Anda di halaman 1dari 3

Nama : Adryan Rizky Alviano

NPM : 1506674210

Islam Agama Para Nabi

Menurut QS 3:19, sesungguhnya agama (yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam.
Malah pada QS 3:83 ditanyakan Tuhan, “Apakah mereka mencari/memeluk agama lain dari
agama Allah ini, padahal kepadanyalah berserah diri (Islam) segala yang ada di langit dan di
bumi..?” Karena itu adalah tidak logis kalau para nabi dan rasul sebagai manusia pilihan yang
dipercaya dan diutus oleh Allah, sepanjang hidup manusia (sejak Adam sampai Muhammad
SAW) tidak diridhai dan tidak diterima Allah, karena tidak memeluk Islam umpamanya.
Al-Qur’an pada beberapa ayatnya dengan gamblang menyatakan bahwa para nabi
sesungguhnya memeluk agama islam.

“Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada
kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak-anaknya, dan apa
yang diberikan kepada Musa, Isa, dan Para Nabi dari Tuhan Mereka. Kami tidak membeda-
bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah kami berserah diri.
(Muslim).’ (QS Ali Imran, 3:84)
Nabi Ibrahim memeluk islam (QS 22:78; 2:132; 3:67)

ٰ‫صى‬
َّ ‫ى َو َي ْعقوبٰ َبنِي ِٰه ِإب َْرهِۦمٰ ِب َهاٰ َو َو‬ َّٰ ‫ٱّلل ِإ‬
َّٰ ِ‫ن َيبَن‬ َ ‫ص‬
ََّٰ ٰ‫طفَى‬ ٰ َ َ‫ن ِإ اَّل َوأَنتُم ُّم ْس ِل ُمونَ ف‬
ْ ‫ل ٱلدِينَٰ لَكمٰ ٱ‬ َّٰ ‫ت َموت‬

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub.
(Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu,
maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".

ْ َ‫ْٱلم ْش ِر ِكينََ ِمنَٰ كَانَٰ َو َما ُّم ْس ِل ًما َحنِيفًا كَانَٰ َولَ ِكن ن‬
َٰ ‫ص َرانِيا َو‬
‫ل يَهودِيٰا ِإب َْرهِيمٰ كَانَٰ َما‬

Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah
seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk
golongan orang-orang musyrik.

ٰ ‫ٱّلل فِى َو َج ِهد‬


‫وا‬ َّٰ ‫ل َو َما ٱجْ تَبَىك ْٰم ه َٰو ۚ ِج َها ِدهِۦ َح‬
َِّٰ ‫ق‬ َٰ َ‫ِين فِى َعلَيْك ْٰم َجع‬
ِٰ ‫ن ٱلد‬ْٰ ‫ِيم أَبِيك ْٰم ِملَّ ٰةَ ۚ َح َرجٰ ِم‬ َ َٰ‫ْٱلم ْس ِل ِمين‬
َٰ ‫س َّمىكمٰ ه َٰو ۚ إِب َْره‬
‫ٱلرسولٰ ِل َيكونَٰ َهذَا َوفِى قَبْلٰ ِمن‬ َّ ‫ش ِهيدًا‬ ٰ ِ َّ‫صلَوٰة َ فَأَقِيمواٰ ۚ ٱلن‬
َ ‫اس َعلَى ش َه َدا َٰء َوت َكونواٰ َعلَيْك ْٰم‬ َّ ٰ‫َصموا‬
َّ ‫ٱلزكَوٰة َ َو َءاتواٰ ٱل‬ ِ ‫َوٱ ْعت‬
َ َ ْ
َّٰ ِ‫صيرَُ َو ِن ْع َٰم ٱل َم ْولىٰ فَنِ ْع َٰم ۚ َم ْولىك ْٰم ه َٰو ب‬
ِ‫ٱّلل‬ ِ َّ‫ٱلن‬

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah
memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu
kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian
orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu
menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka
dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah
Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam shahihnya :

‫الرحْ َم ِن ب ِْن أ َ ِبي َع ْم َرة َ َع ْن أ َ ِبي ه َُري َْرة َ قَا َل قَا َل‬ ‫س َل ْي َمانَ َحداثَنَا ه ََِل ُل ْبنُ َع ِلي ٍ َع ْن َع ْب ِد ا‬
ُ ُ‫َان َحداثَنَا فُ َل ْي ُح ْبن‬ ٍ ‫َحداثَنَا ُم َح امد ُ ْبنُ ِسن‬
‫شتاى َودِينُ ُه ْم‬ ُ
َ ‫ت أ ام َهاتُ ُه ْم‬ ‫ا‬ َ ْ ْ
ٍ ‫سى اب ِْن َم ْريَ َم فِي الدُّ ْنيَا َواْل ِخ َرةِ َواْل ْنبِيَا ُء إِ ْخ َوة ٌ ِلعََل‬ َ َ َ
ِ ‫سل َم أنَا أ ْولى النا‬
َ ‫اس بِ ِعي‬ ‫ا‬ َ ‫صلاى ا‬
َ ‫َّللاُ َعل ْي ِه َو‬ ‫سو ُل ا‬
َ ِ‫َّللا‬ ُ ‫َر‬
ٌ‫احد‬ ِ ‫َو‬

Muhammad bin Sinan menuturkan kepada kami. Dia berkata; Fulaih bin Sulaiman
menuturkan kepada kami. Dia berkata; Hilal bin Ali menuturkan kepada kami dari
Abdurrahman bin Abi ‘Amrah dari Abu Hurairah –radhiyallahu’anhu-, dia berkata; Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Aku adalah orang yang paling dekat dan paling mencintai Isa bin Maryam di dunia
maupun di akhirat. Para nabi itu adalah saudara seayah walau ibu mereka berlainan, dan agama
mereka adalah satu.”

(HR. Bukhari dalam Kitab Ahadits al-Anbiya’, lihat Fath al-Bari [6/550]. Diriwayatkan
pula oleh Muslim dalam Kitab al-Fadha’il)

Hadits yang agung ini menyimpan pelajaran berharga bagi kita, antara lain :

1. Ibnu Hajar mengatakan, “Makna hadits ini adalah pokok agama mereka -para nabi-
adalah satu/sama yaitu tauhid, meskipun cabang-cabang syari’at mereka berbeda-
beda…” (Fath al-Bari [6/549])
2. Hadits ini menunjukkan bahwa agama para nabi yang diutus oleh Allah di muka bumi
ini adalah tauhid yaitu memurnikan segala bentuk ibadah kepada Allah semata. Hal itu
sebagaimana firman Allah (yang artinya), “Allah mensyari’atkan bagi kalian ajaran
agama yang telah Allah wasiatkan kepada Nuh, dan sebagaimana juga Kami wahyukan
kepadamu, dan yang Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu hendaknya
kalian menegakkan agama dan tidak berpecah belah di dalamnya…” (QS. as-Syuura :
13). Ibnu Katsir menjelaskan di dalam tafsirnya bahwa agama yang diajarkan oleh
segenap para nabi itu adalah beribadah kepada Allah semata tiada sekutu bagi-Nya,
meskipun syari’at mereka berbeda-beda (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [7/147]). Hal
itu sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah (yang artinya), “Dan tidaklah Kami
mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad) melainkan Kami wahyukan
kepadanya bahwa; tidak ada sesembahan yang benar selain Aku, oleh sebab itu
sembahlah Aku.” (QS. al-Anbiyaa’ : 25).
3. Hadits ini merupakan bantahan telak bagi kaum atheis yang menolak agama.
4. Hadits ini juga merupakan bantahan bagi kaum Nasrani yang mengaku mengikuti Nabi
Isa ‘alaihis salam namun tidak mau tunduk kepada ajaran Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam, dan ia juga menjadi bantahan bagi kaum Yahudi. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di
tangan-Nya, tidaklah mendengar kenabianku seorang di kalangan umat ini, Yahudi
ataupun Nasrani lalu meninggal dalam keadaan tidak mengimani ajaranku melainkan
dia pasti termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman dari Abu
Hurairah radhiyallahu’anhu).
5. Hadits ini merupakan bantahan telak bagi kaum Liberal dan Pluralis (semacam JIL dan
begundal-begundalnya) yang mengatakan bahwa semua agama itu benar; maksud
mereka Yahudi, Nasrani dan Islam adalah dilandaskan pada monothesime (baca:
tauhid) –oleh sebab itu ada di antara mereka yang menulis buku dengan judul ‘Tiga
agama satu tuhan’ [?!}– dengan alasan bahwa semua agama itu adalah diturunkan oleh
Ibrahim ‘alaihis salam. Sungguh dangkal akal mereka, sepertinya mereka belum pernah
membaca -atau pura-pura tidak tahu- ayat (yang artinya), “Ibrahim bukanlah seorang
Yahudi ataupun Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang bertauhid dan muslim,
dan dia sekali-kali bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran :
67). Imam Ath-Thabari mengatakan : Ini merupakan pendustaan dari Allah ‘azza wa
jalla terhadap klaim orang-orang yang mendebat ajaran Nabi Ibrahim dan millahnya
dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Mereka mengklaim bahwa Nabi Ibrahim berada di
atas millah (agama) yang mereka anut. Ayat ini menjadi penegas sikap berlepas dirinya
Ibrahim dari perbuatan mereka. Allah menegaskan sesungguhnya mereka itulah -
Yahudi dan Nasrani- yang menyelisihi agama yang beliau bawa. Hal ini menjadi kata
putus dari Allah ‘azza wa jalla bagi seluruh pemeluk Islam dan umat Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menetapkan bahwa mereka itulah -umat Islam-
orang-orang yang benar-benar menganut ajaran agama Ibrahim dan berjalan di atas
jalan-jalan dan syariat yang beliau gariskan, dan bukannya para pemeluk agama-agama
selain agama yang mereka peluk (Maktabah Syamilah). Allah juga berfirman (yang
artinya), “Sungguh telah kafir orang yang mengatakan bahwa al-Masih putra Maryam
itu adalah Allah, sedangkan al-Masih sendiri mengatakan, ‘Hai bani Isra’il, sembahlah
Allah Rabbku dan Rabb kalian, sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan
Allah maka sungguh Allah haramkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah
neraka, dan sama sekali tidak ada penolong bagi orang-orang yang zalim itu.” (QS. al-
Maa’idah : 72).

Islam yang di Bawa oleh Nabi Muhammad SAW telah Sempurna dengan Pernyataan
Allah dalam QS5:3

“..Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi Agama bagimu.”

Sumber: Buku Islam Agama Universal


Haditz