Anda di halaman 1dari 2

“ Jawa Pos “

Jawa Pos berdiri setelah masa Agresi Militer Belanda di Indonesia, tepatnya pada 1 Juli
1949, oleh seorang pegawai bioskop di Surabaya, yaitu The Chung Shen. Pekerjaan sehari-hari
pendiri Jawa Pos ini hanyalah penempel iklan. Namun, dengan keberaniannya, hadirlah Jawa Pos
dan mampu bertahan sampai akhir tahun 1970-an. Akibat persaingan dan tak ada penerus yang
mengurusi bisnis korannya, pada 1982 Shen menjual Jawa Pos kepada sesama pengusaha media,
Eric Samola.Dari sinilah kisah sukses Jawa Pos bermula. Samola menunjuk seorang wartawan
muda Dahlan Iskan untuk memimpin Jawa Pos dalam kondisi kritis. Oplahnya hanya 6.000
eksemplar saja sehari. Jauh di bawah oplah normal di atas puluhan ribu eksemplar. Namun,
dengan berbagai langkah dan strategi, Iskan sukses besar menjadikan Jawa Pos menyebarkan
300.000 eksemplar sehari, dalam waktu 5 tahun.

Pada tahun 1992 terbentuklah Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat
kabar terbesar di Indonesia, dimana memiliki lebih dari 80 surat kabar, tabloid, dan majalah,
serta 40 jaringan percetakan di Indonesia. Jawa Pos menyebut dirinya sebagai “Jawa Pos Leader
of Innovation and Awards”. Pasalnya, dalam berbagai kesempatan Jawa Pos menjadi yang
pertama menghadirkan hal-hal baru di dunia media cetak di Indonesia. Seperti :

 Koran pertama yang menggunakan komputer (1984)

 Koran pertama yang terbit bewarna (1986)

 Koran pertama yang menggunakan remote printing (1986)

 Koran pertama yang tetap terbit di hari libur (1992)

 Koran pertama yang berbasis online (1994)


 Koran pertama yang menggunakan standar internasional (1996)

 Koran pertama yang menampilkan rubrik berbasis anak muda (2000)

 Koran pertama yang menggunakan teknologi Computer To Plate (CTP) (2006)