Anda di halaman 1dari 30

BAB II

EKSISTENSI ETNIS ROHINGYA DI MYANMAR

A. SEJARAH ETNIS ROHINGYA DI MYANMAR

Setelah perang dunia ke-2, ketika pemerintahan Inggris dimulai kembali di

Burma, seluruh etnis Bengali yang kembali ke Bengala selama perang

berlangsung kembali ke Arakan. Mereka membawa banyak pendatang untuk

bermukim dengan mereka. Karena gelombang imigrasi tersebut, banyak warga

Arakan yang meninggalkan desa mereka yang terletak di wilayah Utara Arakan

dan pindah ke selatan.33

Desa-desa ini lalu diberi nama “Old or Deserted Villages” (desa tua atau

desa yang ditinggalkan), disebut juga Ywa-Haun dengan bahasa Burma (disebut

juga Rwa-Haun atau Ra-haun dalam pengucapan orang-orang Arakan). Penduduk

Bengali yang baru tersebut tidak dapat mengucapkan ‘Ra-Haun’ serta Ra-Haun-

Tha dengan benar, dan mengucapkannya dengan aksen Bengali mereka, masing-

masing menjadi “Ro-han” dan “Rohan-za”, yang kemudian melenceng

penyebutannya menjadi ‘Ro-han-ja’ dan akhirnya menjadi ‘Ro-hin-gya’.34

Para pelaut muslim pertama kali mencapai Burma pada Abad kesembilan,

pedagang yang pertama sekali disebut pada sejarah Burma, yang diasumsi adalah

orang-orang muslim, adalah dua anak laki-laki dari pedagang Arab yang

diselamatkan dari kapalnya yang karam di pesisir Martaban. Mereka diketahui


                                                                                                               
33
Khin Maung Saw, “Response to the Press Release of the ‘Rohingyas’ By Khin Maung
Saw, Berlin, Germany 2009”, https://democracyforburma.wordpress.com/2012/06/27/response-to-
the-press-release-of-the-rohingyas-by-khin-maung-saw-berlin-germany-2009-wontharnu/, diakses
24 Juni 2015.
34
Ibid.

22
  23

mencapai Burma pada tahun 1055, pada masa pemerintahan Raja Anawratha

(1044-1077)35

Pada awal tahun 1950-an, beberapa cendekiawan Muslim Bengali dari

bagian barat laut Arakan mulai menggunakan istilah “Rohingya” ini untuk

menyebut diri mereka. Mereka memang keturunan langsung imigran dari

Kabupaten Chittagong bagian Timur Bengala (sekarang adalah Bangladesh), yang

telah bermigrasi ke Arakan setelah provinsi tersebut diserahkan kepada India

Britania di bawah ketentuan-ketentuan Perjanjian Yandabo, suatu peristiwa yang

mengakhiri perang Inggris-Burma pertama (1824-1826).36

Sebagian besar pendatang ini menetap di area perbatasan Mayu, dekat

dengan tempat yang sekarang menjadi perbatasan Burma dengan Bangladesh

modern. Sebenarnya dalam catatan kolonial Inggris mereka disebut sebagai

“Chittagonians”.

Kaum Muslim di Negara Arakan dapat dibagi menjadi empat kelompok

yang berbeda, yaitu kaum Chittagong Bengali di perbatasan Mayu; keturunan dari

komunitas Muslim Arakan pada periode Mrauk-U (1430-1784) yang saat ini

hidup di Mrauk-U dan kota-kota di Kyauktaw; keturunan dari tentara bayaran

Muslim di pulau Ramree yang dikenal oleh bangsa Arakan sebagai Kaman; dan

kaum Muslim dari area pusat Burma yaitu Myedu, yang ditinggalkan oleh

                                                                                                               
35
Moshe Yegar, The Muslims of Burma: A Study of a Minority Group (Otto
Harrassowitz: Wiesbaden, 1972) hal 2.
36
Aye Chan, “The Development of a Muslim Enclave in Arakan (Rakhine) State of
Burma (Myanmar)”, 2005, hal 396.
  24

penjajah Burma di Kabupaten Sandoway setelah penaklukan Arakan pada tahun

1784.37

Pada awalnya kebanyakan dari mereka datang ke Arakan sebagai buruh

perkebunan yang datang saat dibutuhkan dan pulang setelah musim panen selesai.

R. B. Smart memperkirakan jumlahnya sekitar dua puluh lima ribu selama musim

panen saja. Dia menambahkan bahwa jumlah yang sama juga datang untuk

membantu proses pembajakan, untuk bekerja di pabrik dan di bagian

pengangkutan barang dagang. Sebanyak total lima puluh ribu imigran datang

setiap tahunnya (Smart 1957 : 99).38

Selain itu, keinginan akan tanah adalah motif utama bermigrasinya

sebagian besar orang-orang Chittagong ini. Catatan pengadilan inggris

menunjukkan peningkatan tuntutan hukum litigasi untuk kepemilikan atas tanah

pada dekade pertama abad kedua puluh. Hakim Kabupaten Akyab pada tahun

1913 melaporkan bahwa di Buthidaung, imigran dari Chittagong jika

dibandingkan dengan orang-orang dari suku Arakan proporsinya adalah 2-1, tetapi

6/7 dari litigasi atas tanah di pengadilan dimulai oleh orang-orang dari Chittagong

(Smart 1957 : 163).

Catatan kolonial lain memberikan pernyataan yang mencolok tentang

pemukiman imigran Bengali dari Kabupaten Chittagong, seperti: “Meskipun kami

berada di Arakan, kami melewati banyak desa yang ditinggali oleh pendatang atau

                                                                                                               
37
Ibid.
38
Ibid. hal 400.
  25

keturunan dari pendatang Muslim, dan kebanyak dari mereka adalah orang

Chittagong” (Walker 1981(I) : 15)39

Pemerintahan kolonial India menganggap orang-orang Bengali sebagai

subyek yang dapat diterima, dan melihat penduduk asli Arakan sebagai orang-

orang yang terlalu menentang, mereka memulai pemberontakan dua kali pada

tahun 1830-an. Kebijakan inggris juga menguntungkan bagi pemukiman

masyarakat pertanian Bengali di Arakan. Sebuah catatan colonial mengatakan:

Orang Bengali adalah ras yang cermat, yang dapat membayar dengan
mudahnya pajak yang dianggap berat oleh orang Arakan….(Mereka) tidak
kecanduan seperti halnya orang Arakan terhadap perjudian, dan rokok
opium, dan persaingan mereka secara bertahap dapat menggusur posisi
rakyat Arakan (Report of the Settlement Operation in the Akyab District
1887-1888: 21).40

Pemerintah Myanmar saat ini menganggap masyarakat Rohingya sebagai

"pendatang haram" yang tidak jelas asal-usulnya. Sebagai dampaknya, etnis

Muslim itu kini harus berjuang keras menghadapi penindasan yang dilakukan

etnis mayoritas Burma. Nyawa mereka pun menjadi taruhannya. Abu Tahay,

memaparkan sejarah keberadaan kelompok etnis tersebut dalam karya tulisnya,

"Rohingya Belong to Arakan and Then Burma and So Do Participate”.41

Di situ disebutkan, sejarah etnis Rohingya bermula ketika masyarakat

kuno keturunan Indo-Arya yang menetap di Arakan (Rakhine sekarang--Red)

memutuskan untuk memeluk Islam pada abad ke-8. Pada masa-masa selanjutnya,

generasi baru mereka kemudian juga mewarisi darah campuran Arab (berlangsung
                                                                                                               
39
Ibid.  
40
Ibid. hal 401.
41
Ahmad Islamy Jamil, Melacak Asal Usul Etnis Rohingya
http://www.republika.co.id/berita/koran/islam-digest-koran/15/05/31/np7roj-melacak-asal-usul-
etnis-rohingya, diakses 21 Juni 2015.
  26

pada 788-801), Persia (700- 1500), Bengali (1400-1736), dan ditambah Mughal

(pada abad ke-16).42

Ibukota Arakan pertama adalah Ramawadi yang dibangun oleh suku

Kanran dari kawasan Burma bagian atas. Raja pertamanya bernama Kanrazagyi

dengan ibukota dekat Kyaukadaung. Seribu tahun berikutnya, pada abad ke-2

sebelum Masehi, Chanda Suriya diangkat menjadi raja (S.W Cocks : 1919) enam

puluh tahun sebelum dinobatkannya raja Chanda, para pengungsi Burma berusaha

menginvasi Arakan. Namun upaya ini mampu digagalkan bangsa Arakandan

mereka justru dapat menduduki Prome dan Tharekhettara. Dengan demikian,

sampai kejatuhan raja Chanda pada tahun 976 A.D. tidak ada catatan sejarah

penting yang tercatat (S.W Cocks : 1919).43

Menurut catatan sejarah, ada beberapa versi asal muasal bangsa Rohingya

di sini, Pertama, ada yang mengatakan bahwa mereka bukanlah keturunan Arab

tetapi generasi Muslim Chittagonian yang berimigrasi dari Bengal saat Burma

dijajah oleh Inggris (Maug tha Hla 2009 : 20-21). Kedua, terminologi Rohingya

mulai dikenal untuk penamaan sebuah komunitas oleh sebagian kecil kaum

intelektual Muslim Bengal yang mendiami bagian tenggara Arakan di awal 1950-

an. 44

Mereka adalah keturunan para imigran berasal dari Chittagong Timur

Bengal (baca : Bangladesh sekarang) dengan perjanjian Yandabo saat perang

Inggris- Burma 1 berakhir (1824-1826). Ketiga, dalam skrip Ananda Chandra


                                                                                                               
42
Ibid.  
43
Kebijakan Pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Dalam Penyelesaian
Kekerasan Etnis Muslim Rohingya Di Myanmar, Skripsi oleh Diah Nurhandayani Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2013, hal 21.
44
Ibid. hal 23.
  27

dikatakan pada tahun 957 AD, terjadi migrasi populasi Tibeto-Burman Theraveda

Buddhist ke kawasan Arakan.

Dengan mengalahkan bala tentara Chandra mereka menguasai Arakan dan

orang-orang yang berparas seperti India kembali mendiami wilayah bagian utara

Arakan atau balik ke Bengal. Ini merupakan exodus orang berparas India pertama

ke Bengal.

Rohingya adalah masyarakat mayoritas Muslim dan minoritas Hindu yang

secara rasial berasal dari Indo-Semitic. Mereka bukanlah kelompok etnis yang

berkembang dari gabungan satu suku atau ras tertentu. Mereka adalah

percampuran dari Brahmin dari India, Arab, Moghuls, Bengalis, Turki dan Asia

Tengah yang mayoritas sebagai pedagang, pejuang dan juru dakwah datang

melalui laut dan berdiam di Arakan.

Pada zaman Chandra, mereka bercampur baur dengan masyarakat lokal

dan melahirkan generasi masyarakat Rohingya. Lebih dari itu, data modern

mengatakan bahwa eksistensi komunitas Rohingya dimulai sejak dekade ke-19

ketika pemerintahan colonial Inggris mulai mengimigrasikan orang India dan

Bengal kekawasan Arakan sebagai tenaga kerja kasar dengan upah murah.45

B. PENGATURAN MENGENAI STATUS KEWARGANEGARAAN

DALAM INSTRUMEN HUKUM INTERNASIONAL

Kewarganegaraan adalah ikatan hukum antara seseorang dengan suatu

Negara. Kewarganegaraan memberikan orang sebuah identitas diri, namun yang

                                                                                                               
45
Ibid. hal 24.
  28

lebih penting lagi, kewarganegaraan memungkinkan mereka memiliki dan

menggunakan berbagai macam hak yang melekat didalamnya.

Karenanya, tidak adanya kewarganegaraan atau keadaan tanpa

kewarganegaraan dapat membahayakan, dan bahkan dalam beberapa kasus dapat

menghancurkan hidup orang-orang yang bersangkutan.

Walaupun terdapat pengakuan internasional terhadap hak akan suatu

kewarganegaraan, kasus-kasus baru keadaan tanpa kewarganegaraan terus

meningkat. Mengatasi keadaan tanpa kewarganegaraan masih menjadi masalah

besar di abad 21 ini. Diperkirakan saat ini terdapat 12 juta orang yang tidak

berkewarganegaraan di seluruh dunia.46

Hubungan antara hukum internasional dengan hukum pengungsi

internasional, terletak pada jenis lapangan hukumnya. Aturan-aturan yang

bermacam-macam dapat digolongkan menjadi lapangan hukum tertentu. Khusus

hukum pengungsi internasional, sama halnya seperti pembagian dalam lapangan-

lapangan hukum yang ada. Pembagian seperti telah dikemukakan di atas sering

dikenal dengan pembagian hukum klasik.47

Status hukum seseorang yang mendiami suatu negara disebut dengan

warga negara. Status warga negara perlu dipergunakan untuk keperluan serta

melindungi setiap orang secara hukum. Nasionalitas atau kewarganegaraan

merupakan hal yang penting bagi setiap orang. Kewarganegaraan seseorang

                                                                                                               
46
UNHCR, “Melindungi Hak-Hak Orang-Orang Tanpa Kewarganegaraan: Konvensi
1954 tentang Status Orang-Orang Tanpa Kewarganegaraan”, 2010, hal 1.
47
Wagiman, S.Fil., S.H., M.H., Hukum Pengungsi Internasional (Jakarta: Sinar Grafika,
2012), hal 34-35.
  29

merupakan relasi yuridis yang terus menerus antara dua pihak, yaitu negara disatu

sisi dengan warga negara pada sisi yang lain.

Relasi itu mencakup serangkaian hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi

kedua belah pihak. Setiap negara memiliki hak penuh untuk menentukan

nasionalitas seseorang. Adapun instrumen internasional sebatas mengantisipasi

relasi warga negara dengan warga negara lain atau negara dengan warga negara

lain.Warga negara merupakan warga dari suatu negara. Seseorang disebut warga

negara suatu negara atau bukan ditentukan oleh hukum positif dari masing-masing

negara.

Pada hakikatnya negara memiliki tanggung jawab untuk melindungi setiap

warga negaranya. Namun pada kenyataannya seringkali terjadi negara tidak

mampu melaksanakan tanggung jawabnya, yaitu memberikan perlindungan

terhadap warga negaranya sebagaimana mestinya. Bahkan negara yang

bersangkutan justru melakukan penindasan terhadap warga negaranya.

Ketika negara yang bersangkutan tidak mau atau tidak mampu

memberikan perlindungan terhadap warga negaranya seringkali terjadi seseorang

mengalami penindasan yang serius atas hak-hak dasarnya, sehingga terpaksa

harus meninggalkan negaranya serta mencari keselamatan di negara lain.

Kewajiban negara asal yang tidak mampu lagi melindungi hak-hak dasar

warganya akan diambil alih oleh masyarakat internasional. Masyarakat

internasional melakukan upaya-upaya yang diperlukan guna menjamin dan

memastikan bahwa hak-hak dasar seseorang tetap dilindungi dan dihormati.48

                                                                                                               
48
Ibid hal 50-51.
  30

Sejumlah besar instrumen internasional mengatur mengenai hak seseorang

atas kewarganegaraan. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia 1948 sendiri

menyatakannya pada Pasal 15 yaitu bahwa "setiap orang memiliki hak untuk

berkewarganegaraan", dan bahwa "tidak seorangpun dapat secara sewenang-

wenang dicabut kewarganegaraannya, atau ditolak haknya untuk mengganti

kewarganegaraannya”.49

1. Convention Relating to the Status of Stateless Persons

Konvensi 1954 mengakui status hukum internasional “orang-orang tanpa

kewarganegaraan”. Pasal 1 menetapkan rumusan bagi orang tanpa

kewarganegaraan dalam hukum internasional:

“For the purpose of this Convention, the term “stateless person” means a
person who is not considered as a national by any State under the
operation of its law.”50

Berarti orang tanpa kewarganegaraan adalah “seseorang yang tidak

dianggap sebagai warga negara oleh Negara manapun dalam pelaksanaan hukum

negara tersebut”.

Rumusan ini sekarang juga diakui sebagai hukum kebiasaan internasional.

Orang-orang yang memenuhi definisi ini berhak akan hak-hak dan kewajiban-

kewajiban tertentu yang terdapat dalam Konvensi 1954. Konvensi ini tidak

mencakup apa yang disebut orang-orang yang secara de facto tidak memiliki

kewarganegaraan, yang mana tidak terdapat dalam rumusan yang diterima secara

umum dalam hukum internasional.

                                                                                                               
49
Universal Declaration of Human Rights, Pasal 15 ayat (1) dan (2).
50
Convention relating to the Status of Stateless Persons, Pasal 1.
  31

Akan tetapi, orang-orang yang secara de facto tidak memiliki

kewarganegaraan berhak akan perlindungan di bawah hukum hak-hak asasi

manusia internasional. Para pengungsi tanpa kewarganegaraan tercakup dalam

Konvensi 1951 mengenai Status Pengungsi dan harus diperlakukan sesuai dengan

hukum pengungsi internasional.51

Konvensi 1954 menjamin hak akan bantuan administrasi kepada orang-

orang tanpa kewarganegaraan (administrative assistance), 52 suatu hak akan

identitas diri (identity papers),53 dan dokumen perjalanan (travel documents),54

dan mengecualikan mereka dari persyaratan-persyaratan timbal balik (exemption

from reciprocity)55.

Konvensi ini menyatakan bahwa orang-orang tanpa kewarganegaraan

dapat mempertahankan hak dan kebebasan mendasar tanpa diskriminasi (non-

discrimination). 56 Hak tersebut termasuk hak milik (movable and immovable

property), 57 akses gratis ke pengadilan (access to courts), 58 akses terhadap

pekerjaan (wage-earning employment), 59 perumahan setidaknya seperti yang

diberikan kepada orang asing (housing), 60 dan pendidikan dasar dan bantuan

publik setara dengan apa yang warga negara terima (public education).61

                                                                                                               
51
UNHCR, “Melindungi Hak-Hak Orang Tanpa Kewarganegaraan”, Op. Cit. hal 4.
52
Convention Relating to the Status of Stateless Persons, Pasal 25
53
Ibid. Pasal 27.
54
Ibid. Pasal 28.
55
Ibid. Pasal 7.
56
Ibid. Pasal 3.
57
Ibid. Pasal 13.
58
Ibid. Pasal 16.
59
Ibid. Pasal 17.
60
Ibid. Pasal 21.
61
Ibid. Pasal 22.  
  32

Ketentuan-ketentuan yang diselaraskan ini dirancang untuk mengatasi

kesulitan-kesulitan khusus yang dihadapi oleh orang-orang tanpa

kewarganegaraan dikarenakan mereka tidak mempunyai kewarganegaraan

manapun, misalnya dengan memberi mereka sebuah dokumen perjalanan yang

diakui bagi orang-orang tanpa kewarganegaraan yang berfungsi sebagai pengganti

sebuah paspor.

Hal-hal ini tidak diatur di manapun dalam hukum internasional namun

berada di antara manfaat-manfaat hukum pokok untuk orang-orang tanpa

kewarganegaraan dalam Konvensi 1954.

2. International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR)

Hak atas kewarganegaraan tertulis pada Pasal 24 ICCPR yang

menetapkan:62

1. Every child shall have, without any discrimination as to race, colour,


sex, language, religion, national or social origin, property or birth, the
right to such measures of protection as are required by his status as a
minor, on the part of his family, society and the State.
2. Every child shall be registered immediately after birth and shall have a
name.
3. Every child has the right to acquire a nationality.

Terjemahan pasal:

1. Setiap anak harus memiliki, tanpa diskriminasi apapun dalam hal ras,
warna kulit, jenis kelamin, agama, asal-usul kebangsaan atau sosial,
kekayaan atau kelahiran, hak untuk langkah-langkah seperti
perlindungan yang dibutuhkan oleh statusnya sebagai minor, pada
bagian keluarganya, masyarakat dan negara.
2. Setiap anak harus didaftarkan segera setelah kelahirannya dan harus
memiliki nama.
3. Setiap anak berhak untuk memperoleh kewarganegaraan.

                                                                                                               
62
International Covenant on Civil and Political Rights, Pasal 24.
  33

Ketentuan ini bertujuan untuk mencegah anak dari ketiadaan perlindungan

negara karena anak tersebut tidak memiliki kewarganegaraan. Ketentuan ini tidak

mengharuskan suatu negara untuk memberikan kewarganegaraannya untuk setiap

anak yang lahir di wilayah negara tersebut. Namun, negara juga diminta untuk

melakukan tindakan yang tepat, baik secara internal maupun bekerjasama dengan

negara lain, untuk memastikan bahwa setiap anak memiliki kewarganegaraan

ketika ia dilahirkan. Tidak ada diskriminasi sehubungan dengan akuisisi

kewarganegaraan dalam hukum nasional negara tersebut baik untuk anak-anak

sah, anak yang lahir diluar nikah, anak yang lahir dari orang tua yang tidak

memiliki kewarganegaraan, maupun anak yang didasarkan oleh status

kewarganegaraan salah satu atau kedua orang tua.63

3. International Convention on the Protection of the Rights of All Migrant


Workers and Members of Their Families (ICRMW)

The Committee on Migrant Workers (CMW) terdiri dari 14 ahli

independen. Mereka bertugas mengawasi penerapan dari peraturan ICRMW.

Termasuk salah satu dari badan perjanjian PBB yang paling terakhir terbentuk,

komite ini mengadakan pertemuan pertama mereka pada bulan Maret 200464

                                                                                                               
63
Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights, “General
Comment No. 17: Rights of the child (Art. 24) : . 07/04/1989. CCPR General Comment No. 17.”
http://www.unhchr.ch/tbs/doc.nsf/0/cc0f1f8c391478b7c12563ed004b35e3?Opendocument,
diakses 22 Juli 2015.
64
Claiming Human Rights: Guide to International Procedures Available in Cases of
Human Rights Violations in Africa, “The Committee on Migrant Workers”,
http://www.claiminghumanrights.org/icrmw.html, diakses 22 Juli 2015.  
  34

Hak-hak pekerja migran sebagaimana ditetapkan oleh konvensi ini dibagi

menjadi dua kategori umum65:

• Hak-hak pekerja migran dan anggota keluarganya (Bagian III): berlaku

untuk semua pekerja migran (kecuali pekerja yang ilegal)

• Hak-hak tertentu pekerja migran dan anggota keluarganya (Bagian IV):

hanya berlaku untuk pekerja migran dalam situasi biasa

Terkandung dalam pasal 29 ICRMW:

“Each child of a migrant worker shall have the right to a name, to


registration of birth and to a nationality”66

Secara harafiah dijelaskan bahwa setiap anak dari pekerja migran memiliki

hak untuk mempunyai nama, untuk didaftarkan kelahirannya, dan atas

kewarganegaraan.

4. Convention on the Rights of the Child

Perlindungan terhadap kewarganegaraan dalam konvensi ini dimulai sejak

kelahiran anak. Ketentuan mengenai hal ini dinyatakan pada Pasal 7 dan 8,

sebagai berikut67:

Article 7
1. The child shall be registered immediately after birth and shall have the
right from birth to a name, the right to acquire a nationality and. as far
as possible, the right to know and be cared for by his or her parents.
2. States Parties shall ensure the implementation of these rights in
accordance with their national law and their obligations under the

                                                                                                               
65
Claiming Human Rights: Guide to International Procedures Available in Cases of
Human Rights Violations in Africa, “ Protected Main Rights of The ICRMW”,
http://www.claiminghumanrights.org/icrmw_protected_rights.html, diakses 22 Juli 2015.  
66
International Convention on the Protection of the Rights of All Migrant Workers and
Members of Their Families 1990, Pasal 29.
67
Convention on the Rights of the Child 1989, Pasal 7 dan 8.
  35

relevant international instruments in this field, in particular where the


child would otherwise be stateless.

Article 8
1. States Parties undertake to respect the right of the child to preserve his
or her identity, including nationality, name and family relations as
recognized by law without unlawful interference.
2. Where a child is illegally deprived of some or all of the elements of his
or her identity, States Parties shall provide appropriate assistance and
protection, with a view to re-establishing speedily his or her identity.

Sama halnya dengan International Covenant on Civil and Political Rights,

Convention on the Rights of the Child 1989 juga memberikan ketentuan yang

sama bahwa negara harus menjamin hak-hak ini untuk melindungi status

kewarganegaraan anak.

5. Convention against Torture and Other Cruel, Inhuman, or Degrading


Treatment or Punishment

Pada Pasal 6 ayat 3 konvensi ini ditentukan bahwa:

Article 6 (3):
“Any person in custody pursuant to paragraph 1 of this article
shall be assisted in communicating immediately with the nearest
appropriate representative of the State of which he is a national, or, if he
is a stateless person, with the representative of the State where he usually
resides.”

Terjemahan pasal:

Pasal 6 ayat 3:
“Setiap orang yang berada dalam ditahan berdasarkan ayat 1 dari
pasal ini, harus dibantu untuk segera berkomunikasi dengan perwakilan
terdekat dari negara dimana ia merupakan warga negara, atau, jika tidak
memiliki kewarganegaraan, harus dibantu untuk berkomunikasi dengan
perwakilan dari negara tempat ia biasanya berada.”

Konvensi ini memberikan perlindungan yang sama baik kepada warga

negara tertentu maupun kepada orang tanpa kewarganegaraan, karena pada pasal
  36

tersebut dijelaskan bahwa seseorang dapat dibantu melaporkan perlakuan atas

tindakan yang dilarang dalam konvensi tersebut terhadapnya, kepada wakil dari

negaranya yang berada pada negara tersebut, atau jika seseorang tersebut tidak

mempunyai kewarganegaraan, maka boleh melaporkannya kepada wakil dari

negara ia biasa bertempat tinggal.68

6. Convention on the Rights of Person with Disabilities

Ditetapkan melalui Resolusi Majelis Umum pada 13 Desember 2006 dan

mulai berlaku pada 3 May 2008. Konvensi ini bertujuan untuk melindungi hak

dan harga diri orang-orang penyandang cacat. Pihak dari perjanjian dituntut untuk

mendukung, melindungi dan memastikan kenikmatan penuh atas hak asasi

manusia untuk orang penyandang cacat dan memastikan mereka mendapatkan

kesetaraan penuh dalam hukum.

Article 18 - Liberty of movement and nationality


1. States Parties shall recognize the rights of persons with disabilities to
liberty of movement, to freedom to choose their residence and to a
nationality, on an equal basis with others, including by ensuring that
persons with disabilities:
(a) Have the right to acquire and change a nationality and are not
deprived of their nationality arbitrarily or on the basis of disability;
(b) Are not deprived, on the basis of disability, of their ability to obtain,
possess and utilize documentation of their nationality or other
documentation of identification, or to utilize relevant processes such as
immigration proceedings, that may be needed to facilitate exercise of
the right to liberty of movement;
(c) Are free to leave any country, including their own;
(d) Are not deprived, arbitrarily or on the basis of disability, of the
right to enter their own country.
2. Children with disabilities shall be registered immediately after birth and
shall have the right from birth to a name, the right to acquire a
                                                                                                               
68
Claiming Human Rights: Guide to International Procedures Available in Cases of
Human Rights Violations in Africa, “ Definitions of the Right to a Nationality”,
http://www.claiminghumanrights.org/nationality_definition.html, diakses pada 22 Juli 2015.
  37

nationality and, as far as possible, the right to know and be cared for
by their parents.

Pasal tersebut diatas menuntut hak orang-orang penyandang cacat untuk

mendapatkan kebebasan bergerak, kebebasan untuk memilih kependudukannya

dan kewarganegaraannya, menerima dan merubah kewarganegaraannya dengan

kapasitas yang sama dengan orang lain, dan juga mencegah penolakan atas dasar

penyandang cacat. Anak-anak yang menyandang cacat juga dilindungi hak atas

kewarganegaraannya dan juga hak untuk mengetahui dan diasuh oleh orang tua

mereka.

7. Convention on the Nationality of Married Women

Convention on The Nationality of Married Women melindungi

kewarganegaraan wanita dalam hal kehilangan atau akuisisi kewarganegaraan

oleh suaminya. Konvensi ini lahir karena status hukum wanita yang dikaitkan

dengan pernikahan, hal ini membuat wanita bergantung pada kewarganegaraan

suami mereka daripada wanita sebagai individu yang berdiri sendiri. Konvensi ini

menjunjung hak wanita untuk dapat mempertahankan hak atas

kewarganegaraannya sendiri tanpa memperhatikan status pernikahan.69 Ketentuan

tersebut dituangkan pada Pasal 1, 2 dan 3, sebagai berikut:

Article 1
Each Contracting State agrees that neither the celebration nor the
dissolution of a marriage between one of its nationals and an alien, nor
the change of nationality by the husband during marriage, shall
automatically affect the nationality of the wife.
Article 2

                                                                                                               
69
Convention on the Nationality of Married Women 1957
  38

Each Contracting State agrees that neither the voluntary


acquisition of the nationality of another State nor the renunciation of its
nationality by one of its nationals shall prevent the retention of its
nationality by the wife of such national.
Article 3
1. Each Contracting State agrees that the alien wife of one of its nationals
may, at herrequest, acquire the nationality of her husband through
specially privileged naturalization procedures; the grant of such
nationality may be subject to such limitations as may be imposed in the
interests of national security or public policy.
2. Each Contracting State agrees that the present Convention shall not be
construed asaffecting any legislation or judicial practice by which the
alien wife of one of its nationals may, at her request, acquire her
husband’s nationality as a matter of right.

8. Convention on the Reduction of Statelessness

Mulai berlaku sejak 19 Desember 1975, konvensi ini menguraikan

mekanisme UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees) dalam

menanggulangi dan mencegah masalah status tanpa kewarganegaraan. Konvensi

1961 menetapkan perlindungan terhadap status tanpa kewarganegaraan dalam

beberapa konteks yang berbeda.

Fokus utama dari Konvensi ini adalah pencegahan status tanpa

kewarganegaraan pada saat kelahiran dengan mewajibkan Negara untuk

memberikan kewarganegaraan kepada anak yang lahir di wilayah mereka, atau

dilahirkan oleh warga negara mereka yang berada di luar negeri, yang jika tidak

diberikan akan menjadi orang tanpa kewarganegaraan. Untuk mencegah status

tanpa kewarganegaraan dalam kasus tersebut, negara bisa memberikan

kewarganegaraan kepada anak-anak secara otomatis pada saat lahir atau

setelahnya melalui permohonan.

Konvensi ini selanjutnya berupaya untuk mencegah status tanpa


  39

kewarganegaraan di kemudian hari dengan melarang penarikan atau pencabutan

kewarganegaraan dari warga negara-baik melalui penurunan, penolakan, atau

perampasan kewarganegaraan – yang ketika dilakukan akan menghasilkan status

tanpa kewarganegaraan. Akhirnya, Konvensi ini menginstruksikan negara untuk

menghindari status tanpa kewarganegaraan dalam konteks pengalihan wilayah.70

9. International Convention on the Elimination of All Forms of Racial


Discrimination

Ditetapkan melalu Resolusi Majelis Umum 2106 (XX) 21 Desember 1969,

mulai berlaku pada 4 Januari 1969. Konvensi ini menuntut negara untuk

menjamin hak setiap orang, tanpa membeda-bedakan warna kulit, ras, asal usul

kebangsaan atau etnis untuk kesetaraan dalam hukum, dan menikmati hak-hak

yang ada dengan sepenuhnya, seperti hak politik untuk ikut serta dan

berpartisipasi dalam pemilihan umum, termasuk juga hak atas kewarganegaraan

yang termasuk dalam hak sipil yang dijamin pada konvensi ini. Ketentuan ini

dituangkan pada pasal 1 dan 5 yang berbunyi:

Article 1
1. In this Convention, the term “racial discrimination” shall mean any
distinction, exclusion, restriction or preference based on race, colour,
descent, or national or ethnic origin which has the purpose or effect of
nullifying or impairing the recognition, enjoyment or exercise, on an
equal footing, of human rights and fundamental freedoms in the
political, economic, social, cultural or any other field of public life.
2. This Convention shall not apply to distinctions, exclusions, restrictions
or preferences made by a State Party to this Convention between
citizens and non-citizens.
3. Nothing in this Convention may be interpreted as affecting in any way
the legal provisions of States Parties concerning nationality, citizenship

                                                                                                               
70
Introductory Note by the Office of the United Nations High Commissioner for
Refugees, on the Text of the 1961 Convention on the Reduction of Statelessness
  40

or naturalization, provided that such provisions do not discriminate


against any particular nationality.
Article 5
In compliance with the fundamental obligations laid down in
article 2 of this Convention, States Parties undertake to prohibit and to
eliminate racial discrimination in all its forms and to guarantee the right
of everyone, without distinction as to race, colour, or national or ethnic
origin, to equality before the law, notably in the enjoyment of the
following rights:
(c) Political rights, in particular the right to participate in elections – to
vote and to stand for election – on the basis of universal and equal
suffrage, to take part in the Government as well as in the conduct of public
affairs at any level and to have equal access to public service;
(d) Other civil rights, in particular: (...)
(iii) The right to nationality;

10. Convention on the Rights of the Child in Islam

Kovenan ini menjamin hak kewarganegaraan untuk anak dan bahwa

negara pihak akan melakukan segala upaya untuk menyelesaikan masalah tanpa

kewarganegaraan untuk setiap anak yang lahir di wilayah mereka atau kepada

warga negara mereka diluar wilayah mereka. Ditetapkan pada Pasal 7 yang

menyatakan:

Article 7: Identity
1. A child shall, from birth, have right to a good name, to be registered
with authorities concerned, to have his nationality determined and to
know his/her parents, all his/her relatives and foster mother.
2. States Parties to the Covenant shall safeguard the elements of the
child’s identity, including his/her name, nationality, and family
relations in accordance with their domestic laws and shall make every
effort to resolve the issue of statelessness for any child born on their
territories or to any of their citizens outside their territory.
3. The child of unknown descent or who is legally assimilated to this status
shall have the right to guardianship and care but without adoption. He
shall have a right to a name, title and nationality.
  41

11. American Declaration of the Rights and Duties of Man

Berbunyi hampir sama dengan konvensi-konvensi lain yang menjamin hak

seseorang untuk mendapatkan dan mengubah kewarganegaraan mereka, yang

dinyatakan sebagai berikut pada Pasal 19:71

Article XIX
“Every person has the right to the nationality to which he is
entitled by law and to change it, if he so wishes, for the nationality of any
other country that is willing to grant it to him.”

12. American Convention on Human Rights

Pasal 20 konvensi ini menetapkan bahwa setiap orang memiliki hak atas

kewarganegaraan dari negara dimana mereka dilahirkan jika ia tidak memiliki

kewarganegaraan dari negara lainnya. Ketentuan tersebut dapat mengurangi

jumlah orang yang tidak memiliki kewarganegaraan karena ketentuan dalam pasal

tersebut tidak membedakan latar belakang kewarganegaraan orangtua dari seorang

anak. Dinyatakan sebagai berikut:

Article 1: Obligation to Respect Rights


1. The States Parties to this Convention undertake to respect the rights
and freedoms recognized herein and to ensure to all persons subject to
their jurisdiction the free and full exercise of those rights and freedoms,
without any discrimination for reasons of race, colour, sex, language,
religion, political or other opinion, national or social origin, economic
status, birth, or any other social condition. [...]
Article 20: Right to Nationality
1. Every person has the right to a nationality.
2. Every person has the right to the nationality of the state in whose
territory he was born if he does not have the right to any other
nationality.
3. No one shall be arbitrarily deprived of his nationality or of the right to
change it.

                                                                                                               
71
UNHCR, “Extracts Relating to Nationality and Statelessness From Selected Universal
and Regional Human Rights instruments”, Last updated November 2009, hal 7.
  42

13. Commonwealth of Independent States Convention on Human Rights


and Fundamental Freedoms

Mulai berlaku sejak 11 Agustus 1998, Pasal 24 konvensi ini menyatakan

bahwa semua orang berhak atas kewarganegaraan dan tidak ada orang yang dapat

secara sewenang-wenang dicabut kewarganegaraannya atau hak untuk

merubahnya72

Article 24
1. Everyone shall have the right to citizenship.
2. No one shall be arbitrarily deprived of his citizenship or of the right to
change it.

14. Arab Charter on Human Rights

Mulai berlaku sejak 22 May 2004, Arab Charter on Human Rights juga

menyebutkan tentang hak setiap orang atas kewarganegaraan, dan tentang

pelarangan pencabutan kewarganegaraans secara semena-mena. Konvensi ini juga

mengharuskan Negara-negara Pihak untuk mengambil langkah-langkah yang

mereka anggap tepat, sesuai dengan undang-undang domestik mereka mengenai

kebangsaan, untuk memungkinkan anak untuk memperoleh kewarganegaraan ibu,

dengan memperhatikan, dalam semua kasus, untuk kepentingan terbaik sang anak.

Article 29
1. Everyone has the right to nationality. No one shall be arbitrarily or
unlawfully deprived of his nationality.
2. States parties shall take such measures as they deem appropriate, in
accordance with their domestic laws on nationality, to allow a child to
acquire the mother’s nationality, having due regard, in all cases, to the
best interests of the child.
3. No one shall be denied the right to acquire another nationality, having
due regard for the domestic legal procedures in his country.

                                                                                                               
72
Ibid. hal 8.
  43

Hukum internasional memberikan hak, kekuasaan, dan kewenangan

kepada negara itu untuk mengatur objek yang bukan merupakan masalah

domestik. Hukum internasional pula yang membatasinya. Secara garis besar,

jenis-jenis yurisdiksi negara dapat ditinjau berdasarkan pada: (1) hak, kekuasaan,

dan kewenangan untuk mengatur; (2) hak, kekuasaan, dan kewenangan atas objek

yang diatur; (3) hak, kekuasaan, dan kewenangan atas tempat atau terjadinya

objek yang diatur.73

Seperti halnya yurisdiksi kriminal, yurisdiksi sipil pun menyangkut hak

atau yurisdiksi negara atas peristiwa hukum sipil yang terjadi di tempat tertentu.

Dalam hal ini adalah peristiwa-peristiwa hukum sipil yang menyangkut aspek

internasional sehingga pengaturan dan penyelesainnya pada tahap awal terletak

pada hukum internasional. Jika menurut hukum internasional sudah jelas tentang

negara yang memiliki yurisdiksi atas suatu peristiwa sipil tersebut, negara yang

memiliki yurisdiksi itu akan menerapkan hukum nasionalnya atas peristiwa

tersebut.74

Maksud peristiwa hukum sipil, untuk masa kini memang sukar untuk

diberikan perumusan yang tegas dan pasti. Sama sukarnya dengan memberikan

perumusan tentang hukum perdata internasional dan hukum publik internasional.

Walaupun demikian, tidak berarti kita tidak perlu untuk membahas yurisdiksi sipil

ini. Sebab, suatu peristiwa sipil agar diselesaikan dengan tuntas, harus

dikembalikan di tiap-tiap negara. Untuk menentukan negara yang berwenang

untuk menyelesaikannya, pastikan lebih dahulu negara yang memiliki yurisdiksi


                                                                                                               
73
Dedi Supriyadi, M.Ag, Hukum Internasional Dari Konsepsi Sampai Aplikasi
(Bandung: Pustaka Setia, 2013) hal 133.
74
Ibid. hal 144.  
  44

sipil atas peristiwa hukum sipil tersebut. Dalam hal ini, hukum internasional

berperan mengaturnya atau memberikan petunjuk dan penyelesaian.75

Secara umum, negara bertanggung jawab dalam hukum internasional

untuk perbuatan atau tindakan yang bertentangan dengan kewajiban internasional

negara itu. Hukum internasional tentang tanggung jawab negara adalah hukum

internasional yang bersumber pada hukum kebiasaan internasional. Ia

berkembang melalui praktik negara-negara dan putusan-putusan pengadilan

internasional. ILC (International Law Comission) menerima seluruh Artikel

secara aklamasi.

Pengadilan-pengadilan internasional bahkan telah sejak lama mengutip

dan menyetujui rancangan artikel yang dibuat oleh ILC. Dengan demikian,

meskipun rancangan Artikel tidak menjelma sebagai konvensi, ia akan tetap

berpengaruh besar pada pengadilan-pengadilan internasional. Oleh karena itu,

sesuai dengan ketentuan Pasal 38 Ayat (1) Statuta Mahkamah Internasional

(International Court of Justice), yang berisi:

Article 38 (1):
The Court, whose function is to decide in accordance with international
law such disputes as are submitted to it, shall apply:
a. international conventions, whether general or particular, establishing
rules expressly recognized by the contesting states;
b. international custom, as evidence of a general practice accepted as law;
c. the general principles of law recognized by civilized nations;
d. subject to the provisions of Article 59, judicial decisions and the
teachings of the most highly qualified publicists of the various nations, as
subsidiary means for the determination of rules of law.

Terjemahan pasal:
Pengadilan, yang berfungsi untuk memutuskan sesuai dengan hukum
internasional sengketa-sengketa yang diajukan kepadanya, akan berlaku:

                                                                                                               
75
Ibid. hal 145.
  45

a. konvensi internasional, baik umum maupun khusus, yang mengandung


ketentuan-ketentuan hukum yang diakui oleh negara-negara yang
bersengketa;
b. kebiasaan-kebiasaan internasional sebagai bukti dari pada sesuatu
kebiasaan umum yang telah diterima sebagai hukum;
c. prinsip-prinsip hukum umum yang telah diterima sebagai hukum;
d. tunduk pada ketentuan pasal 59, keputusan pengadilan dan ajaran-
ajaran sarjana yang paling terkemuka dari berbagai negara-negara,
sebagai sumber tambahan untuk menetapkan kaidah-kaidah hukum.

Praktik tersebut akan semakin memperkuat kedudukan hukum kebiasaan

internasional (yang mengatur pertanggung jawaban negara) sebagai sumber

primer hukum internasional.76

Dengan semakin meningkatnya jumlah dan jenis orang-orang yang

terpaksa meninggalkan tempat kediaman atau negara mereka karena adanya

peristiwa-peristiwa dalam negeri, menyebabkan jenis orang yang mendapat

bantuan dan perlindungan dari UNHCR telah berkembang melebihi apa yang

telah ditetapkan dalam Statuta UNHCR itu sendiri.77

Tanggapan yang responsif dari masyarakat internasional tercermin dalam

resolusi yang dikeluarkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa dan

Dewan Ekonomi dan Sosial (Ecosoc) Perserikatan Bangsa-Bangsa misalnya

terhadap beberapa kasus pengungsi Afrika yang terjadi di tahun 1960-an.

Membanjirnya pengungsi Afrika ini sebagai akibat timbulnya konlfik bersenjata

dalam negeri pada negara-negara di Afrika. Sehingga memerlukan suatu pendekan

yang sedikit pragmatis dalam menentukan status pengungsi.

                                                                                                               
76
Ibid. hal 165-166.
77
Achmad Romsan ,SH., MH., LL.M., dkk., UNHCR Pengantar Hukum pengungsi
Internasional: Hukum Internasional dan Prinsip-Prinsip Perlindungan Internasional, (Bandung,
Sanic Offset 2003) hal 46.
  46

Perkembangan lain lagi adalah apa yang disebut dengan istilah “displaced

persons” atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan orang-orang yang terlantar

karena adanya huru hara, ataupun kejadian lainnya sehingga terjadinya migrasi

atau perpindahan penduduk secara besar-besaran. Tentu saja orang-orang yang

dikategorikan dalam pengertian displaced persons tidak dijumpai dalam definisi

pengungsi yang terdapat dalam statuta UNHCR.78

UNHCR berfungsi tidak saja memberikan perlindungan dan bantuan

terhadap para pengungsi yang melintasi batas wilayah negara mereka, tetapi juga

terhadap mereka yang ingin pulang secara suka rela (returnees) ke negaranya.

Disini UNHCR telah diminta oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa

untuk tetap melanjutkan kerja kemanusiaan sebagai bagian dari operasi repatriasi

sukarela.79

C. EKSISTENSI ETNIS ROHINGYA DI MYANMAR

Berita tentang Muslim Rohingya timbul menyusul konflik sektarian yang

terjadi antara etnis Rohingya yang sebagian besar adalah Muslim dan etnis

Rakhine yang mayoritas merupakan penganut Buddha. Penyebab konflik itu

sendiri tak begitu jelas. Namun, beberapa sumber menyebutkan bahwa kerusuhan

itu merupakan buntut peristiwa perampokan dan pemerkosaan terhadap

perempuan Rakhine bernama Ma Thida Htwe pada 28 Mei 2012.

Kepolisian Myanmar sebenarnya telah menahan dan memenjarakan 3

orang tersangka pelaku yang kebetulan dua di antaranya adalah etnis Rohingya.
                                                                                                               
78
Ibid. hal 47.  
79
Ibid. hal 48.
  47

Namun, tindakan itu ternyata tak cukup mencegah terjadinya kerusuhan di negara

bagian Rakhine yang terletak di bagian barat Myanmar itu. Pada tanggal 4 Juni,

terjadi penyerangan terhadap bus yang diduga ditumpangi pelaku pemerkosaan

dan kerabatnya. Tercatat 10 orang Muslim Rohingya tewas. Sejak itu, kerusuhan

rasial di Rakhine pun meluas.

Sebenarnya konflik antara etnis Rohingya dan Rakhine kerap terjadi sejak

puluhan tahun silam. Apa sebenarnya akar masalahnya? Salah satu akar konflik

menahun itu adalah status etnis minoritas Rohingya yang masih dianggap imigran

ilegal di Myanmar. Pemerintah Myanmar tak mengakui dan tak memberi status

kewarganegaraan kepada mereka. Sebagai akibat tiadanya kewarganegaraan, etnis

Rohingya tak bisa mengakses pendidikan, layanan kesehatan, dan bahkan

pekerjaan yang layak. Mereka betul-betul terabaikan dan terpinggirkan.80

Pemerintah Myanmar tak mengakui kewarganegaraan etnis Rohingya

karena menganggap kelompok Muslim ini bukan merupakan kelompok etnis yang

sudah ada di Myanmar sebelum kemerdekaan Myanmar pada 1948. Hal itu

ditegaskan kembali oleh Presiden Myanmar, Thein Sein, dalam Al Jazeera, 29 Juli

2012 bahwa Myanmar tak mungkin memberikan kewarganegaraan kepada

kelompok Rohingya yang dianggap imigran gelap dan pelintas batas dari

Bangladesh itu.

Akar konflik yang lain adalah adanya kecemburuan terhadap etnis

Rohingya. Populasi etnis Muslim Rohingya dalam beberapa dasawarsa ini terus
                                                                                                               
80
Anonim, “Mengenal Etnis Rohingya Dari Sudut Pandang Sejarah”,
http://www.untukku.com/berita-untukku/mengenal-etnis-rohingya-dari-sudut-pandang-sejarah-
untukku.html, diakses 24 Juli 2015.
  48

meningkat. Tentu saja, hal ini menyebabkan kecurigaan dan kecemburuan pada

etnis mayoritas Rakhine. Bagi mereka, keberadaan etnis Rohingya pun sangat

mungkin dianggap kerikil dalam sepatu, yakni sesuatu yang terus mengganggu.

Keberadaan etnis Rohingya dianggap mengurangi hak atas lahan dan ekonomi,

khususnya di wilayah Arakan, Rakhine yang menjadi pusat kehidupan etnis

Muslim ini.81

Sejatinya Rohingya tidak tepat disebut “etnis” karena kata itu merupakan

label politis yang digunakan untuk memperjuangkan keberadaan kelompok

tersebut di Myanmar. Beberapa sejarawan Myanmar mengatakan bahwa nama

Rohingya baru muncul pada tahun 1950-an, setelah kemerdekaan Myanmar. Lalu,

siapa sebenarnya mereka?

Dalam catatan PBB, Rohingya hanya disebut sebagai penduduk Muslim

yang tinggal di Arakan, Rakhine, Myanmar. Dari sudut kebahasaan, bahasa yang

diklaim sebagai bahasa Rohingya sebenarnya termasuk ke dalam rumpun bahasa

Indo-Eropa, khususnya kerabat bahasa Indo-Arya. Lebih detail lagi, bahasa

Rohingya dikategorikan sebagai bahasa-bahasa Chittagonia yang dituturkan oleh

masyarakat di bagian tenggara Bangladesh. Sementara itu, kebanyakan bahasa di

Myanmar tergolong rumpun Tai Kadal, Austroasiatik, atau Sino-Tibetan. Jadi,

jelas bahwa kelompok etnis Rohingya merupakan keturunan etnis Bengali,

khususnya sub-etnis Chittagonia yang tinggal di Bangladesh tenggara.82

                                                                                                               
81
Ibid.
82
Ibid.  
  49

Kemunculan pemukiman Muslim di Arakan sebagai cikal bakal kelompok

Rohingya terlacak sejak zaman Kerajaan Mrauk U, khususnya pada zaman Raja

Narameikhla (1430-1434). Setelah dibuang ke Bengal, Narameikhla lalu

menguasai kembali Mrauk U berkat bantuan Sultan Bengal. Seiring dengan

berkuasanya Narameikhla, masuk pula penduduk Muslim dari Bengal kewilayah

Arakan, Rakhine. Dalam perkembangannya, jumlah pemukim Muslim dari

Bengal terus bertambah, terutama ketika Inggris menguasai Rakhine. Karena

kurangnya populasi di Rakhine, Inggris memasukkan banyak orang Bengali ke

Rakhine untuk bekerja sebagai petani. Oleh karena itu, sampai saat ini pula,

kebanyakan orang Rohingya bekerja di sektor agraris.

Ketika Inggris melakukan sensus penduduk pada 1911, pemukim Muslim

di Arakan sudah berjumlah 58 ribu orang. Jumlah itu terus bertambah pada tahun

1920-an ketika Inggris menutup perbatasan India, sehingga orang Bengali

memilih masuk ke Rakhine. Sejak tahun-tahun ini pulalah mulai timbul konflik

dengan penduduk local yang mayoritas merupakan penganut Buddha.

Bertambahnya jumlah penduduk migrant membuat penduduk lokal khawatir.

Konflik yang terjadi antara kaum minoritas Rohingya dengan etnik-etnik

lain serta Pemerintah Myanmar merupakan kelanjutan dari sentimen kebangsaan

yang berakar dari sejarah kelam mereka. Sehingga, pertikaiannya bukan hanya

karena perbedaan warna kulit, bahasa dan kepercayaan semata, namun berasal
  50

dari kompleksitas permasalahan yang tidak bisa dengan mudah diselesaikan

begitu saja. 83

Dari perspektif historis, permasalahan Rohingya memiliki persamaan

dengan kasus genocide di Rwanda pada tahun 1994. Belgia yang menjajah

Rwanda sebelum kemerdekaannya menerapkan kebijakan sistem pemisahan

penduduk terhadap dua kaum yang mendiami negeri tersebut: yaitu kaum Hutu

dan kaum Tutsi. Kaum Hutu merupakan bangsa asli Rwanda namun memiliki

strata sosial lebih rendah. Sedangkan kaum Tutsi merupakan pendatang dari

Afrika Timur, memiliki strata social yang lebih tinggi dan menguasai hampir 90%

perekonomian Rwanda. Kebijakan pemisahan ini pada akhirnya menimbulkan

sentiment akut disertai pembantaian (Genocide) yang dilakukan oleh kaum Hutu

terhadap kaum Tutsi. Kaum Hutu bermaksud menguasai Rwanda dari pengaruh

kaum Tutsi.84

Perbedaan kasus Rwanda dan Myanmar adalah Pemerintah Belgia di

Rwanda dengan sengaja menciptakan sistem pemisahan penduduk terhadap kaum

pribumi sehingga akan mudah bagi pemerintah jajahan untuk mengatur dan

mengelola tanah jajahannya. Sedangkan yang terjadi di Myanmar adalah British

meninggalkan Myanmar setelah perang dunia kedua dengan terpaksa melepaskan

beberapa tanah jajahannya kepada kaum nationalis tanpa memberikan legalitas

perlindungan kepada kaum Rohingya yang banyak membantu British pada perang

                                                                                                               
83
M. Hafeza, “Rohingya: Warga Negara Tanpa Negara”,
https://maxtroman.wordpress.com/2012/10/31/rohingya-warga-negara-tanpa-negara/, diakses 24
Juli 2015.
84
Ibid.
  51

dunia kedua. Hal ini semakin memberi konstribusi yang besar terhadap krisis

kemanusiaan kaum Rohingya hingga sekarang ini.

Permasalahan Rohingya sedemikian kompleks, sehingga pemecahannya

bagaikan mengurai benang kusut yang sulit dicari titik pangkalnya. Demokratisasi

yang mulai dilakukan junta militer tahun 2010, berhasil membuka tabir tentang

keadaan yang sebenarnya terjadi di Myanmar kepada dunia luar. Isu-isu berkaitan

HAM Rohingya baru akhir-akhir ini diketahui oleh masyarakat internasional

setelah maraknya pemberitaan mengenai kondisi kamp-kamp pengungsian

Rohingya yang memprihatinkan di perbatasan Bangladesh dan Thailand.

Para sejarawan menyebutkan bahwa Islam masuk ke negeri itu tahun 877

M pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid. Saat itu Daulah al-Khilafah menjadi

negara terbesar di dunia selama beberapa abad. Islam mulai menyebar di seluruh

Birma ketika mereka melihat kebesaran, kebenaran, dan keadilannya. Kaum

Muslimin memerintah propinsi Arakan lebih dari tiga setengah abad antara tahun

1430 hingga tahun 1784 M. Penderitaan Muslim di sana mulai terjadi saat

penjajah kerajaan Budha maupun kolonialis Inggris menjajah negeri itu.85

 
 
 
 
 
 
 
                                                                                                               
85
Ibid.