Anda di halaman 1dari 31

TUGAS MATA KULIAH

FILSAFAT ILMU

Prof. Dr. M. Arif Nasution, M.A.

BERNEGARA:
Studi Tentang Negara, Pertukaran Sosial,
dan Perilaku Pedagang Kaki Lima di Kota Medan

Oleh:

Tengku Irmayani
Ruri Lubis
Ramses Simanulang
Juang Solala Laiya

Program Studi Magister dan Doktor Studi Pembangunan


Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatra Utara
Medan
2018

Bab I
1
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Negara pada hakikatnya hanyalah gagasan abstrak yang terdapat dalam benak manusia. Ia tidak
dapat dilihat, disentuh, dicium, didengar atau dikecap, sehingga keberadaannya hanya dapat dialami
secara representatif, baik dalam wujud material (lambang negara, gedung negara, monumen
kenegaraan, dsb.) maupun konseptual (kekuasaan, kedaulatan, wilayah, dsb.). Diantara berbagai
representasi negara, aspek kekuasaan merupakan perwujudan eksistensi negara yang paling nyata
(Dowding, 2006). Dalam hal ini, kekuasaan berkaitan dengan kemampuan negara untuk
mempengaruhi perilaku seseorang atau sekelompok orang agar tunduk dan patuh pada kehendak
negara (Rodee, Christol, Anderson & Greene, 1995). Aspek kekuasaan begitu penting bagi eksistensi
sebuah negara, bahkan secara teoritis dapat dikatakan bahwa keberadaan negara ditentukan oleh
pengakuan terhadap keabsahan kedaulatan dan kekuasaan yang dimilikinya (Budihardjo, 1991).
Tanpa aspek kedaulatan yang tercermin dalam kekuasaan yang dimilikinya, “negara” menjadi sebuah
istilah yang kehilangan makna.

Secara umum terdapat asumsi bahwa kekuasaan negara, yang didukung oleh mekanisme
penegakan kontrak sosial melalui hukuman, pendisiplinan dan penertiban, dengan sendirinya akan
menciptakan kepatuhan di kalangan warganya. Dalam hal ini, kepatuhan warga terhadap kekuasaan
negara dapat dilihat sebagai bentuk pengakuan mereka terhadap eksistensi negara tersebut. Namun
dalam praktik kehidupan bernegara, berbagai bukti empirik menunjukkan bahwa kapasitas negara
untuk memaksakan kehendak melalui aparatus kekuasaan yang dimilikinya, ternyata tidak otomatis
membuat warganya tunduk dan patuh. Hal ini bisa dilihat dari berbagai kasus sehari-hari, dimana kita
bisa menyaksikan berbagai pelanggaran terhadap kebijakan negara terjadi disekitar kita, baik secara
sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan. Mulai dari hal-hal kecil, seperti: membuang
sampah, pelanggaran lalu-lintas, perusakan fasilitas publik; hingga bentuk-bentuk pelanggaran serius,
seperti: penggelapan pajak, korupsi, penolakan ideologi negara, bahkan upaya-upaya untuk
memberontak terhadap kedaulatan negara.

Dalam konteks kehidupan bernegara di Indonesia, pengabaian atau pelanggaran terhadap


kebijakan negara merupakan hal yang biasa untuk ditemukan dalam kehidupan di sekitar kita.
Melanggar peraturan menjadi sebuah gejala perilaku kolektif yang terkesan sangat lumrah, khususnya
di kalangan masyarakat kota-kota besar di Indonesia. Diantara berbagai bentuk pelanggaran aturan di
Indonesia, salah bentuk pelanggaran yang paling terbuka, vulgar, serta dilakukan secara kolektif dan
massal adalah pelanggaran aturan tata-ruang kota, yang dilakukan oleh para pedagang yang kerap
dirujuk dengan sebutan Pedagang Kaki Lima atau disingkat PKL. Dalam hal ini, PKL secara ilegal

2
menduduki ruang kota dan memanfaatkannya untuk kegiatan usaha mereka. Hal ini membuat PKL
seringkali menjadi target operasi penertiban dan pendisiplinan yang dilaksanakan oleh pemerintah
kota, yang tak jarang bermuara pada kericuhan dan konflik yang melibatkan tindakan kekerasan yang
memakan korban.

Salah satu kota di Indonesia yang telah berlarut-larut dirundung oleh masalah PKL adalah kota
Medan di Sumatra Utara. Faktanya saat ini, kehadiran PKL di Kota Medan sudah memasuki kategori
tidak terkontrol, sehingga mengganggu ketertiban umum sekaligus merongrong kewibawaan
peraturan negara beserta aparatnya. Setiap hari masyarakat kota Medan harus direpotkan (dan
sekaligus terbantu) oleh kehadiran PKL yang menggelar lapak dagangan di seputaran Pasar
Sukaramai dan di Jalan Sutomo, Medan. Para PKL tersebut bukan hanya menduduki trotoar, tetapi
bahkan mengambil posisi di badan jalan, seperti yang bisa disaksikan di ruas Jalan Yos Sudarso Pulo
Brayan, Pasar tradisional Sei Sikambing di Jalan Kapten Muslim, pasar di persimpangan Kampung
Lalang, Pasar Sukaramai di Jalan AR Hakim serta masih banyak lokasi lain di Medan. Kehadiran
para PKL tersebut juga disertai oleh timbunan sampah yang berserakan di sekitar mereka sehingga
mengganggu kebersihan dan keindahan. Selain itu, kios-kios non-permanen yang mereka bangun di
tepian dan badan jalan menimbulkan dampak kemacetan lalu-lintas dan kerawanan sosial. Ditambah
lagi dengan munculnya parkir berlapis di sepanjang ruas jalan karena para pembeli memarkirkan
kendaraan seenaknya agar tidak repot ketika berbelanja.

Walaupun terkesan sepele, dari sudut pandang kedaulatan negara, aksi pelanggaran yang
dilakukan oleh PKL terhadap aturan kebijakan pemerintah dapat dilihat sebagai suatu tantangan
terbuka terhadap otoritas dan kekuasaan negara. Ironisnya, pemerintah—yang dalam kasus ini
direpresentasikan oleh Pemerintah Kota Medan—justru menunjukkan sikap yang lemah, bahkan
terkesan mengalah dalam menyikapi bentuk pembangkangan yang dilakukan oleh PKL ini,
mengingat hingga saat laporan ini ditulis, belum ada solusi yang berdampak signifikan untuk
menyelesaikan permasalahan PKL di Kota Medan. Hal tersebut akhirnya memotivasi kami membuat
sebuah penelitian untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi di balik fenomena ini. Mengapa
pemerintah terkesan tidak berdaya dalam mengatasi pelanggaran yang dilakukan oleh para PKL di
Kota Medan? Apakah hal ini berkaitan dengan masalah pemenuhan hak dan kewajiban dalam
hubungan antara negara dan warga negara? Saran apa yang bisa ditawarkan sebagai solusi bagi
pengentasan masalah PKL di Kota Medan? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka
kami mencoba merancang sebuah penelitian yang diberi judul: “Bernegara: Studi Tentang Negara,
Pertukaran Sosial, dan Perilaku Pedagang Kaki Lima di Kota Medan”.

2. Rumusan Masalah

3
Sebagaimana yang telah dipaparkan pada latar belakang masalah, fokus utama dari penelitian
ini adalah kehidupan bernegara di Indonesia. Dalam hal ini kami berusaha untuk meneliti pola
interaksi antara negara dan warga negara, yang ditinjau berdasarkan aspek pemenuhan hak dan
kewajiban masing-masing, melalui pengamatan terhadap aktivitas pedagang kaki lima yang
beroperasi di kota Medan. Untuk itu kami mengajukan sejumlah rumusan masalah:

2.1. Bagaimanakah bentuk-bentuk kebijakan pemerintahan dalam hal penanganan PKL?


2.2. Strategi apa yang dijalankan pemerintah dalam penanganan PKL?
2.3. Bagaimana perspeksi PKL terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah?
2.4. Hambatan-hambatan apa yang dihadapi pemerintah dalam penanganan PKL?
2.5. Bagaimana PKL memenuhi kewajibannya sebagai pedagang sekaligus warga negara?

3. Tujuan Penelitian

3.1. Mempelajari dan mendalami perspektif masyarakat dalam bernegara.


3.2. Mempelajari dan mendalami apa yang dirasakan oleh masyarakat saat ini.
3.3. Memberikan uraian secara terperinci tentang masukan-masukan yang sesuai untuk masa
depan bernegara.

Bab II

KAJIAN LITERATUR

1. Individu dan Masyarakat

Sudah menjadi kodrat manusia untuk membutuhkan kehadiran manusia lain dalam rangka
mempertahankan kelangsungan hidupnya (Dunbar, 1998). Manusia memiliki berbagai kebutuhan
fisik, mental, dan sosial yang hanya mungkin terpenuhi melalui kehadiran dan bantuan dari orang
lain. Berbagai kebutuhan tersebut memaksanya untuk hidup dalam sebuah masyarakat. Semua
4
kebutuhan dasar, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, dan pendidikan, hanya dapat
terpenuhi dalam masyarakat. Kesehatan psikologis, pengakuan sosial, cinta, dan aktualisasi diri,
hanya menjadi konsepsi yang bermakna jika ditinjau dalam konteks kehidupan bermasyarakat. Secara
definitif, masyarakat adalah terminologi merujuk pada kolektifitas dua orang atau lebih, yang
berinteraksi dan hidup bersama dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga terbentuk suatu
kesadaran bahwa mereka masing-masing adalah sub-sistem yang terintegrasi dari suatu kesatuan
sistem (Soekanto, 2000). Berdasarkan definisi tersebut maka dapat dapat dikatakan bahwa
masyarakat adalah kolektifitas yang setidaknya dicirikan oleh beberapa hal, diantaranya: sejumlah
individu yang hidup bersama, kesadaran akan keanggotaan, adanya sistem interaksi tertentu, serta
adanya semacam organisasi sosial walaupun sederhana.

Terdapat suatu paradoks dalam interaksi antara satu manusia dengan manusia lain. Di satu

sisi, kehadiran manusia lain merupakan berkah bagi kehidupan suatu individu, karena kehadiran

manusia lain membuat suatu individu memperoleh dukungan dan bantuan dalam mengatasi

berbagai masalah yang ia hadapi dalam kehidupan. Namun di sisi lain, kehadiran manusia lain juga

merupakan kutukan bagi suatu individu, karena hal tersebut membuka peluang bagi terjadinya

benturan kepentingan yang berpotensi untuk bermuara pada konflik dan kekerasan. Akibatnya,

terbentuk dua paradigma besar—yang saling berkontradiksi—yang digunakan oleh para akademisi

untuk menjelaskan fenomena kehidupan bermasyarakat, yaitu: pertama, paradigma konsensus,

dimana manusia digambarkan sebagai mahluk sosial yang suka bernegosiasi, membentuk

kesepakatan dan saling bekerjasama; dan kedua, paradigma konflik, dimana manusia dilihat sebagai

mahluk yang terobsesi untuk mengutamakan kepentingan, pribadi sehingga berpotensi menjadi

ancaman bagi sesamanya manusia (Watts dan Roberson, 2014).

Paradigma konsensus menggambarkan masyarakat sebagai bentuk integrasi fungsional,

dimana dalam masyarakat tersebut kestabilan sosial di topang oleh kesepakatan dasar atas nilai-

nilai yang dianut bersama. Adapun ketertiban sosial dalam masyarakat dimungkinkan untuk terjadi,

karena setiap individu yang ada dalam masyarakat tersebut memiliki kesadaran bahwa hanya

dengan kerjasamalah kepentingan masing-masing individu dapat tercapai. Dengan demikian, dalam

paradigma konsensus harmoni dan integrasi sosial merupakan cita-cita kolektif yang ingin dicapai

oleh masyarakat. Sebaliknya, paradigma konflik menggambarkan masyarakat sebagai sekumpulan

individu yang dicirikan oleh konflik dan pertentangan dalam memperebutkan sumberdaya
5
kehidupan yang terbatas. Dalam paradigma tersebut ketertiban timbul hanya untuk sementara dan

tidak stabil, karena setiap orang dan kelompok akan berusaha untuk memperjuangkan dan

mendahulukan kepentingan pribadi atau kelompok masing-masing. Konflik sosial pada hakekatnya

dianggap sebagai konsekuensi alamiah dari interaksi antar individu dalam masyarakat, sehingga

untuk mempertahankan integrasi dan stabilitas sosial dibutuhkan bujukan, bahkan paksaan dan

kekerasan.

Kedua paradigma sosial diatas adalah dua kutub ekstrim yang memiliki aspek kebenarannya
masing-masing. Dalam hal ini, konsepsi tentang masyarakat akan senantiasa berada ditengah
ketegangan tarik-menarik antara kedua paradigma tersebut, sebab tidak ada suatu masyarakat yang
sepenuhnya dimotivasi oleh konsensus saja atau konflik saja. Ditengah masyarakat yang paling
terintegrasi sekalipun pasti ada konflik, dan demikian pula sebaliknya, di dalam masyarakat yang
paling terfragmentasi sekalipun pasti ada konsensus. Namun hal penting yang perlu dicatat di sini,
bahwa baik dalam paradigma konsesus maupun konflik, masyarakat membutuhkan seperangkat
aturan bersama untuk mempertahankan jalinan ikatan sosial. Ada banyak istilah yang digunakan
untuk menggambarkan aturan bersama tersebut: kebiasaan, adat, norma, nilai, budaya, dsb. Namun
dalam bentuk yang paling mengikat, aturan bersama tersebut biasa dirujuk dengan istilah “hukum”.
Dalam paradigma konsensus, hukum merupakan refleksi dari kompromi dan permufakatan antara
sejumlah kelompok dan nilai-nilai yang mendasar untuk mencapai ketertiban sosial; sementara dalam
paradigma konflik, hukum dibutuhkan sebagai alat represi untuk mengatur dan mengendalikan
anggota masyarakat sehingga integrasi dan stabilitas sosial dapat terpelihara (Watts dan Roberson,
2014).

2. Negara dan Kontrak Sosial

Selain membutuhkan seperangkat aturan formal yang disebut hukum, untuk memastikan
kepatuhan masyarakat pada aturan bersama tersebut, maka dibutuhkan suatu institusi yang untuk
memberlakukan hukum sekaligus memiliki kewenangan untuk memaksakan aturan hukum tersebut
jika dipandang perlu. Dalam konteks kehidupan masyarakat moderen, institusi pembuat dan
pengendali hukum itu dirujuk dengan istilah “negara” (Watts dan Roberson, 2014). Menurut Kelsen
(1995) kita tidak dapat memisahkan hubungan negara dengan hukum, karena hukum itu lahir dari
organ-organ negara, tanpa hukum maka negara tak ada dan demikian pula sebaliknya. Dalam hal ini,
Kelsen meyakini bahwa negara adalah kerukunan yang telah ditata (zwangs ordnung), dan tatanan
tersebut dipertahankan melalui paksaan, sehingga dalam pandangan Kelsen (1995:183) negara
6
merefleksikan adanya hak untuk memerintah bagi aparatur negara, sekaligus adanya kewajiban untuk
patuh bagi warga negara. Hal inilah yang kemudian membuat negara dan hukum dipandang sebagai
entitas yang sama.

Telah disinggung sebelumnya, bahwa negara pada hakikatnya hanyalah gagasan abstrak yang
terdapat dalam benak manusia. Ia tidak dapat dilihat, disentuh, dicium, didengar atau dikecap,
sehingga keberadaannya hanya dapat dialami secara representatif, baik dalam wujud material
(bendera, gedung kenegaraan, patung pahlawan negara, dsb.) maupun konseptual (kekuasaan,
kedaulatan, wilayah, dsb.). Diantara berbagai representasi negara, aspek kekuasaan merupakan
perwujudan eksistensi negara yang paling nyata (Dowding, 2006). Dalam hal ini, kekuasaan berkaitan
dengan kemampuan negara untuk mempengaruhi perilaku seseorang atau sekelompok orang agar
tunduk dan patuh pada kehendak negara (Rodee, Christol, Anderson & Greene, 1995). Aspek
kekuasaan begitu penting bagi eksistensi sebuah negara, bahkan secara teoritis dapat dikatakan bahwa
keberadaan negara ditentukan oleh pengakuan terhadap keabsahan kedaulatan, yaitu kekuasaan yang
dimilikinya (Budihardjo, 1991). Mendirikan dan membentuk negara pada hakikatnya adalah
mendirikan dan membentuk organisasi kekuasaan (Martosoewignjo, 1987). Tanpa aspek kedaulatan
yang tercermin dalam kekuasaan yang dimilikinya, “negara” menjadi sebuah istilah yang kehilangan
makna.

Terdapat berbagai teori filsafat yang berusaha menjelaskan asal-usul kekuasaan negara. Namun
diantara berbagai teori tersebut, teori kontrak sosial merupakan teori yang cukup dominan dianut
sepanjang sejarah modern (Hindess, 2006). Walaupun terdapat sejumlah filsuf yang berkontribusi
bagi perkembangan teori kontrak sosial, namun pemikiran Thomas Hobbes dan John Locke dianggap
memberi pengaruh yang paling kuat (Lessnoff, 1986). Secara historis, teori kontrak sosial berawal
dari suatu masa dimana manusia hidup dalam kondisi dimana tidak ada pemerintahan dan hukum
formal yang mengatur hubungan-hubungan diantara mereka. Kondisi alamiah tersebut menimbulkan
berbagai kesulitan dan penindasan yang dialami oleh sebagian anggota masyarakat. Untuk mengatasi
masalah tersebut, individu-individu dalam masyarakat membentuk suatu kesepakatan untuk mengatur
hubungan-hubungan diantara mereka (Newey, 2008) sekaligus untuk memberi jaminan perlindungan
bagi kehidupan, harta benda serta hak-hak individual dan sosial anggota masyarakat yang terlibat
dalam kesepakatan itu (Simmons, 2016). Kesepakatan atau perjanjian inilah yang kemudian dirujuk
dengan istilah kontrak sosial (Lessnoff, 1986).

Pada prinsipnya kontrak sosial adalah kesepakatan untuk memberi kewenangan pada pihak
tertentu—yang dengan kewenangan yang diterimanya—akan memberi menjaminan perlindungan
bagi kehidupan, harta benda serta hak-hak individual dan sosial dari anggota masyarakat yang terlibat
dalam kesepakatan itu (Lessnoff, 1986). Untuk tujuan tersebut, setiap individu yang terlibat harus
7
rela untuk melepaskan sebagian atau seluruh hak-hak alamiah yang mereka miliki, serta menunjuk
seseorang atau sekelompok orang untuk mengimplementasikan kekuasaan dan memaksakan
kehendak, demi memastikan kepatuhan seluruh anggota masyarakat pada kontrak sosial yang telah
dibuat. Dengan kata lain, kontrak sosial menuntut ketersediaan mekanisme penegakan hukum,
melalui penetapan imbalan bagi kepatuhan dan sanksi bagi pelanggaran. Masing-masing anggota
masyarakat harus rela untuk hidup berdampingan berdasarkan aturan hukum bersama. Mekanisme
penegakan hukum yang diberi kewenangan untuk memaksakan kehendak ini, kemudian mengambil
wujud dalam suatu lembaga yang disebut negara, dimana kewenangan untuk memaksakan kehendak
yang dimiliki oleh negara, menjadi basis bagi kekuasaan dan kedaulatannya (Skyrms, 1998).

3. Masyarakat, Negara, dan Pertukaran Sosial

Di Indonesia, secara konstitusional kekuasaan negara adalah milik masyarakat, sebagaimana


yang dinyatakan dengan tegas dalam pasal 1 ayat 2 UUD 1945, baik sebelum amandemen maupun
setelah amandemen keempat, yang menyatakan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat dan
dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. Masalahnya, masyarakat bukanlah aktor tunggal yang
unison (satu suara). Dalam teori negara majemuk, masyarakat dipandang sebagai sebuah kesatuan
yang terdiri atas kelompok-kelompok kepentingan yang berbeda—yang masing-masing
dikategorikan berdasarkan perbedaan suku, agama, ras, kelas, gender, domisili, mata pencaharian,
dan lain-lain—yang saling berkompetisi untuk memperebutkan akses terhadap sumber daya
kehidupan (Barker, 2005). Kondisi ini mengakibatkan dua hal: pertama, negara merupakan institusi
yang tidak mandiri serta merupakan alat yang netral bagi kekuatan-kekuatan sosial yang ada di
masyarakat untuk menduduki dominasi kekuasaan; dan kedua, setiap kekuatan di masyarakat saling
berlomba untuk mendominasi kekuasaan lembaga negara (Budiman, 1997).

Demi mencegah kompetisi politik mengambil wujud dalam konflik dan manisfestasi yang
anarkis, maka disepakatilah sebuah prosedur politik yang disebut pemilihan umum (pemilu), sebagai
arena persaingan antar semua kelompok kepentingan dalam masyarakat untuk memperebutkan posisi
hegemoni dalam institusi negara (Budiman, 1997). Prosedur politik tersebut kemudian menjadi ajang
bagi berbagai kelompok kepentingan yang berbeda dalam masyarakat untuk bernegosiasi,
membangun kesepakatan, dan saling mengkompromikan kepentingan politik masing-masing,
sehingga aktivitas negara dimungkinkan untuk berjalan dengan aman, damai dan relatif stabil.
Prosedur politik yang disebut pemilu ini selanjutnya mempersonifikan institusi negara beserta
kekuasaan yang dimilikinya dalam wujud para pejabat penyelenggara kekuasaan negara, baik yang
berkedudukan dalam jajaran yang birokrasi sipil maupun yang militer. Dalam praktik sehari-hari,
para birokrat itulah yang sering diidentifikasi sebagai penguasa; sementara yang seringkali hendak
diidentifikasi sebagai pihak yang dikuasai tidaklah lain adalah masyarakat (warga negara) yang dalam
8
perbincangan sehari-hari dirujuk sebagai rakyat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa praktek nyata
dari hubungan antara negara dan warga negara tercermin dalam hubungan antara penguasa dan
rakyatnya.

Dalam hubungan antara penguasa dan rakyat, masing-masing terikat dalam peranan yang
melibatkan aspek hak dan kewajiban. Di Indonesia, hak penguasa untuk berkuasa hanya akan
memperoleh legitimasi ketika para penguasa negara menunaikan kewajibannya untuk memenuhi
tujuan negara, yaitu: pertama, melindungi segenap bangsa (warga negara) dan seluruh tumpah darah
Indonesia; kedua, memajukan kesejahteraan umum; ketiga, mencerdaskan kehidupan bangsa; dan
keempat, ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial;
sebagaimana yang ditetapkan dalam alinea keempat Undang Undang Dasar 1945. Sementara itu, hak
masyarakat Indonesia untuk memperoleh perlindungan negara, memperoleh kesejahteraaan,
memperoleh pendidikan, serta menjalani kehidupan yang tertib, damai dan berkeadilan sosial, hanya
dianggap berlaku ketika anggota masyarakat menunaikan kewajiban mereka pada negara, yang
diantaranya adalah: menaati hukum dan pemerintah (Pasal 27 ayat 1, UUD 1945); menghormati hak
asasi orang lain (Pasal 28J ayat 1, UUD 1945); dan ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan
negara (Pasal 30 ayat 1, UUD 1945); dan lain-lain—sebagaimana yang diatur dalam undang-undang
dan peraturan pemerintah.

Dalam perspektif sosiologi, antropologi, dan psikologi sosial, hubungan antara penguasa dan
rakyat yang melibatkan aspek hak dan kewajiban tersebut, merefleksikan suatu praktik sosial yang
disebut pertukaran sosial (social exchange). Teori pertukaran sosial merupakan teori yang menaruh
perhatian pada konsep-konsep sosiologis penting, seperti: keadilan distributif, keseimbangan, status,
kepemimpinan, wewenang, kekuasaan, dan solidaritas (Cook dan Rice, 2006). Terdapat sejumlah ahli
yang berkontribusi terhadap pengembangan teori pertukaran sosial, seperti Homans (1958), Blau
(1964), dan Emerson (1972), namun diantara para ahli tersebut George C. Homans dianggap sebagai
ahli yang pertamakali mencetuskannya sehingga dianggap memberi sumbangan yang paling
berpengaruh. Homans (1958) mendefinisikan pertukaran sosial sebagai pertukaran aktivitas, baik
berwujud (tangible) maupun yang tidak berwujud (intangible), yang kurang lebih dianggap
bermanfaat atau bernilai, antara—setidaknya—dua orang. Definisi tersebut membuat teori pertukaran
sosial dapat digunakan sebagai model untuk menjelaskan hubungan antara negara dan warga negara
sebagai rangkaian interaksi yang didasarkan pada keseimbangan antara harapan akan imbalan dan
ketakutan terhadap pengorbanan (Burgess dan Huston, 1979). Artinya dalam bingkai pertukaran
sosial, sebuah hubungan sosial hanya akan berlangsung dengan baik dan berulang ketika masing-
masing pihak yang terlibat menyadari manfaat atau keuntungan yang akan dapat diperoleh melalui
hubungan tersebut, yang dievaluasi dengan menggunakan model analisis imbalan-pengorbanan.

9
Homans (1958) yang membingkai studi perilaku sosial dalam konteks imbalan dan
pengorbanan, mengajukan lima proposisi yang mendasari teori pertukaran sosial. Proposisi pertama
disebut proposisi keberhasilan, menyatakan bahwa perilaku yang menghasilkan imbalan positif
memiliki kemungkinan lebih besar untuk dilakukan. Proposisi kedua, proposisi stimulus, menyatakan
bahwa perilaku yang memperoleh imbalan pada suatu kesempatan di masa lalu, akan berulang ketika
dihadapkan pada situasi yang sama. Proposisi ketiga, proposisi nilai, menyatakan bahwa semakin
besar nilai imbalan dari suatu perilaku, semakin besar pula kemungkinan perilaku akan dilakukan.
Proposisi keempat, proposisi perampasan-pemuasan (deprivation-satiation), menyatakan bahwa
semakin sering seseorang memperoleh imbalan untuk sebuah perilaku, maka semakin berkurang nilai
imbalan yang dirasakan oleh orang tersebut. Proposisi kelima, proposisi respon, menyatakan bahwa
orang akan menjadi marah dan agresif saat mereka tidak menerima imbalan yang mereka antisipasi
untuk suatu perilaku.

Apabila kita mengaitkan teori pertukaran sosial ini dengan hubungan antara penguasa dan
rakyat dalam bingkai pemenuhan hak dan kewajiban, maka dapat dikatakan bahwa kepatuhan warga
negara terhadap kekuasaan negara bukan hanya dipengaruhi oleh ketakutan akan hukuman, tetapi
terlebih lagi oleh harapan akan imbalan. Dengan kata lain, negara tidak akan dapat menciptakan
kepatuhan warganya apabila hanya mengandalkan cara-cara yang represif misalnya dengan ancaman
hukuman badan. Apabila pendekatan yang represif diterapkan tanpa menyeimbangkannya dengan
aspek imbalan, maka ada kemungkinan masyarakat akan mulai melawan—seperti yang dinyatakan
oleh Gurr (1970) dalam bukunya Why Men Rebel (mengapa orang memberontak). Teori Gurr yang
disebut dengan teori perampasan relatif (relative deprivation theory) tersebut menyatakan, bahwa
resistensi atau perlawanan terjadi ketika suatu individu atau sekelompok individu merasa bahwa
sesuatu yang dihargainya atau bermanfaat baginya—sesuatu yang menjadi haknya—dirampas begitu
saja. Perasaan terampas inilah yang disebut Gurr (1970) sebagai relative deprivation, yaitu suatu
persepsi perihal kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang membuat suatu individu atau
sekelompok individu merasa terpinggirkan. Perasaan terpinggirkan ini selanjutnya dapat bermuara
pada pembangkangan-pembangkangan kecil, yang apabila tidak disikapi akan berpotensi untuk
meledak menjadi aksi-aksi kolektif yang bernuansa kekerasan.

4. Fenomena Pedagang Kaki Lima di Kota Medan

Kota Medan adalah ibu kota provinsi Sumatra Utara, Indonesia. Berdasarkan luas wilayah (BPS
Kota Medan, 2017), kota ini adalah kota terbesar ketiga di Indonesia, setelah Jakarta dan Surabaya,
serta merupakan kota terbesar di luar pulau Jawa. Keberadaan pelabuhan Belawan dan dan Bandar
Udara Internasional Kuala Namu yang merupakan pelabuhan udara terbesar kedua di Indonesia, telah
memposisikan kota Medan sebagai pintu gerbang wilayah Indonesia bagian Barat. Posisi strategis
10
kota Medan yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka membuat kota Medan tumbuh menjadi
kota perdagangan, industri, dan bisnis yang sangat penting bagi Indonesia. Eksistensi kota Medan
sebagai kota perdagangan sudah dimulai sejak lama, yaitu sejak pemerintah kolonial Belanda
membuaka perkebunan besar-besaran di Medan dan sekitarnya. Hal ini diikuti oleh gelombang
migrasi orang Jawa dan Tionghoa yang awalnya datang untuk bekerja sebagai kuli di perkebunan,
namun dalam perkembangannya para migran Tionghoa di dorong oleh pemerintah kolonial untuk
mengembangkan usaha perdagangan, yaitu diikuti oleh pendatang dari Minangkabau, Mandailing,
dan Aceh, yang juga datang untuk berdagang.

Hingga saat ini perdagangan masih merupakan salah satu sumber mata pencaharian utama bagi
penduduk kota Medan. Menurut Badan Pusat Statistik Kota Medan (2017), sebanyak 19.869
penduduk kota Medan berprofesi sebagai pedagang. Sebagian besar dari mereka beroperasi di 13.447
sarana perdagangan milik pemerintah maupun swasta, yang berupa: pasar, toko, kios, dan warung.
Umumnya kegiatan para pedagang kota Medan terpusat di pasar. Saat ini, terdapat 53 fasilitas pasar
yang tersebar di 21 kecamatan di Kota Medan, dengan luas total area pasar sebesar 297.823,67 m2.
Tingkat pengangguran sebesar 11% di Medan (BPS Kota Medan, 2017) membuat sektor perdagangan
menjadi alternatif mata pencaharian yang menyerap tenaga kerja dengan jumlah yang signifikan.
Selain itu, di kalangan umat muslim yang menjadi penduduk mayoritas di kota Medan, terdapat suatu
keyakinan yang didukung oleh sejumlah hadits tentang keutamaan berdagang sebagai pekerjaan yang
halal dan membawa berkah. Akibatnya, seiring waktu jumlah pedagang di kota Medan terus
bertambah, sementara kecepatan pertumbuhan jumlah pedagang tidak bergerak seiring dengan
kecepatan perkembangan infrastruktur dan fasilitas perdagangan.

Para pedagang yang tak tertampung dalam fasilitas perdagangan resmi yang disediakan
pemerintah, demi mempertahankan hidup terpaksa harus mencari sendiri lokasi usahanya. Para
pedagang yang memiliki cukup modal akan membangun atau menyewa ruang usahanya secara
mandiri, namun bagi pedagang yang hanya memiliki modal terbatas terpaksa harus beroperasi di
lokasi-lokasi yang sebenarnya tidak diperuntukkan untuk berdagang. Akibatnya mereka sering dikali
dirujuk sebagai pedagang liar, atau yang juga populer disebut dengan istilah pedagang kaki lima
(PKL). Istilah pedagang kaki lima sebenarnya sudah dikenal sejak jaman pemerintahan kolonial
Belanda, tepatnya ketika Gubernur Jendral Stanfford Raffles mengeluarkan peraturan yang
mengharuskan para pedagang informal pada masa itu untuk mengambil posisi sejauh 5 kaki (1,2 m)
dari bangunan formal di pusat kota (Danisworo, 2000). Posisi sejauh 5 kaki inilah yang membuat
para pedagang informal di pusat kota disebut “pedagang kaki lima”. Saat ini, istilah pedagang kaki
lima tidak lagi ditujukan untuk merujuk posisi sejauh 5 kaki dari gedung formal seperti pada masa

11
kolonial, melainkan meluas pengertiannya dan digunakan untuk merujuk setiap pedagangan informal
yang melakukan kegiatan komersial di trotoar jalan.

Secara umum, PKL didefinisikan sebagai pedagang kecil yang berjualan di suatu tempat umum
seperti di tepi-tepi jalan, taman-taman kota, emper-emper toko, dan pasar-pasar tanpa izin dari
pemerintah (Karafir, 1997). Mereka dikategorikan sebagai golongan ekonomi lemah yang berjualan
barang kebutuhan sehari-hari, makanan atau jasa dengan modalnya yang relatif kecil, modal sendiri
atau modal pinjaman dari pihak lain, yang berjualan di tempat terlarang atau tidak. (Kartono, 1980).
Sementara menurut Peraturan Presiden No. 125 Tahun 2012 Tentang Koordinasi Penataan dan
Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima; serta Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 41 Tahun 2012
Tentang Pedoman Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima, PKL adalah pelaku usaha yang
melakukan usaha perdagangan dengan menggunakan sarana usaha bergerak maupun tidak bergerak,
menggunakan prasarana kota, fasilitas sosial, fasilitas umum, lahan dan bangunan milik pemerintah
dan/atau swasta yang bersifat sementara/tidak menetap.

Operasi PKL selanjutnya menjadi buah simalakama bagi pemerintah kota medan, karena di satu
sisi PKL memberikan manfaat, namun di sisi lain juga membawa masalah. Dari segi ketenagakerjaan
PKL merupakan sektor informal yang berpotensi menjadi sabuk penyelamat untuk menampung
kelebihan tenaga kerja yang tidak tertampung dalam sektor formal, sehingga dapat mengurangi angka
pengangguran. PKL merupakan katup pengaman bagi masyarakat perekonomian lemah baik sebagai
profesi maupun bagi konsumen untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, terutama akibat krisis
ekonomi. PKL menyediakan kebutuhan barang dan jasa yang relatif murah bagi masyarakat yang
berpenghasilan menengah ke bawah, sekaligus memberikan rasa aman yang menjadi barrier untuk
keamanan aktivitas pedagang formal karena kontiunitas kegiatannya hampir 24 jam. Selain itu,
jumlah PKL yang besar, ragam bentuk usaha dan keunikan merupakan potensi yang besar untuk
menghias wajah kota, apabila ditata dan diatur dengan baik, termasuk menyimpan potensi pariwisata
yang cukup menjanjikan.

Sementara di sisi lain, media dagang yang digunakan PKL tidak estetis dan tidak tertata dengan
baik menimbulkan kesan semrawut dan kumuh, akibatnya menurunnya kualitas visual kota. Lokasi
berdagang sebagian PKL yang memakai badan jalan yang tidak semestinya menimbulkan kemacetan
lalu lintas, dan lokasi PKL yang menggunakan pedestrian, trotoar dan taman menyita hak para pejalan
kaki serta menggeser fungsi ruang publik. Selain itu keberadaan PKL yang tidak terkendali
mengakibatkan pejalan kaki berdesak-desakan, sehingga dapat timbul tindak kriminal (misalnya:
pencopetan dan premanisme). Belum lagi keberadaan PKL yang mengganggu kegiatan ekonomi
pedagang formal karena lokasinya yang cenderung memotong jalur pengunjung seperti pinggir jalan
dan depan toko.
12
13
Bab III

Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Berdasarkan model penelitian maka jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah
penelitian kuantitatif deskriptif, di mana pengunaan penelitian deskriftif bertujuan untuk
menghimpun dan mengukur data yang diperoleh dari lapangan tetapi tidak untuk melakukan uji
hipotesis. Sedang berdasarkan pendekatannya maka penelitiannya menggunakan metode survei yaitu
pengumpulan data dari sampel yang mewakili populasi dan dikumpulkan dari responden dengan
menggunakan kuesioner. Selain menggunakan metode survei penelitian ini juga menggunakan
metode kualitatif yaitu pengumpulan data dari informan dengan menggunakan pedoman wawancara,
data yang diperoleh berupa data kualitatif yang tujuannya untuk melengkapi data kuantitatif yang
terkumpul dari metode survei.

2. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian berada di kota Medan, tidak terfokus pada satu titik lokasi tetapi tersebar di
beberapa lokasi dimana banyak terdapat PKL.

3. Populasi dan Sampel

4.1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua PKL yang berada di kota Medan
4.2. Sampel
Jumlah sampel ditetapkan dengan teknik kuota sampling yaitu sebanyak 40 orang PKL

4. Informan

Selain dari sampel, pengumpulan data primer juga akan dilakukan pada informan yang berasal
dari pemerintah kota Medan, yakni: Kepala Bagian Perekonomian, Kepala Kantor Perencanaan dan
Pembangunan Kota Medan, Kepala Suku Dinas Koperasi, UKMK, Perdagangan Kota Medan, dan
juga informan dari Komisi C DPRD Kota Medan.

14
5. Teknik Pengumpulan Data

5.1. Untuk menjawab bagaimanakah bentuk-bentuk kebijakan pemerintah dalam hal


penanganan PKL dilakukan dengan teknik mengumpulkan dokumen-dokumen yang
berhubungan dengan praturan-praturan daerah tentang PKL serta dari data BPS Provinsi
Sumatera Utara.
5.2. Untuk menjawab bagaimanakah bentuk-bentuk kebijakan pemerintah dalam hal
penanganan PKL dilakukan dengan teknik mengumpulkan dokumen-dokumen yang
berhubungan dengan praturan-praturan daerah tentang PKL serta dari data BPS Provinsi
Sumatera Utara.
5.3. Untuk menjawab pertanyaan strategi apa yang dijalankan pemerintah dalam penanganan
PKL, dilakukan dengan teknik wawancara mendalam. Wawancara dilakukan untuk
mencari data dari informan yang berasal dari pemerintah Kota Medan, dan anggota
Dewan Komisi C. disamping itu dilakukan juga dengan mengumpulkan dokumen-
dokumen strategi yang sudah dijalankan pemerintah dalam penanganan PKL.
5.4. Untuk menjawab pertanyaan bagaimana persepsi PKL terhdap kebijakan-kebijakan yang
dibuat pemerintah dilakukkan dengan menyebarkan kuesioner / angket. Kuesioner
bersifat setengah terstruktur. Artinya sebagian menggunakan pilihan tertutup, namun ada
peluan responden untuk memberikan alasan jawaban. Kuesioner ditujukan pada PKL.
5.5. Untuk menjawab masalah hambatan-hambatan apa yang dihadapi pemerintah dalam
penanganan PKL, dilakukan dengan teknik wawancara mendalam pada informan, yaitu
kepala bagian perekonomian, kepala kantor perencanaan dan pembangunan kota medan,
dan kepala dinas koperasi, UKMK, dan perdagangan kota medan.
5.6. Untuk menjawab permasalahan bagaimana PKL memenuhi kewajibannya sebagai
pedagang, dilakukan dengan teknik menyebar angket dan observasi. Kuesioner
disebarkan kepada para PKL, sekaligus peneliti akan melakukan pengamatan pada
kegiatan objek yang diteliti.

6. Analisis Data

Sebelum dianalisis data yang terkumpul terlebih dahulu diolah dengan melalui proses coding,
editing, dan kemudian data tersebut dientri serta di tabulasi. Data yang terkumpul dalam penelitian
ini dianalisis dengan analisa satu tabel atau tabel frekuensi. Tabel frekuensi berfungsi untuk:

6.1. Mendapatkan deskripsi ciri atau karakteristik responden atas dasar analisis satu variabel
tertentu.
6.2. Mempelajari distribusi variabel-variabel penelitian.

15
6.3. Menentukan klasifikasi data.

Bab IV

Analisis Data

16
Seperti yang telah disinggung pada bagian kajian literatur, masyarakat adalah sebuah kesatuan
yang terdiri atas berbagai kelompok kepentingan, yang masing-masing dibedakan berdasarkan
kategori suku, agama, ras, kelas, gender, domisili, mata pencaharian, dan lain-lain. Masing-masing
kelompok kepentingan yang berbeda, disatu sisi dituntut untuk hidup berdampingan dengan damai
dalam sebuah ruang kolektif, namun di sisi lain harus saling berkompetisi untuk memperebutkan
akses terhadap sumberdaya-sumberdaya kehidupan, seperti: mata pencaharian, perumahan,
pendidikan, kesehatan, sanitasi, energi, serta berbagai bentuk layanan publik, yang dijaga oleh suatu
otoritas, baik yang sifatnya formal (misalnya: pemerintah) maupun informal (misalnya: organisasi
kemasyarakatan). Permasalahan sosial kemudian timbul ketika otoritas yang menjaga akses sumber
daya seringkali mengeluarkan kebijakan yang menciptakan hubungan asimetris dalam interaksi antar
kelompok kepentingan dalam masyarakat, dimana kebijakan otoritas yang berkuasa memberikan
keutamaan bagi kepentingan kelompok‐ kelompok tertentu, sekaligus mengesampingkan atau
memarjinalkan kepentingan kelompok‐ kelompok yang lain.

Kompetisi antar kelompok-kelompok kepentingan tersebut juga mengambil wujud dalam


permasalahan PKL di kota Medan. Di satu sisi terdapat para PKL yang menuntut haknya sebagai
warga negara, yaitu untuk memperoleh jaminan perlindungan dari negara dalam usahanya untuk
meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidupnya; sementara di sisi lain lain terdapat kelompok
masyarakat umum lain, yang juga menuntut haknya untuk menikmati fasilitas publik—seperti: jalan
raya, trotoar, taman umum, dsb—dengan aman dan nyaman. Dalam perbenturan kepentingan tersebut
perlu diingat bahwa perbedaan kategori dari masing-masing kelompok sebenarnya sangat cair,
bersifat sementara, dan saling bertumpang-tindih, karena pada saat tertentu para PKL akan beralih
peran menjadi individu-individu pengguna jalan raya yang juga merasa terganggu akibat kemacetan
dan kekacauan; sebaliknya kelompok masyarakat pengguna jalan pada saat tertentu juga menjadi
konsumen komoditas PKL yang merasa diuntungkan oleh ketersediaan barang-barang tertentu yang
dijual dengan harga murah oleh PKL. Dalam upaya untuk mengatasi benturan kepentingan ini,
masing-masing kelompok kemudian berpaling kepada negara, yang memang berkewajiban untuk
menjaga ketertiban dan stabilitas sosial, serta menyelesaikan perselisihan yang terjadi di tengah
masyarakat. Namun sebelum kita masuk ke penjelasan lebih lanjut, kita perlu terlebih dahulu
memahami perspektif dari masing-masing aktor yang terlibat dalam melihat permasalahan ini.

1. Perspektif Masyarakat Umum

Secara faktual, masyarakat umum yang dimaksud dalam penelitian ini adalah warga kota
Medan yang berasal dari beragam latar belakang dan kategori sosial, yang secara kolektif memiliki
kebutuhan untuk memanfaatkan fasilitas-fasilitas publik, seperti: jalan raya, trotoar, taman umum dan
lain-lain; yang merasa terganggu—dan sekaligus diuntungkan—oleh aktivitas komersial yang
17
dilakukan oleh PKL. Dalam pengamatan lapangan yang kami lakukan, dinamika kehidupan urban
membuat efisiensi waktu dan tingkat mobilitas menjadi sumber daya penting yang diperebutkan oleh
warga kota Medan. Persaingan untuk memperebutkan sumber daya tersebut dapat kita saksikan
wujudnya setiap hari, dalam kemacetan lalu-lintas yang sudah menjadi bagian dari keseharian warga
kota Medan, dimana setiap orang berlomba untuk saling mendahului. Terdapat berbagai alasan yang
menjadi pemicu kemacetan tersebut: pertumbuhan jumlah kendaraan, kerusakan jalan, masalah
cuaca, dan lain-lain. Namun di lokasi-lokasi tertentu, seperti di ruas jalan Yos Sudarso Pulo Brayan,
Pasar tradisional Sei Sikambing di Jalan Kapten Muslim, pasar di persimpangan Kampung Lalang,
Pasar Sukaramai di Jalan AR Hakim serta beberapa lokasi lain, terdapat persepsi umum bahwa
kemacetan yang terjadi ditimbulkan oleh kegiatan PKL.

Dalam pengamatan kami, sepanjang jalan yang telah kami sebutkan memang dipenuhi oleh
aktivitas komersial PKL yang menggelar lapak dagangan bukan hanya menduduki trotoar, tetapi
bahkan mengambil posisi di badan jalan. Kehadiran para PKL tersebut juga disertai oleh timbunan
sampah yang berserakan di sekitar mereka sehingga mengganggu kebersihan dan keindahan. Selain
itu, kios-kios non-permanen yang mereka bangun di atas aluran drainase, trotoar dan badan jalan
menimbulkan dampak kemacetan lalu-lintas dan kerawanan sosial, seperti: pencopetan, perkelahian,
dan aksi premanisme. Ditambah lagi dengan munculnya parkir berlapis di sepanjang ruas jalan karena
para pembeli memarkirkan kendaraan seenaknya agar tidak repot ketika berbelanja.

Ironisnya, kami juga mengamati bahwa faktor utama yang memicu berlangsungnya kegiatan
PKL di lokasi-lokasi tersebut justru karena adanya permintaan dari konsumen, yang tak lain adalah
masyarakat umum itu sendiri. Tidak mungkin PKL beroperasi di suatu kawasan tertentu apabila tidak
ada peluang untuk memperoleh keuntungan. Dalam observasi lapangan yang kami lakukan, kami
melihat bahwa sejumlah warga masyarakat yang merasa terganggu oleh kehadiran PKL pada pagi
atau sore ketika hendak berangkat bekerja, pada jam makan siang justru adalah pelanggan setia dari
salah satu atau beberapa PKL yang beroperasi di sekitarnya. Sulit sekali untuk membayangkan bahwa
ada seorang warga yang sama sekali tidak pernah memanfaatkan jasa dari PKL selama hidupnya di
kota Medan. Hal ini membuat posisi masyarakat dalam menyikapi masalah PKL menjadi ambigu,
karena mereka secara tidak langsung merupakan bagian dari masalah yang mereka hadapi.

2. Perspektif Pedagang Kaki Lima

Dalam upaya untuk memahami perspektif PKL dalam menyikapi masalah yang kami teliti, kami
menyebarkan kuesioner secara acak pada 40 orang PKL yang beroperasi di kota Medan. Sejumlah
47,5 % dari responden yang kami teliti berusaha di bidang kuliner dengan menjual nasi, lauk-pauk,
kue, dan masakan lain. Selebihnya adalah pedagang barang bukan makanan (perabot rumah tangga,
18
tekstil, obat, dll), pedagang bahan mentah (sayur, buah, daging, dll), dan penyedia jasa (tukang
cukur, bengkel reparasi, dll). Mereka berjualan barang kebutuhan sehari-hari, makanan atau jasa
dengan modalnya yang relatif kecil, modal sendiri atau modal pinjaman dari pihak lain. Sebanyak
77,5% dari mereka beroperasi selama 5-10 jam, yaitu sepanjang pagi hingga sore. Karena itu 80%
dari mereka lebih memilih untuk menggunakan peralatan dagang yang dapat dilipat dan
dipindahkan, seperti: mobil box, gerobak, sepeda, dll, sementara 20% sisanya menggunakan tenda
semi-permanen. Dalam menjalankan usahanya, 77,5% dari responden menduduki lokasi usaha yang
bercampur dengan pedagang yang menawarkan barang jenis lain, sedang 22,5% sisanya berkumpul
dengan para pedagang dengan barang yang sejenis.

Sejumlah 87,5% dari responden mengaku tidak memiliki ijin resmi untuk beroperasi, namun
hanya 52,5% dari mereka yang menyadari bahwa hal tersebut menyalahi aturan pemerintah. Hal ini
wajar saja, mengingat 90% dari responden menyatakan tidak pernah mendapat penjelasan resmi
tentang peraturan ketertiban umum dan tata ruang kota Medan dari pihak yang berwenang.
Akibatnya respon PKL terhadap upaya penataan yang dilaksanakan oleh pemerintah kota Medan
seringkali reaktif, impulsif, dan penuh kecurigaan, karena informasi tentang peraturan ketertiban
umum dan tata kota yang diperoleh PKL lebih banyak bersumber dari saluran informal, seperti
pergunjingan sehari-hari dengan sesama PKL dan desas-desus yang beredar. Keterbatasan akses
terhadap informasi tentang peraturan ketertiban dan tata ruang kota menimbulkan perasaan
terpinggirkan di kalangan PKL. Ditambah lagi, mayoritas responden merasa bahwa mereka sama
sekali pernah tersentuh oleh program pemberdayaan PKL yang sering digembar-gemborkan lewat
media massa. Dari seluruh responden yang mengisi kuesioner, hanya 2,5% (1 orang) yang pernah
diundang bermusyawarah untuk menyelesaikan masalah PKl oleh pemerintah. Selain itu, ada 5% (2
orang) yang pernah mendapat bantuan modal dan sarana/prasarana usaha dari pemerintah.
Dengan kata lain, usaha pemerintah untuk mencarikan pemecahan bagi masalah PKL sebenarnya
ada, namun tidak tersosialisasikan dengan baik, sehingga hanya menyentuh sebagian kecil dari PKL
di kota Medan.

Dalam hal ini, hal yang diketahui oleh mayoritas PKL tentang upaya penataan dan
pemberdayaan PKL, justru lebih berupa kabar tentang bentuk-bentuk penertiban yang represif oleh
pemerintah kota Medan, yang membuat para PKL cenderung melihat dirinya sebagai korban. Hal
inilah yang selanjut menjadi basis pembenaran bagi mereka untuk membela diri dan melawan. Misal
perlawanan PKL di Jalan Gatot Subroto, Kecamatan Medan Baru (Detiknews. 2015. Diunduh dari
https://news.detik.com/berita/2863981/pkl-medan-melawan-saat-akan-ditertibkan); perlawanan

19
PKL di Jalan Rakyat Simpang Pelita I, Medan (Beritasatu. 2016. Diunduh dari
http://www.beritasatu.com/nasional/355676-penertiban-pkl-di-medan-ricuh.html); perlawanan
PKL seputaran Pasar Petisah (Medanbicara. 2017. https://medanbicara.com/medan/penertiban-
pedagang-kaki-lima-petisah-ricuh); dan yang terbaru adalah perlawanan PKL di jalan Ngumban
Surbakti, Kecamatan Medan Selayang, Medan (Kabardaerah. 2018.
https://sumut.kabardaerah.com/penertiban-pedagang-kaki-lima-di-jalan-ngumban-surbakti-
mendapat-perlawanan-dari-pedagang/).

Perlawan para PKL tidak selalu menempuh cara-cara kekerasan, melainkan lebih sering
melalui pembangkangan-pembangkangan kecil yang menggerogoti kewibawan sistem. Misalnya
dengan menolak untuk mengurus ijin, sebagaimana yang dilakukan oleh 77,5% dari responden yang
kami teliti; atau menolak untuk membayarkan retribusi kepada negara, sebagaimana yang dilakukan
oleh 50% dari responden. Selain itu, mereka juga melawan secara simbolik dengan
mendemonstrasikan ketidak-pedulian dan tetap berjualan di lokasi-lokasi yang rawan kemacetan.
Dalam hal ini, 70% dari responden menyatakan bahwa mereka menyadari bahwa akibat kegiatan
usaha mereka membuat pejalan kaki kehilangan haknya; dan 62,5% menyadari bahwa kegiatan
usaha mereka berpotensi mengakibatkan kemacetan lalu-lintas.

Mulai tergerusnya kepercayaan PKL terhadap institusi formal—yang dalam hal ini adalah
pemerintah kota Medan—membuat sebagian PKL kota Medan mulai berpaling untuk mencari
perlindungan dari institusi-institusi informal, seperti organisasi kemasyarakatan, organisasi
keagamaan, atau lembaga swadaya masyarakat. Ketika terjadi masalah sosial di lingkungan usaha,
32.5% dari responden memilih untuk meminta bantuan dari otoritas informal, seperti ormas atau
pemilik bangunan di sekitar lokasi yang mereka tempati. Hal ini dilihat sebagai “peluang” oleh
sejumlah organisasi kemasyarakatan di kota Medan. Mereka kemudian berinisiatif menyediakan
lokasi penampungan serta memberikan perlindungan kepada para PKL yang beroperasi di “wilayah
kekuasaannya” dengan syarat imbalan dalam jumlah tertentu. Suatu menjadi rahasia umum bahwa
papan nama dan bendera ormas tertentu yang diletakkan di kawasan-kawasan publik tertentu
menandai klaim atas “kekuasaan” mereka di wilayah tersebut. Setengah dari reponden menyatakan
bahwa mereka menyatakan membayarkan retribusi pada organisasi kemasyarakatan tertentu,
dimana sebanyak 37,5% responden menyatakan membayar sebesar kurang dari 500 ribu rupiah,
dan 12,5 yang menyatakan membayar sebesar antara 500 ribu hingga 1 juta rupiah.

Walaupun demikian, menurut pengamatan kami hingga setidaknya saat ini masih tersimpan
harapan di hati PKL untuk memperoleh solusi dari pemerintah. Sebanyak 47,5% dari responden
20
menyatakan bersedia direlokasi, jika memang pemerintah berkenan menyediakan lokasi khusus
bagi PKL di dalam kota Medan. Hal yang juga tak kalah menarik adalah, kenyataan bahwa dibalik
pembangkangan-pembangkangan yang seringkali ditunjukkan oleh para PKL kota Medan, ternyata
mereka masih menyimpan kepedulian untuk memelihara lingkungan sekitar lokasi mereka
berusaha. Sebanyak 90% dari responden menyatakan bahwa mereka secara rutin membersihkan
lokasi usaha mereka, bahkan 62,5% dari mereka berinisiatif untuk menyediakan sendiri sarana dan
prasarana untuk menjaga kebersihan di lingkungan mereka.

3. Perspektif Pemerintah Kota Medan

Dalam perspektif pemerintah pusat, sebagaimana yang dinyatakan dalam Peraturan Presiden
No. 125 Tahun 2012 Tentang Koordinasi Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima; dan
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 41 Tahun 2012 Tentang Pedoman Penataan dan
Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima; keberadaan PKL merupakan fenomena yang harus dilihat dari
dua sisi. Pertama, kegiatan PKL dilihat sebagai salah satu pelaku usaha ekonomi kerakyatan yang
bergerak dalam usaha perdagangan sektor informal, yang membutuhkan pemberdayaan untuk
meningkatkan dan mengembangkan usahanya. Kedua, kegiatan PKL dianggap memberi dampak
negatif pada estetika, kebersihan dan fungsi sarana dan prasarana kawasan perkotaan serta
terganggunya kelancaran lalu lintas, sehingga membutuhkan penataan dan pengaturan. Dengan
kata lain, kebijakan pemerintah Indonesia dalam menangani PKL, adalah dengan
mempertimbangkan keseimbangan antara aspek penertiban dan pendisiplinan; dengan aspek
pemberdayaan, peningkatan, dan pengembangan.

Dalam wawancara yang kami lakukan dengan Sekertaris Satpol PP Kota Medan Rahmat
Harahap, secara normatif beliau menyatakan Pemko Medan menyadari bahwa dari segi ekonomi
PKL menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang signifikan; dari segi sosial kehadiran PKL membantu
meramaikan dan menghidupkan suasana; dan secara umum PKL juga memenuhi kebutuhan
masyarakat bawah dengan barang-barang dengan harga terjangkau. Karena itu, menurut beliau,
arah kebijakan Pemko Medan dalam menangani masalah PKL adalah dengan melakukan upaya
pemberdayaan melalui program-program, seperti: relokasi PKL dan pembenahan pasar-pasar di
kota Medan; pemberdayaan PKL melalui pengembangan ekonomi kreatif; peningkatan aktivitas
pasar menjadi 24 jam; menyediakan lahan bagi aktivitas PKL; dan lain-lain.

Namun dalam praktek di lapangan, Rahmat Harahap juga mengakui bahwa anggaran dana
yang dialokasikan oleh Pemkot Medan tidak ditujukan untuk melakukan relokasi atau

21
pemberdayaan PKL; melainkan untuk program peningkatan keamanan dan kenyamanan
lingkungan. Kondisi ini menimbulkan kesan bahwa di tingkat lokal, alih-alih melihat PKL sebagai
peluang bagi permasalahan ekonomi dan ketenagakerjaan, pemerintah kota Medan justru melihat
PKL lebih sebagai ancaman bagi ketertiban dan keamanan. Tak heran jika dalam implementasi
program penataan dan pemberdayaan PKL, pemerintah kota Medan cenderung memusatkan
anggaran untuk tujuan pengerahan personil keamanan dalam jumlah besar demi mengantisipasi
kemungkinan kerusuhan. Untuk melakukan operasi selama 30 hari, Satpol PP kota Medan
menganggarkan dana sebesar 3,1 milyar rupiah untuk mengerahkan 990 personil (Koransindo.
2017. Diunduh dari http://koran-sindo.com/page/news/2017-02-04/5/21), sementara itu menurut
data BPS Kota Medan (2017), sepanjang tahun 2016 hanya 299 orang PKL yang ditertibkan dalam
operasi sebanyak 151 kali. Bisa dibayangkan betapa tingginya biaya yang dibutuhkan untuk
mengatasi masalah PKL.

Selain itu, dalam wawancara Rahmat Harahap juga mengungkapkan bahwa program penataan
dan pemberdayaan PKL di Medan diatur dan dilaksanakan dengan berlandaskan pada Peraturan
Daerah Kodya Medan No. 31 Tahun 1993 tentang pemakaian tempat berjualan; serta Peraturan
Walikota Medan No. 9 Tahun 2009 tentang larangan mendirikan bangunan di fasilitas-fasilitas
publik. Namun menurut pengamatan kami, butir-butir aturan dalam kedua Perda tersebut hanya
mengatur tentang pelarangan berdagang bagi PKL di daerah-daerah yang sudah ditentukan, namun
sama sekali tidak menyinggung hak-hak PKL sebagai warga negara/warga kota untuk berpatisipasi
dalam kegiatan ekonomi, mencari nafkah, dan terlibat dalam usaha untuk meningkatkan
kesejahteraan.

Sepanjang wawancara, Rahmat Harahap berkali-kali menyatakan bahwa fokus Pemko Medan
untuk mengatasi masalah PKL di kota Medan adalah dengan menyediakan kios-kios dan lokasi
khusus untuk PKL, memberikan kemudahan modal usaha, memperhatikan promosi, pelatihan, dan
memberikan pendampingan usaha bagi PKL. Namun ironisnya, Rahmat Harahap juga
mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada lokasi pasti yang ditetapkan sebagai kawasan
relokasi tempat penampungan PKL; belum ada regulasi khusus yang mengatur di mana dan kapan
PKL boleh beroperasi; serta belum ada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang bertanggungjawab
untuk membina dan memberdayakan PKL. Hal ini seolah-olah mengkonfirmasi sikap setengah-hati
Pemko Medan dalam membina dan memberdayakan PKL, sebagaimana yang dipertegas oleh
pernyataan Anggota Komisi C DPRD Medan, Salman Alfarisi, yang menuding bahwa Pemko Medan
tidak memiliki rancangan induk yang terintegrasi untuk menangani masalah PKL secara holistik

22
(Beritasumut. 2017. Diunduh dari http://beritasumut.com/politik-pemerintahan/Pemko-Medan-
Tidak-Memiliki-Grand-Design-Penyelesaian-PKL).

Menurut pengamatan kami, sikap setengah-hati Pemko Medan dalam membina dan
memberdayakan PKL bisa saja berkaitan dengan persepsi para pembuat kebijakan publik di Medan
yang melihat bahwa aktivitas PKL tidak memberi dampak yang signifikan terhadap pendapatan asli
daerah (PAD) kota Medan, sebagaimana yang terungkap dalam rapat pembahasan P- APBD tahun
2015 antara Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) dengan Komisi C DPRD Medan, di ruang rapat
Komisi C (Jurnalasia. 2015. Diunduh dari http://www.jurnalasia.com/medan/pedagang-kaki-lima-
kuliner-bebas-retribusi/). Dalam rapat tersebut Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota
Medan, M. Husni, di depan pimpinan rapat Komisi C DPRD Medan, Godfried Lubis, menyatakankan
bahwa sulit bagi pemerintah untuk menarik retribusi dari PKL, selain karena tidak adanya penetapan
kawasan, juga peraturan daerah (Perda) yang menguatkan bahwa pedagang kaki lima (PKL) harus
dikenakan retribusi belum diatur.

Sementara, Herry Zulkarnain anggota komisi C dari Fraksi Partai Demokrat menilai, bahwa
usaha PKL di Medan hingga saat ini masih merupakan lahan pemasukan bagi oknum-oknum preman,
kepala lingkungan (Kepling) dan kelurahan. Dengan kata lain, retribusi dari PKL ada, tapi tidak masuk
dalam kas Dispenda (Jurnalasia. 2015. Diunduh dari http://www.jurnalasia.com/medan/pedagang-
kaki-lima-kuliner-bebas-retribusi/). Dugaan Herry Zulkarnain ini sesuai dengan pengakuan 37,5%
responden PKL menyatakan membayar sebesar kurang dari 500 ribu rupiah, dan 12,5% yang
menyatakan membayar sebesar antara 500 ribu hingga 1 juta rupiah pada oknum birokrat atau
organisasi kemasyarakatan tertentu. Hal ini membuat upaya penataan dan pemberdayaan PKL
melalui penetapan kawasan khusus PKL serta penetapan peraturan daerah yang mengatur retribusi
PKL secara resmi, akan pandang sebagai ancaman bagi pemasukan yang selama ini diterima oleh
oknum birokrat atau organisasi kemasyarakatan tertentu. Akibatnya, melalui jaringan kerja yang
mereka miliki dalam lingkar kekuasaan, oknum birokrat atau organisasi kemasyarakatan tersebut
berusaha mempertahankan status quo, dengan mengerahkan segala cara untuk mencegah
terbentuknya kesepakatan formal tentang penataan dan pemberdayaan PKL.

Ketika dikonfirmasi mengenai hal ini, Rahmat Harahap justru mengaitkan permasalahan PKL
pada kurangnya dukungan dari masyarakat kepada pemerintah dalam hal penegakkan aturan
perundang-undangan daerah untuk penertiban PKL. Rahmat juga menyesalkan karakter dan budaya
masyarakat Medan dalam berbelanja yang dinilai kurang disiplin dan sulit diatur, sehingga memicu
para pedagang untuk berjualan di tempat yang mudah dijangkau masyarakat, meskipun
23
menimbulkan kemacetan dan kesemrawutan. Faktor lain yang juga dianggap sebagai akar
pemasalahan PKL di Medan adalah terbatasnya kesempatan kerja sehingga banyak warga Medan
yang memilih untuk menjadi PKL. Hal ini selanjutnya menciptakan sebuah lingkaran setan, dimana
masyarakat Medan menyalahkan PKL sebagai penyebab terjadinya kemacetan dan kesemrawutan
di kota Medan; sementara para PKL menyalahkan pemerintah karena tidak mampu menawarkan
solusi bagi permasalahan ekonomi yang mereka hadapi; dan selanjutnya pemerintah menyalahkan
perilaku berbelanja masyarakat Medan yang kurang disiplin dan sulit diatur sehingga mengundang
munculnya kegiatan PKL. Dengan kata lain, masyarakat menyalahkan PKL, PKL menyalahkan
pemerintah; dan pemerintah menyalahkan masyarakat.

4. Bernegara Dalam Bingkai Pertukaran Sosial

Apabila kita kembali pada teori pertukaran sosial yang merupakan pisau analisis utama dalam
penelitian ini, maka kita dapat melihat bahwa lingkaran setan permasalahan PKL di kota Medan,
berkaitan erat dengan faktor ketidaksetaraan (inequality) antara imbalan dan pengorbanan dalam
arus pertukaran sosial antara aktor-aktor yang terlibat di dalamnya. Bermula dari persepsi
masyarakat umum (warga kota Medan) yang menganggap bahwa pengorbanan yang mereka
lakukan melalui pelunasan pajak, pembayaran retribusi, dan pemberian sumbangan pada otoritas
pemerintah kota, tak sebanding dengan manfaat yang mereka terima dalam wujud infrastruktur
dan layanan publik yang disediakan oleh Pemkot Medan. Dengan kata lain, hubungan antara warga
kota Medan dan pemerintah kota tidak ditandai oleh suatu bentuk pertukaran sosial yang
merefleksikan suatu bentuk keadilan distributif. Dalam kasus PKL, warga kota Medan beranggapan
bahwa pajak kendaraan bermotor, retribusi parkir, pelayanan pasar, retribusi sampah, dan lain-lain;
tidak sebanding dengan harapan tentang keamanan dan kenyaman mereka antisipasi saat
memanfaatkan fasilitas publik seperti: jalan raya, trotoar, taman umum dan lain-lain; akibat
kemacetan, sampah, dan kesemerawutan yang diakibatkan oleh aktivitas PKL.

Seperti yang telah diungkapkan dalam uraian pada kajian literatur, hak penguasa untuk
berkuasa hanya akan memperoleh legitimasi ketika penguasa negara menunaikan kewajibannya
untuk memenuhi tujuan negara, yaitu untuk memenuhi hak-hak rakyatnya. Ketika harapan tentang
keamanan dan kenyaman yang diantisipasi oleh warga kota Medan tak mampu diwujudkan oleh
pemerintah, maka hal ini memicu resistensi atau perlawanan, yang secara teoritis dimungkinkan
terjadi ketika suatu individu atau sekelompok individu merasa bahwa sesuatu yang dihargainya atau
bermanfaat baginya—sesuatu yang menjadi haknya—dirampas begitu saja. Dalam kasus PKL di
Medan, resistensi atau perlawanan warga kota Medan mewujud dalam sikap masyarakat Medan
24
dalam berbelanja, yang tidak disiplin dan sulit diatur sehingga memicu para pedagang untuk
berjualan di tempat yang mudah dijangkau masyarakat. Secara sosiologis, sikap acuh tak acuh warga
kota ini dapat dimaknai sebagai bentuk ekspresi kekesalan warga kota Medan yang merasa tidak
menerima imbalan yang mereka antisipasi dari pengorbanan yang telah mereka lakukan untuk
membiayai penyelenggaraan negara.

Sementara itu, PKL dapat dilihat sebagai kelompok kepentingan dalam masyarakat yang
terbentuk akibat terbatasnya kesempatan kerja yang disediakan oleh pemerintah. Dalam hal ini, PKL
adalah manifestasi dari sebagian angkatan kerja kota Medan yang tidak tertampung dalam sektor
formal sehingga terpaksa berusaha di sektor informal, yaitu dengan berdagang kecil-kecilan. Namun
masalahnya, pertambahan jumlah pedagang kecil tersebut tidak sebanding dengan ketersediaan
infrastruktur dan fasilitas perdagangan. Akibatnya, para pedagang yang tak tertampung dalam
fasilitas perdagangan resmi yang disediakan pemerintah, terpaksa harus mencari sendiri lokasi
usahanya. Para pedagang yang memiliki cukup modal akan membangun atau menyewa ruang
usahanya secara mandiri, namun bagi pedagang yang hanya memiliki modal terbatas terpaksa harus
beroperasi di lokasi-lokasi yang sebenarnya tidak diperuntukkan untuk berdagang. Dalam teori
pertukaran sosial dinyatakan bahwa perilaku yang menghasilkan imbalan positif memiliki
kemungkinan lebih besar untuk dilakukan. Namun dalam hal ini, di satu sisi Pemko Medan hanya
mewajibkan para pedagang tersebut untuk patuh pada aturan tata-kota dan ketertiban yang
berlaku, namun di sisi lain, Pemko Medan tidak menyediakan imbalan yang memadai bagi
kepatuhan yang mereka tuntut dari para pedagang tersebut.

Pertukaran sosial yang tak berimbang antara pemerintah kota yang menuntut kepatuhan dan
PKL yang menuntut haknya untuk memperoleh jaminan perlindungan dari negara, dalam aktivitas
dan usahanya untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup, selanjutnya menimbulkan
perasaan terampas (relative deprivation), yaitu suatu persepsi perihal kesenjangan antara harapan
dan kenyataan yang membuat suatu individu atau sekelompok individu merasa terpinggirkan.
Perasaan terpinggirkan ini selanjutnya bermuara pada pembangkangan-pembangkangan kecil, yang
pada titik tertentu meledak menjadi aksi-aksi kolektif yang bernuansa kekerasan, seperti yang bisa
disaksikan dalam kasus-kasus perlawanan PKL terhadap upaya penertiban yang dilakukan oleh
Pemko Medan. Ironisnya, jaminan untuk memperoleh perlindungan dalam aktivitas dan usaha
justru diperoleh PKL dari institusi-institusi informal, seperti organisasi kemasyarakatan, organisasi
keagamaan, atau lembaga swadaya masyarakat. Akibatnya, kepatuhan PKL yang seharusnya
diarahkan pada negara, kini diproyeksikan pada otoritas informal yang dianggap secara konsisten

25
mampu memberikan imbalan bagi kepatuhan dan hukuman bagi pelanggaran. Hal ini selanjutnya
menimbulkan dualisme kekuasaan dalam tata-kelola kota Medan, yang merongrong kewibawaan
institusi negara.

Dalam bingkai teori pertukaran sosial, sikap setengah-hati Pemko Medan dalam
menyelesaikan masalah PKL juga dapat dilihat sebagai dampak dari pertukaran sosial yang tak
berimbang antara pemerintah dan masyarakat. Setiap program pembangunan dan pemberdayaan
yang dilaksanakan oleh Pemko Medan, harus dilihat sebagai sebuah investasi negara yang
diharapkan dapat kembali pada negara melalui tingkat pendapatan asli daerah (PAD). Di satu sisi,
masyarakat—yang dalam hal ini adalah PKL—menuntut pemerintah untuk berinvestasi dengan
menyediakan kawasan relokasi tempat penampungan PKL; regulasi khusus yang mengatur operasi
PKL; serta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang bertanggungjawab untuk membina dan
memberdayakan PKL. Namun seperti yang diungkapkan oleh anggota Komisi C DPRD Medan, hingga
saat ini aktivitas PKL belum memberi dampak yang signifikan terhadap pendapatan asli daerah (PAD)
kota Medan, sehingga kewajiban negara untuk menata dan memberdayaakan PKL yang tidak
dibarengi oleh imbalan yang sepadan, yaitu peningkatan pendapatan asli daerah (PAD), selanjutnya
menelurkan kebijakan-kebijakan tata-kota yang lebih berpihak pada para pengusaha besar
(misalnya: pemilik mall, supermarket, mini mart, dll.) yang dianggap lebih memberi dampak nyata
bagi PAD kota Medan.

Kondisi ini menjadi semakin rumit mengingat pada level implementasi kebijakan, institusi
negara beserta kekuasaan yang dimilikinya pada akhirnya akan dipersonifikasikan dalam wujud para
pejabat penyelenggara kekuasaan negara, baik yang berkedudukan dalam jajaran yang birokrasi sipil
maupun yang militer, yang juga memiliki kepentingan-kepentingannya sendiri—baik secara
institusional maupun secara personal. Sudah menjadi rahasia umum bahwa aktivitas PKL di kota
Medan seringkali dilindungi oleh oknum-oknum pejabat tertentu yang memanfaatkan
permasalahan PKL untuk meraih keuntungan baik secara finansial maupun politis. Dalam hal ini,
ketidakjelasan aturan tentang penataan dan pemberdayaan PKL di kota Medan memberi celah bagi
para oknum pejabat tersebut untuk memperkaya diri. Akibatnya, para oknum pejabat tersebut
berusaha menggunakan segenap sumber daya dan kekuasaan politik yang dimilikinya untuk
mempertahankan status quo, sehingga masalah PKL di kota Medan terus berlarut-larut hingga saat
ini.

26
Bab V

Kesimpulan dan Saran

Setelah meneliti dengan cermat berbagai permasalahan terjadi dalam kasus PKL di kota
Medan, akhirnya kami tiba pada kesimpulan bahwa kehidupan bernegara memposisikan penguasa
dan rakyat dalam relasi yang merefleksikan suatu praktik sosial yang disebut pertukaran sosial.
Dalam bingkai pertukaran sosial ini, hubungan antara penguasa dan rakyat terkait dengan aspek
pemenuhan hak dan kewajiban, dimana kewajiban rakyat untuk patuh pada kekuasaan negara
bukan hanya dipengaruhi oleh ketakutan akan hukuman, tetapi terlebih lagi oleh harapan akan
imbalan. Dalam hal ini, negara tidak akan dapat menciptakan kepatuhan warganya apabila hanya
mengandalkan cara-cara yang represif, misalnya dengan ancaman hukuman badan. Apabila
pendekatan yang represif diterapkan tanpa menyeimbangkannya dengan aspek imbalan, maka ada
kemungkinan masyarakat akan mulai melawan.

27
Telah pula kami uraikan panjang-lebar pada pokok-pokok pembahasan sebelumnya, bahwa
dalam kasus PKL di kota Medan, masalah utama terletak pada ketidaksetaraan yang terjadi dalam
alur pertukaran sosial yang terjadi antara negara dan warga negara. Dalam hal ini, rakyat (selalu)
ditempatkan dalam relasi patron-client dengan negara, seolah-olah tidak ada sedikitpun keinginan
untuk memberikan peluang kepada rakyat untuk mempertanyakan haknya, apalagi menuntut
bagian yang adil atas haknya itu. Dalam alam pikiran ini hanya satu yang dibolehkan bagi rakyat yaitu
kewajiban (obligation) dalam bentuk ketaatan buta (blind compliance) kepada penguasa,
sebagaimana yang populer dalam motto: “Jangan tanyakan apa yang dapat diperbuat negara
bagimu, tapi tanyakanlah apa yang dapat kau perbuat bagi negara.”

Tentu saja, kondisi hubungan negara dan warga negara yang direpresentasikan dalam kasus
PKL di kota Medan adalah sebuah kondisi mikro yang tidak dapat digunakan untuk mengeneralisir
kondisi negara Indonesia secara keseluruhan. Namun setidaknya melalui kasus tersebut kita diberi
kesempatan untuk menyaksikan salah wajah kehidupan bernegara di Indonesia yang diwarnai oleh
konflik, pertentangan kepentingan, dan ketidakadilan akibat kegagalan negara dalam menyediakan
imbalan yang memadai dalam relasi pertukaran sosial dalam kehidupan sehari-hari warganya.
Sebagai penutup dari tulisan ini, kami juga merangkum sejumlah saran yang kami kumpulkan dari
para PKL yang menjadi objek penelitian kami, yang kami harapkan dapat memberi masukan bagi
para pembuat kebijakan dalam merancang upaya-upaya perbaikan kehidupan bernegara di masa
mendatang. Saran-saran tersebut kami susun dalam kategori-kategori sebagai berikut:

1. Bidang Ekonomi

Dalam bidang ekonomi, kami mencatat harapan PKL untuk memperoleh modal usaha dari
pemerintah serta dukungan berupa sarana dan prasarana dan tempat yang layak untuk
menjalankan usaha.

2. Bidang Sosial

Dalam bidang sosial, para PKL berharap untuk diperlakukan sebagai warga negara yang
memiliki kedudukan yang sama di mata hukum, serta diperhatikan hak sosialnya untuk meraih
tingkat kehidupan yang lebih berkualitas.

3. Bidang Tata Kota

Dalam bidang tata-kota, para PKL berharap untuk memperoleh lokasi khusus untuk menjalankan
usaha, yang memiliki posisi strategis serta menyediakan kemudahan dalam pengurusan perijinan.

28
4. Bidang Ketertiban

Dalam bidang ketertiban, para PKL berharap untuk memperoleh pembinaan dengan cara-cara
yang lebih manusiawi yaitu pembinaan tanpa kekerasan dan mengedepankan dialog dua arah,
serta perlindungan terhadap pemerasan yang seringkali dilakukan oleh preman atau oknum
pejabat yang menyalahgunakan kekuasaannya.

5. Bidang Lingkungan Hidup

Dalam bidang lingkungan hidup, para PKL menyatakan bahwa mereka siap untuk berpartisipasi
aktif dalam menciptakan kondisi lingkungan yang bersih dan indah, selama kebutuhan mereka
untuk memperoleh hidup layak juga diperhatikan oleh pemerintah.

Daftar Pustaka

Buku dan Jurnal

An-naf, J. 1993. Pedagang Kaki Lima dengan Berbagai Permasalahannya. Gramedia. Jakarta.
Binmore, K. 1998. Playing Fair: Game Theory and the Social Contract, Vol. 1. Massachusetts:
Massachusetts Institutes of Technology.
Boucher, D & Kelly, P. 2005. The Social Contract from Hobbes to Rawls. New York: Routledge.
Budihardjo, M. 1991. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Budiman, A. 1997. Teori Negara: Negara, Kekuasaan dan Ideologi. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Burgess, R.L. & Huston, T.L. 1979. Social Exchange in Developing Relationship. New York:
Academic Press, Inc.
Dowding, K. 2006. Rational Choice Approach to Analyzing Power. Dalam Nash, K. & Scott, A.
(Eds.). The Blackwell Companion to Political Sociology. Malden, MA, USA: Blackwell
Publishing.
Dunbar, R.I.M. 1998. The Social brain hypothesis and its implications for social evolution. Journal
Annals of Human Biology. Vol. 36, issue 5, pp 562-572
29
Fakih, M. 1996. Masyarakat Sipil untuk Transformasi Sosial: Pergolakan Ideologi LSM Indonesia.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hindess, B. 2006. Power, Government, Politics. Dalam Nash, K. & Scott, A. (Eds.). The Blackwell
Companion to Political Sociology. Malden, MA, USA: Blackwell Publishing.
Hidayat, S. 1991. Pola Pembinaan Usaha Pedagang Kaki Lima. Jakarta: Kerjasama UNPAD dan
BPKPMD.
Hikam, M.A.S. Demokrasi dan Civil Society. Jakarta: LP3ES. 1996.
Karafir, P.Y. 1997. Pemupukan Modal Pedagang Kaki Lima. Jakarta: Fakultas Ilmu Sosial UI
Bekerja sama dengan Pusat Latihan Ilmu Sosial.
Kansil, C.S.T. dan Kansil, C.S.T. 2008. Hukum Tata Negara Republik Indonesia (Edisi Revisi).
Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000.
Molm, L.D. 1997. Coercive Power in Social Exchange. Cambridge: Cambridge University Press.
Madjid, N. 1999. Masyarakat Madani dan Investasi Demokrasi: Tantangan dan Kemungkinan.
Dalam Ahmad Baso, Civil Society versus Masyarakat Madani: Arkeologi Pemikiran
“Civil Society” dalam Islam Indonesia. Bandung: Pustaka Hidayah.
Nordlinger, E.A. 1982. On the Autonomy of the Democratic State. Cambridge, Massachusetts:
Harvard University Press.
Rahardjo, M. D. 1999. Masyarakat Madani : Agama, Kelas Menengah, dan Perubahan Sosial.
Jakarta : kerjasama Pustaka LP3ES dengan Lemabaga [i.e. Lembaga] Studi Agama dan
Filsafat (LSAF), Yayasan Adikarya IKAPI dan the Ford Foundation.
Sagir, S. 1989, Membangun Manusia Karya Masalah Ketenaga kerjaandan Pengembangan Sumber
Daya Manusia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Skyrms, B. 1998. Evolution of the Social Contract. Cambridge: Cambridge University Press.
Soekanto, S. 2000. Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Stepan, A. 1998. Rethinking Military Politics: Brazil and the Southern Cone. Princeton University
Press.
Zaleski, P.S. 2008. Tocqueville on Civilian Society. A Romantic Vision of the Dichotomic Structure
of Social Reality. Archiv für Begriffsgeschichte. Felix Meiner Verlag. 50.
Data Internet

Beritasumut. 2017. Diunduh dari http://beritasumut.com/politik-pemerintahan/Pemko-Medan-Tidak-


Memiliki-Grand-Design-Penyelesaian-PKL
Beritasatu. 2016. Diunduh dari http://www.beritasatu.com/nasional/355676-penertiban-pkl-di-
medan-ricuh.html
Detiknews. 2015. Diunduh dari https://news.detik.com/berita/2863981/pkl-medan-melawan-saat-
akan-ditertibkan
30
Jurnalasia. 2015. Diunduh dari http://www.jurnalasia.com/medan/pedagang-kaki-lima-kuliner-
bebas-retribusi/
Koransindo. 2017. Diunduh dari http://koran-sindo.com/page/news/2017-02-04/5/21
Kabardaerah. 2018. https://sumut.kabardaerah.com/penertiban-pedagang-kaki-lima-di-jalan-
ngumban-surbakti-mendapat-perlawanan-dari-pedagang/
Medanbicara. 2017. https://medanbicara.com/medan/penertiban-pedagang-kaki-lima-petisah-ricuh
Setiawan, H. 2016. Kaki Lima. Diunduh dari www://www.pikiran-
rakyat.com/kolom/2016/04/20/lima-kaki-367143
Redmond, M. V. 2015. Social Exchange Theory. English Technical Reports and White Papers. 5.
Diunduh dari http://lib.dr.iastate.edu/engl_reports/5

31