Anda di halaman 1dari 31

UNIVERSITAS INDONESIA

INDUSTRI NILON

MAKALAH
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Proses Petrokimia

KELOMPOK 10

Aisyah Razaanah Siregar 1606906345


Damai Kasih Lintanghati 1606890126
Shanti Mustika 1606906276

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI BIOPROSES


DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
MEI 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat dan karunianya kami dapat menyelesaikan makalah yang diajukan sebagai
tugas dari modul “Industri Nilon” pada mata kuliah Proses Petrokimia tepat pada
waktunya. Dalam penulisan laporan ilmiah ini, banyak halangan yang dihadapi penulis,
oleh karena itu, penulis berterima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat baik secara
langsung maupun tidak langsung dalam penyelesaian laporan ilmiah ini, yaitu:
1. Dosen mata kuliah Proses Petrokimia, Bapak Yuliusman yang telah membimbing
penulis selama proses penulisan laporan ini.
2. Seluruh rekan Departemen Teknik Kimia UI, seluruh angkatan, serta segala pihak
yang telah membantu penulis.
Sebagai insan yang jauh dari kesempurnaan, penulis mohon maaf jika dalam
penulisan makalah ini terdapat kesalahan ataupun kata-kata yang tidak sesuai dengan
hati dan pikiran pembaca. Tidak ada gading yang tak retak, begitu juga dengan makalah
tim penulis yang belum sempurna. Maka dari itu, penulis mengharapkan kritik dan
masukan dari pembaca agar dapat memperbaiki makalah ini di kemudian hari. Semoga
makalah penulis bermanfaat, sehingga ilmu pengetahuan dan wawasan pembaca
bertambah setelah membaca makalah ini.

Jakarta, 3 Mei 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................. ii

DAFTAR ISI .............................................................................................................. iii

DAFTAR GAMBAR.................................................................................................. iv

DAFTAR TABEL ....................................................................................................... v

BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang ................................................................................................ 1

1.2. Tujuan Penulisan ............................................................................................ 1

BAB 2 NILON DAN APLIKASINYA DALAM INDUSTRI .................................. 3

2.1. Sejarah Nilon .................................................................................................. 3

2.2. Sifat, Struktur, dan Karakteristik Nilon .......................................................... 3

2.3. Jenis Nilon ...................................................................................................... 4

2.4. Produksi dan Kebutuhan Nilon di Dunia ........................................................ 6

2.5. Produksi dan Kebutuhan Nilon di Indonesia .................................................. 7

2.6. Industri Nilon di Indonesia ............................................................................. 8

2.7. Manfaat dan Aplikasi Nilon............................................................................ 8

BAB 3 PROSES PRODUKSI NILON .................................................................... 11

3.1. Proses Pembuatan Nilon 6 ............................................................................ 11

3.2. Proses Pembuatan Nilon 6,6 ......................................................................... 16

3.3. Unit Utilitas Produksi Nilon ......................................................................... 21

3.4. Penanganan Limbah Nilon ........................................................................... 24

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 26

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Struktur Nilon 6 ........................................................................................ 5


Gambar 2.2 Struktur Nilon 6,6 ..................................................................................... 6
Gambar 2.3 Kebutuhan Nylon di Dunia ....................................................................... 6
Gambar 2.4 Produksi Nylon di Indonesia dan Dunia ................................................... 8
Gambar 2.5 Aplikasi Nilon dalam Bidang Tekstil, Benang, Fiber, dan Plastik ......... 10
Gambar 3.1 Rute pembuatan kaprolaktam.................................................................. 11
Gambar 3.2 Proses pembuatan sikloheksanon ............................................................ 12
Gambar 3.3 Proses pembuatan hidroksilamin sulfat................................................... 13
Gambar 3.4 Proses pembuatan kaprolaktam ............................................................... 14
Gambar 3.5 Proses pembuatan nilon 6 ....................................................................... 15
Gambar 3.6 Bahan baku pembuatan nilon 6,6 ............................................................ 16
Gambar 3.7 Monomer nilon 6,6.................................................................................. 16
Gambar 3.8 Berbagai jalur proses pembuatan adipic acid ......................................... 17
Gambar 3.9 Block flow diagram proses pembuatan hexamethylene diamine ............. 18
Gambar 3.10 Garam nilon........................................................................................... 19
Gambar 3.11 Proses produksi nilon 6,6 ...................................................................... 21
Gambar 3.12 Air Cooled Heat Exchanger .................................................................. 22
Gambar 3.13 Non-reactive heater............................................................................... 22
Gambar 3.14 Heat Transfer Fluid (Sumber: Dow Chemical, 2017) .......................... 23
Gambar 3.15 Steam Boiler .......................................................................................... 24
Gambar 3.16 Pengolahan Limbah N2O ...................................................................... 25

iv
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Sifat-sifat Nilon 6 dan Nilon 6,6 .................................................................. 5

v
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Polimer merupakan makromolekul yang terbentuk dari susunan ulang atau
polimerisasi ratusan sampai ribuan molekul sederhana yang disebut monomer. Oleh
karena itu polimer mempunyai massa molekul relatif yang sangat basar. Polimer
banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa disadari bahan-bahan yang kita
gunakan seperti pakaian, botolminum, map plastik, dan lain-lain terbuat dari polimer
Bahan-bahan polimer alam yang sejak dahulu telah dikenal dan dimanfaatkan
adalah kapas, wol, dan damar. Polimer sintesis mulai dikenal pada tahun 1925 dan
teknologi polimer terus berkembang pesat sampai saat ini. Beberapa contoh polimer
sintesis yang ada dalam kehidupan sehari-hari salah satunya adalah serat-serat tekstil
dari nilon.
Nilon adalah kopolimer kondensasi dibentuk dengan mereaksikan bagian yang
sama dari sebuah diamina dan asam dikarboksilat, sehingga amida yang terbentuk pada
kedua ujung masing-masing monomer dalam proses analog dengan polipeptida
biopolimer. Nilon merupakan polimer pertama yang sukses secara komersial, dan
merupakan serat sintetik pertama yang dibuat seluruhnya dari bahan anorganik. Sampai
saat ini, nilon banyak digunakan dalam industri benang, tekstil, fiber, dan plastik.
Dalam makalah ini, akan dibahas sejarah nilon, manfaat nilon, kondisi industri nilon,
proses produksi nilon, serta penangan limbah produksi nilon.

1.2. Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagaimana dijabarkan berikut ini.
1. Mempelajari sifat dan karakteristik polimer nilon serta pemanfaatannya dalam
kehidupan sehari-hari.
2. Mempelajari jenis-jenis nilon, serta bahan baku dan monomer yang digunakan
dalam pembuatan nilon jenis tersebut.
3. Mempelajari kondisi impor dan ekspor industri nilon di Indonesia.

1
4. Mempelajari tingkat kebutuhan dan kesediaan nilon di dunia dan di Indonesia.
5. Mempelajari proses produksi nilon 6 dan nilon 6,6 serta reaksi-reaksi yang
terlibat dalam masing-masing proses produksi.
6. Mempelajari unit utilitas yang digunakan dalam proses produksi nilon.
7. Mempelajari pengolahan limbah yang dihasilkan dari proses produksi metanol.

2
BAB 2
NILON DAN APLIKASINYA DALAM INDUSTRI

2.1. Sejarah Nilon


Nilon merupakan suatu keluarga polimer sintetik yang diciptakan pada 1935 oleh
Wallace Carothers di DuPont. Produk pertama yang diaplikasikan adalah sikat gigi
berbulu Nylon (1938), dilanjutkan dengan produk yang lebih dikenal yaitu lingerie dan
stocking untuk wanita pada 1940. Nylon dibuat dari rangkaian unit yang ditautkan
dengan ikatan peptida (ikatan amida) dan sering diistilahkan dengan poliamida (PA).
Nilon merupakan polimer pertama yang sukses secara komersial, dan merupakan
serat sintetik pertama yang dibuat seluruhnya dari bahan anorganik: batu bara, air, dan
udara. Elemen-elemen ini tersusun menjadi monomer dengan berat molekular rendah,
yang selanjutnya direaksikan untuk membentuk rantai polimer panjang. Bahan ini
ditujukan untuk menjadi pengganti sintetis dari sutra yang diwujudkan dengan
menggunakannya untuk menggantikan sutra sebagai bahan parasut dan tenda setelah
Amerika Serikat memasuki Perang Dunia II pada 1941, yang menyebabkan lingerie
dan stocking berbahan nilon sulit diperoleh sampai perang berakhir.

2.2. Sifat, Struktur, dan Karakteristik Nilon


Nilon adalah kopolimer kondensasi dibentuk dengan mereaksikan bagian yang
sama dari sebuah diamina dan asam dikarboksilat, sehingga amida yang terbentuk pada
kedua ujung masing-masing monomer dalam proses analog dengan polipeptida
biopolimer. Elemen kimia termasuk adalah karbon, hidrogen, nitrogen, dan oksigen.
Akhiran numerik menentukan jumlah karbon yang disumbangkan oleh monomer-
monomer, sedangkan diamina pertama dan kedua diacid. Jenis yang paling umum
adalah Nilon 6-6 yang mengacu pada fakta bahwa diamina (heksametilena diamina,
Nama IUPAC: heksana-1 ,6-diamina) dan diacid (asam adipat, Nama IUPAC: asam
hexanedioic) masing-masing menyumbangkan 6 karbon untuk rantai polimer.
Kopolimer pada umumnya (contohnya seperti poliester dan poliuretan) terdiri dari satu
monomer masing, sehingga mereka bergantian dalam rantai tersebut. Karena setiap

3
monomer dalam kopolimer ini memiliki sama kelompok reaktif pada kedua ujungnya,
arah dari ikatan amida membalikkan antara masing-masing monomer.
Berikut adalah sifat dan karakteristik dari nilon.
• Termoplastik
• Silky material
• Tahan luntur
• Durabilitas: serat yang tinggi keuletan digunakan untuk sabuk pengaman, ban,
tali, kain balistik, dan penggunaan lainnya
• Elongasi tinggi
• Ketahanan abrasi yang sangat baik
• Resistensi tinggi terhadap serangga, jamur, hewan, serta bahan kimia cetakan,
jamur, dan pembusukan
• Tidak terbakar, tetapi dapat mencair
• Memiliki kemampuan untuk menjadi sangat berkilau
• Transparan terhadap cahaya inframerah (-12dB)
• Titik lebur 363-367 Fo

• Kekerasan rockwell 106


• Konduktivitas termal 2,01 BTU di/ft.h.F
• Panas laten difusi 35,98 Btu/lb
• Koefisien ekspansi linier 5,055 x 10-5/F
• Kekuatan tarik pada hasil 4496-4786 psi
• Koefisien gesekan 0,10-0,30
• Kepadatan 1,15 g/cm 3

• Konduktivitas listrik 10-12 S/m

2.3. Jenis Nilon


Terdapat 2 jenis nilon yang diproduksi secara besar, yaitu nilon 6 dan nilon 6,6.
Perbedaan utama antara keduanya adalah perbedaan titik didih diantara kedua jenis
polimer nilon ini. Berikut adalah tabel perbedaan sifat-sifat antara nylon 6 dan nylon
6,6.

4
Tabel 2.1 Sifat-sifat Nilon 6 dan Nilon 6,6

2.3.1. Nilon 6
Nilon 6 merupakan jenis nilon yang memiliki daya regang tinggi, elastis,
berkilau, resistansi abrasi yang tinggi, tidak tahan panas. Oleh karena sifat dari
nilon 6, jenis ini banyak digunakan sebagai bahan kain non-woven, kemasan
makanan, tali, benang, dan cord. Kekurangan dari nilon 6 adalah tidak tahan
panas, sehingga jika kain atau tekstil yang dihasilkan melalui jenis nilon ini, tidak
bisa menggunakan suhu tinggi untuk menyetrikanya. Nilon jenis ini dibuat
dengan satu jenis monomer, yaitu kaprolaktam.
• Rumus molekul: (C6H11NO)n
• Densitas: 1,084 g/ml
• Titik lebur: 493 K

Gambar 2.1 Struktur Nilon 6

5
2.3.2. Nilon 6,6
Nilon 6,6 merupakan jenis nilon yang memiliki ketahanan mekanik
terhadap gesekan, tahan terhadap panas, dan kekuatan yang tinggi. Oleh karena
sifat dari nilon 6,6, jenis nilon ini banyak digunakan sebagai pembuatan plastik,
diaplikasikan pada houseware sebagai peralatan masak, industri otomotif sebagai
sabuk pengaman, dashboard, serta sebagai personal protective equipment yang
tahan api. Nilon jenis ini dibuat dengan dua monomer, yaitu asam adipat dan
hexamethylene diamine.
• Rumus molekul: (C12H22N2O2)n
• Densitas: 1,14 g/ml
• Titik lebur: 542 K

Gambar 2.2 Struktur Nilon 6,6

2.4. Produksi dan Kebutuhan Nilon di Dunia


Secara umum, produksi nilon dunia mengalami penurunan. Pada tahun
2000-2010, produksi nilon di dunia mengalami laju penurunan 3,16%. Hal ini
ditunjukkan pada tabel berikut.

Gambar 2.3 Kebutuhan Nylon di Dunia

(Sumber : www.yarnsandfibers.com, 2013)

6
Nilon sebagai salah satu komposisi serat sintetik sebesar 40% pada tahun
1970 namun sekarang sudah banyak digantikan dengan polyester. Kebanyakan
produksi nilon berpusat di Tiongkok dengan kapasitas produksi pada tahun 2009
sebesar 1,4 juta ton serat nilon. Untuk wilayah Asia, penawaran masih relatif stabil
walaupun memang awalnya menurun namun sebelum tahun baru Cina permintaan
akan meningkat dan kemudian turun lagi. Kebutuhan ini diantisipasi produsen
setiap tahunnya dengan berhentinya produksi selama dua minggu dan kemudian
baru berjalan kembali pada bulan Maret. Penggunaan nilon di tiongkok lebih
diarahkan ke tekstil.
Amerika menduduki urutan kedua sebagai produsen terbesar dunia. Nilon
yang biasa digunakan adalah nilon 6 dan nilon 6,6. Kedua nilon ini memiliki
supply demand yang kontras karena nilon 6 masih memiliki pasar yang stabil dan
kebalikannya, nilon 6,6 diproduksi sedikit karena material yang terbatas dan harga
yang tinggi.
Eropa masih mengalami oversupply karena permintaan yang rendah dan
konsumsi nilon pada sector automotif yang rendah. Penggunaan nilon di Erope
lebih mengarah pada dunia automotif dan dengan adanya peraturan baru tentang
emisi karbon dioksida sehingga ada restrukturisasi terhadap sektor automotif yang
menyebabkan perubahan terhadap produksi kendaraan.

2.5. Produksi dan Kebutuhan Nilon di Indonesia


Indonesia merupakan negara produsen nilon terbesar kelima di dunia. Pada
tahun 2009, produksi nilon meningkat 3,5% dan konsumsi naik 2,7%. Pada tahun
yang sama juga, Indonesia menghasilkan 62.800 ton serat nilon dengan konsumsi
sebesar 72.000 ton nilon.

7
Gambar 2.4 Produksi Nylon di Indonesia dan Dunia

(Sumber : www.yarnsandfibers.com, 2013)

2.6. Industri Nilon di Indonesia


Perusahaan nilon di dunia BASF SE, Honeywell International, Inc., Asahi
Kasei Corporation, Evonik Industries AG, E.I. Dupont De Nemours & Company.
Tiga perusahaan nilon di Indonesia, yaitu PT Polychem Indonesia Tbk. dengan
kapasitas produksi sebesar 19.703 ton tahun 2007, PT Susilia Indah Synthetic
Fibers Industries dengan kapasitas produksi sebesar 20 ton per hari , PT
Indokordsa Tbk dengan kapasitas produksi 21.000 ton pada tahun 2011. Ketiga
perusahaan ini tidak hanya memproduksi nilon saja tetapi juga poliester sehingga
dengan turunnya produksi nilon tetap terbantu dengan adanya peningkatan
produksi poliester.

2.7. Manfaat dan Aplikasi Nilon


• Industri Benang
Dengan ketahanan tarik tinggi kekuatan, kelelahan, dan elastisitas tinggi,
salah satu aplikasi utama untuk nilon 6 adalah dalam pembuatan benang
industri. Adhesi unggul untuk karet membuat sebuah media yang ideal untuk
memproduksi kain ban kabel, media untuk memperkuat ban bus dan truk.

8
Nilon dapat dicampur dengan polietilena untuk menghasilkan benang industry
dengan biaya rendah tanpa secara signifikan menurunkan kualitas produk
akhir.
• Tekstil
Nilon 6 digunakan secara luas dalam industri tekstil untuk memproduksi kain
non-woven. Kain yang terbuat dari nilon 6 adalah kain berwarna-warni dan
ringan, namun tetap kuat dan tahan lama. Contoh pakaian yang digunakan dari
nilon 6 adalah kemeja, gaun, kaus kaki, pakaian dalam wanita, jas hujan,
pakaian ski, jaket, pakaian renang, dan lain-lain.
• Pembuatan Fiber
Nilon mempunyai tenasitas tinggi dan elastisitas yang baik, sehingga nilon
banyak diaplikasikan untuk pembuatan fiber. Sebanyak hampir 50% nylon
fiber diproduksi menjadi tire cord. Penggunaan lainnya adalah untuk
pembuatan tali, thread, dan cord. Selain itu, sifat nilon yang resistan terhadap
abrasi dan bahan kimia dapat diaplikasikan untuk pembuatan belt dan filter
cloth. Nilon juga dimanfaatkan dalam pembuatan apparel seperti ladies hose,
undergarments, dan dresses karena sifatnya yang memiliki modulus rendam,
elastisitas tinggi, ketahanan dan kekuatan tinggi.
• Pembuatan Plastik
Pemanfaatan nilon terbesar dalam pembuatan plastik berada pada bidang
mekanik sebagai pengganti logam dalam pembuatan gears, cams, bushes,
bearings, dan valve seats. Nilon 6,6 dapat dibuat menjadi peralatan masak
seperti spatula dan sendok karena memiliki ketahanan panas yang tinggi.
Nilon 6 dapat dibuat menjadi nylon hair combs dan nylon film untuk kemasan
makanan, contohnya sebagai barrier layer kemasan susu yang terbuat dari
campuran LDPE/LLDP/Nylon-6. Selain dibuat menjadi film, nilon juga dapat
dibuat menjadi monofilaments seperti yang ditemukan pada peralatan surgical
sutures, brush tufting, wigs, peralatan olahraga, braiding, peralatan outdoor,
dan angling.

9
Gambar 2.5 Aplikasi Nilon dalam Bidang Tekstil, Benang, Fiber, dan Plastik

Sumber: (Shirodkar, Praseeda, 2018)

10
BAB 3
PROSES PRODUKSI NILON

3.1. Proses Pembuatan Nilon 6


3.1.1. Bahan Baku
Nilon 6 dibuat hanya dengan satu jenis monomer yakni kaprolaktam.
Kaprolaktam merupakan salah satu turunan minyak bumi yang dihasilkan dari berbagai

produk dasar seperti fenol, sikloheksan dan toluena. Kaprolaktam (CH2)5CONH dapat
dibuat dari berbagai rute pembuatan, mulai dari toulena, sikloheksana sampai fenol
seperti yang ditunjukan pada gambar di bawah ini.

Gambar 3.1 Rute pembuatan kaprolaktam

Pada makalah ini akan dibahas proses pembuatan kaprolaktam berdasarkan Du


Pont Process yang terbagi menjadi beberapa bagian proses yaitu, pembuatan
sikloheksanon, pembuatan hidroksilamin sulfat, pembuatan kaprolaktam.

11
3.1.2. Pembuatan Cyclohexane
Proses pembuatan sikloheksanon dapat dilihat pada blok diagram berikut:

Gambar 3.2 Proses pembuatan sikloheksanon

Sikloheksanon dibuat dari oksidasi sikloheksan. Pada proses ini, sikloheksan


dioksidasi pada reaktor yang terdiri dari beberapa ruangan terpisah dengan suhu 158 –
o
160 C dengan tekanan 10 atm dimana cairan mengalir dari satu chamber ke lainnya
secara seri. Pada setiap ruangan reaktor tersebut diisi oleh garam kobalt sebagai katalis.
Mekanisme reaksinya adalah sebagai berikut.

C6H12 + O2 à C6H10 = O + H2O


Produk dari reaksi ini mengandung sikloheksan sisa, sikloheksanol dan
sikloheksanon yang kemudian diumpankan ke dalam tiga kolom distilasi dimana
komponen-komponen tersebut dipisahkan masing-masing. Sikloheksana dipisahkan
sebagai produk atas pada kolom terakhir. Sikloheksanol dipisahkan pada kolom
terakhir sebagai produk bawah yang kemudian dilakukan proses dehidrogenasi menjadi
sikloheksanon. Proses dehidogenasi ini dilakukan dengan katalis zinc carbonate dan
o
calcium carbonate pada suhu 400 C. Sikloheksanol yang tidak terkonversi dan
sikloheksanon sisa kemudian di-recylcle menuju kolom distilasi ketiga untuk me-
recovery sikloheksanon.
3.1.3. Pembuatan Hidroksilamin Sulfat
Produksi hidroksilamin sulfate melibatkan produksi amonium karbonat dengan

cara mengabsorpsi CO2 pada 24% larutan amonium. Pada reaktor lain, terjadi

pembuatan nitrogen oksida yaitu campuran NO dan NO2 yang diproduksi dengan cara

12
o
oksidasi amoniak pada katalis platina pada suhu 85 C. Setelah itu, campuran nitrogen
oksida hasil oksidasi amoniak ini kemudian diabsorpsikan kedalam amonium karbonat
untuk mendapatkan amonium nitrit. Amonium nitrit dan amonium karbonat sisa ini

kemudian direaksikan dengan SO2 yang akan menghasilkan hidroksilamin disulfonat.


o
Hidroksilamin disufonat yang dihasilkan kemudian dihidrolisis pada suhu 95 C untuk
menghasilkan hidroksilamin sulfat dan amonium sulfat. Amonium sulfat yang
dihasilkan ini dipisahkan dengan settler sebagai by-produk dari pembuatan
hidroksilamin sulfat. Amonium sulfat ini bisa digunakan sebagai pupuk bagi tanaman
karena memiliki kandungan nutrisi nitrogen dan sulfur sebagai mikronutriennya.
Proses pembuatan hidroksilamin sulfat dapat dilihat dari blok diagram berikut.

Gambar 3.3 Proses pembuatan hidroksilamin sulfat

3.1.4. Proses Pembuatan Kaprolaktam


Sikloheksanon dan hidroksil amin sulfat yang telah terbentuk kemudian
direaksikan untuk membuat kaprolaktam. Pembuatan kaprolaktam ini melibatkan
pembuatan sikloheksanon oksim yang merupakan hasil reaksi dari sikloheksanon dan
hidroksilamin sulfat. Reaksi pembuatan sikloheksanon oksim sebagai berikut:

C6H10 = O + NH2OH à C6H10 – O – NH + (NH4)2SO4


Gugus sulfat akan menjadi radikal untuk itu dibutuhkan amoniak untuk
membuatnya menjadi ammonium sulfat yang bisa dipisahkan melalui settler. Hasil
pemisahan padatan amonium sulfat merupakan campuran antara sedikit ammonium
sulfat pada fasa cair dengan sikloheksanon oksim. Sikloheksanon oksim ini kemudian
disusun ulang atau diisomerisasi menjadi kaprolaktam dengan penambahan 20% asam

13
sulfat atau oleum sebagai katalisnya dengan proses Beckman Rearragement untuk
memproduksi kaprolaktam, dengan reaksi sebagai berikut:

C6H10 – O – NH à NH – C6H10 = O
Setelah itu kemudian difiltrasi untuk memisahan lebih lanjut dari amonium
sulfat dan kemudian dilakukan netralisasi lagi untuk memastikan bahwa tidak ada
gugus sulfat yang radikal dan bebas. Kaprolaktam yang dihasilkan kemudian
didinginkan dan dipadatkan yang bisa dijual dalam bentuk chips atau dilanjutkan
menuju proses polimerisasi menjadi nilon. Proses pembuatan kaprolaktam secara
lengkap dapat dilihat pada diagram berikut:

Gambar 3.4 Proses pembuatan kaprolaktam

3.1.5. Proses Pembuatan Nilon 6


Proses produksi nilon 6 diawali dengan polimerisasi dari kaprolaktam.
Langkah proses yang terlibat pada produksi nilon 6 yaitu:
• Pelelehan kaprolaktam dan penambahan aditif
• Polimerisasi: batch/continuous dan produksi chips
• Chips washing and drying
• Spinning of nilon
• Sistem recovery

14
Gambar 3.5 Proses pembuatan nilon 6

Dari proses pembuatan kaprolaktam, kaprolaktam yang dihasilkan adalah


berbentuk chips yang bisa dijual langsung atau dioleh lebih lanjut menjadi nilon 6.
Untuk diolah lebih lanjut menjadi nilon 6, kaprolaktam ini harus dilelehkan terlebih
o
dahulu dengan penambahan air pada suhu 68 C. Lelehan kaprolaktam ini juga

ditambahkan pigment TiO2 dan promoter asam sebagai aditivnya. TiO2 digunakan
sebagai aditiv pewarna bagi nilon 6 yang akan diproduksi tersebut. promoter asam
digunakan sebagai aditiv agar menciptakan suatu suasana asam yang akan membuat air
lebih mudah memutus ikatan cincin dari kaprolaktam. Setelah penambahan ini,
campuran tersebut akan difiltrasi untuk memisahkan kaprolaktam yang tidak meleleh
o
karena pencampuran dengan air pada suhu 68 C.
Kaprolaktam yang telah menjadi fasa cair ini kemudian masuk ke dalam proses
polimerisasi. Reaktor polimerisasi ini dapat dilakukan secara batch atau continuous
o
pada suhu 240-270 C. Pemilihan tipe reaktor ini merujuk kepada kapasitas dari pabrik
tersebut. Jika kapasitas pabriknya bersar, reactor continuous lebih baik. Reaksi
polimerisasi kaprolaktam diawali dengan pemutusan ikatan cincin heptagonal oleh air
pada ikatan nitrogennya.
Kaprolaktam yang dihasilkan ini kemudian didinginkan dan dilakukan proses
pencetakan dengan casting wheel dan chip cutter. Hasil dari proses ini didapatkan nilon
padat dalam bentuk chip yang bisa dijual langsung sebagai barang setengah jadi kepada
perusahaan lain yang mengolahnya lebih lanjut menjadi benang-benang nilon 6, seperti
perusahan senar gitar dan benang pancing. Chip nilon 6 ini kemudian bisa dilanjutkan

15
dilelehkan untuk selanjutnya dilakukan pencetakan dan penggulungan menjadi benang
nilon 6 yang siap didistribusikan lebih lanjut kepada konsumen.

3.2. Proses Pembuatan Nilon 6,6


3.2.1. Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan untuk membuat nilon 6,6 terdiri daru dua, yaitu
asam adipat (adipic acid) dan heksametilena diamina (hexamethylene diamine).
Berikut adalah struktur kimia dari kedua bahan baku tersebut.

Gambar 3.6 Bahan baku pembuatan nilon 6,6

Seperti yang terlihat di atas, asam adipic acid berperan dalam menyediakan gugus
–CO dan hexamethylene diamine berperan dalam menyediakan gugus –NH untuk
membentuk monomer yang selanjutnya akan diproses lebih lanjut menjadi nilon 6,6.
Berikut adalah monomer dari nilon 6,6.

Gambar 3.7 Monomer nilon 6,6

3.2.2. Pembuatan Adipic Acid


Adipic acid dapat dihasilkan dari berbagai jalur proses. Berbagai jalur proses
dalam pembuatan adipic acid dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

16
Gambar 3.8 Berbagai jalur proses pembuatan adipic acid

Dari berbagai jalur yang terlihat pada gambar di atas, adipic acid paling banyak
dihasilkan dari jalur benzene. Pada jalur tersebut, sikloheksana yang dihasilkan dari
benzena dioksidasi dengan udara untuk membentuk sikloheksanol dan sikloheksanon
dengan menggunakan bantuan katalis cobalt naphthenate pada suhu 145-150°C.
Selanjutnya, campuran sikoheksanol dan sikloheksanon yang telah terbentuk tersebut
dioksidasikan untuk membentuk adipic acid dengan adanya asam nitrat menggunakan
katalis ammonium metavanadate dan tembaga pada suhu 60-80°C. Adipic acid yang
terbentuk kemudian mengalami proses kristalisasi, sentrifugasi dan pada akhirnya
dikeringkan (drying) dengan udara panas.
3.2.3. Pembuatan Hexamethylene Diamine
Hexamethylene diamine dihasilkan dengan proses hidrogenasi katalitik. Feed
yang digunakan dalam proses hidrogenasi katalitik tersebut adalah adiponitrile. Proses
hidrogenasi katalitik dapat dilakukan baik pada tekanan tinggi (60-65 Mpa) maupun
pada tekanan rendah (3 Mpa). Pada proses bertekanan tinggi digunakan katalis nikel,
sedangkan pada proses bertekanan rendah digunakan tembaga dan cobalt sebagai

17
katalis. Berikut adalah block flow diagram dari proses pembuatan hexamethylene
diamine.

Gambar 3.9 Block flow diagram proses pembuatan hexamethylene diamine

Seperti yang dapat dilihat pada gambar di atas, pertama-tama adiponitrile


mengalami proses hidrogenasi katalitik dengan adanya udara. Proses ini akan
menghasilkan campuran berupa hexamethylene diamine, air dan produk berat lainnya.
Selanjutnya, produk yang masih berupa campuran tersebut dipisahkan lebih lanjut
hingga diperoleh hexamethylene diamine (HMD) untuk digunakan sebagai bahan baku
pembuatan nilon 6,6.
3.2.4. Proses Pembuatan Nilon 6,6
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnnya, nilon 6,6 diproduksi dari reaksi kimia
antara hexamethylene diamine dan adipic acid. Reaksi kedua senyawa kimia tersebut
akan menghasilkan hexamethylene diammonium adipate yang biasa disebut sebagai
garam nilon.

18
Gambar 3.10 Garam nilon

Garam nilon yang terbentuk tersebut kemudian dipolimerisasikan untuk


menghasilkan nilon 6,6. Reaksi keseluruhan untuk menghasilkan garam nilon dan
konversi dari garam nilon menjadi nilon 6,6 secara umum merupakan kombinasi dari
dua reaksi kimia utama yang diperlihatkan di bawah ini.

Proses produksi yang lebih detail dapat dilihat pada flow diagram pembuatan
nilon 6,6. Pada gambar tersebut terlihat bahwa pertama-tama adipic acid dan
hexamethylene diamine diumpankan ke dalam reaktor garam nilon (nylon salt reactor).
Kedua reaktan tersebut diumpankan ke dalam reaktor dengan jumlah molar yang sama
(equimolar). Selain kedua reaktan tersebut, ditambahkan pula asam asetat dan air ke
dalam reaktor. Penambahan asam asetat dan air ditambahkan ke dalam reaktor untuk
mengendalikan reaksi polimerisasi. Reaktor dilengkapi dengan agitator dan jacket
yang digunakan untuk memanaskan campuran dengan steam.
Garam nilon yang dihasilkan pada reaktor pertama selanjutnya dievaporasikan
dalam sebuah evaporator dimana pada proses ini air dipisahkan melalui proses
evaporasi. Garam nilon yang telah dihilangkan kandungan air-nya kemudian dikirim

19
ke reaktor kedua untuk dipolimerisasikan. Untuk melangsungkan proses polimerisasi,
reaktor kedua dipanaskan hingga mencapai suhu 263°C. Polimerisasi yang terjadi pada
reaktor kedua akan menghasilkan nilon 6,6 yang masih berupa lelehan. Lelehan nilon
6,6 selanjutnya dikirim ke casting wheel, dimana nilon 6,6 diubah menjadi bentuk pita
dengan diameter 3 mm dan dipotong-potong menjadi pita sepanjang 30 mm dalam
cutting machine. Pita dengan panjang 30 mm tersebut dikirimkan ke bin untuk diolah
lebih lanjut.
Dari bin, chip nilon dikirimkan ke melting & spining vessel, dimana chip nilon
tersebut dipanaskann menggunakan hot oil. Dalam vessel tersebut, chip nilon akan
meleleh ketika menyentuh permukaan piringan yang terdapat pada vessel. Gas nitrogen
bertekanan diumpankan ke dalam vessel dari bagian atas dan selanjutnya lelehan nilon
dilewatkan ke spinnerettes. Benang yang dihasilkan dari spinnerettes diambil dikirim
ke dryer dan kemudian dilewatkan ke steam humidifying chamber untuk membuat
benang berada pada kondisi kesetimbangan dengan uap air, lalu benang yang
dihasilkan digulung menggunakan speed roller system dan dikemas. Benang yang telah
dikemas selanjutnya disimpan dan siap untuk dipasarkan ke konsumen.

20
Gambar 3.11 Proses produksi nilon 6,6

3.3. Unit Utilitas Produksi Nilon


3.3.1. Cooling Tower
Cooling tower berfungsi untuk menurunkan temperatur aliran air pendingin yang
berjalan selama proses dengan menggunakan air cooled heat exchanger. Bahan dari
air cooled heat exchanger yang digunakan dalam proses adalah stainless steel untuk
mencegah terjadinya korosi yang disebabkan oleh aliran air pendingin.

21
Gambar 3.12 Air Cooled Heat Exchanger
(Sumber: spxcooling.com, 2016)
3.3.2. Non-reactive Heater
Fungsi dari non-reactive heater adalah untuk memanaskan kembali fluida panas
yang digunakan pada proses evaporasi di awal proses untuk setiap cycle, dengan
menggunakan pemanas dengan bahan stainless steel. Heater juga digunakan untuk
memanaskan setiap reactor yang terdapat pada proses produksi nilon, kecuali reaktor
yang menjadi tempat pengadukan bahan baku di awal proses.

Gambar 3.13 Non-reactive heater


(Sumber: Garg, Ashutosh. 1997)

22
3.3.3. Heat Transfer Fluid
Heat transfer fluid adalah fluida yang digunakan di dalam heater untuk
mengevaporasi aqueous water yang terdapat dalam proses sintesis Nylon salt, sehingga
dihasilkan garam nilon yang sudah tidak mengandung air dapat dipolimerisasi menjadi
nilon 6,6. Heat transfer fluid yang digunakan adalah Dowtherm A yang diproduksi
oleh Dow Chemical. Dowtherm A dapat di-recycle dengan memanaskan kembali
Dowtherm A yang sudah digunakan menggunakan heater.

Gambar 3.14 Heat Transfer Fluid


(Sumber: Dow Chemical, 2017)

3.3.4. Steam Boiler


Steam boiler berfungsi untuk memanaskan kembali high pressure steam yang
digunakan kembali dan memanaskan dissolving reactor pada awal proses produksi
nilon 6,6. Material yang digunakan untuk steam boiler adalah stainless steel untuk
mencegah terjadinya fouling yang disebabkan oleh steam.

23
Gambar 3.15 Steam Boiler
(Sumber: indiamart.com, 2019)

3.4. Penanganan Limbah Nilon


• Limbah N2O
Nitrat oksida dihasilkan melalui pembentukan asam adipatik sebagai
bahan baku dengan 1 kg asam adipatik dapat membentuk N2O sebanyak 30
gram. Secara keseluruhan, N2O menyumbang emisi sebesar 10% N2O dalam
produksi N2O.

Dampak bagi lingkungan, yaitu efek gas rumah kaca dan menipisnya
lapisan ozon yang dapat meningkatkan suhu bumi. Maka dari itu, dilakukan
proses daur ulang gas N2O sebagai pengoksidasi benzena dalam menghasilkan
fenol yang akan dihidrogenasi untuk menghasilkan campuran
sikloheksanon/sikloheksanol.

24
Gambar 3.16 Pengolahan Limbah N2O
Dalam memproduksi serat nilon 6 terdapat 2 limbah dihasilkan:
• Aqueous Extractable
Limbah cair masih mengandung 60-70% caprolactam sehingga harus
diberikan perlakukan carbon treatment, potassium permanganate treatment
• Solid Waste
a. Recovery of Polymer Powder
Limbah serat dilarutkan dalam solvent yaitu asam format, asam sulfur,
asam fosfor dan diendapkan dalam larutan nonsolvent seperti air,
hidrokarbon, dan kloroform. Bubuk ini dapat digunakan sebagai bahan
pewarna.

25
DAFTAR PUSTAKA

An, M., Spencer, G., Stover, L. B., & Thomma M. (2017). Manufacturing Facility for
Nylon 6,6. [ONLINE}. Tersedia di:
https://shareok.org/bitstream/handle/11244/52289/oksd_thomma_HT_2017.p
df?sequence=1&isAllowed=y [Diakses 1 Mei 2019].
Dow Chemical. (2017). DOWTHERM™ A Heat Transfer Fluid Technical Data Sheet.
[ONLINE]. Tersedia di:
http://msdssearch.dow.com/PublishedLiteratureDOWCOM/dh_098b/0901b80
38098b391.pdf?filepath=heattrans/pdfs/noreg/176-
01463.pdf&fromPage=GetDoc [Diakses 1 Mei 2019].
Garg, Ashutosh. (1997). Optimized Fire Heater Operations to Save Money. In
Hydrocarbon Processing, June 1997 issue, pp. 97-104.
Ihsmarkit.com. (2019). Nylon Fibers - Chemical Economics Handbook (CEH) | IHS
Markit. [ONLINE]. Tersedia di: https://ihsmarkit.com/products/nylon-fibers-
chemical-economics-handbook.html [Diakses 1 May 2019].
Indiamart.com. (2019). Mild & Stainless Steel Steam Boiler, Gas Fired and Electricity.
[ONLINE]. Tersedia di: https://www.indiamart.com/proddetail/steam-boiler-
1905285197.html [Diakses 1 Mei 2019]
Koyikkal, Srikumar. (2013). Chemical Proses Technology and Simulation. Delhi: PHI
Learning Private Limited.
LEAFtv. (2019). Nylon Vs. Polyester Fabric. [ONLINE]. Tersedia di:
https://www.leaf.tv/articles/nylon-vs-polyester-fabric/ [Diakses 1 May 2019].
Shirodkar, Praseeda. (2018). Shedding Some Light on the Properties and Uses of
Nylon. [ONLINE]. Tersedia di: https://sciencestruck.com/properties-uses-of-
nylon [Diakses 1 Mei 2019].
Spxcooling.com (2016). SPX Air Cooled Heat Exchanger. [ONLINE]. Tersedia di:
https://spxcooling.com/products/detail/air-cooled-heat-exchangers [Diakses 1
Mei 2019].

26