Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

AKUT LEUKIMIA LIMFOBlASTIC (ALL)

DI RUANG 7A

RSU Dr. SAIFUL ANWAR MALANG

DISUSUN OLEH :

LEDDY MARIANI SAPUTRI

2016.01.014

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

BANYUWANGI

2019

1
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN
AKUT LEUKIMIA LIMFOBlASTIC (ALL)
DI RUANG 7A
RSU Dr. SAIFUL ANWAR MALANG

Malang,

Mengetahui,

Mahasiswa,

(Leddy Mariani Saputri)

Pembimbing Klinik Pembimbing Institusi

( ) ( )

Kepala Ruangan

( )

2
A. Definisi
Leukemia adalah poliferasi tak teratur atau akumulasi sel-sel darah putih
dan sumsum tulang, menggantikan elemen-elemen sum-sum normal
(Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth edisi 2 hal 336)
Leukemia adalah penyakit neoplastik yang ditandai oleh poliferasi abnormal
dari sel-sel nematopoietik (Patofisiologi edisi 4 Sylvia A . Price hal 248)
Leukemia adalah keganasan yang berasal dari sel-sel induk system
hematopoietik yang mengakibatkan poliferasi sel-sel darah putih tidak terkontrol
dan pada sel-sel darah merah namun sangat jarang (Rencana Asuhan Keperawatan
Onkologi Danielle Gale, Rn, MS hal 183)
Dari pengertian di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa leukemia adalah
suatu poliferasi abnormal dari sel-sel leukosit yang menyebabkan terjadinya
kanker pada alat pembentuk darah.

B. Etiologi
ALL (Acute Lymphoid Leukemia) adalah insiden paling tinggi terjadi
pada anak-anak yang berusia antara 3 dan 5 tahun. Anak perempuan menunjukkan
prognosis yang lebih baik daripada anak laki-laki. Anak kulit hitam mempunyai
frekuensi remisi yang lebih sedikit dan angka kelangsungan hidup (survival rate)
rata-rata yang juga lebih rendah. ANLL (Acute Nonlymphoid Leukemia)
mencakup 15% sampai 25% kasus leukemia pada anak. Resiko terkena penyakit
ini meningkat pada anak yang mempunyai kelainan kromosom bawaan seperti
Sindrom Down. Lebih sulit dari ALL dalam hal menginduksi remisi (angka remisi
70%). Remisinya lebih singkat pada anak-anak dengan ALL. Lima puluh persen
anak yang mengalami pencangkokan sumsum tulang memiliki remisi
berkepanjangan. (Betz, Cecily L. 2002. hal : 300)
Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat faktor predisposisi
yang menyebabkan terjadinya leukemia, yaitu:
a. Faktor genetik
Terlihat pada kembar identik yang akan beresiko tinggi bila kembaran
yang lain mengalami leukemia saudara sekandung dari individu yang

3
leukemia dan individu dengan sindrom down juga beresiko terhadap
terjadinya leukemia.
b. Penyakit yang didapat
dengan resiko terkena leukemia mencakup mielofibrosis, polisetemia vera,
dan anemia refraktori sideroblastik. Mieloma multipel dan penyakit
Hodgkin juga menunjukan peningkatan resiko terhadap terjadinya
penyakit ini. Resiko ini dapat di hubungkan dengan penyakit dasar atau
pengobatan dengan adens kemoterapi/radiasi.
c. Agens kimia dan fisik
merupakan resiko signifikan terhadap leukimia mencakup radiasi dan
pemajanan jangka lama terhadap benzen. Agens kemoterapi kloramfenikol
dan agens pengkelat (alkylating) juga beresiko.

D. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinik yang sering dijumpai pada penyakit leukemia adalah
sebagai berikut:
a.Pilek tidak sembuh-sembuh
b.Pucat, lesu, mudah terstimulasi
c.Demam dan anorexia
d.Berat badan menurun
e.Ptechiae, memar tanpa sebab
f.Nyeri pada tulang dan persendian
g.Nyeri abdomen
h.Lumphedenopathy
i.Hepatosplenomegaly
j.Abnormal WBC
(Suriadi & Rita Yuliani, 2001: hal. 177)

4
E. Patofisiologi
Normalnya tulang marrow diganti dengan tumor yang malignan,
imaturnya sel blast. Adanya proliferasi sel blast, produksi eritrosit dan platelet
terganggu sehingga akan menimbulkan anemia dan trombositipenia. Sistem
retikuloendotelial akan terpengaruh dan menyebabkan gangguan sistem
pertahanan tubuh dan mudah mengalami infeksi.
Manifestasi akan tampak pada gambaran gagalnya bone marrow dan
infiltrasi organ, sistem saraf pusat. Gangguan pada nutrisi dan metabolisme.
Depresi sumsum tulang yang akan berdampak pada penurunan lekosit, eritrosit,
faktor pembekuan dan peningkatan tekanan jaringan. Adanya infiltrasi pada
ekstra medular akan berakibat terjadinya pembesaran hati, limfe, nodus limfe,
dan nyeri persendian.
Menurut Wong (2008), Leukimia merupakan proliferasi tanpa batas sel
darah putih yang imatur dalam jaringan tubuh yang membentuk darah sehingga
menekan produksi unsur-unsur darah yang terbentuk dalam sum-sum tulang. Sel
imatur ini kemudian menginfiltrasi dan mengganti jaringan tubuh dengan sel-sel
leukimia nonfungsional, sehingga dengan tidak sengaja sel-sel imatur ini
menyerang dan menghancurkan sel darah normal/jaringan vaskuler. Organ-organ
yang terdiri banyak pembuluh darah seperti limpa dan hati merupakan organ
yang terkena paling berat.

F. Klasifikasi Leukemia
Klasifikasi leukimia biasanya di dasarkan pada :
a. Perjalanan dan lamanya penyakit
1. Leukemia akut
Di hubungkan dengan awitan (omset) cepat, jumlah leukosit tidak
matang berlebihan, dengan cepat menjadi anemia, trombositupenia
berat, demm tinggi, lesi infektif pada mulut dan tenggorok, perdarahan
dalam area vital, akumulasi leukosit dalam organ vital, dan infeksi
berat. Pemeriksaan laboritorium menunjukkan beberapa derajat

5
anemia dan trombositopenia, leukemia akut ini sesuai dengan jenis sel
yang terlibatdan kematangan sel tersebut.
2. Leukemia menahun
Merupakan 35% sampai 50% dari semua kasus leukemia. Awitan dari
penyakit ini di karakteristikkan oleh awitan bertahab dan leukosit yang
lebih matang, penyakit ini paling banyak mengenai orang dewasa dan
lansi. Perjalanan penyakit berlangsung lebih lambat dari pada
leukemia akut. Analisis laboratorium biasanya menunjukkan sel
leukemik yang terdiferensiasi baik yang dapat di klasifikasikansebagai
imfositik atau granulositik.
3. Leukemia kronik
Didasarkan nya pada di temukan nya sel darah putih matang yang
menyolok – granulosit (leukemia granulositik/mielositik) atau limfosit
(leukemia limfositik)
b. Jenis sel dan jaringan abnormal yang terkait
kategori besar berdasarkan sal jaringan adalah
o Mieloid yang mencakup granulosit (neutrofil, eusinofil dan basofil)
o Monosit
o Limfositik
G. Komplikasi
1. perdarahan dan infeksi merupakan penyebab utama kematian
2. pembentukan batu ginjal, anemia dan masalah gastrointestinal
3. perdarahan berhubungan dengan tingkat trombostopenia: terjadi dengan
petekie, ekimosis dan hemoragi mayor jika jumlah trombosit di bawah
20000mm3.demam atau infeksi meningkatnya perdarahan.

H. Pemeriksaan laboratorium dan diagnostik

a. Hitung darah lengkap complete blood cell (CBC). Anak dengan CBC
kurang dari 10.000/mm3 saat didiagnosis memiliki memiliki prognosis paling
baik; jumlah lekosit lebih dari 50.000/mm3 adalah tanda prognosis kurang
baik pada anak sembarang umur.

6
b. Pungsi lumbal untuk mengkaji keterlibatan susunan saraf pusat
c. Foto toraks untuk mendeteksi keterlibatan mediastinum.
d. Aspirasi sumsum tulang. Ditemukannya 25% sel blas memperkuat
diagnosis.
e. Pemindaian tulang atau survei kerangka untuk mengkaji keterlibatan tulang.
f. Pemindaian ginjal, hati, limpa untuk mengkaji infiltrat leukemik.
g. Jumlah trombosit menunjukkan kapasitas pembekuan.(Betz, Cecily L.
2002).

I. Penatalaksanaan Medis
1. Transfusidarah, biasanya diberikan bila kadar Hb kurangdari 6 g%.
Pada trombositopenia yang berat dan perdarahan masif,
dapat diberikan transfuse trombosit dan bila terdapat tanda-tanda DIC
dapat diberikan heparin.
2. Kortikosteroid (prednison, kortison,
deksametason dan sebagainya). Setelah dicapai remisidosis dikurangi sedikit
demi sedikit dan akhirnya dihentikan.
3. Sitostatika. Selainsi tostatika yang lama (6- merkaptopurin atau 6-mp,
metotreksat atau MTX) pada waktu ini dipakai pula yang
baru dan lebih poten seperti vinkristin (oncovin), rubidomisin
(daunorubycine), sitosin, arabinosid, L-asparaginase, siklofosfamidatau CPA,
adriamisin dan sebagainya.Umumnya sitostatika diberikan dalam kombinasi b
ersama-samadengan prednison.
Pada pemberian obat-obatan ini sering terdapat akibat samping berupaalopesia
, stomatitis, leukopenia, infeksi sekunder atau kandidiasis. Hendaknya lebih
berhati-hati bila jumlah leukosit kurang dari 2.000/mm3.
4. Infeksi sekunder dihindarkan (bila mungkin penderita di
isolasi dalam kamar yang suci hama).
5. Imunoterapi, merupakan cara pengobatan yang terbaru.
Setelah tercapai remisi dan jumlah sel leukemia cukup rendah (10 - 106), 5

imunoterapi mulai diberikan.Pengobatan yang


aspesifik dilakukan dengan pemberian imunisasi BCG atau dengan Corynae
bacterium dan dimaksudkan agar terbentuk antibodi yang
dapat memperkuat daya tahan tubuh. Pengobatan spesifik di
kerjakan dengan penyuntikan sel leukemia yang telah diradiasi.
Dengan cara ini diharapkan akan terbentuk antibodi yang spesifik terhadap sel

7
leukemia,sehingga semua selpatologis akan dihancurkan sehingga diharapkan
penderita leukemia dapat sembuh sempurna.

8
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
Pengkajian adalah dasar utama dari proses keperawatan, pengumpulan data yang
akurat dan sistematis akan membantu penentuan status kesehatan dan pola
pertahanan klien, mengidentifikasi kekuatan dan kebutuhan klien serta
merumuskan diagnosa keperawatan. (Budi Anna Keliat, 1994)
Pengkajian pada leukemia meliputi:
a. Riwayat penyakit
b. Kaji adanya tanda-tanda anemia:
1).Pucat
2).Kelemahan
3).Sesak
4).Nafas cepat
c. Kaji adanya tanda-tanda leukopenia:
1).Demam
2).Infeksi
d. Kaji adanya tanda-tanda trombositopenia:
1).Ptechiae
2).Purpura
3).Perdarahan membran mukosa
e. Kaji adanya tanda-tanda invasi ekstra medulola:
1).Limfadenopati
2).Hepatomegali
3).Splenomegali
f. Kaji adanya pembesaran testis
g. Kaji adanya:
1).Hematuria
2).Hipertensi
3).Gagal ginjal

9
4).Inflamasi disekitar rektal
5).Nyeri (Suriadi,R dan Rita Yuliani, 2001: 178)

2. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia.
3. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan
muntah
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan
anoreksia, malaise, mual dan muntah, efek samping kemoterapi dan atau
stomatitis
5. Nyeri yang berhubungan dengan efek fisiologis dari leukemia.
6. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemberian agens kemoterapi,
radioterapi, imobilitas.
7. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan alopesia atau perubahan cepat
pada penampilan

3. Rencana keperawatan
a. Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh
1) Tujuan: Anak tidak mengalami gejala-gejala infeksi
2) Intervensi:
- Pantau suhu dengan teliti
Rasional: untuk mendeteksi kemungkinan infeksi
- Tempatkan anak dalam ruangan khusus
Rasional: untuk meminimalkan terpaparnya anak dari sumber infeksi
- Anjurkan semua pengunjung dan staff rumah sakit untuk menggunakan teknik
mencuci tangan dengan baik
Rasional : untuk meminimalkan pajanan pada organisme infektif
- Gunakan teknik aseptik yang cermat untuk semua prosedur invasif
Rasional: untuk mencegah kontaminasi silang/menurunkan resiko infeksi

10
- Evaluasi keadaan anak terhadap tempat-tempat munculnya infeksi seperti
tempat
penusukan jarum, ulserasi mukosa, dan masalah gigi
Rasional: untuk intervensi dini penanganan infeksi
- Inspeksi membran mukosa mulut. Bersihkan mulut dengan baik
Rasional: rongga mulut adalah medium yang baik untuk pertumbuhan
organisme
- Berikan periode istirahat tanpa gangguan
Rasional: menambah energi untuk penyembuhan dan regenerasi seluler
- Berikan diet lengkap nutrisi sesuai usia
Rasional: untuk mendukung pertahanan alami tubuh
- Berikan antibiotik sesuai ketentuan
Rasional: diberikan sebagai profilaktik atau mengobati infeksi khusus
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia
1) Tujuan: terjadi peningkatan toleransi aktifitas
2) Intervensi:
- Evaluasi laporan kelemahan, perhatikan ketidakmampuan untuk berpartisipasi
dalam
aktifitas sehari-hari
Rasional: menentukan derajat dan efek ketidakmampuan

- Berikan lingkungan tenang dan perlu istirahat tanpa gangguan


Rasional: menghemat energi untuk aktifitas dan regenerasi seluler atau
penyambunganjaringan

- Kaji kemampuan untuk berpartisipasi pada aktifitas yang diinginkan atau


dibutuhkan
Rasional: mengidentifikasi kebutuhan individual dan membantu pemilihan
intervensi

- Berikan bantuan dalam aktifitas sehari-hari dan ambulasi

11
Rasional : memaksimalkan sediaan energi untuk tugas perawatan diri
c. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah

1) Tujuan:
- Tidak terjadi kekurangan volume cairan
- Pasien tidak mengalami mual dan muntah

2) Intervensi:
a. Berikan antiemetik awal sebelum dimulainya kemoterapi
Rasional: untuk mencegah mual dan muntah
b. Berikan antiemetik secara teratur pada waktu dan program kemoterapi
Rasional: untuk mencegah episode berulang
c. Kaji respon anak terhadap anti emetik
Rasional: karena tidak ada obat antiemetik yang secara umum berhasil
- Hindari memberikan makanan yang beraroma menyengat
Rasional: bau yang menyengat dapat menimbulkan mual dan muntah
- Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional: karena jumlah kecil biasanya ditoleransi dengan baik
d. Berikan cairan intravena sesuai ketentuan
Rasional: untuk mempertahankan hidrasi.

12
Daftar Pustaka

Abdoerrachman MH, dkk, 1998, Ilmu Kesehatan Anak, Buku I, penerbit Fakultas

Kedokteran UI, Jakarta.

Beth, C. L, 2002, Buku saku keperawatan Pediatrik, Jakarta EGC

Doenges ME, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC.

Price Sylvia A, 2003, Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit, Jakarta, EGC

Rosa M Sacharin, 1996, Prinsip Keperawatan Pediatrik, edisi 2, Jakarta

Susan Martin Tucker, Mary M. Canabbio, Eleanor Yang Paquette, Majorie Fife Wells,

1998, Standar Perawatan Pasien, volume 4, EGC.

Soeparman, Sarwono Waspadji, 1998, Ilmu Penyakit Dalam, jilid II, Balai Penerbit

FKUI, Jakarta

Suryadi, Yuliani R., 2001, AsuhanKeperawatanPadaAnak, ed.1, Jakarta, CV.SagungSeto

13