Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PRAKTIK KLINIK KEBIDANAN 1

OKSIGENASI KEPADA TN “B” USIA 58 TAHUN DENGAN CHRONIC


KIDNEY DISEASE (CKD) DI RUANG PENYAKIT DALAM 1 (TAWANG
ALUN), RSUD BLAMBANGAN BANYUWANGI

OLEH :
Mega Fitria Carnos
2017.10.114.019

PEMBIMBING LAHAN :
Sugiyarno, S.Kep., Ners

PEMBIMBING INSTITUSI :
Eliyawati, S.ST

PRODI D III KEBIDANAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS IBRAHIMY SUKOREJO SITUBONDO
TAHUN AKADEMIK 2018/2019

1
LEMBAR PENGESAHAN

Judul : Oksigenasi Kepada Tn “B” Dengan Chronic Kidney Disease


(CKD) Di Ruang Penyakit Dalam 1 (Tawang Alun), Rsud
Blambangan Banyuwangi

Di sahkan pada

Hari : Sabtu
Tanggal : 13 Juli 2019
Tempat : Ruang Penyakit Dalam 1 (Tawang Alun), RSUD Blambangan,
Banyuwangi.

Mahasiswa,

Mega Fitria Carnos


NIM. 2017.10.114.019

Mengetahui,
Pembimbing Lahan, Pembimbing Institusi,

Sugiarno, S.Kep., Ners Eliyawati,S.ST


Kepala Ruangan,

Teguh Sanyoto, S.Kep., Ners

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya kepada saya untuk menyelesaikan laporan Pendahuluan pada pasien
penyakit dalam , serta laporan ini merupakan tugas bagi saya sebagai mahasiswa
Prodi D III Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Ibrahimy Situbondo. Saya
sebagai penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah
memberikan bantuan untuk terselenggaranya penulisan laporan ini, diantaranya :

1. K.H.R.Achmad Azaim Ibrahimy Dhofir, selaku Pengasuh Pondok


Pesantren Salafiyah Safi’iyah Sukorejo Situbondo.
2. Ibu Nyai Hj.Djuwairiah Fawaid As’ad.M.Pd. Selaku Dekan Fakultas Ilmu
Kesehatan
3. Ibu Eliyawati, S.ST,. Selaku dosen wali TK II angkatan Sepuluh Prodi D
III Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Ibrahimy Situbondo. Sekaligus
Pembimbing institusi dalam praktek PKK 1A yang telah banyak memberikan
dukungan, bimbingan, masukan dan arahan selama menyusun laporan ini.
4. Bapak Sugiyarno, S.Kep., Ners selaku pembimbing lahan yang telah
banyak memberikan bimbingan, masukan, dan arahan selama penyusunan
laporan ini.
5. Keduaorangtua dan keluarga besar yang tak pernah berhenti untuk
senantiasa mendoakan untuk kelancaran proses perjuangan pembuatan laporan
ini.
6. Pihak pasien, serta teman-teman seperjuanganku Midwifery angkatan X
yang sangat membantu dalam penyusunan asuhan laporan ini.
Saya menyadari bahwa penyusunan laporan ini banyak kekurangan dan
kesalahan oleh karena itu saya mengharap kritik dan saran demi perbaikan dan
penyempurnaan laporan ini.

Saya berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat dan menambah


pengalaman bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis serta mahasiswa Prodi
D III Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan pada khususnya.

3
Banyuwangi, 13 Juli 2019

DAFTAR ISI

Halaman Judul.........................................................................................................
Lembar Pengesahan.................................................................................................
ii
Kata Pengantar.........................................................................................................
iii
Daftar Isi...................................................................................................................
iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1...................................................................................................................
Latar Belakang
........................................................................................................................
1
1.2...................................................................................................................
Tujuan
........................................................................................................................
2
1.3...................................................................................................................
Manfaat
........................................................................................................................
3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1...................................................................................................................
Konsep Perasat
........................................................................................................................
5
2.2...................................................................................................................
Konsep Manajemen SO
........................................................................................................................
17
a................................................................................................................
Konsep Subjektif
..................................................................................................................
18

4
b................................................................................................................
Konsep Obyektif
..................................................................................................................
19

BAB III TINJAUAN KASUS


3.1...................................................................................................................
Data Subjektif
........................................................................................................................
22
3.2...................................................................................................................
Data Objektif
........................................................................................................................
24
3.3...................................................................................................................
Perasat Yang Dilakukan
........................................................................................................................
26

BAB IV PENUTUP
4.1...................................................................................................................
Kesimpulan
........................................................................................................................
28
4.2...................................................................................................................
Saran
........................................................................................................................
29

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................
30

5
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masyarakat menganggap selama ini penyakit yang banyak
mengakibatkan kematian adalah jantung dan kanker. Sebanarnya penyakit
gagal ginjal juga dapat mengakibatkan dan kejadiannya terus meningkat.
Chronic Kidney Disease (CKD) atau penyakit ginjal kronik merupakan
masalah kesehatan diseluruh dunia yang berdampak pada masalah medik,
ekonomik dan social yang sangat besar bagi klien dan keluarganya, baik di
negara-negara maju maupun di negara-negara.
Ginjal adalah salah satu organ utama system kemih atau uriner
(tractus urinarius) yang berfungsi menyaring dan membuang cairan
sampah metabolism dari dalam tubuh. Fungsi ginjal secara umum antara
lain yaitu filtrasi, pada akhirnya ginjal akan menghasilkan urine,
keseimbangan elektrolit, pemeliharaan keseimbangan asam basa,
eritropoiesis dimana fungsi ginjal produksi eritrosit, regulasi tekanan darah
dan toksin. Akibat dari berbagai penyebab dari gangguan ginjal dapat
menurun fungsinya sehingga fungsinya tidak berfungsi lagi yang disebut
dengan gagal ginjal.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan pertumbuhan jumlah
klien gagal ginjal pada tahun 2011-2013 telah meningkat 50%. Indonesia
termasuk saah satu negara dengan tingkat klien gagal ginjal yeng cukup
tinggi. Menurut data survei yang dilakukan PERNEFRI 2013 ini mencapai
30,7 juta penduduk yang mendeerita penyakit CKD (WHO, 2013).
Riset Kesehatan Dasar (RisKesDas) pada tahun 2013 melaporkan
prevalensi penyakit gagal ginjal kronis berdasarkan diagnosis dokter
prevalensi gagal ginjal kronis pada pria di indonesi sebesar 0,3 % dan pada
wanita di Indonesia sebesar 0,2%. Riskesdas juga melaporkan prevalensi
gagal ginjal kronis terbesar pada klien berusia ≥75 tahun, yaitu sebesar
0,6%. (Riskesdas, 2013).
Masalah yang didapat pada klien CKD ditinjau dari gangguan
kebutuhan dasar yaitu, Kebutuhan Oksigenasi merupakan kebutuhan dasar

1
manusia yang digunakan untuk kelangsungan metabolism sel tubuh,
mempertahankan hidup hidup dan aktifitas berbagai organ atau sel. Pada
pasien CKD cenderung ditemukan adanya pernafasan yang cepat, irama
nafas yang tidak teratur, frekunsi nafas yang meningkat diatas normal,
adanya retraksi interkostalis dan epigastrium.
Dalam meningkatkan kebutuhan dasar pasien yang mengalami
Chronic Kidney Disease (CKD) peran perawat ataupun tenaga kesehatan
dalam upaya rehabilitative yaitu mempertahankan keadaan klien agar
kondisinya tidak menurun dengan memberikan kebutuhan dasar seperti
Oksigenasi (O2) dan selalu memantau cairan dan elektrolit atau mencegah
terjadinya komplikasi yang tidak diinginkan.
Bagi Seorang Tenaga Kesehatan harus memahami hal tersebut, dan
harus mampu melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan Chronic
Kidney Disease (CKD). Melakukan pengkajian pada pasien, menentukan
diagnosa pada pasien, menyusun rencana tindakan, dan
mengimplementasikan rencana tersebut, serta mengevaluasi hasilnya.
Pasien Chronic Kidney Disease (CKD) tidak hanya membutuhkan obat –
obatan dari dokter saja, tetapi sangat penting mendapatkan asuhan
keperawatan dalam memenuhi kebutuhan dasar yang memadai selama
perawatan di rumah sakit.

1.2 Tujuan
a. Tujuan Umum
Adapun tujuan penulisan Laporan Praktik Klinik Kebindanan 1
diharapkan setelah melakukan praktek di RSUD Blambangan
Banyuwangi khususnya di Ruang Penyakit Dalam 1 (Tawang Alun)
mahasiswa Prodi D-III Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Ibrahimy dapat menguraikan pengalaman nyata serta
memahami dalam memberikan asuhan keperawatan dalam memenuhi
kebutuhan dasar pada Tn “B” dengan riwayat CKD.

b. Tujuan Khusus
1) Mahasiswa mampu menguraikan dan melakukan
pengkajian dasar pada Tn “B” dengan riwayat CKD di Ruang

2
Penyakit Dalam 1 (Tawang Alun) RSUD Blambangan
Banyuwangi.
2) Mahasiswa mampu menegakkan Diagnosa Keperawatan
pada Tn “B” dengan riwayat CKD di Ruang Penyakit Dalam 1
(Tawang Alun) RSUD Blambangan Banyuwangi.
3) Mahasiswa mampu melakukan Perencanaan (Intervensi)
Keperawatan pada Tn “B” dengan riwayat CKD di Ruang
Penyakit Dalam 1 (Tawang Alun) RSUD Blambangan
Banyuwangi.
4) Mahasiswa mampu melakukan Implementasi Keperawatan
pada Tn “B” dengan riwayat CKD di Ruang Penyakit Dalam 1
(Tawang Alun) RSUD Blambangan Banyuwangi.
5) Mahasiswa mampu melakukan Evaluasi Keperawatan pada
Tn “B” dengan riwayat CKD di Ruang Penyakit Dalam 1 (Tawang
Alun) RSUD Blambangan Banyuwangi.
6) Mahasiswa mampu melakukan Pendokumentasian
Keperawatan pada Tn “B” dengan riwayat CKD di Ruang
Penyakit Dalam 1 (Tawang Alun) RSUD Blambangan
Banyuwangi.

1.3 Manfaat
a. Bagi Penulis
Sebagai bahan untuk pemenuhan tugas dan laporan dalam
Praktik Klinik Kebidanan 1 di RSUD. Blambangan Banyuwangi serta
untuk mengembangkan dan menambah pengetahuan tentang asuhan
keperawatan dan pemenuhan kebutuhan dasar manusia dengan riwayat
pasien Chronic Kidney Disease CKD.
b. Bagi Pembaca
Sebagai bahan referensi dan menambah pengetahuan tentang
penyakit Chronic Kidney Disease CKD dan Asuhan Keperawatan
dalam pemenuhan kebutuhan dasar pasien dengan riwayat penyakit
Chronic Kidney Disease CKD.

3
4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Perasat


a. Pengertian Terapi Oksigenasi
Oksigen merupakan salah satu komponen gas dan unsur vital dalam
proses metabolisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel-sel
tubuh, secara normal elemen ini diperoleh dengan cara menghirup udara
O2 setiap kali bernafas, masuknya oksigen kejaringan tubuh ditentukan
oleh system respirasi kardiovaskuler dan keadaan hematologi. (Wartonah
& Tarwoto 2006)
Oksigenasi adalah Proses penambahan gas tidak berwarna dan tidak
berbau (O2) yang sangat dibutuhkan dalam proses metabolisme sel.
Sebagai hasilnya, terbentuklah Karbon Dioksida (CO2). Energi (E), Air
(H2O). Akan tetapi penambahan O2 yang melebihi batas normal pada tubuh
akan memberikan dampak yang cukup berbahaya terhadap aktifitas sel.
(Wahit Iqbal Mubarak, 2007)
Terapi Oksigen (O2) merupakan suatu intervensi medis berupa upaya
pengobatan dengan pemberian oksigen (O2) untuk mencegah atau
memperbaiki hipoksia jaringan dan mempertahankan oksigenasi jaringan
agar tetap adekuat dengan cara meningkatkan masukan oksigen (O2) ke
dalam sistem respirasi, meningkatkan daya angkut oksigen (O 2) ke dalam
sirkulasi dan meningkatkan pelepasan atau ekstrasi oksigen ke jaringan.

b. Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernafasan


Respirasi/pernafasan adalah suatu proses mulai dari pengambilan
oksigen, pengeluaran karbohidrat hingga penggunaan energy didalam
tubuh. Manusia dalam bernafas menghirup oksigen dalam udara dan bebas
membuang Karbon Dioksida ke lingkungan.
Respirasi dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu :
 Respirasi luar merupakan penukaran antara O2 dan CO2
antara darah dan udara.
 Respirasi Dalam merupakan pertukaran O2 dan CO2 dari
aliran darah ke sel-sel tubuh.

5
Dalam mengambil nafas ke dalam tubuh dan membuang nafas ke udara
dilakukan dengan dua acara pernafasan, yaitu :

 Pernafasan Dada : Otot antar tulang rusuk luar berkontraksi


atau mengerut lalu tulang rusuk terangkat keatas, sehingga rongga
dada membesar yang mengakibatkan tekanan udara dalam dada
kecil sehingga udara masuk kedalam badan.
 Pernafasan Perut : Otot diafragma pada perut mengalami
kontraksi, lalu diafragma datar, sehingga volume rongga dada
menjadi keras yang mengakibatkan takanan udara pada dada
mengecil sehingga udara masuk ke paru-paru.
1. Sistem Pernafasan Atas
Sistem pernafasan atas meliputi :
1.1 Rongga Hidung (Cavum Nasalis)
Udara dari luar masuk kedalam tubuh melewati rongga hidung
yang berlapis lendir, dan didalamnya terdapat rambut-rambut
halus yang berfungsi untuk menyaring partikel kotoran udara
yang masuk kedalam tubuh.
2.1 Faring (Tenggorokan)
Setelah udara masuk kedalam hidung lalu akan berlaanjut
melewati Faring (Tenggorokan) dimana disini ada dua
percabangan saluran yaitu saluran pernafasan (nasopharing)
pada bagian depan dan saluran pencernaan (oropharing) pada
bagian belakang. Yang berfungsi sebagai saluran udara keluar
masuk dan uga sebagai jalan makanan dan minuman yang
ditelan.

3.1 Laring
Merupakan struktur yang menyerupai tulang rawan yang biasa
disebut jakun. Selain berperan sebagai penghasil suara, laring
juga berfungsi mempertahankan kepatenan dan melindungi
jalan nafas bagian bawah dari air dan makanan yang masuk.
2. Sistem Pernafasan Bawah

6
Sistem pernafasan bawah terdiri dari Trakea dan paru-paru yang
dilengkapi dengan bronkus, bronkiolus, alveolus, jaringan kapiler paru
dan pleura.
Trakea merupakan pipa membrane yang dikosongkan oleh cincin
kartilago yang menghubungkan laring dan bronkus utama antara kanan
dan kiri. Paru-paru ada dua buah terletak disebelah kanan dan kiri,
masing-masing paru terdiri atas beberapa lobus (paru kanan 3 lobus dan
paru kiri 2 lobus) dan dipisah oleh satu brokus. Jaringan-jaringan paru
sendiri terdiri atas serangkaian jalan nafas yang bercabang-cabang,
yaitu alveolus, pembuluh darah paru, dan jaringan ikat elastic.

c. Etiologi
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan pasien mengalami
gangguan oksigenasi menurut NANDA (2011), yaitu hiperventilasi,
hipoventilasi, deformitas tulang dan dinding dada nyeri, cemas, penurunan
energy/kelelahan, kerusakan neuromuscular, kerusakan muskoloskletetal,
kerusakan kognitif/persepsi, obesitas, posisi tubuh, imanuritas neurologis,
kelelahan otot pernafasan dan adanya perubahan membrane kapiler
alveoli.
1. Faktor Fisiologi
 Menurunnya kemampuan mengikat O2 seperti anemia
 Menurunnya konsentrasi O2 yang diinspirasi seperti
Obstruksi saluran pernafasan bagian atas
 Hipovolemia sehingga tekanan darah menurun yang
mengakibatkan tergangguanya oksigen
 Meningkatnya metabolisme seperti adanya infeksi, demam,
dll
 Kondisi yang mempengaruhi pergerakan dinding dada
seperti pada kehamilan, obesitas, muskulur sekeletal yang
abnormal, penyakit kronis seperti TBC.

2. Faktor Perilaku
 Nutrisi, misalnya gizi yang buruk menjadi anemia sehingga
daya ikat oksigen berkurang
 Exercise akan meningkatkan kebutuhan oksigen

7
 Merokok, nikotin menyebabkan vasokontruksi pembuluh
darah perifer dan coroner
 Alcohol dan obat-obatan menyebabkan intake nutrisi
mengakibatkan penurunan hemoglobin, alcohol menyebabkan
depresi pernafasan
 Kecemasan, menyebabkan metabolisme meningkat

d. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi atau yang menyebabkan pasien mengalami
gangguan oksigenasi yaitu :
1. Gangguan Jantung, yang meliputi : Ketidakseimbangan konduksi,
kerusakan fungsi valvular, hipoksia miokard, kondisi-kondisi
kardiomiopati, dan hipoksia jaringan perifer.
2. Kapasitas darah untuk mebawa oksigen

e. Patofisiologis
Proses pertukaran gas dipengaruhi oleh ventilasi, difusi dan
transportasi. Proses ventilasi (proses penghantaran jumlah oksigen yang
masuk dan keluar dari paru-paru dan ke paru-paru), apabila pada proses ini
terdapat obstruksi maka oksigen tidak dapat tersalur dengan baik dan
sumbatan tersebut akan direspon jalan nafas sebagai benda asing yang
menimbulkan pengeluaran mucus. Proses difusi (penyaluran oksigen dari
alveoli ke jaringan) yang terganggu akan menyebabkan ketidakefektifan
pertukaran gas. Selain kerusakan pada proses ventilasi, difusi, maka
kerusakan pada transportasi seperti perubahn volume dan kontraktilitas
miokard juga dapat mempengaruhi pertukaran gas. (Bunner & Suddarth,
2002)

f. Tanda dan Gejala


Adanya penurunan tekanan pernafasan menjadi tanda gangguan
oksigenasi. Penurunan ventilasi permenit, penggunaan otot nafas
tambahan untuk bernafas, pernafasan nafas flaring (nafas cuping hidung),
dyspnea, ortopnea, penyimpangan dada, nafas pendek, posisi tubuh
menunjukkan posisi 3 poin, nafas dengan bibir, frekuensi bernafas
berkurang, penurunan kapasital vital menjadi tanda dan gejala adanya pola

8
nafas yang tidak efektif sehingga menjadi gangguan oksigenasi. (NANDA,
2011)
Beberapa tanda dan gejala kerusakan pertukaran gas yaiktu
trakikardi, hiperkapnea, kelelahan, amnolen, iritabilitas, hipoksi,
kebingungan, AGS abnormal, sianosis, warna kulit abnormal (pucat,
kehitam-hitaman), hipoksemia, hiperkarbia, sakit kepala ketika bangun
abnormal frekuensi, irama dan kedalaman nafas. (NANDA, 2011)

g. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan diagnostic yang dapat dilakukan untuk mengetahui adanya
gangguan oksigenasi yaitu :
 EKG : menghasilkan rekaman grafik aktivitas listrik
jantung, mendeteksi transmisi impuls dan posisi listrik jantung.
 Pemeriksaan stress latihan, digunakan untuk mengevaluasi
respond jantung terhadap stress fisik. Pemeriksaan ini memberikan
informasi tentang miokard terhadap peningkatan kebutuhan
oksigen dan menentukan keadekuatan aliran darah coroner.
 Pemeriksaan untuk mengukur keadekuatan ventilasi dan
oksigenasi : pemeriksaan fungsi paru analis gas darah (AGD).

h. Indikasi Terapi Oksigen O2


Terapi oksigen (O2) dianjurkan pada pasien dewasa, anak-anak dan
bayi (usia diatas satu bulan) ketika nilai tekanan persial oksigen kurang
dari 60 mmHg atau nilai saturasi oksigen kurang dari 90% saat pasien
beristirahat dan bernafas dengan udara ruangan. Terapi Oksigen dianjurkan
pada pasien dengan kecurigaan klinik hipoksia berdasarkan pada riwayat
medis dan pemeriksaan fisik. Pasien-pasien dengan infark miokard, edema
paru, cidera paru akut, sindrom gangguan pernafasan akut (ARDS),
fibriosis paru, keracunan sianida atau inhalasi gas karbon monoksida (CO)
semuanya memerlukan terapi oksigen.
Dalam pemberian terapi oksigen harus dipertimbangkan apakah
pasien benar-benar membutuhkan oksigen, apakah dibutuhhkan terapi
oksigen jangka pendek (short-term oxygen therapy) atau panjang (long-
term oxygen therapy). Oksigen yang diberikan harus diatur dalam jumlah

9
yang tepat dan harus dievaluasi agar mendapat manfaat tarapi dan
menghindari toksisitas.
1. Terapi Oksigen (O2) Jangka Pendek (short-term oxygen therapy)
Terapi Oksigen jangka pendek merupakan terapi yang dibutuhkan
pasien-pasien dengan keadaan hipoksemia akut, diantaranya
pneumonia, penyakit paru obstruksi kronis (PPOK). Pada keadaan
tersebut, oksigen harus segera diberikan dengan adekuat dimana
pemberian oksigen yang tidak adekuat akan dapat menimbulkan
terjadinya kecacatan tetap ataupun kematian. Pada kondisi ini, oksigen
diberikan dengan fraksi oksigen berkisar antara 60-100% dalam jangka
yang spesifik diberikan. Adapun pedoman untuk pemberian terapi
oksigen berdasarkan rekomendasi oleh American College Of Che-st
physicians, the National Heart, Lung and Blood Institute.

2. Terapi Oksigen (O2) Jangka Panjang (Long-term oxygen therapy)


Pasien dengan hipoksemia, terutama pasien dengan penyakit paru
obstruksi kronis (PPOK) merupakan kelompok yang paling banyak
menggunakan terapi oksigen jangka panjang. Pasien yang menerima
terapi oksigen (O2) jangka panjang harus dievaluasi ulang dalam dua
bulan untuk menilai apakah hipoksemia menetap atau ada perbaikan
dan apakah masih dibutuhkan terapi oksigen.

i. Kontraindikasi Terapi Oksigen (O2)


Terapi Oksigen O2 tidak direkomendasikan pada :
1. Pasien dengan keterbatasan jalan nafas yang berat dengan keluhan
uatama diapneu tetapi dengan PaO2 lebih atau sama dengan 60 mmHg
dan tidak mempunyai hipoksia kronis.
2. Pasien yang tetap merokok karena kemungkinan prognosis yang
buruk dan dapat meningkatkan resikp kebakaran.

j. Metode Pemberian Terapi O2


Sangat banyak teknik dan model alat yang dapat digunakan dalam
terapi oksigen yang masing-masing mempunyai kelebihan dan
kekurangan. Pemilihan teknik dan alat yang akan digunakan sangat
ditentukan oleh kondisi pasien yang akan diberikan terapi oksigen,

10
Teknik dan alat yang akan digunakan dalam pemberian terapi oksigen
hendaknya memenuhi kriteria sebagai berikut :
 Mampu mengatur konsentrasi atau fraksi oksigen (O 2) (FiO2) udara
inspirasi
 Tidak menyebabkan akumulasi karbon dioksida (CO2)
 Tahanan terhadap pernafasan minimal
 Irit dan efisien dalam penggunaan oksigen
 Diterima dan nyaman digunakan oleh pasien

Cara pemberian terapi oksigen dibagi menjadi dua jenis, yaitu


system arus rendah dan system arus tinggi. System arus rendah
memberikan fraksi oksigen 21-90%, tergantung dari aliran gas oksigen dan
tambahan asesoris seperti kantong penampung. Alat-alat yang umum
digunakan dalam system ini adalah nasal kanul, nasal kateter, sungkup
muka tanpa atau dengan kantong penampung dan oksigen transtrakeal.
Alat ini digunakan pada pasien dengan kondisi stabil, volume tidalnya
berkisar anatara 300-700 ml orang dewasa dan pola nafasnya teratur. Pada
system arus tinggi, adapun alat yang digunakan yaitu sungkup venture
yang mempunyai kemampuan menarik udara kamar pada perbandingan
tetap dengan aliran oksigen sehingga mampu memberikan aliran total gas
yang tingi dengan fraksi oksigen yang diberikan stabil serta mampu
mengendalikan suhu dan humidifikasi udara inspirasi sednagkan
kelemahannya adalah alat ini mahal, mengganti seluruh alat apabila ingin
mengubah fraksi oksigen dan tidak nyaman bagi pasien.

1. Alat Terapi Oksigen Arus Pendek


a. Nasal Kanul dan nasal kateter
Nasal kanul dan nasal kateter merupakan alat terapi oksigen
dengan system arus rendah yang digungan secara luas. Nasal
kanul terdiri dari sepasang tube dengan panjang ± 2 cm yang
dipasangkan pada lubang hidung pasien dan tube dihubungkan
secara langsung menuju oxygen flow meter. Alat ini dapat
menjadi alternative bila tidak dapat terdapat sungkup muka,
terutama bagi pasien yang membutuhkan konsentrasi oksigen

11
rendah karena tergolong sebagai alat yang sederhana, murah dan
mudah dalam pemakaiannya. Nasal kanul arus rendah
mengalirkan oksigen ke nasofaring dengan aliran 1-6 liter/menit
dengan fraksi oksigen antar 21-44%. Adapun keuntungan dari
nasal kanul yaitu pemberian oksigen yang stabil serta
pemasangannya mudah dan nyaman oleh karena itu pasien masih
dapat makan, minum, bergerak dan berbicara. Walaupun nasal
kanul menyebabkan terjadinya iritasi pada mukosa hidung,
mudah lepas, tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen lebih
dari 44% dan tidak dapat digunakan pada pasien dengan
obstrusksi nasal. Nasal kateter mirip dengan nasal kanul dimana
sama-sama memiliki sifat yang sederhana, murah dan mudah
dalam pemakaiannya serta tersedia dalam berbagai ukuran sesuai
dengan usia dan jenis kelamin pasien/ untuk pasien anak-anak
digunakan nasal kateter dengan nomor 10-12 F dan untuk pria
digunakan kateter nomor 12-14F. Fraksi oksigen yang dihasilkan
sama dengan nasal kanul.
b. Sungkup Muka Tanpa Kantong Penampung
Merupakan alat terapi oksigen yang terbuat dari bahan
plastic dimana penggunaannya dilakukan dengan cara diikatkan
pada wajah pasien dengan ikat kepala elastis yang berfungsi
untuk menutupi hidung dan mulut. Tubuh sungkup berfungsi
sebagai penampung untuk oksigen dan karbon dioksida hasil
ekspirasi. Alat ini mampu menyediakan fraksi oksigen sekitar 40-
60% dengan aliran 5-10 liter/menit. Pada penggunaan alat ini,
direkomendasikan agar aliran oksigen dapat tetap dipertahankan
sekitar 5 liter/menit atau lebih yang bertujuan untuk mencegah
karbon dioksida yang telah dikeluarkan dan tertahan pada
sungkup untuk dihirup kembali. Adapun keuntungan dari
penggunaan sungkup muka tanpa kantong penampung adalah alat
ini mampu memberikan fraksi oksigen yang lebih tinggi daripada
nasal kanul ataupun nasal kateter dan system humidifikasi dapat

12
di tingkatkan melalui pemilihan sungkup berlubang besar
sedangkan kerugian dari alat ini yaitu tidak dapat memberikan
fraksi oksigen kurang dari 40% dapat menyebabkan penumpukan
karbon dioksida jika aliran oksigen rendah dan oleh karena
penggunaanya menutupi mulut, pasien seringkali kesulitan untuk
makan dan minum serta suara pasien akan terendam. Sungkup
muka tanpa kantong penampung paling cocok untuk pasien yang
membutuhkan fraksi oksigen yang lebih tinggi daripada nasal
kanul ataupun nasal kateteer dalam jangka waktu yang singkat,
seperti terapi oksigen pada unit perawatan pasca anastesi.
Sungkup muka tanpa kantong penampung sebaiknya juga tidak
digunakan pada pasien yang tidak mampu untuk melindungi jalan
nafas mereka dari resiko aspirasi.
c. Sungkup Muka Dengan Kantong Penampung
Terdapat dua jenis sungkup muka dengan kantong
penampung yang seringkali digunakan dalam pemberian terapi
oksigen yaitu sungkup partial rebreathing dan sungkup muka
nonrebreathing. Keduanya terbuat dari bahan plastic namun
perbedaan diantara kedua jenis sungkup muka tersebut terkait
dengan adanya katup pada tubuh sungkup dan diantara sungkup
dan kantong penampung. Sungkup muka partial rebreathing tidak
memiliki katup satu arah diantara sungkup dengan kantong
penampung sehingga udara ekspirasi dapat terhirup kembali saat
fase inspirasi sedangkan pada sungkup muka non rebreathing.
Terdapat katup satu arah antara sungkup dan kantong penampung
sehingga pasien hanya dapat menghirup udara yang terdapat pada
kantong penampung dan menghembuskannya melalui katup
terpisah yang terletak pada sisi tubuh sungkup. Sungkup muka
dengan kantong penampung dapat mengantarkan oksien sebanyak
10-15 liter/menit dengan fraksi oksigen sebesar 80-85% pada
sungkup muka partial rebreathing bahkan hingga 100% pada
sungkup muka non rebreathing. Kedua jenis sungkup muka ini

13
sangat dianjurkan penggunaannya pada pasien yang
membutuhkan terapi oksigen oleh karena infark miokard dan
keracunan karbon monoksida.

d. Oksigen Transtrakeal
Oksigen transtrakeal dapat mengalirkan oksigen secara
langsung melalui kateter didalam trakeea. Oksigen trantrakeal
dapat meningkatkan kepatuhan pasien untuk menggunakan terapi
oksigen secara continue selama 24 jam dan seringkali berhasil
untuk mengatasi hipoksemia refrakter. Oksigen trantrakeal dapat
menghemat penggunaan oksigen 30-60%. Keuntungan dari
pemberian oksigen transtrakeal yaitu tidak ada iritasi muka
ataupun hidung dengan rata-rata oksigen yang dapat diterima
pasien mencapai 80-96%. Kerugian dari penggunaan alat ini yaitu
biayanya yang tergolong tinggi dan resiko terjadinya infeksi local.
Selain itu, ada pula berbagai komplikasi lainnya yang seringkali
terjadi pemberian oksigen transtrakeal antara lain emfisema
subkutan, bronkospsme, batuk poroksismal dan infeksi stoma.
2. Alat Terapi Oksigen Arus Tinggi
Terdapat dua indikasi klinis untuk penggunaan terapi
oksigen dengan arus tinggi, diantaranya adalah pasien dengan
hipoksia yang memerlukan pengendalian fraksi oksigen dan pasien
hipoksia dengan ventilasi yang abnormal. Adapun alat terapi oksigen
arus tinggi yang seringkali digunakan, salah satunya sungkup
venture. Sungkup venture merupakan alat terapi oksigen dengan
prinsip jet mixing yang dapat memberikan fraksi oksigen ssuai
dengan yang dikehendaki. Alat ini sangat bermanfaat untuk dapat
mengirimkan secara akurat konsentrasi oksigen rendah sekitar 24-
35% dengan araus tinggi, terutama pada pasien dengan penyakit paru
obstruksi kronis (PPOK) dan gagal nafas tipe II dimana dapat
mengurangi resiko terjadinya retensi karbon dioksida (CO2)
sekaligus juga memperbaiki hipoksemia.

14
k. Pedoman Pemberian Terapi Oksigen (O2)
Adapun pemberian terapi oksigen (O2) hendaknya mengikui langkah-
langkah sebabagi berikut sehingga tetap berada dalam batas aman dan
efektif, diantaranya :
1. Tentukan status oksigenasi pasien dengan pemeriksaan klinis,
analisa gas darah dan oksimetri.
2. Pilih system yang akan digunakan untuk memberikan terapi
oksigen (O2).
3. Tentukan konsentrasi oksigen (O2) yang dikehendaki: rendah
(dibawah 35%), sedang (35% sampai dengan 60%), atau tinggi (diatas
60%).
4. Pantau keberhasilan terapi oksigen (O2) dengan pemeriksaan fisik
pada system respirasi dan kardiovaskuler.
5. Lakukan pemeriksaan analisa secara periodic dengan selang waktu
minimal 30 menit.
6. Apabila dianggap perlu maka dapat dilakukan perubahan terhadap
cara pemberian terapi oksigen (O2).
7. Selalu perhatikan terjadinya efek samping dari terapi oksigen (O 2)
yang diberikan.

l. Efek Samping Pemberian Terapi (O2)


Seperti halnya terapi dengan obat, pemberian terapi oksigen (O 2)
juga dapat menimbulkan efek samping, terutama terhadap system
pernapasan, susunan saraf pusat dan mata, terutama pada bayi premature.
Efek samping pemberian terapi oksigen terhadap system pernafasan,
diantaranya dapat menyebabkan terjadinya depresi nafas, keracunan
oksigen (O2) dan nyeri substernal. Depresi nafas dapat terjadi pada pasien
yang menderita penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dengan hipoksia
dan hiperkarbia kronis.
Keracunan oksigen (O2) terjadi apabila pemberian oksigen dengan
konsentrasi tinggi (diatas 60%) dalam jangka waktu yang lama. Efek
samping pemberian oksigen terhadap susunan saraf pusat apabila
diberikan dengan konsentrasi yang tinggi maka akan dapat menimbulkan
keluhan parastesia dan nyeri pada sendi sedangkan efek samping

15
pemberian terapi oksigen terhadap mata, terutama pada bayi baru lahir
yang tergolong premature, keadaan hiperoksia dapat menyebabkan
terjadinya kerusakan pada retina akibat proliferasi pembuluh darah yang
disertai dengan perdarahan dan fibrosis.
Oleh karean deteksi efek samping dari terapi oksigen (O2)
tergolong tidak mudah, maka perlu dilakukan pencegahan terhadap
timbulnya efek samping dari terapi oksigen (O2) melalu cara pemberian
oksigen yang harus dilakukan dengan dosis serta cara yang tepat.
Pemberian oksigen yang paling aman dilakukan pada fraksi oksigen (O 2)
(FiO2) 0,5-1. Menggunakan terapi oksigen juga sangat beresiko terhadap
api, oleh karena itu sangat perlu untuk mengedukasi pasien untuk
menghindari merokok serta tabung oksigen harus diyakinkan aman agar
tidak mudah terjatuh dan meledak.

1.2 Konsep Manajemen SO


Manajemen SO merupakan salah satu metode yang digunakan untuk
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, yaitu dengan menggunakan system
pendokumentasia yang lebih singkat dan jelas. System pendokumentasian
yang dilakukan dapat memberikan manfaat antara lain seebagai sarana
komunikasi antar tenaga kesehatan, sarana untuk melindungi para tenaga
kesehatan dari hukum jika terjadi tanggung gugat oleh keluarga pasien, sarana
untuk administrasi, sarana untuk dijadikan bahan ajar dalam pendidikan
danpenelitian, serta sarana untuk mengetahui perkembangan evaluasi pada
pasien. Dalam dunia kesehatan banyak yang harus didokumentasikan dan
ditulis mengenai segala asuhan yang diberikan selama pasien di rawat oleh
tenaga kesehatan.
Pendokumentasian manajemen SO merupakan sebuah metode yang
menyaring intisari dari proses pelaksanaan asuhan keperawatan untuk tujuan
penyediaan dan pendekomentasian asuhan.
1. Konsep Subjektif
Data Subjektif Berisi data dari pasien melalui anamnesis (wawancara)
yang merupakan ungkapan langsung.
Didalam data Subjektif terdapat beberapa hal sebagai berikut,
diantaranya:

16
A. Pengkajian

Pada pengkajian klien dengan post operasi, data yang dapat


ditemukan meliputi:

1. Identitas atau biodata pasien


Meliputi, nama, umur, agama, jenis kelamin, alamat, suku
bangsa, pekerjaan, pendidikan, tanggal masuk rumah sakit nomor
register.
2. Keluhan utama
Berisi Keluhan saat ini yang dirasakan oleh pasien
mengenai kondisinya yang sesak nafas.
3. Riwayat kesehatan
a) Riwayat kesehatan dulu
Menanyakan pada pasien apakah pasien memiliki
Penyakit kronis atau menular dan menurun seperti jantung,
hipertensi, DM, TBC, hepatitis.
b) Riwayat kesehatan sekarang
Berisi tentang perasaan pasien tentang kesehatannya
saat ini.
c) Riwayat kesehatan keluarga
Menanyakan pada pasien apakah keluarga pasien
memiliki Penyakit kronis atau menular dan menurun seperti
jantung, hipertensi, DM, TBC, hepatitis.
4. Riwayat Sosial, Ekonomi, dan Psikologis
5. Pola Kebiasaan Sehari-hari
a) Pola Nutrisi
Berkaitan dengan nutrisi apa saja yang dikonsumsi
oleh pasien sebelum dan sesudah dirawat di RSUD.
b) Pola Aktifitas
Berkaitan dengan aktifitas apa saja yang dilakukan
oleh pasien sebelum dan sesudah dirawat di RSUD.
c) Pola Eliminasi
Berkaitan dengan proses pengeluaran BAK dan BAB
pasien sebelum dan sesudah dirawat di RSUD.

d) Pola Istirahat
Berkaitan dengan waktu istirahat yang ditempuh oleh

17
pasien sebelum dan sesudah dirawat di RSUD.

2. Konsep Obyektif
Data obyektif yakni data yang diperoleh dari hasil pemeriksaan
yang dilakukan kepada pasien serta diagnose dan tindakan yang diberikan
kepada pasien.
a. Pemeriksaan Fisik Umum
1) Keadaan Umum
Untuk mengatahui keadaan pasien
2) Pemeriksaan tanda-tanda vital
Untuk mendeteksi adanya perubahan sistem pada tubuh yang
meliputi suhu badan, denyut nadi, frekuensi pernafasan, dan
tekanan darah
3) Pemeriksaan Fisik Umum
Untuk mengetahui adanya kelainan pada fisik pasien. Yang
meliputi:
I. Inspeksi
Kepala : Bagaimana kebersihan pada kelapa, apakah ada lesi,
benjolan, ada ketombe atau tidak, serta warna rambut
Muka : Apakah terdapat kelaian atau tidak
Mulut : Apakah ada stomatitis atau tidak, caries pada gigi, gigi
palsu, dan bibir kering atau lembab
Mata : Apakah mata berbentuk simetris atau tidak, serta warna
konjungtiva pada pasien anemis atau tidak
Telinga : Apakah bentuknya simetris atau tidak, adakah pengeluaran
cairan berbau dan berwarna, dan kebersihan telinga
Hidung : Adanya polip, pernafasan cuping hidung, dan kebersihan
hidung pasien
Leher : Apakah ada pembesaran vena jugularis, kelenjar tyroid dan
limfe
Perut : Apakah ada bekas luka operasi atau tidak
Anus : Lihatlah apakah ada pembesaran kelenjar hemoroid pada
mukosa anus atau tidak
Ekstermitas: Apakah bentuk ekstermitas simetris atau tidak, serta
adakah pembengkakan atau tidak
II. Palpasi
Kepala : Terdapat nyeri tekan atau tidak
Leher : Terdapat benjolan akibat pembengkakan vena jugularis,
kelenjar tyroid dan kelenjar limfe atau tidak

18
Dada : terdapat benjolan dan nyeri tekan atau tidak
III. Auskultasi
Dada : terdengar suara wheezing dan ronchi atau tidak
Abdomen : terdengar suara bising usus atau tidak
IV.Perkusi
Reflek Patella : untuk mengetahui tingkat saraf motoric pada
pasien
Abdomen : kembung atau tidak

b. Pemeriksaan Laboratorium

Untuk mengetahui keadaan pasien dan sebagai data penunjang

c. Diagnose Kerja

Data yang diperoleh dari hasil anamneses dan data penunjang

d. Planning

Tindakan yang diperoleh dari data anamnesis untuk memenuhi kebutuhan


pasien

19
BAB III

TINJAUAN KASUS

OKSIGENASI KEPADA TN “B” USIA 58 TAHUN DENGAN CHRONIC


KIDNEY DISEASE (CKD) DI RUANG PENYAKIT DALAM 1 (TAWANG
ALUN), RSUD BLAMBANGAN BANYUWANGI

No Register : 1906240797

Tanggal MRS : Senin, 24 Juni 2019

Tanggal Pengkajian : Rabu, 26 Juni 2019

Tempat Pengkajian : Ruang Interna III A, Ruang Penyakit Dalam I (Tawang


Alun), RSUD. Blambangan, Banyuwangi.

Oleh : Mega Fitria Carnos

3. 1 Data Subjektif
a. Biodata Pasien
Nama : Tn. “B”
Umur : 58 Tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Pedagang dan Petani
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Alamat : Klatakan, Banyuwangi
b. Keluhan Utama
1. MRS : Px mengatakan sesak sejak 1 hari yang lalu, sesak
semakin memberat, nyeri dibagian dada disertai mual tanpa muntah,
nafsu makan dan minum menurun, BAB dan BAK lancar.

20
c. Saat ini : Px mengatakan sesak sudah menurun, masih terasa
agak nyeri dibagian dada, nafsu makan dan minum mulai membaik, mual
dan tanpa disertai muntah, BAB dan BAK lancer namun agak cair.
d. Riwayat Penyakit Terdahulu
Px mengatakan sebelumnya tidak pernah menderita penyakit
menular (seperti HIV, TBC, Hepatitis dll), penyakit menahun seperti
(Hipertensi, jantung dll), dan penyakit menurun (asma, diabetes, dll).
e. Riwayat Penyakit Sekarang
Px mengatakan sesak sejak 1 hari yang lalu, sesak semakin
memberat, nyeri dibagian dada disertai mual tanpa muntah, nafsu makan
dan minum menurun, BAB dan BAK lancar.
f. Riwayat Penyakit Keluarga
Px mengatakan didalam keluarganya tidak ada yang menderita
penyakit menular (seperti HIV, TBC, Hepatitis dll), penyakit menahun
seperti (Hipertensi, jantung dll), dan penyakit menurun (asma, diabetes,
dll).
g. Riwayat Sosial, Ekonimi, dan Psikologis
Sosial : bahasa sehari-hari memakai bahasa jawa bercampur
Madura, dan tinggal bersama istri dan anak bungsu yang
sudah berkeluarga
Ekonimi : metode pembayaran yang digunakan keluarga untuk biaya
rumah sakit menggunakan BPJS
Psikologis : Keluarga dan pasien menginginkan cepat sembuh dan
kembali ke rumah mejalankan aktifitas pekerjaan seperti
sehari=hari kembali
h. Pola Kebiasaan Sehari-hari

Pola Kebiasaan Sebelum MRS Saat di RSUD


Sehari-hari

Pola Nutrisi Makan : 3x/hari (nasi, Makan : Sedikit tetapi


lauk pauk dan sayur) sering (porsi diet RSUD)
Minum : 6-7 gelas/hari Minum : 2 botol air gelas
sedang

Pola Eliminasi BAB : 1x/hari (warna BAB : Diare dan cair


BAK : Menggunakan DC
kuning kecoklatan dan

21
padat) dengan banyak ≤1000 ml
BAK : 5-6x/hari (warna
kuning)

Pola Personal Hygiene Mandi : 2x/hari Tidak pernah mandi


Sikat gigi : 2x.hari
hanya disekoh air hangat
Keramas : 1x/hari
dan dingin setiap hari,
sikat gigi (-), keramas (-)

Pola Istrirahat dan Siang : ± 2 jam ( 13.00- Siang : Sering tidur ± 4


tidur 15.00 WIB) jam
Malam : ± 6 jam ( 22.00- Malam : sering tidur ± 8
04.00 WIB) jam

Pola Aktivitas Saat dirumah sering Banyak istirahat, hanya


berdangang dan bertani bergerak ketika ingin
disawah duduk dan bosan tiduran.

3. 2 Data Objektif
a. Pemeriksaan Umum
KU : Cukup
TTV :
N : 90x/menit TD : 130/90 mmHg
RR : 28x/menit S : 36,7 ºC
Antopometri
TB : 157 cm
BB : 66 Kg

b. Pemeriksaan Fisik Umum


I. Inspeksi
Kepala : rambut memutih sesuai dengan usia, dan tidak terdapat
bekas luka
Muka : terlihat pucat, tidak ada oedema, tidak terdapat kelainan
Mata : konjungtiva tampak anemeis (pucat), seklera tidak icterus
atau kuning, tidak ada secret, simetris, dan tidak ada
kelainan
Hidung : terdapat pernafasan cuping hidung, dan tidak ada kelainan

22
Mulut : mukosa bibir terlihat lembab, tidak terdapat stomatitis,
gigi tidak caries, tidak ada gigi palsu, dan lidah terlihat
bersih
Telinga : simetris, tidak ada lesi, daun telinga bersih, tidak ada
serumen yang berbau dan berwarna
Leher : tidak ada pembengkakan kelenjar tyroid dan limfe, serta
tidak ada pembengkakan vena jugularis.
Dada : terdapat retraksi intercostae, tidak ada benjolan abnormal.
Abdomen : perut tidak kembung, tidak ada lesi
Anus : bersih, tidak ada hemoroid
Ekstermitas : atas : Simetris, pergerakan aktif, tidak ada oedema
bawah : Simetris, pergerakan aktif, tidak ada oedema, tidak
ada varises
II. Palpasi
Kepala : tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolan abnormal
Leher : tidak teraba bendungan vena jugularis, tidak teraba
pembengkakan kelenjar limfe, dan kelenjar tyroid
Dada : tidak ada benjolan abnormal, nyeri tekan sedikit

III. Auskultasi
Dada : terdengar suara wheezing dan ronchi
Abdomen : Bising usus : 20x/menit
IV.Perkusi
Reflek Patella :+
Abdomen : kembung
c. Pemeriksaan Laboratorium
HB : 8,9 g/dl Creatinin : 10.09 mg/dl
GDA : 157 mg/dl BUN : 106,92 mg/dl
d. Diagnosa Kerja
Chronic Kidney Disease (CKD)
e. Planning
 Memperbaiki kondisi umum pasien
 Memberikan posisi semi fowler
 Kolaborasi dengan tim dokter
 Pemberian Oksigen nasal kanul 4 lpm
 Pemasangan infus Pz 7 tpm
 Pemasangan DC
 Lasix pump 1 cc/jam
 Inj. Ranitidin 2x1
 Inj. Ceftriaxome 2x1

3. 3 Tindakan Operasional Prosedur

23
Terapi oksigen adalah tindakan keperawatan memberikan oksigen
dalam paru-paru melalui saluran pernafasan dengan menggunakan alat bantu
oksigen. Berikut merupakan tindakan yang telah diberikan kepan Tn. “B”
dengan terapi kanul nasal.

Alat dan bahan :

a. Tabung oksigen dengan flowmeter dan humidifier


b. Kanul nasal dan selang oksigen
c. Plaster jika perlu

Prosedur Kerja

1. Cici tangan menggunakan 6 langkah sebelum melakukan tindakan


dan sebelum bersentuhan dengan pasien
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan pada pasien
3. Atur aliran oksigen sesuai dengan kecepatan kebutuhan pasien
4. Atur posisi pasien sesuai dengan kebutuhan (semi fowler)
senyaman mungkin
5. Sambungkan kanul nasal pada set oksigen dan sesuaikan dengan
flowmeter
6. Cek oksigen sudah keluar melalui kanul nasal menggunakan
tangan serta melihat flowmeter
7. Letakkan cabang kanul atau autlet pada lubang hidung, lalu
tanyakan pada pasien apakah oksigen sudah nyaman
8. Jika sudah nyaman atur selang dengan melingkarkannya dikepala
pasien dan menyelipkan selang pada kedua daun telinga pasien
9. Anjurkan pasien bernafas melalui hidung dengan mulut tertutup
10. Catatan pemberian dan lakukan observasi setiap 6-8 jam
11. Lakukan tindakan cuci tangan dengan 6 langkah pasca melakukan
tindakan dan bersentuhan dengan pasien
12. Lakukan pendokumentasian bahwa telah dilakukan tindakan
oksigenasi pada Tn. “B” dengan kanul nasal 4lpm, diruang Interna III A,
Ruang Penyakit Dalam I (Tawang Alun) di RSUD. Blambangan
Banyuwangi pada hari Senin tanggal 24 Juni 2019.

24
BAB III

PENUTUP

a. Kesimpulan
Penyakit Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan penyakit
kronik dimana fungsi ginjal mengalami kerusakan atau tidak dapat
kembali seperti semula, sehingga tubuh tidak mampu menjaga metabolism
dan tidak mampu menjaga keseimbangan cairan dan elektolit seperi
biasanya lagi dan menimbulkan berbagai macam gejala penyakit seperti
halnya dypsneu (merasa sesak saat bernafas). Dari gejala penyakit tersebut
maka seorang klien yang menderita CKD dengan dipsneu harus segera
ditangani agar tidak berakibat buruk pada pasien. Penanganan yang harus
ditangani kepada pasien tersebut salah satunya merupakan tindakan
oksigenasi yaitu pemenuhan kebutuhan dasar pola nafas untuk
diseimbangkan kembali dengan menggunakan alat, sesuai dengan
kebutuhan oksigen yang dibutuhkan pasien tersebut. Dan harus dilakukan
dengan teliti agar tidak menimbulkan efek samping pada pasien dan tidak
menimbulkan keracunan oksigen pada pasien.

b. Saran
1. Masyarakat dan Pembaca
Dengan adanya asuhan keperawatan kepada pasien CKD dengan
Dipsneu sehingga memerlukan kebutuhan dasar oksigenasi diharapkan
kepada seluruh masyarakat dan pembaca untuk menjaga kesehatan
agar bisa terhindar dari penyakit tersebut dan memulai untuk hidup

25
sehat. Serta diharapkan daapat menaambah ilmu dan pengetahuan
tentang hal tersebut.
2. Pihak Rumah Sakit
Diharapkan dapat memberikan pelayanan secara optimal dan
memanfaatkan sarana dan prasarana yang telah tersedia demia
tercapainya pemenuhan kebutuhan secara maksimal pada pasien CKD
khususnya yang mengalami Dipsneu.
3. Bagi Perawat
Diharapkan perawat mampu melaksanakan tugas dan tanggung
jawab dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien CKD dengan
dipsneu sesuai dengan Standart Operasional Prosedur (SOP) yang
berlaku di rumah sakit, demi tercapainya kebutuhan pasien secara
maksimeal, serta melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan sesuai
dengan SOP yang berlaku dalam melakukan asuhan keperawatan pada
pasien tersebut.

26
DAFTAR PUSTAKA

Tarwanto, wartonah. 2006. Keterampilan Klinik Keperawatan dan Kebidanan.


Yogyakarta: Nuha Medika

Doenges E, Marilynn, dkk. (2012). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman


Untuk Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta :
EGC.

WHO. 2013. Chronic Kidney Disease Health Topic dilihat tanggal 28 Juni 2019.
www.WHO.int/en/

Huda, Nuratif dan Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan


Berdasarkan Diagnosa NANDA NIC-NOC. Jakarta : Media Action.

LeMone, Priscillia, dkk. (2016). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 5.
Alih bahasa: Egi Komara Yudha, dkk. Jakarta: EGC.

Angelantini, dkk. 2010. Chronic Kidney Disease and Risk OF Major


Cardiovaskuler Disiese and non vascular mortality: prospective population based
cohort study. British medical journal. 324, 768.

27