Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

“Astma Pada Anak”

Disusun oleh :
Mia silviana (21116046)

Dosen Pembimbing : Imardiani S.Kep.,Ns.,M.Kep

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
MUHAMMADIYAH PALEMBANG
TAHUN AKADEMIK 2016/2017

KATA PENGANTAR
AssalamualaikumWr.Wb
Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat ALLAH SWT, karena atas segala rahmat
dan karunia-nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan ini. Laporan ini akan
membahas tentang “Asma Pada Anak”.
Kami menyadari banyak kekurangan dalam laporan yang kami buat. Oleh karena itu
kami mengharapkan kritik maupun saran dari semua pihak untuk perbaikan sehingga laporan
ini dapat menjadi lebih baik.
Demikianlah laporan ini kami buat semoga dapat bermanfaat bagi yang membaca
khususnya mahasiswa STIkes Muhammadiyah Palembang.
Wassalamualaikum wr.wb

Palembang, Juni 2019

Penulis

DAFTAR ISI

ii
Halaman
KATA PENGANTAR......................................................................................ii
DAFTAR ISI....................................................................................................iii
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar belakang..................................................................................1
B. Tujuan...............................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi.............................................................................................3
B. Etiologi.............................................................................................3
C. Anatomi Fisiologi.............................................................................5
D. Patofisiologi Dan Patoflow..............................................................7
E. Manifestasi Klinis............................................................................10
F. Pemeriksaan Penunjang....................................................................11
G. Penatalaksanaan Medis Dan Keperawatan......................................11
H. Asuhan Keperawatan.......................................................................12
a. Pengkajian Teoritis.......................................................................12
b. Diagnosa Keperawatan.................................................................14
c. Nursing Care Plaining..................................................................15

BAB III PENUTUP

A.Kesimpulan.......................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Asma pada anak merupakan masalah bagi pasien dan keluarga, karena asma
pada anak berpengaruh terhadap berbagai aspek khusus yang berkaitan dengan
kualitas hidup, termasuk proses tumbuh kembang baik pada masa bayi, balita maupun
remaja (Sidhartani, 2007).
Data World Health Organization (WHO) pada tahun 2011, 235 juta orang di
seluruh dunia menderita asma dengan angka kematian lebih dari 8% di negara-negara
berkembang yang sebenarnya dapat dicegah. Dilaporkan di beberapa negara angka
kejadian asma meningkat, misal di negara Jepang, Melbourne, dan Taiwan.
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di Indonesia tahun 2013
didapatkan prevalensi asma di Indonesia 4,5% dengan kejadian terbanyak pada
perempuan sebesar 4,6%.
Asma adalah penyakit yang menganggu jalan nafas pada paru-paru dan sering
dialami oleh anak-anak. Penyakit ini sangat menganggu aktivitas anak dan
menghambat dalam proses tumbuh kembang anak. Gejala asma dengan batuk, sesak
nafas, nafas pendek dan mengi membuat anak-anak kesulitas saat tidur maupun
beraktivitas seperti sekolah. Adanya peningkatan angka morbiditas dan mortalitas
pada anak dengan penyakit asma diperlukan penanganan yang sesuai sehingga
prevalensi asma akan menurun. Salah satunya dengan menghindari faktor penyebab
penyakit asma ini pada anak. Pada asma yang disebabkan oleh faktor genetic juga
harus mendapatkan penanganan agar asma tidak sering kambuh dan mengganggu
aktivitas anak yang masih dalam tahap tumbuh kembang. Peran orangtua juga sangat
dibutuhkan dalam penatalaksanaan penyakit asma ini, karena edukasi mengenai
penyakit ini tidak hanya ditujukan kepada pasien saja, tetapi keluarga dan orang-orang
di sekitar pasien untuk mencegah dan menangani kekambuhan asma pada anak.

1
B. Tujuan
a. Untuk mengetahui dan memahami Definisi dari Asma
b. Untuk mengetahui dan memahami Etiologi dari Asma
c. Untuk mengetahui dan memahami Anatomi Fisiologi dari Asma
d. Untuk mengetahui dan memahami Patofisiologi dari Asma
e. Untuk mengetahui dan memahami Manifestasi Klinis dari Asma
f. Untuk mengetahui dan memahami Pemeriksaan Penunjang dari Asma
g. Untuk mengetahui dan memahami Penatalaksanaan Medis dan
Keperawatan Dari Asma
h. Untuk mengetahui dan memahami Asuhan Keperawatan dari Asma

BAB II
TINJAUAN TEORI

2
A. Definisi
Asma adalah penyakit yang menyebabkan otot-otot di sekitar saluran
bronchial (saluran udara) dalam paru-paru mengkerut, sekaligus lapisan saluran
bronchial mengalami peradangan dan bengkak (Espeland, 2008).
Asma pada anak merupakan masalah bagi pasien dan keluarga, karena asma
pada anak berpengaruh terhadap berbagai aspek khusus yang berkaitan dengan
kualitas hidup, termasuk proses tumbuh kembang baik pada masa bayi, balita maupun
remaja (Sidhartini, 2007).
Asma adalah penyakit paru dengan ciri khas yaitu saluran pernapasan yang
sangat mudah bereaksi terhadap berbagai rangsangan atau pencetus dengan
manifestasi berupa serangan asma (Ngastiyah, 2005).
Menurut Margaret dalam Musdalifah Merry (2016), Asma Bronkial
merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan adanya wheezing (mengi) intermiten
yang timbul sebagai respon akibat paparan terhadap suatu zat iritan atau alergan.
Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulakan bahwa asma adalah penyakit
inflamasi kronis pada saluran napas yang dapat menimbulkan gejala episodic berulang
berupa mengi, batuk, sesak napas, dan rasa berat di dada terutama pada malam hari
atau dini hari. Asma pada anak mempunyai berbagai aspek khusus yang umumnya
berkaitan dengan proses tumbuh dan kembang seorang anak, baik pada masa bayi,
balita, maupun anak besar.

B. Etiologi
Ada beberapa hal yang mempengaruhi penyakit asma pada anak yaitu:
1. Faktor Predisposisi
Faktor Keturunan (Genetik)
Risiko terbesar anak terkena asma adalah pada anak yang membawa keturunan
asma dari orangtuanya. Pada kasus asma ini bakat alerginya yang diturunkan
oleh orangtuanya sehingga anak sangat mudah terkena penyakit asma jika
terpapar faktor pencetusnya. Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya
juga bisa diturunkan.

2. Faktor Presipitasi
a. Alergen
Alergen asma dibedakan menjadi 3 yaitu :

3
1) Inhalan merupakan alergen yang masuk melalui inhalasi atau saluran
pernafasan. Contohnya: debu rumah, kapuk, udara dingin, asap rokok dan
serbuk sari bunga.
2) Ingestan merupakan alergen yang masuk melalui oral atau mulut.
Contohnya: makanan seperti udang, kepiting, susu dan telur.
3) Kontaktan alergen yang masuk melalui kulit. Contohnya: perhiasan atau
jam tangan.
b. Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma.
Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan
asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim seperti: musim
hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin
serbuk bunga dan debu.
c. Faktor Psikis
Faktor psikis merupakan faktor pencetus yang tidak boleh diabaikan dan sangat
kompleks. Tidak adanya perhatian atau tidak mau mengakui adanya persoalan
tentang asma pada anak sendiri/keluargnya, akan menggagalkan usaha
pencegahan. Sebaliknya terlalu takut terhadap adanya serangan atau hari depan
anak juga dapat mempererat serangan asma.
d. Olahraga/aktifitas jasmani yang berat
Sebagian berat penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas
jasmani atau olahraga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan
serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah
selesai aktifitas tersebut.
e. Infeksi
Biasanya infeksi yang sering terjadi adalah infeksi akibat virus terutama pada
bayi dan anak. Virus yang menyebabkan adalah respiratory syncytial virus
(RSV) dan virus parainfluenza. Kadang-kadang karena bakteri misalnya pertusis
dan streptokokus, jamur misalnya aspergillus dan parasit seperti askaris.

C. Anatomi Fisiologi

4
Organ-organ pernafasan
a) Hidung
Merupakan saluran udara pertama yang mempunyai 2 lubang, dipisahkan oleh
sekat hidung. Di dalamnya terdapat bulu-bulu yang berfungsi untuk menyaring
dan menghangatkan udara (Hidayat, 2006).
b) Tekak (faring)
Merupakan persimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan, terdapat di
dasar tengkorak, di belakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas
tulang leher. Terdapat epiglotis yang berfungsi menutup laring pada waktu
menelan makanan.
c) Laring (pangkal tenggorok)
Merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan suara terletak di
depan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke dalam
trakea di bawahnya.
d) Trakea (batang tenggorok)
Merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16-20 cincin yang terdiri
dari tulang-tulang rawan yang berbentuk seperti kuku kuda (huruf C). Sebelah
dalam diliputi oleh sel bersilia yang berfungsi untuk mengeluarkan benda-benda
asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernafasan. Percabangan trakea
menjadi bronkus kiri dan kanan disebut karina.
e) Bronkus (cabang tenggorokan)

5
Merupakan lanjutan dari trakea yang terdiri dari 2 buah pada ketinggian
vertebra torakalis IV dan V.
f) Paru-paru
Merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung-
gelembung hawa (alveoli). Alveoli ini terdiri dari sel-sel epitel dan endotel. Jika
dibentangkan luas permukaannya  90 meter persegi, pada lapisan inilah terjadi
pertukaran udara.
Pernafasan (respirasi) adalah peristiwa menghirup udara yang mengandung
oksigen dan menghembuskan udara yang banyak mengandung CO 2 sebagai sisa dari
oksidasi keluar dari tubuh. Adapun guna dari pernafasan yaitu mengambil O2 yang
dibawa oleh darah ke seluruh tubuh untuk pembakaran, mengeluarkan CO 2 sebagai
sisa dari pembakaran yang dibawa oleh darah ke paru-paru untuk dibuang,
menghangatkan dan melembabkan udara. Pada dasarnya sistem pernafasan terdiri dari
suatu rangkaian saluran udara yang menghangatkan udara luar agar bersentuhan
dengan membran kapiler alveoli. Terdapat beberapa mekanisme yang berperan
memasukkan udara ke dalam paru-paru sehingga pertukaran gas dapat berlangsung.
Fungsi mekanis pergerakan udara masuk dan keluar dari paru-paru disebut sebagai
ventilasi atau bernapas. Kemudian adanya pemindahan O2 dan CO2 yang melintasi
membran alveolus-kapiler yang disebut dengan difusi sedangkan pemindahan oksigen
dan karbondioksida antara kapiler-kapiler dan sel-sel tubuh yang disebut dengan
perfusi atau pernapasan internal.
Proses pernafasan :
1. Proses bernafas terdiri dari menarik dan mengeluarkan nafas. Satu kali
bernafas adalah satu kali inspirasi dan satu kali ekspirasi. Bernafas diatur oleh
otot-otot pernafasan yang terletak pada sumsum penyambung (medulla
oblongata). Inspirasi terjadi bila muskulus diafragma telah dapat rangsangan
dari nervus prenikus lalu mengkerut datar. Ekspirasi terjadi pada saat otot-otot
mengendor dan rongga dada mengecil. Proses pernafasan ini terjadi karena
adanya perbedaan tekanan antara rongga pleura dan paru-paru.
2. Proses fisiologis pernafasan dimana oksigen dipindahkan dari udara ke dalam
jaringan-jaringan dan karbondioksida dikeluarkan ke udara ekspirasi dapat
dibagi menjadi tiga stadium. Stadium pertama adalah ventilasi, yaitu
masuknya campuran gas-gas ke dalam dan ke luar paru-paru. Stadium kedua

6
adalah transportasi yang terdiri dari beberapa aspek yaitu difusi gas-gas antara
alveolus dan kapiler paru-paru (respirasi eksterna) dan antara darah sistemik
dengan sel-sel jaringan, distribusi darah dalam sirkulasi pulmonar dan
penyesuaiannya dengan distribusi udara dalam alveolus-alveolus dan reaksi
kimia, fisik dari oksigen dan karbondioksida dengan darah. Stadium akhir
yaitu respirasi sel dimana metabolit dioksida untuk mendapatkan energi dan
karbon dioksida yang terbentuk sebagai sampah proses metabolisme sel akan
dikeluarkan oleh paru-paru (Price, 2005).

D. Patofisiologi Dan Patoflow

Asma merupakan inflamasi kronik saluran pernapasana. Berbagai sel


inflamasi berperan terutama sel mast, eosinophil, sel limfosit T, makrofag, neutrofil,
dan sel epitel.Faktor-faktor penyebab seperti virus, bakteri, jamur, parasit, alergi,
iritan, cuaca, kegiatan jasmani dan psikis akan merangsang reaksi hiperreaktivitas
bronkus dalam saluran pernafasan sehingga merangsang sel plasma menghasilkan
imonoglubulin E (IgE). IgE selanjutnya akan menempel pada reseptor dinding sel
mast yang disebut sel mast tersensitisasi. Sel mast tersensitisasi akan mengalami
degranulasi, sel mast yang mengalami degranulasi akan mengeluarkan sejumlah
mediator seperti histamin dan bradikinin. Mediator ini menyebabkan peningkatan
permeabilitas kapiler sehingga timbul edema mukosa, peningkatan produksi mukus
dan kontraksi otot polos bronkiolus. Hal ini akan menyebabkan proliferasi akibatnya
terjadi sumbatan dan daya konsulidasi pada jalan nafas sehingga proses pertukaran O 2

7
dan CO2 terhambat akibatnya terjadi gangguan ventilasi. Rendahnya masukan O2 ke
paru-paru terutama pada alveolus menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan CO2
dalam alveolus atau yang disebut dengan hiperventilasi, yang akan menyebabkan
terjadi alkalosis respiratorik dan penurunan CO2 dalam kapiler (hipoventilasi) yang
akan menyebabkan terjadi asidosis respiratorik. Hal ini dapat menyebabkan paru-paru
tidak dapat memenuhi fungsi primernya dalam pertukaran gas yaitu membuang
karbondioksida sehingga menyebabkan konsentrasi O2 dalam alveolus menurun dan
terjadilah gangguan difusi, dan akan berlanjut menjadi gangguan perfusi dimana
oksigenisasi ke jaringan tidak memadai sehingga akan terjadi hipoksemia dan
hipoksia yang akan menimbulkan berbagai manifestasi klinis.

Faktor pencetus
- Allergen -Stress
- Virus, bakteri, jamur -Cuaca

Reaksi hiperaktivitas bronkus

Antigen yang terikat IgE pd permukaan sel mast/ basofil

Mengeluarkan mediator histamine, platelet, bradikinin dll

Peningkatan
Edema mukosa Kontraksi otot
prodduksi mucus
polos meningkat

Mempermudah Proliterasi

-Batuk
Gelisah, rewel, Terjadi sumbatan -Mengi/ wheezing
nangis → Ansietas -Sesak napas
Gangguan ventilasi
Ketidakefektifa
Hiperkapnea n bersihan jalan
Hipoventilasi Hiperventilasi napas

Konsentrasi O2 Konsentrasi O2
dalam alveolus ↓ 8 dalam alveolus ↑
Gangguan difusi

Oksigenasi ke jaringan tidak memadai

Gangguan difusi Hiposemia

Gangguan
pertukaran gas

Penyempitan jalan
pernapasan

↑ kerja otot pernapasan

Intoleransi aktifitas Ketidakefektifan pola


nafas

E. Manifestasi Klinis

9
serangan akut yang spesifik jarang dilihat sebelum anak berusia 2 tahun. Secara
klinis tanda dan gejala asma dibagi menurut stadiumnya ke dalam 3 stadium yaitu;
Stadium I
Waktu terjadinya edema dinding bronkus batuk paroksismal karena iritasi dan
batuk kering, sputum yang kental dan mengumpul merupakan benda asing yang
merangsang batuk.
Stadium II
Sekresi bronkus bertambah banyak dan batuk dengan dahak yang jernih dan
berbusa. Pada stadium ini anak akan mulai merasa sesak nafas berusaha bernafas
lebih dalam,eksprinium memanjang dan terdengar bunyi mengi, tampak otot nafas
ambahan turut bekerja, terdapat retraksi suprasternal, epigastrium dan mungkin juga
sela iga, anak lebih senang duduk dan bungkuk, tangan menekan pada tepi tempat
tidur atau kursi, anak tampak gelisah, pucat dan sianosis sekitar mulut, toraks
membungkuk kedepan dan lebih bulat serta bergerak lambat pada pernafasan pada
anak yang lebih kecil cenderung terjadi pernafasan abdominal, retraksi suprasternal
dan intercostal.
Stadium III
Obstruksi atau spasme bronkus lebih berat aliran udara sangat sedikit sehingga
suara nafas hampir tidak terdengar, stadium ini sangat berbahaya karena sering
disangka ada perbaikan juga batuk seperti ditekan, pernafasan dangkal, tidak teratur
dan frekuensi nafas yang mendadak meninggi.
Selain itu gejala klinis asma yaitu :
 Auskultasi :Wheezing, ronki kering musikal, ronki basah sedang.
 Dyspnea dengan lama ekspirasi; penggunaan otot-otot asesori
pernafasan, cuping hidung, retraksi dada,dan stridor.
 Batuk kering (tidak produktif) karena sekret kental dan lumen jalan
nafas sempit.
 Tachypnea, orthopnea.
 Diaphoresis
 Nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdomen dalam pernafasan.
 Fatigue.
 Tidak toleransi terhadap aktivitas; makan, bermain, berjalan, bahkan
bicara.
 Kecemasan, labil dan perubahan tingkat kesadaran.
10
 Meningkatnya ukuran diameter anteroposterior (barrel chest) akibat
ekshalasi yang sulit karena udem bronkus sehingga kalau diperkusi
hipersonor.
 Serangan yang tiba-tiba atau berangsur.
 Bila serangan hebat : gelisah, berduduk, berkeringat, mungkin sianosis.
 X foto dada : atelektasis tersebar, “Hyperserated”

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Radiologi
a. Foto thorak
Pada foto thorak akan tampak corakan paru yang meningkat, hiperinflasi
terdapat pada serangan akut dan pada asma kronik, atelektasis juga
ditemukan pada anak-anak  6 tahun.
b. Foto sinus paranasalis
Diperlukan jika asma sulit terkontrol untuk melihat adanya sinusitis.
2. Pemeriksaan darah
Hasilnya akan terdapat eosinofilia pada darah tepi dan sekret hidung, bila
tidak eosinofilia kemungkinan bukan asma .
3. Uji faal paru
Dilakukan untuk menentukan derajat obstruksi, menilai hasil provokasi
bronkus, menilai hasil pengobatan dan mengikuti perjalanan penyakit. Alat
yang digunakan untuk uji faal paru adalah peak flow meter, caranya anak
disuruh meniup flow meter beberapa kali (sebelumnya menarik nafas dalam
melalui mulut kemudian menghebuskan dengan kuat).
4. Uji kulit alergi dan imunologi
Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara goresan atau tusuk. Alergen yang
digunakan adalah alergen yang banyak didapat di daerahnya.

G. Penatalaksanaan Medis Dan Keperawatan


a. Pentalaksanaan Medis
1) Oksigen 4 - 6 liter / menit
2) Pemeriksaan analisa gas darah mungkin memperlihatkan penurunan
konsentrasi oksigen.
3) Anti inflamasi (Kortikosteroid) diberikan untuk menghambat inflamasi

11
jalan nafas.
4) Antibiotik diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi
5) Pemberian obat ekspektoran untuk pengenceran dahak yang kental
6) Bronkodilator untuk menurunkan spasme bronkus/melebarkan bronkus
7) Pemeriksaan foto torak
8) Pantau tanda-tanda vital secara teratur agar bila terjadi kegagalan
pernafasan dapat segera tertolong.
b. Penatalaksanaan keperawatan
1) pantau tanda-tanda vital secara teratur agar bila terjadi kegagalan
pernafasan dapat segera tertolong
2) berikan posisi tidur yang nyaman (semi fowler)
3) anjurkan untuk meminum air hangat 1500-200ml perhari
4) Berikan bantuan terapi nafas jika diperlukan (missal, nebulizer), dan
5) Memberikan penyuluhan (pendidikan kesehatan), pemberian cairan,
fisiotherapy, dan beri O2 bila perlu

H. Asuhan Keperawatan (Teoritis)


a. Pengkajian
Pengkajian yang biasa dilakukan pada pasien dengan asma, meliputi hal-
hal sebagai berikut:
 Pengumpulan data
a.Identitas klien/biodata
1) Identitas anak (data dapat diperoleh dari orang tua/ penanggug jawab)
yang meliputi nama anak, umur, jenis kelamin, suku/bangsa, agama,
alamat, no RM, Dx medis, tanggal masuk RS dan tanggal pengkajian
2) Identitas orang tua/penanggung jawab meliputi nama, usia, pendidikan,
pekerjaan, alamat, hubungan dengan pasien
b. Keluhan utama
Pada umumnya orang tua mengeluh anaknya batuk dengan atau tanpa
produksi mucus, sering bertambah berat saat malam hari atau dini hari
sehingga membuat anak sulit tidur. Jika asmanya berat maka gejala yang
akan muncul yaitu perubahan kesadaran seperti mengantuk, bingung, saat
serangan asma, kesulitan bernafas yang hebat, takikardia, kegelisahan hebat
akibat kesulitan bernafas, berkeringat. (Margaret Varnell Clark, 2013)
c. Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan pada anak dengan asma meliputi hal-hal sebagai berikut:
1) Riwayat kesehatan sekarang
12
Merupakan pengembangan dari keluhan utama yang biasa ditemukan
menggunakan pendekatan PQRST, dimana P atau paliatif/provokative
merupakan hal atau faktor yang mencetuskan terjadinya penyakit, hal
yang memperberat atau meperingan, Q atau qualitas dari suatu keluhan
atau penyakit yang dirasakan, R atau region adalah daerah atau tempat
dimana keluhan dirasakan, S atau severity adalah derajat keganasan atau
intensitas dari keluhan tersebut, T atau time adalah waktu dimana keluhan
dirasakan, time juga menunjukan lamanya atau kekerapan
2) Riwayat kesehatan yang lalu
Penyakit yang pernah diderita anak perlu diketahui sebelumnya, karena
mungkin ada kaitannya dengan penyakit sekarang. Riwayat kesehatan
menjelaskan tentang riwayat perawatan di RS, alergi, penyakit kronis dan
riwayat operasi. Selain itu juga menjelaskan tentang riwayat penyakit
yang pernah diderita klien yang ada hubungannya dengan penyakit
sekarang seperti riwayat panas, batuk, filek, atau penyakit serupa
pengobatan yang dilakukan
3) Riwayat kesehatan keluarga
Dikaji mengenai adanya penyakit pada keluarga yang berhubungan
dengan asma pada anak, riwayat penyakit keturunan atau bawaan seperti
asma, diabetes melitus, dan lain-lain
4) Genogram
Merupakan gambaran struktur keluarga klien, dan gambaran pola asuh
klien
5) Riwayat kehamilan dan persalinan
Merupakan informasi kesehatan anak dan ibu mulai dari pre natal, natal,
dan post natal.
- Prenatal
Apakah ibu pasien terdapat kelainan atau keluhan yang dapat
memperberat keadaan ibu dan anak saat proses persalinan, serta jumlah
pemeriksaan kehamilan yang dilakukan ibu pasien
- Intra natal
Proses persalinan ditolong oleh siapa, apakah persalinan secara normal
atau memerlukan bantuan alat operasi dan bagaimana keadaan bayi
saat di lahirkan (langsung menangis atau tidak)
- Post natal
Bagaimana keadaan saat setelah lahir, apakah mendapat ASI sesuai
kebutuhan atau PASI serta bagaimana refleks menghisap atau menelan
6) Riwayat imunisasi dan pemberian makan

13
- Riwayat imunisasi
Pada usia 9 bulan imunisasi harus sudah lengkap meliputi BCG,
Hepatitis, Polio, DPT, Campak, Thypoid. Bila anak belum mendapat
imunisasi tanyakan dan catat imunisasi apa saja yang sudah dan belum
didapat serta tanyakan alasannya
- Riwayat pemberian makan
Catat pada pertama kali anak dan pada umur berapa diberikan makanan
tambahan. Selain ASI, baik berupa jenis, porsi dan frekuensi yang
diberikan dan tanyakan makanan apa yang lebih disukai oleh anak.

b. Diagnosa Keperawatan
a. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas
Berhubungan Dengan Asma
b. Ansietas Berhubungan Dengan Ketakutan
c. Gangguan Pertukaran Gas Berhubungan Dengan
Perubahan Membran
Alveolar-Kapiler
d. Intoleransi Aktivitas Berhubungan Dengan Ketidakseimbangan Antara
Suplai Dan Kebutuhan Oksigen
e. Ketidakefektifan Pola Nafas Berhubungan
Dengan Nyeri

14
c. Nursing Care Plaining
No Diagnosa Keperawatan NOC NIC
1. Ketidakefektifan Bersihan Label: Status Pernafasan : Kepatenan Jalan Nafas Label : Manajemen Jalan Nafas
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24
Jalan Nafas Berhubungan Aktivitas-aktivitas
jam diharapkan nafas klien menjadiefektif kembali
Dengan Asma 1. Monitor tanda-tanda vital
dengan indikator :
2. Anjurkan banyak minum air hangat
Indikator Awal Target
3. Beri posisi yang nyaman (semi fowler/fowler)
Ansietas 2 4
Dispnea saat istirahat 2 4 4. Intruksikan bagaimana agar bisa melakukan
Dispnea dengan batuk efektif
2 5
aktivitas rigan 5. Berikan bantuan terapi nafas jika diperlukan
Batuk 2 4
Keterangan : (missal, nebulizer)
1. Sangat berat
2. Berat
3. Cukup
4. Ringan
5. Tidak ada

2. Ansietas berhubungan Label: Tingkat Kecemasan Label : Pengurangan Kecemasan


Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24
dengan ketakutan Aktivitas-aktivitas
jam diharapkan kecemasan klien dan orangtua klien
1. Gunakan pendekatan yang tenang dan
dapat berkurang dengan indikator :
meyakinkan
Indikator Awal Target
2. Jelaskan setiap tindakan keperawatan yang
Tidak dapat istirahat 3 5

15
Rasa takut yang dilakukan
disampaikan secara 2 4 3. Libatkan orang tua dalam perawatan pasien
lisan 4. Beri kesempatan pada orang tua untuk
Rasa cemas yang bertanya tentang hal-hal yang belum
disampaikan secara 2 4 diketahui
lisan 5. Berada disisi klien untuk meningkatkan rasa
Keterangan :
1. Berat aman dan mengurangi ketakutan
2. Cukup berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada

3. Gangguan Pertukaran Gas Label: Status Pernafasan : Pertukaran Gas Label : Monitor Pernafasan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24
Berhubungan Dengan Aktivitas-aktivitas
jam diharapkan klien cepat sembuh dengan indikator :
Perubahan Membran 1. Monitor kecepatan, irama, kedalaman dan
Indikator Awal Target
Alveolar-Kapiler kesulitan bernafas
Dipsnea saat istirahat 3 5
Dispnea dengan 2. Pertahankan istirahat tidur
2 4
aktivitas ringan 3. Tinggikan kepala dan sering mengubah posisi
Perasaan kurang 4. Auskultasi suara nafas
2 4
istirahat 5. Monitor kemampuan batuk efektif pasien
Mengantuk 3 5
Keterangan : 6. Berikan bantuan terapi nafas jika diperlukan
1. Sangat berat (missal, nebulizer)

16
2. Berat
3. Cukup
4. Ringan
5. Tidak ada
4. Intoleransi Aktivitas Label: Status Pernafasan Label : Terapi Aktivitas
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24
Berhubungan Dengan Aktivitas-aktivitas
jam diharapkan kondisi klien dapat membaik dengan
Ketidakseimbangan Antara 1. Kaji tingkat kemampuan pasien dalam
indikator :
Suplai Dan Kebutuhan aktivitas
Indikator Awal Target
Oksigen 2. Jelaskan pentingnya istirahat dan
Frekuensi pernafasan 3 4
Irama pernafasan 3 5 keseimbangan aktivitas dan istirahat
Suara auskultasi nafas 3 5 3. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya
Keterangan :
1. Deviasi berat dari kisaran normal 4. Bantu pasien dalam memilih posisi yang
2. Diviasi cukup berat dari kisaran normal nyaman untuk istirahat
3. Deviasi sedang dari kisaran normal
4. Deviasi ringan dari kisaran normal 5. Libatkan keluarga dalam pemenuhan
5. Tidak ada deviasi dari kisaran normal kebutuhan pasien

5. Ketidakefektifan Pola Label: Status Pernafasan : Ventilasi Label : Manajemen Jalan Nafas
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24
Nafas Berhubungan Aktivitas-aktivitas
jam diharapkan pernafasan klien menjadi efekttif
Dengan Nyeri 1. Monitor tanda-tanda vital
dengan indikator :
2. Anjurkan banyak minum air hangat
Indikator Awal Target
3. Beri posisi yang nyaman (semi fowler/fowler)
Frekuensi pernafasan 3 4

17
Irama pernafasan 3 5 4. Intruksikan bagaimana agar bisa melakukan
Suara perkusi nafas 3 5 batuk efektif
Keterangan :
1. Deviasi berat dari kisaran normal 5. Berikan bantuan terapi nafas jika diperlukan
2. Diviasi cukup berat dari kisaran normal (missal, nebulizer)
3. Deviasi sedang dari kisaran normal
4. Deviasi ringan dari kisaran normal
5. Tidak ada deviasi dari kisaran normal

18
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Asma adalah suatu keadaan dimana saluran napas mengalami penyempitan
karena hiperaktifitas terhadap rangsangan tertentu,yang menyebabkan peradangan dan
penyempitan yang bersifat sementara
ada dua factor yang menjadi pencetus asma : pemicu yang mengkibatkan
terganggunya saluran pernafasan dan mengakibatkan mengencang atau menyempitnya
saluran pernapasan (bronkokonstriksi) tetapi tidak dapat peradangan,seperti:
Perubahan cuaca dan suhu udara, rangsang sesuatu yang bersifat alergi,misalnya asap
rokok,serbuk sari,debu,bulu binatang, infeksi saluran pernapasan, gangguan emosi,
kerja fisik atau olahraga yang berlebihan
Asma memiliki ciri khusus : Sesak napas pada asma khas disertai suara mengi
akibat kesulitan ekspirasi, pada auskultasi terdengar wheezing dan ekspirasi
memanjang, keadaan sesak hebat yang di tandai dengan giatnya otot-otot bantu
pernapasan dan sianosis dikenal dengan status asmatikus yang dapat berakibat fatal,
dipsnue dipagi hari dan sepanjang malam,sesuda latihan fisik(terutama saat cuaca
dingin),berhubungan dengan paparan terhadap alergi seperti bulu binatang.
Diagnosis asma kadang-kadang dapat di tegakan atas dasar anamnesis dan
auskulstasi. Wheezing di akhir ekspirasi hampir selalu merupakan tanda penyakit paru
obsttuktif seperti asma.Pada asma ringan,auskulstasi hamper selalu normal bila pasien
asimtomatik

20
DAFTAR PUSTAKA

Ngastiyah. 2005. “Perawatan Anak Sakit Edisi 2”. Jakarta : EGC.

Nursalam. 2001. ”Proses dan Dokumentasi Keperawatan:. Jakarta: EGC

Corwin, Elizabeth J. 2009. “Buku Saku Patofisiologi”. Jakarta: EGC

Muttaqin, Arif. 2008. “ Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem


Pernapasan”. Jakarta: Salemba Medika

Ngastiyah. 2005. “Perawatan Anak Sakit. Edisi 2”. Jakarta EGC.

Nurarif, A.H dan Kusuma, H. 2013. “Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnosa Medis dan NANDA NIC NOC Jilid 1”. Jakarta: EGC

Sidhartini, M. 2007. “Peran Edukasi pada Penatalaksanaan Asma pada Anak”.


Semarang: ISBN

Musdhalifah Merry. 2016. Asuhan Keperawatan Asma Bronkhial Pada Anak diakses
melalui
https://www.academia.edu/23712902/Asuhan_Keperawatan_Asma_Bronkhial_Pada_
Anak pada tanggal 21 juni 2019

21