Anda di halaman 1dari 2

Burnout Di Kalangan Tenaga Kedokteran

Notifikasi : Waspadai burnout pada dokter! Klik untuk membaca lebih

Ringkasan

 Prevalensi burnout pada profesi dokter sangat tinggi dan terus bertambah
 Burnout dapat berdampak negatif pada dokter maupun pasien
 Penyebab burnout berasal dari berbagai aspek, terutama kegagalan menyeimbangkan
kehidupan pekerjaan dan pribadi
 Burnout dapat dicegah dengan melakukan beberapa hal

Burnout pada dokter merupakan salah satu subyek keprihatinan selama bertahun-tahun di bidang
kesehatan. Sindrom Burnout sendiri adalah sebuah sindrom psikologis sebagai respons stress kronis
dengan 3 gejala utama yaitu kelelahan emosional (kehilangan minat pada pekerjaan), depersonalisasi
(sikap sinis terhadap karir dan diri sendiri, pada dokter biasanya menganggap pasien hanya sebagai
objek), dan merasa pekerjaannya sudah tidak berguna (hilangnya efektifitas dan prestasi kerja).1,2 Hal
ini berdampak pada penurunan profesionalisme, peningkatan risiko kesalahan medis, depresi,
gangguan cemas, penyalahgunaan obat, bahkan hingga bunuh diri. Setiap tahunnya, sekitar 400
dokter di Amerika mengambil nyawanya sendiri. Selain itu, banyak juga dokter yang berhenti dari
pekerjaannya, pensiun dini, atau mengurangi waktu praktiknya.3
Sebuah survey dari Mayo Clinic di Amerika dari tahun 2011 hingga 2014 menujukan bahwa burnout
pada dokter merupakan sebuah epidemik yang terus bertambah. Pada tahun 2011, ditemukan 45.5%
responden melaporkan paling tidak 1 gejala burnout. Pada tahun 2014, angka tersebut meningkat
menjadi 54.5%. Para dokter juga melaporkan penurunan kepuasan dalam keseimbangan kerja-hidup
dalam kurun waktu tersebut, dari 48.5% pada tahun 2011 menjadi 40% di tahun 2014.2 Bukan hanya
pada dokter, burnout juga dirasakan, bahkan terkadang lebih berat, oleh mahasiswa kedokteran atau
dokter residen. Sebuah penelitian di Amerika pada tahun 2013 menemukan bahwa proses pelatihan
adalah waktu puncak stress untuk para dokter.4

Burnout bukan hanya berdampak negatif pada dokter, namun juga pada pasien. Kondisi ini dapat
mengganggu hubungan antara pasien dan dokter, dan juga dapat mempengaruhi kualitas perawatan
dokter ke pasien. Saat dokter memiliki perasaan sinis terhadap pekerjaannya, mereka akan mulai
memiliki sikap negatif terhadap pasien yang akhirnya menggangu interaksi dokter-pasien dan
menyebabkan komunikasi yang buruk sehingga informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan
keputusan klinis tidak tergali dengan baik. Selain itu, burnout juga dapat mengganggu konsentrasi,
ingatan, dan fungsi eksekutif dokter. Gejala-gejala burnout pada dokter dapat dikaitkan dengan
peningkatan kesalahan medis, pola peresepan yang lebih berisiko, dan rendahnya kepatuhan pasien
terhadap rencana manajemen penyakit kronis. Sebuah penelitian di tahun 2014 pada dokter rawat
intensif menunjukan bahwa kelelahan emosional pada dokter berkaitan dengan peningkatan
mortalitas pada pasien yang dirawat.5
Pentingnya identifikasi dari akar penyebab burnout pada dokter tidak boleh diabaikan. Penyebab dari
burnout pada dokter datang dari berbagai aspek yang beragam, namun belum ada data definitif
mengenai hal tersebut, mesikipun telah banyak dilakukan penelitian. Beberapa penelitian
menemukan bahwa penyebab umum burnout pada dokter adalah beban kerja yang semakin tinggi,
tekanan waktu secara konstan, perasaan tidak dihargai, pasien-pasien yang sulit, frustasi dengan
sistem rujukan, masalah medikolegal, dan yang terutama adalah kesulitan menyeimbangkan antara
kehidupan pribadi dan pekerjaan.3,4,6
Apakah Burnout dapat dicegah?

Risiko burnout dapat dialami oleh setiap individu dari berbagai pekerjaan. Namun, dilaporkan bahwa
angka burnout pada dokter lebih tinggi dibandingkan profesi lainnya atau populasi umum. 2,4,7
Sehingga muncul pertanyaan, apakah setiap tenaga dokter (dokter maupun mahasiswa
kedokteran/dokter dalam pelatihan) akan mengalami burnout?

Penelitian di bidang medis dan bedah di seluruh dunia menunjukan 1 dari 3 dokter mengalami sindrom
burnout. Hampir setengah mahasiswa kedokteran mengalaminya bahkan sebelum memasuki
residensi8, dan 82% dokter residen juga mengalami burnout.9 Hal ini memang menekankan tingginya
prevalensi burnout pada dokter dari segala tingkat, namun juga menunjukan bahwa tidak semua
dokter mengalami sindrom burnout. Artinya, burnout pada dokter dapat dicegah.

Secara umum, terdapat 3 tingkat pencegahan yang direkomendasikan untuk mengurangi risiko
burnout, yaitu (1) Modifikasi struktur organisasi dan proses kerja, (2) meningkatkan harmonisasi
organisasi dan dokter melalui program-program harmonisasi untuk menciptakan lingkungan kerja
yang lebih baik, dan (3) Usaha individual dokter untuk mengurangi stress melalui manajemen stress
yang efektif dan kebiasaan hidup sehat.10

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk manajemen stress diri sendiri, seperti :

1. Mengenali ciri-cirinya untuk mencegah progresi burnout.


2. Menyempatkan diri berolahraga atau melakukan hobi dan aktivitas relaksasi.
3. Menjadwalkan waktu khusus untuk berkumpul bersama keluarga dan kerabat.
4. Mendelegasikan tugas untuk mengurangi beban kerja.
5. Membuat batasan yang jelas antara lingkungan pekerjaan dan lingkungan pribadi
6. Memastikan tidur yang berkualitas
7. Memahami bahwa beberapa hal tertentu tidak dapat dikontrol sepenuhnya.