Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN KEGIATAN

PORTOFOLIO KASUS PSIKIATRI

“SOMATISASI”

Disusun Oleh :
Zakiyyatul Aflakha, dr.

Pendamping :
dr. Hj. Umi Aliyah, M. Kes

INTERNSIP DOKTER INDONESIA

RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH LAMONGAN

PERIODE FEBUARI 2017 – FEBUARI 2018


ii
BORANG PORTOFOLIO

Nama Peserta : dr. Zakiyyatul Aflakha


Nama Wahana : Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan
Topik : Somatisasi
Tanggal (kasus) : 3 Januari 2018
Nama Pasien : Ny. L No. RM : 71.33.15
Tanggal Presentasi : Pendamping : dr. Umi Aliyah, M.Kes
Tempat Presentasi :
Objektif Presentasi :
Keilmuan □ Keterampilan □ Penyegaran □ Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen □ Masalah □ Istimewa
□ Neonatus □ Bayi □ Anak □ Remaja Dewasa □ Lansia □ Bumil
□ Deskripsi : Pasien datang dengan keluhan nyeri tangan kanan
□ Tujuan :  Menganalisa manifestasi klinis pada pasien.
 Menentukan diagnosa
Bahan Bahasan : □ Tinjauan Pustaka □ Riset Kasus □ Audit
Cara Membahas : □ Diskusi Presentasi dan Diskusi □ E-mail □ Pos
Data Pasien : Ny. L / 48 tahun No. Registrasi :
Data Utama untuk Bahan Diskusi :
1. Anamnesa : (autoanamnesa)
Px datang dengan keluhan nyeri ulu hati sejak 1 hari yll, nyeri ulu hati dirasakan naik ke atas
sampai daerah leher, px merasa seperti tercekik hingga sulit bernafas. Px mengeluh badan terasa pegal
tidak enak semua, kehilangan selera makan karena mual terus menerus namun tidak muntah. Pasien
sudah sering mengalami keluhan seperti ini, konsumsi berbagai macam obat bahkan jamu herbal
namun keluhan hamper selalu muncul setiap minggu.
Px tinggal sendiri karena anaknya baru menikah, saat ini px masih sering mengharapkan anaknya
mau tinggal serumah dengan px. Px merasa sakit-sakitan sejak ditinggal anaknya.
2. Riwayat Pengobatan :
 Pasien banyak minum obat maag dari berbagai macam dokter (gonta-ganti dokter)
3. Riwayat Kesehatan/Penyakit
– Riwayat sakit ma’ag kumat kumatan sejak 4 bulan yll
– Riwayat diabetes melitus : disangkal

2
– Riwayat hipertensi : disangkal
– Riwayat penyakit jantung : disangkal
– Riwayat alergi : disangkal
4. Riwayat Keluarga : R. Hipertensi : (-)
R. Diabetes : (-)
5. Riwayat Pekerjaan : ibu rumah tangga

6. Pemeriksaan Fisik
Tanda Vital
 Keadaan umum : Cukup
 Kesadaran : Composmentis, E4V5M6
 Berat badan : 58 kg
 Tekanan Darah : 130/78 mmHg
 Sa02 : 99% tanpa O2 support
 Nadi : 88x/menit, reguler, kuat angkat
 Frekuensi Nafas : 18x/menit
 Suhu : 36,1C (aksila)

Kepala Bentuk mesocephal, rambut warna hitam, luka (-)


Mata Mata cekung (-/-), konjunctiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), edema palpebra (-/-)
kedua bola mata dalam batas normal.
Hidung Bentuk dan ukuran dalam batas normal, jejas (-), nafas cuping hidung (-)
Bibir Mukosa bibir basah berwarna merah muda
Leher Pembesaran KGB (-) deviasi trakea (-) pembesaran tiroid (-) massa (-)
Thorax :
Inspeksi Simetris, iktus kordis tidak tampak, retraksi ICS (-), RR 20x/menit.
Palpasi Simetris. Pergerakan dada kanan = kiri, fremitus raba kanan = kiri
Perkusi Sonor / Sonor
Auskultasi Pulmo : suara dasar vesikuler +/+ rhonki -/-; wheezing -/-
Cor : S1/S2 tunggal; Murmur (-); Gallop (-)

Abdomen :
Inspeksi Perut tidak membesar, tidak ada luka dan bekas operasi, , jejas (-),

Auskultasi Peristaltik (+) normal

3
Palpasi Soepel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba.
Perkusi Tympani

Ekstrimitas :

Akral hangat Oedem

+ + - -
+ + - -

4
Pemeriksaan Laboratorium Darah (3/1/2018)
Darah Lengkap 3 Januari 2018 Nilai rujukan

Leukosit 6.800 /uL 4.800 – 10.800 /uL

Eritrosit 4,85 /Ul 4,2-6,1 / uL

HB 14,4 g/dL 12 – 18 g/dL

HCT 45,4 % 37 – 52 %

PLT 272.000/uL 150-450 10^3/uL

Neut % 58,3 50-70

Lymph % 25,2 25-40

GDA 109 mg/dl 70-106 mg/dl

Urea 34 mg/dL 10 – 50 mg/dL

Creatinin 1,0 mg/dL 0.7 – 1.3 mg/dL

SGOT 39 mmol/L 5-40 mmol/L

SGPT 34 mmol/L 5-41 mmol/L

7. Diagnosis Awal
Dyspepsia
Somatisasi

8. Terapi
Non medikamentosa
 Hindari stress, tenangkan pikiran
 Makan dan minum teratur

5
 Istirahat cukup
 Konseling psikiatri bila perlu
Planning terapi
 Omeprazole 2x1cap
 Multivitamin 1x1tab
 Alprazolam 0-0-1

6
Hasil Pembelajaran :
Gangguan Somatoform

Definisi Gangguan Disasosiatif


Gangguan disasosiatif adalah gangguan yang ditandai dengan adanya perubahan perasaan individu
tentang identitas, memori, atau kesadarannya. Individu yang mengalami gangguan ini memperoleh
kesulitan dalam mengingat peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi pada dirinya, melupakan
identitas dirinya bahkan membentuk identitas baru.
Secara umum gangguan disasosiatif bisa didefinisikan sebagai adanya kehilangan (sebagian, atau
seluruh) dari integrasi normal (di bawah kendali sadar) yang meliputi ingatan masa lalu, kesadaran
identitas dan penginderaan segera (awarness of indetity and immediate sensations), serta kontrol terhadap
gerak tubuh. Gejala utama gangguan ini adalah adanya kehilangan sebagian atau seluruh dari integrasi
normal (dibawah kendali kesadaran) yang meliputi antara lain :
a. Ingatan masa lalu
b. Kesadaran identitas dan penginderaan (awareness of identity and immediate sensations)
c. Kontrol terhadap gerakan tubuh

Definisi Gangguan Somatoform


Dalam gangguan somatoform, orang memiliki simtom fisik yang mengingatkan pada gangguan fisik,
namun tidak ada abnormalitas organik yang dapat ditemukan penyebabnya. Gangguan somatoform
berbeda dengan malingering, atau kepura-puraan simtom yang bertujuan untuk mendapatkan hasil yang
jelas. Gangguan ini juga berbeda dengan gangguan factitious yaitu suatu gangguan yang ditandai oleh
pemalsuan simtom psikologis atau fisik yang disengaja tanpa keuntungan yang jelas. Selain itu gangguan
ini juga berbeda pula dengan sindrom Muchausen yaitu suatu tipe gangguan factitious yang ditandai oleh
kepura-puraan mengenai simptom medis.
Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai
contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis. Gejala dan keluhan
somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau
gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan.

Tipe-tipe Gangguan Disosiatif


1. Gangguan Identitas Disosiatif
Suatu gangguan disosiatif dimana seseorang memiliki dua atau lebih kepribadian yang berbeda atau

7
kepribadian pengganti (alter). Terdapat beberapa variasi dari kepribadian ganda, seperti kepribadian tuan
rumah atau utama mungkin tidak sadar akan identitas lainnya, sementara kepribadian lainnya sadar akan
keberadaan si tuan rumah ada juga kepribadian yang berbeda benar-benar tidak sadar satu sama lain.
Terkadang dau kepribadian bersaing untuk mendapatkan kontrol terhadap orang tersebut ada juga satu
kepribadian dominan atau inti dan ada beberapa kepribadian sub ordinat.

2. Amnesia Disosiatif
Amnesia disosiatif dipercaya sebagai tipe yang paling umum dari gangguan disosiatif (Maldonado,
Butler, dan Speigel, 1998). Dalam amnesia disosiatif, orang menjadi tidak mampu menyebutkan kembali
informasi pribadi yang penting, biasanya melibatkan pengalaman yang traumatis atau penuh tekanan,
dalam bentuk yang tidak dapat dianggap sebagai lupa biasa. Kehilangan ingatan ini juga tidak disebabkan
oleh penyebab organis tertentu, seperti kerusakan pada otak atau kondisi medis tertentu, bukan pula efek
langsung dari obat-obatan atau alkohol. Ingatan yang hilang dalam amnesia disosiatif dapat kembali,
meski gangguan ini dapat berlangsung selama beberapa hari, minggu atau bahkan tahun.

3. Fugue Disosiatif
Fugue berasal dari bahasa latin fugere, yang berarti melarikan diri, fugue sama dengan amnesia
”dalam pelarian”. Dalam fugue disosiatif memori yang hilang lebih luas dari pada amnesia dissosiative,
individu tidak hanya kehilangan seluruh ingatanya (misalnya nama, keluarga atau pekerjaanya), mereka
secara mendadak meninggalkan rumah dan pekerjaanya serta memiliki identitas yang baru (parsial atau
total). Namun mereka mampu membentuk hubungan sosial yang baik dengan lingkungan yang baru.
Fugue seperti amnesia, relatif jarang dan diyakini mempengaruhi sekitar 2 orang di 1.000 di antara
populasi umum.

4. Gangguan Depersonalisasi
Gangguan depersonalisasi dimana persepsi atau pengalaman seseorang terhadap diri sendiri berubah
secara menyedihkan dan mengganggu. Dalam episode depersonalisasi, yang umum dipicu oleh stress,
individu secara mendadak kehilangan rasa diri mereka. Mereka mengalami pengalaman sensori yang tidak
biasa; contohnya, ukuran tangan dan kaki mereka tampak berubah secara drastis atau suara mereka
terdengar asing bagi mereka sendiri. Mereka merasa berada diluar tubuh mereka, menatap diri mereka
sendiri dari kejauhan. Kadangkala mereka merasa seperti mesin, seolah-olah mereka dan orang-orang lain
adalah robot, atau mereka seolah bergerak didunia yang tidak nyata. Gangguan depersonalisasi biasanya
berawal pada masa remaja dan perjalanannya bersifat kronis, yaitu, dialami dalam waktu yang lama.

8
Tipe-tipe Gangguan Somatoform
1. Pain Disorder
Pada pain disorder, penderita mengalami rasa sakit yang mengakibatkan ketidakmampuan secara
signifikan;faktor psikologis diduga memainkan peranan penting pada kemunculan, bertahannya dan
tingkat sakit yang dirasakan. Pasien kemungkinan tidak mampu untuk bekerja dan menjadi tergantung
dengan obat pereda rasa sakit. Rasa nyeri yang timbul dapat berhubungan dengan konflik atau stress atau
dapat pula terjadi agar individu dapat terhindar dari kegiatan yang tidak menyenangkan dan untuk
mendapatkan perhatian dan simpati yang sebelumnya tidak didapat.

2. Body Dysmorphic Disorder


Pada body dysmorphic disorder, individu diliputi dengan bayangan mengenai kekurangan dalam
penampilan fisik mereka, biasanya di bagian wajah, misalnya kerutan di wajah, rambut pada wajah yang
berlebihan, atau bentuk dan ukuran hidung. Wanita cenderung pula fokus pada bagian kulit, pinggang,
dada, dan kaki, sedangkan pria lebih cenderung memiliki kepercayaan bahwa mereka bertubuh pendek,
ukuran penisnya terlalu kecil atau mereka memiliki terlalu banyak rambut di tubuhnya. Beberapa individu
yang mengalami gangguan ini secara kompulsif akan menghabiskan berjam-jam setiap harinya untuk
memperhatikan kekurangannya dengan berkaca di cermin. Ada pula yang menghindari cermin agar tidak
diingatkan mengenai kekurangan mereka, atau mengkamuflasekan kekurangan mereka dengan, misalnya,
mengenakan baju yang sangat longgar.

3. Hypochondriasis
Hypochondriasis adalah gangguan somatoform dimana individu diliputi dengan ketakutan memiliki
penyakit yang serius dimana hal ini berlangsung berulang-ulang meskipun dari kepastian medis
menyatakan sebaliknya, bahwa ia baik-baik saja. Gangguan ini biasanya dimulai pada awal masa remaja
dan cenderung terus berlanjut. Individu yang mengalami hal ini biasanya merupakan konsumen yang
seringkali menggunakan pelayanan kesehatan; bahkan terkadang mereka manganggap dokter mereka tidak
kompeten dan tidak perhatian. Dalam teori disebutkan bahwa mereka bersikap berlebihan pada sensasi
fisik yang umum dan gangguan kecil, seperti detak jantung yang tidak teratur, berkeringat, batuk yang
kadang terjadi, rasa sakit, sakit perut, sebagai bukti dari kepercayan mereka. Hypochondriasis seringkali
muncul bersamaan dengan gangguan kecemasan dan mood.

4. Conversion disorder
Pada conversion disorder, gejala sensorik dan motorik, seperti hilangnya penglihatan atau kelumpuhan
secara tiba-tiba, menimbulkan penyakit yang berkaitan dengan rusaknya sistem saraf, padahal organ tubuh
dan sistem saraf individu tersebut baik-baik saja. Aspek psikologis dari gejala conversion ini ditunjukkan

9
dengan fakta bahwa biasanya gangguan ini muncul secara tiba-tiba dalam situasi yang tidak
menyenangkan. Biasanya hal ini memungkinkan individu untuk menghindari beberapa aktivitas atau
tanggung jawab atau individu sangat ingin mendapatkan perhatian. Istilah conversion, pada dasarnya
berasal dari Freud, dimana disebutkan bahwa energi dari instink yang di repress dialihkan pada aspek
sensori-motor dan mengganggu fungsi normal. Untuk itu, kecemasan dan konflik psikologis diyakini
dialihkan pada gejala fisik.

Penanganan Gangguan Disosiatif dan Gangguan Somatoform


1. Terapi Gangguan Disosiatif
a. Psikoanalisis untuk Identitas Disosiatif
Psikoanalisis berusaha membantu orang yang menderita gangguan identitas disosiatif untuk
mengungkapkan dan belajar mengatasi trauma-trauma masa kecil. Mereka sering merekomendasikan
membangun kontak langsung dengan kepribadian-kepribadian alter. Setiap kepribadian dapat diminta
untuk berbicara tentang memori dan mimpi-mimpi mereka sebisa . Setiap dan semua kepribadian dapat
diyakinkan bahwa terapis akan membantu mereka untuk memahami kecemasan mereka untuk
membangkitkan pengalaman traumatis mereka secara aman dan menjadikan pengalaman-pengalaman
tersebut disadari. Menurut Wilbur, bila terapi berhasil self akan mampu bergerak melalui ingatan
traumatis dan tidak lagi perlu melarikan diri ke dalam self pengganti untuk menghindari kecemasan
yang diasosiasikan dengan trauma, sehingga terjadi integrasi kepribadian.
b. Psikoterapi untuk Fugue Disosiatif
Psikoterapi adalah penanganan primer terhadap gangguan disosiatif ini. Bentuk terapinya berupa
terapi bicara, konseling atau terapi psikososial, meliputi berbicara tentang gangguan yang diderita oleh
pasien jiwa. Terapinya akan membantu anda mengerti penyebab dari kondisi yang dialami. Psikoterapi
untuk gangguan disosiasi sering mengikutsertakan teknik seperti hipnotis yang membantu kita
mengingat trauma yang menimbulkan gejala disosiatif.
c. Obat untuk Amnesia Disosiatif
Treatment untuk gangguan disosiatif ada bermacam-macam, sebagian besar karena kondisinya juga
bervariasi. Tujuan utama dalam memberika treatment terhadap orang dengan symptom-symptom
disosiatif adalah dengan membawa kestabilan dan integrasi dalam hidup mereka. Hal yang penting
dalam treatment mereka adalah membangun sebuah lingkungan yang aman, jauh dari stressor yang
mengancam yang mungkin dapat membangkitkan disosiasi. Pada keamanan dalam konteks treatment,
klinisi akan mengenalkan teknik yang menenangkan, beberapa bersifat psikoterapeutik dan yang lain
bersifat psikofarmakologis. Beberapa klinisi akan menambah obat dan intervensi, juga dapat membantu
meningkatkan kondisi tenang. Obat yang paling umum digunakan adalah sodium pentobarbital dan

10
sodium amobarbital yang memfasilitasi proses wawancara, khususnya pada klien yang mengalami
amnesia disosiatif dan fugue disosiatif. Jika amnesianya telah hilang, maka klinisi akan membanti klien
menemukan kejadian apa dan faktor-faktor apa yang menyebabkan amnesia.
d. Psikoterapi Stress untuk Depersonalisasi
Karena gangguan disosiatif tampaknya dipicu sebagai respon terhadap trauma atau pelecehan,
Pengobatan untuk individu dengan gangguan tersebut adalah psikoterapi stress, meskipun kombinasi
perawatan psychopharmacological dan psikososial sering digunakan. Banyak gejala gangguan
disosiatif terjadi dengan gangguan lain, seperti kecemasan dan depresi, dan dapat dihilangkan dengan
mengatasi penyebab dari kecemasan dan depresi. Sedangkan obat yang sama digunakan untuk
kecemasan dan depresi (misalnya, anti ansietas obat atau antidepresan) sering diresepkan untuk orang
dalam pengobatan untuk gangguan disosiatif, gejala kecemasan dan depresi juga bisa mendapatkan
keuntungan dari psikoterapi. Pengobatan gangguan depersonalisasi dapat dilakukan dengan konseling
psikologis dan dengan obat-obatan.

2. Penanganan Gangguan Somatoform


Terapi behavioral dapat dilakukan pada penderita gangguan somatoform dan dapat bekerja secara lebih
langsung dengan si penderita gangguan somatoform, membantu orang tersebut belajar dalam menangani
stress atau kecemasan dengan cara yang lebih adaptif. Teknik kognitif-behavioral paling sering pemaparan
terhadap pencegahan respon dan restrukturisasi kognitif. Secara sengaja memunculkan kerusakan yang
dipersepsikan di depan umum, dan bukan menutupinya melalui penggunaan rias wajah dan pakaian.
Dalam restrukturisasi kognitif, terapis menantang keyakinan klien yang terdistorsi mengenai penampilan
fisiknya dan cara meyemangati mereka untuk mengevaluasi keyakinan mereka dengan bukti yang jelas.
Penggunaan antidepresan dapat diberikan terutama fluoxetine dalam menangani beberapa tipe gangguan
somatoform.

11
DAFTAR PUSTAKA

Davison, G. C., Neale, J. M., Kring, A. M. (2006). Psikologi Abnormal (Edisi ke-9) (Noermalasari Fajar,
Trans). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Nevid, S. J., Rathus, SS., & Greene, B. 2003. Psikologi Abnormal/Edisi Kelima/Jilid I alih bahasa
Abnormal Psychology in a Changing Whord/Fifth Edition. Erlangga: Jakarta Halgin,

P. Richard, Susan Krauss Whitbourne. 2009. Psikologi Abnormal/Edisi Keenam/Buku 1. Salemba


Humanika: Jakarta

Fausiah Fitri, Widury Julianti. 2007. Psikologi Abnormal Klinis Dewasa.Universitas Indonesia: Jakarta

Durrand, V. Mark & David H. Barlow. 2006. Psikologi Abnormal. Yogyakarta : Pustaka Belajar Semiun,

Yustinus. 2010. kesehatan mental 2. KASINUS: Yogyakarta

12
13