Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KASUS

FIELD TRIP
MANAJEMEN KEPERAWATAN

Disusun Oleh :

Apriyanti 21118004 P

Dosen Pembimbing : SRI YULIA S.Kp.,M.Kep

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

STIKES MUHAMMADIYAH PALEMBANG

2019

KATA PENGANTAR
AssalamualaikumWr.Wb
Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat ALLAH SWT, karena atas segala rahmat
dan karunia-nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan ini. Laporan ini akan
membahas tentang “HandOver”.
Kami menyadari banyak kekurangan dalam laporan yang kami buat. Oleh karena itu
kami mengharapkan kritik maupun saran dari semua pihak untuk perbaikan sehingga laporan
ini dapat menjadi lebih baik.
Demikianlah laporan ini kami buat semoga dapat bermanfaat bagi yang membaca
khususnya mahasiswa STIkes Muhammadiyah Palembang.
Wassalamualaikum wr.wb

Palembang, Juli 2019

Penulis

DAFTAR ISI

ii
Halaman
KATA PENGANTAR......................................................................................ii
DAFTAR ISI....................................................................................................iii
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.................................................................................1
B. Tujuan...............................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi.............................................................................................3
B. Prinsip Handover .............................................................................3
C. Jenis Handover.................................................................................5

BAB III KAJIAN DATA


BAB IV PEMBAHASAN

BAB V PENUTUP
A.Kesimpulan.......................................................................................27
B.Saran..................................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Handover (serah terima pasien) adalah proses pengalihan wewenang dan
tanggung jawab utama untuk memberikan perawatan klinis kepada pasien dari satu
pengasuh ke pengasuh yang lain, termasuk dokter jaga, dokter tetap ruang rawat,
asisten dokter, praktisi perawat, perawat terdaftar, dan perawat praktisi berlisensi.
Prinsip serah terima pasien, meliputi; kepemimpinan, pemahaman, peserta, waktu,
tempat, dan proses serah terima pasien. Jenis serah terima pasien yang berhubungan
dengan keperawatan, meliputi: serah terima pasien antar shift, serah terima pasien
antar unit keperawatan, serah terima pasien antara unit perawatan dengan unit
pemeriksaan diagnostik, serah terima pasien antar fasilitas kesehatan, dan serah terima
obat-obatan. Serah terima pasien yang efektif mendukung informasi penting dan
kontinuitas perawatan dan pengobatan.Namun, literatur terus menyorot efek dari
serah terima pasien yang tidak efektif; efek samping, dan risiko keselamatan
pasien.Institute of Medicine (IOM) melaporkan bahwa "serah terima pasien yang tidak
memadai sering sebagai kegagalan pertama dalam keselamatan pasien" (Hughes,
2008).Serah terima pasienyang tidak efektif dapat berkontribusi terhadap kesalahan
dan pelanggaran dalam keselamatan perawatan Serah terima pasien yang efektif
mendukung informasi penting dan kontinuitas perawatan dan pengobatan.Namun,
literatur terus menyorot efek dari serah terima pasien yang tidak efektif; efek
samping, dan risiko keselamatan pasien.Institute of Medicine (IOM) melaporkan
bahwa "serah terima pasien yang tidak memadai sering sebagai kegagalan pertama
dalam keselamatan pasien" (Hughes, 2008).Serah terima pasienyang tidak efektif
dapat berkontribusi terhadap kesalahan dan pelanggaran dalam keselamatan
perawatan.
Beberapa publikasi hasil penelitian menunjukkan bahwa serah terima pasien
yang tidak efektif telah menyebabkan kerugian kepada pasien, keluarga, dan
masyarakat. Wong dan Yee (2008) menyebutkan bahwa serah terima pasien di klinis
adalah skenario risiko tinggi untuk keselamatan pasien. Bahaya meliputi
diskontinuitas perawatan, efek samping dan klaim hukum akibat kemungkinan
kelalaian dan malpraktek.Suatu analisis rinci tentang serah terima pasien dalam
keperawatan mengungkapkan bahwa beberapa kasus serah terima pasien

1
menunjukkan kebingungan dan tidak membantu dalam perawatan pasien selanjutnya
(Sexton et al, 2004, dikutip dari AHHA, 2009).
Tujuan penulisan adalah untuk meningkatkan pemahaman perawat, mahasiswa
keperawatan, dan masyarakat tentang serah terima pasien dalam pelayanan
keperawatan, sehingga dapat mencegah atau menurunkan risiko kegagalan dari
kontuinitas pelayanan keperawatan dalam upaya meningkatkan keselamatan pasien.
Lingkup penulisan tentang serah terima pasien mencakup; pengertian, prinsip, jenis,
hambatan individu dan organisasi, serta strategi perawat untuk mengurangi kesalahan
dan meningkatkan keselamatan pasien.

B. Tujuan
1. Menyampaikan kondisi dan keadaan pasien (data focus).
2. Menyampaikan hal yang sudah/belum dilakukan dalam asuhan keperawatan
kepada pasien.
3. Menyampaikan hal yang penting yang harus ditindak lanjuti oleh perawat
dinas berikutnya.
4. Menyusun rencana kerja untuk dinas berikutnya.

BAB II

2
TINJAUAN TEORI
A. Definisi Handover
Handover adalah proses pengalihan wewenang dan tanggung jawab utama
untukmemberikan perawatan klinis kepada pasien dari satu pengasuh ke salah satu
pengasuhyang lain. Pengasuh termasuk dokter jaga, dokter tetap ruang rawat, asisten
dokter, praktisi perawat, perawat terdaftar, dan perawat praktisi berlisensi.(The Joint
Commission Journal on Quality and Patient Safety, 2010). Sedangkan Australian
Medical Association (2006), mendefinisikan handover sebagaitransfer tanggung
jawab profesional dan akuntabilitas untuk beberapa atau semua aspek perawatan
untuk pasien, atau kelompok pasien, kepada orang lain atau kelompok profesional
secara sementara atau permanen.

B. Prinsip Handover
Australian Resource Centre for Healthcare Innovation (2009);Friesen,White,
dan Byers (2009) memperkenalkanenam standar prinsip serah terima pasien,yaitu:
1. Kepemimpinan dalam serah terima pasien: Semakin luas proses serah terima
(lebih banyak peserta dalam kegiatan serah terima), peran pemimpin menjadi
sangat penting untuk mengelola serah terima pasien di klinis. Pemimpin harus
memiliki pemahaman yang komprehensif dari proses serah terima pasien dan
perannya sebagai pemimpin. Tindakan segera harus dilakukan oleh pemimpin
pada eskalasi pasien yangmemburuk,
2. Pemahaman tentang serah terima pasien: Mengatur sedemikian rupa agar
timbul suatu pemahaman bahwa serah terima pasien harus dilaksanakan dan
merupakan bagian penting dari pekerjaan sehari-hari dari perawat dalam
merawat pasien. Memastikan bahwa staf bersedia
untuk menghadiri serah terima pasien yang relevan untuk mereka. Meninjau
roster dinas staf klinis untuk memastikan mereka hadir dan mendukung
kegiatan serah terima pasien. Membuat solusi-solusi inovatif yang diperlukan
untuk memperkuat pentingnya kehadiran staf pada saat serah terima pasien.
3. Peserta yang mengikuti serah terima pasien: Mengidentifikasi dan
mengorientasikan peserta, melibatkan mereka dalam tinjauan berkala tentang
proses serah terima pasien. Mengidentifikasi
staf yang harus hadir, jika memungkinkan pasien dan keluarga harus
dilibatkan dan dimasukkan sebagai peserta dalam kegiatan serah terima

3
pasien. Dalam tim multidisiplin, serah terima pasien harus terstruktur dan
memungkinkan anggota multiprofesi hadir untuk pasiennya yang relevan .
4. Waktu serah terima pasien: Mengatur waktu yang disepakati, durasi dan
frekuensi untuk serah terima pasien. Hal ini sangat direkomendasikan, di mana
strategi ini memungkinkan untuk dapat memperkuat ketepatan waktu. Serah
terima pasien tidak hanya pada pergantian jadwal kerja, tapi setiap kali terjadi
perubahan tanggung jawab, misalnya; ketika pasien diantar dari bangsal ke
tempat lain untuk suatu pemeriksaan. Ketepatan waktu serah terima sangat
penting untuk memastikan proses perawatan yang berkelanjutan, aman dan
efektif.
5. Tempat serah terima pasien: Sebaiknya, serah terima pasien terjadi secara tatap
muka dan di sisi tempat tidur pasien. Jika serah terima pasien tidak dapat
dilakukan secara tatap muka, maka pilihan lain harus dipertimbangkan untuk
memastikan serah terima pasien berlangsung efektif dan aman. Untuk
komunikasi yang efektif, pastikan bahwa tempat serah terima pasien bebas
dari gangguan, misal; kebisingan di bangsal secara umum atau bunyi alat
telekomunikasi.

Proses serah terima pasien:


1. Standar protokol, standar protocol harus jelas mengidentifikasi pasien dan
peran peserta, kondisi klinis dari pasien, daftar pengamatan/ pencatatan
terakhir yang paling penting, latar belakang yang relevan tentang situasi klinis
pasien, penilaian dan tindakan yang perlu dilakukan, kerangka
waktu dan persyaratan untuk perawatan transisi, penggunaan catatan pasien
untuk cross-check informasi, memastikan bahwa semua temuan penting atau
perubahan kondisi pasien terdokumentasi, memastikan pemahaman dan
tanggung jawab bagi pasien oleh perawat yang menerima penyerahan pasien.
2. Kondisi pasien memburuk, pada kondisi pasien memburuk, meningkatkan
pengelolaan pasien secara cepat dan tepat pada penurunan kondisi yang
terdeteksi.
3. Informasi kritis lainnya, prioritaskan informasi penting lainnya, misalnya:
tindakan yang luar biasa, rencana pemindahan pasien, kesehatan kerja dan
risiko keselamatan kerja atau tekanan yang dialami oleh staf.

C. Jenis Handover
Serah terima pasien terjadi di seluruh kontinum perawatan kesehatan dalam
semua jenis pengaturan layanan. Ada berbagai jenis serah terima pasien dari satu

4
penyedia jasa perawatan kesehatan kepada yang lain, seperti transfer pasien dari satu
lokasi ke lokasi lain dalam suatu rumah sakit atau transisi informasi dan tanggung
jawab selama serah terima pasien antar shift pada unit yang sama.
Serah terima pasien interdisciplinary terjadi antara perawat dan dokter, dan
perawat dengan tenaga kesehatan lainnya, sementara serah terima pasien
intradisciplinary terjadi antara sesame perawat atau sesama dokter. Serah terima
pasien juga dapat terjadi antar fasilitas kesehatan, seperti; antara rumah sakit dan
antara beberapa organisasi penyedia pelayanan lainnya, termasuk pelayanan kesehatan
di rumah, tempat penampungan, dan fasilitas perawatan jompo. Serah terima pasien
mungkin melibatkan penggunaan teknologi khusus, misalnya: perekam audio, catatan
terkomputerisasi, faximili, dokumen tertulis, dan komunikasi lisan.
Menurut Hughes (2008); Australian Resource Centre for Healthcare
Innovation(2009); Friesen, White, dan Byers (2009)beberapa jenis serah terima pasien
yangberhubungan dengan perawat, antara lain:
1. Serah terima pasien antar shift: Metode serah terima pasien antar shift
dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode, antara lain: secara
lisan, catatan tulisan tangan, di samping tempat tidur pasien, melalui
telepon, rekaman, nonverbal, menggunakan laporan elektronik, cetakan
komputer, dan memori. Kekuatan dari metode laporan di samping tempat
tidur merupakan upaya untuk fokus pada laporan dan kondisi pasien.
Namun, ada kekhawatiran tentang kerahasiaan pasien yang dapat
dikompromikan jika tidak hatihati dalam menanganinya. Sebuah studi
kualitatif yang difokuskan pada gambaran persepsi pasien yang terlibat
dalam kegiatan serah terima, menemukan beberapa pasien mendukung
serah terima disamping tempat tidur, sementara yang lain tidak. Pasien
juga menyatakan keprihatinannya mengenai jargon yang digunakan oleh
perawat saat kegiatan serah terima berlangsung.
2. Serah terima pasien antar unit keperawatan: Pasien mungkin akan sering
ditransfer antar unit keperawatan selama mereka tinggal di rumah sakit.
Namun, sejumlah faktor telah diidentifikasi berkontribusi terhadap
inefisiensi selama transfer pasien dari satu unit keperawatan ke unit
keperawatan yang lain, termasuk; ketidaklengkapan catatan medis dan
keperawatan, keterlambatan atau waktu yang terbuang disebabkan oleh
kemacetan komunikasi, menunggu tanggapan dari perawat atau dokter

5
atau tanggapan dari manajemen unit keperawatan tempat yang akan di
tempati pasien atau masalah ketersediaan tempat tidur.
3. Serah terima pasien antara unit perawatan dengan unit pemeriksaan
diagnostik: Pasien sering
dikirim dari unit keperawatan untuk pemeriksaan diagnostik selama rawat
inap. Pengiriman dari unit keperawatan ke tempat pemeriksaan diagnostik
(misalnya; radiologi, kateterisasi jantung, laboratorium, dll) telah dianggap
sebagai konstributor untuk terjadinya kesalahan.Hal ini penting, ketika
perubahan unit tempat keperawatan pasien terutama untuk tingkat
pelayanan yang berbeda dari unit perawatan sebelumnya dan untuk
keamanan pasien, staf pada unit pemeriksaan disgnostik harus memiliki
informasi lengkap yang mereka butuhkan dan melakukan komunikasi yang
konsisten.Kompleksitas kondisi pasien mungkin memerlukan perawat
untuk menyertai pasien ke tempat pemeriksaan diagnostic.
4. Serah terima pasien antar fasilitas kesehatan: Pengiriman pasien dari satu
fasilitas kesehatan ke fasilitas yang lain sering terjadi antara pengaturan
layanan yang berbeda. Pengiriman berlangsung antar rumah sakit ketika
pasien memerlukan tingkat perawatan yang berbeda. Pengiriman pasien
antar fasilitas, meliputi; antar rumah sakit, pusat rehabilitasi, lembaga
kesehatan di rumah, dan organisasi pelayanan kesehatan lainnya. Faktor
yang cenderung membuat pengiriman pasien tidak efektif adalah
kesenjangan dan hambatan komunikasi antar fasilitas kesehatan tersebut
dan juga dipengaruhi oleh perbedaan budaya organisasi

BAB III
KAJIAN DATA
DOMS: KEMAMPUAN MANAJEMEN KEPEMIMPINAN
1. Handover

No Aktifitas Ya Tidak Catatan


Persiapan
1. Perawat pemberi operan √

6
menyiapkan tempat untuk
operan
2. Perawat pemberi operan √
menyiapkan rekam medis
yang telah diisi dengan
rekam keperawatan yang
lengkap sesuai shift jaga
Kerja
3. Kepala ruang/PN/AN √
memimpin operan diawali
doa bersama
4. Perawat mengoperkan status √
kesehatan pasien dengan
cara membacakan rekam
keperawatan
5.. Perawat mengoperkan nama √
pasien, diagnose medis dan
masalah keperawatan
6. Perawat mengoperkan √
tindakan keperawatan
mandiri dan kolaborasi yang
telah dilakukan beserta hasil
dan waktu pelaksanaan
7. Perawat menyebutkan √
perkembangan/kondisi fisik
pasien yang terjadi selama
shift
8. Perawat lain melakukan √
observasi dan klarifikasi data
pada klien atau keluarga
klien yang bersangkutan
9. Perawat penerima operan √
melakukan pengecekan
kelengkapan dokumen
asuhan keperawatan
10. Perawat penerima operan √
mencatat hal-hal yang

7
dioperkan untuk setiap
pasien dalam buku peran
tugas
11. Perawat pemberi dan √
penerima operan melakukan
kunjungan pasien dalam
rangka klarifikasikan
konfirmasi
12. Perawat yang mengoperkan √
menginformasikan kepada
pasien/keluarga nama
perawat shift berikutnya
13 Perawat penerima operan
memberi salam kepada
pasien/keluarga serta
mengenalkan diri dengan
komunikasi yang baik
14. Perawat pemberi dan √
penerima operan
menandatangani buku
operan tugas
Penutup
15. Pemberi dan penerima peran √
saling memberikan
reinforcement
16. Ka Ruang/PN/AN menutup √
operan dengan baik

8
DOPS: KEMAMPUAN MELAKSANAKAN PERAN

1. Peran dalam Agen Perubahan


Nama :
Tanggal : juli 2019
Ruangan : Penyakit Dalam
Jamdatang : 13.00 WIB Jam Pulang: 15.00 WIB

Peran sebagai: Karu/katim / Pelaksana (coret yang tidak sesuai)

Kegiatan yang dilakukan:


a. Planning(Perencanaan)
1. Menyusun rencana asuhan keperawatan
2. Menerima pasien baru
3. Memimpin operan antar shift
4. Mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai kebutuhan pasien

9
5. Membuat perencanaan berdasarkan tugas dan kewenangan yang didelegasikan
oleh kepala ruangan
b. Organizing (Pengorganisasian)
1. Bersama kepala ruangan membuat rincian tugas untuk perawat pelaksana sesuai
dengan rencana terhadap pasien yang menjadi tanggung jawab nya dalam
pemberian asuhan keperawatan.
2. Mendelegasikan tugas pelaksanaan proses keperawatan kepada perawat
pelaksana
3. Melakukan koordinasi pekerjaan dengan perawat pelaksana
c. Actuating/ Directing(Penggerak/Pengarahan)
1. Memberi pengarahan perawat pelaksana tentang penugasan yang telah
didelegasikan oleh kepala ruangan
2. Memberikan motivasi dalam peningkatan pengetahuan keterampilan sikap
3. Membimbing perawat pelaksana yang mengalami kesulitan melaksanakan
tugasnya
4. Menegur perawat pelaksana yang melalaikan tugas atau membuat kesalahan
5. Memberi pujian kepada perawat pelaksana yang melaksanakan tugasnya
dengan baik.
d. Controling(Pengendalian)
1. Mengevaluasi upaya pelaksanaan untuk membandingkan rencana keperawatan
yang telah disusun bersama
2. Melaporkan masalah keperawatan kepada kepala ruangan

2.Peran dalam pengelolaan ruangan

Nama :
Tanggal : juli 2019
Ruangan : Penyakit Dalam
Jam datang : 13.00 WIB Jam Pulang: 15.00 WIB
Peran sebagai: Karu/katim / Pelaksana (coret yang tidak sesuai)

Kegiatan yang dilakukan:

a. Planning (Perencanaan)
1. Meningkatkan kebersihan dan kerapian ruangan
2. Merencanakan kebutuhan fasilitahan kesehatan bersama kepala ruangan
3. Melindungi klien,pengunjung dan tenaga medis dari resiko infeksi dan resiko
jatuh
4. Meningkatkan komunikasi terapetik dalam pemberian asuhan keperawatan

10
b. Organizing (Pengorganisasian)
1. Merumuskan metode penugasan yang digunakan
2. Mengatur dan mengendalikan logistik ruangan
3. Mengembangkan kemampuan anggota

c. Actuating/ Directing(Penggerak/Pengarahan)
1. Memberi pengarahan tentang kerapian ruangan terhadap perawat pelaksana
2. Memberikan motivasi dalam peningkatan pengetahuan keterampilan sikap
3. mendorong anggota tim dalam melaksanakan tugas agar pasien merasa puasa

d. Controling(Pengendalian)
1. Mengevaluasi upaya pelaksanaan untuk membandingkan rencana keperawatan
yang telah disusun bersama
2. melaporkan kepada kepala ruangan mengenai kebutuhan ruangan yang
diperlukan.

11
JUDUL : HANDOVER DALAM PELAYANAN KEPERAWATAN
PENULIS : Hajjul Kamil
Critical Poin critical Ya Tidak Keterangan
appraisal appraisal
Judul - Apakah  - HANDOVER DALAM
judul PELAYANAN
memenuhi KEPERAWATAN
kaidah
penulisan
judul

- Apakah  - Tidak menggunakan tanda


penulisan tanya
judul
menggunaka
n tanda
Tanya ( ? )

- Apakah  - Tidak menggunakan tanda seru


penulisan
menggunaka
n tanda seru
(!)
Penulis - Apakah  - Hajjul Kamil
nama penulis
di
cantumkan?

- Apakah asal - Program Studi Ilmu


institusi  Keperawatan Fakultas
penulis Kedokteran Universitas Syiah
dicantumkan Kuala, Banda Aceh.
?
- Asal institusi penulis sesuai
- Apakah asal dengn topic penelitian yang
institusi berhubungan dengan
penulis  kesehatan khususnya
sesuai keperawatan
dengan topic
penelitian ?

12
Bidang - Apakah  - Handover adalah proses
ilmu bidang ilmu pengalihan wewenang dan
yang tanggung jawab utama untuk
tercantum memberikan perawatan klinis
dalam judul kepada pasien dari satu
penelitian? pengasuh ke salah satu
pengasuh yang lain.

- Apakah latar
belakang - Berdasarkan latar belakang
penulis  maka peneliti rertarik untuk
(institusi meneliti “HANDOVER Dalam
tempat pelayanan keperawatann”
bekerja)
sesuai
dengan
bidang ilmu
topic
penulis ?
Metode - Apakah  - Tujuan penulisan adalah untuk
penelitian tujuan meningkatkan pemahaman
penelitian perawat, mahasiswa
tersebut? keperawatan, dan masyarakat
tentang serah terima pasien
dalam pelayanan keperawatan,
sehingga dapat mencegah atau
menurunkan resiko kegagalan
dari kontuinitas pelayanan
keperawatan dalam upaya
meningkatkan keselamatan
pasien.

- Tidak, karena tidak terdapat


- Apakah  desain penelitian.
desain
penelitian
sesuai
dengan
tujuan
penelitian ?
- Tidak ditemukan metode
- Bagaimana penelitian pada jurnal .

level of
evidence dari
desain
penelitian ? Tidak ditemukan sampel pada
peneletian tersebut.
- Bagai mana 
pemilihan

13
sampel
dalam
peneliti
tersebut? - Berupa narasi

- Dalam
bentuk apa 
hasil
penelitian
tersebut ?
Hasil - Apakah hasil  - Dari hasil penelitian tersebut
penelitian penelitian dapat diimplementasikan di
dapat keperawatan karena didalam
diimplement jurnal dibahas masalah-
asikan di masalah dalam Handover dan
keperawatan didalam jurnal sudah diberikan
? strategi penyelesaian masalah
dan itu dapat
diimplementasikan dalam
keperawatan,.

- Apa ada
rekomendasi  - Tidak ada, penelitian
khusus sudah cukup baik.
terkait hasil
penelitian?
Daftar - Apakah  - Australia Healtcare and
pustaka daftar Hospitals Association, (2009),
pustaka yang Clinical handover: system
digunakan change, leadership and
up to date? principle, Australia healtcare
and hospital Association.
Friesen, M., White, S V., &
Byers, J F., (2009), Handoffs:
Implication for Nurses, Nurses
First, Volume 2, Issue 3
May/June 2009
The joint Commision Journal
on Quality and patient Safety,
(2010)
- Apakah
daftar yang
digunakan  - Ya, karena daftar sudah sesuai
sesuai ? dengan penelitian.

- Apakah
daftar - Ya, karena penelitian ini
pustaka yang banyak diambil dari daftar
digunakan  pustaka luar negeri.
dari sumber
yang
terpercaya?

14
BAB VI
PEMBAHASAN
Penulis akan membahas mengenai strategi handover keperawatan terhadap
pelayanan yang berkualitas di ruang penyakit dalam Ahmad Dahlan RS
Muhammadiyah Palembang yang dilakukan pada tanggal 21 Juni 2019. Pembahasan
proses strategi handover keperawatan meliputi konsep teori dan kajian data yang
diperoleh dari wawancara membandingkan antara teori dengan kejadian nyata ketika
melakukan aplikasi handover keperawatan.
Indentifikasi dilakukan pada tanggal 21 Juni 2019 dan di dapatkan data bahwa
di ruang penyakit dalam Ahmad Dahlan menggunakan strategi handover keperawatan
dalam pelayanannya kepada klien di ruang perawatan tersebut,. Dari pernyataan salah
satu perawat, strategi ini bertujuan untuk memudahkan pasien dan keluarga
mendapatkan informasi dari dokter atau perawat mengenai penyakitnya dan proses
keperawatan yang dijalaninya, kebutuhan yang harus dipenuhi klien, serta perawat
dapat memastikan keselamatan klien diruangan. Hal ini sesuai dengan tujuan dan
fungsi handover keperawatan yang dikemukanan oleh Muhammad rofi (2010)
menyampaikan kondisi atau keadaan secara umum klien, menyampaikan hal-halyang
penting yang perlu ditindak lanjuti oleh dinas berikutnya
Handover keperawatan di ruang Ahmad Dahlan dilakukan setiap hari dengan
setiap waktu perpindahan shif kerja, biasanya yang melakukan adalah kepala ruangan,
ketua tim, penanggung jawab shift, dan perawat pelaksana dengan tugas dan perannya
masing- masing yaitu sebagai perawat primer, perawat associate, dan konselor,
sebelum melakukan handover perawat disana melakukan do’a terlebih dahulu.
Tindakan yang dilakukan pada saat handover keperawatan yaitu dari perawat
memasuki ruangan klien dan menjelaskan tujuan mereka untuk melakukan handover
keperawatan, selanjutnya perawat memulai operan sesama perawat , perawat jaga
15
mulai menjelaskan keadaan pasien pada perawat jaga selanjutnya dengan teliti jika
perawat jaga selanjutnya belum memahami bisa di tanyakan pada perawat jaga,
sampai perawat jaga selanjutnya mengerti karna jika ada pasien yang memerlukan
tindakan lanjutan segera .
Serah terima pasien terjadi di seluruh kontinum perawatan kesehatan dalam
semua jenis pengaturan layanan. Ada berbagai jenis serah terima pasien dari satu
penyedia jasa perawatan kesehatan kepada yang lain, seperti transfer pasien dari satu
lokasi ke lokasi lain dalam suatu rumah sakit atau transisi informasi dan tanggung
jawab selama serah terima pasien antar shift pada unit yang sama.
Serah terima pasien yang efektif mendukung informasi penting dan
kontinuitas dari perawatan, pengobatan, dan berdampak terhadap keselamatan pasien.
Serah terima pasien yang efektif harus menjadi budaya bagi individu, kelompok dan
organisasi pada institusi pelayanan keperawatan/kesehatan saat ini. Pemahaman
perawat yang baik tentang prinsip, jenis, tatacara, masalah/hambatan dan upaya untuk
mengurangi kesalahan/meningkatkan keselamatan pada kegiatan serah terima pasien
dalam pelayanan keperawatan dapat mencegah kerugian bagi pasien yang disebabkan
oleh kesalahan/hambatan karena faktor individu, kelompok, dan organisasi. Indikator
pelayanan keperawatan berkualitas dapat dicapai dengan salah satu cara dari berbagai
upaya yang tersedia, antara lain; melaksanakan serah terima pasien.

16
BAB V
PENUTUP

A. Keimpulan
Operan merupakan sistem kompleks yang didasarkan pada perkembangan
sosio-teknologi dan nilai-nilai yang dimiliki perawat dalam berkomunikasi. Operan
shif berperan penting dalam menjaga kesinambungan layanan keperawatan selama 24
jam (Kerr, 2002). Tujuan komunikasi selama operan adalah untuk membangun
komunikasi yang akurat, reliabel (Lardner, 1996), tentang tugas-tugas yang akan
dilanjutkan oleh staf pada shif berikutnya agar layanan keperawatan bagi pasien
berlangsung aman dan efektif, menjaga keamanan, kepercayaan, dan kehormatan
pasien, mengurangi kesenjangan dan ketidak akuratan perawatan, serga memberi
kesempatan perawat meninggalkan pelayanan langsung. (Achmad, dkk, 2012).
Tujuan operan (timbang terima) : menyampaikan masalah, kondisi, dan
keadaan klien (data fokus), menyampaikan hal-hal yang sudah atau belum dilakukan
dalam asuhan keperawatan kepada klien, menyampaikan hal-hal penting yang perlu
segera ditindaklanjuti oleh dinas berikutnya, menyusun rencana kerja untuk dinas
berikutnya.

17
DAFTAR PUSTAKA

Nursalam. (2008). “Manajemen Keperawatan”. Jakarta : Salemba Medika

Nursalam. (2014). “Manajemen Keperawatan”. Jakarta : Salemba Medika

Suarli S dan Bahtiar Yayan. (2009). “Manajemen Keperawatan”. Jakarta: erlangga

18