Anda di halaman 1dari 12

ABSTRACT

THE FACTORS THAT INFLUENCE SOCIETYS’ MIND SET ON THE


IMPORTANT OF EDUCATION IN CUGUNG VILLAGE

(Rima Permata Sari, Holilulloh, Hermi Yanzi)

This research aimed at explaining the factors that influence the society’s’ mindset in Cugung
Village, Rajabasa subdistrict, South Lampung regency in year 2015. The method used
quantitative descriptive research with correlation testing among variables that would be
tested. Data collecting technique of this research were using questionnaire, interview and
observation. Data analysis technique using interval formulation and presentation. The
population was 520 people and the sample was 52 people.

The result showed that there were factors that influenced society’s mindset: family, the
society really did not understand about: education, belief and the relation among them, poor
quality in personal life and good quality in social life.

Keywords: society, education, mind set.


ABSTRAK
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI POLA PIKIR MASYARAKAT
TERHADAP PENTINGNYA PENDIDIKAN
DI DESA CUGUNG

(Rima Permata Sari, Holilulloh, Hermi Yanzi)

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi pola pikir
masyarakat di Desa Cugung Kecamatan Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan tahun 2015.
Metode penelitian ini penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan uji pengaruh
antar variabel-variabel yang akan diteliti. Teknik pengumpuan data menggunakan angket,
wawancara dan observasi. Teknik analisis data menggunakan rumus interval dan presentase.
Populasi sebanyak 520 dan sampel sebanyak 52.

Hasil penelitian menunjukan terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi pola pikir


diantaranya faktor lingkungan keluarga, tergolong tidak paham, pendidikan masyarakat
tergolong masih sangat belum paham, sistem kepercayaan masyarakat tergolong masih
kurang paham, pergaulan dengan masyarakat tergolong masih kurang paham, kualitas hidup
pribadi tergolong kurang baik dan kualitas hidup bermasyarakat tergolong cukup baik.

Kata kunci: Masyarakat, pendidikan, pola pikir.


PENDAHULUAN Meskipun sudah ada bantuan yang
diberikan pemerintah, tetapi masih
Latar Belakang Masalah terdapat anak-anak yang putus sekolah
karena tidak adanya biaya untuk
Pendidikan merupakan salah satu memenuhi kebutuhan atau
faktor penting dalam Pembangunan perlengkapan sekolah bahkan untuk
Negara. Bahkan dapat dikatakan membiayai sekolah itu sendiri. Selain
bahwa dalam batas-batas tertentu itu, bantuan yang diberikan pemerintah
keadaan pendidikan di suatu negara, hanya berupa potongan biaya seperti
merupakan indikator bagi kemajuan biaya SPP, biaya ujian dan lain
masyarakat negara tersebut. Melalui sebagainya, bukan memberikan
pendidikan orang dapat menjadi bantuan berupa seragam, tas, buku
pandai, cerdas, rasional, kritis dan serta perlengkapan lainnya. Padahal,
mempunyai kepribadian yang mantap keluarga yang tidak mampu tersebut
serta cepat beradaptasi. sangat membutuhkan perlengkapan-
Perilaku individu tidaklah berdiri perlengkapan sekolah untuk anaknya
sendiri. Selalu ada hal yang tetapi tidak mampu untuk
mendorong ke arah tujuan tertentu. memenuhinya. Keluarga yang status
Hal ini mungkin disadari ataupun tidak ekonominya tergolong miskin sulit
disadari oleh seseorang. Perbedaan untuk menyekolahkan anaknya, karena
dalam bidang pendidikan, keluarga, untuk memenuhi kebutuhan sehari-
strata sosial ataupun ekonomi sangat harinya saja masih mengalami
berpengaruh pada pola pikir kesulitan. Hal itu menyebabkan
seseorang. Cara pandang orang tua banyak anak-anak yang terancam
terhadap tujuan pendidikan yang berhenti sekolah.
diharapkan pada anaknya akan
menentukan arah perilaku dan Berdasarkan penjelasan sebelumnya,
kebijakan dalam hal pendidikan terlihat bahwa masih terdapat jurang
menjadi berbeda dengan orang lain pemisah antara masyarakat golongan
meskipun kadang memiliki tujuan ekonomi menengah ke atas dengan
yang sama. masyarakat golongan ekonomi menengah
ke bawah dalam hal perolehan pendidikan.
Masyarakat menyadari pentingnya
pendidikan sebagai dasar Walaupun adanya bantuan pemerintah
pembangunan pola pikir. Pemerintah belum mampu meratakan pendidikan,
dan masyarakat pun memberi perhatian khususnya masyarakat golongan
besar pada bidang pendidikan, seperti ekonomi menengah ke bawah,
memberikan bantuan berupa dana BOS sehingga masih ada yang tidak sekolah
(Bantuan Operasional Sekolah) yang dan putus sekolah hanya karena tidak
bertujuan meningkatkan pendidikan bisa memenuhi perlengkapan sekolah.
dan penuntasan wajib belajar Hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja,
pendidikan dasar 9 tahun yang perlu ada bantuan dan kepedulian
diperuntukkan kepada siswa-siswa masyarakat terhadap keluarga-keluarga
miskin. BOS digunakan untuk di sekitar mereka yang membutuhkan.
memberi subsidi kepada siswa yang Namun hal yang berkembang di
kurang mampu sehingga dapat masyarakat khususnya di desa, masih
mengurangi iuran yang dibebankan banyak pola pikir masyarakat yang
kepada orang tua, senilai dana BOS memandang pendidikan tidak terlalu
yang diterima sekolah. penting untuk masa depan mereka.
Sedikitnya ada empat faktor yang dalamnya terjadi proses dan
mempengaruhi pola pikir seseorang, perbuatan yang mengubah
yaitu lingkungan keluarga, pergaulan serta menentukan jalan hidup
dengan masyarakat, pendidikan, dan manusia.
sistem kepercayaan atau Hal ini juga sebagaimana yang
keyakinan. Pola pikir seseorang yang dinyatakan oleh Muhammad
berasal dari keluarga yang sarat dengan Saroni (2011: 10) bahwa,
sistem nilai positif, dipastikan akan “pendidikan merupakan suatu
lebih unggul dari keluarga yang tidak proses yang berlangsung dalam
atau kurang membangun sistem kehidupan sebagai upaya untuk
nilainya. Pendidikan adalah solusi menyeimbangkan kondisi
terbaik untuk membentuk pola pikir dalam diri dengan kondisi luar
yang unggul. Faktor yang paling diri. Proses penyeimbangan ini
dominan mempengaruhi pola pikir merupakan bentuk survive
adalah sistem kepercayaan atau yang dilakukan agar diri dapat
keyakinan seseorang. mengikuti setiap kegiatan yang
berlangsung dalam
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka kehidupan.”
peneliti tertarik melakukan penelitian
dengan judul” Faktor-Faktor yang Pada hakikatnya pendidikan
Mempengaruhi Pola Pikir Masyarakat adalah usaha sadar dan
Terhadap Pentingnya Pendidikan di Desa terencana untuk mewujudkan
Cugung Kecamatan Rajabasa Kabupaten suasana belajar dan proses
Lampung Selatan Tahun 2015”. pembelajaran agar peserta
didik secara aktif
mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki potensi
TINJAUAN PUSTAKA spiritual keagamaan,
Pengertian Pendidikan pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta
Tilaar (2002: 435) ketrampilan yang diperlukan
menyatakan bahwa “hakikat dirinya, masyarakat, bangsa
pendidikan adalah dan negara (Achmad Munib,
memanusiakan manusia, yaitu 2004: 142).
suatu proses yang melihat Beberapa konsep pendididkan
manusia sebagai suatu yang telah dipaparkan tersebut
keseluruhan di dalam meskipun terlihat berbeda,
eksistensinya”. Mencermati namun sebenarnya memiliki
pernyataan dari Tilaar tersebut kesamaan dimana di dalamnya
dapat diperoleh gambaran terdapat kesatuan unsur-unsur
bahwa dalam proses yang yaitu: pendididkan
pendidikan, ada proses belajar merupakan suatu proses, ada
dan pembelajaran, sehingga hubungan pendidik dan peserta
dalam pendidikan jelas terjadi didik, serta memiliki tujuan.
proses pembentukan manusia
yang lebih manusia. Proses Tujuan Pendidikan
mendidik dan dididik
merupakan perbuatan yang Tujuan pendidikan memuat
bersifat mendasar gambaran tentang nilai-nilai
(fundamental), karena di yang baik, luhur, pantas, benar,
dan indah untuk kehidupan.
Melalui pendidikan selain Motivasi yang mendorong
dapat diberikan bekal berbagai perlunya diadakan inovasi
pengetahuan, kemampuan dan pendidikan jika dilacak
sikap juga dapat biasanya bersumber pada dua
dikembangkan berbagai hal yaitu: (a) kemauan sekolah
kemampuan yang dibutuhkan (lembaga pendidikan) untuk
oleh setiap anggota masyarakat mengadakan respon terhadap
sehingga dapat berpartisipasi tantangan
dalam pembangunan. Tujuan kebutuhan masyarakat, dan (b)
pokok pendidikan adalah adanya usaha untuk
membentuk anggota menggunakan sekolah
masyarakat menjadi orang- (lembaga pendidikan) untuk
orang yang berpribadi, memecahkan masalah yang
berperikemanusiaan maupun dihadapi masyarakat.
menjadi anggota masyarakat Antara lembaga pendidikan
yang dapat mendidik dirinya dan sistem sosial terjadi
sesuai dengan watak hubungan yang erat dan
masyarakat itu sendiri, saling mempengaruhi.
mengurangi beberapa kesulitan Misalnya suatu sekolah telah
atau hambatan perkembangan dapat sukses menyiapkan
hidupnya dan berusaha untuk tenaga yang terdidik sesuai
memenuhi kebutuhan hidup denagn kebutuhan masyarakat,
maupun mengatasi maka dengan tenaga terdidik
problematikanya (Nazili berarti tingkat kehidupannya
Shaleh, 2011: 3). meningkat, dan cara
bekerjanya juga lebih baik.
Faktor-faktor yang Tenaga terdidik akan merasa
berpengaruhi pada proses tidak puas jika bekerja yang
pendidikan tidak menggunakan
kemampuan inteleknya,
Menurut Suryosubroto, (2004: sehingga perlu adanya
155) “Lembaga pendidikan penyesuaian denagn lapangan
formal seperti sekolah adalah pekerjaan. Dengan demikian
suatu sub sistem dari sistem akan selalu terjadi
sosial. Jika terjadi perubahan perubahan yang bersifat
dalam sistem sosial, maka dinamis, yang disebabkan
lembaga pendidikan formal adanya hubungan interaktif
tersebut juga akan mengalami antara lembaga pendidikan dan
perubahan maka hasilnya akan masyarakat.
berpengaruh terhadap sistem
sosial”. Oleh karena itu suatu Pengertian Pola Pikir
lembaga pendidikan
mempunyai beban yang ganda Pola Pikir atau mindset
yaitu melestarikan nilai- adalah sekumpulan
nilai budaya tradisional dan kepercayaan (belief) atau cara
juga mempersiapkan generasi berpikir yang mempengaruhi
muda agar dapat menyiapkan perilaku dan sikap seseorang,
diri menghadapi tantangan yang akhirnya akan enentukan
kemajuan zaman. level keberhasilan hidupnya.
Belief menentukan cara Sekolah mempunyai pengaruh
berpikir, berkomunikasi dan yang cukup besar dalam proses
bertindak seseorang. Dengan pembelajaran seseorang,
demikian jika ingin peraturan-peraturan yang
mengubah pola pikir, yang diterapkan sekolah maupun
harus diubah adalah belief atau perilaku dan sikap guru dapat
kumpulan belief. Berikut ini memperkaya proses
adalah ciri-ciri dari jenis pola pembentukan pola pikir yang
pikir tersebut diantaranya sudah ada.
sebagaimana tertera pada tabel 5. Teman
di bawah ini. Berteman merupakan aktualisasi
diri yang pertama dalam
Faktor-faktor yang kehidupan, karena dalam suatu
mempengaruhi pertemanan, seseorang yang
pembentukan pola pikir menentukan pilihan akan
berteman dengan siapa, tidak
Menurut Iskandar (2008: 661) ada larangan dalam menentukan
Terdapat 7 sumber kekuatan yang dengan siapa akan berteman.
mempengaruhi proses berpikir 6. Media Massa
manusia: Adanya unsur pengidolaan pada
1. Orang Tua suatu tontonan dapat
Dari orang tualah seseorang menimbulkan peniruan-peniruan
belajar tentang kata-kata, oleh seseorang baik itu yang
ekspresi wajah, gerakan tubuh, sifatnya negatif maupun yang
perilaku, norma, keyakinan positif. Contohnya pola pakaian
agama, prinsip, dan nilai-nilai seorang artis akan ditiru oleh
luhur. Orang Tua adalah tutor fans nya.
atau guru yang pertama di dunia, 7. Diri sendiri
merekalah yang membentuk Inilah faktor penentu dari suatu
pola pikir kita untuk yang pola pikir, baik buruknya suatu
pertama kalinya. pengaruh kitalah yang akan
2. Keluarga menentukan apakah kita akan
Setelah orang tua kita akan menjadi pribadi yang buruk atau
dikenalkan dengan dunia lain kita akan memilih menjadi
yaitu keluarga, dari merekalah pribadi yang baik.
kita akan menangkap informasi
dan pola pikir yang lain, yang Pola Pikir Orang Tua
fungsinya untuk melengkapi
pola pikir yang telah kita Iskandar (2008: 668) menyatakan
peroleh dari orang tua. bahwa terdapat dua faktor yang
3. Masyarakat menyebabkan rendahnya peran
Dunia lain yang akan dikenal serta masyarakat khususnya orang
adalah lingkungan masyarakat tua pada penyelenggaraan
sekitar, dengan semakin pendidikan. Pertama, adalah
bertambahnya informasi dan kurangnya kesadaran orang tua
disatukan dengan apa yang telah akan kewajiban mereka untuk
kita dapat akan membuat proses menyelenggarakan pendidikan.
pembentukan pikiran kita Kedua, rasa ketidaktahuan orang
menjadi semakin kuat. tua berkaitan dengan bentuk
4. Sekolah partisipasi yang bisa mereka
berikan. Dari apa yang dikemukan digunakan adalah angket dan teknik
oleh Iskandar ini dapat diketahui penunjangnya wawancara dan observasi.
bahwa, ketidaksadaran dan Teknik analisis data penelitian ini interval
kurangnya pengetahuan orang tua dan presentase. Variabel x faktor-faktor
akan pentingnya pendidikan bagi yang mempengaruhi pola pikir masyarakat
anaknya, menyebabkan kurangnya dengan variabel y pentingnya pendidikan
perhatian pada pendidikan anak. di Desa Cugung Kabupaten Lampung
Selatan.
Ketidaksadaran dan kurangnya
pengetahuan orang tua akan HASIL DAN PEMBAHASAN
pentingnya pendidikan sangat
dipengaruhi oleh tingkat Hasil
pendidikan orang tua.
Penyajian data mengenai faktor-faktor
yang mempengaruhi pola pikir masyarakat
METODOLOGI PENELITIAN terhadap pentingnya pendidikan di Desa
Cugung Kecamatan Rajabasa Kabupaten
Metode penelitian yang digunakan dalam Lampung Selatan pada tahun 2015.
penelitian ini adalah metode deskriptif
kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini 1. Penyajian data mengenai lingkungan
520 kepala keluarga dan sampel dalam keluarga
penelitian ini berjumlah 52 orang
responden. Teknik pengumpulan data yang
Tabel 4.1 distribusi tentang lingkungan keluarga
No Interval Frekuensi Presentase Kategori
1 9-8 13 25 % Kurang paham
2 7-6 30 57,7 % Paham
3 5-4 9 17,30 % Tidak paham
Jumlah 52 100 %
Sumber Data : analisdata primer tahun 2015

2. Penyajian data mengenai pendidikan


Tabel 4.2 Distribusi tentang pendidikan
NO Interval Frekuensi Presentase Kategori
1 9-8 17 32,7 % Kurang Paham
2 7-6 23 44,23 % Paham
3 5-4 12 23,07 % Tidak paham
Jumlah 52 100 %
Sumber data : analisis data primer tahun2015
3. Penyajian data mengenai sistem kepercayaan

Tabel 4.3 Distribusi tentang sistem kepercayaan


NO Interval Frekuensi Presentase Kategori
1 9-8 20 38,5% Kurang Paham
2 7-6 27 51,9% Paham
3 5-4 5 9,6 % Tidak paham
Jumlah 52 100 %
Sumber data : analisis data primer tahun2015

4. Penyajan data mengenai pergaulan dengan masyarat

Tabel 4.4 distribusi tentang pergaulan dengan masyarakat


NO Interval Frekuensi Presentase Kategori
1 9-8 14 26,9% Tidak Paham
2 7-6 21 40,4 % Paham
3 5-4 17 32,7% Kurang paham
Jumlah 52 100 %
Sumber data : analisis data primer tahun2015

5. Penyajian mengenai tentang kualitas hidup pribadi

Tabel 4.5 distribusi tentang kualitas hidup pribadi


No Interval Frekuensi Presentase Kategori
1 11-10 10 19,22 % Tidak paham
2 9-8 17 32,70% Kurang Paham
3 7-6 25 48,08% Paham
Jumlah 52 100%
Sumber data : analisis data primer tahun2015

6. Penyajian mengenai tentang kualitas hidup bermasyarat

Tabel 4.6 distribusi kualitas hidup bermasyarakat


No Interval Frekuensi Presentase Kategori
1 12-11 8 15,40 % Tidak paham
2 10-9 19 36,6% Kurang Paham
3 8-7 25 48% Tidak paham
Jumlah 52 100%
Sumber data : analisdata primer tahun2015

Pembahasan

Setelah melakukan serangkaian 2. Berdasarkan responden


analisis data yang penulis lakukan diketahui sebanyak 23
terlihat faktor-faktor yang orang yaitu (44,23%)
mempengaruhi pola pikir masyarakat masyarakat sudah paham
terhadap pentingnya pendidikan di akan pentingnya
desa Cugung kecamatan Rajabasa pendidikan. Sedangkan 17
kabupaten lampung selatan diketahui orang (32,7 %) dari jumlah
dari bebebarapa faktor : responden yang berjumlah
52 orang, dimana
1. Berdasarkan responden 13 masyarakat kurang paham
orang (25%) dimana tentang pentingnya
kategori ini masyarakat pendidikan sehingga
sangat memahami arti masyarakat kurang
pentingnya pendididkan memperdulikan pendidikan.
dan termasuk jumlah yang Dan dari hasil penyebaran
paling banyak . hal ini angket yang telah dilakukan
dapat dilihat dari sebagian kepada 52 responden yaitu
responden menganggap 12 orang dengan presentase
bahwa mereka paham dan (23,07%) , memiliki
tahu tentang pentingnya pendidikan yang tergolong
pendidikan . Sedangkan tidak paham itu disebabkan
30 orang (57,7%) , pada pola pikir masyarakat desa
hasil penyebaran angket 52 masih kurang mengetahui
responden . dari hasil akan pentingnya pendidikan
angket yang diperoleh , untuk masa depan anak-
sebagian masyarakat anak.
memiliki pemahaman yang
kurang paham terhadap 3. Berdasarkan sebaran angket
pentingnya pendidikan, diketahui presentase (38,5
karena belum mendapatkan %) 17 orang dari jumlah
pengetahuan tentang responden yang berjumlah
pentingnya pendidikan. Dan 52 orang, dimana sistem
berdasarkan pada hasil kepercayaan masyarakat
penyebaran angket kepada desa cugung kurang
52 responden diperoleh 9 memahami pentingnya
orang (17,30%) , sebagian pendidikan .
masyarakat tidak paham Frekuensi sistem
tentang arti pentingnya kepercayaan pada kelas
pendidikan dikarenakan interval 7-6 ( paham ) yaitu
belum mendapat (52 %) 27 orang dari
pengetahuan pentingnya jumlah responden yang
pendidikan. berjumlah 52 orang . dalam
kategori ini sistem
kepercayaan masyarakat pendidikan yang
desa cugung sangat masyarakat kurang
memahami arti pentingnya memahami tentang
pendidikan. pentingnya pendidikan
Frekuensi sistem menjadi paham akan
kepercayaan pada kelas pentingnya pendididkan
interval 5-4 ( tidak paham ) bagi generasi muda.
yaitu (10%) 5 orang dari
jumlah responden yang 5. Berdasarkan penyebaran
berjumlah 52 orang . masih angket diperoleh presentase
banyak masyarakat desa yaitu 11-10 ( sangat
cugung yang tidak paham ) yaitu ( 48,08 %)
memahami pentingnya 25 orang dari jumlah
pendidikan. responden yang berjumlah
52 orang . dimana tingkat
4. Berdasarkan penyebaran kualitas hidup pribadi yang
angket diperoleh presentase sangat tinggi dapat
yaitu (26,9 %) 14 orang menimbulkan sifat posotif
dari jumlah responden yang bagi masyarakat tentang
berjumlah 52 orang . artinya ptningnya
dimana tingkat pergaulan pendidikan .sedangkan 9-8
dengan masyarakat tidak ( paham ) yaitu (32,70%)
memahami tentang artinya 17 orang dari jumlah
pentingnya pendidikan. responden yang berjumlah
Sedangkan diperoleh 52 orang . dalam kategori
presentase yaitu (40,4 %) ini kualitas hidup pribadi
21 orang dari jumlah desa cugung dapat
responden yang berjumlah memahami bahwa arti
52 orang . dalam kategori pendidikan itu sangat
ini pergaulan dengan penting .dan 7-6 ( kurang
masyarakat desa cugung paham ) yaitu (13,46%) 8
saling memahami bahwa orang dari jumlah
pendidikan itu sangat responden yang berjumlah
penting .dan diperoleh 52 orang . dalam kategori
yaitu (32,7%) 17 orang ini kualitas hidup pribadi
dari jumlah responden yang masyarakat desa cugung
berjumlah 52 orang . masih yang belum bisa memahami
banyak masyarakat desa bahwa pendidikan itu
cugung yang belum bisa sangat penting.
memahami pentingnya
pendidikan. 6. Berdasarkan penyebaran
angket diperoleh presentase
Pergaulan bermasyarakat itu yaitu 12-11 ( sangat
sangat penting dalam paham ) yaitu ( 48%) 25
kehidupan sehari-hari untuk orang dari jumlah
membangun silaturahmi responden yang berjumlah
antar masyarakat , 52 orang . dimana tingkat
pergaulan masyarakat juga kualitas hidup bermasyrakat
bisa membangun suatu yang sangat tinggi
informasi tentang mempunyai potensi baik
sekali bagi masyarakat SIMPULAN DAN SARAN
tentang artinya ptningnya
pendidikan . sedangkan 10-
9 ( paham ) yaitu (36,5%)
Simpulan
19 orang dari jumlah
responden yang berjumlah Berdasarkan hasil pengolahan data
52 orang . dalam kategori dan pembahasan yang di uraikan ,
ini kualitas hidup maka dapat disimpulkan bahwa
bermasyarakat desa cugung faktor – faktor yang mempengaruhi
cukup baik dalam pola pikir masyarakat terhadap
memahami bahwa pentingnya pendidikan di Desa
pendidikan itu sangat Cugung Kecamatan Rajabasa
penting . dan 8-7 ( kurang Kabupaten Lampung Selatan tahun
paham ) yaitu (15,40%) 8 2015 sebagai berikut:
orang dari jumlah 1. Faktor lingkungan keluarga
responden yang berjumlah terhadap pentingnya pendidikan
52 orang . dalam kategori masih tergolong tidak paham
ini kualitas hidup yaitu sebanyak 30 orang
bermasyarakat desa cugung (57,7%)
masih banyak yang belum 2. Faktor pendidikan masyarakat
mengerti dan belum bisa masih sangat belum paham
memahami bahwa akan pentingnya pendidikan
pendidikan itu sangat yaitu 23 orang (44,23)
penting bagi kehidupan 3. Faktor sistem kepercayaan
mereka. masyarakat sebagian masih
kurang paham yaitu 20
Sedangkan dalam orang(51,9)
paradigma baru hubungan 4. Faktor pergaulan dengan
keluarga, masyarakat dan masyarakat terhadap
sekolah harus terjalin secara pentingnya pendidikan masih
sinergis untuk kurang paham yakni
meningkatkan mutu ditunjukkan dari 21 orang
layanan pendidikan, (40,4)
termasuk untuk 5. Faktor kualitas hidup pribadi
meningkatkan mutu hasil terhadap pentingnya pendidikan
belajar siswa di sekolah. tergolong kurang baik 25 orang
Sekolah harus membina (48,08%)
hubungan dengan 6. Faktor kualitas hidup
masyarakat, dimana dalam bermasyarakat terhadap
pembinaan pendidikan pentingnya pendidikan
terdapat tiga macam tergolong cukup baik yakni 25
tanggung jawab yang orang (36,6%)
dilakukan oleh orang tua,
sekolah dan masyarakat.
Ketiga komponen ini secara
tidak langgsung telah
melaksanakan kerjasama
yang erat dalam
pelaksanaan pendidikan.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian maka
peneliti menyarankan agar:
1. Pemerintah harus lebih
berperan aktif dalam
mensosialisasikan pentingnya
pendidikan.
2. Orang tua lebih menyadari
bahwa pendidikan adalah faktor
penting dalam pembentukan
intelegensi anak.
3. Orang tua lebih sadar bahwa
pendidikan adalah kebutuhan
dasar yang harus dipenuhi
untuk tumbuh kembangnya
anak.

DAFTAR PUSTAKA

Iskandar. 2008. Metodologi Penelitian


Pendidikan Dan Sosial (Kualitatif Dan
Kuantitatif). Jakarta: Gaung Persada Press.

Munib, A. dkk. 2004. Pengantar Ilmu


Pendidikan. Semarang: UPT UNNES
Press.
Shaleh, N. 2011. Pendididkan Dan
Masyarakat Kajian Peran Pendididkan
Dalam Bidang Sosial, Politik , Ekonomi,
Dan Budaya.Perkembangan Pendidikan
Di Negara Maju , Nerkembang Dan
Terbelakang. Yogyakarta: Sabda Media.

Saroni, M. 2011. Orang Miskin Bukan


Orang Bodoh. Yogyakarta: Bahtera Buku.

Suryobroto, S. 2004. Manajemen


Pendidikan Disekolah. Jakarta: Rineka
Cipta.

Tilaar. H.A.R. 2002. Pendidikan Untuk


Masyarakat Indonesia. Jakarta: PT
Gramedia.