Anda di halaman 1dari 2

2/2

1/2 PELAYANAN BEDAH GAWAT DARURAT DI KAMAR OPERASI INSTALASI GAWAT


DARURAT

No. Dokumen : No. Revisi: Halaman:


RUMAH SAKIT 1/2
UMUM DAERAH
TAGULANDANG
STANDAR TANGGAL TERBIT : Ditetapkan Oleh :
PROSEDUR Januari 2017 DIREKTUR,
OPERASIONAL
(SPO) dr. H E N D R A T O R E H
NIP : 19820101 201101 1 001
PENGERTIAN Serangkaian prosedur yang dijalankan dalam pelayanan bedah gawat di Instalasi Gawat
Darurat
TUJUAN Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk :
1. Memfasilitasi tercapainya waktu respon yang optimal bagi pasien-pasien yang
membutuhkan pembedahan gawat darurat.
2. Mencegah komplikasi-komplikasi yangmungkin terjadi akibat keterlambatan
pelayanan pembedahan gawat darurat di kamar operasi instalasi gawat darurat
KEBIJAKAN Keputusan Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Tagulandang
Nomor Tentang Kebijakan Pelayanan Anestesi dan Sedasi di Rumah Sakit
Umum Daerah Tagulandang
PROSEDUR 1. Tahap pra-pembedahan
a. Pasien masuk IGD atau dirujuk dari poli/ruangg rawat dengan kegawatdarurat
bedah harus diperiksa secara seksama meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan penunjang, persiapan anesthesia dan konsultasi dengan unit/DPJP
terkait. Jika diperlukan, tim anestesi dapat diminta keterlibatannya dalam
tatalaksana pasien saat proses penerimaan di IGD.
b. Hasil yang didapat dari proses di atas akan menentukan keputusan tindakan
pembedahan yang akan dilakukan oleh DPJP sesuai tingkat kompetensi.
c. Pada penilaian selanjutnya ditentukan apakah pasien harus dirawat inap.
Bilamana ruang rawat ternyata tidak tersedia (penuh), keluarga diberitahu
risiko yang akan terjadi pasca-operasi atau keluarga pasien ditawarkan apakah
ingin mendapatkan tindakan/perawatan di luar Rumah Sakit Umum Daerah
Tagulandang (dirujuk/dirujuk balik)
d. Seluruh proses penilaian hingga perencanaan pembedahan kedaruratan
dilakukan sesuai urgensi pasien (cito/urgent)
e. Setelah semua hal di atas sudah diputuskan, maka DPJP Operator menjadwalkan
operasi pasien setelah sebelumnya mendapat kepastian input layanan awal dari
bagian registrasi telah dilakukan (tanpa menyingkirkan factor urgensi
pembedahan). DPJP Operator harus melakukan konsultasi dengan tim anestesi
(bila dari awal, tim anestesi belum terlibat) dan mendaftarkannya ke kamar
bedah untuk diatur kamar operasi.
f. Seluruh proses perencanaan pembedahan harus dikomunikasikan dan
dilakukan pemberian edukasi pembedahan kepada pasiendan keluarga oleh
DPJP Operator sesuai dengan kompetensinya.
2. Tahap pembedahan (kamar operasi)
a. Pasien yang telah mendapatkan persetujuan pembiusan dari tim anestesi dapat
segera dikirim keruangan persiapan kamar operasi. Respon time maksimal
pengiriman pasien adalah 30 menit. Bila respon time tersebut tidak terpenuhi
dan ada daftar tunggu operasi, maka penanggung jawab kamar operasi (setelah
berkoordinasi dengan tim anestesi) dapat mengatur kembali urutan
2/2

1/2 PELAYANAN BEDAH GAWAT DARURAT DI KAMAR OPERASI INSTALASI GAWAT


DARURAT

No. Dokumen : No. Revisi: Halaman:


RUMAH SAKIT 1/2
UMUM DAERAH
TAGULANDANG
pembedahan yang telah dijadwalkan sebelumnya.
b. DPJP Operator menginformasikan kebutuhan AMHP kepada tim kamar operasi
dan tim anestesi mempersiapkan kebutuhan AMHP anestesi. Seluruh kebutuhan
AMHP telah disediakan di depo khusus kamar operasi.
c. Pasien dapat dimasukkan kedalam kamar operasi setelah mendapatkan
konfirmasi dari tim anestesi dan kamar operasi bahwa kamar operasi dan
kebutuhan telah siap.
d. Pembiusan dan pembedahan baru dapat dilakukan setelah semua personil
menjalani prosedur sign-in dan time-ou tsesuai SPO.
3. Tahap pasca bedah (ruang pulih)
a. Pasien yang telah menjalani pembedahan ditransport oleh personil anesthesia ke
kamar pulih sadar atau ke unit perawatan intensif.
b. Tata laksana pasien di ruang pulih sadar (termasuk kriteria discharge) sesuai
dengan SPO Tata laksana Anestesia di Kamar Pulih Sadar.
c. Rekam medis pasien yang menjalani proses pulih sadar tidak boleh dikeluarkan
dari ruang pulih sadar dengan alas an apapun.
d. Pasien yang telah memenuhi syarat untuk dikeluarkan dari ruang pulih dijempu
toleh staf dari ruangan asal atau ruangan rawat inap yang telah disiapkan
sebelumnya.
e. Pasien yang telah memenuhi syarat untuk dikeluarkan dari ruang pulih tidak
boleh menjalani perawatan lanjutan di ruang pulih tanpa persetujuan dari DPJP
Anestesiologi.
f. Dalamhal pasien yang tidak mendapatkan tempat perawatan di ruang rawat
Rumah Sakit Umum Daerah Tagulandang, maka pasien yang telah dinyatakan
pulih sadar harus dikembalikan keruangan/poliklinik asal sebelum menjalani
pembedahan, selanjutnya untuk dipulangkan atau dirujuk balik kefasilitas
kesehatan lain di luar Rumah Sakit Umum Daerah Tagulandang.

UNIT 1. Instalasi Bedah


TERKAIT 2. Instalasi Gawat Darurat
3. Instalasi Rawat Inap
4. Instalasi Rawat Jalan