Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah.
Dalam perkembangan sejarah peradaban manusia, peranan uang dirasakan sangat penting.
Hampir tidak ada satu pun bagian dari kehidupan ekonomi manusia yang tidak terkait
dengan keberadaan uang. Pengalaman menunjukkan bahwa jumlah uang beredar di
luar kendali dapat menimbulkan konsekuensi atau pengaruh yang buruk bagi
perekonomian secara keseluruhan. Konsekuensi atau pengaruh buruk dari kurang
terkendalinya perkembangan jumlah uang beredar tersebut antara lain dapat dilihat
pada kurang terkendalinya perkembangan variabel-variabel ekonomi utama, yaitu
tingkat produksi (output) dan harga.
Peningkatan jumlah uang beredar yang berlebihan dapat mendorong peningkatan
harga melebihi tingkat yang diharapkan sehingga dalam jangka panjang dapat
mengganggu pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, apabila peningkatan jumlah uang
beredar sangat rendah, maka kelesuan ekonomi akan terjadi. Apabila hal ini
berlangsung terus menerus, kemakmuran masyarakat secara keseluruhan pada
gilirannya akan mengalami penurunan.2 Kondisi tersebut antara lain melatar
belakangi upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah atau otoritas moneter suatu
negara dalam mengendalikan jumlah uang beredar dalam perekonomian. Kegiatan
pengendalian jumlah uang beredar tersebut lazimnya disebut dengan kebijakan
moneter, yang pada dasarnya merupakan salah satu bagian intergal dari kebijakan
ekonomi makro yang ditempuh oleh otoritas moneter.
Pemerintah memegang peranan penting dalam pencapaian kesejahteraan masyarakat
pada suatu negara. Pada periode 1960-1965, perekonomian Indonesia menghadapi masalah
yang berat sebagai akibat dari kebijakan pemerintah yang lebih mengutamakan kepentingan
politik. Doktrin ekonomi terpimpin telah menguras hampir seluruh potensi ekonomi
Indonesia akibat membiayai proyek-proyek politik pemerintah. Sehingga tidak
mengherankan jika pada periode ini pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sangat
rendah, laju inflasi sangat tinggi hingga mencapai 635% pada 1966, dan investasi merosot
tajam
Dalam menjalankan kebijakan moneter, Bank Indonesia (BI) dibebani Multiple
Objectives, yaitu selain menjaga stabilitas mata uang rupiah juga sebagai bank sirkulasi
yang memberi pinjaman uang muka kepada pemerintah serta menyediakan kredit likuiditas
dan kredit langsung kepada lembaga-lembaga negara dan pengusaha. Kebijakan moneter
merupakan instrumen yang sangat diandalkan dalam mengatasi permasalahan ekonomi yang
ada pada suatu negara. Dengan demikian, kebijakan moneter sangatlah penting dalam
pembangunan dan pengembangan suatu negara.

Pelaksanaan kebijakan moneter diindonesia Page 1


1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Apa Pengertian Dari Kebijakan Moneter?
2. Apa Saja Jenis-Jenis Kebijakan Moneter?
3 Apa saja Instrumen Kebijakan Moneter?
4. Apa Saja Tujuan Kebijakan moneter?
5. Bagaimana Jalur Pembuatan Keputusan Kebijakan Moneter?
6. Bagaimana Peran Bank Indonesia dalam Kebijakan Moneter?
7. Bagaiamana Pelaksanaan dan Sejarah Kebijakan Moneter di Indonesia?
8. Apa Indikator Stabilisasi ekonomi?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk Mengetahui Pengertian Kebijakan Moneter
2. Untuk Mengetahui Jenis-jenis Kebijakan Moneter
3. Untuk Mengetahui Instrumen Kebijakan Moneter
4. Untuk Mengetahui Tujuan Kebijakan Moneter
5. Untuk Mengetahui Jalur Pembuatan Keputusan kebijakan Moneter
6. Untuk Mengetahui Peran Bank Indonesia dalam Kebijakan Moneter
7. Untuk Mengetahui Pelaksanaan dan Sejarah Kebijakan Moneter di Indonesia
8. Untuk Mengetahui Indikator Stabilisasi ekonomi

Pelaksanaan kebijakan moneter diindonesia Page 2


BAB II
PEMBAHSASAN
2.1. Pengertian Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter adalah kebijakan pemerintah menyangkut perilaku bank sentral
dalam penawaran uang dan pengaturan uang yang beredar pada suatu negara. Kebijakan
moneter pada dasarnya merupakan suatu kebijakan yang bertujuan untuk mencapai
keseimbangan internal (pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga serta pemerataan
pembangunan) dan keseimbangan eksternal (keseimbangan neraca pembayaran) juga
tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi ekonomi yang dapat diukur
dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta neraca pembayaran internasional yang
seimbang. Secara umum kebijakan moneter adalah proses yang dilakukan oleh otoritas
moneter (bank sentral) suatu Negara dalam mengontrol atau mengendalikan jumlah uang
beredar (JUB). Melalui pendekatan kuantitas dan / atau pendekatan tingkat suku bunga
yang bertujuan untuk mendorong stabilitas dan pertumbuhan ekonomi, sudah termasuk
didalamnya stabilitas harga dan tingkat pengangguran yang rendah.
Kebijakan moneter pada dasarnya merupakan suatu kebijakan yang bertujuan untuk
mencapai keseimbangan internal (pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga,
pemerataan pembangunan) dan keseimbangan eksternal (keseimbangan neraca
pembayaran) serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi ekonomi
yang dapat diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta neraca pembayaran
internasional yang seimbang. Apabila kestabilan dalam kegiatan perekonomian terganggu,
maka kebijakan moneter dapat dipakai untuk memulihkan (tindakan stabilisasi). Pengaruh
kebijakan moneter pertama kali akan dirasakan oleh sektor perbankan, yang kemudian
ditransfer pada sektor riil.
Kebijakan moneter adalah upaya untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi
yang tinggi secara berkelanjutan dengan tetap mempertahankan kestabilan harga. Untuk
mencapai tujuan tersebut Bank Sentral atau Otoritas Moneter berusaha mengatur
keseimbangan antara persediaan uang dengan persediaan barang agar inflasi dapat
terkendali, tercapai kesempatan kerja penuh dan kelancaran dalam pasokan/distribusi
barang.Kebijakan moneter dilakukan antara lain dengan salah satu namun tidak terbatas
pada instrumen sebagai berikut yaitu suku bunga, giro wajib minimum, intervensi dipasar
valuta asing dan sebagai tempat terakhir bagi bank-bank untuk meminjam uang apabila
mengalami kesulitan likuiditas.

Pelaksanaan kebijakan moneter diindonesia Page 3


2.2 Jenis-Jenis Kebijakan Moneter
1. Kebijakan Moneter Ekspansif (Monetary Expansive Policy)
Kebijakan moneter ekspansif adalah suatu kebijakan dalam rangka menambah jumlah
uang yang beredar. Kebijakan ini dilakukan untuk mengatasi pengangguran dan
meningkatkan daya beli masyarakat (permintaan masyarakat). Kebijakan ini diterapkan pada
saat perekonomian mengalami resesi atau depresi.
Kebijakan moneter ekspansif ini disebut juga sebagai kebijakan moneter longgar (easy
monetary policy). Penerapan kebijakan ini seperti :
a. Politik diskonto (penurunan tingkat suku bunga)
b. Politik pasar terbuka (pembelian surat-surat berharga, misalnya saham dan obligasi).
c. Politik cash ratio (penurunan cadangan kas)
d. Politik kredit selektif (pemberian kredit longgar)
2. Kebijakan Moneter Kontraktif (Monetary Kontractive Policy)
Kebijakan moneter kontraktif adalah kebijakan yang dilakukan dalam rangka mengurangi
jumlah uang yang beredar. Kebijakan ini dilakukan pada saat perekonomian mengalami
inflasi. Kebijakan moneter kontraktif disebut juga dengan kebijakan uang ketat (tight money
policy). Kebijakan ini dapat diterapkan berupa :
a. Politik diskonto (peningkatan suku bunga)
b. Politik pasar terbuka (penjualan surat berharga)
c. Politik cash ratio (peningkatan cadangan kas)
d. Politik kredit selektif (pengetatan pemberian kredit)

2.3. Instrumen Kebijakan Moneter


Terdapat 4 instrumen pokok kebijakan moneter :
1. Politik Pasar Terbuka
Politik pasar terbuka merupakan kebijakan yang dilakukan oleh bank sentral dalam
rangka menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar dengan cara menjual atau
membeli surat-surat berharga pemerintah (government securities).Surat-surat berharga
pemerintah diantaranya adalah SBI (Sertifikat Bank Indonesia), SBPU (Surat Berharga Pasar
Uang), saham, dan obligasi.
Jika pemerintah ingin mengurangi jumlah uang yang beredar maka pemerintah akan
menjual surat berharga pemerintah kepada masyarakat. Dengan menjual SBI, uang dari
masyarakat akan tertarik masuk ke bank sehingga diharapkan jumlah uang beredar berkurang.
SBI hanya dijual oleh bank sentral.
Namun, jika pemerintah ingin menambah jumlah uang beredar maka pemerintah akan
membeli surat berharga. Dengan membeli SBI, pemerintah akan mengeluarkan uang kepada
masyarakat dalam pembeliannya sehingga terjadilah penambahan jumlah uang yang beredar
di masyarakat.
2. Politik Diskonto (Discount Rate)
Politik diskonto adalah kebijakan yang dilakukan oleh bank sentral dalam pengaturan
jumlah uang yang beredar dengan memainkan tingkat suku bunga. Tingkat bunga pada tiap-
tiap bank umum akan dipengaruhi oleh tingkat bunga bank sentral. Bank umum kadang-
kadang mengalami kekurangan uang sehingga harus meminjam ke bank sentral.
Jika pemerintah akan menambah jumlah uang yang beredar maka pemerintah
menurunkan tingkat suku bunga bank sentral. Dengan begitu, minat masyarakat untuk
menabung di bank pun berkurang. Sehingga, jumlah uang yang beredar bertambah. Selain itu,

Pelaksanaan kebijakan moneter diindonesia Page 4


juga mengakibatkan suku bunga kredit turun dan mengakibatkan masyarakat banyak tertarik
untuk mengajukan pinjaman ke bank.
Serta sebaliknya, jika pemerintah akan mengurangi jumlah uang yang beredar maka
pemerintah akan menaikkan tingkat bunga. Sehingga, hasrat masyarakat untuk menabung di
bank pun tinggi yang mengakibatkan jumlah uang yang beredar di masyarakat
berkurang. Selain itu, kenaikan suku bunga tabungan akan meningkatkan suku bunga kredit.
Dengan naiknya suku bunga kredit, masyarakat akan enggan untuk mengajukan kredit.
3. Politik Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio)
Rasio cadangan wajib adalah kebijakan bank sentral untuk menambah atau mengurangi
jumlah uang yang beredar dengan cara menaikan atau menurunkan cadangan minimum yang
harus dipenuhi oleh bank umum dalam mengedarkan atau memberikan kredit kepada
masyarakat.
Ketika pemerintah ingin menambah jumlah uang yang beredar maka pemerintah
menurunkan rasio cadangan wajib. Jika bank sentral menurunkan cadangan kas, berarti bank
sentral ingin menambah jumlah uang yang beredar. Dalam hal ini bank-bank umum diberi
kesempatan untuk dapat mengedarkan uang lebih banyak.
Sebaliknya, ketika pemerintah ingin mengurangi jumlah uang yang beredar maka
pemerintah menaikkan rasio cadangan wajib. Hal ini terjadi karena dengan naiknya cadangan
kas berarti bank umum harus lebih banyak menahan uang tunai untuk tidak diedarkan.
4. Kebijakan Kredit Selektif
Kebijakan kredit selektif adalah kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah dalam
pemberian atau tidaknya suatu kredit. Kredit selektif ini dilakukan dengan cara menentukan
syarat-syarat kredit yang dikenal dengan 5C. Pada saat pemerintah ingin menambah jumlah
uang yang beredar maka pemerintah akan melonggarkan pemberian kredit. Namun, jika
pemerintah ingin mengurangi jumlah uang yang beredar maka pemerintah akan mengetatkan
pemberian kredit.
Selain instrumen di atas, ada beberapa instrumen lain yang dipergunakan oleh pemerintah
dalam melaksanakan kebijakan moneter, diantaranya :
1. Imbauan Moral (Moral Persuasion)
Imbauan moral adalah kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar dengan
cara memberi imbauan kepada para pelaku ekonomi. Contohnya, menghimbau perbankan
pemberi kredit untuk berhati-hati dalam mengeluarkan kredit untuk mengurangi jumlah uang
beredar.
2. Politik Saneering
Bank Indonesia memiliki tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah.
Tujuan ini sebagaimana tercantum dalam UU No. 3 tahun 2004 pasal 7 tentang Bank
Indonesia. Kebijakan moneter yang dilakukan oleh bank sentral dengan cara pengguntingan
(pemotongan) uang disebut dengan politik saneering.
Politik saneering diterapkan ketika terjadi hiperinflasi. Instrumen ini pernah dilakukan BI
pada tanggal 13 Desember 1965. Pada saat itu, dilakukan pemotongan uang dari Rp.1.000
menjadi Rp.1. Hal ini dilakukan untuk menyehatkan kembali nilai uang yang sudah jatuh.
3. Devaluasi
Devaluasi adalah kebijakan bank sentral untuk menurunkan nilai rupiah terhadap mata
uang asing.
4. Revaluasi
Revaluasi adalah kebijakan bank sentral untuk menaikkan nilai mata uang dalam negeri
terhadap mata uang asing.

Pelaksanaan kebijakan moneter diindonesia Page 5


2.4. Tujuan Kebijakan moneter
1. Menjaga kestabilan ekonomi, artinya pertumbuhan arus barang dan jasa seimbang dengan
pertumbuhan arus barang dan jasa yang tersedia.
2. Menjaga kestabilan harga, artinya harga suatu barang merupakan hasil interaksi antara jumlah
uang yang beredar dengan jumlah uang yang tersedia di pasar
3. Mengedarkan mata uang sebagai alat pertukaran (medium of exchange) dalam perekonomian.
4. Mempertahankan keseimbangan antara kebutuhan likuiditas perekonomian dan stabilitas
tingkat harga.
5. Distribusi likuiditas yang optimal dalam rangka mencapai pertumbuhan ekonomi yang
diinginkan pada berbagai sektor ekonomi.
6. Membantu pemerintah melaksanakan kewajibannya yang tidak dapat terealisasi melalui
sumber penerimaan yang normal.
7. Meningkatkan kesempatan kerja. Pada saat perekonomian stabil, pengusaha akan
mengadakan investasi untuk menambah jumlah barang dan jasa sehingga adanya investasi
akan membuka lapangan kerja baru sehingga memperluas kesempatan kerja masyarakat.
8. Memperbaiki neraca perdagangan kerja masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan
meningkatkan ekspor dan mengurangi impor dari luar negeri yang masuk ke dalam negeri
atau sebaliknya.

2.5. Jalur Pembuatan Keputusan Kebijakan Moneter


Dalam menentukan suatu kebijakan moneter tentunya akan dimulai dari Gubernur
Bank Indoensia. Ia akan meminta pertimbangan kepada Dewan Moneter yang beranggotakan
Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Menteri Koordinator Ekonomi,
Keuangan dan Industri. Kemudian, akan terjadi perundingan tentang kebijakan apa yang akan
diambil dalam mengatasi masalah yang di hadapi.
2.6. Peran Bank Indonesia dalam Kebijakan Moneter
Bank Indonesia memiliki tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai
rupiah. Tujuan ini sebagaimana tercantum dalam UU No. 3 tahun 2004 pasal 7 tentang Bank
Indonesia. Hal yang dimaksud dengan kestabilan nilai rupiah antara lain adalah kestabilan
terhadap harga-harga barang dan jasa yang tercermin pada inflasi.
Untuk mencapai tujuan tersebut, sejak tahun 2005 Bank Indonesia menerapkan
kerangka kebijakan moneter dengan inflasi sebagai sasaran utama kebijakan moneter
(Inflation Targeting Framework) dengan menganut sistem nilai tukar yang mengambang (free
floating). Peran kestabilan nilai tukar sangat penting dalam mencapai stabilitas harga dan
sistem keuangan. Oleh karenanya, Bank Indonesia juga menjalankan kebijakan nilai tukar
untuk mengurangi volatilitas nilai tukar yang berlebihan, bukan untuk mengarahkan nilai
tukar pada level tertentu.
Dalam pelaksanaannya, Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk melakukan
kebijakan moneter melalui penetapan sasaran-sasaran moneter (seperti uang beredar atau
suku bunga) dengan tujuan utama menjaga sasaran laju inflasi yang ditetapkan oleh
Pemerintah. Secara operasional, pengendalian sasaran-sasaran moneter tersebut
menggunakan instrumen-instrumen, antara lain operasi pasar terbuka di pasar uang baik
rupiah maupun valuta asing, penetapan tingkat diskonto, penetapan cadangan wajib
minimum, dan pengaturan kredit atau pembiayaan. Bank Indonesia juga dapat melakukan
cara-cara pengendalian moneter berdasarkan Prinsip Syariah.

Pelaksanaan kebijakan moneter diindonesia Page 6


2.7. Pelaksanaa dan Sejarah Kebijakan Moneter di Indonesia

1. Sejarah Kebijakan Moneter di Indonesia


Kebijakan moneter yang diterapkan pada tanggal 13 Desember 1965 adalah politik
saneering. Mulai tahun 1960, kebutuhan anggaran pemerintah untuk proyek-proyek politik
semakin meningkat akibat isu konfrontasi yang terus dilakukan dengan Belanda dan
Malaysia. Hal ini juga disebabkan oleh besarnya pengeluran pemerintah untuk membiayai
proyek-proyek mercusuar, seperti Games of the New Emerging Forces (Ganefo) dan
Conference of the Emerging Forces (Conefo).
Dalam rangka mempersiapkan kesatuan moneter di seluruh wilayah Indonesia, pada
tanggal 13 Desember 1965, pemerintah menerbitkan sebuah alat pembayaran yang sah yang
berlaku bagi seluruh wilayah Indonesia melalui Penetapan Presiden (Penpres) No. 27/1965.
Ketentuan tersebut mencakup nilai perbandingan antara uang rupiah baru dengan uang rupiah
lama dan uang rupiah khusus untuk Irian Barat -Rp 1 (baru) = Rp 1.000 (lama) dan Rp 1
(baru) = IB Rp 1-, serta pencabutan uang kertas Bank Negara Indonesia, uang kertas, dan
uang logam pemerintah yang telah beredar sebelum diberlakukannya Penpres tersebut.
Sejak saat itu sampai bulan Agustus 1966, uang rupiah baru dan uang rupiah lama
beredar bersama-sama. Untuk menghilangkan dualisme tersebut, semua instansi swasta
diwajibkan untuk menggunakan nilai uang rupiah baru dalam perhitungan harga barang dan
jasa serta keperluan administrasi keuangan. Meskipun uang rupiah baru bernilai 1.000 kali
uang rupiah lama, tidak berarti bahwa harga-harga menjadi seperseribu harga lamanya.
Kebijakan ini justru meningkatkan beban pemerintah, jumlah uang beredar, dan inflasi.

2. Pelaksanaan Kebijakan Moneter di Indonesia dengan Sasaran


Kestabilan Harga: Menuju Inflation Targeting
Inflation Targeting merupakan kerangka kerja kebijakan moneter yang relatif baru
digunakan. Kerangka kerja kebijakan moneter ini pertama kali diterapkan oleh
Selandia Baru pada tahun 1990, dan semakin mendapatkan perhatian dari negara-negara
lain yang menghadapi masalah dalam penerapan kebijakan moneternya. Selain itu,
kerangka kerja
Inflation Targeting diyakini membantu bank sentral untuk mencapai dan memelihara
kestabilan harga
dengan menentukan sasaran kebijakan moneter secara eksplisit dengan berdasarkan
pada proyeksi dan target inflasi tertentu. Sejalan dengan diberlakukannya UU No.23
Tahun 1999, Bank Indonesia mulai mengkaji kemungkinan penerapan kerangka kerja
Inflation Targeting sebagai kerangka kerja kebijakan moneter di Indonesia.
UU No.23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia telah memberikan landasan hukum yang
jelas menyangkut kewenangan Bank Indonesia dalam melaksanakan tugasnya di
bidang moneter, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Di dalam
undang-undang tersebut juga telah secara jelas tersurat amanat untuk melaksanakan
kebijakan moneter dalam kerangka kerja Inflation Targeting, seperti tercermin dari
adanya makna independensi, akuntabilitas, dan transparansi. Penegasan
makna independensi pada proses tersebut disebutkan dalam Pasal 10 Ayat
1 undang-undang terebut diamanatkan makna independensi, yaitu bahwa “Dalam rangka
menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, Bank Indonesia berwenang: a.

Pelaksanaan kebijakan moneter diindonesia Page 7


menetapkan sasaran-sasaran moneter dengan memperhatikan sasaran laju inflasi
yang ditetapkan; …”. Sementara itu, makna akuntabilitas dan transparansi juga
tersurat pada pasal-pasal lain (Pasal 58 s.d. 61), antara lain penyampaian informasi
kepada masyarakat secara terbuka mengenai mekanisme perumusan kebijakan moneter
serta implementasinya dalam pengendalian moneter. Dengan sejumlah karakteristik
dasar Inflation Targeting yang telah dijelaskan sebelumnya, penerapan kerangka
kerja Inflation Targeting memerlukan pengembangan berbagai infrastruktur dan
mekanisme kerja. Untuk Bank Indonesia, pengembangan Inflation Targeting dimulai
dengan penataan mekanisme pengambilan keputusan di bidang moneter dalam
forum RDG. Dengan demikian, terdapat kejelasan proses perumusan kebijakan
moneter di Bank Indonesia, mulai dari penetapan sasaran inflasi dan arah kebijakan
moneter tahunan pada RDG awal tahun, evaluasi dan penetapan arah kebijakan
moneter triwulanan dalam RDG April, Juli, Oktober dan Januari, evaluasi dan
penetapan arah pengendalian moneter bulanan dalam RDG bulanan, hingga penetapan
pelaksanaan operasional pengendalian moneter dalam RDG Mingguan. Untuk
meningkatkan transparansi dan akuntabilitas publik, hasil-hasil keputusan
kebijakan moneter dalam RDG tersebut diumumkan dan didiskusikan secara luas
kepada masyarakat maupun dilaporkan kepada DPR. Dalam kaitan ini, untuk
mendukung kualitas evaluasi dan proyeksi ekonomi serta arah kebijakan moneter
tersebut, juga diperlukan berbagai persiapan operasional, seperti pengembangan
model-model ekonomi untuk proyeksi inflasi, nilai tukar rupiah, ekonomi makro,
hingga pengkajian transmisi dan pengembangan instrumen moneter. Selain itu,
kerangka kerja kebijakan moneter ini memerlukan dukungan sistem keuangan
dan perbankan yang sehat agar mekanisme transmisi kebijakan moneter ke sektor
riil dapat berjalan dengan lebih efektif. Selanjutnya, agar keberadaan kerangka kerja
Inflation Targeting dapat lebih dipahami oleh masyarakat luas, perlu dilakukan
langkah sosialisasi secara intensif dan terarah mengenai manfaat dari keberadaan
kerangka kerja tersebut

2.8. Indikator Stabilisasi ekonomi


Kebijakan moneter bertujuan untuk mencapai stabilisasi ekonomi yang dapat diukur
dengan :
1. Kesempatan Kerja
Semakin besar gairah untuk berusaha maka akan mengakibatkan peningkatan produksi.
Peningkatan produksi ini akan diikuti dengan kebutuhan tenaga kerja. Berarti akan terjadinya
peningkatan kesempatan kerja dan kesehjateraan karyawan.
2. Kestabilan Harga
Apabila kestablian harga tercapai maka akan menimbulkan kepercayaan di masyarakat.
Masyarakat percaya bahwa barang yang mereka beli sekarang akan sama dengan harga di
masa depan.
3. Neraca Pembayaran Internasional
Agar neraca pembayaran internasional seimbang maka pemerintah sering melakukan
kebijakan-kebijakan moneter. Pengaturan jumlah uang yang beredar pada masyarakat diatur
dengan cara menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar.

Pelaksanaan kebijakan moneter diindonesia Page 8


BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Kebijakan moneter adalah kebijakan pemerintah yang menyangkut tentang
pengaturan jumlah uang yang beredar dan penawaran uang pada suatu negara. Terdapat dua
jenis kebijakan moneter, yaitu kebijakan moneter ekspansif (easy moneter policy) dan
kebijakan moneter konstraktif (tight moneter policy). Dalam penerapan kebijakan moneter,
pemerintah memakai beberapa instrumen antara lain politik diskonto, politik cash ratio,
politik kredit selektif, politik pasar terbuka, politik saneering, revaluasi, dan devaluasi.
Tujuan utama kebijakan moneter adalah menjaga kestabilan ekonomi suatu negara.
Dalam pelaksanaannya, Bank Indonesia bersama pemerintah membuat keputusan dengan
menggunakan instrumen kebijakan moneter dalam mengatasi masalah perekonomian yang
ada di Indonesia. Semua itu diupayakan agar tercapainya stabilisasi ekonomi, antara lain
kesempatan kerja, kestabilan harga, dan neraca pembayaran Internasional

3.2 Saran

Pelaksanaan kebijakan moneter diindonesia Page 9


Daftar Pustaka

Alamsyah, Halim, et al. ( 2000). Framework for Implemeting Inflation Targeting in Indonesia, on BI-
IMF Conference on Monetary Policy and Inflation Targeting in Emerging Economies. Bank Indonesia.

https://www.yuksinau.id/kebijakan-moneter/#!. (diakses: pada hari Senin, 15 April 2019)

Nasir, M. 2014. Ekonomi Moneter dan Kebanksentralan. Jakarta. Mitra Wacana Media

Pelaksanaan kebijakan moneter diindonesia Page 10