masing komisariat, serta selalu
senantiasa turun ke ke kader untuk mengetahui kondisi sehingga kebijakan yang di
keluarkan oleh komisariat sesuai dengan kebutuhan kader yang di tarik kepada tujuan
organisasi, sehingga kaderisasi yang dilakukan bisa makssimal.

- Instruktur Cabang
Merupakan perpanjangan tangan dari Bidang Kader Cabang yang bertanggungjawab
dalam membantu mengontrol muatan perkaderan yang dilakukan. Muatan yang
dikontrol mulai dari penurunan konsep perkaderan dari desain perkaderan Malang Raya
sampai ke komisariat, kontrol dalam pemberian materi ke peserta dalam proses
perkaderan serta melakukan kontrol muatan dalam follow up yang dilakukan oleh
komisariat. Namun dalam melakukan kontrol yang lebih jauh ke komisariat terutama
ikut mengontrol instruktur komisariat harus melewati komunikasi antara Bdang Kader
Cabang dengan Bidang Kader Komisariat.

- Instruktur Komisariat
Merupakan perpanjangan tangan dari Bidang Kader Komisariat yang bertanggung
jawab dalam pengelolaan perkaderan yang dilakukan di komiariat masing-masing,
serta bertanggungjawab terhadap follow up perkaderan.

D. BAGAN POLA PENDAMPINGAN

PIMPINAN CABANG

BIDANG KADER
CABANG

PIMPINAN
KOMISARIAT

INSTRUKTUR BIDANG KADER


CABANG KOMISARIAT

INSTRUKTUR
KOMISARIAT

KADER BARU

43
Penjelasan :

Dalam memaksimalkan jalannya kaderisasi yang ada di IMM Malang Raya maka
dibutuhkanlah pola pendampingan dari semua perangkat kaderisasi yang ada. Seperti yang
sudah tertera di bagan pola pendampingan di atas bahwasanya Pimpinan Cabang harus
melakukan pendampingan ke Pimpinan Komisariat. Pimpinan cabang yang dimaksud adalah
Bidang-bidang yang ada di Pimpinan Cabang harus melakukan pendampingan kepada bidang-
bidang yang ada di Pimpinan komisariat.

Untuk Bidang Kader bersama Instruktur Cabang melakukan pendampingan kepada bidang
kader komisariat bersama instruktur komisariat dalam hal kontrol muatan perkaderan yang
dijalankan. Kemudian Pimpinan Komisariat bersama instruktur komisariat melakukan
pendampingan kepada kader baru.

Hal ini dilakukan agar terwujudnya sinergisitas Pimpinan Cabang dan Pimpinan Komisariat
dalam melakukan Perkaderan

44
BAB VII
PEDOMAN PELAKSANAAN
DARUL ARQAM DASAR (DAD) DAN
LATIHAN INSTRUKTUR KOMISARIAT (LIK)
IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH MALANG RAYA

A. PENDAHULUAN
Pedoman pelaksanaan adalah pedoman yang sangat khusus yang mengatur pelaksanaan
perkaderan yang tentunya sesuai dengan kondisi IMM Malang Raya yang merupakan
penurunan dari Standard Operational Procedure (SOP) yang ada di Sistem Perkaderan
Ikatan. Pedoman Pelaksanaan ini diatur dikarenakan kondisi di Malang Raya terdapat
perbedaan dalam melakukan Perkaderan Utama dan Perkaderan Khusus yaitu DAD dan LIK
terutama dalam aspek Materi yang diberikan, Pengorganisasian dan Evaluasinya. Pedoman
Pelaksanaan ini diatur dikarenakan kondisi di Malang Raya tidak bisa jika dalam pelaksanan
DAD langsung di samakan dengan panduan di SOP yang ada dalam SPI dikarenakan ada
kondisi yang berbeda di aspek keinstrukturannya.
Kondisi khusus mengenai adanya instruktur komisariat yang sudah menjadi kebutuhan
di Malang Raya ini yang menjadi pembeda karena Instruktur Komisariat ini juga berperan
di aspek pengelolaan perkaderan. Dan juga kalau kita lihat materi-materi yang ada di silabus
DAD yang ada di SPI perlu kita benturkan lagi dengan kondisi dan kebutuhan organisasi,
ini bertujuan agar proses perkaderan yang dilakukan bisa sesuai dengan realitas yang ada
tidak hanya normatif belaka.
Maka dari itu dibuatlah pedoman pelaksanaan untuk mengatur hal-hal secara khusus
dalam perkaderan.

B. PEDOMAN PELAKSANAAN DARUL ARQAM DASAR


 Latar Belakang

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah merupakan organisasi perkaderan yang dalam


pelaksanaannya selalu menjunjung tinggi arah perkaderan yang menjadi orientasinya untuk
mecapai tujuan organisasinya yaitu Mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang
berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. Sebagai organisasi
perkaderan sudah pasti orientasi yang paling dasar adalah mencetak regenerasi baru untuk
melanjutkan dan memajukan jalannya roda organisasi, karena sebagai organisasi perkaderan
hal itu sudah pasti menjadi kebutuhan.

Dalam melakukan kaderisasi untuk mencetak regenerasi baru untuk melanjutkan dan
memajukan jalannya roda organisai, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah melakukan
perekrutan calon anggota di setiap tahunnya. Dalam melakukan hal itu Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah mempunyai sistem perkaderan yang mengaturnya secara jenjang. Dalam
hal untuk mengesahkan anggota organisasi yang baru Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
mempunyai perkaderan yang dinamakan Darul Arqam Dasar (DAD).

Secara etimologi, Darul Arqam Dasar berasal dari kata Darul Arqam yang artinya
adalah Rumah Arqam, yaitu rumah salah satu sahabat Rasulullah SAW yang digunakan
sebagai tempat perkaderan Islam di masa-masa pertama. Dari rumah ini muncul tokoh-tokoh
besar Islam yang pernah dikader oleh Rasulullah SAW, seperti Abu Bakar, Ali Bin Abi
Thalib dan Siti Khadijah. Darul Arqam Dasar dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
merupakan tingkat dasar yang berbentuk pelatihan, dari tiga tingkatan perkaderan utama
yang ada ditubuh organisasi dan merupakan salah satu syarat untuk menjadi kader Ikatan

45
Mahasiswa Muhammadiyah. Sebagai perkaderan dalam tingkatan yang paling dasar Darul
Arqam Dasar harus mampu memberikan kesan pertama yang mampu memberikan stimulus
untuk terus belajar dan berproses di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Tentunya dalam
melakukan hal itu dibutuhkan materi-materi yang nantinya akan diberikan kepada calon
kader sebagai injeksi awal untuk menstimulus agar kader mampu terus menjalankan
kaderisasi sesuai dengan arah kaderisasi sehingga nanti akan tercapai tujuan organisasi.
kalau kita tinjau dengan yang ada di SPI, Darul Arqam Dasar secara muatan yang harus
diberikan kepada calon kader yakni Internalisasi dasar-dasar Islam dan meletakkan dasar
pemahaman intelektualitas, sebagai bentuk gerakan cendekiawan berpribadi dengan ilmu
amaliyah dan amal ilmiah.

Kalau kita melihat kondisi yang ada di Ikatan Mahasiswa Malang Raya, Arah
perkaderan yang berbeda-beda dari komisariat-komisariat membuat materi-materi yang
diberikan kepada kader juga berbeda-beda termasuk materi Darul Arqam Dasar itu sendiri.
Perbedaan itupun sangat beragam ada yang sama persis dengan SPI tanpa melihat kondisi
dan kebutuhan komisariatnya (Arah Perkaderan), ada juga yang melihat SPI kemudian di
pertimbangkan dengan kondisi dan kebutuhan komisariatnya (Arah Perkaderan). Hal itupun
harus kita akui bahwa realita yang ada dilapangan bahwasanya arah perkaderan menentukan
materi-materi perkaderan yang akan diberikan kepada sasaran. Perkaderan Utama dalam
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah merupakan perkaderan yang pokok untuk dilaksanakan
dan memberikan injeksi materi atau wacana kepada kader. seperti halnya yang ada di SPI
bahwasanya Perkaderan utama tingkatan paling dasar yaitu Darul Arqam Dasar (DAD)
merupakan perkaderan yang memberikan injeksi muatan Internalisasi dasar-dasar Islam dan
meletakkan dasar pemahaman inteektualitas. Agar kaderisasi yang dilakukan bisa berjalan
secara maksimal dan juga bisa meminimalisir permasalahan-permasalahan perkaderan
utama tingkatan dasar sebelumnya, maka pelaksanaan Darul Arqam Dasar dalam rangka
injeksi muatan internalisasi dasar-dasar Islam dan meletakkan dasar pemahaman
intelektualitas harus melihat pedoman perkaderan yang ada di Sistem Perkaderan Ikatan
namun harus dipertimbangkan dengan arah perkaderan yang ada.

Agar pelaksanaan Darul Arqam Dasar (DAD) bisa maksimal sesuai dengan muatan
yang akan diberikan, maka perlu disusun manajerial yang tepat mulai dari Pra pelaksanaan,
Pelaksanaan dan Pasca Pelaksanaan agar muatan dalam perkaderan utama bisa tercapai.

 Tujuan

Menginternalisasikan dasar-dasar Islam dan meletakkan dasar pemahaman


intelektualitas sebagai bentuk penanaman awal kepada kader sehingga dalam orientasi ke
depannya mampu melanjutkan tampuk kepemimpinan.

 Targetan
- Terinternalisasikannya nilai-nilai ideologi
- Tertananamnya dasar-dasar pemahaman intelektualitas
 Konsep Materi
Klasifikasi Materi Materi Uraian materi Pelaksanaan DAD
Materi Ideologi Ke-Islaman Tauhid
. makna syahadatain
. konsekuensi syahadatain
Hakikat Islam,
. Islam rahmatan lil alamin.
Ibadah
. konsep dan hakikat ibadah dalam Islam
46
Ke-Muhammadiyahan . Sejarah Muhammadiyah (sampai
Muhammadiyah terbentuk)
. Ciri-ciri Perjuangan Muhammadiyah
. Strategi dakwah Muhammadiyah
Ke- IMMan . Sejarah kelahiran IMM
. Tujuan IMM
. Enam penegasan
. Identitas IMM
. Trilogi IMM
. Tri Kompetensi Dasar
. Slogan IMM
. Nilai Dasar Ikatan
. Profil Kader Ikatan
. Kontekstualisasi Ideologi Gerakan IMM
kekinian
Materi Keorganisasian Keorganisasian . Hakikat Organisasi
. Prinsip pembangunan organisasi
Materi Wawasan Filsafat . Pengantar filsafat
. Ciri-ciri berfikir filsafat
Gerakan Mahasiswa . Sejarah gerakan mahasiswa Indonesia
. tanggung jawab intelektual
Gender . Pengantar Gender
Materi Terapan Retorika . Sejarah Retorika
. Definisi
. Bentuk retorika
. Fungsi retorika
. Cara beretorika
Manajemen Aksi . Tujuan Aksi
. Bentuk-bentuk Aksi
. Pentingnya Aksi
Musyawarah dan . Definisi Musyawarah dan Persidangan
Teknik Persidangan . Tujuan Musyawarah dan Persidangan
. Bentuk Persidangan
. Mekanisme Persidangan

 Pengorganisasian Darul Arqam Dasar

Pengorganisiran Darul Arqam Dasar tersusun hierarkis sebagai berikut :

 Penanggungjawab
Yaitu Pimpinan Ikatan yng bertanggung jawab langsung secara keseluruhan terhadap
penyelenggaraan perkaderan. Dalam Darul Arqam Dasar (DAD) penanggung jawabnya
adalah Pimpinan Komisariat.
 Tim Instruktur
o Master of Training (MOT)
Yaitu seseorang yang mendapat tugas memimpin dan secara umum
bertanggungjawab atas pelaksanaan keinstrukturan.
o Vice Master of Training (Vice MOT)
Yaitu sesorang yang membantu MOT dalam menjalankan dalam menjalankan
tugas.
o Imam Training (IT)

47
Seseorang yang mendapat tugas memandu keinstrukturan dalam aspek ibadah
keIslaman
o Observer
Yaitu sekelompok orang yang bertugas monitoring dan evaluasi perkembangan
peserta secara personal dan kelompok yang menunjukan pelatihan sesuai
dengan targetannya.
o Anggota Instruktur
Yaitu instruktur yang membantu tugas dari Master of Training, Imam Training
dan Observer.
 Nara Sumber
Nara sumber dalam kegiatan perkaderan IMM adalah para ahli yang kompeten di
bidangnya yang akan disajikan dalam proses perkaderan. Nara sumber harus memiliki
komitmen Islam yang jelas, menguasai materi, berpengalaman dan sesuai dengan
orientasi perkaderan.
 Panitia Pelaksana
Adalah tim petugas yang bersifat teknis yang bertugas menjadi penanggungjawab
pelaksana perkaderan sesuai kepentingan teknis, panitia pelaksana dibentuk oleh
penanggung jawab kegiatan.
 Deskripsi Tugas-Tugas Instruktur
1. Bertanggung jawab secara penuh terhadap standart kualitas pelaksanaan perkaderan
dari awal sampai akhir
2. Melakukan orientasi awal, kontrol materi, evaluasi harian, evaluasi non materi, dan
evaluasi akhir
3. Membuat laporan terhadap pelaksanaan proses perkaderan
 Tugas Khusus Instruktur Cabang
Dalam Darul Arqam Dasar (DAD), Instruktur Cabang berperan mulai dari Pra
Pelaksanaan, Pelaksanaan, dan Pasca Pelaksanaan.
Pra Pelaksanaan
o Mendampingi Pimpinan Komisariat atau Instruktur Komisariat dalam pembuatan
konsep DAD yang merupakan terjemahan dari standarisasi perkaderan yang
disepakati dalam Lokakarya Perkaderan.
Pelaksanaan
o Melakukan kontrol muatan perkaderan agar tetap sesuai dengan standarisasi
perkaderan, kontrol muatan ini bisa dilaksanakan dengan ikut membantu dalam
pengelolaan DAD atau koordinasi secara masif dengan bidang kader atau instruktur
komisariat terkait dengan muatan perkaderan yang diberikan kepada peserta. Semua
tugas dalam pelaksanaan tersebut dapat dilaksanakan melewati koordinasi yang
dilakukan oleh bidang kader cabang dengan bidang kader komisariat.
Pasca Pelaksanaan
o Bersama Bidang Kader Cabang melakukan kontrol muatan perkaderan, agar
pendampingan yang dilakukan oleh Pimpinan Komisariat/Instruktur Komisariat
tetap mengarah pada Target Perkaderan.

 Ketentuan Instruktur
1. Master of Training dianjurkan dari Instruktur Cabang, namun keputusan tetap berada
di Pimpinan Komisariat selaku penanggung jawab dengan melihat situasi dan
kondisi organisasi.
2. Keanggotaan instruktur di serahkan kembali kepada Pimpinan Komisariat,
diprioritaskan sudah mengikuti LIK atau LID.

48
3. Jika keanggotaan instruktur tidak mencukupi dapat ditambah dengan Instruktur
Cabang.
4. Pelaksanaan DAD didampingi oleh 2 orang Instruktur Cabang/Pimpinan Cabang
IMM Malang Raya.

 Evaluasi
Evaluasi ini merupakan penilaian keberhasilan terhadap jalannya perkaderan. Hal-hal yang
di evaluasi dalam pelaksanaan DAD meliputi : evaluasi peserta, evaluasi Instruktur,
evaluasi Pemateri, evaluasi panitia dan evaluasi keseluruhan.
Evaluasi Peserta
Evaluasi yang dilakukan untuk mengetahui sejauhmana perkembangan peserta dalam
mengikuti proses perkaderan (DAD). Aspek-aspek yang dinilai yakni untuk Materi dan
non Materi.
Untuk materi :
a. Tingkat keseriusan
b. Daya tangkap
c. Wawasan
d. Partisipasi
e. Kehadiran

Untuk non Materi :

a. Ibadah
b. Kemandirian
c. Akhlak
Evaluasi Instruktur
Merupakan evaluasi yang diperuntukkan untuk instruktur dalam mengelola proses
perkaderan. Aspek yang dievaluasi terhadap instruktur meliputi :
a. Kemampuan dalam mengendalikan forum
b. Kemampuan mengkoordinasikan semua perangkat yang terlibat dalam perkaderan
(DAD)
c. Pencapaian target harian DAD
Evaluasi Pemateri/Nara Sumber
Merupakan evaluasi yang dilakukan terhadap pemateri dalam memberikan materi
kepada peserta. Aspek-aspek yang dievaluasi terhadap pemateri meliputi :
a. Penguasaan Materi
b. Kesesuaian materi yang disampaikan dengan silabus atau uraian materi
c. Penguasaan forum
Evaluasi Panitia
Merupakan evaluasi yang diperuntukkan kepada panitia dalam menjalankan teknis
perkaderan. Aspek-aspek yang dievaluasi terhadap panitia meliputi :
a. Kerja kepanitiaan yang terbagi dalam sie.
Evaluasi Kesuluruhan
Merupakan evaluasi dari serangkaian prosesi kegiatan perkaderan (DAD). Evaluasi ini
meliputi :
a. Kesesuaian dengan rencana awal dengan realisasi di pelaksanaan
b. Hubungan antar perangkat dalam DAD.
c. Ketercapain taget DAD.

 Kepesertaan

49
Persyaratan peserta Darul Arqom Dasar adalah :

1. Memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan oleh panitia penyelenggara, sesuai


kebutuhan

2. Sudah mengenal IMM

3. Berada dalam tahap usia dewasa awal

4. Jenjang pendidikan relative masih rendah

5. Sifat, persepsi dan motivasi masih beragam

6. Jumlah peserta harus ideal antara 20 – 40 peserta, agar kualitas perkaderan dapat
terjaga, serta memenuhi standar perbandingan instruktur-peserta 1 : 5.

 Ketentuan Lain
1. Materi DAD yang sudah sepakati di Lokakarya Perkaderan sedapat mungkin untuk
dilaksanakan dikarenakan sudah menjadi standarisasi Perkaderan (DAD) IMM
Malang Raya
2. Pimpinan Komisariat harus melaporkan rencana penyelenggaraan DAD selambat-
lambatnya 1 bulan sebelum pelaksanaan DAD
3. Pimpinan Komisariat harus melaporkan hasil penyelenggaraan DAD paling lambat
2 minggu setelah penyelenggaraan kepada Pimpinan Cabang.

C. PEDOMAN PELAKSANAAN LATIHAN INSTRUKTUR KOMISARIAT (LIK)


 Latar Belakang
IMM merupakan organisasi yang berada di bawah naungan Muhammadiyah sebagai
organisasi induknya. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah memiliki tujuan organisasi yakni
Membentuk akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan
Muhammadiyah. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah untuk mencapai tujuannya
menggunakan stategi perkaderan, yang mana dalam strategi perkaderan ini diorientasikan
untuk membentuk sumber daya kader yang sesuai dengan yang di inginkan IMM yang
tertuang dalam profil kader ikatan.
Dalam melakukan aktivitas perkaderan, IMM mempunyai tenaga-tenaga dalam
mendidik kader yakni instruktur, seperti yang ada di SPI bahwa instruktur adalah tim yang
bertugas memandu dan memegang kendali orientasi, materi dan kualitas acara perkaderan
sebagai proses melahirkan ekstrainer yang ideal. Secara normatif yang ada di SPI bahwa
kehadiran instruktur di tataran paling dasar adalah di instruktur cabang, yang mana secara
tugas instruktur cabang sesuai dengan yang ada di SPI meelaksanakan tingkat perkaderan
yang ada di komisariat.
Namun kalau kita lihat kondisi realitas yang ada di Malang Raya bahwasannya ada
perbedaan dengan normatif sesuai yang ada di SPI yang merupakan sebagai rujukan
melakukan pekaderan. Adanya instruktur komisariat yang menjadi tambahan perangkat
kaderisasi di IMM Malang Raya, hal ini disebabkan karena pada awalnya instruktur
cabang yang kurang maksimal dalam melakukan kaderisasi di tingkatan komisariat,
sehingga dengan kondisi seperti itu munculah instruktur dari masing-masing komisariat
yang melakukan kaderisasi di masing-masing komisarit. Hal itu sudah menjadi kebutuhan
di masing-masing komisariat karena proses kaderisasi bukanlah hanyalah sekedar di
perkaderan formal namun sampai di follow up perkaderan.

50
Maka melihat realitas yang terjadi di Malang Raya, Pimpinan Cabang IMM Malang
Raya mengeluarkan kebijakan untuk mempertegas peran Instruktur cabang dan Instruktur
Komisariat, hal ini dilakukan agar tidak tumpang tindih dalam pelaksanaan kaderisasi.
Seperti penjelasan yang ada di perangkat perkaderan IMM Malang Raya, Intruktur
cabang yakni bertanggungjawab dalam membantu mengontrol muatan perkaderan yang
dilakukan komisariat. Muatan yang dikontrol mulai dari penurunan konsep perkaderan dari
desain perkaderan Malang Raya sampai ke komisariat, kontrol dalam pemberian materi ke
peserta dalam proses perkaderan serta melakukan kontrol muatan dalam follow up yang
dilakukan oleh komisariat.
Sementara itu untuk instruktur komisariat mempunyai tugas bertanggung jawab dalam
pengelolaan perkaderan yang dilakukan di komiariat masing-masing, serta
bertanggungjawab terhadap follow up perkaderan.
Maka dari itu Pimpinan Cabang membuat pedoman pelaksanaan dalam Latihan
Instruktur Komisariat (LIK), hal ini agar pelaksanaan LIK tetap berada dalam koridor
standarisasi instruktur, dan juga bisa maksimal dalam pelaksanaan kaderisasi nantinya.
 Tujuan
Memberikan wacana untuk meningkatkan kualitas kader dalam pengelolaan perkaderan
dan follow up perkaderan
 Target
Terciptanya tenaga-tenaga Instruktur Komisariat yang memiliki kemampuan dalam
mengelola perkaderan dan menjalankan follow up perkaderan.
 Konsep Materi
Klasifikasi Materi Materi Uraian materi Pelaksanaan LIK
Materi Ideologi Sistem Perkaderan . Sejarah Sistem Perkaderan Rasulullah
Rasulullah (SPR) . Strategi Sistem Perkaderan Rasulullah
. Sasaran Perkaderan Rasul
. Muatan Perkaderan Rasul
Sistem Perkaderan . Filosofi Perkaderan Muhammadiyah
Muhammadiyah (SPM) . Strategi Perkaderan Muhammadiyah
. Muatan Perkaderan Muhammadiyah
Sistem Perkaderan . Sistem Perkaderan Ikatan
Ikatan (SPI) . Desain Perkaderan IMM Malang Raya
Materi Keinstrukturan Ke-Instrukturan . Filosofi Instruktur dalam Perkaderan
. Tugas dan fungsi instruktur Komisariat
. Perangkat Perkaderan
Materi Wawasan Analisa dan . Metode analisa data dan pengolahan data
Pengembangan Potensi kader
Kader . Teknik pengembangan potensi kader
Materi Terapan Strategi Pendampingan . Pengertian goal setting
dan Goal Setting . Prinsip-prinsip goal setting
. Langkah-langkah strtaegi pendampingan
. Prinsip dan metode pendampingan
. Pola pendampingan
Sistem Monitoring dan . Fungsi Monitoring dan Evaluasi
Evaluasi . Teknik-Teknik Monitoring dan Evaluasi
. Prinsip Monitoring dan Evaluasi
. Tahapan Monitoring dan Evaluasi
. Lembar Monitoring dan Evaluasi
. Klasifikasi keaktifan kader
Manajemen Pelatihan . Konsep POAC (Planning, Organizing,
Actuating, Controling)
. Desain Pelatihan
Manajemen Forum . Rekayasa Forum

51
. Psikologi forum
Micro teaching . Media Pembelajaran
. Metode Pengajaran
. Ice Breaking
Aktivitas non materi Kajian ayat-ayat . Kajian ayat-ayat Perkaderan

 Pengorganisasian LIK
 Penanggungjawab
Yaitu Pimpinan Ikatan yng bertanggung jawab langsung secara keseluruhan terhadap
penyelenggaraan perkaderan. Latihan Instruktur Komisariat (LIK) penanggung
jawabnya adalah Pimpinan Komisariat.
 Tim Instruktur Pelaksana LIK
o Master of Training (MOT)
Yaitu seseorang yang mendapat tugas memimpin dan secara umum
bertanggungjawab atas pelaksanaan keinstrukturan.
o Vice Master of Training (Vice MOT)
Yaitu sesorang yang membantu MOT dalam menjalankan dalam menjalankan
tugas.
o Imam Training (IT)
Seseorang yang mendapat tugas memandu keinstrukturan dalam aspek ibadah
keIslaman
o Observer
Yaitu sekelompok orang yang bertugas monitoring dan evaluasi perkembangan
peserta secara personal dan kelompok yang menunjukan pelatihan sesuai
dengan targetannya.
o Anggota Instruktur
Yaitu instruktur yang membantu tugas dari Master of Training, Imam Training
dan Observer.
 Nara Sumber
Nara sumber dalam kegiatan perkaderan IMM adalah para ahli yang kompeten di
bidangnya yang akan disajikan dalam proses perkaderan. Nara sumber harus memiliki
komitmen Islam yang jelas, menguasai materi, berpengalaman dan sesuai dengan
orientasi perkaderan.
 Panitia Pelaksana
Adalah tim petugas yang bersifat teknis yang bertugas menjadi penanggungjawab
pelaksana perkaderan sesuai kepentingan teknis, panitia pelaksana dibentuk oleh
penanggung jawab kegiatan.
 Deskripsi Tugas-Tugas Instruktur Pelaksana LIK
1) Bertanggung jawab secara penuh terhadap standart kualitas pelaksanaan perkaderan
(LIK) dari awal sampai akhir
2) Melakukan orientasi awal, kontrol materi, evaluasi harian, evaluasi non materi, dan
evaluasi akhir
3) Membuat laporan terhadap pelaksanaan proses perkaderan (LIK)
 Tugas Khusus Instruktur Cabang
Dalam pelaksanaan Perkaderan LIK, Instruktur Cabang berperan mulai dari Pra
Pelaksanaan, Pelaksanaan, dan Pasca Pelaksanaan.
Pra Pelaksanaan

52
o Mendampingi Pimpinan Komisariat atau Instruktur Pelaksana LIK dalam
pembuatan konsep LIK yang merupakan terjemahan dari standarisasi perkaderan
yang disepakati dalam Lokakarya Perkaderan.
Pelaksanaan
o Melakukan kontrol muatan perkaderan agar tetap sesuai dengan standarisasi
perkaderan, kontrol muatan ini bisa dilaksanakan dengan ikut membantu dalam
pengelolaan LIK atau koordinasi secara masif dengan bidang kader atau instruktur
pelaksana LIK terkait dengan muatan perkaderan yang diberikan kepada peserta.
Semua tugas dalam pelaksanaan tersebut dapat dilaksanakan melewati koordinasi
yang dilakukan oleh bidang kader cabang dengan bidang kader komisariat.
Pasca Pelaksanaan
o Bersama Bidang Kader Cabang melakukan kontrol terhadap bidang kader dan
instruktur komisariat yang sudah terbentuk dalam melaksanakan tugas sebagai
pengelola perkaderan dan follow up perkaderan.

 Ketentuan Instruktur Pelaksana LIK


1. Master of Training dianjurkan dari Instruktur Cabang, namun keputusan tetap berada
di Pimpinan Komisariat selaku penanggung jawab dengan melihat situasi dan
kondisi organisasi.
2. Keanggotaan instruktur di serahkan kembali kepada Pimpinan Komisariat,
diprioritaskan pernah menjadi instruktur komisariat atau instruktur cabang.
3. Jika keanggotaan instruktur tidak mencukupi dapat ditambah dengan Instruktur
Cabang.
4. Pelaksanaan LIK didampingi oleh 2 orang Instruktur Cabang/Pimpinan Cabang
IMM Malang Raya.
 Evaluasi
Evaluasi ini merupakan penilaian keberhasilan terhadap jalannya perkaderan. Hal-hal yang
di evaluasi dalam pelaksanaan LIK meliputi : evaluasi peserta, evaluasi Instruktur
Pelaksana LIK, evaluasi Pemateri, evaluasi panitia dan evaluasi keseluruhan.
Evaluasi Peserta
Evaluasi yang dilakukan untuk mengetahui sejauhmana perkembangan peserta dalam
mengikuti proses perkaderan (LIK). Aspek-aspek yang dinilai yakni untuk Materi dan
non Materi.
Untuk materi :
a) Tingkat keseriusan
b) Daya tangkap
c) Wawasan
d) Partisipasi
e) Kehadiran

Untuk non Materi :

a) Ibadah
b) Kemandirian
c) Akhlak
Evaluasi Instruktur Pelaksana LIK
Merupakan evaluasi yang diperuntukkan untuk instruktur pelaksana LIK dalam
mengelola proses perkaderan. Aspek yang dievaluasi terhadap instruktur meliputi :
d. Kemampuan dalam mengendalikan forum

53
e. Kemampuan mengkoordinasikan semua perangkat yang terlibat dalam perkaderan
(LIK)
f. Pencapaian target harian LIK
Evaluasi Pemateri/Nara Sumber
Merupakan evaluasi yang dilakukan terhadap pemateri dalam memberikan materi
kepada peserta. Aspek-aspek yang dievaluasi terhadap pemateri meliputi :
d. Penguasaan Materi
e. Kesesuaian materi yang disampaikan dengan silabus atau uraian materi
f. Penguasaan forum
Evaluasi Panitia
Merupakan evaluasi yang diperuntukkan kepada panitia dalam menjalankan teknis
perkaderan. Aspek-aspek yang dievaluasi terhadap panitia meliputi :
b. Kerja kepanitiaan yang terbagi dalam sie.
Evaluasi Kesuluruhan
Merupakan evaluasi dari serangkaian prosesi kegiatan perkaderan (LIK). Evaluasi ini
meliputi :
d. Kesesuaian dengan rencana awal dengan realisasi di pelaksanaan
e. Hubungan antar perangkat dalam LIK.
f. Ketercapain taget LIK.
 Kepesertaan
Persyaratan peserta Darul Arqom Dasar adalah :
1) Sudah mengikuti DAD
2) Memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan oleh panitia penyelenggara, sesuai
kebutuhan
 Ketentuan Lain
1) Materi LIK yang sudah sepakati di Lokakarya Perkaderan sedapat mungkin untuk
dilaksanakan dikarenakan sudah menjadi standarisasi Perkaderan (LIK) IMM
Malang Raya
2) Pimpinan Komisariat harus melaporkan rencana penyelenggaraan LIK selambat-
lambatnya 1 bulan sebelum pelaksanaan LIK
3) Pimpinan Komisariat harus melaporkan hasil penyelenggaraan LIK paling lambat 2
minggu setelah penyelenggaraan kepada Pimpinan Cabang.

54
PENUTUP

Desain Perkaderan ini dibuat dan sudah disepakati dalam forum Lokakarya Perkaderan
IMM Malang Raya sebagai upaya untuk memperbaiki perkaderan IMM Malang Raya yang
sejauh ini masih mengalami ketimpangan kualitas dalam hal melakukan proses kaderisasi.
Desain Perkaderan ini sebagai bentuk penyatuan frame terkait perkaderan IMM Malang Raya.
Desain Perkaderan ini akan menjadi panduan khusus yang diturunkan dari SPI agar kaderisasi
yang di jalankan 21 komisariat yang ada di Malang Raya bisa sejalan dan searah. Maka dari
itu dibutuhkan kolektivitas dari semua pihak untuk membangun kaderisasi yang ada di Malang
Raya. Sekian dari kami Pimpinan Cabang IMM Malang Raya semoga dengan adanya Desain
Perkaderan IMM Malang Raya ini kaderisasi yang dilakukan akan jauh lebih Progressif lagi.

55
56
PENDAHULUAN
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan organisasi berada dibawah
naungan Muhammadiyah yang menggunakan strategi perkaderan untuk mencapai tujuannya
yakni mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam mencapai
tujuan Muhammadiyah. Dalam rangka mencapai tujuannya, IMM Malang Raya membuat
standarisasi materi-materi yang disepakati dalam Lokakarya Perkaderan IMM Malang Raya
untuk meminimalisir perbedaan materi-materi dalam melakukan Perkaderan Utama dan
Khusus. Materi-materi yang disusun ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Desain
Perkaderan IMM Malang Raya terutama dalam Bab Pedoman Pelaksanaan Darul Arqam Dasar
(DAD) dan Latihan Instruktur Komisariat (LIK).
Dalam materi-materi Perkaderan Utama (DAD) yang disusun ini, tetap mengacu pada
Sistem Perkaderan Ikatan dan melihat kondisi Realitas yang ada di IMM Malang Raya. Dalam
pelaksanaannya nanti komisariat-komisariat saat melakukan perkaderan utama (DAD)
haruslah mengacu pada materi-materi yang sudah di sepakati dalam lokakarya perkaderan ini
karena sudah menjadi Standarisasi Materi Perkaderan Utama (DAD), dan materi-materi yang
sudah disepakati ini bisa dikembangkan oleh komisariat-komisariat sesuai dengan kondisi dan
kebutuhan komisariat masing-masing.
Seperti yang kita ketahui bersama bahwannya IMM Malang Raya mempunyai kondisi
yang berbeda dalam melaksakan kaderisasi terutama dalam hal keinstrukturannya, seperti yang
sudah dijelaskan dalam Bab Perangkat Kaderisasi dalam Desain Perkaderan bahwasanya di
IMM Malang Raya ini mempunyai Instruktur Komisariat, seperti yang sudah dibahas saat
Lokakarya Perkaderan bahwasannya tugas Instruktur Komisariat adalah Pengelolaan
Perkaderan dan Follow up Perkaderan. Serta dalam menciptakan instruktur komisariat,
Komisariat-komisariat di berikan kewenangan untuk melaksanakan LIK.
Untuk mengatur agar komisariat-komisariat dalam melaksanakan LIK tetap sesuai
dengan tugas-tugas yang sudah disepakati dalam Lokakarya Perkaderan. Maka dari itu
diaturlah materi-materi Perkaderan Khusus (LIK) yang menjadi standarisasi. Dalam
pelaksanaannya nanti komisariat-komisariat saat melakukan Perkaderan Khusus (LIK)
haruslah mengacu pada materi-materi ini, dan materi-materi ini bisa dikembangkan oleh
komisariat-komisariat sesuai dengan kodisi dan kebutuhan komisariat masing-masing. Dalam
hand book materi-materi Perkaderan Khusus (LIK) yang disusun ini yang tidak dicantumkan
adalah materi Sistem Perkaderan Ikatan karena dalam materi ini sudah ada dalam buku SPI.
Materi-materi Perkaderan Utama (DAD) dan Perkaderan Khusus (LIK) disusun sebagai
salah satu upaya untuk meminimalisir perbedaan materi-materi dalam pelaksanaan DAD dan
LIK yang nantinya akan berkesinambungan dengan follow up yang dijalankan. Maka dari itu
dibutuhkan kolektivitas dari semua pihak untuk memperbaiki kaderisasi yang ada di IMM
Malang Raya.

57
MATERI-MATERI
DARUL ARQAM DASAR (DAD)

58
MATERI I KE-ISLAMAN

TAUHID

Tauhid secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan
huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja. Syaikh Muhammad bin
Shalih Al Utsaimin berkata: “Makna ini tidak tepat kecuali diikuti dengan penafian. Yaitu
menafikan segala sesuatu selain sesuatu yang kita jadikan satu saja, kemudian baru
menetapkannya”.

Pembagian Tauhid

Dari hasil pengkajian terhadap dalil-dalil tauhid yang dilakukan para ulama sejak dahulu
hingga sekarang, mereka menyimpulkan bahwa ada tauhid terbagi menjadi tiga[1]
Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Al Asma Was Shifat.Yang dimaksud
dengan Tauhid Rububiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya
bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb,
Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan
mereka. Tauhid Uluhiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam segala bentuk peribadahan baik
yang zhahir maupun batin. Sedangkan Tauhid Al Asma’ was Sifat adalah mentauhidkan
Allah Ta’ala dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang Ia tetapkan bagi
diri-Nya dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

PENGERTIAN SYAHADAT

Kalimat Syahadat yang pertama mengandung dua unsur penting, yaitu: pertama, membebaskan
diri dari segala sesembahan yang bathil, dan kedua, pernyataan setia kepada sesembahan yang
haq, yaitu Allah swt. Kalimat syahadat yang kedua bermakna penetapan bahwa Muhammad
saw adalah Nabi dan Rasul Allah swt.

MAKNA SYAHADATAIN

 Pengakuan ketauhidan.

Seorang muslim hanya mempercayai Allah sebagai satu-satunya Allah dan tiada tuhan yang
lain selain Allah. Allah adalah Tuhan dalam arti sesuatu yang menjadi motivasi atau menjadi
tujuan seseorang. Dengan mengikrarkan kalimat pertama, seorang muslim memantapkan diri
untuk menjadikan hanya Allah sebagai tujuan, motivasi, dan jalan hidup.

 Pengakuan kerasulan.

Dengan mengikrarkan kalimat ini seorang muslim memantapkan diri untuk meyakini ajaran
Allah yang disampaikan melalui seorang 'Rasul Allah,' Muhammad.

59
KONSEKUENSI SYAHADATAIN

Konsekuensi yang harus dipegag teguh oleh seseorang yang telah mengikrarkan dua kalimat
syahadat.

Pertama, harus Mengimani bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang berhak dan wajib
disembah. Allah swt berfirman:

َ ‫ِحُ َقَِ رإ َْ مَانْا َْ َقََِْ َق نْ مَاَس لَس رَْا‬


‫اَم‬ ‫َ رَاَس َا ر إَ رََََِ َا ر ََّ ا‬
َ ‫َِ هِ َق نْ اا‬ َ َّ‫ََ َاس م َ ر‬

Artinya: “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu (Muhammad),
melainkan kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain
Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25)

Kedua, harus meniadakan segala sesembahan selain Allah swt.

َ َْ ََ ِْ‫إا رش َ َسَِ رِْ م َ ر اش َاس َح نت َُ ََََّ اَ رَّ َََْ رإ اَ رَّ مَْن ا رل َت اأ‬
‫َ رإلُس‬

Artinya: “Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh
Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia.” (QS. Al-An’am:
151)

Ketiga, tidak mensejajarkan sesuatu pun dengan Allah swt.

َ‫لَ َن َلر ََاِْ ََِن َْ مَ را َُْْْ ََم َ رال ا رَّ َ رََ اتِم‬

Artinya: “Maka janganlah kalian mengadakan tandingan-tandingan untuk Allah, sedangkan


kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 22)

Keempat, meyakini bahwa Muhammad saw adalah Nabi dan Rasul Allah swt. sekaligus
penutup para Nabi dan Rasul tersebut.

َ ‫َِ َِ َِْن َْ ََََس َََّ ِْانََإَمإ َ ََ َأسمَ َِْنْا ََ اَ َمش‬


‫َ رَُه َْ ََإ ُتس َاس َأسمَ اا َك نت‬ ‫ً مَََس م َ َح ه َا ر ََّ َ س َِ اَ رَّ َََِ ََ ر ََّ ا‬

Artinya: “Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang diantara kamu, tetapi ia adalah utusan
Allah dan penutup para Nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab:
40).

60
‫َِ اِ َِْن َْ َقَِ رإ اَ رَّ َ َتإ ُس‬ ‫إا رش َُس مََُ َْس ِْان ا‬
‫سَّ َق َماُ ََّ ا‬

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Wahai Manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah
bagi kamu semua.” (QS. Al-A’raf: 158).

Kelima, harus mencintai Nabi Muhammad saw melebihi orang tua, anak dan seluruh manusia.
Rasulullah saw bersabda,

َْ ‫ََن ََّ َْ ُاَر َا ا م َ َح ا اأ رَّ َحلنل مَ اأِمَ مَ َح ن َقَِ رإ‬


َ ََ َْ ‫َُنل َِْنْا َََْ رإ‬ َ ََ ‫سَّ مَ ر َت َ إ َ َا ر ََْ َِ َ َو ََ َََِ َ َو ََ َْ ر مَاَ ه إَس َِ إَس َِ ِْان‬
َ ُ َ ‫ِْان‬

Artinya: “Dari Anas, ia berkata, “Nabi saw bersabda, “Tidak beriman salah seorang kamu,
sebelum aku (Muhammad) lebih dia cintai dari pada orang tua, anak-anak, dan manusia lain
keseluruhannya.”

Keenam, harus menjadikan Rasulullah saw sebagai contoh teladan dalam segala aspek
kehidupan, terutama aspek ibadah. Allah swt berfirman,

َ ‫َِ َِ َِْن َْ ماَ َرُِ ً َح‬


َْ‫ياَاً َِ َت ر َأسمَ َُ رت ا ِ َِْنَْ ََ رِْإَ رِ َُ رْي ََ َت ََلَأ ََت َِْن‬ ‫إتَِْهَ ر َأسمَ َِ اَ رَّ لَُ ََّ ا‬
ُ َ‫َأر‬

Artinya: “Sungguh telah ada pada diri Rasululah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari Kiamat dan yang banyak mengingat
Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).

ِْ َّ‫َنْاإا رش قَ رم اأ رال ا رَّ ا َكََِمَ َِْنَْ لَس ن ََ اِاَُ ُاكر ََ رَ اَ ا‬

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya
Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali Imran: 31).

Ada 6 poin sebagai konsekuensi dua kalimat syahadat bagi siapa saja yang telah
mengikrarkannya yaitu:

1. Mengimani bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang berhak dan wajib disembah.
2. Meniadakan segala sesembahan selain Allah swt.
3. Tidak mensejajarkan sesuatu pun dengan Allah swt.
4. Meyakini bahwa Muhammad saw adalah Nabi dan Rasul Allah swt. sekaligus penutup
para Nabi dan Rasul tersebut.
5. Mencintai Nabi Muhammad saw melebihi orang tua, anak dan seluruh manusia.
6. Menjadikan Rasulullah saw sebagai contoh teladan dalam segala aspek kehidupan,
terutama aspek ibadah

61
Demikianlah makna dan konsekuensi-konsekuensi dari dua kalimat syahadat bagi siapa saja
yang telah dengan sukarela mengikrarkannya dan meyakininya.

Referensi

[1]. Purnama, yulian. https://muslim.or.id/6615-makna-tauhid.html

[2]. Al Manar (site admin) (13 Desember 2012). "Syahadatain dan Revolusi Diri

[3]. Hadits riwayat Imam Ahmad dengan sanad yang shohih

[4]. Ustadz Sigit Pranowo (via Rukun Islam) (12 Juni 2014). "Apakah Syahadat Bisa Batal?

[5]. Shalla, Aulia Abdan Idza. http://putmppMuhammadiyah.org/makna-dan-konsekuensi-


dua-kalimat-syahadat-dalam-Islam-bagi-para-pemeluknya/#more-234

ISLAM SEBAGAI RAHMATAN LIL ‘ALAMIN

Islam merupakan agama yang diturunkan oleh Allah SWT sejak manusia pertama yaitu Nabi
Adam AS . Islam tidak langsung diturunkan secara utuh kepada umatnya, melainkan
diturunkan secara bertahap melalui wahyu-wahyu ataupun kitab-kitab Allah yang diberikan
kepada para nabi dan rosulnya hingga pada masa kerasulan Muhammad SAW.

Awal mula Rasulullah menyebarkan Islam tidaklah berjalan lancar, banyak halangan dan
rintangan yang beliau hadapi. Mulai dari cacian, hingga penentangan. Namun Rasulullah tidak
pernah menyerah dan tidak pernah putus asa. Di dalam sebuah hadist digambarkan bahwa
Islam datangnya dianggap asing dan akan kembali dianggap asing. Berbahagialah mereka yang
dianggap asing karena telah berada di jalan yang benar yaitu jalan Allah SWT.

Kata Islam berarti damai, selamat, penyerahan diri, tunduk, dan patuh. Islam adalah kata yang
berasal dari bahasa arab yaitu “sailama” yang dimasdarkan menjadi “Islaman” yang berarti
damai.

Islam disebut sebagai agama rahmatan lil alamin.

[Dan tiadalah mengutus kamu (ya Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi
semesta alam (rahmatan lil 'alamin) QS Al-Anbiya' ayat 107].

Rahmatan lil 'alamin adalah istilah qurani. Dan, istilah itu sudah terdapat dalam Alquran,
sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Anbiya' di atas.

Rahmatan lil 'alamin berarti ''kasih sayang bagi semesta alam". Karena itu, yang dimaksud
dengan Islam rahmatan lil 'alamin adalah Islam yang kehadirannya di tengah kehidupan

62
masyarakat mampu mewujudkan kedamaian dan kasih sayang bagi manusia maupun alam.
Pesan kerahmatan dalam Islam benar-benar tersebar dalam teks-teks Islam, baik Alquran
maupun hadist. Kata 'rahman' yang berarti kasih sayang, berikut derivasinya, disebut berulang-
ulang dalam jumlah yang begitu besar, lebih dari 90 ayat dalam Alquran. Bahkan, dua kata
rahman dan rahim yang diambil dari kata 'rahmat' dan selalu disebut-sebut kaum Muslim setiap
hari adalah nama-nama Allah SWT sendiri ( asmaul husna ). Nabi Muhammad SAW pernah
bersabda, "Sayangilah siapa saja yang ada di muka bumi niscaya Allah SWT
menyanyanginya."

Alquran memiliki posisi yang amat vital dan terhormat dalam masyarakat Muslim di seluruh
dunia. Di samping sebagai sumber hukum, pedoman moral, bimbingan ibadah, dan doktrin
keimanan, Alquran juga merupakan sumber peradaban yang bersifat historis dan universal.
Alquran, sumber Islam paling otoritatif, menyebutkan misi kerahmatan ini, wama ar salnaka
illa rahmantan lil'alamin (Aku tidak mengutus Muhammad, kecuali sebagai rahmat bagi alam
semesta). Ibnu Abbas, ahli tafsir awal, mengatakan bahwa kerahmatan Allah meliputi orang-
orang Mukmin dan orang kafir. Alquran juga menegaskan, rahmat Allah meliputi segala hal.
Karena itu, para ahli tafsir sepakat bahwa rahmat Allah mencakup orang-orang Mukmin dan
orang-orang kafir, orang baik ( al-birr ) dan yang jahat ( al-fajir ), serta semua makhluk Allah.
Apabila ajaran Islam dilaksanakan secara benar, rahman dan rahim Allah akan turun semua.
Dengan demikian, berlakulah sunatullah; baik muslim maupun nonmuslim, kalau melakukan
hal-hal yang diperlukan oleh kerahmanan, mereka akan mendapatkannya.

Atas prinsip persamaan itu, maka setiap orang mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Islam
tidak memberi hak-hak istimewa bagi seseorang atau golongan lainnya, baik dalam bidang
kerohanian, maupun dalam bidang politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan. Setiap orang
mempunyai hak yang sama dalam kehidupan masyarakat, dan masyarakat mempunyai
kewajiban bersama atas kesejahteraan tiap-tiap anggotanya. Islam menentang setiap bentuk
diskriminasi, baik diskriminasi secara keturunan, maupun karena warna kulit, kesukuan,
kebangsaan, kekayaan dan lain sebagainya.

Bahkan Nabi Muhammad bersabda “Tidak beriman seorang kamu sehingga kamu mencintai
saudaramu sebagaimana mencintai dirimu sendiri”. Dari sinilah konsep ajaran Islam dapat
diketahui dan dipelajari. Persaudaraan manusia semakin dikembangkan, karena sesama
manusia bukan hanya berasal dari satu bapak satu ibu (Adam dan Hawa) tetapi karena satu
sama lain saling membutuhkan, saling menghargai dan saling menghormati. Pada akhirnya
terciptalah kehidupan yang tenteram dan sejahtera. Itulah hakikat Islam sebagai agama
rahmatan lil’alamin. Wallahu a’lamu bis shawab.

63
Ukhuwah

Kata ukhuwah berarti persaudaraan, maksudnya adanya perasaan simpati dan empati antara
dua orang atau lebih. Masing-masing pihak memiliki perasaan yang sama baik dalam keadaan
suka maupun duka, bisa diartikan mereka ikut merasakan perasaan pihak lain. Dengan adanya
ukhuwah ini, timbullah timbal balik untuk saling membantu jika ada yang mengalami kesulitan
dan turut membagi kebahagiaan kepada orang lain jika mendapat kesenangan.

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Manusia yang baik
adalah manusia yang bisa menjalin dan mempererat persaudaraan antar sesama manusia.

Ada 3 macam persaudaraan (ukhuwah):

1. Ukhuwah Islamiyah, yang berarti persaudaraan yang tumbuh dan berkembang atas
dasar keagamaan (Islam) baik dalam skala lokal, nasional, maupun internasional,
selama aqidahnya sama (laa ilaaha illallah) maka itu adalah saudara kita dan harus
kita jalin dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana dijelaskan Allah SWT dalam
Alquran surat Al Hujurat ayat 10, yang artiya: “Sesungguhnya orang-orang yang
beriman itu adalah saudara, oleh karena itu pereratlah simpul persaudaraan
diantara kamu dan bertaqwalah kepada Allah SWT, mudah-mudahan kamu
mendapatkan rahmat”.

2. Ukhuwah wathaniyyah, yang berarti persaudaraan yang tumbuh dan berkembang


atas dasar kebangsaan, tanpa membedakan agama, suku, warna kulit, adat istiadat,
budaya, dan aspek-aspek kekhususan lainnya. Rasulullah pernah bersabda “hubbul
wathon minal iman” artinya: Cinta sesama saudara setanan air termasuk sebagian
dari iman.

3. Ukhuwah Basyariyyah/ Insaniyah, yang berarti persaudaraan yang tumbuh dan


berkembang atas dasar kemanusiaan, berlaku pada semua manusia secara
universal tanpa membedakan agama, suku, ras, dan aspek-aspek kekhususan
lainnya. Ukhuwah ini harus dilandasi bahwa semua manusia adalah sama, sama-
sama makhluk Allah yang tidak boleh dibeda-bedakan. Meskipun Allah
menunjukkan ajaran yang benar kepada umat manusia yaitu Islam, Allah
membebaskan manusia memilih jalannya sendiri berdasarkan atas pertimbangan
rasionya.

Ketiga macam ukhuwah tersebut harus diwujudkan secara seimbang menurut posisi masing-
masing. Satu dan lainnya tidak boleh dipertentangkan. Sebab hanya melalui 3 dimensi
ukhuwah itulah rahmatan lil alamin akan terealisasikan. Apabila ketiga ukhuwah terjadi secara

64
bersamaan, maka yang harus kita prioritaskan adalah ukhuwah Islamiyah, karena ukhuwah ini
menyangkut kehidupan dunia dan akherat.

Rasulullah SAW memberikan contoh hidup damai dan penuh toleransi dalam lingkungan yang
plural. Ketika di Madinah, beliau mendeklarasikan Piagam Madinah yang berisi jaminan hidup
bersama secara damai dengan umat beragama yang lain. Begitu juga ketika menaklukan
Makkah, beliau menjamin setiap orang,termasuk musuh yang ditaklukan agar tetap merasa
aman dan nyaman. Gerera-gereja dan sinagoge-sinagoge boleh menyelenggaran peribadatan
tanpa ketakukan.

Selama hampir 23 tahun perjuangan kenabiannya, Rasulullah SAW menggunakan pendekatan


dialog secara konsisten sehingga misi kerahmatan lintas suku,budaya dan agama dapat dicapai
dengan baik. Rasulullah meminta kepada para sahabat untuk tetap bersabar,tidak menggunakan
kekerasan dan paksaan,apalagi pembunuhan. Bahkan untuk menjaga keselamatan kaum
muslimin, beliau memutuskan untuk berhijrah ke Medinah.

Menurut Imam Hasan Al-Banna, Ukhuwah Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu
sama lain dengan ikatan aqidah.

Hakekat Ukhuwah Islamiyah:


1. Nikmat Allah
2. Perumpamaan tali tasbih
3. Merupakan arahan Rabbani
4. Merupakan cermin kekuatan iman

Perbedaan Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Jahiliyah adalah Ukhuwah Islamiyah bersifat
abadi dan universal karena berdasarkan aqidah dan syariat Islam. Sedangkan Ukhuwah
Jahiliyah bersifat temporer (terbatas pada waktu dan tempat), yaitu ikatan selain ikatan aqidah
(misal: ikatan keturunan [orang tua-anak], perkawinan, nasionalisme, kesukuan, kebangsaan,
dan kepentingan pribadi).

Hal-hal yang menguatkan Ukhuwah Islamiyah:


1. Memberitahukan kecintaan pada yang kita cintai
2. Memohon dido’akan bila berpisah
3. Menunjukkan kegembiraan & senyuman bila berjumpa
4. Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali non muhrim)
5. Mengucapkan selamat berkenaan dengan saat-saat keberhasilan
6. Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu
7. Sering bersilaturahmi (mengunjungi saudara)

65
8. Memperhatikan saudaranya & membantu keperluannya
9. Memenuhi hak ukhuwah saudaranya

Buah Ukhuwah Islamiyah:


1. Merasakan lezatnya iman
2. Mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat (termasuk dalam 7 golongan yang
dilindungi)
3. Mendapatkan tempat khusus di syurga

Urgensi Ukhuwah

Di jaman modern seperti saat ini, ukhuwah menjadi hal yang urgen untuk dibangun demi
terciptanya masyarakat yang rukun dan damai. Urgensi ukhuwah antara lain:

a. Ukhuwah menjadi pilar kekuatan Islam.

Tegaknya dan terjalinnya ukhuwah menjadi syarat utama kekuatan Islam. Jika
umat Islam saling bermusuhan, maka Islam akan lemah dan tidak punya
kekuatan.

b. Bangunan ukhuwah yang solid akan mempermudah membangun masyarakat


madani.

Masyarakat madani merupakan masyarakat yang ideal dan memiliki


karasteristik.

c. Ukhuwah merupakan bagian terpenting dari iman.

Ukhuwah dan iman merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Ukhuwah tanpa iman bisa menjadikan manusia serakah yang hanya memikirkan
kepentingan pribadi atau kelompok kesukuan.

d. Ukhuwah merupakan benteng dalam menghadapi musuh-musuh Islam.

Orang-orang non muslim mempunyai misi yang sama yaitu menghancurkan


Islam (QS. Al Baqarah: 120). Kita sebagai masyarakat muslim harus bersatu
dengan barisan ukhuwah yang rapi dan kuat tanpa ada permusuhan. Apabila
kita sesama muslim bermusuhan, maka mereka semakin mudah untuk
menghancurkan Islam.

66
KONSEP DAN HAKIKAT IBADAH DALAM ISLAM

Pembagian Ibadah Ditinjau[1] dari segi ruang lingkupnya, ibadah dibagi menjadi dua bagian:

1. `Ibâdah khâshshah (ibadah khusus), yaitu ibadah yang ketentuannya telah ditetapkan oleh
nash, seperti: shalat, zakat, puasa, haji, dan semacamnya.

2. `Ibâdah `âmmah (ibadah umum), yaitu semua perbuatan baik yang dilakukan dengan niat
karena Allah SWT. semata, misalnya: berdakwah, melakukan amar ma`ruf nahi munkar di
berbagai bidang, menuntut ilmu, bekerja, rekreasi dan lain-lain yang semuanya itu diniatkan
semata-mata karena Allah SWT dan ingin mendekatkan diri kepada-Nya.

Prinsip Ibadah Supaya manusia bisa diterima amalan ibadahnya oleh Allah SWT dan selamat
ketika dipanggil kembali untuk bertemu dengan Allah, maka ada 6 prinsip ibadah yang dapat
dijadikan sebagai pedoman dalam beribadah. Dari keenam prinsip tersebut bisa diperas ke
dalam satu prinsip utama yaitu: Ibadah harus sesuai dengan tuntunan[1]. Allah SWT berfirman:
َ ُ‫“ لَ َت راََس َاإَ رت ا رِ َِهَس ََ ََّ مََ َْ ََ رَ َإ ر َت رَ َ َتن‬Barangsiapa yang mengharapkan pertemuan
ُْ ‫ُس َِ ُك َسََُْا رل َت رأََ َ ََسََُْ َََّمَ َْك َ َح‬
dengan Tuhannya, maka hendaklah mengerjakan amal shalih dan ia jangan mempersekutukan
seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.”(QS.Al-Kahfi/18: 110) Arti kata shâlih adalah
baik karena sesuai. Seseorang dikatakan beramal shaleh bila dalam beribadah kepada Allah
sesuai dengan cara yang disyari`atkan Allah melalui Nabi-Nya, bukan dengan cara yang dibuat
oleh manusia sendiri.

Syarat ibadah yang dikatakan sesuai dengan tuntunan Allah melalui Rasul-Nya adalah:

1. Dilakukan secara ikhlas.


Murni hanya menyembah kepada Allah semata (QS. Al-Fâtihah/1: 5; Al-Nisâ’/4: 36; al-
Bayyinah/98: 5; al-An’âm/6: 162) dan murni hanya karena mengharap ridla-Nya.
Keikhlasan harus ada dalam seluruh ibadah, karena keikhlasan inilah jiwa dari ibadah.
Tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin ada ibadah yang sesungguhnya. Beribadah secara
ikhlas didasarkan pada firman Allah SWT: ‫إِ َاكر إَسَُ َِ َا َتس َإ َََن َْ َت ََم رسِ َسَِ َت رإ َ إا‬ َ َ َ‫ِن‬
‫إِاا ا‬
َ ََ ‫ي‬ َ ‫“ ر‬Katakanlah,
َ ‫َان‬
sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Pemelihara
alam semesta.“ (QS. Al-An‘âm/6: 162) Bahkan, ibadah tanpa diserati dengan keikhlasan
maka tidak akan diterima oleh Allah SWT. Hal ini karena Nabi saw pernah menyatakan
bahwa setiap perbuatan itu tergantung pada niatnya (Muttafaq ‘alayh).
2. Tata caranya harus sesuai Tuntunan Allah dan Rasul-Nya
Dalam hal shalat, Nabi Muhammad saw. bersabda: ََُ َ ‫سَّم َ رُل ا اتِ َاإك ا‬
َ (‫ُ ََمُ )َََّْسَِمسَّا‬ َ ‫ِْ َأ َت‬
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Al-Bukhari, dari Malik
bin Al-Huwairits) Nabi Muhammad saw telah mengajarkan tentang tata cara shalat secara
lengkap melalui hadis-hadisnya yang maqbûl, dari sejak niat yang tidak dilafalkan,

67
bagaimana gerakan dan bacaan shalat sejak takbir hingga salam, berapa jumlah raka`at,
kapan saja waktu-waktu shalat, dan lain-lain.

Referensi
[1]. H. Syakir Jamaluddin, S.Ag., MA. (http://malang.Muhammadiyah.or.id/content-89-
sdet-falsafah-makna-dan-prinsip-ibadah.html)

68
MATERI II KeMuhammadiyahan

Setting Historis Munculnya Muhammadiyah

Sebenarnya, munculnya gerakan dakwah keagamaan ala Muhammadiyah di atas panggung


sejarah keagamaan Islam di Indonesia merupakan peristiwa sosial-budaya biasa. Yakni
peristiwa sosial-budaya bernapaskan keagamaan Islam yang merupakan eksperimen sejarah
yang cukup spektakuler, khususnya, untuk ukuran saat ini.

Tantangan zaman yang menghimpit ummat Islam saat berdirinya Muhammadiyah pada
1912 dapat disebutkan antara lain: umat Islam hampir di seluruh duni berada dibawah belenggu
cengkraman penjajahan, kebekuan pemikiran keagamaan, rendahnya mutu pendidikan,
terlebih-lebih lagi jika dibandingkan dengan dunia pendidikan umum yang diselenggarakan
oleh pemerintah Hindia Belanda dan yayasan-yayasan Katolik dan Protestan.hal ini tidak saja
yang menyangkut bidang pendidikan, tetapi juga dalam pelayanan sosial, seperti rumah sakit,
panti asuhan, rumah jompo, dan lain sebagainya. Belum lagi menyebut situasi umum umat
Islam yang sangat mudah dijumpai di sana-sini seperti kebodohan, keterbelakangan, dan
kemiskinan. Dalam situasi yang sangat menghimpit seperti itu, muncullah gagasan untuk
membentuk suatu “Persyarikatan” (Organisasi) keagamaan yang berupaya sebisa-bisanya
merespons tantangan zaman tersebut. Usaha umat Islam untuk merespons tantangan zaman dan
diwujudkan dalam bentuk pendirian sebuah organisasi di lingkungan Muhammadiyah lebih
dikenal dengan istilah Persyarikatan, adalah ciri khas model gerakan pembaruan keagamaan
di Indonesia. Untuk lingkungan Indonesia, gerakan sosial keagamaan dalam wujudnya yang
terorganisir, boleh dikata, Muhammadiyah merupakan pionir, di samping Sarekat Islam.

Pemilihan wadah perjuangan dan aktivitas keagamaan dalam bentuk organisasi sosial
keagamaan bukan organisasi sosial-politik merupakan pilihan jenius. Terlebih lagi, pilihan itu
bukan didasarkan pada hasil cermatan kajian literatur Islam klasik dan juga tidak memperoleh
inspirasi dari konsep-konsep teologis atau kalam klasik yang telah lama baku dan mapan dalam
literatur-literatur khazanah intelektual Islam lama. Entah disadari entah tidak oleh generasi
pertama para pendiri Muhammadiyah, bahwa wilayah kegiatan keagamaan yang mereka
masuki, dengan cara membentuk sebuah organisasi, dengan sederet program aksi dan sistem
pertanggungjawab pengurus dengan serius, sebenernya, adalah wilayah praksis sosial
keagamaan. Tidak terlalu jauh, barangkali, jika langkah Muhammadiyah tersebut lebih kena
jika disebut a faith in action. Dalam bahasa warga Muhammadiyah, wilayah praksis
keagamaan lebih dikenal dengan istilah da’wah bil hal (ajakan dan imbuan lewat amalan dan
tindakan konkret), bukan lagi da’wah bil lisan (ajakan atau imbuan lewat panggung atau
podium).

69
Gerakan keagamaan yang memasuki wilayah praksis sosial tentu tidak lagi berkutat dan
terjerat oleh persoalan ide-ide, konsep-konsep, dan gagasan-gagasan belaka. Corak gerkan
keagamaan Islam yang menonjolkan sifat praksis sosial ini akan tampak sosok penampilannya,
jika dibandingkan dengan corak pembaruan pemikiran Islam ditempat lain. Jamaluddin Al-
Afghani, misalnya, mengambil langkah pergerakannya dengan menyebarkan gagasan dan ide-
ide pan-Islam-isme. Dengan begitu dimensi konseptualnya jauh lebih tajam daripada dimensi
praksis-sosial. Muhammad Abduh lebih menonjolkan perlunya pembaruan dalam wilayah
pendidikan. Muhammad bin Abdul Wahhab, lebih sempit lagi, lantaran cuma terkait dengan
aspek akidah, dan kemudian menyatu juga dengan gerakan politik, dengan hal ini menyaatu
juga dengan ideologi kerajaan. Kemal Ataturk, jelas-jelas bercorak sangat politis lantaran ide
pembaruannya berujung pada pembaruan sistem kekhalifahan era kekaisaran Ottoman di
Istanbul menjadi Republik Turki Modern. Juga berbeda dari corak pemikiran pembaruan
keagamaan yang dikemukakan oleh A. Hasan maupun Ahmad Syurkati.

Entah karena belajar dari bangsa lain, entah karena faktor kebetulan, yang jelas bentuk
perjuangan sosial-keagamaan Muhammadiyah memiliki corak dan warna yang lain sama
sekali. Sejak awal mulanya, dengan sangat sadat, Muhammadiyah tidak melibatkan diri dalam
gerakan politik-praktis, meskipun orang-orangnya memahami persis liku-liku persoalan
politik. Dalam era penjajahan, barangkali tarikan-tarikan untuk mendirikan organisasi
keagamaan yang bernuansa politik-praktis, sebenarnya, sangat tepat momentumnya. Lebih-
lebih ika dimotivasi oleh doktrin-keagamaan Islam. Tetapi hal itu tidak dilakukan oleh
Muhammadiyah. Sampai setelah kemerdekaan pun, Muhammadiyah tetap istiqamah untuk
tidak mengubah jati dirinya menjadi organisasi politik Islam. Meskipun godaan ke arah itu
sangatlah bermacam-macam dan saling timbul tenggelam.

Ciri-ciri Perjuangan Muhammadiyah

Dengan melihat sejarah pertumbuhan dan perkembangan persyarikatan Muhammadiyah


sejak kelahirannya, memperhatikan faktor-faktor yang melatarbelakangi berdirinya,
aspirasi, motif, dan cita-citanya serta amal usaha dan gerakannya, nyata sekali bahwa
didalammya terdapat ciri-ciri khusus yang menjadi identitas dari hakikat atau jati diri
Persyarikatan Muhammadiyah. Secara jelas dapat diamati dengan mudah oleh siapapun
yang secara sepintas mau memperhatikan ciri-ciri perjuangan Muhammdiyah itu adalah
sebagai berikut:

1. Muhammadiyah adalah gerakan Islam


2. Muhammadiyah adalah gerakan dakwah Islam Amar Ma’ruf Nahi Munkar
3. Muhammadiyah adalah gerakan tajdid

70
A. Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam

Telah diuraikan dalam bab terdahulu bahwa Persyarikatan Muhammadiyah dibangun


oleh KH Ahmad Dahlan sebagi hasil kongkrit dari telaah dan pendalaman (tadabbur)
terhadap Alquranul Karim. Faktor inilah yang sebenarnya paling utama yang mendorong
berdirinya Muhammadiyah, sedang faktor-faktor lainnya dapat dikatakan sebagai faktor
penunjang atau faktor perangsang semata. Dengan ketelitiannya yang sangat memadai pada
setiap mengkaji ayat-ayat Alquran, khususnya ketika menelaah surat Ali Imran, ayat:104,
maka akhirnya dilahirkan amalan konkret, yaitu lahirnya Persyarikatan Muhammadiyah.
Kajian serupa ini telah dikembangkan sehingga dari hasil kajian ayat-ayat tersebut oleh
KHR Hadjid dinamakan “Ajaran KH Ahmad Dahlan dengan kelompok 17, kelompok ayat-
ayat Alquran”, yang didalammya tergambar secara jelas asal-usul ruh, jiwa, nafas,
semangat Muhammadiyah dalam pengabdiyannya kepada Allah SWT.

Dari latar belakang berdirinya Muhammadiyah seperti di atas jelaslah bahwa sesungguhnya
kelahiran Muhammadiyah itu tidak lain karena diilhami, dimotivasi, dan disemangati oleh
ajaran-ajaran Al-Qur’an karena itupula seluruh gerakannya tidak ada motif lain kecuali
semata-mata untuk merealisasikan prinsip-prinsip ajaran Islam. Segala yang dilakukan
Muhammadiyah, baik dalam bidang pendidikan dan pengajaran, kemasyarakatan,
kerumahtanggaan, perekonomian, dan sebagainya tidak dapat dilepaskan dari usaha untuk
mewujudkan dan melaksankan ajaran Islam. Tegasnya gerakan Muhammadiyah hendak
berusaha untuk menampilkan wajah Islam dalam wujud yang riil, kongkret, dan nyata, yang
dapat dihayati, dirasakan, dan dinikmati oleh umat sebagai rahmatan lil’alamin.

B. Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah Islam

Ciri kedua dari gerakan Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan dakwah Islamiyah. Ciri
yang kedua ini muncul sejak dari kelahirannya dan tetap melekat tidak terpisahkan dalam
jati diri Muahammadiyah. Sebagaimana telah diuraikan dalam bab terdahulu bahwa faktor
utama yang mendorong berdirinya Persyarikatan Muhammadiyah berasal dari pendalaman
KHA Dahlan terdapat ayat-ayat Alquran Alkarim, terutama sekali surat Ali Imran,
Ayat:104. Berdasarkan Surat Ali Imran, ayat : 104 inilah Muhammadiyah meletakkan
khittah atau strategi dasar perjuangannya, yaitu dakwah (menyeru, mengajak) Islam, Amar
Ma’ruf Nahi Munkar dengan masyarakat sebagai medan juangnya. Gerakan
Muhammadiyah berkiprah di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia dengan
membangun berbagai ragam amal usaha yang benar-benar dapat menyentuh hajat orang
banyak seperti berbagai ragam lembaga pendidikan sejak taman kanak-kanak hingga
perguruan tinggi, membangun sekian banyak rumah sakit, panti-panti asuhan dan

71
sebagainya. Semua amal usaha Muhammadiyah seperti itu tidak lain merupakan suatu
manifestasi dakwah Islamiyah. Semua amal usaha diadakan dengan niat dan tujuan tunggal,
yaitu untuk dijadikan sarana dan wahana dakwah Islamiyah.

C. Muhammadiyah sebagi Gerakan Tajdid

Ciri ke tiga yang melekat pada Persyarikatan Muhammadiyah adalah sebagai Gerakan
Tajdid atau Gerakan Reformasi. Muhammadiyah sejak semula menempatkan diri sebagai
salah satu organisasi yang berkhidmat menyebarluaskan ajaran Agama Islam sebagaimana
yang tercantum dalam Alquran dan Assunah, sekaligus memebersihkan berbagai amalan
umat yang terang-trangan menyimpang dari ajaran Islam, baik berupa khurafat, syirik,
maupun bid’ah lewat gerakan dakwah. Muhammadiyah sebagai salah satu mata rantai dari
gerakan tajdid yang diawali oleh ulama besar Ibnu Taimiyah sudah barang tentu ada
kesamaaan nafas, yaitu memerangi secara total berbagai penyimpangan ajaran Islam seperti
syirik, khurafat, bid’ah dan tajdid, sbab semua itu merupakan benalu yang dapat merusak
akidah dan ibadah seseorang.

Sifat Tajdid yang dikenakan pada gerakan Muhammadiyah sebenarnya tidak hanya
sebatas pengertian upaya memurnikan ajaran Islam dari berbagai kotoran yang menempel
pada tubuhnya, melainkan juga termasuk upaya Muhammadiyah melakukan berbagai
pembaharuan cara-cara pelaksanaan Islam dalam kehidupan bermasyarakat, semacam
memperbaharui cara penyelenggaraan pendidikan, cara penyantunan terhadap fakir miskin
dan anak yatim, cara pengelolaan zakat fitrah dan zakat harta benda, cara pengelolaan
rumah sakit, pelaksanaan sholat Id dan pelaksanaan kurba dan sebagainya.

Untuk membedakan antara keduanya maka tajdid dalam pengertian pemurnian dapat
disebut purifikasi (purification) dan tajdid dalam pembaharuan dapat disebut reformasi
(reformation). Dalam hubungan dengan salah satu ciri Muhammadiyah sebagai gerakan
tajdid, maka Muhammadiyah dapat dinyatakan sebagai Gerakan Purifikasi dan Gerakan
Reformasi.

Strategi Dakwah Muhammadiyah

Kata adagium berbahasa Arab, al-thariqah khairu min al-madah, bahwa cara itu lebih baik
daripada isi. Artinya banyak pesan, materi, dan apa yang dibawa dalam kegiatan dakwah atau
apapun meskipun baik tetapi karena cara menyampaikan, memberikan, dan melakukannya
kurang atau tidak baik, maka hasilnya akan buruk atau tidak baik. Sebaliknya, sesuatu yang
kurang bagus tetapi dikemas dan dibawakan dengan baik maka menghasilkan tanggapan dan
hasil yang justru baik. Di sinilah pentingnya cara, metode, atau strategi dalam dakwah
Muhammadiyah. Dakwah Muhammadiyah saat ini, baik dakwah bil-lisan (perkataan, tulisan,

72
media) maupun bil-hal (perbuatan, amaliah), sungguh memerlukan perbaikan atau pembaruan
strategi seiring dengan masalah, tantangan dan perkembangan sasaran dakwah yang dihadapi.

Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah selama satu abad lebih sungguh telah
melakukan berbagai upaya untuk menyebarluaskan dan mewujudkan ajaran Islam dengan
menggunakan berbagai pendekatan sesuai sasaran dakwah. Dakwah Muhammadiyah terhadap
orang atau kelompok yang telah beriman bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan
keIslaman, sedangkan terhadap mereka yang belum beriman bertujuan unutk mengajak
menjadi Muslim. Pendekatan dakwah yang dilakukan menggunakan cara secara hikmah (bil-
hikmah), edukasi (wa al-mauidhat al-hasanah), dan dialog (wa jadil-hum billaty hiya ahsan)
sebagaimana terkandung dalam al-Qur’an (QS. an-Nahl : 125).

Heterogenitas Masyarakat

Muhammadiyah memiliki kesadaran baru yang lebih kuat untuk berdakwah di kalangan
kelompok sosial menengah dan atas maupun kelompok marjinal sebagaimana diputuskan pada
Tanwir Bandung. Kedua kelompok sasaran dakwah tersebut ama pentingnya untuk didekati
dan menjadi bagian dari dakwah Muhammadiyah. Jadi, tidak benar kalau dikaakan
Muhammadiyah saat ini terlalu sibuk dengan isu dan dakwah bagi kaum dhu’afa-mustadl’afin
(lemah dan terlemahkan). Sebaliknya tidak benar juga anggapan yang menyatakan
Muhammadiyah terlalu elitis dalam gerakannnya, sebab apa yang dilakukan oleh almarhum Dr
(HC) Said Tuhuleley bersama Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) menunjukkan fakta
gerak ke bawah.

Dalam pemikiran dakwah untuk kaum elit dan marjinal yang dibahas dan diputuskan di
Tanwir Muhammadiyah Bandung tahun 2012 dinyatakan secara gamblang sebagai berikut.
Bahwa dalam kondisi sekarang, perlu ada perubahan strategi yang relevan dengan dinamika
masyarakat kontemporer yang terkait dengan status sosial-ekonomi yang selama ini belum
menjadi perhatian yang sungguh-sungguh. Perbedaan status sosial-ekonomi telah terbukti
menjadi faktor perbedaan pola hidup dan cara berfikir, dan dakwah akan menjadi efektif jika
mempertimbangkan faktor itu. Karena itu, Muhammadiyah perlu merumuskan langkah-
langkah strategis untuk menjadikan dakwah lebih efektif baik bagi kalangan kelas menengah
atau elit (malak) maupun kalangan bawah (dhu’afa dan mustadl’afin).

Nabi Muhammad selain memperhatikan kaum atas juga diperintahkan untuk menyantuni
kaum bawah sebagaimana peristiwa turunnya Surat Abasa dalam al-Qur’an, Nabi bersama para
sahabat dan kaum Muslimin menjadikan kaum dhu’afa sebagai bagian dari pembinaan umat
dan risalah dakwah Islam. Pembebasan para budak seperti Bilal dan kawan-kawan,
dihimpunnya mereka yang memerlukan santunan Nabi dan para dermawan di Dar Ash-Shufah,
mengangkat martabat kaum perempuan, dan berbagai usaha dakwah lain merupakan wujud

73
dari kehadiran Islam dan risalah Nabi akhir zaman sebagai pembawa misi pembebasan. Islam
yang bertumpu pada tauhid dijadikan sebagai agama yang berperan untuk menegakkan
keadilan dan membebaskan kaum lemah. Islam dan risalah Nabi yang demikian membawa misi
pencerahan (tanwir) yang bersifat membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan
ke arah yang lebih baik, unggul, dan utama dalam peradaban rahmatan lil-’alamin.

Muhammadiyah generasi awal yang dipimpin Kiai Haji Ahmad Dahlan telah memelopori
dakwah bagi komunitas kaum lemah (dhu’afa mustadl’afin). Gagasan awal untuk mendirikan
Muhammadiyah yang bersifat membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kaum dhu’afa
secara inspiratif lahir dalam surat al-Ma’un. Kisah pelajaran al-Ma’un oleh Kiai Dahlan kepada
para muridnya telah melegenda dalam sejarah Muhammadiyah. Fakta tersebut menunjukkan
Muhammadiyah peduli dengan dakwah komunitas menengah ke atas (malak), sebagai bagian
yang tidak terpisahkan dari gerakan dakwahnya untuk mencerahkan kehidupan yang dijiwai
dan disinari nilai-nilai ajaran Islam.

Pada Tanwir Bandung juga dibahas, bahwa di samping soal dakwah untuk kelompok
sosial atas dan bawah, sasaran dakwah (mad’u) juga dapat dibagi berdasarkan kategori jenis
kelamin, umur, pendidikan, dan lain sebagainya. Kategorisasi seperti itu diperlukan untuk
menentukan strategi dakwah yang tepat sesuai dengan problem yang dihadapi, gaya hidup
(lifestyle) dan cara berfikir (mode of thinking) masing-masing. Menyadari bahwa masyarakat
itu dapat dibagi dengan berbagai macam kategori, maka dalam agenda strategis ini difokuskan
pembahasan pada sasaran dakwah dalam dua golongan sosial masyarakat. Pertama adalah
masyarakat marjinal. Kedua adalah masyarakat menengah ke atas. Kedua kelompok ini
dipandang penting karena selama ini Muhammadiyah belum memberikan perhatian yang
cukup terfokus terhadap dakwah sesuai dengan status sosial-ekonomi itu.

Dakwah Muhammadiyah secara luas dan terpola belum masuk secara intensif ke dalam
kelompok marjinal, baik di perkotaan maupun pedesaan. Masyarakat yang terpinggirkan ini
lebih banyak diberikan advokasi oleh beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan
kelompok dakwah lainnya. Sementara itu, dakwah Muhammadiyah saat ini juga dipandang
belum masuk secara spesifik dan intensif ke dalam masyarakat menengah ke atas di kota-kota
besar, seperti di Jakarta dan kota-kota metropolitan lainnya. Dakwah di kalangan kelas
menengah ke atas kurang fokus dilaksanakan oleh Muhammadiyah. Harus diakui dakwah
Muhammadiyah kurang dirasakan di tempat-tempat dengan jamaah kelompok strategis, seperti
perkantoran lembaga-lembaga penyelenggara negara, perusahaan-perusahaan besar, hotel-
hotel berbintang, pusat-pusat perbelanjaan, perumahan mewah, dan tempat-tempat elit lainnya.
Dakwah di tempat-tempat di atas lebih banyak diisi oleh kelompok-kelompok dakwah baru
dengan nama dan kemasan baru. Karenanya menjadi penting pengembangan strategi dakwah
Muhammadiyah bagi kelompok masyarakat marjinal serta kelompok menengah atas.

74
Perubahan Strategi

Perkembangan lain menunjukkan, baik di kalangan bawah maupun menengah ke atas,


terdapat kecenderungan baru yaitu mekarnya berbagai kelompok sosial yang dikenal sebagai
komunitas khusus yang menggambarkan dinamika sosial baru di lingkungan perumahan-
perumahan tumbuh pesat di tanah air, yang semakin menambah segmentasi sosial dalam
masyarakat. Demikian pertumbuhan daerah desa-kota yang memperluas kawasan sosial
menjadi pedesaan (rural), perkotaan (urban), dan peralihan atau semi desa-kota (rurban)
dengan ciri-ciri sosial yang berbeda satu sama lain. Perkembangan mutakhir ialah lahirnya
komunitas dalam dunia sosial media yang sangat masif atau meluas jaringan dan strukturnya,
sehingga melahirkan kelompok komunitas baru dalam kehidupan masyarakat yang bersifat
kategorisasinya maya (cyber, virtual) tetapi nyata. Komunitas social media (medos) bahkan
memiliki pengaruh yang luas dan kuat dalam relasi sosial baru, yang daya jelajahnya masuk ke
ranah nasional dan global. Maka menjadi penting perubahan strategi dakwah Muhammadiyah
lima tahun ke depan.

Perubahan dan perkembangan masyarakat memerlukan perubahan dan perkembangan


model dakwah sesuai dengan prinsip dakwah ‘ala uqulihim, yakni berdakwah dengan
memahami dan menyesuaikan pada keadaan masyarakat yang didakwahi. Model strategi,
metode, media, isi, dan sasaran dakwah konvensional yang selama ini dilakukan oleh
Muhammadiyah tentu harus tetap berjalan karena dalam situasi tertentu dan bagi masyarakat
tertentu masih dipandang tetap relevan. Namun pada saat yang sama model dakwah yang non-
konvensional atau bersifat baru juga sangat diperlukan agar Muhammadiyah mampu memasuki
kawasan-kawasan komunitas baru sebagai ajang dakwah pencerahan yang strategis. Karena
itu, diperlukan penguatan dan penajaman strategi dakwah yang relevan untuk setiap segmen
sosial baik pada kalangan umat ijabah maupun umat dakwah, yakni melalui dakwah komunitas.

Dalam pengembangan dakwah komunitas atau jamaah (community based) penting untuk
dikembangkan pendekatan baru. Pendekatan dakwah kultural hasil Tanwir Denpasar (2002)
dan Makassar (2003) perlu menjadi rujukan para penggerak Muhammadiyah dari tingkat Pusat
hingga Ranting. Pendekatan dakwah kultural itu bukan membenarkan TBC seperti yang disalah
artikan oleh sebagian kalangan, tetapi untuk memperkaya cara dan proses dalam berdakwah
yang berusaha memahami alam pikiran masyarakat setempat (‘ala ‘uqulihim). Pemikiran dan
pendekatan dakwah kultural sejalan dengan prinsip “bil himah”, “wa al-mauidhat al-
hasanah”, “wa jadil-hum bi-laty hiya ahsan” (QS. an-Nahl: 125). Dalam buku Dakwah
Kultural (2004) yang ditanfidzkan PP Muhammadiyah disebutkan bahwa, Dakwah Kultural
ialah “Upaya menanamkan nilai-nilai Islam dalam seluruh dimensi kehidupan dengan
memerhatikan potensi dan kecenderungan manusia sebagai makhluk budaya secara luas,
dalam rangka mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”.

75
Secara sosiologis dalam mengembangkan dakwah kultural maupun dakwah komunitas
berbasis gerakan, meniscayakan pendekatan atau strategi Pengembangan Masyarakat
(Community Development) yang terpadu sebagaimana dipergunakan dalam Gerakan Jamaah
dan Dakwah Jamaah (GJDJ). Dalam pendekatan baru tersebut dua hal dijadikan pertimbangan
dalam membangun masyarakat berbasis komunitas, yaitu pertama kebutuhan manusia untuk
dapat hidup harmonis dengan sesamanya, yang kedua, manusia dapat hidup harmonis dengan
lingkungannya. Dalam konteks dakwah Islam, ditambah satu dimensi lagi yang sifatnya utama,
yaitu dimensi tauhid agar manusia menjalin habluminallah dengan sebaik-baiknya. Menurut
perspektif Islam, bahwa kehidupan manusia akan mengalami kehancuran atau kerusakan jika
kehilangan dua relasi yaitu habluminallah dan habluminannas (QS. ali-Imran: 112).
Karenanya penting dalam dakwah pengembangan masyarakat dibangun harmonisasi manusia
dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan alam sekitarnya, sehingga
terjadi keseimbangan yang holistik.

Dalam konteks makro pendekatan dakwah yang berfokus pada model dakwah komunitas
dengan pendekatan Community Development yang semakin dipertajam, bagi Muhammadiyah
merupakan pilihan strategis dalam mewujudkan pemikiran dan langkah gerakan pencerahan
yang dicanangkan untuk memasuki abad kedua. Muhammadiyah pada abad kedua
berkomitmen kuat untuk melakukan gerakan pencerahan. Gerakan pencerahan (tanwir)
merupakan praksis Islam yang berkemajuan untuk membebaskan, memberdayakan, dan
memajukan kehidupan. Muhammadiyah dalam melakukan gerakan pencerahan berikhtiar
mengembangkan strategi dari revitalisasi (penguatan kembali) ke transformasi (perubahan
dinamis) untuk melahirkan amal usaha dan aksi-aksi sosial kemasyarakatan yang memihak
kaum dhu’afa dan mustadh’afin serta memperkuat civil society (masyarakat madani) bagi
kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Dalam gerakan pencerahan, Muhammadiyah memaknai dan mengaktualisasikan jihad


sebagai ikhtiar mengerahkan segala kemampuan (badlul-juhdi) untuk mewujudkan kehidupan
seluruh umat manusia yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat. Jihad dalam
pandangan Muhammadiyah bukanlah perjuangan dengan kekerasan, konflik, dan permusuhan.
Umat Islam dalam berhadapan dengan berbagai permasalahan dan tantangan kehidupan yang
kompleks dituntut untuk melakukan perubahan strategi dari perjuangan melawan sesuatu (al-
jihadi li-al-muaradhah) kepada perjuangan menghadapi sesuatu (al-jihad li-al-muwajahah)
dalam wujud memberikan jawaban-jawaban alternatif yang terbaik untuk muweujudkan
kehidupan yang lebih utama. Disinilah pentingnya gerakan pencerahan diaktualisasikan dalm
model dan strategi baru dalam pelaksanaan dakwah Muhammadiyah memasuki abad kedua.

76
Referensi

o Intelektualisme Muhammadiyah Menyongsong Era Baru, Kuntowijoyo dkk, Miza

o http://www.Muhammadiyah.or.id/content-176-det-ciri-perjuangan.html

o http://sangpencerah.com/2015/08/pembaruan-strategi-dakwah-muhammadiya.html

77
MATERI III IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH

A. Pengantar

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan sebuah organisasi otonom


(ortom) Muhammadiyah yang semenjak kelahirannya sampai dengan hari ini terus berusaha
berbenah diri demi mewujudkan cita-cita besar yang di amanahkan oleh Persyarikatan
Muhammadiyah. Sehingga Dalam perjalanan kesejarahannya sampai dengan hari ini setiap
bentuk gerak yang dilakukan oleh IMM merupakan perwujudan dari cita-cita Muhammadiyah.

Semenjak awal kelahirannya IMM telah menancapkan tujuan organisasinya yaitu


sebagai upaya ”Mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam
rangka mencapai tujuan Muhammadiyah”, yang kemudian dari tujuan tersebut di jabarkan
dalam bentuk misi yang harus di emban oleh seluruh anggota organisasi IMM, misi yang harus
di emban tersebut terdapat dalam tiga ranah yaitu keagamaan, kemahasiswaan dan
kemasyarakatan. Namun sebelum lebih jauh kita membahas mengenai subtansi dari IMM itu
sendiri, ada baiknya kita terlebih dahulu menelisik sejarahan dari lahirnya organisasi IMM itu
sendiri.

B. Sejarah IMM

Sebelum menjabarkan subtansi yang ingin di sampaikan, dataam sesi ini penulis akan memulai
pembahasan dengan melempar sebuah opini terkait kelahiran organisasi IMM, antara lain
sebagai berikut :

“Bahwa kelahiran dari organisasi IMM ditentukan oleh faktor internal yang ada di
dalamnya, maka dalam hal ini kita semua tidak dapat memisahkan persyarikatan
Muhammadiyah sebagai induk dari IMM. atau dalam bahasa lain kelahiran IMM
searah dengan faktor mengapa persyarikatan Muhammadiyah di dirikan. Maka dari
itu segala bentuk upaya yang di lakukan oleh persyarikatan Muhammadiyah
(termasuk dengan mendirikan IMM) merupakan bentuk gerak demi mencapai cita-
cita persyarikatan Muhammadiyah itu sendiri”

Namun tidak adil rasanya jikalau penulis memaksa untuk memahami apa yang menjadi opini
pribadi. Maka dari itu akan di paparkan keadaan-keadaan yang mengharuskan didirikannya
organisasi IMM pada waktu itu, secara umum dapat digolongkan menjadi 3 hal, yaitu :

1. Keadaan kehidupan Muhammadiyah


2. Keadaan kehidupan umat dan bangsa.
3. Keadaan kehidupan kemahasiswaan.

78
Kemudian dalam bukunya, Kakanda Farid Fatoni menjabarkan keadaan tersebut menjadi 8
poin yang merupakan faktor-faktor yang mendesak kelahiran IMM pada saat itu, yaitu sebagai
berikut24 :

1. Situasi bangsa yang tidak adil , pemerintahan yang otoriter dan tunggal di
Indonesia.
2. Terpecahnya umat Islam dan bentuk saling curiga dan fitnah serta kondisi politik
umat Islam yang semakin buruk.
3. Terbingkainya kehidupan mahasiswa yang berorientasi pada kepentingan politik
praksis.
4. Masih membekasnya imbas dari Imperialisme yaitu kebodohan dan kemiskinan.
5. Merosotnya kehidupan beragama dan akidah ummat serta kehidupan materialistik-
individualis.
6. Sedikitnya pembinaan agama di lingkup kampus dan masih tingginya budaya
sekuler.
7. Masih maraknya praktik-praktik bid’ah, syirik dan misionaris Kristen.
8. Kehidupan ekonomi sosial dan politik semakin memburuk.

Beberapa faktor di atas menjadi semangat mengapa IMM harus lahir dan diadakan untuk
menjawab permasalahan yang ada. Meski pada mulanya mahasiswa anggota Muhammadiyah
cukup dimasukan dalam wadah Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul aisyiah , namun hal itu
dirasa kurang karena memang lahan garapan yang berbeda dan tidak langsung menyentuh
dalam area masyarakat mahasiswa secara umum. Sehingga pada muktamar ke 25 di jakarta
pada tahun 1936 yang diketuai KH. Hisyam (1934-1937) mulai muncul bibit untuk diadakanya
organisasi otonom dalam tataran masyarakat mahasiswa.Ide itu dimunculkan karena adanya
keinginan Muhammadiyah untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah.Maka pasca
muktamar ke-25 tersebut dikatakan adanya penghimpunan mahasiswa yang sehaluan dengan
arah dan tujuan Muhammadiyah.25 Adapun maksud dan tujuan berdirinya organisasi
kemahasiswaan yang searah dengan Muhammadiyah (nantinya disebut IMM ) adalah :26

1. Turut memelihara martabat dan membela kejayaan bangsa.


2. Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam.
3. Sebagai upaya menopang melangsungkan dan meneruskan cita-cita pendirian
Muhammadiyah.
4. Sebagai pelopor, pelangsung dan penyempurna amal usaha amal usaha
Muhammadiyah.

24
Farid Fathoni : Kelahiran Yang dipersoalkan, 1990: 102
25
NoorChozin Idgham : Trikopentesi dasar, Peneguhan Jati Diri Ikatan ,2007 : 3
26
Farid Fathoni : Kelahiran Yang dipersoalkan, 1990: 103

79
5. Membina, meningkatkan dan memadukan iman dan ilmu serta amal dalam kehidupan
bangsa umat dan persyarikatan.

Namun demikian upaya untuk menghimpun dan membina mahasiswa Muhammadiyah itu
vakum, dan tidak berjalan dengan lancar karena Muhammadiyah belum memiliki perguruan
tinggi Muhammadiyah.Sehingga para kader Muhammadiyah yang sekolah diperguruan tingi
negeri maupun swasta tetap diwadahi oleh ortom yang sudah ada yaitu Pemuda
Muhammadiyah (PM), Nasyiatul Aisyiah (NA) maupun hisbul wathan (HW). Kemudian pada
perkembanganya , para mahasiswa yang tergabung dalam ke-3 ortom tersebut merasa perlu
untuk berkumpul dengan kalangan mahasiswa tersendiri. Sehingga alternatif yang dijalankan
adalah bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sehingga sempat terdapat isu
yang bergulir bahwa HMI adalah anak dari Muhammadiyah yang membawa misi kusus dari
Muhammadiyah, karena pada waktu itu di tubuh HMI di pimpin dan banyak di isi oleh tokoh-
tokoh Muhammadiyah dan kader-kader Muhammadiyah.27

Serta kalau kita tilik sejarahnya,ada satu hubungan yang tidak kentara anta HMI dan
Muhammadiyah, hubungan dekat yang tak kentara ini selanjutnya sangat mempengaruhi
terhadap perjalanan IMM. Hubungan kedua organisasi ini bisa dilihat dalam perjalanan
organisasinya, misal sewaktu lafrane pane mau menjajaki pendirian HMI, dia bertukar pikiran
dengan prof. Abdul Kahar Mudzakir (tokoh Muhammadiyah pusat) dan beliau sangat setuju.
Pendiri HMI yang lain adalah maisarah hilal (cucu KHA. Dahlan) juga aktivis Nasyiatul
Aisyah, yusdi Ghozali, anton timur jaelani, dll. Bila praduga ini benar adanya maka benar
asumsinya “bila Muhammadiyah pada waktu itu tidak perlu menghimpun atau membina
langsung sebab sudah ada HMI, artinya pengkaderan itu bisa dititipkan HMI. 28

Namun seiring perkembangan zaman dengan adanya aliran-aliran isma seperti pemikiran
asy syari’at, syiah, muktazillah, nasionalisme, sekularisme, pluralisme yang mewarnai tubuh
HMI. Dan di dukung dengan kondisi terdesaknya HMI setelah adanya CGMI yang dianggap
underbow dari PKI untuk memaksa untuk HMI dibubarkan. Melihat fenomena tersebut maka
Pimpinan pusat Muhammadiyah membuat sebuah kebijakan untuk menarik semua kader-kader
Muhammadiyah dari HMI, dalam upaya menyelamatkan kader Muhammadiyah di tingkatan
sekolah menegah atas dan perguruan tinggi.29

Kelahiran IMM memang cukup panjang dan pada saatnya memang tidak dapat ditunda
lagi kelahirannya, setelah melihat beberapa faktor yang melingkupinnya.Muhammadiyah
mulai sadar, bahwa HMI yang semula wadah alternatif dari penitipan pembinaan kadernya
secara tidk langsung ternyata mempunyai arah tersendiri. Kesimpulannya bahwa proses

27
NoorChozin Idgham : Trikopentesi dasar, Peneguhan Jati Diri Ikatan ,2007 : 4
28
Farid Fathoni : Kelahiran yang dipersoalkan, 1990 : 94
29
NoorChozin Idgham : Trikopentesi dasar, Peneguhan Jati Diri Ikatan ,2007 : 5

80
kaderisasi ternyata tidak dapat dititipkan begitu saja kepada pihak lain. Bahwa bagaimana pun
proses kaderisasi pada akhirnya melahirkan satu proses kristalisasi pemikiran, sikap sebagai
akibat dari proses pengumulan ide dan perilaku.30

Sehingga pada 18 juli 1955 keinginan Muhammadiyah untuk membentuk perguruan


tinggi Muhammadiyah melalui struktur kepemimpinan membentuk departemen pelajar dan
mahasiswa yang menampung aspirasi aktif dari pelajar dan mahasiswa telah terwujud yaitu
dengan didirikanya PTM di Padang Panjang yang memiliki dua fakultas yaitu hukum dan
filsafat, namun karena pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia)
maka ke-dua fakultas tersebut vakum. Kemudian berdiri kembali PTM di jakarta yang
kemudian diganti nama menjadi IKIP. Diteruskan pada 1958 mulai dirintis fakultas serupa di
Surakarta, di Yogyakarta dan Jakarta berdiri juga fakultas ilmu sosial.Karena semenjak tahu
1958 perguruan tinggi Muhammadiyah mulai berkembang pesat maka ide-ide untuk
mengembangkan IMM semakin kuat pada tahun 1960 an.

Ketika Pemuda Muhammadiyah melakukan muktamar pertama di palembang pada


tahun 1956, PP Muhammadiyah memberikan amanah untuk membuat study group untuk
mahasiswa-mahasiswa dari Malang, Yogya, Surabaya, Padang, Ujung Pandang, dan Jakarta .
menjelang muktamar Muhammadiyah Muhammadiyah di Jakarta pada tahun 1962, sekaligus
diadakan kongres mahasiswa Muhammadiyah di yogyakarta pasca muktamar jakarta untuk
melepaskan departemen kemahasiswaan untuk berdiri sendiri. Pada tahun 15 desember 1963
Djzasman Al-kindi menggagas untuk adanya penjajakan kepada mahasiswa-mahasiswa yang
searah dengan muhamadiyah, hal itu dimulai dengan didirikanya dakwah mahasiswa yang
dikordinir oleh :

1. Ir. Margono
2. Dr. Sudibyo Markoes
3. Drs. Rosyad Saleh

Kemudian adanya desakan-desakan untuk membentuk organisasi Muhammadiyah


dalam tataran Mahasiswa di Jakarta, semakin memperkuat PP Muhammadiyah untuk segera
membentuk Organisasi ke-Muhammadiyahan yang berbasis pada mahasiswa. Setelah beberapa
desakan dari kalangan mahasiswa, maka dengan restu PP Muhammadiyah yang waktu itu
diketuai oleh H. A. Badawi, mengizinkan untuk didirikan organisasi Mahasiswa
Muhammadiyah yang diketuai oleh Drs. Moh. Dzazman Al-Kindi, dan beranggotakan M.
Husni Tamrin, Rosyad Shaleh, Sudibjo Markoes, Moh. Arief , dan lain-lain. Kemudian pada
tanggal 14 maret 1964 Dzazman Al-Kindi menetapkan nama untuk organisasi mahasiswa
Muhammadiyah dengan nama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Yogyakarta yang

30
Farid Fathoni : kelahiran yang dipersoalkan, 1990 : 105

81
diresmikan oleh PP Muhammadiyah yang diketuai H. A. Badawi dan disaksikan oleh badan
pembantu pemerintahan DIY yaitu H. Tanhawi.

Adapun peresmian tersebut ada dengan ditanda tanganinya 6 penegasan IMM oleh H. A.
Badawi, yang berisi :

1. Menegaskan bahwa IMM adalah gerakan Mahasiswa Islam.


2. Menegaskan bahwa kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM.
3. Menegaskan bahwa fungsi IMM adalah sebagai eksponen mahasiswa dalam
Muhammadiyah.
4. Menegaskan bahwa IMM adalah organisasi yang sah mengindahkan segala hukum,
undang-undang, peraturan, dan falsafah negara yang berlaku.
5. Menegaskan bahwa Ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah.
6. Menegaskan bahwa amal IMM dilahirkan dan di abdikan untuk kepentingan rakyat.

Kemudian pada tanggal 1-5 Mei 1965 dilakukan Muktamar pertama kali IMM di kota
Barat, Solo dan menghasilkan deklarasi Solo, yang berisi prinsip gerakan IMM sebagai
berikut :

1. IMM adalah gerakan Mahasiswa Islam.


2. Kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM.
3. Fungsi IMM adalah sebagai eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah.
4. Ilmu adalah amaliah IMM, dan amal adalah ilmiah IMM.
5. IMM adalah organisasi yang sah mengindahkan segala hukum, undang-undang,
peraturan, dan falsafah negara yang berlaku.
6. Amal IMM dilahirkan dan di abdikan untuk kepentingan agama, nusa dan bangsa.

C. Ide Dasar gerakan IMM

Layaknya seperti organisasi pergerakan lainnya, IMM merupakan sebuah wadah untuk
membangun kesadaran berpikir dan menumbuhkan idiealisme gerakan bagi seorang
mahasiswa. Walaupun dengan tafsir yang berbeda-beda, dan beragam dalam gerakan
praksisnya, namun disanalah keistimawaan dan keunikan yang di miliki oleh mahasiswa yang
aktif dalam wadah yang modelnya seperti organisasi IMM. Namun secara umum sebenarnya
tidak ada yang membedakan gerakan yang di lakukan oleh IMM dengan organisasi-organisasi
mahasiswa lainnya jika IMM tidak memiliki karakter kusus yang kemudian melekat dalam diri
tiap anggota organisasinya. Maka dari itu organisasi IMM memiliki karakter dalam geraknya,
yang kemudian tercermin pada kader-kader ikatan progresif. Karakter gerakan IMM tersebut
tertuang dalam ide dasar gerakan IMM yaitu Vision, Value, dan Courage, adapun tafsir dari
ke-tiga ide dasar gerakan IMM tersebut sebagai berikut :

82
Vision:

Membangun tradisi intelektual dan wacana pemikiran melalui intelectual


enligthement (pencerahan intelektual) dan intelectual enrichment (pengkayaan
intelektual). Hal ini menjadi sangat wajar dan sangat fundamental karena IMM
bergerak dalam ranah kemahasiswaan, dimana seorang mahasiswa bagian dari
masyarakat intelektual. Maka ikatan melakukan pembinaan untuk memunculkan
kantong-kantong intelektual muda yang progresif dengan kajian dan bacaan yang
beragam. Sehingga menjadi pertanyaan besar apabila seorang kader ikatan yang
menolak kadernya untuk berwacana, sejatinya sebuah gerakan berawal dari wacana
yang terus di gulirkan dan dibicarakan.

Masih sangat disayangkan kegiatan-kegiatan yang mendorong untuk


tercapainya ide dasar gerakan ikatan ini sekarang sangat jarang kita temui. Bahkan
pada tataran akar rumput (baca: komisariat) mereka sangat jarang menyadari hal ini.
Fakta dilapangan dapan kita lihat bagaimana kegiatan-kegiatan ikatan banyak yang
terjebak pada kegiatan pragmatis. Hal ini akan berakibat fatal bagi sebuah gerakan
mahasiswa karena sudah keluar dari visi besar sebuah ikatan. Membaca dan mengkaji
literatur ataupun fenomena yang terjadi dimasyarakat sudah jarang dilakukan padahal
ini sangat dibutuhkan untuk mempertajam pisau analisis seorang kader (mahasiswa).
Disini seharusnya ikatan dapat menjawab problem yang muncul dimasyarakat baik
dalam ranah pemahaman keagamaan maupun dalam ranah fiqih sosial. Maka
kehadiran organisasi akan dirasakan oleh masyarakat, dengan pembelaan kaum-kaum
tertindas.

Value:

Usaha untuk mempertajam hati nurani melalui penanaman nilai-nilai moral


agama sehingga pemikiran dan konseptual yang mendapatkan pembenaran dari Al
Qur’an. Kematangan intelektual memang sudah menjadi kebutuhan primer bagi
seorang mahasiswa (kader ikatan). Maka dengan memiliki banyak gagasan maka
analisis dan kepekaannya tidak akan mandul. Namun hal itu masih belum cukup untuk
menjadi seorang kader ikatan ada satu hal pokok yaitu hati nurani sebagai pondasi
dalam melakukan aksi intelektual dan pemikiran. Dimana nilai-nilai ketuhanan
terintergrasi dalam jiwa seorang kader dan dapat diejawantahkan dalam gerakan
praksis dilapangan.

IMM yang berideologi Islam tentunya segala gerakan harus disandarkan pada
dalil normatif teologis ini menjadi keunggulan kader ikatan, selain pembinaan wacana
intelektual dan pemikiran dibina juga untuk hubungannya dengan Tuhan

83
(transenden). Dengan bergerak dan berfikir untuk kemajuan Islam, walau kita sadari
bahwa tidak semua kader ikatan bisa seperti itu. Namun dengan cara-cara untuk
sampai kearah hal itu terus dilakukan. Agar kejumudan berfikir dikalangan kader
ikatan mulai terkikis dengan mendapatkan nutrisi informasi dan pengetahuan
keagamaan. Sehingga agama tidak hanya dipahami sebagai sebuah teori dan dalil
tetapi dapat dirasakan oleh semua umat manusia, oleh karena itu Islam bersifat
rahmatalil alamin.

Courage:
Keberanian dalam melakukan aktualisai program. Tidak jarang kita menemuai
sebuah organisasi yang memiliki begitu banyak program kerja untuk mewujudkan
visinya. Namun kadang tidak selalu dapat dilaksanakan dengan baik kadang hanya
beberapa persen saja yang dapat terlaksana dengan baik. Bahkan tidak jarang kita
temuai program kerja hanya menjadi hiasan lemari arsip. Tanpa tahu kapan akan
dilaksanakan. Disinilah butuh seorang pemikir yang bisa menginternalisasikan sebuah
program kerja menjadi wujud nyata. Jangan hanya merasa mapan dengan kedudukan
yang sedang diembannya namun harus juga ditunaikan tanggung jawabnya sebagai
seorang yang beriman yang memiliki kepercayaan akan adanya yaumul hisab.

Kader ikatan yang progresif akan melaksanakan program dengan sungguh-


sungguh karena bukan hanya sebuah kewajiban akan tetapi seubuah keharusan.
Manusia yang menjadi khalifah Allah di bumi harus menunaikan amanahnya sebagai
khalifah dan bentuk menunaikannya adalah dengan mengaktualisasikan pemahaman
keagaman kedalam aksi nyata. Sesuai dengan kemampuan dan kapasitas yang dimiliki
yang diwujudkan langsung, hal ini akan didapat dengan wacana yang berubah menjadi
gerakan nyata.

D. Tujuan IMM

“ Mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka


mencapai tujuan Muhammadiyah”

E. Identitas Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah


Dalam sejarah kelahirannya organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pun
merumuskan idientitas dari organisasi IMM yang kemudian seharusnya hal tersebut
seharusnya melekat dalam setiap perkembangan organisasi. Adapun idientias IMM
sebagai berikut :
 Ikatan mahasiswa Muhammadiyah adalah organisasi kader yang bergerak di bidang
keagamaan, kemasyarakatan, dan kemahasiswaan dalam rangka mencapai tujuan
Muhammadiyah.

84
 Sesuai dengan gerakan Muhammadiyah, maka Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
memantapkan gerakan dakwah ditengah-tengah masyarakat khususnya kalangan
mahasiswa.
 Setiap anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah harus mampu memadukan
kemampuan ilmiah dan akidahnya
 Oleh karena itu setiap anggota harus tertib dalam ibadah, tekun dalam studi dan
mengamalkan ilmunya untuk menyatalaksanakan ketakwaan dan pengabdiannya
kepada Allah SWT.
F. Trilogi IMM
- Keagamaan
- Kemahasiswaan
- Kemasyarakatan
G. Tri kompetensi dasar
- Religiusitas
- Intelektualitas
- Humanitas
H. Slogan IMM
“Anggun Dalam Moral, Unggul Dalam Intelektual, Billahi Fi Sabilillhaq, Fastabiqul
Khairat”
I. Nilai dasar Ikatan
- IMM adalah gerakan mahasiswa yang bergerak tiga bidang keagamaan,
kemahasiswaan, dan kemasyarakatan
- Segala bentuk gerakan IMM tetap berlandaskan pada agama Islam yang hanif dan
berkarakter rahmat bagi sekalian alam
- Segala bentuk keadilan, kesewenang-wenangan dan kemungkaran adalah lawan besar
gerakan IMM perlawanan terhadapnya adalah kewajiban kader IMM.
- Sebagai gerakan mahasiswa yang berlandaskan Islam dan berangkat individu-individu
mukmin, maka kesadaran melakukan syariat Islam adalah suatu kewajiban dan
sekaligus mempunyai tanggung jawab untuk mendakwahkan kebenaran di tengah
masyarakat.
- Kader IMM merupakan inti masyarakat utama yang selalu menyebarkan cita-cita
kemerdekaan, kemuliaan dan kemaslahatan masyarakat sesuai dengan semangat
pembebasan dan pencerahan yang dilakukan Nabiyullah Muhammad Saw.
J. Profil Kader Ikatan

- Memiliki keyakinan dan sikap keagamaan yang tinggi agar keberadaan di Ikatan di
masa yang akan datang mampu memberi warna masyarakat yang mulai meninggakan
nilai-nilai agamawi.

85
- Memiliki wawasan dan kecakapan memimpin karena keberadaan kader ikatan
bagaimanapun merupakan potensi kepemimpinan umat dan kepemimpinan.

- Memiliki kecendikiawanan, mengingat spesialisasi dan profesionalisasi


mempersempit cakrawala berpikir dalam sub bidang kehidupan yang sempit.

- Memiliki wawasan dan ketrampilan berkomunikasi, mengingat bahwa masa yang akan
datang industri informasi akan mendominasi sistem budaya kita. Hal ini juga inhern
dengan watak Islam yang dalam keadaan apapun juga selalu siap melaksanakan Amar
Ma’ruf Nahi Munkar sebagai essensi dari komunikasi Islamisasi.

86
MATERI IV ORGANISASI

Definisi Organisasi

Organisasi (Yunani: ὄργανον, organon - alat) adalah suatu kelompok orang dalam suatu
wadah untuk tujuan bersama. Organisasi secara etimologi atau arti bahasa di ambil dari kata
Organon yaitu alat music dan Organum yang pada pertengahan abad ke 14 yaitu suatu bagian
tubuh yang memiliki kemampuan atau fungsi tertentu, organon dapat juga berarti wadah atau
tempat, yang mendapat imbuhan –isasi yang berarti penerapan prinsipnya atau prosesinya.
Sehingga secara terminologi organisasi merupakan suatu wadah yang terdiri dari beberapa
orang yang memiliki tujuan bersama, yang menjadikannya sebagai alat untuk mencapai tujuan
bersama tersebut.

Unsur-unsur pembentuk organisasi

Secara hakikat organisasi merupakan kesatuan dari beberapa unsur pembentuknya yakni:

- baik unsur sumber daya manusianya atau anggotanya;


- sistem yang ada didalamnya termasuk struktur dan fungsinya;
- tujuan yang ingin dicapai;
- pemimpin atau pimpinan dalam organisasi;

Serta unsur-unsur lainnya yang dimana setiap unsur tersebut memiliki saling
keterhubungan yang erat, oleh karena itu dalam berorganisasi kita akan mengenal suatu
hubungan atau interaksi seperti halnya kita melakukan keterhubungan dan interaksi sosial
dalam bermasyarakat namun tentunya dalam lingkup yang lebih kecil. Maka dari itu organisasi
merupakan tempat belajar untuk mempersiapkan diri dalam berkehidupan dimasyarakat, atau
bisa dikatakan organisasi merupakan sekolah bagi rakyat.

Prinsip-prinsip pembangunan organisasi

Pertama, Dalam organisasi tidak bisa dipisahkan persoalan teori dan praktek. Ia
merupakan kesatuan yang utuh tak terpisah-pisah. Dalam segala pekerjaan organisasi, tiap-tiap
kader harus memahami prnjelasan teoritik dari pekerjaan tersebut dan memiliki pengalaman
berpraktek langsung atas pekerjaan tersebut. Pemahaman atas teori hanya dapat diukur dari
kecocokannya dalam menjalankan hal tersebut dalam berpraktek. Begitu pula sebaliknya, satu
praktek yang baik, pasti dibimbing dan atau menghasilkan teori yang tepat pula. Kesenjangan
antara salah satu hal dari kedua hal tersebut adanya akan menghasilkan intelektualisme di satu
sisi ataupun aktivisme maupun heroisme belaka disisi yang lain.

Kedua, Kader organisasi harus cakap dalam memberikan jalan keluar/solusi atas persoalan
yang terdapat dalam organisasi atau masalah yang berada ditengah-tengah masyarakat. Atau

87
dengan kata lain, kader organisasi harus cakap dalam menghadapi segala bentuk situasi apapun
dan mampu memberikan jalan keluar/solusi.

Ketiga, Dalam organisasi pimpinan atau pengorganisir harus memiliki hubungan erat
dengan kader. Ia tidak boleh ekslusif ataupun terisolasi dari kader, Ia harus mampu menyerap
sebanyak mungkin segala hal dari kader, mulai dari pendapat dan pandangan-pandangan kader,
informasi, dukungan sukarela (tenaga maupun logistik) dan sebagainya. Selanjutnya semua
yang didapat dari kader dianalisa dengan cara berfikir yang benar sehingga kemudian
menghasilkan satu rancangan solusi untuk tindakan bersama. Selanjutnya, rancangan solusi
didiskusikan lagi dengan kader sampai terwujudnya pemahaman dalam bertindak.

Keempat, Dalam setiap keputusan dan pekerjaan organisasi yang telah dijalankan haruslah
dlakukan proses evaluasi atau penilaian dan koreksi terhadap kekurangan, kesalahan-kesalahan
atau segi-segi negatif, maupun keberhasilan-keberhasilan, kemajuan atau segi-segi positif dari
keputusan yang telah diambil dan pekerjaan yang telah dilakukan. Penilaian atau penilaian ini
tidak boleh berat sebelah. Tidak tepat untuk membesar-besar keberhasilan maupun mebesar-
besar kesalahan. Begitu pula sebaliknya. Penilain atau evaluasi ini juga dapat dilakukan
menyangkut perilaku atau tindakan individu anggota organisasi yang dianggap butuh dinilai
kaitannya dengan keberadaan organisasi. evaluasi ini juga harus menjauhkan diri dari
prasangka-prasangka maupun praduga subjektif. evaluasi harus dijalankan secara reguler dan
terus menerus secara ketat untuk kemajuan organisasi.

Kelima, Dalam menjalankan aktivitas organisasi kita dituntut untuk bekerja bersama,
dalam artian kita harus saling membantu sesama anggota organisasi untuk dapat
menyelesaiakan pekerjaannya. Membantu disini mempunyai batasan yakni memahamkan serta
membimbing kawan kita untuk menyelesaikan pekerjaannya ketika belum paham. Jadi
membantu disini bukanlah mengambil alih tanggung jawab akan tetapi membantu dalam artian
mengarahkan dan memahamkan agar keja-kerja organisasi bisa lebih efektif.

Referensi:
- Buku hasil pembahasan forum bidang kader IMM UMM 2015-2016.

88
MATERI V PENGANTAR FILSAFAT

Manusia dengan potensi akal sehat dan kemampuan bernalarnya, cenderung terdorong
untuk mempertanyakan segala sesuatu. Baik yang tampak/ indrawi, maupun sesuatu yang
mungkin ada dibalik nyata. Kecenderungan untuk terus “mempertanyakan” tersebut adalah
konsekuensi logis dari kepemilikan manusia atas akal sehatnya yang merupakan sebuah
keniscayaan, manusiawi, anugerah atau bisa juga sebagai musibah. Potensi nalar atau akal sehat
merupakan hal yang paling merata dan alami di dunia, sebab setiap orang merasa cukup
memilikinya. Sebagai bukti, tidak ada orang yang sudi apabila dikatakan bahwa “Aku lebih
berakal sehat/ lebih bernalar daripada Kau”, hal tersebut menunjukkan bahwa kepemimilikan
manusia atas akal sehat/ nalar adalah setara dan terjadi secara alami. Dengan demikian,
keaneragaman pendapat muncul bukan karena orang yang satu lebih bernalar daripada yang
lain, melainkan semata – mata terjadi karena keberbedaan cara bernalar dan cara menimbang.
Rene Descartes (2015) mengatakan bahwa kelebihan atau kekurangan tentang ide dan tindakan
hanyalah menyangkut hal – hal sekunder, dan sama sekali tidak terletak dalam substansi, atau
kodrat individu – individu dari jenis yang sama.

Manusia terlahir memiliki dualitas dimensi, antara dimensi superioritas dan


inferioritas. Dimensi superioritas manusia merupakan bahan mentah yang tidak mungkin
didapatkan dengan sulap, melainkan harus dicapai dengan proses yang berat (memang betul,
manusia itu superioritas, tetapi apabila dibandingkan dengan binatang dan makhluk lain),
melalui potensi akalnya. Artinya, sesungguhnya ketika manusia dilahirkan ke dunia, ia adalah
“binatang” yang lemah dan inferior. Akan tetapi, manusia akan terus tumbuh untuk selalu
mencapai dimensi superior dengan kemampuan bernalarnya.

Begitu banyak rahasia dalam alam Tuhan ini. Manusia tidak tahu, tetapi ingin selalu
tahu. Langit lazuardi yang megah berwarna biru bagaikan selimut, bintang – bintang cakrawala,
matahari yang hangat menyengat, rembulan yang indah bagai puisi, angin sepoi sepoi yang
basah, hujan rintik yang memanenkan tanaman, tampak semua apabila kita menengadah ke
atas. Apabila kita tukikkan pandangan kebawah, tampak lautan yang luas, tanah yang subur,
ribuan tumbuhan yang sumilir, binatang – binatang buas, semut, kelinci, microorganism dan
margasatwa yang hidup diatas hamparan bumi. Lalu, terlihat pula bangsa manusia sendiri,
hidup berkelompok membangun masyarakat, seorang Ibu menyusui anaknya, seorang Bapak
payah mencari makan, maka lebih dekat tampak pulalah diri kita sendiri, dengan keajaiban dan
keunikannya.

Gelisah, heran, takjub dan terasa bahwa diri kita dipenuhi oleh tanda tanya, seribu
tanda tanya: Apakah itu?, dari manakah datangnya?, ke manakah sesudahnya? _ rahasia dan
penuh rahasia_ Bila sedang berpikir hendak menyelidiki, hendak tahu apakah rahasia itu,
kembalilah segala tanda tanya yang sulit tadi kepada yang bertanya: mengapa saya bertanya?,

89
untuk apa saya bertanya?, apa hakikat bertanya?, dan siapa saya?_rahasia_. Semua orang
berkeinginan untuk memecahkan semua rahasia – rahasia besar itu. Sebab itu, sesungguhnya
semua manusia hakikatnya adalah calon filosof yang gemar dan akan selalu berfilsafat.

Sejak zaman Yunani kira – kira 2.000 tahun yang lalu, manusia telah mengenal kata
filsafat, atau falsafah, falsafah atau philosofie. Kata – kata itu terdiri dari dua suku kata yang
dijadikan satu, yaitu philos dan sofos, philos artinya penggemar dan sofos artinya
kebijaksanaan, ilmu, dan hikmah. Sedangkan hikmah dalam bahasa Arab, boleh diartikan ke
dalam bahasa Indonesia sebagai rahasia (Hamka, 2015). Tanah Yunani adalah sumber pertama
daripada orang – orang yang memusatkan perhatian kepada rahasia – rahasia itu, meskipun
secara kronologis, tanah Mesir telah meninggalkan bengkalai – bengkalai soal – soal filsafat
yang belum tuntas. Di Miletos, tempat perantauan orang yunani, di sanalah awal mula
munculnya filsafat. Mula – mula jejak sejarah awal filsafat ini, ditandai dengan munculnya
tokoh – tokoh pemikir besar pada zamannya, seperti Thales, Anaximandros dan Anaximanes.
Thaleslah yang pertama kali mempersoalkan “substansi terdalam dari segala sesuatu”, dan
dari sanalah munculnya pengertian – pengertian tentang kebenaran yang hakiki.

Para filsuf kuno yang datang kemudian seperti Heraclitus, Permenides, Zeno,
Demokritus dan lainnya, asyik dalam perburuan yang tiada tepi itu. Kemudian sampailah pada
zaman Socrates, yang hidup sekitar abad ke 4 sebelum masehi, Sang tokoh abadi ini telah
mengubah jalannya sejarah filsafat. Dialh filsuf pertama yang membumikan filsafat dari
penjelajahannya di “awang – awang”.

“Kenalilah dirimu sendiri, siapakah kita ini, manusia makhluk kecil yang nampak
tiada berarti di tengah alam raya yang luas?”

Pertanyaan besar yang diajukan oleh Socrates ini menjadi padang perburuan baru
pemikiran kefilsafatan yang datang kemudian. Dilanjutkan oleh muridnya Plato, lalu
Aristoteles, dan akhirnya berkembang hingga cabang – cabangnya yang terkecil, sejak masa
filsafat yang pertama, masa pertengahan, hingga alam pikiran filsuf modern. Dari orientasi
pemikiran terhadap diri manusia inilah munculnya orientasi pemikiran terhadap segala alam
yang maujud, untuk diabdikan bagi pemenuhan kebutuhan manusia.

Tujuan dari filsafat adalah untuk membebaskan diri manusia terhadap segala bentuk
pengkerdilan dan perbudakan akali (Louis, 1992). Secara umum, tujuan filsafat adalah untuk
memenuhi kebutuhan manusia akan “jawaban” tentang segala yang ada dan ataupun segala
yang ada dibalik “ada”. Kemudian, fungsi filsafat bagi manusia secara lebih operasional adalah
sebagai berikut: (a) Filsafat membawa kita kepada pemahaman dan tindakan, (b) Filsafat
memberikan jawaban benar sebagaimana adanya benar, (c) filsafat mendorong manusia untuk
melakukan penilaian terhadap semua bentuk kenyataan, (d) filsafat mengumpulkan

90
pengetahuan manusia sebanyak mungkin, (e) Filsafat akan menemukan hakikat, (f) Filsafat
memberikan kerangka berfikir yang rigit.

Pada ahirnya, dalam penulisan pengantar filsafat ini, saya meyakini apa yang saya tulis
di lembar kertas ini tidak mampu secara mutlak mewakili apa yang ada didalam akal saya, dan
mungkin berbeda pula dengan apa yang ada dibenak anda. Namun harapannya, sebagai
pengantar, dengan penulisan ini, setidaknya mampu memberikan inspirasi untuk anda agar
selalu gemar menjelajahi ruang kefilsafatan dan sedikit penerang dari apapun yang membuat
anda buntu. Karena kebuntuan nalar, merupakan sesuatu yang menyedihkan.

SESUNGGUHNYA, perbudakan akali jauh lebih menyedihkan ketimbang


perbudakan ragawi. Apabila seseorang diperbudak secara ragawi, setidaknya tubuhnya akan
mendapat perawatan sedemikian rupa sehingga ia mampu bekerja. Tapi, apabila seseorang
diperbudak secara akali maka segala cara dan tindakan akan diperbuat untuk mengauskan akal
pikrannya, sehingga akal pikiran tersebut tidak dapat bekerja lagi dan teramat sulit untuk
disembuhkan.

Referensi

Kattsoff, Louis. 1992. Pengantar Filsafat. (Penerjemah Soejono Soemargono). Banten: Tiara
WacanaYogya

Descartes, Rene’.2015. Diskursus dan Metode: Mencari Kebenaran dalam Ilmu Pengetahuan.
(Penerjemah Ahmad Faridl). Yogyakarta: IRCISoD

Foucault, Michel. 2012. Arkeologi Pengetahuan. (Penerjemah Inyiak Ridwan). Yogyakarta:


IRCISod

Hamka. 2015. Falsafah hidup. Jakarta: Republika Penerbit

91
MATERI VI Gerakan Mahasiswa

Sejarah Gerakan Mahasiswa.

Sembari merefleksikan dan mengingat bagaimana proses sejarah perlawanan terhadap


kolonialisme dan kapitalisme yang terjadi dibangsa ini, penjajahan yang dilakukan oleh
kolonial Belanda selama kurang lebih tiga setengah abad lamanya rakyat Indonesia diekplotasi
dan menjadi budak di negeri sendiri. Akan tetapi dengan adanya kesadara dan penyadaran yang
diprakarsai oleh kaum intelektual yang mana itu lahir dari kaum pemuda terpelajar, dengan
melahirkan tokoh-tokoh revolusioner seperti Soekarno, Hatta, Tan Malaka,Sjahrir,
jend.Sudirman, Bung Tomo, Ahmad Dahlan, KH.Hasyim Asyari, Kie Hajar diwantoro dll.
Dengan lahirnya kaum terpelajar tersebut bangsa Indonesia mampu bersatu, yang mana
awalnya bangsa Indonesia masih tercerai berai dengan adanya gerakan sektarian (kedaerahan)
dan watak primordiaslisme yang masih menjadi virus yang ampuh untuk dimanfaatkan oleh
penjajah, kaum bujuasi atau tuan tanah dijadikan alat untuk penindasan dan penghisapan
terhadap rakyat nya sendiri, itu tidak lepas dari cengkraman kolonial untuk merubah mental
mental rakyat semakin tunduk melalui tawaran tawaran kesejahteraan terhadap bangsawan dan
tuan tanah yang masih banyak bercokol pada saat itu, akan tetapi dengan lahir nya kaum
terpelajar (intelektual organik) yang sadar dalam melakukan penyadaran terhadap rakyat,
dengan membentuk organisasi seperti Boedi Oetomo, kaum pelajar mampu meleburkan diri
menjadi satu kesatuan bersama garis massa rakyat utuk melawan penjajahan.

Peran-peran intelektual ini tidak bisa dikatakan sedikit dalam pergolakan kemerdekaan
BangsaIndonesia dari jajahan Belanda dan Jepang. Meski toh pada akhirnya mereka
dilengserkan, pemikiran-pemikirannya dicekal dan karyanya dilarang terbit, bahkan beberapa
dari mereka tidak diperkenalkan dalam kurikulum pendidikan dasar sebagai tokoh pejuang
sejarah kemerdekaan Indonesia.

Pelajar dilevel mahasiswa sebagai agent of change and agent of control harusnya
menjadi motor dari perubahan demi terwujudnya masyarakat sejahtera dan berkeadilan sosial.
Bukannya menjadi “anjing penjilat” dari kebijakan-kebijakan pemerintah demi keuntungan
minoritas belaka.

Tentunya pada pra kemerdekaan lahir tokoh-tokoh seperti yang sudah disebutkan
diatas,peran-peran intelektual ini tidak bisa dikatakan sedikit dalam pergolakan kemerdekaan
BangsaIndonesia dari jajahan Belanda dan Jepang. Meski toh pada akhirnya mereka
dilengserkan, pemikiran-pemikirannya dicekal dan karyanya dilarang terbit, bahkan beberapa
dari mereka tidak diperkenalkan dalam kurikulum pendidikan dasar sebagai tokoh pejuang
sejarah kemerdekaan Indonesia.

92
Dalam kamus ilmiah bahasa Indonesia kata maha berarti besar, paling, sangat
sedangkan siswa berarti pelajar dalam terminologinya mahasiswa biasa diartikan kaum
tepelajar atau kaum intelektual. Tulisan ini akan membagi fase-fase gerakan sang bintang
lapangan yang terekam jejak oleh bangsa ini.

Gerakan mahasiswa pra kemerdekaan.

Sejarah gerakan mahasiswa yang paling awal bisa dilihat ketika pemerintah Belanda
membuat kebijakan“politik etis”. Secara sederhana politik etis bisa kita maknai sebagai bentuk
balas budi atau lebih tepatnya ganti rugi atas penderitaan rakyat Indonesia selama masa
kolonialisme Belanda. Kebijakan ini juga bernuansa politis karena pemerintah Belanda juga
ingin menunjukkan pada dunia luar bahwa mereka memimpin dengan semangat humanisme.

20 Mei 1908 merupakan awal dari keseluruhan yang ada hingga dewasa ini, beberapa
orang mahasiswa kedokteran STOVIA, siswa Pertanian dan Kehewanan Bogor dan sekolah-
sekolah pribumi kemudian sepakat membentuk sebuah organisasi yang dinamakan Boedi
Oetomo.

Gerakan mahasiswa angkatan 45

Gerakan mahasiswa pada fase ini dilatar belakangi karena adanya tekanan atau
pemerintahan pendudukan Jepang atas Indonesia, yang mana pelarangan keras terhadap
aktivitas pemuda ditandai dengan pembubaran organisasi pemuda, pelajar dan mahasiswa,
partai politik dan banyak penutupan perguruan tinggi.31 Di fase paska kemerdekaan Indonsia
kiprah mahasiswa tidak begitu Nampak, lebih diwarnai oleh hingar binger pergerakan partai
politik, walaupun ada sebagian mahasiswa atau pemuda yang lebih menyibukkan gerakankan
nya dengan kegiatan pembetukan pers mahasiswa, dengan demikian gerakan mahasiswa dalam
bergerak melalui propaganda melalui tulisan tulisan yang disebarluaskan dengan tuntutan
tuntutan mereka mengenai kemerdekaan secara utuh.

Pada decade 1947-1950 pergerakan mahasiswa mulai gencar disuarakan ketika Belanda
kembali masuk ke Indonesia melalui agresinya sehingga ibu kota Indonesia pindah ke
Jogjakarta, perjuangan kembali meluas ke daerah daerah pinggiran, banyak pemuda pelajar
membentuk aliansi dalam menyatukan semangat perjuangan kemerdekan seperti dibentuknya
Persatuan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia,32ketika belanda kembali meninggalkan Negeri
ini pemerintah mulai membenah dalam penataan system pemerintahan yang ditinggalkan
Belanda, disini mahasiswa kembali dengan kondisi kebimbangan nya sehingga pemuda
kembali masuk dalam pemerintahan dan berafeliasi dengan partai politik dan pada masa
Demokrasi palementer praktis tidak gerakan mahasiswa dalam kancah politik yang kritis

31Rudianto Rudi, “Gerakan Mahasiswa” Golden Terayon Press, Jakarta 2010. Hal 41
32Rudianto Rudi, “Gerakan Mahasiswa” Golden Terayon Press, Jakarta 2010. Ibid Hal 42

93
terhadap pemrintah, ketika ada kegiatan gerakan mahasiswa yang mengkritisi pemerintah
Presiden Soekarno segera memanggil pimpinan mahasiswa yang disebut “Kelompok 10”untuk
melakukan dialog pada tanggal 18 januari 1950 di istana Negara Jakarta, gerakan mahasiswa
seperti menjadi satu visi dengan presiden Soekarno.

Dimasa 1955 kegiatan mahasiswa lebih mengembangkan tuntutan aspirasinya melalui


tulisan dengan membentuk komunitas pers mahasiswa yang mulai berkembang seperti di
Jakarta muncul pers Mahasiswa, Forum, Akademika, Vivat, Fidusia, Pemuda Masyarakat,
PTD-Cournier, Ut Ommes Umum SinT, Aesculapium (kedokteran) dll.33Dangan adanya pers
mahasiwa tersebut ada inisiatif tersendiri dari Majalah Gema untuk mengadakan konfrensi
prtama pers mashasiswa Indonesia (KPPI) yang dilangsungkan di Jogjakarta pada tanggal 8
agustus 1955. Kurun waktu dua tahun (19 juli 1958) pers mahasiswa mulai melakukan
konfrensi ke II, yang mana IWMI (Ikatan Wartawan Mahasiswa Indonesia) dan SPMI (Serikat
Pers Mahasiswa Indonesia) di lebur menjadi satu wadah yaitu IPMI (Ikatan Pers Mahasiswa
Indonesia) dan pada tahun 1957 konfrensi pers Mahasiswa tingkat Asia yang dilaksanakan di
Manila SPMI dan IWMI pernah mengirimkan delegasi nya pada konfrensi tersebut yang
dihadiri oleh 10 negara di Asia, yang mana dari hasil konfrensi itu menghasilkan rekomendasi
atas Negara negara berkembang dituntut untuk peran aktif nya melakukan pembangun bangsa
yang ber karakter (nation character building), dari pernyataan itu sering dilontarkan oleh
Presiden Soekarno dalam pidatonya.

Gerakan mahasiswa tahun 1966.

Gerakan mahasiswa padatahun 1966 yang dipelopori oleh mahasiswa sejatinya


ditunggangi oleh militer yang pada saat itu resah dengan presiden Soekarno yang semakin
dekat dengan PKI dan secara ideologis bersebrangan dengan kepentingan militer.Gerakan
mahasiswa ini oleh bung Karno telah ditunggangi oleh nekolim dan CIA. Dukungan tentara
pada aksi-aksi mahasiswa ini bukan secara ikhlas, melainkan mahasiswa hanya dijadikan
sebagai pion untuk melumpuhkan Soekarno. Kepentingan militer dalam gerakan mahasiswa
ini dengan terang-terangan diucapkan sendiri dalam percakapannya dengan Komandan
Kostrad Kemal Idris.34

Keberhasilan mereka dalam pelengseran Soekarno akhirnya membawa Indonesia pada


Rezim Orde Baru dibawah pimpinan Soeharto. Setelah kemenangan ini berbagai hadiah
diberikan pada aktivis mahasiswa tahun 66,menjelang turunnya Soekarno februari 1967
seluruh anggota parlemen dan partai yang berhubungan dengan PKI digantikan dengan 108
anggota baru, diantara 108 anggota baru itu 13 diantaranya diambil dari mahasiswa antara lain;
Fahmi Idris, Johny Simanjuntak, David Napitupulu, Mar’ie Muhammad, Liem Bian Koen,

33 Rudianto Rudi, “Gerakan Mahasiswa” Golden Terayon Press, Jakarta 2010. Hal 43
34Suharsih&Ign Mahendra K. Bergerak Bersama Rakyat. Resist Book.2007

94
Soegeng Sarjani, Nono Anwar Marakim, Yozar Anwar, Cosmas Batubara, dan Slamet
Sukirnanto.35

Gerakan mahasiswa tahun 1974.

Setelah G30S gerakan mahasiswa lebih menggunakan taktik gerakan moral, yang
artinya hanya tampil sebagai gerakan politik ketika kondisi sedang krisis dan gerakan ini tidak
membawa ideology alternative sebagai dasar perjuangan.Arief Budiman menyebut gerakan ini
dengan istilah Gerakan Koreksi. Gerakan ini dimotori oleh Arief Budiman, Victor D, Sjahrir
dan Julius Usman. Ditahun ini pula terjadi insiden 15januari atau yang lebih dikenal dengan
insiden Malari.Dalam peristiwa Malari ini ditandai dengan penolakan kedatangan Perdana
Menteri (PM) Jepang Kakuei Tanaka pada tanggal 14-17 Januari 1974) dimana pendemo
mengakibatkan proyek pasar senen terbakar ludes, tercatat 807 mobil dan 187 sepeda motor
buatan Jepang dibakar dimana mana, dan jatuh nya korban 11 oang meninggal, 300 orang luka
luka, 775 orang ditahan, 144 bangunan rumah rusak berat dan 160 kg emas dijarah dari toko
perhiasan.36

Gerakan mahasiswa tahun 1978 (GEMA 77/78).

Gerakan mahasiswa yang mengkristal sejak lahirnya Ikrar Mahasiswa Indonesia yang
di cetuskan di Bandung yang bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober
1977, di awala dengan di lontarkannya stetmen politik Dewan Mahasiswa ITB, yang mana
pada massa ini banyak aktivis mahasiswa yang ditangkap oleh Rezim penguasa dengan
tindakan represif dan para aktivis di tuding mengganggu keamanan dan tuduhan melakukan
tindakan Subversib dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara.

Banyak langkah langkah yang dilakukan oleh mahasiswa dalam melawan penguasa
orde baru seperti Grakan Anti Kebodohan yang dipelopori oleh Rizal Ramli dari DM ITB
,gerakan Ekstra parlementer merupakan bagian dari gerakan social, pergerakan massa dalam
jumlah besar untuk menekan DPR dan pemerintah yang bernuansa kekuatan oposisi bertolak
pada ketidakpercayaan terhadap DPR pemerintah penguasa. Dari buah hasil pemikiran Grakan
Ekstraparlmenter ini yang mampu menggerakkan gerakan mahasiswa atau menggerakkan
DM/SM se Indonesia untuk melakukan aksi ekstraparlementer, walaupun dipandang masih
tabu oleh penguasa atau pemerintah.

Ditahun inilah diberlakukan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan Badan


Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) serta diberlakukannya system kredit semester (SKS)
sehingga mahasiswa dipaksakan hanya untuk segera menyelesaikan studinya dengan indeks
prestasi(IP) yang tinggi sebagai upaya pemerintah untuk mengeliminasi mahasiswa dari

35Ibid.hal76
36Rudianto Rudi, “Gerakan Mahasiswa” Golden Terayon Press, Jakarta 2010. Hal 77

95
kegiatan politik. Kebijakan ini sangat ditentang oleh banyak Organisasi Mahasiswa, hubungan
kegiatan kemahasiswaan dengan pihak kampuspun hanya yang di perbolehkan dalam
menyelenggarakan kegiatan melalui mekanisme control pemerintah dan Dekanat dan Rektorat.
Apa yang disebut dengan Student Government sudah tidak ada lagi, semua berada dibawah
control rezim penguasa secara ketat.37

Tidak hanya itu, Pencekalan terhadap tokoh-tokoh seperti Pramoedya Ananta Toer, Ali
Sadikin, Arief Budiman, Emha Ainun Najib dll, dilakukan sebagai upaya pemerintah untuk
memerangi buah pemikiran mereka yang mengembang dikalangan mahasiswa.

Semakin terhimpitnya ruang bagi mahasiswa untuk mengekspresikan aspirasi mereka


inilah membuat para mahasiswa harus menemukan format baru dalam gerakannya. Ruang baru
tersebut dinamai Kelompok Studi (KS), yang berfungsi sebagai wadah untuk mengasah
kemampuan kritis mereka atas persoalan social dan politik.

Gerakan mahasiswa tahun 1998.

Diawalijatuhnya mata uang Thailand (Bath) dan kemudian menyapu seluruh Asia
Tenggara menuju Asia dan seluruh dunia. Ini terjadi karena over produksi kapitalis diseluruh
dunia sedangkan daya beli masyarakat rendah. Pada bulan Juli 1997 nilai tukar rupiah menurun
jadi 2.400, yang kemudian meruntuhkan ekonomi yang telah dibangun oleh “bapak
pembangunan” yang secara otomatis berimplikasi pada melonjaknya pengangguran, industry
bangkrut, perdagangan macet.

Akhirnya mahasiswa menemukan momentumnyaseiring dengan resesi ekonomi,


diawali dengan tuntutan penurunan harga-harga. Isu ekonomis ini berhasil dimajukan menjadi
isu politis dengan tuntutan turunkan Soeharto dan pencabutan dwi fungsi ABRI.Tuntutan dan
gerakan ini merebak diberbagai belahan tanah air dengan memajukan isu yang diusung yang
awalnya bersifat ekonomis menjadi politis. Sampai pada proses yang panjang dengan tahapan
yang tidak mudah dengan berbagai represi, intimidasi serta black propaganda akhirnya
gerakan mahasiswa disambut dengan massa rakyat melengserkan “bapak pembangunan” yang
telah berkuasa selama 32 tahun pada 21 mei 1998. Tentunya aksi massa ini terjadi tidak tanpa
pengorbanan,baik materi, waktu, tenaga dan bahkan banyak diantara para aktivis hilang sampai
sekarang tidak ditemukan.

37Rudianto Rudi, “Gerakan Mahasiswa” Golden Terayon Press, Jakarta 2010. Hal 116

96
Gerakan mahasiswa kini.

Empat belas tahun pasca reformasi Negri ini masih menderita wabah korupsi yang kian
hari kian marak diwartakan di media masa, semangat reformasi yang diusung dengan tumpahan
perjuangan kini terasa hambar.Dimana sang bintang lapangan yang menurunkan rezim orde
baru? Siapa jika bukan mahasiswa yang akan menyuarakan jeritan kesengsaraan rakyat?

Kini mahasiswa dengan segala kemudahan akses tekhnologi dan informasi semakin
tereduksi kedalam politik praktis, sibuk dengan kuliah dan pada akhirnya lupa akan fungsinya
sebagai intelektual. ini senada dengan yang disebut Eko Prasetyo dalam karyanya jadilah
intelektual progresif ;

Kaitan ilmuwan dengan massa ini menghancurkan mythos istana gading


yang disandang oleh para intelektual. Mereka yang begitu angkuh
menyatakan kalau apa yang diperolehnya merupakan hasil jerih payah
sendiri… intelektual semacam ini bukan lagi berkhianat pada amanat rakyat
tapi juga mengingkari proses kelahirannya.

Karena pendidikan pada masyarakat tertindas seperti sekarang ini,


disamping memiliki mandat untuk melahirkan kaum borjuasi, juga punya
tujuan perubahan social. Perubahan social ini memberikan amanat bagi para
terpelajarnya untuk selalu berkaca dan belajar bersama rakyat. Sebuah sikap
intelektual yang kian menjauh seiring diringkusnya pendidikan sekedar jadi
mesin pencipta budak-budak pasar.38

Menjawab Stagnasi Gerakan Mahasiswa.

Banyak orang menyatakan bahwa Gerakan Mahasiswa kini telah kehilangan taringnya,
mahasiswa kini telah kembalik ke barak sibuk dengan aktivitas akademisnya, bahkan yang
paling ekstrim anggapan bahwa gelombang aksi massa tak lagi menarik dan sia-sia.

Pandangan yang terlalu sempit dan bahkan kesalahan dalam memahami Gerakan
Mahasiswa ini akan membawa pada runtuhnya semangat untuk mengatakan tidak dalam
ketidak adilan. Bahkan bagi saya pernyataan-pernyataan diatas dilontarkan oleh orang-orang
yang sengaja ingin menggembosi Gerakan Mahasiswa, atau oleh mahasiswa berwatak culas
dan oportunis.

38Eko Prasetyo:2007 Jadilah Intelektual Progresif. Resist Book.Hal.25

97
Berbicara tentang gerakan mahasiswa di Indonesia, kita tidak bisa melepaskan aspek
sejarah Negara ini merdeka. Pada 20 mei 1908 lahirlah organisasi yang bernama Boedi Oetomo
yang dalam bahasa jawa berarti usaha bagus atau usaha mulia.39Ikrar sumpah pemuda tahun
1928 tak lepas dari peran para pemuda dan mahahsiswa, kemudian kita melihat aksi-aksi
mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan sebelum tahun 1940-an dan juga ketika revolusi
kemerdekaan 1945 dicetuskan. (ingat, Soekarno dan Hatta diculik oleh para pemuda ke rengas
dengklok).

Sekalipun dalam beberapa pandangan tidak ada sebuah perubahan yang dilakukan oleh
gerakan mahasiswa karena pada hakikatnya yang ada ialah gerakan massa rakyat. Tapi dalam
beberapa peristiwa bersejarah di Indonesia, gerakan mahahasiswa memicu lahirnya gerakan
massa rakyat untuk berjuang bersama merebut kemerdekaan dan menggulingkan rejim
berkuasa.

Jika kita hanya melihat dalam ruang lingkup yang sempit maka yang ada hanya
penggembosan pada gerakan mahasiswa itu sendiri. Jika kita lihat lagi gerakan mahasiswa 66
dan 98 mereka hanya hadir ketika kondisi dan situasi Negara dalam keadaan kritis, selebihnya
mereka kembali menuaikan tugas belajar. Tapi gelombang aksi yang demikian besar sehingga
mampu menurunkan rezim yang berkuasa tidak terjadi tanpa pengorganisiran serta strategi dan
taktik yang mereka usung. Pilihan tuntutan dan momentum dalam melakukan gelombang aksi
masa menentukan keberhasilan dari visi dan misi yang mereka usung.

Ikhwal stagnasi ini terjadi tidak lepas dari kesalahan mahasiswa dalam memandang
musuh bersama mereka. Jika musuh bersama hanya dimaknai sebuah rezim yang despotic saja
maka ketika rezim ini turun gerakan yang tadinya progresif akan menjadi pasif dan dekaden.

Perlu diingat, bahwa tidak ada kemerdekaan satu bangsa pun yang dilakukan tanpa
gelombang aksi massa, dan bahwa gelombang aksi masaa itu merupakan produk sejarah dari
masyarakat bukan saja gerakan artificial belaka.40

IDENTITAS SEORANG INTELEKTUAL.

“Gerakan intelektual untuk ilmu dan Gerakan intelektual untuk perubahan”, atau dalam
bahasa kita sehari-hari ilmu yang bersifat analitis dan ilmu yang bersifat praktis.

Dalam kaitannya dengan perubahan ilmu sosial dipakai sebagai sarana untuk
melakukan perubahan social yang tak terpisah dari realitas social disekelilingnya. Hal ini
serupa dalam tulisan pada buku tersebut yang menyatakan: intelektual dengan massa
menghancurkan mythos istana gading yang disandang oleh para intelektual. mereka yang

39Gamal Komandoko:2008 Boedi Oetomo.Med Press.Hal.15


40Rosa Luxemburg: 2000 Pemogokan Massa.Gelombang Pasang.Hal.23

98
begitu angkuh menyatakan kalau apa yang diperolehnya merupakan hasil jerih payah sendiri…
intelektual semacam ini bukan lagi berkhianat pada amanat rakyat tapi juga mengingkari proses
kelahirannya.41

Intelektual yang lupa diri hakikatnya telah membuang kesempatan yang diberikan
padanya oleh rakyat miskin. Karena posisi intelektual yang mampu mengenyam pendidikan
formal setinggi mungkin dan mendapatkan pengetahuan dan ilmu tanpa mengabdikannya pada
rakyat miskin. Sudah menjadi hal yang lumrah ketika intelektual akan lupa pada massa karena
system pendidikan yang ada hanya menghasilkan intelektual-intelektual borjuis, intelektual
cerdas tapi bermental budak.

Tentunya aforisme tersebut akan menimbulkan pro dan kontra dikalangan


pendukungnya masing-masing, karena determinisme diawal sudah terlihat dari pembagian
gerakan intelektual untuk ilmu atau gerakan intelektual untuk perubahan. Dalam pandangan
Gramsci, seorang marxis dari Italia merumuskan dua tipe intelektual dalam tataran teoritis yaitu
tipe intelektual organic dan intelektual tradisional. Intelektual organic adalah intelektual yang
telah sadar diri dan begabung dengan massa, sedangkan intelektual tradisional adalah
intelektual yang belum sadar akan fungsinya dan belum menggabungkan dirinya dengan
massa.

Intelektual organic adalah intelektual yang berasal dari klas tertentu bisa jadi berasal
dari klas borjuis dan memihak mereka, bisa juga dari klas buruh dan berpihak pada perjuangan
kaum buruh itu.42 Sedangkan intelektual tradisional dapat dikategorikan sebagai intelektual
otonom dan merdeka dari kelompok social dominan. Karena ketidak menentuan dari posisinya,
maka bagi Gramsci tugas seorang intelektual tradisional adalah segera memutuskan ketidak
menentuan sikap dan bergabung bersama-sama klas yang revolusioner. Intelektual harus secara
organis berhubungan dengan klas buruh, menjadi bagian dari organisasi yang memang
menyediakan kepemimpinan untuk klas tertindas itu.43 Atau dalam bahasa Syariati pertautan
intelektual dengan massa merupakan identitas sekaligus definisi yang tepat dalam kondisi saat
ini.44

Di era yang serba modern seperti dewasa ini tidak mengherankan jika kaum intelektual
terpaksa berdamai dengan situasi yang menuntut pemenuhan kebutuhan pokok mereka atau
dalam bahasa yang sedikit sarkasme, pelacuran yang dipelopori kaum intelektual pada masa
kapitalisme seperti dewasa ini menjadi hal yang tak terhindarkan. Disnilah terlihat bahwa

41
Eko Prasetyo: 2007. Jadilah Intelektual Progresif. Yogyakarta. Resist Book. Hal.25
42
Nezar Patria&Andi Arief: 2003. Gramsci. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. Hal.161
43
Ibid.hal.163
44
Op.Cit. Hal.9

99
produk-produk dari pendidikan klas borjuis yang hanya mampu meghasilkan orang-orang
pandai tapi tidak memiliki nyali untuk bertarung dengan keadaan.

Jika kita melihat jauh pada masa Sokrates hidup dimana industri-industri maju belum
berdiri dan feodalisme masih berkuasa, sudah terjadi penghianatan oleh kaum sophis yang
memperjual-belikan ilmu pengetahuan, serta menjadi pelayan para penguasa untuk
melanggengkan dominasi mereka. Socrates seperti kaum sophis pada umumnya mengarahkan
perhatiannya pada manusia sebagai objek pemikiran filsafatnya. Berbeda dengan kaum sophis
yang mengajarkan pengetahuannya dengan memungut bayaran, ia tak pernah memungut
sepeserpun dari murid-muridnya. Sayangnya Socrates harus mengakhiri kisah hidupnya secara
tragis dengan menenggak racun karena dianggap merusak moral, menyesatkan generasi muda
Athena dan menentang kepercayaan Negara.45

Banyak lagi sejarah para kaum intelektual yang akhir hayatnya berujung dengan
kematian tragis dan hilang tanpa jejak, sebut saja Rosa Luxemburg, Che Guevara, Trotsky, Tan
Malaka, Ali Syariati dll. Dari kisah-kisah kaum intelektual diatas dapat disimpulkan, bahwa
sejatinya tidak ada intelektual yang hidup dalam kenyamanan karena pada dasarnya intelektual
harus menyatu dengan massa rakyat serta memahami penderitaan yang mereka alami.

Seperti halnya Gramsci yang membagi dua tipologi intelektual, pada hakikatnya
seorang intelektual memang seharusnya mampu bahkan menjiwai dan merasakan secara actual
penderitaan yang dialami oleh rakyat. Tahapan perjuangan guna menyadarkan mayoritas kelas
tertindas ini bisa dilalui dalam beberapa aspek, yaitu, penyadaran, pendidikan, pengorganisiran,
mobilisasi serta aksi.

Kenapa intelektual hari ini lebih diasosiasikan pada mahasiswa?

Karena tidak semua orang memiliki kesempatan dalam melalui pendidikan formal yang
ada. Komersialisasi pendidikan lewat undang-undang BHP merupakan fase yang secara halus
memungkinkan tidak/belum disadari oleh kalangan mayoritas rakyat. Pada awalnya ketika UU
ini disyahkan merupakan bentuk jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, yang pada
akhirnya mayoritas rakyat yang tidak/belum sadar akan menghadapi realita dan mengeluh akan
mahalnya biaya pendidikan. Implikasi dalam hubungan social bahwa ini akan memunculkan
watak individual dalam manusia modern dan menjauhkan ilmu dari si miskin. Aksi-aksi yang
dilakukan mahasiswa terkait UU BHP dipropaganda oleh penguasa via media cetak maupun
elektronik dengan menampilkan gambaran-gambaran kerusuhan sehingga memaksa mayoritas
orang yang menonton acara tersebut menyimpulkan bahwa aksi mahasiswa cenderung bersifat
“anarkis” dan berujung pada sikap apatis atau lebih parah lagi sikap tidak simpatik terhadap
aksi-aksi mahasiswa.

45
Ali Maksum:2008. Pengantar Filsafat. Yogyakarta. AR-Ruzz Media. Hal.58

100
Bahkan lebih jauh lagi penguasaan terhadap kekuasaan Negara bisa jadi turun temurun
atau terwariskan seperti hal nya raja-raja di tanah Jawa dulu atau Di Eropa pada Abad
pertengahan. Hal ini tentu saja bisa terjadi karena nantinya masyarakat akan dengan secara
sukarela memberikan legitimasi kekuasaan negara terhadap orang-orang berpendidikan/intelek
atau dalam bahasa Plato Raja Filsuf.

Pemberian legitimasi ini hakikatnya tidak secara suka rela, why?

Karena masyarakat terpisahkan atau lebih tepatnya dipisahkan dengan ilmu dan
pengetahuan yang secara sistemik dilakukan oleh kelas minoritas dengan menaikkan biaya
pendidikan untuk mengenyam pendidikan formal, maka sudah lumrah jika nantinya
masyarakat akan terbodohkan dan tidak memiliki daya kritis terhadap kondisi social dan
politik. Keterbatasan ilmu yang dimiliki mayoritas rakyat ini kemudian membawa masyarakat
pada sikap pasrah pada realita politik, yang kemudian dengan mudahnya disisipi kepentingan
elit politik.

Dengan kondisi yang seperti ini bagaimana kita/kaum intelektual melepaskan


kungkungan dari kondisi yang ada?

Gramsci dalam tulisannya sudah merumuskan dua cara melawan control social yang
dilakukan oleh kelas minoritas/kelas penguasa. Pertama, dengan melakukan War of Posision
atau perang posisi, kedua War of manuver atau perang siasat. Pada situasi dewasa ini, Negara
melakukan penindasan tidak dengan cara-cara vulgar yang pada akhirnya memunculkan aksi
penolakan dari berbagai kalangan. Melainkan dengan cara-cara soft kolonialisasi atau dalam
istilah Gramscian disebut dengan Hegemoni, yang menutup kemungkinan disadari oleh banyak
kalangan dan efeknya tidak akan banyak menimbulkan gelombang aksi massa yang besar.

Dengan system pendidikan yang kian sulit dijangkau pada nilai ekonomis maka sudah
menjadi sebuah keniscayaan akan melahirkan intelektual-intelektual yang berhati baja dan
bermental budak. Intelektual semacam ini sudah dapat kita temui ketika kembali membaca
literature-literatur sejarah filsafat pada masa Yunani maupun pada masa revolusi Prancis. Kini
kita akan jumpai secara nyata pada realita kehidupan dewasa ini.

Dalam tulisan Gramsci pilihan keberpihakan kaum intelektual sejatinya hanya untuk
melakukan pembebasan dan berpihak pada kelas tertindas. Sekalipun Gramsci membagi tipe
intelektual organic dan intelektual tradisional pada hakikatnya terjelaskan secara eksplisit
bahwa intelektual tradisonal adalah “dapat dikategorikan sebagai intelektual otonom dan
merdeka dari kelompok social dominan. Karena ketidak menentuan dari posisinya, maka bagi
Gramsci tugas seorang intelektual tradisional adalah segera memutuskan ketidak menentuan
sikap dan bergabung bersama-sama klas yang revolusioner. Intelektual harus secara organis

101
berhubungan dengan klas buruh, menjadi bagian dari organisasi yang memang menyediakan
kepemimpinan untuk klas tertindas itu”.46

Tidak ada alasan bagi seorang intelektual untuk melakukan penghianatan terhadap
amanat yang telah diberikan rakyat dan yang telah disematkan oleh banyak kalangan sebagai
agent of change.

46
Nezar Patria&Andi Arief: 2003. Antonio Gramsci Negara & Hegemoni. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. Hal.163

102
MATERI VII GENDER

A. Pengantar
Kata gender sekarang sudah tidak asing lagi merasuk kedalam setiap diskusi dan
tulisan di Indonesia. Gender bila dalam bahasa Indonesia masih menemui
ketidakjelasannya dengan definisi sex. Untuk memahami konsep gender tersebut maka
pemahaman akan definisi dan perbedaan kedua konsep tersebut sangat diperlukan.
Sebelum memahami pengertian mengenai gender, perlu dipahami mengenai penciptaan
manusia dalam Al-Qur’an. Berikut adalah Surah An-Nisa yang didalamnya
mengandung mengenai pemaknaan penciptaan manusia.

“Wahai Manusia! Bertaqwalah kepada Tuhanmu, yang telah menciptakan


kamu dari diri yang sutu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa)
dari (diri) Nya; Dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan
perempuan yang banyak. Dan, bertaqwalah kepada Allah, yang dengan namaNya,
kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya,
Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”

Menurut Buya Hamka, ada dua penafsiran dari ayat tersebut. Tafsir pertama
menerangkan pada awalnya, Allah hanya menciptakan satu diri saja, yaitu Adam.
Kemudian dari diri yang satu itulah Allah menciptakan untuknya seorang istri, yaitu
Hawa. Dalam sebuah Hadist dari Ibnu Abbas diterangkan bahwa bagian diri Adam yang
dijadikan untuk tubuh istrinya ialah satu dari tulang rusuknya, namun, bahwa Nafsin
Wahidatin, bukanlah semata-mata tubuh yang kasar, melainkan diri. Diri manusia pada
hakikatnya adalah satu, kemudian dibagi dua menjadi bagian laki-laki dan bagian
perempuan. Dengan demikian meskipun dua coraknya berbeda hakikat jenisnya tetap
satu, yaitu manusia.

1. Pengertian Gender dan Sex


Banyak tokoh yang berpendapat mengenai pengertian gender. menurut
Mansour Fakih, gender di jelaskan sebagai suatu sifat yang melekat pada kaum
laki-laki maupun perempuan yang di kontruksi secara sosial maupun kultural,
sedangkan sex merupakan pensifatan atau pembagian manusia yang ditentukan
secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu dimana secara permanen
tidak bisa diubah atau sering dikatakan sebagai ketentuan Tuhan atau kodrat47.
Mufidah CH juga berpendapat mengenai pengertian gender, dimana gender
adalah pembedaan peran, fungsi, dan tanggung jawab perempuan dan laki-laki

47
Fakih, Mansour. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Februari 1999. hal: 8.

103
yang dihasilkan dari konstruksi sosial budaya dan dapat berubah sesuai dengan
perkembangan zaman atau dapat dipahami sebagai jenis kelamin sosial, sedangkan
sex diartikan sebagai perbedaan biologis laki-laki dan perempuan berikut fungsi
dan reproduksinnya48.

2. Perbedaan Gender dan Sex


Terdapat beberapa perbedaan antara gender dan sex, dimana Mufidah CH
membedakan gender dan sex dalam beberapa hal:
1) Gender lebih mengacu pada peran-peran yang dikontruksikan dan
dibebankan kepada perempuan dan laki-laki oleh masyarakat, sedangkan sex
mengacu pada fungsi reproduksi baik laki-laki maupun perempuan
2) Peran Gender yang berubah dari waktu ke waktu serta bervariasi di dalam
dan diantara berbagai budaya, sex bersifat permanen seperti jenis kelamin.
3) Identitas gender diperoleh secara sosial, sedangkan identitas sex ditentukan
oleh ciri-ciri genetika dan anatomi.
B. KONSTRUK SOSIAL GENDER
Perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses yang
sangat panjang. Oleh karena itu terbentuknya perbedaan gender dikarenakan oleh
banyak hal diantaranya dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan di konstruksi
secara sosial maupun kultural melalui ajaran keagamaan maupun negara. Hal ini
mempengaruhi konstruksi sosial gender, baik laki-laki maupun perempuan. Kaum laki-
laki harus bersifat kuat dan agresif maka kaum laki-laki termotivasi menuju sifat gender
yang ditentukan oleh masyarakat yaitu secara fisik lebih kuat dan lebih besar.
sebaliknya, kaum perempuan harus lemah lembut, maka sejak kecil proses sosialisasi
tersebut berpengaruh pada perkembangan emosi, fisik, dan biologis perempuan. Karena
melalui proses sosialisasi dan konstruksi yang panjang akhirnya menjadi sulit
dibedakan apa saja sifat-sifat gender itu.
Proses konstruksi sosial dalam masyarakat, disebabkan oleh beberapa faktor:
1) Budaya Patriarki, sistem yang bercirikan laki-laki dimana laki-laki lebih berkuasa
untuk menentukan, mengatur, dan mengambil keputusan.
2) Interpretasi bias gender teks agama, pemahaman parsial yang kurang
mencerminkan pesan-pesan agama yang menghargai perempuan atau penafsiran
terhadap teks yang kurang tepat sehingga menghasilkan pandangan keagamaan
yang diskriminatif.
3) Kebijakan Pemerintah, yakni berupa undang-undang maupun manajemen
pemerintahan yang tidak berbasiskan pengarusutamaan gender.

48
CH, Mufidah. Bingkai Sosial Gender Islam Strukturasi, dan Konstruksi Sosial. Malang: UIN Maliki Press. 2010.
hal: 5

104
C. KETIDAKADILAN GENDER
1. Porsi dan kedudukan laki-laki dan perempuan
Gender memandang porsi dan kedudukan yakni dalam artian tidak harus sama
dalam mencapai keadilan, masing-masing memiliki porsi yang sesuai. Dalam
konstruksi sosial gender (Gender Differences) tidak menjadi sebuah masalah
apabila tidak melahirkan ketidakadilan gender (Gender inequalities), tapi yang
terjadi perbedaan gender melahirkan ketidakadilan bagi kaum laki-laki dan
perempuan dikarenakan pembiasan pemahaman mengenai gender. Berikut adalah
permasalahan yang muncul:
1) Stereotip Gender, yaitu pelabelan terhadap jenis kelamin laki-laki atau
perempuan yang selalu berkonotasi negatif sehingga menimbulkan masalah.
2) Subordinasi, yaitu penempatan salah satu jenis kelamin baik perempuan
maupun laki-laki yang lebih unggul dari jenis kelamin lainnya dalam aspek
status, peran, dan relasi yang tidak setara. Stereotip gender dapat menghambat
akses partisipasi dan kontrol terutama dalam aspek peran pengambilan
keputusan dan pemanfaatan sumber daya.
3) Marginalisasi, yaitu proses peminggiran secara sistemik baik disengaja
maupun tidak, terhadap jenis kelamin tertentu.
4) Beban kerja berlipat, berupa pemaksaan dan pengabaian salah satu jenis
kelamin untuk menanggung beban aktivitas berlebih.
5) Kekerasan (violence) berbasis gender, yaitu kekerasan yang dilakukan oleh
jenis kelamin berbeda yang disebabkan pandangan bias gender yang
menempatkan salah satu jenis kelamin lebih superior dan yang lainnya bersifat
inferior.

2. Gender mainstreaming (Pengarusutamaan Gender)


Dalam mengaplikasikan pemikiran mengenai gender yang berkeadilan, maka
diperlukan peran perempuan maupun laki-laki yang paham akan ketidakadilan
tersebut dan mau merubah pola fikirnya serta kemudian secara perlahan dapat
mereduksi konstruk sosial yang ada. Sehingga dalam berprilaku sehari-hari dapat
diterapkan pola fikir berkeadilan gender.

Penerapan pola fikir yang berkeadilan gender dapat berupa peran aktif kedua jenis
kelamin baik perempuan maupun laki-laki dalam berbagai peran baik peran publik
maupun domestik. Pembagian ranah kerja yang sesuai dengan khittah nya ini
diperlukan agar tidak adanya diskriminasi salah satu jenis kelamin, seperti yang
telah dijelaskan dalam Surah An-Nisa ayat pertama tersebut diatas.

105
MATERI VIII RETORIKA

Sejarah Retorika

Sejarah retorika sudah ada sejak manusia lahir. Namun, sebagai seni yang dipelajari
mulai abad 5 sebelum Masehi (SM) ketika kaum sofis di Yunani mengembara dari satu tempat
ke tempat lain untuk mengajarkan pengetahuan tentang politik dan pemerintahan dengan
penekanan terutama pada kemampuan berpidato. Pemerintah perlu usaha membujuk rakyat
demi kemengangan dalam pemilihan. Berkembanglah seni pidato yang membenarkan
pemutarbalikan kenyataan demi tercapainya tujuan. Khalayak bisa tertarik dan terbujuk.
Retorika dipelajari, diawali, dan dilaksanakan di negara-negara yang menganut demokrasi
langsung, yakni Yunani dan Romawi.

Pada waktu itu, retorika memiliki beberapa fungsi49, yakni untuk mencapai
kebenaran/kemenangan bagi seseorang atau golongan dalam masyarakat; untuk meraih
kesuksesan, yakni mencapai kemenangan seseorang atau kelompok dengan pemeo ‘siapa yang
menang dialah yang berkuasa’; sebagai alat persuasi yang digunakan untuk mempengaruhi
manusia lain.50

Pengertian Retorika

Retorika berasal dari bahasa Inggris “rhetoric” dan bersumber dari perkataan Latin
“rhetorica” yang berarti ilmu bicara. Retorika sebagai suatu ilmu memiliki sifat-sifat rasional,
empiris, umum dan akumulatif51. Rasional, apa yang disampaikan olehh seorang pembicara
harus tersusun secara sistematis dan logis. Empiris berarti menyajikan fakta-fakta yang dapat
diverifikasi oleh panca indra. Umum artinya kebenaran yang disampaikan tidak bersifat rahasia
dan tidak dirahasiakan karena memiliki nilai sosial. Akumulatif merupakan perkembangan dari
ilmu yang sudah ada sebelumnya, yaitu penggunaan bahasa secara lisan maupun tulisan.

Retorika secara sistematis dan metodologis telah dipelajari, diteliti, dan dipraktikan
oleh Sokrates dan penerusnya. Ada juga yang memberi pengertian retorika sebagai seni
penggunaan bahasa yang efektif. Yang lain mengatakan retorika sebagai public speaking atau
berbicara di depan umum. Pengertian retorika secara sempit adalah hanya mengenai bicara,
sedang secara luas tentang penggunaan bahasa lisan dan tulisan. Menurut Sunarjo52, pengertian
retorika dapat dilihat dari tinjauan filosofis dan tinjauan ilmu komunikasi.

49
Sunarjo dalam Rajiyem, Jurnal Humaniora 2005;144
50
Untuk tahu lebih lanjut seputar tokoh-tokoh di bidang retorika, baca Jurnal Humaniora Volume 17, No. 2,
Juni 2005 halaman 144
51
Harsoyo dalam Rajiyem, Jurnal Humaniora 2005;142
52
Dalam jurnal Humaniora 2005; 142

106
Secara filosofis, retorika dapat dirunut dari nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Filsuf Aristoteles mempertegas bahwa emosi manusia bervariasi dan ini dapat dipergunakan
oleh seorang orator atau pembicara untuk mempengaruhi audiensnya. Aristoteles pun
memberikan pengertian bahwa retorika sebagai seni yang memiliki nilai-nilai tertentu. Nilai
itu adalah kebenaran dan keadilan yang mempunyai kekuasaan dan kekuatan dalam
masyarakat. Bagi Aristoteles, retorika memiliki beberapa fungsi, yaitu pengetahuan yang
mendalam tentang retorika dan latihan-latihan yang dilakukan bisa mencegah retorika
digunakan sebagai alat penipuan; retorika sangat berguna sebagai sarana untuk menyampaikan
instruksi; retorika sama halnya dengan dialektik yang dapat memaksa orang untuk berpikir dan
mengajukan pertanyaan.

Dalam ilmu komunikasi, retorika dan public speaking tidak terlalu dibedakan
pengertiannya. Beberapa pendapat dikemukakan sebagai berikut.

a. Public speaking atau retorika adalah sautu komunikasi tempat komunikator


berhadapan langsung dengan massa atau berhadapan dengan dengan komunikan atau
audiens. Public speaking atau retorika dibedakan dengan komunikasi massa. Alasannya
komunikasi massa adalah jenis komunikasi yang menggunakan media massa, sedang
public speaking atau retorika adalah komunikasi langsung dengan massa.
b. Public speaking atau retorika digolongkan pada komunikasi massa. Alasannya bahwa
public speaking atau retorika harus dibedakan dengan pidato-pidato lain. Public
speaking adalah bentuk komunikasi berupa pembicaraan yang diucapkan seseorang di
depan orang banyak/massa mengenai sesuatu masalah sosial. Public speaking atau
retorika mempunyai ciri-ciri khusus, yakni public speaking harus diucapkan di depan
orang banyak/massa; yang menjadi topik dalam pembicaraan adalah menyangkut orang
banyak, menyangkut masalah sosial. Public speaking atau retorika tidak mungkin
membicarakan masalah perorangan kecuali masalah tersebut menyangkut orang
banyak. Pada dasarnya, terdapat perbedaan antara pidato-pidato yang diucapkan di
depan kelompok kecil atau kelompok yang terbatas dengan public speaking atau
retorika. Pidato di di depan kelompok kecil/terbatas sudah mempunyai nama sendiri-
sendiri, misalnya ceramah, kuliah, breafing, dan sebagainya.
c. Tujuan public speaking atau retorika digunakan untuk menyadarkan dan
membangkitkan orang banyak atau mengenai masalah sosial sehingga tidak perlu
digunakan suatu uraian ilmiah rasional. Tujuan retorika terutama berusaha
mempengaruhi audiens atau komunikan. Yang perlu diperhatikan ialah retorika
merupakan teknik pemakaian bahasa secara efektif yang berarti keterampilan atau
kemahiran dalam memilih kata-kata yang dapat mempengaruhi komunikan sesuai
dengan kondisi dan situasi komunikan tersebut.

107
d. Retorika dan pidato dibedakan sebagai berikut. Pertama, retorika diidentikan dengan
public speaking, yakni salah satu bentuk komunikasi dengan audiens yang cukup
banyak, bahkan ada yang menggolongkan retorika sebagai komunikasi massa. Kedua,
pidato dapat terjadi dalam suatu grup communication (komunikasi kelompok keci
misalnya ceramah dalam kelas) atau large group communication (komunikasi
kelompok besar, misalnya pada waktu seseorang memberi informasi sebelum ada
pertunjukan sandiwara di alun-alun). Ketiga, retorika dan seni pidato tidak ada
perbedaan yang mendasar.

Pengertian retorika pun berkembang sesuai zamannya. Pengertian retorika dewasa ini
mencakup beberapa hal53, yaitu: prinsip-prinsip mengenai komposisi yang efektif dan
persuasif dan efektif serta keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang ahli pidato
(orator); prinsip-prinsip mengenai komposisi prosa pada umumnya (secara lisan atau
tertulis dan fiktif atau ilmiah); kumpulan ajaran teoritis mengenai seni komposisi verbal
(prosa atau puisi) beserta cara-cara yang dipergunakan dalam prosa atau puisi. Menurut
orator Richard Crable, retorika bisa dipandang sebagai suatu yang bombastis, suatu
konotasi ketidakjujuran, retorika dapat diperluas dalam ‘teks book’ mengenai penggunaan
bahasa dan komposisi, pengetahuan pemakaian bahasa untuk mempengaruhi orang lain.
Sementara Hendrikus memberi pengertian sebagai berikut:

a. Retorika sebagai kesenian untuk berbicara baik yang dipergunakan dalam proses
komunikasi antar manusia. Kesenian berbicara baik ini bukan berarti berbicara lancar
tanpa pikiran yang jelas dan berisi melainkan kemampuan untuk berbicara dan
berpidato secara singkat, jelas, padat, dan mengesankan.
b. Retorika modern adalah gabungan yang serasi antara pengetahuan, pikiran, kesenian,
dan kesanggupan berbicara. Retorika modern mencakup ingatan yang kuat, daya kreasi
dan fantasi yang tinggi, teknik pengungkapan yang tepat, dan daya pembuktian serta
penilaian yang tepat.
c. Dalam bahasa percakapan atau popular, retorika berarti pada tempat yang tepat, atas
cara yang lebih efektif, mengucapkan kata-kata yang tepat, benar, dan mengesankan.
Artinya, orang yang harus dapat berbicara jelas, singkat, dan efektif. Jelas supaya
mudah dimengerti, singkat untuk menghemat waktu, dan efektif memiliki pengaruh
atau efek pada khalayak.

Tahap Penyusunan Retorika

Aristoteles. Dia mengatakan bahwa retorika sebagai filsafat, sedang tikih yang lain
menekankan sebagai seni. Menurut Aristoteles, tujuan retorika adalah membuktikan maksud

53
Aly dalam Rajiyem, Jurnal Humaniora Hal 143

108
pembicaraan atau menampakan pembuktian. Ini terdapat pada logika. Keindahan bahasa hanya
digunakan untuk membenarkan, memerintah, mendorong, dan mempertahankan sesuatu.
Aristoteles merupakan murid plato yang paling cerdas. Pada usia 17 tahun, ia sudah mengajar
di Akademi yang didirkan Plato. Ia menulis tiga jilid buku berjudul De Arte Rhetorica, yang
diantaranya berisi lima tahap penyusunan suatu pidato. Tahapan itu dikenal dengan lima hukuk
retorika atau The five canons of rhetoric54 yang meliputi hal-hal sebagai berikut.

a. Inventio (penemuan)
Pada tahap ini pembicaraan menggali topik dan meneliti khalayak untuk mengetahui
metode persuasi yang paling tepat. Pembicaraan juga merumuskan tujuan dan
mengumpulkan bahan (argumen) yang sesuai dengan kebutuhan khalayak.
b. Dispositio (penyusunan)
Pada tahap ini pembicara menyusun pidato atau mengorganisasikan pesan. Pesan dibagi
ke dalam beberapa bagian yang berkaitan secara logis. Susunan tersebut mengikuti
kebiasaan berpikir manusia yang terdiri dari: pengantar, pernyataan, argumen, dan
epilog. Bagi Aristoteles, pengantar berfungsi menarik perhatian, menumbuhkan
kredibilitas dan menjelaskan tujuan.
c. Memoria (memori)
Pada tahap ini, pembicara harus mengingat apa yang ingin disampaikannya dengan
mengatur bahan-bahan pembicaraannya.
d. Pronuntatio (Penyampaian)
Pada tahap ini, pembicara menyampaiakan pesannya secara lisan. Pembicara harus
memperhatikan olah suara dan gerakan anggota badan.

54
Rakhmat dalam Rajiyem, Jurnal Humaniora halaman 145

109
MATERI IX
MANAJEMEN AKSI

I. Tentang Manajemen Aksi


 Manajemen
Secara umum Manajemen memiliki pengertian pengelola potensi atau isi di
dalam sebuah wadah atau komunitas.
 Aksi
Aksi berasal dari kata “Action” yang bermakna “Gerak”, Gerakan adalah
berpindahnya energi, volume, tempat dan waktu dari kondisi semula menuju
kondisi kemudian. Aksi di dalam dunia organisasi pergerakan dapat
diterjemahkan sebagai segala pikiran dan perbuatan/tindakan yang
mengarah pada capaian-capaian terhadap tujuan perjuangan itu sendiri.
 Sehingga dapat disimpulkan bahwa manajemen aksi merupakan suatu cara yang
digunakan untuk mengatur suatu massa aksi agar tetap terkoordinir dan sesuai
dengan rencana dan target awal hingga mencapai hasil yang diinginkan.

II. Tujuan Manajemen Aksi


 Agar tujuan dari aksi yang dilakukan dapat tersampaikan ke publik
 Agar aksi yang dilakukan lebih terorganisir dan terkomando dalam satu
kesatuan massa aksi

III. Landasan Hukum Aksi


 Indonesia sebagai sebuah negara hukum telah mengatur adanya jaminan
terhadap kebebasan untuk berserikat dan berkumpul serta kebebasan untuk
menyampaikan pendapat baik lisan maupun tulisan dalam UUD 1945 pasal
28 dan UU Nomor 9 Tahun 1998 Tentang kemerdekaan menyampaikan
pendapat di muka umum. Dalam UU Nomor 9 Tahun 1998 Pasal 1 ayat 1 dan
3 disebutkan bahwa :
 Ayat 1 : Kemerdekaan menyampaikan pendapat adalah hak setiap warga negara
untuk menyampaikan pikiran dengan lisan, tulisan, dan sebagainya secara bebas
dan bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
 Ayat 3 : Unjukrasa atau demontrasi adalah kegiatan yang dilakukan seorang
atau lebih untuk mengeluarkan pikiran dengan lisan, tulisan, dan sebagainya
secara demonstratif di muka umum.

110
IV. Bentuk-bentuk Aksi
 Aksi Informatif, adalah bentuk interpretasi gerakan melalui symbol-symbol
untuk memberikan informasi terhadap masyarakat. Contoh : Panggung
kesenian, Diskusi Publik, Mimbar Bebas, Pamflet, Spanduk, dll.
 Aksi Massa, adalah suatu gerakan yang dilakukan dengan menyertakan massa
sebagai subyek atau pelaku dalam sebuah aksi sebagai bentuk penyadaran dan
pencapaian suatu kepentingan. Contoh : Demonstrasi, Sabotase, Pemogokan
Massalo, dll

V. Target dan Sasaran Aksi


 Target Aksi : Propaganda Massa, Blow Up Media, Birokrasi > Mediasi,
Negosiasi, dll
 Sasaran Aksi : Mahasiswa, Masyarakat, Birokrasi, Media

111
MATERI X PERMUSYAWARATAN DAN TEKNIK PERSIDANGAN

PERMUSYAWARATAN

Adalah Mekanisme yang digunakan untuk mengambil sebuah keputusan untuk


mencapai kata mufakat dalam setiap permasalahan yang timbul serta memunculkan kebijakan
baru dalam suatu organisasi. Negara yang berbasis dan menganut paham demokrasi,
menggunakan mekanisme permusyawaratan dalam hal memecahkan permasalahan untuk
mencapai keputusan dan selanjutnya dijadikan landasan atau peraturan.

Sebenarnya mekanisme permusyawaratan sudah di pakai sejak dulu, pada zaman para
Nabi, dalam mengambil setiap keputusan atau mencari sebuah solusi dalan setiap permasalahan
mereka mengundang perwakilan (utusan), atau para tokoh masyarakat untuk bermusyawarah
(berembuk), membicarakan untuk memecahkan satu permasalahan.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman yang artinya :

Artinya : “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan
mendirikan sholat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka,
dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang kami berikan kepada mereka” (QS. Asy.
Syuura : 38)

Keputusan Musyawarah dalam IMM:

1. Keputusan Permusyawaratan diusahakan diambil dengan musyawarah untuk mufakat.

2. Apabila keputusan permusyawaratan terpaksa dilakukan dengan pemungutan suara,


maka keputusan diambil dengan suara terbanyak mutlak, yaitu setengah lebih satu dari
jumlah peserta yang memberikan hak suara.

3. Pemungutan suara atas seseorang atau masalah yang penting dapat dilakukan secara
tertulis dan rahasia, atau secara langsung.

4. Apabila dalam pemungutan suara terdapat jumlah suara yang sama banyak, maka
pemungutan suara diulangi dengan memberi kesempatan masing-masing pihak untuk
menambah penjelasan. Apabila setelah tiga kali pemungutan suara ternyata hasilnya
tetap sama atau tidak memenuhi syarat pengambilan keputusan pembicaraan dihentikan
tanpa suatu keputusan, atau diserahkan kepada pimpinan di atasnya, sedangkan untuk
Muktamar atau Tanwir diserahkan kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

5. Apabila keputusan telah diambil, maka seluruh peserta musyawarah harus menerima
keputusan tersebut dengan ikhlas dan tetap bertawakal kepada Allah SWT.

112
TEKNIK PERSIDANGAN

Teknik persidangan umumnya digunakan dalam forum-forum resmi organisasi berbasis


massa dan digunakan sebagai media demokrasi dalam menyuarakan pendapat. Dapat
dibayangkan apabila forum-forum resmi tersebut tanpa mekanisme yang jelas, maka yang
terjadi bukanlah kelancaran sidang, melainkan kekacauan karena bemtuknya yang bersifat
menghadirkan banyak orang dengan keinginan yang berbeda-beda.

A. PESERTA SIDANG

Peserta sidang adalah orang-orang yang berhak mengikuti jalannya sidang, baik karena
diundang ataupun karena haknya sebagai anggota organisasi yang melaksanakan sidang,
peserta dibagi menjadi dua:

a. Peserta

Peserta sidang yang mempunyai hak suara dan hak bicara selama dalam persidangan, hak
bicara peserta diperbolehkan untuk menyampaikan pendapat, ide, maupun keberatan
dengan seizin pimpinan sidang. Dam mempunyai hak untuk memilih bila terjadi voting,
serta memilih dan dipilih dalam pemilihan.

b. Peninjau

Peserta sidang yang hanya mempunyai hak bicara, dalam hal ini termasuk juga para
undangan yang menghadiri jalannya sidang, tentunya dengan seizin pimpinan sidang dan
tidak mempunyai hak suara, serta hak memilih dan dipilih.

B. MACAM-MACAM SIDANG

1. Sidang Komisi

 Sidang ini hanya diikuti oleh anggota komisi saja untuk memudahkan perumusan dan
pengambilan kebijakan sementara sehingga pembahasan bidang yang telah ditentukan
lebih terfokus serta untuk pematangan materi sebelum diplenokan (membahas lebih
spesifik,rinci,detail pada pokok permasalahan masing-masing komisi yang telah
ditentukan pada sidang pleno).

 Dipimpin oleh Ketua komisi serta dibantu sekretaris.

 Ketua komisi dipilih dari dan oleh anggota Komisi dalam Komisi tersebut

 Sidang komisi beranggotakan peserta dan peninjau yang ditentukan oleh sidang pleno

113
 Keputusan pada sidang komisi bersifat non permanen (dapat berubah) kemudian
dibawa kedalam sidang pleno untuk mendapat keputusan terakhir.

 Sidang sub komisi :Sidang ini lebih terbatas dalam sidang komisi guna mematangkan
materi lanjut.

2. Sidang Pleno

 Biasa disebut sidang besar yang diikuti oleh seluruh peserta sidang tanpa kecuali
(peserta dan peninjau).

 Sidang Pleno dipimpin oleh Presidium Sidang

 Sidang Pleno biasanya dipandu oleh Steering Committee

 Sidang Pleno membahas dan memutuskan segala sesuatu yang berhubungan dengan
Permusyawaratan

 Sidang pleno dilakukan untuk memberi keputusan final agenda sidang yang telah
dirumuskan sebelumnya pada sidang komisi.

 Termasuk kedalam kategori sidang ini adalah Sidang pendahuluan yang biasanya untuk
menetapkan jadual, tata tertib, pembahasan agenda dan pemilihan presidium sidang.
Sidang mengesahkan laporan pertanggung jawabanyang dipimpin oleh presidium
sidang.

3. Sidang paripurna

 Sidang Paripurna diikuti oleh seluruh peserta dan peninjau Permusyawaratan

 Sidang Paripurna dipimpin oleh Presidium Sidang

 Sidang Paripurna mengesahkan segala ketetapan dan keputusan yang berhubungan


dengan Permusyawaratan biasanya berisi tentang pengesahan akhir hasil-hasil sidang

C. PIMPINAN SIDANG

Pimpinan sidang adalah orang yang bertindak memimpin persidangan, ia wajib mengatur
jalannya persidangan. Seorang pemimpin sidang dituntut untuk bersikap adil dan bijaksana
dalam menyikapi pendapat-pendapat yang berkembang dalam persidangan. Ditangannyalah
kesepakatan-kesepakatan dalam persidangan ditetapkan.

114
Jumlah pimpinan sidang haruslah berjumlah ganjil, karena adakalanya forum membutuhkan
suara pimpinan sidang dalam pengambilan keputusan, jumlah minimal 3 orang dan maksimal
berapapun asalkan ganjil dan sesuai kesepakatan peserta sidang. Pimpinan sidang memiliki hak
yang sama dengan peserta sidang. Pimpinan sidang terbagi menjadi 2 macam, antara lain;

a. Steering Commitee

1. Steering Committee dibentuk oleh lembaga atau organisasi yang memiliki kepetingan
suatu acara.

2. Steering Committee bertugas memimpin sidang sampai terpilihnya Presidium Sidang.

b. Presidium Sidang

1. Presidium Sidang terdiri dari atas tiga orang yang dipilih oleh peserta yang mempunyai
hak suara.

2. Presidium Sidang bertugas memimpin dan mengatur jalannya persidangan mulai dari
awal ditetapkan sampai akhir persidangan.

 Hak dan Kewajiban Pimpinan sidang


a. Pimpinan Sidang I bertindak sebagai pimpinan sidang. Apabila dalam proses
persidangan pemimpin sidang tidak dapat memimpin persidangan, maka pimpinan
sidang digantikan oleh presidium II.
b. Pimpinan Sidang tidak boleh berpihak pada salah satu pihak peserta
c. Tugas dan kewajiban pimpinan sidang:
i. Pimpinan Sidang berhak dan bertanggung jawab mengendalikan dan
mengarahkan persidangan sesuai tata tertib
ii. Pimpinan Sidang menyerahkan hasil sidang secara tertulis untuk setiap suatu
ketetapan dan keputusan
iii. Pimpinan Sidang berkewajiban mengesahkan dan menetapkan hasil sidang
d. Pimpinan Sidang dapat digantikan apabila:
i. Meninggal dunia,
ii. Berhalangan,
iii. Tidak mampu memimpin sidang memihak salah satu pihak.
 Tugas Pimpinan Sidang
A. Pimpinan Sidang I
1. Tidak Subjektif (Bersifat Netral)
2. Menghargai Setiap Pendapat
3. Merespon Setiap Pendapat
4. Menasehati Peserta Yang Tidak Beretika

115
5. Memutuskan Setiap Keputusan Dengan Bijak
B. Pimpinan Sidang II
1. Memberi Masukan Kepada Presidium sidang I
2. Memberi informasi-informasi tentang jalannya persidangan kepada Presidium
sidang I
C. Pimpinan Sidang III
1. Mencatat Setiap Pendapat dari peserta
2. Memberi Masukan Kepada Pimpinan Sidang I

C. PERANGKAT PERSIDANGAN
a. Tema
b. Peserta
c. Tempat Pelaksanaan
d. Jumlah Sidang
e. Agenda Acara
f. Draf Persidangan
g. Palu Sidang
h. Serta hal lain yang diperlukan

D. KETUKAN PALU

1. Satu kali ketukan, digunakan untuk :

a. Memutuskan suatu ketetapan yang merupakan bagian dari keseluruhan yang akan
diputuskan.

b. Menskorsing atau mencabut skorsing sidang dalam waktu maksimal 30 menit (misal
2x15 menit).

c. Perpindahan palu pimpinan sidang.

2. Dua Kali ketukan, digunakan untuk :

a. Memutuskan suatu ketetapan yang menyeluruh.

b. Menskorsing atau mencabut skorsing sidang lebih dari 30 menit (misal 2x20 menit).

3. Tiga kali, digunakan untuk:

Membuka dan menutup persidangan.

4. Lebih dari tiga kali digunakan untuk menenangkan forum atau mengkondisikan forum
agar bisa focus pada persidangan.

116
E. INTERUPSI

Interupsi digunakan oleh peserta sidang sebagai alat untuk menyampaikan pendapat
atau unek-unek dengan seizin pimpinan sidang. Adapun interupsi yang digunakan adalah :

1. Interupsi Point of Clarification

Digunakan untuk memperbaiki kesalah pahaman dalam penafsiran peserta sidang


maupun pimpinan sidang.

2. Interupsi Point of Information

Digunakan apabila peserta merasa perlu untuk memberikan infomasi guna


melancarkan persidangan dan memberi penjelasan.

3. Interupsi Point of Order

Digunakan sebagai usulan atau memberi pendapat yang baru dengan disertai argumen
atau penjelasan dan adanya suatu peryataan terkait persidangan.

4. Interupsi Point of Jastification

Digunakan untuk sekala pernyataan sikap ego peserta, demi mempertahankan pendapat
dan argumennya.

F. PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Dalam mengambil sebuah keputusan ada tiga proses :

a. Kesepakatan

Bila forum mempunyai pemikiran dan pendapat yang sama dalam membahas suatu
hal, tapi jika tidak terjadi kesepakatan maka dilakukan proses lobying.

b. Lobbying

Adalah proses perlindungan, ada dua atau lebih pihak yang berbeda pendapat dan
keinginan untuk mencapai suatu kesepakatan, atau disebut juga tawar-menawar,
dan apabila tidak terjadi kesepakatan kembali, maka dilakukan proses voting.

c. Voting

Adalah proses pengambilan kesepakatan dengan mencari dukungan yang lebih


banyak, atau bisa dikatakan proses demokrasi.

117
G. MEKANISME PENAMBAHAN POIN dan PENINJAUAN KEMBALI

Pembahasan mengenai penambahan poin dan peninjauan kembali (PK) akan dilakukan
setelah setiap draft selesai dibahas dengan melalui penawaran dari pimpinan sidang.
Mekanisme penawaran didahulukan pada penambahan poin dan dilanjutkan dengan
peninjauan kembali.

H. QUORUM

Quorum adalah syarat sahnya sidang untuk dapat diadakan, karena tingkat qauorum
menunjukkan sejauh mana tingkat representasi dari peserta sidang. Semakin tinggi jumlah
quorum, semakin tinggi pula tingkat representasi dari sidang tersebut.

118
MATERI-MATERI

LATIHAN INSTRUKTUR KOMISARIAT (LIK)

119
MATERI I

SISTEM PERKADERAN RASULULLAH

Rasulullah SAW merupakan mutiara yang berada di tengah-tengah manusia yang


menjelma sebagai manusia dengan Islam yang tertancap di hati beliau. Kehidupan Rasulullah
senantiasa dihiasi dengan perjuangan yang selalu menumpahkan darah dan menghabiskan harta
benda, bersama keluarga dan para sahabat tidak pernah mundur dari perjuangan, karena alasan
mereka berjuang adalah tegaknya agama Islam sebagai rahmatan lil alamin. Hal ini
dikarenakan Islam ketika tegak dengan lantang ditengah kehidupan manusia akan melahirkan
kedamaian yang telah lama dicita-citakan, kesejahteraan yang selama ini menjadi sebab
pertumpahan darah, keadilan yang merembes di kehidupan masyarakat, dan kebebasan untuk
hidup tanpa belenggu dari kelompok tertentu. Setelah 23 tahun berdakwah, tepat tiga bulan
sebelum Muhammad sang rasul meninggal, cita-cita Islam dengan lantang berdiri akhirnya
menjadi kenyataan, dalam sejarah mengatakan bahwa sebanayk 10.000 pasukan muslim
berhasil menduduki mekkah sebagai tempat Islam membangun peradaban di kemudian hari.

Sebagaimana pencapaian Muhammad, hal tersebut tidak terwujud dalam waktu yang
singkat. Muhammad membutuhkan 23 tahun lamanya untuk mencapai cita-cita yang
diamanatkan padanya, dalam sejarah terdapat 2 periode Muhammad melakukan perjuangan
bersama para sahabat dan keluarganya, yang kita kenal dengan priode Mekkah dan priode
Madinah. Sebelum Islam berdiri dengan kokoh di tengah masyarakat Arab waktu itu,
Muhammad menjalankan dakwahnya ke banyak golongan agar umatnya, terkhusus
keluarganya sendiri berkenan untuk masuk ke dalam agama yang diridhai oleh Allah, yaitu
Islam. Dakwah ini yang menjadi cara pertama yang dilakukan oleh Muhammad agar manusia
paham dengan cita-cita beliau untuk manusia, terkhusus untuk bangsa Arab waktu itu.

Abdul Fattah berkata bahwa di utusnya Muhammad ke bumi memang untuk membawa
risalah Allah dan diajarkan kepada umatnya. Melalui pendidikan yang diberikan oleh
Muhammad kepada para sahabatnya, risalah tersebut sampai dan diamalkan oleh sahabat dalam
kehidupan sehari-hari, baik itu hal yang kecil seperti tidur atau bertamu hingga ke persoalan
yang besar seperti perang. Nabi Muhammad sudah melakukan dan memberikan pendidikan
terbaiknya kepada para sahabat hingga melahirkan orang-orang besar seperti, Abu Bakar Ash-
Shiddiq, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan, Ali Bin Abi Thalib, Amr Bin Ash, Khalid Bin
Walid, Said, Salamah, dan sahabat yang lain yang menjadi partner penting bagi beliau dalam
mensyiarkan agama Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin.

Hal ini memberikan bukti bahwa Muhammad telah memberikan pendidikan kepada para
keluarga dan sahabatnya semasa beliau hidup. Lahirnya Abu Bakar sebagai Khalifah
merupakan bukti bagaimana Muhammad memberikan pendidikan yang sanagat baik kepada

120
sahabatnya itu. Tidak hanya pada ketokohan Abu Bakar saja, Ibnu Ishaq berkata bahwa budi
pekerti yang dimiliki oleh Abu Bakar sebagai seorang individu pun membuatnya di segani oleh
banyak orang sehingga diangkat oleh kabilah Muhajir dan Anshar sebagai khalifah pengganti
Nabi dalam memimpin umat Islam, dan yang paling kita ketahui adalah bagaimana keberanian
Abu Bakar memerdekakan Bilal bin Rabah yang pada waktu itu menjadi budak dari Abu Jahal.
Melihat dari apa yang dilakukan oleh Abu Bakar, bisa dipersepsi bahwa ketika Muhammad
memberikan pendidikan kepada sahabatnya, beliau tidak hanya mengajarkan bagaimana
beribadah, atau hanya mengajarkan apa yang wajib dilakukan seorang Islam sebagai hamba
Allah, melainkan juga Muhammad memberikan pembelajaran kepada para sahabatnya untuk
tahu cara bermanfaat bagi orang lain.

Dari kisah ini kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan ala Rasulullah memiliki
dampak yang sangat luar biasa bagi para muridnya (Sahabat & keluarga). Kembali Abdul
Fattah dalam bukunya yang berjudul ‘Mendidik dan Mengajar ala Rasulullah’ mengatakan
bahwa ada beberapa metode sederhana yang dilakukan oleh Rasulullah dalam mengajar para
murid-muridnya, metode yang pertama adalah metode tanya jawab (diskusi). Metode ini
dilakukan oleh Muhammad agar para murid atau para sahabatnya berkesempatan untuk
mengutarakan gagasana atau buah pemikiran yang dimilikinya, sehingga mengajarkan para
sahabat untuk mau menggunakan akal pikirannya dalam mengatasi masalah dan tidak
bergantung hanya pada pikiran orang lain semata. Hal ini juga dilakukan oleh Muhammad agar
tidak terlihat menggurui para sahabat, melainkan mengajak untuk berpikir demi kemaslahatan
bersama. Metode pengajaran ini bisa kita lihat salah satunya pada saat umat Islam hendak
berperang melawan kaum kafir quraish, kala itu Muhammad kemudian mengajak para sahabat
untuk berdiskusi dan mencari solusi agar kaum quraish yang hendak menyerang umat muslim
tidak sampai ke Madinah, dari proses diskusi tersebut salah seorang sahabat mengusulkan
untuk membat parit dengan tujuan menghalangi musuh agar tidak sampai atau masuk ke
wilayah Madinah. Setelah disepakati, para sahabat kemudian bekerja sama untuk membuat
parit sebagaimana yang disepakati bersama-sama. Disini kita dapat melihat bahwa begitu
terbukanya Rasulullah untuk berdiskusi dengan sahabatnya, tidak ada kesan Muhammad
menggurui, meskipun beliau memang orang yang cerdas, melainkan dengan metode diskusi
ternyata mampu melahirkan sebuah ide yang cemerlang untuk menghalangi kaum kafir
menyerang kaum muslim di Madinah.

Selain metode diskusi, Muhammad juga dalam mendidik dan memberikan pengajaran
dengan metode perumpamaan atau analogi dari sebuah kisah dan cerita-cerita singkat kepada
para muridnya. Hal ini dilakukan Nabi agar para sahabat atau muridnya juga mau
menggunakan pikirannya dalam meyelesaikan persoalan yang ada, atau memperjelas hal-hal
yang belum jelas dipikiran para sahabat. Menyampaikan cerita-cerita adalah salah satu cara
Muhammad dalam mengumpamakan sesuatu yang tidak jelas agar menjadi jelas bagi para

121
muridnya. Selain itu Muhammad menggunakan cerita dalam pengajarannya untuk
memberikan peringatan kepada para sahabatnya agar tidak semena-mena dalam berbuat,
melainkan berbuat dengan pemikiran yang matang agar menuai banyak manfaat bagi
kehidupan banyak orang.

Rasulullah dalam memberikan pendidikan kepada muridnya selalu menggunakan


banyak metode sesuai dengan keefektifan materi itu menggunakan metode apa. Rasulullah
melakukan pengajarannya dengan tujuan lahirnya generasi yang mampu membawa Islam
menjadi rahmat bagi umat manusia. Hal ini telah ditegaskan Allah dalam Al-Quran yang
berbunyi ‘inna arsalnaka Illa Rahmatan Lil ‘alamin’. Meskipun ada beberapa ulama tafsir
yang berbeda berpendapat dengan tafsiran pada saah satu bagian kata dari ayat tersebut yang
mengatakan bahwa Ka dalam kata arsalnaka adalah merujuk pada Muhammad sang Rasul,
namun ulama yang lain juga berpendapat bahwa Ka dalam kata tersebut adalah Islam. Dua
pendapat ini sama-sama memiliki maksud yang sama jika ditelaah mendalam. Ketika kita
mengambil pendapat yang pertama, yang mana rasul adalah rahmatan lil alamin, maka sebab
rahmatan lil alamin dari seorang Muhammad tidak terletak keturunan atau latar bekalangnya
dia sebagai seorang manusia, melainkan seorang Rasul yang dibebankan oleh Allah untuk
mensyiarkan agama Islam kepada seluruh umat manusia. Hanya saja, penulis tidak
menjelaskan mendetail bagaimana keterkaitan pendapat para ulama tafsit tersebut. Intinya
kedua pendapat mengenai tafsik kata Ka merujuk pada Muhammad sebagai yang membawakan
dan mensyiarkan Islam dan Islam sebagai objek yang disyiarkan oleh Rasulullah.

Muhammad dalam mengajar juga selalu memberikan tauladan kepada para sahabatnya.
Keteladanan yang diperlihatkan Nabi tak pernah lepas dari kehidupan yang dia jalankan dalam
kesehariannya, terlebih ketika dia dalam memberikan pembelajaran kepada para sahabatnya.
Ketauladanan nabi merupakan salah satu model beliau dalam mendidik para sahabatnya.
Keteladanan Muhammad dipraktekkan dengan cara mengatakan apa yang dilakukan dan
kemudian menyerukan kepada para sahabat. inilah salah satu alasan mengapa nabi dijuluki
sebagai al-amin (orang yang dapat dipercaya). Dari sikapnya itulah Muhammad sangat
dipercaya dan banyak orang yang mau mengikuti seruannya. Hingga pada waktu peletakan
hajar aswad, kala Muhammad belum menjadi nabi, beliau dipercaya sebagai orang yang
meletakkan hajar aswad ditempatnya, dengan kebijaksanaan beliau akhirnya bersama
pemimpin kabilah untuk bersama-sama meletakkan hajar aswad pada tempatnya. Dampaknya
adalah, kabilah-kabilah yang ada pada waktu itu tidak berseteru dan berdamai karena merasa
semua sudah mendapatkan haknya masing-masing untuk meletakkan hajar aswad pada
tempatnya.

Dari pendidikan yang dilakukan oleh Muhammad, dengan hasil lahirnya para penerus
beliau yang sangat disegani dan mampu menjadi penerus yang tetap kokoh dan mampu

122
mensyiarkan Islam, kita bisa mengambil contoh bagaimana dalam mendidik umat agar mampu
menjadi umat yang melanjutkan perjuangan nabi di kemudian hari. Pendidikan yang mampu
melahirkan karakter yang kuat sebagaimana Umar bin Khattab, generasi yang cerdas seperti
Ali bin Abi Thalib, generasi yang lemah lembut seperti Abu Bakar dan Usman yang
kesemuanya bisa menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah mengajarkan kita
untuk menjadi teladan bagi orang lain, dan itu sebaik-baik cara dalam melakukan pendidikan.
Allah menegaskan pula dalam firmannya dalam al-quran mengenai hal ini. Oleh karena itu,
metode diskusi, perumpamaan, ceramah atau metode yang lain sebaiknya diikuti dengan
keteladanan. Muhammad tak pernah memberikan pendidikan tanpa adanya keteladan dari
beliau.

Sebagai penutup, pendidikan ala Rasulullah memang selalu diberikan dengan metode
yang menyesuaikan dengan kondisi yang dihadapi. Akan tetapi tetap bermuara pada nilai-nilai
ke-Tuhan-an yang disampaikan Allah kepada Rasul. Nabi Muhammad adalah seorang pendidik
yang ulung, dia (Muhammad) pun bersabda ‘sesungguhnya Aku di utus sebagai seorang
pendidik. Nabi kita telah mendidik dan membina para sahabat dan muridnya dalam rumah Al-
Arqom, disanalah mereka para sahabat dan muridnya memperoleh bimbingan dan ilmu dari
nabi. Melalui pendidikan yang dijalankan semasa hidupnya, nabi Muhammad tidak hanya
mampu melahirkan banyak tokoh besar yang menjadi pemimpin Islam. Melainkan juga telah
melahirkan orang-orang atau generasi yang mampu membawa dan menjaga ajaran yang dibawa
oleh beliau hingga di tengah-tengah zaman yang tidak lagi tradisional seperti saat ini.
Rasulullah sanagt paham bagaimana pentingnya menyiapkan generasi untuk masa depan, tidak
hanya untuk memperjuangkan Islam sebagai agama semata, tapi juga sebagai suatu gerakan
yang dengan kehadirannya mampu menciptakan keadilan, kesejahteraan, kedamaian dan
kebersamaan yang penuh dengan keberkahan ilahi di dalam kehidupan bermasyarakat.
Pentingnya untuk membina calon generasi pelanjut merupakan salah satu perintah Allah yang
termaktub di dalam surah An-Nisa : 9. Kala nabi Muhammad telah berhasil memberikan
conroh kepada kita sang penerus dengan kisah-kisah para sahabat beliau, maka bukan alasan
bagi kita untuk berhenti melakukan pendidikan untuk para penerus masa depan, melalui sebuah
sistem yang kita sebut dengan kaderisasi adalah jembatan penting yang harus terus
dipertahankan, agar terus lahir generasi yang mampu meneruskan perjuangan hingga pada
puncak yang dicita-citakan. Billahi Fii Sabili Haq, Fastabiqul Khoirot.

Refrensi :

Terjemahan oleh Fadli Bahri. (2002). Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 dan 2.

Abdul Fattah. (2015). Mengajar ala Rasulullah. Yogyakarta; LC. Mediatama Yogyakarta.

123
MATERI II

SISTEM PERKADERAN MUHAMMADIYAH

A. Pendahuluan

Muhammadiyah berdiri tidak hanya sebagai organisasi gerakan Islam yang hanya
memberantas Tahayyul, Bid’ah dan Kurafat (TBC), melainkan gerakan kemanusiaan yang juga
memiliki orientasi untuk kesejahteraan, kebebasan dan kedaulatan. Menapaki abad ke-2
Muhammadiyah semenjak berdirinya tidak bisa dilepaskan dari budaya organisasi dan
dinamika Muhammadiyah. Sehingga sangat etis bila Muhammadiyah saat ini tidak akan lepas
dari hal-hal perkaderan yang nantinya akan terus mengembangkan program Muhammadiyah
agar semakin maju sebagai ciri Muhammadiyah sebagai organisasi yang dinamis dan bersifat
moderat. Maka tidak heran jika Muhammadiyah sangat gentir untuk terus memperbaharui
sistem perkaderannya agar tetap bisa membumi di dalam warga Muhammadiyah.

Hal tersebut terdapat pada tiga anasir ciri pengembangan yang dapat dilihat dari
Muhammadiyah, yaitu :

1. Sistem Gerakan, yaitu menguatnya ideologi dan visi gerakan Muhammadiyah.


2. Jaringan, yaitu menguatnya peran dan jaringan keummatan, kebangsaan dan
kemanusiaan secara universal serta menguatknya amal usaha, kegiatan sosial dan
perangkat persyerikatan
3. Sumberdaya, yaitu menguatnya sistem kaderisasi dalam Muhammadiyah yang
dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan.

Ketiga hal tersebut menjadi ciri berkembangnya Muhammadiyah selama satu abad sejak
kelahirannya. Bagi Muhammadiyah perkaderan menjadi budaya organisasi yang dilakukan
terus menerus dan sebagai kebijakan strategis yang berjangka panjang.

Karena Muhammadiyah adalah organisasi yang bergerak membangun kemajuan yang terus
bereksistensi di gerakan dakwah amar ma’ruf dan nahi mungkar serta gerakan tajdid sehingga
menjadikan kaderisasi sebagai program yang sangat penting untuk dijalankan. Karena dengan
adanya kaderisasi maka lahir generasi yang tidak hanya sebagai pelanjut perjuangan,
melainkan penambah personil di tubuh Muhammadiyah yang memperkuat basis gerakan
dakwah yang teroganisir. Di samping itu, kaderirasi diharapkan menjadi jembatan bagi para
ader untuk mengembangkan program sesuai dengan potensi dan minatbakat kader.

Dengan demikian maka perkaderan dalam Muhammadiyah dijadikan sebuah sistem yang
mengatur kaderisasi Muhammadiyah yang memiliki konsep dasar yang mencakup penegasan

124
tentang defenisi dan posisi kader, defenisi SPM, visi dan misi perkaderan, tujuan perkaderan,
penitikberatan perkaderan Muhammadiyah dan profil kader Muhammadiyah.

Sebagai suatu kesatuan sistem yang utuh, maka sistem perkaderan Muhammadiyah (SPM)
berlaku menyeluruh bagi seluruh komponen perkaderan di persyerikatan. Karena bersifat
mengikat dan menyeluruh maka sistem perkaderan yang dimiliki oleh ortom Muhammadiyah
menjadi bagian dari SPM. Artinya SPM dan sistem perkaderan yang terdapat di dalam ortom
terintergrasi, meskipun tetap diberikan keleluasaan untuk menjalankan kaderisasi sesuai
dengan ciri khas pada masing-masing ortom dan tetap mengacu pada SPM, konsep dasar dan
kurikulum yang ada.

Dalam kaderisasi Muhammadiyah, ada yang namanya revitalisasi kader yang merupakan
langkah penataan, peningkatan, dan pengembangan anggota inti peryerikatan yang dapat
melaksanakan misi, usaha, dan pencapaian tujuan. Tujuan dilakukannya revitalisasi ini adalah
agar berkembangnya jumlah dan kualitas kader yang berperan aktif dalam ranah persyerikatan,
umat, bangsa dan kemanusiaan sebagai perwujudan pelaku dakwah dan tajdid. Dengan
revitalisasi kader ini diharapkan agar perkaderan tidak berkutat pada rekrutmen saja, tapi
mampu berkembang pada pengembangan kader yang benar-benar memiliki komitmen
terhadap organisasi secara menyeluruh dan konsisten yang didukung dengan sumber dana,
jaringan dan dukungan yang optimal.

Sebagai organisasi yang berdiri sejak 102 tahun yang lalu yang didirikan oleh K.H Ahmad
Dahlan yang mendorong kadernya agar mampu mengambil peran dalam kehidupan
bermasyarakat. Dengan adanya kesadaran atas dinamika lingkungan strategis yang dihadapi
oleh Muhammadiyah untuk mampu dan terus bisa mengambil peran dalam bermasyarakat.
Usaha tersebut bisa dilihat dari uraian berikut,

Pertama, Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid yang terus melakukan pemurnian ajaran
Islam dan pengmbangan pemikiran dala berbagai masalah.

Kedua, Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid terus mendorong untuk melakukan


pengembangan pemikiran diberbagai bidang.

Ketiga, Muhammadiyah terus mengupayakan tercapainya cita-cita bangsa Indonesia, karena


Muhammadiyah adalah salah satu komponen dari negara Indonesia.

Keempat, Muhammadiyah juga bertanggung jawab atas kemajuan umat Islam di segala bidang
kehidupan, keterasingan, keterbelakangan, dan hegemoni dari dampak era globalisasi yang
tidak memihak.

125
Kelima, Muhammadiyah tetap bertanggung jawab atas terciptanya tatanan masyarkat dunia
yang adil, sejahtera dan berperadaban tinggi dalam mencapai misi rahmatan lil alamin.

B. Jenis dan Bentuk Perkaderan dalam Muhammadiyah

Dalam melakukan kaderisasi, Muhammadiyah melakukannya dengan berbagai bentuk


perkaderan, beberapa jenis tersebut adalah :

1. Perkaderan Utama
Perkaderan utama dalam Muhammadiyah adalah perkaderan yang dilakukan untuk
menyatukan visi dan idologi Muhammadiyah agar satu pemahaman. Ada dua jenis
dalam perkaderan utama, yaitu Baitul Arqam dan Darul Arqam.
2. Perkaderan Fungsional
Perkaderan fungsional dilakukan dalam bentuk pelatihan, diklat atau kursus yang tidak
ada standar bakunya dan dilakukan sesuai dengan kebutuhan kader dan dilakukan
sebagaimana kreativitas dari pimpinan yang melakukan. Salah satu perkaderan
funsional yang dilakukan oleh Muhammadiyah adalah sekolah kader, pengajian,
diskusi ideopolitor atau kajian pimpinan.

Perkaderan yang dilakukan Muhammadiyah tetap berorientasi pada tujuan yang


dimiliki Muhammadiyah. Kapasitas kader yang dikembangkan menjadi jembatan agar tujuan
Muhammadiyah dapat terus diperjuangkan hingga pada titik yang telah dicita-citakan oleh
Muhammadiyah sebagai organisasi.

Referensi :MPK PP Muhammadiyah. Sistem Perkaderan Muhammadiyah. Jakarta

126
MATERI III

KE-INSTRUKTURAN

1. Pengertian Instruktur

Instruktur adalah in·struk·tur/ n orang yang bertugas mengajarkan sesuatu dan sekaligus
memberikan latihan dan bimbingannya; pengajar; pelatih; pengasuh:55

2. Keberadaan Instruktur dalam perkaderan IMM

Tim Instruktur56

Yaitu tim yang bertugas memadu dan memegang kendali orientasi, materi dan kualitas
acara perkaderan sebagai proses melahirkan ekstrainer yang ideal. Tim instruktur adalah
kelompok instruktur yang dari segi keinstrukturan dan perkaderan memenuhi persyaratan
sebagai pengelola perkaderan dengan tugas khusus disamping tugas umum.

Tim Instruktur terdiri dari :

- Master Of Training

Yaitu seorang yang mendapat tugas memimpin dan secara umumbertanggung jawab atas
pelaksanaan keinstrukturan dalam proses perkaderan. Jika diperlukan dapat mengangkat vice
moot yang bertugas membantu atau dalam keadaan tertentu dapat menggantikan MOT.

- Imam Training

Yaitu seseorang yang mendapat tugas memandu keinstrukturan dalam aspek pelaksanaan
syariat Islam dan akhlaq karimah. Observer Yaitu sekelompok orang yang bertugas
mengevaluasi perkembangan peserta secara personal dan kolektif yang menunjukan pelatihan
sesuai dengan targetnya.

- Observer

Yaitu sekelompok orang yang bertugas mengevaluasi perkembangan peserta secara


personal dan kolektif yang menunjukan pelatihan sesuai dengan targetnya.

- Anggota tim instruktur

Yaitu sekelompok orang yang secara bersama-sama menjalankan tugas keinstrukturan


dan masing-masing bertanggungjawab terhadap aspek-aspek tertentu dari materi

55
Kbbi (kamus besar bahasa Indonesia)
56
BAB II SPI (Sistem perkaderan ikatan) poin pengorganisasian

127
perkaderan. Sebagai mana setiap instruktur memiliki spesifikasi dalam hal tertentu yang
diarahkan pada pada tujuan dalam perkaderan.

3. Tugas Pokok dan fungsi instruktur57

Dalam melakukan perkaderan dalam ikatan mahasiswa Muhammadiyah di bagi menjadi


3 perkaderan yaitu perkaderan utama, khusus dan pendukung.

A. Perkaderan Utama terbagi menjadi 3 sesuai dengan jenjang level perkaderannya yaitu :

Darul Arqam adalah bagian utama sistem perkaderan IMM yang diselenggarakan
dalam kesatuan waktu tertentu dan berjenjang. Nama Darul Arqam asalnya berarti rumah
Arqam, dinisbatkan kepada pemilik Arqam Ibn Abil Arqam yang digunakan oleh Rasulullah
SAW. Sebagai tempat perkaderan Islam di masa-masa pertama. Darul Arqam itulah lahir
tokoh-tokoh Islam generasi pertama seperti Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, Siti Khodijah,
Saad bin Abi Waqas dan lain-lain.

Darul Arqam Dasar (DAD)

Yaitu perkaderan utama tingkat pertama dari tiga tingkat perkaderan, dan merupakan
prasyarat bagi calon pimpinan IMM tingkat Komisariat.

Instruktur

Instruktur DAD adalah tim instruktur yang ditetapkan oleh PC IMM dan terdiri dari
sekurang-kurangnya :

1. 1 (satu) orang Master Of Training


2. 2 (satu) orang Imam Training
3. 3 (dua) orang observer
4. 4 (tiga) orang anggota Instruktur

Darul Arqam Madya (DAM)

Yaitu perkaderan utama tingkat kedua dari tiga tingkat perkaderan, dan merupakan
prasyarat bagi calon pimpinan IMM tingkat Daerah.

Instruktur

Instruktur DAM adalah Tim Instruktur yang dibentuk oleh DPD IMM dan terdiri dari
sekurang-kurangnya :

57
BAB III SPI (Sistem Perkaderan Ikatan tentang Komponen dan jenjang perkaderan

128
1. 1 (satu) orang Mater Of Trainning
2. 1 (satu) orang Imam Training
3. 2 (dua) orang observer
4. 3 (tiga) orang anggota Instruktur

Darul Arqam Paripurna (DAP)

Yaitu perkaderan utama tingkat ketiga dari tiga tingkatan perkaderan, dan merupakan
prasyarat bagi calon pimpinan IMM tingkat daerah dan pusat.

Instruktur

Instruktur Darul Arqam Paripurna adalah tim instruktur yang ditetapkan oleh DPP IMM dan
terdiri dari sekurang-kurangnya :

1. 1 (satu) orang Master Of Trainning


2. 1 (satu) orang Imam Trainning
3. 2 (dua) orang observer.
4. 3 (tiga) anggota instruktur

Persyaratan untuk dapat menjadi instruktur DAP adalah minimal telah lulus latihan Instruktur
Paripurna.

B. Perkaderan Khusus juga terbagi menjadi 3 sesuai dengan tingkatan kepemimpinan :

Latihan Instruktur adalah perkaderan khusus yang menjadi fasilitas didik resmi dan
disusun secara berjenjang sebagai upaya untuk meningkatkan kualifikasi kader secara bertahap
agar memperoleh kompotensi dalam mengelola perkaderen Ikatan.

Latihan Instruktur Dasar (LID)

Latihan InstrukturDasar (LID) adalah kegiatan perkaderan khusus yang dilaksanakan


dalam rangka mempersiapkan tenaga-tenaga instruktur tingkat Cabang, yang memiliki
kewenangan mengelola perkaderan dalam lingkup wilayah kepemimpinan komisariat.

Instruktur

Instruktur LID adalah tim Instruktur yang telah ditetapkan oleh PC IMM dan terdiri dari
sekurang-kurangnya :

1. 1 (satu) orang Master Of Trainning


2. 1 (satu) orang Imam Trainning
3. 2 (dua) orang observer
129
4. 3 (tiga) orang anggota instruktur.

Persyaratan untuk dapat menjadi instruktur LID adalah telah lulus Latihan Instruktur
Madya dengan rasio 1:3

Latihan Instruktur Madya (LIM)

Latihan Instruktur Madya (LIM) adalah kegiatan perkaderan khusus yang dilaksanakan
dalam rangka mempersiapkan tenaga-tenaga instruktur tingakat Daerah, yang memiliki
kewenangan mengelola perkaderan utama dalam lingkup wilayah kepemimpinan Pimpinan
Daerah IMM.

Instruktur

Instruktur LIM adalah tim Instruktur yang ditetapkan oleh DPD IMM dan terdiri dari sekurang-
kurangnya :

1. 1 (satu) orang Master Of Trainning


2. 1 (satu) orang Imam Trainning
3. 2 (dua) orang observer
4. 3 (tiga) orang anggota instruktur.

Persyaratan untuk dapat menjadi instruktur LIM adalah minim al telah lulus Latihan
Instruktur Paripurna (LIP) dengan rasio 1 : 4

Latihan Instruktur Paripurna (LIP)

Latihan Instruktur Paripurna (LIP) adalah kegiatan perkaderan khusus yang dilaksanakan
dalam rangka mempersiapkan tenaga-tenaga instruktur tingakat Pusat, yang memiliki
kewenangan mengelola perkaderan utama dalam lingkup wilayah kepemimpinan Pimpinan
Pusat IMM.

Instruktur

Instruktur LIP adalah tim Instruktur yang ditetapkan oleh DPP IMM dan terdiri dari sekurang-
kurangnya :

1. 1 (satu) orang Master Of Trainning


2. 1 (satu) orang Imam Trainning
3. 2 (dua) orang observer
3. 3 (tiga) orang anggota instruktur.

Persyaratan untuk dapat menjadiinstruktur LIP adalah minimal telah lulus Latihan Instruktur
Paripurna dengan rasio 1 : 5
130
C. Perkaderan Pendukung

Yaitu komponen perkaderan yang dilaksanakan untuk meningkatkan potensi kader sesuai
dengan minat, bakat, ketrampilan, keahlian dan kemampuan dalam rangka mendukung
keberhasilan proses kaderisasi ikatan. Komponen perkaderan pendukung dilaksanakan secara
integral dengan pelaksanakan aktivitas dan program organisasi itu sendiri. Komponen
perkaderan pendukung terdiri dari :

Perkaderan Pendukung Pokok

Adalah perkaderan yang dilaksanakan secara sistematik yang diatur, dikembangkan dan
ditetapkan oleh masing-masing bidang. Sebagai contoh : Pelatihan Jurnalistik, Pelatihan
Kewirausahaan, Pelatihan Penelitian dan penulisankarya Ilmiah, pendidikan wanita dan
lain-lain.

Perkaderan pendukung tambahan

Adalah semua bentuk dan proses kaderisasi yang tidak di atur secara khusus (terbuka dan
bebas). Sebagai contoh adalah kelompok studi, penokohan kader, forum kajian dan lain-
lain
4. Follow up (tindak lanjut)58

IMM menetapkan pola perkaderan sebagai upaya pokok aktifitas kelembagaan yang
menjadi urat nadi kegiatan. Segala bentuk kegiatan IMM pada dasarnya direfleksikan dalam
bentuk-bentuk konstruk perkaderan yang dititikberatkan pada peningkatan kualitas sumber
daya manusia muda, khususnya mahasiswa.

Kegiatan resmi perkaderan dalam setiap komponen dan jenjang tidak berakhir dalam
satuan waktu tertentu yang terbatas dan insidental. Upaya itu mesti dilanjutkan dengan program
pasca latihan sebagai upaya pembinaan dan pengembangan kualitas anggota secara kontinu
dan terprogram. Hal ini merupakan konsekuensi logis komitmen kekaderan IMM.

Disadari bahwa mengandalkan pembinaan kualitas kader melalui perkaderan utama saja
tidak cukup dan sangat terbatas. Dengan demikian setiap struktur kepemimpinan IMM
bertanggungjawab untuk melaksanakan proses tindak lanjut perkaderan di lingkungannya.

A. PRINSIP FOLLOW UP

Proses tindak lanjut (follow up) perkaderan utama (DAD, DAM, dan DAP) dilaksanakan
dengan prinsip kontinyu dan mengikat.

58
BAB IV SPI (Sistem Perkaderan Ikatan) tentang Tindak lanjut perkaderan

131
B. SIFAT DAN FUNGSI

Tindak lanjut perkaderan dilaksanakan dengan sifat :

1. Silaturrahim, baik secara personal maupun kelompok.


2. Jaringan informal kualitatif, baik antara personal maupun profesional.
3. Promosi dan transformasi kader di kawasan persyarikatan, umat dan bangsa.

Tidak lanjut perkaderan dilaksanakan dengan fungsi;

1. Kristalisasi
2. Kaderisasi
3. Konsolidasi

C. MATERI DAN BENTUK TINDAK LANJUT

Materi tindak lanjut (follow up) perkaderan berupa : materi keagamaan, kemahasiswaan, dan
kemasyarakatan, yang disesuaikkan dalam setiap jenjang perkaderan utamaBentuk follow up
terbagi menjadi dua; wajib dan pilihan

1. Wajib; Kajian yang terprogram dengan kurikulum terlampir


2. Pilihan;
a. Pendampingan
b. Pelatihan
c. Pemagangan
d. Monitoring
e. Silaturrahim
f. Penugasan

132
MATERI IV

STRATEGI PENDAMPINGAN DAN GOAL SETTING

1. Pengertian Goal Setting

Teori penetapan tujuan atau goal setting theory awalnya dikemukakan oleh Dr.
Edwin Locke pada akhir tahun 1960. Lewat publikasi artikelnya ‘Toward a Theory of Task
Motivation and Incentives’ tahun 1968, Locke menunjukkan adanya keterkaitan antara tujuan
dan kinerja seseorang terhadap tugas.
Locke mengusulkan model kognitif, yang dinamakan teori tujuan, yang mencoba
menjelaskan hubungan-hubungan antara niat/intentions (tujuan-tujuan) dengan perilaku.

Teori ini secara relatif lempang dan sederhana. Aturan dasarnya ialah penetapan dari
tujuan-tujuan secara sadar. Menurut Locke, tujuan-tujuan yang cukup sulit, khusus dan yang
pernyataannya jelas dan dapat diterima oleh tenaga kerja, akan menghasilkan unjuk-kerja yang
lebih tinggi daripada tujuan-tujuan yang taksa, tidak khusus, dan yang mudah dicapai. Teori
tujuan, sebagaimana dengan teori keadilan didasarkan pada intuitif yang solid.

Penelitian-penelitian yang didasarkan pada teori ini menggambarkan kemanfaatannya


bagi organisasi.

Manajemen Berdasarkan Sasaran (Management By Objectives =MBO) menggunakan


teori penetapan tujuan ini. Berdasarkan tujuan-tujuan perusahaan, secara berurutan, disusun
tujuan-tujuan untuk divisi, bagian sampai satuan kerja yang terkecil untuk diakhiri penetapan
sasaran kerja untuk setiap karyawan dalam kurun waktu tertentu.

Penetapan tujuan juga dapat ditemukan dalam teori motivasi harapan. Individu
menetapkan sasaran pribadi yang ingin dicapai. Sasaran-sasaran pribadi memiliki nilai
kepentingan pribadi (valence) yang berbeda-beda.

Proses penetapan tujuan (goal setting) dapat dilakukan berdasarkan prakarsa sendiri,
dapat seperti MBO, diwajibkan oleh organisasi sebagai satu kebijakan peusahaan. Bila
didasarkan oleh prakarsa sendiri dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja individu bercorak
proaktif dan ia akan memiliki keterikatan (commitment) besar untuk berusaha mencapai tujuan-
tujuan yang telah ia tetapkan. Bila seorang tenaga kerja memiliki motivasi kerja yang lebih
bercorak reaktif, pada saat ia diberi tugas untuk menetapkan sasaran-sasaran kerjanya untuk
kurun waktu tertentu dapat terjadi bahwa keterikatan terhadap usaha mencapai tujuan tersebut
tidak terlalu besar.

133
Dia menemukan bahwa tujuan spesifik dan sulit menyebabkan kinerja tugas lebih baik
dari tujuan yang mudah. Beberapa tahun setelah Locke menerbitkan artikelnya, penelitian lain
yang dilakukan Dr. Gary Latham, yang mempelajari efek dari penetapan tujuan di tempat
kerja.
Penelitiannya mendukung persis apa yang telah dikemukakan oleh Locke mengenai
hubungan tak terpisahkan antara penetapan tujuan dan kinerja. Pada tahun 1990, Locke dan
Latham menerbitkan karya bersama mereka, ‘A Theory of Goal Setting and Task
Performance’.
Dalam buku ini, mereka memperkuat argumen kebutuhan untuk menetapkan tujuan spesifik
dan sulit.
Edwin A. Locke. Courtesy: leansystemsinstitute.com

2. Prinsip-prinsip Goal Setting


A. Kejelasan.
Tujuan harus jelas terukur, tidak ambigu, dan ada jangka waktu tertentu yang
ditetapkan untuk penyelesaian tugas. Manfaatnya ketika ada sedikit kesalahpahaman
dalam perilaku maka orang masih akan tetap menghargai atau toleran. Orang tahu apa
yang diharapkan, dan orang dapat menggunakan hasil spesifik sebagai sumber
motivasi.

B. Tantangan.
Salah satu karakteristik yang paling penting dari tujuan adalah tingkat
tantangan. Orang sering termotivasi oleh prestasi, dan mereka akan menilai tujuan
berdasarkan pentingnya sebuah pencapaian yang telah diantisipasi. Ketika orang tahu
bahwa apa yang mereka lakukan akan diterima dengan baik, akan ada motivasi alami
untuk melakukan pekerjaan dengan baik. Dengan catatan sangat penting untuk
memperhatikan keseimbangan yang tepat antara tujuan yang menantang dan tujuan
yang realistis.

C. Komitmen.
Tujuan harus dipahami agar efektif. Karyawan lebih cenderung memiliki tujuan
jika mereka merasa mereka adalah bagian dari penciptaan tujuan tersebut. Gagasan
manajemen partisipatif terletak pada ide melibatkan karyawan dalam menetapkan
tujuan dan membuat keputusan. Mendorong karyawan untuk mengembangkan tujuan-
tujuan mereka sendiri, dan mereka menjadi berinisiatif memperoleh informasi tentang
apa yang terjadi di tempat lain dalam organisasi. Dengan cara ini, mereka dapat yakin
bahwa tujuan mereka konsisten dengan visi keseluruhan dan organisasi.

134
D. Umpan balik (feedback).
Umpan balik memberikan kesempatan untuk mengklarifikasi harapan,
menyesuaikan kesulitan sasaran, dan mendapatkan pengakuan. Sangat penting untuk
memberikan kesempatan benchmark atau target, sehingga individu dapat menentukan
sendiri bagaimana mereka melakukan tugas.

E. Kompleksitas tugas.
Faktor terakhir dalam teori penetapan tujuan memperkenalkan dua persyaratan
lebih untuk sukses. Untuk tujuan atau tugas yang sangat kompleks, manajer perlu
berhati-hati untuk memastikan bahwa pekerjaan tidak menjadi terlalu berlebihan.
Orang-orang yang bekerja dalam peran yang kompleks mungkin sudah memiliki
motivasi tingkat tinggi. Namun, mereka sering mendorong diri terlalu keras jika
tindakan tidak dibangun ke dalam harapan tujuan untuk menjelaskan kompleksitas
tugas, karena itu penting untuk memberikan orang waktu yang cukup untuk memenuhi
tujuan atau meningkatkan kinerja.
Sediakan waktu yang cukup bagi orang untuk berlatih atau mempelajari apa
yang diharapkan dan diperlukan untuk sukses. Inti dari penetapan tujuan adalah untuk
memfasilitasi keberhasilan. Oleh karena itu pastikan bahwa kondisi sekitar tujuan tidak
menyebabkan frustrasi atau menghambat orang untuk mencapai tujuan mereka.
Penentuan tujuan adalah sesuatu yang diperlukan untuk kesuksesan. Dengan
pemahaman teori penetapan tujuan, kemudian dapat secara efektif menerapkan prinsip-
prinsip untuk tujuan yang akan ditetapkan.

Implikasi Teori
 Teori ini jelas mempengaruhi cara organisasi mengukur kinerjanya. Dengan
menggunakan konsep penetapan tujuan yaitu adanya kejelasan, tujuan yang menantang,
dan berkomitmen untuk mencapainya. Memberikan umpan balik pada kinerja.
Mempertimbangkan kompleksitas tugas.
 Memungkinkan manajemen untuk melakukan diagnosis kesiapan, misalnya apakah
tenaga kerja, organisasi dan teknologi sesuai dengan program goal setting.
 Mempersiapkan tenaga kerja berkenaan dengan interaksi antara individu, komunikasi,
pelatihan (training) dan perencanaan.
 Penekanan pada sasaran yang harus diketahui dan dimengerti oleh manajer dan
bawahannya
 Mengevaluasi tindak lanjut untuk penyesuaian sasaran yang ditentukan.
 Tinjauan akhir untuk memeriksa cara pengerjaan dan modifikasi yang ditentukan.
Manajemen berdasarkan sasaran memberi kesempatan kepada tenaga kerja untuk
membuat penilaiannya sendiri mengenai hasil-hasil operasi, artinya jika ia

135
membicarakan hasil maka sebenarnya individu tersebut menilai dirinya sendiri dan
mungkin sekali mendapatkan wawasan mendalam bagaimana ia harus memperbaiki
sikapnya. cara-caranya atau kelakuannya.

3. Pendampingan
Upaya terus menerus dan sistematis dalam mendampingi (menfasilitasi) individu,
kelompok maupun komunitas dalam mengatasi permasalahan dan menyesuaikan diri
dengan kesulitan hidup yang dialami sehingga mereka dapat mengatasi permasalahan
tersebut dan mencapai perubahan hidup ke arah yang lebih baik. (Yayasan Pulih, 2011.
Pendampingan merupakan proses interaksi timbal balik (tidak satu arah) antara
individu/ kelompok/ komunitas yang mendampingi dan individu/ kelompok/ komunitas
yang didampingi yang bertujuan memotivasi dan mengorganisir individu/ kelompok/
komunitas dalam mengembangkan sumber daya dan potensi orang yang didampingi dan
tidak menimbulkan ketergantungan terhadap orang yang mendampingi (mendorong
kemandirian). (Yayasan Pulih, 2011)
Pendampingan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk maupun situasi dengan
pendekatan yang beragam baik formal maupun non formal, individu, kelompok maupun
komunitas.

A. Langkah-langkah Pendampingan

Fase pendampingan Keterangan

Persiapan Fasilitator harus mengetahui:

1. Gambaran umum komunitas


2. Kebiasaan
3. Kondisi sosio demografis
4. Isu bersama

Pengembangan kontak Fasilitator harus membangun kontak dengan calon


dampingannya. Ia harus memastikan bahwa hubungan mereka
dapat mengarah kepada relasi yang konstruktif. Fase ini akan
mempengaruhi pada kerja-kerja pendampingan selanjutnya.

Mengumpulkan data dan Setelah melewati fase kontak, hal terpenting dalam suatu
informasi aktifitas pendampingan ialah bagaimana mengumpulkan data-
data baik kuantitatif maupun secara kualitatif terhadap
masalah-masalah riil komunitas

136
Perencanaan dan analisa Ajaklah anggota terlibat mendiskusikan pokok-pokok masalah
yang sedang mereka hadapi. Pada fase ini, komunitas
mendiskusikan:

1. Menentukan tujuan khusus objektif dari aktifitas dan


mereka lakukan
2. Alternatif tindakan apa yang harus dilakukan untuk
mencapai tujuan

Pelaksanaan Setelah perencanaan matang, maka fase berikutnya ialah


bagaimana rencana-rencana komunitas itu dilaksanakan secara
konsisten

B. Prinsip-prinsip dalam pendampingan

Ada beberapa prinsip-prinsip penting dalam pendampingan komunitas sebagai berikut:

1. Pemberdayaan (Empowering).

Pemberdayaan diartikan sebagai pengembangan konsep diri agar lebih positif,


serta konstruksi pemahaman yang lebih kritis dan analitis mengenai kondisi lingkungan
sekitar. Dalam hal ini komunitas dalam menjalankan aktivitasnya mencoba berpijak
pada aktivitas “pemberdayaan” bukan melakukan “penjinakan” atau “pembodohan”
apalagi “penindasan” baik secara fisik maupun psikis.

2. Kesetaraan

Kesetaraan dimaknai sebagai adanya ruang kebebasan secara bersama dimana


dalam komunitas memiliki hak-hak dan kewajiban yang tidak dibeda-bedakan. Artinya
masing-masing anggota komunitas memiliki posisi yang setara dalam kelompok.

3. Partisipasi (Participation).

Partisipasi diartikan sebagai proses keikutsertaan untuk ambil bagian.


Partisipasi ini adalah sebuah kemutlakan bagi setiap warga komunitas. Hal ini akan
berimplikasi terhadap penganutan azas egaliterianisme dalam menjalankan komunitas.
Dalam bahasa Freire-an terkenal adagium : Semua Orang adalah Guru dan Semua
Orang adalah Murid.

137
4. Aktivitas (Activity).

Pendampingan dalam komunitas meniscayakan adanya aktivitas sebagai prosesi


pencapaian goal setting. Aktivitas dalam komunitas dapat dirumuskan oleh warga
komunitas itu sendiri (Fasilitator dan Peserta). Aktivitas tersebut hendaknya merupakan
aktivitas yang kreatif dan inovatif serta memiliki keberlanjutan (dilakukan secara rutin)
demi pencapaian tujuan dan target pendampingan.

C. Metode dan Teknik Pendampingan

Metode yang dikembangkan dalam aktivitas pendampingan antara lain adalah:

1. Koordinasi dialogis dengan pendekatan andragogi (pembelajaran untuk orang dewasa)


koordinasi diselenggarakan melalui komunikasi dialogis dengan mengedepankan
pertukaran ide, pikiran, dan gagasan secara demokratis berdasarkan prinsip
pembelajaran untuk orang dewasa.
2. Partisipatif melalui model diskusi kelompok terarah (focus group discussion).
Pengambilan keputusan dilakukan secara partisipatif sehingga tercapai suasana
demokratis dan kesetaraan sesuai dengan aspirasi masyarakat untuk mengatasi
permasalahannya.
3. Demokratis, keterbukaan dan bertanggungjawab.
4. Pendekatan Sosio-Teknis dalam proses pemecahan masalah dan pengambilan
keputusan, memperhatikan aspek soaial dan teknik yang sudah berlaku dan
dilaksanakan masyarakat setempat.
5. Pendekatan Budaya setempat dan lingkungan. Dalam proses pendampingan perlu
dipertimbangkan aspek lingkungan dan budaya setempat

D. Model Pendampingan
Model pendampingan yang dimaksud disini merupakan sebuah konsep yang dirancang
oleh pimpinan organisasi untuk mendampingi kader. dalam hal menentukan model
pendampingan diharuskan melihat sebuah konsep kaderisasinya karena semuanya akan
bermuara pada hasil yang diinginkan oleh organisasi. ada beberapa model-model
pendampingan yang sudah pernah dilakukan beberapa organisasi namun dibawah ini
model yang sering digunakan yakni model pendampingan clustering, berikut
penjelasannya :

- Clustering
Yakni merupakan pendampingan dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil
untuk mempermudah batasan sasaran yang akan diedukasi atau didampingi. Yang

138
mana dalam kelompok kecil ini nantinya akan ada instruktur dan pimpinan komisariat
yang akan mendampingi beberapa kader.
Contoh : 1 pimpinan dan 1 instruktur mendampingi 5 kader.

Referensi :

Buku hasil kajian forum Bidang Kader IMM UMM 2015-2016, Strategi pendampingan dan
goal setting

139
MATERI V

SISTEM MONITORING DAN EVALUASI

Kaderisasi dalam keorganisasian secara umum pada hakekaktnya adalah totalitas upaya
pembelajaran dan pemberdayaan yang dilakukan secara sistematis, terpadu, terukur, dan
berkelanjutan dalam rangka melakukan pembinaan dan pengembangan kognitif, afektif, dan
psikomotorik setiap individu. Sebuah organisasi tentunya ingin agar segala yang direncanakan
diawal berjalan sesuai dengan apa yang ditargetkan, akan tetapi pasti akan ada hal-hal yang
dapat menghambat jalannya perencanaan tersebut, hal ini tentunya membutuhkan curahan
waktu dan tenaga yang besar. Itulah kenapa dalam menjalankannya harus senantiasa menjaga
prinsip kerja kolektif dengan arah yang jelas, bukan kerja serampangan. Harus ada targetan,
harus ada sasaran, harus terprogram, harus terlaporkan, dan harus senantiasa di autokritik
(evaluasi) untuk memperkaya strategi dan taktik serta sebagai tolak ukur keberhasilan atau
kegagalan perkaderan maupun pengkaderan didalam sebuah proses kaderisasi.

Dalam menuju kerja massa yang komprehensif, propaganda luas keseluruh unit
organisasi dari tataran pimpinan da massa (kader) haruslah dijalankan secara merata dengan
tetap bersandar pada prinsip kerja kolektif. Untuk itu dalam menjalankan praktik kerja massa
kita harus senantiasa memiliki form kerja massa dalam proses perkaderan maupun pengkaderan
yang dijalankan. Hal in tentunya bertujuan untuk senantiasa menjaga prinsip terprogram dan
terlaporkan atas sebuah program yang direncanakan dalam melakukan kaderisasi dengan
sebuah konsep monitoring dan evaluasi. Monitorig dan evaluasi adalah pengukuran dan
perbaikan terhadap pelaksanaan fungsi kerja tertentu, agar rencana-rencana yang telah disusun
dapat mencapai sasaran.

A. Monitoring
Monitoring adalah proses pengamatan, pengumpulan, dan analisa data yang diteliti dari
informasi yang didapat sesuai dengan indikator serta memperbandingkan hasil aktual yang
diperoleh dengan hasil yang diharapkan dari program yang dirancang diawal.
Proses monitoring dilakukan untuk memperoleh fakta-fakta, data dan informasi dalam
proses pencapaian tujuan. Monitoring menghendaki pemonitor untuk secara langsung
melihat proses yang terjadi, juga dengan dukungan dokumen-dokumen dan pendapat-
pendapat dari yang dimonitor, hal ini dilakukan sebgai validasi proses monitoring. Data-
data dan fakta tersebut selanjutnya dijadikan sebgai rujukan untuk melakukan evaluasi
terhadap ptaktik kerja yag telah dilakukan, program yag disiapkan atau bahkan sampai pada
titik rencana yang sudah dibuat.
1. Fungsi-Fungsi Monitoring

140
Menurut William N. Dunn59, monitoring mempunyai 4 fungsi, yaitu :
1. Ketaatan (compliance), monitoring menentukan apakah tindakan administrator, staf,
dan semua yang terlibat mengkuti standar dan prosedur yang telah ditetapkan.
2. Pemeriksaan (auditing), monnitoring menetapkan apakah sumber dan layananan
yang diperuntukkan bagi pihak tertentu (target) telah mencapai mereka.
3. Laporan (accounting), monitoring menghasilkan informasi yang membantu
“menghitung” hasil perubahan sosial dan masyarakat sebagai akibat implementasi
kebijaksanaan sesudah periode waktu tertentu.
4. Penjelasan (explanation), monitoring menghasilkan informasi yang membantu
menjelaskan bagaimana akibat kebijaksanaan dan mengapa antara perencenaan dan
pelaksanaannya tidak cocok.
2. Prinsip-Prinsip Monitoring
1. Monitoring harus dilakuakn secara terus-menerus.
2. Monitoring harus menjadi umpan terhadap perbaikan kegiatan program organisasi.
3. Monitoring harus memberi manfaat baik terhadap organisasi maupun terhadap
pengguna produk atau layanan.
4. Monitoring harus dapat memotivasi staf dan sumber daya lainnya untuk berprestasi.
5. Monitoring harus berorientasikan pada peratura yag berlaku.
6. Monitoring harus obyektif, dan
7. Monitoring harus berorientasikan pada tujuan program.
3. Teknik-Teknik Monitoring
1. Observasi, adalah kunjuangan ke tempat kegiatan secara langsung, sehingga semua
kegiatan yang sedamg berlangsung atau obyek yang ada diobservasi dan dapat
silihat. Semua kegiatan dan obyek yang ada serta kondisi penunjang yang ada
mendapat perhatian secara langsung.
2. Wawancara dan angket, adalah cara yang dilakukan bila monitoring ditujukan pada
seorang. Instrumen wawancara adalah pedoman wawancara. Wawancara ada dua
macam yaitu wawancara langsung dan wawancara tidak langsung.
3. Focus Group Disscusion (FGD), adalah proses menyamakan persepsi mulai urun
rembug terhadap sebuah permasalahan atau substansi tertentu sehingga diperoleh
satu kesamaan (frame) dalam melihat dan menyikapi hal-hal yang dimaksud.
B. Evaluasi
Evaluasi adalah Assesment atau penilaian terhadap proses yang sedang berlangsung
sesuai program yang direncanakan diawal. Assesment juga merupakan bentuk analisa, dan
analisa pun amatlah penting dalam praktik kerja massa, sebab program dan rencana kita
didasarkan pada analisa kondisi yang senantiasa berubah dan berkembang. Dengan analisa

59
Seorang pakar manajemen, 1981

141
kita mengklarifikasi, mengurai satu persatu dengan rinci bagaiman melaksanakan tugas
dengan baik dan menuntaskan pekerjaan dengan tepat. Dalam proses evaluasi atau
assesment ada 2 jenis yang bisa dilakukan, yakni assesment kerja dan assesment situasi.
1. Assesment Kerja
Assesment Kerja merupakan analisa yang mengukur kondisi-kondisi, syarat-syarat atau
perkembangan implementasi sebuah program dan rencana yang dijalankan dalam suatu
proses kaderisasi. Contoh Assesment Kerja adalah assesment programatik yang
biasanya diadakan dengan pemaparan report (laporan tertulis) yang sudah dipersiapkan
dari hasil investigasi dan informasi yang juga didapat dari setiap praktik massa yang
telah dilakukan.
2. Assesment Situasi
Assesment situasi di pihak lain merupakan analisa ciri-ciri situasi dan segala kondisi
sumber daya manusia atau para organizer. Assesment situasi mengklarifikasi kapasitas
kita dalam meningkatkan kaderisasi. Contoh assesment Situasi adalah assesment yang
menganalisa kekuatan dari internal para organizer dalam meningkatkan kapasitas diri
berserta melakukan perbaikan diri. Hal ini tentunya hatus senantiasa di autokritik untuk
memperkaya strategi dan taktik kaderisasi.

Assesment akan menunjukan apa yang kurang sehingga dapat kita tambahkan
kelemahan atau kekurangan yang harus kita atasi, yang harus kita perbaiki dan untuk tugas-
tugas yang harus kita lakukan hi hari esok. Dengan assesment kita akan memperjelas
kebutuhan-kebutuhan dan tanggung jawab-tanggung jawab yang perlu ditingkatkan. Hal ini
akan menunjukkan bahwa kita awas dengan situasi dan peristiwa-peristiwa setiap program
kaderisasi. Assesment akan memberi kita petunjuk yang tepat, segera, dan rincidalam
pembuatan planning pelaksanaan tugas kita secara benar dan tepat dari pra pelaksanaan,
pelaksanaan hingga pasca pelaksanaan60.

1. Fungsi Evaluasi
Evaluasi menurut Moh. Rifai adaah sebagai kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari
kegiatan monitoring, yang memiliki fungsi sebagai berikut :
1. Evaluasi sebagai pengukur kemajuan
2. Evaluasi sebagai alat perencanaa, dan
3. Evaluasi sebagai alat perbaikan.
2. Kriteria Evaluasi
a. Impact : Perubahan apa yang dihasilakn oleh kegiatan dan apakah ada perubahan
yang tidak diharapkan atau tidak direncanakan atas sebuah program.

60
Sistem perkaderan Ikatan (SPI)

142
b. Efektifitas : Aspek ketercapaian tujuan dan apakah outputan hasil mengarah pada
dampak yang diharapkan diawal ketikan perencanaan program.
c. Efesiensi : apakah kebutuhan tersedia dalam waktu dan kuantitas maupun
kualitasnya.
d. Keberlanjutan : apakah keuntungan dapat dijaga untuk beberapa periode yang
diharapkan setelah program telah selesai.
e. Relevansi : apakah tujuan kegiatan konsistensi dengan kebutuhan.
3. Prinsip-Prinsip Evaluasi
Evaluasi program kaderisasi harus bersifat akurat. Untuk itu terdapat 5 kriteria yang
digunakan dalam mengukur efektifitas evaluasi, yaitu :
A. Validitas, validitas berkaitan dengan apa yang akan diukur dan instrument apa yang
akan digunakan untuk pengukuran (indikator), ada 4 tipe :
A.1. Validitas isi
Berkenaan dengan kesanggupan indikator atau alat penilaian dalam mengukr isi
materi yang seharusnya diukur
A.2. Validitas Bangun Pengertian
Berkenaan dengan kesanggupan indikator atau alat penilaian untuk mengukur
pengertian-pengertian yang terkandung dalam materi yang diukur, contoh : sebuah
konsep tentang hubungan sosial perlu diuraikan indikator empirisnya seperti : dapat
bergaul, menerima pendapat orang lain dan sebagainya.
A.3. Validitas Ramalan
Apakah indikator atau alat penilaian tersebut dapat digunakan untuk meramal ciri,
pelaku tertentu atau kriteria tertentu yang diinginkan, misalnya alat penilaian untuk
memotivasi belajar, apakah dapat digunakan untuk meramal prestasi kerja, artinya
apakah terdapat hubungan yang positif antara motivasi dan prestasi belajar.
A.4. Validitas Kongruen
Adalah validitas yang diperoleh dari perbandingan antara hasil test dengan hasil
pengamatan.
B. Realibilitas/Sahih, realibilitas menunjuk pada konsistensi dan stabilitas
pengukuran , dengan kata lain evaluasi dikatakan realible atau sahih jika memiliki
hasil yang konsisten. Evaluasi dikatakan realible jika nilai sektor atau skor tidak
menunjukan perubahan meskipun dilakukan pada waktu yang berbeda.
C. Utilitas, metode evaluasi yang dipilih tidak hanya valid dan memiliki variable lebih
lengkap akan tetapi juga harus mudah ketika digunakan.
D. Kontinuitas/berkesinambungan, artinya evaluasi harus senantiasa dilakukan
secara berlanjut atau kontinyu.
E. Holistik/Menyeluruh, artinya keseluruhan aspek dan komponen program harus
serta dievaluasi.

143
4. Proses Perkaderan IMM
a. Evaluasi Pra Perkaderan
Yaitu evaluasi yang menyangkut input (peserta) dan perangkat keras perkaderan.
Tujuan evaluasi ini adalah :
1. Mendapatkan gambaran tentang kesiapan teknis pengelolaan perkaderan dalam
penyelenggaraan sebuah program.
2. Mendapatkan gambaran kemampuan awal dan kesiapan perserta perkaderan.
3. Memperoleh kejelasan tujuan program perkaderan.
Variabel-variabel yang perlu dievaluasi:
a. Kesiapan administrasi program perkaderan, meliputi :
1. Ketersediaan bahan dan alat belajar.
2. Ketersediaan materi/modul belajar.
3. Ketersediaan ruang belajar dan penataan ruangnya.
4. Kesiapan lembar monitoring dan tenaga pembamat/monitoring forum.
5. Instrument : monitoring dan checklist.
b. Kemampuan awal peserta perkaderan, meliputi :
1. Latar belakang kemampuan organisasi.
2. Latar belakang ideologi/paham keagamaan.
3. Latar belakang pendidikan.
4. Minat, bakat dan prestasi yang telah diraih.
5. Pelatihan dan perkaderan yang pernah diikuti.
6. Kemampuan pengetahuan, wawasan, dan bacaan.
7. Penguasaan keterampilan yang berkenaan dengan substansi perkaderan.
8. Aspek ibadah.
9. Kelebihan dan kekurangan peserta.
10. Instrumen : mintoring dan checklist.
c. Perumusan tujuan program, meliputi :
1. Sejauh mana program perkaderan telah dirumuskan secara spesifik atau
bersifat khusus.
2. Sejauh mana program perkaderan telah dirumuskan secara realistik.
3. Sejauh mana program perkaderan dapat devaluasi hasil capainya nanti
setelah selesai pelaksanaan pengkaderan (evaluasi dampak perkaderan).
4. Instrumen :monitoring dan checklist.
b. Evaluasi saat perkaderan
Yaitu evaluasi yang menyangkut alur perkaderan, materi, perkembangan peserta,
internal instruktur dan pemateri dalam perkaderan.
Tujuan evaluasi ini adalah :

144
a. Mendapatkan pengetahuan tentang proses belajar mengajar dalam program
perkaderam.
b. Menilai daya serap peserta.
c. Menilai aktivitas diluar sesi materi seperti : kedisiplinan, ibadah, kerjasama, dan
kepemimpinan.
d. Penentuan kelulusan peserta perkaderan.
Variabel-variabel yang dievaluasi :
1. Kemampuan tenaga pengajar, meliputi :
a) Keterampilan membuka pelajaran.
b) Keterampilan menguraikan materi.
c) Ketersesiaan bertanya.
d) Ketersediaan menjawab pertannyaan.
e) Penguasaan materi.
f) Keterampilan menggunakan metode.
g) Kemampuan memberikan penguatan.
h) Penampilan di depan forum.
i) Kemampuan menarik perhatian di depan peserta.
j) Keterampilan membimbing diskusi.
k) Keterampilan menutup pelajaran.
l) Instrumen : monitoring, checklist, dan quisioner (untuk peserta).
2. Daya serap peserta perkaderan, meliputi :
a) Penguasaan materi yang telah diberikan, instrumen : pre-test, post-test,
dan penugasan.
b) Penguasaan keterampilan yang telah diberikan.
c) Penguasaan sikap yang telah diberikan.
d) Tingkat keaktifan, prakarsa, dan kemimpian, instrumen : monitoring.
3. Aktivitas non sesi materi, meliputi :
a) Kedisiplinan.
b) Ibadah.
c) Kerjasama.
d) Kepemimpinan.
e) Kemampuan khusus.
f) Instrumen : monitoring.
c. Evaluasi Pasca Perkaderan
Yaitu evaluasi yang menyangkut penyusunan hasil perkaderan oleh instruktur
termasuk rekomendasi dan follow up serta laporan hasil pengelolaan.
Tujuan evaluasi :

145
- Mendapatkan gambaran tentang efek perkaderan bagi peningkatan kemampuan
individu peserta perkaderan pasca pelaksanaan.
- Mendapatkan gambaran tentag dampak perkaderan bagi peningkatan kualitas
organisasi.
Variabel yang dievaluasi, meliputi:
- Kemampuan peserta perkaderan
- Dampak pelatihan terhadap peningkatan kualitas organisasi.
C. Kesatuan Monitoring dan Evaluasi61
Indikator keberhasilan sebuah organisasi dalam menjalankan programnya dilihat dari
kesesuaian proses dengan apa yang direncanakan, kesesuaian dalam encapaian tujuan,
penggunaan dan pemanfaatan sumber daya yang efektif dan efesien, serta kemampuan
dalam memberikan jaminan terhadap kesesuaian proses dan pencapaian tujuan melalui satu
mekanisme kendali yang harmonis dan melekat utuh dalam sistem monitoring dan evaluasi.
Mekanisme kendali yang dimaksudkan adalah subuah upaya sistemik yang merupakan
bagian dari manajemen untuk mengamankan sistem dimana setiap komponen dari sistem
memiliki satu keterpaduan dari tidak terjadi penyimpangan yang besar dari rencana yang
sudah dibuat. Sebagai sebuah mekanisme, kendali yang terjadi memadukan antara tuntutan-
tuntutan atas pelaksanaan standar pekerjaan dan kedewasaan secara psikologi sebagai
bagian dari tanggung jawab anggota organisasi.
Ada perbedaan yang signifikan antara monitring dan evaluasi. Jika monitoring
digunakan untuk menelusuri/membandingkan indikator yang ada dengan capaian/targetan
yang sudah ditentukan secara spesifik maka evaluasi cakupannya lebih luas lagi, yaitu
mempertimbangkan kemajuan yang ada dengan tujuan yang telah ditentukan, the logic of
the initiative, dan konsekuensi-konsekuensinya.
Meski demikian, kedua-duanya diperlukan untuk mengelola kebijakan dan
program/kegiatan agar lebih baik lagi. Monev (Monitoring dan Evaluasi) yang efektif adalah
dengan melihat bahwa monitoring dan evaluasi bukanlan suatu sistem yang terpisah,
melaikan sebagai satu kesatuan yanh komplementer. Sifat komplementer ini dapat
dijelaskan sebagai berikut: ketika tujuan monitoring adalah menjelaskan tujuan
programmaka tujuan evaluasi adalah menganalisis mengapa hasil bisa di capai atau tidak
bisa dicapai. Ketika tujuan monitoring adalah mengaitkan aktivitas dan sumber daya dengan
tujuan yang akan dicapai maka tujuan evaluasi adalah menilai efektiftas dari asing-masing
aktivitas terhadap program yang disusun. Ketika tujuan monitoring adalah menurunkan
tujuan menjadi kinerja pelaksanaan dan target maka tujuan evaluasi adalah mengkaji proses
pelaksanaannya. Ketika tujuan monitoring adalah secara reguler mengumpulkan data dari

61
Bekerja secara ceroboh , sehingga serampangan dalam bekerja, berbual dengan panjang lebar tanpa adanya
report (data tertulis) dan puas akan pengetahuan yang dangkal karena belum teruji dengan praktik nyata adalah
efek yang seakan akan menganggap remeh akan pentingnya proses monitoring dan investigasi. Hal ini senantiasa
membuat semakin jauh meninggalkan esensi dari evaluasi itu sendiri.

146
indikator suatu target da membandingkan hasil dengan target maka tujuan evaluasi adalah
mengeksplorasi potensi efek sampingnya. Dan ketika tujuan monitoring melaporkan
kemajuan dan masalah pada pengelolaan program, maka tujuan evaluasi adalah
menyediakan informasi pembelajaran, capaian dan penjelasan terkait serta menawarkan
solusi atas permasalahan yang didapat.
Kegiatan monitoring senantiasa berbasis pada data atau fakta yang ada, berpedoman
pada proses kerja yang berlaku dan pada pencapaian rencana kerja. Evaluasi hanya bisa
dilakuakn jika hasil monitoring telah didapatkan. Jika pencapaian kerja tidak dapat diukur
maka rrencana kerja tidak dapat dikendalikan. Jika tidak dapat dikendalikan maka tidak
dapat diperbaiki. Jika tidak dapat diperbaiki maka tidak dapat bersaing. Jika tidak dapat
bersaing maka tidak dapat bertahan.

D. Contoh Form Monitoring dan Evaluasi.

Form monev pemateri

Nama instruktur :

Nama pemateri :
Penilaian Ket Nilai
Pemahamanmateri
 Sistematikapenyampaiansesuaisilabus

 Penguasaan Materi

 Contoh-contoh yang diberikan


Indikator :
Baik : Mampu menyampaikan secara sistematis silabus yang ada, serta mampu
menjelaskan dan mengambangkan materi
Cukup : Tidak sistematis, tapi mampu menjelaskan dan mengembangkan materi atau
sebaliknya
Kurang : tidak sistematis dan ada point silabus yang tidak tersampaikan
Pembawaan forum
 Interaksidenganpesertakeseluruhan
Indikator :
Baik : Pemateri mampu berkomunikasi 2 arah (Interaktif dengan peserta)
Cukup : Pemateri minim interaksi (sekali dua kali saja) dengan peserta
Kurang : Tidak ada interaksi dengan peserta

147
Form monev peserta

Nama instruktur :

Namapeserta Ke-aktifan (berpendapat, Tingkahlaku


menyampaikanpandangan) (kontrakbelajar)

Referensi

Buku hasil kajian forum Bidang Kader IMM UMM 2015-2016, Sistem Monitoring dan
EvaluasI

148
MATERI VI

ANALISA DAN PENGEMBANGAN POTENSI KADER

Materi ini merujuk pada SPI yang mengatakan bahwa salah satu tujuan kaderisasi adalah
mengembangkan kapasitas seorang individu. Berbicara kapasitas salah satu kaitan eratnya
adalah tidak bisa lepas dari kompetensi yang dimiliki oleh seorang individu. Kompetensi atau
keahlian yang dimiliki oleh manusia memang harus menjadi perhatian utama dari seroang
intrukutur agar mampu menjadi jembatan bagi para kadernya dalam mengembangkan kapasitas
atau kompetensi yang dimilikinya. Untuk melakukan hal itu, membutuhkan proses yang sangat
panjang dan persiapan yang matang. Agar kita tahu dan mampu melakukan hal itu, sekiranya
kita melakukan tahapan demi tahapan berikut ini

1. Seorang instruktur harus menganalisa potensi-potensi dari kadernya. Hal ini daapat
dilakukan dengan cara melihat kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh kader, minat,
atau bakat yang dimiliki, contoh minat membaca, berbakat dalam retorika dll. Analisa
yang dilakukan itu nantinya akan menghasilkan sebuah bentuk kompetensi seperti,
kompetensi dalam bidang olah raga, memimpin dan kompetensi yang lain.
2. Setelah melakukan proses analisa pada kader, yang dilakukan oleh seorang inrtuktur
adalah mebgkategorikan semua kompetensi yang telah dianalisa dan disimpulkan.
Kategori ini dilakukan dengan tujuan untuk memudahkan seorang intruktur dalam
mewadahi perkembangan dari komptensi setiap kader.
3. Menyiapkan wadah pengembangan bagi kader yang akan dikembangkan
komptensinya. Wadah tersebut merupakan ruang-ruang bagi kader untuk melatih
kompetensinya agar terasah dengan baik sehingga nanti dapat digunakan untuk
berdakwah atau pun digunakan untuk hal-hal yang diperlukan dalam ikatan.

Untuk dapat melakukan hal itu, seorang intruktur pun harus memiliki kompetensi agar
proses ini bisa berjalan dengan baik. Kemampuan monitoring, analisis dan pemahaman dan
kemampuan dalam mengembangkan potensi minimal dengan mampunya isntruktur
mneyediakan lahan aktualisasi bagi kader sangat penting dimiliki. Karena dengan kompetensi
itu nantinya yang akan membantu kader dalam mengembangkan potensi kadernya.

149
MATERI VII
MANAJEMEN PELATIHAN

Pelatihan dilaksanakan guna mengajarkan sejumlah pengetahuan, keterampilan dan


sikap yang dibutuhkan anggota / kader penggerak suatu organisasi atau untuk peningkatan
kemampuan dalam menjalankan aktivitas tertentu. Telah banyak metode pelatihan yang telah
dikenal, antara lain program pelatihan di tempat kerja (On the job training), pelatihan di kelas,
dan pelatihan vestibule (balai)—sejenis pelatihan dengan simulasi menggunakan peralatan
dalam laboratory setting. Saat ini telah dikembangkan pula pelatihan di alam terbuka (outdoor)
misalnya outbond management training, yaitumetode pelatihan di alam terbuka dengan
penekanan pada pengembangan kemampuan di bidang manajemen organisasi dan
pengembangan diri (personal development) yang disimulasikan melalui permainan-permainan
yang secara langsung bisa dirasakan oleh peserta dengan tujuan untuk meningkatkan motivasi
dan kepercayaan diri (personal development), berpikir kreatif (inovasi), rasa kebersamaan,
saling percaya (trust) dll.

Setiap pengelola pelatihan tidak dapat menggantungkan keberhasilan pelatihan dari


satu atau dua aspek saja, tetapi harus melihat secara komprehensif semua faktor yang dapat
mempengaruhi keberhasilan pelatihan tersebut. Salah satu aspek yang sangat penting tersebut
adalah aspek manajemen, yaitu bagaimana sebuah pelatihan dikelola dan diarahkan pada
pencapaian tujuan.

Manajemen Pelatihan

Manajemen pelatihan mencakup semua kegiatan yang secara langsung dimaksudkan


untuk mencapai tujuan-tujuan pelatihan. Prosesnya terbagi kedalam 3 (tiga) tahapan, yaitu
tahap perencanaan, tahap pelaksanaan serta tahap evaluasi dan tindak lanjut (follow up).

Pada tahap perencanaan, hal yang penting untuk diperhatikan adalah pembuatan desain
pelatihan yang harus disesuaikan dengan analisis kebutuhan pelatihan (Training Need
analisis). Selain itu, langkah-langkah antisipatif juga perlu dilakukan untuk mengantisipasi
masalah-masalah yang tidak diduga seperti pembicara yang berhalangan hadir, peubahan
jadwal acara, input peserta tidak cocok dsb. Prinsip yang harus dipegang dalam mempersiapkan
langkah antisipatif ini adalah Be Prepared Event The Worst.

Untuk penyusunan pelatihan umumnya melewati langkah-langkah sebagai berikut :

1. Identifikasi kebutuhan pelatihan

2. Penetapan tujuan dan sasaran pelatihan

150
3. Penetapan kriteria keberhasilan beserta alat ukurannya

4. Penetapan metode/desain pelatihan

Pada tahap pelaksanaan, prinsip yang harus dipegang adalah konsistensi (taat azas).
Pelaksanaan sering tidak sesuai dengan perencanaan karena penerapan fleksibilitas yang
berlebihan, sehingga pada tahapan ini kontrol dari Master of Training harus dilakukan secara
intensif terhadap setiap komponen pendukung pelatihan.

Evaluasi dilakukan setelah semua proses pelatihan dilewati dengan menggunakan alat
evaluasi yang disiapkan sebelumnya. Hasil evaluasi yang didapatkan akan digunakan sebagai
acuan untuk pelaksanaan follow up yang akan dijalankan pasca pelatihan. Untuk itu perangkat
evaluasi yang valid dibutuhkan untuk dapat mengukur dan memetakan kapasitas peserta,
sehingga kegiatan follow up yang diberikan tepat dengan hasil yang dicapai oleh masing-
masing peserta.

Untuk kriteria keberhasilan lazimnya digunakan empat kriteria evaluasi , yaitu :

1. Kriteria pendapat, yaitu kriteria yang didasarkan atas pendapat peserta pelatihan
(melalui kuisioner) mengenai program pelatihan yang tellah dilakukan.

2. Kriteria belajar, yang diperoleh melalui tes pengetahuan dan keterampilan

3. Kriteria prilaku, yang didapat dengan menggunakan tes keterampilan atau mengamati
secara langsung perubahan perilaku peserta.

4. Kriteria hasil, yang dihubungkan dengan hasil yang diperoleh pasca pelatihan

Proses sebuah pelatihan dapat digambarkan dalam tahapan seperti berikut :

Rincian tahapan perencanaan, pelaksanaan dan tindak lanjut (follow up) pelatihan

a. Tahap perencanaan

1. Persiapan yang dilakukan oleh penanggungjawab (pengurus)

151
 Rapat ditingkat pengurus/pimpinan penanggungjawab untuk penentuan rencana dan
langkah pelaksanaan

 Menyampaikan informasi

 Menyiapkan tim instruktur/stering dan panitia pelaksana

2. Persiapan yang dilakukan tim stering/pemandu

 Menyusun rencana pengelolaan pelatihan

 Pengadaan pengelolaan

 Identifikasi calon peserta

 Penetapan jadwal

 Pembagian kerja (job description)

3. Persiapan yang dilakukan panitia pelaksana

 Penyediaan makalah dan kelengkapan forum

 Penyiapan fasilitas

4. Final check

b. Tahap Pelaksanaan

1. Pelaksanaan acara

 Mengupayakan urutan-urutan jadwal sesuai dengan rencana

 Jika tidak mungkin, maka materi dapat bergeser sepanjang urutan penyajiannya tetap
logis (sesuai alur logika pelatihan)

 Bila pemateri tidak hadir, maka acara diisi oleh instruktur/pimpinan organisasi, olehnya
instruktur/pimpinan organisasi harus senantiasa siap.

2. Pengelolaan dan pengembangan peserta pelatihan, baik secara kelompok atau


individual

3. Evaluasi peserta, penceramah dan tim instruktur

4. Evaluasi pelaksanaan pelatihan

152
c. Tahap tindak lanjut (follow up)

1. Evaluasi tingkat keberhasilan peserta

2. Penugasan peserta/tugas pasca

3. Pertemuan berkala

4. Monitoring aktivitas peserta dan pengembangannya.

Contoh Program pelatihan yang didesain untuk menyiapkan atau meningkatkan


kemampuan peserta dalam memfasilitasi suatu pelatihan (fasilitator) serta pengelolaannya.

Dalam manajemen pelatihan tidaklah sederhana hanya mengenal persiapan, pelaksanaan


dan Pasca pelaksanaan. Namun dalam manajemen pelatihan kita harus mengetahui bagaimana
suatu agenda itu bisa berbentuk pelatihan, maka dari itu kita harus menganalisannya.

Dalam sebuah kegiatan bentuk pelatihan merupakan turunan dari konsep sebuah program
kerja karena berbicara bentuk pelatihan kita sudah berbicara ke tahap eksekusi program kerja.
Ada beberapa hal yang harus dipahami dalam menentukan bentuk pelatihan yakni kita harus
paham muncul dari program kerja tersebut, sekalipun eksekutor dilapangan maka suatu
keharusan untuk paham kenapa program kerja itu ada. Dalam skemanya bisa bisa seperti ini :

Membuat proker
harus memperhatikan
:
- Tujuan
organisasi/visi misi Bentuk agenda
organisasi (Pelatihan,
- Kondisi internal Diskusi, study
PROGRAM lapangan)
organisasi KERJA
(Pengorganisir,
massa)
- Kondisi eksternal
organisasi
Petunjuk
Pelaksana dan
Petunjuk
Teknis

Bentuk agenda merupakan tindak lanjut dari konsep program kerja, berbicara bentuk agenda
sangat banyak ada yang berupa pendidikan-pelatihan (DIKLAT), Diskusi, Studi lapangan, dll.

153
Namun untuk saat ini kita akan membahas secara detail terkait dengan bentuk pendidikan dan
pelatihan.

Bentuk pendidikan dan pelatihan (Diklat) merupakan suatu pola pelatihan yang disusun
secara sistematis mulai dari pra pelatihan  pelatihan  pasca pelatihan. Dalam bentuk
pelatihan ini akan dibahas juga mengenai alaur atau tahapan-tahapan dalam pelatihan ini
dengan tujuan dalam pelatihan ini bisa lebih efektif karena sudah melalui tahap POAC dengan
baik.

Seperti yang sudah disampaikan diatas bahwasannya berbicara alur kegiatasn dimulai dari
pra sampai pasca. Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan secara matang di tiap fasenya :

- Menentukan bentuk dari agenda atau kegiatan.


Dalam menentukan bentuk kegiatan ini harus lah sesuai dengan apa yang diinginkan
dari konsepan program kerja, dalam menentukan bentuk kegiatan ini ada beberapa
faktor yang harus di analisis :
o Faktor internal
 Kondisi pengorganisir dalam hal kesiapan
 Kondisi sasaran
 Kondisi keuangan organisasi
 Schedule organisasi
o Faktor eksternal
 Kampus
Ex : tugas, aktivitas perkuliahan
 Keluarga
Ex : pulang kampung, acara keluarga

Beberapa faktor diatas haruslah dianalisis lebih mendalam sehingga bentuk kegiatan
yang dihasilkan bisa tepat dan nantinya dalam hal pemobilisasian massa untuk ke agenda bisa
lebih maksimal. Namun untuk pembahasan yang kita kali ini kita akan pilih bentuk agenda
yakni pendidika-pelatihan atau bentuk Diklat

- Alur pelatihan
o Assesment,
Yaitu penilaian awal terhadap kondisi calon peserta secara umum yang
akan mengikuti pelatihan atau prosesi perkaderan
o Penjaringan (Sesuai kebutuhan),
Yaitu sebuah prosesi yang akan menjadi stimulus awal kepada sasaran
untuk mengikuti/mendaftar prosesi pelatihan.
o Pra Pelatihan

154
Merupakan pengondisian awal untuk mengetahui orientasi peserta dan
peserta sebelum pelatihan. Dalam pra pelatihan ini kawan-kawan terkadeng
menggunakan metode screening. Dalam menggunakan metode screening bisa
juga dipecah lagi menjadi pra screening dan screening, dalam pra screening
biasanya yang menjadi pembahasan: latar belakang organisasi (kalau untuk
DAD), alasan, kosekuensi, menumbuhkan kepercayaan diri. Kalau pas
screening biasanya lebih mengarah ke stimulus materi, dan informasi diklat
(kelengkapan, penyakit, keberangkatan)
o Pelatihan
Merupakan tahapan pokok perkaderan yang mana dalam tahapan ini
pemberian pemahaman terkait materi-materi pelatihan melalui elemen-elemen
dalam pelatihan

 Metode
 Ceramah partisipatoris
 Diskusi
 Workshop
 Dll (sesuai kondisi peserta)

 Kualifikasi Materi
 Materi ideologi
 Materi keorganisasian
 Materi wawasan
 Materi terapan
 Muatan Lokal

 Waktu
Merupakan alokasi waktu dalam pelatihan yakni mulai aktivitas :
 Kegiatan belajar (mendapatkan materi, diskusi)
 Istirahat
o Pasca Pelatihan
Bentuk follow up sesuai SPI terbagi menjadi dua; wajib dan pilihan
1. Wajib; Kajian yang terprogram
2. Pilihan ;
a. Pendampingan
b. Pelatihan
c. Pemagangan
d. Monitoring

155
e. Silaturrahim
f. Penugasan
o Evaluasi
Evaluasi yang dimaksud disini adalah untuk mengukur keberhasilam
perkaderan sebagai intropeksi dari setiap tahapan perkaderan
 Pra pelaksanaan
Yaitu evaluasi yang menyangkut input (peserta) dan perangkat
dalam perkaderan.
 Pelaksanaan
Yaitu evaluasi yang menyangkut pelaksanaan keseluruhan
kegiatan seperti alur perkaderan, materi, perkembangan, instruktur,
panitia, dan pemateri dalam perkaderan
 Pasca Pelaksanaan
Yaitu evaluasi yang menyangkut penyusunan hasil perkaderan
oleh instruktur termasuk rekomendasi dan follow-uup serta laporan
panitia penyelenggara.
- Perangkat Pelatihan
o Penanggung jawab :
Yaitu struktur pimpinan ikatan yang bertanggungjawab langsung secara
keseluruhan terhadap penyelenggaraan perkadera.
o Master of Training (MOT)
Adalah seseorang yang mendapat tugas memimpin dan secara umum
bertanggungjawab atas pelaksanaan prosesi kegiatan.
o Vice of Training (VOT)/Vice moot
Adalah seseorang yang mendapatkan tugas membantu MOT dalam
pelaksanaan prosesi kegiatan dan bertanggungjawab atas pelaksanaan
keinstrukturan.
o Imam of Training (IOT)
Adalah orang yang diberi tanggung jawab memandu pelaksanaan ibadah
keIslaman dan pelatihan.
o Instruktur
Adalah sekelompok orang yang diberi tanggungjawab secara langsung
atas keseluruhan prosesi dalam perkaderan.
o Panitia
Adalah tim teknis yang bertanggungjawab pelaksanaan perkaderan
sesuai kepentingan teknis.

Juklak juknis (petunjuk pelaksana dan petunjuk teknis)

156
Petunjuk pelaksana kegiatan adalah pengaturan yang memuat cara pelaksanaan
kegiatan, termasuk urutan pelaksanaannya.

Meliputi :

- Peserta kegiatan

Pra agenda

- Rapat pimpinan (dengan pembahasan-pembahasannya)


- Kualifikasi peserta
- Syarat pendaftaran
- Biaya pendaftaran
- Screening
o Prosedur screening
o Tugas eksekutor penyecreening
- Waktu pelaksanaan
- Panitia pelaksana
o Sie-sie yang dibutuhkan
o Tugas masing-masing Sie

Agenda

- Materi
- Workshop
- RTL

Pasca Agenda

- Evaluasi program dan pelaksanaan

Petunjuk teknis pengaturan yang memuat hal-hal berkaitan dengan teknis kegiatan, tidak
menyangkut wewenang dan prosedur.

Pra agenda

- Pelaksanaan rapat pimpinan


- Screening
o Waktu
o Eksekutor
- Panitia pelaksana
o Nama-nama panitia

157
o Waktu pengerjaan (biasanya ada time line)
Agenda
- Materi
o Macam-macam materi
- Workshop
o Macam-macam workshop
- RTL
o Waktu RTL

Pasca

- Evaluasi palaksanaan dan program


o Waktu evaluasi

Referensi :

Buku hasil kajian forum bidang kader IMM UMM 2015-2016, Manajemen Pelatihan

158
MATERI VIII

MANEJEMEN KELAS/FORUM

Manjemen Forum/kelas merupakan salah satu materi yang tujuannya melatih instruktur
dalam menjalankan proses pembelajaran di kelas. Manejemen kelas meliputi tata ruang di
dalam kelas, manejemen forum dan media yang diperlukan sebagai alat bantu dalam prosesi
pembelajaran. Selain itu kita juga harus mengetahui perangkat perangkat apas aja yang ada di
dalam foru/kelas. Adapun perangkat forum secara umum yang dimaksud antara lain.

1. Moderator sebagai orang yang mengontrol jalannya suatu diskusi atau rapat
2. Pemateri sebagai orang yang menyampaikan materi
3. Anggota forum

Manajemen dapat diarikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, pengawasan


dan penggnaan smber daya secara efektif, sedangkan forum dapat diartikan sebagai wadah
untuk membicarakan atau menyeleaikan sesuat dan yang membicarakan adalah orang banyak.

Etika forum untuk interupsi dalam forum dikelompokkan menjadi:

1. Point Interruption of Privilege, ijin menyela forum apabila ada keperluan mendadak dan
bersifat mendesak.

2. Point Interruption of Information, ijin menyela forum apabila ada informasi aau berita
mengenai perkembangan opini atau fakta di dalam mapun diluar forum.

3. Point Interruption of Clarification, ijin menyela forum apabila ada suatu alasan yang perlu
disampaikan oleh peserta.

4. Point Interruption of Justification, ijin menyela forum apabila ada suatu alasan, informasi
atau bukti tambahan yang perlu disampaikan.

5. Point Interruption of Order, ijin menyela forum apabila ada usulan baru atau usulan
tambahan.

Pengambilan keputusan dalam forum:

1. Keputusan perseorangan: pimpinan forum yang mengambil keputusan terakhir.

2. Keputusan demokratis: keputusan diambil dengan setengah jumlah suara ditambah satu.

3. Keputusan dengan suara terbanyak: diambil berdasar 2/3 suara terbanyak.

159
4. Keputusan dengan Hak Veto: satu suara tidak setuju maka berlaku sebagai pembatalan
keputusan.

5. Prinsip Aklamasi: satu keputusan bisa disahkan bila semua anggota sidang menyetujuinya.

6. Keputusan Kompromi: bukan saja akibat dari suatu usul akan tetapi juga saling
mempengaruhi antara suatu kesepakatan dan usul itu sendiri juga didiskusikan. Usul ini
mengalami perubahan sedemikian rupa sehingga mendapat persetujuan dari mereka yang
berkepentingan.

7. Prinsip Mufakat: satu usul dapat diterima apabila tidak seorangpun mempunyai keberatan
yang mendasar/prinsipil terhadap usul tersebut.

Referensi :

Edi Kurniawan. S.hum. Manajemen Forum, Disampaikan dalam LKMMNas XII PSMKGI

160
MATERI IX

PELATIHAN MICRO TEACHING

Sebagai seorang instruktur, salah yang menjadi tugas utama yang harus diajalankan
adalah menyusun sebuah strategi pembelajaran yang efektif dan bisa berjalan dengan lancar.
Jika seorang instruktur mampu menyusun hal itu, maka muatan-muatan dalam pembelajaran
(kaderisasi) yang dilakukan bisa disampaikan dengan baik pada subjek kaderisasi. Secara
praktik, hal itu bisa dilakukan dengan micro teaching. Micro teaching adalah pembelajaran
yang dilakukan dengan cara melatih seorang instruktur agar mampu menguasai komponen
kaderisasi yang ada. Bentuk terpenting dari micro teaching adalah praktik mengajar sebagai
bentuk ditampilkannya seorang instruktur dalam menyampaikan bekal yang telah diberikan.
Dalam hal ini bentuknya berupa materi-materi yang ada dalam kaderirasi dan bekal yang
lainnya yang telah dilatih.

Untuk melatih kemapuan micro teaching ini, maka ada tahapan yang harus dilaksanakan oleh
intruktur agar bisa menguasai komptensi MT ini.

1. Penyusunan RPP (Rencana Program Pembelajaran)


Suatu aktivitas akan berhasil bisa memiliki perencanaan yang matang. Dalam dunia
pendidikan, perencanaan pembelajaran menggunakan istilah RPP sebagai perencanaan
pembelajaran yang akan diberikan. Penyususnan RPP bagi seorang istruktur sangat
penting untuk dikuasai, karena akan memuat perencanaan-perencanaan yang nantinya
akan dipakai dalam menjalankan kaderirasi.
2. Kemampuan membuka materi
Dalam melakukan sebuah pembelajaran dengan model MT atau dengan model apapun
maka seorang intrukutur dalam meyampaikan materi harus tahu untuk membuka atau
memuali pembelajaran tersebut agar peserta atau kader yang akan dididik bisa dan
meyiapkan metalnya untuk menerima pembelajaran yang diberikan. Biasanya dalam
membuka sebuah pembelajaran ini dilakukan dalam bentuk salam, berdoa bersama,
pengantar materi yang dibawakan atau hal-hal yang memiliki kaitan dengan mental
peserta dan materi yang dibawakan.
3. Kemampuan menjelaskan
Kemampuan menjelaskan erat kaitannya dengan bagaimana seorang instruktur mampu
memberikan informasi kepada peserta didik dengan baik dan mudah dipahami. Faktor
penguasaan bahasa sangat penting untuk dimiliki oleh instruktur agar mampu
menyampaikan sebuah materi (informasi) dengan jelas dan mudah dipahami. Selain itu,
keterampilan ini akan bisa dikuasai bila didukung juga dengan kemampuan komunikasi
yang baik dan penguasaan materi yang disampaikan. Kemampuan ini juga
menitikberatkan seorang instruktur agar dalam menjelaskan sebuah materi atau dalam

161
menyampaikan informasi mampu memilah bahasa yang sebisa mungkin dipahami,
sehingga subtansi dari apa yang disampaikan sampai dan dipahami oleh peserta
4. Kemampuan memberikan penguatan
Keterampilan ini sangat penting dimiliki oleh seorang instruktur karena akan
bermanfaat pada bagaimana cara instruktur meumbuhkan perhatian peserta,
menumbuhkan dan memelihara motivasi, memudahkan pembelajaran dan
meminimalisisr perilaku negatif dari peserta.
5. Kemampuan menggunakan alat dan media untuk kaderisasi
Keterampilan ini sangat berguna untuk membantu seorang instruktur dalam
memahamkan materi kepada peserta, menyusun atau memperjelas konsep yang abstrak
agar menjadi kongkret. Hal ini juga akan membantu peserta mengingat materi dalam
waktu yang lama karena belajar menggunakan panca indera penglihatan.
6. Keterampilan mengevaluasi
Instruktur dipaksa untuk mampu mengevaluasi pembelajaran yang diberiikan dengan
tujuan untuk bisa dikembeangkan di kemudian hari sehingga menjadi lebih efektif.

162
MATERI X

MATERI KAJIAN AYAT LATIHAN INSTRUKTUR KOMISARIAT

Materi ini diberikan kepada calon istruktur tingkat komisariat dengan tujuan memberikan bekal
kepada mereka mengenai ayat-ayat yang diajarkan di dalam perkaderan nantinya, Terkhusus
untuk Darul Arqam Dasar.

1. al Fatihah ayat 1-7


Alfatihah memiliki banyak kandungan pengetahuan yang sangat penting untuk
diketahui oleh kader Muhammadiyah. Alfatihah adalah surah yang menjelaskan tentang
tiga macam tauhid yang kita kenal dengan tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan asma
wa sifat. Selain itu, kandungan lain dari surah alfatihah adalah adanya tiga tahapan yang
bisa menjadi falsafah hidup seorang manusia dalam kehidupan sehari-harinya, yaitu
memuji Tuhan dengan mu’jizat dan sifat yang dimilikinya, berpasrah pada apa yang
ditetapkan oleh Allah kepada ciptaannya dan ketiga mengenai doa yang dipanjatkan
oleh hamba Allah agar tidak menjadi individu yang sesat dan tak diberi petunjuk oleh
Allah.
2. Ali Imran ayat 104 dan 110
Ayat ini mengajarkan kepada kita mengenai pentingnya sebuah organisasi (sebuah
kelompom diantara kalian) untuk melakukan gerakan amar ma’ruf nahi munkar
sebagai tujuan dalam berdakwah. Dengan adanya organisasi yang dibangun dengan
tujuan dakwah tadi akan melahirkan sebaik-baik umat di antara taburan manusia yang
ada di bumi Allah ini.
3. An Nisa ayat 9
Ayat ini memiliki sebuah kandungan yang amat penting bagi setiap generasi-generasi
pada manusia. Ayat ini memerintahkan kepada generasi untuk tidak meninggalkan
sebuah generasi tanpa bekal. Ayat ini sebenarnya mengajarkan kita untuk terus
berkontribusi untuk melahirkan generasi yang mampu meneruskan perjuangan.
4. Al Mau’un 1-7
Mengantarkan peserta tahu makna dan mampun memaknai kandungan surat alma’un
5. Al Baqarah ayat 30, dan surat ini berisi mengenai tugas manusia di bumi ini, yaitu
sebagai Khalifah. Ayat ini diberikan agar istruktur mampu memberikan penjelasan
mengenai tuigas manusia diturunkan di muka bumi

163