Anda di halaman 1dari 15

rakitnya dalarn nienyusu.

n koniposisi h irmonis, di sainping menunjukkan keluasaan


PE.11;o:),ilamcin hidur) clan bacaannya.
Mampu melukiskan situasi, peristiwa, g,(,jolak dan konflik batin, latihan secara benar-benar hidup
clan memesona itulall kekuatan utama karya-karya Budi Darina. Teknik ungkap yang mengalir
deras dengan kaliniat-kalimat yang kelihatan be-bas tetapi tetap terkontrol, membuat Olenka tetap
mernikat hingga ak-hir.
Kalau Olenka, Orang-orang Blooininton menggunakan setting dan tokoh-tokoh asing, yakni
Amerika Scrikat, maka novelnya Rafflus yang terbit tahun 1988, hadir dengan setting Surabaya-
suatu kawasan yang sangat dikenal ol~h sang novelis- dan tokolltokoh ceritanya hampir selurulinya
pribumi. Dibuka dengan kalimat yang isinya aneh, novel ini pun menggelitik batin kita untuk
membacanya hingga kalimat penghabisan.
Rafilus mati dua kali. Kemarin dia mati. hari ini, tanpa pernah hidup kembali, dia niati lagi.
Padahal semenjak bertamu dengan dia untuk pertama kali belberapa bulan lalu, saya mendapat
kesan bahwa dia tidak akan mati. Andaikata tumbang paling-paliiig dia hanya akan berkarat. Akan
mati meskipun demikian, hampir selamanya saya tidak dapat mengelak untuk berpendapat, bahwa
sosok tubuhnya tidak terbentuk dari daging, rnelainkan dari besi. Kulitnya hitan mengkilat, seperti
perinukaan besi yang polos clan hampir tidak perfiah berhenti digosok (Rafflus, halaman. 1,1)
Dalam novel ini, ditampilkan oleh sang novelis sejunilah tokoh yang berperilaku aneh, pandir,
tidak umum, perbuatan-perbuatan yang dilakukan para pelaku cerita hanyut tanpa bisa
dikendalikan, digerakkan oleh suatu Icekuatan di luar diri niereka, namun semuanya terkungk£ing
oleh suatu keterbatasan nasib, sehingga banyak kejadian yang berlangsung tidak sesuai dengan
yang digunakan para tokoh. Budi Darma sebagai sang pengarang memblarkan tokoh-tokoh itu
berkelebatan dan berkegiatan dengan bebas, memasuki masa silam clan mengaduk-adLiknya,
bercerita dengan sangat leluasa, hingga dalam novel ini akIn sangat.banyak kita jumpai cerita
berbingkai. Tokoh-tokoh dalam Rafflus bukan hanya menjadi tokoh yang menjalani peristiwa dan
menjadi cerita, melainkan balikan membwit cerita pengarang tanpa harus kelihatan klise, karena ia
berhasil i-riengolah sernua itil dengan sangat baik serta mendidikannya dengan teknil. khas Budi
Darma yang modern.

Di sarnping Leanehan-keanehan dalarn bentuk peristiwa, sosok Rafilus dan Van der Klooning
itupun penuli keanehan, karena mereka itu mengesankan bukan dari tanah. Banyak peristiwa

yang membenarkan kesan ini. Ketika kepala Rafilus tertimpuk gelas yang dilempaikan aku lirik
secara serampangan, terdengarlah bLinyi kelontong. Tiang listrik jadi bengkok-bengkok ketika
berbenturan derigan kepala Rafilus. Buku yang dipegang dan jok mobil yang diducluki Rafilus
ringsek, Balikan tergilas kereta api pun tubub Rafilus tidak hancur lebur, sedang Van der Mooning
Belanda hitam itu, juga rneinpilnyia beberapa kednehan sebagaimana Rafilus, antara lain: pecahlah
gelas, yang dipegangnya ber-

lubang-lubanglah amplop surat tebal yang dipegangnya.


Tokoh-tokoh lain seperti Pawestri, Jumarup, Sinyo Minor,

Albatrip, dokter Ahmad Bakri, Munandir, di samping Tiwar, aku lirik, hadir mengalir nielantunkan
peristiwa dari suatu dunia surrealistis atau melodratnatis. Barangsiapa melihat lukisan keanehan
prilaku orang-orang zaman sekarang, dalam karakter dan setting yang sangat hidup dan rinci, maka
membaca Rafflus' tentulah merupakan upaya yang tepat. Novel ini memang ineru-, pnkan contoh
yang sangat baik bagi perwujudan dunia jungkir

balik yang ,;(.stiri~,guliiiya punya pertautan sangat erat dengan kehidupan senyatanya, yang
dilukiskan secara sugestif. KeistimeIvaannya lagi, lewat penceritaan yang dilakukan secara sangat

trans, kita bisa menjumpai renungan-renungan kemanu i slan yang


subbin, suatu penghayatan adanya keterbatasan diri, siiatu kon
templasi yang juga bisa kita baca cerpen-cerpen Danarto dan
novel -novel Putu I/Vijaya.

L Putu Wijaya
Tampil dengan karya lel)ih banyak daripada Budi Darma dan sampai kini terus rnencipta dengan
karya-karya deras, adalah pengarang asal Bali, bernama 1 Custi Ngurah Putu Wijaya. Karyakarya
Putu-sebagairnana karya-karya lwan dan Budi Darma -terniasuk karya-karya clengan absurditas
kental. Hampir setiap novel clan cerpen (juga esai) yang tertulis Putu meniupkan angin
pernbaharuan, menoreliku warna beraneka pada cakrawala sastra

kita, begitu kaya akan kerliurit~,kian dan dimensi-dimensi baru. Juga unik. Ditulis dengan bahasa
yang sangat lancar, sederhana, niemikat, novel dan cerpen-cerpen Putu Wijaya mengantarkan
absurditas kehidupan di tengah kehidupan yang hirul, 1)ikiik da,i multidimensional.
Berbeda dengan Iwan dan Budi Darnia yang tiiet-lge(lep,iiikIii absurditas sebagai niateri cerita,
tidak jarang Putu Wijaya mernanfaatkan absurditas sebagai rnedia untuk melontarkan berbagai kri-
tik sosial. Karya-karya yang ditillisnya di Ainerika ~erik; t dall sepulangnya, semisal Pol, Darah,
Pas, Enipti, Pesta, 'Tak, Bos,
Sikat, Indonesia, Mulul, Fitnah, Pulang, membuktikan kebenaran pernyataan di atas, Momen ketika
Aston bermimpi meliliat Semar dalam Pol, jari Mirah teriris ketika inengupas bawang clan keltiar.
lah darah berwarna putili dalarn Darah, L.enar-benar dirrianfaatkan Putu sebagai alasan untuk
mengetengahkan rentinganrenungan sosial clan kemanusiaan yang luas.
Cerpenis clan novelis andal yang juga reporter, penulis skenario, resensi buku dan film yang
berbobot, pernirnpin grup [eater Mandiri dan sutradara drama jempolan ini, tak henti-fientinya
menciptakan karya-karya penuh inovasi, namun teta,) membawakan kekhasan Putu. Kebaruan dan
kckhasan yan~ dikedepan-kannya dalam sastra Indonesia meliputi:
1. Putu Wijaya sering menciptakan karangan dengan jLidiil
yang dibentuk dari kata seru atau jenis kata lain yang hanya satu kata. Contoli: Lho, Dor, Bum, Cas
Cis Ctis, Blong, Zat, Entah, Pol, Awas, AdA, Bos, Moh, Sobat, ?~tiali, Sepi, kcok, Anu.
2. Putu tak liabis-habisnya menghadirkan cerita-cerita
absurd, peristiwa aeng-aeng dan logika jurigkir balik. Sernua itu hadir sebagai imajinasi yang
berpikir sirnboL.k/ kias, sehingga tidak pas kalau ditafsirkan secara lugas. jika ddegan-adegan
tersebut dimaknai harfiali, timbUl kesan bahwa cerita Putu sungguh gila-gilaan. Contoh :
a. Merdeka yang mernasang alat vital almarhurn ayaliriya
di keningnya dalarn Sepi;
b. Kakek Bisma yang tiba-tiba muncul di Pasar Senin Jakarta nampak agung dengan ribuan
anak panah di tubuhnya berpidato panjang lebar dalam Bisma;
c. Aston yang rnenclan gambar-gambar semar yang ada
di,d,inding dan tempat tidur clengan harapan bermirnpi
la gi t entang Semar dalam Pol;

3. Hal-lial absitr~ clan peristiwa-peristiwa anch yang ditanyakan dalarn karya-karyanya


bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri dan hanya selcedar kekenesan. Selalu ada iiiak~ na dan
dimensi sosial serta renungan-renungan kemanusiaan di balik hal-hal yang absurd tersebut.
Absurclitas itu niernang dirnanfaatkan Putu sebagai jembatan penyeberangan yang
mengantarkannya mernasuki telaali-telaah sosial;
4. Iltitu marnpu mentiang ccritanya yang anch-aneh dan terkadang rerneh itu, dalarn bahasa
yang pijar, sangat lancar, rnernikat, ekspresif dan aktual.
5. Putu marnpu me ' rnaiifaatlcan kejadian apa saja, serta tokoh
siapa saja untuk dikernbangkan dan dijadikan surnber
inspirasi karya-karyanya. Imajinasi dan absurditas yang

menjisvai repertoar, novel dan cerpen-cerpennya kebanyakan jtisti.t..i chilharni olch peristiwa yang
pernah muncul di tengah rnasyarakat. Dengan penghayatan mendalarn, Putu rnenulis cerita dengan
rujukan beriktit:

a. Terbun Winya John Lennon (cerpen 1981


b. Merajalclanya ki.itniiialitas ( novel Nyali)
c. Perkosaan atas Swn Kiitzi?il-~ (skenario Perawan Desa)
d. Keiiiiirii~iA-.an kaz4m bangsawan (drama Bila AlIalanz Bertam
bah Malani)

e. Kisah t-ak-liat Rara Mendtit - Pranacitra (cerpen Aktor)


f. Penghaptisan becak (cerpen Pak Kroino)
g. Kepei.('tiilljtin pada klenik (novel Pol)

Dalarn banyak karyanya, Putu tidak jarang mengangkat kehidupan yang keras (tart getir yang
menimpa orang-orang awilm sebagai niateri ceritarlya.
PuW Wijaya adalah pengarang Indonesia yang menjadi pelanggan peraili nomor kejtiaraari
berbagai lomba penulisan repetoar, novel, cerpen yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta,
majalah Hor;son, Feivina, Kompas Minggu. Stasitin misal-
nya, adalah novel terbaik pilihan DI(J tahun 1977, Novel ini secara intens rnelukiskan pergulatan
seseorang menghadapi badai topan

yang menerpanya di sepanjang perjalanan lijdupnya. Tokoh utama.novel ini adalah ,:eseorang yang
sedang rnenunggu sesuatu di
sebuah stasiun. Telah dan akan diteniptilinya sederel 1)erjllajiIii, clan dalarn perjalanan tersebut,
dialaminya banyak sekali peristiwa yang tragis, getir clan konyol. Adi siridiriii-.siiiii..,lil te.-li~ldlp
perlakukan kejarn para petugas menghadapi orang-orang yang dituduh berbuat jahat - paclahal
orang orang tersebut tidak melakukan kesalahan apapun-, praktek meiijijikaii di kamar kecil, tidak
sewenang-wenang terhadap mayat gelanclangan, clan setci.tisiiy<l. Putu melukiskan senitia itu
secara sangat hidup, dramatis, i.nenyentuh. Bahkan, beberapa bagian dari novel ini
ii-ieii~,,es.ink~iii puitis.
Stasiun, tokoh pro(agonis yang hieiitiziggti di sana, orangorang yang hilir muclik, hiruk pikuk dan
bergegas, inereka yang terlempar dari stasiun yang sata ke stasiun yang lain, sLiiiggiili bermakna
simbolik. Sernua itu bisa kita tafsirkan 3ebagai penggambaran secara utuh perjalanan multidimensi
seorang rnanusia.

M. Danarto
Sastrawan Indonesia mutakhir yang punya karya-k~rya cemerlang dengan kualitas ticlak di bawah
lwarx, Putu dan Budi darma adalah Danarto. Tampil dengan tiga kumpulan cerpen, yakni Codlob,
Adain MaWfat, Berhala, Gergasi, ditambah cc. rpen-cerpen lepas yang dirnuat di Kompas Minggu,
Extra, Hori-,;~o~z, Pelita, Ulumul Qur'an, clan BOS, pengarang yang juga pelukis ini, telab
mernahatkan kepengarangannya dalam lembaran sastra Indoresia dengan tinta emas. Wan-ta-warna
baru clan keknasan dalarn cerpen-cerp~ennya, benar-benar membuat panorama langit sastra kita
makin indah clan semarak.
Danarto yang clikesaffi sebagai seorang sufi itu terrnasuk dalam deretan pengarang absurd. Namun
absurditas dalam karya-karyanya berbeda dengan abstirditi,s dalam karya lwan, Budi Darma, Putu
Wijaya. Kalau di tengah absurdditasiiy~i mereka arap muncul nilai clan renungan moralitas
kei-naiiusiaaii yang luas, maka di tengah absurditas Danarto, tidak jarang kita temukan nilai-nilai
sublim yang trasereden. Trasendensi karya-karya Danarto juga berbeda dengan nilai-nilai transeden
yang bisa kita baca pada karya-karya Hanika. jamil Suherman, Muharninad Fudeli, Kuntoeijoyo,
Ernha Ainun Najib.
Harnka clan Jamil lebili menernpatkan igama sebagai latar cerita clan lukisan suasana, seclang
agama dalam karya Fudoli,

,a tidak menirnbulkan kesan sekedar artifisial. Adapun


sciiing,, C if
KLI11t0Wijoyo, SLIC1,111 dillayati secaraa 1 b i mendalam,

dalarn cerpen-cerpen D,,.iii;irto, yang digulati secara intens clan Iiiibis-l,i~ii:)is~iii itu tidak
tampak ,.;el)agai sosok agania lagi, karena sudah rrierupakan upaya peleburan makliltik dengan
khaliknya, suatLI totalitas p'~i.igliiy~il:aii konsep wahdatul wttjud (wujtjd yang tunggal).
Cerpen-cerpen Danarto, terutama yang be~i-idul

Kewbung Adani. Ma'r~l,'(7t. Perjalanan Ibu, Nyayian Pohon,


Langit Bulan di Dasar Kolani, L(,nzpeiigati-Lenipetigall
Caltaya, Caliant, dengan jelas inenampakkan alarn mistik atau
ketasaufan, hal-hal gail) yang hanya bisa dicapai oleh orang-orang
yang telah sampai pada jalan rnakrifat, kedekatan yang mesra,
balikan keni~inLitiggala.ii alarn dengan Tuban, suatu keyakinan
babwa AllaWali witjud yang twiggal clan sejati itu, Alam sernesta
ini hanya dianggap sebagai paritulan eksistensi Allah, meman
carkan cahaya clan sifat-sifat-Nya. Namun karena pelukisan ten
tang konsep wahdatul wtijtid itu clemikian lugas dan total, timbul
lah kesan baliwa Danarto itu seorang panteis. Ini bisa kita simak
antara lain pada kaliinat-kalim,,.it berikut:
a. Mereka toli ticlak talw bahwa aku sedang mengandung

Tulian. (dalam Ke~-i.il)u~.ig Pengasingan)


b. Mu bukan Nabi clan bukan Dewa, aku hanyalah Allah

yang rig~ijawantili (dala m Adain Wrifat)


c. Akit bukan Rintrik Vang Buta. Akulall Tulian.
c]. Alangkah mahasucinya aku.
e. Ya, akit adalah Tuban, seinbahlah aku, Tetapi engkau juga
Tuhan, dia juga, niereka juga clan kvsembahlah sernuanya.
(c,d,e,f dalarn " 11)
Bukankah tokoh-tokoh dalarn cerpen-cerpen tersebut adalah manusia, makhluk, meski bukan
cialam arti tokoh darah claging?

Bukankah tidak beranak clan tidak cliperanakan dalarn sifat Allah (11(hlas :3)? Bukankah. Allah
itu berbeda dengan ciptaan-ciptaanNya? Bukankah alam semesta ini adalah ciptaan-Nya clan
bagaiinana mungkin sang ciptaan adalah Sang Pencipta itu sendiri?

Kalirnat-kalinlat di atas inernang mengesankan alarn adalah juga . 1 ' Uhan, merangkum Tulian,
Menyandang sifat-sifat Tuban, mernclnifestasikan Tulian
Panteisrne adalah paham vang, beranggapan bahwa, Tullian itu

ada di mana-niana. Melekat pada benda-benda, setiap ciptaan


n oleb Abcl,il Hadi
emengaann~ddunn zzaat~Tuhaann~HHaanni~7zaalluit ~FFaaiisuri, yaasntr ~oleb Abcl-il"H~,idi
y a M,1,
apa astra Melayii, pentah
M. disebut sebaeai penyair su i
"Sur~
u Tuh
M. i t e in V, ir
cl sebu seba a en 1 S 1 ava a
menulis larik-larik demikian:
Mu meliliat dengan mata Tuhan
Mu mendengar dengan telinga Tuban
Mu mer-isa dengan lidah Tuhan
Akulah Tulian
Tetapi apakah cerpen-eerpen Danarto yang sangat kaya akan elemen-elemen puisi itu hanya kita
tafsiri ,~elugasiiya? Apakah (Ii balik kalirnat-kaliwat berkesan panteistik itu (kalimat lain yang
tidak demikian jauh lebih banyak), tidak terkandung makna tersirat yang di dalamnya bersemayam
nilai-nilai keilahian sangat dalam? Kita h-a ati'k ni SP 11
y ~i cerpen terbaik ~-lorisoii 1968 yang
juga termuat dalam kucerpen Codlob.
Cerpen yang judulnya sangat unik ini bertokolikan Rintrik, wanita tunanetra yang setia menunaikan
darma/kebajikaii tanpa pamrih. Siang malam ia rnenguburkan puluhan bayi hasil perzinahan yang
dicampakkan ke lernbah romantis, yang kini telali lumat disapu badai. Meski bayi-bayi itu
merupakan buali k-mesuman, mereka tetaplah tanpa dosa. Karena itu mereka perk; disantuni penuh
kasili. Rintriklah vang melakukan sernua itu.
Keliadiran Rintrik bersama alunan denting pioanonya nan rnerdu di lembah itu, i-nerijadi
penghibux. hati daii p(~iiyejijk jiwii bagi para petani yang tinggal di seldtar sana. LebiMebib,
ketika musibah datang merighancuriumatkari tanaman mereka. Dari Rintrik, mereka mendapatkan
ajaran tentang Ketuhanan dan moral luhur, sehingga mereka pun secara tulus clan kliidi-nat
menobatkan Rintrik sebagai orang suci.
Rintrik adalah tokoh semesta, bukan tokoh darali-daging. la merupakan lambang dari kebijakan
sifat-sifat Tuhan. Tetapi Rintrik juga merupakan pribadi yang merangkum sifat-sifat sentesta,
sehingga sepintas kilas ia nampak hadir sebagai tokoli ko itroversial. Ia mengaku dirinya sebagai
benda mati yang tidak rnakall apa-apa kecuali tidak ada, tercipta dari sabda, tidak beraTlak dall
tidak diperanakkan. Namun, di saat orang-orang menyangsikan keadilan Tuhan, Rintrik berkata,
'Nestikah juga ktibilang bahwa Tuhan tidak adil karena diberi-Nya aku mata buta clan bLikaii mata
melek, seperti kalian punya?

Rintrik, sebagaimana tokoh-tokoh lain, rnemiliki beban derita. Ibuku adalah gadis yang diperkosa
clan seteIah aku lahir, ia bUI1LI1i diri. Ayal-ikt `ternyata ,.,eorang perampok pembunuh, clan
orang telah berhasil niei-nbui-xLtlinya, beberapa hari setelall aku laiiir".
Tetapi Rintrik ticl;-.ik ineratapi beban itu. la berkata, "Aku. adalab orang yang, senang. Senang
dengan al.-)a adaku clan kedu-
dukanku".
Alangkah rnistriusnya tokoh ini karena dalam suatu dialog, ia berkata, " Aku bukan Rintrik Yang
Buta, Akulah Tuhan." Dan ketika sang pemburu membanlahnya ketika ia mengatakan,

Alangkah mahasucinya aku" dengan argumentasi bahwa hanya Tuhan yang Mahasuci, Rintrik
berkata, "Mali,-isuci dari apa Dia? Adakah aib pada-Nya, hingga engkau mlenyucikah Dia?"
. Ketika Rintrik dituduli telah mempertubankan diri, ja berkata, " Mu tidak mempertuhankan diri,
aku hanya meningkatkan logika. Alw pernah dengar vepatah, bahwa manusia itu sud bagi Tuhan.
Salal*ali aku meningkatkan logikakii menjadi manusia adalah Tuhan bagi rnanusia lain.nya ?"
Tapi ezii,kiti telah melenyapkan Tuhart yang sebenamya."
justru aki.i men-iperliliatkan pribadi Mahatunggal yang seiiyata-ii~lataiiya. Ini! Serupa permata
Cahaya yangjelas menyelimuti kita. Saking jelasnya, liarnpir-hampir mata kita bisa merabanya.
Kita reriarigi permata cahaya itu, hingga kita sampai pada langitnya, pada jurangnya, pada
f)ojoknya clan tikungannya, dan kita dapati semuzinya wajali Tithan."
Rintrik, lalu siapakafi dia sebenarnya? Rintrik adalah juga hamba-Nya yang sangat rajin
bersembahyang, yang setiap bernafas, paru-parunya selalti menggetarkan asma Allah, seseorang
yang pernah mengajarkan kepada orang7.ormg yang datang kepadanya, bahwa sernbahyang yang
baik itu cuktip dengan menyebut s . atu perkatwin s;ija, yaitu asma Yang Mahakuasa: Allah! Pada
kesempatan lain, Rintrik meyakinkan pada tokoh antagonis, pernburu yang kejam dan iiienghuiat
Tulian, bahwa kita ini di dalarnNya. Kepada orang-orang yang berkumpul, Rintrik berkata, " Kita
sekalian ini ada di dalii-n'Ftili~iti. Ticlak mungkin kita ditinggalkan atau lari d.iril.)~idiiNya."

Dengan i-ii.itrikiiy~i, Dariarto mengasosiasikan kita pada tokoli-tokoh sastra sufi seperti Al Hallaj,
Faricidudin Attar, Syeh
Siti Jend~/ Harnzah Fansuri. Ending cerita pun tidak berbeda jal-111 dengan akhir hidup ala
Hallaj, clan Syeh Siti Jenar yang tragis. Rintrik dibunuh oleh sang pemburu dan menyarnbut
kehadiran sang maut dengan bibir i-nenyurigging senyum.
Tasauf model Danarto ini memang berangkat dari keyakinan bahwa alam semesta ini selalu
memancarkar. cahaya Tuhan.
Danartolah pengarang Indonesia mutalzhii. yang merasa pernah melihat bayi dari Tuhan, tukang
kebun yang Tuban, karnbing melintas yang Tuhan. Setiar, memandang sesuatu, ingatannya selalu
berlari ke Allah.
Oleh pengarang, Rintrik wpanya dimaksu,,.ikaii sebagai pancaran sinar dan perilaku Tuhan itu
sendiri. Rintrik pun pernall berkata, "Betapa hebatnya kalau pikiran kita pik~ran Dia, lidah kita
lidah Dia, hat! kita hati Dia, dan tinclakan kita tiiidak~,n Dia. Dari hadis Quds! (firman Allah yang
tidak tercantum dalam AI Qur'an) lah, kalimat di atas dirujuk.
Sastra sufl memang merupakan cipta sastra yang terIalu suntuk mengolah keA'ndahan pejalanan
cinta antara hamba dengati khaliknya, atau pemantinggalan citra insan dengan karsa kelien-
dak-Nya, sehingga terkesan miskir dimensi sosial. Tetapi apakah kenyataanya selalu demikian?
Ceipen-cerpen Danaito iiiisaliiyi, sangatlah kental dengan dimensi mistik, nanitin mei.eka pun
cukup kaya dengan nilai-nilai sosial, berikut kritik-kritiknya yang halus tapi mengena. Dalarn kita
temukan tokon gadis vang lemah terhadap gelora nafsu syaliwati, tokoh pernburu yang dik_ taktor
dan tega menodai putrinya sendiri, serta rnelciiyal)kati Rintrik karena, ketakutannya akan bayangan
kebenaran. Cerpencerpennya yang berjudul Godlob, Kecubung Perig(isihan, Pangping, Sandiwara
atas Sandiwara, Kolaiii Ayah, Dinding Wakiti, Dinding Ayah, Matahari Mabuk, Nabi Konglomerat
Stilaiman, Pelajarapi Perfitna Seorang Wartawan, cukup detail mengupas persoalan-persollan
kemasyarakatan di sekitar kita, di samping men6edepankan flilainilai kontemplatif, katartik,
su.fistik. Sedangkan Leiizpengail-Lerripengan Cahaya, selain menampilkan fenomena absurd
ayat-ayat Qur'an yang bisa menjalin clialog, juga membawa kita pada kepedulian terhadap derita
anak-anak Palestina yang tak kunjung henti digencet orang-orang Israel.
Kumpulan cerpen Berhala, secara halus menyindir sikap umurn Tanusia modeni yang cenderung
memberhalakan materi,

teknolog! canggih. juga


jilmu pengetahilan, jabatan, 'kcku;Asaan,
)olitik dan tiil.iyiii Selasa Kliwon. Cerpen-cerpen yang terhimpun
dalarn btikti iiii ptiriya latar l~on-iodemaii yang dominan, kaya
dimensi logika, jaLli bE~l'bed~i clengan dua kumpulan cerpen
Danarto terdahulu (Codloly (]an Adatn Ma'r~at) yang sangat intuitif.
Namun ini bukan berafti niereka itu miskin nilai transendensi,
ketasufan dan konteffiplasi. Lewat kumpulan cerpennya ini,
Danai-to tetap i-rit~iigajak kita i-i,ierenunghayati kenyataan sekitar,
serta keliidul)aii yang kita jalani. Banyak sindiran yang dilonthr
kannya terhadap pola. hiclup hedonistik (r-erpen"I"), sikap machia
velistik (cerpen Ccileretak dan Sei-pihan-serpihati, clan Panggung),
sikap menolak keterbatasan manusiawi (cerpen Dinding Anak). Di
sini Danarto tidak lagi menggali Icekayaan khazanah masa lampau.
seperti dilakukannya dalam kumpulan cerpen Codlob. Di potret*
dan diolal-uiya secara kreatif kehidupan modein yang, ada di
hadapannya, diliayatiriya secara intens dan ditafsirkannya secara
kaya fenomena-fenomena kehidupan yang tergelar. 1

Karena subyektivitas Danarto sebagai sastrawan, sufl begitu kuat, maka dalarn Berhala ini pun, kita
temukan juga hal-hal yang transenden dan berbau rnistik. Contoh- kehamilan Niken tanpa

benifi lelaki dalayn cerpen Anablit btikanlah Anakniu, kata Gibran


",kehadiran kernbaran ibu di sebuah dinding di hotel inewah"' dalam cerpen Ditiding lbu, anak
berair mata benang yang panjang sekali dalam cerpen Ceildera Mala, tubuh jaksa bergemurucuk
mencair inenjacli air yang inciig~,-etiangi:lantai persidangan dalam cerpen Langit Menganga,
kuburan eyang yang tiba-tiba terbuka lebar, dan ketika kain kafannya ditarik,"kain itu terulur
sepanjang ribuan meter clalam cerpen Selaniat jalan, Nek. Namun, karena
semtia itu ditainpilkan dalarn konteks kehidupan metafisik, kesan artifisial nyaris tidak kita
temukan. ~ Rupanya, Danarto sedang meyakinkan pembaca, baliwa pola berpikir orang-orang
modern yang kelewat rasionalistik itu tidaklah tepat, karena dibalik hal-hal yang lahiriah dan
rasional, acla juga dimensi batin dan keilahian yang harus kita imani, Yakni, sestiatu yang kini
justru acap diabaikan orang.

N. Burung-burung Manyar
Kritik sosial yang cukup sew, dengan humor-hurnor yang menggelitik dan penuli warna, dengan
idiom-idom yang sangat
dip engaruhi kultur clan bahasa Jawa, dengan pasti bisa kita jurnpai pada novel Burung-burzing
Manyar dari Y.B. Magunw;jaya. Pengarang kenamaan ying juga budayawan, arsitek clan )ator iiii,
adalah peraffi SEA Award yang diserahkan langsung oleh Ratu Sirikit dari Iliailand, sebagaimana
Danarto, Sutarji C.B., Abdul Hadi W.M. clan Sapardi)oko Damono.
Benarkah Btirung-btii.ut7g Momlar yang terbit perdana tahun 1981 bisa diketengil-ikkiii -ebxg~i
salah satu novel avant garde pada masanya?
la termasuk novel yang ber..ni. Dengan bahasanya yang lincah, renyah clan hidup, pengarang
mehgupas inasalah politik, perjuangan, sosial, intelektual, dalarn ranglcaian cerita yang meng-
asyikkan. Dengan mengambil setting masa pencludlikan Jepang, tahun-tahun awzil kenverdekaan
dengan latar belakang clash 1 clan II, meloncat ke arah Orcle Baru, Mangunwijaya menghiclupkan
noveInya dengan penggunaan bahasa Indonesia yang dimeriahkan kosakata jawa clan Belanda,
yang ditembakkansecara gencar. Menonjol dalarn kejujuran clan keotentikan clan realitas per-
juangan kemerdekaan Indonesia, tidak kalah telanjang dari apa yang pernah ditulis oleh Idrus
dalarn Dari Ave Mqria ke jalan Laffi ke Roma.
Keberanian Mangunwijaya nampak sekali pada point of z~iezv yang dipilihnya. Mu lirik adalah
seorang KNIL yang sangat anti jepang clan orang-orang republik kolaborator saudara tua, justru
lantaran maminya pernah dijadikan gundik tentara Dai Nippon, Lewat novel ini Mangun bersaksi
bahwa clunia ketentaraan diwarnai juga oleh kelcasaran, jiwa petualangan clan banditisine. Irli
tidak semata-mata terdapat pada pihak penjajah. Pejuang republik pun tidak semuanya clan tidak
selamanya putih. Di antara mereka, terdapat juga sosok yang r-nembuat was-was clan cernas hati
rakyat. Mangun mencuatkan tokoh Samsu alias Setan Kopor.
Pengalaman masa keeil Setadewa clan Larasati serta kehidupan yang melingkunginya, dilukiskan
sang pengarang begitu indah. Konflik antara orang-orang republik versus pihak penjajall terlukis
pijar. Oleh Teto, tokoh-tokoh republik seperti Bung Karno, Bung Hatta, H. Agus Salim, Sutan
Syahrir dilectek habis-habisan~ (Padalial dalam realitas, Syahrir adalah Mangun). Ungkapan binal,
lugas clan lucu jalin-menjalin dengan ungkapan yang plastis, sugestif clan simbolil(mernbuat novel
ini memikat.

Banyak nian peristiwa clan pengalaman dalisyat terungkap dalam novel ini. Juga rnomen-momen
romantik clan tragik. Dari iiox,ci yang sc!pijit~..s kilas tidak nasionalistik itu, bisa kita gali
dalarn-dalarn berbagai informasi kesejarahan serta bisa pula merasakin pengliay,,1.itan jatidiri
ken-iarxi.isiaan.
Alam berkernbang jadi g.,.iru di sini, itu terungkap arif dalarh
disertasi Atik yang membahas "jatidiri clan bahasa citra dalam
struktur koniunikasi varietas burung bploccus manyar." Nilai
ke,i-n,itit.isia,ii.i yang palffig dalain tentang cinta cl ' an persaudaraan
serta organ vital wanita, dikupas dengan pendekatan filosofis reli
gius humanistik. Persoalan tentang psikologi, kehidupan orang
orang asrama kolonial, kebidupan keraton clan pedesaan di
lereng-lereng Gunung Merapi, juga kehidupan modem yang inte
lektualistik serta sejumlah pelanggaran hulcurn di masa Orde
Baru, bisa juga kita peroleh dari novel ini.

0. Seno Garnira Ajidarina: Manusia Karnar


Nama yang layak dicatat sebagai pengarang avanta garde
setelah periode Danarto adalah Seno Cumira A idarma, di sam
z j
ping Harnsad Rangkuti, Hamid jabbar, clan lain-lain. Manusia Kaniar, cerpen Seno yang juga
digunakan sebagai judul buku kumpulan cerpen, mciiiperlilial:kan tragedi manusia modern yang
selalu rnerasa terteror oleh keidaaii sekeliling yang dianggap penuh penipuan, kernunafikan,
krirriinalitas clan kernaksiatan. Jadilah sang pelaku utami sebagai rnanusia yang terbelenggu oleh
dirinya sendiri, karena ia selalu berikhtiar sesedikit clan sesebentar mungkin berkornunikasi
dengan orang lain. la teiiggelamkan dirinya di kamar untuk waktu tidak terbatas,
Narnun, tinggal di karnar di sebuah rumah yang hanya berpintu satu, sang tokoh ternyata sempat
mencatat prestasi cemerlang clan meraih keterkenalan dalarn bidang penulisan clan
kai.aiig-mengaran~, sesuatu yang rasanya nyaris nonsens. Di samping itu ia pun tidak pernah
ketinggalan zaman. Ia bisa hidup mewah dengan peralatan rumah tangga serba modern serta tak
pernah mengalami kesulitan dalarn hal-hal keseharian. la seialu aktif menyerap Ialu-1intas
informasi clan ilmu pengetahuan lewat media tertentu tanpa harus keluar rumah. Ia selalu. menolak
diternui clan berkomunil<asi secara wajar.
Apakah makna sernita itu? Ini merupakan potret kijiwaan manusia modern yang dilanda krisis
kepercayaan terhadap manusia lain. Ia merasa khawatir terusk Dalam banyak hal ia nnerasa cukup
kuat, sehingga tidak membutulikan bantuan ot-ang lain. Ii niengolah eksistensi dirinya dengan
mengisolasi diri sec:-ira total.
Berbahagiakah ia dengan sernua itti? Akti lirik ticlak tahu.
Setelah lama manusia kamar malang rnelintang dengan karyakaryanya yang mendotninasi media
massa dan penerbitan dengaii sejunilah penghargaan tingkat nasional, popularitasnya pun ;urLit
tertimbun oleh mengorbitnya sosok-sosok lain. Manusia kamai. hilang lenyap dari percaturan.
Ketika aku lirik melacak ke tempat tinggaInya, pintu kecil satu-satanya terkunci rapat dan inakanaii
rantang pun sudah tidak lagi diantar lewat pintu itu. Muncullah dugaan pahit: jangan-jangan sang
manusia karnar telah r-'latl; iiseng, sendiri.
. Seno.Cu'rrdra Ajidarnia alias Mi~a Sato, lahir di Bostoti 1958, adalah pengarang mucla yang
inelimpali ruah dengan cei.ita-(:ei.itil penuh keaeng-aengan. Tersebar luas di berbagai media,
sebagian besar karyanya sangat suntuk oleli penghayatan sosial (ieiigiiii titik tekan pengungkapan
kehidupan orang-orang papan bawah. Cerpennya yang berjudul "GgrrhhW', yang dimuat di
Koinpas Minggu tahun 1986, nienceritakan kebangkitan peiijahat-peiijal-iat jalanan yang dihabisi
oleh petrus (penembak misterius) setelall menjadi semacam zombie. Mereka membuat teror di
j?laii-j~ilaii, terutaina di depan pernbuat daftar hitain clan petugas periembakan. Zombie yang
tubjihiiya terus mengeluarkan cairan dan ribuan ulat yang terus kruget-kruget itu, tidak bisa
ditumbaiii,,kan oleh senapan mesin biasa- Untuk meredam aksi teror rnereka,
dibutuhkan ratusan rudal.
Ggrrhh mengkritil( praktek eksek.usi oleh petrus terhadap
para penjahat di jalan-jalan, vang dianggap kurang pas untuk sebuah negara hukum. Seno
mencium, di antara sekian puluh yang dieksekusi, lalu dikuburkan dalarn satu kubangiu-i raksasa,
ada penjahat kelas teri yang terlalu berlebilian untuk divonis mati. Tragedi Asih dari Stiaininya
Stikab dan Teriakan di Pagi Bwa
merupakan potret tajani penderitaan orang-orang k.ecil. Secara dramatis, kedua cerpen tersebut
mengalunkan elegi orang-orang dari dunia papan bawah yang tergencet dan keol., oleh kehidupan
metropolitan yang brutal dan tidak pedulian terhadap nasib orang

lain. Semetitara itii c(~r.1)e" Becak Terakhir di Dunia atawa Ranibo menampilkati iroiii-irorij getir
nasib inalang tukang becak dan koiiflik-koti'lik mercka demigim petugas angart-angan rnereka
yang jauli melarnbung, !~erta Penyelesaian problem penggarukan dan 1--)el,ij-tiiig~iii becak alias
penghapusan lapangan kerja si tukang becak yang ebili lia.n),a'.,~aiiipel. Dalam pada itu cerpen
Seno yang b(-,t-jll(ILII Helikopter daii flichirig Scorang Peg(.i.~t?ai Negeri atawa The Pliipiocliio
Deases, clengan gay,~.:t pengucapannya yang koeak dan SLIrrealistik, iiieiiyiiiclir telak kehidupan
orang-orang kaya yang over akting, pandir, dan akhirnya kena batunya.
' Seno Gurnit.a Ajidanyta, sebagaimana Hanisad Rangkuti, Satyagraha Fliirip, Gerson. Po),k,
adalah pencerita yang enak. Ideidenya begitu beragam, loncatan-loncatan i.maj'lnasinya amatlah

lincah. Cerpen-cerpennya yang berjudul Ciirti S~fi Lewal, Manusta Ciirztlii, Midtii,~ht Express
dengan bahasanya yang plastis dan dialognya yai-ig:iiierigiiii. lancar, menelantarkan
cerpen-cerpennya 'begitu nieniesona dan stjiiggtili layak diperhitungkan.
Demikianlah, jika kita eeri-riati contob novel-novel avant gardc yarig ada, demikian juga
cerpen-cerpennya serta bentuk sastra lainnya, selalu kita saksikan di sana sesuatu ying barti,
sesuatu

yang bukan keseharian, yang segar dan progres. Mereka bukakan eakrawala-eaki'~iival~.i lain yang
belum pernali kita jumpai. Add

pula dunia jL]1'1.gkir-balil~. di sana. Namun sebagai dunia alternatif clan dunia simbol yang di
sainping nierupakan ekspresi kreatif 1<ebei-aclaan pengarang juga mewujudkazi proses
kornunikasi sosial mereka. Karya sastra bukanlah seni eksklusif yang asyik dengan dirinya sendiri
tanpa niernperhitungkan elcsistensi pembaca. Sasti.a avant garde dan sastra absurd menianglah
sebuah dunia otonom yang punya sisteni logika internal, yang aeng-aeng yang berbeda dan
mungkin mertyebal dari nilai-nilai keawarnan dan
konvensionalitas ' namun mereka sebenarnya selalu punya kaitan erat deiigaii clunia lain di luar diri
mereka, yakni dunia realitas clan dunia kewajaran. Sastra avant garde dan sasatra absurd

sesLinggLilihya sangat dekat, bahkan menyatu dengan kehidupan inj, karena kehichipan ini sendiri
pun mengandung pula absurdtas, keiiitilticlirnension,,..il,-iri dan keserbamungkinan. Ada benang
rnerah yang ineiiipei.tat.ttkan antara seni avant garde dan absurd

dengan Chinia serba mungkin dan kehidupan multidimensi. Dunia jLlrigkir-balil< Budi Darma dri
Putu Wijaya, absurditas lwan Sima-

tupang dati Dariarto, ternyati punya lcandungan nilai sosial yang


tidak kalah tajam dan intens dibandingkiin prisi-puisi kritik sosial Rendra dan Etnha Aintin Najib.
Sesunggtihnyalah seni avant garde dalam fiks! su'sastra Indonesia, tidak pernali nieniriggalkan
masyarakat. Mereka justru merigocok dan mengaduk-aduk k-)ndisi rutin masyarakat dengan
terobosan-terobosan bani yang iyi,,njangkau ke depan, yang lebih tegar nienghadapi empasan misa
dan inpitan uang.