Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN

KALA 2 LAMA
DI RUANG AL BIRUNI RUMAH SAKIT ISLAM BANJARMASIN
TANGGAL 08 JULI – 13 JULI 2019
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Program Pendidikan Profesi Ners
Stase Maternitas

OLEH :

MUSSAADAH, S.Kep

NIM: 18.31.1310

PROGRAM PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)

CAHAYA BANGSA BANJARMASIN

2019-2020
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN
KALA 2 LAMA
DI RUANG AL BIRUNI RUMAH SAKIT ISLAM BANJARMASIN
TANGGAL 08 JULI – 13 JULI 2019

Oleh :

MUSSAADAH, S.Kep
NIM : 18.31.1310

Banjarmasin,

Mengetahui,

Preseptor Akademik Preseptor Klinik

(Liya Herlina.,S. Kep., Ns) (Hj. Norlathifah., S.Kep., Ns)


LAPORAN PENDAHULUAN
KALA 2 LAMA

1. Definisi
Menurut WHO (2001) persalinan adalah serangkaian kejadian yang
berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan 37-42 minggu,
lahir spontan, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun janin, disusul
dengan pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh bayi.

Menurut Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH (1998), pengertian dari


partus lama adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam
pada primigravida dan lebih dari 18 jam pada multigravida.
Kala II lama adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 2 jam
pada primi, dan lebih dari 30 menit sampai 1 jam pada multi.
(Sinopsis Obsestetri, 2010)

Kala II Lama adalah persalinan dengan tidak ada penurunan kepala


> 1 jam untuk nulipara dan multipara. (Sarwono, 2008)

Persalinan lama ialah persalinan yang berlangsung lebih dari 12


jam, baik pada primipara maupun multipara. Persalinan lama dapat
terjadi dengan pemanjangan kala I dan atau kala II. ( Wiknjosastro,
2010).

2. Etiologi
Sebab-sebab terjadinya persalinan lama ini adalah multikomplek
dan tentu saja bergantung pada pengawasan selagi hamil,
pertolongan persalinan yang baik dan penatalaksanaannya. Faktor-
faktor penyebabnya antara lain :
a. Kelainan letak janin
b. Kelainan-kelainan panggul
c. Kelainan kekuatan his dan mengejan
d. Pimpinan persalinan yang salah
e. Janin besar atau ada kelainan kongenital
f. Primi tua primer dan sekunder
g. Perut gantung, grandemulti
h. Ketuban pecah dini ketika servik masih menutup, keras dan
belum mendatar
i. Analgesi dan anestesi yang berlebihan dalam fase laten
j. Wanita yang dependen, cemas dan ketakutan dengan orang
tua yang menemaninya ke rumah sakit merupakan calon
partus lama.

Klasifikasi
Klasifikasi partus lama menurut Oxorn, 2010 :
a. Fase laten yang memanjang
Fase laten yang melampaui waktu 20 jam pada primigravida
atau waktu 14 ja pada multipara merupakan keadaan
abnormal, sebab-sebab fase laten yang panjang mencakup :
cervix belum matang pada awal persalinan, posisi janin yang
abnormal, disproporsi felopelvik.
b. Fase aktif yang memanjang pada primigravida
Pada primigravida, fase aktif yang lebih panjang dari 12 jam
merupakan keadaan abnormal. Yang lebih penting daripada
panjangnya fase ini adalah kecepatan dilatasi serviks, laju
yang kurang dari 1,2 cm per jam membuktikan adanya
abnormalitas dan harus menimbulkan kewaspadaan tenaga
kesehata yang akan menolong persalinan tersebut.
c. Fase aktif yang memanjang pada multipara
Fase aktif pada multipara yang berlangsung lebih dari 6 jam
(rata-rata 2,5 jam) dan laju dilatasi servik yang kurang dari
1,5 cm per jam merupakan keadaan yang abnormal.
d. Kala dua memanjang
Tahap ini berawal saat pembukaan servik sudah lengkap dan
berakhir keluarnya janin. Median durasiny adalah 50 menit
untuk primigravida dan 20 menit untuk multigravida, tetapi
angka ini sangat bervarisi. Pada ibu dengan paritas tinggi
yang vagina dan perineumnya sudah melebar, dua atau tiga
kali mengejan setelah pembukaan lenngkap mungkin cukup
untuk mengeluarkan janin. Sebaliknya, pada seorang ibu
dengan panggul sempit atau janin besar, maka kala dua akan
sangat memanjang
e. Kala dua persalinan pada primigravida dibatasi 2 jam dan
diperpanjang menjadi 3 jam apabila digunakan analgesia
regional. Untuk multigravida satu jam adalah batasnya, dan
di perpanjang menjadi 2 jam apabila pada penggunaan
analgesia regional.

Komplikasi
Efek yang diakibatkan oleh partus lama bisa mengenai ibu maupun
janin. Diantaranya:
a. Infeksi Intrapartum
Infeksi merupakan bahaya serius yang mengancam ibu dan
janinnya pada partus lama, terutama bila disertai pecahnya
ketuban. Bakteri didalam cairan amnion menembus amnion
dan desisdua serta pembuluh korion sehingga terjadi
bakteremia , sepsis dan pneumonia pada janin akibat aspirasi
cairan amnion yang terinfeksi.
b. Ruptur uteri
Penipisan abnormal segmen bawah uterus menimbulkan
bahaya serius selama partus lama, terutama pada wanita
dengan paritas tinggi dan pada mereka yang dengan riwayat
seksio sesarea. Apabila disproporsi antara kepala janin dan
dan panggul sedemikin besar sehingga kepala tidak engaged
dan tidak terjadi penurunan, sehingga segmen bawah uterus
menjadi sangat teregang yang kemudian dapat menyebabkan
ruptur.
c. Cincin retraksi patologis
Pada partus lama dapat timbul konstriksi atau cincin lokal
uterus, tipe yang paling sering adalah cincin retraksi patologis
Bandl. Cincin ini disertai peregangan dan penipisan
berlebihan segmen bawah uterus, cincin ini sebagai sustu
identasi abdomen dan menandakan ancaman akan rupturnya
segmen bawah uterus.
d. Pembentukan fistula
Apabila bagian terbawah janin menekan kuat ke pintu atas
panggul tetapi tidak maju untuk jangka waktu lama , maka
bagian jalan lahir yang terletak diantaranya akan mengalami
tekanan yang berlebihan. Karena gangguan sirkulasi sehingga
dapat terjadi nekrosis yang akan jelas dalam beberapa hari
setelah melahirkan dengan munculnya fistula.
e. Cedera otot dasar panggul
Cedera otot-otot dasar panggul, persarafan, atau fasia
penghubungnya merupakan konsekuensi yang tidak
terelakkan pada persalinan pervaginum terutama apabila
persalinannya sulit.
f. Efek pada janin berupa kaput suksedaneum, moulase kepala
janin, bila berlanjut dapat menyebabkan terjadinya gawat
janin.

Prognosis
Prognosis dari kala II lama ditetentukan oleh kecepatan dalam
mendiagnosis serta menanganinya, semakin lama partus tersebut
berlangsung, maka semakin besar kemungkinan terjadinya partus
lama dan semakin banyak komplikasi yang baik pada ibu maupun
pada janin.

3. Tanda dan gejala / manifestasi klinik


a. Pembukaan servik tidak melewati 3 cm sesudah 8 jam in
partu
b. Frekuensi dan lamanya kontraksi kurang dari 3 kontraksi per
10 menit dan kurang dari 40 detik
c. Kelainan presentasi
d. Pembukaan servik lengkap, ibu ingin mengedan, tetapi tidak
ada kemajuan penanganan
e. Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya
kontraksi
f. Ibu merakan makin meningkatnya tekanan pada rektum dan
vagina
g. Perinium terlihat menonjol
h. Vulva vagina dan sfingter ani terlihat membuka
i. Peningkatan pengeluaran lendir darah

Manifestasi klinik pada ibu:


Ibu merasakan gelisah, letih, suhu badan meningkat, berkeringan,
nadi cepat, sering dijumpai lingkaran bandle, edema vulva, edema
servik, cairan ktuban berbau, terdapat mekonium

Manifestasi klinik pada janin:


Denyut jantung cepat, tidak teratur atau bahkan hilang. Caput
succedaneum yang besar. Moulage kepala yang hebat. IUFD (intra
uterin fetal death).
4. Patofisiologi
Persalinan kala II ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan dalam
untuk memastikan pembukaan sudah lengkap atau kepala janin
sudah tampak di vulva dengan diameter 5-6 cm. Kemajuan
persalinan dalam kala II dikatakan kurang baik apabila penurunan
kepala janin tidak teratur di jalan lahir, gagalnya pengeluaran pada
fase pengeluaran. (Prawirohardjo, 2012)

Kesempitan panggul dapat menyebabkan persalinan yang lama atau


persalinan macet karena adanya gangguan pembukaan yang
diakibatkan oleh ketuban pecah sebelum waktunya yang disebabkan
bagian terbawah kurang menutupi pintu atas panggul sehingga
ketuban sangat menonjol dalam vagina dan setelah ketuban pecah
kepala tetap tidak dapat menekan cerviks karena tertahan pada pintu
atas panggul. Persalinan kadang-kadang terganggu oleh karena
kelainan jalan lahir lunak (kelainan tractus genitalis). Kelainan
tersebut terdapat di vulva, vagina, cerviks uteri, dan uterus.

His yang tidak normal dalam kekuatan atau sifatnya menyebabkan


hambatan pada jalan lahir yang lazim terdapat pada setiap
persalinan, jika tidak dapat diatasi dapat megakibatkan kemacetan
persalinan. Baik atau tidaknya his dinilai dengan kemajuan
persalinan, sifat dari his itu sendiri (frekuensinya, lamanya, kuatnya
dan relaksasinya) serta besarnya caput succedaneum.

Pimpinan persalinan yang salah dari penolong, tehnik meneran yang


salah, bahkan ibu bersalin yang kelelahan dan kehabisan tenaga
untuk meneran dalam proses persalinan juga bisa menjadi salah satu
penyebab terjadinya kala II lama.
Pathway
5. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik meliputi : pemeriksaan tanda-tanda vital, keadaan
umum klien dan pemeriksaan fisik dilakukan secara : inspeksi,
palpasi meliputi : Leopold I (mengetahui TFU dan umur
kehamilan), Leopold II (mengetahui dimana letak punggung dan
bagian terkecil dari janin apakah dikiri / dikanan perut ibu, Leopold
III (mengetahui bagian terendah dari janin), Leopold IV
(mengetahui sejauh mana bagian terendah janin masuk PAP).
Auskultasi DJJ dengan menggunakan lenek untuk mendengar bunyi
jantung janin.

6. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan
laboratorium, tes lakmus, mikroskopik atau ultrasonografi (USG).
Untuk menentukan ada atau tidaknya infeksi, kriteria laboratorium
yang digunakan adalah adanya leukositosis maternal (leukosit
>16.000/uL) dan adanya peningkatan C-reactive protein. Pada
pemeriksaaan tes lakmus, kertas lakmus merah akan berubah
menjadi biru, menunjukkan adanya air ketuban (alkalis). Normalnya
pH air ketuban berkisar antara 7-7,5. Darah dan infeksi vagina
dapat menghasilkan tes yang positif palsu.
Pemeriksaan mikroskopik dilakukan dengan meneteskan air
ketuban pada gelas objek dan dibiarkan kering, lalu diperiksa
dibawah mikroskop dan menunjukkan gambaran daun pakis.
Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan untuk melihat jumlah cairan
ketuban dalam kavum uteri. Menurut Phelan, ada tiga cara
pengukuran cairan ketuban, yaitu secara subyektif, semikuantitatif
(pengukuran satu kantong), dan pengukuran empat kuadran.
Penilaian subyektif volume cairan ketuban berdasarkan atas
pengalaman subyektif pemeriksa di dalam menentukan volume
tersebut berdasarkan apa yang dilihatnya pada saat pemeriksaan.
Normal jika masih ada bagian janin yang menempel pada
dinding uterus, dan bagian lain cukup terisi cairan ketuban. Bila
sedikit, maka sebagian besar tubuh janin akan melekat pada
dinding uterus, sedangkan bila hidramnion, maka tidak ada
bagian janin yang menempel pada dinding uterus (Prawirohardjo,
2009; Kusuma, 2012).

7. Penatalaksanaan
Menurut Oxorn (2010), penanganan kala II lama yaitu :
a. Disproporsi
Secsio sesarea merupakan indikasi
b. Tanpa disproporsi
 Infuse oksitosin memperbaiki kontraksi uterus
 Pemecahan ketuban diperlukan jika kantong ketuban masih
utuh
 Pasien harus ditempatkan pada meja bersalin dan dipimpin
agar mau mengedan pada setiap kali his
 Digunakan foroefs untuk menghasilkan penurunan dan rotasi
lebih lanjut.
 Efisiotomi akan mengatasi perineum yang kaku
Kalau metode-metode ini gagal atau kelahiran pervaginam dengan
tindakan dianggap terlalu traumatic bagi kelahiran yang aman maka
section sesarea merupakan indikasi.

Menurut Wiknjosastro (2009), penanganan kala II lama adalah:


Upaya mengedan ibu menambah resiko pada bayi karena
mengurangi jumlah oksigen ke plasenta.
Maka dari itu sebaiknya dianjurkan mengedan secara spontan,
mengedan dan menahan napas yang terlalu lama tidak dianjurkan.
Perhatikan denyut jantung janin, bradikardi yang lama mungkin
terjadi karena lilitan tali pusat. Dalam hal ini lakukan tindakan
forcef/vakum bila saraf terpenuhi. Bila malpresentasi dan obstruksi
bisa disingkirkan, berikan oksitosin drip, bila setelah 1 jam
pemberian oksitosin tetap tidak ada kemajuan persalinan, lahirkan
dengan bantuan vakum atau forsef bila syaraf terpenuhi. Apabila
persyaratan vakum/forsef tidak terpenuhi segera lakukan seksio
sesarea.

8. Analisa data
No Data Etiologi Masalah
1 DS : Klien mengeluhkan nyeri Adanya agen Nyeri akut (00132)
injury biologi
pada perutnya post op.
(luka post SC)
P : Pada saat digerakkan.
Q : Seperti ditusuk-tusuk
R : Perut bagian tengan bawah
S : Skala 2 (numerik 1-5)
T : kadang-kadang
DO :
- Klien tampak meringis ketika
nyerinya timbul pada saat
bergerak (berganti posisi)
- Klien memegangi perutnya
yang nyeri
- Tanda-tanda vital:
TD : 120/80mmHg
N : 83x/mnt
R : 19x/mnt
T : 36,7OC

2 Faktor Risiko Risiko Infeksi


Terdapat tindakan invasif: (00004)
- Luka post operasi SC vertikal
deengan panjang insisi ± 15
cm
- Terpasang infus di ektermitas
atas
3  DS: Kurang Ketidakefektifan
pengetahuan pemberian ASI
 Klien mengatakan tentang
putting susunya penyimpanan
masuk ke dalam dan dan pengeluaran
bayinya menolak saat ASI
disusui
 DO:
 Putting susu tampak
inverted
4  DS: Prosedur spinal Hambatan
 Pasien mengatakan anastesi mobilitas fisik
belum bisa miring- (00085)
miring
 DO :
 Tampak kesulitan
memindah posisi tidur
dari telentang
kemiring paost SC
dengan spinal
anastesi, belum bisa
menekuk kaki

5  DS: Kurangnya Ketidakseimbangan


 Pasien mengatakan pengetahuan nutrisi kurang dari
tidak berani makan tentang kebutuhan tubuh
karena takut BAB kebutuhan (00002)
 DO: nutrisi post Sc
 Tampak lemah
 Selaput mokusa kering
 Porsi makan setengah
piring

9. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul


a. Nyeri akut berhubungan dengan adanya agen injury biologi
(luka post SC)
b. Resiko infeksi
c. Ketidakefektifan pemberian ASI berhubungan dengan
Kurang pengetahuan tentang penyimpanan dan pengeluaran
ASI
d. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan adanya Luka
post operasi SC
e. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan Kurangnya pengetahuan tentang
kebutuhan nutrisi post Sc

10. Nursing Care Planning (NCP)


No Diagnosa NOC NIC
keperawatan (Nursing Outcomes) (Nursing
Intervention
Classification)

1 Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan PAIN


berhubungan keperawatan selama 2x 24 jam, MANAGEMENT
dengan adanya diharapakan nyeri teratasi. (Manajemen
Kriteria hasil: Nyeri)
agen injury
Pain Level 1. Lakukan
biologi (luka Indikator IR ER pengkajian
post SC)  Melaporkan 4 3 nyeri secara
adanya nyeri komprehensif
 Luas bagian 4 3 termasuk
tubuh yang lokasi,
terpengaruh karakteristik,
 Frekuensi nyeri 4 3 durasi,
 Panjangnya 4 3 frekuensi,
episode nyeri kualitas dan
 Pernyataan nyer 4 3 faktor
 Ekspresi nyeri 4 3 presipitasi
pada wajah 2. Observasi
 Posisi tubuh 4 3 reaksi
protektif nonverbal dari
 Kurangnya 4 3 ketidaknyama
istiraha nan
 Ketegangan otot 4 3 3. Gunakan
 Perubahan pada teknik
frekuensi 4 3 komunikasi
pernafasan terapeutik
 Perubahan nadi untuk
(heart rate) 4 3 mengetahui
 Perubahan pengalaman
tekanan darah 4 3 nyeri pasien
 Perubahan 4. Kaji kultur
ukuran pupil 4 3 yang
 Keringat mempengaruh
berlebih 4 3 i respon nyeri
 Kehilangan 5. Evaluasi
selera makan 4 3 pengalaman
nyeri masa
Keterangan: lampau
1. Kuat 6. Evaluasi
2. Berat bersama
3. Sedang pasien dan tim
4. Ringan kesehatan lain
5. Tidak ada tentang
ketidakefektif
an kontrol
nyeri masa
lampau
7. Bantu pasien
dan keluarga
untuk mencari
dan
menemukan
dukungan
8. Kontrol
lingkungan
yang dapat
mempengaruh
i nyeri seperti
suhu ruangan,
pencahayaan
dan
kebisingan
9. Kurangi
faktor
presipitasi
nyeri
10. Pilih dan
lakukan
penanganan
nyeri
(farmakologi,
non
farmakologi
dan inter
personal)
11. Kaji tipe dan
sumber nyeri
untuk
menentukan
intervensi
12. Ajarkan
tentang teknik
non
farmakologi
13. Berikan
analgetik
untuk
mengurangi
nyeri
14. Evaluasi
keefektifan
kontrol nyeri
15. Tingkatkan
istirahat
16. Kolaborasikan
dengan dokter
jika ada
keluhan dan
tindakan nyeri
tidak berhasil
17. Monitor
penerimaan
pasien tentang
manajemen
nyeri
2 Resiko infeksi Setelah dilakukan tindakan INFECTION
berhubungan keperawatan selama 2 x 24 jam, CONTROL
dengan adanya diharapakan nyeri teratasi. 1. Bersihkan
Kriteria hasil: lingkungan
Episiotomi,
Risk Control setelah dipakai
laserasi jalan pasien lain
Indikator IR E
lahir, bantuan R 2. Pertahankan
pertolongan  Pengetahuan 4 3 teknik isolasi
persalinan tentang 3. Batasi
resiko pengunjung
 Memonitor 4 3 bila perlu
faktor resiko 4. Instruksikan
dari pada
lingkungan pengunjung
 Memonitor 4 3 untuk mencuci
faktor resiko tangan saat
dari perilaku berkunjung
personal dan setelah
 Mengemban 4 3 berkunjung
gkan strategi meninggalkan
kontrol pasien
resiko yang 5. Gunakan
efektif sabun
 Mengatur 4 3 antimikrobia
strategi untuk cuci
pengontrola tangan
n resiko 6. Cuci tangan
seperti yang setiap sebelum
dibutuhkan dan sesudah
 Berkomitme 4 3 tindakan
n dengan kperawtan
srategi 7. Gunakan baju,
kontrol sarung tangan
resiko yang sebagai alat
direncanaka pelindung
n 8. Pertahankan
 Melaksanak 4 3 lingkungan
an strategi aseptik selama
kontrol pemasangan
resiko yang alat
dipilih 9. Ganti letak IV
 Memodifika 4 3 perifer dan
si gaya line central
hidup untuk dan dressing
mengurangi sesuai dengan
resiko petunjuk
 Menghindar 4 3 umum
i paparan 10. Gunakan
yang bisa kateter
mengancam intermiten
kesehatan untuk
 Berpartisipa 4 3 menurunkan
si dalam infeksi
skrining kandung
masalah kencing
kesehatan 11. Tingktkan
 Berpartisipa 4 3 intake nutrisi
si dalam 12. Berikan terapi
skrining antibiotik bila
resiko yang perlu
telah
teridentifika
si
 Memperoleh 4 3
imunisasi
yang sesuai
 Menggunak 4 3
an fasilitas
kesehatan
sesuai
kebutuhan
 Menggunak 4 3
an dukungan
personal
untuk
mengontrol
resiko
 Menggunak 4 3
an dukungan
sosial untuk
mengontrol
resiko
 Mengenali 4 3
perubahan
status
kesehatan
 Memonitor 4 3
perubahan
status
kesehatan
Keterangan:
1. Tidak pernah menunjukkan
2. Jarang menunjukkan
3. Kadang-kadang menunjukkan
4. Sering menunjukkan
5. Selalu menunjukkan
3 Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan KONSELING
pemberian ASI keperawatan selama 2 x 24 jam, LAKTASI
berhubungan diharapakan klien dapat pola  Monitor
menyusui efektif. payudara ibu
dengan Kurang
Kriteria hasil: dari mastitis
pengetahuan Breastfeeding Maintenance dan atau putting
tentang Indikator IR ER susu yang
penyimpanan dan  Pertumbuhan 4 3 masuk
pengeluaran ASI infant dalam  Tentukan
rentang pengetahuan
normal dasar ibu
 Pergerakan 4 3 tentang
infant dalam menyusui
rentang  Sediakan
normal informasi
 Pengetahuan 4 3 mengenai
keluarga atas keuntungan dan
keuntungan kerugian
menyusui menyusui
 Kemampuan 4 3  Luruskan
ibu pemikiran yang
mengeluarka salah tentang
n dan menyusui
menyimpan (termasuk mitos
ASI dan lain-lain)
 Ibu bebas 4 3  Demonstrasikan
dari sumbatan pijat payudara
ASI dan diskusikan
 Kemampuan 4 3 mengenai
ibu untuk keuntungan
melakukan untuk
perawatan meningkatkan
mandiri produksi ASI
 Ibu 4 3  Ajarkan pada
melanjutkan ibu untuk
menyusui memompa dan
setelah menyimpan
kembali ASI
bekerja atau  Diskusikan cara
sekolah lain atau
 Keluarga 4 3 metode lain
mengekspresi untuk menyusui
kan kepuasan
atas
dukungan
yang
diberikan
 Keluarga 4 3
mengekspresi
kan kepuasan
atas proses
menyusui
4 Hambatan Setelah dilakukan tindakan EXERCISE
mobilitas fisik keperawatan selama 2 x 24 jam, THERAPHY :
berhubungan diharapakan Mobilitas fisik dalam AMBULATION
rentang normal (Terapi
dengan adanya
Kriteria hasil: Aktivitas :
Luka post operasi Mobility Level Ambulasi)
SC Indikator I ER  Monitoring
R vital sign
 Keseimbangan 4 3 sebelm/sesuda
tubuh h latihan dan
 Posisi tubuh 4 3 lihat respon
 Gerakan Otot 4 3 pasien saat
 Gerakan sendi 4 3 latihan
 Kemampuan 4 3  Konsultasikan
berpindah dengan terapi
 Ambulasi : 4 3 fisik tentang
berjalan rencana
 Ambulasi : 4 3 ambulasi
kursi roda sesuai dengan
kebutuhan
 Bantu klien
untuk
menggunakan
tongkat saat
berjalan dan
cegah
terhadap
cedera
 Ajarkan
pasien atau
tenaga
kesehatan lain
tentang teknik
ambulasi
 Kaji
kemampuan
pasien dalam
mobilisasi
 Latih pasien
dalam
pemenuhan
kebutuhan
ADLs secara
mandiri sesuai
kemampuan
 Dampingi dan
Bantu pasien
saat
mobilisasi dan
bantu penuhi
kebutuhan
ADLs ps.
 Berikan alat
Bantu jika
klien
memerlukan.
 Ajarkan
pasien
bagaimana
merubah
posisi dan
berikan
bantuan jika
diperlukan
5 Ketidakseimbanga Setelah dilakukan tindakan  Kaji adanya
n nutrisi kurang keperawatan 2x24 jam diharapkan alergi
dari kebutuhan kebutuhan nutrisi terpenuhi makanan
tubuh Indikator IR ER  Kolaborasi
berhubungan dengan ahli
 Intake zat gizi 4 3 gizi untuk
dengan
(nutrien) menentukan
Kurangnya jumlah kalori
pengetahuan  Intake
makanan dan 4 3 dan nutrisi
tentang kebutuhan yang
cairan
nutrisi post Sc dibutuhkan
 Energi 4 3
pasien.
 Masa tubuh 4 3
4 3  Anjurkan
 Berat badan pasien untuk
 Ukuran 4 3
meningkatkan
kebutuhan protein dan
nutrisi vitamin C
secara  Berikan
biokimia substansi gula
 Yakinkan diet
yang dimakan
mengandung
tinggi serat
untuk
mencegah
konstipasi
 Berikan
makanan yang
terpilih (
sudah
dikonsultasika
n dengan ahli
gizi)
 Monitor
jumlah nutrisi
dan
kandungan
kalori
 Berikan
informasi
tentang
kebutuhan
nutrisi
 Kaji
kemampuan
pasien untuk
mendapatkan
nutrisi yang
dibutuhkan
DAFTAR PUSTAKA

Amalia, L.N (2014). Asuhan Kebidanan Pada Ny. “ M ” Dengan Tindakan


Seksio Sesarea Atas Indikasi Kala Ii Lama Di Ruang Vk Ird Rsup
Ntb. Tersedia dalam : www.academia .edu > kasus_kala_II_lama.

Diyah, dkk (2010) Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin Dengan Partus
Lama Terhadap Ny. “S”Di Rsud Banyudono. Tersedia dalam :www.
academia.edu > laporan_pendahuluan_kala_2_lama.

Manuaba, IBG, 1998, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga


Berencana Untuk Pendidikan Bidan, EGC, Jakarta.

Mochtar, R., 1998, Sinopsis Obstetri : Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologis


Jilid I, EGC, Jakarta

Prawirohadjo, S., 2002, Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal Edisi


I, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta.