Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kelainan kongenital anorektal didapatkan 1 dari tiap 5000-10000 kelahiran,
sedangkan atresia ani didapatkan 1 % dari seluruh kelainan kongenital pada
neonatus dan dapat muncul sebagai penyakit tersering. Jumlah pasien dengan
kasus atresia ani pada laki-laki lebih banyak ditemukan dari pada pasien
perempuan.
Insiden terjadinya atresia ani berkisar dari 1500-5000 kelahiran hidup dengan
sedikit lebih banyak terjadi pada laki-laki. 20 % -75 % bayi yang menderita
atresia ani juga menderita anomali lain. Kejadian tersering pada laki-laki dan
perempuan adalah anus imperforata dengan fistula antara usus distal uretra pada
laki-laki dan vestibulum vagina pada perempuan (Alpers, 2006).
Angka kajadian kasus di Indonesia sekitar 90 %. Berdasarkan dari data yang
didapatkan penulis, kasus atresia ani yang terjadi di Jawa Tengah khususnya
Semarang yaitu sekitar 50% dari tahun 2007-2009. Menyikapi kasus yang
demikian serius akibat dari komplikasi penyakit atresia ani, maka penulis
mengangkat kasus atresia ani untuk lebih memahami perawatan pada pasien
dengan atresia ani.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan atresia Ani?
2. Apa etiologi dari atresia ani?
3. Apa saja klasifikasi dari atresia ani?
4. Bagaimana patofisiologi dari atresia ani?
5. Bagaimana WOC dari atresia ani?
6. Apa saja tanda dan gejala atresia ani?
7. Apa saja pemeriksaan penunjang dari atresia ani?
8. Bagaimana penatalaksanaan dari atresia ani?
9. Apa saja komplikasi dari atresia ani?
10. Apa saja isi pengkajian asuhan keperawatan pada atresia ani?
11. Apa saja diagnosa asuhan keperawatan pada atresia ani?

1
12. Bagaimana intervensi asuhankeperawatan pada atresia ani?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mengetahui definisi dari atresia ani
2. Mengetahui etiologi dari atresia ani
3. Mengetahui klasifikasi dari atresia ani
4. Mengetahui patofisiologi dari atresia ani
5. Mengetahui WOC dari atresia ani
6. Mengetahui tanda dan gejala dari atresia ani
7. Mengetahui pemeriksaan penunjang dari atresia ani
8. Mengetahui penatalaksanaan dari atresia ani
9. Mengetahui komplikasi dari atresia ani
10. Mengetahui pengkajian dari asuhan keperawatan pada atresia ani
11. Mengetahui diagnosa keperawatan dari asuhan keperawatan atresia ani
12. Mengetahui intervensi dari asuhan keperawatan atresia ani

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi dan Anatomi


Istilah atresia berasal dari bahasa Yunani yaitu “a” yang berarti tidak ada
dan trepsis yang berarti makanan atau nutrisi. Dalam istilah kedokteran, atresia
adalah suatu keadaan tidak adanya atau tertutupnya lubang badan normal.
Atresia ani adalah malformasi congenital dimana rectum tidak mempunyai
lubang keluar (Walley, 1996). Ada juga yang menyebutkan bahwa atresia ani
adalah tidak lengkapnya perkembangan embrionik pada distal anus atau
tertutupnya anus secara abnormal (Suriadi, 2001). Sumber lain menyebutkan
atresia ani adalah kondisi dimana rectal terjadi gangguan pemisahan kloaka
selama pertumbuhan dalam kandungan.
Sumber lain menyebutkan atresia ani adalah kondisi dimana rectal terjadi
gangguan pemisahan kloaka selama pertumbuhan dalam kandungan. Jadi menurut
kesimpulan penulis, atresia ani adalah kelainan congenital anus dimana anus
tidakmempunyai lubang untuk mengeluarkan feces karena terjadi gangguan
pemisahan kloaka yang terjadi saat kehamilan. Walaupun kelainan lubang anus
akan mudah terbukti saat lahir, tetapi kelainan bisa terlewatkan bila tidak ada
pemeriksaan yang cermat atau pemeriksaan perineum. Atresia Ani adalah kelainan
kongenital yang dikenal sebagai anus imperforate meliputi anus, rectum atau
keduanya (Betz. Ed 3 tahun 2002).
Atresia ini atau anus imperforate adalah tidak terjadinya perforasi
membran yang memisahkan bagian entoderm mengakibatkan pembentukan
lubang anus yang tidak sempurna. Anus tampak rata atau sedikit cekung ke dalam
atau kadang berbentuk anus namun tidak berhubungan langsung dengan rectum.
(sumber Purwanto. 2001 RSCM).

2.2 Etiologi
Etiologi secara pasti atresia ani belum diketahui, namun ada sumber
mengatakan kelainan bawaan anus disebabkan oleh gangguan pertumbuhan dan
pembentukan anus dari tonjolan embriogenik. Pada kelainan bawaan anus

3
umumnya tidak ada kelainan rectum, sfingter, dan otot dasar panggul. Namun
demikian pada agenesis anus, sfingter internal mungkin tidak memadai. Menurut
penelitian beberapa ahli masih jarang terjadi bahwa gen autosomal resesif yang
menjadi penyebab atresia ani. Orang tua yang mempunyai gen carrier penyakit ini
mempunyai peluang sekitar 25% untuk diturunkan pada anaknya saat kehamilan.
30% anak yang mempunyai sindrom genetic, kelainan kromosom atau kelainan
congenital lain juga beresiko untuk menderita atresia ani. Sedangkan kelainan
bawaan rectum terjadi karena gangguan pemisahan kloaka menjadi rectum dan
sinus urogenital sehingga biasanya disertai dengan gangguan perkembangan
septum urorektal yang memisahkannya.
 Faktor predisposisi
Atresia ani dapat terjadi disertai dengan beberapa kelainan kongenital
saat lahir seperti :
1. Sindrom vactrel (sindrom dimana terjadi abnormalitas pada
vertebral, anal, jantung, trachea, esofahus, ginjal dan kelenjar
limfe).
2. Kelainan sistem pencernaan.
3. Kelainan sistem pekemihan.
4. Kelainan tulang belakang.

2.3 Klasifikasi
Secara fungsional, pasien atresia ani dapat dibagi menjadi 2 kelompok
besar yaitu:
1. Tanpa anus tetapi dengan dekompresi adequate traktus gastrointestinalis
dicapai melalui saluran fistula eksterna.
Kelompok ini terutama melibatkan bayi perempuan dengan fistula
rectovagina atau rectofourchette yang relatif besar, dimana fistula ini
sering dengan bantuan dilatasi, maka bisa didapatkan dekompresi usus
yang adequate sementara waktu.
2. Tanpa anus dan tanpa fistula traktus yang tidak adequate untuk jalan keluar
tinja.
Pada kelompok ini tidak ada mekanisme apapun untuk menghasilkan

4
dekompresi spontan kolon, memerlukan beberapa bentuk intervensi bedah
segera. Pasien bisa diklasifikasikan lebih lanjut menjadi 3 sub kelompok
anatomi yaitu :
a. Anomali rendah
Rectum mempunyai jalur desenden normal melalui otot puborectalis,
terdapat sfingter internal dan eksternal yang berkembang baik dengan
fungsi normal dan tidak terdapat hubungan dengan
saluran genitourinarius.
b. Anomali intermediet
Rectum berada pada atau di bawah tingkat otot puborectalis; lesung
anal dan sfingter eksternal berada pada posisi yang normal.

c. Anomali tinggi
Ujung rectum di atas otot puborectalis dan sfingter internal tidak ada.
Hal ini biasanya berhubungan dengan fistuls genitourinarius –
retrouretral (pria) atau rectovagina (perempuan). Jarak antara ujung
buntu rectum sampai kulit perineum lebih dari 1 cm.
Sedangkan menurut klasifikasi Wingspread (1984), atresia ani dibagi
menjadi 2 golongan yang dikelompokkan menurut jenis kelamin. Pada laki – laki
golongan I dibagi menjadi 4 kelainan yaitu kelainan fistel urin, atresia rectum,
perineum datar dan fistel tidak ada. Jika ada fistel urin, tampak mekonium keluar
dari orifisium eksternum uretra, mungkin terdapat fistel ke uretra maupun ke
vesika urinaria. Cara praktis menentukan letak fistel adalah dengan memasang
kateter urin. Bila kateter terpasang dan urin jernih, berarti fistel terletak uretra
karena fistel tertutup kateter. Bila dengan kateter urin mengandung mekonium
maka fistel ke vesikaurinaria. Bila evakuasi feses tidak lancar, penderita
memerlukan kolostomi segera. Pada atresia rectum tindakannya sama pada
perempuan ; harus dibuat kolostomi. Jika fistel tidak ada dan udara > 1 cm dari
kulit pada invertogram, maka perlu segera dilakukan kolostomi.
Sedangkan pada perempuan golongan I dibagi menjadi 5 kelainan yaitu
kelainan kloaka, fistel vagina, fistel rektovestibular, atresia rectum dan fistel tidak
ada. Pada fistel vagina, mekonium tampak keluar dari vagina. Evakuasi feces

5
menjadi tidak lancar sehingga sebaiknya dilakukan kolostomi. Pada fistel
vestibulum, muara fistel terdapat divulva.
Umumnya evakuasi feses lancar selama penderita hanya minum susu.
Evakuasi mulai terhambat saat penderita mulai makan makanan padat. Kolostomi
dapat direncanakan bila penderita dalam keadaan optimal. Bila terdapat kloaka
maka tidak ada pemisahan antara traktus urinarius, traktus genetalis dan jalan
cerna. Evakuasi feses umumnya tidak sempurna sehingga perlu cepat dilakukan
kolostomi.Pada atresia rectum, anus tampak normal tetapi pada pemerikasaan
colok dubur, jari tidak dapat masuk lebih dari 1-2 cm. Tidak ada evakuasi
mekonium sehingga perlu segera dilakukan kolostomi. Bila tidak ada fistel, dibuat
invertogram. Jika udara > 1 cm dari kulit perlu segera dilakukan kolostomi.
Golongan II pada laki – laki dibagi 4 kelainan yaitu kelainan fistel
perineum, membran anal, stenosis anus, fistel tidak ada. Fistel perineum sama
dengan pada wanita ; lubangnya terdapat anterior dari letak anus normal. Pada
membran anal biasanya tampak bayangan mekonium di bawah selaput. Bila
evakuasi feses tidak ada sebaiknya dilakukan terapi definit secepat mungkin. Pada
stenosis anus, sama dengan perempuan, tindakan definitive harus dilakukan. Bila
tidak ada fistel dan udara < 1 cm dari kulit pada invertogram, perlu juga dilakukan
pembedahan.
Sedangkan golongan II pada perempuan dibagi 3 kelainan yaitu kelainan
fistel perineum, stenosis anus dan fistel tidak ada. Lubang fistel perineum
biasanya terdapat diantara vulva dan tempat letak anus normal, tetapi tanda timah
anus yang buntu menimbulkan obstipasi. Pada stenosis anus, lubang anus terletak
di tempat yang seharusnya, tetapi sangat sempit. Evakuasi feses tidal lancar
sehingga biasanya harus segera dilakukan terapi definitive. Bila tidak ada fistel
dan pada invertogram udara < 1cm dari kulit dapat segera dilakukan pembedahan
definitive. Dalam hal ini evakuasi tidak ada, sehingga perlu segera dilakukan
kolostomi.

2.4 Patofisiologi
Kelainan ini terjadi karena kegagalan pembentukan septum urorektal
secara komplit karena gangguan pertumbuhan, fusi atau pembentukan anus dari

6
tonjolan embrionik.Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur,
sehingga bayi lahir tanpa lubang dubur.
Gangguan organogenesis dalam kandungan penyebab atresia ani, karena
ada kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu atau
tiga bulan. Berkaitan dengan sindrom down. Atresia ani adalah suatu kelainan
bawaan.
Terdapat tiga macam letak :
1. Tinggi (supralevator) : Rektum berakhir di atas M.Levator ani
(m.puborektalis) dengan jarak antara ujung buntu rectum dengan kulit
perineum >1 cm. Letak upralevator biasanya disertai dengan fistel
kesaluran kencing atau saluran genital.
2. Intermediate : Rectum terletak pada m.levator ani tapi tidak
menembusnya.
3. Rendah : Rectum berakhir di bawah m.levator ani sehingga jarak
antara kulit dan ujung rectum paling jauh 1 cm.

7
2.5 Pathway

Gangguan Pertumbuhan

Pembentukan Anus Dari


Tonjolan Embrionik

ATRESIA ANI

Vistel
Feces Tidak
Rektovaginal
Keluar

Feces Menumpuk Feces Masuk


Uretra
Peningkatan Tekanan
Intra Abdomen Reabsorbsi Sisa
Mikroorganisme
Metabolisme oleh Tubuh
Masuk Saluran Kemih

Dysuria
Operasi: Mual, Penumpukan Sisa
Anoplast Muntah Metabolisme
Colostomi

Resti Nutrisi Kurang Gangguan Gangguan


Dari Kebutuhan Rasa Nyaman Resti Infeksi Eliminasi
Perubahan Nyeri BAK
Defekasi
Gangguan
Kecemasan
Pengeluaran Trauma
Tidak Jaringan
Terkontrol

Nyeri
Iritasi
Mukosa
Gangguan Rasa
Nyaman
Resti Kerusakan
Integritas Kulit

8
2.6 Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis yang terjadi pada atresia ani adalah kegagalan lewatnya
mekonium setelah bayi lahir, tidak ada atau stenosis kanal rectal, adanya
membran anal dan fistula eksternal pada perineum (Suriadi, 2001). Gejala lain
yang nampak diketahui adalah jika bayi tidak dapat buang air besar sampai 24
jam setelah lahir, gangguan intestinal, pembesaran abdomen, pembuluh darah di
kulit abdomen akan terlihat menonjol (Adele,1996).
Bayi muntah – muntah pada usia 24 – 48 jam setelah lahir juga merupakan
salah satu manifestasi klinis atresia ani. Cairan muntahan akan dapat berwarna
hijau karena cairan empedu atau juga berwarna hitam kehijauan karena cairan
mekonium.

2.7 Pemeriksaan Penunjang


Untuk memperkuat diagnosis sering diperlukan pemeriksaan penunjang
sebagai berikut :
1. Pemeriksaan radiologis
Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya obstruksi intestinal.
2. Sinar X terhadap abdomen
Dilakukan untuk menentukan kejelasan keseluruhan bowel dan untuk
mengetahui jarak pemanjangan kantung rectum dari sfingternya.
3. USG terhadap abdomen
Digunakan untuk melihat fungsi organ internal terutama dalam system
pencernaan dan mencari adanya faktor reversible seperti obstruksi oleh
karena massa tumor.
4. CT Scan
Digunakan untuk menentukan lesi.
5. Pemeriksaan fisik rectum
Kepatenan rectal dapat dilakukan colok dubur dengan menggunakan
selang atau jari.

9
2.8 Penatalaksanaan
1.Penatalaksanaan Medis
a. Malformasi anorektal dieksplorasi melalui tindakan bedah
yang disebut diseksi posterosagital atau plastik anorektal
posterosagital.
b. Colostomi sementara

10
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
Diperlukan pengkajian yang cermat dan teliti untuk mengetahui masalah
pasien dengan tepat, sebab pengkajian merupakan awal dari proses keperawatan.
Dan keberhasilan proses keperawatan tergantung dari pengkajian. Konsep teori
yang difunakan penulis adalah model konseptual keperawatan dari Gordon.
a. Menurut Gordon data dapat dikelompokkan menjadi 11 konsep yang
meliputi:
1) Persepsi Kesehatan – Pola Manajemen Kesehatan
Mengkaji kemampuan pasien dan keluarga melanjutkan perawatan
di rumah.
2) Pola nutrisi – Metabolik
Anoreksia, penurunan BB dan malnutrisi umu terjadi pada pasien
dengan atresia ani post kolostomi. Keinginan pasien untuk makan
mungkin terganggu oleh mual dan munta dampak dari anestesi.
3) Pola Eliminasi
Dengan pengeluaran melalui saluran kencing, usus, kulit dan paru
maka tubuh dibersihkan dari bahan - bahan yang melebihi
kebutuhan dan dari produk buangan. Oleh karena pada atresia ani
tidak terdapatnya lubang pada anus, sehingga pasien akan
mengalami kesulitan dalam defekasi (Whaley & Wong, 1996).
4) Pola Aktivitas dan Latihan
Pola latihan dan aktivitas dipertahankan untuk menhindari
kelemahan otot.
5) Pola Persepsi Kognitif
Menjelaskan tentang fungsi penglihatan, pendengaran,
penciuman, daya ingatan masa lalu dan ketanggapan dalam
menjawab pertanyaan.
6) Pola Tidur dan Istirahat

11
Pada pasien mungkin pola istirahat dan tidur terganggu karena
nyeri pada luka inisisi.
7) Konsep Diri dan Persepsi Diri
Menjelaskan konsep diri dan persepsi diri misalnya body image,
body comfort. Terjadi perilaku distraksi, gelisah, penolakan
karena dampak luka jahitan operasi (Doenges, 1993).

8) Peran dan Pola Hubungan


Bertujuan untuk mengetahui peran dan hubungan sebelum dan
sesudah sakit. Perubahan pola biasa dalam tanggungjawab atau
perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran (Doenges,
1993).
9) Pola reproduksi dan Seksual
Pola ini bertujuan menjelaskan fungsi sosial sebagi alat reproduksi
(Doenges, 1993).
10) Pola Pertahanan Diri, Stress dan Toleransi
Adanya faktor stress lama, efek hospitalisasi, masalah keuangan,
rumah (Doenges, 1993).
11) Pola Keyakinan dan Nilai
Untuk menerangkan sikap, keyakinan klien dalam melaksanakan
agama yang dipeluk dan konsekuensinya dalam keseharian.
Dengan ini diharapkan perawat dalam memberikan motivasi dan
pendekatan terhadap klien dalam upaya pelaksanaan ibadah
(Mediana, 1998).
b. Pemeriksaan Fisik
Hasil pemeriksaan fisik yang didapatkan pada pasien atresia ani
adalah anus tampak merah, usus melebar, kadang – kadang tampak
ileus obstruksi, termometer yang dimasukkan melalui anus tertahan
oleh jaringan, pada auskultasi terdengan hiperperistaltik, tanpa
mekonium dalam 24 jam setelah bayi lahir, tinja dalam urin dan vagina
(Whaley & Wong,1996).
1. Keadaan umum: Klien lemah
2. Tanda-tanda vital

12
a. Nadi : 120 – 140 kali per menit
b. Tekanan darah : -
c. Suhu : 36,5-37,5 C
d. RR : 30-40 kali per menit
e. BB : >2500 gr
f. TB : normal
3. Data sistematik
a) System kardiovaskuler
Tekanan darah normal, Denyut nadi normal (120-140 kali per
menit)
b) System respirasi dan pernafasan
Klien tidak mengalami gangguan pernapasan
c) System gastrointestinal
Klien mengalami muntah-muntah, perut kembung dan
membuncit pada 24-28 jam setelah lahir. Tidak ditemukan
adanya saluran anus.
d) System musculosceletal
Klien tidak mengalami gangguansistem musculoskeletal
e) System integument
Klien tidak mengalami gangguan system integument
f) System perkemihan
Pada bayi laki-laki terdapat mekonium di dalam urine, dan
pada bayi perempuan dengan fistula urogenital ditemukan
mekonium dalam vagina.

3.2 Diagnosa Keperawatan


Data yang diperoleh perlu dianalisa terlebih dahulu sebelum
mengemukkan diagnosa keperawatan, sehingga dapat diperoleh diagnosa
keperawatan yang spesifik. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada
pasien atresia ani yaitu:
a) Sebelum proses pembedahan :
1) Inkontinen bowel (tidak efektif fungsi eksretorik berhubungan
dengan tidak lengkapnya pembentukan anus (Suriadi, 2001).
2) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan anoreksia dan atu muntah (Doenges,1993).
3) Kecemasan keluarga berhubungan dengan prosedur
pembedahan dan kondisi bayi (Suriadi, 2001).
b) Setelah proses pembedahan :
1) Gangguan integritas kulit berhubungan dengan kolostomi

13
(Doenges,1993).
2) Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan
(Doenges, 1993).
3) Gangguan citra diri berhubungan dengan adanya kolostomi
(Doenges, 1993).
4) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma saraf
jaringan (Doenges, 1993).
5) Kurangnya pengetahuan keluarga berhungan dengan kebutuhan
perawatan di rumah (Whaley & Wong, 1996).
3.3 Intervensi Keperawatan
Fokus intervensi keperawatan pada atresia ani adalah sebagai berikut :
 Sebelum proses pembedahan :
1) Inkontinen bowel (tidak efektif fungsi eksretorik) berhubungan
dengan tidak lengkapnya pembentukan anus (Suriadi, 2001).
Tujuan : terjadi peningkatan fungsi usus
Kriteria hasil : pasien akan menunjukkan konsistensi tinja
lembek, terbentuknya tinja, tidak ada nyeri saat defekasi, tidak
terjadi perdarahan.
Intervensi :
a) Dilatasikan anal sesuai program.
b) Pertahankan puasa dan berikan terapi hidrasi IV sampai
fungsi usus normal.
2) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan anoreksia dan atau muntah (Doenges, 1993).
Tujuan : kebutuhan nurtisi tubuh tercukupi
Kriteria hasil : menunjukkan peningkatan BB, nilai
laboratorium normal, bebas tanda mal
nutrisi.
Intervensi :
a) Pantau masukan/ pengeluaran makanan / cairan.
b) Kaji kesukaan makanan anak.
c) Beri makan sedikit tapi sering.

14
d) Pantau berat badan secara periodik.
e) Libatkan orang tua, misal membawa makanan dari rumah,
membujuk anak untuk makan.
f) Beri perawatan mulut sebelum makan.
g) Berikan isirahat yang adekuat.
h) Pemberian nutrisi secara parenteral, untuk mempertahankan
kebutuhan kalori sesuai program diit.
3) Kecemasan keluarga berhungan dengan prosedur pembedahan dan
kondisi bayi (Suriadi, 2001 : 159).
Tujuan : memberi support emosional pada keluarga
Kriteria hasil : keluarga akan mengekspresikan perasaan dan
pemahaman terhadap kebutuhan intervensi
perawatan dan pengobatan.
Intervensi :
a) Ajarkan untuk mengekspresikan perasaan.
b) Berikan informasi tentang kondisi, pembedahan dan
perawatan di rumah.
c) Ajarkan keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan
pasien.
d) Berikan pujian pada keluarga saat memberikan perawatan
pada pasien.
e) Jelaskan kebutuhan terapi IV, NGT, pengukuran tanda – tanda
vital dan pengkajian.
 Setelah proses pembedahan :
1) Gangguan integritas kulit berhubungan dengan kolostomi (Doenges,
1996).
Tujuan : tidak terjadi gangguan integritas kulit
Kriteria hasil : penyembuhan luka tepat waktu, tidak
terjadi kerusakan di daerah sekitar anoplasti.
Intervensi :
a. Kaji area stoma.
b. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian lembut dan

15
longgar pada area stoma.
c. Sebelum terpasang colostomy bag ukur dulu sesuai dengan
stoma.
d. Yakinkan lubang bagian belakang kantong berperekat lebih
besar sekitar 1/8 dari ukuran stoma.
e. Selidiki apakah ada keluhan gatal sekitar stoma.
2) Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan (Doenges,
1993).
Tujuan : tidak terjadi infeksi
Kriteria hasil : tidak ada tanda – tanda infeksi, TTV normal,
lekosit normal.
Intervensi :
a) Pertahankan teknik septik dan aseptik secaa ketat pada
prosedur medis atau perawatan.
b) Amati lokasi invasif terhadap tanda-tanda infeksi.
c) Pantau suhu tubuh, jumlah sel darah putih.
d) Pantau dan batasi pengunjung, beri isolasi jika
memungkinkan.
e) Beri antibiotik sesuai advis dokter. .
3) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma saraf
jaringan (Doenges, 1996).
Tujuan : pasien akan melaporkan nyeri hilang atau
terkontrol, pasien akan tampak rileks
Kriteria hasil : ekspresi wajah pasien relaks, TTV normal.

3.4 Implementasi
Adalah tahap pelaksanaan atau implementasi terhadap rencana tindakan
keperawatan yang telah dibuat atau ditetapkan untuk perawat bersama klien
ataupun tenaga kesehatan lainnya guna mengatasi masalah kesehatan klien.
Pelaksanaan dilakukan sesuai dengan rencana tindakan yang telah divalidasi
sesuai dengan kebutuhan klien.

16
3.5 Evaluasi
Merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan. Kegiatan ini adalah
membandingkan hasil yang telah dicapai setelah tahap pelaksanaan tidakan
keperawatan dengan tujuan dan criteria hasil yang diharapkan dalam tahap
perrencanaan. Perawat mempunyai 3 alternatif dalam mengevaluasi atau
menentukan sejauh mana tujuan tersebut tercapai, diantaranya adalah :
1. Tujuan tercapai : jika data subjektif dan objektif ditemukan
pada saat evaluasi telah memenuhi kriteria hasil.
2. Tujuan teratasi sebagian : jika data subjektif dan objektif yang
ditemukan hanya sebagian yang sesuai dengan kriteria hasil.
3. Tujuan belum tercapai : jika data subjektif dan objektif yang
ditemukan tidak sesuai dengan kriteria hasil.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Atresia ani adalah malformasi kongenital dimana rectum tidak mempunyai
lubang keluar (Walley, 1996). Etiologi secara pasti atresia ani belum diketahui,
namun ada sumber mengatakan kelainan bawaan anus disebabkan oleh gangguan
pertumbuhan dan pembentukan anus dari tonjolan embriogenik. Secara

17
fungsional, atresia ani dibagi menjadi 2 yaitu tanpa anus tetapi dengan dekompresi
adequate traktus gastrointestinalis dan tanpa anus dan tanpa fistula traktus yang
tidak adequate untuk jalan keluar tinja. Untuk memperkuat diagnosis sering
diperlukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan Sinar X terhadap
abdomen, Ultrasound terhadap abdomen, CT Scan dan Pemeriksaan fisik rektum.
Penatalaksanaan Medis yang sering dilakukan pada pasien atresia ani yaitu pada
Malformasi anorektal dieksplorasi melalui tindakan bedah yang disebut diseksi
posterosagital atau plastik anorektal posterosagital dan Colostomi sementara.

4.2 Saran
Sebagai seorang perawat yang professional, maka seharusnya kita bisa
melakukan pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir terutama pada anggota badan
yang rentan mengalami kelainan kongenital seperti anus. Hal yang harus
dilakukan adalah bayi dilakukan colok dubur untuk mengetahui apakah bayi
mempunyai anus atau tidak. Lalu dianjurkan bayi untuk menginap di klinik atau
RS dalam waktu 24 jam untuk mengetahui apakah bayi sudah mengeluarkan
mekonium atau tidak, kalau dalam jangka waktu tersebut bayi sudah
mengeluarkan mekonium maka bayi tidak mengalami kelainan.
Untuk ibu bayi yang mengalami atresia ani sebaiknya bias berkolaborasi
dengan tim medis dalam melakukan perawatan bayinya tersebut. Bayi terkadang
dilakukan pembedahan kolostomi dan harus dirawat secara ekstra agar kolostomi
tersebut tidak mengalami infeksi.

DAFTAR PUSTAKA

Betz, Cealy L. & Linda A. Sowden. 2002. “Buku Saku


Keperawatan Pediatrik”. Edisi ke-3. Jakarta : EGC.

18
Doengoes Merillynn. 1999. “Rencana Asuhan Keperawatan,
Nursing care plans, Guidelines for planing and documenting patient
care”. Alih bahasa : I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati. Jakarta: EGC

Wong, Donna L. 2003. “Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik”.


Sri Kurnianianingsih (ed), Monica Ester (Alih Bahasa). edisi ke-4.
Jakarta : EGC..
Jakarta.

jtptunimus-gdl-sriwenidew-5112-2-bab2.pdf

http://hidayat2.wordpress.com/2009/04/11/askep-atresia-ani/

http://ainicahayamata.wordpress.com/nursing-only/keperawatan-
anak/askep-atresia-ani/

http://www.kapukonline.com/2010/03/askepatresiaani.html

19